Sunteți pe pagina 1din 14

Alhamdulillahi rabbil-'alamin was salatu was salamu 'ala ashrofil anbiyai wal-mursalin

wa 'ala alihi wa sahbihi ajma'in Amma ba'ad



Amar ma'ruf nahi munkar (al`amru bil-ma'ruf wannahyu'anil-mun'kar) adalah sebuah
frasa dalam bahasa Arab yang maksudnya sebuah perintah untuk mengajak atau
menganjurkan hal-hal yang baik dan mencegah hal-hal yang buruk bagi masyarakat. Frasa ini
dalam syariat Islam hukumnya adalah wajib.
Dalil amar ma'ruf nahi munkar adalah pada surah Luqman, yang berbunyi sebagai berikut:

Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan
cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa
yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang
diwajibkan (oleh Allah). (Luqman 17)

Jika kita tidak mau melaksanakan amar maruf nahi munkar, maka Allah akan menyiksa kita
dengan pemimpin yang zhalim dan menindas kita dan tidak mengabulkan segala doa kita:
Hendaklah kamu beramar maruf (menyuruh berbuat baik) dan bernahi mungkar (melarang
berbuat jahat). Kalau tidak, maka Allah akan menguasakan atasmu orang-orang yang paling
jahat di antara kamu, kemudian orang-orang yang baik-baik di antara kamu berdoa dan tidak
dikabulkan (doa mereka). (HR. Abu Dzar) [1]
Amar ma'ruf nahi munkar dilakukan sesuai kemampuan, yaitu dengan tangan (kekuasaan)
jika dia adalah penguasa/punya jabatan, dengan lisan atau minimal membencinya dalam hati
atas kemungkaran yang ada, dikatakan bahwa ini adalah selemah-lemahnya iman seorang
mukmin
1. Definisi Amar Marf Nahi Munkar
A. Definisi al-Maruf
ar-Rghib al-Ashfahani rahimahullah (wafat th. 425 H) mengatakan, al-Marf adalah satu nama
bagi setiap perbuatan yang diketahui kebaikannya oleh akal atau syariat, sedangkan al-munkar
adalah apa yang diingkari oleh keduanya.*2+

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah (wafat th. 728 H) mengatakan, al-Marf adalah satu
nama yang mencakup segala yang dicintai oleh Allh, berupa iman dan amal shalih.*3+

Sedang menurut syariat, al-marf adalah segala hal yang dianggap baik oleh syariat, diperintah
melakukannya, dipuji dan orang yang melakukannya dipuji pula. Segala bentuk ketaatan kepada
Allh masuk dalam pengertian ini. al-Ma'rf yang paling utama adalah mentauhidkan Allh
Subhanahu wa Taala dan beriman kepada-Nya.[4]

B. Definisi al-Munkar
al-munkar adalah segala yang dilarang oleh syariat atau segala yang menyalahi syariat.*5+

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan, al-Munkar adalah satu nama yang
mencakup segala yang di larang Allh.*6+

Ketika menerangkan sifat umat Islam, Imam asy-Syaukni rahimahullah mengakatakan,
Sesungguhnya mereka menyuruh kepada (perbuatan) yang marf dalam syariat ini dan melarang
dari yang mungkar. Dan yang dijadikan tolok ukur bahwa sesuatu itu marf atau mungkar adalah al-
Kitab (al-Qur'n) dan as-Sunnah.*7+

Dari penjelasan ini, jelas bahwa menentukan suatu keyakinan, perkataan atau perbuatan itu marf
atau munkar bukanlah hak pelaku amar marf nahi munkar. Namun semua itu dikembalikan kepada
penjelasan al-Qur'n dan as-Sunnah menurut pemahaman Salafush Shalih.[8]

2. Keutamaan Amar Marf Nahi Munkar
Imam Ibnu Qudmah al-Maqdisi rahimahullah (wafat th. 689 H) mengatakan, Ketahuilah, bahwa
amar marf nahi munkar adalah poros yang paling agung dalam agama. Ia merupakan tugas penting
yang karenanya Allh mengutus para Nabi. Andaikan tugas ini ditiadakan, maka akan muncul
kerusakan di mana-mana dan dunia akan hancur.*9+

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, Amar marf nahi munkar merupakan
penyebab Allh Subhanahu wa Taala menurunkan kitab-kitab-Nya dan mengutus para Rasl-Nya,
serta bagian inti agama.*10+

Di antara keutamaan amar marf nahi munkar yaitu:

a. Termasuk kewajiban paling penting dalam Islam.
b. Sebagai sebab keutuhan, keselamatan dan kebaikan bagi masyarakat.
c. Menghidupkan hati.
d. Sebagai faktor yang bisa mengundang pertolongan, kemuliaan dan kekuasaan di bumi.
e. Amar marf nahi munkar termasuk shadaqah.
f. Menolak marabahaya.
g. Orang yang mencegah dari perbuatan mungkar akan diselamatkan oleh Allh Subhanahu wa
Taala .
h. Amar marf nahi mungkar termasuk sifat-sifat orang mukmin yang shalih.
i. Amar marf nahi munkar adalah jihad yang paling utama.
j. Amar marf nahi munkar termasuk sebab dosa diampuni.
k. Amar marf nahi munkar adalah perkataan yang paling baik dan seutama-utama amal.

3. Akibat dan Pengaruh Jelek Meninggalkan Amar Marf Nahi Munkar
a. Mendapat laknat Allh Subhanahu wa Taala , celaan dan kehinaan
b. Kerusakan akan semakin parah.
c. Mendapat hukuman dari Allh Subhanahu wa Taala .
d. Dikuasai oleh musuh-musuh Islam.
e. Do'a tidak dikabulkan.
f. Akan dibinasakan oleh Allh Subhanahu wa Taala .
g. Akan dimintai pertanggung jawabannya pada hari kiamat.
h. Jatuh dalam kebinasaan, membuat hati sakit atau bahkan mematikannya.

4. Hukum Mengingkari Kemungkaran
Mengingkari kemungkaran dengan tangan dan lisan itu ada dua :

Pertama : Fardhu kifayah.
Allh Subhanahu wa Taala berfirman,



Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh
(berbuat) yang marf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang
beruntung. *Ali Imrn/3:104+

Mengenai tafsir ayat ini, al-Hfizh Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, Maksud ayat ini ialah
hendaklah ada segolongan dari umat ini yang siap memegang peran ini (amar marf nahi
munkar)...*11+

Imam Ibnul Arabi berkata, Ayat ini dan ayat berikutnya merupakan dalil bahwa amar marf nahi
munkar itu fardhu kifyah...*12+

Oleh karena itu wajib bagi ulil amri (pemerintah) untuk menunjuk sejumlah orang yang memiliki
kemampuan dan persiapan untuk menjalankan tugas ini. Karena ada beberapa perbuatan mungkar
yang tidak bisa diubah kecuali oleh sejumlah orang tertentu yang memiliki ilmu, pemahaman yang
benar dan sikap hikmah. Misalnya untuk membantah firqah Bthiniyah (shufiyah) dan menjelaskan
kekeliruan keyakinan mereka dan lainnya. Apabila lembaga ini menjalankan kewajibannya
sebagaimana mestinya maka gugurlah kewajiban dari yang lainnya.[13]

Pengingkaran kemungkaran dengan tangan dan lisan, wajib dilakukan sesuai kemampuan.

Raslullh Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,



Jika sebuah kesalahan dilakukan di muka bumi, maka orang yang melihatnya kemudian
membencinya (Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda: lalu mengingkarinya) sama
seperti orang yang tidak melihatnya sementara orang tidak melihatnya namun merestuinya maka
sama seperti orang yang melihatnya.[14]

Kedua, Fardhu ain.
Keumuman sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, yang artinya, "Barangsiapa di antara kalian
melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka
dengan lisannya..., menunjukkan bahwa mengingkari kemungkaran wajib atas setiap individu yang
memiliki kemampuan serta mengetahui kemungkaran atau melihatnya.[15]

Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan, Sesungguhnya amar marf nahi munkar adalah
fardhu kifyah kemudian terkadang menjadi fardhu ain jika pada suatu keadaan dan kondisi
tertentu tidak ada yang mengetahuinya kecuali dia.*16+

Jadi, orang yang melihat kesalahan kemudian membencinya dengan hati, sama seperti orang yang
tidak melihatnya namun tidak mampu mengingkarinya dengan lisan dan tangannya. Sementara
orang yang tidak melihat kesalahan itu kemudian merestuinya, ia sama seperti orang yang
melihatnya, namun tidak mengingkarinya padahal ia mampu mengingkarinya. Karena merestui
kesalahan-kesalahan termasuk perbuatan haram yang paling buruk serta menyebabkan
pengingkaran dalam hati tidak dapat dilaksanakan padahal pengingkaran dengan hati merupakan
kewajiban bagi setiap muslim dan tidak gugur dari siapa pun dalam semua kondisi.[17]

Dari penjelasan dapat diketahui bahwa mengingkari kemungkaran dengan hati adalah wajib bagi
setiap Muslim dalam semua kondisi, sedang mengingkarinya dengan tangan dan lidah itu sesuai
dengan kemampuan. Sebagaimana dalam hadits Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu anhu, Nabi
Shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

.

Tidaklah suatu kaum yang dikerjakan ditengah-tengah mereka berbagai kemaksiatan yang mampu
mereka mencegahnya namun tidak mereka cegah, melainkan Allh pasti akan menurunkan
hukuman kepada mereka semua.[19]

Dari Abu Said al-Khudri Radhiyallahu anhu, ia berkata, Aku mendengar Raslullh Shallallahu alaihi
wa sallam bersabda :

.

Sesungguhnya Allh pasti bertanya kepada seorang hamba pada hari Kiamat hingga Dia bertanya,
Apa yang menghalangimu dari mengingkari sebuah kemungkaran jika engkau melihatnya? Jika
Allh telah mengajarkan hujjah kepada hamba-Nya tersebut, hamba tersebut berkata, Rabb-ku, aku
berharap kepada-MU, dan aku tinggalkan manusia.[20]

Raslullh Shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda dalam khutbahnya,



Ingatlah, janganlah sekali-kali rasa segan kepada manusia menghalangi seseorang untuk mengatakan
kebenaran jika ia mengetahuinya.

Abu Said al-Khudri Radhiyallahu anhu menangis kemudian berkata, Sungguh, demi Allah, kita
melihat banyak hal kemudian kita segan.

Hadits ini diriwayatkan juga oleh Ahmad dengan tambahan,



Karena mengucapkan yang haq atau mengingatkan tentang suatu yang besar tidak mendekatkan
kepada ajal dan tidak menjauhkan dari rezeki.[21]

Hadits tersebut ditafsirkan bahwa penghalang untuk mengingkari kemungkaran itu hanya sekedar
segan dan bukannya takut yang menghapus kewajiban mengingkari kemungkaran.[22]

Bagaimana Hukum Mengingkari Kemungkaran Kepada Penguasa?
Raslullh Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

( :

.

Jihad terbaik ialah mengatakan kalimat yang haq (dalam riwayat lain: adil) kepada pemimpin yang
zhalim.[23]

Said bin Jubair Radhiyallahu anhu berkata, Aku berkata kepada Ibnu Abbs Radhiyallahu anuhma,
Aku memerintah kebaikan kepada penguasa dan melarangnya dari kemungkaran? Ibnu Abbs
Radhiyallahu anhuma menjawab, Jika engkau takut dia membunuhmu, jangan engkau lakukan. Aku
mengulangi perkataanku itu tadi, namun Ibnu Abbs c menjawab seperti jawaban semula. Aku
mengulangi perkataanku namun Ibnu Abbs Radhiyallahu anhuma tetap berkata seperti semula dan
berkata, Jika engkau memang harus melakukannya, maka kerjakan secara empat mata
dengannya.*24+

Raslullh Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,



Barangsiapa yang ingin menasihati penguasa, janganlah ia menampakkan dengan terang-terangan.
Hendaklah ia pegang tangannya lalu menyendiri dengannya. Jika penguasa itu mau mendengar
nasihat itu, maka itu yang terbaik dan bila si penguasa itu enggan (tidak mau menerima), maka
sungguh ia telah melaksanakan kewajibannya[25]

Sedangkan membelot dari penguasa dengan mengangkat pedang (senjata) maka dikhawatirkan
menimbulkan sejumlah fitnah yang menyebabkan pertumpahan darah kaum Muslimin. Jika
seseorang ingin maju mengingkari kemungkaran para penguasa namun pada saat yang sama
dikhawatirkan tindakannya akan membawa dampak negatif kepada keluarga dan tetangganya, maka
ia sebaiknya tidak melakukannya. Karena tindakannya akan menimbulkan gangguan bagi orang lain.
Itulah yang dikatakan oleh Fudhail bin Iydh t dan yang lainnya. Jika seseorang khawatir dirinya
dibunuh, atau dicambuk, atau dipenjara, atau diborgol, atau diasingkan, atau hartanya dirampas,
dan ancaman-ancaman lainnya, maka kewajiban menyuruh para penguasa melakukan kebaikan dan
melarang mereka dari kemungkaran menjadi gugur darinya. Ini ditegaskan para imam, diantaranya
Imam Mlik rahimahullah, Ahmad rahimahullah, Ishq rahimahullah dan lain-lain.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan kaidah ini dengan memberikan contoh dalam
pernyataan beliau, Barangsiapa meneliti fitnah besar dan kecil yang terjadi dalam Islam, dia akan
tahu bahwa fitnah itu disebabkan karena melalaikan pokok kaidah ini dan tidak sabar dalam
(mengingkari) kemungkaran. Menuntut hilangnya kemungkaran, tetapi lahir darinya kemungkaran
yang lebih besar. Dahulu Raslullh Shallallahu alaihi wa sallam melihat satu kemungkaran besar di
Makkah dan Beliau n tidak bisa mengubahnya. Bahkan ketika Allh Subhanahu wa Taala taklukkan
Makkah menjadi negeri Islam, Beliau bertekad mengubah Kabah dan mengembalikannya sesuai
pondasi bangunan Nabi Ibrahim Alaihissallam , tetapi tercegah (walaupun Beliau mampu) oleh
kekhawatiran munculnya keburukan yang lebih besar, yaitu khawatir orang-orang Quraisy tidak bisa
menerimanya karena mereka baru masuk Islam dan meninggalkan kekufuran. Oleh karena itu, tidak
diizinkan mengingkari penguasa dengan tangan, karena menimbulkan kemungkaran yang lebih
besar.*26+

5. Tingkatan Dalam Mencegah Kemunkaran
Amar marf nahi munkar memiliki tingkatan yang harus diketahui oleh pelakunya sehingga apa yang
dilakukannya sesuai dengan tuntutan syariat dan adab-adab yang mesti diperhatikan. Tingkatan ini
telah diterangkan oleh para Ulama dahulu dan yang sekarang, dan mereka senantiasa menasihati
para pelaku amar marf nahi mungkar dengannya.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, Sesungguhnya syariat ini berdiri di atas pondasi hikmah
dan kemaslahatan dunia-akhirat bagi hamba-hamba Allah. Syariat ini, seluruhnya adil, rahmat,
maslahat dan hikmah. Maka setiap masalah yang keluar dari prinsip keadilan kepada kezhaliman,
dari rahmat ke lawannya, dari maslahat ke mafsadat dan dari hikmah kepada kekerasan, maka itu
tidak termasuk syariat meskipun dimasukkan ke dalamnya dengan sebab takwil. Syariat adalah
cermin keadilan Allh Subhanahu wa Taala terhadap hamba-Nya, rahmat-Nya diantara hamba-
hamba-Nya, pemeliharaan-Nya di bumi dan hikmah Allah yang merupakan petunjuk paling
sempurna yang membuktikan keberadaan Allh Azza wa Jalla dan kejujuran Rasl-Nya.*27+

Beliau rahimahullah juga berkata, Sesungguhnya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mensyariatkan
kepada ummatnya untuk mengingkari kemungkaran agar terealisasi perbuatan marf yang dicintai
Allh dan Rasl-Nya. Apabila mengingkari kemungkaran menimbulkan sesuatu yang lebih mungkar
daripadanya dan lebih dimurkai oleh Allh dan Rasl-Nya maka tidak diperbolehkan untuk
mengingkarinya meskipun Allh membenci dan memurkai pelakunya. Ini seperti mengingkari para
raja dan pemimpin dengan cara memberontak kepada mereka, karena hal itu adalah sumber dari
setiap kejelekan dan fitnah sampai akhir masa.*28+

Beliau rahimahullah melanjutkan, Menghilangkan kemungkaran memiliki empat tingkatan:

1. Kemungkarannya hilang dan digantikan dengan lawannya, yaitu kebaikan.
2. Kemungkaran berkurang meskipun tidak hilang seluruhnya.
3. Kemungkaran hilang digantikan dengan kemungkaran yang semisalnya.
4. Kemungkaran tersebut digantikan dengan kemungkaran yang lebih berat (lebih besar).

Tingkatan yang pertama dan kedua disyariatkan (untuk dilakukan). Tingkatan yang ketiga tentang
kebolehannya masuk ke area ijtihad-, dan tingkatan yang keempat haram (untuk dilakukan).

Berikut tingkatan mengubah kemungkaran yang harus diketahui :

a. Mengetahui kemungkaran.
b. Mengingkari kemungkaran dengan tangan dan syarat-syaratnya.
Tingkatan ini disyaratkan dengan adanya kekuasaan, kemampuan, hikmah, pemahaman, dan jauh
dari hawa nafsu.
c. Mengingkari kemungkaran dengan lisan dan tahapan-tahapannya.
Tahapan pertama, memberikan pengertian dan pelajaran dengan lemah lembut.
Tahapan kedua, melarang dengan cara memberikan pelajaran dan nasihat.
Tahapan ketiga, tegas dalam memberikan nasihat.
Tahapan keempat, mengancam dan menakut-nakuti dengan adzab Allh Subhanahu wa Taala.
d. Mengingkari kemungkaran dengan hati
e. Mengingkari kemungkaran dengan pedang atau senjata

6. Perbedaan Tingkatan Tanggung Jawab Manusia Dalam Mengingkari Kemungkaran
Telah disebutkan sebelumnya bahwa Allh Azza wa Jalla mewajibkan semua kita melakukan amar
marf nahi munkar sesuai dengan kemampuan. Tetapi yang perlu diperhatikan ialah manusia itu
berbeda-beda tingkatannya dalam kewajiban ini. Seorang muslim yang awam (minim ilmu) wajib
mengerjakan kewajiban ini sesuai kemampuannya. Ia harus menyuruh istri dan anak-anaknya
dengan perkara-perkara agama yang telah diketahuinya.

Sedang para ulama memiliki kewajiban yang tidak dimiliki selain mereka karena mereka adalah
pewaris para nabi. Jika mereka meremehkan tugas ini maka berbagai kekurangan akan menimpa
umat ini, sebagaimana terjadi pada Bani Israil.

Sementara kewajiban pemerintah pada tugas ini sangat besar karena mereka memiliki kekuatan
yang dapat memaksa banyak orang untuk kembali dari kemungkaran. Sebab orang yang terpengaruh
dengan nasihat dan wejangan itu sangat sedikit. Apabila pemerintah menyepelekan tugas ini, maka
ini merupakan bencana besar karena akan menyebabkan tersebarnya kemungkaran serta para
pelaku kebatilan dan kefasikan semakin berani melakukan aksi-aksi batil mereka terhadap orang-
orang yang berpegang pada kebenaran dan orang-orang yang mengadakan perbaikan

Amar ma'ruf nahi mungkar merupakan kekhususan dan keistimewaan umat Islam yang akan
mempengaruhi kemulian umat Islam. Sehingga Allah kedepankan penyebutannya dari iman dalam
firman-Nya,



"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan
mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu
lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-
orang yang fasik". [Ali Imron :110]

Demikian pula, Allah membedakan kaum mukminin dari kaum munafikin dengan hal ini. Allah
Subhanahu wa Ta'ala berfirman,



"Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong
sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang mungkar,
mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka ta'at kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan
diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana".[At-Taubah:71]

Ketika membawakan kedua ayat diatas, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,"Dalam ayat ini Allah
Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan, umat Islam adalah umat terbaik bagi segenap umat manusia.
Umat yang paling memberi manfaat dan baik kepada manusia. Karena mereka telah
menyempurnakan seluruh urusan kebaikan dan kemanfaatan dengan amar ma'ruf nahi mungkar.
Mereka tegakkan hal itu dengan jihad di jalan Allah dengan jiwa dan harta mereka. Inilah anugerah
yang sempurna bagi manusia. Umat lain tidak memerintahkan setiap orang kepada semua perkara
yang ma'ruf (kebaikan) dan melarang semua kemungkaran. Merekapun tidak berjihad untuk itu.
Bahkan sebagian mereka sama sekali tidak berjihad. Adapun yang berjihad -seperti Bani Israil-
kebanyakan jihad mereka untuk mengusir musuh dari negerinya. Sebagaimana orang yang jahat dan
dzalim berperang bukan karena menyeru kepada petunjuk dan kebaikan, tidak pula untuk amar
ma'ruf nahi mungkar. Hal ini digambarkan dalam ucapan Nabi Musa.



Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah
kamu lari ke belakang (karena kamu takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang
merugi. Mereka berkata,Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah
perkasa. Sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar
daripadanya. Jika mereka keluar daripadanya, pasti kami akan memasukinya". Berkatalah dua orang
diantara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas
keduanya,Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu. Maka bila kamu memasukinya
niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu
benar-benar orang yang beriman. Mereka berkata,Hai Musa, kami sekali-kali tidak akan
memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama
Rabbmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja. *Al-
Maidah : 21-24]

Demikian pula firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.



"Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil (sesudah Nabi Musa wafat) ketika
mereka berkata kepada seorang Nabi mereka, Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami
berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah. Nabi mereka menjawab,Mungkin sekali jika
kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang. Mereka menjawab,Mengapa kami
tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari kampung halaman
kami dan dari anak-anak kami. Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, merekapun
berpaling, kecuali beberapa orang saja diantara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang
yang dzalim". [Al-Baqarah:246]

Mereka berperang lantaran diusir dari tanah air beserta anak-anak mereka. Sudah demikian ini,
mereka pun masih melanggar perintah. Sehingga tidak dihalalkan begi mereka harta rampasan
perang. Demikan juga tidak boleh mengambil budak-budak tawanan perang. [1]

Demikianlah anugerah Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada umat Islam. Dia menjadikan amar ma'ruf
nahi mungkar sebagai salah satu tugas penting Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Bahkan beliau
diutus untuk itu, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.



"(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis
di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf
dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang
baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban
dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya,
memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (al-
Qur'an), mereka itulah orang-orang yang beruntung". [Al- A'raaf : 157).

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala menciptakan orang-orang yang selalu mewarisi tugas utama
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ini, bahkan memerintahkan umat ini untuk menegakkannya,
dalam firman-Nya.



"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh
kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar; mereka adalah orang-orang yang
beruntung". [Al-Imron:104]

Tugas penting ini sangat luas jangkauannya, baik zaman atau tempat. Meliputi seluruh umat dan
bangsa dan terus bergerak dengan jihad dan penyampaian ke seluruh belahan dunia. Tugas ini telah
diemban umat Islam sejak masa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sampai sekarang hingga hari
kiamat nanti.

HUKUM AMAR MA'RUF NAHI MUNGKAR
Amar ma'ruf nahi mungkar merupakan kewajiban yang dibebankan Allah Subhanahu wa Ta'ala
kepada umat Islam sesuai kemampuannya. Ditegaskan oleh dalil Al Qur'an dan As-Sunnah serta Ijma'
para Ulama.

Dalil Al Qur'an
Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.



"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh
kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar; mereka adalah orang-orang yang
beruntung".[Al-Imran:104].

Ibnu Katsir berkata dalam menafsirkan ayat ini,"Maksud dari ayat ini, hendaklah ada sebagian umat
ini yang menegakkan perkata ini".[3]

Dan firman-Nya.



"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan
mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah". [Al-Imran :110].

Umar bin Khathab berkata ketika memahami ayat ini,"Wahai sekalian manusia, barang siapa yang
ingin termasuk umat tersebut, hendaklah menunaikan syarat Allah darinya".[4]

Dalil Sunnah
Sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.



"Barang siapa yang melihat satu kemungkaran, maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu
maka dengan lisannya dan jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan itu selemah-lemahnya
iman". [Riwayat Muslim].

Sedangkan Ijma' kaum muslimin, telah dijelaskan oleh para ulama, diantaranya:

1. Ibnu Hazm Adz Dzahiriy, beliau berkata, "Seluruh umat telah bersepakat mengenai kewajiban
amar ma'ruf nahi mungkar, tidak ada perselisihan diantara mereka sedikitpun.*5+

2. Abu Bakr al- Jashshash, beliau berkata,"Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menegaskan kewajiban
amar ma'ruf nahi mungkar melalui beberapa ayat dalam Al Qur'an, lalu dijelaskan Rasulullah n dalam
hadits yang mutawatir. Dan para salaf serta ahli fiqih Islam telah berkonsensus atas
kewajibannya".[6]

3. An-Nawawi berkata,"telah banyak dalil-dalil Al Qur'an dan Sunnah serta Ijma yang menunjukkan
kewajiban amar ma'ruf nahi mungkar" [7]
.
4. Asy-Syaukaniy berkata,"Amar ma'ruf nahi mungkar termasuk kewajiban, pokok serta rukun
syari'at terbesar dalam syariat. Dengannya sempurna aturan Islam dan tegak kejayaannya".[8]

Jelaslah kewajiban umat ini untuk beramar ma'ruf nahi mungkar.

DERAJAT KEWAJIBAN AMAR MA'RUF NAHI MUNGKAR [9]
Amar ma'ruf nahi mungkar sebagai satu kewajiban atas umat Islam, bagaimanakah derajat
kewajibannya? Apakah fardhu 'ain ataukah fardhu kifayah? Para ulama berselisih tentang hal ini.

Pendapat pertama memandang kewajiban tersebut adalah fardhu 'Ain. Ini merupakan pendapat
sejumlah ulama, diantaranya Ibnu Katsir, Az Zujaaj, Ibnu Hazm .Mereka berhujjah dengan dalil-dalil
syar'i, diantaranya:

1. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.



"Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh
kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar; mereka adalah orang-orang yang
beruntung". [Ali Imran:104]

Mereka mengatakan bahwa kata dalam ayat

untuk penjelas dan bukan untuk menunjukkan


sebagian. Sehingga makna ayat, jadilah kalian semua umat yang menyeru kepada kebajikan,
menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar. Demikian juga akhir ayat yaitu:

Menegaskan bahwa keberuntungan khusus bagi mereka yang melakukan amalan


tersebut. Sedangkan mencapai keberuntungan tersebut hukumnya fardhu 'ain. Oleh karena itu
memiliki sifat-sifat tersebut hukumnya wajib 'ain juga. Karena dalam kaedah disebutkan:



Satu kewajiban yang tidak sempurna kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu itu hukumnya wajib.

2. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.



"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan
mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu
lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-
orang yang fasik". [Ali Imran :110]

Dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan syarat bergabung dengan umat Islam yang
terbaik, yaitu dengan amar ma'ruf nahi mungkar dan iman. Padahal bergabung kepada umat ini,
hukumnya fardu 'ain. Sebagaimana firman-Nya:



"Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan
amal yang shaleh dan berkata,"Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri."
[Fushilat :33]

Sehingga memiliki sifat-sifat tersebut menjadi fardhu 'ain. Sebagaimana Umar bin Al Khathab
menganggapnya sebagai syarat Allah bagi orang yang bergabung ke dalam barisan umat Islam.
Beliau berkata setelah membaca surat Ali Imran:110,"Wahai sekalian manusia, barang siapa yang
ingin termasuk umat tersebut, hendaklah menunaikan syarat Allah darinya"

Sedangkan pendapat kedua memandang amar ma'ruf nahi mungkar fardhu kifayah. Ini merupakan
pendapat jumhur ulama. Diantara mereka yang menyatakan secara tegas adalah Abu Bakr Al-
Jashash [12] , Al-Mawardiy, Abu Ya'la Al-Hambaliy, Al Ghozaliy, Ibnul Arabi, Al Qurthubiy [13], Ibnu
Qudamah [14], An-Nawawiy [15] , Ibnu Taimiyah [16] , Asy-Syathibiy [17] dan Asy-Syaukaniy [18].

Mereka berhujjah dengan dalil-dalil berikut ini:

1. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.



"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh
kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung".
[Ali Imran:104]

Mereka mengatakan bahwa kata dalam ayat

untuk menunjukkan sebagian. Sehingga


menunjukkan hukumnya fardhu kifayah.

Imam Al Jashash menyatakan,"Ayat ini mengandung dua makna. Pertama, kewajiban amar ma'ruf
nahi mungkar. Kedua, yaitu fardu kifayah. Jika telah dilaksanakan oleh sebagian, maka yang lain tidak
terkena kewajiban".[19]

Ibnu Qudamah berkata,"Dalam ayat ini terdapat penjelasan hukum amar ma'ruf nahi mungkar yaitu
fardhu kifayah, bukan fardhu 'ain".[20]

2. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.



"Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu'min itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa
tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam
pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila
mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya". [At-Taubah : 122]

Hukum tafaquh fiddin (memperdalam ilmu agama) adalah fardhu kifayah. Karena Allah Subhanahu
wa Ta'ala memerintahkan sekelompok kaum mukminin dan tidak semuanya untuk menuntut ilmu.
Oleh karena itu orang yang belajar dan menuntut ilmu tersebut yang bertanggung jawab memberi
peringatan, bukan seluruh kaum muslimin. Demikian juga jihad, hukumnya fardhu kifayah.

Syeikh Abdurrahman As Sa'diy menyatakan,"Sepatutnya kaum muslimin mempersiapkan orang yang
menegakkan setiap kemaslahatan umum mereka. Orang yang meluangkan seluruh waktunya dan
bersungguh-sungguh serta tidak bercabang, untuk mewujudkan kemaslahatan dan kemanfatan
mereka. Hendaklah arah dan tujuan mereka semuanya satu, yaitu menegakkan kemaslahatan agama
dan dunianya"[21]

3. Tidak semua orang dapat menegakkan amar maruf nahi mungkar. Karena orang yang
menegakkannya harus memiliki syarat-syarat tertentu. Seperti mengetahui hukum-hukum syari'at,
tingkatan amar makruf nahi mungkar, cara menegakkannya, kemampuan melaksanakannya.
Demikian juga dikhawatirkan bagi orang yang beramar maruf nahi mungkar bila tanpa ilmu akan
berbuat salah. Mereka memerintahkan kemungkaran dan mencegah kema'rufan atau berbuat keras
pada saat harus lembut dan sebaliknya.

4. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala



"(yaitu)orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka
mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma'ruf dan mencegah dari perbuatan
yang mungkar; dan kepada Allahlah kembali segala urusan". [QS. 22:41]

Imam Al Qurthubiy berkata,"Tidak semua orang diteguhkan kedudukannya dimuka bumi, sehingga
hal tersebut diwajibkan secara kifayah kepada mereka yang diberi kemampuan untuknya"[22]

Oleh karena itu Syeikh Islam Ibnu Taimiyah menyatakan,"Demikian kewajiban amar maruf nahi
mungkar. Hal ini tidak diwajibkan kepada setiap orang, akan tetapi merupakan fardhu kifayah" [23]

Akan tetapi hukum ini bukan berarti menunjukkan bolehnya seseorang untuk tidak berdakwah, atau
beramar makruf nahi mungkar. Karena terlaksananya fardhu kifayah ini dengan terwujudnya
pelaksanaan kewajiban tersebut. Sehingga apabila kewajiban tersebut belum terwujud
pelaksanaannya oleh sebagian orang, maka seluruh kaum muslimin terbebani kewajiban tersebut.

Pelaku amar makruf nahi mungkar adalah orang yang menunaikan dan melaksanakan fardhu
kifayah. Mereka memiliki keistimewaan lebih dari orang yang melaksanakan fardhu 'ain. Karena
pelaku fardhu 'ain hanya menghilangkan dosa dari dirinya sendiri, sedangkan pelaku fardhu kifayah
menghilangkan dosa dari dirinya dan kaum muslimin seluruhnya. Demikian juga fardhu 'ain jika
ditinggalkan, maka hanya dia saja yang berdosa, sedangkan fardhu kifayah jika ditinggalkan akan
berdosa seluruhnya.

Pendapat ini Insya Allah pendapat yang rajih. Wallahu a'lam.

Amar makruf nahi mungkar dapat menjadi fardhu 'ain, menurut kedua pendapat diatas, apabila :

Pertama : Ditugaskan oleh pemerintah.
Al Mawardi menyatakan,"Sesungguhnya hukum amar makruf nahi mungkar fardhu 'ain dengan
perintah penguasa".[24]

Kedua : Hanya dia yang mengetahui kema'rufan dan kemungkaran yang terjadi.
An Nawawiy berkata,"Sesungguhnya amar makruf nahi mungkar fardhu kifayah. Kemudian menjadi
fardhu 'ain, jika dia berada ditempat yang tidak mengetahuinya kecuali dia".[25]

Ketiga : Kemampuan amar makruf nahi mungkar hanya dimiliki orang tertentu.
Jika kemampuan menegakkan amar makruf nahi mungkar terbatas pada sejumlah orang tertentu
saja, maka amar makruf nahi mungkar menjadi fardhu 'ain bagi mereka.

An Nawawi berkata,"Terkadang amar makruf nahi mungkar menjadi fardhu 'ain, jika berada di
tempat yang tidak mungkin menghilangkannya kecuali dia. Seperti seorang yang melihat istri atau
anak atau budaknya berbuat kemungkaran atau tidak berbuat kema'rufan".[26]

Keempat : Perubahan keadaan dan kondisi.
Syeikh Abdul Aziz bin Baaz memandang amar makruf nahi mungkar menjadi fardhu 'ain dengan
sebab perubahan kondisi dan keadaan, ketika beliau berkata, "Ketika sedikitnya para da'i. Banyaknya
kemungkaran dan kebodohan yang merata, seperti keadaan kita sekarang ini, maka dakwah menjadi
fardhu 'ain atas setiap orang sesuai dengan kemampuannya".[27]

Demikianlah amar makruf nahi mungkar dalam tinjauan hukum Islam, mudah-mudahan hal ini
mendorong kita untuk melaksanakan dan menegakkannya dalam kehidupan.
Alhamdulillahirabbil alamin, Hamdan yuwafi niamahu wa yukafi u mazidah ya
rabbana lakal hamdu kama yanbaghi lijalali wajhikal karimi waadzimi sulthanika
Allahumma Inna nasaluka salamatan fiddin, wa afiyatan fil jasadi wa ziyadatan fil
ilmi, wabarakatan firrizqi, wa taubatan qablal maut, wa rahatan indal maut, wa maghfiratan
badal maut.
Allahumma hawwin alaina fi sakaratil maut wannajata minannari wal afwa
indalhisab
Subhana Rabbika rabbil 'izzati 'amma yasifuna, Wasalamun 'alal mursalin
walhamdulillahirabbil 'alamin