Sunteți pe pagina 1din 10

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Shalat adalah sesuatu yang dengan sengaja dikehendaki adanya, jika anda
menghendaki katakanlah : bahwa ia akan melahirkan motivasi atau azimah
(kemauan) yang kuat tentang sesuatu yang dilakukan dengan berulang-ulang
sehingga menjadi adat (membudaya) yang mengarah kepada kebaikan atau
keburukan
1
. Ibadah itu menimbulkan tingkah laku seseorang atau keadaan jiwa
seseorang yang mendorong untuk melaksanakan perbuatan-perbuatan dengan
mudah dan gampang tanpa melalui pertimbangan pikiran terlebih dahulu,
sehingga mudahlah jiwa untuk memilih atau melakukan sesuatu perbuatan yang
baik dan buruk. Faktor-faktor yang turut mencetak dan mempengaruhi tingkah
laku seseorang menurut Hamzah Yaqub adalah instink (naluri), manusia itu
sendiri, kebiasaan, keturunan, lingkungan, azam (kemauan keras), suara bathin
(Dlamir) dan pendidikan.
Shalat seseorang dapat terbentuk dari beberapa faktor, salah satunya
adalah melalui bimbingan keagamaan. Bimbingan keagamaan diperoleh seseorang
bukan saja dari jalur pendidikan formal seperti sekolah tetapi dapat diperoleh dari
bimbingan keagamaan oleh orang tua atau dari anggota keluarga.
Keluarga merupakan lingkungan yang paling pertama ditemui oleh
manusia pada umumnya. Setelah seorang anak dilahirkan ke dunia, ia
memperoleh sentuhan kasih sayang yang pertama kali yaitu dari keluarganya.

1
Cece Wijaya, Tabrani Rusyan...., h. 29
2

Keluarga pulalah yang melindungi dan merawatnya hingga ia tumbuh dewasa.
Barangkali sulit untuk mengabaikan peran keluarga dalam pendidikan. Anak-anak
sejak masa bayi hingga usia sekolah memiliki lingkungan tunggal, yaitu
keluarga.
2

Keluarga merupakan wadah pertama bagi pertumbuhan dan perkembangan
seorang anak. Jika suasana keluarga baik maka anak akan tumbuh dengan baik,
jika tidak tentu akan terganggu atau terlambat pulalah pertumbuhan dan
perkembangan anak tersebut. Secara Islami, anak adalah amanat Allah, dan
amanat ini merupakan sesuatu yang wajib dipertanggungjawabkan kembali
kepada Allah. Sehingga dengan pertanggung jawabannya, orang tua dapat
mengembangkan potensi yang dimiliki anak terutama dalam potensi
keimanannya. Sebagaimana yang di kemukakan oleh A. Tafsir bahwa: Pada saat
anak lahir belum bisa beragama, ia hanya mempunyai potensi untuk beragama,
yaitu potensi untuk menjadi baik dan sekaligus potensi untuk menjadi buruk,
potensi untuk menjadi muslim dan untuk menjadi musyrik.
3
Potensi tersebut
adalah keinginan untuk beragama dan potensi untuk tidak beragama.
Dari pendapat di atas jelas bahwa orang tua mempunyai peranan yang
sangat penting dan amat berpengaruh atas pendidikan anak-anaknya, serta
membimbing mereka untuk senantiasa taat beragama. Di samping itu, keberadaan
orang tua di dalam keluarga merupakan peletak dasar-dasar kepribadian anak pada
usia yang masih dini. Seperti dikemukakan oleh Zakiah Daradjat bahwa:
Bimbingan orang tua terhadap anak akan dapat memberikan pengaruh yang
positif terutama dalam pembinaan akhlak, dan akhlak yang baik pada anak
merupakan kecenderungan hasil dari pada bimbingan orang tua yang di
laksanakan dalam lingkungan keluarga.
4


2
Jalaluddin, Psikologi Agama (Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada, 1997).
3
Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung : Rosdakarya, 1992), h.37.
4
Zakiyah Daradjat, Pendidikan Islam dalam Keluarga dan Sekolah, (Bandung : Remaja
Rosdakarya, 1976), h.109.
3

Bimbingan ialah suatu proses pemberian bantuan yang terus menerus dan
sistematis dari pembimbing kepada yang dibimbing agar tercapai kemandirian
dalam pemahaman diri, penerimaan diri, pengarahan diri dan perwujudan diri
dalam mencapai tingkat perkembangan yang optimal dan penyesuaian diri dengan
lingkungan.
Pentingnya pendidikan anak dalam keluarga yang dilaksanakan oleh orang
tua merupakan pondasi yang sangat kuat karena tujuan pendidikan dalam keluarga
adalah untuk membina, membimbing, dan rnengarahkan anak kepada tujuan yang
mulia. Suasana keluarga yang diciptakan oleh orang tua sangat penting dalam
meningkatkan implementasi shalat anak dan usaha-usaha anak dalam memenuhi
tugas perkembangannya. Orang tua harus selalu meluangkan waktunya untuk
mendampingi membina dan mendidik anak terutama dalam segi ketaatan
beragama. Hal ini disesuaikan dengan pendapat A. Tafsir bahwa: Membiasakan
shalat berjamaah, membangunkan anak dengan kasih sayang bila ia kesiangan,
makan dan minum secara Islami, berdiskusi tentang hal-hal yang terjadi dalam
keluarga, setelah selesai shalat, zikir bersama dan berdoa bersama secara terus
menerus, dan sebaiknya doa tersebut dapat di dengar oleh anak dan mereka turut
mengamininya.
5

Untuk mencapai keberhasilan dalam meningkatkan akhlak santri, maka
diperlukan adanya bimbingan orang tua yang baik dalam keluarga. S. Nasution
mengemukakan bahwa pelajaran akan berjalan lancar bila ada minat, anak malas
dan tidak belajar karena tidak ada minat.
6

Berdasarkan pengamatan sementara di MDA Darussakinah kec.Padang
Timur Kota Padang bahwa shalat lima waktu siswa masih kurang baik, seperti
tidak mengerjakan tugas, sering bolos atau tidak hadir, berbicara kasar dan
berlaku tidak baik terhadap teman. Hal ini menunjukan bahwa fenomena tersebut
berkaitan erat dengan faktor lain, diantaranya bimbingan keagamaan dari keluarga
dan guru di sekolah.

5
Ahamad Tafsir, Ilmu Pendidikan....., h.131.
6
S. Nasution, Didaktik Asas-Asas Mengajar, (Jakarta : Bumi Aksara, 1986), h.82.
4

Apabila bimbingan orang tua dalam keluarga berjalan efektif semestinya
secara langsung atau tidak langsung akhlak santri akan terdorong untuk lebih baik
dan meningkat lagi, minimal mempertahankan akhlak yang sudah ada. Namuan
kenyataannya menunjukan lain, implementasi shalat di MDA Darussakinah kota
Padang belum sesuai dengan harapan.
Sementara sisi lain dari keberhasilan peningkatan ibadah santri dtentukan
oleh keluarga. Keluarga selain merupakan kelompok sosial terkecil dalam
kehidupan bermasyarakat dan manusia sebagai makhluk sosial, keluarga juga
merupakan unit pertama bagi seorang anak. Keluarga merupakan mikro kosmos
tempat manusia baru diciptakan dan sumber yang banyak dasar-dasar ajaran bagi
seseorang dan merupakan faktor yang penting dalam pembinaan mental
seseorang. Sebelum seorang anak berintegrasi dengan lingkungan masyarakat,
terlebih dahulu ia menerima pengalaman-pengalaman dari lingkungan keluarga di
rumah, terutama dari orang tuanya: ibu, ayah dan kerabatnya. Agar interaksi
dengan keluarga berjalan mulus dan tidak banyak mengalami tantangan, maka
diperlukan landasan moral yang kuat yang mendasari pembinaan keluarga
tersebut.
7

Zakiyah Darajat menyatakan bahwa: kepribadian orang tua dan cara hidup
merupakan unsur-unsur pendidikan yang tidak langsung sendirinya akan masuk
kedalam pribadi anak yang sedang tumbuh, sikap anak terhadap agama dan
pendidikan agama sangat dipengaruhi oleh sikap orang tuanya.
8

Dengan demikian kegiatan keagamaan orang tua yang dilakukan sehari-
hari di lingkungan keluarga yang berhubungan dengan soal ibadah maupun
muamalah dapat mempengaruhi perilaku keagamaan anak di rumah maupun di
sekolah. Pada dasarnya orang tua dapat membangkitkan motivasi anak.
Zakiah darajat mengemukakan:

7
Ramayulis, Ilmu Pendidikan ..., h. 150
8
Zakiyah Daradjat, Pendidikan Islam ..., h. 56
5

Pembinaan ketaatan beribadah pada anak juga dimulai dari
dalam keluarga. Kegiatan ibadah yang mendidik bagi anak yang
masih kecil adalah yang mengandung gerak. Pengertian tentang
ajaran agama belum dapat dipahaminya. Anak-anak suka
melakukan shalat, meniru orang tuanya, kendatipun ia tidak
mengerti apa yang dilakukannya itu.
9


Berdasarkan uraian di atas dapat di lihat bahwa kerjasama antara guru dan
orang tua dan lingkungan tempat tinggal dan sekolah merupakan hal yang sangat
penting bagi keberhasilan proses penanaman shalat lima waktu pada santri.
Hal ini dapat kita lihat dalam Q.S. Al-Ankabut ayat 45 Al-Anbiya ayat
73:
N^>- .4` =/^q El^O) ;g`
U4-^- g~4 E_OUO-
W ]) E_OUO- _OeuL> ^;4N
g7.4=E^- @OL^-4
NO^g~.4 *.- +O4- +.-4
OUu4C 4` 4pONE4> ^j)
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, Yaitu Al kitab (Al Quran)
dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari
(perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat
Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang
lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.



Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang
memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan
kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan

9
Zakiyah Daradjat, Pendidikan Islam ..., h. 64
6

zakat, dan hanya kepada Kami-lah mereka selalu menyembah. (QS Al-
Anbiyaa : 73)
10


Dari hasil studi pendahuluan melalui metode observasi dan wawancara
dengan beberapa santri menunjukan bahwa bimbingan keagamaan dari orang tua
dan keteladanan guru yang profisional di madrasah sudah tergolong baik. Hal ini
dapat terlihat dari terus-menerusnya penyuluhan atau peringatan terhadap aktifitas
shalat santri. Faktor yang berperan dalam mewujudkan tujuan pendidikan bukan
hanya guru, namun juga lingkungan sekolah dan masyarakat yang lain diantaranya
Kepala Madarasah, teman-teman, sarana-prasarana, dan lain sebagainya. Oleh
karena itu, upaya peningkatan prestasi belajar santri tidak hanya dilakukan melalui
peningkatan motivasi mengajar guru namun juga harus disertai dengan penciptaan
lingkungan madrasah yang kondusif.
Tetapi di pihak lain menurut keterangan guru dan orang tua santri,
umumnya para santri kurang termotivasi mengerjakan shalat lima waktu dan
berperilaku baik. Sementara itu diperoleh data bahwa santri yang terbiasa
mengerjakan shalat lima waktu dan berperilaku baik berkisar 10-15%. Artinya
dari sekitar 100 santri khususnya Santri MDA Darussakinah Kota Padang sekitar
10 15 santri.
Fenomena di atas menimbulkan permasalahan yang ingin diketahui dan
dibuktikan penulis, apakah ada pengaruh dari bimbingan keagamaan dari keluarga
dan lingkungan tempat tinggal dan implementasi shalat lima waktu santri sehari-
hari. Sebagai upaya untuk menyelesaikan masalah tersebut sehingga dapat
menghasilkan jawaban permasalahan, maka penulis mengadakan penelitian yang
dituangkan dengan judul: Pengaruh Perhatian Orang Tua dan Keteladanan
Guru Terhadap Implementasi Sholat Lima Waktu Santri (Studi pada Santri
MDA Darussakinah Kota Padang).



10
Departemen Agama, Al-Quran dan Terjemahnya juz 1-30, Penerbit: Mekar Surabaya
7

B. Identifikasi Masalah
Sesuai dengan latar belakang masalah yang telah dipaparkan di atas,
pokok masalah dalam penelitian ini dapat diidentifikasi sebagai berikut:
1. Pendidikan merupakan suatu proses pembentukan dan perubahan tingkah
laku individu melalui kegiatan interaksi individu dengan lingkungannya,
pendidikan yang kurang tepat sasaran berkibat kepada tingkah laku anak
yang menyimpang, sehingga implementasi santri untuk shalat lima waktu
menjadi kurang pula.
2. Guru merupakan suatu jabatan yang memerlukan keahlian, tanggung
jawab dan jiwa rela memberikan layanan sosial di atas kepentingan
pribadi. Sesuai dengan tuntutan jabatan guru tersebut yang merupakan
jabatan "profesi", dengan tujuan program pendidikan yang akan dicapai
oleh karena itu guru harus mempunyai sikap profesional yang positif.
3. Shalat seseorang dapat terbentuk dari beberapa faktor, salah satunya
adalah melalui bimbingan keagamaan. Bimbingan keagamaan diperoleh
seseorang bukan saja dari jalur pendidikan formal tetapi juga dari
pendidikan informal seperti sekolah tetapi dapat diperoleh dari bimbingan
keagamaan oleh orang tua atau anggota keluarga.
4. Faktor yang berperan dalam mewujudkan tujuan pendidikan bukan hanya
guru, namun juga lingkungan tempat tinggal dan lingkungan sekolah saja
seperti diantaranya Kepala Sekolah, teman-teman, sarana-prasarana, dan
lain sebagainya. Oleh karena itu, upaya peningkatan prestasi belajar santri
tidak hanya dilakukan melalui peningkatan motivasi mengajar guru namun
juga harus disertai dengan penciptaan lingkungan madrasah yang kondusif.
5. Masih terdapat orang tua yang cuek tahu dan tidak memberikan
pengajaran keagamaan terhadap anaknya, seharusnya sebagai pendidik
pertama dilingkungan rumah tangga, orang tua harus memberikan
pemahaman keagamaan kepada anaknya semenjak dini.
8

6. Terdapat orang tua yang jarang memberikan pemahaman ilmu agama
kepada anaknya dan shalat lima waktu pada anaknya dengan baik serta
memberikan keteladanan baik ilmu agama dan prakteknya..
7. Terdapat orang tua yang acuh atau cuek terhadap pendidikan ibdah
anaknya yang tidak mau melaksanakan shalat, seharusnya orang tua selalu
mengingatkan, menasihati anaknya untuk selalu melaksanakan shalat
fardlu.
8. Terdapat beberapa guru yang enggan memberikan bimbingan kepada
santrinya, sebagai pendidik seharusnya guru selalu mau untuk
membimbing anak didiknya.
9. Terdapat sebagian santri yang jarang melaksanakan shalat fardlu
berjamaah di sekolah, seharusnya siswa berusaha melaksanakan shalat
fardlu berjamaah di madarasah mengingat bahwa shalat adalah suatu
perbuatan baik yang tidak boleh terlewatkan.
10. Terdapat santri yang masih kurang memiliki kesadaran mengenai
pentingnya berbuat baik, seharusnya santri memahami akan pentingnya
berbuat baik dalam kehidupan.






C. Batasan Masalah
Penelitian ini dibatasi pada masalah bahwa shalat lima waktu santri di
MDA Darussakinah kec.Padang Timur Kota Padang dipengaruhi oleh
perhatian orang tua dalam keluarga dan lingkungan tempat tinggal,
sekolah dan lingkungan masyarakatnya dan penelitiannya diselenggarakan
pada tahun 2013.
9

D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1) Adakah pengaruh signifikan perhatian orang tua pada pendidikan agama
dalam keluarga terhadap shalat lima waktu santri MDA ?
2) Adakah pengaruh signifikan keteladanan guru terhadap shalat lima waktu
Santri MDA ?.
3) Adakah pengaruh signifikan antara pendidikan agama dalam keluarga dan
lingkungan sekolah secara bersama-sama terhadap implementasi shalat
fardhu santri MDA ?.

E. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan penelitian tersebut yang menjadi tujuan penelitian
ini adalah :
a. Aplikasi teori
Penelitian ini ditujukan untuk mengaplikasikan teori: (1) implementasi; (2)
Perhatian Orang Tua; dan Teori Keteladanan Guru pada Santri MDA.
b. Uji hipotesis
Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan
untuk menguji:
1) Pengaruh pendidikan agama dalam keluarga terhadap implementasi
shalat lima waktu Santri MDA .
2) Pengaruh lingkungan tempat tinggal terhadap implementasi shalat
lima waktu Santri MDA.
3) Pengaruh pendidikan agama dalam keluarga dan lingkungan
sekolah secarara bersama-sama terhadap implementasi sahalat
santri MDA.

10

2. Kegunaan Penelitian
a. Kegunaan Secara Teoretis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat pada
penulis dalam rangkah menambah khazanah ilmu yang didapatkan
selama di bangku perkuliahan, sehingga mendorong hidup penulis
lebih bermakna.

b. Kegunaan Secara Pragmatis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan
dan dapat pula menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi di
lapangan melalui teori-teori yang telah dipelajari dan disusun dalam
bentuk tinjauan pustaka, sehingga akhirnya dapat menyusun
Hipotesis dengan baik.