Sunteți pe pagina 1din 2

TATALAKSANA DERMATITIS ATOPIK

Penyebab pasti dematitis atopik masih belum diketahui, oleh karena itu
pengobatannya masih bersifat simtomatik. Tujuan dari tatalaksana D.A yaitu
untuk mengurangi tanda dan gejala penyakit, mencegah/mengurangi
kekambuhan sehingga dapat mengatasi penyakit dan mengubah perjalanan
penyakit dalam jangka waktu lama serta mengubah perjalanan penyakit. (1)
Penatalaksanaan umum
Kulit penderita D.A cenderung lebih rentan terhadap bahan iritan , oleh karena
itu penting untuk mengidentifikasi kemudian menyingkirkan faktor yang
memperberat dan memicu siklus gatal-garuk, misalnya sabun (Bila memakai
sabun hendaknya yang berdaya larut minimal terhadap lemak dan mempunyai
pH netral ) dan detergen; kontak dengan bahan kimia , pakaian kasar , pajanan
terhadap panas/dingin yang ekstrim. Seringkali serangan dermatitis pada bayi
dan anak dipicu oleh iritasi dari luar, misalnya terlalu sering dimandikan, pakaian
terlalu tebal, ketat/ kotor, kebersihan kurang terutama di daerah popok, infeksi
lokal, iritasi oleh urin/feses, bahkan medicated baby oil. Upaya untuk melindungi
daerah yang terkena agar tidak memperparah penyakitnya dari pajanan iritan
atau trauma garukan yaitu usahakan tidak memakai pakaian yang bersifat iritan
(seperti wol),bahan katun lebih baik. Kuku tangan dan kaki sebaiknya dipelihara
sependek mungkin dan dipakaikan sarung tangan. (2)
Pengobatan topikal

Hidrasi kulit. Kulit penderita DA kering dan fungsi sawarnya nerkurang


sehingga mempermudah masuknya mikroorganisme patogen, bahan iritan
dan alergen oleh karena itu perlu diberikan pelembab, misalnya krim
hidrofilik urea 10% dapat pula ditambahkan hidrokortison 1% di dalamnya.
Setelah mandi kulit dilap , kemudian memakai emolien agar kulit tetap
lembab dan dipakai beberapa kali sehari karena lama kerja maksimum 6
jam.
Kortikostroid topikal. Paling sering digunakan sebagai anti-inflamasi lesi
kulit. Pada bayi digunakan salap steroid berpotensi rendah , misalnya
hidrokortison 1-2,5%.
Imunomodulator topikal
- Takrolimus* : suatu penghambat calcineurin, dapat diberikan dalam
bentuk salap 0,03% untuk anak usia 2-15 tahun dan untuk dewasa
0,03% dan 0,1%.
- Pimekrolimus*
*Takrolimus dan Pimekrolimus tidak dianjurkan pada anak usia
kurang dari 2 tahun.
- Preparat ter : mempunyai efek antipruritus dan anti-inflamasi. Dipakai
pada lesi kronis jangan pada lesi akut. (2)

Pengobatan sistemik

Antihistamin : digunakan untuk membantu mengurangi rasa gatal yang


hebat terutama pada malam hari, sehingga mengganggu tidur.

Antihistamin yang yang dipakai ialah yang mempunyai efek sedatif


misalnya hidroksisin atau difenhiramin.
Interferon ( IFN-) : menekan respon IgE dan menurunkan fungsi dan
proliferasi sel Th2. Pengobatan dengan IFN- rekombinan menghasilkan
perbaikan klinis karena dapat menurukan jumlah eosinofil total dalam
sirkulasi.
Siklosporin: obat imunosupresif kuat yang terutama bekerja pada sel T
akan terikat dengan cyclophilin ( suatu protein intraselular) ,menjadi satu
kompleks yang menghambat calcineurin sehingga transkripsi sitokin
ditekan. Efek sampingnya yaitu peningkatan kreatinin dalam serum,
penurunan fungsi ginjal dan hipertensi.

Terapi sinar ( phototherapy )


Sinar matahari dapat bermanfaat pada D.A tetapi bila terlalu panas dan
lembab dapat merangsang keringat dan gatal. Sinar UV yaitu UVA ( bekerja
pada sel Langerhans dan eosinofil ), UVB ( mempunyai efek imunosupresif
dengan cara memblokade fungsi sel Lanngerhans dan mengubah produksi
sitokin keratinosit) , UVA-1, kombinasi UVA dan UVB atau bersama psoralen
( fotokemoterapi ) dapat memperbaiki Dermatitis atopik. Tetapi cara ini dapat
menimbulkan penuaan kulit dini dan keganasan kulit pada pengobatan
jangka lama. Pengobatan ini dipertimbangkan pada D.A yang berat dan luas
yang tidak responsif terhadap pengobatan topikal. Fotokemoterapi tidak
dianjurkan untuk anak usia kurang dari 12 tahun karena dapat mengganggu
perkembangan mata.
Daftar pustaka
1. ( fotokopian dari Dr. Danny )
2. Djuanda A, Hamzah M, Siti A. Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. Edisi 6.

Jakarta : Badan Penerbit FKUI ; 2010. hal:144-6.