Sunteți pe pagina 1din 19

Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa Palu, 05 Oktober 2015

FKIK Universitas Tadulako


Rumah Sakit Umum Anutapura

LAPORAN KASUS

Nama : Nanda Hikma Lestari

Stambuk : N 111 15 022

Pembimbing Klinik : dr. Andi Soraya T.U., M.Kes., Sp.KJ

DEPARTEMEN ILMU KEDOKTERAN JIWA


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2015
IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. M
Umur : 68 Tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : BTN Palu Permai Blok B8 No.7
Pekerjaan : URT
Agama : Islam
Status Perkawinan : Sudah Menikah
Tanggal Pemeriksaan : 3 November 2015

I. DESKRIPSI KASUS
Anamnesis
a. Keluhan Utama : Nyeri ulu hati
b. Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien datang ke UGD RSUD Anutapura pada tanggal 31 oktober 2015
diantar oleh anaknya karena nyeri pada daerah perut atau ulu hati, lemah,
jantung berdebar-debar, keringat dingin, gemetar, mulut kering, cemas.
Sektiar 3 minggu yang lalu pasien di rawat juga di RSUD Anutapura dengan
keluhan yang sama. pasien juga mengatakan bahwa dia sering merasa sedih
ketika ada masalah dan pada saat sedih gejala nyeri ulu hati dan mual kembali
muncul. Pasien sebelumnya rutin mengkonsumsi obat jiwa namun berhenti 1
bulan terakhir karena pasien merasa sehatdan ingin mencoba melepas obat
perlahan-lahan.Namun pada saat itu juga ada masalah tentang anaknya yang
menjadi buah fikirannya sampai gejala-gejala tersebut muncul kembali.
Biasanya jika gejala nyeri ulu hati datang pasien mengikat pinggangnya
menggunakan ban pinggang bisa mengurangi rasa nyeri ulu hati. Pasien juga
pernah dirawat di RSUD Madani pada saat usia 20 tahun setelah melahirkan
anak pertama dan di rawat selama 4 bulan setelah itu sembuh dan bisa
beraktifitas secara baik kembali. Lalu pada saat melahirkan anak kelima
pasien mulai mengeluhkan gelisah, cemas dan rasa sedih gejala-gejala ini di
perberat ketika pasien mendapat masalah atau mendengar kabar buruk. Pasien
mengatakan jika rasa sedih itu muncul tiba-tiba menangis, pasien mengatakan
bahwa pasien memang pendiam dan memendam maslahnya sendiri tidak
gampang menceritakan masalahnya kepada orang lain. Pasien memiliki 6
orang anak dan 4 anaknya sudah menikah, pasien tinggal dirumah anaknya
yang sudah berkeluarga dipalu bersama anak kelimanya yang belum
menikah.Pasien paling dekat dengan anaknya yang kelima karena anak yang
kelimanya yang sering mengurus dia sehari-hari sejak 5 bulan yang lalu anak
kelimanya tidak pulang lagi kerumah dan membuat pasien khawatir anaknya
tidak memberi kabar sampai saat ini.Pada saat itu pasien mulai ada perasaan
cemas.sedih sampai menangis memikirkan anaknya. Sementara pasien juga
memikirkan anak pertamanya yang belum menikah sedangkan pasien
mengatakan bahwa dia sudah tua, pasien khawatir anaknya tidak akan
menikah nantinya. Ketika pasien memikirkan masalah-masalah keluarganya
dia langsung merasa sedih sampai menangis sendiri pada saat itu juga nyeri
ulu hati timbul dan pasien mengatasi dengan mengikat perutnya agar sakitnya
berkurang.

AUTOANAMNESA

DM : Selamat pagi Bu.Perkenalkan bu,nama saya dokter muda Nanda mau


melakukan pemeriksaan kepada ibu. Dengan ibu siapa namanya?

P : Ny. M

DM : Berapa umurnya bu?

P : 68 tahun, dok.

DM : Ibu tinggal dimana?

P : BTN Palupi Permai Blok B8 No.7


DM : Maaf bu, pendidikan terakhir ibu apa?

P : SR, dok.

DM : Pekerjaan ibu apa?

P : Saya IRT, dok.

DM : Bisa diceritakan keluhan apayang membawa ibu datang ke RS?

P : Nyeri ulu hati, karena nyerei itu saya merasa lemas.

DM : Sudah berapa lama bu ?

P : Sudah sekitar 1 minggu yang lalu

DM : Bagaimana nyerinya bu ?bisa digambarkan nyerinya seperti apa ?

P : Nyeri dok pokoknya nyeri sekali, sampai menangis biasanya kalau


datang sakitnya dok

DM : Biasanya nyerinya itu memberat ketika ibu melakukan apa ?

P : Nyerinya itu datang kalau saya cemas atau datang perasaan sedih
dok

DM : Maksudnya ketika sedih atau cemas datang nyeri ulu hatinya bu ?

P : Iya, begini dok biasanya saya tiba-tiba merasa cemas dan sedih
sampai menangis dan pada saat itu juga rasa nyeri ulu hati timbul

DM : Bisa ibu gambarkan bagaimana rasa cemas yang ibu rasakan ?

P : Begini dok, saya biasanya merasa ketakutan, khawatir, terus dok


saya jadi sulit tidur, malas makan nafsu makan. Kalau datang
cemasnya dok jantungku berdebar, sesak nafas, dan sakit di ulu hati
dok.

DM : Sejak kapan ibu merasakan keluhan seperti ini?

P : Sejak Setelah saya melahirkan anak kelima saya dok

DM : Apa yang terjadi setelah melahirkan sehingga ibu merasa cemas dan
takut?

P : Begini dok, sebenarnyasaya pernah di rawat di madani waktu saya


melahirkan anak pertama, habis melahirkan saya langsung
menunjukkan tingkah laku yang aneh katanya orang tua dulu saya
mengalami sakit karena melahirkan akibat naiknya darah putih
dikepala, setelah di rawat selama 4 bulan saya sehat dan bisa
melakukan aktifitas seperti semula lalu saya hamil dan melahirkan
sampai anak kelima saya mulai ada rasa cemas dan sedih karena
mulai banyak masalah keluarga yang saya hadapi. Sampai saya
melahirkan anak keenam saya melakukan operasi ikat kandungan.

DM : Maaf sebelumnya bu, bisa ceritakan kepada saya kejadian yang


terjadi setelah ibu melahirkan anak kelima ?

P : Begini dok, anak saya sudah 4 dan yang bekerja hanya suami saya
jadi saya memikirkan masa depan anak saya nantinya mau
bagaimana, untuk makan sehari-hari saja pas-pasan. Sebenarnya
saya saja yang terlalu memikirkan karena saya dari kecil memang
jika ada masalah susah untuk berbagi dengan orang lain untuk
menyelesaikannya, jadi setiap masalah seperti saya fikirkan sendiri
dan menjadi beban saya.
DM : Maaf ibu, apakah hubungan dengan suami ibu baik-baik saja?ibu
tidak pernah menceritakan masalah kepada suami ?

P : Baik-baik saja, sering cerita dengan suami Cuma karena suami kerja
jadi saya tidak ingin menambah masalah lagi untuk suami saya, jadi
biarlah masalah anak-anak saya yang fikirkan. sekarang juga suami
saya sudah meninggal jadi saya sepenuhnya yang memikirkan anak-
anak saya.

DM : Maaf ibu, anak-anak ibu masih ada yang sekolah ?atau sudah kerja

P : Sudah kerja semua dok, sudah menikah 4 .saya tinggal dirumah anak
saya yang dipalu

DM : Maaf ibu, anaknya ibu kan sudah bekerja semuanya jadi sebenarnya
apa yang ibu khawatirkan terhadap anak-anaknya atau apa yang ibu
fikirkan ?

P : Ada anakku yang belum menikah dok, yang pertama belum menikah
itu yang saya fikirkan tidak ada jodohnya mungkin, banyak yang
mau tapi dia terlalu banyak memilih. Lalu anak saya yang nomor
lima juga belum menikah juga dan sekarang anak itu pergi dari
rumah dan itu lagi yang membebani fikiran saya, saya tidak tahu
dimana rimbanya, bagaimana keadaannya.

DM : Anak ibu pergi dari rumah sejak kapan bu ?

P : Sudah 4 bulan dok, sampai detik ini belum ada kabarnya.

DM : Maaf bu, Apakah anak ibu ada masalah dirumah sehingga dia pergi ?

P : Tidak ada masalah dirumah, sy tidak tau juga mungkin pergi dengan
perempuan lagi
DM : Perempuan yang ibu maksud itu merupakan teman dekat dari anak
ibu ?

P : Saya tidak mengerti juga masalahnya dia tidak pernah menceritakan


tenteng orang yang dekat dengan dia

DM : Apakah selama dia meninggalkan rumah tidak pernah menghubungi


ibu atau keluarga lainnya ?

P : Tidak pernah sampai saat ini, makanya itu yang saya fikirkan setiap
hari. Anak saya itu paling dekat dengan saya dia yang belum
menikah dan tinggal bersama saya jadi dia yang selalu mengurus
saya, saya pernah sakit stroke ringan sekitar 2 tahun yang lalu dan
hanya anak saya tersebut yang mengurus saya.

DM : Oh iya ibu, sebelumnya ibu pernah mengkonsumsi obat jiwa ?

P : Iya dok, sudah lama saya pernah dirawat Di madani waktu


melahirkan anak pertama selama 4 bulan lalu sembuh baik. lalu
sampai saat saya melahirkan anak kelima perasaan sedih, cemas,
nyeri ulu hati muncul. Mulai saat itu saya berobat kembali
DM : Lalu pada setelah berobat apakah gejala-gejala tersebut hilang ?
P : Iya dok, namun muncul lagi ketika saya banyak fikiran, saya juga
sudah 1 bulan terakhir tidak minum obat lagi
DM : Kenapa ibu tidak meminum obatnya lagi ?apakah habis obatnya ?
P : Iya, obatnya habis dan saya sudah merasa baikkan sekaligus saya
mau melepas obat secara perlahan ternyata gejalanya muncul lagi
DM : Apakah setelah putus obat itu langsung kambuh ?
P : Tidak dok, Setelah habis obat itu baik-baik saja namun ketika saya
mendengar kabar buruk lagi dan memikirkan anak saya yang belum
kembali kerumah disitu lagi saya merasakan gejala-gejala tersebut.
DM : Oh iya baik ibu, sebelumnya apakah ibu masih ingat ibu dilahirkan
dimana ?ditolong oleh siapa
P : Aduh saya tidak tau sedangkan kapan dilahirkan saya tidak jelas
juga, usia ini Cuma perkiraan saja
DM : Baik bu, apakah selama ibu kecil tidak ada keterlambatan
pertumbuhan dan perkembangan ?
P : Tidak ada dok
DM : Pernah ada riwayat trauma bu ?
P : Tidak ada dok
DM : Oh iya ibu, ada lagi yang dikeluhkan selain nyeri ulu hati ?
P : Cuma pusing dok tapi sekarang sudah berkurang, masih gelisah tidur
karena nyeri ulu hati tetapi sudah tidak seperti sebelumnya
DM : Alhamdulillah bu yah, berarti ada perubahan setelah diberi obat, kita
liat lagi berkembangan berikutnya yah ibu
P : Iya dok, terima kasih dok

c. Riwayat Penyakit Sebelumnya


Riwayat Gangguan Psikiatrik
Pernah di rawat di RSJ Madani pada saat usia 20 Tahun

Riwayat Gangguan Medik


Pasien menderita hipertensi dan pernah mengalami stroke dua Tahun
yang lalu

Riwayat Penggunaan Zat Psikoaktif


Tidak ada riwayat penggunaan zat-zat psikoaktif.

d. Riwayat Hidup
Prenatal
Pasien tidak mengingat riwayat prenatalnya.

Masa Kanak-Kanak
Pasien mengungkapkan bahwa pasien merupakan anak keempat dari
tujuh bersaudara, pasien memiliki banyak teman namun pasien susah
beradaptasi karena pasien pendiam.

Masa Remaja
Tidak ada gangguan pada masa ini, pasien bergaul dengan teman-
teman disekitar rumahnya

Masa Dewasa
Pasien telah menikah pada usia 20 Tahun lalu melahirkan anak
pertama dan kemudian di rawat di RSJ madani karena mengalami Baby Blues
Syndrome. pasien di rawat selama 2 minggu. Setelah itu sembuh dan menjadi
ibu rumah tangga seperti pada umumnya mengurus suami dan anak.Pada saat
melahirkan anak kelima gejala-gejala seperti melahirkan anak pertama
kambuh lalu pasien memulai pengobatan jiwanya kembali sampai saat ini
pasien masih rutin minum obat namun 1 bulan terakhir terhenti karena pasien
mau coba melepaskan perlahan-lahan obat tersebut namun gejala-gejala itu
datang kembali.

PEMERIKSAAN FISIK
Internikus
Nadi : 80x/menit
SB : 36C
R : 20x/menit
Tekanan Darah : 130/70 mmHg

Neurologis
Kesadaran Composmentis dengan GCS E4 V5 M6 = 15, fungsi sensorik
dan motorik keempat ekstremitas dalam batas normal.
III.PEMERIKSAAN STATUS MENTAL
a. Deskripsi Umum
- Penampilan: Seorang wanita denga mengenakan baju daster becorak batik,
dengan rambut yang setengah memutih terbaring di atas bed kamar 8
perawatan AMC.
- Kesadaran: composmentis
- Perilaku dan aktivitas psikomotor: Normal
- Pembicaraan: lancar
- Sikap terhadap pemeriksa: kooperatif

b. Keadaan Afektif
- Mood: eutimia
- Afek: Appropriate
- Empati: Dapat diraba rasakan

c. Proses Pikiran
- Arus pikir:
- Produktivitas :Pasien menjawab apa yang ditanyakan dan
menjelaskan secara detail
- Kontinuitas : Relevan
- Hendaya Berbahasa : Tidak ada
- Isi pikir:
-Preokupasi : Tidak ada
-Gangguan Isi Pikir : Tidak ada

d. Persepsi
- Halusinasi (-)
- Ilusi (-)
- Depersonalisasi (-)
- Derealisasi (-)

e. Fungsi Intelektual
- Daya ingat jangka panjang baik, menengah dan pendek baik
- Orientasi waktu, tempat, dan orang baik
- Konsentrasi dan perhatian baik
f. Pengendalian Impuls: baik selama wawancara
g. Daya Nilai
- Norma sosial: baik
- Uji daya nilai: baik
- Penilaian realitas : Baik

h. Tilikan
- Tilikan: tilikan 6 (menyadari sepenuhnya tentang situasi dirinya disertai
motivasiuntuk mencapai perbaikan).
- Taraf dapat dipercaya: dapat dipercaya

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Tidak ada pemeriksaan penunjang

V. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA

Pasien wanita umur 68 Tahun datang ke UGD RSUD Anutapura pada


tanggal 31 oktober 2015 diantar oleh anaknya karena nyeri pada daerah perut atau
ulu hati, lemah, jantung berdebar-debar, keringat dingin, cemas keluhan nyeri ulu
hati, dengan tekanan darah 180/90 mmHg. Gelisah dan sulit tidur akibat nyeri ulu
hatinya. Pasien pernah di rawat di RSJ Madani pada usia 20 Tahun, Rutin
mengkonsumsi obat jiwa namun satu bulan terakhir putus obat dan pasien
kembali merasakan gejala-gjela seperti diatas.

VI. EVALUASI MULTIAXIAL:


Axis I : GangguanCampuran Anxietas dan Depresi
Axis II : Tidak ada diagnosis aksis II (Z 03.2)
Axis III : Dyspepsia
Axis IV : mempunyai masalah dengan primary support group
(keluarga)
Axis V : GAF Scale 70-61 beberapa gejala ringan & menetap,
disabilitas ringan dalam fungsi, secara umum masih baik.
VII. DAFTAR PROBLEM:
Organobiologik : Terdapat masalah pada beberapa neurotransmitter.
Psikologik : Pasien memiliki sifat yang pendiam dan terturup,
semua maslah-masalah keluarganya hanya dipendam sendiri.
Sosial : Hubungan dengan keluarga baik

VIII. PENATALAKSANAAN
a. Farmakoterapi
- SSRI (Serotonin Selective Reuptake Inhibtor)
Terdiri atas beberapa macam, dapat dipilih salah satu dari sertralin,
fluoksetin, fluvoksamin, escitalopram, dll.Obat diberikan dalam 3-
6 bulan atau lebih tergantung kondisi individu, agar kadarnya
stabil dalam darah sehingga dapat mencegah kekambuhan.

- Benzodiazepin
Awitan kerjanya cepat, dikonsumsi biasanya 4-6 minggu, setelah
itu secara perlahan-lahan diturunkan dosisnya sampai akhirnya
dihentikan. Contoh: Diazepam, Alprazolam, dll. Jadi, setelah itu
dan seterusnya, individu hanya minum golongan SSRI.
- Buspiron
Buspiron efektif pada 60-80% penderita gangguan cemas
menyeluruh.Buspiron lebih efektif dalam memperbaiki gejala
kognitif dibandingkan gejala somatik.Tidak menyebabkan efek
withdrawl.Efek klinisnya terasa 2-3 minggu.

b. Psikoterapi
Terapi kognitif-perilaku : Pendekatan kognitif mengajak pasien secara
langsung mengenali distorsi kognitif dan pendekatan perilaku, mengenali
gejala somatic secara langsung. Teknik utama yang digunakan adalah
relaksasi dan biofeedback.
Terapi suportif : pasien diberikan reassurance dan kenyamanan, digali
potensi-potensi yang ada dan belum tampak, didukung egonya, agar lebih
bisa beradaptasi optimal dalam fungsi sosial dan pekerjaannya.
Psikoterapi berorientasi tilikan : terapi ini mengajak pasien untuk mecapai
penyingkapan konflik bawah sadar, menilik egosentrik, relasi objek, serta
keutuhan diri pasien. Kita sebagai terapis dapat memperkirakan sejauh
mana pasien dapat diubah untuk menjadi lebih matur, bila tidak tercapai
minimal kita memfasilitasi agar pasien dapat beradaptasi dalam fungsi
sosial dan pekerjaannya.

IX. PROGNOSIS
Dubia ad bonam faktor yang mempengaruhi :
Keinginan yang tidak jelas dari pasien untuk sembuh
Tidak ada kelainan organobiologik
Adanya dukungan dari keluarga

X. FOLLOW UP
Hari ke empat pasien di Rawat
TD :120/80 mmHg
N : 80x/menit
R : 20x/menit
SB : 36C
Keluhan : Masih ada nyeri ulu hati, Tidur masih gelisah akibat nyeri ulu hati,
pusing berkurang, tangan bekas infuse bengkak dan sakit.

XII. PEMBAHASAN TINJAUAN PUSTAKA

a. Definisi
Gangguan Campuran Anxietas dan Depresi
Terdapat gejala-gejala anxietas maupun depresi, dimana masing-masing
tidak menunjukkan rangkaian gejala yang cukup berat untuk menegakkan
diagnosis tersendiri.Untuk anxietas, beberapa gejala otonomik harus
ditemukan walaupun tidak terus-menerus, disamping rasa cemas atau
kekhawatiran berlebihan.
Kecemasan adalah keadaan individu atau kelompok mengalami perasaan
gelisah (penilaian atau opini) dan aktivitas sistem saraf autonom dalam
berespons terhadap ancaman yang tidak jelas, nonspesifik.Kecemasan
merupakan unsur kejiwaan yang menggambarkan perasaan, keadaan
emosional yang dimiliki seseorang pada saat menghadapi kenyataan atau
kejadian dalam hidupnya.
Gangguan depresif merupakan suatu masa terganggunya fungsi manusia
yang berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dengan gejala penyerta
termasuk perubahan pola tidur, nafsu makan, psikomotor, konsentrasi,
anhedonia, kelelahan, rasa putus asa, tak berdaya dan gagasan bunuh diri.2
b. Etiologi
Empat garis bukti penting mengesankan bahwa gejala ansietas dan
gejala depresif terkait secara kausal pada sejumlah pasien yang
mengalamigejala ini. Pertama , sejumlah peneliti melaporkan temuan
neuroendokrin yang serupa pada gangguan depresif dan ansietas, terutama
gangguan panik, termasuk menumpulnya respons kortisol terhadap hormon
adenokort, kotropik, respon hormon pertumbuhan yang tumpul terhadap
klonidin ( Catapres), dan respon TSH (thyroid stimulating hormone) serta
prolaktin yang tumpulterhadap TRH (thyrotropin-relasing hormone).
Kedua, sejumlah peneliti melaporkan data yang menunjukkan bahwa
hiperkatifitas sistem noradrenergik sebagai penyebab relevan pada
sejumlah pasien dengan gangguan depresif dan gangguan ansietas. Secara
rinci, studi ini telah menemukan adanya konsentrasi metabolit norepnefrin
3-methoxy-4-hydroxyphenylglycol (MHPG) yang meningkat didalam urin,
plasma, atau cairan serebro spinal (LCS) pada pasien dengan serangan
panik. Seperti pada gangguan ansietas dan gangguan depresif lain,
serotonin dan asam -aminobutirat (GABA) juga mungkin terlibat
sebagaipenyebab di dalam gangguan campuran depresif ansietas. Ketiga,
banya studi menemukan bahwa obat serotonergik, seperti fluoxetine
(Prozac) dan clomipramine (Anafranil), berguna dalam terapi gangguan
depresif dan ansietas. Keempat, sejumlah studi keluarga melaporkan data
yang menunjukkanbahwa gejala ansietas dan depresif berhubungan pada
secara genetik sedikitnya pada beberapa keluarga.
c. Kriteria Diagnostik
Kriteria DSM-IV-TR mengharuskan adanya gejala subsindrom
ansietas dan depresi serta adanya beberapa gejala somatik, seperti tremor,
palpitasi, mulut kering, dan rasa perut yang bergejolak. Sejumlah studi
pendahuluan menunjukkan bahwa sensitivitas dokter umum untuk sindrom
gangguan campuran ansietas depresi masih rendah walaupun kurangnya
pengenalan ini dapat mencerminkan kurangnya label diagnostik yang
sesuai bagi pasien.
Mood disforik yang berulang atau menetap dan bertahan sedikitnya 1 bulan
Mood disforik disertai empat (atau lebih) gejala berikut selama sedikitnya 1
bulan :
1. Kesulitan berkonsentrasi atau pikiran kosong
2. Gangguan tidur (sulit untuk jatuh tertidur atau tetap tidur atau gelisahm
tidur tidak puas)
3. Lelah atau energi rendah
4. Iritabilitas
5. Khawatir
6. Mudah nangis
7. Hipervigilance
8. Antisipasi hal terburuk
9. Tidak ada harapan (pesimis yang menetap akan masa depan)
10. Harga diri yang rendah atau rasa tidak berharga
Gejala menimbulkan penderitaan yang secara klinis bermakna atau hendaya
dalam area fungsi sosial, pekerjaan atau area fungsi penting lain.
Gejala tidak disebabkan efek fisiologis langsung suatu zat (cth. Penyalahguanaan
obat atau pengobatan) atau keadaan medis umum
Semua hal berikut ini :
1. Kriteria tidak pernah memenuhi gangguan depresif berat, gangguan
distimik; gangguan panik, atau gangguan ansietas menyeluruh
2. Kriteria saat ini tidak memenuhi gangguan mood atau ansietas lain
(termasuk gangguan ansietas atau gangguan mood, dalam remisi parsial)
3. Gejala tidak lebih mungkin disebabkan gangguan jiwa lain.

Berdasarkan dari PPDGJ III, maka kriteria diagnostik untuk gangguan


anxietas campuran lainnya adalah :
1. Terdapat gejala-gejala anxietas maupun depresi, dimana masing-
masing tidak menunjukkan rangkaian gejala yang cukup berat untuk
menegakkan diagnosis tersendiri. Untuk anxietas, beberapa gejala
otonomik harus ditemukan walaupun tidak terus-menerus, disamping
rasa cemas atau kekhawatiran berlebihan.
2. Bila ditemukan anxietas berat disertai depresi yang lebih ringan, harus
dipertimbangkan kategori gangguan anxietas lainnya atau gangguan
anxietas fobik.
3. Bila ditemukan sindrom depresi dan anxietas yang cukup berat untuk
menegakkan masing-masing diagnosis, maka kedua diagnosis tersebut
dikemukakan, dan diagnosis gangguan campuran tidak dapat
digunakan. Jika karena sesuatu hal hanya dapat dikemukakan satu
diagnosis maka gangguan depresif harus diutamakan.
4. Bila gejala-gejala tersebut berkaitan erat dengan stres kehidupan yang
jelas, maka harus digunakan kategori F43.2 gangguan penyesuaian.
d. Diagnosis Banding
Diagnosis banding mencakup gangguan ansietas dan depresif lainnya
serta gangguan kepribadian.Di anatara gangguan ansietas, gangguan
ansietas menyeluruh merupakan gangguan yang lebih besar
kemungkinannya untuk bertumpang tindih dengan gangguan campuran
ansietas-depresif.Diantara gangguan mood, gangguan dstimik, dan
gangguan depresif ringan adalah gangguan yang lebih besar
kemungkinannya untuk bertumpang tindih dengan gangguan campuran
ansietas-depresif.Diantara ganggguan kepribadian, gangguan kepribadian
mengindar, dependen, dan obsesfi kompulsif dapar memliki gejala yang
mirip dengan gejala gangguan campuran ansietas-depresif.Diagnosis
gangguan somatoform juga harus dipertimbangkan.
e. Penatalaksanaan
a. Farmakoterapi
- SSRI (Serotonin Selective Reuptake Inhibtor)
Terdiri atas beberapa macam, dapat dipilih salah satu dari sertralin,
fluoksetin, fluvoksamin, escitalopram, dll.Obat diberikan dalam 3-
6 bulan atau lebih tergantung kondisi individu, agar kadarnya
stabil dalam darah sehingga dapat mencegah kekambuhan.
- Benzodiazepin
Awitan kerjanya cepat, dikonsumsi biasanya 4-6 minggu, setelah
itu secara perlahan-lahan diturunkan dosisnya sampai akhirnya
dihentikan. Contoh: Diazepam, Alprazolam, dll. Jadi, setelah itu
dan seterusnya, individu hanya minum golongan SSRI.
- Buspiron
Buspiron efektif pada 60-80% penderita gangguan cemas
menyeluruh.Buspiron lebih efektif dalam memperbaiki gejala
kognitif dibandingkan gejala somatik.Tidak menyebabkan efek
withdrawl.Efek klinisnya terasa 2-3 minggu.
b. Psikoterapi
Terapi kognitif-perilaku : Pendekatan kognitif mengajak pasien
secara langsung mengenali distorsi kognitif dan pendekatan
perilaku, mengenali gejala somatik secara langsung. Teknik
utama yang digunakan adalah relaksasi dan biofeedback.
Terapi suportif : pasien diberikan reassurance dan kenyamanan,
digali potensi-potensi yang ada dan belum tampak, didukung
egonya, agar lebih bisa beradaptasi optimal dalam fungsi sosial
dan pekerjaannya.
Psikoterapi berorientasi tilikan : terapi ini mengajak pasien
untuk mecapai penyingkapan konflik bawah sadar, menilik
egosentrik, relasi objek, serta keutuhan diri pasien. Kita sebagai
terapis dapat memperkirakan sejauh mana pasien dapat diubah
untuk menjadi lebih matur, bila tidak tercapai minimal kita
memfasilitasi agar pasien dapat beradaptasi dalam fungsi sosial
dan pekerjaannya.

DAFTAR PUSTAKA

Cenker Eken, MD, Cem Oktay, MD, Ayse Bacanli, MD, Bedia Gulen, MD, Cem
Koparan, MD, Sandra Sermin Ugras, MD, Yildiray Cete, MD. Anxiety and
Depressive Disorders in Patients Presenting with Chest Pain to the Emergency
Department: A Comparison Between Cardiac and Non-Cardiac Origin. .
Medscape Reference; 2011 [updated 29/03/2011; cited on oktober 2015];
Available from: http://emedicine.medscape.com.

Elvira SD, Hadisukanto G,.2010, Buku Ajar Psikiatri, Badan Penerbit FKUI, Jakarta.
Kaplan & Sadock,. 2010. Buku Ajar Psikiatri Klinis. Ed.2. EGC. Jakarta.

Maslim R,. 2001.Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari
PPDGJ-III, Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya, Jakarta.

Maslim, Rusdi,. 2007. Penggunaan Klinis Obat Psikotropik. Jakarta: Bagian Ilmu
Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Unika Atmajaya

Noerhidajati E, Izzudin, Djagat H,.2010. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan


Amplifikasi Somatosensori Pada Penderita dengan Keluhan Nyeri Ulu Hati.
Sains Medika Jurnal Kesehatan,

Tomb, D. A,. 2000. Buku Saku Psikiatri Edisi 6. Jakarta : EGC.