Sunteți pe pagina 1din 31

Tugas Mandiri Skenario 2 blok Kedokteran Komunitas

Kejadian Penyakit dan Pelayanan Kesehatan Masyarakat

LI 1. Memahami dan Menjelaskan Kejadian Luar Biasa dan wabah di masyarakat


berdasarkan wabah di masyarakat berdasarkan mortalitas dan morbiditas
LI 2. Memahami dan Menjelaskan perilaku kesehatan dan individu dan masyarakat (pola
pencarian pengobatan (care seeking behavior)
LI 3. Memahami dan Menjelaskan mengenai cakupan dan mutu pelayanan kesehatan serta
imunisasi
LI 4. Memahami dan Menjelaskan aspek sosial dan budaya masyarakat dalam mengakses
pemanfaatan pelayanan kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan
LI 5. Memahami dan Menjelaskan sIstem rujukan kesehatan masyarakat
LI 6. Memahami dan Menjelaskan tujuan syariat islam dan konsep KLB
LI 7. Memahami dan Menjelaskan hukum menjaga kesehatan dan berobat dalam pandangan
islam

LI 1. Memahami dan Menjelaskan Kejadian Luar Biasa dan wabah di masyarakat


berdasarkan wabah di masyarakat berdasarkan mortalitas dan morbiditas
A. Definisi Kejadian Luar Biasa (KLB)
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan No. 949/Menkes/SK/VIII/2004), Kejadian Luar Biasa
(KLB) adalah suatu kejadian kesakitan/kematian dan atau meningkatnya suatu kejadian
kesakitan/kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu kelompok penduduk
dalam kurun waktu tertentu (Lapau, Buchari. 2009).

Kejadian Luar Biasa (KLB) yaitu munculnya penyakit di luar kebiasaan (base line condition)
yang terjadi dalam waktu relatif singkat serta memerlukan upaya penanggulangan secepat
mungkin, karena dikhawatirkan akan meluas, baik dari segi jumlah kasus maupun wilayah
yang terkena persebaran penyakit tersebut. Kejadian luar biasa juga disebut sebagai
peningkatan kejadian kasus penyakit yang lebih banyak daripada eksternal normal di suatu
area atau kelompok tertentu, selama suatu periode tertentu. Informasi tentang potensi KLB
biasanya datang dari sumber-sumber masyarakat, yaitu laporan pasien (kasus indeks),
keluarga pasien, kader kesehatan, atau warga masyarakat. Tetapi informasi tentang potensi
KLB bisa juga berasal dari petugas kesehatan, hasil analisis atau surveilans, laporan
kematian, laporan hasil pemeriksaan laboratorium, atau media lokal (Tamher. 2004).
B. Kriteria Kejadia Luar Biasa (KLB)
Suatu kejadian penyakit atau keracunan dapat dikatakan KLB apabila memenuhi kriteria
sebagai berikut:
1. Timbulnya suatu penyakit/kesakitan yang sebelumnya tidak ada/tidak diketahui.
2. Peningkatan kejadian penyakit/kematian terus menerus selama 3 kurun waktu
berturut-turut menurut jenis penyakitnya (jam, hari, minggu, dst)
3. Peningkatan kejadian penyakit/kematian 2 kali atau lebih dibandingkan periode
sebelumnya (jam, hari, minggu, bulan, tahun).
4. Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikan 2 kali lipat atau lebih
bila dibandingkan dengan angka rata-rata per bulan dalam tahun sebelumnya.
5. Angka rata-rata per bulan selama satu tahun menunjukkan kenaikan 2 kali lipat atau
lebih dibandingkan dengan angka rata-rata per bulan dalam tahun sebelumnya.
6. Case fatality rate dari suatu penyakit dalam kurun waktu tertentu menunjukkan 50%
atau lebih dibandingkan CFR dari periode sebelumnya.
7. Proporsional rate (PR) penderita baru dari periode tertentu menunjukkan kenaikan 2
kali lipat atau lebih dibandingkan periode yang sama dalam kurun waktu/tahun
sebelumnya.
8. Setiap peningkatan kasus dari periode sebelumnya (pada daerah endemis)
9. Terdapat satu atau lebih penderita baru dimana pada periode 4 minggu sebelumnya
daerah tersebut dinyatakan bebas dari penyakit yang bersangkutan.
10. Beberapa penyakit yang dialami 1 (satu) atau lebih penderita : keracunan makanan
dan keracunan pestisida.
11. Dalam menentukan apakah ada wabah, perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut
dengan membandingkan jumlah yang ada saat itu dengan jumlah beberapa minggu
atau bulan sebelumnya.
12. Menentukan apakah jumlah kasus yang ada sudah melampaui jumlah yang
diharapkan.

1. Sumber informasi bervariasi :


1. Catatan hasil surveilans
2. Catatan keluar rumah sakit statistik kematian, register, dan lain-lain.
3. Bila data local tidak ada dapat digunakan rate dari wilayah di dekatnya atau data
nasional
4. Boleh juga dilaksanakan survey di masyarakat menentukan kondisi penyakit yang
biasanya ada.

2. Pseudo-epidemik :
1. Perubahan cara pencatatan dan pelaporan penderita
2. Adanya cara diagnosis baru
3. Bertambahnya kesadaran penduduk untuk berobat
4. Adanya penyakit lain dengan gejala yang serupa
5. Bertambahnya jumlah penduduk yang rentan
(Efendi, Ferry. 2009).

C. Penyakit Tertentu Yang Menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB)

Berdasarkan Permenkes RI No.1501/Menkes/Per/X/2010 Bab II pasal 2 penyakit tertentu


yang menimbulkan KLB :
Kholera Pertusis Hepatitis
Pes Rabies Influenza H1N1
Demam berdarah Malaria Meningitis
Campak Avian Influenza Yellow Fever
Polio H5N1 Chikungunya
Difteri Antraks
Leptospirosis

Penyakit-Penyakit berpotensi Wabah/KLB :


a) Penyakit karantina/penyakit wabah penting: Kholera, Pes, Yellow Fever.
b) Penyakit potensi wabah/KLB yang menjalar dalam waktu cepat/mempunyai
memerlukan tindakan segera : DHF, Campak, Rabies, Tetanus neonatorum, Diare, Pertusis,
Poliomyelitis
c) Penyakit potensial wabah/KLB lainnya dan beberapa penyakit penting : Malaria,
Frambosia, Influenza, Anthrax, Hepatitis, Typhus abdominalis, Meningitis, Keracunan,
Encephalitis, Tetanus.
d) Penyakit-penyakit menular yang tidak berpotensi wabah dan atau KLB, tetapi masuk
program : Kecacingan, Kusta, Tuberkulosa, Syphilis, Gonorrhoe, Filariasis, dan lain-lain.

D. Klasifikasi Kejadian Luar Biasa (KLB)


Berdasarkan klasifikasinya Kejadian Luar Biasa dibagi berdasarkan penyebab dan
sumbernya, yakni sebagai berikut :
1) Berdasarkan Penyebab
1) Toxin
1. Entero toxin, misal yang dihasilkan oleh Staphylococcus aureus, Vibrio, Kholera,
Eschorichia, Shigella
2. Exotoxin (bakteri), misal yang dihasilkan oleh Clostridium botulinum, Clostridium
perfringens
3. Endotoxin

2) Infeksi
1. Virus
2. Bacteri
3. Protozoa
4. Cacing

3) Toxin Biologis
Racun jamur.
Alfatoxin
Plankton
Racun ikan
Racun tumbuh-tumbuhan

4) Toxin Kimia
1. Zat kimia organik: logam berat (seperti air raksa, timah), logam-logam lain cyanida,
nitrit, pestisida.
2. Gas-gas beracun: CO, CO2, HCN, dan sebagainya
(Bustan, 2002).
b. Berdasarkan sumber
a. Sumber dari manusia
Misalnya: jalan napas, tangan, tinja, air seni, muntahan seperti : salmonella, shigella,
hepatitis.
b. Bersumber dari kegiatan manusia
Misalnya : toxin dari pembuatan tempe bongkrek, penyemprotan pencemaran
lingkungan.
c. Bersumber dari binatang
Misalnya : binatang peliharaan, rabies dan binatang mengerat
d. Bersumber pada serangga (lalat, kecoak )
Misalnya : salmonella, staphylococcus, streptococcus
e. Bersumber dari udara
Misalnya : staphylococcus, streptococcus virus
f. Bersumber dari permukaan benda-benda atau alat-alat
Misalnya : salmonella
g. Bersumber dari makanan dan minuman
Misalnya : keracunan singkong, jamur, makanan dalam kaleng
(Bustan, 2002).

E. Faktor yang mempengaruhi timbulnya Kejadian Luar Biasa (KLB)

a) Herd Immunity yang rendah


Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi timbulnya KLB/Wabah adalah Herd
Immunity. Secara umum dapat dikatakan bahwa herd immunity ialah kekebalan yang
dimiliki oleh sebagian penduduk yang dapat menghalangi penyebaran. Hal ini dapat
disamakan dengan tingkat kekebalan individu yaitu makin tinggi tingkat kekebalan
seseorang, makin sulit terkena penyakit tersebut. Demikian pula dengan herd
immunity, makin banyak proporsi penduduk yang kebal berarti makin tinggi
tingkat herd immunity-nya hingga penyebaran penyakit menjadi semakin sulit.

Kemampuan mengadakan perlingangan atau tingginya herd immunity untuk menghindari


terjadi epidemi bervariasi untuk tiap penyakit tergantung pada:
a. Proporsi penduduk yang kebal,
b. Kemampuan penyebaran penyakit oleh kasus atau karier, dan
c. Kebiasaan hidup penduduk.
Pengetahuan tentang herd immunity bermanfaat untuk mengetahui bahwa menghindarkan
terjadinya epidemi tidak perlu semua penduduk yang rentan tidak dapat dipastikan, tetapi
tergantung dari jenis penyakitnya, misalnya variola dibutuhkan 90%-95% penduduk kebal.

b) Patogenesitas
Kemampuan bibit penyakit untuk menimbulkan reaksi pada pejamu sehingga timbul
sakit.

c) Lingkungan Yang Buruk


Seluruh kondisi yang terdapat di sekitar organisme tetapi mempengaruhi kehidupan
ataupun perkembangan organisme tersebut.
(Notoatmojo, 2003).

F. Pelaksanaan Penyelidikan Kejadian Luar Biasa (KLB)


Tujuan umum dari pelaksanaan Penyelidikan Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah
untuk mendapatkan informasi dalam rangka penanggulangan dan pengendalian
Penyelidikan Kejadian Luar Biasa (KLB). Untuk mencapai tujuan umum tersebut,
maka dirumuskan tujuan khusus sebagai berikut :
a) Memastikan diagnosis penyakit
Dalam memastikan diagnosis penyakit, terlebih dahulu dijelaskan tingkatan kasus
penyakit yang bersangkutan

3. Kepastian diagnosis
Kasus pasti : adanya kepastian laboratorium serologi, bakteriologi, virologi atau
parasitologi dengan atau tanpa gejala klinis.
Kasus mungkin : Tanda atau gejala sesuai penyakitnya tanpa dukungan laboratorium
Kasus tersangka : Tanda atau gejala sesuai penyakitnya tetapi pemeriksaan
laboratorium negative

4. Hubungan epidemiologi
1. Kasus primer : kasus yang sakit karena paparan pertama
2. Kasus sekunder : kasus yang sakit karena adanya kontrak dengan kasus primer
3. Kasus tak ada : terjadinya sakit bukan karena paparan pertama ataupun hubungan
kontrak dengan kasus

5. Pada waktu melakukan penyelidikan Kejadian Luar Biasa (KLB) dilapangan,


diagnosis penyakit hanya didasarkan pada penyesuaian dari gejala dan tanda penyakit
yang bersangkutan yang sudah dipelajari dari kepustakaan atau oleh guru/dosen yang
bersangkutan. Namun tidak begitu mudah memastikan diagnosis penyakit atas dasar
penyesuaian gejala dan tanda ini. Karena itu di lapangan pemastian diagnosis penyakit
didasarkan pada :
a. Urutan frekuensi tertinggi sampai terendah dari gejala dan tanda penyakit
b. Gejala atau tanda patognomosis yaitu gejala dan tanda yang khusus untuk penyakit
tertentu
c. Perimbangan antara sensitivitas dan spesitifitas

b) Penetapan Penyelidikan Kejadian Luar Biasa (KLB)


6. Distribusi kasus menurut waktu
Bila dibuat kurve dimana waktu merupakan absisnya dan frekuensi kasus merupakan
ordinatnya, maka ada tiga jenis kurve epidemi yaitu :
Common source epidemic, yang menunjukan adanya sumber penyakit yang sama.
Propagated epidemic, yang menunjukan terjadinya penyebaran penyakit dari orang ke
orang secara langsung atau melalui lingkungan.
Kombinasi Common source epidemic dan Propagated epidemic.
(Lapau, Buchari. 2009).

G. Prosedur Penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB)


a) Masa pra KLB
Informasi kemungkinan akan terjadinya KLB/wabah adalah dengan melaksanakan Sistem
Kewaspadaan Dini secara cermat, selain itu melakukan langkah-langkah lainnya :
1) Meningkatkan kewaspadaan dini di puskesmas baik SKD, tenaga dan logistik.
2) Membentuk dan melatih TIM Gerak Cepat puskesmas.
3) Mengintensifkan penyuluhan kesehatan pada masyarakat
4) Memperbaiki kerja laboratorium
5) Meningkatkan kerjasama dengan instansi lain

b) Tim Gerak Cepat (TGC)


Sekelompok tenaga kesehatan yang bertugas menyelesaikan pengamatan dan
penanggulangan wabah di lapangan sesuai dengan data penderita puskesmas atau data
penyelidikan epideomologis. Tugas /kegiatan :
a. Pencarian penderita lain yang tidak datang berobat.
b. Pengambilan usap dubur terhadap orang yang dicurigai terutama anggota keluarga.
Pengambilan contoh air sumur, sungai, air pabrik dan lain-lain yang diduga tercemari
dan sebagai sumber penularan.
c. Pelacakan kasus untuk mencari asal usul penularan dan mengantisipasi penyebarannya.
Pencegahan dehidrasi dengan pemberian oralit bagi setiap penderita yang ditemukan di
lapangan.
d. Penyuluhan baik perorang maupun keluarga dan membuat laporan tentang kejadian
wabah dan cara penanggulangan secara lengkap.

c) Upaya penanggulangan wabah dapat meliputi:


1. Penyelidikan epidemiologis;
1. Mengetahui sebab-sebab penyakit wabah
2. Menentukan faktor penyebab timbulnya wabah
3. Mengetahui kelompok masyarakat yang terancam terkena wabah
4. Menentukan cara penanggulangan wabah

Kegiatan yang dilakukan dengan penyelidikan epidemiologis adalah sebagai berikut :


1. Mengumpulkan data morbiditas dan mortalitas penduduk
2. Pemeriksaan klinis, fisik, laboratorium dan penegakan diagnosis
3. Pengamatan terhadap penduduk, pemeriksaan, terhadap makhluk hidup dan benda-
benda yang ada di suatu wilayah yang diduga mengandung penyebab penyakit wabah
2. Pemeriksaan, pengobatan, perawatan, dan isolasi penderita, termasuk tindakan
karantina, tujuannya adalah :
1. Memberikan pertolongan medis kepada penderita agar sembuh dan mencegah agar
mereka tidak menjadi sumber penularan.
2. Menemukan dan mengobati orang yang tampaknya sehat, tetapi mengandung
penyebab penyakit sehingga secara potensial dapat menularkan penyakit (carrier).
3. Pencegahan dan pengebalan ; tindakan-tindakan yang dilakukan untuk memberi
perlindungan kepada orang-orang yang belum sakit, tetapi mempunyai resiko terkena
penyakit.
4. Pemusnahan penyebab penyakit, terutama pemusnahan terhadap bibit penyakit/kuman
dan hewan tumbuh-tumbuhan atau benda yang mengandung bibit penyakit.
5. Penanganan jenazah akibat wabah ; penanganan jenazah yang kematiannya
disebabkan oleh penyakit yang menimbulkan wabah atau jenazah yang merupakan
sumber penyakit yang dapat menimbulkan wabah harus dilakukan secara khusus
menurut jenis penyakitnya tanpa meninggalkan norma agama serta harkatnya sebagai
manusia. Penanganan secara khusus itu meliputi pemeriksaan jenazah oleh petugas
kesehatan dan perlakuan terhadap jenazah serta sterilisisasi bahan-bahan dan alat yang
digunakan dalam penanganan jenazah diawasi oleh pejabat kesehatan.
6. Penyuluhan kepada masyarakat, yaitu kegiatan komunikasi yang bersifat persuasif
edukatif tentang penyakit yang dapat menimbulkan wabah agar mereka mengerti
sifat-sifat penyakit, sehingga dapat melindungi diri dari penyakit tersebut dan apabila
terkena, tidak menularkannya kepada orang lain. Penyuluhan juga dilakukan agar
masyarakat dapat berperan serta aktif dalam menanggulangi wabah.
7. Upaya penanggulangan lainya adalah tindakan-tindakan khusus masing-masing
penyakit yang dilakukan dalam rangka penanggulangan wabah.
8. (Timmreck, Thomas C. 2005)
H. Langkah Langkah saat terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB)
Langkah pencegahan kasus dan pengendalian Kejadian Luar Biasa (KLB) dapat
dimulai sedini mungkin setelah tersedia informasi yang memadai. Bila investigasi
atau penyelidikan Kejadian Luar Biasa (KLB) telah memberikan fakta yang jelas
mendukung hipotesis tentang penyebab terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB),
sumber agen infeksi, dan cara transmisi yang menyebabkan Kejadian Luar Biasa
(KLB), maka upaya pengendalian dapat segera dimulai tanpa perlu menunggu
pengujian hipotesis. Tetapi jika pada investigasi Kejadian Luar Biasa (KLB) belum
memberikan fakta yang jelas maka dilakukan langkah-langkah sebagai berikut :

a) Mengidentifikasi Kejadian Luar Biasa (KLB)


Kejadian Luar Biasa (KLB) merupakan peningkatan kejadian kasus penyakit yang lebih
banyak daripada keadaan normal di suatu area tertentu atau pada suatu kelompok tertentu,
selama suatu periode waktu tertentu. Informasi tentang terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB)
biasanya datang dari sumber-sumber masyarakat, yaitu laporan pasien, keluarga pasien, kader
kesehatan, atau warga masyarakat. Tetapi informasi tentang terjadinya Kejadian Luar Biasa
(KLB) bisa juga berasal dari petugas kesehatan, laporan kematian, laporan hasil pemeriksaan
laboratorium, atau media lokal (surat kabar dan televisi). Pada dasarnya Kejadian Luar Biasa
(KLB) merupakan penyimpangan dari keadaan normal karena itu Kejadian Luar Biasa (KLB)
ditentukan dengan cara membandingkan jumlah kasus sekarang dengan rata-rata jumlah
kasus dan variasinya di masa lalu (minggu, bulan, tahun). Kenaikan jumlah kasus belum tentu
mengisyaratkan terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) (Chandra, Budiman. 2007).
Terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) dan teridentifikasinya sumber dan penyebab Kejadian
Luar Biasa (KLB) perlu ditanggapi dengan tepat. Jika terjadi kenaikan signifikan jumlah
kasus sehingga disebut Kejadian Luar Biasa (KLB), maka pihak dinas kesehatan yang
berwewenang harus membuat keputusan apakah akan melakukan investigasi Kejadian Luar
Biasa (KLB). Beberapa penyakit menimbulkan manifestasi klinis ringan dan akan berhenti
dengan sendirinya (self-limiting diseases), misalnya flu biasa. Implikasinya, tidak perlu
dilakukan investigasi Kejadian Luar Biasa (KLB) maupun tindakan spesifik terhadap
Kejadian Luar Biasa (KLB), kecuali kewaspadaan. Tetapi, Kejadian Luar Biasa (KLB)
lainnya akan terus berlangsung jika tidak ditanggapi dengan langkah pengendalian yang tepat
(Chandra, Budiman. 2007).

b) Melakukan Investigasi Kejadian Luar Biasa (KLB)


Pada Investigasi Kejadian Luar Biasa (KLB) dilakukan dua investigasi, yaitu investigasi
kasus dan investigasi penyebab. Pada investigasi kasus, peneliti melakukan verifikasi apakah
kasus-kasus yang dilaporkan telah didiagnosis dengan benar (valid). Peneliti Kejadian Luar
Biasa (KLB) mendefinisikan kasus dengan menggunakan seperangkat kriteria sebagai
berikut:
a. Kriteria klinis (gejala, tanda, onset)
b. Kriteria epidemiologis karakteristik orang yang terkena, tempat dan waktu
terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB)
c. Kriteria laboratorium (hasil kultur dan waktu pemeriksaan)
d. Identitas diri (nama, alamat, nomer telepon jika ada)
e. Demografis (umur, seks, ras, pekerjaan)
f. Kemungkinan sumber, paparan, dan kausa
g. Gejala klinis (verifikasi berdasarkan definisi kasus, catat tanggal onset gejala
untuk membuat kurva epidemi, catat komplikasi dan kematian akibat
penyakit)
h. Pelapor (berguna untuk mencari informasi tambahan dan laporan balik hasil
investigasi). Pemeriksaan klinis ulang perlu dilakukan terhadap kasus yang
meragukan atau tidak didiagnosis dengan benar (misalnya, karena kesalahan
pemeriksaan laboratorium)
(Chandra, Budiman. 2007).

c) Melaksanakan penanganan Kejadian Luar Biasa (KLB)


Bila investigasi kasus dan penyebab telah memberikan fakta tentang penyebab, sumber, dan
cara transmisi, maka langkah pengendalian hendaknya segera dilakukan, tidak perlu
melakukan studi analitik yang lebih formal. Prinsipnya, makin cepat respons pengendalian,
makin besar peluang keberhasilan pengendalian. Makin lambat respon pengendalian, makin
sulit upaya pengendalian, makin kecil peluang keberhasilan pengendalian, makin sedikit
kasus baru yang bisa dicegah (Chandra, Budiman. 2007).

d) Menetapkan Berakhirnya Kejadian Luar Biasa (KLB)


Pada tahap ini, langkah yang dilakukan sama dengan langkah pada mengidentifikasi Kejadian
Luar Biasa (KLB). Pada tahap ini, dilakukan dengan mencari informasi tentang terjadinya
Kejadian Luar Biasa (KLB) biasanya datang dari sumber-sumber masyarakat, yaitu laporan
pasien, keluarga pasien, kader kesehatan, atau warga masyarakat. Informasi juga bisa berasal
dari petugas kesehatan, laporan kematian, laporan hasil pemeriksaan laboratorium, atau
media lokal (surat kabar dan televisi). Hal ini untuk menganalisis apakah program
penanganan Kejadian Luar Biasa (KLB) dapat menurunkan kasus yang terjadi (Chandra,
Budiman. 2007).

e) Pelaporan Kejadian Luar Biasa (KLB)


Peneliti Kejadian Luar Biasa (KLB) memberikan laporan tertulis dengan format yang lazim,
terdiri dari: introduksi, latar belakang, metode, hasil-hasil, pembahasan, kesimpulan,
dan rekomendasi. Laporan tersebut mencakup langkah pencegahan dan pengendalian,
catatan kinerja sistem kesehatan, dokumen untuk tujuan hukum, dokumen berisi rujukan yang
berguna jika terjadi situasi serupa di masa mendatang (Chandra, Budiman. 2007).
Peneliti Kejadian Luar Biasa (KLB) perlu melakukan evaluasi kritis untuk mengidentifikasi
berbagai kelemahan program maupun defisiensi infrastruktur dalam sistem kesehatan.
Evaluasi tersebut memungkinkan dilakukannya perubahan-perubahan yang lebih mendasar
untuk memperkuat upaya program, sistem kesehatan, termasuk surveilans itu sendiri
(Chandra, Budiman. 2007).
Pengukuran Epidemiologi
UKURAN MORBIDITAS
Ukuran atau angka morbiditas adalah jumlah penderita yang dicatat selama 1 tahun per 1000
jumlah penduduk pertengahan tahun
Angka ini dapat digunakan untuk menggambarakan keadaan kesehatan secara umum,
mengetahui keberahasilan program program pemberantasan penyakit, dan sanitasi lingkungan
serta memperoleh gambaran pengetahuan pendudukterhadap pelayanan kesehatan
Secara umum ukuran yang banyak digunakan dalam menentukan morbiditas adalah angka,
rasio, dan proporsi.

RATE
Rate atau angka merupakan proporsi dalam bentuk khusus perbandingan antara pembilang
dengan penyebut atau kejadian dalam suatu populasi teterntu dengan jumlah penduduk dalam
populasi tersebut dalam batas waktu tertentu. Rate terdiri dari berbagai jenis ukuran
diataranya adalah :

Proporsi atau jumlah kelompok individu yang terdapat dalam penduduk suatu wilayah
yang semula tidak sakit dan menjadi sakit dalam kurun waktu tertentu dan pembilang
pada proporsi tersebut adalah kasus baru. Tujuan dari Insidence Rate adalah sbg berikut
o Mengukur angka kejadian o Perbandinagan antara berbagai populasi
penyakit dengan pemaparan yg berbeda
o Untuk mencari atau mengukur o Untuk mengukur besarnya risiko yang
faktor kausalitas ditimbulkan oleh determinan tertentu

Rumus:

P= Estimasi incidence rate


d
P=
n()
K d= Jumlah incidence (kasus baru)
n= Jumlah individu yang semula tidak sakit
(population at risk)

Hasil estimasi dari insiden dapat digunakan sebagai bahan untuk perencanaan
penanggulangan masalah kesehatan dengan melihat, Potret masalah kesehatan, angka dari
beberapa periode dapat digunakan untuk melihat trend dan fluktuasi, untuk pemantauan dan
evaluasi upaya pencegahan maupun penanggulangan serta sebagai dasar untuk membuat
perbandingan angka insidens antar wilayah dan antar waktu

PR ( Prevalence)
Ukuran prevalensi suatu penyakit dapat digunkan
o Menggambarkan tingkat keberhasilan program pemberantasan penyakit
o Untuk penyusunan perencanaan pelayanan kesehatan. Misalnya, penyediaan obat-
obatan, tenaga kesehatan, dan ruangan
o Menyatakan banyaknya kasus yang dapat di diagnosa
o Digunakan untuk keperluan administratif lainnya
o Angka prevalensi dipengaruhi oleh tingginya insidensi dan lamanya sakit. Lamanya
sakit adalah suatu periode mulai dari didiagnosanya suatu penyakit hingga
berakhirnya penyakit teresebut yaitu sembuh, kronis, atau mati

PePR (Periode Prevalence Rate)


PePR yaitu perbandingan antara jumlah semua kasus yang dicatat dengan jumlah
penduduk selama 1 periode
Rumus:

P P = jumlah semua kasus yang dicatat


PePR= ( )
R
K R = jumlah penduduk
k = pada saat tertentu
PoPR (Point Prevlene Rate)
Point Prevalensi Rate adalah nilai prevalensi pada saat pengamatan yaitu perbandingan
antara jumlah semua kasus yang dicatat dengan jumlah penduduk pada saat tetentu.
Rumus:

P = jumlah semua kasus yang dica perbandingan antara


Po
PoPR=
R( )
K jumlah semua kasus yang dicatat tat
R = jumlah penduduk
k = pada saat tertentu

Point prevalensi meningkat pada Point prevalensi menurun pada


A. Imigrasi penderita F. Imigrasi orang sehat
B. Emigrasi orang sehat G. Emigrasi penderita
C. Imigrasi tersangka penderita atau mereka H. Meningkatnya angka
dengan risiko tinggi untuk menderita kesembuhan
D. Meningkatnya masa sakit I. Meningkatnya angka
E. Meningkatnya jumlah penderita baru kematian
J. Menurunnya jumlah penderita
baru
K. Masa sakit jadi pendek

AR (Attack Rate)
Attack rate adalah andala angaka sinsiden yang terjadi dalam waktu yang singkat
(Liliefeld 1980) atau dengan kata lain jumlah mereka yang rentan dan terserang penyakit
tertentu pada periode tertentu. Attack rate penting pada epidemi progresif yang terjadi
pada unit epidemi yaitu kelompok penduduk yang terdapat pada ruang lingkup terbatas,
seperti asrama, barak, atau keluarga.

RASIO
Rasio adalah nilai relatif yang dihasilkan dari perbandingan dua nilai kuantittif yang
pembilangnya tidak merupakan bagian dari penyebut
Contoh: Kejadian Luar Biasa(KLB) diare sebanyak 30 orang di suatu daerah. 10 diantaranya
adalah jenis kelamn pria. Maka rasio pria terhadap wanita adalah R=10/20=1/2

PROPORSI
Proporsi adalah perbandingan dua nilai kuantitatif yang pembilangnya merupakan bagian dari
penyebut. Penyebaran proporsi adalah suatu penyebaran persentasi yang meliputi proporsi
dari jumlah peristiwa-peristiwa dalam kelompok data yang mengenai masing-masing kategori
atau subkelompok dari kelompok itu. Pada contoh di atas, proporsi pria terhadap permapuan
adalah P= 10/30=1/3
UKURAN FERTILITAS

Crude Birth Rate (CBR) Angka kelahiran kasar


Angka kelahiran kasar adalah semua kelahiran hidup yang dicatat dalam 1 tahun per 1000
jumlah penduduk pertengahan tahun yang sama. Rumus:

B = semua kealhiaran hidup yang dicata


CBR= ( BP ) K P = Jumlah penduduk pertengahan tahun yang
sama
k = konstanta(1000)

Angka kelahiran kasar ini dapat digunakan untuk menggambarkan tingkat fertilitas secara
umum dalam waktu singkat tetapi kurang sensitif untuk : Membandingkan tingkat
fertilitas dua wilayah & Mengukur perubahan tingkat fertilitas karena perubahan pada
tingkat kelahiran akan menimbulkan perubahan pada jumlah penduduk

Age Spesific Fertilty Rate (ASFR) Angka fertilitas menurut golongan umur

Angka fertilitas menurut golongan umur adalah jumlah kelahiran oleh ibu pada
golongan umur tertentu yang dicatat selam 1 tahun yang dicata per 1000 penduduk wanita
pada golongan umur tertentu apda tahun yang sama. Rumus:
F = Kelahiran oleh ibu pada golongan umur
F
ASFR = ( )
R
K tertentu yang dicatat
R = Penduduk wanita pada golongan umur tertentu
pada tahun yang sama

Angka fertilitas menurut golongan umur ini dimaksudkan untuk mengatasi kelemahan
pada angka kelahiran kasar karena tingkat kesuburan pada setiap golongan umur tidak
sama hingga gambaran kelahiran menjadi lebih teliti

Total Fertility Rate ( TFR) Angka fertilitas total


Angka fertilitas total adalah jumlah angka fertilitas menurut umur yang dicatat sealma 1
tahun.

Rumus:

TFR=Jumlah angka fertilitas menurut umur K


UKURAN MORTALITAS
Case Fatality Rate (CFR) Angka kefatalan kasus
CFR adalah perbandingan antara jumlah kematian terhadap penyakit tertentu yang terjadi
dalam 1 tahun dengan jumlah penduduk yang menderita penyakit tersebut pada tahun
yang sama Rumus:

P = Jumlah kematian terhadap penyakit


CFR= ( TP ) K tertentu
T = jumlah penduduk yang menderita
penyakit tersebut pada tahun yang sama

Perhitungan ini dapat digu8nakan uutk mengetahui tingakat penyakit dengan tingkat
keamtia yang tinggi. Rasio ini dapat dispesifikkan menjadi menurut goklongan umur,
jenis kelamin, tingkat pendidikan dan lain-lain

Crude Death Rate (CDR) Angka Kematian Kasar


Angka keamtian kasar adalah jumlah keamtian ang dicata selama 1 tahun per 1000
penduduk pada pertengahan tahun yang sama. Disebut kasar karena akngka ini dihitung
secatra menyeluruh tanpa memperhatikan kelompok-kelompok tertentu di dalam populasi
denga tingkat kematian yang berbeda-beda. Rumus:

D= jumlah keamtian yang dicata selama 1


CDR= ( DP ) K tahun
P=Jumlah penduduk pada pertengahan tahun
yang sama

Manfaat CDR
a. Sebagai gambaran status kesehatan masyarakat
b. Sebagai gambaran tingkat permasalahan penyakit dalam masyarakat
c. Sebagai gambaran kondisi sosial ekonomi
d. Sebagai gambaran kondisi lingkungan dan biologis
e. Untuk menghitung laju pertumbuhan penduduk

Age Spesific Death Rate (ASDR) angka kematian menurut golongan umur
Angka kematian menurut golongan umur adalah perbandingan antara jumlah kematian
yang diacata selama 1 tahun padas penduduk golongan umur x dengan jumlah penduduk
golongan umur x pada pertengaha n tahun. Rumus:
dx = jumlah kematian yang dicatat selama 1
dx
ASDR=
px( )
K tahun pada golongan umur x
px = jumlah penduduk pada golonga umur x
pada pertengahan tahun yang sama

Manfaat ASDR sebagai berikut:


a. untuk mengetahui dan menggambarkan derajat kesahatan masyarakat dengan melihat
kematian tertinggi pada golongan umur
b. untuk membandingkan taraf kesehatan masyarakat di bebagai wilayah
c. untuk menghitung rata-rata harapan hidup
d. Under Five Mortality Rate (UFMR) Angka kematian Balita

Angka kematian Balita adalah gabungan antara angka kematian bayi dengan angka
kematian anak umur 1-4 tahun yaitu jumlah kematian balita yang dicatat selam satu tahun
per 1000 penduduk balita pada tahun yang sama. Rumus:

M M = Jumlah kematian balita yang dicatat


UFMR= ( )
R
K selama satu tahun
R = Penduduk balita pada tahun yang sama

Angka kematian balita sangat penting untuk mengukur taraf kesehatan masyarakat karena
angka ini merupakan indikator yang sensitif untuk sataus keseahtan bayi dan anak

Neonatal Mortality Rate (NMR) Angka Kematian Neonatal


Neonatal adalah bayi yang berumur kurang dari 28 hari. Angka Kematian Neonatal
adalah jumlah kematian bayi yang berumur kurang dari 28 hari yang dicatata selama 1
tahun per 1000 kelahiran hidup pada tahun yang sama. Rumus:

di di = Jumlah kematian bayi yang berumur


NMR= ( )
B
K kurang dari 28 hari
B = Kelahiran hidup pada tahun yang sama

Manfaat dari angka kematian neonatal adalah sebgai berikut;


a. untuk mengetahuai tinggi rendahnya perawatan post natal
b. Untuk mengetahui program Imuninsasi
c. Untuk pertolongan persalina
d. untuk mengetahui penyakit infeksi

Perinatal Mortality Rate (PMR) angka kematian perinatal


Angka kematian perinatal adalah jumlah kematian janin yang dilahirkan pada usia
kehamilan berumur 28 minggu atau lebih ditambah kematian bayi yang berumur kurang
dari 7 hari yang dicatat dalam 1 tahun per 1000 kelahiran kelahiran hidupn pada tahun
yang sama. Rumus:

P = kematian janin yg dilahirkan pd usia


kehamilan berumur 28 mg
P+ M
PMR= (R
K) M =ditambah kematian bayi yang berumur
kurang dari 7 har
R = 1000 kelahiran kelahiran hidupn pada tahun
yang sama
Manfaat dari angka kematian perinatal adalah untuk menggambarkan keadaan kesehatan
masyarakat terutama kesehatan ibu hamil dan bayi. Faktor yang mempengaruhi tinggnya
PMR adalah sebagai berikut:
o Banyak bayi dengan berat c. Penyakit infeksi terutama ISPA
badan lahir rendah d. Pertolongan persalinan
a. Status gizi ibu dan bayi
b. Keadaan sosial ekonomi

Infant Mortality Rate (IMR) Angka Kematian Bayi


Angka Kematian Bayi adalah perbandingan jumlah penduduk yang berumur kurang dari
1 tahun yang diacat selama 1 tahun dengan 1000 kelahiran hidup pada tahun yang sama.
Rumus:

d0 = Jumlah penduduk yang berumur kurang


d0
IMR=
B( )
K dari 1 tahun
B = Jumlah lahir hidup pada thun yang sama

Manfaat dari perhitungan angka kematian bayi adalah sebagai berikut:


o Untuk mengetahui gambaran tingkat permasalahan kesehatan masyarakat yg
berkaitan dengan faktor penyebab kematian bayi
o Untuk Mengetahui tingkat pelayanan antenatal
o Untuk mengetahui status gizi ibu hamil
o Untuk mengetahui tingkat keberhasilan program kesehatan Ibu dan Anak
(KIA) dan Program Keluaga berencana (KB)
o untuk mengetahui kondisi lingkungan dan social ekonomi

Maternal Mortality Rate (MMR) Angka Kematian Ibu


Angka kematian ibu adalah jumlah kematian ibu akibat komplikasi kehamilan, persalinan,
dan masa nifas yang dicatat selama 1 tahun per 1000 kelahiran hidup pada tahun yang
sama. Rumus:
I = adalah jumlah kematian ibu akibat
I
MMR=
T ( )
K komplikasi kehamilan, persalinan, dan masa
nifas
T = Kelahiran hidup pada tahun yang sama

Tinggi rendahnya angka MMR tergantung kepada:


Sosial ekonomi Pelayanan terhadap ibu hamil
Kesehatan ibu sebellum hamil, Pertolongan persalinan dan perawatan
persalinan, dan masa nasa nifas masa nifas

LI 2. Memahami dan Menjelaskan perilaku kesehatan dan individu dan masyarakat


(pola pencarian pengobatan (care seeking behavior)
Definisi budaya
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang
merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang
berkaitandengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture,
yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Menurut
Koentjaraningrat: kebudayaan adalah seluruh kelakuan dan hasil kelakuan manusia yang
teratur oleh tata kelakuan yang harus didapatkanya dengan belajar dan yang semuanya
tersusun dalam kehidupan masyarakat. Selain itu terdapat tiga wujud kebudayaan yaitu :
Wujud pikiran, gagasan, ide-ide, norma-norma, peraturan,dan sebagainya. Wujud pertama
dari kebudayaan ini bersifat abstrak, berada dalam pikiran masing-masing anggota
masyarakat di tempat kebudayaan itu hidup
Aktifitas kelakuan berpola manusia dalam masyarakat. Sistem sosial terdiri atasaktifitas-
aktifitas manusia yang saling berinteraksi, berhubungan serta bergaul satu dengan
yang lain setiap saat dan selalu mengikuti pola-pola tertentu berdasarkan adat
kelakuan. Sistem sosial ini bersifat nyata atau konkret
Wujud fisik, merupakan seluruh total hasil fisik dari aktifitas perbuatan dan karyamanusia
dalam masyarakat.

Manusia dinilai makhluk yang berbudaya jika manusia tersebut memiliki akal dan
pikiran yang selalu aktual dalam mengisi kehidupannya dengan tidak lelah mencari ilmu
pengetahuan apapun untuk mengembangkan kepribadiannya. Dengan berbekal akal dan
pikiran yang terus-menerus diasah, diharapkan manusia tersebut mencapai tujuan-tujuan
hidup mereka dengan baik. Sehingga dari hal tersebut, manusia dapat membagi apa yang
telah meraka dapatkan dengan manusia-manusia lainnya yang membutuhkan.
Budaya yang dikembangkan oleh manusia akan berimplikasi pada lingkungan tempat
kebudayaan itu berkembang. Suatu kebudayaan memancarkan suatu ciri khas dari
masyarakatnya yang tampak dari luar. Dengan menganalisis pengaruh akibat budaya terhadap
lingkungan seseorang dapat mengetahui, mengapa di sebuah lingkungan tertentu akan
berbeda kebiasaanya dengan lingkungan lainnya dan mengasilkan kebudayaan yang berbeda
pula.

Aspek mayor karakteristik budaya


WUJUD
Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga: gagasan, aktivitas, dan
artefak.
Gagasan (Wujud ideal)
Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide,
gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak; tidak
dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di
alam pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka
itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan,
dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut.
Aktivitas (tindakan)
Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam
masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini
terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta
bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata
kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati, dan
didokumentasikan.
Artefak (karya)
Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan
karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat
diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret di antara ketiga wujud
kebudayaan. Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang
satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujud
kebudayaan ideal mengatur, dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya
(artefak) manusia.

Berdasarkan wujudnya tersebut, Budaya memiliki beberapa elemen atau komponen, menurut
ahli antropologi Cateora, yaitu :

Kebudayaan material
Kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata, konkret.
Termasuk dalam kebudayaan material ini adalah temuan-temuan yang dihasilkan dari
suatu penggalian arkeologi: mangkuk tanah liat, perhisalan, senjata, dan seterusnya.
Kebudayaan material juga mencakup barang-barang, seperti televisi, pesawat terbang,
stadion olahraga, pakaian, gedung pencakar langit, dan mesin cuci.
Kebudayaan nonmaterial
Kebudayaan nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke
generasi, misalnya berupa dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian tradisional.

Lembaga social
Lembaga social, dan pendidikan memberikan peran yang banyak dalam kontek
berhubungan, dan berkomunikasi di alam masyarakat. Sistem social yang terbantuk dalam
suatu Negara akan menjadi dasar, dan konsep yang berlaku pada tatanan social
masyarakat. Contoh Di Indonesia pada kota, dan desa dibeberapa wilayah, wanita tidak
perlu sekolah yang tinggi apalagi bekerja pada satu instansi atau perusahaan. Tetapi di
kota kota besar hal tersebut terbalik, wajar seorang wanita memilik karier

Sistem kepercayaan
Bagaimana masyarakat mengembangkan, dan membangun system kepercayaan atau
keyakinan terhadap sesuatu, hal ini akan mempengaruhi system penilaian yang ada dalam
masyarakat. Sistem keyakinan ini akan mempengaruhi dalam kebiasaan, bagaimana
memandang hidup, dan kehidupan, cara mereka berkonsumsi, sampai dengan cara
bagaimana berkomunikasi.

Estetika
Berhubungan dengan seni, dan kesenian, music, cerita, dongeng, hikayat, drama, dan
tari tarian, yang berlaku, dan berkembang dalam masyarakat. Seperti di Indonesia
setiap masyarakatnya memiliki nilai estetika sendiri. Nilai estetika ini perlu dipahami
dalam segala peran, agar pesan yang akan kita sampaikan dapat mencapai tujuan, dan
efektif. Misalkan di beberapa wilayah, dan bersifat kedaerah, setiap akan membangu
bagunan jenis apa saj harus meletakan janur kuning, dan buah buahan, sebagai
symbol yang arti disetiap derah berbeda. Tetapi di kota besar seperti Jakarta jarang
mungkin tidak terlihat masyarakatnya menggunakan cara tersebut.

Bahasa
Bahasa merupakan alat pengatar dalam berkomunikasi, bahasa untuk setiap walayah,
bagian, dan Negara memiliki perbedaan yang sangat komplek. Dalam ilmu
komunikasi bahasa merupakan komponen komunikasi yang sulit dipahami. Bahasa
memiliki sidat unik, dan komplek, yang hanya dapat dimengerti oleh pengguna
bahasa tersebu. Jadi keunikan, dan kekomplekan bahasa ini harus dipelajari, dan
dipahami agar komunikasi lebih baik, dan efektif dengan memperoleh nilai empati,
dan simpati dari orang lain.

Perilaku Kesehatan Individu Dalam Masyarakat


Perilaku kesehatan, ada tiga teori yang sering menjadi acuan dalam penelitian-penelitian
kesehatan masyarakat. Menurut Lawrence Green (1980) dalam Notoatmodjo (2005), perilaku
manusia dalam hal kesehatan dipengaruhi oleh dua faktor pokok yaitu faktor perilaku
(behavioral factors) dan faktor non-perilaku (non behavioral factors).

Lawrence Green menganalisis bahwa faktor perilaku sendiri ditentukan oleh tiga faktor
utama, yaitu:
Faktor Predisposisi (predisposing factors), yaitu faktor-faktor yang mempermudah atau
mempredisposisi terjadinya perilaku seseorang, antara lain pengetahuan, sikap,
keyakinan, kepercayaan, nilai-nilai, tradisi dan sebagainya.
Faktor-faktor pemungkin (enabling factors), yaitu faktor-faktor yang memungkinkan atau
yang memfasilitasi perilaku atau tindakan. Yang dimaksud dengan faktor pemungkin
adalah sarana dan prasarana atau fasilitas untuk terjadinya perilaku kesehatan.
Faktor-faktor penguat (reinforcing factors), adalah faktor-faktor yang mendorong dan
memperkuat terjadinya perilaku.

Aspek Pelayanan Kesehatan Dilihat Dari Aspek Sosbud


Pengaruh sosial budaya terhadap kesehatan masyarakat Tantangan berat yang masih
dirasakan dalam pembangunan kesehatan di Indonesia adalahsebagai berikut.
Jumlah penduduk yang besar dengan pertumbuhan yang cukup tinggi serta penyebaran
penduduk yang tidak merata di seluruh wilayah.
Tingkat pengetahuan masyarakat yang belum memadai terutama pada golongan wanita.
Kebiasaan negatif yang berlaku di masyarakat, adat istiadat, dan perilaku yang kurang
menunjang dalam bidang kesehatan.
Kurangnya peran serta masyarakat dalam pembangunan bidang kesehatan.Aspek sosial
budaya yang berhubungan dengan kesehatanAspek soaial budaya yang berhubungan
dengan kesehatan anatara lain adalah faktorkemiskinan, masalah kependudukan, masalah
lingkungan hidup, pelacuran dan homoseksual.

Model treatment seeking behavior dan factor-faktornya


1. Perilaku pemeliharaan kesehatan ( health maintenance) : Adalah perilaku atau usaha-
usaha seseorang untuk memelihara atau menjaga kesehatan agar tidak sakit dan usaha untuk
penyembuhan bila sakit. Oleh karena itu, perilaku pemeliharaan kesehatan terdiri dari 3 aspek
yaitu:
Perilaku pencegahan penyakit, dan penyembuhan penyakit bila sakit, serta pemulihan
kesehatan bila telah sembuh dari penyakit.
Perilaku peningkatan kesehatan, apabila seseorang dalam keadaan sehat. Perlu dijelaskan
disini, bahwa kesehatan itu sangat dinamis dan relatif, maka dari itu orang yang sehat
pun perlu diupayakan supaya mencapai tingkat kesehatan yang seoptimal mungkin.
Perilaku gizi (makanan) dan minuman. Makanan dan minuman dapat memelihara serta
meningkatkan kesehatan seseorang, tetapi sebaliknya makanan dan minuman dapat
menjadi penyebab menurunnya kesehatan seseorang, bahkan dapat mendatangkan
penyakit. Hal ini sangat tergantung pada perilaku orang terhadap makanan dan
minuman tersebut.
Perilaku pencarian dan penggunaan sistem atau fasilitas pelayanan kesehatan, atau
sering disebut perilaku pencarian pengobatan (health seeking behavior).
Perilaku ini adalah menyangkut upaya atau tindakan seseorang pada saat
menderita penyakit atau kecelakaan. Tindakan atau perilaku ini di mulai dari
mengobati sendiri (self treatment) sampai mencari pengobatan ke luar negeri.

Perilaku kesehatan lingkungan. Bagaimana seseorang merespons lingkungan, baik


lingkungan fisik maupun sosial budaya, dan sebagainya, sehingga lingkungan
tersebut tidak mempengaruhi kesehatannya. Dengan perkataan lain,
bagaimana seseorang mengelola lingkungannya sehingga tidak mengganggu
kesehatannya sendiri, keluarga, atau masyarakat. Misalnya bagaimana
mengelola pembuangan tinja, air minum, tempat pembuangan sampah,
pembuangan limbah, dan sebagainya.

Perilaku Kesehatan Masyarakat dan Pola pencarian pengobatan


Perilaku kesehatan adalah suatu respon seseorang terhadap stimulus yang berkaitan
dengan sakit dan penyakit, system pelayanan kesehatan, makanan, serta lingkungan. Bentuk
dari perilaku tersebut ada dua yaitu pasif dan aktif. Perilaku pasif merupakan respon internal
dan hanya dapat dilihat oleh diri sendiri sedangkan perilaku aktif dapat dilihat oleh orang
lain. Masyarakat memiliki beberapa macam perilaku terhadap kesehatan. Perilaku tersebut
umumnya dibagi menjadi dua, yaitu perilaku sehat dan perilaku sakit.
Perilaku sehat yang dimaksud yaitu perilaku seseorang yang sehat dan meningkatkan
kesehatannya tersebut. Perilaku sehat mencakup perilaku-perilaku dalam mencegah atau
menghindari dari penyakit dan penyebab penyakit atau masalah, atau penyebab masalah
(perilaku preventif). Contoh dari perilaku sehat ini antara lain makan makanan dengan gizi
seimbang, olah raga secara teratur, dan menggosok gigi sebelum tidur.
Yang kedua adalah perilaku sakit. Perilaku sakit adalah perilaku seseorang yang sakit
atau telah terkena masalah kesehatan untuk memperoleh penyembuhan atau pemecahan
masalah kesehatannya. Perilaku ini disebut perilaku pencarian pelayanan kesehatan (health
seeking behavior). Perilaku ini mencakup tindakan-tindakan yang diambil seseorang bila
terkena masalah kesehatan untuk memperoleh kesembuhan melalui sarana pelayanan
kesehatan seperti puskesmas dan rumah sakit.
Secara lebih detail, Becker (1979) membagi perilaku masyarakat yang berhubungan
dengan kesehatan menjadi tiga, yaitu:
perilaku kesehatan : hal yang berkaitan dengan tindakan seseorang dalam memelihara dan
meningkatkan kesehatannya. Contoh : memilih makanan yang sehat, tindakan-tindakan yang
dapat mencegah penyakit.
perilaku sakit : segala tindakan atau kegiatan yang dilakukan seseorang individuyang merasa
sakit, untuk merasakan dan mengenal keadaan kesehatannya atau rasa sakit. Contoh
pengetahuan individu untuk memperoleh keuntungan.
perilaku peran sakit : segala tindakan atau kegiatan yang dilakukan oleh individu yang sedang
sakit untuk memperoleh kesehatan.
Terdapat dua paradigma dalam kesehatan yaitu paradigma sakit dan paradigma
sehat.Paradigma sakit adalah paradigma yang beranggapan bahwa rumah sakit adalah
tempatnya orang sakit. Hanya di saat sakit, seseorang diantar masuk ke rumah sakit. Ini
adalah paradigma yang salah yang menitikberatkan kepada aspek kuratif dan rehabilitatif.
Sedangkan paradigma sehat Menitikberatkan pada aspek promotif dan preventif,
berpandangan bahwa tindakan pencegahan itu lebih baik dan lebih murah dibandingkan
pengobatan.

Aspek Sosial Budaya dalam Pencarian Pelayanan Kesehatan


Walaupun jaminan kesehatan dapat membantu banyak orang yang berpenghasilan rendah
dalam memperoleh perawatan yang mereka butuhkan, tetapi ada alasan lain disamping biaya
perawatan kesehatan, yaitu adanya celah diantara kelas sosial dan budaya dalam penggunaan
pelayanan kesehatan (Sarafino, 2002). Seseorang yang berasal dari kelas sosial menengah ke
bawah merasa diri mereka lebih rentan untuk terkena penyakit dibandingkan dengan mereka
yang berasal dari kelas atas. Sebagai hasilnya mereka yang berpenghasilan rendah lebih tidak
mungkin untuk mencari pencegahan penyakit (Sarafino, 2002).

Faktor Sosial dalam Penggunaan Pelayanan Kesehatan


Cenderung lebih tinggi pada kelompok orang muda dan orang tua
Cenderung lebih tinggi pada orang yang berpenghasilan tinggi dan berpendidikan tinggi
Cenderung lebih tinggi pada kelompok Yahudi dibandingkan dengan penganut agama lain.
Persepsi sangat erat hubungannya dengan penggunaan pelayanan kesehatan.

Faktor Budaya dalam Penggunaan Pelayanan Kesehatan


Faktor kebudayaan yang mempengaruhi penggunaan pelayanan kesehatan diantaranya adalah:
Rendah penggunaan pelayanan kesehatan pada suku bangsa terpencil.
Ikatan keluarga yang kuat lebih banyak menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan.
Meminta nasehat dari keluarga dan teman-teman.
Pengetahuan tentang sakit dan penyakit. Dengan asumsi jika pengetahuan tentang sakit meningkat
maka penggunaan pelayanan kesehatan juga meningkat.
Sikap dan kepercayaan masyarakat terhadap provider sebagai pemberi pelayanan kesehatan.

LI 3. Memahami dan Menjelaskan mengenai cakupan dan mutu pelayanan kesehatan


serta imunisasi
MUTU PELAYANAN KESEHATAN
Direktorat Jendral Pelayanan Medik Departemen Kesehatan (1994),mengemukan
mutu adalah suatu derajat kesempurnaan pelayan rumah sakit untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat konsumen akan pelayanan kesehatan yang sesuai standar profesi, sumberdaya
yang tersedia di rumah sakit secara wajar, efisien dan efektif serta diberikan secara aman dan
memuaskan sesuai norma,etika hukum dan sosio budaya dengan memperhatikan keterbatasan
dan kemampuan pemerintah dan masyarakat konsumen.

Mutu pelayanan kesehatan adalah pelayanan kesehatan yang dapat memuaskan


setiap jasa pemakai pelayanan kesehatan yang sesuai dengan tingkat kepuasan rata- rata
penduduk serta penyelenggaraannya sesuai dengan standar dan kode etik profesi ( Azhrul
Aswar,1996 )

Pada setiap pelayanan kesehatan terdapat beberapa unsur yang bersifat pokok yakni :
a. Unsur masukan
Yang dimaksud dengan unsur masukan adalah semua hal yang diperlukan untuk
terselenggaranya suatu pelayanan kesehatan. Unsur masukan yang terpenting adalah tenaga,
dana, dan sarana. ecara umum disebutkan apabila tenaga dan sarana ( kuantitas dan kualitas)
tidak sesuai dengan standar yang telah ditetapkan ( standart of personnels and facilities),
serta dana yang tersedia tidak sesuai dengan kebutuhan, maka sulitlah diharapkan
bermutunya pelayanan kesehatan.

b. Unsur lingkungan
Yang dimaksud dengan unsur lingkungan adalah keadaan sekitar yang mempengaruhi
penyelenggara pelayanan kesehatan. Untuk suatu instansi kesehatan, keadaan sekitar yang
terpenting adalah kebijakan, organisasi dan manajemen tersebut tidak sesuai dengan standar
dan bersifat mendukung maka sulitlah diharapkan bermutunya pelayanan kesehatan.
Universitas Sumatera Utara

c. Unsur proses
Yang dimaksud dengan unsur proses adalah semua tindakan yang dilakukan pada waktu
menyelenggarakan pelayanan kesehatan. Tindakan tersebut dapat dibedakan atas dua macam
yakni tindakan medis dan non-medis. Secara umum disebutkan apabila kedua tindakan ini
tidak sesuai dengan standar yang telah ditetapkan, maka sulitlah diharapkan bermutunya
pelayanan kesehatan.

d. Unsur keluaran
Yang dimaksud dengan unsur keluaran adalah yang menunjukan pada penampilan pelayanan
kesehatan. Penampilan dapat dibedakan atas dua macam. Pertama penampilan aspek medis
pelayanan kesehatan. Kedua penampilan aspek non-medis pelayanan kesehatan. Disebutkan
apabila kedua ini tidak sesuai dengan standar yang telah ditetapkan, maka berarti pelayanan
kesehatan yang diselenggarakan bukan pelayanan kesehatan yang bermutu.

Mutu layanan kesehatan bersifat multidimensi, antara lain:


1. Dimensi Kompetensi Teknis
Dimensi kompetensi teknis menyangkut keterampilan, kemampuan, penampilan atau
kinerja pemberi layanan kesehatan. Dimensi ini berhubungan dengan bagaimana pemberi
layanan kesehatan mengikuti standar layanan kesehatan yang telah disepakati, yang
meliputi ketepatan, kepatuhan, kebenaran dan konsistensi. Tidak dipenuhinya dimensi
kompetensi teknis dapat mengakibatkan berbagai hal, mulai dari penyimpangan kecil
terhadap standar layanan kesehatan, sampai pada kesalahan fatal yang dapat menurunkan
mutu layanan kesehatan dan membahayakan jiwa pasien.
2. Dimensi Keterjangkauan atau Akses
Artinya layanan kesehatan harus dapat dicapai oleh masyarakat, tidak terhalang oleh
keadaan geografis, sosial, ekonomi, organisasi dan bahasa. Akses geografis diukur dengan
jarak, lamanya perjalanan, biaya perjalanan, jenis transportasi, dan/atau hambatan fisik
lain yang dapat menghalangi seseorang memperoleh layanan kesehatan. Akses sosial atau
budaya berhubungan dengan dapat diterima atau tidaknya layanan kesehatan itu secara
sosial atau nilai budaya, kepercayaan dan prilaku. Akses ekonomi berkaitan dengan
kemampuan membayar biaya layanan kesehatan. Akses organisasi ialah sejauh mana
layanan kesehatan itu diatur hingga dapat memberikan kemudahan/kenyamanan kepada
pasien atau konsumen. Akses bahasa, artinya pasien harus dilayani dengan menggunakan
bahasa atau dialek yang dapat dipahami oleh pasien.
3. Dimensi Efektivitas
Layanan kesehatan harus efektif, artinya harus mampu mengobati atau mengurangi
keluhan yang ada, mencegah terjadinya penyakit dan berkembang/meluasnya penyakit
yang ada. Efektifitas layanan kesehatan ini bergantung pada bagaimana standar layanan
kesehatan itu digunakan dengan tepat, konsisten dan sesuai dengan situasi setempat.
Umumnya standar layanan kesehatan disusun pada tingkat organisasi yang lebih tinggi,
sementara pada tingkat pelaksana, standar layanan kesehatan itu harus dibahas agar dapat
digunakan sesuai dengan kondisi. Dimensi efektivitas berhubungan erat dengan dimensi
kompetensi teknis terutama dalam pemilihan alternatif dalam menghadapi relative risk
dan ketrampilan dalam mengikuti prosedur yang terdapat dalam standar layanan
kesehatan.
4. Dimensi Efisiensi
Sumber daya kesehatan sangat terbatas. Oleh karena itu dimensi efisiensi kesehatan
sangat penting dalam layanan kesehatan. Layanan kesehatan yang efisien dapat melayani
lebih banyak pasien dan masyarakat. Layanan kesehatan yang tidak efisien umumnya
berbiaya mahal, kurang nyaman bagi pasien, memerlukan waktu lama, dan menimbulkan
resiko yang lebih besar pada pasien. Dengan melakukan analisis efisiensi dan efektivitas
kita dapat memilih intervensi yang paling efisien.
5. Dimensi Kesinambungan
Dimensi kesinambungan layanan kesehatan artinya pasien harus dapat dilayani sesuai
dengan kebutuhannya, termasuk rujukan jika diperlukan tanpa mengulangi prosedur
diagnosis dan terapi yang tidak perlu. Pasien harus selalu mempunyai akses ke layanan
kesehatan yang dibutuhkannya. Karena riwayat penyakit pasien terdokumentasi dengan
lengkap, akurat dan terkini, layanan kesehatan rujukan yang diperlukan pasien dapat
terlaksana dengan tepat, waktu dan tempatnya.
6. Dimensi Keamanan
Dimensi keamanan maksudnya layanan kesehatan harus aman, baik bagi pasien, pemberi
layanan maupun masyarakat sekitarnya. Layanan kesehatan yang bermutu harus aman
dari risiko cedera, infeksi, efek samping, aatau bahaya lain. Oleh karena itu harus disusun
suatu prosedur yang akan menjamin keamanan kedua belah pihak.
7. Dimensi Kenyamanan
Dimensi kenyamanan tidak berpengaruh langsung dengan efektivitas layanan kesehatan,
tetapi mempengaruhi kepuasan pasien/konsumen sehingga mendorong pasien untuk
datang berobat kembali ke tempat tersebut. Kenyamanan dan kenikmatan dapat
menimbulkan kepercayaan pasien terhadap organisasi layanan kesehatan.
8. Dimensi Informasi
Layanan kesehatan yang bermutu harus mampu memberikan informasi yang jelas tentang
apa. Siapa, kapan, dimana dan bagaimana layanan kesehatan itu akan atau telah
dilaksanakan. Dimensi informasi ini sangat penting pada tingkat puskesmas dan rumah
sakit.
9. Dimensi Ketepatan Waktu
Agar berhasil, layanan kesehatan harus dilakukan dalam waktu dan cara yang tepat, oleh
pemberi layanan yang tepat, menggunakan peralatan dan obat yang tepat, serta biaya yang
tepat (efisien).
10. Dimensi Hubungan Antarmanusia
Hubungan antarmanusia adalah hubungan antara pemberi layanan kesehatan (provider)
dengan pasien atau masyarakat (konsumen), antar sesama pemberi layanan kesehatan,
antar atasan-bawahan, dinas kesehatan, rumah sakit, puskesmas, pemerintah daerah,
LSM, masyarakat dan lain-lain. Hubungan antarmanusia yang baik akan menimbulkan
kepercayaan dan kredibilitas dengan cara saling menghargai, menjaga rahasia, saling
menghormati, responsif, memberi perhatian, dan lain-lain.

PROGRAM IMUNISASI DASAR PUSKESMAS

Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif
terhadap suatu penyakit, sehingga bila kelak ia terpapar dengan penyakit tersebut tidak
akan menderita penyakit tersebut. Imunisasi merupakan salah satu dari 8 target dalam
pencapaian Millenium Development Goals (MDGs) yaitu target 4A, menurunkan angka
kematian balita sebesar dua pertiganya, antara 1990 dan 2015, dengan indikator persentase
anak di bawah satu tahun yang diimunisasi campak. MDGs merupakan komitmen global
untuk menangani isu perdamaian, keamanan, pembangunan, hak asasi manusia dan
kebebasan dasar dalam satu paket kebijakan pembangunan guna percepatan pencapaian
pembangunan manusia dan pemberantasan kemiskinan di seluruh dunia pada tahun 2015.
Tujuan Umum
Turunnya angka kesakitan, kecacatan dan kematian bayi akibat Penyakit yang Dapat Dicegah
Dengan Imunisasi (PD3I).
Tujuan Khusus
1. Tercapainya target Universal Child Immunization yaitu cakupan imunisasi
2. lengkap minimal 80% secara merata pada bayi di 100% desa/kelurahan pada
3. tahun 2010.
4. Tercapainya Eliminasi Tetanus Maternal dan Neonatal (insiden dibawah 1
per 1.000 kelahiran hidup dalam satu tahun) pada tahun 2005.
Tercapainya pemutusan rantai penularan Poliomyelitis pada tahun 2004-2005, serta
sertifikasi bebas polio pada tahun 2008.
5. Tercapainya Reduksi campak (RECAM) pada tahun 2005.

Perencanaan
Perencanaan merupakan proses penyusunan rencana tahunan Puskesmas untuk
mengatasi masalah kesehatan di wilayah kerja Puskesmas. Perencanaa akan memberikan pola
pandang secara menyeluruh terhadap semua pekerjaan yang akan dijalankan, siapa yang akan
melakukan dan kapan akan dilakukan. Puskesmas merupakan unit pelaksana pelayanan
kesehatan masyarakat tingkat I yang dibina oleh DKK, yang bertanggungjawab untuk
melaksanakan identifikasi kondisi masalah kesehatan
masyarakat dan lingkungan serta fasilitas pelayanan kesehatan meliputi cakupan mutu
pelayanan, identifikasi mutu sumber daya manusia dan provider, serta menetapkan kegiatan
untuk menyelesaikan masalah. Perencanaan meliputi kegiatan program dan kegiatan rutin
puskesmas yang berdasarkan visi dan misi puskesmas sebagai sarana pelayanan kesehatan
primer dimana visi dan misi digunakan sebagai acuan dalam melakukan setiap kegiatan
pokok puskesmas.3
Budgeting dalam perencanaan menejemen keuangan dikelola sendiri oleh puskesmas sesuai
tatacara pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan, adapun sumber biaya didapatkan
dari pemerintah daerah, retribusi puskesmas, swasta atau lembaga sosial masyarakat dan
pemerintah adapun pembiayaan tersebut ditujukan untuk jemis pembiayaan layanan
kesehatan yang mempunyai cirri-ciri barang atau jasa publik seperti penyuluhan kesehatan,
perbaikan gizi, P2M dan pelayanan kesehatan yang mempunyai ciri-ciri barang atau jasa
swasta seperti pengobatan individu.
Pencapaian Universal Child Immunization (UCI) pada dasarnya merupakan proksi terhadap
cakupan atas imunisasi dasar secara lengkap pada bayi (0-11 bulan). Idealnya, seorang anak
endapatkan seluruh imunisasi dasar sesuai umurnya, sehingga kekebalan tubuh terhadap
penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi dapat optimal.

CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN

Pemeriksaan dan pengobatan oleh dokter umum


Tindakan medis: Pembersihan luka, balut, dll Bedah minor
Pemberian obat/resep sesuai dengan kebutuhan medis dengan dasar DOEN Plus, generik,
dan standar obat Jaminan Pemeliharaan Kesehatan
Pelayanan Keluarga Berencana (Kondom, pil, dan suntik)
]Pelayanan KIA termasuk pemeriksaan ibu hamil, pemeriksaan bayi/balita, imunisasi
dasar (BCG, DPT, polio, campak, dan hepatitis)
Khitan
Konsultasi kesehatan dokter umum
Medical Check Up

Kesehatan atau sehat-sakit adalah suatu yang kontinum dimulai dari sehat wal afiat
sampai dengan sakit parah. Kesehatan seseorang berada dalam bentangan tersebut. Demikian
pula sakit ini juga mempunyai beberapa tingkat atau gradasi. Secara umum dapat dibagi
dalam 3 tingkat, yakni sakit ringan (mild), sakit sedang (moderate) dan sakit parah (severe).
Dengan ada 3 gradasi penyakit ini maka menuntut bentuk pelayanan kesehatan
yang berbeda pula. Untuk penyakit ringan tidak memerlukan pelayanan canggih. Namun
sebaliknya untuk penyakit yang sudah parah tidak cukup hanya dengan pelayanan yang
sederhana melainkan memerlukan pelayanan yang sangat spesifik.
Oleh sebab itu, perlu dibedakan adanya 3 bentuk pelayanan, yakni :
A.Pelayanan kesehatan tingkat pertama (primary health care)
Pelayanan kesehatan jenis ini diperlukan untuk masyarakat yang sakit ringan dan masyarakat
yang sehat untuk meningkatkan kesehatan mereka atau promosi kesehatan. Oleh karena
jumlah kelompok ini didalam suatu populasi sangat besar (lebih kurang 85%), pelayanan
yang diperlukan oleh kelompok ini bersifat pelayanan kesehatan dasar (basic health services)
atau juga merupakan pelayanan kesehatan primer atau utama (primary health care). Bentuk
pelayanan ini di Indonesia adalah puskesmas, puskesmas pembantu, puskesmas keliling, dan
balkesmas.

B. Pelayanan kesehatan tingkat kedua (secondary health services)


Pelayanan kesehatan jenis ini diperlukan oleh kelompok masyarakat yang memerlukan
perawatan nginap, yang sudah tidak dapat ditangani oleh pelayanan kesehatan primer. Bentuk
pelayanan ini misalnya rumah sakit tipe C dan D, dan memerlukan tersedianya tenaga-tenaga
spesialis.

C. Pelayanan kesehatan tingkat ketiga (tertiary health services)


Pelayanan kesehatan ini diperlukan oleh kelompok masyarakat atau pasien yang sudah tidak
dapat ditangani oleh pelayanan kesehatan sekunder. Pelayanan sudah kompleks dan
memerlukan tenaga-tenaga super spesialis. Contoh di Indonesia : rumah sakit tipe A dan B.
Dalam suatu sistem pelayanan kesehatan, ketiga strata atau jenis pelayanan tersebut
tidak berdiri sendiri-sendiri namun berada didalam suatu sistem dan saling berhubungan.
Apabila pelayanan kesehatan primer tidak dapat melakukan tindakan medis tingkat primer
maka ia menyerahkan tanggung jawab tersebut ke tingkat pelayanan diatasnya, demikian
seterusnya. Penyerahan tanggung jawab dari satu pelayanan kesehatan ke pelayanan
kesehatan yang lain ini disebut rujukan.
Secara lengkap dapat dirumuskan sistem rujukan ialah suatu sistem
penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang melaksanakan pelimpahan tanggung jawab
timbal balik terhadap satu kasus penyakit atau masalah kesehatan secara vertikal (dari unit
yang lebih mampu menangani), atau secara horizontal (antar unit-unit yang setingkat
kemampuannya).
Dari batasan tersebut dapat dilihat bahwa hal yang dirujuk bukan hanya pasien saja tapi juga
masalah-masalah kesehatan lain, teknologi, sarana, bahan-bahan laboratorium, dan
sebagainya. Disamping itu rujukan tidak berarti berasal dari fasilitas yang lebih rendah ke
fasilitas yang lebih tinggi tetapi juga dapat dilakukan diantara fasilitas-fasilitas kesehatan
yang setingkat.

LI 4. Memahami dan Menjelaskan aspek sosial dan budaya masyarakat dalam


mengakses pemanfaatan pelayanan kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan
Pelayanan Publik Bidang Kesehatan di Indonesia : Konsep dan Pendekatan
Sebagai salah satu unsur utama dalam setiap kehidupan seseorang, kesehatan sangat
menunjang dalam setiap aktivitas manusia. Pembangunan kesehatan dalam kehidupan
berbangsa sangat besar nilai investasinya terutama terhadap sumber daya manusia. Dengan
adanya penduduk suatu bangsa yang terjaga kesehatannya dengan baik, bangsa tersebut akan
memiliki sumber daya yang manusia yang lebih optimal dalam pembangunan. Dalam
Undang-undang Nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan menjelaskan bawa pemerintah
Indonesia bertanggungjawab penuh dalam pemenuhan hak hidup sehat setiap warga negara
termasuk penduduk miskin dan tidak mampu. Tanggung jawab pemerintah termasuk
didalamnya komponen penyediaan layanan kesehatan yang mudah, murah dan dapat diakses
oleh seluruh masyarakat yang membutuhkan.

Pelayanan publik adalah suatu aktifitas atau serangkaian aktifitas yang bersifat tidak kasat
mata yang terjadi sebagai adanya interaksi antara konsumen dengan karyawan atau hal lain
yang disediakan oleh pemberi layanan yang dimaksudkan untuk memecahkan permasalah
konsumen atau pelanggan (Ratminto ; 2005 ; 2). Sedangkan menurut Dwiyanto (2008 ; 136)
mendefinisikan bahwa pelayanan publik sebagai serangkaian aktifitas yang dilakukan oleh
birokrasi publik untuk memenuhi kebutuhan warga pengguna, pengguna yang dimaksudkan
disini adalah warganegara yang membutuhkan pelayanan publik seperti pembuatan KTP, akte
kelahiran, sertifikat tanah dan lainnya. Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara yang
mempunyai tugas mengatur tentang pelayanan publik di Indonesia menjelaskan bahwa
pelayanan umum adalah segala bentuk kegiatan pelayanan umum yang dilaksanakan oleh
instansi pemerintah di pusat, didaerah dan di lingkungan Badan Usaha Milik Negara / Daerah
dalam bentuk barang atau jasa, baik dalam rangka upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat
maupun dalam rangka pelaksanaan peraturan perundang-undangan.

Dalam bidang kesehatan yang juga merupakan salah satu bidang yang banyak bersentuhan
langsung dengan masyarakat, aspek pelayanan publik menjadi sangat penting. Hal ini
disebabkan karena pelayanan kesehatan harus mempunyai nilai-nilai kepuasan yang terukur
sehingga dapat menjadi acuan dalam peningkatan kualitas layanan. Bidang kesehatan
haruslah memberikan pelayanan kesehatan secara cepat, tepat, ramah, dan terjangkau oleh
semua lapisan masyarakat. Namun pada kenyataannya saat ini seringkali kita temukan
kenyataan dilapangan bahwa masyarakat mengalami permasalahan dalam mendapatkan
pelayanan publik bidang kesehatan yang mereka butuhkan. Seharusnya hal tersebut tidak
terjadi jika penyedia layanan publik bidang kesehatan memahami dengan baik konsep
pelayanan publik yang bisa memberikan kepuasan bagi masyarakat pengguna layanan
kesehatan. Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan juga
berdampak pada meningkatnya tuntutan untuk mendapatkan pelayanan publik dibidang
kesehatan yang lebih baik.

Praktik Pelayanan Publik di Bidang Kesehatan di Indonesia


Dewasa ini, pelayanan publik oleh aparatur pemerintah masih banyak kelemahan sehingga
belum bisa memenuhi kualitas pelayanan publik yang diharapkan masyarakat. Salah satu
tandanya adalah masih banyaknya keluhan masyarakat yang terekspos ke media massa
sehingga menimbulkan kesan yang kurang baik terhadap aparatur pemerintah. Kinerja
pelayanan publik saat ini cenderung menjadi ukuran kinerja pemerintahan, banyak tuntutan
masyarakat yang kian menguat agar pelayanan publik bidang kesehatan lebih responsif atas
kebutuhan masyarakat, menerapkan manajemen yang transparan, partisipatif dan akuntabel
(Bappenas ; 2011)

Dalam sistem kesehatan masyarakat di Indonesia terdapat hubungan ( relationship ) antara


negara dan masyarakat yang tercermin melalui penyelenggaraan pelayanan publik. Oleh
karena itu, pemerintah dengan kewenangan ( authorities ) yang dimiliki dapat menjadi
pengendali dari sumber-sumber untuk kesehatan melalui regulasi dan kebijakan yang dibuat
(Gostin ; 2000 dalam Widaningrum : 2009 ; dalam Pramusinto dan Purwanto ; 2009 ;
357). Pelayanan publik bidang kesehatan merupakan salah satu bidang terbesar pelayanan
publik yang dilakukan pemerintah setelah bidang pendidikan. Hal ini disebabkan karena
pelayanan kesehatan merupakan jenis pelayanan yang bersentuhan langsung dengan
masyarakat pengguna jasa layanan kesehatan. Setiap orang pasti membutuhkan pelayanan
kesehatan dalam hidupnya, untuk itu pemerintah sesuai dengan amanah UUD 1945 wajib
menyediakan fasilitas dan pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Akses
masyarakat untuk mendapatkan pelayanan tersebut juga harus dipermudah sehingga
masyarakat mendapatkan kepuasan terhadapa pelayanan yang diberikan.

Di Indonesia, pelayanan publik bidang kesehatan sesungguhnya telah dimulai sejak masa
penjajahan hingga masa pasca reformasi saat ini. Kinerja pelayanan publik bidang kesehatan
juga terus mengalami perubahan dan peningkatan dari waktu ke waktu beriringan dengan
beralihnya kekuasaan pemerintahan. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam amanatnya
disalah satu acara di Semarang, Jawa Tengah tanggal 8 Maret 2006 mengajak seluruh
lembaga pemerintah, swasta baik di pusat maupun daerah untuk menggunakan motto
permudahlah semua urusan dalam pelayanan publik disemua bidang pelayanan kepada
seluruh warga negara. World Bank (1993 ; dalam Widaningrum : 2009 ; dalam Pramusinto
dan Purwanto ; 2009 ; 356) mengkategorikan sektor kesehatan sebagai sektor unik karena
kinerjanya tidak bisa diukur secara ekonomis karena sangat sarat dengan aspek sosial
kemanusiaan, sektor kesehatan masih memerlukan peran pemerintah karena sifat barang dan
jasanya sebagai social goods.

LI 5. Memahami dan Menjelaskan sIstem rujukan kesehatan masyarakat


Rujukan medis dan kesehatan
Sistem rujukan upaya keselamatan adalah suatu sistem jaringan fasilitas pelayanan
kesehatan yang memungkinkan terjadinya penyerahan tanggung jawab secara timbal-balik
atas masalah yang timbul baik secara vertikal (komunikasi antara unit yang sederajat)
maupun horizontal (komunikasi inti yang lebih tinggi ke unit yang lebih rendah) ke fasilitas
pelayanan yang lebih kompeten, terjangkau, rasional dan tidak dibatasi oleh wilayah
administrasi. (Kebidanan Komunitas: hal 207)

Rujukan dalam pelayanan kebidanan merupakan kegiatan pengiriman orang sakit dari
unit kesehatan yang kurang lengkap ke unit yang lebih lengkap berupa rujukan kasus
patologis pada kehamilan, persalinan dan nifas masuk didalamnya, pengiriman kasus masalah
reproduksi lainnya seperti kasus ginekologi atau kontrasepsi yang memerlukan penanganan
spesialis. Termasuk juga didalamnya pengiriman bahan laboratorium.

Jika penderita telah sembuh dan hasil laboratorium telah selesai, kembalikan dan
kirimkan ke unit semula, jika perlu disertai dengan keterangan yang lengkap (surat balasan).

Rujukan informasi medis membahas secara lengkap data-data medis penderita yang
dikirim dan advis rehabilitas kepada unit yang mengirim. Kemudian Bidan menjalin kerja
sama dalam sistem pelaporan data-data parameter pelayanan kebidanan, terutama mengenai
kematian maternal dan pranatal. Hal ini sangat berguna untuk memperoleh angka-angka
secara regional dan nasional pemantauan perkembangan maupun penelitian.

Menurut tata hubungannya, sistem rujukan terdiri dari: rujukan internal dan rujukan
eksternal.
Rujukan Internal adalah rujukan horizontal yang terjadi antar unit pelayanan di
dalam institusi tersebut. Misalnya dari jejaring puskesmas (puskesmas pembantu) ke
puskesmas induk.
Rujukan Eksternal adalah rujukan yang terjadi antar unit-unit dalam jenjang
pelayanan kesehatan, baik horizontal (dari puskesmas rawat jalan ke puskesmas
rawat inap) maupun vertikal (dari puskesmas ke rumah sakit umum daerah).
Menurut lingkup pelayanannya, sistem rujukan terdiri dari: rujukan medik dan
rujukan kesehatan.
Rujukan Medik adalah rujukan pelayanan yang terutama meliputi upaya
penyembuhan (kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif). Misalnya, merujuk pasien
puskesmas dengan penyakit kronis (jantung koroner, hipertensi, diabetes mellitus)
ke rumah sakit umum daerah. Jenis rujukan medik:
e. Transfer of patient. Konsultasi penderita untuk keperluan diagnostik,
pengobatan, tindakan operatif dan lain-lain.
b. Transfer of specimen. Pengiriman bahan untuk pemeriksaan laboratorium yang
lebih lengkap.
c. Transfer of knowledge/personel. Pengiriman tenaga yang lebih kompeten atau
ahli untuk meningkatkan mutu layanan pengobatan setempat. Pengiriman
tenaga-tenaga ahli ke daerah untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan
melalui ceramah, konsultasi penderita, diskusi kasus dan demonstrasi operasi
(transfer of knowledge). Pengiriman petugas pelayanan kesehatan daerah untuk
menambah pengetahuan dan keterampilan mereka ke rumah sakit yang lebih
lengkap atau rumah sakit pendidikan, juga dengan mengundang tenaga medis
dalam kegiatan ilmiah yang diselenggarakan tingkat provinsi atau institusi
pendidikan (transfer of personel).

Rujukan Kesehatan adalah hubungan dalam pengiriman dan pemeriksaan bahan ke


fasilitas yang lebih mampu dan lengkap. Rujukan ini umumnya berkaitan dengan
upaya peningkatan promosi kesehatan (promotif) dan pencegahan (preventif).
Contohnya, merujuk pasien dengan masalah gizi ke klinik konsultasi gizi (pojok
gizi puskesmas), atau pasien dengan masalah kesehatan kerja ke klinik sanitasi
puskesmas (pos Unit Kesehatan Kerja).

Alur rujukan kasus kegawat daruratan:


1. Dari Kader
Dapat langsung merujuk ke:
e. Puskesmas pembantu
f. Pondok bersalin atau bidan di desa
g. Puskesmas rawat inap
h. Rumah sakit swasta / RS pemerintah
2. Dari Posyandu
Dapat langsung merujuk ke:
e. Puskesmas pembantu
f. Pondok bersalin atau bidan di desa
LI 6. Memahami dan Menjelaskan tujuan syariat islam dan konsep KLB
KLB MENURUT ISLAM
Seperti yang diketahui penyakit selsema babi atau virus H1N1 telah menjadi wabak
yang merbahaya. Negera kita telah menjangkau 58 orang yang disahkan dan Mesir 40 orang.
Malahan dalam berita ikhwanonline menyatakan kemungkinan virus selesema babi ini akan
bergabung dengan virus selsema burung. Ia akan menjadi lebih merbahaya. Mudah-mudahan
Allah menjauhkan kita dari perkara tersebut.
Disini ada 9 perkara berkenaan dengan pandangan Islam terhadap penyakit berjangkit dan
wabah ini seperti berikut :
1. Berlakunya jangkitan (infection) penyakit adalah diakui oleh Nabi saw. Nabi saw
bersabda: Larilah dari orang yang berpenyakit kusta seperti kamu lari dari singa.
(Hr Bukhari). Ini adalah suruhan Nabi saw kepada umatnya berhati-hati ketika
bermuamalat dengan pesakit yang membawa penyakit yang boleh berjangkit.
2. Penularan dan merebaknya penyakit memerlukan kepada syarat-syarat yang ketat.
Oleh itu Nabi saw menafikan penularan ini: Tidak ada jangkitan penyakit tanpa
sebab. (Hr Bukhari). Setiap penyakit yang berjangkit ada cara-cara tertentu, ada yang
berjangkit melalui makan dan minum, ada yang melalui darah dengan suntikan, ada
yang melalui hubungan jenis dan sebagainya. Hadis menafikan jangkitan penyakit
tanpa sebab dan dengan cara jangkitan yang sebenarnya.
3. Dalam keadaan yang diperlukan orang yang sihat boleh bersama pesakit dengan
berserah pada Allah swt. Jabir bin Abdullah ra telah meriwayat: " Sesungguhnya
Rasulullah saw mengambil tangan pesakit kusta (leprosy), lalu mengajaknya makan
bersama dalam satu bekas. Nabi saw bersabda Makanlah dengan nama Allah,
berpegang teguh kepada Allah dan berserah padaNya. (Hr Tirmizi). Oleh itu sesiapa
yg bertanggung jawab utk brsama pesakit yg berjangkit ini seperti pegawai dan
petugas perubatan hendaklah yakin dgn Allah dan meminta perlindungan kepadaNya.
4. Pengasingan pesakit berjangkit dari orang-orang yg sihat (isolation). Nabi saw
bersabda: "Pesakit yang berjangkit tidak boleh mendatangi orang yang sihat. (Hr
Bukhari). Nabi saw bersabda: Bergaullah bersama pesakit kusta dengan jarak
selembing atau dua lembing. (Hr Abu Nuaim)
Hadis-hadis ini menunjukkan bahawa perlunya pengasingan diantara orang yang sihat
dengan pesakit yg berjangkit ini. Ini untuk mengelakkan jangkitan penyakit dan
penularannya ke dalam masyarakat.
Mazhab Maliki, Syafie dan Hambali menegah pesakit kusta dari bersama orang yang
sihat.

5. Kuarantin (quarantine) dalam Islam. Kuarantin adalah menghadkan pergerakan orang-


orang yang sihat yang pernah bersama dengan pesakit yang berjangkit pada satu
tempat dalam masa penyakit itu boleh berjangkit. Tujuan utamanya adalah supaya
dapat mengelakkan dari penyakit berjangkit itu menular ke dalam masyarakat yg
sihat. Walaupun mereka ini dilihat sihat tetapi ada kemungkinan penyakit sudah
berjangkit kepada mereka dan gejala penyakit itu belum timbul kerana masa lagi
diperingkat permulaan.
Nabi saw bersabda:
Taun (plague) adalah tanda kemurkaan Allah yang mana Allah menguji hamba-hambanya.
Apabila kamu mengetahui adanya penyakit itu di sebuah tempat janganlah kamu masuk ke
tempat itu. Apabila kamu berada di tempat yang ada penyakit taun (atau penyakit berjangkit
lain) janganlah kamu lari keluar darinya. (Hr muslim)
6. Syahid kepada orang yang mati kerana penyakit wabak (epidemics).
Aisyah ra bertanya berkata:
Aku bertanya Rasulullah saw tentang wabak taun. Baginda menjawab itu adalah azab yang
Allah turunkan kepada sesiapa yang Allah kehendaki. Allah akan jadikan penyakit itu
sebagai rahmat kepada orang-orang beriman. Tidak ada sesiapa yang terkena taun dan
duduk tetap di negerinya dalam keadaan sabar, mengharapkan ganjaran Allah dan yakin ia
adalah hanya ketetapan ilahi melainkan Allah akan memberinya pahala syahid. (Hr
Bukhari)
7. Islam menggalakkan umatnya berusha mengelakkan dari penyakit. Antara ushanya
adalah tidak masuk ke tempat yang ada penyakit berjangkit atau wabak. Ini jelas apa
yang berlaku kepada saidina Umar ketika mana beliau hendak masuk ke dalam Syam.
Apabila beliau mengetahui di syam berlakunya wabak taun, dia berpatah balik dan
tidak jadi masuk ke syam.
Lalu Abu Ubaidah al-Jarrah berkata:
Adakah engkau cuba lari dari ketentuan Allah?
Umar menjawab:
Alangkah baik sekiranya kata-kata ini diucapkan oleh orang lain. Ya, kami lari dari
ketentuan Allah kepada ketentuan Allah. (Hr Bukari)
8. Doa Qunut Nazilah kerana wabak. Mazahab Syafie dan Hanafi berpendapat sunat
qunut nazilah dalam solat untuk menghindarkan taun dan penyakit wabak yang lain.
Mazhab Maliki mengatakan sunat solat bukannya doa qunut. Mazhab Hambali
menyatakan bahwa tidak disyariatkan qunut untuk menghindarkan wabak kerana
berlaku wabak taun pada zaman saidina Umar dan beliau tidak qunut dan tidak
menyuruh orang lain qunut.
9. Senghaja memindahkan penyakit berjangkit kepada orang lain. Menyebabkan
kemudaratan kepada orang lain adalah perkara yang dilarang. Nabi saw bersabda:
Janganlah menyebabkan kemudaratan kepada diri sendiri dan orang lain. (Hr Ibnu
Majah
LI 7. Memahami dan Menjelaskan hukum menjaga kesehatan dan berobat dalam
pandangan islam
Pentingnya Menjaga Kesehatan menurut Islam
Dua anugerah membuat banyak orang merugi, yaitu kesehatan dan kesempatan. (HR
al-Bukhari). Gunakan dengan baik lima hal sebelum lima yang lain: masa mudamu sebelum
engkau tua; sehatmu sebelum engkau sakit; kayamu sebelum engkau jatuh miskin; masa
senggangmu sebelum engkau sibuk; hidupmu sebelum engkau mati. (HR al-Hakim)
Meski filosofi yang sering dilontarkan dalam agama adalah: Untuk apa kesehatan?
tidak berarti agama sama sekali tidak berbicara mengenai Bagaimana hidup sehat?.
Ada beberapa riwayat Hadis yang mengandung ajaran-ajaran hidup sehat. Misalnya, sabda
Rasulullah ?, Lakukanlah bepergian, maka kalian sehat. (HR Ahmad). dan berpuasalah
kalian, maka kalian sehat. (HR ath-Thabarani). Orang yang tidur dalam keadaan tangannya
berbau lemak, lalu ia terkena sesuatu, maka janganlah ia mencela kecuali dirinya sendiri.
(HR ad-Darimi).
Ada beberapa riwayat yang menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallhu alaihi
wasallam menerapkan pola makan yang sehat. Rasulullah Shallallhu alaihi wasallam
memakan kurma dengan mentimun. (HR al-Bukhari dan Muslim). Rasulullah melarang tidur
setelah makan (HR Abu Nuaim). Rasulullah menganjurkan mengawali berbuka dengan
kurma, jika tidak ada maka dengan air. (HR at-Tirmidzi) Rasulullah memerintahkan makan
malam meskipun dengan setelapak kurma. (HR at-Tirmidzi).
Ada beberapa ulama yang secara khusus menulis ajaran kesehatan dalam Islam, misalnya
Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam ath-Thibb an-Nabawi. Ibnu Muflih al-Maqdisi dalam
al-db asy-Syariyah, secara panjang lebar mengurai pola hidup sehat yang diterapkan oleh
Rasulullah Shallallhu alaihi wasallam Begitu pula asy-Syami dalam kitab sejarah Subulul-
Hud wa-Rasyad, secara khusus menulis judul Sejarah Rasulullah Shallallhu alaihi
wasallam dalam Menjaga Kesehatan. Juga, Imam al-Ghazali dalam Ihy Ulmiddin, tidak
jarang menyinggung hikmah-hikmah kesehatan yang terdapat dalam ajaran-ajaran Islam.
Pola hidup sehat ada tiga macam: yang pertama, melakukan hal-hal yang berguna untuk
kesehatan; yang kedua, menghindari hal-hal yang membahayakan kesehatan; yang ketiga,
melakukan hal-hal yang dapat menghilangkan penyakit yang diderita. Semua pola ini dapat
ditemukan dalilnya dalam agama, baik secara jelas atau tersirat, secara khusus atau umum,
secara medis maupun non medis (rohani).
Allah berfirman:


Artinya: makan dan minumlah kalian, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS al-Araf [7]: 31)

Menurut mufasir kontemporer, semacam as-Sadi, ayat tersebut mencakup perintah menjalani
pola hidup sehat dalam bentuk melakukan dan menghindari, yakni mengonsumsi makanan
yang bermanfaat untuk tubuh, serta meninggalkan pola makan yang membahayakan. Makan
dan minum sangat diperlukan untuk kesehatan, sedangkan berlebih-lebihan harus
ditinggalkan untuk menjaga kesehatan.
As-Sadi juga menganggap larangan Allah dalam QS al-Baqarah: 95, Wal tulq bi-aydkum
ilat-tahlukah (dan janganlah kalian menjatuhkan diri kalian ke dalam kebinasaan)
merupakan prinsip umum yang bisa juga dijadikan dalil bagi kesehatan. Seorang Muslim
dilarang melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya, termasuk di dalamnya adalah
mengonsumsi atau melakukan hal-hal yang berbahaya bagi kesehatan.