Sunteți pe pagina 1din 5

MAR MA’RUF DAN NAHI MUNKAR

SHAHABAT KEPADA KHALIFAH


Abah Zacky

‫بسم ال الرحمن الرحيم‬


‫توكلت عليه و إياه نعبد و إياه نستعين‬

Prawacana
Amar ma’ruf berarti memerintahkan untuk melakukan perbuatan yang baik.
Kata baik disebut dengan ma’ruf (dikenal) sebab sesungguhnya manusia telah
dikaruniai pengenalan terhadap nilai baik dan buruk, hanya karena hawa nafsu sajalah
kemudian banyak yang meninggalkan kebaikan yang sesungguhnya telah ia kenali.
Nahi munkar artinya melarang suatu tindakan yang selayaknya diinkari, bukan
dilaksanakan. Dalam rangkaian kata amar ma’ruf nahi munkar maka sesungguhnya
ajaran ini adalah perintah untuk menegakkan nilai-nilai kebenaran dan kebaikan dan
menghancurkan nilai-nilai kerusakan. Nilai-nilai kebaikan dan keburukan ada kalanya
telah ditetapkan oleh Allah di dalam Alqur’an, ditetapkan oleh Rasulullah di dalam
hadis, dan ada kalanya pula telah dimiliki oleh suatu masyarakat dan ditemukan
berdasarkan pengalaman. Hanya saja ma’ruf pada bagian yang kedua disyaratkan tidak
bertentangan dengan nash yang sharih di dalam Alqur’an dan hadis.
Mayoritas ajaran Islam adalah ma’ruf secara universal, artinya nilai-nilai di dalam
ajaran Islam adalah nilai yang positif secara universal dan hanya sebagian saja yang
bernilai positif secara khusus dan subyektif, seperti keyakinan dan tata cara beribadah.
Oleh sebab itu dalam hal-hal yang khusus ini Islam memberikan toleransi kepada orang
yang tidak memeluk Islam untuk beribadah sesuai dengan keyakinannya. Tetapi bagi
pemeluk agama Islam, segala sesuatu yang telah diajarkan di dalam Alqur’an dan hadis
harus ditaati sepenuhnya.
Dengan pengertian bahwa Islam adalah ma’ruf, maka Amar ma’ruf nahi munkar
merupakan salah satu sendi utama dalam agama Islam, meskipun bukan termasuk
sebagai rukun Islam.. Sa’id Hawwa dan al-Islam mengkategorikan amar ma’ruf dan
Nahi munkar sebagai muayyidat Islam (pelindung Islam) disamping jihad fi sabilillah.
Karena itulah apabila runtuh sendi ini, maka keutuhan agama Islam pun menjadi
terancam. Al-Ghazali mengatakan, “Jika missi itu [Amar ma’ruf nahi munkar] tidak
dilaksanakan, maka kenabian batal dan agama hancur negara dan masyarakat menanti
kehancurannya, kesesatan dan kebodohan merajalela” (Qumaihah;1995,34)
Dewasa ini, ummat Islam hidup di dalam sistem yang sangat berbeda dengan
zaman kenabian. Saat ini, Alqur’an bukanlah suatu pedoman utama dalam kehidupan.
Sebaliknya bahkan yang mendominasi sistem hidup adalah ideologi-ideologi yang lahir
belakangan, seperti kapitalisme dan sosialisme. Dalam sistem hidup ini kebijakan dan
keputusan yang diambil oleh pemerintah tentu hanya didasarkan kepada logika
kemaslahatan. Di sinilah selanjutnya ummat Islam yang menginginkan kehidupannya
sesuai dengan syari’at berjuang, melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Namun
ternyata dalam dataran praxis pejuang-pejuang muslim saat ini tak jarang berbeda
pendapat di dalam menyikapi suatu bentuk kemunkaran yang dilakukan oleh
pemerintah, atau dalam menekankan yang ma’ruf kepada mereka. Yang menarik dari
fenomena tersebut, bahwa berbagai perbedaan itu semua di timbang dengan
“kemaslahatan”.
Berbicara mengenai kemaslahatan dalam timbangan Islam, sesungguhnya kita
tidak bisa meninggalkan teladan shahabat, karena mereka adalah orang yang sezaman
dengan turunnya wahyu, mereka sangat mengerti tentang latar belakang turunnya
wahyu, dan mereka diajar langsung oleh Nabi penerima wahyu. Dengan demikian, bisa
dikatakan bahwa mereka adalah orang yang paling faham Alqur’an di masanya. Dalam
urusan amar ma’ruf nahi munkar, mereka adalah teladan seperti disebutkan oleh Allah
swt. melalui firman-Nya, “Kalian adalah sebaik-baik ummat yang dikeluarkan kepada
manusia, untuk menyuruh yang ma’ruf, mencegah kemunkaran dan beriman kepada
Allah” (Ali Imron:110) Khitab dalam ayat tersebut (Kuntum) sebenarnya sangat
terbuka untuk seluruh pembaca Alqur’an, tetapi kemudian dikhususkan untuk generasi
sahabat bukanlah penafsiran yang keliru karena Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik
generasi adalah generasiku, kemudian setelahnya, kemudian setelahnya” Dan masih
banyak lagi hadis Rasulullah saw yang memuji kedudukan para shahabat beliau.
Demikian selanjutnya ummat Islam (dari golongan ahlus sunnah wal jama’ah)
bersepakat bahwa para shahabat ra adalah generasi yang patut diteladani.

Khalifah; dan pola kehidupan mereka


Selama 22 tahun, Rasulullah saw berjuang untuk menegakkan Islam, bersama
para shahabat beliau. Perjuangan itu telah menghasilkan suatu masyarakat Islam di
Jazirah Arab dengan pusat di Madinah. Rasulullah di masyarakat ini berperan sebagai
pemimpin, atau sebagai kepala negara. Sepeninggal Rasulullah saw, para shahabat
membai’at Abu Bakar ash-Shiddiq sebagai khalifah pertama, untuk menggantikan
kedudukan Rasulullah saw dalam kapasitasnya sebagai pimpinan ummat dalam
menjalankan roda kehidupan yang berdasarkan pada Syari’at Islam. Tradisi baru ini
selanjutnya diikuti oleh ummat Islam, dengan mengangkat pemimpin bagi mereka
dengan nama khalifah. Sebutan bagi khalifah ini bisa berbeda-beda, seperti amirul
mukminin, imam atau yang lainnya. Selain itu cara pengangkatannya pun bermacam-
macam, boleh dengan musyawarah ahlul halli wal ‘aqdi seperti pada pengangkatan
Abu Bakar, dengan penunjukan kandidat seperti pengangkatan Umar, penunjukan
formatur oleh khalifah seperti pada masa Utsman, pengangkatan oleh sekelompok
kaum muslimin yang disepakati oleh seluruhnya seperti pada masa Ali bin Abi Thalib,
atau adanya majelis tertentu sebagai representasi ummat yang bertugas untuk
mengangkat khalifah.
Terlepas dari berbagai cara pengangkatan khalifah dengan kondisi yang terjadi di
sekitarnya, kehidupan empat khalifah yang pertama (al-khulafa’ ar-Rasyidun) diwarnai
dengan pola kehidupan zuhud yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai Islam dan
kesalehan. Mereka sangat berhati-hati terhadap masalah harta, berhati-hati dari
menyelewengkan amanat dan sangat sederhana. Mereka sangat berhasrat untuk dapat
bersikap adil dalam memegang pemerintahan. Pada pemerintahan khulafa’ rasyidun ini
setiap khalifah senantiasa terbuka untuk menerima kritikan dan peringatan. Mereka
selama menjabat sebagai khalifah senantiasa open house, membuka pintu untuk
mendengarkan keluhan rakyatnya.
Setelah tampuk pemerintahan berpindah dari khulafa’ rasyidun ke tangan Bani
Umayyah, pola kehidupan mulai berubah. Meskipun Bani Umayyah tetap komitmen
dengan Islam sebagai hukum pemerintahan tetapi pola hidup sederhana yang dahulunya
menjadi kebiasaan para khalifah, kini telah bergeser. Kehidupan foya-foya telah masuk
dan menjadi pola kehidupan pemerintah, bahkan minuman keras juga ditenggak oleh
sebagian khalifah ketika itu.

Sikap Shahabat Dalam Amar Ma’ruf Nahi Munkar


Di antara keutamaan shahabat adalah komitmen mereka yang sangat kuat dalam
memegang kebenaran, terutama adalah shahabat Muhajirin dan Anshar yang telah
berjuang bersama Rasulullah saw sejak mula. Pada diri mereka telah tertempa
semangat yang membaja dalam menegakkan risalah Islam. Sehingga sedikit saja dilihat
terdapat kemunkaran, mereka akan bangkit. Demikian juga ketika tampak kebaikan
tidak segera dilaksanakan mereka pun bangkit beramar ma’ruf.
Kebanyakan para Shahabat meninggal sebelum tahun 70 Hijriyah. Sampai pada
tahun itu kekhalifahan yang ada di tengah ummat Islam adalah Khulafa’ Rasyidun dan
khilafah Bani Umayyah. Antara kedua orde tersebut terdapat perbedaan yang cukup
tajam yang berkenaan dengan pribadi dan pola hidup para khalifah. Perbedaan ini
membawa konsekuensi pada sikap yang berbeda di dalam melakukan amar ma’ruf
nahi munkar.
Masa kekhilafahan Syaikhani (yaitu Abu Bakar dan Umar) yang dikenal
ke’aliman dan kehati-hatian mereka dalam masalah agama, amar ma’ruf nahi munkar
tetap berjalan. Sebagai misal, ketika banyak penghafal Alqur’an meninggal dalam
perang Yamamah, Umar mendorong agar Abu Bakar segera mengumpulkan Alqur’an,
sebab jika para penghafal habis ia khawatir munculnya orang yang akan menambah
atau mengurangi Alqur’an.(Alqur’an Terjemah Depag;23). Ibnu Qudamah
menyebutkan riwayat yang terjadi pada masa Umar, ada seorang wanita yang berkata
kepada Umar, “Bertaqwalah kepada Allah dalam urusan rakyat. Ketahuilah bahwa
orang yang takut kepada kematian, maka dia akan takut kepada apa yang belum
didapatkan” (1997:161). Amar ma’ruf di masa ini umumnya hanyalah disampaikan
dalam bentuk lisan, sebab khalifah masih mudah ditemui dan bersikap sangat terbuka
kepada siapa saja.
Demikian pula nahi munkar yang dilakukan para shahabat ketika itu, juga masih
dalam bentuk lisan. Sebagai misal, apa yang dilakukan oleh al-Hurr bin Qais, ketika ia
mengantarkan saudaranya yang bernama Uyainah untuk menghadap Umar ra, maka
Uyainah memarahi Umar dengan mengatakan, “Demi Allah, Kau tidak memberi jazil
kepada kami, dan kau tidak adil di dalam memerintah”. Mendengar kata-kata itu Umar
marah dan hendak memukul Uyainah, tetapi Qais melarangnya dengan membaca ayat,
wa’mur bil ‘urfi wa a’ridl ‘anil jahilin. Kata Qais, “Biarkanlah, orang ini termasuk
jahil”.(Ibnu Atsir:471-472)
Dengan latar belakang yang berbeda antara masa Khulafa’ Rasyidun dengan
Khilafah Bani Umayyah, maka sikap para shahabat di dalam melaksanakan amar
ma’ruf dan nahi munkar pun terdapat perbedaan. Bahkan di masa Khulafa’ Rasyidun
sendiri terdapat cara yang berbeda pada sikap shahabat di dalam melakukan amar
ma’ruf nahi munkar. Utsman meninggal karena terbunuh, lalu naiklah Ali bin Abi
Thalib. Upaya mendorong Ali agar segera menyelesaikan kasus pembunuhan Utsman
ini dilakukan dengan penyikapan yang berlain-lainan. Aisyah, Zubeir, dan Thalhah telah
bersiap-siap mengangkat senjata untuk mendorong Ali, meskipun akhirnya perang itu
tidak jadi. Demikian pula Mu’awiyah, meskipun tampaknya lebih kental latar belakang
politisnya ia dengan mengatasnamakan menuntut segera diselesaikannya kasus
pembunuhan Utsman mengangkat senjata melawan ‘Ali. Peperangan Ali melawan
Mu’awiyah berakhir perdamaian ditandai dengan turunnya Ali dan naiknya Mu’awiyah
sebagai khalifah. Peristiwa ini merupakan akhir dari orde khilafah rasyidah menuju
khilafah dengan sistem kerajaan.
Menjelang wafatnya Mu’awiyah, beliau membai’at Yazid, putera beliau, untuk
menjadi khalifah penggantinya. Menyaksikan pola pergantian semacam ini kaum
muslimin sesungguhnya kecewa, sebab saat itu telah disepakati agar khalifah setelah
Mu’awiyyah diangkat melalui pemilihan. Setidaknya perjanjian itu pernah dilakukan
antara Mu’awiyah dengan Hasan bin Ali. Selain itu, sistem putera mahkota dalam
kekhilafahan Islam tidak dikenal. An-Nabhani menerangkan, “ Sistem putra mahkota
adalah sistem munkar dalam pandangan sistem Islam, serta amat bertentangan dengan
sistem Islam” (1997,110). Karena kemungkaran yang dilakukan oleh Mu’awiyah dan
Yazid inilah kemudian terjadilah peperangan yang cukup hebat. Perang yang cenderung
paling murni dalam rangka amar ma’ruf nahi munkar adalah yang dilakukan oleh
Abdullah bin Zubeir bin Awwam.
Berdasarkan catatan sejarah di atas terlihat bahwa para shahabat di dalam
melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar sangat cermat. Langkah pertama yang
mereka lakukan adalah mengajarkan ilmu terlebih dahulu kepada orang yang
melakukan kemunkaran karena ketidaktahuannya. Bentuk ini bisa dilakukan dengan
pengajaran, diskusi ataupun bermusyawarah. Tetapi apabila pelakuknya sudah
mengetahui, maka yang dilakukan adalah memberikan peringatan lisan, baik secara
halus maupun keras. Namun apabila suara lisan sudah sia-sia meskipun berteriak
sekeras-kerasnya, maka mereka menghimpun kekuatan untuk memberikan peringatan,
atau bahkan menumpas kemungkaran dengan kekuatan. Mengangkat senjata ini hanya
berlaku untuk nahi munkar, sebab mengangkat senjata dalam amar ma’ruf justru akan
membawa kemadharatan yang seharusnya dihindari.

Partai Politik atau Berontak


Peperangan, seperti yang dilakukan oleh Abdullah bin Zubeir hanyalah salah satu
aspek saja di dalam amar ma’ruf nahi munkar. Terlebih lagi peperangan antara sesama
kaum muslimin, atau dengan pimpinan yang beragama Islam. maka sebisa mungkin hal
itu harus dihindari.
Dalam konteks sekarang, mungkin bentuk angkat senjata melawan pemerintah
sebagaimana yang dilakukan oleh Zubeir bukan saat yang tepat. Setidaknya ada
beberapa alasan yang melatar belakanginya, yaitu; Pertama, usaha dengan pengajaran
belum dilakukan secara optimal. Kedua, bagaimanapun kualitas keimanan dan
keislaman seorang muslim ia tidak boleh dibunuh kecuali secara haq, maka pemimpin-
pemimpin itu meskipun dhalim tidak seharusnya diturunkan dengan kekerasan apabila
masih memelihara shalatnya. Sehingga kalau angkat senjata ini dipaksakan, maka dapat
dihukumkan sebagai pemberontak, yang secara sah pemerintah memerangi mereka.
Ketiga, dalam bentuk angkat senjata perlu dipertimbangkan kemampuan, sebab jika
usaha itu gagal bisa jadi kemungkaran akan menjadi lebih besar lagi. Sehingga apabila
dengan cara mengangkat senjata adalah hal yang tidak bisa dihindari maka diperlukan
analisa yang sangat cermat. Kegagalan Ibnu Zubeir sesungguhnya adalah karena
kurang cermatnya analisa sebelum gerakannya dimulai (al-Wakil;1999;76).
Oleh karena mengoreksi pimpinan harus tetap dilakukan, dalam kondisi apapun,
baik oleh individu maupun kelompok, maka berdasarkan beberapa perimbangan di atas,
agaknya langkah yang paling tepat saat ini untuk melaksanakan amar ma’ruf nahi
munkar adalah dengan membentuk jama’ah gerakan Islam, partai politik atau yang
serupa dengan itu. Melalui wadah itu, dilakukan pendidikan yang baik kepada ummat
Islam. Manakala jama’ah tersebut telah memiliki kekuatan yang cukup untuk
menunaikan tugas tersebut, maka bolehlah ia menggunakan kekuatannya untuk
mengoreksi penguasa.. Tetapi apabila pemerintah tetap tidak mau menjalankan
perubahan menuju terlaksananya syari’at Islam, seperti halnya kasus di Turki yang
menimpa partai Refah, maka upaya menuju jihad fi sabilillah harus dipersiapkan.

Wallahu a’lam

Pustaka
Departemen Agama RI, 1989, Alqur’an dan Terjemahnya, Thoha Putera, Semarang
Ibnu Atsir, tth. Usudul Ghabah fi Ma’rifati Shahabah, Dar al-Fikr, Beirut
Ibnu Qudamah, 1997, Minhajul Qashidin; Jalan Orang-orang yang Mendapat
Petunjuk, Al-Kautsar, Jakarta
Jabir Qumaihah, 1995, Beroposisi Menurut Islam, Gema Insani Press, Jakarta.
Muhammad Sayyid al-Wakil, Wajah Dunia Islam dari Dinasti Bani Umayyah hingga
Imperialisme Modern, Al-Kautsar, Jakarta
Musthafa Muhammad ath-Thahhan,1996, Pribadi Muslim Tangguh, Al-Kautsar,
Jakarta
Taqiyuddin an-Nabhani, 1997, Sistem Pemerintahan Islam, Doktrin, Sejarah dan
Realitas Empirik, Al-Izzah, Bangil