Sunteți pe pagina 1din 6

Spondilitis TB (Penyakit POTT/ TB Tulang Belakang)= II

Spondilitis TB merupakan peradangan granulomatosa yang bersifat kronik destruktif oleh micobacterium tuberculosa. Epidemiologi 50 % TB tulang & sendi Terutama pada usia 2-10 tahun Lokasi utama pada daerah vertevra torakal bawah dan lumbal atas. (T8-L3. C1-2 => jarang) Etiologi => Infeksi sekunder TB dari bagian lain tubuh. 90 % => Micobacterium Tuberculosa tipik (2/3 tipe human, 1/3 tipe bovin) 5-10% => Micobacterium Tuberculosa atipik

Catatan ii 09-135 FKUA

Perjalanan Penyakit Stadium implantasi

Bakteri berada di tulang => daya tahan tubuh yang menurun => bakteri berduplikasi dan membentuk koloni (6-8 minggu) Stadium destruksi awal

Setelah implantasi => terjadi destruksi korpus vertebrae serta penyempitan ringan pada diskus (3-6 minggu) Stadium destruksi lanjut

Destruksinya masif, kolaps vertebrae dan terbentuk masa kaseosa (terjadi kerusakan korpus vertebrae => kifosis/ gibus) serta pus yang berbentuk cold abces (pus cair dan subfebril) => 2-3 bulan setelah destruksi awal. Stadium gangguan neurologis

Tergantung beratnya kifosis dan tekanan abses ke kanalis spinalis. Dapat terjadi paraplegia => aktivitas gerak terganggu. Ada 4 derajat paraplegia : o Derajat 1 => Kelemahan anggota gerak bawah setelah aktivitas atau berjalan jauh. Belum terjadi gangguan saraf sensoris

Catatan ii 09-135 FKUA

Derajat 2 => Kelemahan anggota gerak bawah, tapi masih dapat melakukan aktivitas.

Derajat 3 => Kelemahan anggota gerak bawah yang membatasi aktivitas serta

hipestesia/anestesia. o Derajat 4 => terjadi gangguan saraf sensoris dan motoris serta gangguan defekasi dan miksi Stadium deformitas residual (3-5 tahun setelah stadium implantasi). Kifosis dan gibus bersifat permanen karena kerusakan vertebra yang masif di sebelah depan. Manifestasi Klinis Lemah, lesu, nafsu makan turun, BB turun, subfebril terutama malam hari dan sakit punggung. Pada anak sering disertai dengan menangis malam hari (night cries) Kadang datang dengan abses inguinal, retrofaring, bokong,

paravertebral, poplitea.

abdominal,

Catatan ii 09-135 FKUA

Pemeriksaan Penunjang 1. Pemeriksaan Laboratorium o o o o LED dan Leukosit meningkat Uji mantoux (+) Biakan kuman => mikobakterium Biopsi jaringan granulasi atau kelenjar limfe regional o 2. Biopsi, histopatologi => ada tuberkel

Pemeriksaan Radiologi o o Foto thoraks : TB paru Foto vertebrae : osteoporosis, osteolitik, destruksi korpus vertebrae & penyempitan diskus intervertebralis yang berada di antara korpus dan mungkin dapat

ditemukan abses paravertebral. o Pada foto AP, abses paravertebral di daerah servikal berbentuk sarang burung (bird's nets), di daerah torakal berbentuk bulbus dan pada daerah lumbal berbentuk fusiform.

Catatan ii 09-135 FKUA

3.

Pemeriksaan Mielografi => melihat penekanan pada sumsum tulang

4. 5.

CT Scan MRI

Tatalaksana 1. Konservatif o o Bedrest, perbaiki KU Pemasangan brace pada penderita yang operasi ataupun tidak.

Contoh salah satu Brace o Obat anti TB : INH, Rifampisin,

Etambutol, Pirazinamid

Catatan ii 09-135 FKUA

2.

Operatif , diindikasikan bila : Terapi konservatif tidak perbaiki paraplegia Ada abses besar yang butuh drainase Ada penekanan pada medula spinalis Destruksi vertebrae 3 buah

Komplikasi Kelumpuhan (paraplegia hingga grade 4) Perubahan bentuk tulang belakang (skoliosis, kifosis, dll) Prognosis => baik bila ditangani lebih awal. Pola pikir => riwayat sakit di daerah dada, megeluhkan nyeri pada vertebrae, dan kesemutan. Perjalanannya kronik, apalagi kalau sudah tes mantoux (+), maka coba cek radiologi untuk memastikan. Kalau lambat terdiagnosis, dapat mengakibatkan munculnya komplikasi seperti

kelumpuhan dan perubahan bentuk dari tulang belakang sendiri. Sumber: Rasjad, Chairuddin Prof, MD, Ph.D. 2006. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Jakarta : Yarsif Watampone Gambar (c) google

Catatan ii 09-135 FKUA