Sunteți pe pagina 1din 17

Bab I

PENDAHULUAN.
I.1 Latar belakang
Indonesia merupakan negeri yang dibentuk oleh 17.506 pulau dengan luas 7,7 juta km , oleh
sebab itu Indonesia disebut negeri kepulauan terbesar didunia. Secara geologis Indonesia
dibentuk oleh interaksi 3 lempeng makro dan 1 lempeng mikro yaitu lempeng Indoaustralia,Eurasia,pasifik (Makro Plate) dan Filipina (mikro Plate) hal ini menyebabkan
Indonesia dikelilingi oleh rangkaian gunung api dan masuk dalam ring of fire. Selain adanya
gunung api sebagai penanda interaksi lempeng, terdapat pula cekungan-cekungan yang berisi
hidrokarbon yang sangat kaya.
Oleh sebab itu mempelajari geologi Indonesia sangatlah menyenangkan karena terdapat
keberagaman kondisi geologi mulai dari pulau bagian timur hingga bagian baratnya. Maka
dari itu dalam mata kuliah geologi Indonesia mahasiswa diwajibkan mempresentasikan salah
satu kondisi geologi dari Indonesia. Secara khusus dalam tugas ini, kami akan membahas
kondisi geologi daerah Kalimantan yaitu Cekungan Tarakan.

I.2 Maksud dan Tujuan


Maksud dari pengerjaan tugas ini ialah agar mahasiswa dapat mengumpulkan data geologi
daerah yang dikerjakan. Dengan tujuan agar mahasiswa memahami akan kondisi
fisiografi,geologi regional,struktur geologi,geomorfologi dan SDA daerah yang ditugaskan.

Bab II

Gambar 2.1 Cekungan Tarakan Kalimantan Timur (Sumber: Core-Lab


FISIOGRAFI
G&G Evaluation Simenggaris
Block)
Menurut Bemmelen (1949) pulau Kalimantan dibagi menjadi beberapa zona fisiografi,
yaitu :
A.
B.

Blok Schwaner yang dianggap sebagai bagian dari dataran Sunda,


Blok Paternoster, meliputi pelataran Paternoster sekarang yang terletak dilepas
Pantai Kalimantan Tenggara dan sebagian di dataran Kalimantan yang dikenal

C.

sebagai sub cekungan Pasir,


Meratus Graben, terletak diantara blok Schwaner dan Paternoster, daerah ini sebagi

D.

bagian dari cekungan Kutai,


Tinggian Kuching, merupakan sumber untuk pengendapan ke arah Barat laut dan
Tenggara cekungan Kalimantan selama Neogen. Cekungan-cekungan tersebut antara
lain:
a. Cekungan Tarakan, yang terletak paling Utara dari Kalimantan Timur.
Disebelah Utara cekungan ini dibatasi oleh Semporna High,
b. Cekungan Kutai, yang terletak sebelah Selatan dari Tinggian Kuching yang
merupakan tempat penampungan pengendapan dari Tinggian

Kuching

selama Tersier. Cekungan ini dipisahkan oleh suatu unsur Tektonik yang
dikenal sebagai Paternoster Cross Hight dari cekungan Barito.

Gambar 1: Kerangka Tektonik Pulau Kalimantan (Bachtiar, 2006)

Bab III
GEOLOGI REGIONAL CEKUNGAN TARAKAN
Cekungan tarakan atau bisa disebut juga cekungan kaliamantan timur utara
merupakan salah satu cekungan penghasil hidrokarbon di Kalimantan Timur bagian utara.
Cekungan Tarakan dapat dibagi menjadi 4 sub-cekungan yaitu: Sub-cekungan Tidung, Subcekungan Berau, Sub-cekungan Tarakan, dan Sub-cekungan Muara (Biantoro dkk., 1996;
IBS, 2006). Batas-batas dari empat sub-cekungan tersebut adalah zona-zona sesar dan
tinggian. Bagian utara dari Cekungan Kalimantan Timur Utara dibatasi oleh Tinggian
Samporna yang terletak sedikit ke utara dari perbatasan wilayah Indonesia dan Malaysia.
Bagian barat ke arah Kalimantan dibatasi oleh Punggungan Sekatak-Berau. Sedangkan di
bagian selatan, terdapat Punggungan Mangkalihat yang memisahkan Cekungan Tarakan
dengan Cekungan Kutai. Batas timur dan tenggara dari cekungan ini berupa laut lepas Selat
Makasar.

Gambar 2. Peta lokasi Sub-Cekungan Tarakan (Biantoro dkk., 1996).

Perkembangan struktur-struktur di Sub-cekungan Tarakan, Cekungan Tarakan berlangsung


dalam beberapa tahapan yang mempengaruhi pengendapan sedimen pada area tersebut.
Konfigurasi secara struktural sudah dimulai oleh rifting sejak Eosen Awal. Pemekaran
(rifting) pada sub-cekungan ini disebabkan oleh pembentukan sesar-sesar normal. Pergerakan
dari sesar-sesar tersebut menghasilkan daerah-daerah rendahan yang kemudian terisi oleh
sedimen-sedimen tertua pada sub-cekungan ini, seperti Formasi Sembakung (akhir Miosen
Awal-Miosen Tengah). Sedimen-sedimen pra-Tersier tidak terpenetrasi pada banyak sumur
yang dibor pada sub-cekungan ini, namun keberadaannya terdeteksi pada data seismik
(Biantoro dkk., 1996).

Proses Rifting berjalan dengan terus menerus disertai dengan adanya pengangkatan secara
lokal di bagian barat dari sub-cekungan mengontrol siklus-siklus pengendapan sedimen pada
sub-cekungan ini. Pengendapan pada sub-cekungan ini dapat dibagi menjadi 4 siklus
berhubungan dengan beberapa kejadian tektonik pada regional. Pengendapan sedimensedimen siklus yang pertama (Siklus 1) terjadi pada saat terjadinya pengangkatan pada Eosen
Tengah yang menyebabkan erosi di Tinggian/Punggungan Sekatang.

Pengendapan siklus yang kedua (Siklus 2) dimulai sejak pengangkatan Oligosen Awal pada
fasa transgresif, dengan sedimen yang diendapkan secara tidakselarasan terhadap Siklus 1.
Fasa ini berubah menjadi regresif ketika proses rifting berakhir dan pengangkatan mencapai
puncaknya pada akhir dair Miosen Akhir. Pengangkatan yang kedua ini berbeda dengan
proses pengangkatan pertama karena berkembang ke arah timur dan menghasilkan
Punggungan Dasin-Fanny. Proses rifting yang kedua ini menghasilkan sesar-sesar normal
yang memiliki arah timurlaut-baratdaya. Pengendapan Siklus 3 yang regresif berlangsung
pada lingkungan transisional-deltaik. Sedimen-sedimen yang diendapkan dalam jumlah yang
besar menyebabkan rekativasi dari sesar-sesar tua yang terbentuk selama Oligosen sampai
Miosen Awal yang berkembang menjadi growth fault. Petumbuhan dari sesar-sesar tersebut
berhenti untuk sementara waktu pada awal pengendapan dari Formasi Santul dikarenakan
oleh terjadinya fasa trangresif yang pendek. Pensesaran tersebut berlangsung selama Pliosen
ketika siklus pengedapan keempat (Siklus 4), yaitu Formasi Tarakan diendapkan.

Aktivitas Tektonik pada Pliosen Akhir-Pleistosen bersifat kompresif dan menghasilkan sesarsesar strike-slip.

Di beberapa tempat, kompresi ini menginversikan sesar-sesar normal menjadi sesarsesar naik (Biantoro dkk., 1996). Kegiatan tekonik yang menyebabkan pengangkatan,

perlipatan, dan pensesaran keseluruhan Cekungan Tarakan pada Pliosen Akhir kemudian
menyebabkan munculnya ketidakselarasan di beberapa daerah secara lokal. Pada Siklus 5
yang merupakan siklus pengendapan terakhir pada sub-cekungan ini, diendapakan Formasi
Bunyu.

Gambar 3. Tektonik Sub-Cekungan Tarakan (Modifikasi dari Biantoro dkk., 1996). Prosesproses rifting, pengangkatan, dan reaktivasi sesar-sesar tua mempengaruhi perkembangan
struktur dan siklus pengendapan di Sub-Cekungan Tarakan.

Bab IV
STRATIGRAFI REGIONAL CEKUNGAN TARAKAN

Batuan dasar pada cekungan Kalimantan Timur Utara terdiri dari sedimen-sedimen
berumur tua, meliputi Formasi Danau (Heriyanto dkk., 1991) atau disebut juga Formasi
Damiu (IBS, 2006), Formasi Sembakung, dan Batulempung Malio. Sedimen-sedimen tersebut
telah terkompaksi, terlipatkan, dan tersesarkan.
Formasi Danau
Formasi Danau terdeformasi kuat dan sebagian termetamorfosa, mengandung breksi
terserpentinitisasi, rijang radiolaria, spilit, serpih,slate, dan kuarsa.
Formasi Sembakung dan Batulempung Malio
Formasi Sembakung diendapkan di atas Formasi Danau secara tidak selaras. Formasi ini
terdiri dari sedimen volkanik dan klastik yang berumur Eosen Awal-Eosen Tengah. Di atas
Formasi Sembakung diendapkan batulempung berfosil, karbonatan, dan mikaan yang dikenal
dengan Batulempung Malio yang berumur Eosen Tengah.
Siklus 1: Formasi Sujau, Mangkabua, dan Selor (Eosen Akhir Oligosen)
Sedimen-sedimen pada Siklus 1 diendapkan secara tidak selaras terhadap Formasi
Sembakung dan memiliki lingkungan pengendapan dari laut littoral sampai dangkal. Formasi
Sujau terdiri dari sedimen klastik (konglomerat dan batupasir), serpih, dan volkanik. Klastika
Formasi Sujau merepresentasikan tahap pertama pengisian cekungan graben-like yang
mungkin terbentuk sebagai akibat dari pemakaran Makassar pada Eosen Awal. Produk
erosional dari Paparan Sunda di sebelah barat terakumulasi bersamaan dengan endapan
7

gunungapi dan pirokasltik pada bagian bawah siklus ini. Keberadaan lapisan-lapisan batubara
dan interkalasi napal pada bagian bawah mengindikasikan fasies pengendapan danau yang
bergradasi ke atas menjadi lingkungan laut. Batugamping mikritik dari Formasi Seilor
diendapkan secara tidak selaras di atas Formasi Sujau dan Formasi Mangkabua yang terdiri
dari serpih laut dan napal yang berumur Oligosen menjadi penciri perubahan suksesi
ke basinward. Batuan sedimen siklus 1 terangkat, sebagian tersingkap dan tererosi sebagian di
tepi barat dari cekungan berkaitan dengan aktivitas volkanisme yang terjadi sepanjang tepian
deposenter pada akhir Oligosen.
Siklus 2: Formasi Tempilan, Formasi Taballar, Napal Mesalai, Formasi Naintupo
(Oligosen Akhir Miosen Tengah).
Sedimen-sedimen yang diendapkan di atas sedimen sebelumnya secara tidak selaras.
Sedimen-sedimen

tersebut

merupakan

sikuen-sikuen

transgersif

dan

tidak

terlalu

terdeformasi. Fasies klastik basal dari Formasi Tempilan diendapkan pertama kali pada siklus
ini dan diikuti oleh batugamping mikritik dari Formasi Taballar. Formasi Taballar merupakan
sikuen paparan karbonat dengan perkembangan reef lokal Oligosen Akhir sampai Miosen
Awal. Formasi ini secara gradual menipis ke arah cekungan terhadap napal Mesalai yang
kemudian berubah menjadi Formasi Naintupo di atasnya. Formasi Naintupo terdiri dari
lempung dan serpih yang bergradasi ke atas menjadi napal dan batugamping yang
menandakan meluasnya genang laut di cekungan Tarakan.
Siklus 3: Formasi Meliat, Formasi Tabul, dan Formasi Santul (Miosen Tengah
Miosen Akhir).
Sedimen-sedimen dari siklus 3 ini terdiri dari sikuen-sikuen deltaik regresif yang terbentuk
setelah tektonisma Miosen Awal (Orogenesa Intra-Miosen). Siklus sedimentasi ini terbagi
menjadi 3 formasi, yaitu: Formasi Meliat, Tabul, dan Santul. Perbedaan sikuen deltaik antara
formasi-formasi tersebut sulit untuk diuji dan dibedakan mengingat sedikitnya fosil-fosil yang
dapat ditemukan dan kesamaan litologi antar formasi-formasi tersebut. Pengangkatan yang
terjadi menyebabkan berhentinya fasa genang laut dan perubahan lingkungan pengendapan
yang semula bersifat laut terbuka menjadi lebih paralik. Perubahan ini mengawali pola
pengendapan baru di Cekungan Tarakan yang membentuk delta-delta konstruktif dengan
progradasi dari barat ke timur.
Formasi Meliat merupakan nama formasi tertua dari siklus 3 dan diendapkan secara
tidak selaras dengan Serpih Naintupo. Formasi ini terdiri dari batupasir kasar, serpih
karbonatan, dan batugamping tipis. Di beberapa bagian, Formasi Meliat terdiri dari batulanau
8

dan serpih dengan sedikit lensa-lensa batupasir. Formasi Tabul terdiri dari batupasir,
batulanau, dan serpih yang kadang disertai dengan kemunculan lapisan batubara dan
batugamping. Bagian paling atas dari siklus ini adalah Formasi Santul. Pada formasi ini sering
dijumpai lapisan batubara tipis yang berinterkalasi dengan batupasir, batulanau, dan
batulempung, yang diendapkan di lingkungan delta plain sampai delta front pada Miosen
Akhir.
Siklus 4: Formasi Tarakan (Pliosen)
Pada siklus sedimentasi Pliosen, diendapkan Formasi Tarakan. Formasi ini terdiri
dari interbeding batulempung, serpih, batupasir, dan lapisan-lapisan batubata lignit, yang
menunjukan fasies pengendapan delta plain. Dasar dari Formasi Tarakan pada beberapa
ditepresentasikan oleh ketidakselarasan, sedangkan di Pulau Bunyu, kontak antara Formasi
Santul dengan Tarakan bersifat transisional.

Siklus 5: Formasi Bunyu (Plistosen)


Sejak Pliosen, sedimen fluviomarine yang sangat tebal terbentuk, terutama terdiri dari
perlapisan batupasir delta, serpih, dan batubara. Sedimen Kuarter dari siklus 5 dinamakan
Formasi Bunyu, diendapkan di lingkungan delta plain sampai fluviatil. Batupasir tebal,
berukuran butir medium sampai kasar, kadangkala konglomeratan dan interbeding batubara
lignit dengan serpih merupakan litologi penyusun dari formasi Bunyu. Batupasir formasi ini
lebih tebal, kasar, dan kurang terkonsilidasi jika dibandingkan dengan batupasir Formasi
Tarakan. Batas bawah dari Formasi ini dapat bersifat tidak selaras maupun transisional.
Meningginya muka laut pada kala Pleistosen Akhir menyebabkan garis pantai mundur ke arah
barat seperti garis pantai saat ini.

Gbr.4

Bab V
Struktur Geologi Cekungan Tarakan

Struktur utama di Cekungan Tarakan adalah lipatan dan sesar yang umumnya berarah
aratlaut-tenggara dan timurlaut-baratdaya. Terdapat pola deformasi struktur yang meningkat
terutama sebelum Miosen Tengah bergerak ke bagian utara cekungan. Struktur-struktur di
Sub-cekungan Muara dan Berau mengalami sedikit deformasi, sementara di Sub-cekungan
Tarakan dan Tidung lebih intensif terganggu (Ahmad dkk, 1984). Sub-cekungan Berau dan
Muara didominasi oleh strukturstruktur regangan yang terbentuk oleh aktifitas tektonik
10

semasa Paleogen, sementara intensitas struktur di Sub-cekungan Tarakan dan Tidung


berkembang oleh pengaruh berhentinya peregangan di Laut Sulawesi yang diikuti oleh
aktifitas sesar-sesar mendatar di fasa akhir tektonik Tarakan (Fraser dan Ichram, 1999).
Di Cekungan Tarakan terdapat 3 sinistral wrench fault yang saling sejajar dan
berarah baratlaut-tenggara, yaitu:
1. Sesar Semporna yaitu sesar mendatar yang berada di bagian paling utara,
memisahkan kompleks vulkanik Semenanjung Semporna dengan sedimen
neogen di Pulau Sebatik
.
2. Sesar Maratua sebagai zona kompleks transpresional membentuk batas Subcekungan
Tarakan dan Muara.
3. Sesar Mangkalihat Peninsula, yang merupakan batas sebelah selatan Sub-Cekungan Muara
bertepatan dengan garis pantai utara Semenanjung Mangkalihat dan merupakan kemenerusan
dari Sesar Palu-Koro di Sulawesi. Struktur sesar tumbuh (growth fault) paling umum terdapat
di Sub-cekungan Tarakan dengan arah utara-baratlaut (di selatan) dan timurlaut (di utara)
dengan perubahan trend yang diperlihatkan oleh perubahan orientasi garis pantai pada mulut
Sungai Sesayap, dari utara-baratlaut di selatan Pulau Tarakan ke arah timurlaut di utara
Pulau Bunyu (Wight, dkk. 1993). Kelompok sesar yang berarah utara lebih menerus
dan mempunyai offset terbesar. Di daerah daratan (onshore), yang melingkupi sub-sub
cekungan Tidung, Berau, dan Tarakan, peta geologi permukaan menunjukkan adanya 2 rejim
struktur yang berbeda antara daerah Sekatak-Bengara (Sub-cekungan Berau) dengan daerah
Simenggaris (Sub-cekungan Tarakan). Di Sekatak-Bengara sesar-sesar turun dan mendatar
berarah utara dan baratlaut mendominasi terutama karena yang tersingkap di permukaan
umumnya adalah endapan-endapan paleogen. Sementara di

daerah Simenggaris

sesar-sesar turun dan mendatar berarah timurlaut mendominasi


permukaan geologi yang ditempati oleh endapan-endapan Neogen. Di sebelah timur Pulau
Tarakan terdapat trend struktur sesar tumbuh yang berarah utara-selatan dan makin ke timur
lagi terdapat zone shale diapir dan thrusting. Jalur seismik regional yang menerus sampai ke
lepas pantai memperlihatkan tipe struktur dari rejim ekstensional dan sistem sesar utaraselatan tersebut. Progadasi delta ke arah timur dan forced-regression selama turunnya muka
laut mengendapkan batuan reservoar di daerah lereng kontinental dalam suatu rejim sesaranjak di muka delta (toe-thrusting system).

11

Selain struktur sesar, di Cekungan Tarakan berkembang 5 buah arch (busur) atau antiklin
besar terutama di bagian barat. Dari utara ke selatan busur-busur tersebut dinamakan Busur
Sebatik, Ahus, Bunyu, Tarakan dan Latih. Busur-busur tersebut sebenarnya adalah tekukan
menunjam (plunging flexure) yang besar berarah tenggara dibentuk oleh transpresi timurlautbaratdaya dan berorientasi utara baratlaut selatan tenggara. Umur dari kompresi makin
muda ke arah utara. Intensitas lipatan juga meningkat ke arah utara dimana busur yang makin
besar di lepas pantai menghasilkan lipatan yang tajam dan sempit di daratan, yaitu di daerah
Simenggaris.
Busur Latih dan antiklin-antiklin kecil yang berkembang di bagian selatan dari Cekungan
Tarakan (Sub-cekungan Muara) juga mempunyai orientasi baratlauttenggara. Antiklin-antiklin
minor di selatan ini merupakan struktur inversi, dimana di bagian intinya ditempati oleh
lempung laut dalam Eosen sampai Miosen Akhir dan batugamping turbidit yang ketat (Wight
dkk., 1993).

12

Gambar 5. Simplified Geologic Map of The Tarakan Basin (Sumber: PertaminaBEICIP,1992; Netherwood&Wight,1993; Situmorang&Buchan,1992)

13

Bab VI
SUMBER DAYA ALAM
(MINYAK BUMI)
1. Source Rock
Formasi yang berpotensi sebagai source rock adalah Formasi Sembakung, Meliat, dan
Tabul (Sasongko, 2006). Formasi Meliat juga memiliki batuan yang mengandung material
organik yang cukup dengan sebagian formasi temperaturnya cukup tinggi, sehingga mampu
mematangkan hidrokarbon. Batuan Formasi Tabul merupakan source rock terbaik karena
memiliki material organic tinggi dan HI lebih dari 300, sehingga hidrokarbon telah matang.
Ketebalan formasi ini mencapai 1700 m, sehingga mampu menyediakan hidrokarbon yang
melimpah. Menurut L.J. Polito (1978, dalam Indonesia Basins Summaries 2006), batuan
penghasil hidrokarbon di Cekungan Tarakan melampar di Formasi Tabul, Meliat, Santul,
Tarakan dan Naintupo. Wight et al (1992, dalam Indonesia Basins Summaries 2006) juga
memberikan argumen bahwa source rock berasal dari fasies fluvio-lacustrine. Samuel (1980,
dalam Indonesia Basins Summaries 2006) menyebutkan bahwa dari kematangan termal dan
geokimia, hanya gas yang bisa didapatkan di Formasi Tabul, Santul dan Tarakan. Migrasi
bekerja pada blok-blok yang terbentuk Mio-pliocene.

Gambar 6. Play Concept Model of Tarakan Basin

14

2. Reservoir
Karakteristik batuan yang terdapat pada Formasi Sembakung, Meliat/Latih, Tabul,
dan Tarakan/Sanjau menunjukkan potensial sebagai reservoir. Batuan mempunyai kastika
kasar dengan geometri sedimen deltaik yang penyebarannya terbatas. Berdasarkan Indonesia
Basins Summaries (2006), Formasi Meliat, Tabul, Santul, dan Tarakan merupakan seri delta
dengan batupasir berbentuk channel dan bar. Formasi Meliat berisi batupasir dan shale
dengan lapisan tipis batubara. Kualitas reservoir yang ada termasuk sedang-bagus dengan
pelamparan yang cukup luas. Formasi Tabul berisi batupasir, batulanau, shale dengan lapisan
tipis batubara. Tebal formasi mencapai 400-1500 m dan menebal ke arah timur. Formasi
Santul merupakan fasies delta plain sampai delta front proksimal. Formasi ini didominasi
oleh batupasir dan shale dengan lapisan tipis batubara. Batupasir mempunyai ketebalan 40-60
m. Pada beberapa titik, ada channel batupasir yang
tebalnya mencapai 115 m. Formasi Tarakan yang berumur Pliosen merupakan seri delta
dengan dominasi litologi berupa pasir, lempung, dan batubara yang menunjukkan fasies delta
plain hingga fluviatil.
3. Seal Rock
Batuan yang menjadi seal atau tudung adalah batuan penyusun Formasi Sembakung,
Mangkabua, dan Birang yang merupakan batuan sedimen klastik dengan ukuran butir halus.
Formasi Meliat/Latih, Tabul dan Tarakan tersusun oleh batulempung hasil endapan delta
intraformational yang berfungsi pula sebagai batuan tidung.

Gambar 7.Penyebaran Isopach Formasi Tabul yang mengandung batuan


Penudung (Sasongko et al, 2006)
15

4. Traps
Sistem perangkap hidrokarbon yang terdapat di Cekungan Tarakan adalah perangkap
stratigrafi karena adanya asosiasi litologi batuan sedimen halus dengan lingkungan
pengendapannya delta. Namun pada umur Plio-Pleistosen, terjadi tektonik yang
memungkinkan terbentuknya struktur geologi dan dapat terjadi perangkap hidrokarbon yang
berhubungan dengan syngenetic fault dan struktur antiklin.
5. Migrasi
Model migrasi yang terjadi di Cekungan Tarakan disebabkan oleh sesar normal dan
sesar naik serta perbedaan elevasi. Samuel (1980, dalam Indonesia Basins Summaries 2006)
menyebutkan bahwa migrasi hidrokarbon bekerja pada blok-blok yang terbentuk MioPliosen. Hal itu juga didukung dengan waktu yang tepat proses pematangan hidrokarbon pada
Miosen Akhir dari Formasi Tabul dan Tarakan akibat intrusi batuan beku. Pematangan
hidrokarbon terjadi pada kedalaman 4300 m.

16

DAFTAR PUSTAKA
-> Achmad, Z., Samuel, L. (1984), Stratigraphy and depositional cycles in the
N.E. Kalimantan Basin. Proceedings of Indonesia Petroleum Association 13th Convention,
Jakarta, Vol. 1, 109-120.

-> Biantoro, E., Kusuma, M.I., dan Rotinsulu, L.F. (1996), Tarakan sub-basin growth faults,
North-East Kalimantan: Their roles hydrocarbon entrapment, Proceedings of Indonesian
Petroleum Association 25th Annual Convention, Jakarta,
Vol. 1, 175-189.

-> Darman, H. (2001), Turbidite plays of Indonesia: An Overview, Berita


Sedimentologi,15, 2-21.

-> Ellen, H., Husni, M.N, Sukanta, U., Abimanyu, R., Feriyanto, Herdiyan, T. (2008),Middle
Miocene Meliat Formation in the Tarakan Islan, regional implications for deep exploration
opportunity, Proceedings of Indonesian Petroleum Association 32nd Annual Convention,
Jakarta, Vol.1

-> Lentini, M. R., Darman, H. (1996), Aspects of the Neogen tectonic history
and hydrocarbon geology of the Tarakan Basin,Proceedings of Indonesian
Petroleum Association 25th Annual Convention, Jakarta, Vol.1, 241-251.

17