Sunteți pe pagina 1din 15

ANALISIS JURNAL

REDUCING USE OF INDWELLING URINARY CATHETERS AND


ASSOCIATED URINARY TRACT INFECTIONS

RUANG EDELWAIS
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BANYUMAS

OLEH:
RISA YULIANI
PUTRI SISKA PERMANA
DESY NUR PRASETIYO

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN KEPERAWATAN
PROGRAM PROFESI NERS
PURWOKERTO
2013
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pelayanan keperawatan diberikan secara menyeluruh salah satuya
memenuhi kebutuhan eliminasi (buang air kecil). Tindakan perawat dalam hal ini
salah satuya memasang dan merawat kateter uretra sesuai dengan protap yang
berlaku.
Kateterisasi adalah mengeluarkan air kemih dari kandung kemih (vesica
urinaria) dengan memasukkan kateter steril melalui uretra. Kateterisasi harus
dilaksanakan sesuai dengan protap, ditujukan untuk mencegah infeksi saluran
kencing. Yang dimaksud infeksi saluran kencing disini merupakan infeksi
nosokomial yang disebabkan karena tindakan pemasangan dan dressing kateter
yang tidak baik atau tidak sesuai dengan protap. Kateterisasi yang tidak benar
mengakibatkan trauma pada uretra, iritasi uretra selama pemasangan akan
meninggalkan jaringan parut atau striktur uretra dan bakteri masuk ke uretra dan
kandung kemih.
Sumber infeksi yang paling banyak adalah melalui meatus, yang bisa
mengakibatkan infeksi asenden. Infeksi desenden berasal dari darah atau limfe dan
sering mengakibatkan pielonefritis infeksi pada ginjal. Hal ini menjadi infeksi
saluran kemih yang serius karena sering menyebabkan terjadinya gagal ginjal
(Comoay,1989). Infeksi saluran kemih menempati urutan ke-3 dari infeksi
nosokomial di rumah sakit. 80% lebih dari infeksi saluran kemih disebabkan oleh
kateter uretra, (Riyantinah, 1999). Kateter uretra merupakan faktor predisposisi
pencetus infeksi saluran kencing.
Infeksi saluran kencing merupakan infeksi nosokomial(akut maupun kronik)
tercatat 34,5% dari semua kasus infeksi nosokomial yang dilaporkan. Lebih dari lima
juta pasien yang memerlukan kateter uretra tiap tahunnya dan 15% dari 50% infeksi
nosokomial merupakan infeksi nosokomial karena tindakan pemasangan kateter uretra.
Infeksi saluran kecing mendominasi infeksi, lebih dari 80% yang berhubungan dengan
kateter.
Menurut penelitian Ribek (2000), menunjukkan tindakan pemasangan dan
dressing kateter yang tidak baik atau tidak sesuai dengan protap antara lain : masih ada
lama pemasangan kateter uretra lebih dari 15 hari, (Riyantinah, 1999). Menurut Firfer
pencabutan kateter uretra dilakukan pada hari keempat atau kelima.
Sedangkan Nur Alek pencabutan kateter uretra pada hari ketujuh, (Ribek, 2000)
penelitian ini menunjukkan kepatuhan dalam melaksanakan protap salah satunya
pemasangan kateter uretra belum dilaksanakan 100% dari perawat.
Keadaan yang menimbulkan infeksi saluran kencing antara lain : Kelainan
saluran kencing, air seni kembali ke saluran kencing, Paraplegia, guadripegia, sejarah
pencangkokan ginjal, sel Arit Anemia, haid, cemas tidak bisa kencing, kencing manis,
sistem kebal yang lemah, pembesaran prostat dan wanita infeksi saluran kencing.
Tanda-tanda infeksi saluran kencing : demam, menggigil, berkeringat, sakit pada perut
bawah, sakit pinggang dan terasa sakit disekitar saluran kencing.
Seharusnya kateterisasi dilakukan pada pasien atas indikasi tertentu, karena
sering menyebabkan infeksi saluran kencing.Infeksi nosokomial dapat memperpanjang
lama tinggal di rumah sakit. Rata-rata lama perawatan yang berhubungan dengan infeksi
saluran kencing 4,9 hari (Loreus,1991).

B. Rumusan Masalah
Mengetahui bagaimanakan penggunaan kateter yang baik dan aman bagi pasien
yang dirawat di Rumah Sakit.

C. Tujuan
1 Tujuan Umum
Mahasiswa Ners dan perawat mengetahui bagaimana penggunaan kateter yang
aman untuk pasien dan sesuai dengan indikasi penggunaan kateter.

2 Tujuan Khusus
a Mahasiswa mengetahui indikasi yang tepat dan tidak tepat pada pemasangan
kateter.
b Mahasiswa mengetahui tujuan dan manfaat pemasangan kateter
c Mahasiswa mengetahui mana pasien yang perlu dilakukan pemasangan
indwelling kateter atau tidak.
BAB II
RESUME JURNAL
A Isi Jurnal
Judul Jurnal : Reducing Use Of Indwelling Urinary Catheters And Associated
Urinary Tract Infections.
Penulis : Ellen H. Elpern, MSN, APN, CCNS, Kathryn Killeen, MSN, APN,
CCNS, Alice Ketchem, RN, MSN, Amanda Wiley, RN, MSN, CCRN,
Gourang Patel, PharmD,and Omar Lateef, DO
Publikasi : AJCC AMERICAN JOURNAL OF CRITICAL CARE
B Resume Jurnal
Penggunaan kateter dapat menyebabkan komplikasi. Komplikasi yang paling
sering terjadi adalah infeksi saluran kemih, dan durasi penggunaan kateter merupakan
faktor resiko utamanya. Infeksi yang muncul dapat mengakibatkan sepsis, rawat inap
berkepanjangan, biaya rumah sakit tambahan dan kematian.
Jurnal ini diteliti untuk melaksanakan dan mengevaluasi efektivitas intevensi
untuk menurunkan terjadinya infeksi sistem saluran kemih terkait penggunaan kateter di
unit perawatan intensive dengan cara mengurangi penggunaan kateter urin.
Metode yang digunakan dalam jurnal ini adalah indikasi untuk penggunaan
jangka kateter urin (dalam) dikembangkan oleh unit dokter. Untuk periode penggunaan
selama 6 bulan, pasien yang berada d ICU yang terpasang kateter dievaluasi setiap hari
menggunakan kriteria kelanjutan penggunaan kateter yang tepat. Rekomendasi dibuat
untuk menghentikan penggunaan kateter urin pada pasien yang tidak memenuhi kriteria.
Hari penggunaan penggunaan kateter urin dan tingkat infeksi saluran kemih terkait
penggunaan kateter selama intervensi dibandingkan dengan orang-orang sebelumnya 11
bulan.

Table 1
Indications for use of an indwelling urinary catheter

Appropriate indications Inappropriate indications


Obstruksi saluran kemih Inkontinensia tanpa indikasi yang tepat
retensi urin diuresis
Pasien menjalani berkepanjangan (> 2 jam) Sering, tapi tidak penting, penentuan
prosedur output urin
Baru-baru ini menjalani bedah / prosedur invasif Kekhawatiran perawat tentang
Kateter epidural di tempat ketidaknyamanan pasien
Monitoring sering (setiap 1-2 jam) output urin Diarrhea, tanpa indikasi yang tepat
diperlukan Dalam sedasi / kelumpuhan Preferensi Pasien
Tahap III atau IV kulit borok
Bedah perbaikan ulkus dekubitus
Intoleransi Gerakan karena penyakit terminal atau
kerusakan parah

Hasil dari penelitian pada jurnal ini adalah selama masa penelitian, 337 pasien
memiliki total penggunaan kateterurin selama 1432 hari. Dengan menggunakan
pedoman, durasi penggunaan berkurang secara signifikan dengan rata-rata 238,6 d/mo
dari tingkat sebelumnya 311,7 d/mo. Angka rata-rata infeksi saluran kemih sebelum
intervensi terkait penggunaan kateter per 1000 hari adalah 4,7/mo dan nol (0) selama
masa intervensi 6 bulan.
Table 2
Definition of urinary tract infections: patient must meet at least 1 of the criteria
Criteria Definition
1 Pasien memiliki setidaknya 1 dari tanda-tanda atau gejala berikut tanpa penyebab
lain yang diakui: demam, urgensi, frekuensi, disuria,atau nyeri suprapubik dan
pasien memiliki kultur urin yang menunjukkan pertumbuhan lebih dari 100 000
mikroorganisme permililiter urin dengan tidak lebih dari 2 spesies
mikroorganisme
2 Pasien memiliki minimal 2 tanda-tanda atau gejala berikut tanpa penyebab lain
yang diakui: demam, urgensi, frekuensi, disuria,
atau nyeri suprapubik dan setidaknya 1 dari berikut:
Tes positif untuk leukosit esterase dan / atau nitrit
Piuria
Organisme jelas pada pewarnaan Gram dari urine
Setidaknya 2 kultur urine dengan isolasi berulang dari uropathogen sama
dengan setidaknya 100 koloni per mililiter dalam
spesimen urine nonvoided
Kurang dari 100 000 koloni per mililiter dari uropathogen tunggal pada pasien
yang diobati dengan antimikroba yang efektif
agen untuk infeksi saluran kemih
Diagnosis Dokter dari infeksi saluran kemih
Terapi Dokter-dilembagakan untuk infeksi saluran kemih
3 Pasien telah memiliki kateter urin berdiamnya dalam waktu 7 hari sebelum
sampel diambil untuk kultur dan budaya
menunjukkan pertumbuhan lebih dari 100 000 mikroorganisme per mililiter urin
dengan tidak lebih dari 2 spesies mikroorganisme
dan pasien tidak memiliki demam, urgensi, frekuensi, disuria, atau nyeri
suprapubik

Table 3
Urinary catheter device days and rates of catheter-associated urinary tract
infections before and during the intervention period.
Variablee
Variable Before intervention During intervention
No. of device days per montha
Mean 311.7 238.6
SD 56.4 30.2
No. of infections per 1000
device days b 4.7 0
Mean 2.5 0
SD
a Significant difference (P = .01) from before to after intervention period.
b Significant difference (P < .001) from before to after intervention period.

Kesimpulan pada jurnal ini adalah pelaksanaan intervensi dalam menilai


kesesuaian penggunaan kateter sesuai indikasi yang tepat menunjukkan hasil yang
signifikan pada penurunan durasi penggunaan dan kejadian infeksi saluran kemih terkait
penggunaan kateter.
BAB III
PEMBAHASAN

Infeksi nosokomial merupakan infeksi yang didapat pasien setelah 3x24 jam
setelah dilakukan perawatan di rumah sakit. Salah satu jenis infeksi nosokomial yang
sering terjadi adalah infeksi saluran kemih. Infeksi nosokomial saluran kemih paling
sering disebabkan oleh pemasangan dower kateter yaitu sekitar 40% (Heather, M. And
Hannie, G. 2001). Dalam beberapa studi prospek, telah dilaporkan bahwa tingkat ISK
yang berhubungan dengan pemasangan dower kateter berkisar antara 9% - 23% (20).
Menurut literatur lain didapatkan pemasangan dower kateter mempunyai dampak
terhadap 80% terjadinya infeksi saluran kemih (Heather, M. And Hannie, G. 2001).
Infeksi saluran kemih merupakan berkembangbiaknya mikroorganisme di dalam
saluran kemih yang dalam keadaan normal tidak mengandung bakteri, virus maupun
organisme lain. Bakteriuria bermakna (significant bacteriuria) yaitu menunjukkan
pertumbuhan mikroorganisme (MO) murni lebih dari 105 colony forming unit (cfu/ml)
pada biakan urin. Bakteriuria bermakna mungkin tanpa disertai presentasi klinik infeksi
saluran kemih dinamakan bakteriuria asimptomatik (covert bacteriuria). Sebaliknya
bakteriuria bermakna disertai presentasi klinis infeksi saluran kemih dinamakan
bakteriuria simptomatik (Sudoyo AW, et al, 2007)
Pada orang sehat, ginjal, ureter dan kandung kemih bebas dari mikrooragnisme, namun
bakteri pada umumnya dijumpai pada uretra (saluran kemih dari kandung kemih ke
luar) bagian bawah baik pria maupun wanita, tetapi jumlahnya berkurang di dekat
kandung kemih disebabkan oleh efek antibakterial yang dilancarkan oleh selaput lendir
uretra dan seringnya epitelium terbilas oleh air seni (Lumbanbatu. MS, 2003).
Pada infeksi saluran kemih disebabkan karena meningkatnya jumlah kuman atau

bakteri yang berada pada uretra bahkan bisa sampai ke ginjal. Beberapa kuman

penyebab Infeksi Saluran Kemih tersering yaitu :


Tabel. 2.1 Kuman Penyebab Infeksi Saluran Kemih (Rahn DD,2008).

Bakteri Persen
Escherichia coli 57,5%
Klebsiella pneumoniae 12,4%
Enterococcus spp 6,6%
Proteus mirabilis 5,4%
Pseudomonas aeruginosa 2,9%
Citrobacter spp 2,7%
Staphylococcus aureus 2,2%
Enterobacter cloacae 1,9%
Coagulase-negative staphylococci 1,3%
S. Saprophyticus 1,2%
Other Klibsiella spp 1,2%
Enterobacter aerogenes 1,1%
Streptococcus agalactiae 1,0%

Infeksi nosokomial saluran kemih dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu
faktor hospes (penerima), agent infeksi (kuman / mikroorganisme), faktor durasi atau
lama pemasangan dower kateter dan faktor prosedur (pemasangan dan perawatan)
(Schaffer. 2000 dalam Kasmad,et al, 2007)
Tipe Kateterisasi

1. Kateter inweling atau intermiten untuk retensi merupakan dua bentuk insersi kateter.
Pada teknik intermiten, kateter lurus yang sekali pakai dimasukkan cukup panjang
untuk mengeluarkan urine dari kandung kemih (5-10 menit).

2. Kateter menetap atau Foley tetap ditempat untuk periode waktu yang lebih lama
sampai klien mampu berkemih dengan tuntas dan spontan atau selama pengukuran
akurat per jam dibutuhkan. Kateter foley menetap memiliki balon kecil yang dapat
digembungkan, yang melingkari kateter tepat dibawah ujung kateter. Apabila
digembungkan, balon bertahan dipintu masuk kandung kemih untuk menahan selang
kateter tetap di tempatnya. Kateter menetap untuk retensi memiliki dua atau tiga
lumen di dalam badan kateter. Satu lumen mengeluarkan urine melalai kateter ke
kantung pengumpul. Lumen kedua membawa air steril ke dan dari dalam balon saat
lumen digembungkan atau dikempeskan. Lumen ketiga dapat digunakan untuk
memasukan cairan atau obat-obatan kedalam kandung kemih. Menentukan jumlah
lumen adalah dengan menghitung jumlah drainase dan tempat injeksi pada ujung
kateter.

3. Kateter coude digunakan pada klien pria, yang mungkin mengalami pembesaran
prostat, yang mengobstruksi sebagian ureter. Kateter ini lebih kaku dan lebih midah
terkontrol daripada kateter yang ujungnya lurus.

Indikasi kateterisasi

Kateterisasi Intermiten
Meredakan rasa tidak nyaman akibat distensi kandung kemih, ketentuan untuk
menurunkan distensi

Mengambil spesimen urine yang steril

Mengkaji residu urine setelah pengosongan kandung kemih

Penatalaksanaan jangaka panjang klien yang mengalami cidera medula spinal,


degenerasi neuromuskular, atau kandung kemih yang tidak kompeten

Kateterisasi Menetap Jangka Pendek


Obstruksi pada aliran urine (mis, pembesaran prostata)

Perbaikan kandung kemih, uretra dan struktur disekelilingnya melalui pembedahan

Mencegah obstruksi uretra akibat adanya bekuan darah

Mengukur haluaran ureine padaklien yang menderita penyakit kritis

Irigasi kandung kemih secara intermiten

Kateterisasi Menetap Jangka Panjang


Retensi urine yang berat disertai ISK yang berulang

Ruam kulit, atau luka iritasi akibat kontak dengan uriene

Penderita penyakit terminal yang merasa nyeri ketika linen tepat tidur diganti

Komplikasi Pemasangan Kateter


1 Bila pemasangan dilakukan tidak hati-hati bisa menyebabkan luka dan perdarahan
uretra yang berakhir dengan striktur uretra seumur hidup
2 Balon yang dikembangkan sebelum memasuki buli-buli juga dapat menimbulkan luka
pada uretra. Karenanya, balon dikembangkan bila yakin balon akan mengembnag dalam
buli-buli dengan mendorong kateter sampai ke pangkalnya
3 Infeksi uretra dan buli-buli
4 Nekrosis uretra bila ukuran kateter terlalu besar atau fiksasi yang keliru
5 Merupakan inti pembentukan batu buli-buli
6 Pada penderita tidak sadar, kateter dengan balon terkembang bisa dicabut yang berkibat
perdarahan dan melukai uretra
7 Kateter tidak bisa dicabut karena saluran pengembang balon tersumbat

Gambar 3.1 foley kateter/indweling kateter dan kondom kateter


Setelah kita tahu bahwa pemasangan idwelling-kateter menyebabkan
bakteriuria, ISK simtomatik , atau kematian. Solusi untuk mengurangi penggunaan
idwelling-kateter yaitu dengan penggunaan kateter kondom bagi kaum pria. Hal ini
dikarenakan menurut penelitian Sanjay,et al (2006) bahwa pemasangan kondom kateter
lebih diminati oleh pasien pria dengan ikontenesia pada penderita dimentia karena lebih
nyaman, tidak merepotkan, dan tidak sakit dalam pemasangannya selain itu dalam
penelitian ini menyatkan bahwa jumalah bakteri yang muncul dalam hasil kultur lebih
sedikit dibandingkan denga yang menggunakan indwelling-kateter

BAB IV
PENUTUP

A Kesimpulan
Dari pembahasan yang telah dipaparkan dapat disimpulkan bahwa:
1 Penggunaan kateter pada pasien yang tepat (sesuai indikasi) dapat menurunkan
durasi penggunaan kateter
2 Penggunaan kateter sesuai indikasi pasien juga dapat menurunkan angka
kejadian infeksi saluran kemih yang disebabkan oleh kateterisasi.
B Saran
DAFTAR PUSTAKA

Heather, M. And Hannie, G. (2001). Penjaminan Kualitas Dalam Keperawatan :


Konsep, Metode dan Studi Kasus. Cetakan I. Alih Bahasa : James Veldman.
Jakarta. EGC.
Kasmad, Sujianto, U, Hidayati, W. (2007). Hubungan Antara Kualitas Perawatan
Kateter Dengan Kejadian Infeksi Nosokomial Saluran Kemih. Volume 1,
Nomor 1. Semarang: Program Studi Ilmu Keperawatan FK UNDIP.
Lumbanbatu. MS. (2003). Bakteriuria asimptomatik pada anak Sekolah Dasar Usia 9
12 Tahun. Medan : Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK USU,
Rahn DD. (2008)Urynari tract infection: Contemporary management. Urologic Nursing
; 28 : 333 341
Ribek, N. (2000). Analisi Lama Waktu Tindakan Keperawatan Pemasangan Kateter
dan Infus di Ruang Penyakit Dalam, Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sardjito,
Yogyakarta.
Riyantinah. (1999). Evaluasi Pelaksanaan Perawatan Kateter Uretra Menetap di
Ruang Rawat Bedah B2 RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta.
Sanjay, et al. (2006). Condom Versus Indwelling Urinary Catheters: A Randomized
Trial. J Am Geriatr Soc. 54:10551061
Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, et al. (2007).Buku ajar ilmu penyakit dalam. Jilid I.
Edisi IV. Jakarta : FKUI.