Sunteți pe pagina 1din 6

Ambiguity, anchor, dan future pacing: kombinasi yang mematikan

Written by ronnyfr on 12 January 2008 8:47 pm - 893 kali dibaca.

Dalam training atau seminar, saya biasanya mengatakan bahwa NLP memang
merupakan ilmu yang lain dibandingkan ilmu yang mempelajari jiwa, ilmu bahasa
ataupun ilmu programming pikiran. Lucunya trainee atau peserta seminar saya juga
suka mengatakan bahwa ikutin seminar/training NLP dari Pak Ronny, lain lho
rasanya, pendekatannya lain dan berbeda dengan trainer NLP yang pernah diikuti
sebelumnya :-). Sekarang, di sini kita akan kita kupas bagaimana NLP melihat secara
lain suatu yang dianggap biasa oleh orang pada umumnya.

Mari kita mulai dari sebuah cerita :

Seorang Guru SD terperanjat saat pelajaran di kelas muridnya menjawab dengan


jawaban yang sangat aneh. Hari itu Bu Guru sedang menjelaskan mengenai jenis-jenis
makanan di dunia ini. Untuk membuat kelas menjadi seru guru kemudian
menanyakan pada murid-muridnya, apa makanan favorit mereka, juga makanan
foavorit dari orang tua mereka.

Saat tiba giliran si Badu, ia menjawab Saya sebenarnya suka es krim Bu Guru,
karena maemnya bisa dijilat-jilat, kan enak. Bu Guru menjawab Oh gitu, terus
apa makanan yang digemari oleh orang tuamu? Tanpa berpikir panjang di Badu
menjawab Itulah Bu Guru, saya jadi mikir-mikir juga, untuk menyukai maem
lampu karena orang tua saya suka maem dan menjilatin lampu. Keruan Bu Guru
bingung dengan jawaban itu. Lantas Bu Guru mengejar jawaban si Badu yang
nampaknya nggak masuk akal itu Dari mana kamu tahu orang tuamu suka makan
dan njilatin lampu, emang pernah melihat sendiri?

Si Budi menjawab dengan ngotot, Belum pernah lihat sendiri sih Bu Guru, namun
sering kali di malam hari Budi mendengar Mama atau Papa bilang gini Sayang,
cepetan lampunya dimatiin, ntar kujilatin deh kan enak banget

Wow, jangan horor! Jangan marah ke saya kok nulis kisah itu Mungkin aja lho,
orang tua si Badu memang keturunan pemain jathilan, yang suka makan lampu.
Nah, saya kan sudah bilang, ini bakal lain. Hehehehe!

Well, kenapa Anda bisa ketawa saat mendengar kisah itu? Kenapa fantasi menjadi liar
saat mendengar atau membaca lelucon itu? Inilah yang akan kita bahas secara NLP

Itulah yang para ahli ilmu bahasa katakan sebagai makna konotatif. Suatu gejala
bahasa yang menunjukkan bahwa manusia akan cenderung mencari suatu makna lain
yang relevan baginya selain makna gramatikalnya. Aduh, kayak kok jadi seperti
pelajaran bahasa tata bahasa Indonesia nih

Nah, ahli bahasa di sana boleh saja yang menemukan gejala bahasa itu, kemudian
menyebutnya dengan istilah makna konotatif. Nah, di sinilah, ada ahli ilmu lain, yang
jenius, yang mengubah pengetahuan ini menjadi suatu ilmu yang aplicable. Ilmu ini
disebut sebagai ilmu ericksonian, atau di NLP dikenal sebagai Milton Model.
Melalui belajar secara ekstensif dan pengamatan yang luar biasa kepada pakar
hypnotism bernama Milton H. Erickson, Richard Bandler dan John Grinder mendapati
pemahaman bahwa jika suatu kalimat dibuat menjadi sedemikian general, istilahnya
cukup vague. Dilakukan dengan cara melakukan proses yang disebut chunk up, maka
kalimat itu akan memiliki makna hypnotic. Kalimat semacam itu akan bisa relate
dengan siapapun yang mendengarnya. Setiap orang akan mencari dan mendapatkan
sekeping makna yang sesuai dengan dirinya, dan pasti akan selalu sesuai karena level
bahasanya sangat vague.

(BTW, jika ada yang sedikit bingung dengan penjelasan di atas, gak papa. Welcome-
lah pada kebingungan Karena kebingungan menandakan suatu situasi dimana
seseorang ingin memahami suatu ilmu, namun resources belum mencukupi. Jadi ayo
cari tambahan resources di pelatihan yang baik, agar menjadi mencukupi.)

Kembali pada kisah lucu di atas, gejala hypnotic muncul dalam dua level, level
pertama adalah pada si Anak, level ke dua pada pembaca cerita ini. Luar biasa
bukan, kelihatannya cuman sebuah cerita namun punya kekuatan hypnotic.
Perhatikan bahwa baik si Anak maupun Anda sendiri mengambil makna yang berbeda
atas makna kataSayang, cepetan lampunya dimatiin, ntar kujilatin deh kan enak
banget Makna apapun yang diambil, akan selalu relate dengan latar belakang,
pemahaman, dan abstraksi dari pendengarnya.

Dalam NLP, gejala di atas disebut sebagai syntactic ambiguity, apa artinya? Artinya
adalah susunan syntax kalimat itu sangat ambigu, tidak jelas katakujilatin itu mengacu
pada objek yang mana dalam kalimat itu. Sehingga pendengar akan mencari sendiri
korelasi kalimat itu berdasarkan pemahaman yang paling masuk diakalnya masing-
masing. Syntactic ambiguity ini muncul sebagai akibat dari proses deletion, di mana
kata kujilatin dihilangkan objeknya sehingga pikiran akan melengkapinya sendiri.

Inilah keajaiban proses pikiran manusia, atau di sisi lain juga bisa dilihat juga ke
rentanan pikiran manusia. Tergantung dari mana kita melihatnya dulu. Akan menjadi
rentan jika proses diatas dilakukan dengan sengaja dengan suatu kalimat yang well
crafted, seperti yang dilakukan para penipu yang melalui SMS. Nah, ini kapan-kapan
saya akan bahas di tulisan lain.

Efek Buruk

Mari kita menyelam lebih dalam lagi ke arah yang lebih riil, supaya lantas membumi
dengan kehidupan sehari-hari. Berikut akan saya kisahkan lagi omongan Bu Guru di
suatu sekolahan, namun ini kisah nyata dari keluarga sahabat saya.

Suatu hari, sahabat saya dipanggil oleh Bu Guru ke sekolah anaknya yang masih kelas
4 SD, diminta untuk mendiskusikan sesuatu. Setelah bertemu, Bu Guru menyatakan
bahwa si Putri (nama samaran), kok selalu maunya duduk di bangku belakang di
kelas, tidak mau dan bahkan menangis keras jika disuruh duduk di depan kelas. Saat
di selidiki lebih jauh oleh Bu Guru, si Putri menjawab bahwa ayahnya yang melarang
hal itu. Tentunya Bu Guru bingung dan ingin tahu kenapa Bapaknya melarang
anaknya duduk di bangku depan kelas.

Ayah dan Ibu si Putri bingung, dan nggak habis pikir, karena mereka merasa tidak
pernah melarang anaknya duduk di bangku depan. Mereka akhirnya sepakat, agar
secara pelan-pelan orangtua itu mencari tahu penyebabnya apa.

Setelah beberapa hari berlalu, mereka belum juga berhasil mendapat jawaban dari
anaknya soal itu. Anaknya tidak mau menjawab dan marah marah atau nangis dan
berlari jika ditanya hal itu. Aduh pusing benar si Bapak Ibu ini.

Suatu hari minggu, si Bapak dan Ibu sedang menonton TV di rumah bersama adiknya
si Putri yang masih kelas 2 SD, anggap saja namanya Dinda (samaran), sedangkan si
Putri sedang bermain di tetangga sebelah. Sebagaimana anak kecil lainnya, saat
nonton TV acara anak yang menarik perhatiannya, maka ia maju ke depan dan
menonton TV dengan sangat dekat. Keruan saja si Bapak dan Ibu tanpa dikomando
berteriak keras Dinda!!! Jangan duduk di depan terlalu dekat!!! Duduk terlalu depan
da terlalu dekat itu nggak baik!!! Mau dicubit!!!?.

Jegreng! Heii, kamu ketahuan., kok marah lagi dengan anaknya

Inilah rupanya penyebab perilaku si Putri di kelas.

Saat orang tua itu berteriak, detik itu pula sontak mereka tersadar bahwa kalimat yang
sama itulah yang dipahami si Putri di kelas sehingga ia tidak mau duduk di kursi
depan kelas, karena akan terlalu dekat! Tertegunlah ke dua orang itu, dan langsung
menelepon saya, menceritakan dan bertanya bagaimana cara menyelesaikan hal ini
Ya ampuuuuun

Sekali lagi, rupanya si Putri memahami kalimat orang tuanya secara salah, karena
adanya sintactic ambiguity dalam kalimat itu. Kalimat orang tuanya telah men-delete
objek larangan itu. Orang tuanya mengasumsikan bahwa seharusnya si Putri tahu
bahwa larangan itu maksudnya adalah jangan terlalu dekat dengan TV. Kan larangan
itu konteksnya sedang menonton TV, kilah orang tuanya.

Kring, kring, halo Bapak Ibu. Hallllooooooooo?, HIndari mengasumsikan


anak seharusnya SUDAH TAHU maksud kita. Hindari mengasumsikan anak bisa
memahami konteks kalimat yang kita katakan. Kitalah yang seharusnya SUDAH
TAHU bahwa mereka masih anak-anak, mereka masih belajar memahami bahasa.
Bahkan ilmu mengenali asumsi adalah soal belajar seumur hidup, lha buktinya sampai
sekarang saja orang nggak sadar atas asumsi apa yang diambil orang lain atau dirinya
sendiri kok.

Sesungguhnya ini bukan hanya gejala syntactic ambiguity saja, ini juga menjelaskan
bagaimana anchor bekerja. Karena si ortu selalu mengucapkan kalimat itu dengan
nada marah, ini menimbulkan rasa takut si Anak. Kita sudah tahu bahwa rasa takut
dan sejenisnya, jika berada dalam kondisi peak, dan pada saat yang sama ada stimulus
yang datang dan terfokus padanya maka stimulus itu akan menjadi anchor atas rasa
takut itu. Apalagi hal ini diulang oleh orang tuanya berkali-kali, maka bisa
dibayangkan seberapa kuat kata-kata menancap di kepala si Anak. Berapa lama
anchor merusak ini akan bertahan di kepala si anak? Jika belum memahami anchor,
silahkan membaca artikel ini dan artikel ini. Anchor bisa terjadi karena pengulangan
atau karena situasi yang peak emotion. Nah, bisa dibayangkan siatuasi si Putri ini,
sudah berada di kondisi peak emotion, bahkan kejadiannya berulang-ulang, maka bisa
dibayangkan seberapa kuat anchor itu

Anyway., beberapa tahun yang lalu saya pernah juga menangani suatu klien yang
kata-kata sahabatnya menjadi anchor dan baru terpicu saat ia sudah dewasa (set
anchor by futured pacing). Inti ceritanya adalah ada seorang bapak mengajak istrinya
ke saya, seorang wanita ayu yang punya masalah besar, suka mengumpat secara tak
terkontrol dan berteriak-teriak keras jika marah.

Wanita ini rupanya dulu sat muda sangat benci pada ibunya yang sangat galak bukan
main. Marah-marah, mencerca, mengumpat dan memukul adalah hal yang tiap hari
dilakukan ibunya, sampai-sampai ayahnya pernah mengajak minggat si Anak karena
takut ama ibunya itu. Anehnya, peristiwa ini seolah tidak berdampak buruk apapun
saat masih remaja, namun begitu ia menikah, tiba-tiba saja ia memiliki perilaku
seperti ibunya, perilaku galak dan suka mengumpat secara tak terkontrol jika ia
sedang marah persis seperti ibunya dulu.

Klien perempuan ini adalah sehari-hari seorang yang halus budi bahasa, ayu dan
cenderung pendiam. Saat remaja ia punya sahabat perempuan tempatnya curhat. Suatu
hari saat ia tidak tahan dengan perilaku ibunya, ia curhat menangis penuh benci di
depan temannya itu. Seraya menasehati, teman itu berkata Hati-hati lho, kalau kamu
terlalu benci pada ibumu, ntar kalau kamu udah menikah malah jadi seperti ibumu!
Kan gawat.

Jegreng! Heiii, kamu ketahuan., masang future pacing dengan temannya

Aduh, kawan kita ini tidak tahu bahwa ia sedang mengeset suatu anchor dengan cara
future pacing. Yakni membawa seseorang berimajinasi ke depan, seraya menunjukkan
apa yang akan terjadi nanti saat ada situasi spesifik (menikah) di masa yang akan
datang. Perkataan temannya ini dilakukan tepat saat ia sedang hopeless, sedang marah
dan benci sekaligus (peak), sehingga menjadi anchor, yang akan terpicu di masa
depan. Kenapa di masa depan, karena di set demikian oleh temannya Nanti kalau
kamu menikah.. Saat itu kata-kata temannya masih tidak relate dengan situasinya
(ia belum menikah), maka kalimat itu ditelan saja sebagai ambiguity di kepalanya.
Namun ambiguitu ini memiliki sifat anchor.

Hebatnya lagi yang mengeset anchor adalah sahabatnya, figur yang ia percaya, yang
kata-katanya sangat ia dengarkan, sekaligus tempatnya bercurhat. Maka bisa
dibayangkan kekuatan hypnotic dari anchor ini. Anchor yang dilakukan oleh orang
yang lebih kuat, diperacaya dan disukai, akan memiliki kekuatan yang amat kuat.

Perempuan ini saat remaja dan dewasa hampir tidak pernah marah, bahkan manis budi
bahasanya. Baru setelah ia menikah, tiba-tiba perangainya berubah. Menjadi pemarah
luar biasa suka berteriak keras-keras jka mengumpat, sampai-sampai suami bahkan
tetangganya saja kebingungan. Luar biasanya, hal ini adalah di luar kontrol si wanita
ini. Bahkan saat mau terapi ia sempat mengatakan Mas, jika setelah saya
menceritakan kisah saya ini cuma kemudian dinasehatin oleh Anda, mendingan saya
pulang dari sekarang. Saya tidak butuh nasehat moral apapun, saya sudah tahu kalau
mengumpat itu berdosa. Ini terjadi semua di luar kontrol saya, rasanya saya seperti
kemasukan gitu, saya juga sudah ke dukun dan paranormal, tapi nggak ada hasilnya.
Jadi yang saya butuhkan bukan nasehat dari Anda, tapi terapi yang membuat saya
berubah.

Well, itulah suatu contoh anchor yang luar biasa, yang diset secara tepat waktu dan
unik oleh teman curhatnya. Sayang sekali, sebagaimana semua stimulus
phobia/trauma yang lainnya. Anchor hebat ini bekerja untuk tujuan yang negatif dan
merusak. Bayangkan jika orang bisa membuat anchor sedahsyat ini untuk tujuan baik
dan bermanfaat.

Singkat cerita, maka terapi dilakukan untuk menghancurkan, meng-collaps anchor ini
sehingga tidak memiki kekuatan yang akan mengambil alih kesadaran normatif
wanita ini lagi. Alhamdulillah, masalah bisa diselesaikan dengan baik.

Sementara kita simpulkan dulu kisah-kisah di atas:

Ambiguity, termasuk di dalamnya syntactic ambiguity memiliki kekuatan hypnotic


karena efek multi interpretation dan akan selalu cocok pada pendengarnya. Ini akan
menjadi sangat merusak sekali apabila efek interpretasinya negatif, disempowering,
bahkan menganjurkan perbuatan keliru / bodoh / destruktif. Jika terjadi pada anak
yang masih naif, maka anak akan memilih makna yang paling relate baginya, atau
akan menelan begitu saja kalimat ini secara ambigu, sampai ia menemukan makna di
suatu hari nanti.
Anchor memiliki kekuatan pemicu yang luar biasa, terutama apabila di set dengan
timing yang tepat (peak emotion), dengan stimulus unik. Keukuatan ini akan berlipat
ganda jika di lakukan perulangan (compounding). Sehingga jika anchor ini dipicu,
maka seseorang akan langsung terbawa di luar kontrol. Apalagi jika yang mengeset
anchor adalah figur dominan, terpercaya, disukai. wah akan lebih kuat efeknya.
Future pacing adalah suatu kekuatan permograman pikiran untuk tujuan jangka
panjang, di mana suatu perilaku akan bisa dibangkitkan di masa yang akan datang.
Kenapa bisa terjadi, karena melalui future pacing seseorang akan menciptakan jejak
dalam sirkuit neurologis di otaknya. Jejak dalam sirkuit neurologis ini berbentuk sama
dengan jejak riil yang terjadi akibat proses pengalaman. Otak tidak membedakan
antara pengalaman riil dan visualisasi (termasuk future pacing), jejak yang
ditinggalkan di dalam sirkuit otak akan melalui jalur yang sama.

Nah, bagaimana jika ketiga hal itu digabungkan? Jika dilakukan dengan sengaja akan
sungguh-sungguh merupakan hasil kerja yang jenius! Ilmu yang amat berbahaya,
namun perlu diketahui karena akan sangat berguna bagi terapi juga. Bagaimana bisa
melakukan terapi apabila struktur berhaviornya saja kok tidak tahu?

Oke, saya tidak ingin menimbulkan ide untuk melakukan hal itu, saya hanya ingin
mengajak Anda merenungkan berbagai kejadian di rumah, di kehidupan, di sekolah,
di perkerjaan. Apakah mungkin pernah terjadi pada kita, terutama anak-anak kita,
bahwa secara tidak sadar kita sudah melakukan ketiga hal itu di atas? Astaghfirulloh!

Sebagai penutup, saya ingin Anda menilai sendiri suatu fenomena ini, dengan
menggunakan ilmu di atas yang baru saja kita bahas. Fenomena ini adalah suatu iklan
yang sempat ngetop sekali dan sampai saat ini masih dipakai.

Salah satu deterjen kawakan, yang dulu dipakai keluarga saya juga memiliki suatu
jingle iklan yang berbunyi Berani kotor itu baik!

Iklan ini terus menerus diputar di mana-mana, di televisi, di radio, tertempel di poster,
baliho, maupun neon sign besar sepanjang jalan. Bahkan rasanya masih kurang,
dibuatkan pula aktivitas below the line berbentuk experiential game di berbagai kota.
Menggunakan seorang tokoh iklan yang akrab dengan dunia anak, makin dahsyat
kekuatan iklan ini.

Nah, pembaca yang budiman, silahkan Anda tinjau iklan itu dengan ke tiga point yang
suah saya paparkan di atas, apakah terpenuhi? Apa kira-kira efeknya nanti?

Mari kita amati anak-anak yang saat iklan ini diputar mereka masih seusia SD. Entah,
bagaimana setelah dewasa nanti anak seangkatan ini (cohort) akan berprilaku?
Bagaimana saat nanti mereka menjadi orang tua, pemimpin, presiden, DPR, pebisnis
atau karyawan. Apakah makna yang akan paling relate atas kata-kata ini nantinya?

OK, mari kita pilih tontonan bagi anak kita, permainan bagi anak kita. Mereka masih
naif, mereka belum bisa kontekstual. Deletion hanya akan membingungkan mereka.
Akibatnya?

Anda bisa menilai sendiri.