Sunteți pe pagina 1din 55

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Secara global penyakit diklasifikasikan menjadi penyakit non infeksius
dan infeksius. Penyakit non infeksius disebabkan oleh faktor kesalahan
manajemen lingkungan dan pakan, sedangkan penyakit infeksius disebabkan oleh
infeksi mikroorganisme bakteri, jamur, parasit, jamur, bakteri, dan virus. Salah
satu masalah kesehatan masyarakat yang penting di Negara-negara sedang
berkembang khususnya pada daerah yang tropik adalah penyakit infeksi parasit.
Penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit masih tinggi prevelansinya
terutama pada peternakan di daerah tropik seperti di Indonesia, dan merupakan
masalah yang cukup besar. Hal ini dikarenakan Indonesia berada dalam kondisi
geografis dengan temperatur dan kelembaban yang sesuai, sehingga kehidupan
parasit ditunjang oleh proses daur hidup dan cara penularannya.
Parasit merupakan organisme yang hidup baik di luar maupun di dalam
tubuh hewan yang untuk kelangsungan hidupnya mendapatkan perlindungan dan
memperoleh makanan dari induk semangnya. Kelompok hewan yang bersifat
parasit tergolong ke dalam Filum Protozoa, Platyhelminthes, Nemathelminthes,
dan Arthropoda. Parasit ini terdapat pada permukaan luar tubuh dan hidup di
dalam tubuh. Filum Platyhelminthes dan Nemathelminthes tergolong dalam
kelompok cacing. Penyakit parasitik pada hewan akan menjadi penyebab
beberapa gangguan kesehatan, reproduksi, pertumbuhan, dan produktivitas. Jenis
parasit baik endoparasit maupun ektoparasit sangat merugikan tidak hanya hewan
tapi juga manusia.
Menyadari akibat yang dapat ditimbulkan oleh gangguan parasit terhadap
kesehatan hewan, maka sangat diperlukan suatu pengetahuan tentang kehidupan
organisme parasit yang bersangkutan selengkapnya. Oleh sebab itu pemeriksaan
laboratorium sangat dibutuhkan karena diagnosis berdasarkan pada temuan gejala
klinik kurang dapat dipastikan Sehingga dirasa sangat penting untuk mengetahui
prinsip diagnosa infestasi parasit. Diagnosa infestasi parasit dilakukan melalui
pemeriksaan sampel feses, sampel darah, sampel organ, maupun sampel kerokan
1

kulit. Pengambilan sampel didasarkan pada infestasi parasit berupa endoparasit


maupun ektoparasit.
Prinsip pemeriksaan parasit adalah mengetahui jenis parasit yang
menginfeksi dan mengenal fase/ stadium parasit yang ditemukan, sehingga dapat
didiagnosa dengan tepat penyebab penyakitnya serta sebagai kunci untuk
menetukan terapi yang sesuai dan tepat Identifikasi parasit yang tepat memerlukan
pengalaman dalam membedakan sifat sebagai spesies, parasit, kista, telur, larva,
dan juga memerlukan pengetahuan tentang berbagai bentuk pseudoparasit dan
artefak yang mungkin dikira suatu parasit (Kadarsan, 1983). Koasistensi
parasitologi ini dilakukan agar mahasiswa dapat mengetahui tentang siklus hidup
parasit, morfologi parasit serta aspek epidemiologi penyakit yang ditimbulkannya.
Dengan mempelajari siklus hidup parasit, kita akan dapat mengetahui bilamana
dan bagaimana hewan terinfeksi oleh parasit, serta bagaimana kemungkinan
akibat yang dapat ditimbulkannya. Selanjutnya ditunjang oleh pengetahuan
epidemiologi penyakit, kita akan dapat menentukan cara pencegahan dan
pengendaliannya.
1.2 Rumusan masalah
1. Jenis parasit apakah yang ditemukan di lapangan ?
2. Bagaimana cara isolasi dan identifikasi parasit tersebut?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui jenis parasit dan cara isolasi serta identifikasi parsit yang
berada di peternakan
1.4 Manfaat
1. Dapat mengetahui tentang siklus hidup parasit, morfologi, bentukan
infektif dan jenis serta macam- macam spesies parasit yang dapat
menginfeksi berbagai hewan seperti pada ruminansia, unggas dan hewan l
serta aspek epidemiologi penyakit yang ditimbulkannya.

2. Meningkatkan

kemampuan

mendiagnosa

suatu

penyakit

lewat

pemeriksaan infestasi parasit ditemukan dan mengetahui cara penanganan


yang tepat.

BAB II
3

METODOLOGI
2.1 Waktu dan Tempat
Kegiatan Program Profesi Dokter Hewan (PPDH) Universitas Brawijaya
Gelombang IV Kelompok 1 dan 2 rotasi Parasitologi dilakukan pada tanggal 4
September 2015 sampai

22 September 2015. Pelaksanaan ini dilakukan di

Laboratorium Departemen Parasitologi Universitas Airlangga Surabaya


2.2 Metode Kegiatan
2.2.1 Alat dan Bahan
A. Sub PPDH Helmint
Alat dan bahan yang diperlukan adalah object glass,
coverglass, mikroskop, larutan gula jenuh, Aquades, pipet,
Sentrifus, Tabung Sentrifus, alat-alat seksi (gunting, scalpel, dan
pinset), Formalin 10%, Larutan alkohol gliserin 5%, larutan
alkohol 70% , alkohol 85% , alkohol 95% , inkubator, Larutan
Hung's II, larutan Hung's I
B. Sub PPDH Protozoa
a. Alat dan bahan pada pemeriksaan darah secara natif
Alat dan bahan yang diperlukan pada pemeriksaan darah secara
natif antara lain sampel darah yang didapat, obyek glass, coverglass dan
mikroskop.
b. Alat dan bahan pada pemeriksaan ulas darah dengan giemsa
Alat dan bahan yang diperlukan pada pemeriksaan ulas darah
dengan giemsa antara lain sampel darah yang diperoleh, obyek glass,
methanol, larutan giemsa10-20 % dan mikroskop.
c.

Alat dan bahan yang diperlukan dalam gerusan organ ayam


Alat dan bahan yang diperlukan dalam gerusan organ antara lain

ayam yang diduga terserang leucicytozoonosis, obyek glass, coverglass


dan mikroskop.

d. Alat dan bahan pada pemeriksaan feses dengan metode natif


Alat dan bahan yang digunakan dalam pemeriksaan feses dengan
metode natif antara lain sampel feses yang didapat, obyek glass, air,
coverglass dan mikroskop.
e.

Alat dan bahan pada pemeriksaan feses dengan metode apung


Alat dan bahan yang digunakan dalam pemeriksaan feses dengan

metode apung antara lain sampel feses yang didapat, tabung sentrifus,
sentrifus, gula jenuh, obyek glass, coverglass, rak tabung dan mikroskop.
C. Sub PPDH Arthropoda
Alat dan bahan yang digunakan pada kegiatan PPDH di
laboratorium bagian entomologi antara lain adalah object glass, cover
glass, mikroskop, gelas ukur, tabung reaksi, Oven, Aquades, jarum
atau pin, KOH 10 %, alkohol bertingkat (30%, 50%, 70%, 95%, 96%),
Xylol, Canada Balsam atau entelan sendok pengaduk, sampel
artropoda.
2.3 Cara Kerja
2.3.1 Isolasi dan Identifikasi Helmintes
Isolasi telur cacing dilakukan dengan cara mengambil sampel feses dan
dimasukkan ke dalam pot sampel yang telah ditambahkan formalin 5%.
Selanjutnya dilakukan pemeriksaan telur cacaing dengan metode sebagai berikut :
2.3.1.1 Pemeriksaan Telur Cacing pada Feses dengan Metode Natif
Pemeriksaan telur cacing pada feses dengan metode natif dilakukan dengan cara
sebagai berikut :
-

Sampel feses dioleskan secukupnya pada objek glass steril meggunakan


lidi.

Diteteskan 1-2 tetes air pada feses tersebut, kemudian diaduk dengan lidi.

Selanjutnya objek glass ditutup dengan cover glass dan diamati dengan
mikroskop dengan pembesaran 100X.

2.3.1.2 Pemeriksaan Telur Cacing pada Feses dengan Metode Sedimentasi


5

Pemeriksaan telur cacing pada feses dengan metode sedimentasi dilakukan


dengan cara sebagai berikut :
-

Dilakukan pembuatan suspensi dengan perbandingan satu bagian feses dan


10 bagian air .

Suspensi disaring dengan saringan teh dan filtrat yang didapat ditampung
pada gelas plastik.

Filtrat dimasukkan ke dalam tabung, kemudian disentrifugasi dengan


kecepatan 1500 rpm selama 2-5 menit.

Setelah disentrifuse supernatan (bagian jernih) dibuang dan diganti dengan


air kemudian dilakukan sentrifugasi ulang untuk memperoleh supernatan
yang jernih.

Selanjutnya supernatan dibuang dan diambil sedimen yang tersisa.

Dilakukan pengambilan sedimen menggunakan pipet Pasteur dan


diteteskan pada objek glass.

Objek glass ditutup dengan cover glass dan dilakukan pengamatan


menggunakan mikroskop dengan pembesaran 100X.

2.3.1.3 Pemeriksaan Telur Cacing pada Feses dengan Metode Apung


Pemeriksaan telur cacing pada feses dengan metode apung dilakukan dengan cara
sebagai berikut :
-

Dilakukan pembuatan suspensi dengan perbandingan satu bagian feses dan


10 bagian air

Suspensi disaring dengan saringan teh dan filtrat yang didapat ditampung
pada gelas plastik.

Filtrat dimasukkan ke dalam tabung, kemudian disentrifugasi dengan


kecepatan 1500 rpm selama 2-5 menit.

Setelah disentrifuse supernatan (bagian jernih) dibuang dan diganti dengan


air kemudian dilakukan sentrifugasi ulang untuk memperoleh supernatan
yang jernih.

Selanjutnya supernatan dibuang dan diganti larutan gula jenuh hingga 1


cm dari mulut tabung, lalu disentrifugasi dengan cara yang sama.
6

Tabung diletakkan pada rak tabung dan ditetesi dengan larutan gula jenuh
sampai cairan terlihat cembung pada mulut tabung sentrifugasi.

Tabung ditutup dengan cover glass dan dibiarkan 1-2 menit.

Cover glass diambil dan ditempelkan pada objek glass, kemudian diamati
menggunakan mikroskop dengan perbesaran 100X.

2.3.1.4 Pemeriksaan Saluran Pencernaan Unggas


Pemeriksaan saluran pencernaan unggas dilakukan dengan cara sebagai berikut :
-

Saluran pencernaan yang disediakan diuraikan hingga membentuk saluran


yang panjang.

Saluran pencernaan kemudian dibedah menggunakan scalpel dan atau


gunting untuk menemukan cacing pada masing masing bagian.

Cacing yang ditemukan pada masing masing bagian disimpan pada larutan
PZ. Cacing yang ditemukan kemudian dibagi menjadi dua untuk
pembuatan preparat kering / preparat permanen dan preparat basah.

Dilakukan kerokan / scraping pada mukosa usus menggunakan scalpel


untuk menemukan adanya telur cacing.

Dilakukan pula pengambilan sampel feses pada masing masing bagian


saluran pencernaan dan dilakukan pemeriksaan telur cacing menggunakan
tiga metode tersebut diatas.

Cacing di temukan selanjutnya diidentifikasi.

2.3.1.5 Pembuatan Preparat Permanen Helminthes Kering


Pembuatan preparat permanen helminthes kering dilakukan dengan cara sebagai
berikut :
-

Cacing yang ditemukan pada pembedahan saluran pencernaan difiksasi


dengan cara menjepit cacing diantara dua objek glass. Kedua ujung objek
glass diikat dengan tali rafia.

Objek glass dan cacing dimasukkan ke dalam larutan alcohol gliceryn 5%


selama 24 jam.

Kemudian objek glass dan cacing dimasukkan ke dalam alcohol 70% selama
5 menit.

Objek glass dan cacing dipindahkan ke dalam larutan carmine selama 8 jam
tergantung ketebalan kutikula cacing.

Cacing dilepaskan dari fiksasi dan dimasukkan ke dalam alcohol asam selama
2 menit, kemudian dipindahkan ke dalam larutan alcohol basa selama 20
menit.

Selanjutnya dilakukan

dehidrasi bertingkat dengan

alcohol,

dengan

dimasukkan dalam alkohol 70% selama 5 menit, alkohol 85% selama 5 menit,
dan alkohol 95% selama 5 menit.
-

Dilakukan mounting dengan larutan Hung's I selama 20 menit.

Cacing diambil dari larutan Hung's I, diletakkan pada objek glass yang bersih
dan diteteskan larutan Hung's II diatas cacing tersebut, kemudian ditutup
dengan cover glass.

Preparat permanen dikeringkan dalam inkubator pada suhu 37 0 C, dan


dikeringkan pada suhu ruangan.

Preparat cacing permanen diamati menggunakan mikroskop

2.3.2 Isolasi dan Indentifikasi Protozoa


Isolasi sampel feses untuk pemeriksaan protozoa dilakukan dengan cara
mengambil sampel feses dan dimasukkan ke dalam pot sampel tanpa
menambahkan apapun. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan telur cacaing dengan
metode sebagai berikut :
2.3.2.1 Pemeriksaan Protozoa pada Feses dengan Metode Natif
Pemeriksaan protozoa pada feses dengan metode natif dilakukan dengan cara
sebagai berikut:
-

Pada objek glass diteteskan 1 tetes air dan ditambahkan sedikit feses
selanjutnya dicampurkan keduanya hingga merata

Objek glass ditutup dengan cover glass dan diamati menggunakan


mikroskop dengan perbesaran 400-1000X

2.3.2.2.Pemeriksaan Protozoa pada Feses dengan Metode Sedimen


8

Pemeriksaan protozoa pada feses dengan metode sedimen dilakukan dengan cara
sebagai berikut
-

Dilarutkan 1 bagian feses dengan 10 bagian air, kenudian disaring larutan


feses dengan saringan (kain kasa)

Filtrat hasil saringan dimasukkan ke dalam tabung sentrifus dan dilakukan


sentrifugasi 1500 rpm selama 5-10 menit.

Supernatan hasil sentrifugasi dibuang dan ditambahkan air dalam jumlah


yang sama. Dilakukan sentrifugasi ulang kemudian dibuang lagi
supernatannya.

Apabila telah mendapatkan supernatant yang bersih, supernatant dibuang


dan disisakan sedikit cairan pada tabung.

Diambil satu tetes cairan dan diteteskan di atas objek glass selanjutnya
ditutup dengan cover glass.

Dilakukan pengamatan menggunakan mikroskop dengan perbesaran 4001000X.

2.3.2.3.Pemeriksaan Protozoa pada Feses dengan Metode Apung


Pemeriksaan protozoa pada feses dengan metode apung dilakukan dengan cara
sebagai berikut :
-

Dilakukan pembuatan suspensi dengan perbandingan satu bagian feses dan


10 bagian air

Suspensi disaring dengan saringan teh dan filtrat yang didapat ditampung
pada gelas plastik.

Filtrat dimasukkan ke dalam tabung, kemudian disentrifugasi dengan


kecepatan 1500 rpm selama 2-5 menit.

Setelah disentrifuse supernatan (bagian jernih) dibuang dan diganti dengan


air kemudian dilakukan sentrifugasi ulang untuk memperoleh supernatan
yang jernih.

Selanjutnya supernatan dibuang dan diganti larutan gula jenuh hingga 2/3
tabung, lalu disentrifugasi dengan cara yang sama.

Tabung diletakkan pada rak tabung dan ditetesi dengan larutan gula jenuh
sampai cairan terlihat cembung pada mulut tabung sentrifugasi.
9

Tabung ditutup dengan cover glass dan dibiarkan 1-2 menit.

Cover glass diambil dan ditempelkan pada objek glass, kemudian diamati
menggunakan mikroskop dengan perbesaran 400-1000X.

2.3.2.4 Pemeriksaan Protozoa Darah dengan Metode Pembuatan Ulas Darah Tipis
Metode pembuatan ulas darah tipis untuk pemeriksaan protozoa darah dilakukan
dengan cara sebagai berikut :
-

Disiapkan dua objek glass untuk tempat darah dan objek glass untuk
penggulas darah.

Diteteskan satu tetes darah pada ujung objek glass pertama.

Dilakukan pengulasan menggunakan objek glass pengulas dengan cara


membentuk sudut 30-450 pada salah satu ujung objek glass dan didorong
ke ujung satunya.

Semakin tipis ulasan yang diperoleh akan semakin baik hasil yang didapat.
Hasil ulasan dikeringanginkan pada suhu ruang.

Ulasan darah diamati menggunakan mikroskop dengan perbesaran 40100X.

2.3.2.5.Pemeriksaan Protozoa Darah dengan Metode Pembuatan Ulas Darah


dengan Pewarnaan Giemsa
Pemeriksaan protozoa darah menggunakan teknik ulas darah dengan pewarnaan
giemsa dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :
-

Ulas darah yang telah kering difiksasi dengan methanol (methil alkohol
absolut) selama 3 menit.

Dilanjutkan dengan memasukkan objek glass ulas darah ke dalam larutan


giemsa 10-20% selama 30 menit. Semakin tinggi konsentrasi larutan
giemsa, semakin pendek waktu pengecatan.

Preparat diangkat dan dicuci dengan air. Pencucian dilakukan dengan cara
mengalirkan air.

Preparat dikeringanginkan dengan cara meletakkan objek glass pada posisi


berdiri pada bidang miring

10

Preparat yang telah kering diamati menggunakan mikroskop dengan


perbesaran 400-1000X dengan menambahkan minyak emersi

2.3.2.6.Swab Kerongkongan Unggas


Swab

kerongkongan

unggas

dilakukan

untuk

mendiagnosa

keberadaan

Trichomoniasis. Pemeriksaan swab kerongkongan dilakukan dengan cara sebagai


berikut :
-

Kerongkongan

unggas

yang

didiagnosa

trichomoniasis

di

swab

menggunakan cotton buds steril yang telah dicelupkan ke dalam NaCl


fisiologis.
-

Hasil swab pada cotton buds dicelupkan ke dalam cawan petri yang berisi
NaCl fisiologis, selanjutnya dilakukan homogenisasi.

Untuk pemeriksaan lebih lanjut diambil satu tetes homogenate dari cawan
petri dan diteteskan di atas objek glass.

Objek glass ditutup dengan cover glass dan diamati menggunakan


mikroskop dengan perbesaran 400-1000X. Hasil positif bila ditemukan
pergerakan flagella Trochomonas.

2.3.3 Isolasi dan Identifikasi Arthropoda


2.3.3.1.Koleksi Arthropoda
-

Koleksi arthropoda dilakukan dengan cara sebagai berikut :

Koleksi lalat dilakukan menggunakan alat berupa jaring insekta.

Koleksi kutu dilakukan dengan memeriksa bulu secara teliti.

Koleksi pinjal dilakukan dengan memeriksa bulu secara teliti

Pengumpulan tungau dilakukan dengan cara mengerok kulit hewan hingga


timbul perembesan darah. Kerokan kulit dicampur dengan formalin 5% untuk
diawetkan dalam keadaan basah, sedangkan untuk pemeriksaan langsung
kerokan kulit dicampur KOH 10% selama 5 menit kemudian ditutup dengan
cover glass dan diamati menggunakan mikroskop.

Pengumpulan caplak dilakukan dengan memeriksa bulu secara teliti.

2.3.3.2. Pengawetan Kering Arthropoda

11

Pengawetan kering dilakukan dengan metode pinning. Pinning dilakukan dengan


langkah-langkah sebaagai berikut:
-

Arthropoda dimatikan dengan menggunakan chloroform.

Sayap arthropoda dikembangkan dan kaki ditata untuk mempermudah


pengamatan.

Dilakukan penusukan pada bagian thorax diantara sayap dan garis tengah
tubuh arthropoda.

Lalat yang telah di pinning ditusukkan pada pinning blok (sterofoam).

Untuk Arthropoda kecil diletakkan di atas ujung kerjas segitiga dan ditempel
menggunakan canada balsem. Pin dilakukan pada kertas tersebut.

Selanjutnya dilakukan identifikasi dengan menggunakan stereo mikroskop


atau loop mikroiskop.

Hasil identifikasi arthropoda ditandai dengan pemberian label (nama


spesies/genus,

predileksi/inang,

nama

kolektor,

tanggal

dan

lokasi

pengambilan)
-

Arthropoda dikeringkan dalam oven 50-600 C selama 24 jam.

Penyimpanan hasil pinning dengan cara meletakkan blok pinning pada kotak
penyimpanan yang telah diberikan kapur barus.

2.3.3.3 Pengawetan Basah Arthropoda


Pengawetan basah arthropoda dapat dilakukan dengan pengawetan permanen dengan
pewarnaan dan pengawetan permanen tanpa pewarnaan. Langkah pengawetan basah
arthropoda adalah sebagai berikut :

a. Pengawetan Arthropoda Permanen tanpa Pewarnaan


-

Arthropoda dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi KOH 10%


kemudian dipanaskan dalam air yang mendidih selama 1 jam atau lebih
hingga arthropoda tampak transparan.

Arthropoda selanjutnya dimasukkan ke dalam alkohol dengan konsentrasi


berturut-turut 30, 50, 70, 95, 96% masing-masing 3 menit selanjutnya
dicelupkan ke dalam xylol dalam waktu 1 menit.

Arthropoda diangkat dan diletakkan di atas objek glass dan direkatkan dengan
pemberian canada balsem selanjutnya ditutup dengan cover glass.
12

Preparat diberi label dan diinkubasi dalam inkubator untuk dikeringkan

Preparat diamati menggunakan mikroskop dengan perbesaran 40-100X

b. Pengawetan Arthropoda Permanen dengan Pewarnaan


-

Arthropoda dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi KOH 10%


kemudian dipanaskan dalam air yang mendidih selama 1 jam atau lebih
hingga arthropoda tampak transparan.

Arthropoda dicuci dengan aquadest sebanyak 2X.

Selanjutnya direndam dalam alkohol 95% selama 10 menit.

Arthropoda dipidahkan ke dalam acid fuchsin selama 30 menit.

Dilanjutkan dengan perendaman dalam alkohol 95% selama 2 menit.

Arthropoda dipindahkan ke dalam alkohol 95% + xylol dengan


perbandingan sama banyak selama 5 menit.

Dilanjutkan dengan perendaman pada xylol selama 1 menit.

Arthropoda yang telah diwarnai diletakkan di atas objek glass, direkatkan


menggunakan canada balsem dan ditutup menggunakan cover glass.

Preparat yang telah jadi diberi label dan diinkubasi pada incubator selama
24-48 jam

Preparat yang telah kering diamati menggunakan mikroskop dengan


perbesaran 40-100X.

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Helminthes

3.1.1. Fasciola gigantica


Signalement
-

Jenis hewan
Jenis kelamin
Umur
Berat Badan

: Sapi
: Jantan
: 3 tahun
: 250 kg
13

Asal Sapi

: RPH Pegirikan Surabaya

Anamnesa
-

Berat badan menurun


Makan sering hijauan basah

Temuan dan gejala klinis


-

Mata tampak suram

Bulu kusam

Anemia dan diare

Diferensial diagnosa
-

Enteritis disebabkan Infeksi bakteri misalnya infeksi bakteri E.

coli, Salmonella spp, Mycobacterium paratubercolosis dan infeksi


helmnthiasis, misalnya infeksi cacing Paramphistomum sp. Infeksi bakteri
dan parasit ini menyebabkan peradangan pada usus yang menyebabkan
terjadinya enteritis dengan gejala diare profus disertai dengan adanya
dehidrasi.
Diagnosa penunjang
Inspeksi dilakukan pada sapi yang disembelih di Rumah Potong
Hewan (RPH) Pegirikan Surabaya. Hasil inspeksi menunjukan adanya
infestasi cacing pada organ hati. Selanjutnya sampel cacing dimasukan pot
yang telah diberi formalin dan sampel feses dari sapi juga dikoleksi
dibawa ke laboratorium untuk diidentifikasi.
Hasil pemeriksan menunjukkan bahwa parasit cacing yaitu Fasciola
gigantica (Gambar 3.1.1 dan 3.1.2)

Gambar 3.1.1 makroskopis cacing Fasciola gigantica (dok.pribadi)


14

Gambar 3.1.2 Anterior dan posterior Fasciola gigantica (dok.pribadi)


Diagnosa tentatif

: Distomatosis

Klasifikasi ilmiah Fasciola gigantica menurut Urquhart et al., (1996)


adalah sebagai berikut :

Kingdom : Animalia
Filum

: Plathyhelminthes

Kelas

: Trematoda

Ordo

: Digenea

Famili

: Fasciolidae

Genus

: Fasciola

Spesies

: Fasciola gigantica (Soulsby, 1986).

15

Gambar 3.1.1 Morfologi telur dan cacing dewasa cacing hati


(Anonim, 2006)
Penegakan diagnosa berdasarkan gejala klinis dapat diperkuat dengan
pemeriksaan telur cacing dalam tinja. Telur Fasciola sp. bentuk ovoid dan
memiliki operkulum di salah satu kutubnya (Gambar 3.1.3). Telur cacing ini
memiliki kerabang telur yang tipis. Di dalam telur dapat ditemukan blastomer
yang memenuhi rongga telur. Telur cacing trematoda mempunyai berat jenis yang
lebih tinggi sehingga telur cenderung tengggelam pada pemeriksaan telur
menggunakan preparat apung. Pemeriksaan telur trematoda menggunkan tehnik
sedimentasi lebih tepat untuk diagnosis (Levine, 1994).

Gambar 3.1.3 Telur Fasciola sp. (dok.pribadi)

a. Morfologi
Cacing dewasa Fasciola gigantica memiliki morfologi berbentuk
pipih seperti daun, dengan ukuran 25-75 x13 mm dan berwarna coklat
muda transparan. Pada tubuh bagian luarnya dipenuhi oleh duri-duri halus.
Bagian anterior berbentuk seperti kerucut dan terdapat batil isap mulut
(oral sucker) yang besarnya kira-kira 1 mm. Bagian dasar kerucut terdapat
batil isap perut (ventral sucker) yang besarnya kira-kira 1.6 mm (Gambar
3.2). Cacing ini mempunyai susunan alat pencernaan terdiri atas mulut
yang dikelilingi sucker yang dihubungkan dengan faring. Faring akan
membentuk esophagus yang pendek yang bercabang menjadi 2 sekum
16

menuju posterior tubuh, yaitu tipe sekum bercabang kearah tengah dan
tepi tubuh. Cacing hati bersifat hemaprodit, alat kelamin jantan terdiri 2
testis bercabang banyak dan terletak ditengah garis median tubuh.
Sedangkan alat kelamin betina terdiri dari 1 ovarium yang bercabang
banyak, terletak disebelah kanan garis median dan diatas testis. Ovarium
dihubungkan oleh oviduct dan uterus yang berbelok-belok kearah anterior
dan masuk ke atrium genital. Vitelina bercabang dan memenuhi tubuh
bagian tepi dan meluas kebagian tengah tubuh (Bendryman dkk, 2011).
Telur Fasciola gigantica berukuran 140-80 mikron yang berbentuk oval,
berdinding halus dan tipis berwarna kuning, memiliki operkulum pada
salah satu kutubnya. Operkulum merupakan daun pintu telur yang terbuka
pada saat telur akan menetas, dan larva miracidium yang bersilia
dibebaskan. Telur Fasciola gigantica akan menetas 14-17 hari pada suhu
28C (Noble dan Noble, 1989).
b. Hospes
Cacing hati (Fasciola sp.) merupakan salah satu cacing parasit
yang umumnya menyerang ternak ruminansia seperti sapi, domba,
kambing, dan kerbau. Fasciola sp. juga dapat menyerang hewan lain
seperti babi, anjing, rusa, zebra, kelinci, marmot, kuda, bahkan dapat
menyerang manusia (Soulsby, 1986; Cheng, 1986; Mitchell, 2007). Di
Indonesia, spesies cacing hati yang selalu terdeteksi adalah Fasciola
gigantica, sedangkan Fasciola hepatica umumnya dapat ditemukan dari
sapi yang diimpor ke Indonesia (Kusumamihardja, 1992). Kedua cacing
ini secara morfologi mempunyai banyak kesamaan. Perbedaan diantara
keduanya terletak pada daya tahan hidup terhadap lingkungan dan inang
perantara (Lymnea sp.) (Soulsby, 1986; Grove, 1990; Mitchell, 2007).
c. Predileksi
Cacing ini banyak menyerang sapi dan domba dengan predileksi di
ductus biliverus (Levine, 1990).
d. Siklus Hidup
Siklus hidup parasit sangat komplek, pendek dan cepat
penularannya (Gambar 3.1.5). Fasciola sp. mengalami mata rantai siklus
17

perkembangan atau stadium dalam siklus hidupnya sampai ke saluran


empedu. Daur hidup cacing hati dimulai dari telur yang dikeluarkan dari
uterus cacing masuk ke saluran empedu, kandung empedu, atau saluran
hati dari induk semang. Telur terbawa ke dalam usus dan meninggalkan
tubuh bersama tinja. Seekor cacing hati (F. hepatica)dalam sehari dapat
memproduksi rata-rata 1331 butir telur pada domba dan 2628 butir telur
pada sapi (Dixon 1964). Jumlah cacing di dalam pembuluh-pembuluh
empedu tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan jumlah telur dalam
tinja. Jumlah telur dalam tinja akan mencapai maximum dalam waktu 2
bulan setelah periode prepaten, kemudian menurun lagi secara pesat
(Soulsby, 1986). Telur tidak dapat berkembang dibawah suhu 10 C, tetapi
dapat berkembang dengan baik pada suhu 10 C sampai 26 C (Levine,
1990).

Gambar 3.15 Siklus hidup cacing Fasiola sp. (Benner, 1999)


Perkembangan dari stadium telur sampai metaserkaria hanya
dapat terjadi pada lingkungan yang tergenang air (Noble dan Noble,
1989). Apabila telur masuk ke dalam air, operkulum membuka dan
miracidia yang bersilia dibebaskan. Miracidia hanya dapat keluar
apabila mendapat cukup cahaya. Cahaya mengaktifkan miracidium
yang kemudian mengubah permeabilitas suatu bantalan kental yang
18

terletak di bawah operkulum. Telur yang sudah menetas menghasilkan


miracidium. Tubuh miracidium diliputi ciliae yang berfungsi sebagai
alat penggerak di air. Gerakan miracidium dipengaruhi oleh cahaya
(Brown, 1979).

Miracidium berenang selama beberapa jam dan

kemudian menebus tubuh siput (Lymnaea rubiginosa).


Miracidium hanya hidup dalam waktu singkat (24 jam) untuk
mencari siput sebagai induk semang antara. Apabila ditemukan siput
yang sesuai miracidium akan melekat dan menusukkan papillanya.
Setelah miracidium berhasil menembus jaringan siput, cilia di
lepaskan, kemudian menempati rumah siput tersebut. Setelah 36 jam,
miracidium berbentuk gelembung dengan dinding transparan yang
disebut sporokista. Di dalam tubuh siput setiap miracidium
berkembang menjadi sebuah (Noble dan Noble, 1989). Selanjutnya
sporokista berubah bentuk menjadi oval setelah 3 hari berada di dalam
hati siput. Sporokista memperbanyak diri dengan pembelahan
transversal, sehingga dari satu miracidium

terbentuk banyak

sporokista. Setelah 10 hari tubuh siput terinfeksi miracidium, terlihat


gumpalan sel di dalam sporokista yang kemudian tumbuh manjadi
redia (Brown, 1979).
Pada hari ke 12 redia induk mulai tampak. Pada hari ke-23
redia anak mulai terbentuk, hari ke 25 redia anak membebaskan diri.
Setelah redia anak terbentuk kemudian redia berkembang sendirisendiri untuk membentuk cercaria. Tubuh redia berbentuk silinder
dengan otot kalung leher (collar). Di dalam kalung redia terdapat sel
ekskresi dan sel pertumbuhan. Cercaria dihasilkan melalui pembelahan
sel pertumbuhan. Satu redia induk biasanya mengadung 3 redia anak
yang sudah berkembang sempurna. Selama musim panas, biasanya
hanya terdapat satu generasi redia. Redia menghasilkan cercaria yang
akan meninggalkan siput (Noble dan Noble,1989). Tubuh cercaria
berbentuk bulat telur dan memiliki ekor untuk berenang. Cercaria yang
keluar dari tubuh siput membebaskan diri dan berenang kemudian
mencari tumbuh-tumbuhan air untuk melekat dan melepaskan ekornya.
19

Cercaria dapat dilihat dengan mata telanjang sebagai bintik-bintik


putih yang bergerak - gerak dan akan terlihat lebih jelas pada air jernih
dengan alas stoples yang gelap yang disinari cahaya terang. Cercaria
hidupnya terbatas kecuali menemukan tumbuh-tumbuhan atau hewan
yang sesuai untuk menjadi kista dan kemudian berubah menjadi
metacercaria (Brown, 1979). Setelah melekatkan diri pada tumbuhan
air contohnya batang padi dengan jarak 10 cm dari batang kemudian
ekor dilepaskan. Selanjutnya cercaria berubah menjadi kista dengan
cara mensekresikan subtansi viskus untuk melapisi tubuhnya. Cercaria
yang telah menjadi kista disebut metacercaria. Proses pembentukan
dinding kista disertai pembentukan alat-alat dalam tubuh, berupa alat
tubuh cacing dewasa, proses ini berlangsung 2-3 hari, setelah itu
metacercaria bersifat infeksius serta tahan kering dan panas (Noble dan
Noble, 1989).
Metacercaria berdinding tebal berlapis dua apabila termakan
oleh sapi dewasa didalam lambungnya dinding kista yang berhasil
dihancurkan oleh asam lambung hanya lapisan luar saja. Pada anak
sapi, kemampuan lambung untuk merusak lapisan luar sangat terbatas
sekali, hal ini menyebabkan tingkat prevalensi infeksi cacing hati pada
anak sapi tidak berpengaruh secara nyata. Dalam kista, metacercaria
berkembang menjadi cacing muda (Suweta, 1982). Agar dapat
menginfeksi induk semang definitif, metacercaria didalam induk
semang antara (ikan, crutacea dan keong) atau tumbuhan air harus
termakan dahulu. Metaserkaria dari Fasciola hepatica dan Fasciola
gigantica pada masa kering masih dapat ditemukan pada hay dan
sampah-sampah air. Kemampuan bertahan metaserkaria bergantung
pada suhu dan tingkat hidrasi. Hal ini menyebabkan metaserkaria lebih
dapat bertahan di dalam air daripada di lingkungan luar (Spithill,
1999).
Metaserkaria dari Fasciola gigantica mempunyai kemampuan
bertahan pada suhu tinggi lebih lama dibandingkan Fasciola hepatica.
Hal ini mengindikasikan bahwa Fasciola gigantica mempunyai daya
20

adaptasi yang baik pada daerah tropis, lingkungan air, serta jenis siput
aimya. Sebaliknya, Fasciola hepatica memiliki kemampuan bertahan
pada musim dingin seperti di Eropa, Amerika bagian utara, dan
Australia (Malek, 1980). Siput yang menjadi Induk semang antara
berbeda spesies dalam wilayah negara yang berbeda. Pada umumnya
jenis-jenis siput yang menjadi induk semang antara sementara cacing
hati, dari Fasciola hepatica dan Fasciola gigantica temasuk family
Lymnaeacidae. Lymnaea rubiginosa merupakan induk semang antara
cacing hati Fasciola gigantica di Indonesia. Siput Lymnaea rubiginosa
bentuk oval dengan lingkaran spiral pada ujung ekor. Dinding rumah
transparan, berwarna kuning coklat atau agak kehitaman (Suweta,
1978). Muchlis dan Soetedjo (1972) memaparkan bahwa Lymnaea
rubiginosa merupakan sejenis siput yang mudah ditemukan di perairan
yang jemih, dengan oksigenasi air yang baik, dan aliran air yang tidak
terlalu cepat seperti lingkungan sawah. Siput ini mempunyai cangkang
yang tipis dan tidak mempunyai operkulum sehingga tidak tahan pada
suhu air yang tinggi. Makanan utamanya adalah alga dan tanaman
rumput-rumputan termasuk daun padi yang telah membusuk.
e. Gejala Klinis
Secara umum patogenesa dan gejala klinis fasciolosis tergantung
dari jumlah dan tahap perkembangan cacing di hati serta tingkat kerusakan
yang terjadi. Cacing ini dapat menyebabkan akut, subakut, dan kronis
fasciolosis (Matthews, 1999). Pada sapi dan kerbau umumnya bersifat
kronis akibat dari infeksi yang berlangsung sedikit demi sedikit
(Kusumamiharja, 1992). Gejala klinis yang ditimbulkan dapat pula bersifat
subakut yaitu berupa kelemahan, anoreksia, perut kembung dan terasa
sakit apabila disentuh (Kusumamiharja, 1992). Menurut Matthews (1999),
fasciolosis akut terjadi ketika cacing immature dalam jumlah besar
merusak jaringan hati mengakibatkan gangguan hati dan haemorragi.
Kasus akut pada umumnya terjadi di akhir musim gugur dan di awal
musim dingin ditandai dengan kematian tiba-tiba, dyspnoe, ascites,
21

abdominal pain. Jumlah cacing dewasa yang ditemukan mencapai lebih


dari 1000 ekor dengan kondisi postmortem hati membesar. Pada beberapa
kasus, hati yang membesar dapat dipalpasi di daerah abdominal. Infestasi
cacing yang berlebih dapat menyebabkan anemia hemorragi akut dan
hipoalbuminemia (Mitchell, 2007). Fasciolosis akut ditandai dengan
adanya infeksi metaserkaria dengan jumlah yang besar dalam jangka
pendek. Menurut Mitchell (2007), kasus akut pada umumnya terjadi
diakhir musim gugur dan di awal musim dingin sedangkan di daerah tropis
biasanya terjadi pada awal musim hujan dan awal musim kemarau.
Fasciolosis akut tidak tampak gejala klinis yang jelas, ternak mati
mendadak karena perdarahan akibat rusaknya jaringan parenkim hati
(Soulsby, 1986).
Fasciolosis subakut terjadi pada akhir musim gugur sampai musim
semi (Mitchell, 2007). Pada kasus ini ditemukan cacing dewasa sebanyak
500-1500 ekor di dalam buluh empedu dan telur cacing di dalam tinja
kurang dari 100 (Matthews, 1999). Kejadian subakut ditandai dengan
adanya gejala klinis berupa ikterus, anemia, penurunan berat badan, edema
submandibular (bottle jaw), serta perdarahan akibat dari cacing yang
memakan jaringan hati (Soulsby, 1986). Fasciolosis kronis terjadi akibat
dari migrasi dan keberadaan cacing dewasa di dalam buluh empedu
sehingga menyebabkan kerusakan parenkim hati. Kejadian ini muncul
pada musim dingin dan musim semi (Mitchell, 2007) dengan jumlah
cacing yang ditemukan sekitar 250 ekor dan telur cacing di dalam tinja
mencapai 100 (Matthews, 1999). Fasciolosis kronis ditandai dengan
penurunan nafsu makan, anemia, anoreksia, diare kronis, penurunan berat
badan, bottle jaw, cholangitis, dan fibrosis organ hati akibat dari cacing
hati dewasa yang hidup dalam buluh empedu (Soulsby, 1986). Pada daerah
tropis seperti Indonesia kejadian fasciolosis banyak terjadi di awal musim
hujan dan di awal musim kemarau. Hal ini terjadi karena pertumbuhan
optimal telur menjadi mirasidium terjadi pada awal musim hujan dan
perkembangan di dalam tubuh siput mencapai tahap yang lengkap pada
akhir musim hujan. Kemudian pelepasan serkaria terjadi pada awal musim
22

kering saat curah hujan masih cukup tinggi dan menurun seiring dengan
penurunan curah hujan.
f. Patogenesa
Infeksi ringan pada kasus fasiolosis ringan tidak begitu terlihat
adanya perubahannya secara patologi anatomis meninjukkan adanya
inflamasi catharalis (radang selaput lendir) dengan kerusakan epitel
saluran empedu. Telur yang mengadakan penetrasi kedalam diding saluran
menyebabkan foci-foci inflammatory (pusat radang bernanah campur
darah dan getah bening) dan granulomata (tumor pada jaringan granulosi)
yang banyak menyebab sel plasma dan cosinofil. Granulomata terbatas
padadinding saluran dan parenkrin tidak terserang. Kadang-kadang dapat
terjadi fibrosis sehingga menyebabkan atrofi pancreas. Pada infeksi yang
sangat parah hewan terlihat sangat lemas, walau pun dalam gejala klinis
ditemukan adanya cacing.
g. Pencegahan dan Terapi
Ternak yang dipelihara terhindar dari infeksi Fasciola sp. dengan
memberikan perlakuan dan manejemen pemeliharaan yang baik. Apabila
terpaksa dengan pemeliharaan sapi dengan cara ekstensif maka
pencegahan yang efektif terhadap penularan infeksi Fasciola sp. sulit
dilakukan karena sulit untuk menghindarkan ternak dari sawah atau
tempat-tempat basah yang merupakan habitat siput. Pengendalian
fasciolosis pada sapi pada prinsipnya memutus siklus hidup cacing.
Strategi pengendalian fasciolosis didasarkan pada musim penghujan atau
basah dan kemarau atau kering. Pada musim penghujan, populasi siput
mencapai puncaknya dan tingkat pencemaran metaserkaria sangat tinggi,
pada saat itu pula petani sibuk mempersiapkan lahan dalam musim tanam.
Martindah dkk, (2005) mengemukakan

bahwa

diperlukan tindakan-

tindakan pencegahan terhadap infeksi dan atau menekan serendah


mungkin terjadinya pencemaran lingkungan, antara lain dengan cara:

23

1. Limbah kandang hanya digunakan sebagai pupuk pada tanaman padi


apabila sudah dikomposkan terlebih dahulu, sehingga telur Fasciola
sp. sudah mati.
2. Pengambilan jerami dari sawah sebagai pakan ternak dilakukan
dengan pemotongan sedikit di atas tinggi galengan air atau 1-1,5
jengkal dari tanah.
3. Jerami dijemur selama 2-3 hari berturut- turut di bawah sinar
matahari dan dibolak-balik selama penjemuran sebelum diberikan
untuk pakan.
4. Penyisiran jerami agar daun padi yang kering terlepas untuk
mengurangi pencemaran metaserkaria.
5. Tidak melakukan penggembalaan ternak di daerah berair atau yang
tercemar oleh metaserkaria cacing hati, seperti di sawah sekitar
kandang ternak atau dekat pemukiman.
6. Mengandangkan sapi dan itik secara bersebelahan sehingga
kotorannya tercampur saat kandang dibersihkan (pengendalian
secara biologis).
Pengobatan dapat dilakukan dengan obat cacing (flukisida) yang
diberikan setiap 2 - 3 bulan sekali. Adapun yang perlu diperhatikan dan
dipertimbangkan dalam memilih flukisida adalah : harga, waktu
pemberian, target umur cacing yang akan dibunuh dan daya bunuh
flukisida tersebut. Flukisida mempunyai kemampuan yang berbeda-beda
dalam membunuh cacing hati, ada yang mampu membunuh cacing dewasa
saja (nitroxynil

dan albendazole),

cacing

muda

hingga dewasa

(clorsulonivermectin), dan segala umur cacing (trichlabendazole). Dalam


membunuh cacing hati, khusus albendazole memerlukan dosis dua kali
lipat (15mg/kg bobot badan), sedangkan untuk flukisida lainnya dapat
diberikan sesuai dosis yang dianjurkan (Martindah dkk, 2005).
Dosis yang diberikan untuk masing-masing preparat obat, antara
lain: albendazole 10-20 mg/kg berat badan, fenbendazole 5 10 mg/kg
berat badan atau mebendazole 13,5 mg/kg berat badan. Mekanisme
kerjanya adalah mengganggu metabolisme energi dengan menjadi
inhibitor fumarat reduktase sehingga menyebabkan proses fosforilasi
24

oksidatif untuk menghasilkan energi tidak terbnetuk, akibatnya cacing


tidak mampu menghasilkan energi sehingga mengalami paralisis (lumpuh)
dan akhirnya mati. Golongan benzimidazol sebaiknya tidak digunakan saat
masa kebuntingan awal. Pengobatan dengan Dovenix yang berisi zat aktif
Nitroxinil cukup efektif untuk trematoda. Dosis pemberian Dovenix adalah
1 ml/25 kg berat badan dan diberikan secara subkutan.
3.1.2 Haemonchus contortus
Signalement
-

Jenis hewan : Kambing


Jenis kelamin : Jantan
Ras
: Jawarandu
Umur
: 2 tahun
Berat Badan : 35 kg
Asal Sapi
: Mulyorejo, Surabaya

Anamnesa
-

Berat badan menurun


kambing mengalami diare dan lemas.

Temuan dan gejala klinis


-

Bulu kusam

Anemia
badan kambing kurus, mukosa mulut dan mukosa cenderung pucat.

Diagnosa diferensial : Distomatosis


Diagnosa penunjang
Inspeksi dilakukan pada kambing yang akan dijadikan hewan kurban
di daerah Mulyorejo, Surabaya. Hasil inspeksi dari sampel feses kambing
dikoleksi dibawa ke laboratorium untuk diidentifikasi.
Hasil pemeriksan menunjukkan bahwa terdapat telur parasit cacing
Haemonchus contortus (Gambar 3.2.1)

25

Gambar 3. 2.1 Telur Haemonchus contortus (dok.pribadi)

Gambar 3.2.2 Telur Haemonchus contortus (Marys Alpaca, 2008).


Diagnosa Tentatif

: Haemonchosis

Klasifikasi ilmiah Haemonchus contortus menurut Urquhart et al., (1996)


adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Phyllum : Nemathelminthes
Sub class : Secernentea
Class
: Nematoda
Ordo
: Strongylida
Family
: Trichostrongylidae
Genus
: Haemonchus
Spesies
: Haemonchus contortus

26

Gambar 3.2.3 Haemonchus contortus dewasa (Joan M. Burke, 2005).


a. Morfologi
Cacing jantan panjangnya 10-20 mm diameter 400 mikron,
berwarna merah terang serta memiliki spikula dan bursa. Bursanya
ditemukan di bagian posterior tubuh tersusun oleh dua lobus lateral yang
simetris dan satu lobus dorsal yang tidak simetris, sehingga membentuk
percabangan seperti huruf Y dan berwarna mengkilat.
Cacing betina mempunyai ukuran lebih panjang dari cacing jantan
yaitu 18-30 mm dengan diameter 500 mikron, nampak adanya anyamananyaman yang membentuk spiral antara organ genital (Ovarium) yang
berwarna putih dengan usus yang berwarna merah karena penuh berisi
darah, sehingga akan nampak berwarna merah putih secara berselang
seling. Mempunyai Flaf anterior yang menutupi permukaan vulva yang
umumnya besar dan menonjol. Cacing betina dewasa mampu bertelur
sebanyak 5.000 10.000 butir setiap hari.
Morfologi telur cacing dari Haemoncus contortus yaitu oosit
berwarna kekuningan. Telur berbentuk lonjong dan berukuran 70-85
(panjang) X 41 48 mikron (lebar), yang pada saat keluar bersama tinja,
perkembangan telur telah mengalami stadium morula (didalam telur telah
mengandung 16-32 sel). (Imbang Dwi Rahayu, 2010).
b. Hospes
Kambing, domba, sapi dan ruminansia lainnya.
c. Predileksi
Predileksi cacing ini pada abomasum hospesnya.
d. Siklus Hidup
Siklus hidup Haemonchus contortus dan Nematoda lain pada
ruminansia bersifat langsung, tidak membutuhkan hospes intermediet.
27

Cacing betina dewasa akan melepas 5000 sampai 10.000 telur, dimana
akan dilewatkan bersama feses. Telur akan berkembang ketika kondisi
lembab di dalam feses dan akan terus berkembang menjadi rhabditifform,
dan juvenile stage dengan memakan bakteri di dalam feses tersebut.
Rhabditiform (Larva 1) biasanya terbentuk selama 4 atau 6 hari pada suhu
yang optimal yaitu 24 29 derajat celsius. Rhabditiform membuang
kutikulanya dan berubah menjadi larva filiariform (Larva 2) yang inaktif.
Kemudian akan menjadi larva III yang infektif. Larva III akan merayap
keatas daun atau rumput-rumputan serta dapat bertahan hidup untuk
beberapa minggu bulan jika kondisi tetap menunjang. Domba dan
kambing serta ruminan lainnya akan terinfeksi saat menelan larva
filiariform (Larva 3). Larva 3 akan melewati 3 lambung dan menjadi
infektif larva 4 ketika mencapai abomasum IV dan menempel pada
mukosa abomasum. Filiariform berubah menjadi preadult larva (L4
dengan cara membuang kutiklenya. Biasanya membutuhkan waktu 48 jam.
Preadult larva (L4) akan menjadi larva dewasa. Pejantan dan betina
dewasa akan kopulasi dan tinggal di abomasum dan meminum darah.
Cacing betina sudah dapat bertelur dalam waktu 18 21 hari setelah
infeksi
.
.

28

Gambar 3.2.4 Siklus Hidup Haemonchus sp (Whittier, et al., 2003) (Imbang D


Rahayu, 2010).

e. Gejala Klinis
Gejala klinis lainnya antara lain gelisah, anemia, oedema, lethargy
dan depresi. Akumulasi dari cairan di jaringan mandibular yang biasanya
disebut bottle jaw, pertumbuhan dan produksi akan menurun drastic.
f. Patogenesa
Gejala klinis umumnya akibat kehilangan darah. Pada infeksi akut
akan menyebabkan kematian yang tiba-tiba, akibat syok. Gelisah, anemina
disebabkan kehilangan akumulasi darah, sedangkan edema terjadi akibat
kekurangan partikel darah sehingga menyebabkan kestidakseimbangan
cairan tubuh, hal yang sama terjadi pada bottle jaw.
g. Pengendalian dan Terapi
Pada umumnya tindakan-tindakan berikut dianjurkan untuk mencegah
parasitisme pada ruminansia:
1) Jangan menaruh sapid an kambing terlalu padat pada padang rumput.
2) Pisahkan hewan-hewan muda dari yang dewasa sedini mungkin.
3) Hindari pembuangan air yang jelek di padang rumput.
4) Berikanlah makan sapi ditempat yang kering bila memungkinkan.
5) Jangan biarkan pakan dan air minum sapi tercemar oleh tinja.
6) Buang kotoran sapi dari kandang sesering mungkin.
7) Lengkapilah dengan kandang yang bersih dan bebas hama atau padang
rumput yang bersih tidak terinfeksi parasit untuk anak-anak sapi. (Norman
D Levin, 1994).
Pengobatan yang bisa diberikan berupa kelompok benzilmidazole,
antara lain

albendazole dengan dosis 5 10 mg/kg berat badan,

mebendazole dengan dosis 13,5 mg/kg berat badan dan thiabendazole


dengan dosis 44 46 mg/kg berat badan. Albendazole dilarang dipakai
pada 1/3 kebuntingan awal. Mebendazole dan thiabendazole aman untuk
ternak bunting, tetapi thiabendazole sering menyebabkan resistensi.. Bisa
juga diberikan obat valbazen lewat air minum (Norman D Levin, 1994).
3.1.3 Raillietina cysticilus
Signalment
- Jenis hewan : Merpati
- Jenis kelamin : Betina
- Umur
:29

Berat badan

: 500 gr

Anamnesa
-

Burung merpati didapatkan dari pasar Sepanjang Sidoarjo


Keterangan dari penjual, burung merpati mengalami penurunan nafsu
makan dan minum, lemas, dan malas bergerak.

Temuan dan gejala klinis


Burung merpati terlihat tidak aktif, bulu tampak kusam. Dan bulu sekitar
kloaka kotor dengan feses, Diare encer, Anoreksia
Diagnosa diferensial
-

Koksidiosis
Enteritis karena Infeksi bakteri, misalnya bakteri Streptococcus Sp. Bakteri
ini menyebabkan peradangan dan disertai adanya diare.

Diagnosa penunjang
Hasil pemeriksaan laboratorium didapatkan infestasi cacing Raillietina
cysticilus dalam usus halusnya. Hasil pemeriksaan feses menggunakan metode

natif, apung maupun sedimen tidak ditemukan telur cacingnya. Raillietina


cysticilus merupakan parasit besar memiliki lokasi predileksi di dalam usus kecil

berbagai unggas peliharaan maupun unggas liar. Klasifikasi Raillietina cysticilus


menurut Urquhart et al., (2005) adalah sebagai berikut :
Kingdom

: Animalia

Phylum

: Platyhelmintes

Class

: Cestoidea

Sub Class

: Cestoda

Ordo

: Cyclophyllidea

Famili

: Davaineidea

Genus

: Railietina

Spesies

: Raillietina cysticilus

30

Gambar 3.3.1 Raellitina cesticilus, perbesaran 100x


Diagnosa tentatif

: helminthiasis disebabkan Raillietiniasis

a. Morfologi
Panjangnya Raiilietna cesticillus berkisar antara 100 - 130 mm dan
lebarnya 1,5 - 3 mm, lebar skolek 300 - 600 mikron. Rostellumnya cukup
besar dengan diameter 100 mikron, dilengkapi dengan dua baris terdiri
dari 400 - 500 duri yang berukuran 8 - 10 mikron. Alat penghisapnya tidak
berduri kait. Raiilietna cesticillus berwarrna keputihan, panjang dan
bagian dorso-ventral datar, dan seluruh tubuh ditutupi oleh tegument.
Tubuh terdiri dari region kepala yang disebut scolex, dan bagian yang
tidak bersegmen disebut leher dan bagian tubuh yang sangat bersegment
disebut strobila. Pusat perkembangan segmen terletak di belakang kepala,
yaitu pada bagian leher yang pendek. Segmen tubuh yang lain merupakan
tempat reproduksi yang memiliki ovarium dan testes.
Strobila tersusun atas ikatan seperti pita proglottids. Dalam tiap
proglottid yang matang terdapat 20 -230 testes. Lokasi lubang kelaminnya
berselang seling tidak teratur. Kapsul telur, masing-masing mengandung
satu telur, mengisi seluruh proglottid yang matang. Pada bagian scolex
paling depan memiliki bentukan bulat dan dikelilingi oleh 4 sucker. Tidak
seperti spesies raillietina lainnya, rostellum ini sangat menonjol dan
suckernya sangat kecil.
b. Hospes
Hospes definitifnya adalah unggas, seperti ayam, kalkun, dan
burung merpati. Hospes perantaranya adalah lalat jenis Musca domestica.
31

c. Predileksi
Predileksi cacing ini pada usus halus hospes definitifnya.
d. Siklus Hidup
Penyebaran cacing Cestoda pada unggas sangat dipengaruhi oleh
adanya inang antara.. Telur cacing Cestoda yang termakan oleh inang
antara akan menetas di dalam saluran pencernaannya.Telur yang menetas
berkembang menjadi onkosfir yaitu telur yang telah berkembang menjadi
embrio banyak sel yang dilengkapi dengan 6 buah kait.
Onkosfir selanjutnya berkembang menjadi sistiserkoid dalam
waktu 3 minggu setelah telur termakan oleh inang antara. Sistiserkoid
tetep tinggal di dalam tubuh inang antara sampai dengan inang antara
tersebut dimakan oleh inang definitif yaitu unggas.
Setelah unggas memakan inang antara yang mengandung
sistiserkoid, maka sistiserkoid terbebaskan oleh adanya aktivitas enzim
pencernaan. Segera setelah sistiserkoid bebas, skoleksnya mengalami
invaginasi, skolek keluar dari kista dan melekatkan diri pada dinding usus.
Segmen muda terbentuk di daerah leher dan akan berkembang menjadi
segmen yang matang dalam waktu 3 minggu. Pada saat segmen atau
strobila berproliferasi di dinding leher, dinding sistiserkoid akan
mengalami

degenerasi

dan

menghilang.

Selanjutnya

sistiserkoid

berkembang menjadi cacing dewasa di dalam usus ayam dalam waktu 20


hari. Raillietina cesticillus mempunyai inang antara berupa kumbang dan
lalat Musca domestica.
e. Gejala Klinis
Gejala klinis akibat cacing ini pada unggas dipengaruhi antara lain
oleh status pakan atau keadaan gizi ternak, jumlah infeksi dan umur ayam.
Pada beberapa jenis infeksi, gejala umum pada unggas muda biasanya
ditunjukkan oleh adanya penurunan bobot badan, hilangnya nafsu makan,
kekerdilan, diare dan anemia. Penurunan produksi telur dan kesehatan
secara umum juga merupakan gejala umum akibat infeksi cacing Cestoda.
Cacing Railitiena dalam jumlah besar akan banyak mengambil sari
makann dari tubuh inangn sehingga tidak jarang menyebabkan
hypoglicemia dan hypoproteinemia.
32

R. cesticillus menyebabkan degenerasi dan inflamasi villi selapit


lendir usus di tempat menempel ujung kait rostellum dan dalam keadaan
infeksi berat dapat menyebabkan kekerdilan. Cacing Cestoda ini paling
umum didapati pada ayam dengan kerusakan berupa enteritis
haemorrhagia. Cacing ini menyebabkan degenerasi dan peradangan pada
vili-villi selaput lendir usus.
f. Patogenesa
Predileksi cacing ini saat dewasa adalah di small intestine. Cacing
ini akan mengambil makanan dengan cara menyerap sari makanan dari
induk semangnya pada mukosa usus. Apabila tingkat infeksi cukup berat,
akan mennyebabkan degenerasi pada sel epitel, enteritis dan infiltrasi
macrophage dari lymphocyte. Serta induk semang akan mengalami
hypoglicemia dan hypoproteinemia yang nyata.
g. Pencegahan dan Terapi
Tindakan pengobatan untuk cacing pita harus dapat merusak scolex
sehingga cacing tersebut dapat mati. Jika scolex masih berfungsi dan
hanya segmen bagian belakangnya saja yang dirusak, maka segmen baru
dapat dibentuk lagi dan unggas akan terinfestasi lagi oleh cacing tersebut.
Anthelmintik yang efektif untuk mengobati unggas akibat terjadinya
infestasi cacing Raillietina sp. adalah praziquantel dan fenbendazole. Cara
kerja praziquantel adalah dengan bekerja merusak kulit parasit internal
sehingga parasit hancur dan akan dihapus oleh sistem imun tubuh unggas.
Praziquantel dalam pakan diberikan dengan dosis 10 mg per kg berat
badan. Cara kerja fenbendazole adalah mengganggu metabolisme
karbohidrat cacing tersebut. Fenbendazole diberikan dalam pakan dengan
dosis 50 mg per kg berat badan selama enam hari pada unggas. Obat lain
yang digunakan adalah Albendazole. Albendazole lebih baik digunakan
karena lebih efisien dan memiliki efek samping yang sedikit.
Tindakan penanganan untuk mencegah terjadinya infestasi cacing
ini perlu dilakukan :

33

1. Pengobatan terhadap ternak yang sudah terinfestasi Raillietina sp.


untuk mencegah keluarnya telur cacing, karena cacing dewasa telah
terbunuh, sehingga penyakit tidak dapat tersebar secara luas.
2. Pemberantasan hospes perantara dengan jalan pemberian insektisida
untuk memotong siklus hidup cacing tersebut.
3.2 Protozoa
3.2.1 Trichomonas Gallinae
Signalement
-

Jenis hewan
Jenis kelamin
Umur
Berat badan
Warna

: Merpati
: Jantan
: 1 tahun
: 0,7 kg
: coklat

Anamnesa
-

Nafsu makan menurun

Lemas

Temuan dan gejala klinis


-

Rongga mulut kering pucat

Mata sayu, pucat dan anemia

Feses berwarna hijau

Diferensial Diagnosa
-

Infeksi bakteri, dan helminthiasis

Diagnosa penunjang
Burung merpati didapatkan dari pasar Sepanjang Sidoarjo. Sampel swab
kerongkongan dilakukan uji natif dan hasilnya menunjukan adanya infestasi
protozoa darah yaitu Trichomonas Gallinae (Gambar 3.4)

34

Gambar 3.4.1 Trichomonas gallinae pada burung merpati (dok.pribadi)

Diagnosa tentatif : Trichomoniasis

Klasifikasi ilmiah Trichomonas Gallinae menurut Urquhart et al., (1996)


adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Filum

: Sarcomastigophora

Subfilum

: Mastigophora

Kelas

: Zoomastigophorasida

Ordo

: Trichomonadorida

Famili

: Trichomonadidae

Genus

: Trichomonas

Spesies

: Trichomonas gallinae

a. Morfologi
Parasit berbentuk seperti buah per, dengan ukuran panjang kira-kira 10
mm dan lebar 5 mm. Mempunyai empat flagella anterior dan satu flagella
posterior yang membentuk membrane undulate. Membran undulate mencapai dua
pertiga panjang tubuh. Mempunyai axostile menjulang sampai posterior tubuh.

35

Gambar 3.4.2 Morfologi Trichomonas Gallinae


b. Hospes
Hospes pada Burung merpati, kalkun, dan ayam
c. Predileksi
Predileksi pada kerongkongan dan saluran pencernaan bagian atas
(esofagus, faring, proventrikulus) dan hepar.
d. Siklus hidup
Siklus Hidup T. gallinae sangat sederhana, reprodukis dengan
longitudinal binary fission yaitu membelah diri mrnjadi dua menurut poros
panjang badan., tidak membentuk kista. Tetapi mengalami degenerasi
kemudian mati (Levine., 1961)
e. Patogenesa
Burung merpati yang terserang T. Gallinae akan menyebarkan
infeksi ke ungags lain lewat tempat pakan/ minum yang terkontaminasi. T.
Gallinae akan menyerang daerah kerongkongan dan esophagus. Terkadang
juga menyerang organ pancreas dan hati sehingga menyebabkan mortalitas
tinggi. Levine (1961) menyatakan 80 % merpati dewasa yang terinfeksi
protozoa ini jarang menimbulkan gejala sakit, namun jika menyerang anak
merpati seringkali dalam beberapa hari anak merpati tersebut mati. Infeksi
pada anak merpati ini biasanya bersumber dari pigeon milk induknya .

36

Pada merpati strain virulen awalnya timbul lesi kecildi rongga


mulut dengan batas yang jelas dan berwarna kekuningan. Lesi tersebut
akan meluas dari mulut-kerongkongan-hingga saluran pencernaan atas.lesi
ini semakin lama meluas secara ekstensif, dan menjadi perkejuan yang
nekrotik sehingga menutupi lumen organ.
f. Gejala klinis
Jengger dan pial gelap, Lesu, bau busuk keluar air liur pada mulut
pada ayam yang terinfeksi., penurunan berat badan. Lesi primer dijumpai
di mukosa orofaringeal, kemudian diikuti invasi parasit ke kelenjar faring
dan pentrasi progresif ke lapisan epitel. Infeksi pada hepar dengan abses
multipel diperkirakan merupakan penyebab kematian pada unggas-unggas
muda.
g. Gambaran patologis
Unggas yang terinfeksi terutama pada unggas muda di bagian
esofagus, dan proventrikulus menunjukan keradangan dan ulserasi, ulser
sedalam 3-4mm. Pada T. gallinarum, hati didapatkan lesi seperti pada
histomoniasis
h. Pencegahan dan Terapi
Pengobatan pada ayam tidak secara spesifik. Pada burung merpati
dapat diberikan metronidazol 60 mg/kg po dan dimetridazole 50 mg/kg po
dalam pakan atau air minum (0,05% selama 5-6 hari) dapat digunakan
untuk menekan pertumbuhan parasit.
Pencegahan dan pengendalian yang dapat dilakukan yaitu

Sanitasi membersihkan kandang, peralatan dan lingkungan kandang

Melindungi tempat pakan dan minum yang digunakan

Burung yang sakit sebaiknya diasingkan dan diobati

3.2.2 Eimiria Stidae


Signalement
37

Jenis hewan
Jenis kelamin
Umur
Berat badan

: Marmut
: Betina
: 1 th
: 900gr

Anamnesa
-

Makan sering hijauan


Kandang kotor

Temuan dan gejala klinis


-

Kurus dan diare


Lesu dan dehidrasi

Diagnosa diferensial
-

helminthiasis

Diagnosa penunjang
Inspeksi dilakukan dengan pengambilan sampel feses di pasar Spleendid
Malang. Sampel feses dibawa ke laboratorium dengan dimasukan pada pot yang
telah diisi formalin. Hasil pemeriksaan dan identifikasi menunjukan adanya
infestasi ookista eimeria pada sampel feses (Gambar 3.5.1).

Gambar 3.5.1 Eimeria Stiedae pada sampel feses marmot

Diagnosa tentatif : Koksidiosis


Menurut Madsen (1986), klasifikasi Eimeria Stiedae adalah sebagai berikut :
38

Kingdom

: Chromalveolata

Phylum

: Apicomplexa

Class

: Conoidasida

Order

: Eucoccidiorida

Family

: Eimeriidae

Genus

: Eimeria

Spesies

: Eimeria stiedae

a. Morfologi
Ookista berbentuk bulat panjang dengan ukuran 28-40 x 16-25 mikron.
Dindingnya licin dan berwarna merah kekuning-kuningan. Pada salah satu
ujungnya terdapat mikropil yang tipis, rata dan licin. Mikropil ini merupakan
bagian dimana sporozoit menembus dan melepaskan diri dari ookista (Gambar 1).
Tidak mempunyai residual body dan masa prepaten 16-18 hari.

Gambar 3.5.2 Ookista eimeria stiedae yang telah berspora (Madsen, 1986).

b. Siklus Hidup
Menurut Iskandar (2001), siklus hidup E. stiedae secara umum terdiri atas
3 stadium, yakni stadium skizogoni, stadium gametogoni dan stadium sporogoni.
39

Sporozoit, merupakan bentuk infektif koksidia, yang ditemukan di dalam ookista


bersporulasi, kelinci akan terinfeksi setelah menelan ookista bersporulasi. Di
dalam lumen usus, sporozoit setelah lepas dari induk semang mengadakan
penetrasi pada mukosa usus, melalui limfonodus mesenterika dan sistem portal
hepatik, kemudian sporozoit menuju hati. migrasi sporozoit adalah sesuai
perjalanan limfe, yakni antara duodenum dan limfonodus mesenterika. Tidak
ditemukan adanya sporozoit dalam sirkulasi portal duodenum. Di dalam hati,
sporozoit masuk dalam sel epitel saluran empedu dan kadang-kadang sel
parenkim hati. Di dalam sel, sporozoit membenamkan diri dan membentuk
tropozoit. Tropozoit di dalam sel, mengalami peningkatan ukuran, karena inti dari
organisme ini membelah secara mitosis dengan kecepatan tinggi. Hasil akhir dari
pendewasaan tropozoit adalah skizon. Skizon tumbuh dengan leluasa dalam organ
hati dan memperbanyak jumlah inti. Inti bentukan baru tersebut bergerak
menjangkau permukaan, kemudian membenamkan diri ke dalam masa sitoplasma,
lalu berubah menjadi merozoit. Merozoit di dalam masa sitoplasma sel hati
mengalami pematangan. Setelah matang, sel induk semang pecah dan keluarlah
merozoit generasi pertama. Ini berarti bahwa stadium skizogoni telah lengkap.
Selanjutnya, merozoit generasi pertama masuk lagi ke dalam sel induk semang
yang masih utuh dan mulailah stadium skizogoni yang kedua. Merozoit ini
berkembang

dan

menghasilkan

merozoit

generasi

kedua.

Stadium

ini

berkesinambungan sampai dihasilkan generasi ketiga, bahkan generasi keempat.


Adanya dua sampai tiga generasi merozoit di dalam induk semang akan
merangsang

pembentukan

antibodi,

menyebabkan

beberapa

merozoit

pertumbuhannya berbeda dengan generasi terdahulu, yakni tumbuh menjadi


bentuk jantan dan bentuk betina. Sehingga dengan demikian terbentuklah dua
bentuk merozoit, yakni merozoit bentuk seksual dan merozoit bentuk aseksual.
Merizoit bentuk seksual, masuk membenamkan diri ke dalam sel induk semang
yang utuh. Lalu embrio bentuk jantan berubah menjadi mikrogamet dan embrio
bentuk betina berubah jadi makrogamet (George, 1980). Perubahan embrio bentuk
seksual ini dijabarkan sebagai berikut: embrio bentuk jantan, yang sering disebut
gamon jantan atau mikrogametosit, mengalami pengulangan pembelahan inti dan
menghasilkan multi inti. Mula-mula berbentuk koma, akhirnya dilengkapi dua
40

flagella. Bentuk ini disebut mikrogamet. Sedangkan embrio bentuk betina, yang
disebut gamon betina atau makrogametosit, semakin lama ukurannya semakin
membesar. Inti gamon yang banyak menyimpan makanan ini mengalami
pembelahan secara reduksi. Setelah matang bentuk ini disebut makrogamet.
Peristiwa perubahan gamon jantan menjadi gamet jantan dan gamon betina
menjadi gamet betina, dinamakan gametogenesis. Mikrogamet setelah memiliki
flagella dan dewasa, menjadi bebas dalam sel induk semang dan siap melakukan
aktivitasnya. Makrogamet kemudian melakuakan penetrasi kepada makrogamet,
penetrasi mikrogamet pada makrogamet serta peristiwa yang menyertainya
disebut fertilisasi. Dari fertilisasi ini dihasilkan zigot yang merupakan embrio bagi
terbentuknya ookista. menerngkan bahwa dalam pembentukan beberapa
mikrogamet dan gamon jantan hanya sebagian kecil saja yang bertemu dan
berfertilisasi dengan makrogamet sehingga terbentuknya zigot (George, 1980).
Dari fertilisasi tersebut menghasilkan zigot. Di dalam zigot akan terjadi
akumulasi bahan makanan sementara membran yang mengelilinginya semakin
kokoh dan berubah menjadi sebuah dinding. Kesatuan zigot dan dinding yang
mengelilinginya disebut ookista. Didalam perkembangannya, ookista merupakan
kotak spora yang dihasilkan oleh peleburan granula. Di dalamnya terdapat unit
zigot yang kelak akan berkembang menjadi bentuk infektif. Bentuk ini sering
dinamakan ookista mentah atau ookista yang belum bersporulasi. Melalui saluran
empedu, ookista yang belum bersporulasi ini bersama cairan empedu terbawa
menuju usus, lalu keluar bersama tinja. Di luar tubuh induk semang, unit zigot di
dalam ookista membelah menjadi empat sporokista dan akhirnya menghasilkan
delapan sporozoi. Peristiwa pendewasaan ookista muda menjadi ookista yang di
dalamnya terdapat delapan sporozoit disebut sporulasi. Demikian pula Eimeria
yang menyerang usus akan menginfeksi epitel usus kemudian mengadakan
perkembangan vegetatif dan generatif seperti halnya E. Stiedae (George, 1980).

41

Gambar 3.5.3 Siklus hidup Eimeria sp (Levine, 1994)

c. Hospes
Eimeria stiedae menyerang hospes definitive yaitu kelinci dan marmot
d. Predileksi
Predileksi dari Eimeria stiedae yaitu pada hati kelinci / marmot, namun
e. Gejala Klinis
Infeksi E. stiedae dapat bersifat subklinis ataupun klinis. Biasanya kejadian
koksidiosis hati bersifat subklinis. Tetapi pada infeksi berat yang menyerang
kelinci muda, akan terlihat tanda-tanda klinis, bahkan akan diakhiri dengan
kematian. Tanda-tanda klinis yang sering dijumpai adalah anoreksia, diare,
penurunan berat badan, pembesaran abdomen, ikterus dan dapat berakhir dengan
kematian (Licois et al., 2000).
f. Diagnosis

42

Untuk mendiagnosa koksidiosis hati yang tepat harus dilakukan


pemeriksaan mikroskopis dan perhitungan jumlah ookista yang terdapat di dalam
feses. Selain itu juga dapat dilihat dari gejala klinis yang terlihat serta lesi yang
timbul saat hewan telah mati dan telah dilakukan nekropsi (Iskandar, 2001).
Pemriksaan feses yang dilakukan pada praktikum ini yaitu dengan menggunakan
metode natif dan metode apung dan mendapatkan hasil gambaran ookista Eimeria
Stiedae pada sampel feses marmot (Gambar 2).
g. Patogenesa
Transmisi dengan E.stiedae terjadi, karena kelinci memakan ookista
bersporulasi dari tinja kelinci yang terinfeksi Waktu sporulasi di luar induk
semang, diperkirakan 58 - 72 jam, rata rata 74,7 jam. Perbedaan waktu sporulasi
tersebut di atas mungkin karena kondisi yang berbeda. Untuk sporulasi ookista
dibutuhkan oksigen, kelembaban dan suhu 38oC (Iskandar, 2001).
Feses yang langsung dimakan (kebiasaan koprofagi pada kelinci) tidak
memberi peluang waktu yang cukup untuk ookista bersporulasi, sehingga tidak
akan terjadi reinfeksi, demikian pula kekebalan dapatan awal melalui penularan
ini tidak terjadi. Ookista bersporulasi sangat resisten karena merupakan kotak
spora yang terdiri dari protein, tanin dan khitin. Resistensi ookista bersporulasi
bisa bertahan beberapa bulan dalam berbagai keadaan lingkungan seperti terhadap
berbagai bahan organik tetapi masih dapat hidup, pada pemakaian detergen,
desinfektan dan bahan organik pembasmi serangga, ookista masih bertahan hidup.
Tetapi pada pemakaian desinfektan secara langsung dan intensif ookista akan
mati. Ookista akan mati pada larutan 2% larutan NaOH, 10% amonia, metil
bromida, karbon bisulfat, pemanasan 1200C selama 20 menit dan pembakaran.
Radiasi sinar ultra violet dengan gelombang 3000 sampai 4000 Amstrong dengan
jarak tembak 30 cm setelah lima jam, zigot akan mengalami retraksi pada salah
satu sisi ookista, dan sitoplasma akan melisut dan berbintik-bintik. Secara in vitro
ookista dalam larutan yang mengandung tripsin 0,5%, empedu 5% pada suhu
300C dan lingkungan CO2 yang optimum, maka ookista yang bersporulasi dapat
dengan mudah melepaskan sporozoit dari sporokista sampai 90%. Tetapi Nyberg
et al. (1968) dalam Smyth (1976) melaporkan bahwa jika CO2 diganti dengan
43

nitrogen atau helium, maka sporozoit akan melepaskan diri dari sporokista hanya
sebesar 10%. Kondisi in vitro ini sama saja dengan keadaan dalam saluran
empedu, yang memungkinkan E.stiedae berkembang dengan menginfeksi.
h. Terapi
Penggunaan Antikoksidia sebagai upaya penanganan koksidiosis telah
banyak dipergunakan di peternakan kelinci. Cara aplikasinya peroral, pada
umumnya dicampur dalam pakan atau dalam air minum (Licois et al., 2000).
Berdasarkan pemakaiannya antikoksidia dapat berfungsi sebagai pengobatan
(treatment) dan sebagai upaya pengendalian (kontrol). Perbedaan terletak pada
dosis pemakaian. Antikoksidia yang ada, semuanya bersifat propilaksis. Yakni
hanya bersifat pencegahan, yang harus segera diberikan pada saat exposure
(permulaan munculnya tanda klinis) atau sesudahnya agar efektif. Dengan
demikian istilah yang tepat untu antikoksidia ini adalah koksidiostat. Koksidiostat
ini hanya mempengaruhi skizon atau merozoit, serta mencegah terjadinya
penyempurnaan koksidia. Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dan harus
diperhatikan adalah : Obat mampu merangsang kenaikan nilai terapetik, obat
memiliki batas keselamatan yang layak kepada kelinci sakit, obat harus mudah
diaplikasikan, obat yang dicampur dengan pakan atau air minum, maka obat harus
tetap sesuai dan stabil, logis secara ekonomis. Koksidiostat yang mula-mula
dipergunakan dalam peternakan adalah Sulfonamide dan derivatnya. Kemudian
berkembang dengan pemakaian preparat medis yang lain. Secara garis besar
preparat koksidiostat dibagi dua kelompok yaitu koksidiostat golongan
Sulfonamide dan koksidiostat bukan Sulfonamide (Licois et al., 2000).
3.3 Arthropoda
3.3.1 Columbicola columbae
Signalement

Jenis hewan

Jenis kelamin : Jantan

Umur

: 9 bulan

Berat badan

: 0,7 kg

: Burung merpati

44

Asal

: Pasar Sepanjang Sidoarjo

Pemilik

: Subandi

Anamnesa
bulu kusam, Nafsu makan turun, sering mematuki bagian bulu, lemas
Temuan Klinis
anemia (conjuctiva pucat), bulu rontok
Differential diagnosa
Infeksi Protozoa
Diagnosa Penunjang :. Inspeksi dilakukan dengan pengambilan kutu di bagian
kaki burung merpati. kutu yang ditangkap kemudian dibawa ke laboratorium
untuk diindentifikasi. Hasil identifikasi kutu menunjukan bahwa dari koleksi kutu
burung merpati ditemukan ektoparasit yaitu Columbicola Columbae.

Gambar 3.6.1 . Columbicola columbae, perbesaran 400x (dok. Pribadi)


Diagnosa tentatife : infestasi kutu Columbicola columbae
Klasifikasi dari Columbicola Columbae menurut Byrd dan Castner (2001)
adalah sebagai berikut :
Kingdom

: Animalia

Filum

: Arthropoda

Kelas

: Insekta
45

Ordo

: Phthiraptera

Famili

: Philopteridae

Genus

: Columbicola

Spesies

: Columbicola Columbae

a. Morfologi
kutu merpati (Columbicola columbae) yang terdapat pada semua
merpati, baik yang liar, jinak, maupun yang buas. Kutu ini berbentuk
lonjong, panjang sekitar 2 mm berwarna abu-abu jerami pucat. Tidak
memiliki palpus maksilaris. Antena tampak mencolok pada sisi kepala.
Sebagian besar spesies memiliki hospes spesifik Bertelur ditengah alur,
antara cabang-cabang bulu besar pada sayap, serta pada beberapa jenis
bulu lain yang dapat menjamin telur tidak rusak waktu burung merpati
mematuk-matuk bulu dengan paruh. Ada juga telur yang diletakkan dekat
pangkal bulu halus dibagian kepala dan leher yakni di tempat yang tidak
mudah lepas.
Kutu betina bertelur rata-rata 1 butir telur sehari pada suhu optimal
37oC, untuk menetas setelah 4 hari. Larva Columbicola mulai masak
seksual setelah mengalami penggantian kulit 3 kali, kurang lebih 21 hari.
Karena kutu merpati tinggal di bulu sayap yang mudah terancam bahaya
paruh burung, maka sifatnya sangat mobile dan mudah menyelinap
diantara bulu burung dengan memanfaatkan tungkainya yang panjang dan
langsing.
b. Hospes
Unggas, burung merpati
c. Predileksi
Bulu bagian sayap, kepala dan leher
d. Siklus hidup
mengalami proses metamorfosa yang tidak sempurna, yaitu telunimpha- idividu dewasa. Seluruh siklus hidupnya terjadi didalam tubuh
induk semang. Telur kutu akan menempel pada induk semang dengan
bantuan zat perekat kitin yang dihasilkannya.
e. Gejala Klinis
46

Merpati yang terinfeksi umumnya tidak menunjukkan gejala klinis.


Infeksi kutu dapat menyebabkan iritasi pada kulit dan menyebabkan kulit
dan bulu kusam, membuat hospes gatal-gatal. Infeksi yang berat dapat
menyebabkan kegelisahan, anemia sehingga menurunkan produksi daging
dan telur.
f. Pengendalian dan Pengobatan
Pengendalian yang dapat dilakukan yaitu dengan cara, sanitasi
kandang, membersihkan secara teratur feses di dalam kandang, untuk
pengobatan bisa dengan anti kutu contohnya kutumox.
3.3.2 Stomoxys Calsitrans
Signalement
-

Jenis hewan
Ras
Jenis kelamin
Umur
Berat badan

: Sapi
: Friesian holstein
: Betina
: 2 tahun
: 300 kg

Anamnesa
-

Banyak lalat dan sering mengibas-kibaskan ekor


Kandang kotor
Penurunan produksi susu

Temuan dan gejala klinis


-

Ptekie dan lesi pada kaki

Diagnosa diferensial
-

Infestasi Tabanus sebagai lalat penghisap darah mnyebabkan ptekie pada


kulit dan anemia

Diagnosa penunjang
Inspeksi dilakukan dengan pengambilan lalat di peternakan sapi di daerah
punten, batu Malang. Lalat ditangkap menggunakan jaring penangkap dan dibawa
ke laboratorium untuk diindentifikasi. Hasil identifikasi lalat menunjukan bahwa
lalat termasuk Stomoxys calsitrans (Gambar 3.7.1).
Klasifikasi dari Stomoxys calcitrans menurut Byrd dan Castner (2001)
adalah sebagai berikut :

47

Filum : Arthropoda
Kelas : Insekta
Ordo : Diptera
Famili : Muscidae
Genus : Stomoxys
Spesies : Stomoxys calcitrans

Gambar 3.7.1 Stomoxys calcitrans


Diagnosa tentatif

: infestasi Stomoxys calsitrans

a. Morfologi
Stomoxys calsitrans merupakan lalat kandang penghisap kandang.
Menurut Sucipto (2011) bahwa lalat ini bentuknya menyerupai lalat rumah
tetapi berbeda pada struktur mulutnya yang berfungsi menusuk dan
menghisap darah. Lalat ini merupakan penghisap darah ternak yang dapat
menurunkan produksi susu. Lalat kandang dewasa berukuran panjang 5-7
mm, mempunyai bagian mulut (proboscis) meruncing untuk menusuk dan
menghisap darah. Bagian thoraksnya terdapat garis gelap yang diantaranya
berwarna terang. Sayapnya mempunyai vena 4 yang melengkung tidak
tajam ke arah kosta mendekati vena 3. Antenanya terdiri atas tiga ruas, ruas
terakhir paling besar, berbentuk silinder dan dilengkapi dengan arista yang
memiliki bulu hanya pada bagian atas.
48

Gambar 3.7.2 Stomoxys calcitrans (dok. Pribadi)


Pada kepala ditemukan palpus maksilarisnya yang ukurannya lebih
pendek dibandingkan proboscis yang ujuangnya tajan. Toraknya juga terlihat
ada 4 garis longitudinal berwarna abu-abu gelap (sama dengan Musca sp).
Lengpeng hipopleuron tidak memiliki sebaris bulu setae. Abdomennya
lebih pendek, tetapi lebih lebar jika dibandingkan dengan Musca sp dan
ditemukan adanya tiga titik berwarna gelap pada segmen ke-2 dan ke-3 dan
tepinya berwarna gelap, keabu-abuan atau coklat.
b. Habitat dan Predileksi
Lalat Stomoxys calcitrans jarang dijumpai di permukiman, tetapi
sangat umum pada peternakan sapi perah, atau sapi yang selalu di kandang.
Lalat ini merupakan penghisap darah ternak yang dapat menurunkan
produksi susu. Kadang-kadang menyerang manusia dengan menggigit pada
daerah lutut atau kaki bagian bawah. Baik yang jantan maupun yang betina
menghisap darah.
Telur diletakkan pada habitat yang sesuai yaitu kotoran hewan yang
telah bercampur dengan urin dan sisa makanan atau rumput. Bisa juga telur
diletakkan pada sampah sayuran, kompos, potongan rumput, biji-bijian yang
sedang membusuk, kotoran ayam atau ganggang laut yang menimbun di
sepanjang pantai.
c. Siklus hidup
Siklus hidup dari Stomoxys calsitrans, sebelum bertelur, betina
membutuhkan suplai makanan (darah). Telur disimpan secara tunggal
49

maupun rumpun dalam kondisi lembab di tempat jerami yang membusuk,


tumpukan rumput atau potongan rumput. Satu ekor betina dapat menyimpan
600 butir telur. Telur berwarna krem berbentuk oval dan dapat menetas
dalam 1 3 hari. Pada cuaca yang hangat, larva dapat berkembang baik
dalam waktu 14 24 hari. Kemudian mengkerut di tempat yang lebih kering
menjadi pupa. Pupa memiliki panjang sekitar 6 7 mm Stadium
pendewasaan akan muncul dari pupa setelah satu minggu atau lebih, dan
siklus hidup berkisar 3-5 minggu pada kondisi optimal. Lalat dewasa
menghisap darah hewan dan cenderung tetap di luar rumah di tempat yang
terpapar sinar matahari. Lalat kandang termasuk penerbang yang kuat dan
bisa melakukan perjalanan jauh dari tempat perindukannya. Masa hidup
lalat dewasa yaitu 20 69 hari. (Sucipto, 2011).
d. Patogenesa
Lalat dewasa mencari makanan pada hospes di cuaca cerah maupun
berawan. Mereka menggigit ternak yang mengakibatkan rasa sakit dan
pendarahan pada tempat gigitan. Lalat ini dapat menyebarkan T. evansi
untuk penyakit surrae dan penyakit Mal de Cadaras pada sapi, kuda,
kambing, domba. Lalat ini bertindak sebagai inang perantara Habronema
majus
e. Gejala klinis
Terjadi penurunan produksi susu, penurunan berat badan, kehilangan
darah pada serangan lalat dalam jumlah banyak. Lalat ini dapat
menyebarkan T. evansi untuk penyakit surrae dan penyakit Mal de Cadaras
pada sapi, kuda, kambing, domba. Lalat ini bertindak sebagai inang
perantara Habronema majus. Pengendalian lalat ini dengan fogging
insektisida dan penyemprotan pada pagar dan dinding peternakan.
f. Vektor dan Pengendalian
Menjadi vektor bagi Brucella abortus, B. Militensis, Bacillus antracis
dan Trypanosoma evansi. Pengendalian relatif sulit dilakukan. Sanitasi dan
50

kebersihan kandang merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk
mengendalikan populasi lalat. Penggunaan insektisida juga merupakan cara
digunakan untuk membunuh lalat dengan cara menyemprot kandang dengan
Lindane 0,03-0,05 %, Toxaphene 0,5%, Metoxychlor 0,05 %, Coumaphos
0,125 %, Dioxanthion 0,15 %, Malation 0,5 %, atau Ronnel 0,75 %.
Pemberian dichlorvos dalam minyak mineral diberikan setiap hari juga
mampu mengusir lalat untuk hinggap dipermukaan tubuh hewan. Selain
dichlorvos

bisa

juga

digunakan

coumophos,

malathion

atau

tetrachlorvinphos yang diberikan 2 sampai3 kali seminggu dalam sediaan


tabur. Aplikasi insektisida dapat dilakukan dengan cara Dipping (populasi
ternak banyak), spraying, Back Rubber, Dust bag, Pour on, lewat makanan
dan menggunakan keping resin (seperti kalung). Metode pengendalian
biologi dengan menggunakan parasit penyengat yang sudah dikembangkan
sebagai kompetitor biologis untuk Musca domestica.

51

BAB IV PENTUP
4.1 Kesimpulan
Cara isolasi dan identifikasi masing masing jenis parasit berbeda, untuk
helminthes pemeriksaan dilakukan dengan pemeriksaan telur metode natif,
metode sedimentasi, metode apung, dan pembuatan preparat kering dengan
pewarnaan carmine. Isolasi dan identifikasi arthropoda dilakukan dengan metode
pengawetan kering (pinning) dan pengawetan basah. Sedangkan isolasi dan
identifikasi protozoa dilakukan dengan metode metode natif, metode sedimentasi,
metode apung, metode pembuatan preparat ulas darah dan metode pembuatan
preparat ulas darah dengan pewarnaan giemsa
Hasil identifikasi baik endoparasit maupun ektoparasit selama koasistensi
di Laboratorium Parasitologi, sebagai berikut :
1. Helminthiasis
a. Spesimen : Sapi
Sampel

: Feses, cacing pada organ hati

Hasil

: Fasciola gigantica (Trematoda)

b. Spesimen : kambing
Sampel

: Feses

Hasil

: Haemonchus Contortus (Nematoda)

c. Spesimen : merpati
Sampel

: Cacing dari Saluran pencernaan, feses

Hasil

: Raellitina cesticilus (Cestoda)

2. Protozoa
52

a. Spesimen : Merpati
Sampel

: swab kerongkongan

Hasil

: Trichomonas Gallinae

b. Spesimen : Marmut
Sampel

: Feses

Hasil

: Eimiria stiedae

3. Arthropoda
a. Spesimen : Merpati
Sampel

: Kutu

Hasil

: Columbicola Columbae (Lice)

b. Spesimen : Sapi
Sampel

: Lalat

Hasil

: Stomoxys calsitrans (Flies)

53

DAFTAR PUSTAKA

Arroyo HS, J.L Capinera. 1998. House Fly, Musca domestica Linnaeus (Insecta:
Diptera:Muscidae). Florida (US): University of Florida. USA
Hadi UK dan Soviana S. 2010. Ektoparasit; Pengenalan, Diagnosa, dan
Pengendaliannya. Laboratorium Entomologi. FKH IPB. Bogor
Gandahusada, S.W. Pribadi dan D.I. Heryy. 2000. Parasitologi Kedokteran.
Fakultas kedokteran UI, Jakarta.
George, J.R. 1980. Parasitology for Veterinarians. W.B. Saunders Company,
Philadelphia.
Gordon, R.F. 1986. Poultry Disease.BailliereTibdall. London. Pp 166-175.
Iskandar, T. 2001. Studi Patogenitas dan Waktu sporulasi Eimeria stiedae galur
lapang pada kelinci. Widyariset, LIPI. 3: 173-184.
Japardi, I. 2002. Infeksi Parasit. Universitas Sumatera Utara.
Jeffrey dan Leach. 1983. Atlas helminthologi & Protozologi Kedokteran ed.2.
EGC Penerbit buku kedokteran
Kusnoto., Bendryman, S.S., Koesdarto, S., Sosiawati, S.M. 2015. Ilmu Penyakit
Helmin Kedokteran Hewan. Zifatama Publisher.
Kusumamiharja, S. 1992. Parasit dan Parasitosis pada Hewan Ternak dan
Hewan Piaraan di Indonesia. Bogor: Pusat Antar Universitas
Bioteknologi Institut Pertanian Bogor.

54

Levine, N.D. 1990. Buku Pelajaran: Parasitologi Veteriner. Gadjah Mada


University Press. Yogyakarta.
Levine, Norman D. 1995. Protozoologi Veteriner. Yogyakarta : Gadjah Mada
University Press.
Licois, D., P. Coudert and N. Nere. 2000. Epizootic Rabbits Enterocolitis and
Coccidiosis A Criminal Conspiracy. 7th Rabbits Congress ValenceEspagne.
Nawang. Pebruari, 2007. Penyakit pada Kambing atau Domba, WartaSANBEVET, hlm.16.
Noble, E. R. dan Noble, G. A. 1989. Parasitologi, Biologi Parasit Hewan.
Wardiarto dan Noerhajati, Penerjemah. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.

55