Sunteți pe pagina 1din 16

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Anemia atau kurang darah adalah suatu kondisi di mana jumlah sel
darah merah (Hemoglobin) dalam sel darah berada di bawah normal.
Hemoglobin yang terkandung di dalam Sel darah merah berperan dalam
mengangkut oksigen dari paru-paru dan mengantarkannya ke seluruh bagian
tubuh. Seorang pasien dikatakan anemia apabila konsentrasi Hemoglobin
(Hb) pada laki-laki kurang dari 13,5 G/DL dan Hematokrit kurang dari
41%, Pada perempuan konsentrasi Hemoglobin kurang dari 11,5 G/DL atau
Hematocrit kurang dari 36%.
Anemia telah menjadi salah satu masalah kesehatan utama yang
dihadapi saat ini, terutama pada Negara-negara berkembang. Secara global,
anemia terjadi pada 24,8 % dari populasi dunia yaitu sekitar 1. 62 juta
orang. Tingginya insiden ini mengindikasikan status nutrisi dan kesehatan
yang masih buruk di masyarakat. Anemia dapat terjadi pada semua
kelompok namun yang paling sering terjadi yaitu pada anak-anak dan ibu
hamil. (WHO 2013). Kurangnya pemahaman masyarakat terhadap anemia
menyebabkan sekitar 4,5 milyar orang di seluruh dunia mengalami
kekurangan zat besi, dan 1 dari 3 di antara mereka menderita anemia atau
kekurangan darah parah. Di Indonesia sendiri, 40% dari wanita subur
mengalami anemia.(depkes RI,2016)
Anemia menyebabkan berkurangnya jumlah sel darah merah atau
jumlah hemoglobin dalam sel darah merah, sehingga darah tidak dapat
mengangkut oksigen dalam jumlah sesuai yang diperlukan tubuh . keadaan
ini sering menyebabkan energi dalam tubuh menjadi menurun sehingga
terjadi 5L atau lemah, lesu, lemas, lunglai, dan letih. Dalam hal ini orang
1
yang terkena anemia adalah orang yang menderita kekurangan zat besi.
Seseorang yang menderita anemia akan sering mengalami keadaan pusing
yang sedang hingga berat dikarenakan Meningkatnya penghancuran sel
darah merah, Pembesaran limpa, Kerusakan mekanik pada sel darah merah,
Reaksi autoimun terhadap sel darah merah : Hemoglobinuria nokturnal
paroksismal, Sferositosis herediter, Elliptositosis herediter. Seseorang yang
sering mengalami anemia di sebabkan karena pasokan oksigen yang tidak
mencukupi kebutuhan ini, bervariasi. .

B. Tujuan Penulisan
Agar mahasiswa mampu memahami konsep teori dan askep masalah
anemia
C. Metode Penulisan
Dalam penyelesaian laporan ini penulis menggunakan metode, antara lain :
1. Kepustakaan :
Dengan peggunaan metode ini, penulis memperoleh data data dari
referensi referensi seperti buku buku di perpustakaan dan dari
internet (non blogspot)
2. Diskusi :
Dengan menggunakan metode ini yakni , dari data data yang telah
penulis peroleh, dalam kelompok penulis kemudian kembangkan dan
disusun menjadi laporan ini.
D. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan laporan ini terdiri dari tiga bab diantaranya :
Bab I Pendahuluan, yang terdiri dari : Latar belakang, Tujuan Penulisan,
Metode penulisan,dan Sistematika penulisan.
Bab II Pembahasan
Bab III Penutup, yang terdiri dari : Simpulan, dan Saran
Daftar pustaka

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. KONSEP DASAR MEDIK

1. Definisi
Anemia adalah keadaan rendahnya jumlah sel darah merah dan
kadar darah Hemoglobin (Hb) atau hematokrit di bawah normal.
(Brunner & Suddarth, 2000: 22).
Anemia adalah berkurangnya hingga dibawah nilai normal
jumlah SDM, kualitas Hb, dan volume packed red blood cell
(hematokrit) per 100 ml darah (Syilvia A. Price. 2006).
Anemia adalah istilah yang menunjukkan rendahnya hitung sel
darah dan kadar hematokrit dibawah normal. Anemia bukan
merupakan penyakit, melainkan merupakan pencerminan keadaan
suatu penyakit (gangguan) fungsi tubuh. Secara fisiologis anemia
terjadi apabila terdapat kekurangan Hb untuk mengangkut oksigen
ke jaringan. Anemia tidak merupakan satu kesatuan penyakit tetapi
merupakan akibat dari berbagai proses patologik yang mendasari
(Smeltzer C Suzane, Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah
Brunner dan Suddarth ; 935).
Dengan demikian kelopok menyimpulkan bahwa anemia
adalah suatu keadan dimana terjadinya penurunan jumlah sel darah
merah yang mempengaruhi penurunan kadar Hb dalam tubuh dan
dapat menyebabkan gejala dan tanda yang kompleks.

3
2. Anatomi fisiologi darah
Anatomi Sel Darah Merah

Fisiologi Sel Darah Merah


Sel darah merah atau eritrosit adalah merupakan cakram
bikonkaf yang tidak berinti yang berdiameter 8m, tebal bagian
tepi 2m pada bagian tengah tebalnya hanya 1 m atau kurang.
Karena se itu lunak dan lentur maka dalam perjalanannya melalui
mikrosirkulasi konfigurasinya berubah. Stroma bagian luar yang
mengandung protein terdiri dari antigen kelompok A dan B serta
Rh yang menentukan golongan darh seseorang. Komponen utama
sel darah merah adalah protein hemoglobin (Hb) yang
mengangkut O2 dan CO2 dan mempertahankan Ph normal melalui
serangkaian dapar intraseluler. Molekul- molekul Hb terdiri dari
2 pasang rantai polipeptida (globulin) dan 4 gugus hem, masing-
masing mengandung sebuah atom besi. Konfigurasi ini
memungkinkan pertukaran gas yang sangat sempurna.
Jumlah sel darah merah kira- kira per milimeter kubik darah
pada rata- rata orang dewasa dan berumur 120 hari.
Keseimbangan yang tetap di pertahankan antara kehilangan dan
4
penggantian sel darah setipa hari. Pembentukan sel darah merah
di rangsang oleh hormone glikoprotein, eritroprotein, yang di
anggap berasal dari ginjal. Pembentukan eritoproteindi pengaruhi
oleh hipoksia jaringan yang di pengaruhi factor- factor seperti
perubahan O2 atmosfir, berkurangnya kadar O2 dalam arteri, dan
berkurangnya konsentrasi hemoglobin. Eritoprotein merangsang
sel induk untuk memulai proliferasi dan pematangan sel sel- sel
darah merah. Selanjutnya, pematangan tergantung pada jumlah
zat- zat makanan yang cocok seperti Vitamin B12, asam folat,
protein- protein, enzim- enzim, dan mineral seprti besi dan
tembaga.
Haemoglobin adalah pigmen merah yang membawa oksigen
dalam sel darah merah, suatu protein yang mempunyai berat
molekul 64.450. Sintesis haemoglobin dimulai dalam pro
eritroblas dan kemudian dilanjutkan sedikit dalam stadium
retikulosit, karena ketika retikulosit meninggalkan sumsum
tulang dan masuk ke dalam aliran darah, maka retikulosit tetap
membentuk sedikit mungkin haemoglobin selama beberapa hari
berikutnya. Tahap dasar kimiawi pembentukan haemoglobin.
Pertama, suksinil KoA, yang dibentuk dalam siklus krebs
berikatan dengan glisin untuk membentuk molekul pirol.
Kemudian, empat pirol bergabung untuk membentuk protopor
firin IX yang kemudian bergabung dengan besi untuk membentuk
molekul heme. Akhirnya, setiap molekul heme bergabung dengan
rantai polipeptida panjang yang disebut globin, yang disintetis
oleh ribosom, membentuk suatu sub unit hemoglobulin yang
disebut rantai hemoglobin. Terdapat beberapa variasi kecil pada
rantai sub unit hemoglobin yang berbeda, bergantung pada
susunan asam amino di bagian polipeptida. Tipe-tipe rantai itu
disebut rantai alfa, rantai beta, rantai gamma, dan rantai delta.
Bentuk hemoglobin yang paling umum pada orang dewasam,
5
yaitu hemoglobin A, merupakan kombinasi dari dua rantai alfa
dan dua rantai beta.
Waktu sel darah merah menua, sel ini menjadi lebih kaku dan
lebih rapuh, akhirnya pecah. Hemoglobin difagositosis terutama
di limpa, hati, dan sumsung tulang, kemudian di reduksi menjadi
globin dan hem, globin kemudian masuk kembali sumber asam
amino. Besi di bebaskan dari hem dan sebagian besar di angkut
oleh protein plasma tranferin ke sumsung tulang untuk
pembentukan sel darah merah baru. Sisa besi di simpan di dalam
hati dan jaringna tubuh laindalam bentuk feretindan hemosiderin,
simpanan ini akan di gunakan lagi di kemudian hari (Guyton,
2007). Sisa hem di reduksi menjadi karbon monoksida (CO) dan
bileverdin. CO ini di angku dalm bentuk karboksi hemoglobin.
Dan di keluarkan melalui paru- par. Bileverdin di reduksi
menjadi bilirubun bebas yang perlahan di keluarkan ke dalam
plasma, dimana bilirubin bergabung ke dalam albuminplasma
kemudian di angkut ke dalam sel- sel hati untuk diekskresi ke
dalam kanalikuliempedu (Robinson, 2000) Bila da penghancuran
aktif sel- sel darah merah seperti pada hemolisis, pembebasan
jumlah bilirubun cepat ke dalam cairan ekstraseluler
menyebabkan kulit dan konjungtiva terlihat kuning keadaan ini di
sebut ikterus (Guyton, 2007).
3. Insiden
Anemia atau kurang darah adalah suatu kondisi di mana jumlah sel
darah merah (Hemoglobin) dalam sel darah merah berada di bawah
normal. Hemoglobinyang terkandung di dalam Sel darah merah
berperan dalam mengangkut oksigen dari paru-paru dan
mengantarkannya ke seluruh bagian tubuh. Seorang pasien dikatakan
anemia apabila konsentrasi Hemoglobin (Hb) pada laki-laki kurang
dari 13,5 G/DL dan Hematokrit kurang dari 41%, Pada perempuan
konsentrasi Hemoglobin kurang dari 11,5 G/DL atau Hematocrit
6
kurang dari 36%. Anemia telah menjadi salah satu masalah
kesehatan utama yang dihadapi saat ini, terutama pada Negara-
negara berkembang. Secara global, anemia terjadi pada 24,8 % dari
populasi dunia yaitu sekitar 1. 62 juta orang. Tingginya insiden ini
mengindikasikan status nutrisi dan kesehatan yang masih buruk di
masyarakat. Anemia dapat terjadi pada semua kelompok namun
yang paling sering terjadi yaitu pada anak-anak dan ibu hamil.
(WHO 2013).
Kurangnya pemahaman masyarakat terhadap anemia menyebabkan
sekitar 4,5 milyar orang di seluruh dunia mengalami kekurangan zat
besi, dan 1 dari 3 di antara mereka menderita anemia atau
kekurangan darah parah. Di Indonesia sendiri, 40% dari wanita
subur mengalami anemia.(depkes RI,2016)
4. Klasifikasi Anemia
a. Anemia defisiensi
Anemia ini trjadi karena kekurangan (defisiensi) gizi tertentu
b. Anemia Aplastik
Anemia ini terjadi karena kekurangan produksi sel darah merah.
Hal dapat terjadi karena sum-sum tulang berhenti bekerja
sehingga tidak cukup sel darah merah yang dibentuk.
c. Anemia Hemoragik
Anemia ini terjadi karena pengeluaran darah dari dalam tubuh
karena perdarahan
d. Anemia Hemolitik
Anemia ini terjadi karena terjadinya penghancuran (destruksi)
sel darah merah di dalam tubuh
5. Etiologi
Etiologi anemia berdasarkan jenis adalah sebagai berikut :
a. Anemia Defisiensi
Terjadi karena kekurangan bahan baku pembuat sel darah.
Anemia defisiensi dapat terjadi karena kekurangan zat besi, asam
7
folat, vitamin B12 (anemia pernisiosa)
b. Anemia Aplastik
Disebabkan terhentinya pembuatan sel darah sum sum tulang
(kerusakan sumsum tulang).
c. Anemia Pasca Pendarahan (Hemoragik)
Terjadi sebagai akibat perdarahan yang massif seperti
kecelakaan, operasi dan persalinan dengan perdarahan atau yang
menahun seperti pada penyakit cacingan. Cacing tambang
merupakan salah satu jenis cacing yang dapat menyebabkan
perdarahan usus.
d. Anemia Hemolitik
Terjadi penghancuran (hemolisis) eritrosit yang berlebihan
karena:
Faktor Intrasel
Misalnya talasemia, hemoglobinopati (talasemia HbE, sickle
cell piruvatkinase, alutation reduktase).
Faktor Ekstrasel
Karena intoksikasi, infeksi (malaria), imunologis
(inkompatibilitas golongan darah, reaksi hemolitik pada
transfuse darah).
5 Manifestasi Klinis
Karena sistem organ dapat terkena, maka pada anemia dapat
menimbulkan manifestasi klinis yang luas tergantung pada
kecepatan timbulnya anemia, usia, mekanisme kompensasi, tingkat
aktivitasnya, keadaan penyakit yang mendasarinya dan beratnya
anemia. Secara umum gejala anemia adalah :
a. Hb menurun (< 10 g/dL), thrombosis / trombositopenia,
pansitopenia
b. Penurunan BB, kelemahan
c. Takikardi, TD menurun, penurunan kapiler lambat, ekstremitas
dingin, palpitasi, kulit pucat.
8
d. Mudah lelah, sering istirahat, nafas pendek, proses menghisap
yang buruk (bayi).
e. Sakit kepala, pusing, kunang kunang

6 Patofisiologi
Timbulnya anemia mencerminkan adanya kegagalan sumsum
atau kehilangan sel darah merah secara berlebihan atau keduanya.
Kegagalan sumsum dapat terjadi akibat kekurangan nutrisi, pajanan
toksik, invasi tumor atau kebanyakan akibat penyebab yang tidak
diketahui. Sel darah merah dapat hilang melalui perdarahan atau
hemolisis (destruksi), hal ini dapat akibat efek sel darah merah yang
tidak sesuai dengan ketahanan sel darah merah yang menyababkan
destruksi sel darah merah.
Lisis sel darah merah (disolusi) terjadi terutama dalam sel
fagositik atau dalam system retikuloendotelial, terutama dalam hati
dan limfa. Hasil samping proses ini adalah bilirubin yang akan
memasuki aliran darah. Setiap kenaikan destruksi sel darah merah
(hemolisis) segera direfleksikan dengan peningkatan bilirubin
plasma (konsentrasi normal, 1 mg/dl, kadar diatas 1.5 mg/dl
mengakibatkan ikterik pada sclera). Apabila sel darah merah
mengalami penghancuran dalam sirkulasi, (pada kelainan hemplitik)
maka hemoglobin akan muncul dalam plasma (hemoglobinemia).
Apabila konsentrasi plasmanya melebihi kapasitas haptoglobin
plasma (protein pengikat untuk hemoglobin bebas) untuk mengikat
semuanya, hemoglobin akan berdifusi dalam glomerulus ginjal
kedalam urin (hemoglobinuria).
Kesimpulan mengenai apakah suatu anemia pada pasien
disebabkan oleh penghancuran sel darah merah atau produksi sel
darah merah yang tidak mencukupi biasanya dapat diperoleh dengan
dasar hitung retikulosit dalam sirkulasi darah, derajat proliferasi sel
darah merah muda dalam sumsum tulang dan cara pematangannya,
9
seperti yang terlihat dalam biopsy, dan ada tidaknya
hiperbilirubinemia.
Anemia defisiensi zat besi adalah anemia yang paling sering
menyerang anak anak. Di dalam tubuh, zat besi sebagian besar
terdapat dalam darah sebagai bagian dari protein yang bernama
Hemoglobin (HB) dimana terdapat didalam sel darah merah yang
berfungsi mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh serta
Mioglobin yang terdapat di sel-sel otot yang berfungsi untuk
mengangkut dan menyimpan oksigen untuk sel tot. masukan zat besi
setiap hari diperlukan untuk mengganti zat besi yang hilang melalui
tinja, air kencing dan kulit. Kehilangan ini kira-kira 0,5-1,0 mg/hari.
Selain itu pada wanita karena adanya menstruasi. Apabila masukan
zat besi dalam tubuh tidak adekuat maka dapat menyebabkan
terjadinya anemia.
Anemia defisiensi zat besi dapat juga terjadi karena kehilangan
banyak darah yang kronik. Pada bayi hal ini terjadi karena
perdarahan usus kronik yang disebabkan oleh protein dalam susu
sapi yang tidak tahan panas.
Anemia aplastik diakibatkan oleh karena rusaknya sumsum
tulang. Gangguan berupa berkurangnya sel darah dalam darah tepi
sebagai akibat terhentinya pembentukan sel hemotopoetik dalam
sumsum tulang. Aplasia dapat terjadi hanya pada satu, dua atau
ketiga sistem hemotopoetik (eritropoetik, granulopoetik, dan
trombopoetik).
Aplasia yang hanya mengenai sistem eritropoetik disebut
eritroblastopenia (anemia hipoplastik) yang mengenai system
trombopoetik disebut agranulositosis (penyakit Schultz), dan yang
mengenai system trombopoetik disebut amegakariositik
trombositopenik purpura (ATP). Bila mengenai ketiga system
disebut panmieloptisis atau lazimnya disebut anemia aplastik.
Kekurangan asam folat akan mengakibatkan anemia
10
megaloblastik. Asam folat merupakan bahan esensial untuk sintesis
DNA dan RNA, yang paling penting sekali untuk metabolisme inti
sel dan pematangan sel.

7 Pemeriksaan Penunjang dan Pemeriksaan Diagnostic :


a. Jumlah darah lengkap Hb dan Ht menurun.
i. Jumlah eritrosit : menurun (AP), menurun berat (Aplastik),
MCV dan MCH menurun dan mikrositik dengan eritrosit
hipokromik (DB), peningkatan (AP), pansitopenia (aplastik).
ii. LED : peningkatan menunjukkan adanya reaksi inflamasi.
iii. Massa hidup SDM : untuk membedakan diagnose anemia.
b. Jumlah trombosit : menurun (aplastik), meningkat (DB), normal /
tinggi (hemolitik).
c. Hb elektroforesis : mengidentifikasi tipe struktur Hb.
d. Bilirubin serum (tidak terkonjugasi) : meningkat (AP, hemolitik)
e. Folat serum dan vit. B12 : membantu mendiagnosa anemia.
f. Besi serum : tidak ada (DB), tinggi (hemolitik).
g. Tes Schilling : penurunan eksresi vit B12 urin (AP)
h. Guaiac : mungkin positif untuk darah pada urin, feses, dan isi
gaster, menunjukan perdarahan akut / kronis (DB)
i. Aspirasi sumsum tulang / pemeriksaan biopsy : sel mungkin
tampak berubah dalam jumlah, ukuran, bentuk, membedakan tipe
anemia.
j. Pemeriksaan endoskopi dan radiografik : memeriksa sisi
perdarahan, perdarahan GI.

8 Penatalaksanaan
a. Anemia Karena Perdarahan
Pengobatan terbaik adalah transfuse darah. Pada perdarahan
kronik diberikan transfuse packed cell. Mengatasi rejatan dan
penyebab perdarahan. Dalam keadaan darurat pemberian cairan
11
intravena dengan cairan infuse apa saja yang tersedia
b. Anemia Defesiensi
Anemia defisiensi besi (DB). Respon regular DB terhadap
sejumlah besi cukup mempunyai arti diagnostic, pemberian oral
garam ferro sederhana (sulfat, glukanat, fumarat). Merupakan
terapi yang murah dan memuaskan. Preparat besi parenteral
(dektram besi) adalah bentuk yang efektif dan aman digunakan
bila diperhitungkan dosis tepa.
c. Anemia defesiensi asam folat, meliputi pengobatan terhadap
penyebabnya dan dapat dilakukan pula dengan pemberian /
suplementasi asam folat oral 1 mg/hari (Mansjoer Arif, Kapita
Selekta Kedokteran ; 553).
d. Anemia Hemolitik
Anemia hemolitik autoimun. Terapi inisial dengan menggunakan
prednisone 1 -2 mg/kg/BB/hari. Jika anemia mengancam hidup,
transfuse harus diberikan dengan hati hati. Apabila prednisone
tidak efektif dalam menanggulangi kelainan itu, atau penyakit
mengalami kekambuhan dalam periode tapering off dari
prednisone maka dianjurkan untuk dilakukan splektomi. Apabila
keduanya tidak menolong, maka dilakukan terapi dengan
menggunakan berbagai jenis obat imunosupresif.
Immunoglobulin dosis tinggi intravena (500 mg/kg/BB/hari
selama 1 4 hari ) mungkin mempunyai efektifitas tinggi daam
mengontrol hemolisis. Namun efek pengobatan ini hanya
sebentar (1 3 minggu) dan sangat mahal harganya. Dengan
demikian pengobatan ini hanya digunakan dalam situasi gawat
darurat dan bila pengobatan ini hanya digunakan prednisone
merupakan kontra indikasi (Manjoer Arif, kapita Selekta
Kedokteran ; 552). Anemia hemolitik karena kekurangan enzim.
Pencegahan hemolisis adalah cara terapi yang paling penting.
Transfuse tukar mungkin terindikasi untuk hiperbillirubenemia
12
pada neonates. Transfuse eritrosit terpapar diperlukan untuk
anemia berat atau kritis aplastik. Jika anemia terus menerus berat
atau jika diperlukan transfuse yang sering, splektomi harus
dikerjakan setelah umur 5 6 tahun ( Behrman E Richard, IKA
Nelson ; 1713). Sferositosis herediter. Anemia dan
hiperbilirubenemia yang cukup berat memerlukan fototerapi atau
transfuse tukar, karena sferosit pada SH dihancurkan hampir
seluruhnya oleh limfa, maka splektomi melenyapkan hampir
seluruh hemolisis pada kelainan ini. Setelah splenektomi sferosis
mungkin lebih banyak, meningkatkan fragilitas osmotic, tetapi
anemia retikalositosis dan hiperbilirubinemia membaik (Behrman
E Richard, IKA Nelson ; 1700). Thalasemia. Hingga sekarang
tidak ada obat yang dapat menyembuhkannya. Transfuse darah
diberikan bila kadar Hb telah rendah (kurang dari 6%) atau bila
anak mengeluh tidak mau makan atau lemah. Untuk
mengeluarkan besi dari jaringan tubuh diberikan ion chelating
agent, yaitu Desferal secara intramuscular atau intravena.
Splenektomi dilakukan pada anak lebih dari 2 tahun sebelum
didapatkan tanda hiperplenome atau hemosiderosis. Bila kedua
tanda itu telah tampak, maka splenektomi tidak banyak gunanya
lagi. Sesudah splenektomi biasanya frekuensi transfuse darah
menjadi jarang. Diberikan pula bermacam macam vitamin,
tetapi preparat yang mengandung besi merupakan indikasi kontra
(Keperawatan Medikal Bedah 2).

B. Konsep Dasar Askep


a) Pengkajian
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan, dan
merupakan suatau proses yang sistematis dalam pengumpulan
data dari berbagai sumber data dalam mengevaluasi dan
mengidentifikasi stats kesehatan pasien. Tahap pengkajian
13
merupakan dasar utama dalam memberikan asuhan keperawatan
sesuai dengan keluhan dan keadaan individu.

Dalam hal ini pengkajian yang perlu dikaji pada pasien dengan
masalah anemia adalah :
Aktivitas dan istirahat
Gejala : keeltihan, kelemahan,malaise, penurunan
semangat bekerja, kebutuhan untuk tidur dan istirahat
lebih banyak
Tanda : takikardia,takipnea,kelemahan otot dan
penurunan kekuatan, tanda-tada yang menunjukan
keletihan
Sirkulasi
Gejala : riwayat kehilangan darah kronis misalkan
perdarahan GI, menstruasi berat, palpitasi
Tnada : Hipotensi, ekstermitas (warna )pucat pada kulit
dan membrane mukosa
Eliminasi
Gejala : riwayat gagal ginjal
Tanda : hematemesis, feses dengan darah segar,
konstipasi
Makanan dan cairan
Gejala ; penurunan masukan diet, mual, anoreksia,
penuruanan berat badan
Tanda : membrane mukosa kering/pucat, konjungtiva
pucat, skelar ikterik
Nyeri dan kenyamanan
Geja : sakit kepala
Tanda :-

14
b) Diagnosa Keperawatan
1. Perubahan perfusi jaringan b/d penurunan komponen seluler
yang diperlukan untuk pengiriman oksigen nutrient ke sel
2. Perubahan nutisi b/d intake inadekuat
3. Intoleran aktivitas b/d kelemahan fisik
4. Perubahan eliminasi bowel (konstipasi) b/d penurunan
motilitas usus

15
BAB III

PENUTUP
A. SIMPULAN
Anemia atau kurang darah adalah suatu kondisi di mana jumlah sel
darah merah (Hemoglobin) dalam sel darah merah berada di bawah
normal. Hemoglobinyang terkandung di dalam Sel darah merah
berperan dalam mengangkut oksigen dari paru-paru dan
mengantarkannya ke seluruh bagian tubuh. Seorang pasien dikatakan
anemia apabila konsentrasi Hemoglobin (Hb) pada laki-laki kurang
dari 13,5 G/DL dan Hematokrit kurang dari 41%, Pada perempuan
konsentrasi Hemoglobin kurang dari 11,5 G/DL atau Hematocrit
kurang dari 36%.
Oang yang terkena anemia adalah orang yang menderita kekurangan
zat besi. Seseorang yang menderita anemia akan sering mengalami
keadaan pusing yang sedang hingga berat dikarenakan Meningkatnya
penghancuran sel darah merah, Pembesaran limpa, Kerusakan
mekanik pada sel darah merah, Reaksi autoimun terhadap sel darah
merah : Hemoglobinuria nokturnal paroksismal, Sferositosis
herediter, Elliptositosis herediter. Seseorang yang sering mengalami
anemia di sebabkan karena pasokan oksigen yang tidak mencukupi
kebutuhan ini, bervariasi. .

16