Sunteți pe pagina 1din 20

Blog Riyawan

Hiburan / Artikel / Makalah Keperawatan & Farmasi

Home
DAFTAR ISI
ARTIKEL
HIBURAN
SEO Tips
Adsense
TUKAR LINK
TENTANG SITUS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KASUS DHF / DBD


Selasa, Juni 11, 2013 ASUHAN KEPERAWATAN 4 comments

A.
1.

Pengertian

Demam Berdarah Dengue (Dengue Haemorrhagic Fever) ialah suatu penyakit yang disebabkan oleh
virus dengue (arbovirus) yang masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes aegypti.
(Suriadi, 2001 : 57)

2. Demam Berdarah Dengue ialah suatu penyakit demam berat yang sering mematikan, disebabkan oleh
virus, ditandai oleh permeabilitas kapiler, kelainan hemostasis dan pada kasus berat, sindrom syok
kehilangan protein.
(Nelson, 2000 : 1134)

B.

Etiologi
Virus dengue serotipe 1, 2, 3, dan 4 yang ditularkan melalui vektor nyamuk Aedes Aegypti.
Infeksi dengan salah satu serotipe akan menimbulkan antibodi seumur hidup terhadap serotipe
bersangkutan tetapi tidak ada perlndungan terhadap serotipe lain.

- Ciri-ciri nyamuk Aedes Aegypti


Badannya kecil, warnanya hitam dan berbelang-belang, menggigit pada siang hari, badannya
datar saat hinggap, hidup di tempat-tempat yang gelap (terhindar dari sinar matahari, jarak
terbangnya kurang dari 100 M dan senang menggigit manusia). Aedes Aegypti betina
mempunyai kebiasaan berulang (multi diters) yaitu menggigit beberapa orang secara bergantian
dalam waktu singkat.

C.

Patofisiologi

Virus dengue akan masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes aegypti dan
kemudian bereaksi dengan antibodi dan terbentuklah komplek virus antibodi, dalam sirkulasi
akan mengakt,ivasi sistem komplemen. Akibat aktivasi C3 dan C5 akan dilepas C3a dan C5a,
dua peptida yang berdaya untuk melepaskan histamin dan merupakan mediator kuat sebagai
faktor meningginya permeabilitas dinding pembuluh darah dan menghilangkan plasma
mealui endotel dinding itu.

Terjadinya trombositopenia, menurunnya fungsi trombosit dan menurunnya faktor koagalasi


(protambin, faktor V, VII, IX, X dan fibrinogen) merupakan faktor penyebab terjadinya
perdarahan hebat, teutama perdarahan saluran gastrointestinal pada DHF.

Yang menentukan beratnya penyakit adalah meningginya permeabilitas dinding pembuluh


darah, menurunnya volume plasma, terjadinya hipotensi, trombositopenia dan diatesis
hemoragik. Renjatan terjadi secara akut.

Nilai hematokrit meningkat bersamaan dengan hilangnya plasma melalui endotel dinding
pembuluh darah. Dan dengan hilangnya plasma klien mengalami hypovolemik. Apabila tidak
diatasi bisa terjadi anoksia jangan asidosis dan kematian.

D.

Gambaran Klinis
Infeksi virus dengue mengakibatkan manifestasi klinis yang bervariasi mulai dari

asimtomatik, penyakit paling ringan, demam dengue, demam berdarah dengue sampai syndrome
syok dengue. Timbulnya bervariasi berdasarkan derajat Demam berdarah dengue.

Fase pertama yang relatif ringan dengan demam mulai mendadak, malaise muntah, nyeri
kepala, anoreksia, dan batuk.

Pada fase kedua ini penderita biasanya menderita ekstremitas dingin, lembab, badan panas,
maka merah, keringat banyak, gelisah, iritabel, dan nyeri mid-epigastrik. Seringkali ada
petekie tersebar pada dahi dan tungkai, ekimosis spontan mungkin tampak, dan mudah
memar serta berdarah pada tempat fungsi vena adalah lazim. Ruam makular atau
makulopopular mungkin muncul dan mungkin ada sianosis sekeliling mulut dan perifer.
Nadi lemah cepat dan kecil dan suara jantung halus. Hati mungkin membesar sampai 4-6 cm
dibawah tepi costa dan biasanya keras agak nyeri. Kurang dari 10% penderita ekimosis atau
perdarahan saluran cerna yang nyata, biasanya pasca masa syok yang tidak terkoreksi.
Menurut patokan dari WHO pada tahun 1975, diagnosa DBD (DHF) harus berdasarkan

adanya gejala klinik sebagai berikut :


1. Demam tinggi mendadak dan terus menerus selama 2-7 hari (tanpa sebab jelas).
2. Manifestasi perdarahan: paling tidak terdapat uji turnikel positif dari adanya salah satu bentuk perdarahan yang
lain misalnya positif, ekimosis, epistaksis, perdarahan yang lain misalnya petekel, ekimosis, epistaksis,
perdarahan gusi, melena, atau hematomesis.
3. Pembesaran hati (sudah dapat diraba sifat permulaan sakit).
4. Syok yang ditandai nadi lemah, cepat, disertai tekanan nadi yang menurun (menjadi 20 mmHg atau kurang),
tekanan darah menurun (tekanan sistolik menurun sampai 80 mmHg atau kurang), disertai kulit yang teraba
dingin dan lembab terutama pada ujung hidung, jari dan kaki, pasien menjadi gelisah, timbul sianosis disekitar
mulut.

E.

Klasifikasi Demam Berdarah Dengue menurut WHO (1975)

Derajat I :

Demam disertai gejala klinis lain atau perdarahan spontan, uji turnikel positif, trombositopeni dan
hemokonsentrasi.

Derajat II :

Derajat I disertai perdarahan spontan dikulit dan atau perdarahan lain.

Derajat III :

Kegagalan sirkulasi: nadi cepat dan lemah, hipotensi kulit dingin, lembab, gelisah.

Derajat IV :

Renjatan berat, denyut nadi dan tekanan darah tidak dapat diukur.

F.

Pemeriksaan Diagnostik

Darah lengkap : hemokonsentrasi (hematokrit meningkat 20% atau lebih) trombositopeni (100.00/mm3 atau
kurang).

Serotogi : uji HI (Hemaaglutination Inhibition test).

Rongten thorax : effusi pleura.

G.

Penatalaksanaan Terapeutik

Minum banyak 1,5-2 liter/24 jam dengan air teh, gula atau susu.
Antipiretik jika terdapat demam.
Antikonvulsan jika terdapat kejang.
Pemberian cairan melalui infus, dilakukan jika pasien mengalami kesulitan minum dan nilai hematokrit
cenderung meningkat.

H.

Tanda-Tanda Perdarahan

1.

Karena manipulasi

Rumpel leed test


a.

Teknik

Klien diukur tekanan darahnya dan dicari sistol dan diastolnya.

Setelah ketemu kemudian dijumlahkan lalu dibagi dua.

Hasil digunakan untuk patokan mempertahankan tekanan air raksa tensimeter.

Pompa lagi balon tensimeter sampai patokan tadi lalu kunci dan pertahankan sampai 5 menit.

Setelah itu buka kuncinya dan mansit dilepaskan.

Kemudian lihat apakah ada petekie / tidak didaerah vola lengan bawah.

b.

Kriteria :
bila jumlah petekie > 20
bila jumlah petekie 10 - 20
bila jumlah petekie 10

2.

Perdarahan spontan

a.

Petekil/ ekimosis

b.

Perdarahan gusi

c.

Epistakeis

d.

Hematomesis/ melena

itas

ahat tidur

minasi alvi

ASUHAN KEPERAWATAN

1.
1.1

1.2

PENGKAJIAN

Biodata / Identitas
DHF dapat menyerang dewasa atau anak-anak terutama anak berumur < 15 tahun. Endemik
didaerah Asia tropik.
Keluhan Utama
Panas / demam.

1.3

Riwayat Penyakit Sekarang


Demam mendadak selama 2-7 hari dan kemudian demam turun dengan tanda-tanda lemah, ujung-ujung
jari, telinga dan hidung teraba dingin dan lembab.
Demam disertai lemah, nafsu makan berkurang, muntah, nyeri pada anggota badan, punggung,
sendi, kepala dan perut, nyeri ulu hati, konstipasi atau diare.

1.4

Riwayat Penyakit Dahulu


Ada kemungkinan anak yang telah terjangkau penyakit DHF bisa berulang DHF lagi, Tetapi penyakit ini
tidak ada hubungannya dengan penyakit yang pernah diderita dahulu.

1.5

Riwayat Penyakit Keluarga


Penyakit DHF bisa dibawa oleh nyamuk jadi jika dalam satu keluarga ada yang menderita penyakit
ini kemungkinan tertular itu besar.

1.6

Riwayat Kesehatan Keluarga


Daerah atau tempat yang sering dijadikan tempat nyamuk ini adalah lingkungan yang kurang
pencahayaan dan sinar matahari, banyak genangan air, vas and ban bekas.

1.7

Riwayat Tumbuh Kembang Anak


Sesuai dengan tumbuh kembang klien.

1.8
1.

ADL
Nutrisi

: Dapat menjadi mual, muntah, anoreksia.

: Lebih banyak berdiam di rumah selama musim hujan dapat terjadi nyeri otot dan sendi, pegal-pegal pada seluruh
tubuh, menurunnya aktifitas bermain.
: Dapat terganggu karena panas, sakit kepala dan nyeri.
: Dapat terjadi diare/ konstipasi, melena.

nal hygiene : Pegal-pegal pada seluruh tubuh saat panas dapat meningkatkan ketergantungan kebutuhan perawatan diri.

1.9

Pemeriksaan

daan umum : Suhu tubuh tinggi (39,4 41,1 0C), menggigit hipotensi,nadi cepat dan lemah.
2. Kulit

: tampak bintik merah (petekil), hematom, ekimosit.

3. Kepala

: mukosa mulut kering, perdarahan gusi, lidah kotor (kadang).

4. Dada
: nyeri tekan epigastrik, nafas cepat dan sering berat.
. Abdomen : pada palpasi teraba pembesaran hati dan limfe pada keadaan dehidrasi turgor kulit menurun.
Anus dan genetalia : dapat terganggu karena diare/ konstipasi.
Ekstrimitas atas dan bawah : ekstrimitas dingin, sianosis.
1. 10 Pemeriksaan Penunjang
Pada pemeriksaan darah pasien DHF akan di jumpai:
1) Hb dan PCV meningkat (20%).
2) Trombositopenia (100.000/ml).
3) Leukopenia (mungkin normal atau leukositosis).
4) Ig.D.dengue positif.
5) Hasil pemeriksaan kimia darah menunjukan: hipoprotinemia, hipokloremia, dan hiponatremia.
6) Urium dan PH darah mungkin meningkat.
7) Asidosis metabolik: pCO <35-40 mmHg HCO rendah.
8) SGOT/SGPT memungkinkan meningkat.

2.

DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Peningkatan suhu tubuh (hipertermi) berhubungan dengan proses infeksi virus.


2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan peningkatan permeabilitas kapiler, perdarahan, muntah dan
demam.
3. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual, muntah, anoreksia.
4. Perubahan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan perdarahan.
5. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan keletihan, malaise sekunder akibat DHF.
6. Kecemasan ringan berhubungan dengan kondisi pasien yang memburuk dan perdarahan yang dialammi pasien.

3.

PERENCANAAN
A. Prioritas Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan kegawatan masalah.

B.
1.

Tujuan, Kriteria hasil : Rencana tindakan dan Rasional Rencana Tindakan

Dx I
Peningkatan suhu tubuh (hipertermi) berhubungan dengan proses infeksi virus.
Tujuan: Anak menunjukkan suhu tubuh dalam batas normal.
Kriteria hasil :

a. Suhu tubuh 36-37 0C


b. Pasien bebas dari demam.
Rencana tindakan :

a. Monitor temperatur tubuh


Rasional : Perubahan temperatur dapat terjadi pada proses infeksi akut.
b. Observasi tanda-tanda vital (suhu, tensi, nadi, pernafasan tiap 3 jam atau lebih sering).
Rasional : Tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien.
c. Anjurkan pasien untuk minum banyak 1 -2 liter dalam 24 jam.
Rasional : Peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan tubuh meningkat sehingga perlu diimbangi
dengan asupan yang banyak.
d. Berikan kompres dingin
Rasional : Menurunkan panas lewat konduksi.
e. Berikan antipiretik sesuai program tim medis
Rasional : Menurunkan panas pada pusat hipotalamus.
2.

Dx II
Kekurangan volume cairan berhubungan dengan peningkatan permeabilitas kapiler, perdarahan, muntah, dan
demam.
Tujuan : Anak menunjukkan tanda-tanda terpenuhinya kebutuhan cairan.
Kriteria hasil :

a. TTV (nadi, tensi) dalam batas normal.


b. Turgor kulit kembali dalam 1 detik.
c. Ubun-ubun datar.
d. Produksi urine 1 cc/ kg/ BB/ jam.
e. Tidak terjadi syok hipovolemik.
Rencana tindakan :
a. Kaji keadaan umum pasien
Rasional : Menetapkan data dasar untuk mengetahui dengan cepat penyimpangan dari keadaan normalnya.
b. Observasi tanda-tanda syok (nadi lemah dan cepat, tensi menurun akral dingin, kesadaran menurun, gelisah)
Rasional : Mengetahui tanda syok sedini mungkin sehingga dapat segera dilakukan tindakan.
c.

Monitor tanda-tanda dehidrasi (turgor kulit turun, ubun-ubun cekung produksi urin turun).
Rasional : Mengetahui derajat dehidrasi (turgor kulit turun, ubun-ubun cekung produksi urin turun).

d.

Berikan hidrasi peroral secara adekuat sesuai dengan kebutuhan tubuh.


Rasional : Asupan cairan sangat diperhatikan untuk menambah volume cairan tubuh.

e.

Kolaborasi pemberian cairan intravena RL, glukosa 5% dalam half strenght NaCl 0,9%, Dextran L 40.

f.

Rasional : Pemberian cairan ini sangat penting bagi pasien yang mengalami defisit volume cairan dengan
keadaan umum yang buruk karena cairan ini langsung masuk ke pembuluh darah.

3.

Dx III
Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual, muntah dan anoreksia.
Tujuan :

Kriteria hasil :
a.

Adanya minat/ selera makan.

b.

Porsi makansesuai kebutuhan.

c.

BB dipertahankan sesuai usia.

d.

BB meningkat sesuai usia.

a.
b.
c.
d.
e.
f.

4.

Rencana tindakan :
Monitor intake makanan
Rasional : Memonitor intake kalori dan insufisiensi kualitas konsumsi makanan.
Memberikan perawatan mulut sebelum dan sesudah makan.
Rasional : Mengurangi rasa tidak nyaman dan meningkatkan selera makan.
Sajikan makanan yang menarik, merangsang selera dan dalam suasana yang menyenangkan.
Rasional : Meningkatkan selera makan sehingga meningkatkan intake makanan.
Berikan makanan dalam porsi kecil tapi sering.
Rasional : Makan dalam porsi besar/ banyak lebih sulit dikonsumsi saat pasien anoreksia.
Timbang BB setiap hari.
Rasional : Memonitor kurangnya BB dan efektifitas intervensi nutrisi yang diberikan.
Konsul ke ahli gizi.
Rasional : Memberikan bantuan untuk menetapkan diet dan merencanakan pertemuan secara individual bila
diperlukan.
Dx IV
Perubahan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan perdarahan.

Tujuan : Anak menunjukkan tanda-tanda perfusi jaringan perifer yang adekuat.


Kriteria hasil :
a.

Suhu ekstrimitas hangat, tidak lembab, warna merah muda.

b.

Ekstrimitas tidak nyeri, tidak ada pembengkakan.

c.

CRT kembali dalam 1 detik.


Rencana tindakan :

a. Kaji dan catat tanda-tanda vital (kualitas dan frekuensi nadi, tensi, capilary reffil).
Rasional : Tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui penurunan perfusi ke jaringan.
b. Kaji dan catat sirkulasi pada ekstrimitas (suhu kelembaban, dan warna).
Rasional : Suhu dingin, warna pucat pada ekstrimitas menunjukkan sirkulasi darah kurang adekuat.
c. Nilai kemungkinan kematian jaringan pada ekstrimitas seperti dingin, nyeri, pembengkakan, kaki.
Rasional : Mengetahui tanda kematian jaringan ekstrimitas lebih awal dapat berguna untuk mencegah kematian jaringan.
5.

Dx V
Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan keletihan malaise sekunder akibat DHF.

Tujuan : Rasa nyaman pasien terpenuhi dengan kriteria nyeri berkurang atau hilang.
Rencana tindakan :
a. Kaji tingkat nyeri yang dialami pasien dengan memberi rentang nyeri (0-10).

Rasional : Mengetahui nyeri yang dialami pasien sehingga perawat dapat menentukan cara mengatasinya.
b.

Kaji faktor-faktor yang mempengaruhi reaksi pasien terhadap nyeri.

Rasional : Dengan mengetahui faktor-faktor tersebut maka perawat dapat melakukan intervensi yang sesuai dengan
masalah klien.
c. Berikan posisi yang nyaman dan ciptakan suasana ruangan yang tenang.
Rasional : Posisi yang nyaman dan situasi yang tenang dapat membuat perasaan yang nyaman pada pasien.
d. Berikan suasana gembira bagi pasien, alihkan perhatian pasien dari rasa nyeri dengan mainan, membaca buku
cerita.
Rasional : Dengan melak ukan ak tifita s lain pasien dapat sedik it mengalihkan perhatiannya terhadap nyeri.
e. Kolaborasi pemberian obat-obatan analgesik.
Rasional : Obat analgesik dapat menekankan rasa nyeri.
6.

Dx VI
Kecemasan ringan berhubungan dengan kondisi pasien yang memburuk dan perdarahan yang dialami pasien.
Tujuan :
Kecemasan berkurang dengan kriteria :
a. Klien tampak lebih tenang.
b. Klien mau berkomunikasi dengan perawat.
Rencana tindakan :
a. Kaji rasa cemas yang dialam oleh pasien.
Rasional : Menetapkan tingkat kecemasan yang dialami oleh pasien.
b. Beri kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan rasa cemasnya.
Rasional : Membantu menenangkan perasaan pasien.
c. Gunakan komunikasi terapeutik.
Rasional : Agar segala sesuatu yang disampaikan pada pasien memberikan hasil yang efektif.
d. Jaga hubungan saling percaya dari pasien dan keluarga.
Rasional : Menjalin hubungan saling percaya antara perawat dengan pasien/ keluarga.
e. Jawab pertanyaan daripasien/ keluarga dengan jujur dan benar.
Rasional : Jawaban jujur dan benar akan menumbuhkan kepercayaan pasien pada perawat.

4. PELAKSANAAN
Prinsip-prinsip pelaksanaan rencana askep pada anak dengan DBD/ DHF.
1.

Mempertahankan pemenuhan kebutuhan cairan.

2.

Mempertahankan suhu tubuh dalam batas normal.

3.

Mempertahankan kebutuhan nut risi.

4.

Mempertahankan perfusi jaringan perifer agar tetap adekuat.

5.

Mempertahankan rasa nyaman pasien.

6.

Mengurangi kecemasan klien.


5. EVALUASI

1.

Mengukur pencapaian tujuan.

2.

Membandingkan tujuan yang telah ditetapkan.

LP ASKEP DHF (Dengue Haemoragic Fever)


Posted on 6 Agustus 2013 | Tinggalkan komentar
BAB I
LAPORAN PENDAHULUAN
A. PENGERTIAN
Dengue Haemoragic Fever (DHF) adalah penyakit demam akut yang disertai dengan adanya
manifestasi perdarahan, yang berpotensial mengakibatkan syok yang dapat menyebabkan
kematian (Arief Mansjoer & Suprohaita; 2000; 419)
Demam berdarah dengue adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue I, II, III, dan IV
yang ditularkan oleh nyamuk aides aegypti dan aides albopictus (Soegijanto, 2006: 61).
Klasifikasi DHF berdasarkan kriteria menurut WHO yaitu :
1. Derajat I ( ringan )
Demam mendadak dan sampai 7 hari di sertai dengan adanya gejala yang tidak khas dan uji
turniquet (+).
2. Derajat II ( sedang )
Lebih berat dari derajat I oleh karena di temukan pendarahan spontan pada kulit misal di
temukan adanya petekie, ekimosis, pendarahan
3. Derajat III ( berat )
Adanya gagal sirkulasi di tandai dengan laju cepat lembut kulit dngin gelisah tensi menurun
manifestasi pendarahan lebih berat( epistaksis, melena)
4. Derajat IV ( DIC )
Gagal sirkulasi yang berat pasien mengalami syok berat tensi nadi tak teraba.
B. ETIOLOGI
Virus dengue serotipe 1, 2, 3, dan 4 yang ditularkan melalui vektor yaitu nyamuk aedes aegypti,
nyamuk aedes albopictus, aedes polynesiensis dan beberapa spesies lain merupakan vektor yang

kurang berperan.infeksi dengan salah satu serotipe akan menimbulkan antibodi seumur hidup
terhadap serotipe bersangkutan tetapi tidak ada perlindungan terhadap serotipe jenis yang lainnya
(Arief Mansjoer & Suprohaita; 2000; 420).
C. PATOFISIOLOGI (pathway)
Virus dengue yang telah masuk ketubuh penderita akan menimbulkan virtemia.
Hal tersebut akan menimbulkan reaksi oleh pusat pengatur suhu dihipotalamus sehingga
menyebabkan (pelepasan zat bradikinin, serotinin, trombin, Histamin) terjadinya: peningkatan
suhu.
Selain itu virtemia menyebabkan pelebaran pada dinding pembuluh darah yang menyebabkan
perpindahan cairan dan plasma dari intravascular ke intersisiel yang menyebabkan hipovolemia.
Trombositopenia dapat terjadi akibat dari, penurunan produksi trombosit sebagai reaksi dari
antibody melawan virus.
Pada Pasien dengan trombositopenia terdapat adanya perdarahan baik kulit seperti petekia atau
perdarahan mukosa di mulut. Hal ini mengakibatkan adanya kehilangan kemampuan tubuh untuk
melakukan mekanisme hemostatis secara normal. Hal tersebut dapat menimbulkan perdarahan
dan jka tidak tertangani maka akan menimbulkan syok . Masa virus dengue inkubasi 3-15 hari,
rata-rata 5-8 hari.
( Smeltzer, Suzanne C dan Brenda G Bare. 2002 ).
D. TANDA DAN GEJALA
1. Masa Inkubasi
Sesudah nyamuk menggigit penderita dan memasukkan virus dengue ke dalam kulit, terdapat
masa laten yang berlangsung 4-5 hari diikuti oleh demam, sakit kepala dan malaise.
2. Demam
Demam terjadi secara mendadak berlangsung selama 2-7 hari kemudian turun menuju suhu
normal atau lebih rendah. Bersamaan dengan berlangsung demam, gejala-gejala klinik yang
tidak spesifik misalnya anoreksia. Nyeri punggung, nyeri tulang dan persediaan, nyeri kepala dan
rasa lemah dapat menyetainya
3. Perdarahan
Perdarahan biasanya terjadi pada hari ke 2 dari demam dan umumnya terjadi pada kulit dan
dapat berupa uji tocniquet yang positif mudah terjadi perdarahan pada tempat fungsi vena,
petekia dan purpura.

Perdarahan ringan hingga sedang dapat terlihat pada saluran cerna bagian atas hingga
menyebabkan haematemesis.
Perdarahan gastrointestinal biasanya di dahului dengan nyeri perut yang hebat.
4. Hepatomegali
Pada permulaan dari demam biasanya hati sudah teraba, meskipun pada anak yang kurang gizi
hati juga sudah. Bila terjadi peningkatan dari hepatomegali dan hati teraba kenyal harus di
perhatikan kemungkinan akan tejadi renjatan pada penderita
5. Renjatan (Syok)
Permulaan syok biasanya terjadi pada hari ke 3 sejak sakitnya penderita, dimulai dengan tanda
tanda kegagalan sirkulasi yaitu kulit lembab, dingin pada ujung hidung, jari tangan, jari kaki
serta sianosis disekitar mulut. Bila syok terjadi pada masa demam maka biasanya menunjukan
prognosis yang buruk.
6. Gejala klinik lain
Nyeri epigastrum, muntah-muntah, diare maupun obstipasi dan kejang-kejang. Keluhan
nyeri perut yang hebat seringkali menunjukkan akan terjadinya perdarahan gastrointestinal dan
syok.
( Smeltzer, Suzanne C dan Brenda G Bare. 2002 ).
E. PENGKAJIAN (Doenges, 2000)
Identitas
Umur, jenis kelamin, tempat tinggal bisa menjadi indicator terjadinya DHF
Riwayat kesehatan

Keluhan utama
Panas

Riwayat kesehatan sekarang

Panas tinggi, nyeri otot, dan pegal, ruam, malaise, muntah, mual, sakit kepala, sakit pada saat
menelan, lemah, nyeri pada efigastrik, penurunan nafsu makan,perdarahan spontan.

Riwayat kesehatan dahulu

Pernah menderita yang sama atau tidak

Riwayat kesehatan keluarga

Adanya anggota keluarga yang pernah menderita penyakit yang sama dan adanya penyakit
herediter (keturunan).
Pemeriksaan fisik

System pernapasan

Sesak, epistaksia, napas dangkal, pergerakan dinding dada, perkusi, auskultasi

System cardivaskular

Pada grade I dapat terjadi hemokonsentrasi, uji tourniquet positif, trombositipeni.


Pada grade III dapat terjadi kegagalan sirkulasi, nadi cepat (tachycardia), penurunan tekanan
darah (hipotensi), cyanosis sekitar mulut, hidung dan jari-jari.
Pada grade IV nadi tidak teraba dan tekanan darah tak dapat diukur.

System neurologi

Nyeri pada bagian kepala, bola mata dan persendian. Pada grade III pasien gelisah dan terjadi
penurunan kesadaran serta pada grade IV dapat terjadi DSS

System perkemihan

Produksi urine menurun, kadang kurang dari 30 cc/jam, akan mengungkapkan nyeri saat
kencing, kencing berwarna merah

System pencernaan

Perdarahan pada gusi, Selaput mukosa kering, kesulitan menelan, nyeri tekan pada epigastrik,
pembesarn limpa, pembesaran pada hati (hepatomegali) disertai dengan nyeri tekan tanpa diserta
dengan ikterus, abdomen teregang, penurunan nafsu makan, mual, muntah, nyeri saat menelan,
dapat muntah darah (hematemesis), berak darah (melena).

System integument

Terjadi peningkatan suhu tubuh (Demam), kulit kering, ruam makulopapular, pada grade I
terdapat positif pada uji tourniquet, terjadi bintik merah seluruh tubuh/ perdarahan dibawah kulit
(petikie), pada grade III dapat terjadi perdarahan spontan pada kulit.
PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan laboratorium

Pada pemeriksaan darah pasien DHF akan di jumpai


1.
2.
3.
4.
5.

Ig.G dengue positif


Trombositopenia
Hemoglobin meningkat
Hemokonsentrasi ( hematokrit meningkat)
Hasil pemeriksaan kimia darah menunjukkan

hipoproteinemia

hiponatremia dan

hipokalemia

Pada hari kedua dan ketiga terjadi lekopenia, netropenia, aneosinophilia, peningkatan limposit,
monosit dan basofil
1.
2.
3.
4.

SGOT atau SGPT darah mungkin meningkat


Ureum dan Ph darah mungkin meningkat
Waktu pendarahan memanjang
Pada pemeriksaan analisa gas darah arteri menunjukkan asidosis metabolik: PCO2 < 35
40 mm Hg, HCO3 rendah

Pemeriksaan serologi

Pada pemeriksaan ini di lakukan pengukuran literantibodi pasien dengan cara haemaglutination
nibitron test (HIT test) atau dengan uji peningkatan komplemen pada pemeriksaan serologi di
butuhkan dua bahan pemeriksaan yaitu pada masa akut atau demam dan masa penyembuhan
( 104 minggu setelah awal gejala penyakit ) untuk pemeriksaan serologi ini di ambil darah vena 2
5 ml.
1. Pemeriksaan sianosis yang menunjang antara lain foto thorak mungkin di jumpai pleural
effusion, pemeriksaan USG hepatomegali dan splenomegali.
1. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Hipertermia berhubungan dengan proses infeksi virus dengue
2. Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan pindahnya cairan intravaskuler
keekstravaskuler.
3. Resiko syok hypovolemik berhubungan dengan perdarahan yang berlebihan,
pindahnya cairan intravaskuler keekstravaskuler.
4. Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekuat akibat mual muntah dan
nafsu makan yang menurun
5. Resiko terjadi perdarahan berhubungan dengan penurunan factor-faktor
pembekuan darah (trombositopeni ).

6. Gangguan rasa nyaman : Nyeri berhubungan dengan hepatomegali.


1. INTERVENSI KEPERAWATAN
No.
1.

Diagnosa Keperawatan
Hipertermia b/d proses infeksi
virus dengue

Tujuan dan Kriteria hasil


Setelah dilakukan
tindakan keperawatan
selama 3 x 24 jam, klien
menujukan temperatur dalan batas
normal

Rencana Keperawatan
Intervensi
1. engobservasi ku dan kelu
2. Observasi suhu klien (der
pola)perhatikan menggigi
3. Pantau suhu lingkungan,
linen tempat tidur sesuai i
4. Berikan kompres hangat h
akohol.
5. Kolaborasi untuk pember
cairan parenteral.

dengan kriteria:
1. Bebas dari kedinginan
2. Suhu tubuh dalam
rentan normal 36,5-

37,5C

3. Mukosa bibir lembab

2.

4. Kulit tidak teraba panas


Resiko defisit volume cairan b/d Setelah dilakukan
pindahnya cairan intravaskuler
keekstravaskuler.
tindakan keperawatan
selama 3 x 24 jam.
Kebutuhan cairan klien dapat terpenuhi
dengan
Kriteria hasil :
1. Input dan output seimbang,
2. Vital sign dalam batas normal
(TD 100/70mmHg, N: 80120x/mnt),
3. Tidak ada tanda presyok,
4. Akral hangat,
5. Capilarry refill < 3detik, Pulsasi
kuat

3.

Resiko syok hypovolemik b/d


perdarahan yang berlebihan,

Setelah dilakukan

1. Observas vital sign tiap 3


2. Observasi capillary.
3. Observasi intake dan outp
jumlah,warna, konsentras
4. Anjurkan untuk minum 1
(sesuai toleransi).
5. Kolaborasi : Pemberian c
plasma atau darah.

pindahnya cairan intravaskuler tindakan keperawatan


keekstravaskuler.
selama 3 x 24 jam.
Tidak terjadi syok
Hipovolemik dengan Kriteria hasil :

1. Monitor keadaan umum k


2. Observasi vital sign setiap
3. Jelaskan pada klien dan k
perdarahan, dan segera la
perdarahan.
4. Kolaborasi : Pemberian c
5. Kolaborasi : pemeriksaan

1. TTV dalam batas normal (TD


100/70 mmHg, N: 80120x/mnt),
4.

5.

Resiko gangguan pemenuhan


kebutuhan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh b/d intake
nutrisi yang tidak adekuat
akibat mual muntah dan nafsu
makan yang menurun

Setelah dilakukan tindakan


keperawatan selama 324 jam.
Kebutuhan nutrisi klien terpenuhi
dengan kriteria hasil :
1. klien menghabiskan separo /
satu porsi makan.
2. nafsu makan meningkat
3. klien tidak terlihat lesu dan
lemah.
4. mukosa bibir tidak kering
5. mual dan muntah berkurang
6. tidak ada tanda-tanda
malnutrisi.
7. tidak terjadi penurunan berat
badan.

Resiko terjadi
Setelah dilakukan tindakan
perdarahan berhubungan dengan keperawatan selama 324 jam. Tidak
penurunan factor-faktor
terjadi perdarahan selama dalam masa
pembekuan darah
perawatan dengan kriteria hasil :
(trombositopeni ).
1. TTV dalam rentan normal
(TD 100/60 mmHg, N: 80100x/menit) reguler, pulsasi kuat.
1. tidak ada perdarahan
spontan (gusi, hidung,
hematemesis dan melena).

1. Kaji riwayat nutrisi, term


yang disukai.
2. Observasi dan catat masu
3. Timbang BB tiap hari (bi
4. Berikan / Anjurkan pada
sedikit namun sering dan
waktu.
5. Berikan dan bantu oral hy
6. Hindari makanan yang m
/ asam) dan mengandung
7. Jelaskan pada klien dan k
penting nutrisi / makanan
penyembuahan.
8. Sajikan makanan dalam k
9. Anjurkan pada klien untu
menarik nafas dalam jika
10. Kolaborasi dalam pember
rendah serat.
11. Observasi porsi makan kl
keluhan klien.

1. Berikan penjelasan kepad


tentang bahaya yang dapa
adanya perdarahan, dan a
melaporkan jika ada tand
gusi, hidung (epistaksis),
atau muntah darah (hema
2. Antisipasi adanya perdara
gigi yang lunak, pelihara
berikan tekanan 5-10 men
darah dan Observasi tand
serta tanda vital (tekanan
pernafasan).
3. Kolaborasi dalam pemeri

2. Trombosit dalam batas normal


(150.000/uL).
3. Anjurkan pada klien untuk
banyak istirahat tirah baring

6.

Nyeri b/d
hepatomegali.

Gangguan rasa nyaman : nyeri


berkurang / terkontrol setelah dilakukan
tindakan keperawatan selama 324
jam, dengan kriteria hasil :
1. skala nyeri berkurang (0-3)
2. ekspresi wajah relax
3. bisa menggunakan teknik
relaksasi dengan baik (nafas
dalam, imajinasi).
4. Kaji keluhan nyeri, lokasi, dan
intensitasnya.

secara berkala (darah leng


4. Monitor tanda-tanda penu
disertai tanda klinis.
5. Monitor trombosit setiap
6. Kolaborasi dalam pember
(trombosit concentrate).

1. Observasi adanya tanda seperti: ekspresi wajah, p


menangis / meringis, men
perubahan frekuensi jantu
tekanan darah.
2. Evaluasi perilaku nyeri.
3. Teknik relaksasi (nafas da
4. Kolaborasi pemberian ana

DAFTAR PUSTAKA
1. Doenges, Marilynn E, dkk, 2000. Penerapan Proses Keperawatan dan Diagnosa
Keperawatan. Jakarta : EGC
2. Hendrayanto. 2004. Ilmu Penyakait Dalam. Jilid 1. Jakarta : FKUIM
3. Mansjoer, Arif dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 2. Jakarta
4. Smeltzer, Suzanne C dan Brenda G Bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.
Edisi 8. Volume 1. Penerbit Buku Kedokteran : EGC
5. Soegijarto, Soegeng. 2006. Demam Berdarah Dengue. edisi 2. Surabaya : Aerlangga
6. Widyastuti, Palupi. 2004. Pencegahan, Pengendalian Dengue Dan Demam Berdarah.
Jakarta : EGC

DAFTAR PUSTAKA
Suriadi, Yuliana R, 2001, Asuhan Keperawatan pada Anak, Edisi I,
Penerbit PT. Fajar Interpratama : Jakarta.
Nelson, 2000, Ilmu Kesehatan Anak, Bagian II, Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta.
Ngastiyah, 1997, Perawatan Anak Sakit, Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta.
http://www.riyawan.com / http://www.smkmuh5babat.info / http://www.babat.web.id