Sunteți pe pagina 1din 7

MANFAAT AKTIVITAS DAN ISTIRAHAT YANG CUKUP SELAMA KEHAMILAN MELAKUKAN TEKNIK RELAKSASI

PROSEDUR TERAPI INTRAVENA (IV)


24 Desember 2008 oleh PRO-HEALTH oleh : erfandi
Pengertian

Terapi intravena memberikan cairan tambahan yang mengandung komponen tertentu yang diperlukan tubuh secara terus menerus selama periode tertentu
Tujuan

Adapun tujuan prosedur ini adalah untuk : 1. Mempertahankan atau mengganti cairan tubuh, elektrolit, vitamin, protein, kalori dan nitrogen pada klien yang tidak mampu mempertahankan masukan yang adekuat melalui mulut. 2. Memulihkan keseimbangan asam-basa. 3. Memulihkan volume darah. 4. Menyediakan saluran terbuka untuk pemberian obat-obatan.
Jenis-jenis

Cairan Intravena

1. Cairan bisa bersifat isotonis (contohnya ; NaCl 0,9 %, Dekstrosa 5 % dalam air, Ringer laktat / RL, dll) 2. Cairan bisa bersifat hipotonis (contohnya ; NaCl 5 %) 3. Cairan bisa bersifat hipertonis (contohnya ; Dekstrosa 10 % dalam NaCl, Dektrosa 10 % dalam air, Dektrosa 20 % dalam air)
A. PERALATAN

- Alas plastik dan handuk kecil - Manset tangan; bisa juga digunakan manset sfigmomanometer - Kapas alkohol

- Betadine (1-2 % dalam air, 70 % alkohol) - Kain kasa steril - Plester dan stiker kosong untuk menulis tanggal pemasangan infus - Set infus - Jarum infus (abbocath, wing needle/butterfly) - Cairan infus - Sarung tangan steril (jika memasang infus pada klien yang mengalami penyakit menular, seperti ; hepatitis B, HIV-B, AIDS, dll)
B. PROSEDUR

1. Mencuci tangan 2. Menjelaskan prosedur dan tujuannya (pada klien dan keluarga) 3. Memberikan posisi semi fowler atau terlentang 4. Menggulung lengan baju klien 5. Meletakkan manset 5 cm di atas siku 6. Menghubungkan cairan infus dengan set infus dan gantungkan (periksa label infus sesuai dengan program terapi cairan yang akan diberikan) 7. Mengalirkan cairan dengan selang menghadap ke atas sehingga udara didalamnya keluar 8. Mengencangkan klem sampai infus tidak menetes dan pertahankan kesterilan sampai pemasangan pada tangan disiapkan 9. Mengencangkan manset atau jika menggunakan sfigmomanometer, tekanan ditempatkan dibawah tekanan sistolik 10. Menganjurkan klien untuk mengepal dan membukanya beberapa kali, palpasi dan pastikan vena yang akan ditusuk. (kriteria vena / pembuluh darahnya lihat tabel. 1) 11. Membersihkan kulit dengan cermat menggunakan kapas alkohol, lalu diulangi dengan menggunakan kasa betadine dan arahnya melingkar dari dalam keluar lokasi tusukan. 12. Menggunakan ibu jari untuk menekan jaringan dan vena 5 cm diatas tusukan.

13. Memegang jarum dalam posisi 30 derajat sejajar vena yang akan ditusuk, lalu tusuk perlahan dan pasti. 14. Merendahkan posisi jarum sejajar kulit dan teruskan tusukan jarum ke dalam vena sampai terlihat darah mengalir keluar dari pembuluh darah. 15. Melepaskan tekanan manset 16. Sambungkan slang infus dengan kateter infus (abbocath, wing needle/butterfly) dan buka klem infus sampai cairan mengalir lancar. 17. Mengolesi dengan salep betadine di atas penusukan 18. Memfiksasi posisi jarum dengan plester, letakkan kasa steril diatasnya. Atur kasa steril pada lokasi jarum supaya berjendela agar mudah dievaluasi terhadap tanda-tanda inflamasi. Bila ada gunakan plester steril yang transparan. 19. Mengatur tetesan infus sesuai ketentuan; pasang stiker yang sudah diberi tanggal pada lokasi yang mudah terlihat.
Hal-hal

yang perlu diperhatikan ( kewaspadaan) a. Ganti lokasi tusukan setiap 48-72 jam dan gunakan set infus baru b. Ganti kasa steril penutup luka setiap 24-48 jam dan evaluasi tanda infeksi c. Observasi tanda / reaksi alergi terhadap infus atau komplikasi lain d. Jika infus tidak diperlukan lagi, buka fiksasi pada lokasi penusukan e. Kencangkan klem infus sehingga tidak mengalir f. Tekan lokasi penusukan menggunakan kasa steril, lalu cabut jarum infus perlahan, periksa ujung kateter terhadap adanya embolus g. Bersihkan lokasi penusukan dengan anti septik. Bekas-bekas plester dibersihkan memakai kapas alkohol atau bensin (jika perlu)

20. Mendokumentasikan waktu pemberian, jenis cairan dan tetesan, jumlah cairan yang masuk, waktu pemeriksaan kateter (terhadap adanya embolus), serta reaksi klien (terhadap cairan yang telah masuk
Tempat/

lokasi vena perifer yang sering digunakan pada pemasangan infus

Vena supervisial atau perifer kutan terletak di dalam fasia subcutan dan merupakan akses paling mudah untuk terapi intravena. Vena-vena tersebut diantaranya adalah :

1. Metakarpal 2. Sefalika 3. Basilika 4. Sefalika mediana 5. Basilika mediana 6. Antebrakial mediana


Pemilihan

Vena

1. Vena tangan paling sering digunakn untuk terapi IV rutin 2. Vena lengan depan : periksa dengan teliti kedua lengan sebelum keputusan dibuat, sering digunakan untuk terapi rutin 3. Vena lengan atas : juga digunakan untuk terapi IV 4. Vena ekstremitas bawah : digunakan hanya menurut kebijakan institusi dan keinginan dokter 5. Vena kepala : digunakan sesuai dengan kebijakan institusi dan keinginan dokter ; sering dipilih pada bayi 6. Insisi : dilakukan oleh dokter untuk terapi panjang 7. Vena subklavia : dilakukan oleh dokter untuk terapi jangka panjang atau infus cairan yang mengiritasi (hipertonik) 8. Jalur vena sentral: digunakan untuk tujuan infus atau mengukur tekanan vena sentral
Contoh

Vena sentral adalah : v. subkalvia, v. jugularis interna/eksterna, v. sefalika atau v.basilika mediana, v. femoralis, dll.

9. Vena jugularis : biasanya dipasang untuk mengukur tekanan vena sentral atau memberikan nutrisi parenteral total (NPT) jika melalui vena kava superior. 10. Vena femoralis : biasanya hanya diguakan pada keadaan darurat tetapi dapat digunakan untuk penempatan kateter sentral untuk pemberian NTP. 11. Pirau arteriovena (Scribner) : implantasi selang palastik antara arteri dan vena untuk dialisis ginjal

12. Tandur (bovine) : anastomoisis arteri karotid yang berubah sifat dari cow ke sistem vena ; biasanya dilakukan pada lengan atas untuk dialisis ginjal 13. Fistula : anastomoisis bedah dari arteri ke vena baik end atau side to side untuk dialisis ginjal 14. Jalur umbilikal : rute akses yang biasa pada UPI neonatus Tabel. 1. Pertimbangan dasar dalam pemilihan sisi (vena)
No 1. Jenis Vena Vena Perifer Keuntungan Kerugian Cocok untuk kebanyakan obat Tidak cocok untuk obatdan cairan isotonik obatan yang mengiritasi Cocok untuk terapi jangka Tidak cocok untuk terapi pendek jangka panjang Biasanya mudah untuk Sukar untuk diamankan pada diamankan pasien yang agitasi Cocok untuk obat-obatan yang Obat-obatan harus mengiritasi atau cairan diencerkan hipertonik Resiko komplikasi yang Cocok untuk terapi jangka berhubungan dengan panjang pemasangan kateter vena sentral, seperti infeksi, hemothoraks, pneumothoraks. Tidak disukai karena bisa terganggu oleh pasien (namun masih mungkin)
Faktor

2.

Vena Sentral

yang mempengaruhi pemilihan sisi (vena) 1. Umur pasien : misalnya pada anak kecil, pemilihan sisi adalah sangat penting dan mempengaruhi berapa lama IV berakhir. 2. Prosedur yang diantisipasi : misalnya jika pasien harus menerima jenis terapi tertentu atau mengalami beberapa prosedur seperti pembedahan, pilih sisi yang tidak terpengaruh oleh apapun 3. Aktivitas pasien : misalnya gelisah, bergerak, takbergerak, perubahan tingkat kesadaran

4. Jenis IV : jenis larutan dan obat-obatan yang akan diberikan sering memaksa tempattempat yang optimum (mis, hiperalimentasi adalah sangat mengiritasi vena-vena perifer) 5. Durasi terapi IV : terapi jangka panjang memerlukan pengukuran untuk memelihara vena; pilih vena yang akurat dan baik, rotasi sisi dengan hati-hati, rotasi sisi pungsi dari distal ke proksimal (mis, mulai di tangan dan pindah ke lengan) 6. Ketersediaan vena perifer bila sangat sedikit vena yang ada ,pemilian sisi dan rotasi yang berhati hati menjadi sangat penting ; jika sedikit vena pengganti ( mis ,pemasangan kateter broviac atau hickman atau pemasangan jalur PICC ) 7. Terapi Ivsebelumnya :flebitis sebelumnya membuat vena menjadi tidak baik untuk di gunakan ; kometerapi sering membuat vena menjadi buruk (mis,mudah pecah atau sklerosis ) 8. Pembedahan sebelumnya : jangan gunakan ekstremitas yang terkena pada pasien dengan kelenjar limfe yang telah di angkat (mis, pasien mastektomi ) tanpa izin dari dokter . 9. Sakit sebelumnya :jangan gunakan ekstremitas yang sakit pada pasien dengan stroke . 10. Kesukaan pasien : jika mungkin ,pertimbangkan kesukaan alami pasien untuk sebelah kiri atau kanan dan juga sisi .
Perhitungan

Tetesan Infus

1. Tetesan Makro : 1cc = 15 tetes Rumus : Tetesan/menit = Jumlah cairan yang dimasukkan (cc) Lamanya infus (jam) x 4 2. Tetesan Mikro : 1cc = 60 tetes Rumus : Tetesan/menit = Jumlah cairan yang dimasukkan (cc) Lamanya infus (jam) Tabel. 2. Kriteria pemilihan pembuluh darah (vena) Gunakan cabang vena distal (vena bagian proksimal yang berukuran lebih besar

kan bermanfaat untuk keadaan darurat) Pilihan vena : - vena metakarpal (memudahkan pergerakan tangan) - vena basilika / sefalika - vena fosa antekubital, medianna basilika atau sefalika untuk pemasangan infus yang singkat saja Pada klien dewasa, vena yang terdapat pada ekstremitas bagian bawah hanya digunakan sebagai pilihan terakhir.