Sunteți pe pagina 1din 28

HEMOROID

A. Pengertian Hemorrhoid adalah pembengkakan atau distensi vena di daerah anorektal.Sering terjadi namun kurang diperhatikan kecuali kalau sudah menimbulkan nyeri dan perdarahan. Literatur lain menyebutkan bahwa hemorrhoid adalah varices vena eksternal dan / atau internal dari kanal anus yang disebabkan oleh adanya tekanan pada vena-vena anorektal. Hemoroid (Ambeyen) adalah pelebaran vena di dalam fleksus hemoroidalis yang tidak merupakan keadaan patologik1).Hanya apabila hemoroid ini menyebabkan keluhan atau penyulit, diperlukan tindakan. B. Etiologi Hemoroid dapat terjadi karena dilatasi (pelebaran), inflamasi (peradangan) atau pembengkakan vena hemoroidalis yang disebabkan: Konstipasi kronik: sulit buang air besar, sehingga harus mengejan. Kehamilan: karena penekanan janin pada perut. Diare kronik. Usia lanjut. Duduk terlalu lama Hubungan seks peranal. Pada beberapa individu terjadi hipertrofi sfingter ani (pembengkakan otot/ klep dubur), obstruksi (sumbatan) fungsional akibat spasme (kejang), dan penyempitan kanal anorektal (saluran dubur-ujung akhir usus besar) C. Patofisiologi Mengedan selama buang air besar dapat meningkatkan tekanan intra abdominal dan vena hemoroidal, menimbulkan distensi pada vena hemoroidal.Bila ujung rektum penuh oleh kotoran obstruksi vena mungkin bisa terjadi.Sebagai salah satu akibat dari pengulangan dan perpanjangan meningkatkan tekanan dan obstruksi, sehingga dilatasi permanen pada vena hemoroidal dapat terjadi.Distensi juga dapat mengakibatkan terjadinya trombosis dan D. Klasifikasi 1. Berdasarkan asal / tempat penyebabnya: Hemoroid interna Hemoroid ini berasal dari vena hemoroidales superior dan medial, terletak diatas garis anorektal dan ditutupi oleh mukosa anus.hemoroid ini tetap berada di dalam anus. Hemoroid eksterna Hemoroid ini dikarenakan adanya dilatasi (pelebaran pembuluh darah) vena hemoroidales inferior, terletak dibawah garis anorektal dan ditutupi oleh mukosa usus.hemoroid ini keluar dari anus (wasir luar)

2. Hemoroid interna diklasifikasikan lagi berdasarkan perkembangannya : Tingkat 1 : biasanya asimtomatik dan tidak dapat dilihat, jarang terjadi perdarahan, benjolan dapat masuk kembali dengan spontan. Tingkat 2 : gejala perdarahannya berwarna merah segar pada saat defekasi (buang air besar) benjolan dapat dilihat disekitar pinggir anus dan dapat kembali dengan spontan. Tingkat 3 : prolapsus hemoroid, terjadi setelah defekasi dan jarang terjadi perdarahan, prolapsus dapat kembali dengan dibantu. Tingkat 4 : terjadi prolaps dan sulit kembali dengan spontan. E. Tanda dan Gejala Tandanya : Terjadi benjolan-benjolan disekitar dubur setiap kali buang air besar. Rasa sakit atau nyeri. Rasa sakit yang timbul karena prolaps hemoroid (benjolan tidak dapat kembali) dari anus terjepit karena adanya trombus. Perih. Perdarahan segar disekitar anus. Perdarahan terjadi dikarenakan adanya ruptur varises. Perasaan tidak nyaman (duduk terlalu lama dan berjalan tidak kuat lama) Keluar lendir yang menyebabkan perasaan isi rektum belum keluar semua. Gejala-gejala yang lain termasuk : Rasa gatal pada rektal. Konstipasi. Nyeri. Perdarahan berwarna merah terang. Prolaps dapat terjadi pada kasus berat. F. Pemeriksaan Diagnostik Pemeriksaan yang dilakukan antara lain : a. Pemeriksaan colok dubur b. Anorektoskopi (untuk melihat kelainan anus dan rektum) c. Pemeriksaan rectal dan palpasi digital. d. Proctoscopi atau colonoscopy (untuk menunjukkan hemoroid internal) G. Penatalaksanaan Medis 1) Farmakologis Menggunakan obat untuk melunakkan feses / psillium akan mengurangi sembelit dan terlalu mengedan saat defekasi, dengan demikian resiko terkena hemoroid berkurang. Menggunakan obat untuk mengurangi/menghilangkan keluhan rasa sakit, gatal, dan kerusakan pada daerah anus. Obat ini tersedia dalam dua bentuk yaitu dalam

bentuk supositoria untuk hemoroid interna, dan dalam bentuk krim / salep untuk hemoroid eksterna. Obat untuk menghentikan perdarahan, banyak digunakan adalah campuran diosmin (90%) dan hesperidin (10%) 2) Nonfarmakologis Perbaiki pola hidup (makanan dan minum): perbanyak konsumsi makanan yang mengandung serat (buah dan sayuran) kurang lebih 30 gram/hari, serat selulosa yang tidak dapat diserap selama proses pencernaan makanan dapat merangsang gerak usus agar lebih lancar, selain itu serat selulosa dapat menyimpan air sehingga dapat melunakkan feses. Mengurangi makanan yang terlalu pedas atau terlalu asam. Menghindari makanan yang sulit dicerna oleh usus. Tidak mengkonsumsi alkohol, kopi, dan minuman bersoda. Perbanyak minum air putih 30-40 cc/kg BB/hari. Perbaiki pola buang air besar : mengganti closet jongkok menjadi closet duduk. Jika terlalu banyak jongkok otot panggul dapat tertekan kebawah sehingga dapat menghimpit pembuluh darah. Penderita hemoroid dianjurkan untuk menjaga kebersihan lokal daerah anus dengan cara merendam anus dalam air selama 10-15 menit tiga kali sehari. Selain itu penderita disarankan untuk tidak terlalu banyak duduk atau tidur, lebih baik banyak berjalan. 3) Tindakan minimal invasif Dilakukan jika pengobatan farmakologi dan non farmakologi tidak berhasil, tindakan yang dapat dilakukan diantaranya adalah : Skleroskopi hemoroid, dilakukan dengan cara menyuntikkan obat langsung kepada benjolan / prolaps hemoroidnya. Ligasi pita karet, dilakukan dengan cara mengikat hemoroid. Prolaps akan menjadi layu dan putus tanpa rasa sakit. Penyinaran sinar laser. Disinari sinar infra red. Dialiri arus listrik (elektrokoagulasi) Hemoroideolysis Pembedahan Terapi bedah dilakukan pada hemoroid derajat III dan IV dengan penyulit prolaps, trombosis, atau hemoroid yang besar dengan perdarahan berulang.Pilihan pembedahan adalah hemoroidektomi secara terbuka, secara tertutup, atau secara submukosa.Bila terjadi komplikasi perdarahan, dapat diberikan obat hemostatik seperti asam traneksamat yang terbukti secara bermakna efektif menghentikan perdarahan dan mencegah perdarahan ulang.

Terapi medikal hanya digunakan untuk kasus ringan, hemoroid tanpa komplikasi dengan manifestasi ringan. Pengobatan meliputi : Gejala hemoroid dan ketidaknyamanan dapat dihilangkan dengan hygiene personal yang baik. Menghindari mengejan yang berlebihan selama defekasi. Diit tinggi serat. Pemberian laksatif yang berfungsi mengabsorbsi air saat melewati anus. Rendam duduk dengan salep dan supositoria yang mengandung anastesi. Tirah baring. Tindakan non operatif seperti : fotokoagulasi infra merah, diatermi bipolar dan terapi laser. Injeksi larutan sklerosan untuk hemoroid berukuran kecil dan berdarah. Tindakan bedah konservasif hemoroid internal adalah prosedur ligasi pita-karet. Hemoroidektomi kriosirurgi adalah metode untuk mengangkat hemoroid dengan cara membekukan jaringan hemoroid selama waktu tertentu sampai timbul nekrosis. Laser Nd:YAG digunakan terutama pada hemoroid eksternal.

H. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Hemoroid Proses keperawatan adalah metode dimana suatu konsep diterapkan dalam praktik keperawatan. Hal ini biasa disebut sebagai suatu pendekatan problem solving yang memerlukan ilmu, tehnik dan keterampilan interpersonal dan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan klien/ keluarga. Dimana proses keperawatan terdiri dari lima tahap yang sequensial dan berhubungan: pengkajian, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Proses keperawatan adalah metode sistemik dimana secara langsung perawat bersama klien secara bersama menentukan masalah keperawatan sehingga membutuhkan asuhan keperawatan, membuat perencanaan dan rencana implementasi, serta mengevaluasi hasil asuhan keperawatan. Adapun langkah tersebut adalah sebagai berikut : 1) Pengkajian Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien. Merupakan dasar utama atau langkah awal dari proses keperawatan secara keseluruhan. Pada tahap ini semua data/informasi tentang klien yang dibutuhkan dikumpulkan dan dianalisa untuk menentukan diagnosa keperawatan.

Pengkajian yang dapat dilakukan pada klien dengan Hemoroid meliputi : Riwayat kesehatan diambil untuk menentukan adanya gatal, rasa terbakar dan nyeri berserta karakteristiknya 1. Apakah ini terjadi selama defekasi ? 2. Berapa lama ini berakhir ? 3. Adakah nyeri abdomen dihubungkan dengan hal itu ? 4. Apakah terdapat perdarahan dari rektum ? 5. Seberapa banyak ? 6. Seberapa sering ? 7. Apakah warnanya ? 8. Adakah rabas lain seperti mukus atau pus ? Pertanyaan lain berhubungan dengan pola eliminasi dan penggunaan laksatif 1. Riwayat diet, termasuk masukan serat 2. Jumlah latihan 3. Tingkat aktivitas 4. Pekerjaan (khususnya bila mengharuskan duduk atau berdiri lama) Pemeriksaan fisik pada klien dengan hemoroid adalah sebagai berikut: a. Kaji tingkat kesadaran (kacau mental, letargi, tidak merespon). b. Ukur tanda-tanda vital (TD meningkat/ menurun, takikardi). c. Auskultasi bunyi nafas. d. Kaji kulit (pucat, bengkak, dingin). e. Kaji terhadap nyeri atau mual. f. Abdomen : Nyeri tekan pada abdomen, bisa terjadi konstipasi. g. Anus : Pembesaran pembuluh darah balik (vena) pada anus, terdapat benjolan pada anus, nyeri pada anus, perdarahan. 2) Diagnosa Diagnosa keperawatan adalah keputusan klinik tentang respon individu, keluarga dan masyarakat tentang masalah kesehatan aktual atau potensial, sebagai dasar seleksi intervensi keperawatan untuk mencapai tujuan asuhan keperawatan sesuai dengan kewenangan perawat. Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang menjelaskan status/ masalah kesehatan aktual atau potensial.Tujuannya adalah mengidentifikasi adanya masalah aktual berdasarkan respon klien terhadap masalah atau penyakit, faktor-faktor yang berkontribusi atau penyebab adanya masalah, kemampuan klien mencegah atau menghilangkan masalah. Tujuan diagnosa keperawatan adalah untuk mengidentifikasi : a. Masalah dimana adanya respon klien terhadap status kesehatan atau penyakit. b. Faktor-faktor yang menunjang atau menyebabkan suatu masalah (etiologi) c. Kemampuan klien untuk mencegah atau menyelesaikan masalah.

Langkah-langkah dalam diagnosa keperawatan dapat dibedakan menjadi : a. Klasifikasi dan analisa data. b. Interpretasi data. c. Validasi data. d. Perumusan diagnosa keperawatan. Diagnosa keperawatan dapat dibedakan menjadi 5 kategori : aktual, resiko, kemungkinan, wellnes, syndrom. Diagnosa keperawatan yang mungkin timbul pada pasien dengan hemoroid adalah : a. Nyeri berhubungan dengan iritasi, tekanan, dan sensitifitas pada area rektal atau anal sekunder akibat penyakit anorektal. b. Konstipasi berhubungan dengan mengabaikan dorongan untuk defekasi akibat nyeri selama eliminasi c. Ansietas berhubungan dengan rencana pembedahan dan rasa malu. d. Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat. 3) Perencanaa Setelah merumuskan diagnosa keperawatan langkah berikutnya adalah menentukan perencanaan keperawatan.Perencanaan meliputi pengembangan strategi desain untuk mencegah, mengurangi dan mengoreksi masalah-masalah yang di identifikasi pada diangosa keperawatan.Tahap ini dimulai setelah menentukan diagnosa keperawatan dan menyimpulkan rencana dokumentasi. Tahapan dalam perencanaan ini meliputi : menentukan prioritas, menentukan kriteria hasil, menentukan rencana tindakan dan pendokumentasian. Adapun perencanaan/ intervensi dari diagnosa yang timbul pada pasien hemoroid adalah: Nyeri berhubungan dengan iritasi, tekanan, dan sensitifitas pada area rektal atau anal sekunder akibat penyakit anorektal. Tujuan : Nyeri berkurang atau hilang Kriteria hasil : Melaporkan nyeri hilang Mengungkapkan metode yang memberikan penghilangan Mendemonstrasikan penggunaan intervensi terapeutik (misal keterampilan relaksasi) untuk menghilangkan nyeri. Rencana tindakan : Mandiri 1) Kaji karakteristik, intensitas dan lokasi nyeri. Rasional : Membantu menentukan intervensi dan memberikan dasar untuk perbandingan dan evaluasi terhadap terapi.

2) Pantau tanda-tanda vital. Rasional : Perubahan frekuensi jantung menunjukkan bahwa pasien mengalami nyeri. Rasional : Meningkatkan relaksasi dan mungkin meningkatkan koping pasien dengan memfokuskan kembali perhatian. 3) Kaji hal-hal yang dapat meningkatkan rasa nyeri. Rasional : Digunakan sebagai dasar dari tindakan selanjutnya. 4) Hindarkan hal-hal yang dapat menimbulkan nyeri Rasional : Menghindarkan stimulasi yang dapat mengakibatkan peningkatan rasa nyeri. 5) Ajarkan tehnik distraksi dan relaksasi Rasional : Relaksasi digunakan untuk mengurangi stimulus nyeri, dan mengalihkan perhatian terhadap nyeri. 6) Dorong klien untuk ambulasi dini. Rasional : Meningkatkan normalisasi fungsi organ Kolaborasi 7) Berikan analgesik sesuai indikasi. Rasional : Meningkatkan kenyamanan dan untuk menghilangkan nyeri Konstipasi berhubungan dengan mengabaikan dorongan untuk defekasi akibat nyeri selama eliminasi Tujuan : Eliminasi kembali normal. Kriteria hasil : Membuat kembali pola yang normal dari fungsi usus. Pasien dapat mengeluarkan feses lunak/ konsistensi agak berbentuk tanpa mengejan. Menciptakan kembali kepuasan pola eliminasi usus Rencana tindakan : Mandiri 1) Catat adanya distensi abdomen dan auskultasi peristaltik usus. Rasional : Distensi dan hilangnya peristaltik usus fungsi defekasi hilang, kehilangan persarafan parasimpatik usus besar. 2) Anjurkan latihan defekasi secara teratur Rasional : mengeluarkan feses termasuk stimulasi manual, menggunakan supositoria. mengontrol pengeluaran feses, untuk kemandirian fisik pasien dan penerimaan sosial. 3) Anjurkan pasien untuk minum paling sedikit 2000 ml/ hari Rasional : Dapat melembekkan feses memfasilitasi eliminasi. 4) Anjurkan pasien untuk makan-makanan yang sehat dan berserat. Rasional : Meningkatkan konsistensi feses untuk melewati usus dengan mudah. 5) Anjurkan untuk melakukan pergerakan atau ambulasi sesuai kemampuan. Rasional : Menstimulasi peristaltik yang memfasilitasi terbentuknya flatus. 6) Tingkatkan diet makanan berserat.

Rasional : Membantu dalam mengatur konsistensi fekal dan menurunkan konstipasi. 7) Beri obat pelembek feses, supositoria, laksatif atau enema jika diperlukan. Rasional : Mencegah konstipasi, menurunkan distensi abdomen dan membantu dalam keteraturan fungsi defekasi. Ansietas berhubungan dengan rencana pembedahan dan rasa malu Tujuan : Pasien dapat menerima secara nyata kondisi penyakit dengan positif. Kriteria hasil : Menunjukkan rileks dan melaporkan penurunan ansietas sampai tingkat ditangani. Mengatakan perasaan dan cara yang sehat untuk menghadapi masalah Rencana tindakan : Mandiri 1) Evaluasi tingkat ansietas, catat respon verbal dan non verbal pasien. Dorong ekspresi bebas akan emosi. Rasional : Ketakutan dapat terjadi karena nyeri hebat, meningkatkan perasaan sakit. 2) Jelaskan prosedur atau asuhan yang diberikan. Ulangi penjelasan dengan sering atas sesuai kebutuhan. Rasional : Rasa takut akan ketidaktahuan diperkecil dengan informasi atau pengetahuan dan dapat meningkatkan penerimaan dialisis. 3) Dorong menyatakan perasaan. Berikan umpan balik. Rasional : Membuat hubungan terapeutik. Membantu pasien/ orang terdekat dalam mengidentifikasi masalah yang menyebabkan stress. 4) Tunjukkan indikator positif pengobatan, contoh perbaikan nilai laboratorium, TD stabil, berkurangnya kelelahan. Rasional : Meningkatkan perasaan berhasil dalam pemberian terapi. 5) Berikan lingkungan yang tenang dan nyaman pada pasien. Rasional : Memindahkan pasien stress dari luar, meningkatkan relaksasi, membantu menurunkan ansietas. 6) Bantu pasien belajar mekanisme koping baru, misal : tehnik mengatasi stress, keterampilan organisasi. Rasional : Belajar cara baru untuk mengatasi masalah dapat membantu dalam menurunkan stress dan ansietas, meningkatkan kontrol penyakit. Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat. Tujuan : Infeksi tidak terjadi Kriteria hasil : Menyatakan pemahaman penyebab atau faktor resiko infeksi. Meningkatkan waktu penyembuhan, bebas tanda infeksi Tidak demam Berpartisipasi pada aktifitas untuk menurunkan resiko infeksi.

Rencana tindakan : Mandiri 1) Kaji tanda-tanda infeksi. Rasional : Mengetahui tanda-tanda infeksi sedini mungkin, sehingga dapat dilakukan tindakan keperawatan selanjutnya. 2) Pertahankan teknik aseptik pada perawatan hemoroid. Rasional : Menurunkan resiko infeksi 3) Kaji tanda-tanda vital dengan sering, catat tidak membaiknya atau berlanjutnya hipotensi, penurunan tekanan darah, takikardia, demam, takipnea Rasional : Tanda adanya syok septik, menyebabkan vasodilatasi, kehilangan cairan dari sirkulasi dan rendahnya status curah jantung. 4) Anjurkan klien dan keluarga untuk menjaga kebersihan daerah anus. Rasional : Meminimalkan resiko terjadinya infeksi. Kolaborasi 5) Berikan antibiotik sesuai indikasi Rasional : Untuk mencegah dan menangani infeksi 4) Implementasi Pelaksanaan tindakan keperawatan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik.Tahap pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan disusun dan ditujukan pada nursing orders untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan. Pelaksanaan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik.Tahap pelaksanaan perawatan merupakan tindakan pemberian asuhan keperawatan yang dilakukan secara nyata untuk membantu klien mencapai tujuan pada rencana tindakan yang telah dibuat. Tujuan dari pelaksanaan adalah membantu klien dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan, yang mencakup peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, pemulihan kesehatan dan memfasilitasi koping. Dalam pelaksanaan tindakan ada tiga tahapan yang harus dilalui yaitu persiapan, perencanaan dan dokumentasi. Fase persiapan, meliputi: 1) Review tindakan keperawatan 2) Menganalisa pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan 3) Mengetahui komplikasi yang mungkin timbul 4) Menentukan dan mempersiapkan peralatan yang diperlukan 5) Persiapan lingkungan yang kondusif 6) Mengidentifikasi aspek hukum dan etik Fase intervensi: 1) Independen: Tindakan yang dilakukan oleh perawat tanpa petunjuk atau perintah dokter atau tim kesehatan lain. 2) Interdependen: Tindakan perawat yang melakukan kerjasama dengan tim kesehatan lain (gizi, dokter, laboratorium dll).

3) Dependen: Berhubungan dengan tindakan medis atau menandakan dimana tindakan medis dilaksanakan. Fase dokumentasi Merupakan suatu pencatatan lengkap dan akurat dari tindakan yang telah dilaksanakan yang terdiri dari tiga tipe yaitu: 1) Sources Oriented Records (SOR) 2) Problem Oriented Records (POR) 3) Computer Assisted Records (CAR)

5) Evaluasi Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana tindakan dan pelaksanaannya sudah berhasil dicapai. Melalui evaluasi memungkinkan perawat untuk memonitor kealpaan yang terjadi selama tahap pengkajian, analisa, perencanaan, dan pelaksanaan tindakan. Evaluasi sebagai sesuatu yang direncanakan dan perbandingan yang sistematik pada status kesehatan klien. Tujuan evaluasi adalah untuk melihat kemampuan klien mencapai tujuan. Hal ini bisa dilaksanakan dengan melaksanakan hubungan dengan klien berdasarkan respon klien terhadap tindakan keperawatan yang diberikan, sehingga perawat dapat mengambil keputusan : a. Mengakhiri rencana tindakan keperawatan (klien telah mencapai tujuan yang ditetapkan). b. Memodifikasi rencana tindakan keperawatan (klien mengalami kesulitan untuk mencapai tujuan). c. Meneruskan rencana tindakan keperawatan (klien memerlukan waktu yang lebih lama untuk mencapai tujuan). Ada 2 komponen untuk mengevaluasi kualitas tindakan keperawatan yaitu : a. Proses (Formatif) Adalah evaluasi yang dilaksanakan segera setelah perencanaan keperawatan dilaksanakan untuk membantu keefektifan terhadap tindakan. b. Hasil (Sumatif) Adalah evaluasi yang dapat dilihat pada perubahan perilaku atau status kesehatan klien pada akhir tindakan perawatan klien. Komponen evaluasi dapat dibagi menjadi 5 yaitu: a) Menentukan kriteria, standar dan pertanyaan evaluasi. b) Mengumpulkan data mengenai keadaan klien terbaru. c) Menganalisa dan membandingkan data terhadap kriteria dan standar. d) Merangkum hasil dan membuat kesimpulan. e) Melaksanakan tindakan yang sesuai berdasarkan kesimpulan.

Adapun kriteria yang diharapkan pada evaluasi dari penyakit hemoroid adalah: a) Nyeri berkurang atau hilang. b) Eliminasi kembali normal. c) Pasien dapat menerima secara nyata kondisi dengan positif. d) Infeksi tidak terjadi. Hal ini sesuai dengan standar tujuan yang telah ditentukan pada tahap perencanaan tindakan. I. Komplikasi Komplikasi hemoroid yang paling sering adalah : a. Perdarahan. b. Trombosis. Trombosis adalah pembekuan darah dalam hemoroid. c. Hemoroidal strangulasi. Hemoroidal strangulasi adalah hemoroid yang prolaps dengan suplai darah dihalangi oleh sfingter ani.

J.

Kasus Klien mengatakan sudah tiga hari merasakan gatal pada rektumnya. Konstipasi, waktu BAB terdapat perdarahan berwarna merah terang, terjadi benjolan di dubur dan rasa sakit serta nyeri setiap kali BAB. Klien mengatakan tidak ada anggota keluarga yang memiliki riwayat penyakit seperti yang diderita oleh pasien. Setelah dilakukan pemerikasaan fisik didapatkan hasil TD: 100/60 mmhg, N: 120X/mnt, S: 38 C, RR: 25X/mnt Diaknosa medis: Hemoroid. ASUHAN KEPERAWATAN HEMOROID PADA Tn.J DI RS. CITRA MEDIKA SURABAYA. A. PENGKAJIAN Tanggal pengkajian : 03 Mei 2012 Ruang Rawat : Dahlia No RM : 09 5409 I. Data Subjaktif Identitas Nama Jenis Kelamin Agama Suku/Bangsa Alamat Tanggal MRS Jam MRS Dx Medis

: Tn. J Usia 28 th. : Laki Laki : Islam : Indonesia : Jl. Bhayangkara No.102 Rt.03/0V Surabaya : 03 Mei 2012 : 09.45 : Hemoroid

Penanggung Jawab Nama : Ny. S Umur : 25 th. Jenis Kelamin : Perempuan Agama : Islam Alamat : Jl. Bhayangkara No.102 Rt 03/0V Surabaya II. Riwayat Keperawatan 1. Keluhan Utama : Klien mengatakan nyeri dan terdapat benjolan pada rektumnya, serta terdapat perdarahan berwarna merah terang. Keluhan saat pemeriksaan fisik : klien merasakan sakit pada saat pemeriksaan Proctoscopi 2. Riwayat Penyakit saat ini : Klien mengatakan terdapat terdapat benjolan di duburnya dan terasa nyeri setiap kali BAB. Nyeri yang dirasakan klien di sertai perdarahan

berwarna merah terang. Skala nyeri yang dirasakan klien skala 5 6, nyeri terasa saat dibuat dibuat BAB, dan agak ringan dila dibuat tidur. 3. Riwayat Kesehatan yang lalu : klien pernah menderita thypoid, namun sampai saat ini belum pernah kambuh, riwayat pengobatan yang pernah dijalani, klien pernah berobat di RS. Mitra Husada Surabaya. 4. A. Riwayat Penyakit Keluarga Klien mengatakan dalam keluarga tidak ada penyakit turunan. B. Perilaku yang mempengaruhi kesehatan klien mengatakan bahagia mempunyai keluarga yang harmonis dan setia mendampinginya pada saat sakit. III. Pola Fungsi Kesehatan 1. Pola Aktivitas dan latihan a. Mandi : Tidak perlu bantuan orang lain. b. Berpakaian/berdandan : tidak memerlukan bantuan orang lain. c. Eliminasa : membutuhkan obat obatan pelunak feses. d. Mobilisasi tempat tidur : perlu bimbingan dari orang lain/perawat. e. Pindah : perlu bantuan orang lain. 2. Pola istirahat dan tidur a. Sebelum sakit Klien mengatakan sebelum sakit, saat dirumah tidur biasanya mulai pukul 22.00 WIBdan bangun pagi pada pukul 04.30 WIB klien biasa tidur berbaring dan terlentang serta tidur nyenyak. b. Saat sakit Klien mengatakan selama sakit tidur kurang nyenyak dank lien hanya dapat tidur 5 jam dan siang harinya 1 jam. 3. Pola Nutrisi a. Sebelum sakit Klien mengatakan sebelum sakit, makan seperti biasa 3X sehari dan minum kurang lebih 5 6 gelas air putih dalam sehari. b. Saat sakit Klien mengatakan nafsu makan menurun 2X sehari karena jika kebanyakan makan, waktu BAB terasa sakit, yang biasanya satu piring dapat dihabiskan namun pada saat sakit hanya piring saja dan minum seperti biasa 5 6 gelas sehari.

4. Pola Eliminasi a. Sebelum sakit Klien mengatakan sebelumnya BAB 1 2X sehari, dengan konsistensi keras, warna kuning kecoklatan serta terdapat darah berwarna merah segar dan bau khas menyengat dan BAK kurang lebih 2-3X sehari dengan warna kuning dan bau khas. b. Saat sakit Klien mengatakan saat sakit jarang BAB biasanya 1-2X sehari menjadi 1X sehari , dengan konsistensi keras, warna kuning kecoklatan serta terdapat darah berwarna merah segar, bau khas menyengat, dan saat sakit BAK 2-3X sehari di kamar mandi tenpa bantuan orang lain, warna kuning bau khas.

5. Pola Kognitif perceptual a. Status mental : Compos Mentis ( GCS : 4.5.6 ) b. Bicara : baik tidak pelo c. Bahasa yang digunakan : Indonesia d. Kemampuan membaca : Normal e. Mengartikan : Bisa f. Pendengaran : Normal g. Penglihatan : Normal

6. Pola Konsep diri a. Harga diri : Terganggu b. Ideal diri : Tidak terganggu c. Identitas diri : terganggu d. Gambaran diri : tidak terganggu IV. Observasi dan pengkajian fisik 1. Keadaan umum : K/U lemah, kesadaran compos mentis pasien berbaring di tempat tidur, pasien merenggut dan menggigit bibir. 2. Pemeriksaan TTV : T : 100/60 mmhg. N : 110 x/menit S : 38 derajat Celcius RR: 25x/mnt 3. a. Pemeriksaan Kepala Bentuk kepala normal, warna rambut hitam lurus dan sedikit kusam, penyebaran rambut merata, tyidak ada benjolan pada kepala.

b. pemeriksaan muka / wajah bentuk wajah oval, ekspresi wajah merenggut, pasien menggigit bibir, penyebaran bulu mata merata, tidak terdapat luka.

c. Hidung bentuk Hidung simetris, warna kuloit sama dengan sekitar, tidak ada nyeri tekan dan lesi. d. Telinga bentuk telinga simetris, kanan dan kiri, tidak ada benjolan nyeri tekan dan pendengaran baik. e. Mulut, Gigi, Lidah, Tonsil dan Pharink mukosa bibir kering, warna bibir sedikit hitam, lidah bersih, tidak ada karies gigi, tonsil normal, tidak ada pembesaran tonsil, pharink tidak ada nyeri tekan tidak ada lesi dan kemerahan. f. Leher dan Tenggorokan Posisi Trakea simetris, tidak ada pembesaran kelenjar thyroid,tidak ada lesi, tidak ada benjolan, warna sama dengan kulit sekitar g. Pemeriksaan Dada dan Thorax 1. Pemeriksaan bahu Inspeksi : Bentuk normal ehest, tidak ada ofet bantu pernafasan, tidak ada lesi. Palpasi : Vokal Premitus ko/ki sama, tidak ada nyeri tekan, expansi paru dextra dab sinestra. Perkusi : ICS : 1-5 Resonan (dextra) 6-10 peka karena adanya hati (dextra) ICS : 1-2 Resonan (sinestra) 3-5 peka karena adanya jantung (sinestra) 6-7 timpani karena adanya lambung (sinestra) Auskultasi : Suara normal Vesikuler, tidak ada suara tambahan seperti wheezing, ronchi dan rales. 2. Pemeriksaan Jantung Inspeksi: Ictus Cordis tidak nampak di ICS 5, midela vikula sinestra Palpasi : Ictus Cordis tampak di ICS 5, tidak ada nyeri tekan. Perkusi : Sinestra suara peka. Batas Jantung atas ICS 2 dan 3 liena sternalis Dextra. Batas Jantung bawah ICS 4 dan 5, mioclavicula Sinestra.

Auskultasi : Bunyi Jantung 1 dan 2 tunggal tidak ada suara tambahan. 3. Pemeriksaan Abdomen. Inspeksi: Bentuk perut simetris, tidak ada lesi. Auskultasi : peristaltic usus 12x/menit. Palpasi : Tidak ada nyeri tekan Perkusi : Timpani 4. Pemeriksaan Genetalia Tidak di kaji 5. Pemeriksaan Rektum dan Anus Rectum : terdapat benjolan. Anus : Pembesaran pembuluh darah balik (vena) pada anus, terdapat benjolan pada anus, nyeri pada anus, perdarahan.

6. Pemeriksaan Eksfremitas dan kekuatan otot. a. turgor kulit kembali <2 detik b. Warna kulit putih 5 5 c. kekuatan otot 5 5

V.

Terapi Infus RL/DS 2/2 28 tpm personal hygiene Menghindari mengejan yang berlebihan selama defekasi. Diit tinggi serat. Pemberian laksatif yang berfungsi mengabsorbsi air saat melewati anus. Rendam duduk dengan salep dan supositoria yang mengandung anastesi. Tindakan non operatif seperti : fotokoagulasi infra merah, diatermi bipolar dan terapi laser. Injeksi larutan sklerosan untuk hemoroid berukuran kecil dan berdarah. Tindakan bedah konservasif hemoroid internal adalah prosedur ligasi pita-karet. Hemoroidektomi kriosirurgi Laser Nd:YAG digunakan terutama pada hemoroid eksternal.

B. ANALISA DATA Nama : Tn. J No. RM : 09 5409 No. 1. Data Masalah DS : Klien mengatakan sudah tiga hari Gangguan eliminasi bowel merasakan gatal pada rektumnya. Konstipasi, waktu BAB terdapat perdarahan berwarna merah terang. DO : rectum terdapat benjolan Kondisi feses keras dan terdapat darah berwarna merah segar. Etiologi Pembesaran pembuluh darah hemoroidial

2.

DS : klien mengatakan nyeri pada saat Gangguan rasa nyaman nyeri BAB. Do :ekrpresi wajah grimace Skala nyeri 4 - 6 TTV TD : 100/60 mmhg. RR : 25X/mnt. N : 110X/mnt. S : 38 C

Nyeri berhubungan dengan iritasi, tekanan, dan sensitifitas pada area rektal atau anal sekunder.

3.

DS : Klien mengatakan takut dan malu Gangguan Psikologi klien dan bila dilakukan pembedahan. rasa malu. DO : Wajah klien tampak cemas dan pucat.

Ansietas berhubungan dengan rencana pembedahan dan rasa malu.

4.

DS : Klien mengatakan takut akan Gangguan resiko infeksi terjadinya infeksi pada rektumnya. DO : Wajah klien tampak gelisah

infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat.

C. diagnosa keperawatan 1. nyeri 2. eliminasi

C. Rencana Asuhan Keperawatan Nama : Tn. J No RM : 09 5409 No. 1. Diagnosa Nyeri berhubung an dengan iritasi, tekanan, dan sensitifitas pada area rektal atau anal sekunder. Tujuan Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 X 3 jam di harapkan keluhan klien dapat teratasi. Kriteria hasil 1. Nyeri berkurang atau hilang dan Melaporkan nyeri hilang serta Mendemonstrasikan penggunaan intervensi terapeutik. 2. K/U Baik 3. TTV T : 120/80 mmhg. N : 60-100 X/ menit S : 36-37 C R : 12-20 X/ menit 4.skala nyeri 1-3 Intervensi 1. Kaji karakteristik, intensitas dan lokasi nyeri. 2. Pantau tandatanda vital. 3. Kaji hal-hal yang dapat meningkatkan rasa nyeri. 4. Hindarkan hal-hal yang dapat menimbulkan nyeri 5. Ajarkan tehnik distraksi dan relaksasi. 6. Dorong klien untuk ambulasi dini. 7. Berikan analgesik sesuai indikasi. Rasional 1. Membantu menentukan intervensi dan memberikan dasar untuk perbandingan dan evaluasi terhadap terapi. 2. Perubahan frekuensi jantung menunjukkan bahwa pasien mengalami nyeri. 3. Digunakan sebagai dasar dari tindakan selanjutnya. 4. Menghindarkan stimulasi yang dapat mengakibatkan peningkatan rasa nyeri. 5. digunakan untuk mengurangi stimulus nyeri, dan mengalihkan perhatian terhadap nyeri. 6. Meningkatkan normalisasi fungsi organ 7. Meningkatkan kenyamanan dan untuk menghilangkan nyeri

No. 2.

Diagnosa Eliminasi bowel

Tujuan Setelah di lakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam eliminasi dapat kembali normal.

Kriteria hasil 1. Membuat kembali pola yang normal dari fungsi usus. 2.Pasien dapat mengeluarkan feses lunak/ konsistensi agak berbentuk tanpa mengejan.

Intervensi 1. Catat adanya distensi abdomen dan auskultasi peristaltik usus. 2. Anjurkan latihan defekasi secara teratur 3. Anjurkan pasien untuk minum paling sedikit 2000 ml/ hari. 4. Anjurkan pasien untuk makanmakanan yang sehat dan berserat. 5. Anjurkan untuk melakukan pergerakan atau ambulasi sesuai kemampuan. 6. Tingkatkan diet makanan berserat. 7. Beri obat pelembek feses, supositoria, laksatif atau enema jika diperlukan.

Rasional 1. Distensi dan hilangnya peristaltik usus fungsi defekasi hilang, kehilangan persarafan parasimpatik usus besar. 2. mengeluarkan feses termasuk stimulasi manual, menggunakan supositoria. mengontrol pengeluaran feses, untuk kemandirian fisik pasien dan penerimaan sosial. 3. Dapat melembekkan feses memfasilitasi eliminasi. 4. Meningkatkan konsistensi feses untuk melewati usus dengan mudah. 5. Menstimulasi peristaltik yang memfasilitasi terbentuknya flatus. 6. Membantu dalam mengatur konsistensi fekal dan menurunkan konstipasi. 7. Mencegah konstipasi, menurunkan distensi abdomen dan membantu dalam keteraturan fungsi defekasi.

No. 3.

Diagnosa Ansietas berhubungan dengan rencana pembedahan dan rasa malu

Tujuan Setelah di lakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam pasien dapat menerima secara nyata kondisi penyakit.

Kriteria hasil 1. Menunjukkan rileks dan melaporkan penurunan ansietas sampai tingkat ditangani. 2. Mengatakan perasaan dan cara yang sehat untuk menghadapip masalah. o s i t i f .

Intervensi 1. Evaluasi tingkat ansietas, catat respon verbal dan non verbal pasien. Dorong ekspresi bebas akan emosi. 2. Jelaskan prosedur atau asuhan yang diberikan. Ulangi penjelasan dengan sering atas sesuai kebutuhan. 3. Dorong menyatakan perasaan. Berikan umpan balik. 4. Tunjukkan indikator positif pengobatan 5. Berikan lingkungan yang tenang dan nyaman pada pasien. 6. Bantu pasien belajar mekanisme koping baru

Rasional 1. Ketakutan dapat terjadi karena nyeri hebat, meningkatkan perasaan sakit. 2. Rasa takut akan ketidaktahuan diperkecil dengan informasi atau pengetahuan dan dapat meningkatkan penerimaan dialisis. 3. Membuat hubungan terapeutik. Membantu pasien/ orang terdekat dalam mengidentifikasi masalah yang menyebabkan stress. 4. Meningkatkan perasaan berhasil dalam pemberian terapi. 5. Memindahkan pasien stress dari luar, meningkatkan relaksasi, membantu menurunkan ansietas. 6. Belajar cara baru untuk mengatasi masalah dapat membantu dalam menurunkan stress dan ansietas, meningkatkan kontrol penyakit.

No. 4.

Diagnosa Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat.

Tujuan Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam Infeksi tidak terjadi.

Kriteria hasil 1. Menyatakan pemahaman penyebab atau faktor resiko infeksi. 2. Meningkatkan waktu penyembuhan, bebas tanda infeksi. 3. Tidak terjadi demam.

Intervensi 1. Kaji tanda-tanda infeksi. 2. Pertahankan teknik aseptic. 3. Kaji tanda-tanda vital dengan sering, catat tidak membaiknya atau berlanjutnya hipotensi, penurunan tekanan darah, takikardia, demam, takipnea. 4. Anjurkan klien dan keluarga untuk menjaga kebersihan daerah anus. 5. Berikan antibiotik sesuai indikasi

Rasional 1. Mengetahui tandatanda infeksi sedini mungkin, sehingga dapat dilakukan tindakan keperawatan selanjutnya. 2. Menurunkan resiko infeksi 3. Tanda adanya syok septik, menyebabkan vasodilatasi, kehilangan cairan dari sirkulasi dan rendahnya status curah jantung. 4. Meminimalkan resiko terjadinya infeksi. 5. Untuk mencegah dan menangani infeksi

D. Implementasi dan cacatan perkembangan. Nama : Tn. J No.RM : 09 5409 No. 1. 2. 3. Tanggal 3 mei 12 Implementasi 1. Memberikan penjelasan kepada klien. 2. Membantu klien memenuhi kebutuhan dasarnya. 3. Menganjurkan dan mengajarkan klien untuk distraksi relaksasi. Respon klien 1. Skala nyeri 4 6 2. Klien merasa nyaman setelah di lakukan tindakan. 3. Klien bisa lebih nyaman setelah dilakukan distraksi relaksasi. 4. klien kooperatif dengan semua yang dilakukan perawat dan merasalebih nyaman setelah anvis dokter dilakukan. 5. klien masih merasa sakit di rektumnya. 6. klien merasa nyaman dan otot tidak kaku. 7. klien merasa tenang dan Lega serta terlihat lebih tegar setelah di beri motivasi. 8. klien merasa lebih nyaman dan senang. 9. klien merasa lebih nyaman pada area rektumya tidak terlalu gatal. 10. klien merasa lebih segar dan sehat. Ttd. Perawat 1. 2.

3.

4.

4. memberikan anvis dokter dan klien Kooperatif

4.

5. 6. 7.

4 mei 12

5. melakukan latihan defekasi 6. melakukan ambulasi sesuai kemampuan klien 7. mendorong klien untuk bercerita tentang masalah yang di hadapinya

5. 6. 7.

8. 9.

8. memberikan lingkungan yang tenang dan nyaman bagi klien. 9. menjaga dan membersihkan area rectum klien.

8. 9.

10.

5 mei 12

10. menganjurkan klien untuk minum 2000ml/ hari

10.

Implementasi Tn. J

No 1.

Tanggal 3 mei 2012

Diagnosa Nyeri berhubungan dengan iritasi, tekanan, dan sensitifitas pada area rektal atau anal sekunder.

Implementasi 1. mengKaji karakteristik, lokasi nyeri. 2.Memantau tandatanda vital. 3. Mengkaji hal-hal yang dapat meningkatkan rasa nyeri. 4. Mengindarkan hal-hal yang dapat menimbulkan nyeri 5. Mengajarkanjar kan tehnik distraksi dan relaksasi. 6. Membantu klien untuk ambulasi dini 7.memberikan analgesik sesuai indikasi.

Respon Klien 1. Skala nyeri 4 - 6

TTD Perawat 1.

2. Klien mengetahui kondisinya 3. klien kooperatif

2.

3. 4. Klien merasa nyeri berkurang setelah dilakukan tindakan ini 5. Klien merasa nyaman 6. klien merasa sedikit sakit pada rektumnya 7. Klien merasa nyaman dan nyeri berkurang

4.

5.

6.

7.

No 2.

Tanggal 4 mei 2012

Diagnosa Eliminasi bowel

Implementasi 1.Mencatat adanya distensi abdomen dan auskultasi peristaltik usus. 2. Membantu melakukankan latihan defekasi secara teratur

Respon Klien 1. Klien kooperatif 2. Klien merasa masih sakit pada rektumnya karena fesesnya keras 3. Klien hanya dapat minum 1000ml/hari 4. Klien kooperatif 5. Klien merasa nyaman 6. klien kooperatif 7. Di awal klien merasa malu, setelah di lakukan tindakan Klien merasa nyaman dan feses menjadi lunak

TTD Perawat 1. 2.

3.Membantu pasien untuk memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit dengan minum paling sedikit 2000 ml/ hari. 4.Memberikan pengetahuan pasien untuk makan-makanan yang sehat dan berserat. 5. Membantu pasien untuk melakukan pergerakan atau ambulasi sesuai kemampuan. 6. Memberikan pasien diet makanan berserat. 7. memberikan obat pelembek feses, supositoria.

3.

4. 5. 6. 7.

No 3.

Tanggal Tanggal 5 mei 2012

Diagnosa Diagnosa Ansietas berhubungan dengan rencana pembedahan dan rasa malu

Respon Klien Respon KlienTTD Perawat TTD Perawat 1. Mengevaluasi tingkat ansietas, catat respon 1. Klien 1. verbal dan non verbal pasien. Dorong ekspresi kooperatif bebas akan emosi. 2. Menjelaskan prosedur atau asuhan yang 2. Klien merasa 2. diberikan dan mengulangi penjelasan dengan nyaman dan sering atas sesuai kebutuhan. mengetahui rencana tindakan keperawatan yang telah diberikan 3. Memberikan motivasi dan menyatakan 3. Klien merasa 3. perasaan pasien. senang karena keluarga ikut merawat dengan sabar 4.Memberikan pengetahuan mengenai indikator 4. Klien 4. positif pengobatan kooperatif 5. Memberikan klien lingkungan yang tenang 5. Klien merasa 5. dan nyaman. nyaman 6. Membantu pasien belajar mekanisme koping 6. klien 6. baru kooperatif atas tindakan tersebut

Implementasi Implementasi

4.

8 mei 2012

Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat.

1.Mengkaji tandatanda infeksi. 2. Mempertahankan teknik aseptic. 3. Mengkaji tandatanda vital dengan sering, 4. Memberikan pengetahuan klien dan keluarga untuk menjaga kebersihan daerah anus. 5. Memberikaneri kan antibiotik sesuai indikasi

1. Klien tenang dan tidak ada infeksi 2. Klien mengetahui cara perawatan pada sakitnya 3. klien kooperatif dan keadaan klien membaik 4. Klien dan keluarga dapat mengetahui tindakan yang harus dilakukan. 5. Klien merasa nyaman

1. 2.

3.

4.

5.

E. Evaluasi Keperawatan. Nama : Tn. J No.RM : 09 5409

No. 1.

Tanggal / Jam 3 mei 2012 / 10.00

Evaluasi DS : Klien mengatakan nyeri berkurang DO : -

K / U baik Skala nyeri 1 2 TTV : Normal. TD : 120/80 Mmhg. N : 80X/mnt. S : 36,5 C R : 18X/mnt.

A : Masalah teratasi semua P : tindakan intervensi di hentikan

No. 2.

Tanggal/jam 4 mei 2012/07.00

Evaluasi DS: klien mengatakan tidak perlu mengejan lagi ketika BAB DO: Normalnya fungsi usus konsistensi feses lembek,tidak ad darah dan pus

A :masalah teratasi semua P: tindakan intervensi di hentikan

No. 3.

Tanggal/jam 5 mei 2012/09.00

Evaluasi DS : klien mengatakan kecemasannya berkurang dan pasien merasa nyaman DO : -

Pasien mau untuk di lakuykan pembedahan Pasien mengikuti semua anjuran dari rumah sakit

A :masalah teratasi semua P : tindakan intervensi di hentikan

No. 4.

Tanggal/jam 8 mei 2012/08.00

Evaluasi DS : klien mengatakan DO : -

K/U baik Tidak adanya resiko terjadinya infeksi Tidak terjadi demam TTV : normal TD : 120/80 Mmhg N : 80x/menit S : 36,5 R : 18x/menit

A :masalah teratasi semua P : klien dapat pulang ke rumah