Sunteți pe pagina 1din 14

PEDOMAN PENYELENGGARAAN PELAYANAN DI POLI KESEHATAN KERJA

PUSKESMAS KEBOMAS
BAB 1
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Puskesmas merupakan suatu kesatuan organisasi kesehatan fungsional yang
merupakan pusat pengembangan kesehatan masyarakat yang juga membina peran
serta masyarakat disamping memberikan pelayanan secara menyeluruh dan terpadu
kepada masyarakat di wilayah kerjanya dalam bentuk kegiatan pokok. Wilayah kerja
puskesmas meliputi satu kecamatan atau sebagian dari kecamatan. Faktor kepadatan
penduduk, luas daerah, keadaan geografi dan keadaan infrastruktur lainnya merupakan
bahan pertimbangan dalam menentukan wilayah kerja puskesmas.
Sasaran penduduk yang dilayani oleh sebuah puskesmas rata-rata 30.000.
penduduk. Untuk perluasan jangkauan pelayanan kesehatan maka puskesmas perlu
ditunjang dengan unit pelayanan kesehatan yang lebih sederhana yaitu Puskesmas
Pembantu dan Puskesmas Keliling.Pelayanan kesehatan yang diberikan di Puskesmas
adalah pelayanan kesehatan yang meliputi pelayanan pengobatan (kuratif), upaya
pencegahan (preventif), peningkatan kesehatan (promotif) dan pemullihan kesehatan
(rehabilitatif) yang ditujukan kepada semua penduduk.
Pelayanan kesehatan yang bermutu adalah pelayanan kesehatan yang dapat
memuaskan setiap pemakai jasa pelayanan kesehatan sesuai dengan tingkat kepuasan
rata-rata penduduk, serta yang penyelenggaraannya sesuai dengan kode etik dan
standar pelayanan profesi yang telah ditetapkan.
UKK adalah kegiatan pengembangan Puskesmas yang ditujukan terutama pada
masyarakat pekerja formal maupun informal di wilayah kerja Puskesmas dalam rangka
memberikan perlindungan kesehatan dan keselamatan kerja kepada masyarakat pekerja
di wilayah kerja Puskesmas.
Untuk memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu, maka di Poli Kesehatan
Kerja perlu dibuat standar pelayanan yang merupakan pedoman bagi semua pihak
dalam tata cara pelaksanaan pelayanan yang diberikan ke pasien pada umumnya dan
khususnya pasien poli Kesehatan Kerja Puskesmas Kebomas. Berkaitan dengan hal
tersebut diatas maka, dalam melakukan pelayanan poli Kesehatan Kerja
berdasarkan standar pelayanan di Puskesmas Kebomas.

harus

B. TUJUAN
Sebagai bahan pedoman untuk mengupayakan pencegahan dan pengobatan pasien
secara optimal melalui prosedur dan tindakan yang dapat dipertanggungjawabkan.
C. RUANG LINGKUP PELAYANAN
Ruang lingkup pelayanan Poli Kesehatan Kerja meliputi :
Anamnesa, pemeriksaan fisik, menegakkan diagnosa, dan pemberian terapi.
D. BATASAN OPERASIONAL
Kegiatan pelayanan di poli Kesehatan Kerja ditujukan pada pasien pekerja baik formal
maupun informal dengan kasus penyakit selain gigi/mulut, TB/Kusta dan KIA.
E. LANDASAN HUKUM
1.

Undang undang No 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan

2.

Undang undang No 29 Tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran

3.

Undang undang No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen

4.

Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No 75 Tahun 2014 tentang Pusat Kesehatan


Masyarakat

5.

Surat keputusan Menteri Kesehatan RI No.1758 tahun 2013 tentang Standart


Pelayanan Kesehatan Kerja Dasar

BAB II
STANDAR KETENAGAAN
A. KUALIFIKASI SUMBER DAYA MANUSIA
Pola ketenagaan dan kualifikasi SDM poli Kesehatan Kerja adalah :
No

Jenis

Kompetensi

Kompetensi

ketenenagaan

(Ijazah)

tambahan

Fungsional dokter

Dokter

(pelatihan)
Pelatihan

Jumlah

ATLS,
Hiperkes
2

Fungsional

D III

Pelatihan

perawat terampil

Keperawatan

PPGD/ BCLS

B. DISTRIBUSI KETENAGAAN
Petugas di poli Kesehatan Kerja berjumlah 2 (dua) orang dengan standar minimal sudah
melaksanakan pelatihan PPGD/BCLS.
Kategori :
1 orang dokter
1 orang perawat

C. JADWAL PELAYANAN
Jam buka pelayanan

senin kamis

07.30 - 11.00

jumat

07.30 - 10.00

sabtu

07.30 - 10.30

BAB III
STANDAR FASILITAS
A. DENAH RUANGAN POLI KESEHATAN KERJA

u
l

m
o

n
p
d
g
e

f
v

Keterangan:
a
b
c
d
e
f
g
h
i
j
k
l

pintu
jendela
meja
laci: spignomanometer, tht set, atk besar
kursi dokter
kursi perawat
kursi pasien
tempat tidur periksa + standar infus (di bawahnya)
bantal
tangga tempat tidur
wastafel
lemari arsip

m
n
o
p
q
r
s
t
u
v
w
x

lemari petugas & logistic


telepon
stetoskop
timbangan 2 in 1
emergency set
safety box
tempat sampah medis
tempat sampah anorganik
tempat sampah organic
formulir-formulir
aseptic gel & kasa
atk, thermometer, senter & resep

B. STANDAR FASILITAS
Poli Kesehatan Kerja berlokasi tengah Puskesmas, diantara Ruang Kepala
Puskesmas dan Kamar Obat Puskesmas Kebomas. Ruangan terdiri dari 1 (satu) tempat
tidur pemeriksaan dan mempunyai wastafel untuk cuci tangan.
Di Poli Kesehatan Kerja tersedia emergency set untuk penanganan anafilaktic
shock, juga APD dan bahan lain yang diperlukan untuk mencegah infeksi nosokomial
maupun kecelakaan kerja.
Rincian peralatan di Poli Kesehatan Kerja meliputi :
A.

Set Pemeriksaan Umum


1. Spignomanometer
2. Steteskop
3. Termometer axila
4. Timbangan Dewasa (2 in 1)
5. THT set
6. Lampu Senter

B. Bahan Habis Pakai


1. Masker
2. Sabun cuci tangan
3. Aseptic gel
4. Kasa
C. Perlengkapan
1. Bantal
2. Tangga tempat tidur
3. Safety Box
4. Tempat sampah medis bertutup

5. Tempat sampah non medis bertutup (organik dan anorganik)


D. Meubelair
1. Kursi
2. Meja
3. Lemari arsip
4. Lemari petugas
5. Tempat tidur periksa dan standar infus

E. Pencatatan dan Pelaporan


1. Buku Register Poli Kesehatan Kerja
2. Buku Register Rujuk Balik
3. Formulir pelayanan RJPT
4. Formulir Klaim Rawat Jalan Subsidi
5. Formulir Rujukan antar Poli
6. Kertas Resep:
a) Resep obat BPJS (warna hijau)
b) Resep obat PKD (warna putih)
c) Resep obat Pelengkap (warna merah muda)
d) Resep obat Rujuk Balik
e) Resep obat luar
7. Formulir Permintaan Konsultasi Gizi
8. Formulir Rujukan Klinik Sanitasi
9. Formulir Persetujuan Tindakan Medis
10. Formulir Penolakan Tindakan Medis
11. Formulir Permintaan Pemeriksaan Laboratorium

BAB IV
TATALAKSANA PELAYANAN

A. TATA LAKSANA PELAYANAN POLI KESEHATAN KERJA


a. Petugas

Penanggung

Jawab
Perawat poli
b. Perangkat Kerja
1. Rekam Medis
2. ATK

3. Timbangan dewasa (2 in1)


4. Stetoskop

5. Termometer Axilla
6. Spignomanometer
7. THT set
8. Lampu senter

c. Tata Laksana Pelayanan


Poli Kesehatan Kerja
1. Petugas menerima rekam medis dari petugas loket
2. Petugas memanggil pasien sesuai nomer urutan
3. Petugas melakukan anamnese dan pemeriksaan fisik yang diperlukan
4. Petugas mengevaluasi hasil pemeriksaan dan menyarankan untuk pemeriksaan
laboratorium/tindakan medis/rujuk rumah sakit apabila diperlukan
5. Bila tidak memerlukan rujukan, petugas memberikan terapi sesuai Buku
Pengobatan Dasar Puskesmas
6. Petugas menyerahkan resep pada pasien dan menganjurkan kontrol kembali
apabila diperlukan

B. TATA LAKSANA SISTEM RUJUKAN


I.

Petugas Penanggung Jawab


Dokter
Perawat

II.

III.

Perangkat Kerja

Formulir rujukan antar Poli

ATK

Tata Laksana Sistim Rujukan


1.

Rujukan luar gedung

Pasien/keluarga pasien dijelaskan oleh petugas mengenai keadaan pasien


untuk dirujuk ke Rumah Sakit guna pemeriksaan/pengobatan lebih lanjut.

Petugas mengisi form rujukan antar Poli dengan kelengkapan: asal Poli,
Poli dan Rumah Sakit tujuan, Identitas pasien, keluhan, diagnosa, hasil
pemeriksaan fisik/laboratorium bila perlu

2.

Pemeriksaan Laboratorium

Pasien/keluarga

pasien

dijelaskan

oleh

petugas

mengenai

tujuan

pemeriksaan laboratorium

3.

Petugas mengisi formulir Permintaan Pemeriksaan Laboratorium

Rujukan dalam gedung

Pasien/keluarga pasien dijelaskan mengenai tujuan pemeriksaan/tindakan


lanjutan

Khusus bagi tindakan medis, pasien di rujuk ke Poli 24 Jam

Petugas mengisi formulir rujukan antar poli dan mrnyerahkannya kepada


pasien

Pasien dipersilakan menuju ke poli tujuan sambil membawa Rujukan antar


Poli

BAB V
LOGISTIK

A. Emergency Set
1. Aminophilin injeksi jumlah1
2. Ephinefrin injeksi jumlah1
3. Dipenhidramine injeksi jumlah 2
4. Dexa injeksi jumlah 1
5. RL jumlah 1
6. Surflow 24G jumlah 1
7. Infusion Set Dewasa jumlah 1
8. Spuit 3 cc jumlah 2
Penyediaan emergency set dikontrol setiap bulan sekali dan dicatat pada kartu
kendali

obat

emergensi.

Apabila

terdapat

pemakaian/pengembelian

barang

kadaluarsa/permintaan penambahan stok, maka dibuat LPLPO oleh petugas poli


kepada Penanggung jawab gudang obat sesuai SOP yang berlaku.
B. Alat dan Bahan Pelindung Diri dan Pasien
1. Masker earloop
2. Hanscoen
3. Kasa
4. Sabun cuci tangan
5. Aseptic gel
6. Tisu

BAB VI
KESELAMATAN PASIEN
Keselamatan Pasien (Patient Safety) Adalah suatu sistem dimana tempat pelayanan
kesehatan membuat asuhan pasien lebih aman. Hal ini termasuk assesment resiko,
identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan resiko pasien, pelaporan dan
analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya, implementasi solusi
untuk meminimalkan timbulnya risiko. Sistem ini mencegah terjadinya cedera yang
disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil
tindakan yang seharusnya diambil.
Tujuan penerapan keselamatan pasien adalah terciptanya budaya keselamatan pasien,
meningkatkan akuntabilitas puskesmas terhadap pasien dan masyarakat, menurunkan
kejadian

tidak diharapkan (KTD) di puskesmas,

terlaksananya

program- program

pencegahan sehingga tidak terjadi pengulangan kejadian tidak diharapkan.


Puskesmas Kebomas wajib menerapkan standar keselamatan pasien yang meliputi :
1.

Hak pasien

2.

Mendidik pasien dan keluarga

3.

Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan

4.

Penggunaan metoda-metoda peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi dan


program peningkatan keselamatan pasien

5.

Mendidik staf tentang keselamatan pasien

6.

Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien

7.

Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan pasien

Tujuh langkah menuju keselamatan pasien di puskesmas Kebomas adalah :


1.

Membangun kesadaran akan nilai keselamatan pasien

2.

Memimpin dan mendukung staf

3.

Mengintegrasikan aktivitas pengelolaan resiko

4.

Mengembangkan sistem pelaporan

5.

Melibatkan dan berkomunikasi dengan pasien

6.

Belajar dan berbagi pengalaman tentang keselamatan pasien

7.

Mencegah cedera melalui implementasi sistem keselamatan pasien

BAB VII
KESELAMATAN KERJA
I.

Pendahuluan
HIV / AIDS telah menjadi ancaman global. Ancaman penyebaran HIV menjadi
lebih tinggi karena pengidap HIV tidak menampakkan gejala. Setiap hari ribuan anak
berusia kurang dari 15 tahun dan 14.000 penduduk berusia 15 - 49 tahun terinfeksi HIV.
Dari keseluruhan kasus baru 25% terjadi di Negara-negara berkembang yang belum
mampu menyelenggarakan kegiatan penanggulangan yang memadai.
Angka pengidap HIV di Indonesia terus meningkat, dengan peningkatan kasus
yang sangat bermakna. Ledakan kasus HIV/AIDS terjadi akibat masuknya kasus
secara langsung ke masyarakat melalui penduduk migran, sementara potensi
penularan dimasyarakat cukup tinggi (misalnya melalui perilaku seks bebas tanpa
pelindung, pelayanan kesehatan yang belum aman karena belum ditetapkannya
kewaspadaan umum dengan baik, penggunaan bersama peralatan menembus kulit:
tato, tindik, dll).
Penyakit Hepatitis B dan C, yang keduanya potensial untuk menular melalui
tindakan pada pelayanan kesehatan. Sebagai ilustrasi dikemukakan bahwa menurut
data PMI angka kesakitan hepatitis B di Indonesia pada pendonor sebesar 2,08% pada
tahun 1998 dan angka kesakitan hepatitis C dimasyarakat menurut perkiraan WHO
adalah 2,10%. Kedua penyakit ini sering tidak dapat dikenali secara klinis karena tidak
memberikan gejala.
Dengan munculnya penyebaran penyakit tersebut diatas memperkuat keinginan
untuk mengembangkan dan menjalankan prosedur yang bisa melindungi semua pihak
dari penyebaran infeksi. Upaya pencegahan penyebaran infeksi dikenal melalui
Kewaspadaan Umum atau Universal Precaution yaitu dimulai sejak dikenalnya
infeksi nosokomial yang terus menjadi ancaman bagi Petugas Kesehatan.
Tenaga kesehatan sebagai ujung tombak yang melayani dan melakukan kontak
langsung dengan pasien dalam waktu 24 jam secara terus menerus tentunya
mempunyai resiko terpajan infeksi, oleh sebab itu tenaga kesehatan wajib menjaga
kesehatan dan keselamatan darinya dari resiko tertular penyakit agar dapat bekerja
maksimal.

II.

Tujuan
a. Petugas kesehatan dalam menjalankan tugas dan kewajibannya dapat melindungi
diri sendiri, pasien dan masyarakat dari penyebaran infeksi.
b. Petugas kesehatan menerapkan prinsip Universal Precaution dalam menjalankan
tugas dan kewajibannya, untuk mengindarkan diri dari paparan resiko tinggi
terinfeksi penyakit menular dilingkungan tempat kerjanya.

III.

Tindakan yang beresiko terpajan


a. Cuci tangan yang kurang benar.
b. Penggunaan sarung tangan yang kurang tepat.
c.

Penutupan kembali jarum suntik secara tidak aman.

d. Pembuangan peralatan tajam secara tidak aman.


e. Tehnik dekontaminasi dan sterilisasi peralatan kurang tepat.
f.
IV.

Praktek kebersihan ruangan yang belum memadai.

Prinsip Keselamatan Kerja


Prinsip utama prosedur Universal Precaution dalam kaitan keselamatan kerja
adalah menjaga higiene sanitasi individu, higiene sanitasi ruangan dan sterilisasi
peralatan. Ketiga prinsip tesebut dijabarkan menjadi 5 (lima) kegiatan pokok yaitu :
a. Cuci tangan guna mencegah infeksi silang
b. Pemakaian alat pelindung diantaranya pemakaian sarung tangan guna mencegah
kontak dengan darah serta cairan infeksi yang lain.
c.

Pengelolaan alat kesehatan bekas pakai

d. Pengelolaan jarum dan alat tajam untuk mencegah perlukaan


e. Pengelolaan limbah dan sanitasi ruangan.

BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU
Indikator mutu yang digunakan di poli Kesehatan Kerja Puskesmas Kebomas dalam
memberikan pelayanan adalah Kelengkapan pengisian rekam medis > 90%.
Tujuan ditetapkannya indikator mutu ini adalah untuk menjamin dan meningkatkan
mutu pelayanan kepada pasien pekerja yang berkunjung ke Poli Kesehatan Kerja Unit
Pelaksana Teknis Puskesmas Kebomas. Kelengkapan pengisian rekam medis di Poli
Kesehatan Kerja berguna untuk mendeteksi angka kesakitan yang disebabkan karena faktor
pekerjaan pasien, sehingga dapat digunakan sebagai data obyektif untuk menentukan
strategi pengembangan program UKK.
Strategi yang digunakan untuk mencapai penigkatan mutu ini adalah dengan:

1.

Menetapkan SOP pengisian rekam medis

2.

Memelihara motivasi kerja bagi petugas

3.

Mengevaluasi

pelaksanaan

pengisian

rekam

medis

secara

menggunakan buku bantu dan dilaksanakan setiap hari pelayanan

lengkap

dengan

BAB IX
PENUTUP
Demikian pedoman penyelenggaraan pelayanan Poli Kesehatan Kerja ini dibuat sebagai
acuan pelayanan bagi petugas di Unit Pelaksana Teknis Puskesmas Kebomas. Mudahmudahan dengan adanya pedoman pelayanan ini, dapat lebih memudahkan semua pihak
yang terkait, serta meningkatkan kualitas penyelenggaraan kegiatan internal maupun
eksternal di Unit Pelaksana Teknis Puskesmas Kebomas.