Sunteți pe pagina 1din 14

LAPORAN PENDAHULUAN

GASTROENTERITIS AKUT
Oleh : Riza Sulistiana, S. Kep.

1. Kasus

Gastroenteritis Akut
2. Proses Terjadinya Masalah
a. Pengertian

Gastroenteritis adalah inflamasi membran mukosa lambung dan usus halus. Gastroenteritis adalah
peradangan akut lapisan lambung dan usus ditandai dengan anoreksia, rasa mual, nyeri abdomen,
dan diare. Gastroenteritis akut ditandai dengan diare, dan pada beberapa kasus, muntah-muntah
yang berakibat kehilangan cairan dan elektrolit yang menimbulkan dehidrasi dan gangguan
keseimbangan elektrolit. Gastroenteritis adalah buang air besar yang tidak normal atau bentuk tinja
yang encer dengan frekuensi buang air besar lebih dari empat kali, sedangkan untuk anak-anak dan
bayi satu bulan frekuensinya lebih dari tiga kali. Gastroenteritis adalah peradangan yang terjadi pada
lambung dan usus yang memberikan gejala diare dengan atau tanpa disertai muntah.
b. Penyebab
1) Faktor infeksi
a) Bakteri; enteropathogenic Escherichia coli, salmonella, shigella, yersinis enterocolitica,
campylobacter.
b) Virus; enterovirus-echoviruses, adenovirus, human retrovirus seperti agent rota virus,
astrovirus.
c) Jamur; candida enteritis.
d) Parasit: cacing (ascaris, trichuris, oxyuris, srongyloides), protozoa (entamoebahystolityca,
giardialamblia).
e) Infeksi di bagian tubuh lain di luar alat pencernaan, seperti otitis media akut (OMA),
tonsilofaringitis, bronkopneumonia, ensefalitis dan sebagainya. Keadaan ini terutama
terdapat pada bayi dan anak berumur di bawah 2 tahun.

2) Faktor malabsorbsi

a) Malobsorbsi karbohidrat:

disakarida

(intolerensi laktosa, maltosa dan

sukrosa),

monosakarida (intoleransi glukosa dan galaktosa). Pada bayi dan anak yang terpenting dan
tersering intoleransi laktosa.
b) Malabsrobsi lemak.
c) Malabsorbsi protein.
3) Faktor makanan: Makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan.
4) Faktor psikologis: Rasa takut dan cemas (jarang, tetapi dapat terjadi pada anak yang lebih

besar).
c. Patofisiologi

Spesies bakteri tertentu menghasilkan eksotoksin yang menggangu absorbsi usus dan dapat
menimbulkan sekreasi berlebihan dari air dan elektrolit. Ini termasuk baik enterotoksin kolera
dan E. colli. Spesies E. coli lain, beberapa Shigella dan salmonella mikroskopis, muntah dan
diare dapat menyusul keracunan makanan non bakteri. Diare dan muntah merupakan gambaran
penting yang mengarah pada dehidrasi, akibat kehilangan cairan ekstravakuler dan
ketidakseimbangan elektrolit. Keseimbangan asam basa terpengaruh mengarah pada asidosis
akibat kehilangan natrium dan kalium. Dan ini tercermin dengan pernafasan yang cepat.
Pathogen usus menyebabkan sakit dengan menginvasi mukosa usus, memproduksi enterotoksin,
memproduksi sitotoksin dan menyebabkan perlengketan mukosa yang disertai dengan kerusakan
di membran mikrovili. Organisme yang menginvasi sel epitel dan lamina propia menimbulkan
suatu reaksi radang lokal yang hebat. Enterotoksin menyebabkan sekresi elektrolit dan air dengan
merangsang adenosine monofosfat siklik di sel mukosa usus halus. Sitotoksin memicu
peradangan dari sel yang cidera mikrivili dan peradangan sel bulat di lamina popria. Bakteri yang
tumbuh berlebihan di usus halus juga menganggu mukosa usus. Bakteri menghasilkan enzim dan
hasil metabolisme untuk menghancurkan enzim giklopeotein pada tepi bersilia dan menggganggu
pengangkutan monosakarida dan elektrolit. Cedera vili menyebabkan lesi mukosa yang disertai
dengan segmen atrofi vili sub total dan respon radang sub epitel yang mencolok.
d. Tanda dan Gejala

1) Gejala klinis pada bayi dan anak-anak menjadi cengeng, gelisah, suhu badan tinggi, nafsu makan
kurang atau tidak ada, kemudian timbul diare dimana tinja cair dan lebih dari empat kali sehari,
warna tinja makin lama berubah, mula-mula berwarna kekuningan kemudian berubah hijau.
2) Karena seringnya defekasi maka anus dan sekitarnya menjadi lecet, karena tinja makin lama makin
masam sebagai akibat dari banyaknya asam laktat hasil laktosa yang tidak dapat diserap usus
selama diare.

3) Muntah dapat terjadi sebelum dan sesudah diare yang biasanya timbul bila lambung turut
meradang (gastritis).
4) Penderita telah banyak kehilangan cairan dan elektrolit maka gejala dehidrasi mulai tampak
seperti:
a) Berat badan menurun
b) Turgor kulit berjuang atau jelek
c) Mata cekung
d) Selaput bibir, mukosa dan kulit kering
e) Ubun-ubun besar cekung
f) Badan lemah dan letih
5) Lebih berat lagi volume darah akan berkurang yang akan menyebabkan syok hipovolemik
dengan gejala :
a) Denyut nadi cepat dan halus
b) Tekanan darah menurun
c) Penderita menjadi gelisah dan demam
d) Kesadaran menurun
6) Akibat dehidrasi, kencing penderita menjadi sedikit (olyguri), atau sama sekali tidak ada (anuria).
7) Apabila sudah asidosis maka penderita menjadi pucat dan sianosis, pernapasan cepat dan demam.

e. Penanganan

1) Pengobatan kausal
Pada penderita diare antibiotik hanya boleh diberikan jika:
a) Ditemukan bakteri patogen pada pemeriksaan mikroskopik dan atau biakan.
b) Pada pemeriksaan makroskopik dan/atau mikroskopik ditemukan darah pada tinja.
c) Secara klinis terdapat tanda-tanda yang menyokong adanya infeksi enteral.
d) Di daerah endemik kolera.
e) Pada neonatus jika diduga terjadi infeksi nasokomial.
2) Pengobatan simptomatik
a) Obat-obat anti diare.
b) Adsorbent.
c) Antiemetik.
d) Antipiretik.
3) Pemberian cairan

Ada dua jenis cairan, yaitu:


a) Cairan rehidrasi oral (CRO)
Ada beberapa macam cairan rehidrasi oral :
1. Cairan rehidrasi oral dengan formula lengkap mengandung NaCl, KCl, NaHCO3 dan
glukosa penggantinya, yang dikenal dengan nama oralit.
2. Cairan rehidrasi oral yang tidak mengandung keempat komponen di atas, misalnya
larutan gula-garam (LGG), larutan tepung beras-garam, air tajin, air kelapa, dan lain-lain
caiaran yang tersedia di rumah, disebut CRO tidak lengkap.
b) Cairan rehidrasi parenteral (CRP)
Sebagai hasil rekomendasi Seminar Rehidrasi Nasional ke I sampai dengan IV dan
pertemuan ilmiah penelitian diare, Litbangkes (1982) digunakan cairan Ringer Laktat
sebagai cairan rehidrasi parenteral tunggal untuk digunakan di Indonesia, dan cairan inilah
yang sekarang terdapat di puskesmas-puskesmas dan di rumah sakit-rumah sakit di
Indonesia. Pada diare dengan penyakit penyerta (KKP < jantung, ginjal) cairan yang
dianjurkan adalah Half Strength Darrow Glukose yaitu cairan Hartmann setengah dosis di
dalam 2,5 % glukosa atau cairan Darrow setengah dosis di dalam glukosa 2,5%, karena
keduanya mengandung natrium, kalium, klorida, laktat (basa), dan glukosa. Kebutuhan
cairan dapat dihitung sebagai berikut:
1. 24 jam pertama
a. Dehidrasi ringan; 180 ml/kg (sekitar 3 fl. oz per lb) per hari.
b. Dehidrasi sedang; 220 ml per kg (sekitar 4 fl. oz per lb) per hari
c. Dehidrasi berat; 260 ml per kg (sekitar 4 fl. oz per lb) per hari
2. Hari-hari berikutnya
Kebutuhan normal sehari-hari adalah 140 ml per kg (sekitar 2,5 fl. oz per lb), ditambah
dengan penggantian pengeluaran cairan, yang dihitung secara kasar lewat buang air
besar atau lewat muntahnya. Semua cairan yang diberikan dalam berbagai cara diatas
harus dicatat dan dijumlahkan sertiap hari.
4) Pengobatan Diuretik
a) Untuk anak kurang dari 1 tahun dengan BB kurang dari 7 kg
Jenis makanan:
1. Susu (ASI atau susu formula yang mengandung laktosa rendah dan asam lemak tak
jenuh misalnya; LLM, almiron.

2. Makanan setengah padat (bubur susu) atau makanan padat (nasi tim) bila anak tidak mau
minum susu karena di rumah sudah biasa diberi makanan padat
3. Susu khusus yaitu susu yang tidak mengandung laktosa atau susu dengan asam lemak
berantai sedang atau tidak jenuh, sesuai dengan kelainan yang ditemukan.
b) Untuk anak diatas 1 tahun dengan BB lebih dari 7 kg
Jenis makanan: makanan padat atau makanan cair atau susu sesuai dengan kebiasaan makan
di rumah.
5) Obat-obatan
Prinsip pengobatan diare ialah menggantikan yang hilang melalui tinja dengan atau tanpa
muntah, dengan cairan yang mengandung elektrolit dan glukosa atau karbohidrat lain (gula, air
tajin, tepung beras dan sebagainya).

3. Pohon Masalah

Virus, bakteri, toksin, parasit

Makanan
Infeksi pada mukosa usus
Zat makanan tidak dapat diserap

Menimbulkan mekanisme tubuh untuk mengeluarkan toksin

Gangguan
Sekresi
dindingusus
usus
Gangguan
sekresiakibat
akibatToksin
Toksin di dinding

Gangguan Osmotik makanan yang tidak diserap meningkat


Peningkatan Sekresi air dan elektrolit di usus

Peningkatan
gerakan usus ( hiperperistaltik )
Gangguan malabsorbsi air dan elektrolit
di usus
Pergeseran air dan elektrolit ke dalam rongga usus

Diare

Berkurangnya kesempatan menyerap makanan

Gangguan Gizi
Peningkatan isi rongga usus
Nafsu makan turun
Mual dan muntah
BB menurun
Lemah

Tekanan rongga usus


Nyeri Perut

Dehidrasi
Mukosa bibir kering
BB menurun
Turgor kulit tidak elastik
Kulit kering
Mata cekung
Suhu tubuh meningkat

Gangguan rasa nyaman


Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi

Defisit Volume cairan dan elektrolit


Gangguan integritas kulit

4. Masalah Keperawatan dan Data yang Perlu Dikaji


a. Masalah Keperawatan

Diare
2) Gangguan rasa nyaman
3) Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi
4) Defisit volume cairan dan elektrolit
5) Gangguan gizi
6) Gangguan integritas kulit
b. Data yang Perlu Dikaji
Pengkajian merupakan dasar utama atau langkah awal dari proses keperawatan secara
keseluruhan dan merupakan suatu proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai
sumber data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien. Pada tahap ini
semua data dan informasi tentang klien yang dibutuhkan, dikumpulkan dan dianalisa untuk
menentukan diagnosa keperawatan. Tujuan dari pengkajian adalah untuk mengumpulkan data,
menganalisa data sehingga ditemukan diagnosa keperawatan. Adapun langkah-langkah dalam
pengkajian adalah sebagai berikut:
1)

1) Pengumpulan data
a) Identitas klien meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat rumah, suku bangsa, agama,
pendidikan, pekerjaan dan nama orang tua.
b) Keluhan utama klien
Biasanya mengeluh berak-berak encer dengan atau tanpa adanya lendir dan darah sebanyak
lebih dari 3 kali sehari, berwarna kehijau-hijauan dan berbau amis. Biasanya disertai
muntah, tidak nafsu makan dan mungkin ada demam ringan atau demam tinggi pada anakanak yang menderita infeksi usus.
c) Riwayat penyakit sekarang
1. Lamanya keluhan : masing-masing orang berbeda tergantung pada tingkat dehidrasi,
status gizi, keadaan sosial ekinomi, hygiene dan sanitasi
2. Akibat timbul keluhan : anak menjadi rewel dan menjadi gelisah, badan menjadi lemah
dan beraktifitas bermain kurang
3. Faktor memperberat : ibu menghentikan pemberian makanan, anak tidak mau makan
dan minum, tidak ada pemberian cairan tambahan (larutan oralit atau larutan gula
garam).
d) Riwayat penyakit dahulu

Dalam pengkajian ini perlu ditanyakan tentang riwayat penyakit yang pernah diderita oleh
anak maupun keluarga dalam hal ini orang tua. Apakah dalam keluarga pernah mempunyai
riwayat penyakit keturunan atau pernah menderita penyakit kronis sehingga harus dirawat
di rumah sakit.
e) Riwayat kehamilan dan kelahiran
Di sini hal-hal yang ditanyakan meliputi keadaan ibu saat hamil, gizi, usia kehamilan dan
obat-obatan. Hal tersebut juga mencakup kesehatan anak sebelum lahir, saat lahir, dan
keadaan anak setelah lahir.
f) Tumbuh kembang
Dalam pengkajian ini yang perlu ditanyakan adalah hal-hal yang berhubungan dengan
pertumbuhan dan perkembangan anak sesuai dengan usia anak sekarang yang meliputi
motorik kasar, motorik halus, perkembangan kognitif atau bahasa dan personal sosial atau
kemandirian.
g) Imunisasi
Dalam pengkajian ini yang ditanyakan kepada orang tua adalah apakah anak mendapatkan
imunisasi secara lengkap sesuai dengan usianya dan jadwal pemberian serta efek samping
dari pemberian imunisasi seperti panas, alergi, dan sebagainya.
h) Psikososial
Dalam pengkajian ini yang ditanyakan meliputi tugas perkembangan sosial anak,
kemampuan beradaptasi selama sakit, mekanisme koping yang digunakan oleh anak dan
keluarga. Respon emosional keluarga dan penyesuaian keluarga terhadap stress mencakup
juga harapan-harapan keluarga terhadap kesembuhan penyakit anak.
i) Kesehatan fisik
Beberapa hal yang perlu ditanyakan meliputi pola nutrisi seperti frekuensi makan, jenis
makanan, makanan yang disukai atau tidak disukai dan keinginan untuk makan dan minum.
Pola eliminasi seperti frekuensi buang air besar dan buang air kecil di rumah dan di rumah
sakit. Selain itu ditanyakan tentang konsistensi, warna dan bau dari objek eliminasi.
Kebiasaan tidur seperti tidur siang, malam, kebiasaan sebelum dan sesudah tidur. Pola
aktivitas juga ditanyakan baik di rumah maupun di sekolah, juga bagaimana pola hygiene
tubuh seperti mandi, keramas, gosok gigi dan ganti baju.
j) Kesehatan mental

Dalam hal ini ditanyakan mengenai pola interaksi anak, pola kognitif anak, pola emosi anak
saat dirawat, pola psikologi keluarga serta kopingnya dan pengetahuan keluarga dalam
mengenali penyakit anaknya.
k) Kesehatan sosial dan spiritual
Dalam pengkajian ini yang perlu ditanyakan meliputi pola kultural atau norma yang berlaku
dalam keluarga dan pola rekreasi serta keadaan lingkungan rumah. Mengenai pola spiritual
yang ditanyakan mengenai pola ibadah apakah klien sudah bisa beribadah dan nilai-nilai
spiritual yang sudah ditanamkan oleh keluarga.
l) Pemeriksaan fisik
1. Keadaan umum klien
Pada anak terdapat keluhan dan kelainan-kelainan yang mendukung perlu dikaji adanya
tanda-tanda dehidrasi seperti mata cekung, ubun-ubun besar cekung, mukosa bibir
kering dan turgor kulit berkurang keelastisitasannya, kemudian ditanyakan frekuensi
BAB, adanya nyeri atau distensi abdomen, demam dan terjadinya penurunan berat badan
2. Head to toe
a. Pengukuran panjang badan, berat badan menurun, lingkar lengan mengecil, lingkar
kepala, lingkar abdomen membesar,
b. Kepala : ubun-ubun tak teraba cekung karena sudah menutup pada anak umur 1 tahun
lebih
c. Mata : cekung, kering, sangat cekung
d. Sistem pencernaan : mukosa mulut kering, distensi abdomen, peristaltik meningkat
lebih dari 35 kali/menit, nafsu makan menurun, mual muntah, minum normal atau
tidak haus, minum lahap dan kelihatan haus, minum sedikit atau kelihatan bisa
minum
e. Sistem pernafasan : dispnea, pernafasan cepat lebih dari 40 kali/menit karena asidosis
metabolik (kontraksi otot pernafasan)
f. Sistem kardiovaskuler : nadi cepat lebih dari 120 kali/menit dan lemah, tensi menurun
pada diare sedang.
g. Sistem integumen : warna kulit pucat, turgor menurun lebih dari 2 detik, suhu
meningkat lebih dari 37,5C, akral hangat, akral dingin (waspada syok), capillary
refill time memanjang lebih dari 2 detik, kemerahan pada daerah perianal.
h. Sistem perkemihan : urin produksi oliguria sampai anuria (200-400 ml/24 jam),
frekuensi berkurang dari sebelum sakit.

i. Dampak hospitalisasi : semua anak sakit yang MRS bisa mengalami stress yang
berupa perpisahan, kehilangan waktu bermain, terhadap tindakan invasif respon yang
ditunjukan adalah protes, putus asa, dan kemudian menerima.
2) Analisa data
Analisa data merupakan tahap kedua dari proses keperawatan yang merupakan proses
memeriksa dan mengkategorikan informasi untuk mendapatkan sebuah kesimpulan tentang
kebutuhan klien. Setelah data dikumpulkan dan dikelompokkan kemudian dianalisa sebagai
berikut : untuk menganalisa data dapat dibedakan menjadi 2 jenis yaitu data subyektif dan
data obyektif. Data subyektif yaitu data yang didapat dari ungkapan atau keluhan klien dalam
hal ini anak dan orang tua sedangkan data obyektif yaitu data yang didapat dari suatu
pengamatan, observasi, pengukuran dan hasil pemeriksaan. Data-data tersebut dikelompokkan
berdasarkan peranannya untuk menunjang suatu masalah, dimana masalah tersebut berfokus
pada klien dan respon klien.

5. Diagnosis Keperawatan
a. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilangan cairan sekunder
b.
c.
d.
e.
f.

terhadap diare
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak adekuatnya intake dan
out put
Risiko peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi dampak sekunder dari diare
Risiko gangguan integritas kulit perianal berhubungan dengan peningkatan frekuensi BAB
(diare)
Kecemasan anak berhubungan dengan tindakan invasif
Ansietas orang tua berhubungan dengan kurangnya pengetahuan orang tua tentang penyakit dan
kurangnya informasi

6. Rencana Tindakan Keperawatan


a. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilangan cairan sekunder

terhadap diare
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam keseimbangan dan elektrolit
dipertahankan secara maksimal
Kriteria hasil :
1) Tanda vital dalam batas normal (N: 120-60 kali/menit, S; 36-37,5C, RR : kurang dari 40
kali/menit)

2) Turgor elastik, membran mukosa bibir basah, mata tidak cowong, UUB tidak cekung.
3) Konsistensi BAB lembek, frekwensi 1 kali perhari
Intervensi Keperawatan :
1) Pantau tanda dan gejala kekurangan cairan dan elektrolit
Rasional: Penurunan sisrkulasi volume cairan menyebabkan kekeringan mukosa dan
pemekatan urin. Deteksi dini memungkinkan terapi pergantian cairan segera untuk
memperbaiki defisit
2) Pantau intake dan output
Rasional: Dehidrasi dapat meningkatkan laju filtrasi glomerulus membuat keluaran tak
adekuat untuk membersihkan sisa metabolisme.
3) Timbang berat badan setiap hari
Rasional: Mendeteksi kehilangan cairan, penurunan 1 kg BB sama dengan kehilangan cairan 1
liter
4) Anjurkan keluarga untuk memberi minum banyak pada kien, 2-3 liter/hari
Rasional: Mengganti cairan dan elektrolit yang hilang secara oral
5) Kolaborasi :
a) Pemeriksaan laboratorium serum elektrolit (Na, K, Ca, BUN)
Rasional: Koreksi keseimbangan cairan dan elektrolit, BUN untuk mengetahui faal ginjal
(kompensasi).
b) Cairan parenteral (IV line) sesuai dengan umur
Rasional: Mengganti cairan dan elektrolit secara adekuat dan cepat.
c) Obat-obatan (antisekresin, antispasmolitik, antibiotik)
Rasional: anti sekresi untuk menurunkan sekresi cairan dan elektrolit agar seimbang,
antispasmolitik untuk proses absorbsi normal, antibiotik sebagai anti bakteri
berspektrum luas untuk menghambat endotoksin.
b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak adekuatnya intake dan
out put
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan perawatan selama di RS kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kriteria : Nafsu makan meningkat dan BB meningkat atau normal sesuai umur
Intervensi Keperawatan:
1) Diskusikan dan jelaskan tentang pembatasan diet (makanan berserat tinggi, berlemak dan air
terlalu panas atau dingin)
Rasional: Serat tinggi, lemak, air terlalu panas atau dingin dapat merangsang mengiritasi

lambung dan saluran usus.


2) Ciptakan lingkungan yang bersih, jauh dari bau yang tak sedap atau sampah, sajikan makanan
dalam keadaan hangat
Rasional: Situasi yang nyaman, rileks akan merangsang nafsu makan.
3) Berikan jam istirahat (tidur) serta kurangi kegiatan yang berlebihan
Rasional: Mengurangi pemakaian energi yang berlebihan
4) Monitor intake dan output dalam 24 jam
Rasional: Mengetahui jumlah output dapat merencanakan jumlah makanan.
5) Kolaborasi dengan tim kesehtaan lain:
a) Terapi gizi : Diet TKTP rendah serat, susu
b) Obat-obatan atau vitamin (A)
Rasional: Mengandung zat yang diperlukan, untuk proses pertumbuhan
c. Risiko peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi dampak sekunder dari diare

Tujuan: Setelah dilakukan tindakan perawatan selama 3x24 jam tidak terjadi peningkatan suhu
tubuh
Kriteria hasil :
1) Suhu tubuh dalam batas normal (36-37,5C)
2) Tidak terdapat tanda infeksi (rubor, dolor, kalor, tumor, fungtiolesa)
Intervensi Keperawatan :
1) Monitor suhu tubuh setiap 2 jam
Rasional: Deteksi dini terjadinya perubahan abnormal fungsi tubuh (adanya infeksi)
2) Berikan kompres hangat
Rasional: Merangsang pusat pengatur panas untuk menurunkan produksi panas tubuh
3) Kolaborasi pemberian antipiretik
Rasional: Merangsang pusat pengatur panas di otak
d. Risiko gangguan integritas kulit perianal berhubungan dengan peningkatan frekuensi BAB

(diare)
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawtan selama di rumah sakit integritas kulit tidak
terganggu
Kriteria hasil :
1) Tidak terjadi iritasi : kemerahan, lecet, kebersihan terjaga
2) Keluarga mampu mendemonstrasikan perawatan perianal dengan baik dan benar

Intervensi Keperawatan:
1) Diskusikan dan jelaskan pentingnya menjaga tempat tidur
Rasional: Kebersihan mencegah perkembangbiakan kuman
2) Demontrasikan serta libatkan keluarga dalam merawat perianal (bila basah dan mengganti
pakaian bawah serta alasnya)
Rasional: Mencegah terjadinya iritasi kulit yang tak diharapkan oleh karena kelembaban dan
keasaman feces
3) Atur posisi tidur atau duduk dengan selang waktu 2-3 jam
Rasional: Melancarkan vaskularisasi, mengurangi penekanan yang lama sehingga tak terjadi
iskemi dan iritasi.
e. Kecemasan anak berhubungan dengan tindakan invasif

Tujuan: Setelah dilakukan tindakan perawatan selama 3x24 jam, klien mampu beradaptasi
Kriteria hasil : Mau menerima tindakan perawatan, klien tampak tenang dan tidak rewel
Intervensi Keperawatan:
1) Libatkan keluarga dalam melakukan tindakan perawatan
Rasional: Pendekatan awal pada anak melalui ibu atau keluarga
2) Hindari persepsi yang salah pada perawat dan RS
Rasional: Mengurangi rasa takut anak terhadap perawat dan lingkungan RS
3) Berikan pujian jika klien mau diberikan tindakan perawatan dan pengobatan
Rasional: Menambah rasa percaya diri anak akan keberanian dan kemampuannya
4) Lakukan kontak sesering mungkin dan lakukan komunikasi baik verbal maupun non verbal
Rasional: Kasih sayang serta pengenalan diri perawat akan menunbuhkan rasa aman pada
klien.
f. Ansietas orang tua berhubungan dengan kurangnya pengetahuan orang tua tentang penyakit dan

kurangnya informasi
Tujuan: Orang tua menyatakan bahwa sudah tidak cemas lagi.
Kriteria hasil : Ekspresi wajah tenang dan rileks.
Intervensi Keperawatan:
1) Kaji tingkat cemas
Rasional: Respon individu dapat bervariasi tergantung pada pola kultural yang dipelajari.
2) Pertahankan kontak sering dengan orang tua, selalu bersedia untuk mendengarkan dan bicara
bila dibutuhkan

Rasional: Persepsi yang menyimpang dari situasi mungkin dapat memperbesar perasaan.
3) Identifikasi cara-cara dimana pasien mendapat bantuan jika dibutuhkan
Rasional: Memantapkan hubungan dan membantu orang tua untuk melihat realisasi dari
penyakit atau pengobatan yang diberikan.
4) Sediakan informasi yang kurang sesuai kebutuhan dan jika diminta oleh pasien atau orang
terdekat
Rasional: Memberikan jaminan bahwa staf bersedia untuk mendukung atau membantu

7. Daftar Pustaka

Carpenito, L. J. 1999. Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan. Edisi 2. Jakarta: EGC.
Carpenitto, L. J. 2000. Diagnosa Keperawatan Aplikasi Pada Praktek Klinis. Edisi 6. Jakarta: EGC.
Dongoes. 2000. Diagnosa Keperawatan. Edisi. 8. Jakarta: EGC.
Mansjoer, Arief. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi ketiga. Jilid Kedua. Jakarta: Media
Aesculapius.
Marilyn E. Doengoes. 1999. Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan
Pasien. Jakarta: EGC
Price, Anderson Sylvia. 1997. Patofisiologi. Edisi. I. Jakarata: EGC.
Supriadi, Rita Yulianti. 2001. Asuhan Keperawatan Pada Anak. Edisi pertama. Jakarta: Sagung
Seto.
Suradmaja, Sudarjat. 2005. Kapita Selekta Gastroenterologi Anak. Jakarta: Sagung Seto.
Suryanah. 2000. Keperawatan Anak. Jakarta: EGC.