Sunteți pe pagina 1din 11

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI PENGENDALIAN GULMA


ASOSIASI GULMA

Oleh :
Nama
NIM
Kelas
Kelompok

: M. Rizki Yuliansah
: 115040200111078
:C
: C1

MINAT SUMBERDAYA LINGKUNGAN


PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS PERTANIAN
JURUSAN BUDIDAYA PETANIAN
MALANG
2015

1. PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Gulma antara lain didefinisikan sebagai tumbuh-tumbuhan yang tumbuh

pada tempat yang tidak dikehendaki manusia. Kehadiran gulma dianggap


merugikan karena mengganggu kepentingan dan aktivitas manusia/kegiatan
pertanian dan pengendalian gulma merupakan usaha untuk meningkatkan daya
saing tanaman dan melemahkan daya saing gulma (Sukman dan Yakup, 1995).
Asosiasi merupakan hubungan antar makhluk hidup dalam suatu
lingkungan tertentu. Asosiasi dapat dikatakan sebagai komunitas yang merupakan
suatu istilah yang dapat digunakan pada sembarang tipe vegetasi, sembarang
ukuran dan sembarang umur, komunitas dapat merupakan satu unit ekologi yang
sangat luas namun juga dapat merupakan satuan yang sangat sempit. Istilah
komunitas juga dapat digunakan untuk satuan yang paling kecil sekalipun seperti
halnya menempelnya lumut yang beraneka ragam di pohon tertentu. Ukuran,
umur dan stratum tumbuhan bukan merupakan batasan suatu komunitas tumbuhan
demikian juga dengan perubahan komponen vegetasi yang terdapat didalamnya.
Komunitas tetap berlaku untuk vegetasi yang mudah berubah ataupun yang
lambat dalam perubahan penyusun vegetasinya.
Asosiasi lebih merupakan kumpulan dari contoh dalam sebuah vegetasi.
Suatu komunitas besar dapat terdiri dari banyak asosiasi atau komunitas kecil
yang didalamnya terdapat banyak spesies tumbuhan penyusun vegetasi tersebut.
Asosiasi yang dapat merupakan bentuk komunitas dalam suatu formasi umumnya
terdiri dari banyak asosiasi penyusun dimana salah satu dan lainnya dapat sangat
berbeda dalam fisiognominya. Asosiasiasi dapat dikatakan juga sebagai
komunitas, namun tidak semua komunitas menunjukan suatu asosiasi.
1.2.
Tujuan Praktikum
Tujuan pada praktikum ini adalah untuk mengetahui asosiasi antara
berbagai spesies gulma pada lokasi budidaya tanaman serta untuk mengetahui
kemampuan herbisida sebagai pemberantas gulma pada pertanaman.

2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi Gulma

Gulma adalah suatu tumbuhan lain yang tumbuh pada lahan tanaman
budidaya, tumbuhan yang tumbuh disekitar tanaman pokok (tanaman yang
sengaja ditanam) atau semua tumbuhan yang tumbuh pada tempat (area) yang
tidak diinginkan oleh sipenanam sehingga kehadirannya dapat merugikan tanaman
lain yang ada di dekat atau disekitar tanaman pokok tersebut. Pendapat para ahli
gulma yang lain ada yang mengatakan bahwa gulma disebut juga sebagai
tumbuhan pengganggu atau tumbuhan yang belum diketahui manfaatnya, tidak
diinginkan dan menimbulkan kerugian (Herianto. 2013). Pengertian gulma
menurut sutidjo (1974) adalah tumbuhan yang tumbuh tidak sesuai dengan
tempatnya dan tidak dikehendaki serta mempunyai nilai negatif.
Gulma adalah tumbuhan pengganggu yang nilai negatif apabila tumbuhan
tersebut merugikan manusia baik secara langsung maupun tidak langsung dan
sebaliknya tumbuhan dikatakan memiliki nilai positif apabila mempunyai daya
guna manusia (Mangoensoekarjo 1983). Pengertian gulma adalah tumbuhan yang
tumbuh tidak sesuai dengan tempatnya dan tidak dikehendaki serta mempunyai
nilai negative (Johnny, Martin. 2006).
2.2 Klasifikasi Gulma
Gulma dapat dibedakan menjadi beberapa golongan sesuai dengan bentuk
daun(daun lebar atau daun sempit), lama hidupnya (setahun atau semusim, dua
tahun atau tahunan), serta sari sudut pentingnya (golongan yang sangat ganas dan
golongan agak ganas).
Gulma berdaun lebar. Tumbuhan ini mempunyai bentuk daun lebar dari
jenis dikotil dan pada umumnya mempunyai lintasan C3.
Gulma berdaun sempit. Tumbuha

ini mempunyai

bentuk daun

sempitnpanjang, dari jenis monokotil dan pada umumnya mempunyai lintasa C4


Gulma semusim atau setahun (annual). Tumbuhan ini menyelesaikan daur
hidupnya dari biji, tumbuh sampai mati selama semusim atau setahun. Karena
banyaknya biji yang dibentuk, maka persisten.
Gulma tahunan (perennial). Tumbuhan ini menyelesaikan daur hidupnya
selama lebih dari dua tahun. Kebanyakan tumbuhan ini membentuk biji banyak
untuk penyebaran dan dapt pula menyebar secara vegetatif. Kerena beda cara
penyebarannya, maka tumbuhan ini dibagi perennial sederhana dan perennial
merayap. Gulma perennial sederhana, hanya menyebar dengan biji, meskipun

dapat menyebar secaravegetatif bila tumbuhan ini terpotong, akar lunak dan
tumbuh meluas. Gulma perennial merayap menyebar dengan akar yang merayap,
stolon (bagian merayap diatas tanah) dan rhizoma (bagian marayap didalam
tanah) ( Sudarmo, 1991 ).
Cara klasifikasi gulma berbeda-beda berdasarkan morfologinya gulma
dapat dibedakan menjadi:
1. Golongan Rerumputan (Gulma Berdaun Sempit/ Grasses). Golongan rerumputan
mencakup jenis gulma yang termasuk dalam famili gramineae. Selain merupakan
komponen terbesar dari seluruh populasi gulma, famili ini mempunyai daya
adaptasi yang cukup tinggi, distribusi amat luas dan mampu tumbuh baik pada
lahan kering maupun tergenang. Contoh: Alang-alang, rumput pahit, jampang
pahit, kakawatan, gerinting, jejagoan, glagah, jejahean dan bebontengan.
2. Golongan Teki (Sedges). Golongan teki meliputi semua jenis gulma yang
termasuk kedalam famili Cyperaceae. Golongan teki terdiri dari 4000 spesies,
lebih menyukai air kecuali Cyperus rotundus L. Contoh: rumput teki, walingi,
rumput sendayan, jekeng, rumput 3 segi, dan rumput knop.
3. Golongan Berdaun Lebar (Broadleaf Weeds). Golongan gulma berdaun lebar
meliputi semua jenis gulma selain famili gramineae dan Cyperaceae. Golongan
gulma berdaun lebar biasanya terdiri dari famili paku-pakuan (pteridophyta) dan
dicotyledoneae. Contoh: Bayam duri, kremek, jengger ayam, kayu apu, wedusan,
sembung dan meniran. ( Maspary,2010)
2.3 Dampak Negatif Gulma
Keberadaan gulma pada areal pertanaman budidaya dapat menimbulkan
kerugian baik dari segi kuantitas maupun kualitas produksi. Kerugian yang
ditimbulkan oleh gulma diantaranya penurunan hasil pertanian akibat persaingan
atau kompetisi dalam perolehan sumber daya (air, udara, unsur hara, dan ruang
hidup), menjadi inang hama dan penyakit, dapat menyebabkan tanaman
keracunan akibat senyawa racun yang dimiliki gulma (alelopati), menyulitkan
pekerjaan lapangan dan dalam pengolahan hasil serta dapat merusak atau
menghambat penggunaan alat pertanian. Kerugian kerugian tersebut merupakan
alasan kuat mengapa gulma harus dikendalikan (Hamid, 2010).

Gulma dapat diklasifikasikan menurut morfologinya menjadi beberapa


golongan, yaitu golongan rerumputan (grasses), berdaun lebar (broad leaf) dan
teki-tekian (sedges). Beberapa definisi yang termasuk kelompok ini adalah
(Sukman, 1991) :
1.

Tumbuhan yang tidak dikehendaki manusia.

2.

Semua tumbuhan selain tanaman budidaya, sebagai contohnya selain tanaman


padi di sawah yang sengaja ditanaman tumbuhan lainnya dianggap gulma.

3. Tumbuhan yang belum diketahui manfaatnya.


4. Tumbuhan yang mempunyai pengaruh negatif pada manusia baik secara langsung
maupun tidak dan lain sebagainya.
5. Mempunyai daya saing / daya kompetisi yang tinggi terhadap tanaman pokok.
6. Dapat menjadi inang sementara bagi penyakit atau parasit tanaman utama.
7. Menghambat kelancaran aktivitas manusia.
Perkembangbiakan gulma sangat mudah dan cepat, baik secara generatif
maupun secara vegetatif. Secara generatif, biji-biji gulma yang halus, ringan, dan
berjumlah sangat banyak dapat disebarkan oleh angin, air, hewan, maupun
manusia. Perkembangbiakan secara vegetatif terjadi karena bagian batang yang
berada di dalam tanah akan membentuk tunas yang nantinya akan membentuk
tumbuhan baru.
2.4 Asosiasi Gulma
Asosiasi merupakan hubungan antar makhluk hidup dalam suatu
lingkungan tertentu. Asosiasi dapat dikatakan sebagai komunitas yang merupakan
suatu istilah yang dapat digunakan pada sembarang tipe vegetasi, sembarang
ukuran dan sembarang umur, komunitas dapat merupakan satu unit ekologi yang
sangat luas namun juga dapat merupakan satuan yang sangat sempit. Istilah
komunitas juga dapat digunakan untuk satuan yang paling kecil sekalipun seperti
halnya menempelnya lumut yang beraneka ragam di pohon tertentu. Ukuran,
umur dan stratum tumbuhan bukan merupakan batasan suatu komunitas tumbuhan
demikian juga dengan perubahan komponen vegetasi yang terdapat didalamnya.
Komunitas tetap berlaku untuk vegetasi yang mudah berubah ataupun yang
lambat dalam perubahan penyusun vegetasinya.

Asosiasi lebih merupakan kumpulan dari contoh dalam sebuah vegetasi.


Suatu komunitas besar dapat terdiri dari banyak asosiasi atau komunitas kecil
yang didalamnya terdapat banyak spesies tumbuhan penyusun vegetasi tersebut.
Asosiasi yang dapat merupakan bentuk komunitas dalam suatu formasi umumnya
terdiri dari banyak asosiasi penyusun dimana salah satu dan lainnya dapat sangat
berbeda dalam fisiognominya. Asosiasiasi dapat dikatakan juga sebagai
komunitas, namun tidak semua komunitas menunjukan suatu asosiasi.
Kendeigh (1980), menuliskan bahwa ekologi tumbuhan berhubungan
dengan kajian komunitas tumbuhan atau asosiasi tumbuhan. Satuan dasar di
dalam sosiologi tumbuhan adalah asosiasi, yaitu komunitas tumbuhan dengan
komposisi floristik tertentu. Bagi ahli sosiologi tumbuhan, suatu asosiasi adalah
seperti suatu spesies. Suatu asosiasi terdiri dari sejumlah tegakan, yang
merupakan suatu satuan konkrit vegetasi yang diamati di lapangan.

3. BAHAN DAN METODE


3.1. Waktu dan Tempat

Praktikum Asosiasi Gulma dilaksanakan pada tanggal 9 Mei 2015, dan


bertempat di Wonokoyo, Kabupaten Malang.
3.2. Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini, antara lain kuadran
segiempat berukuran 1 m x 1 m, alat tulis, kamera dan lahan komoditas tebu.
3.3. Langkah Kerja
Memilih komoditas yang akan
diamati
Mengamati jenis gulma apa saja dalam petak
pengamatan

Mengkategorikan gulma
yang ditemui
di lahan sesuai fungsinya
Identifikasi
Gulma
bagi tanaman

Dokumentasi

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari hasil pengamatan yang ditemukan pada lahan komoditas tebu di


daerah Wonokoyo, Kabupaten Malang, didapatkan hasil asosiasi antara tanaman
yang dibudidayakan yaitu tanaman tebu dan gulma yang berada di lahan tersebut
yang mengganggu pertumbuhan tanaman tebu. Gulma yang ditemukan di lahan
tersebut antara lain: Cyperus rotundus, Cynodon dactylon, Cyperus kyllingia.
Gulma gulma tersebut mengganggu tanaman budidaya karena gulma dan
tanaman budidaya tersebut bersaing dalam memperoleh unsur hara, air, tempat
tumbuh, dan cahaya matahari yang sangat dibutuhkan tanaman budidaya untuk
tumbuh dengan optimal. Selain persaingan tersebut, gulma-gulma ini memiliki
senyawa alelopat yang dapat menimbulkan racun yang dapat mengganggu
tanaman budidaya. Senyawa alelopat dapat menghambat sistem pembelahan sel
pada tumbuhan, menghambat proses fotosintesis, berpengaruh signifikan terhadap
sistem respirasi, dan menghambat proses sintesis protein.
Dari hal tersebut, interaksi antara gulma dan tanaman budidaya dapat
disebut interaksi amensalisme, yaitu interaksi antara gulma dan tanaman budidaya
yang tidak merugikan atau menguntungkan gulma, tetapi merugikan tanaman tebu
karena tebu akan kekurangan unsur hara, air dan cahaya matahari untuk

pertumbuhannya. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengendalian populasi gulma


yang berada pada lahan budidaya tebu agar tanaman tebu dapat melakukan
pertumbuhan yang optimal.

5. KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas dapat di ambil kesimpulan bahwa gulma yang
terdapat pada lahan budidaya tebu antara lain Cyperus rotundus, Cynodon
dactylon dan Cyperus kyllingia. Interaksi antara tanaman budidaya tebu dengan
ketiga gulma tersebut adalah interaksi amensalisme, yaitu tanaman tebu dirugikan
oleh adanya gulma di lahan budidaya tetapi gulma tidak diuntungkan dan
dirugikan oleh adanya tanaman budidaya pada lahan. Gulma tersebut mengambil
unsur hara dalam tanah air dan cahaya matahari yang dibutuhkan oleh tanaman
budidaya pada lahan serta gulma tersebut dapat mengeluarkan senyawa alelopat
yang menjadi racun terhadap tanaman budidaya.

DAFTAR PUSTAKA
Buhman, R dkk. 1999. Gulma dan Teknik pengendaliannya. Yogyakarta:
Konisius
Jumin, Hasan Basri.1991. Dasar-dasar Agronomi. Jakarta : CV. Rajawali.
Kendeigh, S.C.1980. Ecology with Special Reference to Animal and Man.
Departement of Zoological Univercity of Illinoist at Urbana-Champaign.
New Delhi: Pretince-Hall of India Private Limited.

Maspary.2010.Penggolongan Gulma Tanaman. http://gerbangtani.blogspot.com/


2010/05/penggolongan-gulma-tanaman.html. Diakses tanggal 10 Mei
2015
Rohman, Fatchur dan I Wayan Sumberartha. 2001. Petunjuk Praktikum Ekologi
Tumbuhan. JICA. Malang.
Sembodo, D.R.J. 2010. Gulma dan Pengelolaannya. Graha Ilmu. Yogyakarta.
Sukman, Y dan Yakup. 1995. Gulma dan Teknik Pengendaliannya. Jakarta : PT
Raja Grafindo Persada.
Tjitrosoedirdjo, S., H. Utomo, dan J. Wiroatmodjo., 1984. Pengelolaan Gulma di
Perkebunan. PT Gramedia. Jakarta.
Waisul, Ahmad F. 2009. Air Rebusan Rumpu Teki (Cyperus rotundus) Sebagai
Alternatif Penyembuhan Sariawan.