Sunteți pe pagina 1din 44

YANI FAJAR WIRAWAN NIM ; 10.03.2.149.

0210

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN MENINGITIS

Struktur dan FungsiSistem persarafan terdiri dari sel-sel saraf yang disebut neuron dan jaringan penunjang yang disebut neuroglia . Tersusun membentuk sistem saraf pusat (SSP) dan sistem saraf tepi (SST). SSP terdiri atas otak dan medula spinalis sedangkan sistem saraf tepi merupakan susunan saraf diluar SSP yang membawa pesan dari sistem saraf pusat. Sistem persarafan berfungsi dalam mempertahankan kelangsungan hidup melalui berbagai mekanisme sehingga tubuh tetap mencapai keseimbangan. Stimulasi yang diterima oleh tubuh baik yang bersumber dari lingkungan internal maupun eksternal menyebabkan berbagai perubahan dan menuntut tubuh dapat mengadaptasi sehingga tubuh tetap seimbang. Upaya tubuh dalam mengadaptasi perubahan berlangsung melalui kegiatan saraf yang dikenal sebagai kegiatan refleks. Bila tubuh tidak mampu mengadaptasinya maka akan terjadi kondisi yang tidak seimbang atau sakit.

Sel Saraf (Neuron) :Merupakan sel tubuh yang berfungsi mencetuskan dan menghantarkan impuls listrik. Neuron merupakan unit dasar dan fungsional sistem saraf yang mempunyai sifat exitability artinya siap memberi respon saat terstimulasi. Satu sel saraf mempunyai badan sel disebut soma yang mempunyai satu atau lebih tonjolan disebut dendrit. Jaringan Penunjang: jaringan penunjang saraf terdiri atas neuroglia. Neuroglia adalah sel-sel penyokong untuk neuronneuron SSP, merupakan 40% dari volume otak dan medulla spinalis. Jumlahnya lebih banyak dari sel-sel neuron dengan perbandingan sekitar 10 berbanding satu. Ada empat jenis sel neuroglia yaitu: mikroglia, epindima, astrogalia, dan oligodendroglia Sistem Saraf Pusat : Sistem saraf pusat terdiri atas otak dan medula spinalis. SSP dibungkus oleh selaput meningen yang berfungsi untuk melindungi otak dan medula spinalis dari benturan atau trauma. Meningen terdiri atas tiga lapisan

1. Dura meter : membran putih tebal dan kasar yang menutupi seluruh otak dan medula spinalis. Dura meter terdiri dari 2 lapisan yang berfusi menjadi satu kecuali di dalam tengkorak tempat lapisan luar melekat pada tulang dan tempat terdapat sinus venosus. Falx cerebri adalah lipatan vertikal dura meter yang memisahkan kedua hemisfer serebri di garis tengah. tentoriu,m adalah bagian horisontal dura meter yang memisahkan lobus oksipital dengan cerebellum.

2. Membran araknoidea : membran halus yang pada tempat tertentu berfusi dengan pia meter, dan pada tempat lain terpisah dari pia meter oleh ruang sub araknoid, yang berisi CSS. Cisterna magna adalah bagian ruang sub araknoid yang besar pada bagian belakang tak bawah, menempati celah antara serebelum dan medulla oblongata. 3. Pia meter : membran halus yang melekat pada seluruh permukaan otak dan medulla spinalis. Leptomeningen adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan pia dan araknoid sebagai suatu kesatuan.

1.

2.

3.

4.

Menerima informasi (rangsangan) dari dalam maupun dari luar tubuh melalui saraf sensori . Saraf sensori disebut juga Afferent Sensory Pathway. Mengkomunikasikan informasi antara sistem saraf perifer dan sistem saraf pusat. Mengolah informasi yang diterima baik ditingkat medula spinalis maupun di otak untuk selanjutnya menentukan jawaban atau respon. Mengantarkan jawaban secara cepat melalui saraf motorik ke organ-organ tubuh sebagai kontrol atau modifikasi dari tindakan. Saraf motorik disebut juga Efferent Motorik Pathway.

Meningitis adalah peradangan pada selaput meningen, cairan serebrospinal dan spinal column yang menyebabkan proses infeksi pada sistem saraf pusat (Suriadi & Rita, 2001). Meningitis merupakan infeksi akut dari meninges, biasanya ditimbulkan oleh salah satu dari mikroorganisme pneumokok, Meningokok, Stafilokok, Streptokok, Hemophilus influenza dan bahan aseptis (virus) (Long, 1996). Meningitis adalah infeksi cairan otak disertai radang yang mengenai piamater,araknoid dan dalam derajat yang lebih ringan mengenai jaringan otak dan medulla spinalis yang superficial.(neorologi kapita selekta,1996).

Meningitis dibagi menjadi 2 golongan berdasarkan perubahan yang terjadi pada cairan otak, yaitu : a) Meningitis serosa Adalah radang selaput otak araknoid dan piameter yang disertai cairan otak yang jernih. Penyebab terseringnya adalah Mycobacterium tuberculosa. Penyebab lainnya Virus, Toxoplasma gondhii dan Ricketsia. b) Meningitis purulenta Adalah radang bernanah arakhnoid dan piameter yang meliputi otak dan medula spinalis. Penyebabnya antara lain : Diplococcus pneumoniae (pneumokok), Neisseria meningitis (meningokok), Streptococus haemolyticuss, Staphylococcus aureus, Haemophilus influenzae, Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, Peudomonas aeruginosa.

Bacterial meningitis disebabkan oleh bakteri tertentu dan merupakan penyakit yang serius. Salah satu bakterinya adalah meningococcal bacteria.

Gejalanya seperti timbul bercak kemerahan atau kecoklatan pada kulit. Bercak ini akan berkembang menjadi memar yang mengurangi suplai darah ke organ-organ lain dalam tubuh dapat berakibat fatal dan menyebabkan kematian

Meningitis Tuberkulosis Generalisata

Gejala : demam, mudah kesal, obstipasi, muntahmuntah, ditemukan tanda-tanda perangsangan meningen seperti kaku kuduk, suhu badan naik turun, nadi sangat labil/lambat, hipertensi umum, abdomen tampak mencekung, gangguan saraf otak. Penyebab : kuman mikobakterium tuberkulosa varian hominis. Diagnosis : Meningitis Tuberkulosis dapat ditegakkan dengan pemeriksaan cairan otak, darah, radiologi, test tuberkulin

Meningitis Purulenta
Gejala : demam tinggi, menggigil, nyeri kepala yang terus-menerus, kaku kuduk,kesadaran menurun, mual dan muntah, hilangnya nafsu makan, kelemahan umum, rasa nyeri pada punggung serta sendi. Penyebab : Diplococcus pneumoniae(pneumokok), Neisseria meningitidis(meningokok),Stretococcus haemolyticus, Staphylococcus aureus, Haemophilus influenzae, Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, Pneudomonas aeruginosa. Diagnosis : dilakukan pemeriksaan cairan otak, antigen bakteri pada cairan otak, darah tepi,elektrolit darah, biakan dan test kepekaan sumber infeksi, radiologik, pemeriksaan EEG.

Viral meningitis termasuk penyakit ringan. Gejalanya mirip dengan sakit flu biasa, dan umumnya si penderita dapat sembuh sendiri. Frekuensi viral meningitis biasanya meningkat di musim panas karena pada saat itu orang lebih sering terpapar agen pengantar virus. Banyak virusyang bisa menyebabkan viral meningitis. Antara lain virus herpes dan virus penyebab flu.

Meningitis Kriptikokus adalah meningitis yang disebabkan oleh jamur kriptokokus. Jamur ini bisa masuk ke tubuh kita saat kita menghirup debu atau tahi burung yang kering. Kriptokokus ini dapat menginfeksikan kulit, paru, dan bagian tubuh lain. Meningitis Kriptokokus ini paling sering terjadi pada orang dengan CD4 di bawah 100. Diagnosis Darah atau cairan sumsum tulang belakang dapat dites untuk kriptokokus dengan dua cara. Tes yang disebut CRAG mencari antigen (sebuah protein) yang dibuat oleh kriptokokus. Tes biakan mencoba menumbuhkan jamur kriptokokus dari contoh cairan. 1. Tes CRAG cepat dilakukan dan dapat memberi hasi pada hari yang sama. Tes biakan 2. membutuhkan waktu satu minggu atau lebih untuk menunjukkan hasil positif. Cairan 3. sumsum tulang belakang juga dapat dites secara cepat bila diwarnai dengan tinta India.

1. Bakteri; Mycobacterium tuberculosa, Diplococcus pneumoniae (pneumokok), Neisseria meningitis (meningokok), Streptococus haemolyticuss, Staphylococcus aureus, Haemophilus influenzae, Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, Peudomonas aeruginosa 2. Penyebab lainnya, Virus, Toxoplasma gondhii dan Ricketsia 3. Faktor predisposisi : jenis kelamin laki-laki lebih sering dibandingkan dengan wanita 4. Faktor maternal : ruptur membran fetal, infeksi maternal pada minggu terakhir kehamilan 5. Faktor imunologi : defisiensi mekanisme imun, defisiensi imunoglobulin. 6. Kelainan sistem saraf pusat, pembedahan atau injuri yang berhubungan dengan sistem persarafan

Komplikasi yang bisa terjadi adalah : Gangguan pembekuan darah Syok septic Demam yang memanjang Kejang Gangguan mental Gangguan belajar

Gejala meningitis diakibatkan dari infeksi dan peningkatan TIK : 1. Sakit kepala dan demam (gejala awal yang sering) 2. Perubahan pada tingkat kesadaran dapat terjadi letargik, tidak responsif, dan koma. 3. Iritasi meningen mengakibatkan sejumlah tanda sbb: a) Rigiditas nukal ( kaku leher ). Upaya untuk fleksi kepala mengalami kesukaran karena adanya spasme otot-otot leher. b) Tanda kernik positip: ketika pasien dibaringkan dengan paha dalam keadan fleksi kearah abdomen, kaki tidak dapat di ekstensikan sempurna. c) Tanda brudzinki : bila leher pasien di fleksikan maka dihasilkan fleksi lutut dan pinggul. Bila dilakukan fleksi pasif pada ekstremitas bawah pada salah satu sisi maka gerakan yang sama terlihat peda sisi ektremita yang berlawanan. 4. Mengalami foto fobia, atau sensitif yang berlebihan pada cahaya. 5. Kejang akibat area fokal kortikal yang peka dan peningkatan TIK akibat eksudat purulen dan edema serebral dengan tanda-tanda perubahan karakteristik tanda-tanda vital(melebarnya tekanan pulsa dan bradikardi), pernafasan tidak teratur, sakit kepala, muntah dan penurunan tingkat kesadaran. 6. Adanya ruam merupakan ciri menyolok pada meningitis meningokokal. 7. Infeksi fulminating dengan tanda-tanda septikimia : demam tinggi tiba-tiba muncul, lesi purpura yang menyebar, syok dan tanda koagulopati intravaskuler diseminata

Otak dan medula spinalis dilindungi oleh tiga lapisan meningen yaitu pada bagian paling luar adalah durameter, bagian tengah araknoid, dan bagian dalam piameter. Cairan otak dihasilkan didalam pleksus choroid ventrikel bergerak/mengalir melalui sub arachnoid dalam system ventrikuler seluruh otak dan sumsum tulang belakang, direabsorbsi melalui villi arachnoid yang berstruktur seperti jari jari didalam lapisan subarchnoid. Organisme (virus/bakteri) yang dapat menyebabkan meningitis, memasuki cairan otak melalui aliran darah didalam pembuluh darah otak. Cairan hidung (secret hidung) atau secret telinga yang disebabkan oleh fraktur tulang tengkorak dapat menyebabkan meningitis karena hubungan langsung antara cairan otak dengan lingkungan (dunia luar), mikroorganisme yang masuk dapat berjalan kecairan otak melalui ruangan subarachnoid. Adanya mikroorganisme yang patologis merupakan penyebab peradangan pada piamater, arachnoid, cairan otak dan ventrikel. Eksudat yang dibentuk akan menyebar, baik kecranial maupun kesaraf spinal yang dapat menyebabkan kemunduran neurologis selanjutnya, dan eksudat ini dapat menyebabkan sumbatan aliran normal cairan otak dan dapat menyebabkan hydrocephalus

I.

Identitas Nama Jenis kelamin Umur Status perkawinan Pendidikan Suku/Bangsa Alamat Pekerjaan Tanggal MRS Sumber informasi Keluhan utama

:Tn.K : Laki-laki : 35 th : Menikah : SMA : INDONESIA : Jl. Pemuda no. 201 : Jukir : 5 april 2012 : klien : demam mengigil

Riwayat keperawatan : RPS : P: Px mengeluh demam menggigil yang sudah dirasakan seminggu yang lalu sehingga pada tanggal 5 april 2012 di bawa ke Rs Q : Suhu Px mencapai 38,50C R : Rasa sakit di rasakan pada seluruh tubuh S : Px terlihat malaise dan mengalami kejang sehingga aktivitasnya terganggu T : demam meningkat saat malam hari RPD : Pasien pernah mengalami penyakit ISPA RPK : Ibu pasien pernah mengalami penyakit TB

Observasi dan Pemeriksaan Fisik Keadaan Umum : Malaise,Kesadaran menurun,Tampak lemah Gelisah,kejang
TTV : TD : 140/100 mmHg

N : 65 x/mnt S : 38,5C RR : 22x/mnt Foto fobia Ketulian Delirium Pupil anisokor Afasia Hiper algesia

B1 (Breathing) peningkatan kerja pernafasan adanya PCH suara nafas ronkhi RR : 22x/ mnt B2 (Blood) TD : 140/100 mmHg N : 65 x/mnt sianosis B3 (Brain) Sakit kepala Delirium Gg penglihatan Fotofobia Ketulian Afasia Pupil anisokor

B4 (bladder) Inkontinensi atau retensi urin - BAK mengalami penurunan input : 1500cc output : 1000cc Warna urin kuning B5 (bowel) Anoreksia sulit menelan Muntah turgor kulit jelek membran mukosa kering. B6 (Bone) Pergerakan sendi terbatas Kekuatan otot skala 2-2, 2-2 Kelainan ekstremitas : tidak Kelainan tulang belakang : tidak Fraktur : tidak Traksi / spalk /gips : tidak

DATA
Ds : - Klien mengeluh sakit kepala

ETIOLOGI Invasi pada N. olfaktorius

PROBLEM

Gangguan perfusi jaringan

Do: Permeabilitas vaskuler - Keadaan umum meningkat Klien tampak pucat dan lemah - Pemeriksaan fisik Transudasi TTV S : 38,5C Edema serebri N : 60x/menit TD : 130/90 mmHg Peningkatan volume tengkorak RR : 28 x/menit Kesadaran Delirium E=3 V=3 M=2 (8) Peningkatan TIK - Pemeriksaan Penunjang Pungsi Lumbal : TIK 25 mmHg Vasospasme pembuluh darah Pemeriksaan Darah Leukosit : 12.100/ l edema serebri Kadar Hb : 12 g/dl Glukosa darah : 4,5 ml Sirkulasi terhenti Protein darah : 74 g/L Kultur : Bakteri Haemophilus Influenza (+) MK: GANGGUAN PERFUSI

DATA DS : Keluarga klien mengatakan klien mengalami sakit kepala DO : keadaan Umum : Lemah, muntah,demam,aktivitas terbatas
TTV S : 38,5C N : 60x/menit TD : 130/90 mmHg RR : 28 x/menit

ETIOLOGI

PROBLEM resiko injuri

Pemeriksaan Penunjang : Pex. Kultur, CT-Scan,rongsen kepala, dll

1. 2. 3.

Gangguan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial. Resiko tinggi terhadap trauma sehubungan dengan kejang Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat.

Hari/Tg l

No. Diagnosa

Intervensi

Rasional
1. Perubahan pada tekanan intakranial akan dapat meyebabkan resiko untuk terjadinya herniasi otak 2. Dapat mengurangi kerusakan otak lebih lanjt 3. hipertermi dapat menyebabkan peningkatan IWL dan meningkatkan resiko dehidrasi terutama pada pasien yang tidak sadra, nausea yang menurunkan intake per oral 4. Meminimalkan fluktuasi pada beban vaskuler dan tekanan intrakranial, vetriksi cairan dan cairan dapat menurunkan edema cerebral 5. Adanya kemungkinan asidosis disertai dengan pelepasan oksigen pada tingkat sel dapat menyebabkan terjadinya iskhemik serebral

Kamis, 5 Diagnosa 1 1. Anjurkan Pasien April Tujuan : BRT dengan 2012 Setelah dilakukan posisi tidur tindakan keperawatan terlentang tanpa selama 3 x 24 jam bantal pasien menunjukan 2. Monitor tandakeadaan status tanda status neurologis yang neurologis membaik dengan GCS. 3. Monitor intake KH : dan output TTV dalam batas 4. KolaborasiBerika normal yaitu 110 /70 n cairan perinfus 120 /80 mmHg dengan perhatian Kesadaran pasien ketat. meningkat GCS 4-5 5. Monitor AGD Pasien dapat bila diperlukan menggerakkan tangan pemberian sesuai perintah oksigen Adanya peningkatan 6. Berikan terapi kognitif dan tidak ada sesuai advis atau hilangnya tandadokter seperti:

Hari/Tgl

No. Diagnosa

jam 07.00

Implementasi 1. Menganjurkan Pasien BRT dengan posisi tidur terlentang tanpa bantal 2. Memonitor tanda-tanda status neurologis dengan GCS. 3. Memonitor intake dan output 4. BerkolaborasiBerikan cairan perinfus dengan perhatian ketat. 5. Memonitor AGD bila diperlukan pemberian oksigen 6. Memberikan terapi sesuai advis dokter seperti: Steroid, Aminofel, Antibiotika.

TTD

Kamis 5 Diagnosa 1 april 2012

Hari/Tgl Jumat 6 april 2012

No Diagnosa Diagnosa 1

Evaluasi S : klien mengatakan aktifitas lebih baik O : - klien terlihat rileks

TTD

- mukosa bibir klien basah


- turgor kulit klien lembab - pergerakan klien bebas - TD pasien kembali normal 120/80 mmHg A : masalah teratasi sebagian P : lanjutkan intervensi

Har i/Tg l Ka mis 5 apri l 201 2

No. Diagnosa
Diagnosa 2 Tujuan : Pasien bebas dari injuri yang disebabkan oleh kejang dan penurunan kesadaran KH : cidera berkurang,

Intervensi

Rasional

1. Independentmonitor kejang pada tangan, kaki, mulut dan otototot muka lainnya 2. Persiapkan lingkungan yang aman seperti batasan ranjang, papan pengaman, dan alat suction selalu berada dekat pasien. 3. Pertahankan BRT selama fase akut

1. Gambaran tribalitas sistem saraf pusat memerlukan evaluasi yang sesuai dengan intervensi yang tepat untuk mencegah terjadinya komplikasi. 2. Melindungi pasien bila terjadi kejang dan Mengurangi resiko jatuh / terluka jika vertigo, sincope, dan ataksia 3. Untuk mencegah atau mengurangi kejang dan Phenobarbital dapat menyebabkan respiratorius depresi dan sedasi.

Hari/Tgl

No. Diagnosa

jam 07.00

Implementasi 1. Mengindependent monitor kejang pada tangan, kaki, mulut dan otot-otot muka lainnya 2. Mempersiapkan lingkungan yang aman seperti batasan ranjang, papan pengaman, dan alat suction selalu berada dekat pasien. 3. Mempertahankan bedrest total selama fae akut

TTD

Kamis 5 Diagnosa 2 april 2012

Hari/Tgl

No Diagnosa

Evaluasi S : - keluarga klien mengatakan suhu tubuh menurun - keluarga klien mengatakan kesehatan klien berangsurangsur membaik O : - tidak ada tanda-tanda kejang - klien terlihat tenang - klien terlihat lebih segar A : masalah teratasi sebagian P : lanjutkan intervensi

TTD

Jumat 6 april Diagnosa 2 2012

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

SATUAN ACARA PENYULUHAN Pokok Bahasan : Meningitis Sub Pokok Bahasan : Perawatan Meningitis Waktu : Pkl 07.30 08.20 Hari/Tanggal : Kamis, 19 April 2012 Tempat : Aula RSNU Tuban Sasaran : Klien dan keluarga di RSNU Tuban Penyuluh : Mahasiswa STIKES NU Tuban semester 4 ---------------------------------------------------------------------------------------------A. Tujuan Instruksional 1. Tujuan Instruksional Umum

Setelah mendapat penyuluhan tentang meningitis selama 30 menit, diharapkan peserta mengerti tentang perawatan pada pasien meningitis. Setelah mendapatkan penyuluhan, diharapkan peserta mampu : Menjelaskan tentang pengertian meningitis Menjelaskan tentang penyebab meningitis Menyebutkan tanda dan gejala meningitis Menyebutkan pencegahan meningitis Menjelaskan penatalaksanaan meningitis

2. Tujuan Instruksional Khusus


B.

Metode belajar

Ceramah Tanya jawab Brain storming

C.

Alat dan Media

Laptop dan LCD Leaflet Flipchart

No

Kegiatan

Respon Peserta

Waktu

1.

Pembukaan -Perkenalan/salam -Penyampaian Tujuan

-Membalas salam -Memperhatikan

5 Menit

2.

a) Penyampaian materi, tentang: Pengertian, - Memperhatikan 30 menit penyebab, tanda gejala, pencegahan, dan penjelasan dan penatalaksanaan pada pasien meningitis. demonstrasi dengan b) Pemberian kesempatan pada peserta cermat penyuluhan untuk bertanya. - Menanyakan hal yang c) Menjawab pertanyaan peserta penyuluhan belum jelas yang berkaitan dengan materi. - Memperhatikan jawaban penyuluh Penutup -Tanya jawab (evaluasi) -Menyimpulkan hasil materi -Mengakhiri kegiatan -Mengucapkan salam -Membagikan leaflet Menjawab salam 10 Menit

3.

Pembimbing : 1. 2. Moderator : Job Description : - Membuka dan menutup kegiatan - Membuat susunan acara dengan jelas Penyaji : Job Description : - Menyampaikan materi penyuluhan

Observer : Job Description : -Mengobservasi jalannya kegiatan Fasilitator : 1. 2. 3. Job Description : -Membantu menyiapkan perlengkapan penyuluhan -Memotivasi audience untuk bertanya -Menjawab pertanyaan audience

Evaluasi struktur Klien dan keluarga di RSNU Tuban Penyelenggaraan penyuluhan di aula RSNU Tuban. Pengorganisasian penyelenggaraan penyuluhan dilakukan oleh Mahasiswa STIKES NU semester 4. Kontrak waktu dilakukan 1 hari sebelum Penyuluhan dan 15 menit sebelum pelaksanaan Penyuluhan. Evaluasi proses Peserta antusias terhadap materi penyuluhan. Peserta mengikuti penyuluhan sampai selesai. Peserta mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan secara benar. Peserta berpartisipasi aktif dalam kegiatan sharing. Evaluasi hasil Peserta mampu menjelaskan tentang pengertian meningitis Peserta mampu menjelaskan tentang penyebab meningitis Peserta mampu menyebutkan tanda dan gejala meningitis Peserta mampu menyebutkan pencegahan meningitis Peserta mampu menjelaskan penatalaksanaan meningitis

MATERI PENYULUHAN
Pengertian Meningitis adalah peradangan pada membran (meninges) disekitar otak dan tulang belakang, biasanya infeksi penyakit ini menyebar.
Penyebab Disebabkan oleh bakteri/kuman pneumococcus, Meningococcus, Hemophilus influenza, Staphylococcus, E.coli, Salmonella.

Tanda dan gejala Demam Mudah kesal Sembelit Muntah-muntah. Kaku pada leher Kejang Sensitif terhadap cahaya Kebingungan atau konsentrasi

sulit

Tn.K MRS pada tanggal 5 april 2012 dengan keluhan demam menggigil , malaise, aktivitas terbatas, ataksia,gerakan involunter, kelemahan , hipotonia, riwayat endokarditis, TD meningkat, nadi menurun, inkontinensia/ retensi urine, anoreksia, kesulitan menelan, muntah, turgor kulit jelek, mukosa kering,sakit kepala,kehilangan sensasi,hiperalgesia meningkat,rasa nyeri, kejang , foto fobia, ketulian, delirium, afasia, pupil anisokor. Pada pemeriksaan diagnostik TIK meningkat, cairan keruh atau berkabut, leukosit dan protein meningkat,glukosa menurun, kultur(-) terhadap beberapa jenis bakteri

Pemeriksaan laboratorium (Analisa cairan ): cairan keruh atau berkabut, leukosit dan protein meningkat, glukosa menurun, TIK meningkat, Kultur bakteri: positif terhadap beberapa jenis bakteri (pneumococcus, meningecoccus, stapilococcus, strep tococcus)

Penatalaksanaan secara medis pada meningitis dapat dilakukan dengan cara diberikan a) Koreksi gangguan asam basa elektrolit, apabilla terdapat ketidak seimbangan asam basa dan elektrolit dapt diberikan Cairan intravena MARTOS-10 Dosis: 0,3 gr/kg BB/jam Mengandung 400 kcal/L b) Atasi kejang dapat diatasi dengan, Kortikosteroid.golongan deksametason 0,6 mg/kgBB/hari selama 4 hari, 15-20 menit sebelum pemberian antibiotic c) Antibiotik. Terdiri 2 fase yaitu empiric dan setelah hasil biakan dan uji resistensi. Pengobatan empiric pada neonates adalah kombinasi ampisilin dan aminoglikosida atau ampisilin dan sefotaksin. Pada umur 3 bulan 10 tahun kombinsasi ampisilin dan kloramfenikol atau sefuroksim/sefotaksim/sefriakson. Pada usia lebih dari 10 tahun digunakan penislin. Pada neonatus pengobatan selama 21 hari, pada bayi dan anak 10 14 hari. d) Streptomisin, PAS dan INH. Dapat diberikan diberikan dengan dosis 30-50 mg/kg BB/ hari selama 3 bulan atau jika perlu diteruskan 2 kali seminggu selama 2-3 bulan lagi, sampai likuor serebrospinalis menjadi normal. PAS dan INH diteruskan paling sedikit samapi 2 tahun. Umtuk mengatasi dehidrasi akibat masukan makanan yang kurang atau muntah.