Sunteți pe pagina 1din 22

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia masih tergolong tinggi, jika
dibandingkan dengan negara lain di kawasan ASEAN. Berdasarkan Human
Development Report 2010, AKB di Indonesia mencapai 31 per 1.000 kelahiran.
Angka itu, 5,2 kali lebih tinggi dibandingkan Malaysia. Juga, 1,2 kali lebih tinggi
dibandingkan Filipina dan 2,4 kali lebih tinggi jika dibandingkan dengan
Thailand. Masalah ini harus menjadi perhatian serius. Kasus malnutrisi masih
menjadi masalah penting di Indonesia. Meski angka prevalensi malnutrisi anak
menurun, namun masih tergolong tinggi. Prevalensinya mencapai 42%, di
Srilanka yang memiliki tingkat pendapatan kotor per kapita (GDP) yang lebih
rendah daripada Indonesia, tingkat prevalensi malnutrisi anak hanya 18%. Data
Departemen Kesehatan, terdapat penurunan dalam jumlah kasus balita yang
tergolong gizi kurang dan gizi buruk. Tahun 2004, jumlah balita gizi kurang dan
gizi buruk sebanyak 5,1 juta anak. 2006, jumlah balita gizi kurang dan buruk
turun jadi 4,28 juta anak. Tahun 2007, angka kasus balita gizi kurang dan buruk
menurun menjadi 4,13 juta anak.
Angka kematian ibu dan anak di Indonesia masih menjadi salah satu yang
tertinggi di Asia. Tahun 2002, angka kematian ibu saat melahirkan mencapai 307
per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini 65 kali lebih tinggi dibandingkan
Singapura, 9,5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan Malaysia dan 2,5 kali lebih
tinggi dibanding Filipina. Rata-rata angka kematian ibu di dunia mencapai
400.000 per 100.000 kelahiran hidup. Pemerintah menargetkan untuk mengurangi
angka kematian ibu dari 390 per 100.000 kelahiran hidup (SDKI 1994) menjadi
225 per 100.000 di tahun 1999, dan menargetkan menjadi 225 per 100.000 di
tahun 2010.
Berdasarkan data demografi di Indonesia tahun 2002, sebanyak 307 ibu
meninggal dalam persalinan di setiap 100.000 kelahiran hidup dan 228 per
100.000 di tahun 2009. Bidan memiliki legitimasi dalam memberikan pelayanan
khusus kesehatan ibu, bayi dan anak merasa berkewajiban mengambil bagian
secara aktif dalam upaya penurunan angka kematian ibu dan anak. Bidan menjadi

1
bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia, terutama di
daerah-daerah yang memiliki kondisi geografis yang sulit terjangkau oleh tenaga
kesehatan lainnya. Bidan memiliki dedikasi dan komitmen yang tinggi dalam
membangun serta meningkatkan kualitas kesehatan di daerah mereka masing-
masing.
Menurut data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2007
(SDKI 2007), Angka Kematian Neonatal di Indonesia sebesar 19 kematian/1000
kelahiran hidup, Angka Kematian Bayi sebesar 34 kematian/1000 kelahiran hidup
dan Angka Kematian Balita sebesar 44 kematian/1000 kelahiran hidup.
Apabila dikelompokkan menurut wilayah pulau, nampak bahwa wilayah
Jawa-Bali merupakan kontributor terbesar terhadap angka nasional (64,6%)
sedangkan wilayah Maluku-Papua-Nusa Tenggara hanya berkontribusi sebesar
23,0%. Paling rendah adalah wilayah Kalimantan, sebesar 1,8%. Tahun 2011
Pemerintah Pusat melalui Kementerian Kesehatan telah mengalokasikan sejumlah
dana untuk pengadaan Makanan Pendamping ASI yang diberikan kepada anak
balita di seluruh Indonesia. Selain itu juga mulai tahun ini digalakkan surveilans
gizi di seluruh kabupaten kota, dan pemantauan pertumbuhan di seluruh
posyandu. Pemerintah akan menempatkan wilayah-wilayah tertentu yang
bermasalah, sebagai prioritas utama upaya penanggulangan gizi buruk.
Pada rumah sakit umum terdapat 8,76 %-30,29% bayi dan neonatal yang
masih mengalami infeksi dengan angka kematian mencapai 11,56%-49,9%.
Pengembangan perawatan yang canggih mengundang masalah baru yakni
meningkatnya infeksi nosokomial yang biasanya diakhiri dengan keadaan
septisemia yang berakhir dengan kematian (Victor dan Hans, 1997).

1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui latar belakang masalah asuhan keperawatan kelompok
balita di masyarakat.
2. Untuk mengetahui pengertian tujuan asuhan keperawatan kelompok balita
di masyarakat.
3. Untuk mengetahui ruang lingkup asuhan keperawatan kelompok balita di
masyarakat.
4. Untuk mengetahui proses keperawatan kelompok balita di masyarakat.
5. Untuk mengetahui pengembangan asuhan keperawatan kelompok balita di
masyarakat di masa yang akan dating.

2
1.3 Manfaat
1. Bagi masyarakat
Memberikan informasi kepada masyarakat tentang asuhan
keperawatan kelompok balita di masyarakat.
2. Bagi institusi pendidikan
Memberikan informasi kepada institusi tentang asuhan
keperawatan kelompok balita di masyarakat sebagai bahan kajian dan
pertimbangan dalam penerapan asuhan keperawatan kelompok balita di
masyarakat.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Balita adalah anak yang berumur 5 tahun ke bawah atau masih kecil yang
perlu tempat bergantung pada seorang dewasa yang mempunyai kekuatan untuk
mandiri. Periode 5 (lima) tahun pertama kehidupan anak sering disebut juga

3
sebagai "Masa Keemasan (golden period) atau Jendela Kesempatan (window
opportunity) atau Masa Kritis (critical period)" karena periode ini merupakan
masa pertumbuhan dan perkembangan yang paling pesat pada otak manusia, masa
yang sangat peka bagi otak anak dalam menerima berbagai masukan dari
lingkungan sekitarnya.
Asuhan keperawatan kelompok khusus balita adalah suatu bentuk
pelayanan keperawatan komprehensif yang diberikan pada kelompok balita
dengan tujuan meningkatkan kesehatan, pemeliharaan kesehatan, memaksimalkan
kemampuan balita dalam meningkatkan status kesehatan, serta meminimalkan
gangguan kesehatan yang terjadi pada balita.

2.2 Stimulasi Perkembangan Balita


Stimulasi adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk merangsang
kemampuan dasar anak agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.
Stimulasi tumbuh kembang anak dapat dilakukan oleh setiap orang yang
berinteraksi dengan anak, mulai dari ibu, ayah, pengasuh anak, anggota keluarga
lain dan kelompok masyarakat di lingkungan rumah tangga masing-masing dan
dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam melakukan stimulasi tumbuh kembang anak, ada beberapa prinsip
dasar yang perlu diperhatikan, yaitu:
1. Stimulasi dilakukan dengan dilandasi rasa cinta dan kasih sayang.
2. Selalu tunjukkan sikap dan perilaku yang baik karena anak akan meniru
tingkah laku orang-orang yang terdekat dengannya.
3. Berikan stimulasi sesuai dengan kelompok umur anak.
4. Lakukan stimulasi dengan cara mengajak anak bermain, bernyanyi, bervariasi,
menyenangkan, tanpa paksaan dan tidak ada hukuman.
5. Lakukan stimulasi secara bertahap dan berkelanjutan sesuai umur anak,
terhadap keempat aspek kemampuan dasar anak.
6. Gunakan alai bantu/permainan yang sederhana, aman dan ada di sekitar anak.
7. Berikan kesempatan yang sama pada anak laki-laki dan perempuan.
8. Anak Selalu diberi pujian, bila perlu diberi hadiah atas keberhasilannya.

2.3 Aspek yang Mempengaruhi Perkembangan

4
1. Gerak kasar atau motorik kasar adalah aspek yang berhubungan dengan
kemampuan anak melakukan pergerakan dan sikap tubuh yang melibatkan
otot-otot besar seperti duduk, berdiri, dan sebagainya.
2. Gerak halus atau motorik halus adalah aspek yang berhubungan dengan
kemampuan anak melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian
tubuh tertentu dan dilakukan oleh otot-otot kecil, tetapi memerlukan
koordinasi yang cermat seperti mengamati sesuatu, menjumput, menulis,
dan sebagainya.
3. Kemampuan bicara dan bahasa adalah aspek yang berhubungan dengan
kemampuan untuk memberikan respon terhadap suara, berbicara,
berkomunikasi, mengikuti perintah dan sebagainya
4. Sosialisasi dan kemandirian adalah aspek yang berhubungan dengan
kemampuan mandiri anak (makan sendiri, membereskan mainan setelah
bermain), berpisah dengan ibu / pengasuh anak, bersosialisasi dan
berinteraksi dengan lingkungannya, dan sebagainya.

2.4 Faktor yang Mempengaruhi Tumbang


1. Peran dalam kelompok/teman sebaya
Mempengaruhi terbesar pada perkembangannya.
Teman sebaya membolehkan individu untuk mencoba bahkan gagal
dalam keterampilan baru, mengesahkan pikiran-pikiran, perasaan-
perasaan, konsep dan konsep, menerima sambutan dan dukungan
sebagai pribadi yang unik oleh temannya.
Sebaliknya teman sebaya bisa menekan individu menjadi tidak
bergembira, sehingga menimbulkan rendah diri.
2. Kondisi fisik yang sehat
Nutrisi mereka sangat berpengaruh terhadap tumbang anak.
3. Peran dalam keluarga
Nilai-nilai, norma-norma, ide-ide dalam keluarga akan membentuk
kepribadian anak sendiri.

2.5 Masalah yang Sering Terjadi pada Balita


1. Tumbuh kembang terganggu.
2. Gizi buruk sedang-berat.
3. Diare.

2.6 Diagnosa Keperawatan yang Muncul pada Kelompok Balita

5
1. Kurang gizi berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga tentang
gizi balita.
2. Diare
a. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan berlebihan
melalui feses dan muntah serta intake terbatas (mual).
b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
gangguan absorbsi nutrien dan peningkatan peristaltik usus
c. Nyeri (akut) berhubungan dengan hiperperistaltik, iritasi fisura
perirektal.
d. Kecemasan keluarga berhubungan dengan perubahan status kesehatan
anaknya.
e. Kurang pengetahuan keluarga tentang kondisi, prognosis dan
kebutuhan terapi berhubungan dengan pemaparan informasi terbatas,
salah interpretasi informasi dan atau keterbatasan kognitif.
f. Kecemasan anak berhubungan dengan perpisahan dengan orang tua,
lingkungan yang baru.

3. ISPA
a. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan proses inflamasi
pada saluran pernafasan, nyeri.
b. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan obstruksi
mekanik dari jalan nafas oleh sekret, proses inflamasi, peningkatan
produksi sekret.
c. Cemas berhubungan dengan penyakit yang dialami oleh anak,
hospitalisasi pada anak

6
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS
BALITA

3.1 Kasus
Di kelurahan simomulyo posyandu pelangi III terdapat 66 balita yang
terdiri diri dari : 0-12 bulan = 21, 13- 36 bulan = 15, 37- 60 bulan = 30 dan
berdasarkan informasi dari kader posyandu Balita yang gizi buruk 3 orang,
Balita yang diare karena tidak cocok dengan susu formula 6 orang, Balita yang
berat badannya tidak sesuai dengan umur (Berat badan balita yang berada
digaris kuning dan digaris merah ) 5 orang. Sebagian besar ibunya bekerja
sebagai ibu rumah tangga dan kepala keluarganya sebagian bekerja di pabrik
sebagai buruh pabrik dan sebagian lagi di pemerintahan. Antar rumah saling
berdekatan sehingga jika terjadi kebaran sangat sulit buat petugas pemadam
kebakaran untuk memadamkan api, pembangunan gorong- gorong di sungai,
sehingga air di bendung dan tidak mengalir lancar, selokan di depan rumah
warga banyak yang tersumbat, jalan di depan rumah kotor, banyak kardus
basah sisa sampah banjir yang di buang sembarangan, mayoritas warga
beragama islam. Di wilayah ini memiliki 1 masjid, 1 gereja, 1 paud , 1 TK, 1
Atap SDN simomulyo, untuk beraktivitas warga menggunakan sepeda motor
untuk alat transportasi. Biasanya ibu- ibu sering mengajak balitanya naik
mobil aneka warna yang diputarkan lagu- lagu anak untuk berkeliling di
sekitar kampung dengan biaya Rp.1000 untuk 1x putaran, serta setiap minggu
pagi, ibu yang memilki balita, sering membawa balitanya jalan-jalan di pasar

7
pagi dadakan yang ada di sepanjang pintu gerbang jalan tol surabaya malang
dekat kampung warga.

3.2 Pengkajian
Di kelurahan simomulyo posyandu pelangi III.
a. Data Inti
Di kelurahan simomulyo posyandu pelangi terdapat 66 balita
Umur : 0-12 bulan = 21
: 13- 36 bulan = 15
: 37- 60 bulan = 30
Pekerjaan : sebagian besar ibu yang memiliki balita bekerja
sebagai ibu rumah tangga sedangkan kepala
keluarganya sebagian bekerja di pabrik sebagai
buruh pabrik dan sebagian lagi di pemerintahan
Agama : mayoritas islam
Data statistik : Berdasarkan informasi dari kader setempat
Balita yang gizi buruk 3 orang
Balita yang diare karena tidak cocok dengan
susu formula 6 orang
Balita yang berat badannya tidak sesuai
dengan umur (Berat badan balita yang berada
digaris kuning dan digaris merah) 5 orang
b. Data Sub Sistem
1. Lingkungan Fisik
a. Perumahan dan lingkungan: antar rumah berdekatan, tipe rumah
permanen, pembangunan gorong- gorong di sungai sehingga air di
bendung dan tidak mengalir lancar, selokan di depan rumah warga
banyak yang tersumbat, jalan di depan rumah kotor, banyak kardus
basah sisa sampah banjir yang di buang sembarangan.

8
b. Lingkungan terbuka: mayoritas tidak mempunyai halaman rumah
yang luas.
c. Kebiasaan: balita yang berumur 3660 bulan sering mengkonsumsi
makanan ringan (snack) yang biasa dibeli di warung-warung
terdekat. Serta sering mengkonsumsi mie instant.
d. Transportasi: ibu mengantarkan balita ke posyandu dengan jalan
kaki sedangkan untuk beraktivitas biasanya menggunakan sepeda
motor.
e. Pusat pelayanan: terdapat 1 posyandu dan 1 puskesmas.
f. Tempat belanja: dipasar tradisional dan mini market.
g. Tempat ibadah: 1 masjid dan 1 gereja.
2. Pelayanan Kesehatan Dan Sosial
Pelayanan kesehatan terdapat 1 posyandu dan 1 puskesmas.
3. Ekonomi
Berdasarkan hasil wawancara, penghasilan rata- rata kepala keluarga
perbulan Rp. 900.000- 1.500.000.
4. Keamanan Dan Transportasi
Bila terjadi kebakaran, mobil pemadam kebakaran kesulitan untuk
masuk di pemukiman warga karena jarak antar rumah berdekatan dan
gangnya sangat sempit. Mayoritas warga menggunakan alat
transportasi sepeda motor untuk pergi beraktivitas.
5. Pemerintahan
Posyandu pelangi III merupakan RT 03 dan RW 09 di kelurahan
simomulyo.
Kader yang dimiliki sebanyak 5 orang.
6. Politik
Pemerintah sudah memberikan pelatihan kepada kader, untuk
mengajarkan kepada ibu balita, agar segera memberikan oralit pada
balitanya yang terkena diare dan lansung di bawa ke puskesmas untuk
tindakan lebih lanjut.
7. Komunikasi

9
Komunikasi ibu yang dilakukan pada balitanya dengan komuniaksi
verbal maupun non verbal. Informasi dari RT/RW setempat dialkuakn
dengan menggunakan pengeras suara melalui siaran di masjid.
8. Pendidikan
Tingkat pendidikan orang tua balita 20 orang lulusan SD,18 orang
SMP dan selebihnya SMA/ SMK.
Terdapat 1 TK, 1 Paud, 1 atap SDN simomulyo.
9. Rekreasi
Dari hasil wawancara, ibu sering mengajak balitanya naik mobil aneka
warna yang diputarkan lagu-lagu anak untuk berkeliling di sekitar
kampung dengan biaya Rp.1000 untuk 1x putaran, serta setiap minggu
pagi, ibu yang memilki balita, sering membawa balitanya jalan-jalan di
pasar pagi dadakan yang ada di sepanjang pintu gerbang jalan tol
surabaya malang dekat kampung warga.

3.3 Analisa Data


No. Data Etiologi Masalah
1. Data dari kader Sanitasi Gangguan
terdapat 6 balita yang lingkungan yang keseimbangancairan
diare akibat pemberian kurang baik dan elektrolit pada
susu formula. balita di posyandu
Pembangunan gorong- pelangi III

gorong di sungi,
sehingga air di
bendung dan tidak
mengalir lancar,
selokan di depan
rumah warga banyak
yang ttersumbat, jalan
di depan rumah kotor,
banyak kardus basah
sisa sampah banjir

10
yang di buang
sembarangan.
2. Data dari kader terdapat 3 Kurang Gangguan
balita yang mengalami pengetahuan ibu pemenuhan
gizi buruk. tentang menu kebutuhan nutrisi
Balita yang berumur 36 seimbang. kurang dari
60 bln sering kebutuhan pada
mengkonsumsi makanan balita di posyandu
ringan (snack) yang pelangi III
biasa di beli di warung-
warung terdekat.
Serta sering
mengkonsumsi mie
instant
3. Antar rumah berdekatan, Sanitasi Resiko terjadinya
tipe rumah permanen, lingkungan yang peningkatan
pembangunan gorong- kurang baik penyakit diare pada
gorong di sungi, sehingga balita di posyandu
air di bendung dan tidak pelangi III
mengalir lancar, selokan
di depan rumah warga
banyak yang ttersumbat,
jalan di depan rumah
kotor, banyak kardus
basah sisa sampah banjir
yang di buang
sembarangan.

3.4 Diagnosa Keperawatan


1. Gangguan keseimbangancairan dan elektrolit pada balita di posyandu
pelangi III b/d sanitasi lingkungan yang kurang baik.
Ditandai dengan:

11
Data dari kader terdapat 6 balita yang diare akibat pemberian susu
formula.
Pembangunan gorong- gorong di sungai, sehingga air di bendung dan
tidak mengalir lancar, selokan di depan rumah warga banyak yang
tersumbat, jalan di depan rumah kotor, banyak kardus basah sisa
sampah banjir yang di buang sembarangan.
2. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan pada balita
di posyandu pelangi III b/d Kurang pengetahuan ibu tentang menu
seimbang. Ditandai dengan :
Data dari kader terdapat 3 balita yang mengalami gizi buruk.
Balita yang berumur 36 60 bln sering mengkonsumsi makanan
ringan (snack) yang biasa di beli di warung- warung terdekat.
Serta sering mengkonsumsi mie instant
3. Resiko terjadinya peningkatan penyakit diare pada balita di posyandu
pelangi III b/d Sanitasi lingkungan yang kurang baik.
Ditandai dengan :
Antar rumah berdekatan, tipe rumah permanen, pembangunan gorong-
gorong di sungai, sehingga air di bendung dan tidak mengalir lancar,
selokan di depan rumah warga banyak yang tersumbat, jalan di depan
rumah kotor, banyak kardus basah sisa sampah banjir yang di buang
sembarangan.

Diagnosa Pentingnya Perubahan (+) Penyelesaian Total


keperawatan penyelesaian untuk untuk Score
komunitas masalah penyelesaian di peningkatan
1. rendah komunitas kualitas hidup
2. sedang 0: tidak ada 0: tidak ada
3. tinggi 1 : rendah 1 : rendah
2 : sedang 2 : sedang
3 : tinggi
1. Gangguan 2 3 2 7
keseimbangan

12
cairan dan
elektrolit pada
balita di
posyandu
pelangi III b.d
sanitasi
lingkungan
yang kurang
baik
2. Gangguan 3 3 2 8
pemenuhan
kebutuhan
nutrisi kurang
dari
kebutuhan
pada balita di
posyandu
pelangi III b.d
Kurang
pengetahuan
ibu tentang
menu
seimbang.
3. Resiko 2 2 2 6
terjadinya
peningkatan
penyakit diare
pada balita di
posyandu
pelangi III
b.d Sanitasi
lingkungan
yang kurang

13
baik

LAMPIRAN

Identitas
Nama Balita :
Tempat/Tgl. Lahir :
Usia :
Jenis Kelamin :
Suku/Ras :
Agama :
Anak ke :
Nama ayah :
Nama ibu :
Alamat :

Berilah tanda pada kotak yang telah disediakan dan coret yang tidak perlu!
1. Apakah pendidikan terakhir Bapak/Ibu?
Tidak Sekolah SMU
SD Akademi
SMP Sarjana
2. Apakah Bapak/Ibu bekerja?
Bekerja Tidak bekerja
Apakah jenis pekerjaan Bapak/Ibu?
Buruh Wiraswasta
Swasta Tani
PNS/TNI POLRI
3. Berapakah penghasilan rata rata perbulan anda?
Kurang dari Rp. 500.000,00
Rp. 500.000,00 Rp. 1.000.000,00
Lebih dari Rp. 1.000.000,00
4. Apakah penghasilan anda mampu mencukupi kebutuhan keluarga anda?
5. Ya Tidak

5. Apakah keluarga anda menabung?


Ya Tidak
6. Bagaimanakah kepemilikan rumah yang anda tempati sekarang?
7. Sewa Milik sendiri
8. Numpang
7. Bagaimana ventilasi dan penerangan rumah anda?
6. Baik Kurang

14
Cukup
8. Dimanakah keluarga buang air besar?
Sungai WC
Selokan Dll .
9. Sembarang tempat
9. Apakah ditempat tinggal anda memiliki jamban?
10. Ya Tidak
Bila ya, apakah jenis jamban yang anda miliki?
Septictank WC cemplung
10. Berapakah jarak jamban yang anda miliki?
11. Kurang 10 m Lebih 10 m
11. Bagaimanakah penyediaan air bersih ditempat tinggal anda?
PDAM Sumur gali
Sumur pompa Mata air
12. Beli Sungai
12. Apakah lingkungan disekitar anda sering terjadi banjir?
13. Ya Tidak
13. Adakah sarana kesehatan terdekat ditempat tinggal anda?
RS Dokter praktek
Puskesmas Perawat/Bidan
Posyandu
14. Apakah anda memanfaatkan sarana kesehatan sebagaimana mestinya?
Ya Tidak

Bila tidak, alasannya?


Sulit dijangkau Dll .
Biaya
15. Darimanakah anda mendapatkan informasi kesehatan?
Mulut ke mulut Media elektronik
Media cetak Dll .
16. Apakah keluarga anda memiliki kartu jaminan kesehatan?
Jamkesmas Askes
17. Jamsostek Dll .
17. Apakah ada anggota keluarga yeng mempunyai penyakit turunan ?
Ya Tidak
Bila ya, sebutkan!
Asma Hypertensi
TBC Dll .
Kencing manis
18. Bagaimanakah imunisasi yang diberikan anak anda?
Lengkap Tidak di imunisasi
Tidak lengkap

15
19. Apakah anak memiliki KMS?
Ya Tidak
20. Apakah anda dapat membaca hasil KMS?
Ya Tidak
21. Apakah setiap bulan anda mengunjungi posyandu?
Ya Tidak
Bila ya, apakah BB anak anda?
13. Naik Turun
14. Tetap
Bila tidak, alasannya?
Jauh dari posyandu Tidak ada manfaatnya
Tidak ada waktu Dll ..
22. Bagaimana status gizi balita anda?
Baik Buruk
Sedang
23. Apakah anak anda mendapatkan makanan tambahan?
Ya Tidak
24. Apakah anak anda mendapat vit. A?
Ya Tidak
25. Apakah anak anda pernah sakit?
Ya Tidak
Bila ya, sebutkan yang paling sering diderita!
Diare Kuning
ISPA Kejang
Demam Dll .
26. Tindakan apakah yang biasanya dilakukan keluarga?
Ke dokter praktek Dibiarkan
Ke dukun Diobati sendiri
Perawat/Bidan Dll .
27. Sarana transportasi apakah yang mudah untuk menuju pusat kesehatan?
Bemo Mobil pribadi
Becak Sepeda motor
Jalan
28. Apakah anak anda sudah mengikuti program PAUD?
23. Ya Tidak
29. Apakah keluarga anda setiap bulan menyempatkan waktu berlibur?
24. Ya Tidak
30. Dimanakah tempat berlibur yang sering dikunjungi?
24. Pantai Taman bermain
25. Puncak Dll .
26. Tempat rekreasi

16
Assessment to Key Informant
Riwayat
1. Bagaimana status gizi balita di daerah anda (baik, buruk, kwashiorkor) dan
berapa jumlahnya saat ini?
2. Adakah wabah penyakit dalam kurun waktu 1 tahun terakhir yang
menyerang balita,apa wabah penyakit tersebut, bagaimana penanganannya,
dan bagaimana tingkat keberhasilan yang tercapai?
3. Pada status kesehatan balita, apa terdapat balita yang autis? Dan apakah
ada fasilitas kesehatan terdekat yang menangani atau memberikan
treatment untuk balita autis?
Demografi
1. Berapakah jumlah kelahiran balita berdasarkan jenis kelamin (laki-laki dan
perempuan) di daerah anda dalam kurun waktu tahun 2012-2013?
2. Berapakah jumlah kematian balita berdasarkan jenis kelamin (laki-laki dan
perempuan) di daerah anda dalam kurun waktu tahun 2012-2013?
Nilai dan Kepercayaan
1. Berapakah proporsi penduduk berdasarkan agamanya (Islam, Katholik,
Protestan, Hindu, Budha)?
2. Adakah kepercayaan penduduk setempat dalam penanganan kesehatan
selain dengan pengobatan konvensional? Jelaskan!
Lingkungan Fisik
1. Bagaimana gambaran umum geografi di daerah ini?
2. Bagaimana system sanitasi disekitar rumah penduduk?
Layanan Kesehatan dan Sosial
1. Dimanakah pusat layanan kesehatan terdekat di daerah ini?
2. Bagaimana partisipasi masyarakat dalam mengikuti program kesehatan
untuk balita?
3. Adakah balita yang diasuh oleh baby sister karena orang tua yang bekerja
dan berapakah prosentasinya?
4. Apakah setiap balita di daerah ini memiliki KMS?
5. Apakah setiap balita di daerah ini sudah mendapatkan imunisasi? Berikan
alasan!
6. Bagaimanakah status gizi balita di daerah ini?
Ekonomi
1. Apakah mayoritas jenis mata pencaharian penduduk disini?
Transportasi dan Keselamatan
1. Transportasi apakah yang biasa digunakan oleh penduduk disini?

17
2. Seberapa besar angka kecelakaan balita di daerah ini? Apakah
penyebabnya?
3. Bagaimana kemudahan akses dalam pertolongan pertama saat terjadi
kecelakaan?
Politik dan Pemerintahan
1. Apa sajakah peraturan yang berkaitan dengan kesehatan balita di daeran
ini?
Komunikasi
1. Bagaimanakah kemampuan masyarakat dalam mengolah info kesehatan
(Berdasarkan tingkat pendidikan)?
Pendidikan
1. Bagaimanakah gambaran tingkat pendidikan penduduk di daerah ini?
Rekreasi
1. Apakah di daerah ini terdapat fasilitas umum yang dapat digunakan untuk
rekreasi keluarga?

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Jumlah balita yang meningkat saat ini akan mempengaruhi berbagai aspek
kehidupan baik fisik, mental maupun sosial ekonomi. Untuk itu perlu pengkajian
masalah balita yang lebih mendasar agar tercapai tujuan pembinaan kesehatan
balita yaitu mewujudkan derajat kesehatan serta optimal. Dalam peningkatan

18
peranan serta masyarakat dapat dilaksanan dengan bentuk penyuluhan kesehatan
yang melibatkan masyarakat dalam perencanaan, pelaksanan dan penilaian upaya
kesehatan kelompok balita dalam rangka menciptakan kemandirian masyarakat.

4.2 Saran
Harapan kepada masyarakat, agar balita tetap menjadi bagian dari
masyarakat. Sebab generasi penerus bangsa tergantung dari proses pertumbuhan
dan perkembangan saat usia balita karena usia balita merupakan golden period.
Agar pemberdayaan dapat berhasil maka seluruh komponen bangsa harus ambil
bagian mulai departemen/kementerian/instansi, organisasi profesi, yayasan,
institusi masyarakat, PKK, Posyandu, Karang Taruna, PAUD dan seluruh petugas
lapangan dari jajaran instansi pemerintah serta anggota masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Ican. 2011. Askep Komunitas. www.google.com. Diakses pada tanggal 28 Maret


2013 pukul 15.23 WIB.
Nurse, Sobat. 2011. Askep Komunitas pada Balita. www.google.com. Diakses
pada tanggal 28 Maret 2013 pukul 15.19 WIB.
Santosa, Sugeng. 2004. Kesehatan dan Gizi. Jakarta : PT.Rieneka Cipta.

19
Sudiyanto. 2009, Dalam Membina Anak dalam Mencapai Cita-citanya. Tumbuh
Kembang Anak. Fakultas Kedokteran UI.
Teten, Wahyu. 2012. Asuhan Keperawatan Komunitas Kelompok Balita di
Masyarakat. www.google.com. Diakses pada tanggal 28 Maret 2013 pukul
15.22 WIB.
Yu. H.Y. Victor & Hans E. Monintja. 1997. Beberapa Masalah Perawatan
Intensif Neonatus. Jakarta : Balai penerbit FKUI.

MAKALAH
COMMUNITY HEALTH NURSING III
ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS
PADA BALITA

20
Disusun Oleh :
KELOMPOK 4
1. ISFARAYINI SYABANDIAH (0901.14201.006)
2. KIKI WULANDARI (0901.14201.007)
3. OSSILIA TRI SUSANTI (0901.14201.010)
4. YONGKI WOBOWO (0901.14201.015)

PROGRAM STUDI S-1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
WIDYAGAMA HUSADA MALANG
2013

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan rasa syukur kepada Allah SWT, karena dengan


segala keagungan-Nya yang telah melimpahkan begitu banyak kenikmatan
sehingga akhirnya penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul
Asuhan Keperawatan Komunitas pada Balita.
Bersama ini perkenankanlah saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-
besarnya kepada:

21
1. Dra. Laily Amie, MMRS, selaku Direktur STIKES Widyagama Husada
Malang.
2. Elief, S.Kep, Ns., selaku pembimbing.
3. Kedua orang tua yang telah memberikan dukungan baik materi maupun
moril.
4. Teman teman yang telah membantu dalam proses pembuatan makalah
ini sehingga dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan makalah ini
masih jauh dari sempurna. Untuk itu kami harapkan kritik dan saran yang sangat
bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya.

Malang, Maret 2013

Penulis

22