Sunteți pe pagina 1din 3

AMAR MARUF NAHY MUNKAR & HAK KEBEBASAN MANUSIA Oleh: Khoirul Anwar* Amar maruf nahy munkar

atau memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran merupakan salah satu istilah ajaran Islam yang makna pemahamannya sering diplesetkan dan disalah gunakan oleh sebagian orang. Perintah kebaikan (amr bi al-maruf) dipahami sebagai pemaksaan terhadap orang lain untuk menjalankan aktifitas yang menurut pandangan orang yang memerintahkannya (al-mir) dianggap baik dan mengandung pahala, kendati perbuatan tersebut belum tentu baik dan layak dikerjakan oleh orang yang diperintahkan (al-ma`mr). Mencegah kemungkaran (nahy an al-munkar) juga dipahami demikian. Bahkan dalam tataran praksisnya atas nama ajaran amar maruf nahy munkar seseorang kerap melakukan tindakan anarkis hingga menciderai hak dan martabat manusia. Amar Maruf Nahy Munkar dalam Fikih dan al-Quran Dalam literatur fikih lama istilah amar maruf nahy munkar disebut juga dengan hisbah. Secara bahasa hisbah memiliki arti mencari pahala (thalab al-ajr). Sedangkan dalam kajian keislaman masa lalu hisbah dipahami sebagai intervensi seseorang ke dalam kehidupan orang lain (al-tadakhul fi hayah al-akharin) apabila orang lain melakukan tindakan yang melanggar hak Allah atau hak sesama. (Ahmad Shubhi Manshur, hal. 9). Hak Allah dimaksud meliputi ranah keyakinan (al-aq`id) seperti iman kepada Allah, malaikat, kitab suci, para rasul, dan ibadah (al-ibdt) seperti shalat, zakat, puasa, haji, dzikir, membaca al-Quran, dan yang lainnya. Sedangkan hak sesama adalah menjaga hak hidup, harta benda, dan harga diri. Untuk mengetahui latar belakang konsepsi amar maruf nahy munkar dalam kajian fikih ini diperlukan telaah sejarah, karena fikih sebagai produk pemikiran para sarjana masa lalu tidak lepas dari konteks kehidupan saat itu, khususnya potret kehidupan masyarakat pada masa kodifikasi ilmu-ilmu keislaman pada abad ke II H. Hisbah merupakan istilah yang tidak dikenal pada masa nabi Muhammad Saw. dan sahabat penggantinya (al-khulafa al-rasyidun). Istilah ini baru muncul pada abad ke II H. tepatnya pada masa khalifah ke II Dinasti Abbasiyah, Abu Jafar al-Manshur. Dinasti Abbasiyah adalah kerajaan yang dipimpin oleh keturunan Abbas bin Hasyim, paman nabi Muhammad Saw. Dinasti ini berdiri setelah berhasil meruntuhkan Dinasti Umayyah atas bantuan orang-orang Persi yang dipimpin Abu Muslim al-Khurasani. Dinasti Abbasiyah pertama kali dipimpin oleh al-Abbas, lalu dilanjutkan keturunannya, Abu Jafar al-Manshur. Al-Manshur merasa tidak nyaman dan ketakutan dengan al-Khurasani yang sangat berpengaruh di Persi. Al-Manshur khawatir kekuasaannya diserang oleh para pengikut alKhurasani, hingga akhirnya al-Manshur mengambil langkah antisipatif dengan membunuh alKhurasani. Fathimah binti Abi Muslim al-Khurasani, putri al-Khurasani, sangat terpukul dan tidak terima dengan perilaku keji khalifah kedua Abbasiyah itu. Fathimah menggerakkan orang-orang Persi pengikut ayahnya di bawah persamaan agama yang dianut nenek moyang Persi, yakni al-Mazdakiyah atau Mazdakisme (salah satu paham dalam agama Majusi) untuk mengadakan perlawanan terhadap khalifah al-Manshur. Sebagai benteng pertahanan Dinasti Abbasiyah, al-Manshur mengerahkan pasukannya untuk menumpas orang-orang Persi yang dipimpin oleh Fathimah dengan dalih memerangi orang-orang zindiq. Sebagaimana diketahui bersama bahwa Dinasti Abbasiyah merupakan salah satu pemerintahan yang berdiri di atas nama agama (khilafah islamiyah) sehingga tindakan khalifahnya pun selalu bersandar pada dalil-dalil agama dengan segenap interpretasi yang dipaksakan supaya terkesan mendukung kebijakan khalifah.

Amar Maruf Nahy Munkar dan Hak Kebebasan Manusia_____________________Khoirul Anwar

Kebijakan menumpas orang-orang Persi itu kemudian dimasukkan ke dalam tugas pengawas pasar atau disebut dengan muhtasib, lembaganya dinamakan hisbah. Kebijakan politik ini kemudian dibingkai rapi oleh para ulama yang pro kerajaan (baca; ulama Negara/fuqaha al-daulah) dengan kemasan ajaran agama. Dengan demikian hisbah yang pada awalnya sebagai lembaga pengawas pasar kemudian berubah menjadi lembaga pengadilan keyakinan. Dalam penumpasan orang-orang Persi itu yang menjadi korban tidak hanya para penganut Mazdakisme, tapi umat Islam juga banyak yang dibunuh, siapa saja yang menjadi pengikut al-Khurasani maka akan dibunuh dengan dalih zindiq. Nama-nama orang Islam yang dibunuh dengan klaim telah zindiq antara lain Basyar bin Bard (penyair), Ibnu Abdil Quddus (penyair), Abdullah ibn al-Muqaffa (pakar humaniora), Abdul Karim Ibn Abi alAuja (rawi hadis dan ahli fikih), dan yang lainnya. (Ahmad Shubhi Manshur, hal. 10-13). Pengertian amar maruf nahy munkar dengan mengadili orang-orang zindiq atau orang-orang yang berbeda keyakinan ini sangat berbeda dengan amar maruf nahy munkar yang diperintahkan al-Quran. Dalam al-Quran amar maruf nahy munkar disebutkan dalam beberapa tempat, antara lain QS. 3:104, 110, dan yang lainnya. Perintah mengerjakan kebaikan dan mencegah kemunkaran yang dikehendaki al-Quran adalah memberikan nasihat kepada sesama, yakni memerintahkan saudara sesama untuk mengerjakan kebaikan dengan lisan dan melarangnya melakukan kemunkaran. Pemahaman seperti ini dapat diketahui melalui kehidupan nabi Muhammad Saw. yang tidak pernah menghukum seseorang sebab keluar dari agama Islam atau berbeda keyakinan. Nabi Saw. berperang apabila diserang, itu pun dilakukan apabila cara-cara lain sudah tidak bisa digunakan atau terpaksa. (Abu Zahrah, 23-25). Kehormatan Manusia Dalam Islam Dalam al-Quran Allah berulang kali menyebutkan manusia sebagai makhluk yang paling mulia ketimbang makhluk-Nya yang lain. Antara lain dalam QS. 17:70, QS. 95:4, QS. 7:11, QS. 2:30, dan yang lainnya. Yang perlu diperhatikan, dalam beberapa ayat tersebut Allah menyebut manusia sebagai makhluk-Nya yang paling mulia dan memerintahkan umat manusia untuk saling menghormati dan melindungi saudara sesama redaksi yang digunakanNya adalah al-insan dan an-nas (manusia), bukan al-mukminin (orang-orang yang beriman) atau al-muslimin (orang-orang muslim). Begitu juga redaksi yang digunakan nabi Muhammad Saw. dalam pidato haji perpisahan yang menegaskan bahwa sesungguhnya semua umat manusia itu satu (inna abakum wahid), orang Arab tidak lebih utama dari pada yang lainnya, orang kulit putih tidak lebih utama ketimbang yang lain, begitu juga orang kulit merah, dan yang lainnya, semuannya berasal dari sesuatu yang satu, yakni debu. (Fahmi Huwaidi, hal. 84). Redaksi tersebut menggunakan kata al-nas (manusia). Ini artinya bahwa manusia dengan beragam agama, suku, dan jenis kelaminnya, semuannya sama, memiliki hak dan kewajiban yang sama, wajib dihormati dan menghormati, wajib dilindungi dan melindungi. Anehnya hak dan martabat manusia ini seringkali dilukai oleh sebagian orang dengan dalih menjalankan ajaran agama, yaitu amar maruf nahy munkar. Hal ini menjadikan ajaran amar maruf nahy munkar yang sebenarnya memiliki arti memberikan nasihat kepada sesama dengan cara lemah lembut maknanya berubah menjadi pengadilan keyakinan secara paksa. Padahal itu semua disebabkan oleh tindakan politik yang dibungkus dengan kemasan agama. Agama yang sesungguhnya memiliki nilai-nilai keramahan berubah menjadi kemarahan. Amar maruf nahy munkar tidak lagi menjadi ajaran tebar kasih sayang, tapi intervensi ke dalam kehidupan orang lain hingga seakan-akan kebebasan setiap individu manusia tersekat dan terpenjara ke dalam pemahaman keislaman orang lain yang belum tentu benar.
2 Amar Maruf Nahy Munkar dan Hak Kebebasan Manusia_____________________Khoirul Anwar

Memahami amar maruf nahy munkar dengan intervensi ke dalam kehidupan orang lain terlebih disertai dengan paksaan dan tindak kekerasan jelas bertentangan dengan ajaran Islam yang membebaskan setiap individu manusia untuk berkeyakinan, berpendapat dan berekspresi. Al-Quran memerintahkan umat manusia untuk saling menebar kasih sayang, antara lain dengan ungkapan yang baik, dan inilah yang dimaksud dengan amar maruf nahy munkar. Apabila orang yang dinasihati tidak menerima maka persoalannya diserahkan kepada Allah. (QS. 5:105).

*Aktif di Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Semarang. Email: khoirulanwar_88@yahoo.co.id Twitter: @khoirulanwar_88

Amar Maruf Nahy Munkar dan Hak Kebebasan Manusia_____________________Khoirul Anwar