Sunteți pe pagina 1din 9

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN EXPERIENTIAL LEARNING

TERHADAP AKTIVITAS BELAJAR SISWA PADA PELAJARAN PENATAAN


BARANG DAGANG

Hendra
Program StudiPendidikanEkonomiKoperasi FKIP Untan Pontianak
Email: hendra.sedya123@gmail.com

Abstract
The research problem of research is the low of stuents learning activity on the
eleventh grae of students marketing class in SMK Negeri 3 Pontianak. The purpose of
this research is to find out the effect of experiental learning model to students
learning activity on goods commerce arragement subject the method usedd un thid
research is experiment method on pre-experiment design from, and research planning
used in this research is one group pretest- post test design. The subject of this
research is theeleveth grade students of pm2 in SMK Negeri 3 Pontianak. The process
of deciding the class was while the researcher did teaching practice in SMK Negeri 3
Pontianak.the tools of ddata collecting are dirrect observation and doamentation
study. Based on the result of data analysis, the students learning activity mean before
has been given thetreatment was 68,15, categorized as good enough. Where as the
students learning activity mean score after has been given the treatment was 78,72
categorize as good, and it is higher than mean score before has been given the
treatment. This showed that was offect of experiental learning model to students
learning activity.

Keywords : Learning Activity, Experiental Learning.

Pendidikan merupakan hal terpenting faktor guru, siswa merupakan salah satu
dalam kehidupan sehari-hari, baik di dalam faktor yang berpengaruh terhadap sistem
keluarga, bermasyarakat, berbangsa dan pembelajaran tersebut.
bernegara. Di mana pendidikan memiliki Apabila dalam proses pembelajaran
peran penting dalam memajukan bangsa dan siswa lebih banyak berpartisipasi aktif,
negara. Suatu bangsa akan dapat dikatakan bahkan siswa yang menemukan dan
maju berdasarkan kualitas Sumber Daya mengkonstruksi sendiri pengetahuannya
Manusia yang baik tentunya tidak terlepas maka hasilnya pun akan lebih memuaskan.
dari dunia pendidikan. Maka dari itu Sebab apa yang ditemukan sendiri oleh siswa
kemajuan dari suatu bangsa hanya dapat akan lebih membekas di dalam benak dan
dicapai melalui penataan pendidikan yang ingatannya. Jadi, tanpa harus guru menuntut
baik. Kualitas mutu pendidikan ini untuk menghafal, dengan sendirinya siswa
diharapkan dapat menaikkan harkat dan akan hafal atau mengingat apa yang telah ia
martabat manusia. pelajari atau temukan dengan sendirinya.
Salah satu tujuan pendidikan nasional Dengan demikian dapat dikatakan
adalah agar siswa dapat mengembangkan bahwa pembelajaran yang menekankan
potensi dirinya, berarti sistem pembelajaran aktivitas belajar akan menjadi lebih
haruslah berorientasi kepada siswa, sebab bermakna dan membawa siswa pada
terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pengalaman belajar yang mengesankan.
proses sistem pembelajaran, diantaranya Aktivitas merupakan prinsif atau asas yang

1
sangat penting dalam interaksi belajar- dianggap lebih praktis dan mempersingkat
mengajar (Sardiman,2014:96). Dengan waktu. Kejenuhan dan kebosanan siswa
aktivitas ini akan membuat siswa terlibat dalam mengikuti kegiatan pembelajaran
secara aktif dalam pembelajaran, sehingga tertentu akan berpengaruh pada materi yang
siswa mampu mengembangkan bakat yang disampaikan.
dimiliki, berfikir kritis dan memecahkan Melihat permasalahan tersebut maka
permasalahan yang mengarah pada upaya yang akan dilakukan peneliti dalam
peningkatan hasil belajar. meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas XI
Idealnya aktivitas perlu ditingkatkan SMK Negeri 3 Pontianak dengan penggunaan
dalam pembelajaran, tak terkecuali dalam model pembelajaran berbasis pengalaman
pembelajaran Penataan barang dagang. atau experiential learning. Salah satu hakikat
Kenyataannya berdasarkan hasil prariset experiential learning adalah menyediakan
yang dilakukan di lapangan, saat ini masih kesempatan kepada siswa untuk melakukan
tampak kecendrungan guru kurang kegiatan-kegiatan belajar secara aktif, karena
memperhatikan aktivitas belajar dalam pengalaman mempunyai peranan sentral
pembelajaran penataan barang dagang. dalam proses belajar. Seperti yang di
Pelaksanaan pembelajaran penataan barang kemukakan oleh Hamalik (2013:212),
dagang masih terpusat pada guru dan kurang menyatakan bahwa,Dengan model
melibatkan siswa. Mata pelajaran penataan experiential learning dapat menunjukkan
barang dagang ini memerlukan suatu bahwa pengajaran berdasarkan pengalaman
aktivitas yang lebih dikarenakan pada mata akan menyediakan kesempatan kepada siswa
pelajaran ini perlu adanya praktik dan untuk melakukan kegiatan-kegiatan belajar
pengalaman yang diberikan kepada siswa secara aktif.
dalam proses pembelajaran. Sebagai sebuah model pembelajaran
Namun Guru masih mengunakan model yang mengedepankan pengalaman
ceramah, sehingga peran guru sangat pembelajaran, experiential learning bertujuan
dominan, sementara siswa hanya untuk menciptakan sebuah peluang terhadap
mendengarkan dan menyimak materi atau kecenderungan pribadi yang berharga dan
pengetahuan yang disampaikan oleh guru. menegasankan. Melalui pembelajaran
Dengan pembelajaran penataan barang berbasis pengalaman, peserta didik akan
dagang yang demikian, kurang memberikan menjalani aktivitas yang menstimulasi dan
makna bagi pengalaman belajar siswa dan menantang untuk bersibuk ria dangan tugas-
belum mencakup pemahaman dalam tugas mereka sendiri.
menerima pelajaran.
Kurang bervariasinya model METODE PENELITIAN
pembelajaran yang digunakan guru tentu Menurut Sugiyono (2016:6), Metode
akan menyebabkan rasa jenuh dan bosan penelitian yang digunakan adalah eksperimen
pada siswa. masih banyak siswa yang kurang dalam bentuk penelitian Pre-Experimental
aktif ketika dalam peroses pembelajaran, Designs, Rancangan yang digunakan dalam
dimana siswa masih kurang memperhatikan penelitian ini adalah One-Group Pretest-
penjelasan yang diberikan guru siswa masih Posttes. Yang menjadi populasi dalam
kurang berpartisipasi dalam pembelajaran penelitian ini adalah siswa kelas XI PM2
seperti mengajukan pertanyaan, berpendapat obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan
dan lain-lain, hal tersebut dikarenakan siswa karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh
merasa kurang terlibat dalam proses peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik
pembelajaran sebab menggunakan model kesimpulannya. Sampel dalam penelitian ini
pembelajaran yang konvensional tersebut. adalah siswa yang mempunyai aktivitas
Guru belum terbiasa menerapkan model belajar yang rendah yaitu kelas XI PM2
pembelajaran yang bervariasi dan penerapan karena masih banyak siswa yang kurang aktif
model pembelajaran yang konvensional ketika dalam peroses pembelajaran, dimana

2
siswa masih kurang memperhatikan Tahap Pelaksanaan Penelitian
penjelasan yang diberikan guru siswa masih Langkah-langkah yang dilakukan pada
kurang berpartisipasi dalam pembelajaran tahap pelaksanaan antara lain: (1) Melakukan
seperti mengajukan pertanyaan, berpendapat penelitian pra eksperimen dengan
dan lain-lain. Teknik pengumpulan data memberikan pembelajaran tanpa
dalam penelitian ini adalahteknik observasi menggunakan model pembelajaran
langsung seperti pelaksanaannya langsung experiential learning. (2) Melakukan
pada tempat di mana suatu peristiwa sedang observasi aktivitas belajar siswa setelah
terjadi, dan teknik studi dokumenter yang pembelajaran pra eksperimen. (3) Melakukan
dilakukan berdasarkan bahan-bahan tertulis penelitian eksperimen dengan memberikan
berhubungan dengan masalah pembelajaran menggunakan model
penelitian.Prosedur dalam penelitian ini pembelajaran experiential learning. (4)
terdiri dari 3 tahap, yaitu : (1)Tahap Melakukan observasi aktivitas belajar siswa
persiapan,(2) tahap pelaksanaan setelah pembelajaran eksperimen.
penelitian,(3) tahap akhir.
Tahap Akhir
Tahap Persiapan Langkah-langkah yang dilakukan pada
Langkah-langkah yang tahap akhir antara lain: (1) Melakukan
dilakukanpadatahappersiapanantara lain: (1) analisis dan pengolahan data hasil penelitian
Peneliti berkoordinasi dengan guru mata pra eksperimen dan eksperimen. (2) Menarik
pelajaran penataan barang dagang untuk kesimpulan hasil penelitian. (3) Menyusun
menentukan jadwal penelitian. (2) Membuat laporan penelitian.
instrumen penelitian berupa lembar observasi
aktivitas belajar siswa. (3) Membuat HASIL PENELITIAN DAN
perangkat belajar berupa rencana PEMBAHASAN
pelaksanaan pembelajaran (RPP). (4) Hasil Penelitian
Melakukan validasi instrumen penelitian dan Dalam penelitian ini, yang menjadi
perangkat pembelajaran. (5) Merevisi subjek penelitian yaitu kelas XIPM2. Dalam
instrumen penelitian dan perangkat penelitian tersebut, peneliti mengamati
pembelajaran berdasarkan hasil validasi. (6) aktivitas belajar siswa yang terjai pada saat
Mengunakan model pembelajaran proses pembelajaran dengan berpatokan pada
experiential learning yang digunakan untuk lembar observasi aktivitas belajar siswa.
penelitian.

Tabel 1. Lembar Observasi Aktivitas Belajar Siswa


No Indikator Kegiatan Siswa Skor Pengamatan
1 2 3 4
1 Mendengarkan - Ikut serta dalam pembelajaran
- Menyimak materi yang disampaikan guru
2 Memandang - Memperhatikan penjelasan yang diberikan guru
- memahami display produk barang yang baik
3 Menulis dan mencatat - Mencatat informasi penting yang disampaikan
guru. Menyimpulkan
- Mengerjakan tugas yang diberikan guru.
Jumlah skor pengamatan
Skor terendah pada poin
Rata-rata hasil
pengamatan
Persentase pengamatan

3
Adapun aturan yang digunakan dalam Aktivitas Belajar Siswa Sebelum Diberi
melakukan observasia dalah siswa akan Perlakuan
memperoleh skor 1 apabila aktivitas kurang Penelitian ini dilakukan peneliti pada
baik, memperoleh skor 2 aktivitasnya cukup hari rabu dan kamis tanggal 22-23 maret
baik, memperoleh skor 3 aktivitasnya baik, 2017. Dalam penelitian tersebut peneliti
dan memperoleh skor 4 aktivitasnya sangat mengamati aktivitas belajar siswa yang
baik. Setelah hasil dari persekoran akan terjadi pada saat proses pembelajaran dengan
diolah dengan perhitungan dengan berpatokan pada lembar observasi aktivitas
mengunakan rumus sebagai berikut: belajar siswa.Adapunjumlah siswa kelas XI
PM2 adalah 33 orang. Pada saat penelitian
= 100
observasi sebelum eksperimen tahap 1 dan
Adapun predikat yang digunakan seperti tahap 2 siswanya hadir semua, dari 33 orang
berikut: siswa yang di observasi hasilnya 3 orang
80 100 = Sangat baik siswa mempunyai aktivitas dikategorikan
70 79 = Baik yang sangat baik (A), 13 orang siswa
60 69 = Cukup mempunyai aktivitas belajar dikategorikan
<60 = Kurang yang baik (B), 12 orang siswa mempunyai
Kemudian untuk melihat deskripsi minimum, aktivitas belajar dikategorikan cukup (C), dan
maksimum serta standar skor aktivitas belajar 5 orang siswa mempunyai aktivitas belajar
siswa sebelumdansesudah eksperimen, dikategorikan (D) Rate-rate skor penilaian
peneliti mengunakan bantuan program SPSS hasil observasi aktivitas belajar siswa
23 sebelum eksperimen mendapat rata-rata skor
68,15 shingga dikategorikan cukup (C).

Tabel 2
Hasil Deskripsi Minimum, Maksimum, Mean Dan Standar Deviasi Aktivitas Belajar Siswa
Sebelum Eksperimen
N Minimum Maximum Mean Std
Deviation
Aktivitasbelajarsiswasebelumeksperimen 33 47, 50 91,66 68,1539 9,78766
Valid N (listwise) 33

Berdasarkan tabel di atas dapat terlihat aktivitas belajar siswa sebelum eksperimen
bahwa skor tertinggi aktivitas belajar siswa adalah 68, 1539 dengan standar deviasi
adalah 91,66, skor terendah aktivitas belajar 9,78766.
siswa adalah 47,50 dan rata-rata skor

Aktivitas Belajar Siswa Setelah Diberi siswa hadir semua. Dari 33 orang siswa yang
Perlakuan (Eksperimen) di observasi hasilnya 16 orang siswa
Penelitian ini dilakukan peneliti pada mempunyai aktivitas yang sangat baik (A),
tangal 29-30 Maret 2017. Dalam penelitian 15 orang siswa mempunyai aktivitas belajar
tersebut peneliti mengamati aktivitas belajar yang baik (B), dan 2 orang siswa mempunyai
siswa setelah diberi perlakuan dengan aktivitas belajar yang cukup (C). Rata-rata
berpatokan pada lembar observasi, pada skor penilaian hasil observasi aktivitas
penilaian aktivitas belajar siswa. belajar siswa sesudah eksperimen mendapat
Adapunjumlah siswa kelas XI PM2 adalah 33 rata-rata skor adalah 78,82 sehingga
orang. Pada saat penelitian tahap 1 dan 2 dikategorikan baik (B)

4
Tabel 3
Hasil Deskripsi Minimum, Maksimum, Mean Dan Standar Deviasi Aktivitas Belajar Siswa
Setelah Eksperimen
N Minimum Maximum Mean Std
Deviation
AktivitasBelajarSiswasesudaheksperimen 33 62,50 97,92 78,7255 8,50699
Valid N (listwise) 33

Berdasarkan tabel di atas dapat terlihat dilakukan uji-t maka terlebih dahulu menguji
bahwa skor tertinggi aktivitas belajar siswa apakah data berdistribusi normal atau tidak.
sesudah eksperimen adalah 97,92, sedangkan Apabila data berddistribusi normal maka uji t
skor terendah aktivitas belajar siswa sesudah mengunakan uji paired sample test.
eksperimen 62,50 dan rata-rata aktivitas Sedangkan apabila distribusi data tidak
belajar siswa sesudah eksperimen adalah normal maka uji t mengunakan:
78,72 dengan standar deviasi 8,50699.
Uji normalitas
Penerapan Model Pembelajaran Untuk menentukan apakah data
Experiential Learning Terhadap Aktivitas berdistribusi normal atau tidak, maka
Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran dilakukan pengujian mengunakan rumus
Penataan Barang Dagang Kelas XI kolmogorov-Smirnov (KS) dengan aplikasi
Pemasaran Di SMK Negeri 3 Pontianak. SPSS 23, dengan kriteria pengujiannya
Untuk melihat apakah penerapan model sebagai berikut:(1) Jika signifikasi >0,05
pembelajaran experiential learning dapat maka data berdistribusi normal.(2) Jika
meningkatkan aktivitas belajar siswa maka signifikasi <0,05 maka data tidak
dilakukan Uji-t (T Test), tetapi sebelum berdistribusi normal.

Tabel 4. Hasil Uji Normalitas


Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Statistic Df Sig. Statistic Df Sig.
SebelumEksperimen ,112 33 ,200 ,976 33 ,658
SesudahEksperimen ,118 33 ,200* ,979 33 ,762
*. This is a lower bound of the true significance.
a. Lilliefors Significance Correction

Berdasarkan tabel 3 di atas nilai Kolmogorov-Smirnov, data aktivitas belajar


signifikansi skor aktivitas belajar siswa siswa dinyatakan berdistribusi normal.
sebelum eksperimen mengunakan Sehingga untuk uji t nya mengunakan Uji
Kolmogorov-Smirnov dengan aplikasi SPSS paired Sample T Test. Sebelum melakukan
23 adalah sebesar 0.200. sedangkan nilai uji t tersebut, terlebih dahulu merumuskan
signifikansi skor aktivitas belajar siswa hipotesis penelitian. Adapun uji hipotesis
sesudah eksperimen mengunakan yang diuji dalam penelitian ini adalah:
Kolmogorov-Smirnov dengan aplikasi SPSS Ho = Tidak terdapat pengaruh model
23 adalah sebesar 0,200. Karena nilai pembelajaran experiential learning
signifikansi aktivitas belajar siswa sebelum terhadap aktivitas belajar siswa pada
dan sesudah eksperimen lebih besar > 0,05, mata pelajaran penataan barang dagang
maka dapat disimpulkan bahwa data aktivitas kelas XI Pemasaran di SMK Negeri 3
belajar siswa berdistribusi normal. Pontianak.
Ha = Terdapat pengaruh model
Uji t pembelajaran experiential learning
Berdasarkan uji normalitas mengunakan terhadap aktivitas belajar siswa pada

5
mata pelajaran penataan barang dagang nilai signifikansi atau Sig.(2-tailed) > 0,05,
kelas XI Pemasaran di SMK Negeri 3 maka Ho diterima dan Ha ditolak. (2) Jika
Pontianak. nilai signifikansi atau Sig.(2-tailed) < 0.05,
Sedangkan dasar pengambilan keputusan maka Ho ditolak dan Ha di terima.
dalam Uji t adalah sebagai berikut: (1) Jika

Tabel 5. Hasil Uji T Skor Aktivitas Belajar Siswa


Mean N Std. Std. Error
Deviation Mean
Pair 1 SebelumEksperimen 68,1539 33 9,78766 1,70381
SesudahEksperimen 78,7255 33 8,50699 1,48088

Berdasarkantabel 4 hasiluji T 9,78766dansesudaheksperimensebesar


skoraktivitasbelajarsiswadiperolehhasilstanda 8,50699.
r deviation sebelumeksperimensebesar

Tabel 6. Paired Samples Correlations


N Correlation Sig.
Pair 1 SebelumEksperimen&SesudahEksperimen 33 ,935 ,000

Tabel 7. Paired Samples Test


Paired Differences T Df Sig.
Mean Std. Std. 95% Confidence (2-
Deviation Error Interval of the tailed)
Mean Difference
Lower Upper
Pair Sebelumeksperimen- - 3,52373 ,61340 - -9,32205 - 32 ,000
1 SesudahEksperimen 10,57152 11,82098 17,234

Berdasarkan uji paired sample t tes Ha diterima.


dengan mengunakan program SPSS 23 di
atas, terdapat tiga output. Output bagian Pembahasan
pertama menyajikan deskripsi dari pasangan Dalam penelitian kelas XI PM2
variabel yang dianalisis, meliputi rata-rata diobservasiaktivitas belajarnya sebelum dan
(mean) sebelum eksperimen adalah 68,1539 sesudah diberikan eksperimen. Berdasarkan
dengan standar deviasi 9,78766. Sedangkan hasil penelitian sebelum eksperimen pada
rata-rata (mean) sesudah eksperimen adalah tahap 1 dan 2 diperoleh dari 33 orang siswa
78,7255 dengan standar deviasi 8,50699. yang diobservasi, 3 orang siswa mempunyai
Pada output bagian kedua menyajikan hasil aktivitas dikategorikan yang sangat baik (A),
korelasi antara kedua variabel, yang 13 orang siswa mempunyai aktivitas belajar
menghasilkan angka 0,935 dengan nilai dikategorikan yang baik (B), 12 orang siswa
signifikansi 0,000. Hal ini menyatakan bahwa mempunyai aktivitas belajar dikategorikan
korelasi antara sebelum dan sesudah cukup (C), dan 5 orang siswa mempunyai
eksperimen berhubungan secara nyata, aktivitas belajar dikategorikan kurang (D).
karena nilai signifikansi < 0,05. Sedangkan Berdasarkan hal tersebut masih banyak siswa
output ketiga menyajikan hasil dari paired siswa yang mempunyai aktivitas
sample t test dengan nilai signifikansi (Sig.2- dikategorikan kurang karena ketika diberi
tailed) adalah 0,000. Berdasarkan dasar tugas mereka tidak langsung
pengambilan keputusan jika nilai signifikansi mengerjakannya, tidak bertanya mengenai
< 0,05 (0,000 < 0,05), maka Ho ditolak dan materi yang kurang dipahami, sehingga pada

6
saat diobservasi aktivitas belajarnya learning terhadap aktivitas belajar siswa pada
mendapatkan skor yang rendah. pembelajaran terpadu di kelas IV SD Negeri
Sedangkan hasil penelitian sesudah 3 Sawah Lama Bandar Lampung Tahun
eksperimen, dari 33 orang siswa yang di Ajaran 2016/2017 Hal ini dibuktikan dengan
observasi hasilnya 16 orang siswa nilai rata-rata aktivitas belajar siswa pada
mempunyai aktivitas yang sangat baik (A), kelas eksperimen 57 % lebih tinggi
15 orang siswa mempunyai aktivitas belajar dibandingkan dengan nilai rata-rata aktivitas
yang baik (B), dan 2 orang siswa mempunyai belajar siswa pada kelas sebelum eksperimen
aktivitas belajar yang cukup (C). Berdasarkan 44%.
data tersebut sudah lebih 50% aktivitas Menurut Kolb dalam Baharudin
belajar siswa sesudah eksperimen tergolang (2007: 165) model experiential learning
sudah baik. Karena dengan pengaruh model adalah suatu model proses belajar mengajar
pembelajaran ini siswa menjadi jauh lebih yang mengaktifkan pembelajaran untuk
baik dari pembelajaran sebelumnya. membangun pengetahuan dan keterampilan
Berdasarkan hasil perhitungan statistik melalui pengalamannya secara langsung.
deskriptif rata-rata skor aktivitas belajar Dalam hal ini, experiential learning
siswa sebelum eksperimen adalah 68,15 dan mengunakan pengalaman sebagai katasilator
rata-rata skor aktivitas belajar siswa sesudah untuk menolong pembelajaran
eksperimen adalah 78,82. Jadi secara mengembangkan kapasitas kemampuan
sederhana dapat kita mengatakan bahwa dalam proses pembelajaran.
pengaruh model pembelajaran ekperiential
learning terhadap aktivitas belajar berhasil
dalam pembelajaran karena ada perubahan SIMPULAN DAN SARAN
aktivitas belajar siswa sebelum dan sesudah Simpulan
eksperimen. Berdasarkan hasil penelitian dan
Sementara untuk mengetahui penerapan pembahasan tentang pengaruh model
model pembelajaran experiential learning pembelajaran experiential learning terhadap
berdasarkan hasil perhitungan Uji paired aktivitas belajar siswa. Hal ini ditunjukkan
Sample t test mengunakan aplikasi pengolah dengan data lembar observasi dan nilai rata-
data SPSS 23 diperoleh hasil nilai signifikasi rata aktivitas belajar siswa pada sebelum
adalah 0,000. Dengan nilai ini maka perlakuan dengan rata-rata 68,15 tergolong
disimpulkan bahwa terdapat pengaruh cukup baik sedangkan sesudah perlakuan
penerapan model pembelajaran ekperiential degan rata-rata 78,72 tergolong baik, dan
learning terhadap aktivitas belajar siswa pada lebih tinggi dibandingkan dengan nilai rata-
mata pelajaran penataan barang dagang kelas rata sebelum perlakuan. Diperoleh simpulan
XI Pemasaran di SMK Negeri 3 Pontianak. sebagai berikut: (1) Pelaksanaan proses
Karena proses pembelajaran lebih pembelajaran ekperiential learning berjalan
mengaktifkan siswa dalam suatau kegiatan di sangat baik, hal ini terlihat dari siswa lebih
mana kegiatan tersebut yang akan di alami antusias dalam memperhatikan penjelasan
setiap siswa, untuk ,mengerjakan tugas yang guru pada saat penelitian dan juga yang
di berikan guru seperti menjaga labolatorium terpenting adalah meningkatnya aktivitas
pemasaran. Hal ini di dukung dengan hasil belajar siswa di banding sebelum
penelitian terdahulu yang dilakukan oleh mengunakan model pembelajaran
Dian wakhidiani dengan judul pengaruh experiential learning tersebut. (2)
model pembelajaran experiential learning Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan
terhadap aktivitas dan hasil belajar siswa di ketahui bahwa setelah mengunakan model
pada pembelajaran terpadu di kelas IV SD 3 experiential learning aktivitas belajar siswa
Sawah Lama Bandar lampung tahun ajaran dapat dikatakan baik, hal ini terbukti oleh
2016/2017 yang hasilnya menyatakan perolehan skor aktivitas belajar siswa
terdapat pengaruh model experiential sebelum eksperimen tergolong cukup baik

7
(C) dengan rata-rata 68,15 sedangkan Hamalik, Oemar. (2013). Proses Belajar
aktivitas belajar siswa setelah diberikan Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara
eksperimen rata-ratanya meningkat menjadi Mahmud. (2011). Metode Penelitian Sosial.
78,72 dan tergolong baik (B). Sehingga Bandung : CV Pustaka Setia.
terjadi peningkatan aktivitas belajar setelah Nawawi, Hadari (2012). Metode Penelitian
adanya eksperimen. (3) Terdapat pengaruh Bidang Sosial. Yogyakarta: Gajah
model pembelajaran experiential learning Mada University Press.
terhadap aktivitas belajar siswa pada mata Priyatno, Duwi. (2014). SPSS 22:
pelajaran penataan batang dagang kelas XI Pengolahan Data Terpraktis.
Pemasaran di SMK Negeri 3 Pontianak Yogyakarta: ANDI
setelah dilakuakan Uji-t hasilnya diperoleh Puspawati, P.(2009). Manajemen
nilai signifikansi (Sig.2-tailed) adalah 0,000. Pembelajaran Pengalaman Lapangan
Sehingga pengujian hipotesisnya Ho ditolak Bidang Studi Matematika Kelompok
dan Ha diterima karena 0,000 < 0,05. Belajar Paket A Nusa Indah di
Kecamatan
Saran Bundar,Kabupaten,Batang.(Online)htt
Berdasakan penelitian yang telah p://androgogia.p2pnfisemarang.org/wp
dilakukan, terdapat beberapa hal yang dapat -
dijadikan sebagai saran-saran dalam content/upload/2010/11/andragogial_5.
penelitian ini:Guru sebaiknya memperhatikan pdf [diakses 17-01-2017]
waktu pembelajaran dalam menerapkan Puspitasari, Devi. (2014). Penataan Barang
model pembelajaran experiential learning Dagang. Jakarta.
agar pelaksanaannya berjalan sesuai dengan Raharjo, Sahid. (2016). Cara Uji Paired
perencanaan yang telah disusun, Guru Sample T Test dan Interpretasi
seharusnya lebih mengutamakan agar siswa dengan SPSS. (Online).
tidak merasa bosan dan lebih terpokus pada http://www.spssindonesia.com/2016/0
poreses pembelajaran agar aktivitas belajar 8/cara-uji-paired-sample-t-test-
siswa lebih meningkat pada saat proses dan.html.Diakses11 Desember 2016
pembelajaran, Guru hendaknya mampu Rohmalina Wahab. (2015). Psikologi
mendorong siswa untuk bekerjasama dengan Belajar. RajaGafindo Persada.Jakarta.
kelompoknya untuk meningkatkan Sardiman. (2014). Inetraksi Motivasi
keberhasilan yang ingin dicapai dalam proses Belajar Mengajar. Jakarta:PT
pembelajaran. RajaGrafindo Persada.
Sardiman. (2011). Interaksi Motivasi
DAFTAR PUSTAKA Belajar Mengajar.
Arikunto, Suharsimi. (2013). Prosedur Jakarta:Rajagrapindo Persada .
Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta. Sanjaya, Wina. (2012). Perencanaan dan
Aunurrahman. (2010). Belajar dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta
Pembelajaran. Bandung: Alfabeta. : Kencana.
Baharuddin, (2007). Teori Belajar dan Sugiyono. (2016). Metode Penelitian
Pembelajaran. Ar-ruzz Media. Pendidikan. Jl. Gegerkalong Hilir No.
Yogyakarta. 248 hlm. 84 Bandung.
Darmadi, Hamid. (2013). Metode Penelitian Sukmadinata, Nana Syaodih. (2012). Metode
Pendidikan Dan Sosial. Bandung Penelitian Pendidikan cet.
:Alfabeta. Kesembilan. Bandung: PT Remaja
FKIP UNTAN. (2013). Pedoman Karya Rosdakarya.
Ilmiah. Pontianak: Edukasi Press
FKIP UNTAN.

8
9