Sunteți pe pagina 1din 24

ASKEP ASMA

DEFINISI
Asma adalah penyakit jalan nafas obstruktif intermiten, reversibel dimana trakea dan
bronchi berspon dalam secaa hiperaktif terhadap stimuli tertentu. ( Smeltzer, C . Suzanne, 2002,
hal 611)

II. PENYEBAB
1. Alergen ; makanan, debu rumah, bulu binatang
2. Infeksi : virus, bakteri, jamur, parasit
3. Iritan : minyak wangi, asap rokok, polutan udara, bau tajam
4. Cuaca : perubahan tekanan udara, suhu, amgin, dan kelembaban udara

III. Faktor pencetus:
1. Kegiatan jasmani : kegiatan jasmani yang berat seperti: berlari, naik sepeda
2. Psikologis seperti stress
( Ngastiyah, 1997, hal 67-68)

IV. TANDA DAN GEJALA
1. Stadium dini
Faktor hipersekresi yang lebih menonjol
- Batuk dengan dahak bisa dengan maupun tanpa pilek
- Rochi basah halus pada serangan kedua atau ketiga, sifatnya hilang timbul
- Whezing belum ada
- Belum ada kelainan bentuk thorak
- Ada peningkatan eosinofil darah dan IG E
- BGA belum patologis
Faktor spasme bronchiolus dan edema yang lebih dominan
- Timbul sesak napas dengan atau tanpa sputum
- Whezing
- Ronchi basah bila terdapat hipersekresi
- Penurunan tekanan parsial O2
2. Stadium lanjut/kronik
- Batuk, ronchi
- Sesak nafas berat dan dada seolah olah tertekan
- Dahak lengket dan sulit untuk dikeluarkan
- Suara nafas melemah bahkan tak terdengan (silent Chest)
- Thorak seperti barel chest
- Tampak tarikan otot sternokleidomastoideus
- Sianosis
- BGA Pa o2 kurang dari 80%
- Ro paru terdapat peningkatan gambaran bronchovaskuler kanan dan kiri
- Hipokapnea dan alkalosis bahkan asidosis respiratorik
(Halim Danukusumo, 2000, hal 218-229)

V. PATHWAYS

VI. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Spirometri
2. Pemeriksaan sputum
3. Pemeriksaaan eosinofil total
4. Uji kulit
5. Pemeriksaan kadar Ig E total dan Ig E specifik dalam sputum
6. Foto thorak
7. AGD

VII. FOKUS PENGKAJIAN
A. PENGKAJIAN PRIMER
1. Airway
Krekels, ronkhi, batuk keras, kering/produktif
Penggunaan otot otot aksesoris pernapasan ( retraksi interkosta)
2. Breathing
Perpanjangan ekspirasi , mengi, perpendekan periode inspirasi, sesak napfas, hipoksia
3. Circulation
Hipotensi, diaforesis, sianosis, pulsus paradoxus > 10 mm

B. PENGKAJIAN SEKUNDER
1. Riwayat penyakit sebelumnya
Alergi, batuk pilek, menderita penyakit infeksi saluran nafas bagian atas
2. Riwayat perawatan keluarga
Adakah riwayat penyakit asma pada keluarga
3. Riwayat sosial ekonomi
Jenis pekerjaan dan waktu luang, jenis makanan yang berhubungan dengan alergen, hewan
piaraan, lingkungan tempat tinggal dan stressor emosi

VIII. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNCUL
1. Tidak efektifnya bersihan jalan nafas b. d bronkospasme, peningkatan produksi sekret,
sektet kental
Tujuan: bersihan jalan nafas efektif
KH:
- Bunyi nafas bersih
- Batuk efektif/mengeluarkan dahak
Intervensi:
- Ausultasi bunyi nafas, catat adanya bunyi nafas tambahan misalnya: mengi, krekel, ronchi
- Kaji frekuensi dispnea: gelisah, ansietas distress pernapasan, penggunan otot bantu
- Beri klien posisi yang nyaman misalnya peninggian empat tidur, duduk (fowler)
- Pertahankan/ bantu batuk efektif
- Observasi karakteristik batuk
- Tingkatkan masukan cairan sampai 3000 ml/hari dan berikan air hangat
- Berikan obat sesuai indikasi
- Kolaborasi pengambilan bahan lab : Hb, Ht, leukosit, foto thorak
2. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan penurunan ekspansi paru selama
serangan akut
Tujuan: pola nafas efektif
Kriteria hasil:
- Sesak berkurang atau hilang
- RR 18-24x/menit
- Tidak ada retraksi otot pernapasan
Intervensi:
- Kaji tanda dan gejala ketidakefektifan pernapasan : dispnea, penggunaan otot-otot
pernapasan
- Pantau tanda- tanda vital dan gas- gas dalam arteri
- Baringkan pasien dalam posisi fowler tinggi untuk memaksimalkan ekspansi dada
- Berikan terapi oksigen sesuai pesanan
3. Cemas b.d krisis situasi
Tujuan : cemas berkurang/ hilang
KH:
- Klien tampak rileks
- Klien menyatakansesak berkurang
- Tanda tanda vital normal
Intervensi;
- Kaji tingkat kecemasan klien
- Observasi respon non verbal (gelisah)
- Ukur tanda-tanda vital
- Dengarkan keluhan klien dengan empati
- Jelaskan informasi yang diperlukan klien tentang penyakitnya, perawatan dan
pengobatannya
- Ajarkan klien tehnik relaksasi (memejamkan mata, menarik nafas panjang)
- Menganjurkan klien untuk istirahat
(Tucker S. Martin, 1998 hal 242-243)

DAFTAR PUSTAKA
Halim Danukusantoso, Buku Saku Ilmu Penyakit Paru, Jakarta, Penerbit Hipokrates , 2000
Smeltzer, C . Suzanne,dkk, Buku Ajar keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8 Vol 1. Jakarta ,
EGC, 2002
Ngastiyah, Perawatan Anak Sakit, Jakarta, EGC, 1997
Hudak & Gallo, Keperawatan Kritis, Edisi VI,Vol I, Jakarta, EGC, 2001
Tucker S. Martin, Standart Perawatan Pasien, Jilid 2, Jakarta, EGC, 1998


ASUHAN KEPERAWATAN ASMA BRONKHIAL

BAB I
TINJAUAN TEORITIS

A. Pengertian
Asma bronchial adalah penyakit jalan nafas obstruktif intermitten, reversibel dimana
trakheobronkhial berespon secara hiperaktif terhadap stimuli tertentu.
Asma bronchial adalah suatu penyakit dengan ciri meningkatnya respon trachea dan
bronkhus terhadap berbagai rangsangan dengan manifestasi adanya penyempitan jalan nafas
yang luas dan derajatnya dapat berubah-ubah baik secara spontan maupun hasil dari pengobatan.
(The American Thoracic Society, 1962).

B. Etiologi
Ada beberapa hal yang merupakan faktor timbulnya serangan asma bronkhial:
1. Genetik
Yang diturunkan adalah bakat alergi meskipun belum diketahui bagaimana cara
penurunannya. Penderita dengan penyakit alergi biasanya mempunyai keluarga dekat yang juga
menderita penyakit alergi. Karena adanya bakat alergi ini, penderita sangat mudah terkena
penyakit asma bronkhial jika terpapar dengan faktor pencetus.
2. Alergen
Alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu:
a. Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasan. Contoh: debu, bulu binatang, serbuk bunga,
spora jamur, bakteri, dan polusi.
b. Ingestan, yang masuk melalui mulut. Contoh: makanan dan obat-obatan
c. Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit. Contoh: perhiasan, logam, dan jam tangan.

3. Perubahan cuaca
Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi asma. Kadang-
kadang serangan berhubungan dengan musim, seperti musim hujan, musim kemarau, musim
bunga. Hal ini berhubungan dengan arah angin, serbuk bunga, dan debu.
4. Stress
Stress/gangguan emosi dapat menjadi pencetus asma dan memperberat serangan asma yang
sudah ada. Penderita diberikan motivasi untuk menyelesaikan masalah pribadinya karena jika
stressnya belum diatasi maka gejala asmanya belum bisa diobati.
5. Olah raga/aktivitas jasmani yang berat
Sebagian besar penderita akan mendapat serangan jika melakukan aktivitas jasmani atau
olahraga yang berat. Lari cepat paling mudah menimbulkan serangan asma.

C. Klasifikasi
Berdasarkan penyebabnya, asma bronkhial dapat diklasifikasikan menjadi 3 tipe, yaitu:
1. Ekstrinsik (alergik)
Ditandai dengan reaksi alergi yang disebabkan oleh faktor-faktor pencetus yang spesifik,
seperti debu, serbuk bunga, bulu binatang, obat-obatan (antibiotik dan aspirin), dan spora jamur.
Asma ekstrinsik sering dihubungkan dengan adanya suatu predisposisi genetik terhadap alergi.
2. Intrinsik (non alergik)
Ditandai dengan adanya reaksi non alergi yang bereaksi terhadap pencetus yang tidak
spesifik atau tidak diketahui, seperti udara dingin atau bisa juga disebabkan oleh adanya infeksi
saluran pernafasan dan emosi. Serangan asma ini menjadi lebih berat dan sering sejalan dengan
berlalunya waktu dan dapat berkembang menjadi bronkhitis kronis dan emfisema. Beberapa
pasien akan mengalami asma gabungan.
3. Asma gabungan
Bentuk asma yang paling umum. Asma ini mempunyai karakteristik dari bentuk alergik
dan non-alergik.

D. Patofisiologi
Obstruksi saluran napas pada asma merupakan kombinasi spasme otot bronkus, sumbat
mukus,edema dan inflamasi dinding bronkus.obstruksi bertambah berat selama ekspirasi karena
secara fisiologis saluran napas menyempit pada fase tersebut.Hal ini mengakibatkan udara distal
tempat terjadinya obstruksi terjebak tidak bisa di ekspirasi.Keadaan hiperinflasi ini bertujuan
agar saluran napas tetap terbuka dan pertukaran gas berjalan lancar.Penyempitan saluran napas
dapat terjadi baik pada saluran napas yang besar,sedang,maupun kecil.Gejala mengi menandakan
ada penyempitan di saluran napas besar,sedangkan pada saluran napas yang kecil gejala batuk
dan sesak lebih dominan dibanding mengi.Penyempitan saluran napas pada asma akan
menimbulkan hal-hal sebagai berikut:
1. Gangguan ventilasi berupa hipoventilasi
2. Ketidakseimbangan ventilasi perfusi dimana distribusi ventilasi tidak setara dengan sirkulasi
darah paru
3. Gangguan difusi gas di tingkat alveoli

Ketiga faktor tersebut akan mengakibatkan:
1. Hipoksemia
2. Hiperkapnia
3. Asidosis respiratorik pada tahap yang sangat lanjut



E. Manifestasi Klinis
Biasanya pada penderita yang sedang bebas serangan tidak ditemukan gejala klinis, tapi
pada saat serangan penderita tampak bernafas cepat dan dalam, gelisah, duduk dengan
menyangga ke depan, serta tanpa otot-otot bantu pernafasan bekerja dengan keras. Gejala klasik:
sesak nafas, mengi (wheezing), batuk, dan pada sebagian penderita ada yang merasa nyeri di
dada. Pada serangan asma yang lebih berat, gejala yang timbul makin banyak, antara lain: silent
chest, sianosis, gangguan kesadaran, hiperinflasi dada, takikardi, dan pernafasan cepat-dangkal.
Serangan asma sering terjadi pada malam hari.

F. Komplikasi
Berbagai komplikasi yang mungkin timbul adalah:
1. Status asmatikus adalah setiap serangan asma berat atau yang kemudian menjadi berat dan tidak
memberikan respon (refrakter) adrenalin dan atau aminofilin suntikan dapat digolongkan pada
status asmatikus. Penderita harus dirawat dengan terapi yang intensif.
2. Atelektasis adalah pengerutan sebagian atau seluruh paru-paru akibat penyumbatan saluran
udara (bronkus maupun bronkiolus) atau akibat pernafasan yang sangat dangkal.
3. Hipoksemia adalah tubuh kekurangan oksigen
4. Pneumotoraks adalah terdapatnya udara pada rongga pleura yang menyebabkan kolapsnya paru.
5. Emfisema adalah penyakit yang gejala utamanya adalah penyempitan (obstruksi) saluran nafas
karena kantung udara di paru menggelembung secara berlebihan dan mengalami kerusakan yang
luas.



G. Penatalaksanaan
Prinsip umum pengobatan asma bronkhial adalah:
1. Menghilangkan obstruksi jalan nafas dengan segera
2. Mengenal dan menghindari faktor-faktor yang dapat mencetuskan serangan asma
3. Memberikan penerangan kepada penderita atau keluarganya mengenai penyakit asma. Meliputi
pengobatan dan perjalanan penyakitnya sehingga penderita mengerti tujuan pengobatan yang
diberikan dan bekerjasama dengan dokter atau perawat yang merawat.
- Pengobatan
Pengobatan pada asma bronkhial terbagi 2, yaitu:
1) Pengobatan non farmakologik
a. Memberikan penyuluhan
b. Menghindari faktor pencetus
c. Pemberian cairan
d. Fisioterapi
e. Beri O bila perlu
2) Pengobatan farmakologik
- Bronkodilator: obat yang melebarkan saluran nafas. Terbagi dalam 2 golongan:
a. Simpatomimetik/andrenergik (adrenalin dan efedrin)
Nama obat: Orsiprenalin (Alupent), fenoterol (berotec), terbutalin (bricasma).
b. Santin (teofilin)
Nama obat: Aminofilin (Amicam supp), Aminofilin (Euphilin Retard), Teofilin (Amilex)
Penderita dengan penyakit lambung sebaiknya berhati-hati bila minum obat ini.
- Kromalin
Kromalin bukan bronkodilator tetapi merupakan tetapi merupakan obat pencegah
serangan asma. Kromalin biasanya diberikan bersama-sama obat anti asma yang lain dan
efeknya baru terlihat setelah pemakaian 1 bulan.
- Ketolifen
Mempunya efek pencegahan terhadap asma seperti kromalin. Biasanya diberikan dosis 2
kali 1 mg/hari. Keuntungan obat ini adalah dapat diberikan secara oral.














BAB II
PEMBAHASAN

1. Pengkajian
a. Riwayat kesehatan masa lalu
- Kaji riwayat pribadi atau keluarga tentang penyakit paru sebelumnya
- Kaji riwayat reksi alergi atau sensitivitas terhadap zat/faktor lingkungan
b. Aktivitas
- Ketidakmampuan melakukan aktivitas karena sulit bernafas
- Adanya penurunan kemampuan/peningkatan kebutuhan bentuan melakukan aktivitas sehari-
hari
- Tidur dalam posisi duduk tinggi
c. Pernapasan
- Dispnea pada saat istirahat atau respon terhadap aktivitas atau latihan
- Napas memburuk ketika klien berbaring telentang di tempat tidur
- Menggunakan alat bantu pernapasan, misal meninggikan bahu, melebarkan hidung.
- Adanya bunyi napas mengi
- Adanya batuk berulang
d. Sirkulasi
- Adanya peningkatan tekanan darah
- Adanya peningkatan frekuensi jantung
- Warna kulit atau membran mukosa normal/abu-abu/sianosis
e. Integritas ego
- Ansietas
- Ketakutan
- Peka rangsangan
- Gelisah
f. Asupan nutrisi
- Ketidakmampuan untuk makan karena distress pernapasan
- Penurunan berat badan karena anoreksia
g. Hubungan sosial
- Keterbatasan mobilitas fisik
- Susah bicara atau bicara terbata-bata
- Adanya ketergantungan pada orang lain

Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan radiologi
Gambaran radiologi pada asma pada umumnya normal. Pada waktu serangan
menunjukkan gambaran hiperinflasi pada paru-paru yakni radiolusen yang bertambah dan
peleburan rongga intercostalis, serta diafragma yang menurun. Akan tetapi bila terdapat
komplikasi, maka kelainan yang didapat adalah sebagai berikut:
- Bila disertai dengan bronkhitis, maka bercak-bercak di hilus akan bertambah
- Bila terdapat komplikasi empisema (COPD), maka gambaran radiolusen akan semakin
bertambah.
- Bila terdapat komplikasi, maka terdapat gambaran infiltrat pada paru
- Dapat pula menimbulkan gambaran atelektasis lokal
- Bila terjadi pneumonia mediastinum, pneutoraks, dan pneumoperikardium, maka dapat dilihat
bentuk gambaran radiolusen pada paru-paru.
b. Pemeriksaan tes kulit
Dilakukan untuk mencari faktor alergi dengan berbagai alergen yang dapat menimbulkan
reaksi yang positif pada asma.
c. Elektrokardiografi
Gambaran elektrokardiografi yang terjadi selama serangan dapat dibagi menjadi 3 bagian
dan disesuaikan dengan gambaran yang terjadi pada empisema paru, yaitu:
- Perubahan aksis jantung, pada umumnya terjadi right axis deviasi dan clock wise rotation
- Terdapat tanda-tanda hipertropi otot jantung, yakni terdapatnya RBB (Right Bundle branch
Block)
- Tanda-tanda hipoksemia, yaitu terdapatnya sinus takikardia, SVES, dan VES atau terjadinya
depresi segmen ST negatif.
d. Scanning Paru
Dapat diketahui bahwa redistribusi udara selama serangan asma tidak menyeluruh pada
paru-paru.
e. Spirometri
Untuk menunjukkan adanya obstruksi jalan napas reversibel. Pemeriksaan spirometri
tdak saja penting untuk menegakkan diagnosis tetapi juga penting untuk menilai berat obstruksi
dan efek pengobatan.



DIAGNOSA TUJUAN INTERVENSI RASIONAL
Ketidakefektifan
bersihan jalan
napas berhubungan
dengan
bronkhokonstriksi,
Dalam waktu
3x24 jam setelah
diberikan
tindakan
bersihan jalan
1. Kaji warna dan
kekentalan sputum
2. Atur posisi semi
fowler
3. Ajarkan cara batuk
1. karateristik sputum
dapatmenunjukkan
berat ringannya
obstruksi.
2. Meningkatkan
bronkhospasme,
edema mukosa dan
dinding bronkhus,
serta sekresi mukus
yang kental
napas kembali
efektif

Kriteria hasil :
Dapat
mendemonstrasi
kan batuk efektif
Dapat
menyatakan
strategi untuk
menurunkan
kekentalan
sekresi
Tidak ada suara
napas tambahan
dan wheezing (-)
Pernapasan
klien normal
(16-20x/m)
tanpa ada
penggunaan otot
bantu napas.
efektif
4. Bantu klien napas
dalam
5. Pertahankan intake
cairan sedikitnya 2500
ml/hari kecuali tidak
diindikasikan
6. Kolaborasi dengan
melakukan fisioterapi
dada dengan tehnik
postural drainase,
perkusi dan fibrasi
dada.
7. Kolaborasi pemberian
obat :
Bronkodilator
golongan B2
Nebuler (via inhalasi)
dengan golongan
terbutaline 0.25 mg,
fenoterol HBr 0.1%
solution, orciprenaline
sulfur 0.75 mg.
Intravena dengan
golongan theophyline
ethilenediamine
(Aminofilin) bolus IV
5-6 mg/kgBB.
Agen mukolitik dan
ekspektoran
kortikosteroid
ekspansi dada
3. Batuk yang
terkontrol dan efektif
dapat memudahkan
pengeluaran sekret
yang melekat pada
jalan napas.
4. Ventilasi maksimal
membuka lumen
jalan napas dan
meningkatkan
gerakan sekret ke
dalam jalan napas
besar untuk
dikeluarkan.
5. Hidrasi yang adekuat
membantu
mengencerkan sekret
dan mengefektifkan
pembersihan jalan
napas.
6. Fisioterapi dada
merupakan strategi
untuk mengeluarkan
sekret.
7.
Pemberian
bronkodilator via
inhalasi akan
langsung menuju
area bronkhus yang
mengalami spasme
sehingga lebih cepat
berdilatasi
Pemberian secara
intravena merupakan
usaha pemeliharaaan
agar dilatasi jalan
napas dapat optimal.
Agen mukolitik
menurunkan
kekntalan dan
perlengketan sekret
paru untuk
memudahkan
pembersihan. Agen
ekspektoran akan
memudahkan sekret
lepas dari
perlengketan jalan
napas.
Kortikosteroid
berguna pada
keterlibatan luas
dengan hipoksemia
dan menurunkan
reaksi inflamasi
akibat edema
mukosa dan dinding
bronkhus.
Gangguan
pertukaran gas
yang berhubungan
dengan serangan
asma menetap
Dalam waktu
3x24 jam setelah
diberikan
intervensi,
pertukaran gas
membaik

Kriteria hasil :

Frekuensi napas
16-20x/menit,
nadi 70=90x/m,
sianosis (-),
dispnea (-).
GDA dalam
batas normal
1. Kaji kefektifan jalan
napas
2. Kolaborasi untuk
pemberian
bronkodilator secara
aerosol
3. Lakukan fisioterapi
dada
4. Kolaborasi untuk
pemantauan analisa
gas arteri
5. Kolaborasi pemberian
oksigen via nasal
1. Bronkhospasme di
deteksi ketika
terdengar mengi saat
di askultasi dengan
stetoskop.
Peningkatan
pembentukan mukus
sejalan dengan
oenurunan aksi
mukosiliaris
menunjang
penurunan lebih
lanjut diameter
bronkhi dan
mengakibatkan
penurunan aliran
udra serta penurunan
pertukaran gas, yang
diperburuk oleh
kehilangan daya
elastisitas paru.
2. Terapi aerosol
membantu
mengencerkan
sekresi sehingga
dapat dibuang.
Bronkhodilator yang
dihirup sering
ditambahkan ke
dalam nebulizer
untuk memberikan
aksi bronkhodolator
langsung pada jalan
napas, dengan
demikiam
memperbaiki
pertukaran gas.
Tindakan inhalasi
atau aerosol harus
diberikan sebelum
waktu makan untuk
memperbaiki
ventilasi paru dengan
demikian
mengurangi
keletihan yang
menyertai kativitas
makan.
3. Setelah inhalasi
bronkhodilator
nebuliser, klien
disarankan untuk
meminum air putih
untuk lebih
mengencerkan
sekresi. Kemudian
membatukkan
dengan ekpulsif atau
postural drainase
akan membantu
dalam pengeluaran
sekresi. Klien
dibantu untuk
melakukan hal ini
dengan cara yang
tidak membuatnya
keletihan.
4. Sebagai bahan
evaluasi setelah
melakukan
intervensi.
5. Oksigen diberikan
ketika terjadi
hipoksemia. Perawat
harus memantau
kemanjuran terapi
oksigen dan
memastikan bahwa
klien patuh dalam
menggunakan alat
pemberi oksigen.
Klien diinstruksikan
tentang penggunaan
oksigen yang tepat
dan tentang bahay
peningkatan laju
aliran oksigen tanpa
ada arahan yang
eksplisit darp
perawat.
Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh
Dalam waktu
3x24 jam setelah
diberikan
tindakan
keperawatan
intake nutrisi
klien terpenuhi

Kriteria hasil :

Klien dapat
mempertahanka
n status gizinya
dari yang semula
kurang menjadi
adekuat.
Pernyataan
motivasi kuat
untuk memenuhi
kebutuhan
nutrisinya
1. Kaji status nutrisi
klien, turgor kulit,
berat badan, integritas
mukosa oral,
kemampuan menelan,
riwayat mual/muntah
dan diare.
2. Pantau intake output,
timbang berat badan
secara periodik (sekali
seminggu)
3. Lakukan dan ajarkan
perawatan mulut
sebelum dan sesudah
intervensi/pemeriksaan
peroral.
4. Kolaborasi dengan ahli
gizi untuk menetapkan
komposisi dan jenis
yang tepat
5. Fasilitasi pemberian
diet berikan dalam
porsi kecil tapi sering.
6. Kolaborasi untuk
pemeriksaan
laboratorium
khususnya BUN,
protein serum dan
albumin.
7. Kolaborasi untuk
1. Memvalidasi dan
menetapkan derajat
masalah untuk
menetapkan piihan
intervensi yang tepat.
2. Berguna dalam
mengukur kefektifan
intake gizi dan
dukungan cairan.
3. Menurunkan rasa tak
enak karena sisa
makanan, sisa
sputum atau obat
pada pengobatan
sistem pernapasan
yang dapat
merangsang pusat
muntah.
4. Merencanakan diet
dengan kandungan
gizi yang cukup
untuk memenuhi
peningkatan
kebutuhan energi dan
kalori sehubungan
dengan status
hipermetabolik klien.
5. Memaksimalkan
intake nutrisi tanpa
kelelahan dan energi
pemberian
multivitamin.
besar serta
menurunkan iritasi
saluran cerna.
6. Menilai kemajuan
terapi diet dan
membantu
perencanaan
intervensi
selanjutnya.
7. Multivitamin
bertujuan untuk
memenuhi
kebutuhan vitamin
yang tinggi sekunder
dari rosres
pemkeberhasilan
peningkatan laju
metabolisme umum.
Ansietas
berhubungan
dengan adanya
ancaman kematian
(kesulitan
bernapas)
Dalam waktu
1x24 jam klien
mampu
memahami dan
menerima
keadaanya
sehingga tidak
terjadi
kecemasan.

Kriteria hasil :

Klien terlihat
mampubernapas
secara normal
dan mapu
beradaptasi
dengan
keadaannya.
Respon
nobverbal klien
tampak lebih
rileks dan santai.
1. Bantudalam
mengidentifikasi
sumber koping yang
ada
2. Ajarkan tehnik
relaksasi
3. Pertahankan hubungan
saling percaya antara
klien dengan perawat
4. Kaji faktor yang
menimbulkan rasa
cemas
5. Bantu klien mengenali
dan mengakui rasa
cemasnya
1. Pemanfaatan sumber
koping yang ada
secara konstruktif
sangat bermanfaat
dalam menagatasi
stres.
2. Mengurangi
ketegangan otot dan
kecemasan
3. Hubungan saling
percaya membantu
memperlancar proses
teraupetik
4. Tindakan yang tepat
diperlukan dalam
mengatasi masalah
yang dihadapi klien
dan membangun
kepercayaan dalam
mengurangi
kecemasan.
5. Rasa cemas
merupakan efek
emosi sehingga
apabila sudah
teridentifikasi
dengan baik, maka
perasaan yang
nenganggu dapat
diketahui.






ANALISA DATA
NO DATA ETIOLOGI MASALAH
1. DS :
Kien
mengatakan
sesak napas

DO :
Adanya suara
napas
tambahan dan
wheezing
Pernapasan
>20x/m
Faktor pencetus serangan asma

Edema mukosa dan dinding bronkhus

Peningkatan usaha dan frekuensi
pernapasan

Penggunaan otot bantu napas

Ketidakefektifan bersihan jalan napas
Ketidakefektifan bersihan jalan
napas
2. DS :
Kien
mengatakan
sesak napas

DO :
Frekuensi
napas >20x/m
Frekuensi
nadi >90x/m
Dispnea
Sianosis
GDA
abnormal
Faktor pencetus serangan asma

Edema mukosa dan dinding bronkhus

Peningkatan usaha dan frekuensi
pernapasan

Penggunaan otot bantu napas

Gangguan pertukaran gas
Gangguan pertukaran gas
3. DS :
Pasien
mengeluh
nafsu makan
menurun (tak
ada keinginan
makan)
DO :
Faktor pencetus serangan asma

Edema mukosa dan dinding bronkhus

Peningkatan usaha dan frekuensi
pernapasan

Ketidakseimbangan nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh
BB
Mual/ muntah
Tampak letih
dan lemah
Penggunaan otot bantu napas

Keluhan sistemis, mual/muntah, intake
nutrisi tidak adekuat, malaise
kelemahandan keletihan fisik

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh
4. DS :
Pasien
mengatakan
cemas dengan
penyakit yang
dialaminya
DO :
Pasien
tampak
gelisah
Berkeringat
dingin

Faktor pencetus serangan asma

Edema mukosa dan dinding bronkhus

Peningkatan usaha dan frekuensi
pernapasan

Penggunaan otot bantu napas

Keluhan psikososial, kecemasan,
ketidaktahuan akan prognosis

Ansietas
Ansietas









PENYIMPANGAN KDM


Faktor pencetus Serangan Asma: Alergen, Infeksi Saluran Napas, Tekanan
jiwa, Olahraga/kegiatan jasmaniyang berat, obat-obatan, polusi udara,
lingkungan kerja.















Peningkatan kerja pernapasan,hipoksemia, secara reversible



Kecema
san
Ketidak
tahuan/pem
enuhaninfor
masi

Perubahanpemenuhan nutrisi<kebutuhan
Gangguanpemenuhan ADL

Ketidakefektifan bersihanjalan napas

Keluhanpsi
kososial,
kecemasan,
ketidaktahu
an akan
prognosis

Keluhan sistemis, mual,intake nutrisi tidak adekuat,
malaise, kelemahan, dan keletihan fisik.











Diposkan oleh Konny Liane Rako di 21.09
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook