Sunteți pe pagina 1din 31

Lingkungan Sosial Budaya

Manusia adalah makhluk hidup yang dapat dilihat dari dua sisi, yaitu sebagai makhluk
biologis dan makhluk sosial. Sebagai makhluk biologis, makhluk manusia atau “homo
sapiens”, sama seperti makhluk hidup lainnya yang mempunyai peran masing-masing
dalam menunjang sistem kehidupan. Sebagai makhluk sosial, manusia merupakan bagian
dari sistem sosial masyarakat secara berkelompok membentuk budaya.

Ada perbedaan mendasar tentang asal mula manusia, kelompok evolusionis pengikut
Darwin menyatakan bahwa manusia berasal dari kera yang berevolusi selama ratusan
ribu tahun, berbeda dengan kelompok yang menyanggah teori evolusi melalui teori
penciptaan, yang menyatakan bahwa manusia itu diciptakan oleh Allah.

Pemahaman tentang hidup dan kehidupan, itu tidak mudah. Makin banyak hal yang Anda
lihat tentang gejala adanya hidup dan kehidupan, makin nampak bahwa hidup itu sesuatu
yang rumit. Pada individu dengan organisasi yang kompleks, hidup ditandai dengan
eksistensi vital, yaitu: dimulai dengan proses metabolisme, kemudian pertumbuhan,
perkembangan, reproduksi, dan adaptasi internal, sampai berakhirnya segenap proses itu
bagi suatu “individu”. Tetapi bagi “individu” lain seperti sel-sel, jaringan, organ-organ,
dan sistem organisme yang termasuk dalam alam mikroskopis, batasan hidup adalah tidak
jelas atau samar-samar.

Kehidupan adalah fenomena atau perwujudan adanya hidup, yang didukung tidak saja
oleh makhluk hidup (biotik), tetapi juga benda mati (abiotik), dan berlangsung dalam
dinamikanya seluruh komponen kehidupan itu. Ada perpaduan erat antara yang hidup
dengan yang mati dalam kehidupan. Mati adalah bagian dari daur kehidupan yang
memungkinkan terciptanya kehidupan itu secara berlanjut.

Makhluk hidup bersel satu adalah makhluk yang pertama berkembang. Jutaan tahun
kemudian kehidupan di laut mulai berkembang. Binatang kerang muncul, lalu ikan
kemudian disusul amphibi. Lambat laun binatang daratan berkembang pula muncul
reptil, burung dan binatang menyusui. Baru kira-kira 25 juta tahun yang lalu muncul
manusia kemudian berkembang berkelompok dalam suku-suku bangsa seperti saat ini,
dan hampir di setiap sudut bumi ditempati manusia yang berkembang dengan cepat.
Lingkungan hidup adalah suatu konsep holistik yang berwujud di bumi ini dalam bentuk,
susunan, dan fungsi interaktif antara semua pengada baik yang insani (biotik) maupun
yang ragawi (abiotik). Keduanya saling mempengaruhi dan menentukan, baik bentuk dan
perwujudan bumi di mana berlangsungnya kehidupan yaitu biosfir maupun bentuk dan
perwujudan dari kehidupan itu sendiri, seperti yang disebutkan dalam hipotesa Gaia.
Lingkungan hidup yang dimaksud tersebut tidak bisa lepas dari kehidupan manusia, oleh
karena itu yang dimaksud dengan lingkungan hidup adalah lingkungan hidup manusia.

Permasalahan Lingkungan Hidup

Belum ada definisi tentang lingkungan sosial budaya yang disepakati oleh para ahli sosial,
karena perbedaan wawasan masing-masing dalam memandang konsep lingkungan sosial
budaya. Untuk itu digunakan definisi kerja lingkungan sosial budaya, yaitu lingkungan
antar manusia yang meliputi: pola-pola hubungan sosial serta kaidah pendukungnya yang
berlaku dalam suatu lingkungan spasial (ruang); yang ruang lingkupnya ditentukan oleh
keberlakuan pola-pola hubungan sosial tersebut (termasuk perilaku manusia di
dalamnya); dan oleh tingkat rasa integrasi mereka yang berada di dalamnya.

Oleh karena itu, lingkungan sosial budaya terdiri dari pola interaksi antara budaya,
teknologi dan organisasi sosial, termasuk di dalamnya jumlah penduduk dan perilakunya
yang terdapat dalam lingkungan spasial tertentu.

Lingkungan sosial budaya terbentuk mengikuti keberadaan manusia di muka bumi. Ini
berarti bahwa lingkungan sosial budaya sudah ada sejak makhluk manusia atau homo
sapiens ini ada atau diciptakan. Lingkungan sosial budaya mengalami perubahan sejalan
dengan peningkatan kemampuan adaptasi kultural manusia terhadap lingkungannya.

Manusia lebih mengandalkan kemampuan adaptasi kulturalnya dibandingkan dengan


kemampuan adaptasi biologis (fisiologis maupun morfologis) yang dimilikinya seperti
organisme lain dalam melakukan interaksi dengan lingkungan hidup. Karena Lingkungan
hidup yang dimaksud tersebut tidak bisa lepas dari kehidupan manusia, maka yang
dimaksud dengan lingkungan hidup adalah lingkungan hidup manusia.

Rambo menyebutkan ada dua kelompok sistem yang saling berinteraksi dalam lingkungan
sosial budaya yaitu sosio sistem dan ekosistem. Sistem sosial tersebut meliputi: teknologi;
pola eksploitasi sumber daya; pengetahuan; ideologi; sistem nilai; organisasi sosial;
populasi; kesehatan; dan gizi. Sedangkan ekosistem yang dimaksud meliputi tanah, air,
udara, iklim, tumbuhan, hewan dan populasi manusia lain. Dan interaksi kedua sistem
tersebut melalui proses seleksi dan adaptasi serta pertukaran aliran enerji, materi, dan
informasi.

STRUKTUR DAN FUNGSI EKOSISTEM

Struktur Ekosistem

Manusia sebagai mahluk sosial, tidak dapat hidup secara individu, selalu berkeinginan
untuk tinggal bersama dengan individu-individu lainnya. Keinginan hidup bersama ini
terutama berhubungan dalam aktivitas hidup pada lingkungannya. Manusia mempunyai
kedudukan khusus terhadap lingkungannya dibandingkan dengan mahluk hidup lainnya,
yaitu sebagai khalifah atau pengelola di atas bumi.

Manusia dalam hidup berkelompok ada yang membentuk masyarakat, dan tidak setiap
kelompok dapat disebut masyarakat, karena masyarakat mempunyai syarat-syarat
tertentu sebagai ikatan kelompok. Masyarakat dapat diartikan sebagai kesatuan hidup
manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat-istiadat tertentu yang bersifat
kontinyu, dan terikat oleh suatu rasa identitas bersama.

Dinamika masyarakat memberikan kesempatan kebudayaan untuk berkembang, sehingga


dapat dikatakan bahwa tidak ada kebudayaan tanpa masyarakat, dan tidak ada
masyarakat tanpa kebudayaan sebagai wadah pendukungnya.

Azas-azas dan ciri-ciri kehidupan berkelompok pada mahluk hidup, juga dijalani oleh
manusia dalam bermasyarakat.

Fungsi Ekosistem

Kebudayaan dapat diartikan dengan hal-hal yang bersangkutan dengan akal. Kebudayaan
adalah keseluruhan dari kelakuan dan hasil kelakuan manusia, yang teratur oleh tata
kelakuan yang harus di dapatnya dengan belajar, yang semuanya tersusun dalam
kehidupan masyarakat. Tidak ada kebudayaan tanpa masyarakat, dan tidak ada
masyarakat tanpa kebudayaan.

Kebudayaan adalah keseluruhan pola tingkah laku dan pola bertingkah laku, baik secara
eksplisit maupun implisit, yang diperoleh dan diturunkan melalui simbol, yang akhirnya
mampu membentuk sesuatu yang khas dari kelompok-kelompok manusia, termasuk
perwujudannya dalam benda-benda materi.
Kebudayaan mencakup ruang lingkup yang luas, yang wujudnya dapat berupa
kebudayaan hasil rasa atau sistem budaya (norma, adat istiadat), hasil cipta (fisik) dan
konsep tingkah laku (sistem sosial).

Kebudayaan dimulai sejak adanya mahluk Homo Neanderthal (ras manusia yang sudah
punah) kurang lebih 200.000 tahun yang lalu. Mahluk ini diperkirakan sudah mempunyai
bahasa, dengan volume otak yang hampir sama dengan manusia. Kemudian muncul
mahluk homo sapiens kurang lebih 80.000 tahun yang lalu. Dua unsur yang
memungkinkan kebudayaan manusia bisa berevolusi adalah bahasa dan akal.

Perkembangan kebudayaan berkembang sangat lamban dimulai dari adanya mahluk


Neanderthal hingga revolusi pertanian (10.000 th. yang lalu), tetapi sejak revolusi industri
(abad 18 M), kebudayaan berkembang dengan pesat. Lebih-lebih zaman sekarang (abad
20) yang ditandai dengan gencarnya inovasi teknologi; era informasi; peluang ekonomi
yang tak terbayangkan sebelumnya; dan reformasi politik yang radikal dan berdampak
global. Sehingga ada kecenderungan berbudaya gaya internasional. Perkembangan
budaya ini dipengaruhi oleh alam pikiran yang menjadikan tahapan perkembangan dalam
budaya mitis, ontologis, dan fungsional.

Begitu banyak unsur-unsur budaya yang ada di dunia ini, namun ada unsur-unsur
kebudayaan yang bersifat universal, yaitu tujuh unsur kebudayaan meliputi: bahasa;
sistem pengetahuan; organisasi sosial; sistem peralatan hidup dan teknologi; sistem mata
pencaharian hidup; sistem religi; dan kesenian. Ketujuh unsur budaya ini terintegrasi
sebagai satu kesatuan yang utuh dalam suatu masyarakat sebagai ciri dari suatu budaya
melalui proses penyesuaian, sehingga memungkinkan unsur-unsur tersebut berfungsi
secara seimbang. Dalam kehidupan masyarakat yang majemuk, integrasi sosial sebagai
usaha untuk menjalin hubungan yang serasi.

KOMUNITAS, POPULASI, DAN SPESIES

Komunitas

Kota adalah salah satu habitat manusia yang merupakan lingkungan alam yang telah
berubah drastik menjadi lingkungan buatan, untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia.
Batasan kota bervariasi tergantung dari sudut pandang pengamat.
Pola lokasi kota bervariasi karena banyak faktor-faktor yang mempengaruhi. Sedangkan
untuk struktur ruang kota, ada tiga pola ruang kota yaitu berupa lingkaran konsentris,
pola sektor, dan pola inti ganda.

Memahami kehidupan dan lingkungan hidup kota tak ubahnya kita memahami jasad
hidup, yaitu jasmani kota dan rohani kota. Jasmani kota ada yang berupa metabolisme
kota, peredaran makanan atau darah kota, sistem syaraf kota, dan tulang-tulang struktur
kota yang berupa infrastruktur.

Dari uraian-uraian di atas dapat diketahui ciri-ciri kota dan masyarakatnya, sebagai
berikut:

1. Kota mempunyai fungsi-fungsi khusus (satu kota bisa berbeda dengan fungsi kota
yang lain).

2. Mata pencaharian penduduknya di luar agraris (non-agraris).

3. Adanya spesialisasi pekerjaan warganya.

4. Kepadatan penduduk relatif tinggi.

5. Warganya relatif mobility.

6. Tempat permukiman yang tampak permanen.

7. Sifat-sifat warganya yang heterogen, kompleks, hubungan sosial yang impersonal


dan external, serta personal segmentation, karena begitu banyaknya peranan dan
jenis pekerjaan seseorang dalam kelompoknya sehingga seringkali orang tidak
kenal satu sama lain, seolah-olah seseorang menjadi asing dalam lingkungannya.

Kota mempunyai fungsi tertentu yang berbeda antara satu dengan kota lainnya.
Perbedaan tersebut akan menghasilkan karakter tertentu pula bagi penduduknya.
Terciptalah pula suatu masyarakat yang mempunyai ciri-ciri sosial budaya yang berbeda
dengan masyarakat di luarnya, antara satu kota dengan kota lainnya.

Populasi

Pengertian desa sebagai tempat permukiman sangat beragam tergantung dari kacamata
pengamatnya, bisa ditinjau dari aspek morfologi, aspek jumlah penduduk, aspek ekonomi,
dan aspek sosial budaya serta aspek hukum.
Masyarakat desa selalu dikonotasikan dengan ciri tradisional, kuatnya ikatan dengan
alam, eratnya ikatan kelompok, guyup rukun, gotong royong, alon-alon asal kelakon, dan
paternalistik.

Pada umumnya mata pencaharian penduduk di perdesaan adalah bercocok tanam atau
bertani. Ada pekerjaan lain seperti bertukang, kerajinan atau pekerjaan lain, tetapi
pekerjaan ini merupakan pekerjaan sambilan sebagai pengisi waktu luang.

Pembagian kerja di desa relatif sederhana bila dibandingkan dengan kota. Struktur sosial
di kota mengenal diferensiasi yang luas sedangkan di perdesaan relatif sederhana. Di
perdesaan orang lebih menghayati hidupnya, terutama pada kelompok primer dan
berorientasi pada tradisi, serta cenderung konservatif.

Pola ruang desa-desa Indonesia cukup bervariasi tergantung dari di mana lokasi desa itu
berada, yaitu: Pola Melingkar; Pola Mendatar; Pola Konsentris; Pola memanjang jalur
sungai atau Jalan; Pola Mendatar; dan Pola Konsentris Desa di Jawa Timur.

MANUSIA DAN LINGKUNGAN HIDUP

Kedudukan Manusia dalam Lingkungan Hidup dan Dinamika Populasi

Interaksi sosial merupakan hubungan sosial yang dinamis, yang meliputi hubungan antara
masing-masing individu; antara kelompok maupun antara individu dengan kelompok.

Melihat interaksi manusia dapat dilihat dalam dua tingkat (kacamata), yaitu tingkat
hayati dan tingkat sosial atau budaya.

Interaksi sosial tidak akan terjadi bila tidak memenuhi dua syarat, yaitu: (1) Adanya
kontak sosial (social-contact); (2) adanya komunikasi (communications). Dan menurut
ahli-ahli sosial bentuk-bentuk interaksi sosial dapat berupa kerja sama (co-operation),
persaingan (competition), pertentangan atau pertikaian (conflict), dan dapat juga
berbentuk akomodasi (accommodation).

Menurut kacamata ahli ilmu alam, dasar proses interaksi manusia adalah kompetisi.
Kompetisi itu pada hakekatnya berlangsung dengan proses kerjasama yang spontan dan
tidak berencana, membentuk apa yang disebut koperasi yang kompetitif. Sebagai akibat
timbullah apa yang disebut relasi yang simbiotik.

Relasi simbiotik itu dalam bentuk mutualisme, komensalisme, amensalisme, kompetisi,


parasitisme, dan predasi.
Interaksi pada makhluk hayati terjadi secara netral, untuk keseimbangan ekosistem itu
sendiri. Interaksi sosial pada manusia tidak terjadi secara netral, ada norma-norma moral
manusia. Dalam interaksinya dengan lingkungan cenderung antroposentrik, sehingga
membuka peluang manusia untuk bersifat eksploitatif terhadap lingkungannya. Tetapi
dengan memadukan sikap imanen dan transenden sebagai dasar moral dan tanggung
jawab dalam memanfaatkan alam sifat eksploitatif dapat lebih terkendali.

Lingkungan Hidup Buatan

Untuk memahami perilaku atau tingkah laku manusia dapat ditelusuri melalui persepsi
manusia terhadap lingkungannya. Persepsi adalah stimulus atau sesuatu yang dapat
memberikan rangsangan pada syaraf, yang ditangkap oleh panca indera serta diberi
interpretasi (arti) oleh sistem syaraf.

Dalam melihat persepsi ini ada dua pendekatan yaitu pendekatan konvensional dan
pendekatan ekologis dari Gibson.

Usaha menjelaskan perilaku sebagai ungkapan persepsi dapat dilihat dari interaksi antara
rangsangan (stimulus) terhadap reaksi (respons). Beberapa aliran hubungan Stimulus –
Response antara manusia dengan lingkungannya, adalah: aliran determinisme;
interaksionisme; dan transaksionisme.

Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi persepsi seseorang terhadap


lingkungannya, adalah faktor obyek fisik dan faktor individu. Hasil interaksi individu
dengan obyek fisik menghasilkan persepsi individu tentang obyek tersebut.

Sedangkan respon manusia terhadap lingkungannya bergantung pada bagaimana individu


mempersepsikan lingkungannya. Respon ini dapat dilihat dari gejala-gejala persepsi
mereka terhadap ruang sebagai lingkungan tempat tinggalnya, yaitu meliputi personal
space, privacy, territoriality, crowding dan density, peta mental, serta stress.

PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM


Sumber Daya Alam Secara Umum

Pembangunan adalah sebagai suatu usaha atau rangkaian usaha pertumbuhan dan
perubahan yang berencana yang dilakukan secara sadar oleh suatu bangsa, negara dan
pemerintah, menuju modernitas dalam rangka pembinaan bangsa.
Konsep pembangunan tersebut dapat dilihat sebagai konsep pertumbuhan (growth);
rekonstruksi (reconstruction); modernisasi (modernization); westernisasi (westernization);
pembangunan bangsa (nation building); pembangunan nasional (national development);
pembangunan sebagai pengembangan negara; dan pembangunan sebagai upaya
pemenuhan hidup, kebebasan memilih dan harga diri.

Di Indonesia teori pembangunan dijabarkan sebagai konsep pembangunan bertahap yaitu:


pembangunan berimbang (balanced development); tahap pembangunan memenuhi
kebutuhan pokok; tahap pembangunan dengan pemerataan; dan terakhir adalah tahap
pembangunan dengan kualitas hidup, yaitu pembangunan manusia Indonesia seutuhnya
dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia. Dengan strategi yang diterapkan adalah
Trilogi Pembangunan meliputi: pertumbuhan ekonomi; pemerataan kesejahteraan sosial;
dan stabilitas politik. Jika kita lihat tahapan pembangunan pada teori pembangunan
tersebut di atas, terlihat bahwa Indonesia pun mengikuti tahapan pembangunan tersebut.

Konsekuensi pembangunan adalah melakukan perubahan sebagai upaya meningkatkan


kualitas hidup. Sedangkan perubahan baik pada lingkungan fisik maupun lingkungan
sosial budaya ini berdampak positif dan negatif.

Neraca pembangunan yang terjadi saat ini dirasakan tidaklah menggembirakan. Di satu
sisi ada kemajuan, di lain sisi ditemukan kerusakan lingkungan yang secara serius
akhirnya mengganggu kehidupan manusia dan kelangsungan pembangunan itu sendiri.
Hal ini tidak hanya terjadi di negara-negara berkembang, yang sedang giat-giatnya
membangun, tetapi juga di alami oleh negara-negara maju.

Oleh karena itu, muncullah konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable


development) sebagai upaya meleburkan atau melarutkan lingkungan ke dalam
pembangunan, yaitu dengan tetap berusaha atau membangun tidak melampaui
kemampuan ekosistem yang mendukung kehidupannya. Setelah permasalahan lingkungan
dirasakan dapat mengganggu kehidupan manusia dan kelangsungan pembangunan itu
sendiri.

Sumber Daya Alam Terbarui

Perubahan sosial adalah suatu perubahan yang terjadi pada sistem sosial yang mencakup
tata nilai sosial, sikap, dan pola perilaku kelompok. Perubahan sosial merupakan
perubahan kelembagaan masyarakat dan perubahan individu.
Ada lima bentuk perubahan sosial, yaitu: (1) perubahan evolusioner; (2) perubahan
revolusioner; (3) perubahan dialektikal; (4) perubahan dipaksakan; dan (5) perubahan
terkendali.

Sedangkan perubahan bentuk perubahan budaya adalah: (1) Alkulturasi; (2) Asimilasi; (3)
Difusi; (4) Sinkretisme; dan (5) Penetrasi.

Dalam konteks pengelolaan lingkungan, masyarakat tradisional lebih bersandar pada


penyesuaian masyarakat pada lingkungannya. Sedangkan masyarakat modern
mengandung lebih banyak unsur yang berkaitan dengan mengatasi atau mengubah
kendala lingkungan hidup.

Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan dapat dibagi dalam 2 sifat yaitu
perubahan endogenik (perubahan dari dalam), dan perubahan exogenik (dari luar).

Pada umumnya perubahan dari luar akan mempunyai dampak yang lebih besar, dan lebih
banyak berhubungan dengan aspek pembangunan, serta bersifat revolusioner. Walaupun
demikian tidak berarti bahwa perubahan dari dalam tidak bisa serius.

Di dalam suatu masyarakat yang sedang membangun, perlu terjadi suatu perubahan sosial
yang diberi nama modernisasi. Modernisasi dapat diartikan sebagai penerapan
pengetahuan ilmiah yang ada pada semua aktifitas, semua bidang kehidupan, atau semua
aspek-aspek masyarakat. Untuk mendukung modernisasi perlu suatu tata nilai modern
pada individu, yang mencakup kualitas pribadi dan tersebarnya pengetahuan ilmiah serta
keterampilan teknis. Tata nilai modern pada individu harus melembaga pula pada suatu
kelembagaan sosial yang modern. Mana yang menjadi unsur utama, para ahli masih
belum ada kesepakatan.

Dari pengalaman pembangunan di Dunia Ketiga, diketahui bahwa modernisasi tanpa


didukung oleh perubahan sosial tidaklah efektif. Oleh karena itu, perubahan sosial
hendaknya memperhatikan nilai teologi etis atau teologi pembebasan dan bersifat suatu
perubahan sosial yang baru atau pembaruan yang dibawa oleh tokoh-tokoh agen
pembaruan.

PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

Pembangunan Konvensional dan Permasalahan Lingkungan Hidup


Pendudukan dan lingkungan hidup berkaitan erat. Keprihatinan tentang masalah
kependudukan sebetulnya telah lama dirasakan. Sekarang keprihatinan itu telah
meningkat kembali setelah kita sendiri menjadi lebih sadar tentang berbagai dampak
pertumbuhan penduduk yang tak terkendalikan di negara kita sendiri.

Bersamaan dengan meningkatnya kesadaran lingkungan hidup, telah meningkat pula


kesadaran tentang kaitan antara lingkungan hidup dengan aspek kependudukan.

Bagi lingkungan sosial, masalah kependudukan dan lingkungan hidup merupakan unsur
atau komponen dari masalah lingkungan sosial, yaitu masalah perubahan sosial di segala
segi kehidupan, akibat perubahan dari segi material dan teknologi yang lebih cepat dari
pada laju perubahan dari segi tata nilai atau gaya hidup.

Oleh karena itu, untuk menanggapi masalah kerusakan lingkungan hidup, pola hidup
penduduk harus berubah sehingga tumbuh masyarakat yang mampu menopang suatu
pembangunan yang dapat memperbaiki mutu kehidupan manusia dengan tetap berusaha
tidak melampaui kemampuan ekosistem yang mendukung kehidupannya.

Untuk menumbuhkan masyarakat yang seperti itu, perlu dikembangkan prinsip etika
(prinsip pertama dari prinsip-prinsip berkelanjutan) yang mengindahkan semangat
gotong royong. Di atas prinsip gotong royong dikembangkan empat prinsip berkelanjutan,
yaitu:

1. Prinsip meningkatkan kualitas hidup. Pembangunan ini baru berarti jika


meningkatkan kualitas hidup dalam segala seginya;

2. Prinsip melestarikan vitalitas dan keanekaragaman bumi agar pembangunan bisa


berlanjut;

3. Prinsip minimalisasi penciutan sumberdaya alam yang tidak diperbarui; dan

4. Prinsip mengindahkan daya dukung lingkungan.

Kualitas hidup yang tinggi, yang memperhatikan ekologi berkelanjutan sebagai hasil dari
pembangun yang berkelanjutan, memerlukan indikator-indikator sebagai alat untuk
mengukur kemajuan ke arah masyarakat yang berkelanjutan. Mencakup: kualitas hidup;
keberlanjutan ekologi; keberlanjutan penggunaan sumber daya terbarukan dan
meminimumkan penggunaan sumberdaya tak terbarukan; dan faktor sosial ekonomi.
Konsep Pembangunan yang Berkelanjutan

Kasus-kasus pencemaran dan kerusakan seperti di laut, hutan, atmosfer, air, tanah, dan
seterusnya bersumber pada perilaku manusia yang tidak bertanggung jawab, tidak peduli
dan hanya mementingkan diri sendiri. Oleh karena itu, krisis lingkungan ini hanya bisa
diatasi dengan melakukan perubahan cara pandang dan perilaku manusia terhadap alam
yang fundamental dan radikal melalui etika lingkungan yang dibutuhkan untuk menuntun
manusia berinteraksi dengan alam semesta.

Ada dua pemahaman tentang etika, yaitu etika yang dipahami sebagai moral dan etika
yang dipahami dalam pengertian yang berbeda dengan moralitas, sehingga mempunyai
pengertian yang lebih luas dan merupakan refleksi kritis bagaimana manusia harus
bertindak dalam situasi konkret dan situasi tertentu melalui penelusuran kritis teori etika
deontologi, etika teleologi, dan etika keutamaan.

Sedangkan etika lingkungan di sini dipahami sebagai disiplin ilmu yang berbicara
mengenai norma dan kaidah moral yang mengatur perilaku manusia dalam berhubungan
dengan alam serta nilai dan prinsip moral yang menjiwai perilaku manusia dalam
berhubungan dengan alam.

Berbagai teori etika lingkungan dapat menjelaskan pola perilaku manusia dalam kaitan
dengan lingkungan. beberapa teori etika lingkungan ini merupakan perkembangan
pemikiran di bidang etika lingkungan, yaitu Shallow Environmental Ethic, Intermediate
Environmental Ethic, dan Deep Environmental Ethic. Ketiga teori ini dikenal sebagai
antroposentrisme, biosentrisme, dan ekosentrisme. Ketiga teori ini mempunyai cara
pandang yang berbeda tentang manusia, alam, dan hubungan manusia dengan alam.

Sumber Buku Lingkungan Sosial Budaya Karya Bambang Deliyanto

DIarsipkan di bawah: Biologi dan fisika

Perubahan sosial merupakan bagian dari perubahan budaya. Perubahan dalam kebudayaan
mencakup semua bagian, yang meliputi kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi, filsafat dan
lainnya. Akan tetapi perubahan tersebut tidak mempengaruhi organisasi sosial masyarakatnya.
Ruang lingkup perubahan kebudayaan lebih luas dibandingkan perubahan sosial. Namun
demikian dalam prakteknya di lapangan kedua jenis perubahan perubahan tersebut sangat sulit
untuk dipisahkan (Soekanto, 1990).

Perubahan kebudayaan bertitik tolak dan timbul dari organisasi sosial. Pendapat tersebut
dikembalikan pada pengertian masyarakat dan kebudayaan. Masyarakat adalah sistem hubungan
dalam arti hubungan antar organisasi dan bukan hubungan antar sel. Kebudayaan mencakup
segenap cara berfikir dan bertingkah laku, yang timbul karena interaksi yang bersifat
komunikatif seperti menyampaikan buah pikiran secara simbolik dan bukan warisan karena
keturunan (Davis, 1960). Apabila diambil definisi kebudayaan menurut Taylor dalam Soekanto
(1990), kebudayaan merupakan kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian,
moral, hukum adat istiadat dan setiap kemampuan serta kebiasaan manusia sebagai warga
masyarakat, maka perubahan kebudayaan dalah segala perubahan yang mencakup unsur-unsur
tersebut. Soemardjan (1982), mengemukakan bahwa perubahan sosial dan perubahan
kebudayaan mempunyai aspek yang sama yaitu keduanya bersangkut paut dengan suatu cara
penerimaan cara-cara baru atau suatu perbaikan dalam cara suatu masyarakat memenuhi
kebutuhannya.

Perspektif Historis Materialisme

Teori historis materialisme digagas oleh Marx dan Engel. Pada dasarnya teori ini
menyoroti perubahan moda produksi sehingga melahirkan perubahan pada berbagai aspek.
Sumber perubahan kebudayaan (tentu saja perubahan sosial termasuk di dalamnya) disebabkan
oleh faktor material, yaitu teknologi. Perspektif materialistis bertumpu pada pemikiran Marx
yang menyatakan bahwa kekuatan produksi berperan penting dalam membentuk masyarakat dan
perubahan sosial. Marx memberikan penjelasan bahwa pada masa teknologi masih terbatas pada
kincir angin memberikan bentuk tatanan masyarakat yang feodal, sedangkan ketika mesin uap
telah ditemukan tatanan masyarakat menjadi bercirikan industrial kapitalis. Perspektif ini melihat
bahwa bentuk pembagian kelas-kelas ekonomi merupakan dasar anatomi suatu masyarakat.

Penjelasan Marx tentang kelas dalam masyarakat yang telah menganut moda produksi
kapitalis bertumpu pada konflik kelas sebagai akibat eksploitasi kelas bawah oleh kelas atas.
Penjelasan ini didasarkan atas pengamatan empiris pada negara-negara eropa sampai dengan
tahun 1845. Marx menggunakan perspektif historis materialisme sebagai sebuah hipotesis kerja
untuk menjelaskan peran antara ekonomi dengan masyarakat. Historis materialisme digunakan
sebagai sarana untuk mempelajari moda produksi kapitalis yang telah menggejala di negara-
negara eropa. Pengamatan sejarah perkembangan negara-negara eropa terutama Jerman
melahirkan dugaan bahwa semua perkembangan sejarah tersebut diwarnai oleh adanya konflik
kelas. Analisis sistem ekonomi terhadap moda produksi kapitalis menghasilkan teori kemunculan
dan perkembangan formasi masyarakat.

Teori historis materialis tentang perkembangan masyarakat bertujuan untuk menjelaskan


proses sosialisasi pada masyarakat. Manfaat utama teori ini adalah untuk menjelaskan peranan
aspek kesejarahan masa lalu terhadap kondisi masyarakat saat ini. Konsep dasar teori ini adalah
adanya hubungan antara masyarakat, manusia dan lingkungannya.

Menurut Marx terdapat tiga tema menarik ketika kita hendak mempelajari perubahan sosial,
yaitu :
1. Perubahan sosial menekankan pada kondisi materialis yang berpusat pada perubahan cara
atau teknik produksi material sebagai sumber perubahan sosial budaya.
2. Perubahan sosial utama adalah kondisi material dan cara produksi dan hubungan sosial
serta norma-norma kepemilikan.
3. Manusia menciptakan sejarah materialnya sendiri, selama ini mereka berjuang
menghadapi lingkungan materialnya dan terlibat dalam hubungan-hubungan sosial yang
terbatas dalam proses pembentukannya. Kemampuan manusia untuk membentuk
sejarahnya sendiri dibatasi oleh keadaan lingkungan material dan sosial yang telah ada.
Dalam konsepsi Marx, perubahan sosial ada pada kondisi historis yang melekat pada perilaku
manusia secara luas, tepatnya sejarah kehidupan material manusia. Pada hakikatnya perubahan
sosial dapat diterangkan dari sejumlah hubungan sosial yang berasal dari pemilikan modal atau
material. Dengan demikian, perubahan sosial hanya mungkin terjadi karena konflik kepentingan
material atau hal yang bersifat material. Konflik sosial dan perubahan sosial menjadi satu
pengertian yang setara karena perubahan sosial berasal dari adanya konflik kepentingan material
tersebut.

Perubahan dalam pandangan Marx bersifat otodinamis, terus-menerus dan berasal dari
dalam. Perubahan didorong oleh kontradiksi endemik, penindasan dan ketegangan dalam
struktur. Perubahan terjadi pada tiga tempat, yaitu :
1. Kontradiksi antara masyarakat dan lingkungan.
2. Kontradiksi antara tingkat teknologi yang dicapai dab organisasi sosial proses produksi
yang tersedia.
3. Kontradiksi antara moda produksi dan sistem politik tradisional.
Sejalan dengan pandangan dinamis Marx, model kesatuan sosial (sistem sosial) dibangun dalam
gerakan sosial internal yang konstan yaitu perubahan yang digerakkan oleh kekuatan dari dalam
sistem sosial itu sendiri. Marx melihat bahwa proses ini akan berlanjut hingga menuju pada suatu
keadaan yang sempurna. Pada kondisi tertentu, kekuatan material pada masyarakat akan
mengalami konflik dengan hubungan produksi yang ada. Marx melihat pada moda produksi
kapitalis bersifat labil dan pada akhirnya akan hilang. Hal ini disebabkan pola hubungan antara
kaum kapitalis modal dan kaum buruh bercirikan pertentangan akibat eksploitasi besar-besaran
oleh kaum kapitalis. Kaum buruh merupakan kaum proletar yang kesemuanya telah menjadi
“korban” eksploitasi kaum borjuis. Marx meramalkan akan terjadi suatu keadaan dimana terjadi
kesadaran kelas di kalangan kaum proletar. Kesadaran kelas ini membawa dampak pada adanya
kemauan untuk melakukan perjuangan kelas untuk melepaskan diri dari eksploitasi, perjuangan
ini dilakukan melalui revolusi.
Perspektif tentang Individu dalam Perubahan Sosial

Perspektif individual menjadi sebuah alternatif untuk menjelaskan perubahan sosial.


Menurut perspektif historisme, masyarakat sebagai kesatuan holistik yang bersifat menentukan
sifat dan keteraturannya sendiri yang tidak dapat direduksi. Individu dipandang pasif dan
cenderung tergantung pada sistem sosialnya. Sebaliknya, perspektif individual memberikan
ruang yang sangat dominan terhadap individu. Pusat perhatian bergeser ke agen dan tindakannya,
yaitu perilaku signifikan yang ditujukan terhadap orang lain untuk mendapatkan tanggapan.
Untuk memahami tindakan sosial maka kita harus memahami terlebih dahulu tindakan individu.
Tindakan individu sendiri merupakan sebuah kompleksitas antara motivasi psikologis, nilai
budaya, norma dan hukum yang membentuk tindakan. Dengan demikian, faktor utama yang
menjelaskan perubahan sosial adalah pada alam ide.

Berbeda dengan kubu materialis yang memandang bahwa faktor budaya material yang
menyebabkan perubahan sosial, perspektif idealis melihat bahwa perubahan sosial disebabkan
oleh faktor non material. Faktor non material ini antara lain ide, nilai dan ideologi. Ide merujuk
pada pengetahuan dan kepercayaan, nilai merupakan anggapan terhadap sesuatu yang pantas atau
tidak pantas, sedangkan ideologi berarti serangkaian kepercayaan dan nilai yang digunakan
untuk membenarkan atau melegitimasi bentuk tindakan masyarakat.

Salah satu pemikir dalam kubu idealis adalah Weber. Weber memiliki pendapat yang
berbeda dengan Marx. Perkembangan industrial kapitalis tidak dapat dipahami hanya dengan
membahas faktor penyebab yang bersifat material dan teknik. Namun demikian Weber juga tidak
menyangkal pengaruh kedua faktor tersebut. Pemikiran Weber yang dapat berpengaruh pada
teori perubahan sosial adalah dari bentuk rasionalisme yang dimiliki. Dalam kehidupan
masyarakat barat model rasionalisme akan mewarnai semua aspek kehidupan. Menurut Webar,
rasionalitas memiliki empat macam model, yaitu :
1. Rasionalitas tradisional.
2. Rasionalitas yang berorientasi nilai.
3. Rasionalitas afektif.
4. Rasionalitas instrumental.
Weber melihat bahwa pada wilayah Eropa yang mempunyai perkembangan industrial kapital
pesat adalah wilayah yang mempunyai penganut protestan. Bagi Weber, ini bukan suatu
kebetulan semata. Nilai-nilai protestan menghasilkan etik budaya yang menunjang
perkembangan industrial kapitalis. Protestan Calvinis merupakan dasar pemikiran etika protestan
yang menganjurkan manusia untuk bekerja keras, hidup hemat dan menabung. Pada kondisi
material yang hampir sama, industrial kapital ternyata tidak berkembang di wilayah dengan
mayoritas Katholik, yang tentu saja tidak mempunyai etika protestan.

Perubahan Kebudayaan Masyarakat Indonesia


Catatan perjalanan pembangunan di Indonesia telah banyak diulas oleh para peneliti. Salah
satunya hasil penelitian Soemardjan dan Breazeale. Penelitian yang mengulas tentang perubahan
budaya pada masyarakat pedesaan Indonesia sebagai akibat kebijakan pembangunan peedesaan
yang diambil oleh pemerintah orde baru. Kebijakan pembangunan perdesaan yang dilakukan
oleh pemerintah diwijudkan dengan modernisasi, sebuah pendekatan pembangunan yang lazim
dilakukan oleh negara berkembang. Fokus telaah dalam penelitian ini adalah beberapa program
pembangunan perdesaan, antara lain; listik masuk desa, informasi masuk desa, pemberantasan
buta huruf, PKK, KB, KUD dan intensifikasi pertanian (BIMAS).

Pembangunan perdesaan dengan perspektif modernisasi berasumsi pada dua kutub yang saling
berbeda, yaitu pemerintah dalam posisi superior (pusat) dan masyarakat perdesaan sebagai posisi
inferior (periferi). Perubahan selalu berasal dari pemerintah yang “menganggap dirinya lebih
maju” dibandingkan masyarakat perdesaan. Budaya tradisional dianggap sebagai salah satu
penghambat sehingga perlu digantikan oleh budaya modern yang lebih produktif. Orientasi
utama pembangunan perdesaan adalah pada peningkatan taraf ekonomi masyarakat perdesaan
yang pada akhirnya akan meningkatkan pula taraf ekonomi bangsa. Perubahan mendasar yang
terjadi adalah semakin terkikisnya budaya tradisional oleh budaya modern. Masyarakat
tradisional pada dasarnya sudah memiliki “pola pengaturan” kehidupan sosialnya sejak lama
namun semuanya harus mengalami transformasi menuju “pola pengaturan” baru yang oleh
pemerintah dianggap lebih baik (”modern”).

Pemikir fungsionalis menegaskan bahwa perubahan diawali oleh tekanan-tekanan kemudian


terjadi integrasi dan berakhir pada titik keseimbangan yang selalu berlangsung tidak sempurna.
Artinya teori ini melihat adanya ketidakseimbangan yang abadi yang akan berlangsung seperti
sebuah siklus untuk mewujudkan keseimbangan baru. Variabel yang menjadi perhatian teori ini
adalah struktur sosial serta berbagai dinamikanya. Penyebab perubahan dapat berasal dari dalam
maupun dari luar sistem sosial. Perubahan kebudayaan ini dapat terjadi karena adanya faktor
pendorong yaitu pemerintah. Pemerintah telah menjadi pihak yang memberikan introduksi dari
luar sistem sebuah perubahan melalui pogram pembangunan perdesaan.

Polarisasi antara pemerintah dan masyarakat perdesaan menyebabkan kesulitan dalam


pelaksanaan program pembangunan. Senjang kebudayaan yang terjadi perlu dijembatani oleh
“broker budaya”, yaitu pihak yang menjadi perantara antara “budaya modern” dan “budaya
tradisional. Peran elit desa sangat dominan dalam keberhasilan program pembangunan perdesaan
ini. Mereka umunya menjadi corong pemerintah. program pembangunan perdesaan bersifat top
down dan berjenjang dari pemerintah pusat hingga tingkat desa.

Di dalam kelompok sendiri pada dasarnya telah terbangun sebuah kebiasaan-kebiasaan dan
norma-norma. Perubahan mungkin saja tidak terjadi apabila terdapat penolakan-penolakan dari
dalam kelompok. Proses perubahan membawa kelompok pada keseimbangan baru. Perubahan
terjadi apabila driving forces lebih kuat dibandingkan resistences. Pada tahap ini seringkali
terjadi konflik dan “polarisasi” di dalam kelompok. Kelompok mayoritas akan berusaha
menekan kelompok minoritas. Seringkali kebiasaan-kebiasaan yang terjadi di dalam kelompok
didasarkan pada relasi antara individu dan standar perilaku di dalam kelompok. Beberapa
individu mungkin memiliki perilaku yang berbeda dengan standar perilaku di dalam kelompok.
Apabila individu tetap mempertahankan perbedaan tersebut maka individu akan dikucilkan oleh
kelompok dan bahkan akan “dikeluarkan” dari kelompok. Oleh karenanya seringkali individu
harus berusaha untuk melakukan usaha konformis untuk menyesuaikan dengan standar
kelompoknya.

Peran pemerintah sebagai sumber perubahan tidak dapat berjalan dengan sendirinya. Salah satu
faktor pendorong yang tidak dapat diabaikan adalah teknologi. Perkembangan teknologi modern
memberikan andil yang sangat besar dalam membawa perubahan pada masyarakat perdesaan.
BIMAS dapat berjalan dengan sukses karena adanya inovasi teknologi di bidang pertanian.
Demikian pula dengan program pembangunan perdesaan lainnya. Perkembangan teknologi
kesehatan, transportasi dan komunikasi turut memberi warna dalam “keberhasilan” perubahan
kebudayaan masyarakat perdesaan.

Aspek Peran
Teknologi Sebagai pendorong perubahan, bahkan perspektif materialis
memandang teknologi sebagai sumber perubahan. Teknologi dapat
menyebabkan perubahan sosial melalui tiga cara yang berbeda,
yaitu :
1. Teknologi baru mampu meningkatkan berbagai
kemungkinan-kemungkinan dalam masyarakat. Suatu hal yang
tidak mungkin dilakukan pada masa lalu akan menjadi mungkin
dengan bantuan teknologi.
2. Teknologi baru merubah pola interaksi dalam masyarakat.
3. Teknologi baru menyebabkan terjadinya berbagai
permasalahan hidup baru bagi masyarakat.
Selain sebagai sumber perubahan, pada penelitian Soemardjan dan
Breazeale tampak bahwa teknologi dapat berperan sebagai faktor
pembawa ide atau budaya baru (”modern”) kepada masyarakat
tradisional. Salah satu contohnya adalah teknologi komunikasi dan
informasi. Masuknya televisi mampu membawa pesan (ide)
modernisasi dari pemerintah kepada masyarakat perdesaan.
Ideologi dan Sebagai pendorong perubahan, perspektif idealis memandangnya
nilai sebagai sumber perubahan. Ideologi mampu menyebabkan
perubahan paling tidak melalui tiga cara yang berbeda, yaitu :
1. Ideologi dapat melegitimasi keinginan untuk melakukan
perubahan.
2. Ideologi mampu menjadi dasar solidaritas sosial yang
dibutuhkan untuk melakukan perubahan.
3. Ideologi dapat menyebabkan perubahan melalui menyoroti
perbedaan dan permasalahan yang ada pada masyarakat.
Tahap pembangunan perdesaan yang dijalankan oleh pemerintah
diawali dengan introduksi ideologi. Peran pemerintah desa menjadi
sangat dominan dalam merubah ideologi tradisional menjadi
ideologi modern. Modernisasi sendiri dapat diartikan sebagai
turunan perspektif idealis, yang memandang pembangunan
ekonomi perlu diawali dengan perubahan budaya tradisional
menuju budaya modern.

Daftar Bacaan

Davis, Kingsley. 1960. Human Society. The Macmillan Company. New York.
Salim, Agus. 2002. Perubahan Sosial. Tiara Wacana. Yogyakarta.
Soekanto, Soerjono. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. Rajawali Pers. Jakarta
Soemardjan, S dan Breazeale, K. 1993. Cultural Change in Rural Indonesia; Impact of Village
Development. UNS-YISS-East West Center. Honolulu.
Soemardjan, Selo. 1986. Perubahan Sosial di Yogyakarta. UGM Press. Yogyakarta.

Strasser, H. and S.C. Randall. 1981. An Introdustion to Theories of Social Change. London:
Routledge & Kegan Paul.

Sztompka, P. 1994. Sosiologi Perubahan Sosial. Prenada. Jakarta.


Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Kebudayaan)
Langsung ke: navigasi, cari
Lukisan musisi wanita Persia dari Istana Hasht-Behesht (Istana 8 surga)
.
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan
bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi
dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata
Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau
bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia

Pengertian kebudayaan
Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw
Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan
oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah
Cultural-Determinism.
Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke
generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. Menurut Andreas Eppink,
kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan
serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan
intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.
Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di
dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan
kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.
Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa,
dan cipta masyarakat.
Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu
yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang
terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat
abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia
sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata,
misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain,
yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan
bermasyarakat.
[sunting] Unsur-unsur
Ada beberapa pendapat ahli yang mengemukakan mengenai komponen atau unsur kebudayaan,
antara lain sebagai berikut:
1. Melville J. Herskovits menyebutkan kebudayaan memiliki 4 unsur pokok,
yaitu:
○ alat-alat teknologi
○ sistem ekonomi
○ keluarga
○ kekuasaan politik
2. Bronislaw Malinowski mengatakan ada 4 unsur pokok yang meliputi:
○ sistem norma sosial yang memungkinkan kerja sama antara para
anggota masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan alam
sekelilingnya
○ organisasi ekonomi
○ alat-alat dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk
pendidikan (keluarga adalah lembaga pendidikan utama)
○ organisasi kekuatan (politik)

[sunting] Wujud dan komponen


[sunting] Wujud
Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga: gagasan, aktivitas, dan
artefak.
• Gagasan (Wujud ideal)
Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-
ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang
sifatnya abstrak; tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini
terletak dalam kepala-kepala atau di alam pemikiran warga masyarakat. Jika
masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan,
maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku-buku
hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut.
• Aktivitas (tindakan)
Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari
manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem
sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling
berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya
menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya
konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan
didokumentasikan.
• Artefak (karya)
Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas,
perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-
benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan.
Sifatnya paling konkret diantara ketiga wujud kebudayaan.
Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bisa
dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujud kebudayaan ideal mengatur
dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia.
[sunting] Komponen
Berdasarkan wujudnya tersebut, kebudayaan dapat digolongkan atas dua komponen utama:
• Kebudayaan material
Kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata,
konkret. Termasuk dalam kebudayaan material ini adalah temuan-temuan
yang dihasilkan dari suatu penggalian arkeologi: mangkuk tanah liat,
perhisalan, senjata, dan seterusnya. Kebudayaan material juga mencakup
barang-barang, seperti televisi, pesawat terbang, stadion olahraga, pakaian,
gedung pencakar langit, dan mesin cuci.
• Kebudayaan nonmaterial
Kebudayaan nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari
generasi ke generasi, misalnya berupa dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau
tarian tradisional.

[sunting] Hubungan antara unsur-unsur kebudayaan


Komponen-komponen atau unsur-unsur utama dari kebudayaan antara lain:
[sunting] Peralatan dan perlengkapan hidup (teknologi)

Teknologi merupakan salah satu komponen kebudayaan.

Teknologi menyangkut cara-cara atau teknik memproduksi, memakai, serta memelihara segala
peralatan dan perlengkapan. Teknologi muncul dalam cara-cara manusia mengorganisasikan
masyarakat, dalam cara-cara mengekspresikan rasa keindahan, atau dalam memproduksi hasil-
hasil kesenian.
Masyarakat kecil yang berpindah-pindah atau masyarakat pedesaan yang hidup dari pertanian
paling sedikit mengenal delapan macam teknologi tradisional (disebut juga sistem peralatan dan
unsur kebudayaan fisik), yaitu:
• alat-alat produktif
• senjata
• wadah
• alat-alat menyalakan api
• makanan
• pakaian
• tempat berlindung dan perumahan
• alat-alat transportasi
[sunting] Sistem mata pencaharian hidup
Perhatian para ilmuwan pada sistem mata pencaharian ini terfokus pada masalah-masalah mata
pencaharian tradisional saja, di antaranya:
• berburu dan meramu
• beternak
• bercocok tanam di ladang
• menangkap ikan
[sunting] Sistem kekerabatan dan organisasi sosial
Sistem kekerabatan merupakan bagian yang sangat penting dalam struktur sosial. Meyer Fortes
mengemukakan bahwa sistem kekerabatan suatu masyarakat dapat dipergunakan untuk
menggambarkan struktur sosial dari masyarakat yang bersangkutan. Kekerabatan adalah unit-
unit sosial yang terdiri dari beberapa keluarga yang memiliki hubungan darah atau hubungan
perkawinan. Anggota kekerabatan terdiri atas ayah, ibu, anak, menantu, cucu, kakak, adik,
paman, bibi, kakek, nenek dan seterusnya. Dalam kajian sosiologi-antropologi, ada beberapa
macam kelompok kekerabatan dari yang jumlahnya relatif kecil hingga besar seperti keluarga
ambilineal, klan, fatri, dan paroh masyarakat. Di masyarakat umum kita juga mengenal
kelompok kekerabatan lain seperti keluarga inti, keluarga luas, keluarga bilateral, dan keluarga
unilateral.
Sementara itu, organisasi sosial adalah perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat, baik
yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum, yang berfungsi sebagai sarana
partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa dan negara. Sebagai makhluk yang selalu
hidup bersama-sama, manusia membentuk organisasi sosial untuk mencapai tujuan-tujuan
tertentu yang tidak dapat mereka capai sendiri.
[sunting] Bahasa
Bahasa adalah alat atau perwujudan budaya yang digunakan manusia untuk saling
berkomunikasi atau berhubungan, baik lewat tulisan, lisan, ataupun gerakan (bahasa isyarat),
dengan tujuan menyampaikan maksud hati atau kemauan kepada lawan bicaranya atau orang
lain. Melalui bahasa, manusia dapat menyesuaikan diri dengan adat istiadat, tingkah laku, tata
krama masyarakat, dan sekaligus mudah membaurkan dirinya dengan segala bentuk masyarakat.
Bahasa memiliki beberapa fungsi yang dapat dibagi menjadi fungsi umum dan fungsi khusus.
Fungsi bahasa secara umum adalah sebagai alat untuk berekspresi, berkomunikasi, dan alat untuk
mengadakan integrasi dan adaptasi sosial. Sedangkan fungsi bahasa secara khusus adalah untuk
mengadakan hubungan dalam pergaulan sehari-hari, mewujudkan seni (sastra), mempelajari
naskah-naskah kuno, dan untuk mengeksploitasi ilmu pengetahuan dan teknologi.
[sunting] Kesenian

Karya seni dari peradaban Mesir kuno.

Kesenian mengacu pada nilai keindahan (estetika) yang berasal dari ekspresi hasrat manusia
akan keindahan yang dinikmati dengan mata ataupun telinga. Sebagai makhluk yang mempunyai
cita rasa tinggi, manusia menghasilkan berbagai corak kesenian mulai dari yang sederhana
hingga perwujudan kesenian yang kompleks.
[sunting] Sistem kepercayaan

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Agama

Ada kalanya pengetahuan, pemahaman, dan daya tahan fisik manusia dalam menguasai dalam
menguasai dan mengungkap rahasia-rahasia alam sangat terbatas. Secara bersamaan, muncul
keyakinan akan adanya penguasa tertinggi dari sistem jagad raya ini, yang juga mengendalikan
manusia sebagai salah satu bagian jagad raya. Sehubungan dengan itu, baik secara individual
maupun hidup bermasyarakat, manusia tidak dapat dilepaskan dari religi atau sistem kepercayaan
kepada penguasa alam semesta.
Agama dan sistem kepercayaan lainnya seringkali terintegrasi dengan kebudayaan. Agama
(bahasa Inggris: Religion, yang berasar dari bahasa Latin religare, yang berarti "menambatkan"),
adalah sebuah unsur kebudayaan yang penting dalam sejarah umat manusia. Dictionary of
Philosophy and Religion (Kamus Filosofi dan Agama) mendefinisikan Agama sebagai berikut:
... sebuah institusi dengan keanggotaan yang diakui dan biasa berkumpul bersama untuk
beribadah, dan menerima sebuah paket doktrin yang menawarkan hal yang terkait dengan sikap
yang harus diambil oleh individu untuk mendapatkan kebahagiaan sejati.[1]
Agama biasanya memiliki suatu prinsip, seperti "10 Firman" dalam agama Kristen atau "5 rukun
Islam" dalam agama Islam. Kadang-kadang agama dilibatkan dalam sistem pemerintahan, seperti
misalnya dalam sistem teokrasi. Agama juga mempengaruhi kesenian.
[sunting] Agama Samawi
Agama Samawi atau agama Abrahamik meliputi Islam, Kristen (Protestan dan Katolik) dan
Yahudi.
Agama Yahudi

Yahudi adalah salah satu agama yang —jika tidak disebut sebagai yang pertama— tercatat
sebagai agama monotheistik dan salah satu agama tertua yang masih ada sampai sekarang. Nilai-
nilai dan sejarah umat Yahudi adalah bagian utama dari agama Ibrahim lainnya, seperti Kristen
dan Islam.
Agama Kristen

Kristen adalah salah satu agama penting yang berhasil mengubah wajah kebudayaan Eropa
dalam 1.700 tahun terakhir. Pemikiran para filsuf modern pun banyak terpengaruh oleh para
filsuf Kristen semacam St. Thomas Aquinas dan Erasmus.
Agama Islam

Islam adalah agama tertua di dunia, agama ini merupakan sumber dari beberapa agama yang
pada prosesnya berubah menjadi beberapa agama. Agama Islam merupakan agama
monotheime/atau monotheistik pertama dan tertua[rujukan?]. Agama lain merupakan modifikasi
manusia dari agama islam[rujukan?]. kita bisa lihat dari perkembangan agama dari nabi-nabi
terdahulu. Agama Islam hanya mengenal satu Tuhan yaitu Allah. Dan semua Nabi dan Rasul,
dari Nabi Adam, Idris, Nuh, Hud, Soleh,Ibrahim,Luth, Ismail, Ishak, Yakub, Yusuf, Ayyub,
Syueb,Musa,Harun, dzulkifli, Daud, Sulaiman, Yunus,Zakaria, Yahya, Isa dan para nabi serta
rasul lainnya sampai Nabi terakhir yaitu Muhammad saw mengakui bahwa " Tidak ada Tuhan
selain Allah ".
Agama Islam telah berhasil merubah cara pandang orang-orang eropa terhadap kebudayaan,
seperti ilmu-ilmu fisika, matematika, biologi, kimia dan lain-lain[rujukan?] oleh para fislsuf barat
yang kemudian hal itu diubah dan diakui oleh orang-orang eropa bahwa hal itu merupakan hasil
karya orang eropa asli, Terutama oleh kalangan para filsafat.[rujukan?] Sementara itu, nilai dan
norma agama Islam banyak mempengaruhi kebudayaan Timur Tengah dan Afrika Utara, dan
juga sebagian wilayah Asia Tenggara.
[sunting] Filosofi dan Agama dari Timur

Agni, dewa api agama Hindu


Artikel utama untuk bagian ini adalah: Filosofi Timur dan Agama dari timur

Filosopi dan Agama seringkali saling terkait satu sama lain pada kebudayaan Asia. Agama dan
filosofi di Asia kebanyakan berasal dari India dan China dan menyebar disepanjang benua Asia
melalui difusi kebudayaan dan migrasi.
Hinduisme adalah sumber dari Buddhisme, cabang Mahāyāna yang menyebar di sepanjang utara
dan timur India sampai Tibet, China, Mongolia, Jepang dan Korea dan China selatan sampai
Vietnam. Theravāda Buddhisme menyebar di sekitar Asia Tenggara, termasuk Sri Lanka, bagian
barat laut China, Kamboja, Laos, Myanmar, dan Thailand.
Agama Hindu dari India, mengajarkan pentingnya elemen nonmateri sementara sebuah
pemikiran India lainnya, Carvaka, menekankan untuk mencari kenikmatan di dunia.
Konghucu dan Taoisme, dua filosofi yang berasal dari Cina, mempengaruhi baik religi, seni,
politik, maupun tradisi filosofi di seluruh Asia.
Pada abad ke-20, di kedua negara berpenduduk paling padat se-Asia, dua aliran filosofi politik
tercipta. Mahatma Gandhi memberikan pengertian baru tentang Ahimsa, inti dari kepercayaan
Hindu maupun Jaina, dan memberikan definisi baru tentang konsep antikekerasan dan
antiperang. Pada periode yang sama, filosofi komunisme Mao Zedong menjadi sistem
kepercayaan sekuler yang sangat kuat di China.
[sunting] Agama tradisional

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Agama tradisional

Agama tradisional, atau terkadang disebut sebagai "agama nenek moyang", dianut oleh sebagian
suku pedalaman di Asia, Afrika, dan Amerika. Pengaruh bereka cukup besar; mungkin bisa
dianggap telah menyerap kedalam kebudayaan atau bahkan menjadi agama negara, seperti
misalnya agama Shinto. Seperti kebanyakan agama lainnya, agama tradisional menjawab
kebutuhan rohani manusia akan ketentraman hati di saat bermasalah, tertimpa musibah, tertimpa
musibah dan menyediakan ritual yang ditujukan untuk kebahagiaan manusia itu sendiri.
[sunting] "American Dream"
American Dream, atau "mimpi orang Amerika" dalam bahasa Indonesia, adalah sebuah
kepercayaan, yang dipercayai oleh banyak orang di Amerika Serikat. Mereka percaya, melalui
kerja keras, pengorbanan, dan kebulatan tekad, tanpa memedulikan status sosial, seseorang dapat
mendapatkan kehidupan yang lebih baik. [2] Gagasan ini berakar dari sebuah keyakinan bahwa
Amerika Serikat adalah sebuah "kota di atas bukit" (atau city upon a hill"), "cahaya untuk
negara-negara" ("a light unto the nations"),[3] yang memiliki nilai dan kekayaan yang telah ada
sejak kedatangan para penjelajah Eropa sampai generasi berikutnya.
[sunting] Pernikahan
Agama sering kali mempengaruhi pernikahan dan perilaku seksual. Kebanyakan gereja Kristen
memberikan pemberkatan kepada pasangan yang menikah; gereja biasanya memasukkan acara
pengucapan janji pernikahan di hadapan tamu, sebagai bukti bahwa komunitas tersebut
menerima pernikahan mereka. Umat Kristen juga melihat hubungan antara Yesus Kristus dengan
gerejanya. Gereja Katolik Roma mempercayai bahwa sebuah perceraian adalah salah, dan orang
yang bercerai tidak dapat dinikahkan kembali di gereja. Sementara Agama Islam memandang
pernikahan sebagai suatu kewajiban. Islam menganjurkan untuk tidak melakukan perceraian,
namun memperbolehkannya.
[sunting] Sistem ilmu dan pengetahuan
Secara sederhana, pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui manusia tentang benda,
sifat, keadaan, dan harapan-harapan. Pengetahuan dimiliki oleh semua suku bangsa di dunia.
Mereka memperoleh pengetahuan melalui pengalaman, intuisi, wahyu, dan berpikir menurut
logika, atau percobaan-percobaan yang bersifat empiris (trial and error).
Sistem pengetahuan tersebut dikelompokkan menjadi:
• pengetahuan tentang alam
• pengetahuan tentang tumbuh-tumbuhan dan hewan di sekitarnya
• pengetahuan tentang tubuh manusia, pengetahuan tentang sifat dan tingkah
laku sesama manusia
• pengetahuan tentang ruang dan waktu

[sunting] Perubahan sosial budaya

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Perubahan sosial budaya

Perubahan sosial budaya dapat terjadi bila sebuah kebudayaan melakukan kontak
dengan kebudayaan asing.

Perubahan sosial budaya adalah sebuah gejala berubahnya struktur sosial dan pola budaya dalam
suatu masyarakat. Perubahan sosial budaya merupakan gejala umum yang terjadi sepanjang masa
dalam setiap masyarakat. Perubahan itu terjadi sesuai dengan hakikat dan sifat dasar manusia
yang selalu ingin mengadakan perubahan. Hirschman mengatakan bahwa kebosanan manusia
sebenarnya merupakan penyebab dari perubahan.
Ada tiga faktor yang dapat mempengaruhi perubahan sosial:
1. tekanan kerja dalam masyarakat
2. keefektifan komunikasi
3. perubahan lingkungan alam.[4]
Perubahan budaya juga dapat timbul akibat timbulnya perubahan lingkungan masyarakat,
penemuan baru, dan kontak dengan kebudayaan lain. Sebagai contoh, berakhirnya zaman es
berujung pada ditemukannya sistem pertanian, dan kemudian memancing inovasi-inovasi baru
lainnya dalam kebudayaan.

[sunting] Penetrasi kebudayaan


Yang dimaksud dengan penetrasi kebudayaan adalah masuknya pengaruh suatu kebudayaan ke
kebudayaan lainnya. Penetrasi kebudayaan dapat terjadi dengan dua cara:
Penetrasi damai (penetration pasifique)

Masuknya sebuah kebudayaan dengan jalan damai. Misalnya, masuknya


pengaruh kebudayaan Hindu dan Islam ke Indonesia[rujukan?]. Penerimaan
kedua macam kebudayaan tersebut tidak mengakibatkan konflik, tetapi
memperkaya khasanah budaya masyarakat setempat. Pengaruh kedua
kebudayaan ini pun tidak mengakibatkan hilangnya unsur-unsur asli budaya
masyarakat.
Penyebaran kebudayaan secara damai akan menghasilkan Akulturasi,
Asimilasi, atau Sintesis. Akulturasi adalah bersatunya dua kebudayaan
sehingga membentuk kebudayaan baru tanpa menghilangkan unsur
kebudayaan asli. Contohnya, bentuk bangunan Candi Borobudur yang
merupakan perpaduan antara kebudayaan asli Indonesia dan kebudayaan
India. Asimilasi adalah bercampurnya dua kebudayaan sehingga membentuk
kebudayaan baru. Sedangkan Sintesis adalah bercampurnya dua kebudayaan
yang berakibat pada terbentuknya sebuah kebudayaan baru yang sangat
berbeda dengan kebudayaan asli.

Penetrasi kekerasan (penetration violante)

Masuknya sebuah kebudayaan dengan cara memaksa dan merusak.


Contohnya, masuknya kebudayaan Barat ke Indonesia pada zaman
penjajahan disertai dengan kekerasan sehingga menimbulkan goncangan-
goncangan yang merusak keseimbangan dalam masyarakat[rujukan?].

[sunting] Cara pandang terhadap kebudayaan


[sunting] Kebudayaan sebagai peradaban
Saat ini, kebanyakan orang memahami gagasan "budaya" yang dikembangkan di Eropa pada
abad ke-18 dan awal abad ke-19. Gagasan tentang "budaya" ini merefleksikan adanya
ketidakseimbangan antara kekuatan Eropa dan kekuatan daerah-daerah yang dijajahnya. Mereka
menganggap 'kebudayaan' sebagai "peradaban" sebagai lawan kata dari "alam". Menurut cara
pikir ini, kebudayaan satu dengan kebudayaan lain dapat diperbandingkan; salah satu
kebudayaan pasti lebih tinggi dari kebudayaan lainnya.
Artefak tentang "kebudayaan tingkat tinggi" (High Culture) oleh Edgar Degas.

Pada prakteknya, kata kebudayaan merujuk pada benda-benda dan aktivitas yang "elit" seperti
misalnya memakai baju yang berkelas, fine art, atau mendengarkan musik klasik, sementara kata
berkebudayaan digunakan untuk menggambarkan orang yang mengetahui, dan mengambil
bagian, dari aktivitas-aktivitas di atas. Sebagai contoh, jika seseorang berpendendapat bahwa
musik klasik adalah musik yang "berkelas", elit, dan bercita rasa seni, sementara musik
tradisional dianggap sebagai musik yang kampungan dan ketinggalan zaman, maka timbul
anggapan bahwa ia adalah orang yang sudah "berkebudayaan".
Orang yang menggunakan kata "kebudayaan" dengan cara ini tidak percaya ada kebudayaan lain
yang eksis; mereka percaya bahwa kebudayaan hanya ada satu dan menjadi tolak ukur norma
dan nilai di seluruh dunia. Menurut cara pandang ini, seseorang yang memiliki kebiasaan yang
berbeda dengan mereka yang "berkebudayaan" disebut sebagai orang yang "tidak
berkebudayaan"; bukan sebagai orang "dari kebudayaan yang lain." Orang yang "tidak
berkebudayaan" dikatakan lebih "alam," dan para pengamat seringkali mempertahankan elemen
dari kebudayaan tingkat tinggi (high culture) untuk menekan pemikiran "manusia alami" (human
nature)
Sejak abad ke-18, beberapa kritik sosial telah menerima adanya perbedaan antara berkebudayaan
dan tidak berkebudayaan, tetapi perbandingan itu -berkebudayaan dan tidak berkebudayaan-
dapat menekan interpretasi perbaikan dan interpretasi pengalaman sebagai perkembangan yang
merusak dan "tidak alami" yang mengaburkan dan menyimpangkan sifat dasar manusia. Dalam
hal ini, musik tradisional (yang diciptakan oleh masyarakat kelas pekerja) dianggap
mengekspresikan "jalan hidup yang alami" (natural way of life), dan musik klasik sebagai suatu
kemunduran dan kemerosotan.
Saat ini kebanyak ilmuwan sosial menolak untuk memperbandingkan antara kebudayaan dengan
alam dan konsep monadik yang pernah berlaku. Mereka menganggap bahwa kebudayaan yang
sebelumnya dianggap "tidak elit" dan "kebudayaan elit" adalah sama - masing-masing
masyarakat memiliki kebudayaan yang tidak dapat diperbandingkan. Pengamat sosial
membedakan beberapa kebudayaan sebagai kultur populer (popular culture) atau pop kultur,
yang berarti barang atau aktivitas yang diproduksi dan dikonsumsi oleh banyak orang.
[sunting] Kebudayaan sebagai "sudut pandang umum"
Selama Era Romantis, para cendekiawan di Jerman, khususnya mereka yang peduli terhadap
gerakan nasionalisme - seperti misalnya perjuangan nasionalis untuk menyatukan Jerman, dan
perjuangan nasionalis dari etnis minoritas melawan Kekaisaran Austria-Hongaria -
mengembangkan sebuah gagasan kebudayaan dalam "sudut pandang umum". Pemikiran ini
menganggap suatu budaya dengan budaya lainnya memiliki perbedaan dan kekhasan masing-
masing. Karenanya, budaya tidak dapat diperbandingkan. Meskipun begitu, gagasan ini masih
mengakui adanya pemisahan antara "berkebudayaan" dengan "tidak berkebudayaan" atau
kebudayaan "primitif."
Pada akhir abad ke-19, para ahli antropologi telah memakai kata kebudayaan dengan definisi
yang lebih luas. Bertolak dari teori evolusi, mereka mengasumsikan bahwa setiap manusia
tumbuh dan berevolusi bersama, dan dari evolusi itulah tercipta kebudayaan.
Pada tahun 50-an, subkebudayaan - kelompok dengan perilaku yang sedikit berbeda dari
kebudayaan induknya - mulai dijadikan subyek penelitian oleh para ahli sosiologi. Pada abad ini
pula, terjadi popularisasi ide kebudayaan perusahaan - perbedaan dan bakat dalam konteks
pekerja organisasi atau tempat bekerja.
[sunting] Kebudayaan sebagai mekanisme stabilisasi
Teori-teori yang ada saat ini menganggap bahwa (suatu) kebudayaan adalah sebuah produk dari
stabilisasi yang melekat dalam tekanan evolusi menuju kebersamaan dan kesadaran bersama
dalam suatu masyarakat, atau biasa disebut dengan tribalisme.

[sunting] Kebudayaan di antara masyarakat


Sebuah kebudayaan besar biasanya memiliki sub-kebudayaan (atau biasa disebut sub-kultur),
yaitu sebuah kebudayaan yang memiliki sedikit perbedaan dalam hal perilaku dan kepercayaan
dari kebudayaan induknya. Munculnya sub-kultur disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya
karena perbedaan umur, ras, etnisitas, kelas, aesthetik, agama, pekerjaan, pandangan politik dan
gender,
Ada beberapa cara yang dilakukan masyarakat ketika berhadapan dengan imigran dan
kebudayaan yang berbeda dengan kebudayaan asli. Cara yang dipilih masyarakat tergantung
pada seberapa besar perbedaan kebudayaan induk dengan kebudayaan minoritas, seberapa
banyak imigran yang datang, watak dari penduduk asli, keefektifan dan keintensifan komunikasi
antar budaya, dan tipe pemerintahan yang berkuasa.
• Monokulturalisme: Pemerintah mengusahakan terjadinya asimilasi
kebudayaan sehingga masyarakat yang berbeda kebudayaan menjadi satu
dan saling bekerja sama.
• Leitkultur (kebudayaan inti): Sebuah model yang dikembangkan oleh Bassam
Tibi di Jerman. Dalam Leitkultur, kelompok minoritas dapat menjaga dan
mengembangkan kebudayaannya sendiri, tanpa bertentangan dengan
kebudayaan induk yang ada dalam masyarakat asli.
• Melting Pot: Kebudayaan imigran/asing berbaur dan bergabung dengan
kebudayaan asli tanpa campur tangan pemerintah.
• Multikulturalisme: Sebuah kebijakan yang mengharuskan imigran dan
kelompok minoritas untuk menjaga kebudayaan mereka masing-masing dan
berinteraksi secara damai dengan kebudayaan induk.

[sunting] Kebudayaan menurut wilayah

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Kebudayaan menurut wilayah


Seiring dengan kemajuan teknologi dan informasi, hubungan dan saling keterkaitan kebudayaan-
kebudayaan di dunia saat ini sangat tinggi. Selain kemajuan teknologi dan informasi, hal tersebut
juga dipengaruhi oleh faktor ekonomi, migrasi, dan agama.
Afrika

Beberapa kebudayaan di benua Afrika terbentuk melalui penjajahan Eropa, seperti kebudayaan
Sub-Sahara. Sementara itu, wilayah Afrika Utara lebih banyak terpengaruh oleh kebudayaan
Arab dan Islam.

Orang Hopi yang sedang menenun dengan alat tradisional di Amerika Serikat.

Amerika

Kebudayaan di benua Amerika dipengaruhi oleh suku-suku Asli benua Amerika; orang-orang
dari Afrika (terutama di Amerika Serikat), dan para imigran Eropa terutama Spanyol, Inggris,
Perancis, Portugis, Jerman, dan Belanda.
Asia

Asia memiliki berbagai kebudayaan yang berbeda satu sama lain, meskipun begitu, beberapa dari
kebudayaan tersebut memiliki pengaruh yang menonjol terhadap kebudayaan lain, seperti
misalnya pengaruh kebudayaan Tiongkok kepada kebudayaan Jepang, Korea, dan Vietnam.
Dalam bidang agama, agama Budha dan Taoisme banyak mempengaruhi kebudayaan di Asia
Timur. Selain kedua Agama tersebut, norma dan nilai Agama Islam juga turut mempengaruhi
kebudayaan terutama di wilayah Asia Selatan dan tenggara.
Australia

Kebanyakan budaya di Australia masa kini berakar dari kebudayaan Eropa dan Amerika.
Kebudayaan Eropa dan Amerika tersebut kemudian dikembangkan dan disesuaikan dengan
lingkungan benua Australia, serta diintegrasikan dengan kebudayaan penduduk asli benua
Australia, Aborigin.
Eropa
Kebudayaan Eropa banyak terpengaruh oleh kebudayaan negara-negara yang pernah dijajahnya.
Kebudayaan ini dikenal juga dengan sebutan "kebudayaan barat". Kebudayaan ini telah diserap
oleh banyak kebudayaan, hal ini terbukti dengan banyaknya pengguna bahasa Inggris dan bahasa
Eropa lainnya di seluruh dunia. Selain dipengaruhi oleh kebudayaan negara yang pernah dijajah,
kebudayaan ini juga dipengaruhi oleh kebudayaan Yunani kuno, Romawi kuno, dan agama
Kristen, meskipun kepercayaan akan agama banyak mengalami kemunduran beberapa tahun ini.
Timur Tengah dan Afrika Utara

Kebudayaan didaerah Timur Tengah dan Afrika Utara saat ini kebanyakan sangat dipengaruhi
oleh nilai dan norma agama Islam, meskipun tidak hanya agama Islam yang berkembang di
daerah ini.

[sunting] Referensi
1. ^ Reese, W.L. 1980. Dictionary of Philosophy and Religion: Eastern and
Western Thought, p. 488.
2. ^ Boritt, Gabor S. Lincoln and the Economics of the American Dream, p. 1.
3. ^ Ronald Reagan. "Final Radio Address to the Nation".
4. ^ O'Neil, D. 2006. "Processes of Change".

[sunting] Daftar pustaka


• Arnold, Matthew. 1869. Culture and Anarchy. New York: Macmillan. Third
edition, 1882, available online. Retrieved: 2006-06-28.
• Barzilai, Gad. 2003. Communities and Law: Politics and Cultures of Legahkjkjl
Identities. University of Michigan Press.
• Boritt, Gabor S. 1994. Lincoln and the Economics of the American Dream.
University of Illinois Press. ISBN 978-0-252-06445-6.
• Bourdieu, Pierre. 1977. Outline of a Theory of Practice. Cambridge University
Press. ISBN 978-0-521-29164-4
• Cohen, Anthony P. 1985. The Symbolic Construction of Community.
Routledge: New York,
• Dawkiins, R. 1982. The Extended Phenotype: The Long Reach of the Gene.
Paperback ed., 1999. Oxford Paperbacks. ISBN 978-0-19-288051-2
• Forsberg, A. Definitions of culture CCSF Cultural Geography course notes.
Retrieved: 2006-06-29.
• Geertz, Clifford. 1973. The Interpretation of Cultures: Selected Essays. New
York. ISBN 978-0-465-09719-7.
— 1957. "Ritual and Social Change: A Javanese Example", American
Anthropologist, Vol. 59, No. 1.
• Goodall, J. 1986. The Chimpanzees of Gombe: Patterns of Behavior.
Cambridge, MA: Belknap Press of Harvard University Press. ISBN 978-0-674-
11649-8
• Hoult, T. F., ed. 1969. Dictionary of Modern Sociology. Totowa, New Jersey,
United States: Littlefield, Adams & Co.
• Jary, D. and J. Jary. 1991. The HarperCollins Dictionary of Sociology. New York:
HarperCollins. ISBN 0-06-271543-7
• Keiser, R. Lincoln 1969. The Vice Lords: Warriors of the Streets. Holt,
Rinehart, and Winston. ISBN 978-0-03-080361-1.
• Kroeber, A. L. and C. Kluckhohn, 1952. Culture: A Critical Review of Concepts
and Definitions. Cambridge, MA: Peabody Museum
• Kim, Uichol (2001). "Culture, science and indigenous psychologies: An
integrated analysis." In D. Matsumoto (Ed.), Handbook of culture and
psychology. Oxford: Oxford University Press
• Middleton, R. 1990. Studying Popular Music. Philadelphia: Open University
Press. ISBN 978-0-335-15275-9.
• Rhoads, Kelton. 2006. The Culture Variable in the Influence Equation.
• Tylor, E.B. 1974. Primitive culture: researches into the development of
mythology, philosophy, religion, art, and custom. New York: Gordon Press.
First published in 1871. ISBN 978-0-87968-091-6
• O'Neil, D. 2006. Cultural Anthropology Tutorials, Behavioral Sciences
Department, Palomar College, San Marco, California. Retrieved: 2006-07-10.
• Reagan, Ronald. "Final Radio Address to the Nation", January 14, 1989.
Retrieved June 3, 2006.
• Reese, W.L. 1980. Dictionary of Philosophy and Religion: Eastern and
Western Thought. New Jersey U.S., Sussex, U.K: Humanities Press.
• UNESCO. 2002. Universal Declaration on Cultural Diversity, issued on
International Mother Language Day, February 21, 2002. Retrieved: 2006-06-
23.
• White, L. 1949. The Science of Culture: A study of man and civilization. New
York: Farrar, Straus and Giroux.
• Wilson, Edward O. (1998). Consilience: The Unity of Knowledge. Vintage: New
York. ISBN 978-0-679-76867-8.
• Wolfram, Stephen. 2002 A New Kind of Science. Wolfram Media, Inc. ISBN
978-1-57955-008-0