Sunteți pe pagina 1din 17

LAPORAN KASUS PSIKIATRI

IDENTITAS PASIEN

Nama : Ny. Ha
Umur : 60 Tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Pekerjaan : IRT
Pendidikan Terakhir : SMP
Status perkawinan : Sudah Menikah
Alamat : Jln. Petobo

LAPORAN PSIKIATRIK
I. RIWAYAT PENYAKIT
A. Keluhan utama
Sulit tidur akibat cemas yang dirasakan.
B. Riwayat Gangguan Sekarang
Pasien perempuan berusia 60 tahun datang dengan keluhan sulit tidur karena rasa
cemas yang dialaminya. Pasien menjadi kurang nafsu makan, takut mendengar kabar
yang buruk, jantung sering berdebar, sesak napas, cemas terhadap hasil pemeriksaan
kesehatan. Pasien tiba-tiba sedih tanpa sebab yang jelas.Sebelumnya pasien datang di poli
jiwa pertama kali tahun 2006 dan mendapatkan pengobatan. Pasien pernah berhenti
mengonsumsi obat selama 1 tahun karena takut ketergantungan obat tetapi rasa cemas
kembali dirasakan yang membuat pasien mengonsumsi obat kembali. Perasaan cemas
dapat diatasi oleh pa
Pasien dengan melakukan aktivitas seperti menjahit, mengaji dan menyanyi.
Sebelumnya pasien pernah mencoba memeriksakan diri kepemeriksaan yang diadakan di
Pasar yang menyatakan pasien menderita penyakit ginjal dan jantung yang membuat
pasien merasa takut.
Hendaya Disfungsi
Hendaya Sosial (+)
Hendaya Pekerjaan (+)
Hendaya Penggunaan Waktu Senggang (+)
Faktor Stressor Psikososial
Pasien terlalu memikirkan tentang pendaftaran PUPNS karena belum
terselesaikan hingga pasien merasa terbebani
Hubungan gangguan sekarang dengan riwayat penyakit sebelumnya.
Pasien pernah dirawat dirumah sakit jiwa sebelumnya, dirawat sudah dua kali.

C. Riwayat Gangguan Sebelumnya.


Psikiatrik
Pasien pernah mengalami gangguan cemas sejak tahun 2006, gangguan itu dirasakan
berkurang dibandingkan keluhan yang pertama kali dirasakan.
Medik
Pasien pernah mengalami sakit jantung dan syndrome dyspepsia.
Penggunaan zat dan alkohol
Pasien tidak pernah merokok dan mengonsumsi alkohol serta NAPZA.

D. Riwayat Kehidupan Peribadi


Riwayat Prenatal dan Perinatal
Kondisi pasien lahir cukup bulan normal pervaginam oleh dukun desa
Riwayat Masa Kanak Awal (1-3 tahun)
Kondisi pasien normal tidak ada gangguan tumbuh kembang, hubungan dengan
keluarga baik
Riwayat Masa Pertengahan (4-11 tahun)
Kondisi pasien normal aktif bermain dan memiliki banyak teman
Riwayat Masa Kanak Akhir dan Remaja ( 12-18 tahun)
Pasien melanjutkan sekolah ke SMP dan hingga kelas 2 SMA
Riwayat Masa Dewasa
Pasien memiliki banyak teman di kantor dan hubungannya terjalin baik
E. Riwayat Kehidupan Keluarga
Pasien mengaku tidak ada masalah di keluarganya. Pasien merupakan anak ketujuh dari
sepuluh bersaudara. Didalam keluarga pasien ada yang mengalami hipertensi (+), stroke
(+), DM (-).

F. Persepsi pasien tentang diri dan kehidupan.


Pasien menyadari dirinya sakit, sehingga ia ke RS Undata di Poli Jiwa untuk berobat.

II. STATUS MENTAL


A. Deskripsi Umum
Penampilan
Seorang perempuan, tampak lebih muda memakai baju motif bunga-bunga, jilbab
warna biru, tas kecil berwarna hitam.
Kesadaran: Komposmentis
Perilaku dan aktivitas psikomotor : Tenang.
Pembicaraan : Jelas tetapi tidak spontan
Sikap terhadap pemeriksa : Kurang Kooperatif

B. Keadaan afektif
Mood : Disforia
Afek : Sempit
Keserasian : Serasi
Empati : Dapat dirabarasakan

C. Fungsi Intelektual (Kognitif)


Taraf pendidikan, pengetahuan umum dan kecerdasan
Pengetahuan dan kecerdasan sesuai dengan taraf pendidikannya.
Daya konsentrasi : Baik
Orientasi : Baik
Daya ingat
Jangka Pendek : Baik
Jangka sedang : Baik
Jangka Panjang : Baik
Pikiran abstrak : Baik
Bakat kreatif : Kesenian (menggambar)
Kemampuan menolong diri sendiri : Kurang baik

D. Gangguan persepsi
Halusinasi : Tidak ada
Ilusi : Tidak ada
Depersonalisasi : Tidak ada
Derealisasi : Tidak ada

E. Proses berpikir
Arus pikiran :
Produktivitas : Cukup
Kontinuitas : Relevan
Hendaya berbahasa : Tidak ada
Isi Pikiran
Preokupasi : Tidak ada
Gangguan isi pikiran : Tidak ada

F. Pengendalian impuls
Baik

G. Daya nilai
Norma sosial : Baik
Uji daya nilai : Baik
Penilaian Realitas : Baik
H. Tilikan (insight)
Derajat 5 : Menyadari penyakitnya dan faktor yang berhubungan dengan penyakitnya,
tetapi tidak menerapkan dalam perilaku praktisnya.

I. Taraf dapat dipercaya


Dapat dipercaya

III. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LEBIH LANJUT


Pemeriksaan fisik :
Status internus: TD : 110/70 mmHg, N : 88 x/menit, S : 36,6 C, P : 20 x/menit.

Pemeriksaan neurologis :
GCS : E4M6V5, reflex cahaya (+)/(+), kongjungtiva tidak pucat, sklera tidak ikterus, fungsi
motorik dan sensorik ke empat ekstremitas dalam batas normal.

IV. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA


Pasien perempuan berusia 60 tahun datang dengan keluhan sulit tidur karena rasa
cemas yang dialaminya. Pasien menjadi kurang nafsu makan, takut mendengar kabar yang
buruk, jantung sering berdebar, sesak napas, cemas terhadap hasil pemeriksaan kesehatan.
Pasien tiba-tiba sedih tanpa sebab yang jelas.Sebelumnya pasien datang di poli jiwa pertama
kali tahun 2006 dan mendapatkan pengobatan. Pasien pernah berhenti mengonsumsi obat
selama 1 tahun karena takut ketergantungan obat tetapi rasa cemas kembali dirasakan yang
membuat pasien mengonsumsi obat kembali. Perasaan cemas dapat diatasi oleh pa
Pasien dengan melakukan aktivitas seperti menjahit, mengaji dan menyanyi.
Sebelumnya pasien pernah mencoba memeriksakan diri kepemeriksaan yang diadakan di
Pasar yang menyatakan pasien menderita penyakit ginjal dan jantung yang membuat pasien
merasa takut.
Seorang perempuan, tampak lebih muda memakai gamis warna merah, jilbab warna
merah, tas kecil berwarna merah dan perawakan kurus. Tampak wajah pasien sesuai dengan
umurnya. Psikomotor tenang, pembicaraan spontan dan lancar, mood eutimia, afek luas, dan
serasi. Tidak ada gangguan persepsi dan isi pikiran.
V. EVALUASI MULTIAKSIAL
Aksis I :
Merujuk pada kriteria diagnostif dari PPDGJ III, pasien dalam kasus ini dapat
didiagnosa sebagai F41.1 Gangguan Cemas Menyeluruh adalah sebagai berikut.
Penderita harus menunjukkan anxietas sebagai gejala primer yang berlangsung hampir
setiap hari untuk beberapa minggu sampai beberapa bulan, yang terbatas atau hanya
menonjol pada keadaan situasi tertentu saja (sifatnya free floating atau mengambang).
gejala-gejala tersebut biasanya mencakup unsure-unsur berikut ;
a) kecemasan (khawatir akan nasib buruk, merasa seperti di ujung tanduk, sulit
konsentrasi)
b) ketegangan motorik (gelisah, sakit kepala, gemetaran, tidak dapat santai)
c) Overaktivitas otonomik (kepala terasa ringan, berkeringat, jantung berdebar-
debar, sesak napas, keluhan lambung, pusing kepaala, mulut kering, dsb)
Pada anak-anak sering terlihat adanya kebutuhan berlebihan untuk ditenangkan serta
keluhan somatic berulang yang menonjol
Adanya gejala-gejala lain yang sifatnya sementara (untuk beberapa hari), khususnya
depresi, tidak membatalkan diagnosis utama gangguan cemas menyeluruh, selama hal
tersebut tidak memenuhi kriteria lengkap dari episode depresi, (F32,-) gangguan
anxietas fobik (F40,-), gangguan panic (F41.0), atau gangguan obsesif kompulsif
(F42,0)
Aksis II :
Gangguan kepribadian tidak khas
Axis III :
I00 I99 Gangguan sirkulasi (Hipertensi)
Axis IV :
Masalah berkaitan dengan lingkungan sosial
Aksis V :
GAF Scale 60-51 Gejala sedang (moderate), disabilitas sedang
VI. DAFTAR MASALAH
Organobiologik
Terdapat ketidakseimbangan neurotransmitter sehingga pasien memerlukan
psikofarmaka.
Psikososial
Ditemukan adanya masalah stressor psikososial sehingga pasien memerlukan psikoterapi.

VII. PROGNOSIS
Dubia, faktor yang mempengaruhi :
Tidak ada kelainan organobiologik
Adanya dukungan dari keluarga

VIII. RENCANA TERAPI


Farmakoterapi :
Sanderil 10 mg 1-0-1
Alprazolam 1 mg 1-0-1
Psikoterapi suportif
Ventilasi : Memberikan kesempatan kepada pasien untuk mengungkapkan isi hati
dan keinginannya sehingga pasien merasa lega
Persuasi : Membujuk pasien agar memastikan diri untuk selalu kontrol dan minum
obat dengan rutin.
Sugesti : Membangkitkan kepercayaan diri pasien bahwa dia dapat sembuh (penyakit
terkontrol).
Desensitisasi : Pasien dilatih bekerja dan terbiasa berada di dalam lingkungan kerja
untuk meningkatkan kepercayaan diri.
Sosioterapi
Memberikan penjelasan kepada keluarga dan orang-orang sekitarnya sehingga tercipta
dukungan sosial dengan lingkungan yang kondusif untuk membantu proses
penyembuhan pasien serta melakukan kunjungan berkala.
IX. FOLLOW UP
Memantau keadaan umum pasien dan perkembangan penyakit serta menilai efektifitas
pengobatan yang diberikan dan kemungkinan munculnya efek samping obat yang diberikan.

X. PEMBAHASAN/ TINJAUAN PUSTAKA


Learning Objektif
1. Jelaskan mekanisme timbulnya gejala hiperaktivitas otonomik seperti sesak napas dan
jantung berdebar pada pasien diskenario ?
2. Jelaskan fisiologi perbedaan cemas dan perasaan takut ?
3. Jelaskan penyebab berkurangnya nafsu makan pada pasien diskenario ?
4. Bagaimana manajemen pasien diskenario secara keseluruhan ?
5. Apa yang harus dilakukan pasien diskenario untuk mencegah kekambuhan setelah
melepaskan obat ?
6. Jelaskan prognosis pasien diskenario ?

Jawaban
1. Mekanisme timbulnya gejala somatik seperti sesak nafas dan jantung berdebar
Penelitian Walter cannon (1920) menunjukkan adanya hubungan perangsangan sistem
saraf otonom memudahkan organisme untuk respon fight or flight yang ditandai dengan
hipertensi, takikardi, dan peningkatan curah jantung.
Penelitian harold wolff (1962) menunkkan fisiologi saluran cerna tampak berhubungan
dengan emosional yang khusus. Hiperfungsi terkait permusuhan, dan hipofungsi terkait
kesedihan. Namun teori ini tidak spesifik mengingat reaksi ini ditentukan oleh situasi
keadaan umum pasien dan penilaian presepsi terhadap peristiwa yang menimbulkan stres.
Sementara william beaumont (1853) menncatat selama keadaan emosional mempengaruhi
vaskularisasi lambung.
Pengaruh sistem pernapasan
Pada depresi, sesak napas dialami saat istirahat, menunjukkan sedikit perubahan saat
beraktivitas, dan dapat berfluktuasi dalam hitungan menit; awitan sesak napas bersamaan
dengan awitan gangguan mood dan sering disertai dengan serangan pusing, berkeringat,
palpitasi, dan parestesia.
Pengaruh sistem kardiovaskuler
Takikardi, palpitasi, dan aritmia jantung adalah tanda ansietas yang paling sering
dikeluhkan pasien.

2. Perbedaan cemas dan takut


Kecemasan adalah suatu keadaan patologis yang ditandai oleh perasaan ketakutan
disertai tanda somatik pertanda sistem saraf otonom yang hiperaktif.
Kecemasan dan ketakutan memiliki komponen fisiologis yang sama tetapi kecemasan
tidak sama dengan ketakutan. Penyebab kecemasan berasal dari dalam dan sumbernya
sebagian besar tidak diketahui sedangkan ketakutan merupakan respon emosional terhadap
ancaman atau bahaya yang sumbernya biasanya dari luar yang dihadapi secara sadar.
Kecemasan dianggap patologis bilamana mengganggu fungsi sehari-hari, pencapaian tujuan,
dan kepuasan atau kesenangan yang wajar (Maramis, 2005). Walaupun merupakan hal yang
normal dialami namun kecemasan tidak boleh dibiarkan karena lama kelamaan dapat
menjadi neurosa cemas melalui mekanisme yang diawali dengan kecemasan akut, yang
berkembang menjadi kecemasan menahun akibat represi dan konflik yang tak disadari.
Adanya stres pencetus dapat menyebabkan penurunan daya tahan dan mekanisme untuk
mengatasinya sehingga mengakibatkan neurosa cemas.
Cemas juga harus dibedakan antara yang normal dan patologis :
1) Cemas dalam batas normal adalah suatu perasaan yang sering dialami oleh setiap orang.
Rasa cemas ini dapat memacu seseorang ke arah aktivitas yang berguna, memperbaiki
penampilan, bahkan meningkatkan prestasi. Cemas ini juga berfungsi adaptif yaitu
sebagai pencegah ancaman yang datang atau meringankan akibat dari ancaman yang
diterima.
2) Kecemasan dalam derajat patologis bila cemas bersifat menetap dan menyebabkan
gangguan secara fisik yang dapat menghambat aktivitas seseorang, seperti denyut
jantung meningkat, tekanan darah meningkat, kekakuan otot, tidak bisa tidur, rasa nyeri
kepala. Kecemasan patologis ini terjadi karena individu tidak mampu lagi
mengendalikan atau meramalkan situasi lingkungannya.
Ada beberapa teori mengenai penyebab kecemasan:
1) Teori Psikologis
Dalam teori psikologis terdapat 3 bidang utama:
a) Teori psikoanalitik
Freud menyatakan bahwa kecemasan adalah suatu sinyal kepada ego yang
memberitahukan adanya suatu dorongan yang tidak dapat diterima dan
menyadarkan ego untuk mengambil tindakan defensif terhadap tekanan dari dalam
tersebut. Idealnya, penggunaan represi sudah cukup untuk memulihkan
keseimbangan psikologis tanpa menyebabkan gejala, karena represi yang efektif
dapat menahan dorongan di bawah sadar. Namun jika represi tidak berhasil sebagai
pertahanan, mekanisme pertahanan lain (seperti konversi, pengalihan, dan regresi)
mungkin menyebabkan pembentukan gejala dan menghasilkan gambaran gangguan
neurotik yang klasik (seperti histeria, fobia, neurosis obsesif-kompulsif)
b) Teori perilaku
Teori perilaku menyatakan bahwa kecemasan disebabkan oleh stimuli lingkungan
spesifik. Pola berpikir yang salah, terdistorsi, atau tidak produktif dapat mendahului
atau menyertai perilaku maladaptif dan gangguan emosional. Penderita gangguan
cemas cenderung menilai lebih terhadap derajat bahaya dalam situasi tertentu dan
menilai rendah kemampuan dirinya untuk mengatasi ancaman.
c) Teori eksistensial
Teori ini memberikan model gangguan kecemasan umum dimana tidak terdapat
stimulus yang dapat diidentifikasikan secara spesifik untuk suatu perasaan
kecemasan yang kronis.
Menurut Stuart dan Sundden (1998) kecemasan dapat diekspresikan langsung melalui
perubahan fisiologi, perilaku, kognitif dan afektif secara tidak langsung melalui timbulnya
gejala atau mekanisme koping dalam upaya mempertahankan diri dari kecemasan.

Respon fisiologis terhadap kecemasan


1) Pada sistem kardiovaskuler terjadi : palpitasi, jantung berdebar, tekanan darah
meningkat, rasa mau pingsan, denyut nadi dan tekanan darah turun.
2) Pada sistem saluran pernafasan terjadi : nafas cepat, pernafasan dangkal, rasa tertekan
pada dada, pembengkakan pada tenggorokan, rasa tercekik dan terenggah-enggah.
3) Pada sistem neuromeskuler terjadi : insomnia, ketakutan, gelisah,wajah tegang dan
kelemahan secara umum.
4) Pada sistem gastrointestinal terjadi : kehilangan nafsu makan,menolak makan, nausea
dan diare perasaan panas atau dingin pada kulit dan muka pucat.

Respon pada perilaku terhadap kecemasan


1) Perubahan pada perilaku karena kecemasan dapat terjadi : glisah, ketegangan fisik,
tremor, gugup, menarik diri dan menghindar.
2) Respon pada kognitif : dapat terjadi tidak sabar, tegang, nervous, takut yang berlebihan,
gugup yang luas biasanya dan sangat gelisah.

Respon biologik takut


Terpaparnya sesorang oleh suatu situasi tertentu sehingga menimbulkan respon takut
sehingga otak dengan sendirinya menilai kondisi keberbahayaan tersebut. Dalam hal ini
Amygdala merupakan bagian otak yang berperan besar. Amygdala akan mengaktivasi
neurotransmiter di otak sebagai respon tubuh untuk menghadapi situasi. Amygdala akan
memberikan stimulus berupa :
- Sistem saraf simpatis
- Sistem saraf parasimpatis
- Aksi hipotalamus-hipofisis-kelenjar Adrenal (aksis HPA)
Akibat dari perangsangan sistem saraf simpatis maka akan terjadi peningkatan tekanan
darah dan denyut jantung. Kondisi ini disebut flight reaction. Reaksi sistem parasimpatis
berupa membatasi reaksi sistem saraf simpatis pada beberapa jaringan. Hipotalamus akan
mengeluarkan CRF sehingga kelenjar hipofisis terangsang mengeluarkan ACTH yang
akhirnya menstimulasi pengeluaran hormon kortisol dari kelenjar adrenal.

3. Terjadinya penurunan nafsu makan juga karena dipengaruhi oleh neurotranmiter dibawah
ini. Tiga neurotransmiter utama yang berhubungan dengan kecemasan adalah norepinefrin,
serotonin, dan gamma-aminobutyric acid (GABA).
Norepinefrin
Pasien yang menderita gangguan kecemasan mungkin memiliki sistem noradrenergik
yang teregulasi secara buruk. Badan sel sistem noradrenergik terutama berlokasi di lokus
sereleus di pons rostral dan aksonnya keluar ke korteks serebral, sistem limbik, batang otak,
dan medula spinalis. Percobaan pada primata menunjukkan bahwa stimulasi lokus sereleus
menghasilkan suatu respon ketakutan dan ablasi lokus sereleus menghambat kemampuan
binatang untuk membentuk respon ketakutan. Pada pasien dengan gangguan kecemasan,
khususnya gangguan panik, memiliki kadar metabolit noradrenergik yaitu 3-methoxy-4
hydroxyphenylglycol (MHPG) yang meninggi dalam cairan serebrospinalis dan urin.
Serotonin
Badan sel pada sebagian besar neuron serotonergik berlokasi di nukleus raphe di batang
otak rostral dan berjalan ke korteks serebral, sistem limbik, dan hipotalamus. Pemberian
obat serotonergik pada binatang menyebabkan perilaku yang mengarah pada kecemasan.
Beberapa laporan menyatakan obat-obatan yang menyebabkan pelepasan serotonin,
menyebabkan peningkatan kecemasan pada pasien dengan gangguan kecemasan.

Gamma-aminobutyric acid(GABA)
Peranan GABA dalam gangguan kecemasan telah dibuktikan oleh manfaat
benzodiazepine sebagai salah satu obat beberapa jenis gangguan kecemasan.
Benzodiazepine yang bekerja meningkatkan aktivitas GABA pada reseptor GABA A terbukti
dapat mengatasi gejala gangguan kecemasan umum bahkan gangguan panik. Beberapa
pasien dengan gangguan kecemasan diduga memiliki fungsi reseptor GABA yang abnormal.
Faktor budaya juga merupakan salah satu penyebab kecemasan yang penting. Pekerjaan,
pendidikan, institusi agama, dan sosial budaya semuanya dapat menjadi konflik yang
menyebabkan kecemasan.

4. Menejeman keseluruhan pada skenario


Terapi yang paling efektif untuk gangguan ansietas menyeluruh adalah terapi yang
menggabungkan pendekatan psikoterapeutik, farmakoterapeutik dan suportif dengan waktu
yang cukup lama.
a. Psikoterapi
Pendekatan psikoterapeutik utama gangguan ansietas menyeluruh adalah terapi
perilaku-kognitif, suportif dan psikoterapi berorientasi tilikan. Pendekatan kognitif
secara langsung ditujukan pada distorsi kognitif pasien dan pendekatan perilaku
ditujukan pada gejala somatik secara langsung. Teknik utama yang digunakan pada
pendekatan perilaku adalah relaksasi dan biofeedback. Kombinasi pendekatan kognitif
dan perilaku lebih efektif daripada salah satu teknik yang digunakan secara tersendiri.
Terapi suportif menawarkan keamanan dan kenyamanan pasien walaupun efektivitas
jangka panjangnya masih diragukan. Psikoterapi berorientasi tilikan berfokus pada
membuka konflik yang tidak disadari dan mengidentifikasi kekuatan ego.
b. Farmakoterapi
Karena gangguan bersifat jangka panjang, suatu rencana terapi harus dilakukan dengan
teliti. Tiga obat utama yang harus dipertimbangkan untuk terapi gangguan cemas
menyeluruh adalah buspiron, benzodiazepine dan selective serotonin reuptake inhibitor
(SSRI). Walaupun terapi obat untuk gangguan ansietas menyeluruh selama 6 hingga 12
bulan tetapi sejumlah bukti menunjukan bahwa terapi haruslah jangka panjang mungkin
seumur hidup. Sekitar 25% pasien kambuh dibulan pertama setelah penghentian obat
dan 60-80% kambuh pada perjalanan tahun berikutnya.
1) Benzodiazepin
Benzodiazepin merupakan obat pilihan untuk gangguan ansietas menyeluruh.
Pemberian benzodiazepine dimulai dengan dosis terendah dan ditingkatkan sampai
mencapai dosis terapi. Terapi untuk sebagian besar ansietas berlangsung 2 hingga 6
minggu diikuti 1 atau 2 minggu untuk menurunkan dosis obat secara bertahap
sebelum dihentikan.
2) Buspiron
Buspiron adalah agonis parsial reseptor 5 HT dan efektif pada 60-80% pasien
dengan gangguan cemas menyeluruh. Data menunjukkan bahwa buspiron lebih
efektif mengurangi gejala kognitif dibandingkan mengurangi gejala somatik.
Kerugian utama buspiron adalah efeknya memerlukan waktu 2 3 minggu untuk
terlihat dibandingkan dengan efek ansiolitik benzodiazepine yang hampir segera
didapatkan. Penggunaan bersama benzodiazepine dan buspiron lebih efektif untuk
terapi kombinasi jangka panjang daripada kedua obat tersebut secara tersendiri
dengan menurunkan dosis benzodiazepine setelah 2 3 minggu.
3) Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI)
SSRI dapat efektif terutama untuk pasien dengan komorbid depresi. Kerugian SSRI
yang menonjol terutama fluoxetine (Prozac) adalah bahwa obat ini meningkatkan
ansietas secara sementara. Oleh sebab itu SSRI sertralin (Zoloft) atau paroksetin
(paxil) adalah pilihan yang lebih baik. Dapat dianjurkan memulai terapi dengan
setralin atau paroksetin ditambah benzodiazepine kemudian menurunkan dosis
benzodiazepine setelah 2 hingga 3 minggu.
4) Venlafaksin
Venlafaksin (Effexor) efektif untuk mengobati insomnia, konsentrasi buruk,
kegelisahan, iritabilitas dan ketegangan otot yang berlebih akibat gangguan ansietas
menyeluruh.
5) Obat lain
Jika terapi konvensional tidak efektif atau tidak seluruhnya efektif kemudian
diindikasikan pengkajian ulang klinis untuk menyingkirkan komorbid seperti
depresi atau untuk memahami lebih jauh stress lingkungan pasien. Obat lain yang
telah terbukti berguna untuk gangguan ansietas menyeluruh mencakup obat
trisiklik dan tetrasiklik. Antagonis reseptor beta-adrenergik dapat mengurangi
manifestasi somatik ansietas tetapi tidak keadaan yang mendasari dan
penggunaannya terbatas pada ansietas situasional seperti ansietas penampilan.
Nefazodon (Serzone) yang juga digunakan pada depresi telah terbukti mengurangi
ansietas dan mencegah gangguan panik.

5. Apa yang perlu dilakukan untuk mencegah kekambuhan


a. CBT adalah bentuk psikoterapi yang menekankan pentingnya peran pikiran dalam
bagaimana kita merasa dan apa yang akan kita lakukan. Istilah Cognitive-behaviour
therapy (CBT) merupakan istilah yang sangat luas untuk kelompok terapi yang sejenis.
CBT bertujuan membantu pasien untuk dapat merubah sistem keyakinan yang negatif,
irasional dan mengalami penyimpangan (distorsi) menjadi positif dan rasional sehingga
secara bertahap mempunyai reaksi somatik dan perilaku yang lebih sehat dan normal
Prosedur CBT
1. Pertanyakan masalah pasien (apa, kapan, mengapa dan bagaimana)
2. Mengeksplorasi masalah untuk dirumuskan (bersama pasien) untuk disepakati
sebagai fokus yang menjadi target terapi
3. memeriksa dan merumuskan konsekuensi perilaku atau reaksi somatik
(mungkin yang menjadi masalah utama pasien) sehingga pasien memerlukan
bantuan atau pengobatan
4. memeriksa atau mengeksplorasi kejadian-kejadian yang mungkin sebagai
pencetus atau penyebab permasalahan pasien
5. mengenali status kognitif pasien yang negatif berupa sistem keyakinan
irasional.
b. Terapi Kognitif Perilaku
Mengajak pasien mengenali gejala somatik secara langsung. Teknik utama yang
digunakan pada pendekatan behavioral adalah relaksasi
c. Terapi suportif
Memberikan kenyamanan pada pasien agar dapat beradaptasi optimal dalam
fungsi sosial dan pekerjaannya.

6. Prognosis pada skenario


Dubia et bonam, faktor yang mempengaruhi :
Keinginan yang jelas dari pasien untuk sembuh
Tidak ada kelainan organobiologik
Adanya dukungan dari keluarga
Gangguan anxietas menyeluruh merupakan suatu keadaan kronis yang mungkin
berlangsung seumur hidup. Prognosis dipengaruhi oleh usia, onset, durasi gejala dan
perkembangan komorbiditas gangguan cemas dan depresi. Karena tingginya insidensi
gangguan mental komorbid pada pasien dengan gangguan kecemasan menyeluruh, perjalanan
klinis dan prognosis gangguan cemas menyeluruh sukar untuk ditentukan. Namun demikian,
beberapa data menyatakan bahwa peristiwa kehidupan berhubungan dengan onset gangguan
kecemasan umum. Terjadinya beberapa peristiwa kehidupan yang negatif secara jelas
meningkatkan kemungkinan akan terjadinya gangguan cemas menyeluruh. Menurut
definisinya, gangguan kecemasan umum adalah suatu keadaan kronis yang mungkin seumur
hidup. Sebanyak 25% penderita akhirnya mengalami gangguan panik, juga dapat mengalami
gangguan depresi mayor. Dalam menentukan prognosis dari gangguan cemas menyeluruh,
perlu diingat bahwa banyak segi yang harus dipertimbangkan. Hal ini berhubung dengan
dinamika terjadinya gangguan cemas serta terapinya yang begitu kompleks. Keadaan
penderita, lingkungan penderita, dan dokter yang mengobatinya ikut mengambil peran dalam
menentukan prognosis gangguan cemas menyeluruh.
Mengenai hubungan dengan terapi, semakin cepat dilakukan terapi pada gangguan
kecemasan menyeluruh, maka prognosisnya menjadi lebih baik. Demikian pula dengan situasi
tempat pengobatan, semakin pasien merasa nyaman dan cocok dengan situasinya, maka
hasilnya akan lebih baik dan akan mempengaruhi prognosisnya. Pengobatan sebaiknya
dilakukan sebelum gejala-gejala menjadi alat untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan
sampingan misalnya untuk mendapatkan simpati, perhatian, uang, dan peringanan dari
tanggung jawabnya. Jika gejala-gejala sudah merupakan alat untuk mendapatkan keuntungan-
keuntungan tersebut, maka kemauan pasien untuk sembuh berkurang dan prognosis akan
menjadi lebih jelek.
Faktor stres juga ikut menentukan prognosis dari gangguan cemas menyeluruh. Jika stres
yang menjadi penyebab timbulnya gangguan cemas menyeluruh relatif ringan, maka
prognosis akan lebih baik karena penderita akan lebih mampu mengatasinya. Kalau dilihat
dari lingkungan hidup penderita, sikap orang-orang di sekitarnya juga berpengaruh terhadap
prognosis. Sikap yang mengejek akan memperberat penyakitnya, sedangkan sikap yang
membangun akan meringankan penderita. Demikian juga peristiwa atau masalah yang
menimpa penderita misalnya kehilangan orang yang dicintai, rumah tangga yang kacau,
kemunduran finansial yang besar akan memperjelek prognosisnya.
DAFTAR PUSTAKA

1. Maramis, W.S. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Airlangga University Presss : Surabaya.
1994.
2. Kaplan, I. H. and Sadock, J. B. Sinopsis Psikiatri Ilmu Perilaku Psikiatri Klinis, Edisi
Ketujuh. Binarupa Aksara Publisher: Jakarta. 2010.
3. Hawari, D. Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa. Dana Bhakti Prima Yasa:
Yogyakarta. 1997.
4. Maslim R (ed). Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas PPDGJ-III. Jakarta: Bagian
Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya, PT Nuh Jaya; 2001.