Sunteți pe pagina 1din 21

BAB 2

LANDASAN TEORI

2.1

Steganografi

2.1.1 Sejarah Steganografi

Teknik steganografi ini sudah ada sejak 4000 tahun yang lalu di kota Menet
Khufu, Mesir. Awalnya adalah penggunaan hieroglyphic yakni menulis
menggunakan

karakter-karakter

dalam

menggunakan tulisan Mesir kuno

bentuk

gambar.

Ahli

tulis

ini untuk menceritakan kehidupan

majikannya. Tulisan Mesir kuno tersebut menjadi

ide untuk membuat

pesan rahasia saat ini. Oleh karena itulah, tulisan Mesir kuno yang
menggunakan gambar dianggap sebagai steganografi pertama di dunia
(Ariyus, 2009).

Tidak hanya bangsa Mesir saja, bangsa-bangsa lain juga telah


mengggunakan teknik steganografi pada masa lalu, yaitu :

1. Teknik steganografi yang lain adalah tinta yang tidak tampak


(invisible ink) yaitu dengan menggunakan air sari buah jeruk, urin
atau susu sebagai tinta untuk menulis pesan. Cara membacanya
adalah dengan dipanaskan di atas api. Tinta yang sebelumnya tidak
terlihat, ketika tekena panas akan menjadi gelap sehingga dapa
dibaca. Teknik ini digunakan oleh bangsa Romawi yang juga
digunakan pada Perang Dunia II.

Universitas Sumatera Utara

2. Bangsa Cina menggunakan cara yang berbeda pula, yaitu manusia


sebagai media pembawa pesan. Orang itu akan dicukur rambutnya
sampai botak dan pesan akan dituliskan di kepalanya. Kemudian
pesan akan dikirimkan ketika rambutnya sudah tumbuh.

3. Pada masyarakat Yunani kuno teknik yang digunakan adalah dengan


menggunakan lilin sebagai media pembawa pesan. Lembaran pesan
akan ditutup dengan lilin. Untuk melihat isi pesan, pihak penerima
harus memanaskan lilin terlebih dahulu.

4. Pada Perang Dunia II, bangsa Jerman menggunakan microdots untuk


berkomunikasi. Penggunaan teknik ini digunakan pada microfilm
chip yang harus diperbesar sekitar 200 kali. Jerman menggunakan
teknik ini untuk kebutuhan perang sehingga pesan rahasia strategi
tidak diketahui pihak lawan. Karena pada saat itu teknik ini
merupakan teknologi baru yang belum bisa digunakan lawan.

2.1.2

Pengertian Steganografi

Steganografi merupakan seni komunikasi rahasia dengan menyembunyikan


pesan pada objek yang tampaknya tidak berbahaya. Keberadaan pesan
steganografi adalah rahasia. Istilah Yunani ini berasal dari kata Steganos,
yang berarti tertutup dan Graphia, yang berarti menulis (Cox et al, 2008).

Steganografi adalah jenis komunikasi yang tersembunyi, yang secara


harfiah berarti "tulisan tertutup." Pesannya terbuka, selalu terlihat, tetapi
tidak terdeteksi bahwa adanya pesan rahasia. Deskripsi lain yang populer
untuk steganografi adalah Hidden in Plain Sight yang artinya tersembunyi

Universitas Sumatera Utara

di depan mata. Sebaliknya, kriptografi adalah tempat pesan acak, tak dapat
dibaca dan keberadaan pesan sering dikenal (Kipper, 2004).

Istilah steganografi berasal dari bahasa Yunani, yaitu steganos yang


berarti penyamaran atau penyembunyian dan graphein yang berarti tulisan.
Jadi, steganografi bisa diartikan sebagai seni menyembunyikan pesan dalam
data lain tanpa mengubah data yang ditumpanginya tersebut sehingga data
yang ditumpanginya sebelum dan setelah proses penyembunyian hampir
terlihat sama (Ariyus, 2009).

Steganografi adalah seni dan ilmu berkomunikasi dengan cara


menyembunyikan keberadaan komunikasi itu. Berbeda dengan Kriptografi,
di mana musuh diperbolehkan untuk mendeteksi, menangkal dan
memodifikasi pesan tanpa bisa melanggar keamanan tempat tertentu yang
dijamin oleh suatu cryptosystem, tujuan dari steganografi adalah untuk
menyembunyikan pesan dalam pesan berbahaya lainnya dengan cara yang
tidak memungkinkan musuh apapun bahkan untuk mendeteksi bahwa ada
pesan kedua. Secara umum, teknik steganografi yang baik harus memiliki
visual / imperceptibility statistik yang baik dan payload yang cukup (Kekre
et al, 2008).

2.1.3

Kriteria Steganografi Yang Baik

Menurut Munir (2006) Ada beberapa kriteria yang harus diperhatikan dalam
steganografi, yaitu :

1. Imperceptibility. Keberadaan pesan rahasia tidak dapat dipersepsi


oleh inderawi. Misalnya, jika covertext berupa citra, maka
penyisipan pesan membuat citra stegotext sukar dibedakan oleh mata

Universitas Sumatera Utara

dengan citra covertext-nya. Jika covertext berupa audio, maka indera


telinga tidak dapat mendeteksi perubahan pada audio stegotext-nya.
2. Fidelity. Mutu stegomedium tidak berubah banyak akibat penyisipan.
Perubahan tersebut tidak dapat dipersepsi oleh inderawi. Misalnya,
jika covertext berupa citra, maka penyisipan pesan membuat citra
stegotext sukar dibedakan oleh mata dengan citra covertext-nya. Jika
covertext berupa audio, maka audio stegotext tidak rusak dan indera
telinga tidak dapat mendeteksi perubahan tersebut.
3. Recovery. Pesan yang disembunyikan harus dapat diungkapkan
kembali. Karena tujuan steganografi adalah data hiding, maka
sewaktu-waktu pesan rahasia di dalam stegotext harus dapat diambil
kembali untuk digunakan lebih lanjut.

2.1.4 Teknik Steganografi

Menurut Ariyus (2009), ada tujuh teknik dasar yang digunakan dalam
steganografi, yaitu :

1. Injection, merupakan suatu teknik menanamkan pesan rahasia secara


langsung ke suatu media. Salah satu masalah dari teknik ini adalah
ukuran media yang diinjeksi menjadi lebih besar dari ukuran
normalnya sehingga mudah dideteksi. Teknik ini sering juga disebut
embedding.

2. Substitusi, data normal digantikan dengan data rahasia. Biasanya,


hasil teknik ini tidak terlalu mengubah ukuran data asli, tetapi
tergantung pada file media dan data yang akan disembunyikan.
Teknik substitusi bisa menurunkan kualitas media yang ditumpangi.

Universitas Sumatera Utara

3. Transform Domain, teknik ini sangat efektif. Pada dasarnya,


transformasi domain menyembunyikan data pada transform space.
Akan sangat lebih efektif teknik ini diterapkan pada file berekstensi
JPG.

4. Spread Spectrum, sebuah teknik pengtransmisian menggunakan


pseudo-noise code, yang independen terhadap data informasi sebagai
modulator bentuk gelombang untuk menyebarkan energi sinyal
dalam sebuah jalur komunikasi (bandwidth) yang lebih besar
daripada sinyal jalur komunikasi informasi. Oleh penerima, sinyal
dikumpulkan kembali menggunakan replika pseudo-noise code
tersinkronisasi.

5. Statistical Method, teknik ini disebut juga skema steganographic 1


bit. Skema tersebut menanamkan satu bit informasi pada media
tumpangan dan mengubah statistik walaupun hanya 1 bit. Perubahan
statistik ditunjukkan dengan indikasi 1 dan jika tidak ada perubahan,
terlihat indikasi 0. Sistem ini bekerja berdasarkan kemampuan
penerima dalam membedakan antara informasi yang dimodifikasi
dan yang belum.

6. Distortion, metode ini menciptakan perubahan atas benda yang


ditumpangi oleh data rahasia.

7. Cover Generation, metode ini lebih unik daripada metode lainnya


karena cover object dipilih untuk menyembunyikan pesan. Contoh
dari metode ini adalah Spam Mimic.

2.1.5 Proses Steganografi

Universitas Sumatera Utara

Secara umum, terdapat dua proses didalam steganografi. Yaitu proses


embedding

untuk

menyembunyikan

pesan

dan

ekstraksi

untuk

mengekstraksi pesan yang disembunyikani. Proses-proses tersebut dapat


dilihat pada gambar dibawah ini:

Gambar 1 menunjukkan proses penyembunyian pesan dimana di


bagian pertama, dilakukan proses embedding hiddenimage yang hendak

Universitas Sumatera Utara

disembunyikan secara rahasia ke dalam stegomedium sebagai media


penyimpanan, dengan memasukkan kunci tertentu (key), sehingga
dihasilkan media dengan data tersembunyi di dalamnya (stegoimage). Pada
Gambar 2, dilakukkan proses ekstraksi pada stegoimage dengan
memasukkan key yang sama sehingga didapatkan kembali hiddenimage.
Kemudian dalam kebanyakan teknik steganografi, ekstraksi pesan tidak
akan mengembalikan stegomedium awal persis sama dengan stegomedium
setelah dilakukan ekstraksi bahkan sebagian besar mengalami kehilangan.
Karena saat penyimpanan pesan tidak

dilakukan pencatatan kondisi awal

dari stegomedium yang digunakan untuk menyimpan pesan (Cox et al,


2008).

2.2

Least Significant Bit

Strategi penyembunyian data citra yang digunakan untuk menyisipkan citra


kedalam media citra adalah dengan metode Least Significant Bit (LSB).
Dimana bit data citra akan digantikan dengan bit paling rendah dalam media
citra. Pada file citra 24 bit setiap piksel pada citra terdiri dari susunan tiga
warna, yaitu merah, hijau dan biru (RGB) yang masing-masing disusun oleh
bilangan 8 bit ( 1 byte ) dari 0 sampai 255 atau dengan format biner
00000000 sampai 11111111. Informasi dari warna biru berada pada bit 1
sampai bit 8, dan informasi warna hijau berada pada bit 9 sampai dengan bit
16, sedangkan informasi warna merah berada pada bit 17 sampai dengan bit
24.

Menurut Kekre et al (2008) istilah algoritma substitusi LSB adalah


skema yang paling sederhana untuk menyembunyikan pesan dalam sebuah
citra host. Ia mengganti bit yang tidak signifikan dari masing-masing piksel
dengan sedikit aliran pesan terenkripsi. Penerima dapat mengambil pesan
dengan menguraikan LSB dari setiap piksel dari stegoimage dengan kunci

Universitas Sumatera Utara

yang diberikan. Karena hanya sedikit yang signifikan dari piksel yang
berubah maka secara visual tidak terlihat oleh manusia.

Metode LSB merupakan teknik substitusi pada steganografi.


Biasanya, arsip 24-bit atau 8-bit digunakan untuk menyimpan citra digital.
Representasi warna dari pikselpiksel bisa diperoleh dari warnawarna
primer, yaitu merah, hijau dan biru. Citra 24-bit menggunakan 3 byte untuk
masingmasing piksel, dimana setiap warna primer direpresentasikan
dengan ukuran 1 byte. Penggunaan citra 24-bit memungkinkan setiap piksel
direpresentasikan dengan nilai warna sebanyak 16.777.216. Dua bit dari
saluran warna tersebut biasa digunakan menyembunyikan data yang akan
mengubah jenis warna piksel-nya menjadi 64 warna. Hal itu akan
mengakibatkan sedikit perbedaan yang tidak bisa dideteksi secara kasat
mata oleh manusia (Ariyus, 2009).

Untuk menjelaskan metode ini, digunakan citra digital sebagai


stegomedium. Pada setiap byte terdapat bit yang tidak signifikan. Misalnya
pada byte 00011001, maka bit LSB-nya adalah 1. Untuk melakukan
penyisipan pesan, bit yang paling tepat untuk diganti dengan bit pesan
adalah bit LSB, sebab pengubahan bit tersebut hanya akan mengubah nilai
byte-nya menjadi satu lebih tinggi atau satu lebih rendah. Sebagai contoh,
urutan bit berikut ini menggambarkan 3 piksel pada stegomedium

24-bit.

(00100111 11101001 11001000)


(00100111 11001000 11101001)
(11001000 00100111 11101001)

Pesan yang akan disisipkan adalah karakter A yang nilai biner-nya


adalah 01000001 (ASCII), maka akan dihasilkan stegoimage dengan urutan
bit sebagai berikut:

Universitas Sumatera Utara

(00100110 11101001 11001000)


(00100110 11001000 11101000)
(11001000 00100111 11101001)

Terlihat hanya tiga bit rendah yang berubah (bit dengan garis
bawah), untuk mata manusia maka tidak akan tampak perubahannya. Secara
rata-rata dengan metode ini hanya setengah dari data bit rendah yang
berubah, sehingga bila dibutuhkan dapat digunakan bit rendah kedua bahkan
ketiga (Lestriandoko, 2006).

2.3

Pengolahan Citra Digital

2.3.1 Pengertian Citra

Citra adalah suatu representasi (gambaran), kemiripan atau imitasi dari


suatu objek. Citra yang berupa output dari suatu sistem perekaman data
dapat bersifat optik berupa foto, bersifat analog berupa sinyal-sinyal video
seperti gambar pada monitor televisi atau bersifat digital yang dapat
langsung disimpan pada suatu media penyimpanan. Citra mempunyai
karakteristik yang tidak dimiliki oleh data teks, yaitu kaya dengan
informasi. Seperti peribahasa yang berbunyi a picture worth a thousand
words sebuah gambar bermakna lebih dari seribu kata. Maksudnya tentu
sebuah gambar lebih banyak memberikan informasi daripada disajikan
dalam bentuk kata-kata (Hestiningsih, 2008).

2.3.1.1 Citra Analog

Universitas Sumatera Utara

Citra analog adalah citra yang bersifat kontinu, seperti gambar pada monitor
televisi, foto sinar-X, foto yang tercetak dikertas foto, lukisan, pemandangan
alam. Citra analog tidak dapat direpresentasikan dalam komputer sehingga
tidak bisa diproses di komputer secara langsung. Oleh sebab itu, agar citra
ini dapat diproses di komputer, proses konversi analog ke digital harus
dilakukan terlebih dahulu. Citra analog dihasilkan dari alat-alat analog,
seperti video kamera analog, kamera foto analog, WebCam, sensor rontgen
untuk foto thorax, sensor gelombang pendek pada sistem radar, sensor
ultrasound pada sistem USG dan lain-lain (Sutoyo et al, 2009).

2.3.1.2 Citra Digital

Citra digital adalah citra yang bersifat diskrit yang dapat diolah oleh
komputer

yang

merupakan

suatu

array

dari

bilangan

yang

merepresentasikan intensitas terang pada point yang bervariasi (piksel).


Piksel ini menghasilkan raster data citra. Suatu ukuran citra yang umum
adalah 640 x 480 piksel dan 256 warna (8 bit per piksel) dan akan berisi
kira-kira 300 kilobyte data. Citra ini dapat dihasilkan melalui kamera digital
dan scanner ataupun citra yang telah mengalami proses digitalisasi. Citra
digital disimpan juga secara khusus di dalam file 24-bit atau 8-bit. Citra 24bit menyediakan lebih banyak ruang untuk menyembunyikan informasi.
Semua variasi warna untuk piksel yang diperoleh dari tiga warna dasar:
merah, hijau dan biru. Setiap warna dasar direpresentasikan dengan 1 byte,
citra 24-bit menggunakan 3 byte per piksel untuk merepresentasikan suatu
nilai warna dan 3 byte ini dapat direpresentasikan sebagai nilai hexadecimal,
decimal, dan biner (Sutoyo et al, 2009).

Pada gambar 2.3. sebuah citra berukuran 235 x 235 piksel dapat
dinyatakan dengan matriks yang berukuran sesuai dengan pikselnya atau
biasa dinyatakan dalam ukuran N x M dimana N untuk baris dan M untuk

Universitas Sumatera Utara

kolom. Kemudian diambil sebuah kotak kecil dari bagian citra itu. Maka
monitor akan menampilkan sebuah kotak kecil. Namun, yang disimpan
dalam memori komputer hanyalah direpresentasikan dengan matriks
berukuran 15 x 15.

154
123
117
106
102
102
77
68
192
196
223
237
221

153
150
114
110
111
103
87
54
55
197
201
205
234

150
158
144
113
113
163
87
66
129
99
189
231
224

147
155
123
147
158
160
99
78
67
88
101
143
213

141
147
134
158
201
176
101
89
76
65
100
143
176

145
154
113
165
187
164
112
101
99
56
76
189
212

157
176
176
134
143
147
165
65
78
105
211
214
223

141
139
143
187
162
126
114
94
117
95
214
198
163

125
176
123
117
106
102
102
113
163
87
66
129
99

137
154
150
114
110
111
103
158
160
99
78
67
88

141
121
158
144
113
113
163
201
176
101
89
76
65

138
145
155
123
147
158
160
187
164
112
101
99
56

138
140
147
134
158
201
176
143
147
165
65
78
105

139
137
154
113
165
187
164
201
176
101
89
76
65

139
135
176
176
134
143
147
187
164
112
101
99
56

Universitas Sumatera Utara

208 221 231 246 214 213 215 199 39 156 111 105 132 100 76
176 200 198 223 225 212 234 178 154 155 115 114 178 143 189

Gambar 2.3 Representasi Citra Digital

Dalam halaman Web, warna latar belakang direpresentasikan dengan


bilangan 6 digit hexadecimal, yang aktualnya tiga ikatan merepresentasikan
merah, hijau dan biru. Latar belakang putih akan mempunyai nilai FFFFFF
yaitu 100% merah (FF), 100% hijau (FF) dan 100% biru (FF). Dengan nilai
desimal 255,255,255 dan nilai biner adalah 11111111, 11111111, 11111111
yang merupakan tiga byte yang menghasilkan putih.

Steganografi pada media digital file citra digunakan untuk


mengeksploitasi keterbatasan kekuatan sistem penglihatan manusia dengan
cara menurunkan kualitas warna pada file citra yang belum disisipi pesan
rahasia. Sehingga dengan keterbatasan tersebut manusia sulit menemukan
gradasi penurunan kualitas warna pada file citra yang telah disisipi pesan
rahasia.

2.3.2 Jenis-Jenis Citra Digital

Ada banyak cara untuk menyimpan citra digital di dalam memori. Cara
penyimpanan menentukan jenis citra digital yang terbentuk. Beberapa jenis
citra digital yang sering digunakan adalah:

1. Citra Biner (Monokrom)

Citra biner hanya memiliki 2 warna yaitu hitam dan putih.


Dibutuhkan 1 bit di memori untuk menyimpan kedua warna ini.

Universitas Sumatera Utara

Bit 0 = warna hitam


Bit 1 = warna putih

Gambar 2.4 Contoh Citra Biner

2. Citra Grayscale

Banyaknya warna tergantung pada jumlah bit yang disediakan di


memori untuk menampung kebutuhan warna ini. Semakin besar
jumlah bit warna yang disediakan di memori, semakin halus gradasi
warna yang terbentuk. Gambar 2.5 menunjukkan perbandingan
gradasi warna untuk jumlah bit tertentu.

Gambar 2.5 Perbandingan Gradasi Warna 1 bit, 2 bit, 5 bit, 6


bit,

Universitas Sumatera Utara

7 bit dan 8 bit.

3. Citra Warna

Setiap piksel pada citra warna memiliki warna yang merupakan


kombinasi dari tiga warna dasar RGB (Red, Green, Blue). Setiap
warna dasar menggunakan penyimpanan 8 bit = 1 byte, yang berarti
setiap warna mempunyai gradasi sebanyak 255 warna. Berarti setiap
piksel mempunyai kombinasi warna sebanyak 28 . 28 . 28 = 224 = 16
juta warna lebih. Itulah yang menjadikan alasan format ini disebut
dengan true color karena mempunyai jumlah warna yang cukup
besar sehingga bisa dikatakan hampir mencakup semua warna di
alam.

Penyimpanan citra true color di dalam memori berbeda


dengan citra grayscale. Setiap piksel dari citra grayscale 256 gradasi
warna diwakili oleh 1 byte. Sedangkan 1 piksel citra true color
diwakili oleh 3 byte, dimana masing-masing byte merepresentasikan
warna merah, hijau dan biru. Gambar 2.6 adalah contoh citra warna.

Universitas Sumatera Utara

Gambar 2.6 Contoh Citra Warna

2.3.3 Pengolahan Citra

Pengolahan citra merupakan kegiatan memperbaiki kualitas citra agar


mudah diinterpretasi oleh manusia/mesin (komputer). Inputannya adalah
citra dan keluarannya juga citra tapi dengan kualitas lebih baik daripada
citra masukan. Misal citra yang warnanya kurang tajam, kabur (blur),
mengandung noise (misal bintik-bintik putih) dan sebagainya perlu ada
pemrosesan untuk memperbaiki citra karena citra tersebut menjadi sulit
diinterpretasikan karena informasi yang disampaikan menjadi berkurang.

(a)

(b)

Gambar 2.7 Citra yang agak kabur (a) dan Citra yang telah diperbaiki
(b)
Pengolahan citra adalah disiplin ilmu yang terdiri dari beberapa
aspek, seperti: matematika, elektronika, fotografi, seni dan teknologi

Universitas Sumatera Utara

komputer. Pada umumnya, disiplin ilmu pengolahan citra berkaitan dengan


disiplin ilmu grafika komputer dan komputer vision, yaitu:

1. Grafika Komputer
Grafika komputer adalah sebuah disiplin ilmu yang mempelajari
proses menciptakan suatu gambar berdasarkan deskripsi objek
maupun latar belakang yang terkandung pada gambar tersebut.
Dengan kata lain grafika mencoba untuk memvisualisasikan suatu
informasi menjadi citra. Jadi, input-nya berupa informasi mengenai
citra yang akan digambar sedang output-nya citra.

2. Komputer Vision
Komputer vision merupakan disiplin ilmu yang mempelajari proses
menyusun deskripsi tentang objek yang terkandung pada suatu
gambar atau mengenal objek yang ada pada gambar. Komputer
vision berusaha menerjemahkan citra menjadi deskripsi atau suatu
informasi yang merepresentasikan citra tersebut. Jadi, input-nya
berupa citra sedang output-nya berupa informasi.

3. Pengolahan Citra Digital


Pengolahan citra digital adalah disiplin ilmu yang mempelajari halhal yang berkaitan dengan perbaikan kualitas gambar (peningkatan
kontras,

transformasi

warna),

transformasi

gambar

(rotasi,

translasi), melakukan pemilihan citra ciri (feature images) yang


optimal untuk tujuan analisis, melakukan proses penarikan
informasi, melakukan kompresi atau reduksi data untuk tujuan
penyimpanan, transmisi dan waktu proses data. Input pengolahan
citra adalah citra sedang output-nya adalah citra hasil pengolahan.

2.3.3.1 Operasi Pengolahan Citra

Universitas Sumatera Utara

Operasi-operasi yang dilakukan di dalam pengolahan citra banyak


ragamnya. Namun, secara umum, operasi pengolahan citra dapat
diklasifikasikan dalam beberapa jenis sebagai berikut:
a. Perbaikan kualitas citra (image enhancement).
Jenis operasi ini bertujuan untuk memperbaiki kualitas citra dengan
cara memanipulasi parameter-parameter citra. Dengan operasi ini,
ciri-ciri khusus yang terdapat di dalam citra lebih ditonjolkan.
Contoh-contoh operasi perbaikan citra:

1. perbaikan kontras gelap/terang


2. perbaikan tepian objek (edge enhancement)
3. penajaman (sharpening)
4. pemberian warna semu (pseudocoloring)
5. penapisan derau (noise filtering)

(a)

(b)

Gambar 2.8 Citra yang agak gelap (a) dan Citra yang telah diperbaiki
kontras gelap/terang (b)

b. Pemugaran citra (image restoration).

Universitas Sumatera Utara

Operasi ini bertujuan menghilangkan/meminimumkan cacat pada


citra. Tujuan pemugaran citra hampir sama dengan operasi perbaikan
citra. Bedanya, pada pemugaran citra penyebab degradasi gambar
diketahui. Contoh-contoh operasi pemugaran citra:

1. penghilangan kesamaran (deblurring).


2. penghilangan derau (noise)

Gambar 2.9 adalah contoh operasi penghilangan kesamaran.


Citra masukan adalah citra yang tampak kabur (blur). Kekaburan
gambar mungkin disebabkan pengaturan fokus lensa yang tidak tepat
atau kamera bergoyang pada pengambilan gambar. Melalui operasi
deblurring, kualitas citra masukan dapat diperbaiki sehingga tampak

lebih baik.
(a)

(b)

Gambar 2.9 Citra yang blur (a) dan Citra yang telah deblurring (b)

c. Pemampatan citra (image compression).

Universitas Sumatera Utara

Jenis operasi ini dilakukan agar citra dapat direpresentasikan dalam


bentuk yang lebih kompak sehingga memerlukan memori yang lebih
sedikit. Hal penting yang harus diperhatikan dalam pemampatan
adalah citra yang telah dimampatkan harus tetap mempunyai kualitas
gambar yang bagus. Contoh metode pemampatan citra adalah format
JPEG. Pada gambar 2.10 (a) adalah citra maskot yang berukuran 158
Kb. Hasil pemampatan citra dengan format JPEG dapat mereduksi
ukuran citra semula sehingga menjadi 88 Kb saja.

(a)

(b)

Gambar 2.10 Citra sebelum dimampatkan (a) dan Citra setelah


dimampatkan(b)

d. Segmentasi citra (image segmentation).


Jenis operasi ini bertujuan untuk memecah suatu citra ke dalam
beberapa segmen dengan suatu kriteria tertentu. Jenis operasi ini
berkaitan erat dengan pengenalan pola.

e. Pengorakan citra (image analysis)

Universitas Sumatera Utara

Jenis operasi ini bertujuan menghitung besaran kuantitif dari citra


untuk

menghasilkan

deskripsinya.

Teknik

pengorakan

citra

mengekstraksi ciri-ciri tertentu yang membantu dalam identifikasi


objek. Proses segmentasi kadangkala diperlukan untuk melokalisasi
objek yang diinginkan dari sekelilingnya. Contoh-contoh operasi
pengorakan citra:

1. Pendeteksian tepi objek (edge detection)


2. Ekstraksi batas (boundary)
3. Representasi daerah (region)

Gambar 2.11 adalah contoh operasi pendeteksian tepi pada citra


hasil camera digital. Operasi ini menghasilkan semua tepi (edge) di
dalam citra.

(a)

(b)

Gambar 2.11 Citra hasil kamera digital (a) dan Citra hasil
pendeteksian seluruh tepi (b)

f. Rekonstruksi citra (image reconstruction)

Universitas Sumatera Utara

Jenis operasi ini bertujuan untuk membentuk ulang objek dari


beberapa citra hasil proyeksi. Operasi rekonstruksi citra banyak
digunakan dalam bidang medis. Misalnya beberapa foto rontgen
dengan sinar X digunakan untuk membentuk ulang gambar organ
tubuh.

Universitas Sumatera Utara