Sunteți pe pagina 1din 20

TUGAS TERSTRUKTUR METODOLOGI KEPERAWATAN

ASUHAN KEPERAWATAN THYPOID












Oleh :
Kelompok 6
Hastin Wulansari G1D007091
Yeliska Ulil Albar G1D0080
Putri Siska Permana G1D008074
Siti Septriani S G1D008114
Nastian Nurdiansyah G1D008100
Asep Andri Fajar S G1D009003
Puruhita AD G1D009049



KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL
UNIVERSITAS 1ENDERAL
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
1URUSAN KEPERAWATAN
PURWOKERTO
2011

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Demam typhoid pada masyarakat dengan standar hidup dan kebersihan
rendah, cenderung meningkat dan terjadi secara endemis. Biasanya angka kejadian
tinggi pada daerah tropik dibandingkan daerah berhawa dingin. Sumber penularan
penyakit demam typhoid adalah penderita yang aktiI, penderita dalam Iase
konIalesen, dan kronik karier. Demam typhoid juga dikenali dengan nama lain
yaitu, Typhus Abdominalis, Typhoid Iever, atau enteric Iever. Demam typhoid
adalah penyakit sistemik yang akut yang mempunyai karakteristik demam, sakit
kepala dan ketidakenakan abdomen berlangsung lebih kurang 3 minggu, yang juga
disertai perut membesar, limpa dan erupsi kulit. Demam typhoid (termasuk para
typhoid) disebabkan oleh kuman salmonella typhi, S paratyphy A, S paratyphi B
dan S paratyphi C. Jika penyebabnya adalah S paratyphy, gejalanya lebih ringan
dibanding dengan yang disebabkan oleh S typhi.
Demam typhoid abdominalis atau demam typhoid masih merupakan
masalah besar di indonesia bersiIat sporadik endemik dan timbul sepanjang tahun.
Kasus demam typhoid di Indonesia, cukup tinggi berkisar antara 354-810/100.000
penduduk pertahun. Di Palembang dari penelitiaan retrospektiI selama periode 5
tahun (2003-2007) didapatkan sebanyak 3 kasus (21,5)2 penderita demam typhoid
dengan hasil biakan darah salmonella positiI dari penderita yang dirawat dengan
klinis demam tiIoid ( Dangoes, 1993).
Penyakit thypoid termasuk penyakit yang mengakibatkan angka kejadian
luar biasa (KLB) yang terjadi di Jawa Tengah, pada tahun 2003 menempati urutan
ke 21 dari 22 (4,6) penyakit yang tercatat. Meskipun hanya menempati urutan ke
21, penyakit thypoid memerlukan perawatan yang komprehensiI, mengingat
penularan salmonella thypi ada dua sumber yaitu pasien dengan demam thypoid dan
pasien dengan carier. Pasien carier adalah orang yang sembuh dari demam thypoid
dan terus mengekspresi salmonella thypi dalam tinja dan air kemih selama lebih dari
1 tahun. (Depkes, 2008).

B. Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :
a. Mengetahui pengertian Thypoid
b. Mengetahui penyebab terjadinya penyakit thypoid pada anak
c. Mengetahui diagnosa yang muncul yang akan diberikan pada penderita
Thypoid
















BAB II
PEMBAHASAN

A. Kasus
ona M umur 19 tahun mengeluh pusing, demam pada malam hari,
mengalami mual dan muntah, naIsu makan berkurang, diare, pemeriksaan
menunjukan suhu 390 C, nadi 70/menit, RR 30/menit, TD 110/80, mengalami
hipertermi, dan lidahnya pucat, terlihat anemis, mata terlihat cekung, Setelah
dirawat selama 3 hari di beri RL 20 tetes permenit, dan diberi kloramIenikol 250 mg
sebanyak 4 kali dalam sehari.

B. Definisi
Typhoid atau biasa disebut dengan demam typhoid adalah suatu inIeksi virus
yang mencakup seluruh tubuh dan menyerang pada usus halus. Penyakit ini
disebabkan oleh virus Salmonella typhosa. penyakit ini menular melalui air dan
makanan yang tercemar oleh air seni atau kotoran penderita typhoid. Virus ini
biasanya di bawa oleh penderita yang sudah mendapat pengobatan, tetapi di dalam
air seni dan kotorannya masih mengandung virus, penderita ini disebut sebagai
pembawa (carrier) kemudian menularkannya pada orang lain. Selain itu virus ini
bisa masuk ketubuh kita melalui perantara lalat, kecoa, juga tikus. Kuman tersebut
bersarang di usus halus, lalu menggerogoti diding usus, kemudian usus akan
mengalami luka dan sewaktu-waktu tukak tipus bisa jebol dan usus jadi bolong.
Gejala penyakit ini baru bisa diketahui secara spesiIik setelah virus telah
cukup berkembang biak di organ, yang kadang kurang memicu kesadarn jadi sering
kali baru diobati dgn benar setelah gejala terindentiIikasi dengan spesiIik dan jelas,
bahkan ketika gejala stadium penyakit sudah cenderung kritis, (Lynda, 2000)
Gejala awal yang perlu dikenali, yang dialami selama beberapa hari yaitu :
O Demam lebih seminggu, mulainya seperti Ilu akan tetapi jika tipus umumnya
muncul sore dan malam hari.
O Demam sukar turun
O yeri kepala hebat
O Perut terasa tidak eanak
O Tidak bisa buang air besar

Gejala tipus ringan (paratipus), yaitu:
O Mengalami buang-buang air
O Lidah tampak putih susu, bagian tepinya merah terang
O Bibir kering
O Kondisi Iisik lemah
Gejala typhoid stadium lanjut, yaitu: muncul gejala kuning, karena pada
tipus organ hati bisa membengkak seperti gejala hepatitis. Sedangkan komplikasi
yang akan terjadi pada penyakit tipus, pada umumnya muncul setelah minggu kedua
demam, yaitu jika mendadak suhu turun dan disangka sakit sudah sembuh,
sementara itu denyut nadi makin meinggi, perut melilit dan pasien tampak sakit
berat. Kondisi seperti membutuhkan pertolongan gawat darurat, karena isi usu yang
tumpah ke ronggo perut harus secepatnya dibersikan.

C. Patofisiologi
Penularan salmonella thypi dapat ditularkan melalui berbagai cara, yang
dikenal dengan 5 F yaitu Food (makanan), Fingers (jari tangan/kuku), Fomitus
(muntah), Fly (lalat), dan melalui Feses. Feses dan muntah pada penderita typhoid
dapat menularkan kuman salmonella thypi kepada orang lain. Kuman tersebut dapat
ditularkan melalui perantara lalat, dimana lalat akan hinggap dimakanan yang akan
dikonsumsi oleh orang yang sehat. Apabila orang tersebut kurang memperhatikan
kebersihan dirinya seperti mencuci tangan dan makanan yang tercemar kuman
salmonella thypi masuk ke tubuh orang yang sehat melalui mulut. Kemudian kuman
masuk ke dalam lambung, sebagian kuman akan dimusnahkan oleh asam lambung
dan sebagian lagi masuk ke usus halus bagian distal dan mencapai jaringan limpoid.
Di dalam jaringan limpoid ini kuman berkembang biak, lalu masuk ke aliran darah
dan mencapai sel-sel retikuloendotelial. Sel-sel retikuloendotelial ini kemudian
melepaskan kuman ke dalam sirkulasi darah dan menimbulkan bakterimia, kuman
selanjutnya masuk limpa, usus halus dan kandung empedu, (Mansjoer, 1999).
Semula disangka demam dan gejala toksemia pada typhoid disebabkan oleh
endotoksemia. Tetapi berdasarkan penelitian eksperimental disimpulkan bahwa
endotoksemia bukan merupakan penyebab utama demam pada typhoid.
Endotoksemia berperan pada patogenesis typhoid, karena membantu proses
inIlamasi lokal pada usus halus. Demam disebabkan karena salmonella thypi dan
endotoksinnya merangsang sintetis dan pelepasan zat pirogen oleh leukosit pada
jaringan yang meradang.
1. Gejala Klinis
Gejala klinis demam typhoid pada anak biasanya lebih ringan jika dibandingkan
dengan penderita dewasa. Masa tunas 7-14 (rata-rata 4 30) hari, 4 hari jika
inIeksi melalui makanan dan 30 hari melalui minuman. Selama inkubasi
ditemukan gejala prodromal (gejala awal tumbuhnya penyakit/gejala yang tidak
khas) :
O Perasaan tidak enak badan
O Lesu
O yeri kepala
O Pusing
O Diare
O Anoreksia
O Batuk
O yeri otot (Mansjoer, AriI 1999).
Menyusul gejala klinis yang bisa ditemukan :
Demam
Pada kasus-kasus yang khas, demam berlangsung 3 minggu pada minggu
pertama. BersiIat Iebris remiten dan suhu tidak terlalu tinggi. Selama minggu
pertama, suhu tubuh berangsur-angsur meningkat setiap hari, biasanya menurun
pada pagi hari dan meningkat lagi pada sore dan malam hari. Dalam minggu
kedua, penderita terus dalam keadaan demam. Dalam minggu ketiga, suhu badan
berangsur-angsur turun dan normal kembali pada akhir minggu ke-3.

DIBAWAH INI ADALAH PATHWAY THYPOID





D. Etiologi
Demam typhoid disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Bakteri tersebut
tergolong dalam Iamily Enterobacteriaceae dari genus Salmonella. Salmonella
typhi merupakan bakteri gram negative, berbentuk batang, tidak berspora, motil,
berIlagella (bergerak dengan rambut getar), dan berkapsul. Bakteri ini tahan
terhadap pembekuan selama beberapa minggu, namun mati pada pemanasan suhu
54,4c selama 1 jam dan 60c selama 15 menit.
Salmonella typhi mempunyai beberapa komponen antigen, yaitu:
1. Antigen dinding sel/somatic (O) yang terletak pada lapisn luar tubuh bakteri.
Bakteri ini mempunyai struktur kimia lipopolisakarida atau disebut juga
endotoksin. Antigen ini tahan terhadap panas dan alkohol, namun tidak tahan
terhadap Iormaldehid.
2. Antigen Ilagella (H) yang merupakan komponen protein dan berada dalam
Ilagella. Antigen ini tahan terhadap Iormaldehid, tetapi tidak tahan terhadap
panas dan alkohol.
3. Antigen virulen (Vi) merupakan polisakarida dan berada di kapsul yang
melindungi seluruh permukaan sel. Antigen ini dapat menghambat proses
aglutinasi (proses pembentukan antibody terhadap antigen) dan melindungi
bakteri dari proses Iogositosis.
Ketiga macam antigen tersebut, didalam tubuh penderita akan membentuk
tiga macam anti body yang disebut agglutinin, (Rahmad, 1996).
E. Komplikasi
a. Komplikasi intestinal
1. Perdarahan usus
2. Perporasi usus
3. Ilius paralitik
b. Komplikasi extra intestinal
1. Komplikasi kardiovaskuler : kegagalan sirkulasi (renjatan sepsis), miokarditis,
trombosis, tromboplebitis.
2. Komplikasi darah : anemia hemolitik, trobositopenia, dan syndroma uremia
hemolitik.
3. Komplikasi paru : pneumonia, empiema, dan pleuritis.
4. Komplikasi pada hepar dan kandung empedu : hepatitis, kolesistitis.
5. Komplikasi ginjal : glomerulus neIritis, pyelonepritis dan perinepritis.
6. Komplikasi pada tulang : osteomyolitis, osteoporosis, spondilitis dan arthritis.
7. Komplikasi neuropsikiatrik : delirium, meningiusmus, meningitis, polineuritis
periIer, sindroma Guillain bare dan sidroma katatonia.
E. Manifestasi Klinik
MeniIestasi klinis demam tiIoid sangat luas dan bervariasi, dari maniIestasi
yang atipikal hingga klasik, dari yang ringan hingga complicated. Penyakit ini
memiliki kesamaan dengan penyakit demam yang lainnya terutama pada minggu
pertama sehingga sulit dibedakan, maka untuk menegakkan diagnosa demam tiIoid
perlu ditunjang pemeriksaan laboratorium penunjang.
Demam tiIoid pada umumnya menyerang penderita kelompok umur 5 30
tahun, laki laki sama dengan wanita resikonya terinIeksi. Jarang pada umur
dibawah 2 tahun maupun diatas 60. Masa inkubasinya umumnya 3-60 hari,
(Rahmad, 1996).
ManiIestasi klinis secara umum bekaitan dengan perjalanan inIeksi kuman.
1. Panas badan. Pada demam typhoid, pola panas badan yang khas adalah tipe step
ladder pattern dimana peningkatan panas terjadi secara perlahan-lahan, terutama
pada sore hingga malam hari. Biasanya pada saat masuk rumah sakit didapatkan
keluhan utama demam yang diderita kurang lebih 5-7 hari yang tidak berhasil
diobati dengan antipiretika.
2. Lidah tiIoid. Pada pemeriksaan Iisik, lidah tiIoid digambarkan sebagai lidah yang
kotor pada pertengahan, sementara hiperemi pada tepinya, dan tremor apabila
dijulurkan.
3. Bradikardi relatiI. Pada penderita tiIoid peningkatan denyut nadi tidak sesuai
dengan peningkatan suhu, dimana seharusnya peningkatan 10 C diikuti oleh
peningkatan denyut nadi sebanyak 8 kali/menit. Bradikardi relatiI adalah keadaan
dimana peningkatan suhu 10 C diikuti oleh peningkatan nadi 8 kali/menit.
4. Gejala saluran pencernaan (anoreksia, mual, muntah, obstipasi, diare, perasaan
tidak enak di perut dan kembung, meteorismus).
5. Hepatosplenomegali.
6. Gejala inIeksi akut lainnya ( nyeri kepala, pusing, nyeri otot, batuk, epistaksis).
7. Ganguan mental berupa samnolen, stupor, koma, delirium, atau psikosis.
8. Demam tiIoid 10-14 hari, meningkat perlahan-lahan dan terutama pada sore
hingga malam hari.
9. Malaise
10. Gejala mirip inIluenza seperti menggigil, nyeri kepala bagian Irontal, malaise,
anorexia, nausea, nyeri abdominal yang tidak terlokalisir, batuk kering, dan
myalgia.
11. Ruam kulit (rash) umumnya terjadi pada hari ketujuh dan terbatas pada abdomen
disalah satu sisi dan tidak merata, bercak-bercak ros (roseola) akan tetapi sering
tidak terlihat pada pasien berwarna kulit gelap.
F. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan penunjang pada klien dengan typhoid adalah pemeriksaan
laboratorium, yang terdiri dari :
O Pemeriksaan leukosit
Di dalam beberapa literatur dinyatakan bahwa demam typhoid terdapat
leukopenia dan limposistosis relatiI tetapi kenyataannya leukopenia tidaklah
sering dijumpai. Pada kebanyakan kasus demam typhoid, jumlah leukosit pada
sediaan darah tepi berada pada batas-batas normal bahkan kadang-kadang
terdapat leukosit walaupun tidak ada komplikasi atau inIeksi sekunder. Oleh
karena itu pemeriksaan jumlah leukosit tidak berguna untuk diagnosa demam
typhoid.
O Pemeriksaan SGOT DAN SGPT
SGOT dan SGPT pada demam typhoid seringkali meningkat tetapi dapat
kembali normal setelah sembuhnya typhoid.
O Biakan darah
Bila biakan darah positiI hal itu menandakan demam typhoid, tetapi bila biakan
darah negatiI tidak menutup kemungkinan akan terjadi demam typhoid. Hal ini
dikarenakan hasil biakan darah tergantung dari beberapa Iaktor :
1. Teknik pemeriksaan Laboratorium
Hasil pemeriksaan satu laboratorium berbeda dengan laboratorium
yang lain, hal ini disebabkan oleh perbedaan teknik dan media biakan yang
digunakan. Waktu pengambilan darah yang baik adalah pada saat demam
tinggi yaitu pada saat bakteremia berlangsung.
2. Saat pemeriksaan selama perjalanan Penyakit.
Biakan darah terhadap salmonella thypi terutama positiI pada
minggu pertama dan berkurang pada minggu-minggu berikutnya. Pada
waktu kambuh biakan darah dapat positiI kembali.
3. Vaksinasi di masa lampau
Vaksinasi terhadap demam typhoid di masa lampau dapat
menimbulkan antibodi dalam darah klien, antibodi ini dapat menekan
bakteremia sehingga biakan darah negatiI.
4. Pengobatan dengan obat anti mikroba.
Bila klien sebelum pembiakan darah sudah mendapatkan obat anti
mikroba pertumbuhan kuman dalam media biakan terhambat dan hasil
biakan mungkin negatiI.

O Uji Widal
Uji widal adalah suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi
(aglutinin). Aglutinin yang spesiIik terhadap salmonella thypi terdapat dalam
serum klien dengan typhoid juga terdapat pada orang yang pernah
divaksinasikan. Antigen yang digunakan pada uji widal adalah suspensi
salmonella yang sudah dimatikan dan diolah di laboratorium. Tujuan dari uji
widal ini adalah untuk menentukan adanya aglutinin dalam serum klien yang
disangka menderita typhoid. Akibat inIeksi oleh salmonella thypi, klien
membuat antibodi atau aglutinin yaitu :
1. Aglutinin O, yang dibuat karena rangsangan antigen O (berasal dari tubuh
kuman).
2. Aglutinin H, yang dibuat karena rangsangan antigen H (berasal dari Ilagel
kuman).
3. Aglutinin Vi, yang dibuat karena rangsangan antigen Vi (berasal dari
simpai kuman)
Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H yang
ditentukan titernya untuk diagnosa, makin tinggi titernya makin besar klien
menderita typhoid.
Faktor Iaktor yang mempengaruhi uji widal :
a. Faktor yang berhubungan dengan klien :
1. Keadaan umum : gizi buruk dapat menghambat pembentukan antibodi.
2. Saat pemeriksaan selama perjalanan penyakit: aglutinin baru dijumpai
dalam darah setelah klien sakit 1 minggu dan mencapai puncaknya
pada minggu ke-5 atau ke-6.
3. Penyakit penyakit tertentu : ada beberapa penyakit yang dapat
menyertai demam typhoid yang tidak dapat menimbulkan antibodi
seperti agamaglobulinemia, leukemia dan karsinoma lanjut.
4. Pengobatan dini dengan antibiotika : pengobatan dini dengan obat anti
mikroba dapat menghambat pembentukan antibodi.
5. Obat-obatan imunosupresiI atau kortikosteroid : obat-obat tersebut
dapat menghambat terjadinya pembentukan antibodi karena supresi
sistem retikuloendotelial.
6. Vaksinasi dengan kotipa atau tipa : seseorang yang divaksinasi dengan
kotipa atau tipa, titer aglutinin O dan H dapat meningkat. Aglutinin O
biasanya menghilang setelah 6 bulan sampai 1 tahun, sedangkan titer
aglutinin H menurun perlahan-lahan selama 1 atau 2 tahun. Oleh sebab
itu titer aglutinin H pada orang yang pernah divaksinasi kurang
mempunyai nilai diagnostik.
7. InIeksi klien dengan klinis/subklinis oleh salmonella sebelumnya :
keadaan ini dapat mendukung hasil uji widal yang positiI, walaupun
dengan hasil titer yang rendah.
8. Reaksi anamnesa : keadaan dimana terjadi peningkatan titer aglutinin
terhadap salmonella thypi karena penyakit inIeksi dengan demam yang
bukan typhoid pada seseorang yang pernah tertular salmonella di masa
lalu.
b. Faktor-Iaktor Teknis
1. Aglutinasi silang : beberapa spesies salmonella dapat mengandung
antigen O dan H yang sama, sehingga reaksi aglutinasi pada satu
spesies dapat menimbulkan reaksi aglutinasi pada spesies yang lain.
2. Konsentrasi suspensi antigen : konsentrasi ini akan mempengaruhi
hasil uji widal.
3. Strain salmonella yang digunakan untuk suspensi antigen : ada
penelitian yang berpendapat bahwa daya aglutinasi suspensi antigen
dari strain salmonella setempat lebih baik dari suspensi dari strain lain.
4.
G. Penatalaksanaan
a. Perawatan
1. Klien diistirahatkan 7 hari sampai demam tulang atau 14 hari untuk
mencegah komplikasi perdarahan usus.
2. Mobilisasi bertahap bila tidak ada panas, sesuai dengan pulihnya tranIusi
bila ada komplikasi perdarahan.

b. Diet
1. Diet yang sesuai ,cukup kalori dan tinggi protein.
2. Pada penderita yang akut dapat diberi bubur saring.
3. Setelah bebas demam diberi bubur kasar selama 2 hari lalu nasi tim.
4. Dilanjutkan dengan nasi biasa setelah penderita bebas dari demam selama 7
hari.
c. Obat-obatan
1. Klorampenikol
2. Tiampenikol
3. Kotrimoxazol
4. Amoxilin dan ampicillin


I. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Biodata klien
b. Riwayat kesehatan masa lalu
Riwayat gejala thipoid
c. Riwayat masa sekarang
Makanan dan cairan : kehilangan naIsu makan, sulit menelan,
anoreksia, muntah, turgor kulit jelek, dan membrane mukosa kering.

Data Etiologi Problem
Do :
O Suhu 39
o
C
O adi 70/menit
O RR 18/menit
O TD 110/80
O Lidah Pucat

Ds:
O Mengeluh demam
tinggi jika malam hari.
O Mengeluh pusing.

Agen Biologi (salmonella
thypii)
Hypertermi

Do :
O Pucat
O Konjungtiva anemis
O Mata cekung

Ds :
O Muntah
O Mual
O Diare
O aIsu makan
berkurang
Mual dan muntah Ketidakseimbangan nutrisi
kurang dari kebutuhan


Diagnosa keperawatan
1. Hipertermi berhubungan dengan agen biologi (salmonella thypii)
2. Ketidakseimbangan nutrisi berhubungan dengan mual dan muntah

No. Diagnosa NOC NIC
1. Hipertermi
berhubungan dengan
agen biologi
(salmonella thypii)

a. Thermoregulasi
Setelah dilakukan
asuhan keperawatan
selama 2X24 jam pasien
di harapkan :
O Temperature kulit
dalam batas normal
(4)
O Suhu tubuh norma
(5)
O Tidak ada nyeri
kepala (4)
O Tidak ada perubahan
warna kulit (4)
O Denyut nadi normal
(4)
O Keseimbangan
cairan adekuat (4)
1. Pengobatan deman :
pengelolaan pasien
dengan hipertermia yang
disebabkan oleh Iactor-
Iaktor yang bukan dari
lingkungan
O Berikan obat anti
piretik, sesuai
dengan kebutuhan.
2. Regulasi tubuh : mencapai
dan atau mempertahankan
suhu tubuh dalam rentang
normal
O Pantau suhu
minimal setiap dua
jam, sesuai dengan
kebutuhan.
O Pantau warna kulit
dan suhu.
3. Pemantauan tanda vital :
pengumpulan dan analisis
data kardiovaskuler,
respirasi, suhu tubuh
untuk menentukan serta
mencegah komplikasi.
O Pantau tekanan
darah, nadi, dan
pernaIasan.

2. Ketidakseimbangan
nutrisi berhubungan
dengan mual dan
muntah

a. Status nutrisi
Setelah dilakukanh
asuhan keperawatan
selama 2X24 jam
pasien diharapkan :
O Asupan nutrisi
baik (4)
O Asupan
makanan cairan
terkontrol (4)
1. anafemen nutrisi
a. Tanyakan apakah pasien
mempunyai riwayat alergi
makanan
b. Tanyakan tentang pilihan
makanan yang sesuai
c. Kerjasama dengan ahli gizi
,jika perlu untuk
menentukan jumlah kalori
dan tipe makanan yang
diperlukan untuk
memenuhi kebutuhan
nutrisi.
d. Monitor kandungan nutrisi
dan asupan kalori
e. Tentukan kemampuan
pasien untuk memenuhi
kebutuhan nutrisi.
2. anafemen cairan
a. Pertahankan pencatatan
intake dan output secara
akurat
b. Monitor status hidrasi
(misalnya kelembaban
membrane mukosa, denyut
nadi, tekanan darat
adekuat)
c. monitor tanda-tanda vital
d. Monitor konsumsi cairan /
makanan dan minuman
dan hitung intake kalori

















BAB III
KESIMPULAN

Thypoid adalah suatu inIeksi virus yang mencakup seluruh tubuh dan menyerang
pada usus halus. Penyakit ini disebabkan oleh virus Salmonella typhosa. penyakit ini
menular melalui air dan makanan yang tercemar oleh air seni atau kotoran penderita
typhoid.
Gejala awal yang perlu dikenali, yang dialami selama beberapa hari yaitu :
O Demam lebih seminggu, mulainya seperti Ilu akan tetapi jika tipus umumnya muncul
sore dan malam hari.
O Demam sukar turun
O yeri kepala hebat
O Perut terasa tidak eanak
O Tidak bisa buang air besar
Gejala tipus ringan (paratipus), yaitu:
O Mengalami buang-buang air
O Lidah tampak putih susu, bagian tepinya merah terang
O Bibir kering
O Kondisi Iisik lemah
Diagnosa keperawatan pada thypoid adalah :
1.Hipertermi berhubungan dengan agen bio salmonella thypii
2.Ketidakseimbangan nutrisi berhubungan dengan mual dan muntah




DAFTAR PUSTAKA

Dangoes Marilyn E. 1993. #encana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. EGC: Jakarta.
Lynda Juall, 2000, Diagnosa Keperawatan. EGC: Jakarta.
Mansjoer, AriI 1999. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Media Aesculapis: Jakarta.
Rahmad Juwono. 1996, Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 3. FKUI: Jakarta.
SjaiIoellah oer, 1998. Standar Perawatan Pasie. Monica Ester: Jakarta.