Sunteți pe pagina 1din 3

Pengembangan Industri Pangan Olahan dapat Mendorong Terjadinya Diversifikasi Pangan Lokal

Pendahuluan
Diversifikasi pangan merupakan usaha penyediaan pangan yang beraneka ragam mengingat Indonesia kaya akan hasil alam seperti jagung, singkong, ubi kayu, kentang dan sagu yang dapat berfungsi sebagai sumber makanan pokok pengganti beras dan tepung terigu. Peranan diversifikasi pangan dapat dijadikan sebagai instrumen kebijakan untuk mengurangi ketergantungan pada beras sehingga mampu meningkatkan ketahanan pangan nasional, serta dapat dijadikan instrumen peningkatan produktifitas kerja melalui perbaikan gizi masyarakat.

Isi
Upaya diversifikasi walaupun sudah dirintas sejak dasawarsa 60-an, namun sampai saat ini masih belum berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Pola pangan lokal seperti ditinggalkan, berubah ke pola beras dan pola mie. Kualitas pangan juga masih rendah, kurang beragam, masih didominasi pangan sumber karbohidrat terutama dari padi-padian. Ariani dan Ashari (2003) menunjukkan bahwa konsumsi pangan pokok masyarakat Indonesia sangat tergantung pada beras dengan tingkat partisipasi rata-rata hampir mencapai 100 persen kecuali untuk Maluku dan Papua (yang dikenal wilayah dengan ekologi sagu) berkisar 80 persen. Konsumsi pangan dengan bahan baku terigu justru mengalami peningkatan yang sangat tajam yakni sebesar sebesar 19,2 persen untuk makanan mie dan makan lain berbahan terigu 7.9 persen pada periode 1999-2004. Pengembangan Industri Pangan Olahan dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, salah satunya yaitu membuat inovasi-inovasi baru tentang produksi pangan tersebut. Misalnya jagung yang diolah dengan cara baru, sehingga menarik minat konsumen dan dapat menjadi pengganti beras karena pada dasarnya kandungan jagung dan nasi sama, yaitu mengandung karbohidrat. Jika industri pangan olahan selain beras dan tepung terigu terus dikembangkan dan dapat terus maju, maka secara otomatis diverifikasi pangan lokal akan terjadi. Karena dengan begitu masyarakat tidak hanya mengkonsumsi makanan yang sama terus menerus. Masyarakat mengkonsumsi beragam makanan, tidak satu saja. Contohnya, suatu

golongan masyarakat tidak hanya mengkonsumsi beras saja atau sagu saja, tetapi juga jagung, ubi ataupun singkong. Menurut Hasan (1994), tersedianya keragaman hayati (biodiversity) yang tersebar di wilayah Indonesia merupakan potensi besar yang dapat diolah menjadi pangan. Hal ini sekaligus menjadi peluang yang dapat mengantar Indonesia untuk berswasembada karbohidrat, protein, dan lemak. Sayangnya potensi besar tersebut belum dapat dimanfaatkan secara optimal. Sebagai gambaran, Kasryno (1998) menyebutkan dari 25.000 jenis tumbuhan berbunga sekitar 6000 jenis telah dimanfaatkan oleh masyarakat. Lebih dari 100 jenis tepung dari berbagai jenis tumbuhan dapat dijadikan sebagai sumber karbohidrat. Kurang lebih dari 100 jenis legume dan sejumlah jenis tumbuhan lainnya dapat dijadikan sumber protein dan lemak. Sekitar 450 jenis buah buahan dan kacang-kacangan dan sekitar 250 jenis tumbuhan lalap-lalapan menjadi sumber protein dan mineral. Saat ini pemerintah telah menyadari begitu pentingnya diversifikasi pangan, sehingga pemerintah berencana melakukan gerakan melalui program Rencana Aksi Nasional Pangan Dan Gizi. Hal ini memerlukan kesepakatan bersama untuk membuat blue print, yang membahas seluruh aspek yang terkait dengan pengembangan diversifikasi konsumsi pangan.

Kegiatan yang dilaksanakan antara lain : (1) Pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan produk olahan makanan tradisional untuk meningkatkan daya tarik, cita rasa dan citra makanan tradisional (2) Penelitian dan pengembangan menu serta teknologi olahan makanan tradisional yang memperhatikan mutu gizi dan keamanan pangan (3)Pemasyarakatan teknologi pengolahan, pengemasan dan penyajian dalam penerapan teknologi maju, spesifik wilayah serta memperhatikan mutu gizi dan keamanan pangan

Kesimpulan

Diversifikasi pangan merupakan usaha penyediaan pangan yang beraneka ragam mengingat Indonesia kaya akan hasil alam seperti jagung, singkong, ubi kayu, kentang dan sagu yang dapat berfungsi sebagai sumber makanan pokok pengganti beras dan tepung terigu.

Manfaat diversifikasi pada antara lain adalah semakin beragamnya asupan zat gizi, baik makro maupun mikro, untuk menunjang pertumbuhan, daya tahan, dan produktivitas fisik masyarakat.

Pengembangan industri pangan olahan tentu saja dapat mendorong terjadinya diverifikasi pangan lokal karena dengan begitu masyarakat tidak hanya mengkonsumsi makanan-makanan tertentu secara terus menerus.

Daftar Pustaka
http://nuhfil.lecture.ub.ac.id/files/2009/03/roadmap-diversifikasi-panganjatim.pdf