Sunteți pe pagina 1din 48

Bayi Baru Lahir (BBL) Normal

A. Pengertian
Menurut Saifuddin, (2002) Bayi baru lahir adalah bayi yang baru lahir selama satu jam
pertama kelahiran.
Menurut Donna L. Wong, (2003) Bayi baru lahir adalah bayi dari lahir sampai usia 4 minggu.
Lahirrnya biasanya dengan usia gestasi 38 42 minggu.
Menurut Dep. Kes. RI, (2005) Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir dengan umur
kehamilan 37 minggu sampai 42 minggu dan berat lahir 2500 gram sampai 4000 gram.
Menurut M. Sholeh Kosim, (2007) Bayi baru lahir normal adalah berat lahir antara 2500
4000 gram, cukup bulan, lahir langsung menangis, dan tidak ada kelainan congenital (cacat
bawaan) yang berat.
B. Ciri Ciri Bayi Baru Lahir
1. Berat badan 2500 4000 gram
2. Panjang badan 48 52 cm
3. Lingkar dada 30 38 cm
4. Lingkar kepala 33 35 cm
5. Frekuensi jantung 120 160 kali/menit
6. Pernafasan 60 40 kali/menit
7. Kulit kemerah merahan dan licin karena jaringan sub kutan cukup
8. Rambut lanugo tidak terlihat, rambut kepala biasanya telah sempurna
9. Kuku agak panjang dan lemas
10. Genitalia;
Perempuan labia mayora sudah menutupi labia minora
Laki laki testis sudah turun, skrotum sudah ada
11. Reflek hisap dan menelan sudah terbentuk dengan baik
12. Reflek morrow atau gerak memeluk bila dikagetkan sudah baik
13. Reflek graps atau menggenggan sudah baik

14. Eliminasi baik, mekonium akan keluar dalam 24 jam pertama, mekonium berwarna hitam
kecoklatan
C. Reflek Reflek Fisiologis
1. Mata
a. Berkedip atau reflek corneal
Bayi berkedip pada pemunculan sinar terang yang tiba tiba atau pada pandel atau obyek
kearah kornea, harus menetapkan sepanjang hidup, jika tidak ada maka menunjukkan adanya
kerusakan pada saraf cranial.
b. Pupil
Pupil kontriksi bila sinar terang diarahkan padanya, reflek ini harus sepanjang hidup.
c. Glabela
Ketukan halus pada glabela (bagian dahi antara 2 alis mata) menyebabkan mata menutup
dengan rapat.
2. Mulut dan tenggorokan
a. Menghisap
Bayi harus memulai gerakan menghisap kuat pada area sirkumoral sebagai respon terhadap
rangsangan, reflek ini harus tetap ada selama masa bayi, bahkan tanpa rangsangan sekalipun,
seperti pada saat tidur.
b. Muntah
Stimulasi terhadap faring posterior oleh makanan, hisapan atau masuknya selang harus
menyebabkan bayi mengalami reflek muntah, reflek ini harus menetap sepanjang hidup.
c. Rooting
Menyentuh dan menekan dagu sepanjang sisi mulut akan menyebabkan bayi membalikkan
kepala kearah sisi tersebut dan mulai menghisap, harus hilang pada usia kira kira 3 -4 bulan
d. Menguap
Respon spontan terhadap panurunan oksigen dengan maningkatkan jumlah udara inspirasi,
harus menetap sepanjang hidup
e.Ekstrusi
Bila lidah disentuh atau ditekan bayi merespon dengan mendorongnya keluar harus
menghilang pada usia 4 bulan

f.Batuk
Iritasi membrane mukosa laring menyebabkan batuk, reflek ini harus terus ada sepanjang
hidup, biasanya ada setelah hari pertama lahir
3. Ekstrimitas
a. Menggenggam
Sentuhan pada telapak tangan atau telapak kaki dekat dasar kaki menyebabkan fleksi tangan
dan jari
b. Babinski
Tekanan di telapak kaki bagian luar kearah atas dari tumit dan menyilang bantalan kaki
menyebabkan jari kaki hiperektensi dan haluks dorso fleksi
c. Masa tubuh
(1). Reflek moro
Kejutan atau perubahan tiba tiba dalam ekuilibrium yang menyebabkan ekstensi dan
abduksi ekstrimitas yang tiba tiba serta mengisap jari dengan jari telunjuk dan ibu jari
membentuk C diikuti dengan fleksi dan abduksi ekstrimitas, kaki dapat fleksi dengan
lemah.
(2). Startle
Suara keras yang tiba tiba menyebabkan abduksi lengan dengan fleksi siku tangan tetap
tergenggam
(3). Tonik leher
Jika kepala bayi dimiringkan dengan cepat ke salah sisi, lengan dan kakinya akan berekstensi
pada sisi tersebut dan lengan yang berlawanan dan kaki fleksi.
(3). Neck righting
Jika bayi terlentang, kepala dipalingkan ke salah satu sisi, bahu dan batang tubuh membalik
kearah tersebut dan diikuti dengan pelvis
(4) Inkurvasi batang tubuh (gallant)
Sentuhan pada punggung bayi sepanjang tulang belakang menyebabkan panggul bergerak kea
rah sisi yang terstimulasi.
D. Penanganan Segera Bayi Baru Lahir
Menurut JNPK-KR/POGI, APN, (2007) asuhan segera, aman dan bersih untuk bayi baru lahir
ialah :

1. Pencegahan Infeksi

Cuci tangan dengan seksama sebelum dan setelah bersentuhan dengan bayi

Pakai sarung tangan bersih pada saat menangani bayi yang belum dimandikan

Pastikan semua peralatan dan bahan yang digunakan, terutama klem, gunting,
penghisap lendir DeLee dan benang tali pusat telah didesinfeksi tingkat tinggi atau
steril.

Pastikan semua pakaian, handuk, selimut dan kain yang digunakan untuk bayi,
sudah dalam keadaan bersih. Demikin pula dengan timbangan, pita pengukur,
termometer, stetoskop.

2. Melakukan penilaian

Apakah bayi menangis kuat dan/atau bernafas tanpa kesulitan

Apakah bayi bergerak dengan aktif atau lemas

Jika bayi tidak bernapas atau bernapas megap megap atau lemah maka segera lakukan
tindakan resusitasi bayi baru lahir.
3. Pencegahan Kehilangan Panas
Mekanisme kehilangan panas
a. Evaporasi
Penguapan cairan ketuban pada permukaan tubuh oleh panas tubuh bayi sendiri karena
setelah lahir, tubuh bayi tidak segera dikeringkan.
b. Konduksi
Kehilangan panas tubuh melalui kontak langsung antara tubuh bayi dengan permukaan yang
dingin, co/ meja, tempat tidur, timbangan yang temperaturnya lebih rendah dari tubuh bayi
akan menyerap panas tubuh bayi bila bayi diletakkan di atas benda benda tersebut
c. Konveksi
Kehilangan panas tubuh terjadi saat bayi terpapar udara sekitar yang lebih dingin, co/ ruangan
yang dingin, adanya aliran udara dari kipas angin, hembusan udara melalui ventilasi, atau
pendingin ruangan.
d. Radiasi
Kehilangan panas yang terjadi karena bayi ditempatkan di dekat benda benda yang
mempunyai suhu tubuh lebih rendah dari suhu tubuh bayi, karena benda benda tersebut
menyerap radiasi panas tubuh bayi (walaupun tidak bersentuhan secara langsung)

Mencegah kehilangan panas


Cegah terjadinya kehilangan panas melalui upaya berikut :
a. Keringkan bayi dengan seksama
Mengeringkan dengan cara menyeka tubuh bayi, juga merupakan rangsangan taktil untuk
membantu bayi memulai pernapasannya.
b. Selimuti bayi dengan selimut atau kain bersih dan hangat
Ganti handuk atau kain yang telah basah oleh cairan ketuban dengan selimut atau kain yang
baru (hanngat, bersih, dan kering)
c. Selimuti bagian kepala bayi
Bagian kepala bayi memiliki luas permukaan yg relative luas dan bayi akan dengan cepat
kehilangan panas jika bagian tersebut tidak tertutup.
d. Anjurkan ibu untuk memeluk dan menyusui bayinya
Pelukan ibu pada tubuh bayi dapat menjaga kehangatan tubuh dan mencegah kehilangan
panas. Sebaiknya pemberian ASI harus dimulai dalam waktu satu (1) jam pertama kelahiran
e. Jangan segera menimbang atau memandikan bayi baru lahir
Karena bayi baru lahir cepat dan mudah kehilangan panas tubuhnya, sebelum melakukan
penimbangan, terlebih dahulu selimuti bayi dengan kain atau selimut bersih dan kering. Berat
badan bayi dapat dinilai dari selisih berat bayi pada saat berpakaian/diselimuti dikurangi
dengan berat pakaian/selimut. Bayi sebaiknya dimandikan sedikitnya enam (^) jam setelah
lahir.
Praktik memandikan bayi yang dianjurkan adalah :
(1). Tunggu sedikitnya 6 jam setelah lahir sebelum memandikan bayi (lebih lama jika bayi
mengalami asfiksia atau hipotermi)
(2). Sebelum memandikan bayi, periksa bahwa suhu tubuh stabil (suhu aksila antara 36,5 C
37 C). Jika suhu tubuh bayi masih dibawah 36,5 C, selimuti kembali tubuh bayi secara
longgar, tutupi bagian kepala dan tempatkan bersama ibunya di tempat tidur atau lakukan
persentuhan kuli ibu bayi dan selimuti keduanya. Tunda memandikan bayi hingga suhu
tubuh bayi tetap stabil dalam waktu (paling sedikit) satu (1) jam.
(3). Tunda untuk memandikan bayi yang sedang mengalami masalah pernapasan
(4). Sebelum bayi dimandikan, pastikan ruangan mandinya hangat dan tidak ada tiupan angin.
Siapkan handuk bersih dan kering untuk mengeringkan tubuh bayi dan siapkan beberapa
lembar kain atau selimut bersih dan kering untuk menyelimuti tubuh bayi setelah
dimandikan.

(5). Memandikan bayi secara cepat dengan air bersih dan hangat
(6). Segera keringkan bayi dengan menggunakan handuk bersih dan kering
(7). Ganti handuk yang basah dengan selimut bersih dan kering, kemudian selimuti tubuh
bayi secara longgar. Pastikan bagian kepala bayi diselimuti dengan baik
(8). Bayi dapat diletakkan bersentuhan kulit dengan ibu dan diselimuti dengan baik
(9). Ibu dan bayi disatukan di tempat dan anjurkan ibu untuk menyusukan bayinya
f. Tempatkan bayi di lingkungan yang hangat
g. Idealnya bayi baru lahir ditempatkan di tempat tidur yang sama dengan ibunya, untuk
menjaga bayi tetap hangat dan mendorong ibu untuk segera memberikan ASI
4. Membebaskan Jalan Nafas nafas
Dengan cara sebagai berikut yaitu bayi normal akan menangis spontan segera setelah lahir,
apabila bayi tidak langsung menangis, penolong segera membersihkan jalan nafas dengan
cara sebagai berikut :

Letakkan bayi pada posisi terlentang di tempat yang keras dan hangat.

Gulung sepotong kain dan letakkan di bawah bahu sehingga leher bayi lebih lurus
dan kepala tidak menekuk. Posisi kepala diatur lurus sedikit tengadah ke belakang.

Bersihkan hidung, rongga mulut dan tenggorokkan bayi dengan jari tangan yang
dibungkus kassa steril.

Tepuk kedua telapak kaki bayi sebanyak 2-3 kali atau gosok kulit bayi dengan kain
kering dan kasar.

Alat penghisap lendir mulut (De Lee) atau alat penghisap lainnya yang steril,
tabung oksigen dengan selangnya harus sudah ditempat

Segera lakukan usaha menghisap mulut dan hidung

Memantau dan mencatat usaha bernapas yang pertama (Apgar Score)

Warna kulit, adanya cairan atau mekonium dalam hidung atau mulut harus
diperhatikan.

BBL BERMASALAH
1. Ikterik
a. Definisi.
Ikterik adalah peningkatan kadar bilirubin dalam darah dalam satu minggu pertama
kehidupannya. Pada hari ke 2-3 dan puncaknya di hari ke 5-7, kemudian akan menurun pada
hari ke 10-14, peningkatannya tidak melebihi 10 mg/ddl pada bayi atterm dan < 12 mg/dl
pada bayi prematur. Keadaan ini masih dalam batas normal.
Ikterik dibagi menjadi 2 :
-

Ikterik Fisiologis : ikterik yang timbul pada hari kedua dan ketiga,tidak mempunyai dasar
patologis, kadar tidak melampaui kadar yang membahayakan. Dikatakan ikterik fisiologis
apabila sesudah pengamatan dan pemeriksaan selanjutnya tidak menunjukan dasar patologis
dan tidak mempunyai potensi berkembang menjadi kern icterus (suatu kerusakan otak akibat
perlengketan bilirubin indirek pada otak).

Ikterik Patologis : ikterik yang mempunyai dasar patologis, kadar bilirubin mencapai
hiperbilirubinemia,

b. Etiologi
-

Kurangnya enzim glukoronil transferase,

Pemberian minum, terutama ASI yang kurang,

Gangguan fungsi hati/ kerja hati yang bertambah berat, missal akibat inkompatibilitas
Rhesus/ ABO hati belum matang.

c.
-

Patofisiologi
Peningkatan B. indirek karena pemecahan sel darah merah sebelum waktunya, fungsi hati
belum matang.

Asupan kalori dan cairan kurang

Kadar normal bilirubin indirek adalah kurang lebih 5 mg%

d. Komplikasi
Berpotensi patologi jika :
-

Timbul 24 jam pertama

Kadar B.Indirek lebih dari 12,5 mg% pada bayi cukup bulan dan lebih dari 10 mg% pada
bayi premature.

e.
-

Peningkatan kadar bilirubin lebih dari 5 mg %/ hari.


Penatalaksanaan
Pemberian ASI yang adekuat
anjurkan ibu menyusui sesuai dengan keinginan bayinya, paling tidak setiap 2-3 jam

Jemur bayi dalam keadaan telanjang dengan sinar matahari pukul 7-9 pagi
Pemberian terapi sinar matahari sehingga bilirubin diubah menajdi isomer foto yang tidak
toksik dan mudah dikeluarkan tubuh karena mudah larut dalam air

f.

Derajat Kramer
DAERAH
I
II
III

LUAS IKTERUS
Kepala dan leher
Daerah I + badan atas
Daerah I, II + badan baah dan

KADAR (mg %)
5
9
11

IV

tungkai
Daerah I, II, III + lengan dan kaki 12

dibawah lutut
Daerah I, II, III, IV + tangan dan 16
kaki

g. Diagnosis banding
Ikterus yang timbul 24 jam pertatama kehidupan mungkin akibat eritroblstosis foetalis,
sepsis, rubella atau toksoplasmosis congenital. Ikterus yang timbul setelah hari ke 3 dan
dalam minggu pertama, harus dipikirkan kemungkinan septicemia sebagai penyebabnya.
Ikterus yang permulaannya timbul setelah minggu pertama kehidupan memberi petunjuk
adanya septicemia, atresia kongental saluran empedu, hepatitis serum homolog, rubella,
hepatitis herpetika, anemia hemolitik yang disebabkan oleh obat-obatan dan sebagainya.

Ikterus yang persisten selama bulan pertama kehidupan memberi petunjuk adanya apa yang
dinamakan inspissated bile syndrome. Ikterus ini dapat dihubungkan dengan nutrisi
parenteral total. Kadang bilirubin fisiologis dapat berlangsung berkepanjangan sampai
beberapa minggu seperti pada bayi yang menderita penyakit hipotiroidisme atau stenosis
pylorus.
h. Terapi
Tujuan utama penatalaksanaan ikterus neonatal adalah untuk mengendalikan agar kadar
bilirubin serum tidak mencapai nilai yang dapat menimbulkan kernikterus/encefalopati
biliaris, serta mengobati penyebab langsung ikterus tersebut. Pengendalian bilirubin juga
dapat dilakukan dengan mengusahakan agar kunjugasi bilirubin dapat dilakukan dengan
megusahakan mempercepat proses konjugasi. Hal ini dapat dilakukan dengan merangsang
terbentuknya glukoronil transferase dengan pemberian obat seperti luminal atau fenobarbital.
Pemberian substrat yang dapat menghambat matabolisme bilirubin (plasma atau albumin)
2. Muntah dan gumoh
a. Definisi
Muntah atau emesis adalah keadaan dimana dikeluarkannya isi lambung secara ekspulsif
atau keluarnya kembali sebagian besar atau seluruh isi lambung yang terjadi setelah agak
lama makanan masuk kedalam lambung. Usaha untuk mengeluarkan isi lambung akan
terlihat sebagai kontraksi otot perut.
b. Etiologi
-

Organik

1. Gastrointestinal
Obstruksi : atresia esofagus
Non obstruksi : perforasi lambung
2. Ekstra gastrointestinal
Insufisiensi ginjal, obstruksi urethra
Susunan syaraf pusat
Peningkatan tekanan intra cranial (TIK)
-

Non organik
Teknik pemberian minum yang salah, makanan/minuman yang tidak cocok atau terlalu
banyak, keracunan, obat-obat tertentu, kandidasis oral.

c.

Patofisiologi
Suatu keadaan dimana anak atau bayi menyemprotkan isi perutnya keluar, kadang-kadang
seluruh isinya di kelurkan. Pada bayi sering timbul pada minggu-minggu pertama, hal

tersebut merupakan aksi reflek yang di koordinasi dalam medulla oblomata dimana isi
lambung dikeluarkan dengan paksa melalui mulut. Muntah dapat dikaitkan dengan
keracunan, penyakit saluran pencernaan, penyakit intracranial dan toksin yang dihasilkan
oleh bakteri.
d. Komplikasi
Kehilangan cairan tubuh/elektrolit sehingga dapat menyebabkan dehidrasi Karena sering
muntah dan tidak mau makan/minum dapat menyebabkan ketosis Ketosis akan menyebabkan
asidosis yang akhirnya bisa menjadi renjatan (syok) Bila muntah sering dan hebat akan
terjadi ketegangan otot perut, perdarahan, konjungtiva, ruptur, esophagus, infeksi
mediastinum, aspirasi muntah jahitan bisa lepas pada penderita pasca operasi dan timbul
perdarahan.
e.

Penatalaksanaan

Utamakan penyebabnya

Berikan suasana tenang dan nyaman

Perlakukan bayi/anak dengan baik dan hati-hati

Kaji sifat muntah

Simptomatis dapat diberi anti emetik (atas kolaborasi dan instruksi dokter)

Kolaborasi untuk pengobatan suportif dan obat anti muntah (pada anak tidak rutin
digunakan) :

1. Metoklopramid
2. Domperidon (0,2-0,4 mg/Kg/hari per oral)
3. Anti histamin
4. Prometazin
5. Kolinergik
6. Klorpromazin
7. 5-HT-reseptor antagonis
8. Bila ada kelainan yang sangat penting segera lapor/rujuk ke rumah sakit/ yang berwenang.
Gumoh
a. Definisi.
Gumoh adalah keluarnya kembali susu yang telah ditelan ketika atau beberapa saat setelah
minum susu botol atau menyusui pada ibu dan jumlahnya hanya sedikit.
b. Etiologi
-

Anak/bayi yang sudah kenyang

Posisi anak atau bayi yang salah saat menyusui akibatnya udara masuk kedalam lambung

Posisi botol yang tidak pas

Terburu-buru atau tergesa-gesa dalam menghisap

Akibat kebanyakan makan

Kegagalan mengeluarkan udara

c.

Patofisiologi
Pada keadaan gumoh, biasanya sudah dalam keadaan terisi penuh sehingga kadang-kadang
gumoh bercampur dengan air liur yang mengalr kembali keatas dan keluar melalui mulut
pada sudut-sudut bibir. hal tersebut disebabkan karena otot katub di ujung lambung tidak bias
bekerja dengan baik yang seharusnya mendorong isi lambung ke bawah . keadaan ini juga
bias terjadi pada orang dewasa dan anak-anak yang lebih besar. Kebanyakan gumoh terjadi
pada bayi usia bulan-bulan pertama

d. Penatalaksanaan
-

Kaji penyebab gumoh

Gumoh yang tidak berlebihan merupakan keadaan yang normal pada bayi yang umurnya
dibawah 6 bulan, dengan memperbaiki teknik menyusui/memberikan susu.

Saat memberikan ASI/PASI kepala bayi ditinggikan

Botol tegak lurus/miring jangan ada udara yang terisap

Bayi/anak yang menyusui pada ibu harus dengan bibir yang mencakup rapat puting susu ibu

Sendawakan bayi setelah minum ASI/PASI

Bila bayi sudah sendawa bayi dimiringkan kesebelah kanan, karena bagian terluas lambung
ada dibawah sehingga makanan turun kedasar lambung yang luas

Bila bayi tidur dengan posisi tengkurap, kepala dimiringkan ke kanan

f.

Diagnosis banding
Gumoh berbeda dengan muntah
Gumoh terjadi karena ada udara di dalam lambung yang terdorong keluar kala makanan
masuk ke dalam lambung bayi. Gumoh terjadi secara pasif atau terjadi secara spontan.
Berbeda dari muntah, ketika isi perut keluar karena anak berusaha mengeluarkannya. Dalam
kondisi normal, gumoh bisa dialami bayi antara 1 - 4 kali sehari.
Gumoh dikategorikan normal, jika terjadinya beberapa saat setelah makan dan minum serta
tidak diikuti gejala lain yang mencurigakan. Selama berat badan bayi meningkat sesuai

standar kesehatan, tidak rewel, gumoh tidak bercampur darah dan tidak susah makan atau
minum, maka gumoh tak perlu dipermasalahkan.
3. Diare
a. Definisi
Diare adalah buang air besar dengan frekuensi 3x atau lebih per hari, disertai perubahan tinja
menjadi cair dengan atau tanpa lendir dan darah yang terjadi pada bayi dan anak yang
sebelumnya tampak sehat (A.H. Markum, 1999).
b. Etiologi
-

Bayi terkontaminasi feses ibu yang mengandung kuman patogen saat dilahirkan

Infeksi silang oleh petugas kesehatan dari bayi lain yang mengalami diare, hygiene dan
sanitasi yang buruk

Dot yang tidak disterilkan sebelum digunakan

Makanan yang tercemar mikroorganisme (basi, beracun, alergi)

Intoleransi lemak, disakarida dan protein hewani

Infeksi kuman E. Coli, Salmonella, Echovirus, Rotavirus dan Adenovirus

Sindroma malabsorbsi (karbohidrat, lemak, protein)

Penyakit infeksi (campak, ISPA, OMA)

Menurunnya daya tahan tubuh (malnutrisis, BBLR, immunosupresi, terapi antibiotik)

c. Patofisiologi
Mekanisme dasar yang dapat menyebabkan diare adalah :
a.

Gangguan ostimotik
Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat di serap oleh tubuh akan
menyebabkan tekanan osmotic dalam rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan akan
merangsang usus untuk mengeluarkan isi dari usus sehingga timbul diare.

b.

Gangguan sekresi
Akibat rangsangan tertentu, misalnya oleh toksin pada dinding usus yang akan menyebabkan
peningkatan sekresi air dan elektrolit yang berlebihan dalam rongga usus, sehingga akan
terjadi peningkatan-peningkatan isi dari rongga usus yang akan merangsang pengeluaran isi
dari rongga usus sehingga timbul diare.

c.

Gangguan molititas usus


Hiperperistaltik akan menyebabkan berkurangnya kesempatan bagi usus untuk menyerap
makanan yang masuk, sehingga akan timbul diare.tetapi apabila terjadi keadaan yang

sebaliknya yaitu penurunan dari peristaltik usus akan dapat menyebabkan pertumbuhan
bakteri yang berlebiham di dalam rongga usus sehingga akan menyebabkan diare juga.
o Pathogenesis diare akut
a)

Maksudnya jasad renik yang masih hidup kedalam usus halus setelah berhasil melewati
rintangan asam lambung.

b)

Jasad renik tersebut akan berkembang baik(multiplikasi) didalam usus halus.

c)

Dari jasad renik tersebut akan keluar toksin (toksin diaregenik)

d)

Akibat toksin tersebut akan terjadi hipersekresi yang selanjutnya akan menimbulkan diare

d. Komplikasi
-

Kehilangan cairan dan elektrolit yang berlebihan (dehidrasi, kejang dan demam)

Syok hipovolemik yang dapat memicu kematian

Penurunan berat badan dan malnutrisi

Hipokalemi (rendahnya kadar kalium dalam darah)

Hipokalsemi (rendahnya kadar kalsium dalam darah)

Hipotermia (keadaan suhu badan yang ekstrim rendah)


Asidosis (keadaan patologik akibat penimbunan asam atau kehilangan alkali dalam tubuh)

e.

Penatalaksanaan

Memberikan cairan dan mengatur keseimbangan elektrolit

Terapi rehidrasi

Kolaborasi untuk terapi pemberian antibiotik sesuai dengan kuman penyebabnya

Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan bayi untuk mencegah penularan

Memantau biakan feses pada bayi yang mendapat terapi antibiotik

Tidak dianjurkan untuk memberikan anti diare dan obat-obatan pengental feses

4. Obstipasi
a. Definisi
Penimbangan feces yang keras akibat adanya penyakit atau adanya obstuksi pada saluran
cerna. Atau bisa di definisikan sebagai tidak adanya pengeluaran tinja selama 3 hari atau
lebih.
Lebih dari 90% bayi baru lahir akan mengeluarkan mekonium dalam 24 jam pertama
sedangkan sisanya akan mengeluarkan mekonium dalam 36 jam kelahiran. Jika hal ini tidak
terjadi maka harus di pikirkan adanya obstipasi. Tetapi harus di ingat ketidakteraturan
defekasi bukanlah obstipasi pada bayi yang menyusui pada ibunya dapat terjadi keadaan

tanpa defekasi selama 5-7 hari dan tidak menunjukan adanya gangguan. Yang kemudian akan
mengeluarkan tinja dalam jumlah yang banyak sewaktu defekasi. Hal ini masih di katakana
normal. Dengan bertambahnya usia dan variasi dalam dietnya akan menyebabkan defekasi
menjadi lebih jarang dan tinjanya menjadi lebih keras. Pembagiannya dibedakan :
a.

Obstipasi akut, yaitu rectum tetap mempertahankan tonusnya dan defekasi timbul secara
mudah dengan stimulasi eksetiva, supositoria atau enema.

b.

Obstipasi kronik, yaitu rectum tidak kosong dan dindingnya mengalami peregangan
berlebihan secara kronik, sehingga tambahan feses yang datang mencapai tempat ini tanpa
meregang rectum lebih lanjut. Reseptor sensorik tidak memberikan respon, dinding rectum
lebih lanjut, reseptor sensorik tidak member ikan respon, dinding rectum faksid dan tidak
mampu untuk berkontraksi secara efektif.

b. Etiologi
a.

Kebiasaan Makan
Obstipasi dapat timbul bila tinja terlalu kecil untuk membangkitkan buang air besar. Keadaan
ini terjadi akibat dari kelaparan,dehidrasi, makanan kurang mengandung selulosa.

b. Hypothyroidisme
Obstipasi merupakan gejala dari dua keadaan yaitu kreatinisme dan myodem.dimana tidak
terdapat cukup ekskresi homone tiroid semua proses metabolism berkurang.
c.

Keadaan-keadaan mental
Factor kejiwaan memegang peranan penting terhadap terjadinya obstipasi,terutama depresi
berat sehingga tidak mempedulikan keinginannya untuk buang air besar.biasanya terjadi pada
anak usia 1-2 tahun.jika pada usia 1-2 th pernah buang air besar keras dan terasa nyeri,
mereka cenderung tidak mau BAB untuk beberapa hari,bahkan beberapa minggu sampai
bebrapa bulan sesudahnya karena takut mengalami kesukaran lagi.dengan tertahannya feses
dalam beberapa Hari/minggu/bulan akan mengakibatkan kotoran menjadi keras dan lebih
terasa nyeri lagi sehingga anak menjadi semakin malas BAB.Anak dengan keterbelakangan
mental sulit di latih untuk BAB.

d. Penyakit organis
Obstipasi bisa terjadi berganti-ganti dengan diare pada kasus carcinoma colon dan diveri
culitus.obstipasi ini terjadi bila BAB sakit dan sengaja dihindari seperti pada fistula ani dan
wasir yang mengalami thrombosis.
e.

Kelainan congenital

Adanya penyakit atresia stenosis. Mega kolon aging lionik congenital (penyakit hirschprung).
Obstruksi bolos usus illeus mekonium/ sumbatan mekonium. Hal ini di curigai pada neonatus
yang tidak mengeluarkam nekonium dalam 36 jam pertama.
f.

Penyakit lain
Misalnya karena diet yang salah tidak adanya selulosa untuk mendorong terjadinya peristaltic
atau pada anak setelah sakit / sedang sakit, dimana anak masih kekurangan cairan.

g. Patofisiologi
Pada keadaan normal sebagian rectum dalam keadaan kosong kecuali bila adanya reflex dari
kolon yang mendorong feses dalam rectum yang terjadi sekali atau duakali sehari . hal
tersebut memberikan stimulus pada arkus aferen dari refleks defekasi . dengan dirasakan
dan arkus aferen menyebabkan kontraksi otot dinding abdomen sehingga terjadilah defekasi.
Mekanisme usus yang normal terdiri dari 3 faktor :
a.

Asupan cairan yang adekuat

b. Kaget fisik dan mental


c.

Jumlah asuapan makanan yang berserat


Dalam keadaan normal,ketika bahan makanan yang akan dicerna memasuki kolon, air dan
elektrolit di absorbsi melewati membrane penyerapan. Penyerapan tersebut berakibat pada
perubahan bentuk feces dari bentuk cair menjadi bahan yang lunak dan berbentuk. Ketika
feces melewati rectum, feces menekan dinding rectum dan merangsang untuk defekasi.
Apabila anak tidak mengkonsumsi cairan secara adekuat, produk dari pencernaan akan lebih
kering dan padat, serta tidak dapat dengan segera digerakkan dengan gerakan peristaltic
menuju rectum, sehingga penyerapan terjadi secara terus menerus dan feces menjadi
semakin kering, padat dan susah dikeluarkan serta menimbulkan rasa sakit. Rasa sakit ini
dapat menyebabkan anak malas atau tidak mau BAB yang kemungkinan dapat menyebabkan
berkembangnya luka. Proses dapat terjadi bila anak kurang beraktifitas, menurunnya
peristaltic usus dan lain-lain. Hal tersebut menyebabkan sisa metabolisme berjalan lambat
yang kemungkinan penyerapan air yang berlebihan.
Bahan makanan sangat dibutuhkan untuk merangsang peristaltic usus dan pergerakan normal
dari metabolisme dalam saluran pencernaan menuju ke saluran yang lebih besar. Sumbatan
dan usus dapat juga menyebabkan obstiasi.

h. Komplikasi
a. Perdarahan
b. Ulcerasi
c. Obstruksi parsial

d. Diare intermitten
e. Distensi kolon menghilang sensasi regangan rectum yang mengawali proses defekasi.
i.

Penatalaksanaan

a.

Mencari penyebab

b.

Menegakkan kembali kebiasaan defekasi yang normal dan memperhatikan gizi, tambahan
cairan dan kondisi psikis

c.

Pengosongan rectum dilakukan jika tidak ada kemajuan setelah

dianjurkan untuk

menegakkan kembali kebiasaan defekasi biasa dengan disimpaksi digital, enema minyak
zaitun, laktasiva.
5. Infeksi
a. Definisi
Menurut kamus kedokteran infeksi merupakan penembusan dan penggandaan di dalam tubuh
dari organisme yang hidup ganas seperi bakteri, virus, dan jamur.
Infeksi adalah kolonisasi yang dilakukan oleh spesies asing terhadap organisme inang, dan
bersifat membahayakan inang. (Wikipedia bahasa Indonesia).
Sedangkan infeksi perinatal yaitu infeksi pada neonatus yang terjadi pada masa prenatal,
antenatal, intranatal dan postnatal. Infeksi pada neonatus lebih sering ditemukan pada bayi
baru lahir dan pada bayi yang lahir dirumah sakit.
Beberapa mikroorganisme tertentu dapat menyebabkan janin menderita infeksi dan
berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan janin. Kadang-kadang infeksi janin
ini tidak berhubungan dengan berat ringannya penyakit infeksi si ibu.
Infeksi pada neonatus merupakan sebab yang penting terhadap terjadinya morbiditas dan
mortalitas selama periode ini. Lebih kurang 2% janin dapat terinfeksi in utero dan 10% bayi
baru lahir terinfeksi selama persalinan atau dalam bulan pertama kehidupan. Para peneliti
menemukan tanda inflamasi pada kira-kira 25% kasus autopsi, selain ini merupakan
penyebab kedua terbanayak setelah penyakit membran hialin.
b. Etiologi
a) Infeksi kongenital/bawaan (congenital infection)
Banyak infeksi yang mengenai bayi baru lahir ditularkan dari ibu ke bayi, baik selama
kehamilan atau proses persalinan. Umumnya disebabkan virus dan parasit seperti HIV (yang
menyebabkan AIDS), rubella, cacar air, sifilis, herpes, toksoplasmosis, dan citomegali virus.
b) Streptokokus grup B

Streptokokus grup B adalah bakteri yang umum dapat menyebabkan berbagai infeksi pada
bayi baru lahir, yaitu sepsis, pneumonia dan meningitis. Bayi umumnya mendapat bakteri
dari ibu selama proses kelahiran, banyak perempuan hamil membawa bakteri ini dalam
rektum atau vagina. Ibu dapat mentransmisikan bakteri ini kepada bayi mereka jika mereka
tidak diobati dengan antibiotik.
c) Escherichia coli (E.coli)
Escherichia coli (E.coli) adalah bakteri lain sebagai penyebab infeksi pada bayi baru lahir dan
dapat mengakibatkan infeksi saluran kemih, sepsis, meningitis dan pneumonia. Setiap orang
membawa E.coli di tubuhnya dan bayi dapat terinfeksi dalam proses kelahiran saat bayi
melewati jalan lahir atau kontak dengan bakteri tersebut di rumah sakit atau rumah. Bayi baru
lahir yang menjadi sakit karena infeksi E.coli memiliki sistem kekebalan tubuh yang belum
matang sehingga mereka rentan untuk sakit.
d) Jamur candida
Pertumbuhan berlebihan dari jamur candida, jamur yang ditemukan pada tubuh setiap orang,
dapat mengakibatkan infeksi kandidiasis. Pada bayi baru lahir umumnya berupa ruam popok
(diaper rush), dapat juga berupa sariawan (oral thrush) di mulut dan tenggorokan. Infeksi ini
menyebabkan luka di sudut mulut dan bercak putih di lidah, langit-langit, bibir dan pipi
bagian dalam. Bayi baru lahir seringkali mendapat jamur ini dari vagina ibu dalam proses
kelahiran
c.

Patofisiologi
Reaksi tubuh dapat berupa reaksi lokal dan dapat pula terjadi reaksi umum. Pada infeksi
dengan reaksi umum akan melibatkan syaraf dan metabolik, pada saat itu terjadi reaksi ringan
limporetikularis di seluruh tubuh, berupa proliferasi sel fagosit dan sel pembuat antibodi
(limfosit B). Kemudian reaksi lokal yang disebut inflamasi akut, reaksi ini terus berlangsung
selama terjadi proses pengrusakan jaringan oleh trauma. Bila penyebab pengrusakan jaringan
bisa diberantas, maka sisa jaringan yang rusak disebut debris akan difagositosis dan dibuang
oleh tubuh sampai terjadi resolusi dan kesembuhan. Bila trauma berlebihan, reaksi sel fagosit
kadang berlebihan sehingga debris yang berlebihan terkumpul dalam suatu rongga
membentuk abses atau bekumpul di jaringan tubuh yang lain membentuk flegman
(peradangan yang luas di jaringan ikat). (Sjamsuhidajat R, 1997 ).
Gambaran klinis infeksi pasca bedah adalah : Rubor (kemerahan), kalor (demam setempat)
akibat vasodilatasi dan tumor (bengkak) karena eksudasi. Ujung syaraf merasa akan
terangsang oleh peradangan sehingga terdapat rasa nyeri (dolor). Nyeri dan pembengkan akan

mengakibatkan gangguan faal, dan reaksi umum antara lain berupa sakit kepala, demam dan
peningkatan denyut jantung (Sjamsuhidajat R. 1997.).
d. Penatalaksanaan
a. Apabila suhu tinggi lakukan kompres dingin
b. Berikan ASI perlahan lahan sedikit demi sedikit
c. Apabila bayi muntah, lakukan perawatan muntah yaitu posisi tidur miring ke kiri / ke
kanan
d. Apabila ada diare perhatikan personal hygiene dan keadaan lingkungan
6.

Sudden infant death syndrome (SIDS)

a. Definisi
Sindrom kematian bayi mendadak (SKBM) didefinisikan sebagai kematian mendadak pada
bayi atau pada anak kecil yang tidak terkirakan anamnemis dan tidak terjelaskan dengan
pemeriksaan postmoterm menyeluruh, yang meliputi otopsi, penyelidikan terjadinya
kematian, dan tinjauan riwayat medis keseluruhan.
b. Etiologi
Berbagai faktor genetik, lingkungan atau sosial telah dikaitkan dengan peningkatan resiko
SKBM termasuk kelahiran prematur, terutama dengan riwayat apnea, BBLR, cuaca dingin,
ibu muda yang tidak menikah, kondisi sosial ekonomi yang buruk termasuk populasi yang
padat, riwayat ibu perokok, anemia, penggunaan narkotika, cacat batang otak, fungsi saluran
nafas yang abnormal dan hiperaktif, riwayat SKBM pada saudara sekandung, riwayat
hampir hilang, atau episode SKBM yang abortif (misalnya; masa dimana bayi berhenti
bernapas, menjadi sianosis atau pucat, serta menjadi tidak responsif, tapi berhasil
diresusitasi).
c.

Patofisiologi
Temuan postmortem adalah terkait langsung dengan kelainan perkembangan batang otak dan
asfiksia kronis. Perubahan asfiksi adalah akibat kelainan yang mendasar yang menyebabkan
gangguan perkembangan batang otak atau akibat disfungsi batang otak. Berdasarkan data
postmortem dan kelainan fungsi yang ada pada bayi dengan risiko tinggi untuk SKBM,
hipotesis yang paling kuat untuk menjelaskan SKBM adalah kelainan batang otak dalam
mengendalikan kardiorespirasi.
Peningkatan risiko SKBM yang terkait dengan banyak faktor obstetri menunjukkan bahwa
lingkungan dalam rahim calon korban SKBM adalah suboptimal. Ibu merokok selama
kehamilan meningkatkan dua kali risiko SKBM, bayi dari ibu perokok juga tampak

meninggal pada umur yang lebih muda. Risiko kematian membesar secara progresif sejalan
dengan peningkatan pajanan rokok sehari-hari dan sejalan dengan menjeleknya anemia ibu.
Iskemia janin yang disebabkan oleh vasokontriksi diduga merupakan mekanisme dimana
merokok pada ibu merupakan predisposisi terjadinya SKBM.
Posisi tidur tengkurap pada bayi adalah faktor risiko bermakana untuk SKBM. Frkuensi
SKBM tiga kali lebih besar bila posisi tidur yang terutama adalah tengkurap (di atas perut)
daripada bila terlentang (di atas punggung). Program intervensi berdasarkan populasi untuk
mengurangi tidur tengkurap telah menghasilkan penurunan yang besar prevalensi tidur
tengkurap dan penurunan yang besar angka SKBM sebesar 50 % atau lebih.
d. Penatalaksanaan
Dengan kemajuan teknologi dan bertambah banyaknya orang tua yang mendapat informasi
mengenai SKBM, maka tekanan untuk memantau ventilasi dan denyut jantung semakin
meningkat. Terdapat kebutuhan untuk menentukan rentan normal dari denyut jantung, variasi
kecepatan denyut jantung, frekuensi dan lama jeda pernapasan, sehingga bayi-bayi yang
mungkin mendapat manfaat dengan pemantauan dapat diidentifikasi. Pemantauan denyut
jantung (EKG) saat ini lebih maju secara teknis dibandingkan pemantauan ventilasi
(pemantauan apnea). Pemantauan apnea tergantung pada gangguan mungkin tidak dapat
mendeteksi obstruksi saluran nafas lengkap karena bayi tetap melanjutkan gerakan-gerakan
pernapasan. Karena apnea yang serius dapat terabaikan jika hanya melakukan pemantauan
gerakan torakoabdominal saja, maka harus disertakan pula pemantauan denyut jantung.
Pada saat ini, sulit untuk memutuskan apakah pemantauan di rumah diperlukan atau
diinginkan, atau berapa lama harus dilakukan. Kesanggupan anggota keluarga untuk
menangani alat pantau serta melakukan tindakan-tindakan yang tepat terhadap alarm serta
alarm palsu merupakan faktor yang kritis dalam mengambil keputusan. Untuk saat ini, kami
yakin bahwa program pemantauan di rumah seharusnya tidak terlepas dari riset yang
mengevaluasi program tersebut beserta pengaruhnya.
Bahkan seandainya mungkin untuk pencegahan SKBM khususnya pada semua bayi beresiko
tinggi, beberapa kasus akan terjadi pada bayi yang tidak dianggap beresiko. Dengan alasan
ini dan karena menurut definisi kematian datang dengan cepat dan tanpa peringatan maka
perlu diberikan dukungan psikologi dan emosi.
7. Bercak mongol
a. Definisi

Bercak mongol atau tanda lahir yaitu kelainan kulit yang dapat timbul sejak lahir atau muncul
beberapa waktu kemudian.
b. Etiologi
Tanda lahir atau bercak mongol terjadi karena terperangkapnya sel melanosit (pigmen)
dibelakang tubuh bayi pada saat pembentukan sistem syaraf. Biasanya berwarna biru atau
hitam abu-abu seperti mirip tanda lebam.
c.

Patofisiologi
tanda lahir tidak berbahaya, akan menghilang setelah beberapa bulan atau bisa juga menetap
hingga dewasa.

d. Penatalaksanaan
Karena bercak mongol tidak berbahaya sehingga tidak perlu diberikan pengobatan, cukup
dengan tindakan konservatif saja. Namun bila dewasa telah dewasa pengobatan dapat
diberikan dengan alasan estetik bisa dianjurkan pengobatan dengan sinar laser.
8. Hemangioma
a. Definisi
Hemangioma yaitusekelompok pembuluh darah yang tidak ikut aktif dalam peredaran darah
dan ia muncul di permukaan kulit.
b. Etiologi
Hemangioma terjadi karena kelainan pembuluh darah tetapi ini tidak berbahaya dan
umumnya timbul disatu tempat seperti diwilayah leher atau kepala.
Hemangioma sendiri dikenal dalam berbagai bentuk yaitu:
Strawberry hemangioma
Cavernous hemangioma
Salmon patche
Bercak cave au lait
Nevus congenital
Akrosianosis
c.

Patofisiologi

Hemangioma biasanya tampak dipermukaan kulit, biasanya berwarna merah cerah atau
merah muda ada juga yang berwarna coklat muda/tua dan ada yang menonjol ada yang tidak.
d. Penatalaksanaan
Diberikan pengobatan apabila sudah mengganggu seperti mengganggu fungsi mulut dan
pencernaan atau mengganggu keindahan penampilan, dengan memberikan obat-obatan atau
dengan laser bahkan bila diperlukan lewat bedah plastik jika meninggalkan jaringan perut.
9. Oral trush
a. Definisi
Adalah kondidiasis membrane mukosa mulut bayi yang d tandai dengan munculnya berca
bercak keputihan yang membentuk plak-plak berkeping di mulut, ulkus dangkal, demam dan
adanya iritasi gastro interstinal.
b. Etiologi
Biasanya merupakan infeksi yang disebabkan oleh sejenisnya jamur (candida albican) yang
merupakan organism penghuni kulit dan mukosa mulut, vagina dan saluran cerna.
c.

Komplikasi
Terdapatnya lesi pada mulut yang berwarna putih dan membentuk plak-plak yang berkeping
menutupi seluruh atau sebagian lidah, kedua bibir, gusi dan mukosa pipi.

d. Penatalaksanaan
Oral trush pada umumnya bisa sembuh dengan sendirinya tetapi lebih baik jika diberikan
pengobatan dengan cara:
a.

bedakan dengan endapan susu pada mulut bayi.

b.

apabila sumber infeksi berasal dari ibu harus segera diobati dengan pemberian antibiotika
berspektrum luas.

c.

menjaga kebersihan dengan baik.

d.

bersihkan daerah mulut bayi setelah makan ataupun minum susu dengan air matang dan
bersih.

e.

pada bayi yang minum susu dengan menggunakan botol, harus menggunakan teknik steril
dalam membersihkan susu sebelum di gunakan.
Pemberian terapi pada bayi yaitu:

1. 1 ml larutan nystatin (100.000) unit 4x perhari dengan interval setiap 6 jam.


2. Larutan diberikan dengan lembut dan hati-hati agar tidak menyebar luas ke rongga mulut.
3. Gentian violet 3x perhari

10. Diaper rash


a. Definisi
Diaper rash adalah suatu keadanaan akibat dari kontak tersumenerus dengan lingkungan yang
tidak baik.
b. Etiologi
-

Kebersihan kulit bayi yang tidak terjaga, misalnya jarang ganti popok setelah bayi atau anak
kencing.

Udara/ suhu lingkungan yang terlalu panas/ lembab.

Akibat mencret.

Reaksi kontak terhadap karet, plastik dan deterjen, misalnya pampres.

c.

Komplikasi

Iritasi pada kulit yang kontak langsung , muncul erithema.

Erupsi pada daerah kontak yang menonjol, seperti pantat, alat kemaluan perut bawah, paha
atas.

Pada keadaan yang lebih parah dapat terjadi papila erythematosa vesikula uleerasi

d. Penatalaksanaan
-

Daerah yang terkena ruam popok tidak boleh terkena air dan harus dibiarkan terbuka dan
tetap kering.

Untuk membersihkan kulit yang iritasi dengan menggunakan kapas halus yang mengandung
minyak.

Segera dibersihkan dan dikeringkan bila ank kencing atau berak.

Posisi tidur anak diatur supaya tidak menekan kulit/ daerah yang iritasi.

Usahakan memberikan makanan TKTP dengan porsi cukup.

Memperhatikan kebersihan kulit dan kebersihan tubuh secara keseluruhan.

Memelihara kebersihan pakaian dan alat-alat untuk bayi.

Pakaian atau celana yang terkena air kencing harus direndam dalam air yang dicampur
acidum borium.

Kemudian dibersihkan dan tidak boleh menggunakan sabun cuci langsung dibilas dengan
bersih dan dikeringkan.

11. Seborrhea
a. Definisi

Adalah radang berupa sisik yang berlemak dan eritema pada daerah yang terdapat banyak
kelenjar sebaseanya ,biasanya di daerah kepala.
b. Etiologi
Belum diketahui secara pasti ,tetapi ada beberapa ahli yang menyatakan beberapa factor
penyebab seborrhea yaitu :
a. faktor hereditas, yaitu bisa di sebabkan karena adanya faaktor keturunan orang tua.
b. Intake makanan yang berlemak dan berkalori tinggi.
c. Asupan minuman beralkohol
d. Adanya gangguan emosi
c.

Penatalaksanaan

Secara kasual belum diketahui

Topikal, shampoo yang tidak berbusa 2-3x per minggu dan krim selemum sulfide/hg
presipirtatus

12. Miliarriasis
a. Definisi
Milliarisasis disebut juga sudamina, liken tropikus, biang keringat, keringat buntet, priekle
heat. Yaitu dermatosis yang disebabkan oleh retensi keringat tersumbatnya pori kelenjar
keringat.
b. Etiologi
-

Udara panas dan lembab

infeksi oleh bakteri

c.

Patofisiologi
Akibat tersumbatnya pori kelenjar keringat, sehingga pengeluaran keringat tertahan yang
ditandai dengan adanya vesikel miliar di muara kelenjar keringat. Kemudian akan timnul
radang dan edema akibat perspirasi yang tidak dapat keluar diabsorbsi oleh stratum korneum.
Milliarisasis sering terjadi pada bayi premature karena proses diferensiasi sel epidermal dan
apendiksnya belum sempurna. Kasus milliaria terjadi padan 40-50%bayi baru lahir. Muncul
pada usia 2-3 bulan pertama akan menghilang dengan sendirinya3-4 minggu kemudian.
Kadang-kadang kasus ini menetap untuk beberapa lama dan dapat menyebar ke daerah
sekitarnya.

d. Gejala Klinis
a.

Milliaria kritalina
Milliaria kristalina II timbul pada pasien dengan peningkat keringat seperti pasien demam di
ranjang. Lesinya berupa vesikel sangat supervisal, bentuknya kecil dan menyerupai titik

embun berukuran 1-2 mm terutama timbul setelah keringat. Vesikel mudah pecah karena
trauma yang paling ringan, misalnya akibat gesekan dengan pakaian. Vesikel yang pecah
berwarna jernih dan tanpa reaksi peradangan asimptomatik dan berlangsung singkat.
Umumnya tidak ada keluhan dan dapat sembuh dengan sendirinya.
b. milliaria rubra
Ditandai dengan adanya papula vesikel dan eritema disekitarnya. Keringat merembes le
dalam epidermis. Biasanya disertai rasa gatal dan pedih pada daerah ruam dan daerah
disekitarnya. Sering diikuti dengan infeksi sekunder lainnya dan dapat juga menyebabkan
timbulnya impetigo dan furunkel.
e.

Penatalaksanaan
Asuhan yang diberikan pada neonatus, bayi dan balita dengan milliaria tergantung pada
beratnya penyakit dan keluhan yang dialami. Asuhan yang umum diberikan adalah:

a.

Prinsip asuhan adalah dengan mengurangi penyumbatan keringat dan menghilangkan


sumbatan yang sudah timbul.

b.
c.

Memelihara kebersihan tubuh bayi


Upayakan kelembaban suhu yang cukup dan suhu lingkungan yang sejuk dan kering.
Misalnya pasien tinggal di ruang ber-AC atau didaerah yang sejuk dan kering.

d.

Gunakan pakaian yang tidak terlalu sempit, gunakan pakaian yang menyerap keringat

e.

Segera ganti pakaian yang basah dan kotor

f.

Pada milliaria rubra dapat diberikan bedak salisil 2% dan dapat ditambahkan menthol 0,5%2% yang bersifat mendinginkan ruam.

INGKUP ASUHAN NEONATUS,


BAYI DAN BALITA

Bayi Baru Lahir Normal


Bayi Baru Lahir Bermasalah
Kelainan-Kelainan Pada Bayi Baru Lahir
Trauma Pada Bayi Baru Lahir
Neonatus Beresiko Tinggi
Kegawatdaruratan
Neonatus, Bayi Dan Anak Balita Dengan Penyakit
Yang Lazim Terjadi

BAYI BARU LAHIR NORMAL


A. Definisi
Bayi lahir melalui proses persalinan sampai dengan usia 4 minggu dengan usia
gestasi 38 42 minggu dan mampu menyesuaikan diri dari kehidupan intra
uterin ke kehidupan ekstra uterin.

1.

B. Pembagian
Neonatal dini

2.

Neonatal lanjut

C. Tanda-tanda BBL Normal


1.
Berat badan 2.500 4.000 gram.
2.

Panjang badan 46 50 cm.

3.

Sudah terbentuk lapisan lemak di bawah kulit.

4.

Kulit halus dan hampir tidak ada lanugo.

5.

Terdapat verniks caseosa.

6.

Kuku melebihi ujung jari

D. Penanganan Bayi Baru Lahir


1.
Bersihkan jalan nafas
Kebanyakan bayi baru lahir akan bernafas spontan tanpa bantuan, dewasa ini
masih banyak bidan yang secara rutin berusaha keras untuk membuat bayi
bernafas, atau membersihkan jalan nafas (mengeluarkan lendir) dengan
menggunakan alat penghisap lendir. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa
sebagian besar bayi tidak memerlukan tindakan tersebut (Tyson, Silverman de
reisch, 1989). Tidak ada bukti bahwa aspirasi rutin jalan nafas BBL memberikan
keuntungan (Tyson, 1992) bahkan akan dapat membahayakan jiwa (bila tidak
dilakukan dengan benar).

Memasukkan suatu alat ke jalan nafas BBL, terutama untuk melakukan


penghisapan lendir di daerah farink harus dikerjakan dengan melihat secara
langsung (Carasco, Martell dan Estol, 1997).
2.
-

Memotong dan merawat tali pusat


Penjepitan dan pemotongan tali pusat
Untuk menjepit dan memotong tali pusat sering dikaitkan dengan manajemen
kala III dan pemberian obat oksitisoka. Diketahui bahwa saat untuk melakukan
penjepitan dan pemotongan tali pusat akan mempengaruhi jumlah darah yang
mengalir pada BBL dari sirkulasi feto-plasental (oh, blandkenship & lind, 1996).
Karena itu direkomendasikan 1 2 menit untuk memotong tali pusat, ketika tali
pusat telah berhenti berdenyut. Hal itu akan memberi kesempatan bagi bayi
untuk mendapatkan jumlah darah yang cukup dari sirkulasi plasenta sehingga
menghindari anemia pada neonatus.
Sebelumnya

orang

mengira

bahwa

penggunaan

obat

oksitosika

pada

manajemen kala III, tali pusat perlu dijepit dan dipotong segera setelah bayi
lahir. Alasannya untuk lebih cepat menjepit dan memotong tali pusat adalah
menghindari aliran darah yang berlebihan memasuki sirkulasi darah bayi, pada
saat uterus berkontraksi. Pemberian obat oksitosika menyebabkan kontraksi
uterus yang kuat dan mengakibatkan darah lebih banyak dialirkan atau
mengakibatkan tranfusi berlebih. Namun sekarang diketahui bahwa kebanyakan
BBL yang cukup umur dan sehat dapat beradaptasi baik dengan transisi ini dan
tidak akan mengalami efek samping yang membahayakan. Oleh karena itu tidak
ada keuntungan dengan menjepit dan memotong tali pusat secara dini (dunn,
frasser dan raper, 1996, dunn 1985, hofmann, 1985). Namun penjepitan dan
pemotongan secara dini dianjurkan untuk kasus tertentu, misalnya pada ibu
dengan resus negatif. Degnan menjepit dan memotong tali pusat secara dini
akan mengurangi resiko auto iminisasi pada ibu dengan resus negatif dan
mencegah transfer antibody dari sirkulasi ibu. Namun suatu studi menemukan
bahwa penjepitan dan pemotongan tali pusat dini akan berakibat darah dari
janin (plasenta) masuk kembali ke sirkulasi darah ibu yang mengakibatkan
sensitisasi lebih lanjut dan produksi antibody pada ibu lebih banyak (lapido,
1972). Penjepitan dan pemotongan tali pusat dini juga dianggap dapat
mengurangi insiden ikterus fisiologis pada BBL (prendville, harding dkk, 1985,
moss & monset couchard, 1967). Ada bukti yang menyatakan bahwa penjepitan

dan pemotongan tali pusat dini dapat menganggu pemenuhan kebutuhan


hemoglobin BBL dengan membatasi jumlah aliran darah ke BBL (hofmann,
1985). Ini sangat penting bagi BBL dengan berat lahir rendah, premature dan
sebelumnya mengalami gawat janin.
Para ahli WHO menyimpulkan : untuk persalinan normal tidak ada indikasi untuk
melakukan penjepitan dan pemotongan tali pusat dini. Dianjurkan untuk
menunda penjepitan dan pemotongan tali pusat sekurang-kurangnya 1 2 menit
untuk memungkinkan proses fisiologis yang alami, terjadi kecuali ada alasan
kuat yaitu pada resus autoimunisasi (WHO, 1996).
Banyak peneliti yang menyimpulkan bahwa perlu penelitian lebih lanjut untum
mengetahui saat yang tepat melakukan penjepitan dan pemotongan tali puat.
Karena menunda menjepit dan memotong tali pusat dapat menambah jumlah
darah yang mengalir ke bayi, maka para ahli WHO merekomendasikan bagi
negara-negara Asia Tenggara karena kejadian BBLR yang tinggi.
-

Merawat tali pusat


Banyak pendapat tentang cara terbaik untuk merawat tali pusat. Telah
dilaksanakan beberapa uji coba klinis untuk membandingkan cara penanganan
tali pusat yang berbeda-beda dan semuanya menunjuk-kan hasil yang serupa.
Suatu studi yang dilakukan oleh Brain (1993), menunjukkan bahwa dengan apus
alkohol dan diikuti taburan bedak antiseptik dapat mempercepat waktu lepasnya
tali pusat. Tapi pada suatu uji coba klinis besar, ditemukan bahwa meskipun
bedak antiseptik dapat mempercepat pelepasan tali pusat lebih dini, namun luka
bekas tali pusat tersebut lebih lama sembuhnya (mungford, somchicwong den
waterhouse, 1986).
Untuk diwaspadai bagi negara-negara yang beriklim tropis, peng-gunaan alkohol
yang populasi dan terbukti efektif, di daerah panas alkohol mudah menguap dan
terjadi penurunan efektifitasnya. Bedak antiseptik juga dapat kehilangan
efektivitasnya terutama dalam suasana kelembaban tinggi (bila tidak selalu
dijaga biar selalu dingin dan kering), sehingga penggunaan bahan tersebut
mengakibatkan peningkatan infeksi.
Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan membiarkan tali pusat
mengering, tidak ditutup dan hanya membersihkan setiap hari menggunakan air
bersih, merupakan cara paling efektif untuk

perawatan tali pusat. Penting

dinasehatkan kepada ibu dan mereka yang membantu merawat bayi agar tidak
membubuhkan apapun dan hendaknya tali pusat dibiarkan tetap terbuka dan
kering.
3.

Mempertahankan suhu tubuh bayi


Sebagian besar hanya membutuhkan ruangan yang hangat, bersih dan
observasi ketat. Segera berikan pada ibu untuk dihangatkan tubuhnya dan
mendapatkan ASI (WHO, 1998), dengan pelayanan dari petugas kesehatan yang
terlatih dan penuh perhatian. Hanya sebagian kecil BBL yang membutuhkan
bantuan dalam melewati masa transisi kehidupan ekstra uterin. Dengan
demikian penemuan secara dini dan tindak lanjut segera sangat dibutuhkan.

Memberikan ASI kepada bayi sesegara mungkin setelah lahir, idealnya 1 jam
pertama juga merupakan perlindungan efektif bagi BBL terhadap infeksi dan
membantu mencegah kehilangan panas serta penurunan kadar glukosa darah,
yang dapat mengakibatkan hipotermi (Van den bosch dan bulough, 1990,
WHO/UNICEF, 1 989).

Kehangatan merupakan masalah penting karena banyak BBL mengalami


kesulitan untuk mempertahankan suhu badannya. Oleh karena itu disarankan
agar semua BBL segera dikeringkan untuk dibungkus dengan kain yang
sebelumnya dihangatkan dahulu. Memandikan bayi sebaiknya ditunda, sampai
BBL mampu mengatur suhu tubuhnya degnan lebih baik. Penundaan dilakukan
sampai ibu telah menyusui bayinya. Beberapa ibu mungkin tidak bisa menerima
hal ini terutama telah apabila ada darah di kulit di kepala bayi.

Pada keadaan tersebut, disarankan untuk membersihkan secepatnya dengan


menggunakan air hangat/minyak, keringkan bayi dengan cepat dan bungkus
bayi (pastikan daerah kepala tertutup) dengan kain yang dihangatkan terlebih
dahulu. Kemudian berikan bayi pada ibunya untuk dipeluk atau berikan ASI pada
bayi (meskipun bayi tertutup kain, suhu tubuh ibu akan memberikan kehangatan
bagi bayi).

Sulit untuk menilai suhu tubuh bayi dengan termometer, tempat terbaik untuk
menilai apakah suhu tubuh bayi baru lahir dingin/tidak adalah dengan meraba
abdomen bayi dan merasakan dingin/tidak.

4.

Identifikasi yang cukup


Apa bayi dilahirkan di tempat bersalin yang persalinannya lebih dari satu
persalinan maka sebuah alat pengenal yang efektif harus diberikan pada setiap
BBL dan harus tetap ditempatnya sampai waktu bayi dipulangkan.

*
Peralatan identifikasi BBL selalu tersedia di tempat penerimaan pasien, di
kamar bersalin dan di ruang rawat bayi.
*
Alat yang digunakan hendaknya kebal air dengan tepi yang halus tidak
mudah melukai, tidak mudah sobek, tidak mudah lepas.
*

Pada alat/gelang identifikasi harus mencakup :

Nama (bayi, nyonya)

Tanggal lahir

Nomor bayi

Jenis kelamin

Nama lengkap ibu

*
Di setiap tempat tidur harus diberi tanda dengan mencantumkan nama,
tanggal lahir, nama identifikasi.
Sidik telapak kaki dan sidik jari ibu harus dicetak di catatan yang tidak
mudah hilang. Sidik telapak kaki bayi harus oleh personil yang berpengalaman
menerapkan cara ini dan dibuat dalam catatan bayi.
Upaya pencegahan infeksi pada BBL dapat dilakukan dengan cara sebagai
berikut :
1)

Letakkan bayi di dada ibu.

*
Kontak kulit bayi dan ibu sedini mungkin telah lahir menyebabkan terjadinya
kolonisasi mikroorganisme yang ada di kulit dan saluran cerna bayi dengan
mikroorganisme ibu (cenderung bersifat non patoge) dan zat antibody yang
sudah terbentuk dan terkandung dalam ASI.
*
Bayi akan terpapar secara dini sekaligus, terlindung dari organismeorganisme tersebut yang kekebalan aktifnya baru terbentuk di kemudian hari.
2)

Lakukan rawat gabung ibu dan bayi

*
Bayi ditidurkan di tempat tidur ibu atau berpisah, tetapi masih pada satu
ruangan dengan tujuan supaya ibu bebas dan mudah dalam merawat bayinya.
*
Membiarkan bayi dengan ibunya serta memberi kesempatan ibu merawat
bayinya dapat menghilangkan bahaya bayi terkena infeksi silang.
3)

Perawatan mata (pencegahan dan tindakan pada infeksi mata BBL)

Tanda-tanda

Terdapat tanda-tanda konjungtivitis disertai kotoran mata (pus) selama 2


minggu pertama setelah lahir.
-

Biasanya timbul 2 5 hari setelah lahir/akhir minggu ke 2 (hari ke 13)

Kedua kelopak mata bengkak

Mata merah disertai nanah/pus

Penyebab

Neiserria gonnorhoea dan clamidya trachomatis

Infeksi karena gonococcus komplikasi dapat lebih berat dan lebih cepat

Angka penularan akibat gonnorhoea dari ibu yang terinfeksi ke bayinya


sekitar 30 50%
*

Pencegahan

Cuci tangan terlebih dahulu

Bersihkan kedua mata segera setelah bayi lahir dengan kapas/sapu tangan
halus yang telah dibasahi dengan air hangat.
Berikan salep mata tetrasiklin 1% atau salep mata eritromicyn 0,5% 1 jam
setelah lahir
-

Cuci tangah

Tindakan

Adanya pus di mata BBL menunjukkan bayi menderita infeksi mata, oleh karena
itu lakukan tindakan sebagai berikut:
-

Berikan antibiotik yang sesuai setiap hari selama 5 hari

Ajarkan pada ibu cara mengobati infeksi mata : cuci tangan.

BAYI BARU LAHIR BERMASALAH

Pada umumnya bayi baru lahir mempunyai masalah yang diantaranya adalah
sebagai berikut :
1.

Bercak mongol

2.

Hemangioma

3.

Ikterik

4.

Muntah dan gumoh

5.

Oral thrush

6.

Diaper rush

7.

Seborrhea

8.

Bisulan/furunkel

9.

Milliriasis

10. Diare
11. Obstipasi
12. Infeksi
13. Bayi meninggal mendadak

KELAINAN-KELAINAN PADA BBL

Meliputi :

Gangguan pertumbuhan dan pembentukan organ tubuh anensefalo, ginjal,


tunggal, mikrosefali, mikrofialmia (ukuran lebih kecil).

Gangguan penyatuan/fusi jaringan tubuh.


Misal : labiognatopalatoksis, spina bifida (celah pada tulang belakang).

Gangguan diferensiasi organ/alat.


Misal : sindaktili, horse shoe kidney.

Gangguan menghilang/berkurangnya jaringan.


Misal : divertikulum mickel, kista brachial, kista breoglosus, sakkus hernia
inguinalis persisten dan lain-lain.

Gangguan ivaginasi jaringan.


Misal : atresia ani, atresia vagina dan lain-lain.

Gangguan migrasi suatu alat.


Misal : testis tidak turun, malrotasi usus, dll.

Gangguan pembentukan saluran-saluran.


Misal : hipospadia (saluran uretranya tidak di ujung glans penis), atresia
esofagus, dll.

Reduplikasi suatu alat.


Misal : polidaktili, double ureter, dll.

Hipertrofi suatu jaringan.


Misal : stenosis piloris kongenital, hipertrofi adrenal, dll.

Pertumbuhan yang tidak terkendali.


Misal : angioma.

Kelainan Kongenital
Etiologi :

Faktor genetik/kromosom
Misal : buta warna

Faktor mekanik/tekanan
Misal : kelainan tallipes (kaki membengkak) macam : tallipes.

Faktor infeksi
Misal : seorang ibu yang mempunyai penyakit rubella maka bayinya akan
menderita penyakit katarak.

Faktor obat
Misal : talidamit menyebabkan kematian.

Faktor umur ibu


Pada ibu yang umur > 40 tahun bila hamil maka anak yang dilahirkan akan
menderita penyakit mongolisme/sindrom down.

Faktor hormonal
Ibu pada DM (gangguan insulin) mikrosom.

Faktor radiasi

Faktor gizi

Faktor-faktor lain

Misal : hipoksia, hipotermi, hipertermi (kejang).

TRAUMA PADA BAYI BARU LAHIR

Perlukaan jaringan lunak

Perlukaan kulit.

Eritema, petekie dan ekimosis (sering terjadi pada persalinan persentasi muka).

Caput suksedaneum 2 3 hari hilang (benjolan pada kepala bagian luar).

Cephal hematoma sering pada partus dengan vacum/partus lama.

Perdarahan subponeurotik.

Trauma muskulus sterno kleidomastoideus.

Nekrosis kulit serta jaringan.

Perdarahan subkonjungtiva sembuh 1 2 minggu.

Perlukaan susunan saraf

Paralysis pleksus brakhialis (brachial palsy) lengan.

Paralysis nervus facialis (facial palsy) muka.

Paralysis nervus frenikulus diafragma (gejala dispnea).

Kerusakan medulla spinalis terjadi pada letak sungsang, presentasi muka.

Paralysis pita suara terjadi gangguan suara/avonia.

Perdarahan intrakranial

Perdarahan subdural adanya tekanan mekanik pada thorax.

Perdarahan subpendial dan perdarahan intravertikuler.

Perdarahan subarachnoid terjadi pada bayi yang mengalami anoxia,


premature.

Patah tulang

Fraktur klavikula

Fraktur humeri

Fraktur femoris

Fraktur tengkorak

Perlukaan lain

Perdarahan intra abdominal

NEONATUS BERESIKO TINGGI

Bayi beresiko tinggi adalah bayi yang mempunyai kemungkinan lebih besar
untuk menderita sakit atau kematian dari pada bayi lain. Istilah bayi beresiko
tinggi digunakan untuk menyatakan bahwa bayi memerlukan perawatan dan
pengawasan ketat. Pengawasan dapat dilakukan beberapa jam sampai beberapa
hari. Pada umumnya resiko tinggi terjadi pada bayi sejak lahir sampai usia 28
hari yang disebut neonatus. Hal ini disebabkan kondisi atau keadaan bayi yang
berhubungan dengan kondisi kehamilan, persalinan dan penyesuaian dengan
kehidupan di luar rahim.
Penilaian dan tindakan yang tepat pada bayi beresiko tinggi sangat penting
karena dapat mencegah terjadinya gangguan kesehatan pada bayi yang dapat
menimbukan cacat/kematian.

Klasifikasi Bayi Beresiko Tinggi


Bayi resiko tinggi sering diklasifikasi berdasarkan berat badan lahir, umur
kehamilan, dan adanya masalah pada fisiologi yang menyertai bayi tersebut.
Secara umum, masalah fisiologi berkaitan erat dengan status kematangan bayi
dan gangguan kimia (misalnya : hipoglikemia, hipokalsemia) dan konsekuensi
dari ketidakmatangan organ dan sistem (misalnya : hiperbilirubinemia, sindrom
gawat nafas, hipotermia).
Di bawah ini akan diuraikan penggolongan bayi resiko tinggi berdasarkan
klasifikasi di atas :
1.

Klasifikasi berdasarkan berat badan


Semua bayi yang lahir berat badannya kurang dari 2500 gram disebut BBLR
(Bayi Berat Badan Lahir Rendah).

a.

Bayi berat badan lahir amat sangat rendah, yaitu bayi yang lahir dengan berat
badan < 1000 gram.

b.

Bayi berat badan lahir sangat rendah adalah bayi yang lahir dengan berat
badan < 1500 gram.

c.

Bayi berat badan lahir cukup rendah adalah bayi yang lahir dengan berat badan
1501 2500 gram.

2.

Klasifikasi berdasarkan umur kehamilan

a.

Bayi premature adalah bayi yang lahir dengan umur kehamilan belum mencapai
37 minggu.

b.

Bayi cukup bulan adalah bayi yang lahir dengan umur kehamilan 38 42
minggu.

c.

Bayi lebih bulan adalah bayi yang lahir dengan umur kehamilan lebih dari 42
minggu.

3.
a.

Klasifikasi berdasarkan umur kehamilan dan berat badan


Bayi kecil untuk masa kehamilan (KMK) yaitu bayi yang lahir dengan
keterlambatan pertumbuhan intra-uterin dengan berat badan terletak dibawah
persentil ke 10 dalam grafik pertumbuhan intra-uterin.

b.

Bayi sesuai untuk masa kehamilan (SMK) yaitu bayi yang lahir dengan berat
badan sesuai dengan berat badan untuk masa kehamilan yaitu berat badan
terletak antara persentil ke 10 dan ke 90 dalam grafik pertumbuhan intra-uterin.

c.

Bayi besar untuk masa kehamilan yaitu bayi yang lahir dengan berat badan
lebih besar untuk usia kehamilan dengan berat badan terletak diatas persentil ke
90 dalam grafik pertumbuhan intra-uterin.

4.

Klasifikasi berdasarkan masalah patofisiologi


Semua neonatus yang lahir disertai masalah patofisiologis/mengalami gangguan
fisiologis. Secara umum, masalah fisiologis berkaitan erat dengan gangguan
kimia (misalnya : hipoglikemia, hipokalsemia) dan konsekuensi dari
ketidakmatangan organ dan sistem (misalnya : hiperbilirubinemia, sindrom
gawat nafas, hipotermia).

KEGAWATDARURATAN

Segala sesuatu yang berpengaruh tidak baik pada janin dan neonatus pada
masa kehamilan dan sesudah melahirkan yang mengakibatkan terjadinya
ganggu-an adaptasi dan juga bisa meninggal.

Kegawatdaruratan pada BBL


Kegawatdaruratan pada BBL, meliputi :
1.

Asfiksia neonaturum

2.

Sepsis neonaturum
Yaitu masuknya kuman disertai dengan manifestasi klinis, misal : panas.

3.

Hipotermi

4.

Kejang

5.

Perdarahan

Pada asfiksia bayi perlu diresusitasi karena :

10% BBL perlu bantuan untuk memulai pernafasan.

1% BBL perlu resusitasi ekstensif.

90% BBL menjalani proses adaptasi tanpa masalah.

Asfiksia lahir menjadi penyebab 19% dari 5 juta kematian neonatus/tahun di


seluruh dunia (WHO, 1995).

NEONATUS, BAYI DAN ANAK BALITA DENGAN

PENYAKIT YANG LAZIM TERJADI

Neonatus, bayi dan anak balita dengan penyakit yang lazim terjadi meliputi :
1.

Neonatus dan bayi dengan masalah serta penatalaksanaannya

Neonatus dan bayi dengan masalah meliputi :


a.

Bercak mongol

b.

Hemangioma

c.

Ikterik

d.

Muntah dan gumoh

e.

Oral thrush

f.

Diaper rush

g.

Seborrhea

h.

Bisulan/furunkel

i.

Milliriasis

j.

Diare

k.

Obstipasi

l.

Infeksi

m. Bayi meninggal mendadak


2.

Asuhan neonatus dengan jejas persalinan

a.

Caput suksedaneum

b.

Cephalhematoma

c.

Trauma pada flexus branchialis

d.

Fraktus klavikula dan fraktus humerus

3.

Neonatus dengan kelainan bawaan, meliputi :

a.

Labioskisis dan labiopalatoskisis

b.

Atresia esofagus

c.

Atresia rekti dan anus

d.

Hirschprung

e.

Obstruksi biliaris

f.

Omfalokel

g.

Hernia diafragmatika

h.

Atresia duodeni

i.

Meningokel, ensefalokel

j.

Hidrosefalus

k.

Fimosis

l.

Hipospadia

m. Kelainan metabolik dan endokrin


4.

Neonatus resiko tinggi, diantaranya :

a.

BBLR

b.

Asfiksia neonaturum

c.

Sindrom gangguan pernafasan

d.

Ikterus

e.

Perdarahan tali pusat

f.

Kejang

g.

Hypotermi

h.

Hypertermi

i.

Hipoglikemi

j.

Tetanus neonaturum

k.

Penyakit yang diderita ibu selama kehamilan

BAYI BARU LAHIR BERMASALAH


A. Bercak Mongol
Pengetian Bercak Mongol
Bercak Mongol yaitu noda yang berwarna biru atau abu-abu seperti batu
tulis, mirip tanda lebam. Dapat muncul di bagian bokong atau punggung, dan
kadang-kadang pada tungkai dan pundak, pada 9 dari 10 anak berkulit hitam,
Timur dan keturunan Indian.Noda yang tampak nyeri ini, juga sering terdapat
pada bayi keturunan.Mediterania, tapi jarang terjadi pada bayi berambut pirang
dan bermata biru.Meski seringkali tampak pada saat lahir dan hilang dalam
tahun pertama, tapi kadang-kadang tak muncul sampai beberapa waktu setelah
lahir dan atau bertahan sampai dewasa.
Perbedaan Umum Antara Bercak Mongol Dan Tanda Kulit Yang Lain
Bercak Mongol

Tanda Kulit yang Lain

Dilihat dari
warnanya :Bercak
mongol memiliki warna kebirubiruan

Dilihat dari warnanya :Tanda kulit


lain (Nevus pigmentosus) adalah
berwarna coklat kehitaman

Dilihat dari daerah pigmentasi Dilihat dari daerah pigmentasi


:Daerah pigmentasi memiliki tekstur :Daerah
pigmentasi
memiliki
kulit yang normal.
tekstur
yang
mengalami
perubahan
permukaan.
Tidak
normal karena dapat mengalami
penebalan namun tidak terlalu
berarti (Nevus pigmentosus)
Dilihat dari areanya :Dari areanya
tersering
di
daerah
belakang
(lumbal sacral) karena banyak nya
sel melanosit yang tertangkap pada

Dilihat dari areanya :Dari areanya


sering
pada
telapak
tangan,
telapak kaki dan genitalia (junction
nevi),Terdapat
pada
wajah

bagian
belakang
yang (compound nevi),Terdapat di leher
menyebabkan bercak pada bayi dan kepala (Intradermal demi)
yang sering dikenal dengan bercak
mongol.
Biasanya akan menghilang dalam
hitungan bulan atau tahun.

Tidak
ada
ditimbulkan.

komplikasi

Dihasilkan dari sel melanosit

Dilihat
dari
nyeri
:Bisa
menyebabkan nyeri dan tandatanda
inflamasi
(nevus
pigmentosus yang bisa menjadi
berbahaya )

yang Biasanya menetap (nevus ota dan


nevus ito) :Dapat menyebabkan
degenerasi
maligna,
nevus
pigmentosus pada usia 35 tahun.
Dihasilkan dari
Hemangioma

sel

nevus

B. Hemangioma
Hemangioma adalah suatu tumor jaringan lunak yang sering terjadi pada
bayi baru lahir dan pada anak berusia kurang dari 1 tahun (5-10%).Biasanya,
hemangioma sudah tampak sejak bayi dilahirkan (30%) atau muncul setelah
beberapa minggu setelah kelahiran (70%).Hemangioma muncul di setiap tempat
pada permukaan tubuh, seperti; kepala, leher, muka, kaki atau dada.Jangan
takut, umumnya hemangioma tidak membahayakan karena sebagian besar
kasus hemangioma dapat hilang dengan sendirinya beberapa bulan kemudian
setelah kelahiran.Harus diwaspadai bila hemangioma terletak di bagian tubuh
yang vital, seperti pada mata atau mulut. Hal ini dikarenakan, bila menutupi
sebagian besar tempat tersebut akan mengganggu proses makan dan
penglihatan, atau bila hemangioma terjadi pada organ dalam tubuh (usus, organ
pernafasan, otak) dapat mengganggu proses kerja organ tersebut.
Hemangioma terjadi karena adanya proliferasi (pertumbuhan yang
berlebih) dari pembuluh darah yang tidak normal, dan bisa terjadi disetiap
jaringan pembuluh darah.Hemangioma termasuk tumor jinak yang banyak
terdapat pada bayi dan anak. Hingga saat ini apa yang menjadi penyebabnya
masih belum jelas, namun diperkirakan berhubungan dengan mekanisme dari
control pertumbuhanpembuluh darah.
Bentuk Hemangioma dan letaknya:
Hemangioma Kapiler (superficial hemangioma)
Terjadi pada kulit bagian atas. Hemangioma Kapiler disebut juga Strawberry
Hemangioma (hemangioma simplek), terjadi pada waktu lahir atau beberapa
hari setelah lahir. Sering terjadi pada bayi premature dan biasanya akan
menghilang beberapa hari atau beberapa minggu kemudian. Gejalanya: tampak

bercak merah yang lama kelamaan makin besar. Lama kelamaan warnanya
menjadi merah menyala, berbatas tegas dan keras bila diraba.

Hemangioma Kavernosum
Hemangioma Kavernosum, terjadi pada kulit yang lebih dalam yaitu di bagian
dermis dan subkutis (lapisan pada kulit).Pada beberapa kasus, kedua jenis
hemangioma ini dapat terjadi bersamaan dan dinamakan Hemangioma
campuran.Hemangioma Kavernosum biasanya memiliki batas tegas, berupa
benjolan berwarna merah keunguan.Bila ditekan mengempis dan menggembung
kembali bila dilepas.Kelainan ini terdiri dari elemen vascular (pembuluh darah)
yang matang, dan terdapat pada lapisan jaringan yang dalam pada otot atau
organ dalam.Hemangioma kavernosa merupakan lesi yang dalam dan tampak
lebih difus dan lebih sakit dari pada hemangioma kapiler.Lesi bersifat kistik,
keras atau.Dapat di tekan dan kulit di atasnya tampak berwarna normal atau
kebiruan.Hemangioma
kavernosa
disertai
dengan
mikrosfali
dan
pseudepapiladema pada sindroma autosom dominan yang jarang ditemui dan
terjadi dengan frekwensi yang bervriasi pada sel 1 dan penyakit gorham.

Hemangioma campuran
Hemangioma campuran banyak ditemukan pada ekstremitas inferior (alat gerak
tubuh bagian bawah, misalnya; kaki, paha, dll), unilateral (satu sisi bagian tubuh,
misalnya; paha kiri/kanan), soliter (tunggal) dan terjadi sejak lahir atau pada
masa anak-anak.Ciri-cirinya; tonjolan bersifat lunak dan berwarna merah
kebiruan yang terletak di superficial (permukaan) dalam atau di organ dalam.

Hemangioma dan Jenisnya:

Hemangioma Intramuscular yang terjadi pada orang dewasa dengan umur


kurang dari 30 tahun, terjadi pada ekstremitas inferior (alat gerak bagian bawah)
terutama paha, terjadi perubahan warna pada permukaan kulit sekitar
hemangioma, pembesaran ekstremitas, peningkatan suhu di area hemangioma,
serta nyeri.

Choroidal Hemangioma, tumbuh dalam pembuluh darah retina yaitu di koroid,


dapat menyebabkan pelepasan jaringan retina bila terdapat kebocoran cairan,
dan terdapat di macula (pusat penglihatan). Bentuknya bulat dengan warna
merah oranye. Tumor ini bisa meluas.

Spindle cell Hemangioma, terletak dilapisan dermis atau subkutis dari


ekstremitas distal (pada tangan).

Gorham disease, menimbulkan nyeri, penderita biasanya berumur kurang dari


40 tahun. Terlihat hipervaskularisasi (peningkatan pembuluh darah) dari tulang.
Gambaran radiology pada pasien ini menunjukkan terputusnya tulang.

C. MUNTAH ATAU GUMOH

Muntah atau emesis adalah keadaan dimana dikeluarkannya isi lambung


secara ekspulsif atau keluarnya kembali sebagian besar atau seluruh isi lambung
yang terjadi setelah agak lama makanan masuk kedalam lambung. Usaha untuk
mengeluarkan isi lambung akan terlihat sebagai kontraksi otot perut.
Muntah pada bayi merupakan gejala yang sering kali dijumpai dan dapat
terjadi pada berbagai gangguan. Dalam beberapa jam pertama setelah lahir,
bayi mungkin muntah lendir, bahkan kadang-kadang disertai sedikit darah.
Muntah ini tidak jarang menetap setelah pemberian makanan pertama,
suatu keadaan yang mungkin disebabkan adanya iritasi mukosa lambung oleh
sejumlah benda yang tertelan selama proses kelahiran, jika muntahnya menetap
pembilasan lambung dengan larutan garam fisiologis akan dapat menolongnya.
Refluks gastroesofagus adalah kembalinya isi lambung kedalam esofagus
tanpa terlihat adanya usaha dari anak.
Regurgitasi adalah bila bahan dari lambung tersebut dikeluarkan melalui
mulut.Secara klinis kadang-kadang sukar dibedakan antara muntah, refluks dan
regurgitasi.Muntah sering dianggap sebagai suatu mekanisme pertahanan tubuh
untuk mengeluarkan racun yang tertelan.
D. GUMOH/REGURGITASI
Gumoh adalah keluarnya kembali susu yang telah ditelan ketika atau
beberapa saat setelah minum susu botol atau menyusui pada ibu dan jumlahnya
hanya sedikit.Regurgitasi yang tidak berlebihan merupakan keadaan normal
terutama pada bayi dibawah usia 6 bulan.
Penyebab

Anak/bayi yang sudah kenyang


Posisi anak atau bayi yang salah saat menyusui akibatnya udara masuk
kedalam lambung

Posisi botol yang tidak pas

Terburu-buru atau tergesa-gesa dalam menghisap

Akibat kebanyakan makan

Kegagalan mengeluarkan udara


`
Sebagian besar gumoh terjadi akibat kebanyakan makan atau kegagalan
mengeluarkan udara yang ditelan.Oleh karena itu, sebaiknya diagnosis
ditegakkan sebelum terjadi gumoh. Pengosongan lambung yang lebih sempurna,
dalam batas-batas tertentu penumpahan kembali merupakan kejadian yang
alamiah, terutama salam 6 bulan pertama. Namun, penumpahan kembali
tersebut diturunkan sampai jumlah yang bisa diabaikan dengan pengeluaran
udara yang tertelan selama waktu atau sesudah makan.

Dengan menangani bayi secara hati-hati dengan emghindari konflik


emosional serta dalam menempatkan bayi pada sisi kanan, letak kepala bayi
tidak lebih rendah dari badannya.Oleh karena pengeluaran kembali refleks
gastroesofageal lazim ditemukan selama masa 4-6 bulan pertama.

E. Oral Trush
Oral trush adalah adanya bercak putih pada lidah, langit langit dan pipi
bagian dalam (Wong : 1995). Bercak tersebut sulit untuk dihilangkan dan bila
dipaksa untuk diambil maka akan mengakibatkan perdarahan. Oral Trush ini
sering disebut juga denagn oral candidiasis atau moniliasis, dan sering terjadi
pada masa bayi. Seiring dengan bertambahnya usia, angka kejadian makin
jarang, kecuali pada bayi yang mendapatkan pengobatan antibiotik atau
imunosupresif (Nelson, 1994: 638)
Oral Trush ini kadang sulit dibedakan dengan sisa susu, terutama pada
bayi yang mendapatkan susu formula (Pengganti air Susu Ibu PASI). Sisa susu
yang berupa lapisan endapan putih tebal pada lidah bayi ini dapat dibersihkan
dengan kapas lidi yang dibasahi dengan air hangat.
Oral trush ini juga harus denagn stomatitis.Stomatitis merupakan
inflamasi dan ulserasi pada membran mukosa mulut. Anak yang mengalami
stomatitius biasanya tidak mau makan atau minum (M. Scharin, 1994: 448)
Penyebab
Candida albicans yang ditularkan melalui vagina ibu yang terinfeksi saat
persalinan (saat bayi baru lahir) atau transmisi melalui botol susu dan puting
susu yang tidak bersih, atau cuci tangan yang tidak benar.
Tanda dan Gejala
a. Adanya lesi (kerusakan atau kehilangan jaringan tubuh karena cedera) yang
berwarna putih yang biasanya terdapat pada lidah atau bagian dalam pipi. Lesi
ini bisa menyebar ke langit-langit, mulut, tonsil, atau bagian belakang
tenggorokan.
b. Anak kadang-kadang menolak untuk minum
F.

DIAPER RASH
Diaper rash adalah istilah umum pada beberapa iritasi kulit yang
berkembang pada daerah yang tertutup popok. Sinonim termasuk diaper
dermatitis, napkin (atau nappy) dermatitis dan dermatitis ammonia. Selain itu
ada kategori luas yang berat yang menyebabkan diaper rash, iritasi kontak
adalah yang paling banyak terjadi.
Diaper rash dapat disebabkan oleh beberapa hal di bawah ini:

1.

Gesekan, penggunaan popok atau pakaian yang ketat akan sering tergesek
dengan kulit sehingga menyebabkan ruam.

2.

Iritasi dari feses dan urine. Paparan urin dan feses yang lama dapat mengiritasi
kulit bayi yang sensitif. Bayi lebih cepat terkena diaper rash bila mengalami
pergerakan usus yang sering, karena feses lebih mengiritasi daripada urine.

3.

Pengenalan makanan baru. Bayi mulai makan makanan padat atau


diperkenalkan makanan baru,umumnya ketika berumur antara 4-12 bulan,
komposisi fesesnya berubah, kemungkinan meningkatkan resiko diaper rash.

4.

Infeksi bakteri atau jamur. Dimulai sebagai infeksi kulit yang bisa menyebar
sampai ke daerah sekitarnya.Daerah yang tertutup seperti pantat, paha, dan
genital khususnya yang mudah terserang karena hangat dan lembab membuat
bakteri dan jamur tumbuh subur.

5.

Kulit sensitif. Bayi-bayi dengan kondisi kulit seperti dermatitis atopik atau
eksema, kemungkinan dapat berkembang menjadi diaper rash.Namun, iritasi
kulit dari dermatitis atopik dan eksema biasanya tidak hanya mempengaruhi
daerah tertutup popok.

6.

Penggunaan antibiotik. Antibiotik dapat membunuh bakteri, baik flora normal


maupun bakteri patogen.Ketidakseimbangan kedua bakteri ini, dapat
menyebabkan infeksi jamur.Ini dapat terjadi ketika bayi mengkonsumsi antibiotik
atau pemberian ASI oleh ibu yang mengkonsumsi antibiotik.