Sunteți pe pagina 1din 37

PEDOMAN MAHASISWA KEPERAWATAN /

KUMPULAN ASUHAN KEPERAWATAN (Askep Asma dan Bronkhitis)


2012

W .K SA YI AR IR NG GG OO RD RP ER SS CS O. M WWW WW .S A TKYTA LL AAN GA A. .W W RPD E. S COM

Tinjauan Pustaka Asma Definisi Asma adalah gangguan pada saluran bronkhial dengan ciri bronkospasme periodik (kontraksi spasme pada saluran nafas) (Irman Soemantri, 2008).Bronchi mengalami inflamasi atau peradangan dan hiperresponsif sehingga saluran nafas menyempit dan menimbulkan kesulitan dalam bernafas. Asma adalah penyakit obstruksi saluran pernafasan yang bersifat reversibel dan berbeda dari obstruksi saluran pernafasan lain seperti pada penyakit bronkhitis yang bersifat irreversibel dan kontinyu(Charles, Gayle & Robin, 2001). Jadi, asma merupakan penyakit obstruksi saluran pernafasan yang bersifat reversibel dimana saluran bronchi mengalami inflamasi atau peradangan dan hiperresponsif sehinggan terjadi bronkospasme periodik yang menyebabkan klien kesulitan dalam bernafas.

Etiologi Secara umum, para penderita asma mengalami penyempitan bronchi yang disebabkan oleh hiperaktivitas bronkus.Bronkus penderita asma biasanya sangat sensitif terhadap rangsangan imunologi maupun nonimunologi.Oleh karena itu, serangan asma mudah terjadi akibat berbagai rangsangan baik iritan, bau, udara dingin, infeksi saluran pernafasan atas atau bawah, stres dan sebagainya. Menurut penyebabnya asma terbagi menjadi alergi, idiopatik atau nonalergik, dan campuran (mixed): a. Asma alergik atau ekstrinsik, merupakan suatu jenis asma dengan yang disebabkan oleh alergen ( misalnya bulu binatang, debu, ketombe, tepung sari, makanan, dll). Alergen yang paling umum adalah alergen yang perantaraan penyebarannya melalui udara (airborne) dan alergen yang muncul secara musiman (seasonal). Pasien dengan asma alergik biasanya mempunyai riwayat penyakit alergi pada keluarga dan riwayat pengobatan ekzema atau rhinitis alergik. Paparan terhadap alergi akan mencetuskan serangan asma. Gejala asma umumnya dimulai saat kanak-kanak.

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 2

b. Idiopatik atau nonallergic asthma/intrinsik, merupakan jenis asma yang tidak berhubungan secara langsung dengan alergen spesifik. Faktor-faktor seperti common cold, infeksi saluran nafas atas, aktivitas, emosi, dan polusi lingkungan dapat menimbulkan serangan asma. Beberapa agen farmakologi, antagonis betaadrenergik, dan agen sulfite (penyedap makanan) juga dapat berperan sebagai faktor pencetus. Serangan asma idiopatik atau nonalergik dapat menjadi lebih berat dan sering kali dengan berjalannya waktu dapat berkembang menjadi bronkhitis dan emfisema. Pada beberapa pasien, asma jenis ini dapat berkembang menjadi asma campuran. Bentuk asma ini biasanya dimulai pada saat dewasa (>35 tahun). c. Asma campuran (mixed asthma), merupakan bentuk asma yang paling sering ditemukan. Dikarakteristikan dengan bentuk kedua jenis asma alergi dan idiopatik atau nonalergi. Patofisiologi Asma akibat alergi bergantung kepada respons IgE yang dikendalikan oleh limfosit T dan B. Asma diaktifkan oleh interaksi antara antigen dengan molekul IgE yang berikatan dengan sel mast.Sebagian besar alergen yang menimbulkan asma bersifat airbone.Alergen tersebut harus tersedia dalam jumlah banyak dalam periode waktu tertentu agar mampu menimbulkan gejala asma.Namun dilain kasus terdapat pasien yang sangat responsif, sehingga sejumlah kecil alergen masuk ke dalam tubuh sudah dapat mengakibatkan eksaserbasi penyakit yang jelas. Obat yang paling sering berhubungan dengsn induksi fase akut asma adalah aspirin, bahan pewarna seperti tartazin, antagonis beta-adrenergik, dan bahan sulfat.Sindrom khusus pada sistem pernafasan yang sensitif terhadap aspirin terjadi pada orang dewasa, namun dapat pula dilihat pada masa kanak-kanak.Masalah ini biasanya berawal dari rhinitis vasomotor perennial lalu menjadi rhinosinusitis hiperplastik dengan polip nasal akhirnya diikuti oleh munculnya asma progresif. Pasien yang sensitif terhadap aspirin dapat dikurangi gejalanya denganpemberian obat setiap hari.Setelah pasien yang sensitif gterhadap aspirin dapat dikurangi gejalanya dengan pemberian obat setiap hari.Setelah menjalani bentuk terapi ini, toleransi silang akan terbentuk terhadap agen anti inflamasi nonsteroid. Mekanisme terjadinya

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 3

bronkuspasme oleh aspirin ataupun obat lainnya belum diketahui, tetapi mungkin berkaitan dengan pembentukan leukotrien yang di induksi secara khusus oleh aspirin. Antagonis delta-agrenergik merupakan hal yang biasanya menyebabkan obstruksi jalan nafas pada pasien asma, demikian juga dengan pasien lain dengan peningkatan reaktifitas jalan nafas. Oleh karena itu, antagonis beta-agrenergik harus dihindarkan oleh pasien tersebut.Senyawa sulfat yang secara luas digunakan sebagai agen sanitasi dan pengawet dalam industri makanan dan farmasi juga dapat menimbulkan obstruksi jalan nafas akut pada pasien yang sensitif.Senyawa sulaft tersebut adalah kalium metabisulfit, kalium da natrium bisulfit, natrium sulfit dan sulfat klorida. Pada umumnya tubuh akan tepapar stelah menelan makanan atau cairan yang mengandung senyawa tersebut seperti salad, buah segar, kentang, kerang, dan anggur. Faktor penyebab yang telah disebutkan diatas ditambah dengan sebab internal pasien akan mengakibatkan reaksi antigen dan antibodi. Reaksi tersebut mengakibatkan dikeluarkannya substansi pereda alergi yang sebetulnya merupakan mekanisme tubuh dalam menghadapi serangan, yaitu dikeluarkannya histamin, bradikinin, dan anafilatoksin.Sekresi zat-zat tersebut menimbulkan gejala seperti berkontarksinya otot polos, peningkatan permeabilitas kapiler dan peningkatan sekresi mucus.

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 4

Pencetus Serangan (Alergen, emosi/ stress, obat-obatan dan infeksi) Reaksi Antigen & Antibodi Dikeluarkannya Substansi vasoaktif (Histamin, bradikinin, dan anafilatoksin) Permeabilitas Kapiler

sekresi mukus

Kontraksi Otot Polos Bronchospasme

MK : Bersihan Jalan Nafas Tak Efektif

Batuk Kelemahan Nausea Anorexia Malnutrisi Stenosis Bronkus MK : Ketidak efektifan bersihan jalan nafas Ekspansi Paru Mengi MK : Ketidakefektifan Pola Nafas Antibodi Rentan Infeksi MK : Resiko tinggi terhadap infeksi Ansietas MK: Kurang pengetahuan Hipoventilasi Gangguan Difusi Hipoksemia Hiperkapnia

MK : Pemenuhan Nutrisi kurang dari kebutuhan

MK: Pertukaran gas terganggu

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 5

Manifestasi Klinis

Tanda dan gejala yang muncul yaitu hipoventilasi, dyspnea, wheezing, pusingpusing, perasaan yang merangsang, sakit kepala, nausea, peningkatan nafas pendek, kecemasan, diaphoresis dan kelelahan.Hiperventilasi merupakan salah satu gejala awal dari asma. Kemudian sesak nafas parah dengan ekspirasi memanjang disertai wheezing(di apeks dan hilus). Gejala utama yang sering muncul adalah dispnea, batuk dan mengi.Mengi sering dianggap salah satu gejala yang harus ada bila serangan asma muncul.Itu berarti jika klien menganggap dirinya mengalami asma namun tidak mengeluhkan sesak nafas, maka perawat harus yakin bahwa klien tidak menderita asma. Tingkat keparahan dari asma tergantung pada tingkat obstruksi saluran nafas, kadar saturasi oksigen, pembawaan pola pernafasan, perubahan status mental dan bagaimana tanggapan klien terhadap status pernafasannya. Pertanda memburuknya status mental penderita asma biasanya meliputi hal hal seperti kurang istirahat yang makin meningkat kemudian diikuti dengn atau gampang mengantuk.Ketika orang tersebut mengalami kelelahan yang sangat, maka kondisi ini dapat mengarahkan pada gagal nafas akut. Setiap orang mengalami penurunan waktu reaksi asma yang tak sama, ada yang lambat ataupun cepat hanya dalam hitungan menit. Jadi, waktu bukanlah parameter yang tepat dan terbaik untuk menentukan perlu memanggil dokter atau mencari pertolongan darurat sesegera mungkin.Sehingga semua gejala dan tanda yang muncul perlu mendapat perhatian sebagaimana mestinya.

Pemeriksaan diagnostik

a. Pemeriksaan Radiologi Gambaran radiologi pada asma pada umumnya normal. Pada waktu seranganmenunjukan gambaran hiperinflasi pada paru-paru yakni radiolusen yang

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 6

bertambah dan peleburan rongga intercostalis, serta diafragma yang menurun. Akan tetapi bila terdapat komplikasi, maka kelainan yang didapat adalahsebagai berikut: 1. Bila disertai dengan bronkitis, maka bercak-bercak di hilus akan bertambah. 2. Bila terdapat komplikasi empisema (COPD), maka gambaran radiolusen akan semakin bertambah. 3. Bila terdapat komplikasi, maka terdapat gambaran infiltrate pada paru 4. Dapat pula menimbulkan gambaran atelektasis lokal. Apabila terjadi pneumonia mediastinum, pneumotoraks, dan

pneumoperikardium, maka dapat dilihat bentuk gambaran radiolusen pada paru-paru. a. Laboratorium Sputum dan Darah : menurunnya tidal volume, kapasitas vital, eosinofil biasanya meningkat dalam darah dan sputum. b.Pemeriksaan alergi (radioallergosorbent test ; RAST) c. Analisa gas darah pada awalnya pH meningkat, PaCO2 dan PaO2 turun (alkalosis respiratori ringan akibat hiperventilasi ); kemudian penurunan pH, penurunan PaO2 dan peningkatan PaCO2 (asidosis respiratorik). Analisa gas darah dilakukan pada penderita asma berat. d.Spirometri : Untuk menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas reversible, cara yang palingcepat dan sederhana diagnosis asma adalah melihat respon pengobatan denganbronkodilator. Pemeriksaan spirometer dilakukan sebelum dan sesudah pamberian bronkodilator aerosol (inhaler atau nebulizer) golongan adrenergik. Peningkatan FEV1 atau FVC sebanyak lebih dari 20% menunjukkan diagnosis asma. Tidak adanya respon aerosol bronkodilator lebih dari 20%. Pemeriksaan spirometri tidak saja penting untuk menegakkan diagnosis tetapi juga penting untuk menilai berat obstruksi dan efek pengobatan. Benyak penderita tanpa keluhan tetapi pemeriksaan spirometrinya menunjukkan obstruksi. f. Tes provokasi : 1) Untuk menunjang adanya hiperaktifitas bronkus. 2) Tes provokasi dilakukan bila tidak dilakukan lewat tes spirometri.

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 7

3) Tes provokasi bronkial seperti :Tes provokasi histamin, metakolin, alergen, kegiatan jasmani, hiperventilasi dengan udara dingin dan inhalasi dengan aqua destilata. 4) Tes kulit : Untuk menunjukkan adanya anti bodi Ig E yang spesifik dalam tubuh.

Penatalaksanaan

Berikut ini merupakan prinsip umum dalam pengobatan pada serangan asma : a) b) c) Menghilangkan obstruksi jalan nafas Mengenal dan menghindari faktor yang dapat menimbulkan serangan asma. Memberi penerangan kepada penderita atau keluarga dalam cara pengobatan maupun penjelasan penyakit. Penatalaksanaan asma dapat dibagi atas : a. Pengobatan dengan obat-obatan Seperti : (a) Beta agonist (beta adrenergik agent) (b) Methylxanlines (enphy bronkodilator) (c) Anti kolinergik (bronkodilator) (d) Kortikosteroid (e) Mast cell inhibitor (lewat inhalasi)

b.

Tindakan yang spesifik tergantung dari penyakitnya, misalnya : i. Oksigen 4-6 liter/menit. ii. Agonis B2 (salbutamol 5 mg atau veneteror 2,5 mg atau terbutalin 10 mg) inhalasi nabulezer dan pemberiannya dapat di ulang setiap 30 menit-1 jam. Pemberian agonis B2 mg atau terbutalin 0,25 mg dalam larutan dextrose 5% diberikan perlahan.

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 8

iii. Aminofilin bolus IV 5-6 mg/kg BB, jika sudah menggunakan obat ini dalam 12 jam. iv. Kortikosteroid hidrokortison 100-200 mg itu jika tidak ada respon segera atau klien sedang menggunakan steroid oral atau dalam serangan sangat berat.

Komplikasi

Pada umumnya penyakit asma ini dapat ditangani dengan baik oleh penderitanya. Penderita asma biasanya selalu membawa obat kemanapun, karena serangan asma yang mendadak dapat terjadi kapan saja. Namun, apa yang akan terjadi apabila obat tersebut habis ataupun terlupa sehingga tidak dibawa oleh penderita. Apabila tidak segera mendapat pertolongan ataupun penanganan yang tepat, tentunya asma yang menyerang dapat menjadi pada tingkat yang sangat berbahaya hingga mengancam nyawa si Penderita. Pada tingkat tersebut, dapat terjadi komplikasi dari serangan asma. Komplikasi yang mungkin terjadi, yaitu : a. b. Komplikasi akut yang terdiri dari dehidrasi, gagal nafas, dan infeksi saluran nafas Komplikasi kronis yang meliputi cor-pulmonale, PPOK dan pneumothorak.

Prognosis

Para penderita asma pada umumnya hanya menginjak pada tingkat kronis. Meskipun terkadang masuk kedalam periode panjang remisi. Prospek jangka panjang pada penyakit asma bergantung dari tingkat keparahan penyakit ini. Pada kasus ringan sampai sedang, asma dapat membaik prognosisnya dari waktu ke waktu dan banyak orang dewasa yang terbebas dari gejala asma. Bahkan, pada beberapa kasus yang parah, orang dewasa mungkin mengalami kesembuhan tergantung pada derajat obstruksi di paru-paru dan ketepatan waktu serta efektivitas pengobatan. Sekitar 10% dari kasus persisten berat, dapat terv7jadi perubahan dalam struktur dinding saluran udara sehingga menyebabkan munculnya masalah progresif dan irreversible pada fungsi paruparu, bahkan terjadi pada klien yang mendapat pengobatan agresif. Pada perokok aktif dan klien dengan produksi lendir yang berlebihan (indikator kelakuan buruk) maka penurunan fungsi paru-parunya lebih cepat apabila terjadi

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 9

serangan asma dibandingkan dengan rata-rata orang asma. Peristiwa kematian dari serangan asma adalah yang relatif jarang terjadi dan dapat dicegah. Hal ini sangat jarang terjadi pada klien yang menerima pengobatan yang tepat dari penyakit asma. Meskipun pada umumnya asma tidak mengancam kehidupan, namun dapat melemahkan dan menakutkan. Asma yang cenderung tidak terkontrol dapat mengganggu sekolah dan pekerjaan serta kegiatn sehari-hari klien dengan penyakit asma.

Tinjauan Pustaka Bronkhitis Definisi Bronkitis digambarkan sebagai inflamasi dari pembuluh bronkus. Inflamasi menyebabkan bengkak pada permukaannya, mempersempit pembuluh dan menimbulkan sekresi dari cairan inflamasi. Bronchitis adalah suatu penyakit yang ditandai adanya dilatasi (ektasis) bronkus lokal yang bersifat patologis dan berjalan kronik. Perubahan bronkus tersebut disebabkan oleh perubahan-perubahan dalam dinding bronkus berupa destruksi elemen-elemen elastis dan otot-otot polos bronkus. Bronkus yang terkena umumnya bronkus kecil (medium size), sedangkan bronkus besar jarang terjadi. Hal ini dapat memblok aliran udara ke paru-paru dan dapat merusaknya (Saktiyono, 2006).

Menurut klasifikasi bronchitis dibagi menjadi dua jenis yaitu akut dan kronis sebagai berikut : A. Bronkitis akut

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 10

Bronkhitis akut merupakan radang pada bronkus yang biasanya mengenai trakea dan laring, sehingga sering dinamai dengan laringotracheobronkhitis(Irman Soemantri, 2008). Radang ini dapat timbul sebagai kelainan jalan nafas sendiri atau sebagai bagian dari penyakit sistemik misalnya mobile, pertusis, difteri dan tipus abdominalis. Bronkhitis akut ditandai dengan batuk yang tiba-tiba terjadi karena infeksi virus yang melibatkan jalan nafas yang besar. Bronkitis akut pada umumnya ringan. Berlangsung singkat (beberapa hari hingga beberapa minggu), rata-rata 10-14 hari. Meski ringan, namun adakalanya sangat mengganggu, terutama jika disertai sesak, dada terasa berat, dan batuk berkepanjangan. B. Bronkitis kronis Didefinisikan sebagai adanya batuk produktif yang berlangsung 3 bulan dalam 1 tahun selama 2 tahun berturut -turut, walaupun demikian tidak ada standart demikian yang dapat diterima pada anak-anak. Diagnosa kronik bronkitis biasanya dibuat

berdasar adanya batuk menetap yang biasanya terkait dengan penyalahgunaan tobacco. Bronkitis digambarkan sebagai inflamasi dari pembuluh bronkus. Inflamasi menyebabkan bengkak pada permukaannya, mempersempit pembuluh dan menimbulkan sekresi dari cairan inflamasi. Jadi, bronchitis kronis dapat dikenali dengan adanya pengeluaran secret yang berlebihan dari trakeo-bronkhial dan terakumulasi setiap hari selama paling tidak 3 bulan pertahun selama dua tahun berturut-turut.

Etiologi a. Bronkhitis akut Terdapat 3 jenis penyebab bronkithis akut yaitu: i. Infeksi: staphylococcus (stafilokokus), steptococcus (sterptokokus), pneumococcus (pneumokokus), haemophilus influenzae ii. iii. Alergi Rangsangan lingkungan, misal: asap pabrik, asap mobil, asap rokok, dll

b.Bronkhitis kronis

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 11

Bronkhitis kronis dapat merupakan komplikasi kelainan patologik Pada beberapa alat tubuh, yaitu: i. Penyakit jantung menahun, yang diseababkan oleh kelainan patologik pada katub maupun miakardia. Kongesti menahun pada didnding bronkus melemahkan daya tahan sehingga infeksi bakteri mudah terjadi. ii. Infeksi sinus paranasalis dan rongga mulut, area infeksi merupakan sumber bakteri yang dapat menyerang dinding bronkhus iii. Dilatasi bronkhus (bronkiektasi), menyebabkan gangguan susunan dan fungsi dinding bronkhus sehingga infeksi bakteri mudah terjadi iv. Rokok, dapat menimbulkan kelumpuhan bulu getar selaput lendir bronkhus sehingga drainase lendir berlaku. Kumpulan lendir tersebut merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri

Patofisiologi dan WOC Serangan bronkhitis akut dapat timbul dalam serangan tunggal atau dapat timbul kembali sebagai eksaserbasi akut dari bronkithitis kronis. Pada umumnya virus merupakan awal dari serangan bronkhitis akut pada infeksi saluran napas bagian atas. Dokter akan mendiaknosis bronkhitis kronis jika pasien mengalami batuk atau mengalami produksi sputum selama kurang lebih 3 bulan dalam 1 tahun atau paling sedikit dalam 2 tahun berturut turut. Serangan bronkhitis disebabkan karena tubuh terpapar agen infeksi maupun nonifeksi (terutama rokok). Iritan (zat yang menyebabkan iritasi) akan menyebabkan timbulnya respon inflamasi yang akan menyebabkan fase dilatasi, kongesti, edema mukosa, dan bronkospasme. Tidak seperti enfisema, bronkitis lebih mempengaruhi jalan nafas kecil dan besar dibandingkan alveoli. Dalam keadaan bronkitis aliran udara masih memungkinkan tidak mengalami hambatan. Pasien dengan bronkitis kronis akan mengalami : a. Peningkatan ukuran dan jumlah kelenjar mukus pada bronkus besar sehingga meningkatkan produksi mukus b. Mukus lebih kental c. Kerusakan fungsi siliari yang dapat menurunkan mekanisme pembersihan mukus.

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 12

Pada keadaan normal, paru-paru memiliki kemampuan yang disebut


mucocilliary defence, yaitu sistem penjagaan paru-paru yang dilakuakn oleh mukus

dan siliari. Pada pasien dengan bronkitis akut, sistem mucocilliary defence paru-paru mengalami kerusakan sehingga lebih mudah terserang infeksi. Ketika infeksi timbul, kelenjar mukus akan menjadi hipertropi dan hiperplasia (ukuran membesar dan jumlah bertambah) sehingga produksi mukus akan meningkat. Infeksi juga menyebabkan dinding bronkial meradang, menebal (sering kali sampai dua kali ketebalan normal), dan mengeluarkan mukus kental. Adanya mukus kental dari dinding bronkial dan mukus yang dihasilkan kelenjar mukus dalam jumlah banyak akan menghambat beberapa aliran udara kecil dan mempersempit saluran udara besar. Bronkitis kronik mula-mula hanya mempengaruhi bronkus besar, namun lambat laun akan mempengaruhi seluruh saluran nafas. Mukus yang kental dan pembesaran mukus akan mengobstruksi jalan nafas terutama selama ekspirasi. Jalan nafas selanjutnya mengalami kolaps dan udara terperangkap pada bagian distal dari paru-paru. Obstruksi ini menyebabkan penurunan ventilasi alveolus, hipoksia, dan asidosis. Pasien mengalami kekurangan O2 jaringan dari ratio ventilasi perfusi abnormal timbul, dimana terjadi penurunan PO2. Kerusakan ventilasi juga dapat meningkatkan nilai PCO2 sehingga pasien terlihat sianosis. Sebagai kompensasi dari hipoksemia, maka terjadi polisitemia (produksi eritrosit berlebihan). Pada saat penyakit bertambah parah, sering ditemukan produksi sejumlah sputum yang hitam, biasanya karena infeksi pulmonary. Selam infeksi, pasien mengalami reduksi pada FEV dengan peningkatan pada RV dan FRC. Jika masalah tersebut tidak ditanggulangi, hipoksemia akan timbul yang akhirnya menuju penyakit cor pulmonal dan CHF (Congestive Heart Failure).

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 13

Pencetus Bronkhitis (Infeksi, alergi, Rangsangan Lingkungan) Respons Inflamasi

Bakterimia/ Viremia

Edema Mukosa Fungsi Cilia

Vasodilatasi Bronkus

Hipertermi Demam tinggi

Metabolisme Tubuh Malaise Penumpukan mukus

Obstruksi Jalan Nafas MK: Bersihan Jalan Nafas Jalan Nafas Kolaps Tak Efektif Ventiasi alveolus Hipoksia Asidosis MK: Ansietas

Dehidrasi Nafsu Makan MK: Hambat Aliran udara

MK: Gangguan Keseimbangan cairan Gangguan Pemenuhan Tubuh kekurangan O2 Kebutuhan Nutrisi MK: Intoleransi Aktivitas

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 14

Manifestasi Klinis: a. Penampilan Umum : cenderung kurus, sianosis akibat pengaruh sekunder polisitemia, edema (akibat CHF kanan), dan barrel chest b. Usia : 45 65 tahun c. Pengkajian :

Batuk persisten, produksi seperti kopi, dispnea, dan seringnya infeksi pada sistem respirasi. Gejala biasanya timbul pada waktu yang lama.

d. Jantung : Pembesaran jantung, corpulmonal, hematokrit > 60% e. riwayat merokok positif (+)

Pemeriksaan diagnostik a. Foto Thorak : Tidak tampak adanya kelainan atau hanya hyperemia tubular shadow atau traun lines terlihat bayangan garis yang paralel, keluar dari hilus menuju apeks paru. Bayangan tersebut adalah bayangan bronchus yang menebal. Corak paru bertambah. b. Laboratorium : Leukosit >17500. c. Pemeriksaan lainnya yang biasa dilakukan adalah tes fungsi paru dan gas darah arteri. d. Analisa gas darah i. Pa O2 : rendah ( normal 80- 100 mmHg ) ii. Pa CO2 : tinggi (normal 35 45 mmHg). e. Saturasi hemoglobin menurun.

Penatalaksanaan a. Tindakan Keperawatan Mengontrol batuk dan mengeluarkan lendir, sering mengubah posisi, banyak minum, istirahat yang cukup, inhalasi, nebulizer, minum susu atau makanan lain untuk mempertahankan daya tahan tubuh. Tujuannya untuk mengatasi hipersekresi bronkus, sumbatan jalan napas, infeksi bronkus, korpulmanale, dan gagal napas. b. Tindakan Medis

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 15

Penatalaksanaan bronkitis dilakukan secara berkesinambungan untuk mencegah timbulnya penyakit, meliputi: 1. Edukasi, yakni memberikan pemahaman kepada penderita untuk mengenali gejala dan faktor-faktor pencetus kekambuhan bronkitis. 2. Rehabilitasi medik untuk mengoptimalkan fungsi pernapasan dan mencegah kekambuhan, diantaranya dengan olah raga sesuai usia dan kemampuan, istirahat dalam jumlah yang cukup, makan makanan bergizi. 3. 4. Oksigenasi (terapi oksigen) Obat-obat bronkodilator dan mukolitik agar dahak mudah dikeluarkan.

5. Antibiotika, digunakan manakala penderita bronkitis mengalami eksaserbasi oleh infeksi kuman ( H. influenzae, S. pneumoniae, M. catarrhalis). Pemilihan jenis antibiotika (pilihan pertama, kedua dan seterusnya) dilakukan oleh dokter berdasarkan hasil pemeriksaan. Komplikasi Komplikasi pada penyakit bronchitis terjadi karena penanganan pada penyakit yang kurang baik dan tepat sehingga menyebabkan kompikasi. Beberapa kemungkinan komplikasi dapat menyerang selain sistem pernafasan. Adapun komplikasi bronchitis yang ditemukan pada klien, antara lain: a. b. Bronchitis Kronik Pneumonia dengan atau tanpa atelektaksis, bronchitis sering mengalami infeksi berulang biasanya sekunder terhadap infeksi pada saluran nafas bagian atas. Hal ini sering terjadi pada mereka drainase sputumnya kurang baik. c. Pleuritis. Komplikasi ini dapat timbul bersama dengan timbulnya pneumonia. Umumnya pleuritis sicca pada daerah yang terkena. d. e. Efusi pleura atau empisema Abses metastasis diotak, akibat septikemi oleh kuman penyebab infeksi supuratif pada bronkus. Sering menjadi penyebab kematian f. Haemaptoe terjadi kerena pecahnya pembuluh darah cabang vena ( arteri pulmonalis ) , cabang arteri ( arteri bronchialis ) atau anastomisis pembuluh darah. Komplikasi haemaptoe hebat dan tidak terkendali merupakan tindakan bedah gawat darurat.

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 16

g. h.

Sinusitis merupakan bagian dari komplikasi bronchitis pada saluran nafas Kor pulmonal kronik pada kasus ini bila terjadi anastomisis cabang-cabang arteri dan vena pulmonalis pada dinding bronkus akan terjadi arterio-venous shunt, terjadi gangguan oksigenasi darah, timbul sianosis sentral, selanjutnya terjadi hipoksemia. Pada keadaan lanjut akan terjadi hipertensi pulmonal, kor pulmoner kronik,. Selanjutnya akan terjadi gagal jantung kanan.

i.

Kegagalan pernafasan merupakan komlikasi paling akhir pada bronchitis yang berat dan luas

j.

Amiloidosis keadaan ini merupakan perubahan degeneratif, sebagai komplikasi klasik dan jarang terjadi. Pada pasien yang mengalami komplikasi ini dapat ditemukan pembesaran hati dan limpa serta proteinurea.

Prognosis Prognosis pada klien dengan bronchitis tergantung pada berat ringannya serta luasnya penyakit saat klien berobat pertama kali. Pemilihan pengobatan secara tepat (konservatif atau pembedahan) dapat memperbaiki prognosis penyakit. Pada kasus-kasus berat dan sulit untuk diobati membuat prognosisnya jelek. Daya bertahan hidupnya cenderung lebih lemah daripada klien dengan kasus bronchitis yang cepat tertangani (mendapat pengobatan yang tepat). Kematian klien dikarenakan komplikasi dari penyakit bronchitis sendiri.

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 17

Asuhan Keperawatan Asma Pengkajian a. Identitas Pasien i. Umur Asma dapat terjadi pada berbagai kalangan umur dari anak-anak hingga usia produktif dapat terkena serangan asma. Mengingat bahwa faktor pemicu serangan asma sendiri salah satunya adalah alergen. ii. Pekerjaan Tidak ada jenis pekerjaan tertentu yang mejadi spesifikasi asma. Namun, pada orang yang alergi pada lingkungannya seperti alergi asappabrik, asap mobil, debu maupun serbuk bunga dapat memicu serangan asma. Penyakit Sekarang i. Keluhan Utama : Sesak saat bernafas ii. Riwayat Penyakit Sekarang : Klien sesak saat bernafas, mengeluh nyeri dada, batuk, lesu. b. Riwayat Penyakit Dahulu i. Kaji riwayat pribadi atau keluarga tentang penyakit paru sebelumnya.

ii. Kaji riwayat reaksi alergi atau sensitifitas terhadap zat/ faktor lingkungan. iii. Kaji riwayat pekerjaan pasien. c. Observasi dan Pemeriksaan Fisik i. B1 (Breath) 1. Dipsnea pada saat istirahat atau respon terhadap aktivitas atau latihan. 2. Napas memburuk ketika pasien berbaring terlentang ditempat tidur. 3. Menggunakan obat bantu pernapasan, dengan cara meninggikan bahu, melebarkan hidung dan adanya retraksi interkostal. 4. Adanya bunyi napas mengi dan suara wheezing saat ekspirasi. 5. Adanya batuk berulang. 6. RR > 25 kali permenit, HR > 120 kali permenit ii. B2 (Blood)

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 18

Warna kulit atau membran mukosa normal/ abu-abu/ sianosis. iv. B3 (Brain) Ansietas, ketakutan, penurunan kesadaran v. B4 (Bladder) Intake cairan normal berhubungan dengan tidak adanya syok. vi. B5 (Bowel) 1. Ketidakmampuan untuk makan karena distress pernapasan. 2. Penurunan berat badan karena anoreksia vii. B6 (Bone) Malaise

d. Pemeriksaan Penunjang i. Elektrokardiografi Gambaran elektrokardiografi yang terjadi selama serangan dapat dibagimenjadi 3 bagian, dan disesuaikan dengan gambaran yang terjadi padaempisema paru yaitu : 1. Perubahan aksis jantung, yakni pada umumnya terjadi right axis deviasi danclock wise rotation. 2. Terdapatnya tanda-tanda hipertropi otot jantung, yakni terdapatnya RBB ( Right bundle branch block). 3. Tanda-tanda hopoksemia, yakni terdapatnya sinus tachycardia, SVES, dan VES atau terjadinya depresi segmen ST negative. ii. Scanning Paru Dengan scanning paru melalui inhalasi dapat dipelajari bahwa redistribusi udara selama serangan asma tidak menyeluruh pada paru-paru.

Diagnosis dan IntervensiKeperawatan a. Diagnosa: Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan produksi secret kental yang ditunjukkan dengan adanya bunyi napas tidak normal yakni wheezing/mengi, batuk menetap dengan adanya sputum

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 19

Tujuan: Jalan nafas kembali paten dengan bunyi napas bersih Kriteria hasil: 1. 2. 3. 4. 5. Wheezing berkurang/hilang. Sesak berkurang. Batuk berkurang. Klien dapat mengeluarkan sputum. TTV dalam batas normal keadaan umum baik : Nadi 60-90x/menit, RR

12-20 x/menit, tekanan darah 80/120 mmHg. Intervensi: No Intervensi 1 Rasional

Auskultasi bunyi nafas, catat adanya Beberapa derajat spasme bronkus terjadi bunyi nafas, misalnya : mengi, dengan obstruksi jalan nafas. Bunyi nafas redup dengan ekspirasi mengi (empysema), tak ada fungsi nafas (asma berat).

erekeis, ronkhi.

Kaji / pantau frekuensi pernafasan Takipnea biasanya ada pada beberapa derajat catat rasio inspirasi dan ekspirasi. dan dapat ditemukan pada penerimaan selama stress/ adanya proses infeksi akut. Pernafasan dapat melambat dan frekuensi ekspirasi

memanjang dibanding inspirasi. 3 Tempatkan posisi yang nyaman


0

Peninggian kepala tempat tidur mempermudah pernapasan dengan menggunakan

pada pasien, dengan posisi semifowler fungsi 30-45

gravitasi. Disfungsi pernafasan adalah variable yang

Catat adanya derajat dispnea, ansietas, tergantung pada tahap proses akut yang distress pernafasan, penggunaan obat menimbulkan perawatan di bantu. rumah sakit Pencetus tipe alergi pernafasan dapat mentriger

Pertahankan

polusi

lingkungan episode akut.

minimum, contoh: debu, asap dll Hidrasi membantu menurunkan kekentalan 6 Tingkatkan masukan cairan sampai sekret, penggunaan cairan hangat dapat

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 20

dengan 3000 ml/ hari sesuai toleransi menurunkan kekentalan sekret, penggunaan jantung memberikan air hangat. cairan hangat dapat menurunkan spasme bronkus. Batuk 7 yang terkontrol melelahkan dan

Instruksikan klien pada metode yang inefektif, menimbulkan frustasi. tepat dalam mengontrol batuk: a. Nafas dalam dan perlahan sambil mungkin. b. Gunakan nafas diafragmatik duduk setegak a. Duduk tegak menggeser organ abdimal menjauhi paru, memungkinkan

ekspansi lebih besar b. Pernafasan diafragmatik menurunkan frekuensi pernafasan dan meningkatkan fentilasi alveolar c. Peningkatan volume udara dalam paru

c. Tahan nafas selama 3 sampai 5 detik dan kemudian

meningkatkan pengeluaran sekret

dengan perlahan hembuskan sebanyak mungkin melalui mulut ( sangkar iga dibawah abdomen harus turun) d. Ambil nafas kedua, tahan, dan batuk dari dada (bukan dari belakang mulut atau tenggorok) dengan d. Peningkatan volume udra dalam paru meningkatkan pengeluaran sekret

menggunakan nafas pendek, batuk kuat. e. Demonstrasikan pernafasan pursed-lip 8 Ajarkan klien tindakan e. Pernafasan pursed-lip memanjangkan ekshalasi untuk menurunkan udara yang terperangkap. untuk Sekresi kental sulit untuk dikeluarkan dan dapat menyebabkan sumbatan mukus, yang dapat menimbulkan atelektasis. a. Pertahankan hidrasi adekuat b. Pertahankan kelembaban

menurunkan viskositas sekresi:

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 21

adekuat udara inspirasi c. Hindari lingkungan yang

mengandung stimulan 10 Auskultasi paru-paru sebelum dan Pengkajian sesudah tindakan 11 Dorong atau berikan perawatan mulut ini membantu mengevaluai

berhasilan tindakan. Higine mulut yang baik meningkatkan rasa sehat dan mencegah bau mulut

Kolaborasi 12 Obat sesuai indikasi. Bronkodilator Membebaskan spasme jalan nafas, mengi dan 1x1 (inhalasi). produksi mukosa.

b.Diagnosa: Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan mengi Tujuan: Pola nafas kembali efektif. Kriteria hasil: 1. 2. 3. 4. Pola nafas efektif. RR 16-20 kali permenit TTV dalam batas normal. Ekspansi paru mengembang.

Intervensi : No Intervensi 1 Rasional biasanya mencapai kedalaman

Kaji frekuensi kedalaman pernafasan Kecepatan dan ekspansi dada. Catat

upaya pernafasan bervariasi tergantung derajat gagal

pernafasan termasuk penggunaan otot nafas. Expansi dada terbatas yang berhubungan bantu pernafasan/ pelebaran nasal. dengan atelektasis dan atau nyeri dada.

Auskultasi bunyi nafas dan catat Mengi menyertai obstruksi jalan nafas / adanya bunyi nafas seperti crekels, kegagalan pernafasan. mengi.

Tinggikan

kepala

dan

bantu Duduk tinggi memungkinkan ekspansi paru dan memudahkan pernafasan.

mengubah posisi.

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 22

Observasi pola batuk dan karakter Kongesti sekret.

alveolar

mengakibatkan

batuk

sering/iritasi. meningkatkan/ banyaknya sputum

Dorong/bantu pasien dalam nafas dan Dapat latihan batuk.

dimana gangguan ventilasi dan ditambah ketidak nyaman upaya bernafas.

Kolaborasi 6 Berikan oksigen tambahan sesuai Memaksimalkan bernafas dan menurunkan dengan kebutuhan. kerja nafas, memberikan kelembaban pada membran mukosa dan membantu pengenceran sekret. 7 Berikan humidifikasi tambahan Memaksimalkan bernafas dan menurunkan kerja nafas, memberikan kelembaban pada membran mukosa dan membantu pengenceran sekret.

misalnya : nebulizer.

c.

Diagnosa: Bersihan jalan nafas tak efektif berhubungan dengan stenosis pada bronkus.

Tujuan: Mempertahankan jalan nafas paten dengan bunyi nafas bersih atau jelas Kriteria hasil: 1. 2. Batuk efektif Suara Nafas vesikuler

Intervensi: No Intervensi 1 Auskultasi bunyi nafas. Rasional Beberapa derajat spasme bronkus terjadi dengan obstruksi jalan nafas. 2 Kaji frekuensi pernafasan. Takiepnea biasanya dapat ditemukan selama adanya stress atau infeksi akut. 3 Kaji pasien untuk posisi yang aman Peninggian kepala tempat tidur mempermudah fungsi gravitasi. 4 Pertahankan polusi lingkungan Pencetus tipe reaksi alergi pernafasan. pernafasan dengan menggunakan

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 23

Bantu latihan nafas abdomen ayau Memberikan pasien beberapa cara untuk bibir mengatsi dan mengontrol dispnea dan

menurunkan jebakan udara. Kolaborasi 6 Berikan obat sesuai indikasi. Merilekskan otot halus dan menurunkan

kongesti local, menurunkan spasme jalan nafas, mengi dan produksi mukosa. Obat-obat

mungkin per oral, injeksi, atau inhalasi. 7 Bantu pengobatan pernafasan, Drainase posturnal dan perkusi bagian penting untuk membuang banyaknya sekresi dan memperbaiki ventilasi pada segmen dasar paru.

misalnya fisioterapi dada.

d. Diagnosa: Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan suplai oksigen (obstruksi oleh spasme bronkus). Tujuan: Memperbaiki ventilasi dan oksigenasi jaringan adekuat dan membebaskan gejala distress pernafasan. Kriteria hasil: 1. Perbaikan ventilasi 2. Terbebas dari gejala distress pernafasan 3. pH 7,35 7,45 ; pO2 80 100 mmHg ; pCO2 35 45 mmHg Intervensi: No Intervensi 1 Kaji frekuensi dan Rasional kedalaman Berguna dalam evaluasi derajat distress

pernafasan. 2

pernafasan.

Tinggikan kepala tempat tidur, bantu Pengiriman oksigen dapat diperbaiki dengan pasien untuk memilih posisi yang posisi duduk tinggi dan latihan nafas untuk mudah untuk bernafas. menurunkan kolaps jalan nafa, dispnea, dan kerja nafas.

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 24

Kaji secara rutin kulit dan warna Sianosis mungkin perifer (terlihat pada kuku) membran mukosa. atau sentral (sekitar bibir atau daun telinga).

Dorong

mengeluarkan

spuntum, Kental, tebal, dan banyaknya sekresi adalah sumber utama gangguan pertukaran gas pada jalan nafas kecil. Penghisapan dilakukan bila batuk tidak efektif.

penghisapan bila diindikasikan.

Auskultasi bunyi nafas, catat area Bunyi nafas mungkin redup karena penurunan penurunan aliran udara atau bunyi aliran udara atau area konsolidasi. tambahan.

Palpasi fermitus

Penurunan

getaran

fibrasi

diduga

ada

pengumpulan cairan. Kolaborasi 7 Berikan oksigen tambahan sesuai dengan indikasi hasil AGDA dan toleransi pasien. Dapat memperbaiki atau mencegah memburuknya hipoksia.

e. Diagnosa: Pemenuhan Kebutuhan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia Tujuan: Mencukupi kebutuhan nutrisi Kriteria hasil: menunjukkan peningkatan berat badan menuju tujuan yang tepat. Intervensi: No Intervensi 1 Rasional distress pernafasan akut sering

Kaji kebiasaan diet, masukan makanan Pasien

saat ini. Catat derajat kerusakan anoreksia karena dipsnea. makanan. 2 Sering lakukan perawatan oral, buang Rasa tak enak, bau menurunkan nafsu makan sekret, berikan wadah khusus untuk dan dapat menyebabkan mual/muntah dengan sekali pakai. peningkatan kesulitan nafas.

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 25

Kolaborasi 3 Berikan oksigen tambahan selama Menurunkan dipsnea dan meningkatkan energi makan sesuai indikasi. untuk makan, meningkatkan masukan.

f. Diagnosa: Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuat imunitas. Tujuan: Mengurangi infeksi yang mungkin terpajan pada klien Kriteria hasil: 1. Mengidentifikasikan intervensi untuk mencegah atau menurunkan resiko infeksi dengan tanda tanda naiknya suhu badan, dan batuk terus menerus. 2. Perubahan pola hidup untuk meningkatkan lingkungan yang nyaman. Intervensi: No Intervensi 1. Awasi suhu. Rasional Demam dapat terjadi karena infeksi dan atau dehidrasi.

Diskusikan kebutuhan nutrisi adekuat

Malnutrisi dapat mempengaruhi kesehatan umum

Kolaborasi 3 Dapatkan specimen sputum dengan untuk mengidentifikasi organisme penyabab batuk atau pengisapan untuk dan kerentanan terhadap berbagai anti

pewarnaan gram,kultur/sensitifitas.

microbial

g. Diagnosa: Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi dan salah mengerti. Tujuan: Memberikan pengetahuan dan informasi agar tidak salah mengerti Kriteria hasil: menyatakan pemahaman kondisi/proses penyakit dan tindakan. Intervensi:

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 26

No Intervensi 1. Jelaskan tentang penyakit individu

Rasional Menurunkan ansietas dan dapat menimbulkan perbaikan partisipasi pada rencana pengobatan.

Diskusikan samping

obat

pernafasan, yang

efek Penting bagi pasien memahami perbedaan tidak antara efek samping mengganggu dan

dan

reaksi

diinginkan.

merugikan.

Tunjukkan inhakler.

tehnik

penggunaan Pemberian obat yang tepat meningkatkan keefektifanya.

Bronkhitis Pengkajian a. Identitas Pasien Umur Tidak ada batasan umur yang spesifik terhadap penyakit bronchitis untuk menjangkiti manusia.Anak-anak dapat terkena penyakit bronchitis akut namun perlu waktu untuk menjadi bronchitis kronik. Apabila anak mempunyai kecenderungan perilaku negative seperti merokok ada kemungkinan bronchitis akut yang didrita semasa anak-anak dapat muncul menjadi bronchitis kronik saat dewasa. b. Riwayat Penyakit Sekarang i. Keluhan Utama : Sesak saat bernafas, sekresi mukus yang berlebihan, batuk, nyeri dada, suara serak ii. Riwayat Penyakit Sekarang : Riwayat penyakit saat ini pada klien dengan bronkitis bervariasi tingkat keparahan dan lamanya. Bermula dari gejala batukbatuk saja, hingga penyakit akut dengan manifestasi klinis yang berat. Sebagai tanda terjadinya toksemia klien dengan bronkitis sering mengeluh malaise, demam, badan terasa lemah, banyak berkeringat, takikardia dan takipnea. Sebagai tanda terjadinya iritasi, keluhan yang didapatkan terdiri atas batuk, ekspektorasi dan rasa sakit dibawah sternum.

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 27

c. Riwayat Penyakit Dahulu i. Kaji riwayat pribadi atau keluarga tentang penyakit paru sebelumnya. ii. Kaji riwayat pekerjaan pasien. iii. Kaji adanya riwayat alergi pada pernafasan atas. d. Observasi dan Pemeriksaan Fisik i. B1 (Breath) 1. Sesak 2. Batuk 3. Penggunaan otot bantu pernafasan 4. Didapatkan bunyi resonan pada lapang paru b. B2 (Blood) e. Mengalami takikardi 1. 2. 3. Warna kulit atau membran mukosa normal/ abu-abu/ sianosis Bunyi jantung tambahan biasanya tidak didapatkan Batas jantung tidak mengalami pergeseran.

f. B3 (Brain) Ansietas g. B4 (Bladder) Apabila bronchitis tidak segera ditangani secara tepat dapat terjadi komplikasi pada sistem bladder yaitu oliguria. h. B5 (Bowel) 1. 2. Klien biasanya mengalami muntah dan mual Anoreksia dan penurunan berat badan.

i. B6 (Bone) Malaise

2.3.2.2 Diagnosis a. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas yang berhubungan dengan sekresi mucus yang kental, kelemahan, upaya batuk buruk, edema tracheal / faringeal b. Hipertermi yang berhubungan dengan peningkatan laju metabolisme sekunder bakteremia / viremia

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 28

c. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan peningkatan metabolisme tubuh dan penurunan nafsu makan sekunder terhadap demam d. Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan kelelahan dan kelemahan fisik umum e. Cemas yang berhubungan dengan kondisi sakit,prognosis penyakit yang berat f. Kurangnya pemenuhan informasi yang berhubungan dengan ketidakjelasan sumber informasi

Intervensi a. Diagnosis Ketidakefektifan bersihan jalan nafas yang berhubungan dengan sekresi mucus yang kental, kelemahan, upaya batuk buruk, edema tracheal / faringeal Tujuan Kriteria Hasil : Kembali efektifnya bersihan jalan nafas : Klien mampu melakukan batuk efektif, pernafasan klien normal (

16-20x/menit) tanpa ada penggunaan otot bantu nafas, dan bunyi nafas normal. Rencana Tindakan Mandiri Rasional

Kaji fungsi pernafasan (bunyi nafas, kecepatan, Penurunan bunyi nafas menunjukkan ateletasis, irama, kedalaman, dan penggunaan otot bantu nafas) ronki menunjukkan akumulasi secret dan ketidakefektifan pengeluaran sekresi yang selanjutnya dapat menimbulkanpenggunaan otot bantu nafasdan peningkatan kerja pernafasan Kaji kemampuan pasien mengeluarkan sekresi. Lalu catat karakter dan volume sputum Berikan posisi semi/fowler tinggi dan bantu klien nafas dalam dan batuk efektif Pengeluaran sangat sulit jika secret sangat kental (efek infeksi dan hidrasi yang tidak adekuat) Posisi fowler memaksimalkan ekspansi paru dan menurunkan upaya bernafas. Ventilasi maksimal membuka area atelektasis dan

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 29

meningkatkan gerakan secret ke jalan nafas besar untuk dikeluarkan Pertahankan intake cairan sedikitnya 2500ml / hari kecuali tidak di indikasikan Bersihkan secret dari mulut dan trachea, bila perlu lakukan suction Hidrasi yang adekuat membantu mengencerkan secret dan mengefektifan bersihan jalan nafas Mencegah obstruksi dan aspirasi. Pengisapan diperlukan bila klien tidak mampu mengeluarkan secret. Eliminasi lendir dengan suction sebaiknya dilakukan dalam jangka waktu kurang dari 10 menit dengan pengawasan efek samping suction Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi

Obat antibiotic

Pemberian antibiotic yang ideal berdasarkan pada test uji resistensi bakteri terhadap antibiotic sehingga mudah mengobati bronchitis

Agen mulkolitik

Agen mulkolitik menurunkan kekentalan dan perlengketan secret paru untuk memudahkan pembersihan

Bronchodilator

Bronchodilator meningkatkan diameter lumen percabangan trancheobronkhial sehingga menurunkan tahanan terhadap aliran udara

Kortikosteroid

Kortikosteroid berguna pada keterlibatan luas dengan hipoksemia dan bila reaksi inflamasi mengancam kehidupan

b. Diagnosis Hipertermi yang berhubungan dengan peningkatan laju metabolisme sekunder bakteremia / viremia Tujuan : Suhu tubuh kembali ke batas normal

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 30

Kriteria hasil

: Suhu tubuh dan tekanan darah dalam batas normal (36,50C -

37,50C), denyut nadi dan pernafasan dalam batas normal Rencana Tindakan Monitor status suhu secara periodic, kompres dingin di area kepala dan lipat ketiak Berikan perawatan mulut setiap 4 jam jika sputum berbau busuk. Pertahankan kesegaran ruangan Rujuk kepada ahli diet untuk membantu memilih makanan yang dapat memenuhi gizi selama demam Ahli diet adalah spesialisasi dalam ilmu gizi yang dapat membantu klien memenuhi kebutuhan kalori dan kebutuhan gizi sesuai dengan keadaan sakitnya, usia, tinggi, dan berat badannya Dukung klien untuk mengkonsumsi yang tinggi kalori dan tinggi protein Peningkatan suhu tubuh meningkatkan metabolism, intake protein, vitamin, mineral, dan kalori yang adekuat penting untuk aktivitas anabolic dan sintesis antibiotic Berikan makanan dengan porsi sedikit tapi sering dan mudah dikunyah jika ada seseak nafas berat Makanan porsi sedikit tapi sering memerlukan lebih sedikit energy Rasional Mengidentifikasi kemajuan atau penyimpangan dari sasaran yang diharapkan Bau yang tidak nyaman dapat mempengaruhi nafsu makan

c. Diagnosis Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan peningkatan metabolisme tubuh dan penurunan nafsu makan sekunder terhadap demam Tujuan : Dalam waktu 3x24 jam setelah diberi tindakan keperwatan, intake nutrisi klien terpenuhi Kriteria hasil : Klien dapat mempertahankan status gizinya dari yang semula kurang menjadi adekuat serta pernyataan motivasi kuat untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 31

Rencana Tindakan Kaji status nutrisi klien, turgor kulit, berat badan, derajat penurunan berat badan, integritas mukosa oral, kemampuan menelah, riwayat mual/muntah, dan diare Fasilitasi klien untuk memperoleh diet biasa yang disukai klien (sesuai indikasi) Pantau intake dan output, timbang berat badan secara periodic (seminggu sekali) Lakukan dan ajarkan perawatan mulut sebelum dan sesudah makan serta sebelum dan sesudah intrvensi / perawatan per oral

Rasional Menvalidasi dan menetapkan derajat masalah untuk menetapkan pilihan intervensi yang tepat

Memperhitungkan keinginan individu dapt memperbaiki intake gizi Berguna dalam keefektifan intake gizi dan dukungan cairan Menurunkan rasa tak enak karena sisa makanan, sisa sputum atau obat pada pengobatan system pernafasan yang dapat merangsang pusat muntah

Fasilitasi pemberian diet TKTP, berikan dalam jumlah porsi kecil tapi sering

Memaksimalkan intake nutrisi tanpa kelelahan dan energy besar serta menurunkan iritasi di saluran cerna

Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menetapkan komposisi dan jumlah diet yang tepat

Merencanakan diet dengan kandungan gizi yang cukup untuk memenuhi peningkatan kebutuhan energy dan kalori berhubungan dengan status hipermetabolik klien

Kolaborasi untuk pemeriksaan laboraturium khususnya BUN, protein serum, dan albumin Kolaborasi untuk pemberian multivitamin

Menilai kemajuan terapi diet dan membantu perencanaan intervensi selanjutnya Multivitamin bertujuan untuk memenuhi kebutuhan vitamin yang tinggi sekunder dari peningkatan laju metabolise umum

d. Diagnosis Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan kelelahan dan kelemahan fisik umum Tujuan : Terpenuhinya kebutuhan dan aktivitas sehari-hari

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 32

Kriteria hasil

: Klien mendemostrasikan peningkatan toleransi terhadap aktivitas danklien dapat melakukan aktivitas, dapat berjalan lebih jauh tanpa mengalami nafas tersengal-sengal, sesak nafas, dan kelelahan

Rencana Tindakan Monitor frekuensi nadi dan nafas sebelum dan sesudah beraktivitas Tunda aktivitas jika frekuensi nadi dan nafas meningkat secara cepat dank lien mengeluh sesak nafas dan kelelahan, tingkatkan aktivitas secara berthahap untuk meningkatkan toleransi

Rasional Mengidentifikasi kemampuan atau penyimpangan dari sasaran yang diharapkan Gejala-gejala tersebut merupakan tanda adanya intoleransi aktivitas. Konsumsi oksigen meningkat jika aktivitas meningkat dan daya tubuh klien dapat bertahan lebih lama jika ada waktu istirahat di antara aktivitas

Bantu klien dalam melakukan aktivitas sesuai dengan kebutuhannya. Beri klien waktu istirahat tanpa diganggu berbagai aktivitas Pertahankan terapi oksigen selama aktivitas dan lakukan tindakan pencegahan terhadap komplikasi terhadap imobilisasi jika klien dianjurkan tirah baring lama

Membantu menurunkan kebutuhan oksigen yang meningkat akibat peningkatan aktivitas

Aktivitas fisik meningkatkan kebutuhan oksigen dan system tubuh akan berusaha menyesuaikannya. Keseluruhan system akan berlangsung dalam tempo yang lebih lambat saat tidak ada aktivitas fisik (tirah baring). Tindakan keperawatan yang spesifik dapat meminimalkan komplikasi imobilisasi

Konsultasikan dengan dokter jika sesak nafas tetap ada atau bertambah berat saat istirahat

Hal tersebut dapat merupakan tanda awal dari komplikasi khususnya gagal nafas

e. Diagnosis Cemas yang berhubungan dengan kondisi sakit,prognosis penyakit yang berat Tujuan Kriteria hasil : Menurunnya tingkat kecemasan klien : Klien terlihat mampu bernafas secara normal dan mampu

beradaptasi dengan keadaannya. Respon nonverbal klien tampak lebih rileks dan santai.

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 33

Rencana Tindakan Bantu dalam mengidentifikasi sumber koping yang ada

Rasional Pemanfaatan sumber koping yang ada secara konstruktif sangat brmanfaat dalam mengatasi stress

Pertahankan hubungan saling percaya antara perawat dank lien Ajari tekhnik relaksasi Kaji factor yang menyebabkan rasa cemas

Hubungan saling percaya membantu memperlancar proses terapeutik Mengurangi ketegangan otot dan kecemasan Tindakan yang tepat diperlukan dalam mengatasi masalah yang dihadapi klien dan membangun kepercayaan dalam mengurangi kecemasan

Bantu klien mengenali dan mengakui rasa cemasnya

Rasa cemas merupakan efek emosi sehingga apabila sudah teridentifikasi dengan baik, maka perasaan yang mengganggu dapat diketahui

f. Diagnosis Kurangnya pemenuhan informasi yang berhubungan dengan ketidakjelasan sumber informasi Tujuan Kriteria hasil : Klien mampu melaksankan apa yang telah diinformasikan : Klien terlihat mengalami penurunan potensi menularkan yang ditunjukkan oleh kegagalan kontak klien Rencana Tindakan Kaji kemampuan klien untuk mengikuti pembelajaran (tingkat kecemasan, kelelahan umum, pengetahuan klien sebelumnya, dan suasana yang tepat) Jelaskan tentang dosis obat, frekuensi pemberian, kerja yang diharapkan, dan alas an mengapa pengobatan bronchitis berlansung Meningkatkan partisipasi klien dalam program pengobatan dan mencegah putus obat karena membaiknya kondisi fisik klien sebelum Rasional Keberhasilan proses pembelajaran dipengaruhi oleh kesiapan fisik, emosional, lingkungan yang kondusif

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 34

dalam waktu lama Ajarkan dan nilai kemampuan klien untuk mengidentifikasi gejala /tanda reaktivitas penyakit (hemoptisis, demam, nyeri dada, kesulitan bernafas, kehilangan bernafas) Tekankan pentingnya mempertahankan intake nutrisi yang mengandung protein dan kalori yang tinggi serta intake cairan yang cukup setiap hari

jadwal terapi selasai Dapat menunjukkan pengaktivan ulsng proses penyakit dan efek obat yang memerlukan evaluasi lanjut

Diet TKTP dan cairan yang adekuat memenuhi peningkatan kebutuhan metabolic tubuh. Pendidikan kesehatan tentang hal itu akan meningkatkan kemandirian klien dalam perawatan penyakitnya

PENUTUP

Kesimpulan

Asma merupakan penyakit obstruksi saluran pernafasan yang bersifat reversibel dimana saluran bronchi mengalami inflamasi atau peradangan dan hiperresponsif sehinggan terjadi bronkospasme periodik yang menyebabkan klian kesulitan dalam bernafas.Sedangkan bronchitis adalah suatu penyakit yang ditandai adanya dilatasi (ektasis) bronkus lokal yang bersifat patologis dan berjalan kronik. Bronkithis dibagi menjadi 2 yaitu bronkhitis akut dan kronis.

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 35

DAFTAR PUSTAKA Bagian Farmakologi FKUI. ( 1995 ). Farmakologi dan Therapy. Edisi Revisi. Long, Barbara C.( 1996 ). Perawatan Medical BedahJilid 2.Bandung: Yayasan IAPR. Mansjoer, Arif .( 1999). Kapita Selekta Kedokteran. (Ed 3). Jakarta : Media Aesculapius FKUI. Price, A Sylvia. ( 1995 ). Pathofisiologi Clinical : Concept of Desease Proces.Alih Bahasa : Peter Anugrah, Edisi 4, EGC, Jakarta. Perhimpunan Dokter Penyakit Dalam . ( 2001 ). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 2. (Ed 3). Balai Penerbit FKUI, Jakarta. Wilkinson, Judith M.(2002). Diagnosa Keperawatan dengan NIC dan NOC. Alih bahasa: Widyawati dkk. Jakarta: EGC. Wilkinson, Judith M.(2006). Diagnosa Keperawatan dengan NIC dan NOC. Alih bahasa : Widyawati dkk. Jakarta: EGC. Carpenito, Lynda Juall, Moyet. (2006). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Alih bahasa : Yasmin Asih, S.Kp. Jakarta: EGC. Baratawidjaja, K. (1990).Asma Bronchiale. dikutip dari Ilmu Penyakit Dalam,Jakarta : FK UI. Brunner & Suddart. (2002).Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah. Jakarta : AGC. Crompton, G. (1980).Diagnosis and Management of Respiratory Disease, BlacwellScientific Publication. Carpenito, Lynda Juall. (1999). Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan.Jakarta: EGC. Corwin, Elizabeth J. (2009). Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC. Crockett, Antony. (1997). Penanganan Asma dalam Perawatan Primer. Jakarta: Hipokrates. Leafant, Claude. (2001). Asthma and Respiratory Infections. United States of America: Inc. Rights Reserved. Muttaqin, Arif. (2008). Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika.

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 36

Reeves, Charlene j., Gayle Roux Robin Lockhart, dr. Joko Setyono. (2001). Keperawatan Medikal Bedah Buku Satu.Jakarta:Salemba Medika.

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 37