Sunteți pe pagina 1din 5

TERLILIT

Lilitan tali pusat umumnya terjadi sebelum kehamilan cukup besar. Paling sering pada
trimester kedua dimana bayi masih bisa bergerak dengan aktif dan leluasa. Bahkan terkadang
melakukan gerakan ekstrem seperti bersalto. Bila tali pusatnya panjang, kemungkinan dapat
terjadi lilitan tali pusat. Lilitan tali pusat ini bisa terjadi di leher, di bahu atau di lengan dan
tidak selalu berakibat buruk.
Namun jika lilitan tali pusat terjadi berkali-kali, sementara tali pusatnya tidak panjang, ini yang
bisa berdampak buruk pada bayi. Sebab, kata Adi, saat bayi turun ke bawah, tali pusat bisa
menahannya untuk turun. "Umumnya dokter langsung memutuskan untuk sesar."
Adi juga memberi gambaran, lilitan tali pusat pada leher sangat riskan, apalagi bila terjadi
lilitan beberapa kali. "Dapat diperkirakan bahwa makin masuk kepala janin ke dasar panggul,
makin erat lilitan tali pusat dan makin terganggu aliran darah menuju dan dari janin."
Meski lilitan tali pusat dapat diketahui lewat pemeriksaan USG, dokter dapat saja membiarkan
sampai proses persalinan tiba. "Karena lilitan tali pusat tidak bisa dilepas. Yang dilakukan
dokter adalah memantau dan memberitahu si ibu."
Yang jelas, tandas Adi, lilitan tali pusat di leher sekalipun tak harus berujung pada sesar. "Tapi
proses persalinan dipantau ketat. Dalam persalinan kala satu, observasi denyut jantung
dengan alat kardiotokografi sangat penting dilakukan untuk mengetahui apakah terjadi
gangguan pola denyut jantung janin." Bila pola denyut jantung terganggu, persalinan diakhiri
dengan bedah sesar. Karena jika dipaksa lahir dengan normal, bisa berdampak buruk pada
janin

23 Sep
LEHER JANIN TERLILIT TALI PUSAT
Posted September 23, 2008 by luchan in KEHAMILAN. Ditandai:KEHAMILAN. 4 Komentar
sumbser : NAKITA
Saya (26) ibu seorang putri umur 26 bulan. Saat ini saya sedang hamil anak kedua dengan usia
kehamilan 37 minggu. Di minggu ke 36 saya diopname karena demam berdarah dan febris. Febris
ini sudah saya alami sejak kehamilan berusia 28 minggu tanpa mengeluarkan vlek atau cairan
(keputihan maupun cairan ketuban). Selama diopname saya mendapat 2x suntikan untuk
mematangkan paru-paru dan jantung janin. Menurut dokter dikhawatirkan saya melahirkan sebelum
waktunya dan BB bayi saya relatif kecil, hanya 2.450 gram. Hanya saja dari pemeriksaan USG
terakhir tali pusat berada di leher janin (1 lilitan)
Yang ingin saya tanyakan, berbahayakah bagi janin jika menunggu kelahiran di usia kehamilan 40
minggu dengan kondisi lilitan tali pusat di leher? Apakah tali pusat ini bisa lepas atau justru
sebaliknya semakin kencang dan banyak lilitan jika gerakan janin aktif? Apakah yang harus saya
lakukan untuk mengatasi bahaya ini? Kata dokter selama denyut jantung bayi tidak lemah, saya bisa
melahirkan spontan. Jujur saja Dok, saya takut menjalani operasi sesar. Lagi pula katanya dengan
sesar jumlah anak jadi terbatas, padahal saya ingin punya banyak anak. Terima kasih atas
jawabannya.
Syarifah Cipinang Lontar, Jaktim
Demam pada wanita hamil akan mempengaruhi kondisi janin, apalagi bila terjadi infeksi atau
masuknya kuman ke dalam cairan ketuban dan tubuh janin. Pemberian antibiotika dan penurun
panas harus segera dilakukan bila dicurigai Ibu mengalami infeksi. Saat persalinan, perlu dilakukan
pemeriksaan biakan kuman dari cairan ketuban dan darah janin (darah tali pusat). Hal ini penting
untuk penanganan selanjutnya dari bayi Ibu.
Adanya lilitan tali pusat pada janin sulit dipastikan. Dengan teknologi yang ada saat ini, misalnya
USG doppler berwarna dan 3D ditambah pemeriksaan rekam jantung janin (kardiotokografi) hanya

mampu menyatakan kemungkinan besar janin Ibu terlilit tali pusat di lehernya. Bila jumlah lilitan
tersebut hanya satu dan kepala bayi normal serta imbang janin panggul baik, dapat saja Ibu
melahirkan normal. Yang penting adalah pemantauan denyut jantung janin dan gerak janin. Bila Ibu
merasakan gerakan janin berkurang (kurang dari 10 kali dalam 24 jam) atau gerakannya sangat
berlebihan, segeralah ke rumah sakit.
Lama kehamilan normal adalah 3842 minggu. Selama kondisi janin Ibu normal, jumlah air
ketuban normal, dan aktivitas denyut jantung janin normal, Ibu dapat menunggu persalinan hingga
usia 41 minggu. Bila pada usia 41 minggu belum lahir, dokter akan melakukan evaluasi ulang
secara menyeluruh untuk menentukan apakah akan dilakukan induksi persalinan, menunggu satu
minggu lagi, atau melakukan operasi seksio sesarea. Di Jakarta Ibu dapat melakukan konsultasi
dengan dokter di Subbagian Fetomaternal RSPAD Gatot Soebroto atau RSUPN Cipto
Mangunkusumo. Terima kasih atas pertanyaannya.
sumber : IDAI
Leher Terlilit Tali Pusat
Anak saya, sekarang berumur dua minggu. Ketika lahir (proses persalinan normal), lehernya terlilit
tali pusat. Berat badan ketika lahir adalah 3,2 kg dengan panjang badan 49 cm. Selama dua minggu
ini ia minum dengan baik, sering buang air kecil dan kalau malam sering terbangun.
Hal yang saya khawatirkan adalah gangguan yang mungkin terjadi di otaknya. Mungkinkah lilitan
di leher ketika masih di dalam rahim itu dapat mengganggu perkembangan otaknya di kemudian
hari?
Seberapa banyak bayi dalam rahim mengalami lilitan tali pusat? Bagaimana kami bisa mengetahui
jika perkembangan otaknya terganggu? Tindakan apa yang harus kami lakukan untuk mencegah
gangguan yang mungkin terjadi?
Ny. Triwarti, Yogyakarta
Dua puluh sampai tiga puluh persen janin dalam kandungan dapat terlilit tali pusat. Tergantung
tingkat jeratan tali pusat pada keadaan yang ekstrem dapat terjerat kuat di banyak tempat, sehingga
dapat terjadi :
* Gangguan proses persalinan normal ( bayi tidak turun ke rongga panggul menuju jalan lahir).
Persalinan diakhiri dengan operasi caesar.
* Jeratan pada leher janin yang kuat dapat menyebabkan hipoksia (kekurangan oksigen), sehingga
bayi dapat mengalami sindrom gangguan nafas berupa sesak nafas.
* Bayi Anda lahir normal, tidak ada komplikasi. Yang perlu dilakukan adalah pemantauan tumbuh
kembangnya oleh dokter anak. Bila tumbuh kembangnya normal, berarti bayi itu sehat.
dr. Rinawati Rohsiswatmo. Sp.A
IDAI Jaya
Staf Divisi Neonatologi IKA, RSCM-FKUI

Bayi terlilit tali pusat di leher, dijumpai pada sekitar 20% dari persalinan normal, menurut dr.
Nining Haniyanti, SpOG sebenarnya tidak selalu membahayakan janin. Namun dalam proses
persalinan ketika mulai timbul kontraksi rahim (mules) dan kepala janin mulai turun dan memasuki
rongga panggul, maka lilitan tali pusat menjadi semakin erat dan menyebabkan penekanan atau

kompresi pada pembuluh-pembuluh darah tali pusat. Akibatnya, suplai darah yang mengandung
oksigen dan zat makanan ke bayi akan berkurang, yang mengakibatkan bayi menjadi sesak atau
hipoksia, lanjutnya.
Beberapa tanda-tanda yang patut dicurigai bayi terlilit tali pusat:
Pada bayi dengan usia kehamilan lebih dari 34 minggu, namun bagian terendah janin (kepala atau
bokong) belum memasuki pintu atas panggul.
Pada janin letak sungsang atau lintang yang menetap meskipun telah dilakukan usaha untuk
memutar janin.
Dalam kehamilan dengan pemeriksaan USG khususnya color doppler dan USG 3 dimensi dapat
dipastikan adanya lilitan tali pusat.
Dalam proses persalinan pada bayi dengan lilitan tali pusat yang erat, umumnya dapat dijumpai
dengan tanda penurunan detak jantung janin di bawah normal, terutama pada saat kontraksi rahim.
Dengan bantuan alat CTG (kardiotokografi) yang sering digunakan untuk memonitoring janin
dalam persalinan, menunjukkan gambaran penurunan detak jantung janin yang terjadi bersamaan
dengan timbulnya kontraksi rahim.
Jika bayi terlilit tali pusat, harus segera ambil keputusan tepat untuk tetap melanjutkan proses
persalinan yaitu dengan memberikan oksigen pada ibu dalam posisi miring. Namun, bila persalinan
masih akan berlangsung lama dan detak jantung janin semakin lambat (bradikardia), persalinan
harus segera diakhiri dengan tindakan operasi sextio Caesaria.
Sumber: Mother And Baby
Mengapa Bayi Terlilit Tali Pusat ?
Anda pasti pernah mendengar bahwa tali pusat yang melilit janin bisa memicu kematian. Tetapi
ternyata banyak dokter yang mengatakan bahwa lilitan tali pusat tidaklah terlalu membahayakan.
Lilitan tali pusat menjadi bahaya ketika memasuki proses persalinan dan terjadi kontraksi rahim
(mulas) dan kepala janin mulai turun memasuki saluran persalinan.
Lilitan tali pusat menjadi semakin erat dan menyebabkan penekanan atau kompresi pada pembuluhpembuluh darah tali pusat. Akibatnya, suplai darah yang mengandung oksigen dan zat makanan ke
bayi akan berkurang, mengakibatkan bayi menjadi sesak atau hipoksia.
Mengapa Bayi Terlilit Tali Pusat ?
* Pada usia kehamilan sebelum 8 bulan umumnya kepala janin belum memasuki bagian atas
panggul. Pada saat itu ukuran bayi relatif masih kecil dan jumlah air ketuban banyak sehingga
memungkinkan bayi terlilit tali pusat. Pada kehamilan kembar dan air ketuban berlebihan atau
polihidramnion kemungkinan bayi terlilit tali pusat meningkat.
* Tali pusat yang panjang dapat menyebabkan bayi terlilit. Panjang tali pusat bayi rata-rata 50
sampai 60 cm. Namun tiap bayi mempunyai panjang tali pusat berbda-beda. Dikatakan panjang jika
melebihi 100 cm dan dikatakan pendek jika panjangnya kurang dari 30 cm.
[/color]
Apa Penyebab Bayi Meninggal karena Tali Pusat?
*Puntiran tali pusat secara berulang-ulang ke satu arah. Biasanya terjadi pada trimester pertama atau
kedua. Ini mengakibatkan arus darah dari ibu ke janin melalui tali pusat tersumbat total. Karena
dalam usia kehamilan tersebut umumnya bayi masih bergerak dengan bebas.
*Lilitan tali pusat pada bayi terlalu erat sampai dua atau tiga lilitan. Hal tersebut menyebabkan
kompresi tali pusat sehingga janin mengalami kekurangan oksigen.
Lilitan Tali Pusat Pada Janin

Sahabat bidancare pasti pernah mendengar bayi yang mengalami lilitan tali pusat. Pada beberapa
kasus lilitan tali pusat ada yang berakhir dengan kematian janin di dalam kandungan. Namn ada
pula yang bisa tetap sehat sampai lahir cukup bulan.
Mengapa bisa terjadi demikian, dan apakah lilitan tali pusat selalu berbahaya?
Sebenarnya kejadian lilitan tali pusat pada bayi jika tidak terlalu berbahaya asal tidak terlalu erat
dan lilitannya hanya satu atau dua kali. Tetapi jika lilitan tali pusat terlalu erat dan lebih dari 2 kali
lilitan maka akan mengganggu sirkulasi atau peredaran oksigen dari ibu ke janin.
Apakah bayi yang mengalami lilitan tali pusat harus selalu dilahirkan dengan cara operasi
caesarea?
Pada beberapa kasus lilitan tali pusat pada janin ada yang dapat mengganggu proses turunnya
kepala bayi ke dasar panggul. Selain karena lilitan tali pusat , gangguan proses penurunan kepala
bayi ke dasar panggul juga bisa disebabkan karena tali pusat terlalu pendek. Kendati demikian
kehamilan dengan adanya lilitan tali pusat pada janin banyak pula yang bisa melahirkan secara
normal ( spontan ). Dokter atau bidan akan memotong tali pusat pada saat kepala bayi sudah keluar
dari jalan lahir.
Apakah bedanya lilitan tali pusat dengan kelainan tempat tertanam tali pusat ?
Masalah yang berhubungan dengan tali pusat janin dalam kandungan sebenarnya cukup banyak
beberapa diantaranya adalah kelainan tempat tertanamnya tali pusat pada ari ari bayi. Ada yang
tertanam di tepi ari ari ada pula yang hanya tertanam pada selaput ari ari ( insersi
velamentosa ) . Pada kasus insersio velamentosa bisa berakibat perdarahan sebelum bayi lahir dan
kematian pada janin karena kekurangan oksigen. Persalinan pada kasus tertanamnya talipusat pada
selaput plasenta dilakukan dengan tindakan operasi caesarea.
Apa maksudnya terdapat simpul tali pusat pada janin ?
Kelainan yang terdapat pada tali pusat yang berikut adalah simpul tali pusat. Simpul tali pusat ini
ada yang simpul palsu dan simpul sejati. Untuk membedakannya bisa dinilai saat bayi lahir.
Bedanya adalah pada simpul palsu tidak mengganggu peredaran darah dari ibu ke janin. Pada
kelainan talipusat simpul sejati ini seringkali diakibatkan karena janin yang terlalu lincah bergerak.
Akibatnya sangat fatal yaitu kematian janin dalam rahim karena kekurangan aliran oksigen dari ibu.
Apa yang bisa kita lakukan untuk memantau kondisi janin dalam kandungan?
Perhatian untuk ibu hamil, pada kehamilan 16 sampai 20 minggu bayi biasanya sudah mulai
bergerak aktif. Penghitungan gerakan janin juga sangat membantu untuk memantau keadaan janin
dalam kandungan. Bila bayi terasa bergerak sangat lincah lalu tiba tiba tidak terasa gerakan lagi
selama sehari kurang dari 10 kali. Sebaiknya anda segera menghubungi bidan atau dokter.
Pemeriksaan detak jantung menjadi sangat penting untuk penilaian keadaan bayi dalam kandungan.
Bidancare.Romana Amd Keb ; Ilmu Kebidan dan Penyakit Kandungan. Prof Ida Bagus Gde
Manuaba SpOG dan dari berbagai sumber.
Selengkapnya:http://www.bidancare.com/2010/05/lilitan-tali-pusat-pada-janin/
Penatalaksanaan awal asfiksia
Cegah pelepasan panas yang berlebihan, keringkan ( hangatkan ) dengan menyelimuti seluruh
tubuhnya terutama bagian kepala dengan handuk yang kering

Bebaskan jalan nafas : atur posisi, isap lendir


Bersihkan jalan nafas bayi dengan hati-hatidan pastikan bahwa jalan nafas bayi bebas dari hal-hal
yang dapat menghalangi masuknya udara kedalam paru-paru. Hal ini dapat dilakukan dengan:
Ekstensi kepaladan lehert sedikit lebih brendah dari tubuh bayi
Hisap lendir, cairan pada mulut dan hidung bayi sehingga jalan nafas bersih dari cairan ketuban,
mekonium/ lendir dan menggunakan penghisap lendir Delee
Rangsangan taktil, bila mengeringkan tubuh bayi dan penghisapan lendir/ cairan ketuban dari mulut
dan hidung yang dasarnyan merupakan tindakan rangsangan belumcukup untuk menimbulkan
pernafsan yang adekuat padabayi lahir dengan penyulit, maka diperlukan rangsangan taktil
tambahan. Selama melakukan rangsangan taktil, hendaknya jalan nafas sudah dipastikan bersih.
Walaupun prosedur ini cukup sederhana tetapi perlu dilakukan dengan cara yang betul. Ada 2 cara
yang memadai dan cukup aman untuk memberikan rangsangan taktil, yaitu:
Menepukan atau menyentil telapak kaki dan menggosok punggung bayi. Cara ini sering kali
menimbulkan pernafasan pada bayi yang mengalami depresi pernafasan yang ringan
Cara lain yang cukup aman adalah melakukan penggosokan pada punggung bayi secara cepat,
mengusap atau mengelus tubuh, tungkai dan kepala bayi juga merupakan rangsangan taktil tetapi
rangsangan yang ditimbulkan lebih ringan dari menepuk, menyentil, atau menggosok. Prosedur ini
tidak dapat dilakukan pada bayi yang appnoe, hanya dilakukan pada bayi yang telah berusaha
bernafas. Elusan pada tubuh bayi, dapat membantu untuk meningkatkan frekuensi dari dalamnya
pernafasan.