Sunteți pe pagina 1din 13

Amar Ma'ruf Nahi Munkar

"Dan haruslah ada diantara kamu suatu ummat yang mengajak kepada kebaikan dan mencegah
kemunkaran. Mereka itulah orang-orang yang berbahagia" (QS Ali 'Imran 104)
Amar ma'ruf nahi munkar merupakan puncak tertinggi dalam ajaran Islam. Menyuruh berbuat kebaikan
dan mencegah kemunkaran. Itu pulalah tujuan utama Allah mengirim Rasul-rasul alaihis salam ke dunia.
Andaikan semua orang lengah dengan sikap amar ma'ruf nahi munkar ini niscaya
kesesatan akan meluas, kebodohan akan merata di seluruh dunia. Negeri akan hancur, rusak binasa,
ketentraman, ketenangan, keamanan akan musnah.
Kewajiban Beramar ma'ruf nahi munkar dan akibat melalaikannya Allah berfirman dalam S. Ali 'Imran
104: "Dan haruslah ada diantara kamu suatu ummat yang mengajak kepada kebaikan dan mencegah
kemunkaran. Mereka itulah orang-orang yang berbahagia". Ayat ini memberi penekanan
akan perintah adanya kewajiban yang harus dilaksanakan dan diusahakan. Dijelaskan juga bahwa
bahagia itu hanya akan tercapai bergantung dengan adanya amar ma'ruf nahi munkar " Wa ulaa ika
humul muflihuun".

Disamping itu, kewajiban yang disebut diatas adalah fardhu kifayah. Jika sudah ada suatu golongan yang
melaksanakannya, maka gugrlah kewajiban itu bagi yang lain-lainnya.
Firman Allah dalam Surah Taubah 71: amar ma'ruf nahi munkar merupakan sifat orang mukmin: "Dan
orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebahagian mereka adalah penolong bagi sebagian
yang lainnya, mereka menyuruh mengerjakan yang ma'ruf , mencegah yang munkar, mendirikan shalat".
Ayat ini memberi penjelasan bahwa sifat amar ma'ruf nahi munkar merupakan sifat orang mukmin. Jika
dia tidak melaksanakannya maka dia keluar dari golongan orang mukmin.
Allah melaknat kaum yang tidak melaksanaannya, dalam S. Maidah 78 dan 79:"Dilaknatilah orang-orang
kafir dari Bani Israil melalui ucapan Daud dan 'Isa bin Maryam. Sebabnya ialah karena mereka
bermaksiat dan melanggar aturan secara luar biasa. Mereka bukannya melarang
kemungkaran, tapi bahkan melakukannya. Alangkah buruknya perilaku orang yang mengerjakan itu".
Ayat ini merupakan ancaman yang amat keras bagi yang melaksanakan kemunkaran.
Tentang keutamaan beramar ma'ruf nahi munkar: S. Ali 'Imran 110: " Kamu semua adalah sebaik-baik
ummat yang dikeluarkan untuk seluruh manusia, sebab kamu semua beramar ma'ruf dan bernahi
munkar. Q.S. A'raf 165:
"Setelah mereka itu lalai tentang apa yang telah diperingatkan, lalu Kami menyelamatkan orang-orang
yang suka mencegah keburukan dan Kami siksalah orang-orang yang zalim dengan memberikan siksa
yang sangat menyakiti dengan sebab mereka itu berbuat kefasikan".
Q.S. Al-Maidah 2:
"Dan bertolong-tolonglah kamu semua dalam kebajikan dan takwa dan janganlah bertolong-tolongan
dalam berbuat dosa dan permusuhan" Ini merupakan perintah yang wajib dilaksanakan. Arti
bertolong-tolongan itu ialah: Mengajak untuk melakukan kebaikan, mempermudah jalan untuk
menempuhnya menutup jalan yang menuju kejahatan. Semua itu harus diupayakan sekuat tenaga.
Dibinasakan orang-orang yang meninggalkannya: Q.S. Hud 116:
"Mengapa tidak ada dari ummat-ummat sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan untuk

melarang dari pada mengerjakan kerusakan di muka bumi, kecuali sebagian kecil diantara orang-orang
yang telah kami selamatkan diantara mereka".
Tingkat-tingkat Nahi Munkar:
1. Memberi penerangan Lakukan dengan ramah dan lemah-lembut. Jangan menyakiti
2. Melarang dengan memberi nasihat memberikan petunjuk yang bagus mengingatkan akan siksa Allah
tetap dengan lemah-lembut bukan dengan kemarahan
3. Melarang dengan kekerasan dengan ucapan bernada paksaan menghindari kata-kata kasar dan tidak
sopan Jangan tergesa-gesa Ucapan haruslah benar dan tidak melantur Kata-kata singkat tetapi
mengesankan di kalbu
4. Melarang dengan kekuasaan menggunakan tangannya: membuang arak merusakkan alat yang
digunakan untuk melakukannya bagi yang berkuasa: menggunakan kekuasaannya.
Adab dan Tata kesopanan
1. Berilmu: mengetahui mana perbuatan yang tergolong harus diamar ma'ruf dan nahi munkarkan. Dan
membatasi diri dalam hal-hal yang berhubungan dengan syariat.
2. Wara' : berniat lillahi Ta'ala, tidak melampau batas yang diizinkan syariat
3. Berbudi yang baik. Tetap menunjukkan sikap kesopanan, lemah-lembut, ramah tamah kepada
siapapun, terutama kepada orang yang hendak diinsyafkan.
Hanya dengan bekal banyak ilmu pengetahuan serta kewara'an belumlah cukup jika usaha itu dilakukan
dengan kemarahan dan keras kepala. Bila kemarahan telah meluap maka akan susah mengontrolnya.
Kalau ketiga sifat diatas telah dimiliki, maka isya Allah sempurnalah tugas yang
akan dilaksanakan. Dan ini termasuk golongan ibadah yang disenangi oleh Allah. Dengan demikian maka
kemungkaran dapat dilenyapkan atau setidaknya dikurangi.
Dalam suatu riwayat, pernah Khalifah Ma'mun dinasihati oleh seseorang dengan kata-kata yang keras
dan kasar. Khalifah dengan tenang berkata:
" Bersikap lunaklah wahai kawan, Sebenarnya Allah telah mengutus orang yang lebih baik daripadamu
kepada orangn yang lebih buruk kelakukannya daripada kelakuanku ini".
Tentang bersikap lemah lembut, Allah berfirman dalam S. Thaha 44:
" Maka katakanlah (wahai Musa dan harun) kepadanya (Fir'aun) dengan ucapan yang lemah lembut,
barangkali ia suka ingat dan takut".
Contoh-contoh Kemungkaran dalam Kehidupan sehari-hari
Kemungkaran itu terbagi atas dua hal :
1. Yang jatuh hukumnya kepada makruh: untuk ini amar ma'rufnya bersifat sunnah.
2. Yang jatuh hukumnya kepada haram. Maka membiarkan perbuatan itu berlaku juga menjadi haram.
Dengan kata lain wajib sifatnya untuk mencegahnya.

Contoh:
Kemungkaran di masjid:
Perilaku Shalat yang jelak:
Misal: tidak bertuma'ninah dalam rukuk dan sujud. Ini merupakan suatu bentuk kemungkaran, malah bisa
membatalkannya. Karena itu wajiblah melarangnya dengan jalan mengingatkan orang tersebut. Kalau
kita melihat orang yang shalatnya jelek dan didiamkan saja, maka yang mendiamkan itu adalah sekutu
yang memperoleh bagian dari dosanya.
Orang yang membaca Al-Quran dengan lagu-lagu yang berlebihan sehingga merusakkan mad-nya.
Inipun wajib di larang dan diajarkan yang benar, demikian juga dengan adzan. Orang yang memberi
penerangan agama, namun dalam penjelasannya dicampuri dengan uraian-uraian dusta, meyesatkan,
khayalan-khayalan yang tidak berasal dari agama. Maka inipun wajib dicegah dan diperbaiki.
Bergerombol-gerombol pada hari Jum'at untuk menjual jamu-jamu, obat-obatan dsb. atau azimat-azimat.
Ini juga merupakan kemungkaran yang wajib dicegah. Masukknya orang yang sedang
mabuk atau mengganggu ketenangan masjid, juga wajib dicegah.
Kemungkaran di Pasar:
Kemungkaran yang terjadi di pasar antara lain berkata dusta dengan harapan mendapatkan keuntungan
jual beli dan juga menutupi cela yang diperjual-belikan. Orang yang berkata: " Modal saya sekian, dan
saya mengambil untung sekian, padahal modalnya tidak sebegaimana yang dia
sebutkan. Maka termasuk perbuatan fasik, dan orang mengetahui dustanya itu hendaklah untuk
memberitahukan kepada pembelinya. Membiarkannya adalah merupakan penghianatan dan perbuatan
dosa. Jika pada barang yang diperdagangkan itu terdapat cela, maka wajiblah yang menjual
memberitahukan kepada pembelinya. Atau ada orang mengetahui cela pada barang yang dijual
temannya, maka ia juga harus memberitahu pembelinya, kalau tidak tentu ia telah ikut bersekutu dalam
menghianati si pembeli. Termasuk juga dalam kemungkaran adalah timbangan, takaran, atau ukuran
yang tidak tepat, karena akan merugikan salah satu pihak. Maka ini wajib untuk diingatkan dan dicegah.
Kemungkaran dan Penjamuan
Termasuk kemungkaran ialah: menghamparkan sutra untuk tamu laki-laki, menghidangkan dengan
cawan, gelas, piring dan perlengkapan yang terbuat dari emas atau perak. Jika dalam perjamuan itu
disediakan minuman keras atau arak maka wajiblah menghindari perjamuan itu dan hendaklah
memberikan peringatan kepada penjamu atau peminumnya. Jika dalam perjamuan itu mendatangkan
pelawak yang suka mengucapkan kata-kata kotor, dusta serta tidak sopan, maka hendaklah dihindari dan
dicegah. Berlebih-lebihan dalam makan dan keindahan hiasan, juga termasuk kemungkaran.
Mengenai hal ini Allah Berfirman: dalam S. Isra' 26-27:
"Janganlah kamu memboroskan hartamu dengan pemborosan yang luar biasa, sesungguhnya para
pemboros harta itu adalah saudaranya syaithan dan adalah sangat ingkar kepada Tuhannya".
Dalam Q.S. Furqon 67:
"Dan mereka (hamba Allah) itu, apabila membelanjakan hartanya tidaklah melampau batas dan tidak pula
sangat kikirnya, tetapi pertengahan diantara kedua macam itu.
Apabila seseorang memiliki sejumlah uang, anaknya banyak dan masih kecil-kecil. Dia tidak memiliki
selain dari uang tersebut. Jika wang itu dihabiskannya untuk mengadakan suatu walimah, maka
perbuatan itu adalah pemborosan. Dan barangsiapa yang mengetahui perbuatan itu wajiblah
melarangnya. Atau orang yang menghabiskan harta untuk menghiasi rumahnya, atau lukisan di
dindingnya, maka ini termasuk pemborosan. Namun jika itu (menghiasi rumah) dilakukan oleh orang yang

memang memiliki harta, tentu tidak sama keadaanya dengan orang seperti disebutkan diatas. Berpakaian
yang bagus-bagus, makan yang lezat, perhiasan yang indah, semuanya adalah mubah pada asalnya,
namun dapat pula menjadi israf (menghamburkan harta) dengan menilik keadaan
seseorang dan jumlah harta yang dimilikinya.

ISLAM adalah agama yang hakiki dan realiti, bukannya agama khayalan atau melawan arus fitrah insan.
Oleh yang demikian, Islam tidak menafikan terdapat di sana perkara-perkara yang dikasihi, disukai dan
dicintai oleh manusia kerana ia sememangnya merupakan kecenderungan dan fitrah setiap insan.
Maka seorang manusia itu akan mengasihi keluarga, harta dan tempat kediamannya. Namun, tidak
sepatutnya terdapat sesuatu di dunia dan akhirat lebih dikasihi daripada kecintaan terhadap Allah dan
Rasul. Jika berlaku sedemikian, maka dia adalah orang yang kurang imannya dan wajib dia berusaha
untuk menyempurnakan keimanannya. Allah SWT telah berfirman yang bermaksud:
Orang-orang yang beriman itu sangat kuat kecintaannya kepada Allah. (al- Baqarah: 165)
Dunia hari ini menyaksikan umat Islam tidak lagi menjulang cinta kepada Allah sebagai cinta yang
utama, tidak lagi mahu bermujahadah mengejar cinta Khaliqnya. Sebaliknya, sentiasa bersemangat dan
memperjuangkan cinta kepada dunia dan hamba-hamba dunia.
Saban waktu sang kekasih berusaha mengenali hati kekasihnya tetapi tidak pernah sesaat sang hamba
berusaha mengenali Khaliq dan kekasihnya yang sepatutnya menjadi cinta awal dan akhirnya.
Menyebut cinta kepada Allah atau menyebut nama Allah terasa tawar dan hambar, tetapi menyebut
cinta kepada manusia terasa sungguh bahagia dan menyeronokkan. Kenapa tragedi ini boleh berlaku,
sedangkan Allah itu bersifat Maha Sempurna, manakala manusia bersifat dengan segala kekurangan.
Mencintai Allah tidak akan pernah ada erti kecewa atau dikhianati. Allah memiliki kemuncak segala
kecantikan, keagungan dan kebaikan. Cinta kepada-Nya pasti dibalas dengan pelbagai curahan nikmat
dan rahsia yang seni.
Pendek kata, akal yang singkat turut mengatakan, Allah paling layak dicintai kerana Dia memiliki segala
ciri-ciri yang diingini oleh seorang kekasih.
Perkara paling pantas untuk menarik seseorang mencintai Allah ialah dengan merenung kemuliaan dan
kemurahan Allah yang sentiasa mencurahkan segala nikmat-Nya pada setiap masa dan ketika, pada
setiap hembusan nafas dan degupan jantung.
Allah berfirman sebagai mengingatkan hamba-hambaNya dengan nikmat-nikmat ini:
Dan jika kamu menghitung nikmat Allah (yang dilimpahkanNya kepada kamu), tiadalah kamu akan
dapat menghitungnya satu persatu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani. (alNahl: 18).

Hanya dengan merenung sejenak, kita akan mendapati bahawa Allah adalah paling layak bagi setiap
cinta dan pujian. Dia lebih utama untuk bertakhta di jiwa setiap insan daripada kecintaan kepada
kedua ibu bapa, anak-anak dan diri sendiri yang berada di antara dua rongga.
Saban hari, kita memerlukan Allah untuk hidup dan menikmati segala kejadian-Nya; cahaya yang
terang, nikmat siang dan malam dan sebagainya. Namun, kenapa masih tidak terkesan di hati kita
menyaksikan limpahan nikmat dan ihsan-Nya, kekuasaan-Nya yang menghairankan orang-orang yang
melihatnya, keagungan-Nya yang tidak mampu diungkapkan oleh orang-orang yang cuba
mengungkapkannya, dan segala sifat keindahan dan kesempurnaan-Nya?
Punca bagi segala permasalahan ini ialah butanya mata hati, ceteknya tauhid dan pengetahuan manusia
tentang Allah. Tidak mungkin seseorang itu mengasihi sesuatu jika dia tidak mengenalinya. Cinta hanya
akan datang setelah didahului dengan pengenalan.
Pada hari ini, manusia lebih mengenali dunia daripada Pencipta dunia. Oleh kerana itu, hati mereka
gersang dari cinta Ilahi, cinta yang hakiki. Kejadian Tuhan terlalu dicintai tetapi Pemiliknya yang
mutlak dilupai sehingga segala suruhan dan larangan-Nya tidak dipeduli.
Agama Tuhan hendak ditegakkan tetapi Tuhan Pemilik agama itu tidak dipasak di dalam hati. Tauhid
tidak dihayati, maka bagaimana tuhan hendak dikenali, apatah lagi dicintai.
Kecintaan kepada Allah adalah suatu kedudukan yang istimewa. Allah mengangkat kedudukan hamba
yang mencintai-Nya kepada setinggi-tinggi darjat. Bagi manusia yang mengutamakan kecintaan kepada
selain Allah, Allah meletakkannya di kedudukan yang hina; menjadi hamba kepada dunia sepanjang
hayatnya.
Tanda cinta kepada Allah
Ramai manusia yang mengaku mencintai Allah tetapi kebanyakan kata-kata mereka tidak melepasi
kerongkong-kerongkong mereka. Cinta itu ada tandanya untuk dikenal pasti yang manakah cinta palsu
dan yang manakah cinta yang hakiki.
Ketahuilah cinta itu seperti magnet yang akan menarik kekasih kepada kekasihnya. Orang yang
mencintai seseorang akan suka bertemu dengan kekasihnya. Orang yang kasihkan Allah tidak merasa
berat untuk bermusafir dari tanah airnya untuk tinggal bersama Kekasihnya menikmati nikmat
pertemuan denganNya.
Rasulullah SAW bersabda: Sesiapa yang suka bertemu Allah, maka Allah suka bertemu dengannya.
Sebahagian salaf berkata: Tidak ada suatu perkara yang lebih disukai Allah pada seseorang hamba
selepas hamba tersebut suka untuk bertemu dengan-Nya daripada banyak sujud kepada-Nya, maka dia
mendahulukan kesukaannya bertemu Allah dengan memperbanyakkan sujud kepada-Nya.
Sufyan al Thauri dan Bisyr al Hafi berkata: Tidak membenci kematian melainkan orang yang ragu
dengan tuhannya kerana kekasih itu pada setiap masa dan keadaan tidak membenci untuk bertemu
dengan kekasihnya.
Allah SWT berfirman:

Maka cita-citakanlah mati (supaya kamu dimatikan sekarang juga), jika betul kamu orang-orang yang
benar. (al-Baqarah: 94)
Seseorang itu tidak suka kepada kematian kadang kala disebabkan kecintaannya kepada dunia, sedih
untuk berpisah dari keluarga, harta dan anak-anaknya. Ini menafikan kesempurnaan kasihnya kepada
Allah kerana kecintaan yang sempurna akan menenggelamkan seluruh hatinya.
Namun, ada kalanya seseorang itu tidak suka kepada kematian ketika berada pada permulaan makam
Mahabbatullah. Dia bukan membenci kematian tetapi tidak mahu saat itu dipercepatkan sebelum dia
benar-benar bersedia untuk bertemu dengan Kekasihnya. Maka dia akan berusaha keras bagi
menyiapkan segala kelengkapan dan bekalan sebelum menjelangnya saat tersebut. Keadaan ini tidak
menunjukkan kekurangan kecintaannya.
Orang yang mencintai Allah sentiasa mengutamakan apa yang disukai Allah daripada kesukaannya zahir
dan batin. Maka dia akan sentiasa merindui amal yang akan mendekatkannya kepada Kekasihnya dan
menjauhkan diri daripada mengikut nafsunya.
Orang yang mengikut nafsunya adalah orang yang menjadikan nafsu sebagai tawanan dan kekasihnya,
sedangkan orang yang mencintai Allah meninggalkan kehendak diri dan nafsunya kerana kehendak
Kekasihnya.
Bahkan, apabila kecintaan kepada Allah telah dominan dalam diri seseorang, dia tidak akan lagi merasa
seronok dengan selain Kekasihnya. Sebagaimana diceritakan, bahawa setelah Zulaikha beriman dan
menikahi Nabi Yusuf a.s, maka dia sering bersendirian dan bersunyi-sunyian beribadat serta tidak
begitu tertarik dengan Yusuf a.s sebagaimana sebelumnya.
Apabila Yusuf AS bertanya, maka dia berkata: Wahai Yusuf! Aku mencintai kamu sebelum aku
mengenali-Nya. Tetapi setelah aku mengenali-Nya, tidak ada lagi kecintaan kepada selainNya, dan aku
tidak mahu sebarang gantian. (Ihya Ulumiddin, Imam al Ghazali Jilid 5 H: 225)
Kecintaan kepada Allah merupakan sebab Allah mencintainya. Apabila Allah telah mengasihinya, maka
Allah akan melindunginya dan membantunya menghadapi musuh-musuhnya. Musuh manusia itu ialah
nafsunya sendiri.
Maka Allah tidak akan mengecewakannya dan menyerahkannya kepada nafsu dan syahwatnya. Oleh
yang demikian Allah berfirman:
Dan Allah lebih mengetahui berkenaan musuh-musuh kamu, (oleh itu awasilah angkara musuh kamu
itu). Dan cukuplah Allah sebagai pengawal yang melindungi, dan cukuplah Allah sebagai Penolong (yang
menyelamatkan kamu dari angkara mereka). (al-Nisa: 45)
Orang yang mencintai Allah, lidahnya tidak pernah terlepas dari menyebut nama Kekasih-Nya dan Allah
tidak pernah hilang dari hatinya. Tanda cinta kepada Allah, dia suka menyebut-Nya, suka membaca al
Quran yang merupakan kalam-Nya, suka kepada Rasulullah SAW dan suka kepada apa yang dinisbahkan
kepada-Nya.
Orang yang mencintai Allah kegembiraan dan keseronokannya bermunajat kepada Allah dan membaca
Kitab-Nya. Dia melazimi solat tahajjud dan bersungguh-sungguh beribadah pada waktu malam yang

sunyi dan tenang. Sesiapa yang merasakan tidur dan berbual-bual lebih lazat daripada bermunajat
dengan Allah, bagaimanakah hendak dikatakan kecintaannya itu benar? Orang yang mencintai Allah
tidak merasa tenang melainkan dengan Kekasihnya. Firman Allah:
(Iaitu) orang-orang yang beriman dan tenang tenteram hati mereka dengan zikrullah. Ketahuilah,
dengan zikrullah itu, tenang tenteramlah hati manusia. (al Rad: 28)
Orang yang mencintai Allah tidak merasa sedih jika kehilangan sesuatu dari dunia ini tetapi amat sedih
jika hatinya tidak lagi memiliki cinta kepada Allah. Besar kesalahan baginya jika ada saat-saat yang
berlalu tidak diisi dengan zikrullah dan ketaatan kepadaNya, apatah lagi jika melakukan larangan Allah.
Orang yang mencintai Allah juga, merasa nikmat dan tidak berasa berat melakukan ketaatan. Dia tidak
merasa ketaatan yang dilakukan semata-mata kerana tunduk dengan perintah-Nya tetapi dilakukan
kerana kecintaan terhadap Kekasihnya. Imam al Junaid r.a berkata: Tanda orang yang cintakan Allah,
sentiasa bersemangat dan cergas melakukan amal ibadah dan hatinya tidak pernah lalai dan letih
daripada mengingatiNya.
Dia tidak pernah merasa sakit menghadapi cercaan orang-orang yang mencercanya kerana
melaksanakan perintah Allah. Semua yang datang dari Kekasihnya sama ada suka atau duka diterima
dengan hati yang gembira dan reda.
Orang yang telah mengenal dan mengecapi cinta Allah tidak akan tertarik dengan cinta yang lain. Itulah
magnet cinta Allah. Alangkah ruginya orang yang hatinya tidak ingin mengenal cinta Allah, cinta yang
hakiki dan sejati.

Allah swt menciptakan manusia dalam pelbagai tingkah laku,ada yang soleh ada yang kurang soleh .
Begitu juga ada yang terus mencari hidayah , namun yang lebih malang lagi ialah orang yang jauh dari
hidayah allah swt . Nur (cahaya) hidayah akan terpancar kepada manusia yang terpilih sahaja .
Alhamdulilah kita dilahirkan dalam keadaan islam dan yakin berterusan sehingga ke penghujung hayat .
Seringkali manusia melakukan kesalahan , samaada kecil atau besar , tua atau muda . Alam ini tidak
akan aman dan makmur jika tidak ada manusia yang menjalankan amar makruf nahi mungkar . Hal ini
kerana manusia asyik lalai dan lupa akan kenapa ia diciptakan? Persoalannya pihak mana yang perlu
dipersalahkan? adakah pemerintah , ibu bapa , ataupun kawan . Dalam hal ini , kita tidak perlu
menunding jari menyalahkan sebelah pihak sahaja . Tetapi apa yang lebih penting ialah diri seseorang
individu itu sendiri harus dipersalahkan . Sebagaimana Allah swt berfirman di dalam al-quran : 104.Dan
hendaklah diantara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan , menyuruh (berbuat )
yang makruf , dan mencegah dari yang mungkar . (137) Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung .
(Ali-imran : 104) (137).Makruf ialah segala perbuatan yang mendekatkan diri kepada allah swt ,
sedangkan mungkar ialah segala perbuatan yang menjauhkan diri dari allah. Allah swt menjadikan
umat islam ialah umat terbaik kerana umat islam saling berpesan diantara satu sama lain. Firman allah
swt dalam al-quran : 110.Kamu (umat islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia , kerana
kamu menyuruh berbuat yang makruf , dan mencegah dari yang mungkar , dan beriman kepada allah .
Sekiranya ahli kitab beriman , tentulah itu lebih baik bagi mereka . Diantara mereka ada yang beriman ,
namun kebanyakan mereka adalah orang yang fasik . (Ali-imran : 110) Terdapat beberapa cara dan

kaedah untuk mencegah kemungkaran sebagaimana hadis di bawah . Walaupun begitu bukan bermakna
hanya itu sahaja cara yang kita mampu lakukan untuk mencegah kemungkaran . Dari Abi Said Al-Khudri
r.a berkata : aku mendengar rasulullah saw bersabda : siapa yang melihat kemungkaran diantara kamu
hendaklah ia mengubah dengan tangan , jika tidak mampu hendaklah ia mengubahnya dengan
lisannya , jika tidak mampu juga hendaklah ia mengubah dengan hatinya , hal yang demikian adalah
selemah-lemah iman . (riwayat muslim). Jelaslah bahawa hadis diatas menyarankan kita mengubah
dengan tangan (kuasa) ika kita mampu melaksanakannnya , jika tidak mampu , maka ubahlah dengan
percakapan , kalau tidak mampu juga bencilah di dalam hati dengan bertekad tidak akan mengikuti jejak
langkah mereka . Akhir kalam , marilah kita semua berganding tenaga untuk saling menasihati diantara
satu sama lain , kerana barangkali kita tidak perasan akan kesalahan yang kita lakukan , bolehjadi orang
lain menyedari kesalahan kita . Oleh yang demikian haruslah kita saling mengingati diantara kita .
Semoga hidup ini lebih bermakna dengan saling mengubah kearah kebaikan . Wassalam...
Copy and WIN : http://bit.ly/copy_win

HUTBAH AMAR MAKRUF NAHI MUNGKAR










.
:
$pkrt t%!$# (#qZtB#u (#q)?$# !$# (#q9q%ur Zwqs% #Yy x=
N3s9 /3n=yJr& tur N3s9 N3t/qR 3 `tBur !$# &s!quur s)s y$s
#qs $Jt

Marilah kita tingkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Kita laksanakan segala suruhan dan
titah perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya. Mudah-mudahan kita tergolong dalam golongan
orang yang berjaya di dunia dan di akhirat kelak.

Sidang Jumaat yang dirahmati Allah sekalian,

Khutbah adalah salah satu daripada rukun daripada rukun-rukun Jumaat. Sehubungan dengan itu mendengar
dan menghayati khutbah menentukan sahnya pahala Jumaat. Sesungguhnya berbicara ketika khutbah
disampaikan walaupun dengan perkataan diam, membawa kepada lagha, yakni sia-sia pahala Jumaat.

Sidang Jumaat yang dirahmati Allah,

Allah SWT berfirman dalam surah Ali Imran ayat 110,

NGZ. uyz >pB& My_z& $Y=9 tbrDs? $ryJ9$$/ cqygYs?ur `t


x6ZJ9$# tbqZBs?ur !$$/ 3 qs9ur tB#u @dr& =tG69$# tb%s3s9 #Z yz Ng9 4
NgZiB cqYBsJ9$# NdsY2r&ur tbq)x9$#

Kamu adalah sebaik-baik umat Yang dilahirkan bagi (faedah) umat manusia, (kerana) kamu menyuruh
berbuat Segala perkara makruf dan melarang daripada Segala perkara Yang munkar, serta kamu pula
beriman kepada Allah (dengan sebenar-benar iman). dan kalaulah ahli Kitab itu beriman (sebagaimana Yang
semestinya), tentulah (iman) itu menjadi baik bagi mereka. (Tetapi) di antara mereka ada Yang beriman dan
kebanyakan mereka: orang-orang Yang fasik.

Di dalam ayat yang dibacakan tadi, Allah SWT menggariskan ciri umat yang terbaik iaitulah umat yang
mengerjakan amar maruf menyuruh segala yang baik dan nahi munkar mencegah segala kemungkaran.
Kewajipan amar makruf dan nahi munkar ini merupakan satu tanggung jawab seluruh umat Islam yang jika
ianya tidak dilaksanakan maka tunggulah apa yang dinyatakan oleh baginda SAW dalam hadith riwayat AtTirmizi yang bermaksud; Demi jiwaku yang berada di dalam genggaman-Nya, hendaklah kamu menyuruh
kepada yang makruf dan mencegah kemungkaran. Atau jika tidak, Allah akan menurunkan azab ke atas
kamu semua, kemudian kamu berdoa kepadaNya, maka doa kamu tidak dikabulkan

Dalam hadis riwayat Imam Ahmad, Rasulallah SAW bersabda, mafhumnya; Tidaklah sesuatu kaum
melakukan maksiat sedangkan terdapat di kalangan mereka orang-orang yang mulia dan mampu menegah
serta mengubahnya tetapi mereka tidak menegah dan mengubah, nescaya Allah akan menimpakan azab
secara menyeluruh kepada mereka.

Sidang Jumaat yang dirahmati Allah sekalian,

Tanggung jawab mencegah kemungkaran dan maksiat merupakan satu kewajipan yang terbeban kepada
semua orang yang beriman, bukan hanya kepada sipolan dan si anu, kepada pegawai itu dan ini, kepada
ketua itu dan ini, kerana ianya sering disebut sebagai tanggung jawab ummah sebagaimana dalam firmannya lagi,

`3tF9ur N3YiB pB& tbqt


n<) s:$# tbrBt ur $r pRQ$$/
tbqygZtur `t s3YJ9$# 4 y7s9r&ur Nd cqs=J9$#

Surah Ali Imran, ayat 104, mafhumnya,dan hendaklah ada di antara kamu satu puak Yang menyeru
(berdakwah) kepada kebajikan (mengembangkan Islam), dan menyuruh berbuat Segala perkara Yang baik,
serta melarang daripada Segala Yang salah (buruk dan keji). dan mereka Yang bersifat demikian ialah orangorang Yang berjaya.

Sabda Rasulallah SAW dalam hadith riwayat Muslim,


Barangsiapa di antara kamu yang melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubah dengan tangannya. Jika
tidak mampu, hendaklah dengan lisannya. Jika tidak mampu, hendaklah dengan hatinya dan itulah selemahlemah iman

Berdasarkan hadith tersebut perbuatan munkar dan maksiat hendaklah dicegah dengan tiga pendekatan;

Pertama; Mencegah dengan tangan, bagi mereka yang memiliki dan memegang tampuk kekuasaan serta
mereka yang mempunyai kekuatan dan keupayaan logistik dari semua peringkat.

Kedua ; Mencegah dengan lidah, iaitu dengan teguran dan nasihat samada secara verbal iaitu lisan atau pun
secara literatur iaitu tulisan mahupun melalui pelbagai alat sebaran am dan teknologi maklumat.

Ketiga ; Mencegah dengan hati, iaitu dengan merasa benci, jijik dan merasa sangat jelek dengan perbuatan
munkar dan maksiat , tidak redha dengannya, menjauhkan diri daripadanya serta menolak dari menyokong
dan mendukung sipelakunya selain tidak sekali-kali akan terlibat dengannya.

Ini adalah selemah-lemah iman, dengan maksud jika tidak ada langsung dalam hati kecilnya untuk rasa
benci, rasa jijik dan jelek terhadap kemungkaran, maka tiadalah imannya. Waliyazubillahi min zalik.

Sidang Jumaat yang diurahmati Allah sekalian,

Jika ketiga-tiga mekanisme ini dapat kita padukan dan laksanakan sudah tentulah akan lahir masyarakat
yang baik dan bersih dari segala gejala buruk dan keji yang mana ia merupakan kerja yang perlu dilakukan
secara bersama dalam semua peringkat bermula dari diri sendiri, keluarga, masyarakat hinggalah ke
peringkat negara.

Seorang suami, seorang ayah, mempunyai kewajipan atas kuasanya sebagai seorang ketua keluarga untuk
mencegah kemungkaran dan maksiat terhadap anak-anak dan isteri-isterinya sebagaimana perintah Allah
dalam Surah At-Tahrim ayat 6 agar kita memelihara diri dan kaum keluarga kita daripada api neraka. Inilah
kaedah yang diajar oleh Islam, agar memulakannya dengan diri sendiri dan keluarganya terlebih dahulu.

Janganlah kita hanya menuding jari kepada orang lain apabila berleluasanya kemungkaran dan maksiat
sedangkan dalam keluarga kita masih ada yang tidak menjalani kehidupan sebagaimana yang dituntut
Islam. Isteri dan anak perempuan tidak menutup aurat, anak-anak bergaul bebas dengan yang bukan
mahram, anak isteri yang tidak solat dan lain-lain yang dibiarkan sahaja tanpa adanya pencegahan daripada
keluarga.

Pada masa yang sama, pihak berkaitan seperti pihak pemerintah, penguatkuasa-penguatkuasa undangundang dan agama, pihak ketua-ketua jabatan, majikan-majikan dan semua yang memiliki kuasa dalam
lingkungan mereka mempunyai kewajipan untuk mencegah sebarang bentuk kemungkaran.

Sidang Jumaat yang dirahmati Allah sekalian,

Apakah yang dikatakan perbuatan mungkar dan maksiat itu ? PARA

ulama menggariskan mungkar itu ialah

apa sahaja iktikad keyakinan, amal perbuatan dan ucapan yang bertentangan dengan hukum syarak. Setiap
perbuatan mungkar adalah maksiat, iaitu kederhakaan kepada Allah SWT.

Kemungkaran yang paling besar sekali ialah syirik kepada Allah iaitu menyengutukan zat Allah,
menyengutukan sifat Allah, menyengutukan nama-nama Allah, menyengutukan perbuatan Allah,
menyengutukan hukum dan undang-undang Allah dan menyengutukan apa sahaja yang menjadi hak Allah.

Diantara perbuatan syirik termasuklah ilmu sihir, ilmu hitam, membela jenglot dan hantu toyol, melakukan
upacara pada kubur dan keramat kerana hajat tertentu serta kepercayaan karut-marut, khurafat dan ajaran
sesat-barat. Perbuatan syirik merupakan dosa besar yang tidak akan diampunkan dosanya oleh Allah SWT
(Surah An-Nisa : 48) diharamkan sipelakunya masuk syurga dan akan masuk ke dalam neraka (Surah AlMaidah : 72). terhapus segala pahala amalannya (Surah Azzumar : 65) dan pelbagai lagi ancaman daripada
Allah SWT dan rasul-Nya SAW. Waliyazubillahi min zalik.

Di antara perbuatan mungkar yang boleh membinasakan negara ialah rasuah yang dianggap biasa dan tidak
ada apa dalam dunia Islam walhal rasuah telah merugikan berbilion ringgit wang ummah. Amat malang dan
malunya kita kononnya khaira ummah, umat yang terbaik, tetapi dalam 10 negara teratas yang hampir tiada
rasuahnya dalam Indeks Persepsi Rasuah CPI 2009, kesemuanya negara bukan Islam, manakala dalam 10
negara paling bawah, iaitu yang paling banyak rasuahnya 7 adalah negara umat Islam. Mengapa kita tidak
merasa benci dengan rasuah, tidak memandang jijik dengan rasuah, tidak merasa jelek dengan perbuatan
rasuah, duit rasuah, perasuah, pengamal rasuah, padahal itu adalah selemah-lemah iman dalam mencegah
kemungkaran.

Selain itu, kezaliman sesama manusia dan haiwan, penyalah gunaan kuasa, mencuri harta dan keselamatan
negara, membocorkan rahsia negara, menyeludup keluar pasir dan hasil mineral, pencerobohan terhadap
hasil hutan dan pembalakan, pengedaran dadah, rumah urut dan pelacuran, penyebaran media lucah dan
lagha, menabur fitnah dan adu domba di alam siber, komplot sorok dan penipuan pelaburan, semuanya
adalah perbuatan mungkar dan maksiat besar yang perlu untuk dicegah secara bersama oleh semua pihak.

Demikian perbuatan-perbuatan mungkar dan maksiat lainnya yang berlaku di hadapan mata kita. Gejala
shahwat dan pergaulan bebas berleluasa dalam masyarakat tidak kira tua apatah lagi yang muda seperti
zina, rogol, bersekedudukan, khalwat dan pencabulan, minum arak dan penagihan dadah; keruntuhan
akhlak dan moral dengan pelbagai bentuk budaya mungkar seperti pengkid, gay, skinhead, black metal dan
sebagainya; kehilangan tata susila murni dan akhlak mulia dengan budaya samseng, kurang ajar dan
vandalisme.

Marilah kita sama-sama berganding bahu melaksanakan amanah Allah untuk menyeru perkara yang makruf
dan mencegah kemungkaran. Marilah kita sama-sama menyokong dan mendukung pihak yang berusaha
membanteras kemungkaran dan maksiat dan kita ramai-ramai menolak pihak yang mengamalkan
kemungkaran dan maksiat. Marilah kita rebut setiap ruang dan peluang yang ada untuk meninggikan dan
memartabatkan hukum Allah di dalam diri, keluarga, masyarakat dan negara kita yang tercinta ini. Mudahmudahan Allah menghindarkan kita daripada bala dan bencana.

AuzubilLahi minasy-Syaitanir-Rajim;

%!$#ur #s) (#q=ys ptss rr& (#qJn=s Nh|Rr& (#r x.s !$# (#rxtG$
$s Ng/qR9 `tBur t
UqR%!$# w) !$# Ns9ur (#r 4n?t $tB (#q=ys
Ndur cqJn=t

Surah Ali Imran ayat 135 yang bermaksud; dan juga orang-orang Yang apabila melakukan perbuatan keji,
atau menganiaya diri sendiri, mereka segera ingat kepada Allah lalu memohon ampun akan dosa mereka
dan sememangnya tidak ada Yang mengampunkan dosa-dosa melainkan Allah -, dan mereka juga tidak
meneruskan perbuatan keji Yang mereka telah lakukan itu, sedang mereka mengetahui (akan salahnya dan
akibatnya).