Sunteți pe pagina 1din 10

A.

Pengertian Dampak Lingkungan


Dampak lingkungan dapat diartikan sebagai perubahan yang dialami oleh
suatu komponen lingkungan tertentu pada ruang dan waktu tertentu sebagai akibat
adanya kegiatan tertentu. Kegiatan ini dapat bersifat alami, seperti letusan gunung
merapi, gempa bumi, semburan gas beracun dari kawah dan lain sebagainya, yang
pada dasarnya mengakibatkan perubahan yang cukup mendasar pada lingkungan
disekitarnya. Kegiatan yang menimbulkan dampak juga dapat disebabkan oleh
kegiatan manusia, seperti misalnya pembangunan industri pupuk, pembangunan
waduk, atau pembangunan pemukiman transmigrasi.
Dalam proses AMDAL dampak lingkungan yang dikaji adalah dampak
lingkungan yang akan timbul akibat adanya kegiatan yang direncanakan oleh
manusia, yang dalam hal ini sering diistilahkan sebagai (proyek) pembangunan.
Di dalam analisis dampak lingkungan dikenal dua jenis pengertian atau batasan
tentang dampak lingkungan, yakni (Soemarwoto, 1988):
a. Dampak (proyek) pembangunan terhadap lingkungan adalah perbedaan antara
kondisi lingkungan sebelum ada proyek dan yang diprakirakan akan terjadi
setelah ada (proyek) pembangunan,
b. Dampak pembangunan terhadap lingkungan adalah perbedaan antara kondisi
lingkungan yang diprakirakan akan terjadi tanpa adanya (proyek)
pembangunan dan yang diprakirakan akan terjadi dengan adanya (proyek)
pembangunan tersebut.
Secara umum dampak lingkungan dikategorikan atas dampak primer dan
dampak sekunder. Dampak primer umumnya timbul sebagai akibat adanya
pengunaan bahan baku/input produksi dan atau kegiatan konstruksi suatu proyek.
Sedang dampak sekunder umumnya timbul sebagai akibat adanya proses atau
produk (product) dari rencana kegiatan. Dampak primer umumnya relatif lebih
mudah diukur, sedang dampak sekunder lebih sulit. padahal umumnya dampak
sekunder inilah yang sering lebih nyata (signifi cant) dibandingkan dengan
dampak primer. Sebagai contoh, dampak primer suatu kegiatan adalah perubahan
komposisi jenis vegetasi, namun dampak sekundernya jenis satwa liar.

B. Prinsip Dasar Prakiraan Dampak


Prinsip Dasar Prakiraan Dampak Soeratmo (1990), mempertelakan
beberapa prinsip dasar prakiraan dampak lingkungan dalam uraian berikut ini.
Dalam pengukuran dampak lingkungan yang akan terjadi dimasa yang akan
datang, besarnya akan banyak ditentukan oteh waktu atau lamanya dampak
terjadi. Perlu diperjelas untuk waktu kapan atau jangka waktu beberapa lama
dampak tersebut akan diduga. Untuk waktu yang berbeda tentu dampaknya akan
berbeda besarnya. Misalnya dampak pada waktu 5 tahun, 10 tahun, 20 tahun, 50
tahun yang akan datang atau sering digunakan istilah jangka pendek dan jangka
panjang, tentu hasilnya akan berbeda.
Dalam studi ANDAL, prakiraan dampak merupakan suatu proses untuk
menduga/mengantisipasi respon atau perubahan suatu kondisi lingkungan tertentu
akibat adanya rencana kegiatan tertentu, yang berlangsung pada ruang dan waktu
tertentu. Sebagai contoh dampak penambangan batubara terhadap vegetasi, erosi,
kualitas air, dan pendapatan masyarakat. Terhadap kegiatan penambangan
batubara tersebut masing-masing komponen lingkungan tersebut (vegetasi, erosi,
kualitas air, pendapatan masyarakat) pada ruang dan waktu tertentu, memberi
respon/perubahan yang berbeda-beda.
Tampak bahwa dalam memprakirakan dampak lingkungan terkandung
makna analisis prakiraan atas besaran dampak lingkungan (magnitude of impact).
Dapat dikatakan prakiraan dampak merupakan salah satu titik kritis dalam proses
penyusunan ANDAL. Sehingga prakiraan dampak merupakan trade mark dalam
dokumen ANDAL, dan merupakan ciri pembeda dengan dokumen-dokumen riset
lainnya. Dapat dipahami bila Beanlands dan Duinker (1983) menjuluki prakiraan
dampak ini sebagai urat Achilles dari studi ANDAL.
Ada 3 (tiga) prinsip dasar yang perlu diketahui dalam melakukan prakiraan
dampak lingkungan, termasuk dalam hal ini prakiraan dampak aspek sosial, yakni:
Prinsip 1, Merujuk pada batasan tentang dampak lingkungan yang digunakan
dalam AMDAL, maka prakiraan dampak lingkungan harus dilakukan dengan
pendekatan Dengan dan Tanpa Proyek. Dengan pendekatan ini pakar ilmu
sosial yang terlibat dalam penyusunan AMDAL tidak hanya memprakirakan
kondisi sosial/ ekonomi/budaya yang akan terjadi bila ada proyek
pembangunan, tetapi juga harus memprakirakan kondisi
sosial/ekonomi/budaya bila tanpa ada proyek pembangunan. Ini sungguh
merupakan suatu tantangan karena umumnya pakar ilmu sosial relatif lebih
mengetahui perilaku perubahan sosial akibat adanya proyek pembangunan,
ketimbang memprakirakan perubahan yang akan terjadi bila tanpa ada proyek
pembangunan.
Prinsip 2, Keterkaitan dengan dokumen Kerangka Acuan (KA). Prakiraan
dampak lingkungan yang tertuang di dalam dokumen ANDAL harus
difokuskan pada setiap komponen lingkungan yang menurut dokumen KA
berpotensi mengalami perubahan mendasar. Sebagai misal, dalam dokumen
KA teridentifi kasi bahwa 5 komponen aspek fi sik-kimia, 3 komponen aspek
biota, dan 6 komponen aspek sosial diduga akan terkena dampak penting
(berubah mendasar); maka prakiraan dampak harus difokuskan ke setiap
komponen dari 14 komponen lingkungan yang tercantum di dalam dokumen
KA. Apabila dalam studi ANDAL ternyata dijumpai bahwa hanya 12
komponen lingkungan yang berpotensi terkena dampak penting, sehingga
berbeda dengan yang tercantum dalam dokumen KA, maka perbedaan tersebut
perlu diutarakan/dibahas di dalam dokumen ANDAL.
Prinsip 3, Keterkaitan antar komponen lingkungan yang terkena dampak.
Mengingat dampak lingkungan pada dasarnya saling terkait dan pengaruh
mempengaruhi satu sama lain (lihat Lembar Informasi 3 dari bahan ajar 1,
tentang Karakteristik Dampak Sosial); maka dalam melakukan prakiraan
dampak hal ini harus diperhatikan benar karena analisa dilakukan oleh tenaga
ahli yang bidangnya berbeda-beda. Disinilah peranan Ketua Tim Studi
AMDAL: senantiasa menjaga keterkaitan antar dampak lingkungan yang
ditelaah.

C. Lingkungan Kajian Prakiraan Dampak


Dalam prakiraan dampak lingkungan terkandung dua macam kajian, yakni:
a) Prakiraan atas seberapa besar perubahan atau dampak lingkungan (magnitude
of impact) yang akan timbul sebagai akibat adanya proyek.
b) Evaluasi atas mendasar tidaknya atau penting tidaknya dampak lingkungan
yang akan timbul bagi kehidupan sosial, ekonomi, budaya, kesehatan dan
ekologi.
Kajian yang pertama pada dasarnya bertujuan untuk menjawab pertanyaan:
apakah dampak yang akan timbul berskala besar atau kecil (big or little magnitude
of impact), dan bersifat positif atau negatif? Sedangkan kajian yang kedua
berkenaan dengan seberapa jauh perubahan atau dampak lingkungan yang akan
timbul itu bersifat penting atau mengubah secara mendasar aspek-aspek tertentu
dari kehidupan sosial, ekonomi, budaya, kesehatan dan ekologi. Dengan perkataan
lain kajian tentang penting dampak berkenaan dengan sejauh mana kepentingan
manusia dan kepentingan kehidupan ekologi berubah mendasar sebagai akibat
adanya proyek.

D. Prakiraan (Besar) Dampak


Berdasarkan Prinsip Pertama tersebut, maka untuk mengetahui seberapa
besar dampak lingkungan yang akan timbul pada dasarnya harus diukur selisih
antara:
Kondisi lingkungan sosial tertentu yang diprakirakan akan terjadi di waktu
mendatang sebagai akibat adanya proyek (sebagai misal, tingkat pendapatan
penduduk sekitar proyek tujuh tahun setelah proyek beroperasi) Kondisi
lingkungan yang diprakirakan akan terjadi di ruang dan waktu tertentu tanpa
adanya kegiatan proyek (sebagai misal, tingkat pendapatan penduduk pada
tujuh tahun mendatang bila tidak ada proyek). Untuk memudahkan prakiraan
kondisi lingkungan tanpa proyek di masa mendatang, umumnya para
penyusun AMDAL mengasumsikan kondisi lingkungan di masa mendatang
dipandang sama atau konstan dengan situasi sebelum ada proyek.
Hal lain yang perlu diketahui adalah, prakiraan dampak sangat terkait dengan
dimensi ruang dan waktu berlangsungnya dampak. Sehingga dapat dikatakan
dampak lingkungan suatu rencana usaha/kegiatan bersifat unik dan khas,
yakni hanya berlaku untuk ruang dan waktu tertentu akibat aktivitas tertentu
dari rencana usaha/kegiatan.
Sehingga dalam konteks prakiraan dampak aspek sosial harus dapat dianalisis:
1. Siapa yang terkena dampak (who are going to be aff ected). Siapa menunjuk
pada berapa orang yang terkena, ciri-ciri mereka bagaimana (umur, pekerjaan,
tingkat kerentanan dan sebagainya). Siapa disini juga bisa menunjukkan satuan
analisa: individu, keluarga atau masyarakat.
2. Dalam bentuk apa (in what way) mereka terkena dampak. Misalnya, penduduk
yang tinggal disepanjang rute menuju ke proyek, akan terkena dampak dari
aktivitas transportasi peralatan. Aktivitas ini akan menimbulkan bising dan
debu.
3. Berapa lama dampak itu berlangsung. Dampak bising dan debu akan
berlangsung selama masa konstruksi. Penyusun studi bisa menghitung berapa
lama masa konstruksi itu berjalan.
Langkah prakiraan atau proyeksi sangat dekat dengan pelingkupan dan
identifi kasi rona lingkungan. Dalam pelingkupan, para peneliti menentukan ruang
lingkup studi (space and time boundaries, key topics dan unit of analysis) melalui
pengkajian kegiatan proyek dan kondisi masyarakat. Jika para peneliti telah
melakukan dua proses ini dengan baik, tahap prakiraan dampak akan mudah
dilakukan. Prakiraan dampak lingkungan memiliki perbedaan yang mendasar
dengan evaluasi dampak lingkungan. Bila dalam prakiraan dampak lingkungan
yang diteliti adalah: respon atau perubahan setiap komponen lingkungan
lingkungan yang berpotensi terkena dampak, maka dalam evaluasi dampak
lingkungan yang dikaji adalah totalitas respon dari berbagai komponen
lingkungan yang pada ruang dan waktu tertentu terkena dampak dari proyek.

E. Evalusi Dampak
Evaluasi dampak sering diartikan sebagai penilaian terhadap sesuatu
perubahan yang terjadi sebagai akibat suatu aktivitas tersebut dapat bersifat
alamiah baik kimia, fisik maupun biologi.
Dampak dapat dievaluasi secara informal dan formal
a) Metode Informal
Metode Informal yang sederhana ialah dengan memberi nilai variabel,
misalnya kecil, sedang, dan besar. Cara lain ialah dengan memberi skor,
misalnya dari 1 (satu) sampai 5 (lima) tanpa patokan yang jelas. Namun
metode ini tidak memberi pegangan cara untuk mendapatkan nilai penting
dampak. Karena itu disinipun terjadi fluktuasi yang besar antara anggota tim
dan pemberian nilai. Kadar subyektivitas evaluasi itu tinggi. Misalnya,
seorang pejabat Direktorat Jendral Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam
(PHPA) akan cenderung untuk memberikan nilai penting yang lebih tinggi
untuk dampak margasatwa daripada seorang pejabat Direktorat Jenderal
Industri Dasar.
b) Metode Formal
Metode formal dapat dibedakan dalam:
Metode Pembobotan
Dalam sistem ini dampak diberi bobot dengan menggunakan metode yang
ditentukan secara eksplisit. Sebuah contoh ialah sistem pembobotan menurut
Battelle utnuk pengembangan sumberdaya air (Dee.el.al.1973). Dalam sistem
Battelle ini lingkungan dibagi dalam empat kategori utama, yaitu ekologi,
fisik/ kimia, estetik, dan kepentingan manusia/ sosial. Masing-masing
kategori terdiri atas komponen. Misalnya, komponen dalam katergori ekologi
ialah jenis dan populasi teresterial. Selanjutnya komponen dibagi dalam
indikator dampak. Contoh indikator dampak dalam komponen jenis dan
populasi teresterial ialah tanaman pertanian dan vegetasi alamiah. Masing-
masing kategori, komponen dan indikator dampak dinilai pentingnya relatif
terhadap yang lain dengan menggunakan angka desimal antara 0 dan 1.
Angka dalam sistem evaluasi lingkungan Battelle diragukan kegunaannya
diIndonesia, karena sistem nilai kita berbeda dengan di Amerika serikat. Namun
demikian metode untuk mendapatkan bobot dalam sistem evaluasi lingkungan itu
kiranya pantas untuk diteliti kegunaannya di Indonesia. Sudah barang tentu
kategori, komponen dan indikator serta peruntukannya harus disesuaikan dengan
keadaan di Indonesia. Mongkol (1982) membuat modifikasi sistem evaluasi
lingkungan Battelle. Pertama fungsui nilai tidaklah dibuat dari grafik mutu
lingkungan terhadap indikator dampak, melainkan grafik mutu lingkungan
terhadap M/S, M ialah indikator dampak dan S adalah batas maksimum atau
minimum indikator dampak yang tidak boleh dilampaui.
Modifikasi kedua ialah Mongkol tidak menggunakan biaya lingkungan netto
atau manfaat lingkungan netto.
Agar operasi matematik dapat dilakukan dalam metode pembobotan, metode itu
harus menggunakan skala interval atau skala nisbah.
Metode Ekonomi
Metode ini mudah diterapkan pada dampak yang mempunyai nilai uang.
Untuk dampak yang mempunyai nilai uang penerapan metode ini masih
mengalami banyak kesulitan. Cara yang umum dipakai ialah untuk memberikan
harga bayangan (shadow price) pada dampak tersebut. Harga bayangan itu
didasarkan pada kesediaan orang atau pemrintah untuk membayar / untuk
menerima biaya ganti rugi untu lingkungan yang terkena dampak tersebut.
Misalnya pemerintah mengalokasikan anggaran belanja tertentu untuk penjagaan
dan pemeliharaan cagar alam dan taman nasional. Demikian pula orang bersedia
untuk mengeluarkan biaya untuk mengunjungi suatu cagar alam atau taman
nasional. Besarnya anggaran belanja atau biaya perjalanan tersebut merupakan
harga bayangan cagar alam, yaitu nilai yang diberikan oleh pemerintah/ orang
kepada cagar alam itu.
Dalam hal lingkungan yang tercemar biaya deperlukan untuk membersihkan
lingkungan dari pencemaran, biaya itu makin tinggi, dengan demikian tingginya
tingkat kebersihan yang dikehendaki masyarakat.
Pada prinsifnya dampak pada manusia dapat pula diberi harga bayangan.
Misalnya, harga bayangan untuk dampak kesehatan dapat dihitung berdasarkan
upah yang hilang dan atau biaya pengobatan. Demikian pula biaya yang
dikeluarkan pemerintah untuk dampak kesehatan dapat dihitung berdasarkan upah
yang hilang dan atau biaya pengobatan. Demikian pula biaya yang dikeluarkan
pemerintah untuk pelayanan kesehatan, misalnya vaksinasi, dapat disebut pula
sebagai harga membayar perlindungan jiwa dari kematian. Banyak tantangan
masih diberiklan terhadap pemberian nilai uang pada lingkungan terutama pada
jiwa dan kesehatan manusia, tantangan itu terutama berkaitan dengan masalah
etik.

F. Evalusai Sifat Penting Dampak


Evaluasi terhadap sifat penting dampak merupakan hal yang lebih subyektif
dibanding prakiraan (besar) dampak. Sebab dampak lingkungan yang berskala
besar (big magnitude of impact), belum tentu mengakibatkan perubahan yang
mendasar atau penting (importance) pada aspek-aspek tertentu dari kehidupan.
Sebaliknya, dampak lingkungan yang berskala kecil (little magnitude of impact)
dapat saja merubah secara mendasar kehidupan sosial, ekonomi, budaya dan
ekologi di sekitarnya.
Hal tersebut tidak lain karena penilaian atas pentingnya dampak merujuk
pada pengertian sejauh mana dampak lingkungan yang timbul bersifat mendasar
atau penting bagi stabilitas dan kepulihan ekosistem (ecological importance), serta
bagi kehidupan sosial ekonomi dan budaya masyarakat (social importance). Setiap
kelompok masyarakat memberi nilai penting yang berbeda-beda terhadap
perubahan stabilitas dan kepulihan ekosistem, serta kehidupan sosial ekonominya.
Perbedaan ini muncul karena adanya perbedaan dalam latar belakang budaya,
serta perbedaan ruang dan waktu. Dengan demikian nilai penting ini bersifat
dinamis, sesuatu yang dipandang penting saat ini oleh suatu kelompok masyarakat
dapat berubah menjadi tidak penting pada beberapa tahun mendatang, demikian
pula sebaliknya. Disamping faktor budaya, penting tidaknya dampak pada
kehidupan sosial juga dapat berbeda-beda tergantung pada lapisan sosial (misal
kaya, menengah atau miskin), dan golongan sosial yang terkena dampak (misal,
kalangan pemerintah, masyarakat sekitar proyek, kalangan pakar, kalangan LSM).
Misalnya, suatu rencana usaha/kegiatan diduga akan menimbulkan dampak
penting positif terhadap pendapatan dikalangan penduduk yang memiliki
ketrampilan yang menunjang kegiatan proyek, namun dampak penting positif ini
tidak berlaku bagi lapisan sosial masyarakat yang tidak memiliki ketrampilan.
Dalam evaluasi sifat penting, besar dampak lingkungan yang akan timbul
--termasuk dalam hal ini aspek sosial-- dievaluasi secara cermat sejauh mana
perubahan tersebut membawa pengaruh yang mendasar terhadap tatanan
kehidupan sosial dan ekologi. Evaluasi dilakukan dengan menggunakan
seperangkat kriteria tertentu yang bersifat legal, yakni Pedoman Mengenai Ukuran
Dampak Penting, yang dikukuhkan melalui Keputusan Kepala Bapedal. Dalam
Pedoman tersebut secara formal ditetapkan batasan dan criteria dampak yang
bersifat penting yang berlaku untuk aspek fisika kimia, biologi, dan sosial.
Agar pihak-pihak yang berkepentingan mempunyai persepsi dan kriteria
yang sama tentang dampak penting, beberapa peraturan perundang-undangan
yang diterbitkan telah memuat beberapa ketentuan tentang faktor-faktor penentu
dan tolok ukur dampak penting. Dalam UU No. 23 tahun 1993 dan PP No. 27
Tahun 1997 dimuat enam faktor yang menentukan dampak lingkungan dapat
bersifat penting, yakni :
1. Jumlah manusia yang terkena dampak
2. Luas wilayah persebaran dampak
3. Intensitas dan lamanya dampak berlangsung
4. Banyaknya komponen lingkungan lain yang terkena dampak
5. Sifat kumulatif dampak
6. Berbalik atau tidak berbaliknya dampak.
Untuk mengukur sejauh mana perubahan lingkungan bersifat mendasar,
telah diterbitkan ketentuan tentang tolok ukur dampak penting, yakni Keputusan
Kepala BAPEDAL No. KEP-056 Tahun 1994 tentang Pedoman Mengenai Ukuran
Dampak Penting. Keputusan tersebut menyatakan bahwa ukuran dampak penting
terhadap lingkungan ditetapkan dengan mempertimbangkan hal-hal berikut:
1. Bahwa penilaian pentingnya dampak terhadap lingkungan berkaitan secara
relatif dengan skala usaha (besar kecilnya), hasil guna, dan daya guna dari
rencana usaha atau kegiatan.
2. Bahwa penilaian pentingnya dampak terhadap lingkungan dapat pula
didasarkan pada dampak usaha atau kegiatan tersebut terhadap salah satu
aspek lingkungan, atau juga terhadap kesatuan dan kaitannya dengan aspek-
aspek lingkungan lain dalam wilayah studi yang telah ditentukan.
3. Bahwa penilaian pentingnya dampak terhadap lingkungan, baik yang bersifat
positif atau negatif, tidak boleh dipandang sebagai faktor yang berdiri sendiri-
sendiri, melainkan harus diperhitungkan keseluruhannya sebagai satu
kesatuan untuk keperluan pengambilan keputusan.
DAFTAR PUSTAKA

http://keslikers.blogspot.co.id/2015/01/makalah-prakiraan-dan-evaluasi-
dampak.html

http://directory.umm.ac.id/Data%20Elmu/pdf/8._Prakiraan_dampak.pdf