Sunteți pe pagina 1din 11

Home Artikel Penelitian Artikel Penelitian KEBIJAKAN PERIKLANAN OBAT DAN OBAT TRADISIONAL DI INDONESIA Written by Sudibyo Supardi,

Rini Sasanti Handayani, M.J.Herman, Raharni, Andi Leny Susyanty PENDAHULUAN Istilah iklan sering disebut dengan advertensi atau reklame. Advertensi berasal dari Bahasa Latin, yaitu ad-vere yang berarti menyampaikan pikiran dan gagasan kepada orang lain. Sedangkan reklame berasal dari Bahasa Perancis, yaitu reclame (Niken Restaty, 2005). Dalam Tata Krama dan Tata Cara Periklanan Indonesia (2005), pengertian iklan adalah segala bentuk pesan tentang suatu produk yang disampaikan lewat suatu media dan dibiayai oleh pemrakarsa yang dikenal serta ditujukan kepada sebagian atau seluruh masyarakat. Pengertian periklanan adalah keseluruhan proses yang meliputi penyiapan, perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan yang terkait dengan iklan (Niken Restaty, 2005). Write Comment (0 comments) Read more... KAJIAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TENTANG IKLAN OBAT DAN PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM PENGAWASAN Written by DR. Sudibyo Supardi Pendahuluan Istilah iklan di Indonesia sering disebut dengan advertensi atau reklame. Advertensi berasal dari Bahasa Latin, yaitu ad-vere yang berarti menyampaikan pikiran dan gagasan kepada orang lain, sedangkan reklame berasal dari Bahasa Perancis, yaitu reclame. 1) Iklan adalah setiap bentuk komunikasi massa yang dimaksudkan untuk memotivasi seorang pembeli potensial dan mempromosikan penjualan suatu produk atau jasa, untuk mempengaruhi pendapat publik, memenangkan dukungan publik agar berpikir atau bertindak sesuai dengan keinginan si pemasang iklan. 2) Pengertian iklan dapat ditinjau dari teori pemasaran dan teori komunikasi. 1) Write Comment (0 comments) Read more... PENGETAHUAN, SIKAP DAN KEBUTUHAN PENGUNJUNG APOTEK TERHADAP PELAYANAN INFORMASI OBAT DI KOTA DEPOK Written by Nur Alam Abdullah *), Retnosari Andrajati**), Sudibyo Supardi***)

PENDAHULUAN Apotek merupakan suatu sarana tempat pekerjaan kefarmasian dilakukan dan sarana tempat penyaluran perbekalan farmasi kepada masyarakat. Tugas dan fungsi apotek adalah tempat pengabdian apoteker yang telah mengucapkan sumpah jabatan, sarana farmasi yang melaksanakan peracikan, pengubahan bentuk, pencampuran dan penyerahan obat, dan sarana penyalur perbekalan farmasi yang harus menyebarkan obat yang diperlukan masyarakat secara meluas dan merata (Peraturan Pemerintah No.25 tahun 1980). Write Comment (0 comments) Read more... Penggunaan Obat Tradisional Dalam Upaya Pengobatan Sendiri Di Indonesia Written by Sudibyo Supardi, Andi Leny Susyanty

PENDAHULUAN
Keluhan sakit (illness) berbeda dengan penyakit (disease). Pengertian sakit berkaitan dengan gangguan psikososial yang dirasakan seseorang dan bersifat subjektif, sedangkan pengertian penyakit berkaitan dengan gangguan yang terjadi pada organ tubuh berdasarkan diagnosis medis dan bersifat objektif.
1)

Studi mengenai perilaku pencarian pengobatan pada orang sakit umumnya menyangkut tiga pertanyaan pokok, yaitu (a) sumber pengobatan apa yang dianggap mampu mengobati sakitnya, (b) kriteria apa yang dipakai untuk memilih salah satu dari beberapa sumber pengobatan yang ada, dan (c) bagaimana proses pengambilan keputusan untuk memilih sumber pengobatan tersebut. 2) Write Comment (0 comments) Read more... KARAKTERISTIK PENDUDUK SAKIT YANG MEMILIH PENGOBATAN DI RUMAH Written by Sudibyo Supardi,Raharni,M.J. Herman Pengertian sakit (illness) berkaitan dengan gangguan psikososial yang dirasakan seseorang, sedangkan penyakit (disease) berkaitan dengan gangguan yang terjadi pada organ tubuh berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan. Sakit adalah penilaian seseorang terhadap kondisi tubuhnya, sedangkan penyakit merupakan reaksi biologis terhadap sesuatu (Kasl, 1966). Sakit belum tentu karena penyakit, tetapi selalu mempunyai relevansi psikososial. Perilaku sakit

adalah setiap kegiatan yang dilakukan orang sakit untuk menjelaskan keadaan kesehatannya dan mencari sumber pengobatan yang sesuai (Rosenstock, 1974) Write Comment (1 comments) Read more... More...

PENGEMBANGAN INDIKATOR DAN PENILAIAN KEGIATAN WARUNG OBAT DESA PENGEMBANGAN MODEL DAN INDIKATOR PELAYANAN KEFARMASIAN PRIMA DI APOTEK FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEPUASAN PASIEN RAWAT JALAN DAN RAWAT INAP DI PUSKESMAS PROFIL KONSUMEN OBAT TRADISIONAL TERHADAP KETANGGAPAN AKAN ADANYA EFEK SAMPING OBAT TRADISIONAL -

Yang ke 2

Penelitian terhadap penyembuhan diabetes kini semakin maju beberapa terkait beberapa penemuan yang membuat penderita dapat menjalani hidup dengan mudah, bahkan tak perlu bergantung pada suntikan insulin lagi.Inilah empat langkah terbaru dalam mengontrol penyakit diabetes: 1. Harapan untuk penyembuhan diabetes tipe 1 Dalam sebuah studi terbaru yang dilakukan terhadap tikus, peneliti membalikkan kasus terbaru diabetes tipe 1 menggunakan obat kanker imatinib (Gleevec) dan sunitinib (Sutent). Tikus-tikus tersebut dibiakkan agar terjangkit diabetes, tapi tak ada yang mendapatkan pengobatan. Pada tikus yang menderita diabetes tahap awal, setelah diberi obat itu, 80%-nya tak menunjukkan gejala apa pun setelah menjalani perawatan selama dua minggu. Dan ketika obat dilanjutkan selama sepuluh minggu, hasilnya penyakit itu pun berangsur-angsur hilang. Selanjutnya, menurut rencana, obat itu akan diuji coba untuk mengetahui keamanan dan keampuhannya pada manusia. Namun, peneliti mengakui obat tersebut mungkin hanya akan bekerja pada kasusdiabetes tertentu dan akan dapat diaplikasikan kurang lebih lima tahun mendatang. 2. Alasan untuk berkeringat

Lemak yang tak terlihat bisa saja membunuh Anda. Bila Anda kelebihan berat badan dan menderita diabetes, kata dokter, Anda mungkin akan memiliki hati yang berlemak juga. Hal itu akan meningkatkan risiko timbulnya penyakit lain seperti serangan jantung. Namun,penelitian terbaru menunjukkan bahwa berkendara sepeda, berjalan, atau berlari santai tiga kali seminggu dapat mengurangi lemak pada hati para sukarelawan sebesar 40 persen. Ini merupakan salah satu alasan lagi untuk berolah raga, kata Kerry Stewart, ahli fisiologi dari Universitas Johns Hopkins. 3. Pengendali Perut

Beberapa orang yang menderita diabetes tipe 2 biasanya akan menjalani operasi bypass lambung untuk menurunkan berat badan. Tapi kini telah hadir sebuah alat yang dapat menggantikan operasi tersebut. Alat itu dapat menghantarkan sinyal listrik yang dapat membuat seseorang merasa kenyang. Para sukarelawan yang menjalani sisten Tantalus ini rata-rata berat badannya turun hingga sekitar 5 kilogram. Kadar gula mereka pun turun sehingga memperkecil risiko mereka terkena komplikasi hingga 40%. Obat ini baru dapat hadir lima tahun mendatang.

4. Tak perlu suntikan lagi Sekitar 25 persen penderita diabetes mengalami ketergantungan terhadap suntikan insulin, tapi kini ada cara baru tanpa menggunakan jarum. Ada satu cara yang menjanjikan yakni ORMD 0801, kapsul yang didesain untuk melindungi insulin agar tidak hancur saat dicerna. Jika penelitian terhadap hal ini berlangsung cepat, penderita diabetes dapat mengonsumsi insulin dalam bentuk pil dan tidak perlu suntikan lagi. Tapi hal ini mungkin dapat terealisasikan sekitar lima tahun mendatang.

http://noni.muslim-indonesia.com/obat-diabetes-penyakit-kencing-manis-dari-bahanherbal.html/comment-page-1#comment-208

Yang ke 3

IPD : Gelar Hasil Penelitian Surveilens Beberapa Penyakit Perkotaan di Lima Wilayah DKI Jakarta tahun 2006. GERAI - Edisi Februari 2007 (Vol.6 No.7) Hasil penelitian ini menjadi potret beberapa penyakit perkotaan di DKI Jakarta. Diharapkan dapat menjawab sebagian kecil data epidemiologi populasi Indonesia dan juga sebagai kontribusi bagi perkembangan dunia kedokteran di Indonesia Selasa, 23 Januari lalu, bertempat di Aula FKUI, Departemen Ilmu Penyakit Dalam (IPD) FKUI memaparkan hasil penelitian surveilens beberapa penyakit perkotaan. Penelitian tersebut merupakan kerjasama antara IPD-FKUI dengan badan penelitian dan pengembangan kesehatan (Balitbangkes) Departemen Kesehatan RI dan Dinas Kesehatan DKI Jakarta. Pada penelitian kali ini, IPD mengambil tempat di satu kecamatan yang terdapat di lima wilayah di DKI Jakarta: Kotamadya Jakarta Pusat, Kotamadya Jakarta Selatan, Kotamadya Jakarta Barat, Kotamadya Jakarta Timur, dan Kotamadya Jakarta Utara. Hasil penelitian ini menjadi gambaran terhadap penyakit-penyakit perkotaan yang ada di DKI Jakarta, kata Prof. DR. dr. Harry Isbagio, SpPDKR, Koordinator Penelitian Departemen IPD/FKUI. Menurut Prof. Harry, departemen IPD memiliki visi dan misi yang merujuk pada visi dan misi FKUI yang salah satu intinya adalah menjadi pusat penelitian ilmu penyakit dalam terkemuka di Asia Pasifik. Di dalam perencanaan kerja tahun 2006 telah ditetapkan arah penelitian Departemen IPD FKUI yang dibagi menjadi 4 kelompok.Pertama, penelitian yang terkait dengan kebijakan pemerintah, RSCM dan kepentingan masyarakat. Pada kelompok ini dapat dibagi menjadi penelitian berbasis komunitas seperti hasil penelitian dengan judul di atas, dan penelitian epidemiologi klinik. Kedua, penelitian berbasis biotech dan basic science yang berkaitan dengan kepentingan klinik. Ketiga, penelitian klinik lain yang menghasilkan publikasi atau produk yang dapat dipatenkan. Dan keempat, penelitian yang dilaksanakan antar divisi di dalam Departemen IPD. Berkaitan pemaparan penelitian di atas, Dr. Yoga I. Kasjmir, SpPD-KR, salah satu peneliti, menjelaskan, ada 11 hasil penelitian penyakit masyarakat perkotaan yang tercakup dalam Departemen IPD. Yaitu anemia, profil gangguan psikosomatik, gangguan muskuloskeletal dan kadar asam urat pada berbagai kelompok usia, jenis kelamin dan indeks masa tubuh pada penduduk perkotaan, profil kadar asam urat dan hiperurisemia pada sindroma metabolik, prevalensi penyakit tifoid, perilaku penggunaan antibiotik, prevalensi diabetes mellitus pada populasi umur berusia 25-64 tahun, prevalensi sindroma metabolik pada populasi umum berusia 25-64 tahun, keluhan saluran cerna bagian bawah, dan dispepsia pada penduduk perkotaan di lima wilayah DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan metode multistage cluster stratified random, kata dr. Yoga.

Hasil Penelitian Hasil peneltian di atas, lanjut Yoga, meliputi 6 divisi IPD, yaitu reumatologi, hematologionkologi medik, tropik infeksi, gastroenterologi, metabolik endokrin dan psikosomatik.Pada penelitian tentang anemia, ada 7,4% populasi sampel adalah anemia dan 32,7 % memiliki kadar feritin serum yang rendah. Sekitar 1,3 % sampel dengan polisitemia. Dan sisanya (91,3%) dalam batas normal. Gangguan psikosomatik di masyarakat perkotaan cukup tinggi. Ada 39.8 % sampel mengalami gejala kecemasan (anxiety) dan 28,4% dengan gejala depresi. Kedua keluhan ini lebih banyak dijumpai pada perempuan dibanding pria. Bila ditelusuri lebih jauh, maka keluhan somatik yang sering dikeluhkan adalah sesak nafas, mual, nyeri epigastrium, perut kembung, nyeri sendi dan nyeri otot. Berkaitan dengan keluhan muskuloskeletal, hasilnya menunjukkan bahwa keluhan nyeri sendi dialami oleh 66,9%, dengan nyeri lutut yang terbanyak yaitu sebesar 26,6%. Keluhan ini terutama dirasakan pada sampel berusia di atas 45 tahun dan dengan berat badan lebih (IMT>23). Sebagai akibat gangguan muskuloskeletal tersebut terjadi gangguan aktivitas seharihari seperti gangguan berjalan sebesar 33,7%, gangguan dalam berpakaian sebesar 12,3% dan sekitar 16,6% mengalami kesulitan menggenggam.Sedangkan, upaya mengatasi keluhan muskuloskeletal tersebut yang dikonsultasikan ke dokter hanya 16,1%. Sementara sampel lebih banyak menggunakan obat oles (43,3%), pemakaian jamu mencapai 30,8% dan berobat ke dukun hanya 0,4%. Adapun kadar asam urat pada sampel penelitian ini masih dalam batas normal baik untuk laki-laki maupun perempuan. Kadar asam urat ini sedikit lebih tinggi pada sampel yang mengalami sindroma metabolik. Kenaikan kadar asam urat ini lebih menyolok pada kelompok usia di atas 45 tahun, terutama perempuan. Bagi mereka dengan sindroma metabolik, maka rerata kadar asam urat cenderung meningkat pada kelompok usia yang lebih tua yaitu 55-64 tahun. Kadar asam urat pada sampel dengan sindroma metabolik cenderung lebih tinggi bila terdapat komponen hipertensi dan dislipidemia. Kadar asam urat cenderung meningkat secara linear sesuai dengan peningkatan IMT. Pada kelompok sindroma metabolik dijumpai 29% mengalami hiperurisemia dan keluhan muskuloskeletal tersering pada bagian pinggang. Terkait dengan penggunaan antimikrobial, sejumlah 57,1% umumnya pernah menggunakannya. Obat tersebut umumnya diresepkan dokter (83,3%), sementara sisasnya diperoleh dari sumber lain. Obat-obatan di atas umumnya dibeli dari tempat lain selain apotik yaitu sebesar 78,7%. Obat yang telah diresepkan, dibeli tersebut tidak sepenuhnya dikonsumsi sesuai dengan yang ditetapkan dan 63,4% sampel memilih menyimpan obat sisa tersebut. Alasan penghentian terutama merasa telah sembuh (96,9%), tidak ada perbaikan (2,6%) dan mengalami efek samping (0,5%). Salah satu penyakit yang sering didiagnosis dan mendapat antimikrobial adalah demam tifoid. Pada penelitian ini didapatkan cut off titer Widal O >1/160 dan H>1/320 masih dapat digunakan untuk menunjang diagnosis demam tifoid. Prevalensi prediabetes ditemukan pada 24,91% sampel yang terdiri dari 17,90% dengan impaired glucose tolerance (IGT) dan 7,01% dengan impaired fasting glucose (IFG). Sindroma metabolik yang ditetapkan menggunakan kriteria NECP ATP III modifikasi Asia pada sampel tersebut didapatkan sebesar 26,6% dengan predominansi perempuan (28,3%). Komponen sindroma metabolik terbanyak adalah obesitas sentral 86,3%, hipertrigliseridemia 75,4%, hipertensi 85,5%, kolesterol HDL rendah 55,1%, dan hiperglikemia sebesar 39,8%. Keluhan gastrointestinal berupa sindroma dispepsi dijumpai sebesar 58,1% terutama pada perempuan, etnik sulawesi dan tidak tamat pendidikan SD, bekerja pada keluarga tanpa

mendapat gaji, mengonsumsi sodium glutamat dan kurang mengonsumsi buah-buahan atau sayuran, sering mengalami kecemasan dan depresi serta mengonsumsi anti radang non-steroid. Bagi departemen IPD/FKUI hasil penelitian ini akan dilanjutkan dengan penelitian tahap berikutnya guna melihat hubungan antara berbagai variabel yang ingin dituntaskan..Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjawab sebagian kecil data epidemiologi populasi Indonesia dan juga sebagai kontribusi bagi perkembangan dunia kedokteran di Indonesia.

http://s-e-h-a-t.blogspot.com/2011/05/beberapa-hasil-penelitian-terkini.html

Yang ke 4

Disbunhut Sosialisasikan Hasil Penelitian Sistim Pencegahan Hama Penyakit Tanaman Pala
21 September, 2011 | Filed under: Aceh | Posted by: Redaksi TAPAKTUAN (Berita): Dinas Perkebunan Dan Kehutanan Aceh Selatan Selasa(20/9) mengadakan Sosialisasi hasil penelitian sistim pencegahan hama penyakit tanaman pala.Workshop ini juga diikuti oleh seluruh masyarakat Tani Pala dalam Kabupaten Aceh Selatan. Dalam hal ini Syamsulijar Asisten III Setdakab Kabupaten Aceh Selatan selaku Nota Dinas Sekda juga pada kesempatan ini mengatakan, yang bahwa pala merupakan salah satu termasuk kedalam sejarah dari pada serikat dagang, dan juga salah satu komuditi pala yang sejak abad ke 17 pala merupakan komuditi andalan Aceh yang dikirim lewat compersion New York dan juga dari Singapore dikirim ke Amerika Serikat. Icon pala sudah menjadi darah dagingnya orang Aceh dan sebagai komuditi yang andalannya masyarakat Aceh bagian pantai selatan ini.Berdasarkan dari pada hasil penelitian yang bahwa cukup bagus dan hasil penelitian ini juga berkerja sama dengan UNDP terhadap penyakit yang diderita oleh pala dan sampai hari ini belum ada solusinya. Himbauan Pemerintah Dalam hal sosialisasi ini kita menghimbau kepada para petani pala supaya betul betul dapat memahaminya dan juga kami menghimbau kepada para petani harus berobah dan jangan terkesan asal asalan dengan demikian melalui kegiatan ini atau dari Balitri namun sosialisasi ini dapat terlaksana dengan sukses, dan ini merupakan intri point serta dengan melihat, mendengar dan melakukan jauh lebih persentasenya dan diharapkan jangan hanya sosialisasi ini dikertas saja, tetapi juga dapat dilakukan dilapangan. Seluas 13.516 hektar tanaman pala di Aceh Selatan mulai dari Kluet Utara hingga Labuhan Haji Barat diserang oleh hama, demikian dikatakan kadis Disbunhut Ir.H.Said Azhar. Ditambahkan lagi dimana ke 13.516 hektar tanaman pala di Aceh Selatan yang sampai hari ini masih diserang hama sudah ada obat pencegahannya, dan pada hari ini Dinas Kehutanan Dan Perkebunan Aceh Selatan mengadakan Worsk Shop dengan Balai Penelitian Tanaman Rempah Dan Aneka Tanaman Industri (BALITRI) dan UNDP.

Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Ir H Said Azhar sebelumnya juga telah pernah mengatakan,sejak tahun 1989 dan tahun 1990 merupakan awalnya gajala terjangkitnya penyakit pala, kemudian terus melakukan pencegahan pada tahun 1992 hingga sampai tahun 2011 kronologi penyakit pala belum bisa tertanggulangi atau pencegahannya. Kemudian dikatakan lagi, penyebab matinya pala tanpa alasan itu sangat mustahil, tetapi penyebab matinya pala tentu ada faktornya, terutama adalah akibat dari pada batang tanaman pala yang terserang selain ditemukan ada Spora Jamur berwarna hitam(Ceratocystis fimbriata)ditemukan juga lubang bekas gerekan yang kemungkinan besar disebabkan oleh penggerek batang (Batocera hercules).Setelah bertahun tahun menunggu hasil penelitian baru hari ini sosialisasinya terungkap kepada para petani, pala jelas Ir H. Said Azhar. Berdasarkan hasil survey maka dalam jangka pendek perlu segera melakukan, gerakan missal (GERMAS) pengendalian hama dan penyakit pada tanaman yang tersisa, germas ini dibawah koordinasi dinas Pertanian dan kehutanan kabupaten Aceh Selatan bekerja sama dengan instansi terkait. Peneliti juga melibatkan seluruh petani pala, pengendalian hama dilakukan baik secara fisik membunuh larva dikulit batang maupun kimiawi (memasukkan insektisida nabati/ sintetik dan menutupm lubang dengan pasak bamboo. Jangan melakukan penyemprotan insektisida sintetik pada batang, cabang dan ranting pohon,katan Said Azhar kemudian karena selian kurang efektif juga dapat berakibat terhadap matinya musuh alami.Dijelaskan lagi cabang atau ranting yang terserang segera dipotong dan dibakar, tindakan pengendalian hama ini diarahkan memutus siklus serangga. Pengendalian penyakit jamur akar putih dilakukan dengan cara membersihkan atau menggali tanah disekitar perakaran tanaman, kemudian menaburkan kompos yang mengandung Tricoderma disekitar perakaran tanaman atau penyemprotan fungsida nabati,misalnya CES disekitar pangkal batang. Kemudian lagi, memotong antar pohon pala yang saling bersinggungan dan melakukan sanitasi lingkungan dengan membersihkan vegetasi liarb disekitar tanaman pala termasuk pemusnahan bekas pohon terserang baik oleh hama maupun penyakit. Tidak menanam pala baru pada lahan lahan bekas pertanaman pala yang terserang penyakit atau menanam pala disampin pohon yang sudah mati, karena pada tanah disekitar tanaman yang sudah mati banyak sumber inokulum penyakit. Dan perlu diketahui bersama yang bahwa untuk sementara lahan dapat diberakan atau ditanam dengan tanaman yang bukan inang seperti nilam.Serta juga melakukan pemupukan tanaman pala sesuai anjuran budidaya pala dan juga mengelola kehadiran musuh alami atau semut yang dapat berfungsi sebagai predator telur hama. Dikatakan lagi, tujuan dilakukan sosialisasi pada tanaman Pala adalah, agar dapat mengetahui hasil penelitian tentang penyebab serangan hama /penyakit yang telah mencapai serangan

ekplosif(berat) serta dapat mengetahui metode yang tepat dan sesuai dengan lingkungan dalam usaha usaha pengendaliannya agar keberadaan tanaman di Kabupaten Aceh Selatan dapat pulih kembali.Selain diharapkan masyarakat akan dapat mengaplikasikan hasil penelitian tersebut dan menyebarluaskannya. Dari sosialisasi ini akan disebarluaskan informasi tentang penyebab matinya tanaman pala di daerah Kabupaten Aceh Selatan dan diperoleh rekomendasi teknik pengendalian yang tepat untuk pengendaliannya. Out Put yang dapat diterima dari sosialisasi ini adalah, agar masyarakat dapat mengetahui penyebab matinya tanaman pala di derah Aceh Selatan dan jenis obat/bahan yang dapat menyebuh/memulihkan tanaman yang terserang dan mempraktekkan rekomendasi hasil penelitian. Dan dari sosialisasi ini diharapkan masyarakat dapat mengatasi permasalahan hama dan penyakit pada tanaman pala di daerah Aceh Selatan juga pendapatan petani meningkatkan dan kesejahteraan masyarakat Aceh Selatan juga lebih baik.(yun)

http://beritasore.com/2011/09/21/disbunhut-sosialisasikan-hasil-penelitian-sistim-pencegahan-hamapenyakit-tanaman-pala/