Sunteți pe pagina 1din 99

Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk

cairan atau setengah cairan, sehingga kandungan air pada tinja


lebih banyak dari keadaan normal, yaitu 100 - 200 ml sekali
defekasi
(Hendarwanto, 1999)

Diare adalah defekasi encer lebih dari 3 kali sehari tanpa/
dengan darah sendiri didalam tinja
(WHO, 1980)

Neonatus Frek. > 4 x
Bayi berumur > 1 bulan & anak Frek. > 3 x
(Ngastiah, 1999)

Definisi
Diare cair adalah BAB dengan peningkatan frekuensi BAB
dengan konsistensi tinja cair, tanpa terlihat darah dan dapat
disertai gejala lain, seperti mual, muntah, demam atau nyeri
perut

Diare akut adalah diare yang berlangsung kurang dari 7 hari

Diare melanjut bila karena sesuatu hal diare akut tersebut
berlanjut lebih dari 7 hari

Diare persisten bila diare melanjut tidak sembuh dan
melewati 14 hari atau lebih

Diare kronik adalah diare karena sebab apapun yang
berlangsung 14 hari atau lebih
Faktor predisposisi
Malnutrisi
menurunnya aktivitas enzim
usus, dan hilangnya integritas
usus.
Kerusakan mukosa usus yang
berkepanjangan
Pemberian makanan
tambahan yang terlalu dini
dan tidak tepat
Ketidaktersediaan ASI
Tidak cukup tersedianya air
bersih
Kurangnya sarana MCK
Higiene perseorangan dan
lingkungan yang buruk
Cara penyimpanan dan
penyediaan makanan yang
tidak higienis
Cara penyapihan bayi yang
tidak baik
Sosial ekonomi yang kurang
baik
Pendidikan ibu yang kurang
Budaya yang tidak sesuai
dengan kenyataan
Etiologi
Faktor infeksi ( enteral, parenteral )
Faktor malabsorbsi
Faktor makanan
Faktor psikologis
Golongan bakteri Golongan virus Golongan parasit
1. Aeromonas hidrophilia
2. Bacillus cereus
3. Campylobacter jejuni
4. Clostridium difficile
5. Clostridium perfingens
6. Escherichia coli
7. Salmonella spp.
8. Shigella spp.
9. Staphylococcus aureus
10. Vibrio cholera
11. Vibrio parahaemoliticus
12. Yersinia enterocolitica
1. Adenovirus
2. Rotavirus
3. Virus norwalk
4. Astrovirus
5. Calicivirus
6. Coronavirus
7. Minirotavirus
8. Virus bulat kecil
1. Balantidium coli
2. Capillaria philippinesis
3. Cryptosporidium
4. Entamoeba histolitica
5. Giardia lamblia
6. Srongyloides stercoralis
7. Faciolopsis buski
8. Sarcocystis suihominis
9. Trichuris trichiura
10. Candida spp.
11. Isospora belli
Cara penularan
FOOD
FESES FLY
FINGER
Mekanisme dasar diare

Gangguan osmosis
Gangguan sekretoris
Gangguan motilitas usus
Diare osmosis
Makanan / zat yang tidak dapat diserap usus


Tekanan osmotic ( rongga usus )


Pergeseran air dan elektrolit ( rongga usus )


DIARE

Diare sekretorik

Rangsangan tertentu (toksin) pada dinding usus


sekresi air dan elektrolit ke dalam rongga usus


DIARE

Gangguan motilitas usus
Hiperperistaltik
Ber ( - ) kesempatan
Usus untuk menyerap
makanan
DIARE
Peristaltic
Bakteri tumbuh
berlebihan
Patogenesis diare akut
Masuknya jasad renik
berkembang biak (multiplikasi)
di usus halus dikeluarkan
toksin hipersekresi DIARE
Patogenesis
Virus
Tr.
digestivus
Berkembang biak
( dalam usus )
Epitel usus halus
Kerusakan sel
Infeksi lokal
Diare
Patogenesis
Bakteri Tr.
digestivus
Berkembang biak
Mengeluarkan
toksin
adenil siklase
/ guanil siklase
cAmp/ cGMP
tek. osmotik Hiperperistaltik
Diare
Manifestasi klinik
Mula mula : bayi/ anak cengeng, gelisah, suhu badan
mungkin , nafsu makan << / ada diare
Tinja makin cair warna tinja menjadi kehijau
hijauan, anus & sekitarnya lecet
Gejala muntah sebelum & sesudah diare
Bila penderita >> kehilangan air & elektrolit
gejala dehidrasi
Komplikasi
Dehidrasi (R, S, B,
hipotonik, isotonik,
hipertonik)
Renjatan hipovolemik
Hipokalemia
Hipoglikemia
Hiponatremia
Hipernatremia
Demam
Oedema / overhidrasi
Asidosis
Ilius paralitikus
Gagal ginjal
Intoleransi sekunder
Kejang, pada dehidrasi
hipertonik
Malnutrisi energi protein
(muntah dan mual bila
lama/ kronik)

Derajat dehidrasi
Menurut banyaknya cairan, kehilangan berat
badan
Menurut banyaknya cairan, kehilangan cairan
tubuh
Menurut tonisitas cairan

Berdasarkan jumlah cairan yang hilang derajat
dehidrasi :
Kehilangan berat badan
Tanpa dehidrasi, bila kehilangan cairan <
5% berat badan
Dehidrasi ringan sedang, bila kehilangan
cairan diantara 5% - 10% berat badan
Dehidrasi berat, bila kehilangan cairan >
10% berat badan
Kolom A Kolom B Kolom C
Anamnesis
Diare
Muntah
Haus
kencing

< 4 x sehari
ada / sedikit
Tidak ada
Normal

4-10 x sehari
Kadang kadang
Haus
Sedikit pekat

10x sehari
Sering sekali
Sgt haus
kencing ( 6 jam )
Inspeksi
Keadaan umum
Air mata
Mata
Mulut & lidah
Nafas

Baik
Ada
N
Basah
N

Jelek, mengantuk
Tidak ada
Cekung
Kering
Lebih cepat

sadar / gelisah
Tidak ada
Sgt cekung, kering
Sgt kering
Sgt cepat, dalam
Palpasi kulit
Turgor
Nadi
Ubun-ubun

Cepat kembali
N
N

Kembali pelan
N/cepat
cekung

Sgt pelan
Sgt cepat, lemah
Sgt cekung
Berat badan Kehilangan 2,5 % Kehilangan 2,5 10 % Kehilangan 10 %
Kesimpulan Tanpa dehidrasi 2 tanda / lebih
dehidrasi ringan - sedang
2 tanda / lebih dehidrasi
berat
Berdasarkan jumlah cairan yang hilang derajat
dehidrasi :
Kehilangan cairan tubuh
Dehidrasi ringan : apabila perkiraan
kehilangan cairan 40 50 ml/kgBB
Dehidrasi sedang : apabila perkiraan
kehilangan cairan 60 90 ml/kgBB
Dehidrasi berat : apabila perkiraan kehilangan
cairan 100 110 ml/kgBB
Gejala klinis Ringan Sedang Berat
Keadaan umum
Kesadaran
Rasa haus

Baik
+

Gelisah
++


Apatis koma
+++
Sirkulasi
Nadi

N ( 120 mmhg )

Cepat

Cepat sekali
Respirasi
Pernafasan

Biasa

Agak cepat

Kuszmaull
Kulit
Ubun-ubun besar
Mata
Turgor & tonus
Diuresis
Selaput lendir

Agak cekung
Agak cekung
Biasa
N
N

Cekung
Cekung
Agak kurang
Oliguri
Agak kering

Cekung sekali
Cekung sekali
Kurang sekali
Anuri
Kering / asidosis
Tanda Klinik Dehidrasi berat
Rasa haus
Berat badan turun
Kulit, bibir, dan lidah
kering
Saliva menjadi kental
Turgor kulit dan tonus
berkurang
Mata dan ubun - ubun
cekung
Pembentukan urin
berkurang
Anak menjadi apatis
Gelisah kadang disertai
kejang
Gejala asidosis
Syok
Tekanan darah menurun
Kesadaran menurun
Pernafasan kussmaul
Syok HIPOVOLEMIK
Penyebab

1. Berkeringat yang luar biasa
2. Hilang cairan
3. Asupan cairan dan elektrolit yang tidak mencukupi dan
4. Kerusakan korteks adrenal, akibat kegagalan ginjal untuk
merearbsorbsi natrium, klorida, dan air karena tidak adanya
hormone aldosteron.


Menurut tonisitas cairan yang hilang
dehidrasi :

1. Dehidrasi Isotonik
2. Dehidrasi Hipotonik
3. Dehidrasi Hipertonik
Gejala Hipotonik Isotonik Hipertonik
Rasa haus - + +
Berat badan Menurun sekali Menurun Menurun
Turgor kulit Menurun sekali Menurun Tidak jelas
Kulit/ selaput lendir Basah Kering Kering sekali
Gejala SSP Apatis Koma Irritable, kejang,
hiperrefleksi
Sirkulasi Jelek sekali Jelek Relatif masih baik
Nadi Sgt lemah Cepat & lemah Cepat & keras
Tekanan darah Sgt rendah Rendah Rendah
Banyaknya kasus 20 30 % 70 % 10 20 %
Tatalaksana
1. Anamnesa & pemeriksaan fisik yang
cermat
2. Tentukan derajat dehidrasi
3. Pilih rencana pengobatan
Tujuan pengobatan
Mencegah dehidrasi
Mengatasi dehidrasi yang telah ada
Mencegah kekurangan nutrisi dengan
memberikan makanan selama dan setelah
diare
Mengurangi lama dan beratnya diare, serta
berulangnya episode diare, dengan
memberikan suplemen zinc.

Konsep tatalaksana
Cairan rehidrasi oral osmolaritas rendah
Dukungan nutrisi
Antibiotik secara rasional
Preparat Zn
Penyuluhan
Pengobatan Diare
Simptomatik
Larutan M Mol/liter
Na K Ca Cl Laktat/asetat
Larutan darrow 61 18 0 52 27
Larutan garam
faali
154 0 0 154 0
Larutan garam
faal
( NaCl 0,45 % )
77 0 0 77 0
Ringer laktat
( larutan Hartman
)
130 4 3 109 28
Pengobatan cairan
Jenis cairan :

A. Cairan rehidrasi oral (CRO)
CRO dg formula lengkap
(NaCl, KCl, NaHCO3 dan glukosa)
CRO dg Formula sederhana/tidak lengkap
(NaCl dan sukrosa atau KH lain)
Pengobatan cairan
B. Cairan rehidrasi parenteral (CRP)

DG aa ( 1 bagian larutan Darrow + 1 bagian glukosa 5%)

RL g ( 1 bagian Ringer laktat + 1 bagian glukosa 5%)

RL ( Ringer laktat)

3 @ ( 1 bagian NaCl 0,9% + 1 bagian glukosa 5% + 1
bagian Na-laktat 1/6 mol/l)

DG 1:2 ( 1 bagian larutan Darrow + 2 bagian glukosa 5%)

RLg 1:3 ( 1 bagian ringer laktat + 3 bagian glukosa 5-10%)

Cairan 4:1 ( 4 bagian glukosa 5-10% + 1 bagian NaHCO3 1 %
atau 4 bagian glukosa 5-10% + 1 bagian NaCl 0,9%)

Pengobatan cairan
Indikasi
Ringer Laktat (RL)
Pilihan pertama untuk diare !!
Mengandung Natrium dan Kalium
Mengandung laktat

RL g diare dehidrasi berat

RL g 1:3 diare dehidrasi berat karena masukan atau intake
kurang tanpa asidosis

Pengobatan cairan
Pengobatan cairan
DG aa diare dehidrasi berat pd :
MEP
MEP ringan, sedang berat tipe marasmus, disertai bronkopneumonia
tanpa kelainan jantung
Bronkopneumonia tanpa disertai kelainan jtg
MEP berat tipe marasmik kwashiorkor dan tipe kwashiorkor yang
disertai bronkopneumonia yang tanpa disertai kelainan jantung
Kelainan jantung bawaan (congenital heart disease/ CHD)
Diare dehidrasi berat yang disertai kejang
Intake kurang yang disertai asidosis
3@ diare dehidrasi berat
DG 1:2 diare dehidrasi berat disertai kejang
Cairan 4:1 diare dehidrasi berat pada :
Bayi baru lahir (neonatus) dg BB 2-3 kg (kadar glukosa 5% pada cairan)
Bayi yg BB < 2 kg (kadar glukosa 10% pada cairan)






Peroral
Intragastrik
Intravena
Jalan pemberian
cairan
Jumlah cairan

Jumlah cairan yg harus diberikan =
PWL+ NWL+ CWL
Pengobatan cairan
Jumlah cairan yang hilang sesuai dengan derajat
dehidrasi
(Previous water losses = PWL)
Banyaknya cairan yang telah hilang melalui diare atau muntah.
Biasanya berkisar antara 5 15 % dari BB
(Normal water losses = NWL)
Banyaknya cairan yang hilang melalui keringat, urin dan
pernapasan. Jumlahnya 100 ml/ kgBB/24 jam
(Concomitant water losses = CWL)
Banyaknya cairan yang hilang melalui tinja dan muntah yang
masih terus berlangsung. Jumlahnya 25 ml/kgBB/24 jam
Jumlah cairan yang hilang menurut derajat
dehidrasi pada anak < 2 tahun
( BB 3 10 kg )
Derajat
dehidrasi
PWL NWL CWL Jumlah
Ringan 50 100 25 175
Sedang 75 100 25 200
Berat 125 100 25 250
Jumlah cairan yang hilang menurut derajat
dehidrasi pada anak 2 5 tahun
( BB 10 15 kg )
Derajat
dehidrasi
PWL NWL CWL Jumlah
Ringan 30 80 25 135
Sedang 50 80 25 155
Berat 80 80 25 185
Jumlah cairan yang hilang menurut derajat
dehidrasi pada anak > 5 tahun
( BB 15 25 kg )
Derajat
dehidrasi
PWL NWL CWL Jumlah
Ringan 25 65 25 115
Sedang 50 65 25 140
Berat 80 65 25 170
Jadwal (kecepatan) pemberian cairan

Belum ada dehidrasi
Oral sebanyak anak mau minum (ad libitum) atau 1 gelas setiap kali
buang air besar.
Parenteral dibagi rata dalam 24 jam
Dehidrasi ringan
1 jam pertama : 25-50 ml/kgbb peroral atau intragastrik
Selanjutnya : 125 ml/kgbb/hari atau ad libitum
Dehidrasi sedang
1 jam pertama : 50-100 ml/kgbb peroral atau intragastrik
Selanjutnya : 125 ml/kgbb/hari atau ad libitum


Pengobatan cairan
Dehidrasi berat
Untuk anak 1 bulan - 2 tahun dengan berat badan 3-10 kg

1 jam pertama: 40 ml/kgbb/jam atau
= 10 tetes/kgbb/mnt (dg infus bukuran 1 ml= 20 tetes)
atau
= 13 tetes /kgbb/mnt (dg infus bukuran 1 ml= 20 tetes)
7 jam kemudian : 12 ml/kgbb/jam atau
= 3 tetes/kgbb/mnt (dg infus bukuran 1 ml = 15 tetes)
atau
= 4 tetes/kgbb/mnt (dg infus bukuran 1 ml = 20 tetes)
16 jam berikut : 125 ml/kgbb oralit peroral atau intragastrik
Bila anak tdk mau minum, teruskan DG aa IV 2
tetes/kgbb/mnt (1 ml = 15 tetes) atau 3
tetes/kgbb/mnt (1 ml = 20 tetes)

Pengobatan cairan
Untuk anak lebih dari 2-5 tahun dengan berat
badan 10-15 kg

1 jam pertama : 30 ml/kgbb/jam atau
= 8 tetes/kgbb/menit (1ml = 15 tetes) atau
= 10 tetes/kgbb/menit (1 ml = 20 tetes)
7 jam kemudian : 10 ml/kgbb/jam atau
= 3 tetes/kgbb/menit (1 ml = 15 tetes) atau
= 4 tetes/kgbb/menit (1 ml = 20 tetes )
16 jam berikut : 125 ml/kgbb oralit peroral atau intragastrik
Bila anak tidak mau minum, teruskan DG aa IV 2
tetes/kgbb/mnt (1 ml =15 tetes) atau 3
tetes/kgbb/mnt
(1 ml=20 tetes)

Pengobatan cairan
Untuk anak lebih dari 5-10 tahun dengan berat
badan 15-25 kg

1 jam pertama :20 ml/kgbb/jam atau
= 5 tetes/kgbb/menit ( 1 ml = 15 tetes) atau
= 7 tetes/kgb/menit ( 1 ml = 20 tetes
7 jam kmdn : 10 ml/kgbb/jam atau
= 21/2 tetes/kgbb/menit ( 1 ml = 15 tetes) atau
= 3 tetes/kgbb/menit ( 1 ml = 20 tetes)
16 jam berikut :105 ml/kgbb oralit peroral diberikan DG aa IV 1
tetes/kgbb/mnt ( 1 ml = 15 tetes) atau 11/2
tetes/kgbb/mnt ( 1 ml = 20 tetes)
Pengobatan cairan
Untuk bayi baru lahir (neonatus), dengan BB 2-3 kg
kebutuhan cairan = 250 ml/kgbb/24 jam
4 jam pertama : 25 ml/kgbb/jam
atau
= 6 tetes/kgbb/menit ( 1 ml = 15 tetes )
atau
= 8 tetes/kgbb/menit ( 1 ml = 20 tetes )
20 jam berikut : 150 ml/kgbb/20 jam
atau
= 2 tetes/kgbb/menit ( 1 ml = 15 tetes )
atau
= 21/2 tetes/kgbb/menit ( 1 ml = 20 tetes )


Pengobatan cairan
Pengobatan cairan
Untuk bayi berat badan lahir rendah, dengan berat badan < 2 kg
Kebutuhan cairan = 250 ml/kgbb/24 jam
4 jam pertama : 25 ml/kgbb/jam
atau
= 6 tetes/kgbb/menit (1 ml = 15 tetes)
atau
= 8 tetes/kgbb/menit (1 ml = 20 tetes)
20 jam berikut : 150 ml/kgbb/20 jam
atau
= 2 tetes/kgbb/menit (1 ml = 15 tetes)
atau
= 21/2 tetes/kgbb/menit (1 ml = 20 tetes)

! ! Hanya boleh diberikan antibiotik jika :

Ditemukan bakteri patogen

Ditemukan darah pada tinja

Terdapat tanda-tanda yang menyokong adanya infeksi enteral

Di daerah endemik kolera ( diberi tetrasiklin )

Pada neonatus jika diduga terjadi infeksi nosokomial
Pengobatan kausal
Obat-obat anti diare

Adsorbents

Antiemetik

Antipiretik
Pengobatan simptomatik



(Oralit, Breast Feeding, Early Feeding
Stimultaneously with Education)
Pengobatan dietetik
Cara memberi makanan :
1. Pada bayi dengan asi
Asi dilanjutkan bersama-sama dg oralit, selang-seling. Pd
bayi usia > 4 bulan (sdh mdpt buah-buahan, mknan
tambahan) dilanjutkan dg fase readaptasi, sedikit demi
sedikit makanan diberikan kembali spt sebelum sakit

2. Pada bayi dengan susu formula
Diberikan oralit, selang-seling dg susu formula. Jika bayi
telah medpt makanan tambahan (umur > 4 bulan), mknan
tambahan utk sementara dihentikan, diberikan sedikit demi
sedikit mulai hari ke-3
Pengobatan dietetik
3. Untuk anak < 1 tahun dan > 1 tahun dg BB < 7
kg
jenis makanan :

Susu (asi atau susu formula yg mengandung laktosa
rendah & asam lemak tdk jenuh)
Makanan setengah padat (bubur susu) atau makanan
padat (nasi tim)
Susu khusus
Pengobatan dietetik
Caranya

Hari 1 :
Setelah rehidrasi segera diberikan makanan peroral
Bila diberikan Asi atau susu formula, diare masih sering,
hendaknya diberikan tambahan oralit atau air tawar selang-
seling dgn ASI

Hari 2 - 4
ASI/susu formula rendah laktosa penuh

Hari 5 :
Dipulangkan dg ASI/susu formula sesuai dg kelainan yg
ditemukan (dari hsl pem. lab), Bila tdk ada kelainan, dpt
diberikan susu biasa dg menu makanan sesuai dg umur dan BB
bayi


4. Untuk anak > 1 thn dg BB > 7 kg

Jenis makanan :
Mknan padat atau mknan cair/susu dg kebiasaan mkn di rumah

Caranya :
Hari 1 : Setelah rehidrasi segera diberikan makanan seperti ; buah
( pisang ), biskuit & Breda (bubur realimentasi daging
ayam) & ASI diteruskan (bila masih ada) ditambah oralit
Hari 2 : Breda, buah, biskuit, ASI
Hari 3 : Nasi tim, buah, biscuit, & ASI
Hari 4 : makanan biasa dg ekstra kalori (11/2 kali kebutuhan)
Hari 5 : dipulangkan dg nasehat makanan spt hari 4
Pengobatan dietetik
Sistematika penatalaksanaan diare berdasarkan
berat ringannya penyakit
Tanpa dehidrasi
Dehidrasi
Ringan - sedang
Dehidrasi berat
+ / - komplikasi
+ / - Penyakit penyerta
CRT
ORALIT
CRP
Sistematika penatalaksanaan diare berdasarkan
berat ringannya penyakit
1. Rencana pengobatan terapi A
( tanpa dehidrasi )
Berikan anak lebih banyak cairan
Teruskan pemberian makanan
Beri suplemen zinc elemental
Bawa ke dokter bila terdapat tanda dehidrasi
2. Rencana pengobatan terapi B
( dehidrasi ringan sedang )

Jumlah ORALIT yang harus diberikan 3 jam pertama pada
dehidrasi ringan sedang
Usia
< 4 bln 4-11 bln 12-23 bln 2-4 thn 5-14 thn >15 thn
BB
< 5 kg 5-7,9 kg 8-10,9 kg 11-15,9
kg
16-29,9
kg
> 30 kg
Jumlah
200 - 400 400 - 600 600-800 800 -
1200
1200 -
2200
2200 -
4000
Cara memberikan oralit
Berikan sesendok teh tiap 1 2 menit untuk
anak di < 2 tahun
Beberapa teguk untuk anak lebih besar
Bila anak muntah, tunggu 10 menit, lalu
berikan lagi sedikit
Bila diare berlanjut RS
Setelah 3 4 jam :

Bila tidak ada dehidrasi rencana A
Bila menunjukkan dehidrasi ringan sedang
rencana B, tawarkan makanan, susu, sari
buah
Bila menunjukkan dehidrasi berat rencana
C
3. Rencana pengobatan terapi C
Apakah anda
Dapat memberikan
Cairan IV
Apakah penderita
Dapat minum
Apakah anda
Tertarik
Memasang sonde
lambung
Pemberian
Cairan IV
Dosis pemberian cairan IV
1 jam pertama : 30 ml/kgBB
2 jam berikut : 40 ml/kgBB
1. Berikan cairan IV
2. Setelah 1 3 jam periksa
kembali, pilih rencana pengobatan
yang cocok
1. Mulai berikan oralit
2. Rujuk unuk mendapat
cairan IV
20-25% cairan tersebut harus
Diberikan pada 1 jam pertama
1. Mulai rehidrasi
2. Jika IV dapat dilakukan
rujuklah
Dosis pemberian cairan
Per sonde lambung
20 ml/kgBB/jam
Ya
Tidak
Ya
Ya
Tidak
Tidak
Panduan terapi IV pada dehidrasi berat
Usia Pertama beri
30 ml/kgBB
dalam :
Selanjutnya beri
70 ml/kgBB
dalam :
Bayi (< 1 tahun ) 1 jam 5 jam
Anak (> 1 tahun ) jam 2 jam
Larutan gula garam
Larutan gula pasir sebanyak 1 sendok teh mujung
atau 2 sendok teh peres dan garam dapur yang halus
sebanyak sendok teh peres kedalam air masak atau
air teh hangat (tidak selagi mendidih) sebanyak
200cc.
setiap kali mencret berikan larutan gula garam satu
gelas untuk anak dibawah 6 tahun dan 2 gelas
untuk anak diatas 6 tahun dan orang dewasa
Air tajin
Terdapat 3 cara pembuatan air tajin
Cara tradisional
Ke dalam air tanakan nasi diberikan tambahan air secukupnya, kemudian
diambil diatasnya (cairan supernatan). Kedalam 200 ml cairan ini
ditambahkan garam dapur sebanyak sendok teh teres

Cara mutakhir
Ke dalam 3 L air dimasukan 100 gram atau 6 sendok makan munjung beras
dan masak dimasak selama 45-60 menit. Tambahkan 1 takar sendok
munjung garam dapur. Setelah makan akan memberikan air tajin sebanyak
2 liter

Cara terbaik
Kedalam 2 liter air ditambahkan tepung beras sebanyak 100 gram atau 6
sendok makan dan 5 gram atau 1 takar sendok teh garam dapur. Setelah
dimasak hingga mendidih akan diperoleh air tajin yang sudah siap untuk
dipakai.
ZINC & DIARE
Zat mikro yang penting untuk kesehatan &
pertumbuhan
Suplementasi zinc dapat lama sakit, parahnya
penyakit & kemungkinan anak u/ kembali diare
Dosis zinc
Bayi usia 2 5 bulan 10 mg 1x sehari selama 10 - 14
hari
Bayi/balita usia 6 bln 12 thn tablet zinc 20 mg 1x
sehari selama 10 14 hari
Yaitu kadar ion hidrogen dalam cairan tubuh
naik, karena faktor metabolik atau respiratorik

Asidosis
(ekses asam / defisit basa)
pH 6,80-7,35 dg BE: -2,3
Asidosis
Etiologi
Kehilangan Na-bikarbonat bersama tinja
Adanya ketosis kelaparan
Metabolisme lemak tidak sempurna
Terjadinya penimbunan asam laktat
Produk metab. Yang bersifat asam
Pemindahan ion Na dari ekstra intraseluler
Manifestasi klinik asidosis
Sering tidak spesifik
Hiperventilasi ( pernapasan kusmaull )
Penurunan resistensi vascular perifer dan
fungsi ventrikel jantung hipotensi, udem
paru dan hipoksia jaringan
Gamb.Lab pH serum & kadar HCO3 &
PCO2

Gejala klinis
Apatis atau gelisah,
kadang-kadang koma
Hiperventilasi &
pernapasan kussmaul
Kulit kering
Bibir berwarna
merah spt buah
cherry




Napas mungkin
berbau aseton
Kadang-kadang
mengeluh mual
Nyeri perut
Nyeri kepala
Koreksi

CO2 combining power tdk kurang dari 40 vol% atau 18
mEq/l )
dikoreksi o/ homeostasis tubuh sendiri bila diberi cukup
cairan & elektrolit

CO2 combining power < 40 vol% atau 18 mEq/l
dikoreksi dg memberikan natrium laktat atau natrium
bikarbonat

CO2 combining power dapat dinaikkan 1 vol% dg 1,8 ml 1/6
mol natrium laktat per-kg BB atau 0,0026 gram natrium
bikarbonat per-kg BB

Kebutuhan NaHCO3 (mEq/L) = 0,3 x kgbb x base excess
Hipokalemia
< 3,8 mEq/L darah

Kebutuhan minimum akan kalium ditaksir sebanyak 2
Meq/kgBB/24 jam

Kadar N dalam darah 16 32 mg % atau 4 5,6
mEq/L

Kelainan pertama terdapat pada berbagai penyakit
distrofi muscular

Gejala klinis
1. Kelemahan otot anggota gerak mendahului
kelemahan otot tubuh dan otot pernafasan
arefleksia
2. Paralysis
3. Dilatasi lambung
4. Ileus paralitik
5. Kematian akibat paralysis otot pernafasan


Faktor penyebab hipokalemia
Masukan kurang
Malnutrisi
Diare kronik
Penyakit dengan muntah berulang : selaput antral, stenosis pylorus,
akalasia
Ekskresi renal meningkat
Pemberian diuretic
Kelainan tubulus: asidosis tubular renal
Gangguan keseimbangan asam basa
Def. magnesium
Cushing Syndrom
Kehilangan ekstrarenal
Diare menahun
Enema berulang
Fistula entero kutan
Perspirasi berlebihan

Hipokalemia
Koreksi ke ( - ) K diberikan dalam periode 3
4 hari, dengan kecepatan pemberian > 3
mEq/kg/24 jam

Hiponatremia
Batasan hiponatremiabila kadar natrium
serum < 130 mEq/L
Gejala klinis :
Gejala awal lethargi
Makin buruk hiponatremia otot-otot
menjadi kaku dan bisa terjadi kejang
Pada kasus yang sangat berat akan diikuti
dengan stupor
Hiponatremia
Koreksi
Dosis NaCl yang harus diberikan dapat
dihitung dengan rumus :
NaCl = 0,6 x (N-n) x BB
Hipoglikemia
N Kadar gula darah antara 70-110 mg/dl
Bayi aterm BB 2500 gr/>
kadar glukosa plasma darah < 30 mg/dl dlm
72 jam pertama
dan 40 g/dl pada hari berikutnya
BBLR
dibawah 25 mg/dl
Gejala klinis
Tremor
Sianosis
Apatis
Kejang
Serangan apneu
intermitten/takipneu
Tangis yang
lemah/melengking
Kelumpuhan/lethargi
Kesulitan minum, dan
gerakan putar mata
Timbul keringat dingin
Pucat
Hiponatremia
Gagal jantung dan henti
jantung.


Hipoglikemia
Hipoglikemia > berat
pusing, bingung,lelah,lemah,sakit kepala,
perilaku yang tidak biasa, tidak mampu
berkonsentrasi, gangguan penglihatan, kejang,
dan koma kerusakan otak yang permanen

Hipernatremia
timbulnya dehidrasi hiperosmotik
Penyebab hipernatremia yang lebih umum
yang berhubungan dengan penurunan volume
cairan ekstraselular ialah dehidrasi akibat
asupan air yang lebih sedikit daripada
pengeluarannya
dapat terjadi sebagai akibat penambahan
natrium klorida yang berlebihan pada cairan
ekstraselular

Hiperkloremia
( N: 98-108 mmol/L )
Penyebab
Kehilangan cairan tubuh akibat muntah yang berkepanjangan,
diare, berkeringat atau demam tinggi.
Penggunaan obat-obatan seperti : bikarbonat, kortikosteroid,
diuretic, dan laksatif.
Gejala
Biasanya asimptomatis, kecuali terjadi peningkatan atau
penurunan kadar ion klorida yang berlebihan
Dehidrasi, kehilangan cairan, atau peningkatan kadar natrium
dalam darah harus dicurigai

Etiologi
Faktor intraluminal ( proses digesti )

Faktor mukosal ( digesti dan transpor nutrisi
melewati mukosa )
Penyebab yang paling sering ????
Rotavirus
Giardia lamblia
Enterotoxigenic E. coli
Gizi kurang
Tidak mendapat ASI
Umur < 18 bulan
Imunitas
Obat obat yang diberikan
Riwayat diare


Anamnesis
Identitas pasien
Keluhan utama
Riwayat penyakit / waktu & frekuensi diare
Riwayat penyakit terdahulu
Riwayat penyakit sekarang
Keluhan lain yang menyertai
Obat obatan
Makanan / minuman
dll
Patogenesis
Diare osmosis
Diare sekretorik
Bakteri tumbuh lampau, malabsorbsi asam empedu &
asam lemak
Tidak adanya mekanisme absorbsi ion secara aktif
Kerusakan mukosa
Motilitas usus yang abnormal
Sindrom diare kronik

Defisiensi
Zat imun
Infeksi &
Overgrowth
bakteri
Kerusakan
Epitel usus
Laktase Protease
K E P
Hepar
Dekonjugasi & dehidroksilasi
Asam empedu

ATP-ase
Atrofi mukosa lambung
&
Vili usus
Gastrin,hcl,pepsin,sekretin
Maldigesti/
Malabsorbsi nutrien
Sekretin &
Motilitas
Tekanan koloid osmotik
Diare kronik
Pankreas
Pankeozim &
Polipeptida pancreas
Absorbsi
Protein asing
Alergi sensitisasi
Lingkaran setan terjadinya diare kronik
Etiologi
Intoleransi / alergi susu sapi
Intoleransi laktosa
Intoleransi / alergi protein kedelai
Menetapnya patogen penyebab
CSBS
Malnutrisi
Patofisiologi
Melanjutnya kerusakan mukosa
Perbaikan mukosa yang terlambat
Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan tinja secara makroskopik
penampilan tinja cair, berlemak, berdarah
Pemeriksaan tinja mikroskopik
Pemeriksaan elektroforesis protein serum
Aspirasi duodenum
Pemeriksaan radiology
Endoskopi
Biopsy rektal & kolon ( bila diduga ada peradangan usus kronik, colitis
pseudomembranosa, penyakit hirschprung, penyakit crohn )
Terapi
Pengobatan umum
Pengobatan dietetik
Pengobatan kausal
Obat obatan
Terapi gizi
Komplikasi
K E P
Klasifikasi
Berdasarkan patogenesis dan patofisiologi
diare kronik secara sederhana digolongkan
menjadi :
Diare persisten
Sindrom rawan usus
Intractable diarrhea of infancy