Sunteți pe pagina 1din 14

BAB II

TINJAUAN MEDIS

2.1 DEFINISI

Hemoroid adalah kumpulan dari pelebaran satu segmen atau lebih vena hemoroidalis di
daerah anorektal. Hemoroid bukan sekedar pelebaran vena hemoroidalis, tetapi bersifat lebih
kompleks yakni melibatkan beberapa unsure berupa pembuluh darah, jaringan lunak dan otot
disekitar anorektal (Felix, 2006). Hemoroid adalah Suatu pelebaran dari vena-vena didalam
pleksus Hemoroidalis (Muttaqin, 2011). Hemoroid adalah pelebaran pembuluh darah vena
hemoroidalis dengan penonjolan membrane mukosa yang melapisi daerah anus dan rectum
(Nugroho, 2011).

Klasifikasi hemoroid

1. Ambeien Internal

Hemoroid internal adalah pembengkakan terjadi dalam rektum sehingga tidak bisa dilihat
atau diraba. Pembengkakan jenis ini tidak menimbulkan rasa sakit karena hanya ada sedikit
syaraf di daerah rektum. Tanda yang dapat diketahui adalah pendarahan saat buang air besar.
Masalahnya jadi tidak sederhana lagi, bila ambeien internal ini membesar dan keluar ke bibir
anus yang menyebabkan kesakitan. Ambeien yang terlihat berwarna pink ini setelah sembuh
dapat masuk sendiri, tetapi bisa juga didorong masuk. Hemoroid interna dibagi menjadi 4
derajat yaitu :

1. Derajat I

2. Terdapat perdarahan merah segar pada rectum pasca defekasi

3. Tanpa disertai rasa nyeri

4. Tidak terdapat prolaps

5. Pada pemeriksaan anoskopi terlihat permulaan dari benjolan hemoroid yang


menonjol ke dalam lumen

6. Derajat II

7. Terdapat perdarahan/tanpa perdarahan sesudah defekasi

8. Terjadi prolaps hemoroid yang dapat masuk sendiri (reposisi spontan)

3. Derajat III

4. Terdapat perdarahan/tanpa perdarahan sesudah defekasi


5. Terjadi prolaps hemoroid yang tidak dapat masuk sendiri jadi harus didorong
dengan jari (reposisi manual)

6. Derajat IV

1. Terdapat perdarahan sesudah defekasi

2. Terjadi prolaps hemoroid yang tidak dapat didorong masuk (meskipun sudah
direposisi akan keluar lagi)

7. Ambeien / Hemoroid Eksternal

Hemoroid eksternal diklasifikasikan sebagai akut dan kronik. Bentuk akut berupa
pembengkakan bulat kebiruan pada pinggir anus dan sebenarnya merupakan hematoma,
bentuk ini sangat nyeri dan gatal karena ujung-ujung saraf pada kulit merupakan reseptor
nyeri.

ETIOLOGI

Menurut Vill alba dan Abbas (2007), etiologi hemoroid sampai saat ini belum
diketahui secara pasti, beberapa factor pendukung yang terlibat diantaranya adalah :

1. Penuaan

2. Kehamilan

3. Hereditas

4. Konstipasi atau diare kronik

5. Penggunaan toilet yang berlama lama

6. Posisi tubuh, misal duduk dalam waktu yang lama

7.

Menurut Mutaqqin (2011), kondisi hemoroid biasanya tidak berhubungan dengan kondisi
medis atau penyalit, namun ada beberapa predisposisi penting yang dapat meningkatkan
risiko hemoroid seperti berikut:

1. Perubahan hormon (kehamilan)

2. Mengejan secara berlebihan hingga menyebabkan kram

3. Berdiri terlalu lama

4. Banyak duduk

5. Sering mengangkat beban berat


6. Sembelit diare menahun (obstipasi)

7. Makanan yang dapat memicu pelebaran pembuluh vena (cabe, rempah-rempah)

8. Keturuna penderita wasir(genetik)

PATOFISIOLOGI

Menurut Nugroho (2011) hemoroid dapat disebabkan oleh tekanan abdominal yang mampu
menekan vena hemoroidalis sehingga menyebabkan dilatasi pada vena. dilatasi tersebut
dapat dibagi menjadi 2, yaitu :

1. Interna (dilatasi sebelum spinter)

2. Bila membesar baru nyeri

3. Bila vena pecah, BAB berdarah anemia

4. Eksterna (dilatasi sesudah spingter)

1. Nyeri

2. Bila vena pecah, BAB berdarah-trombosit-inflamasi.

Hemoroid dapat terjadi pada individu yang sehat. Hemoroid umumnya menyebabkan gejala
ketika mengalami pembesaran, peradangan, atau prollaps. Diet rendah serat menyebabkan
bentuk feses menjadi kecil yang bisa mengakibatkan kondisi mengejan selama BAB.
Peningkatan tekanan ini menyebabkan pembengkakan dari hemoroid., kemungkinan
gengguan oleh venous return (Muttaqin, 2011).

MANIFESTASI KLINIS

Gejala klinis hemoroid dapat dibagi berdasarkan jenis hemoroid (Vill Alba dan Abbas, 2007 )
yaitu :

1. Hemoroid internal

2. Prolaps dan keluarnya

3.

4. Rasa tak

5.

6. Hemoroideksternal

1. Rasa terbakar.
2. Nyeri (jikamengalami trombosis).

3.

Sedangkan tanda dan gejala menurut Lumenta (2006) pasien hemoroid dapat mengeluh hal-
hal seperti berikut :

1. Perdarahan

Keluhan yang sering dan timul pertama kali yakni : darah segar menetes setelah buang air
besar (BAB), biasanya tanpa disertai nyeri dan gatal di anus. Pendarahan dapat juga timbul di
luar wakyu BAB, misalnya pada orang tua. Perdaran ini berwarna merah segar.

1. Benjolan

Benjolan terjadi pada anus yang dapat menciut/ tereduksi spontan atau manual merupakan
cirri khas/ karakteristik hemoroid.

1. Nyeri dan rasa tidak nyaman

Dirasakan bila timbul komplikasi thrombosis ( sumbatan komponen darah di bawah anus),
benjolan keluar anus, polip rectum, skin tag.

1. Basah, gatal dan hygiene yang kurang di anus

Akibat penegluaran cairan dari selaput lender anus disertai perdarahan merupakan tanda
hemoroid interna, yang sering mengotori pakaian dalam bahkan dapat menyebabkan
pembengkakan kulit.

PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan hemoroid tergantung pada macam dan derajat hemoroidnya.

1. Hemoroid Eksterna

Hemoroid eksternal yang mengalami trombosis tampak sebagai benjolan yang nyeri pada
anal verge. Jika pasien membaik dan hanya mengeluh nyeri ringan, pemberian analgesik, sitz
baths, dan pelunak feses. Tetapi jika pasien mengeluh nyeri yang parah, maka eksisi di bawah
anestesi lokal dianjurkan. Pengobatan secara bedah menawarkan penyembuhan yang cepat,
efektif dan memerlukan waku hanya beberapa menit dan segera menghilangkan gejala.
Penatalaksanaan secara bedah yaitu pasien berbaring dengan posisi menghadap ke lateral dan
lutut di lipat (posisi seems), dasar hematom diinfiltrasi dengan anestetik lokal. Bagian atas
bokong didorong untuk memaparkan trombosis hemoroid. Kulit dipotong berbentuk elips
menggunakan gunting iris dan forsep diseksi; hal ini dengan segera memperlihatkan bekuan
darah hitam yang khas di dalam hemoroid yang dapat dikeluarkan dengan tekanan atau
diangkat keluar dengan forsep.

2. Hemoroid Interna

Pengobatan hemoroid interna tergantung dari derajat hemoroidnya.


Hemoroid Interna
Derajat Berdarah Prolaps Reposisi
I +
II + + Spontan
III + + Manual
IV + Tetap Irreponibel

Hemorroid interna diterapi sesuai dengan gradenya. Tetapi hemorroid eksterna


selalu dengan operasi. Konservatif indikasi untuk grade 1-2, < 6 jam, belum terbentuk
trombus. Operatif indikasi untuk grade 3-4, perdarahan dan nyeri.

1. Hemoroid derajat I dan II

Kebanyakan pasien hemoroid derajat I dan II dapat ditolong dengan tindakan lokal yang
sederhana disertai nasehat tentang makan. Makanan sebaiknya terdiri atas makanan berserat
tinggi, misalnya sayuran dan buah-buahan Makanan berserat tinggi ini membuat gumpalan isi
usus menjadi besar namun lunak, sehingga mempermudah defekasi dan mengurangi
keharusan mengedan secara berlebihan.

2. Hemoroid Derajat III dan IV

Pengobatan dengan krioterapi pada derajat III dilakukan jika diputuskan tidak perlu
dilakukan hemoroidektomi. Pengobatan dengan criyosurgery (bedah beku) dilakukan pada
hemoroid yang menonjol, dibekukan dengan CO2 atau NO2 sehingga mengalami nekrosis dan
akhirnya fibrosis. Tidak dipakai secara luas karena mukosa yang dibekukan (nekrosis) sukar
ditentukan luasnya. Hemoroidektomi dilakukan pada pasien yang mengalami hemoroid yang
menahun dan mengalami prolapsus besar (derajat III dan IV).

Ada 3 prinsip dalam melakukan hemoroidektomi yaitu pengangkatan pleksus dan mukosa,
pengangkatan pleksus tanpa mukosa, dan pengangkatan mukosa tanpa pleksus. Teknik
pengangkatan dapat dilakukan menurut 2 metode :

1. Metode Langen-beck : yaitu dengan cara menjepit radier hemoroid interna,


mengadakan jahitan jelujur klem dengan catgut crhomic No. 00, mengadakan eksisi di
atas klem. Sesudah itu klem dilepas dan jahitan jelujur di bawah klem diikat, diikuti
usaha kontinuitas mukosa. Cara ini banyak dilakukan karena mudah dan tidak
mengandung risiko pembentukan jaringan parut sirkuler yang biasa menimbulkan
stenosis.

2. Metode whitehead : yaitu mengupas seluruh v. hemoroidalis dengan membebaskan


mukosa dari sub mukosa dan mengadakan reseksi sirkuler terhadap mukosa daerah
itu, sambil mengusahakan kontinuitas mukosa kembali.
3. Metode stapled : yaitu dengan cara mengupas mukosa rektum. Metode ini lebih
unggul dan lebih banyak dipakai karena perdarahannya dan nyeri post operasinya
berkurang dibandingkan dengan metode yang lain.

2.6 PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

1. Anamnesa atau riwayat penyakit

2. Pemeriksaan fisik yaitu inspeksi

Pada inspeksi hemoroid eksterna mudah terlihat apalagi sudah mengandung trombus.
Hemoroid interna yang prolaps dapat terlihat sebagai benjolan yang tertutup mukosa. Untuk
membuat prolaps dapat dengan menyuruh pasien untuk mengejan.

1. rektaltouche (colok dubur)

Pada pemeriksaan colok dubur, hemoroid interna stadium awal tidak dapat diraba sebab
tekanan vena di dalamnya tidak terlalu tinggi dan biasanya tidak nyeri. Hemoroid dapat
diraba apabila sangat besar. Apabila hemoroid sering prolaps, selaput lendir akan menebal.
Trombosis dan fibrosis pada perabaan terasa padat dengan dasar yang lebar. Pemeriksaan
colok dubur ini untuk menyingkirkan kemungkinan karsinoma rektum.

1. Pemeriksaan dengan teropong yaitu anoskopi dan rektoskopi

Dengan cara ini dapat dilihat hemoroid internus yang tidak menonjol keluar. Anoskop
dimasukkan untuk mengamati keempat kuadran. Penderita dalam posisi litotomi. Anoskop
dan penyumbatnya dimasukkan dalam anus sedalam mungkin, penyumbat diangkat dan
penderita disuruh bernafas panjang. Hemoroid interna terlihat sebagai struktur vaskuler yang
menonjol ke dalam lumen. Apabila penderita diminta mengejan sedikit maka ukuran
hemoroid akan membesar dan penonjolan atau prolaps akan lebih nyata. Banyaknya benjolan,
derajatnya, letak ,besarnya dan keadaan lain dalam anus seperti polip, fissura ani dan tumor
ganas harus diperhatikan.

1. Pemeriksaaan dengan Proktosigmoidoskopi

Proktosigmoidoskopi perlu dikerjakan untuk memastikan keluhan bukan disebabkan oleh


proses radang atau proses keganasan di tingkat tinggi, karena hemoroid merupakan keadaan
fisiologik saja atau tanda yang menyertai.

1. frontgen (colon inloop) dan kolonoskopi

2. pemeriksaan darah, urin, feses sebagai pemeriksaan penunjang

Diperlukan untuk mengetahui adanya darah samar (occult bleeding).

KOMPLIKASI HEMOROID

Komplikasi hemoroid yang paling sering terjadi yaitu :

1. Perdarahan, dapat sampai anemia.


2. Trombosis (pembekuan darah dalam hemoroid)

3. Hemoroidal strangulasi adalah hemoroid yang prolaps dengan suplai darah dihalangi
oleh sfingter ani.

4. Luka dan infeksi

DIAGNOSA BANDING

1. Perdarahan juga dapat terjadi pada :

2. Carcinoma kolorektal

3. Divertikulitis

4. Kolitis ulserosa

5. Polip adenomatosa

6. Benjolan juga dapat terjadi pada :

7. Anorektal

8. Prolaps rekti (procidentia)

3. Keluhan utama

Pasien datang dengan keluhan perdarahan terus menerus saat BAB. Ada benjolan pada
anus atau nyeri pada saat defikasi.

4. Riwayat penyakit

5. Riwayat penyakit sekarang

Pasien mulai keluar benjolan di anusnya beberapa minggu hanya ada benjolan yang keluar
dan beberapa hari setelah BAB ada darah yang keluar menetes.

1. Riwayat penyakit dahulu

Pasien pernah menderita penyakit hemoroid sebelumnya, sembuh atau terulang kembali. Dan
pada pasien waktu pengobatan terdahulu tidak dilakukan pembedahan sehingga akan kembali
RPD.

5. Pemeriksaan Fisik

Pasien di baringkan dengan posisi menungging dengan kedua kaki di tekuk dan menempel
pada tempat tidur.

Inspeksi
Pada insfeksi lihat ada benjolan sekitar anus.

Benjolan tersebut terlihat pada saat prolapsi.

Warna benjolan terlihat kemerahan.

Benjolan terletak di dalam ( internal ).

o Palpasi

Dilakuakan dengan menggunakan sarung tangan ditambah vaselin dengan melakuakan


rektal tucher, dengan memasukan satu jari kedalam anus. Dan ditemukan benjolan tersebut
dengan konsistensi keras, dan juga ada perdarahan.

DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri fisik (insisi pembedahan)

2. Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan invasive, insisi post pembedahan,


imunitas tubuh primer menurun

3. PK: Perdarahan

4. Kurang pengetahuan tentang Ca Rekti dan pilihan pengobatan berhubungan dengan


kurang paparan sumber informasi

5. Sindrom defisit self care b/d kelemahan, penyakitnya, nyeri

6. Resiko konstipasi berhubungan dengan obstruksi post pembedahan

o INTERVENSI KEPERAWATAN

Menurut Arif Muttaqin (2008) tujuan perencanaan dan implementasi dapat


mencakup perbaikan pola pernapasan, perbaikan mobilitas, pemeliharaan integritas kulit,
menghilangkan retensi urine, perbaikan fungsi usus, peningkatan rasa nyaman, dan tidak
terdapatnya komplikasi.

Diagnosa keperawatan RENCANA INTERVENSI


Nyeri akut berhubungan NOC : NIC :
dengan:
Pain Level, - Lakukan pengkajian nyeri
Agen injuri (biologi, kimia, secara komprehensif termasuk
fisik, psikologis), kerusakan pain control, lokasi, karakteristik, durasi,
jaringan frekuensi, kualitas dan faktor
comfort level presipitasi

Setelah dilakukan Observasi reaksi nonverbal dari


DS: tinfakan keperawatan ketidaknyamanan
selama . Pasien tidak
Laporan secara mengalami nyeri, Bantu pasien dan keluarga untuk
verbal dengan kriteria hasil: mencari dan menemukan
dukungan
DO: Mampu mengontrol
nyeri (tahu penyebab Kontrol lingkungan yang dapat
Posisi untuk menahan nyeri, mampu mempengaruhi nyeri seperti suhu
nyeri menggunakan tehnik ruangan, pencahayaan dan
nonfarmakologi untuk kebisingan
Tingkah laku berhati- mengurangi nyeri,
hati mencari bantuan) Kurangi faktor presipitasi nyeri

Gangguan tidur (mata Melaporkan bahwa Kaji tipe dan sumber nyeri
sayu, tampak capek, sulit nyeri berkurang untuk menentukan intervensi
atau gerakan kacau, dengan menggunakan
menyeringai) manajemen nyeri Ajarkan tentang teknik non
farmakologi: napas dala,
Terfokus pada diri Mampu mengenali relaksasi, distraksi, kompres
sendiri nyeri (skala, intensitas, hangat/ dingin
frekuensi dan tanda
Fokus menyempit nyeri) Berikan analgetik untuk
(penurunan persepsi waktu, mengurangi nyeri:
kerusakan proses berpikir, Menyatakan rasa
penurunan interaksi dengan nyaman setelah nyeri Tingkatkan istirahat
orang dan lingkungan) berkurang
Berikan informasi tentang nyeri
Tingkah laku Tanda vital dalam seperti penyebab nyeri, berapa
distraksi, contoh : jalan- rentang normal lama nyeri akan berkurang dan
jalan, menemui orang lain antisipasi ketidaknyamanan dari
dan/atau aktivitas, aktivitas Tidak mengalami prosedur
berulang-ulang) gangguan tidur
Monitor vital sign sebelum dan
Respon autonom sesudah pemberian analgesik
(seperti diaphoresis, pertama kali
perubahan tekanan darah,
perubahan nafas, nadi dan
dilatasi pupil)

Perubahan autonomic
dalam tonus otot (mungkin
dalam rentang dari lemah ke
kaku)

Tingkah laku
ekspresif (contoh : gelisah,
merintih, menangis,
waspada, iritabel, nafas
panjang/berkeluh kesah)

Perubahan dalam
nafsu makan dan minum

Risiko infeksi NOC : NIC :

Faktor-faktor risiko : Immune Status Pertahankan teknik aseptif

Prosedur Infasif Knowledge : Batasi pengunjung bila perlu


Infection control
Kerusakan jaringan Cuci tangan setiap sebelum dan
dan peningkatan paparan Risk control sesudah tindakan keperawatan
lingkungan
Setelah dilakukan Gunakan baju, sarung tangan
Malnutrisi tindakan keperawatan sebagai alat pelindung
selama pasien
Peningkatan paparan tidak mengalami Ganti letak IV perifer dan
lingkungan patogen infeksi dengan dressing sesuai dengan petunjuk
umum
Imonusupresi
Gunakan kateter intermiten
Tidak adekuat kriteria hasil: untuk menurunkan infeksi
pertahanan sekunder kandung kencing
(penurunan Hb, Klien bebas dari
Leukopenia, penekanan tanda dan gejala Tingkatkan intake nutrisi
respon inflamasi) infeksi
Berikan terapi antibiotic
Penyakit kronik Menunjukkan
kemampuan untuk Monitor tanda dan gejala
Imunosupresi mencegah timbulnya infeksi sistemik dan lokal
infeksi
Malnutrisi Pertahankan teknik isolasi
Jumlah leukosit k/p
Pertahan primer tidak dalam batas norm
adekuat (kerusakan kulit, Inspeksi kulit dan membran
trauma jaringan, gangguan Menunjukkan mukosa terhadap kemerahan,
peristaltik) perilaku hidup sehat panas, drainase

Status imun, Monitor adanya luka


gastrointestinal,
genitourinaria dalam Dorong masukan cairan
batas norma
Dorong istirahat

Ajarkan pasien dan


keluarga tanda dan gejala infeksi
Kaji suhu badan pada
pasien neutropenia setiap 4 jam

Konstipasi berhubungan NOC: NIC :


dengan
Bowl Elimination Manajemen konstipasi
Fungsi:kelemahan
otot abdominal, Aktivitas Hidration Identifikasi faktor-faktor
fisik tidak mencukupi yang menyebabkan konstipasi
Setelah dilakukan
Perilaku defekasi tindakan keperawatan Monitor tanda-tanda ruptur
tidak teratur selama . konstipasi bowel/peritonitis
pasien teratasi dengan
Perubahan kriteria hasil: Jelaskan penyebab dan
lingkungan rasionalisasi tindakan pada pasien
Pola BAB dalam
Toileting tidak batas normal Konsultasikan dengan
adekuat: posisi defekasi, dokter tentang peningkatan dan
privasi Feses lunak penurunan bising usus

Psikologis: depresi, Cairan dan serat Kolaburasi jika ada tanda


stress emosi, gangguan adekuat dan gejala konstipasi yang
mental menetap
Aktivitas adekuat
Farmakologi: antasid, Jelaskan pada pasien
antikolinergis, Hidrasi adekuat manfaat diet (cairan dan serat)
antikonvulsan, terhadap eliminasi
antidepresan, kalsium
karbonat,diuretik, besi, Jelaskan pada klien
overdosis laksatif, NSAID, konsekuensi menggunakan
opiat, sedatif. laxative dalam waktu yang lama

Mekanis: Kolaburasi dengan ahli gizi


ketidakseimbangan diet tinggi serat dan cairan
elektrolit, hemoroid,
gangguan neurologis, Dorong peningkatan
obesitas, obstruksi pasca aktivitas yang optimal
bedah, abses rektum, tumor
Sediakan privacy dan
Fisiologis: perubahan keamanan selama BAB
pola makan dan jenis
makanan, penurunan
motilitas gastrointestnal,
dehidrasi, intake serat dan
cairan kurang, perilaku
makan yang buruk

DS:
Nyeri perut

Ketegangan perut

Anoreksia

Perasaan tekanan
pada rektum

Nyeri kepala

Peningkatan tekanan
abdominal

Mual

Defekasi dengan
nyeri

DO:

Feses dengan darah


segar

Perubahan pola BAB

Feses berwarna gelap

Penurunan frekuensi
BAB

Penurunan volume
feses

Distensi abdomen

Feses keras

Bising usus
hipo/hiperaktif

Teraba massa
abdomen atau rektal

Perkusi tumpul

Sering flatus
Muntah

IMPLEMENTASI KEPERAWATAN

Menurut Setiadi,(2012) dalam buku Konsep & Penulisan Asuhan Keperawatan,


implementasi keperawatan adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan
yang telah disusun pada tahap perencanaan.

EVALUASI

Menurut Setiadi,(2012) dalam buku Konsep & Penulisan Asuhan Keperawatan,


Tahap penilaian atau evaluasi adalah perbandingan yang sistematis dan terencaan tentang
kesehatan klien dengan tujuan yang telah ditetapkan, dilakukan dengan cara bersinambungan
dengan melibatkan klien, keluarga, dan tenaga kesehatan lainnya. Komponen catatan
perkembangan, antara lain sebagai berikut :

1. Kartu SOAP(data subjektif, data objektif, analisis/assessment, dan perencanaan/plan)


dapat dipakai untuk mendokumentasikan evaluasi dan pengkajian ulang.

2. Kartu SOAPIER sesuai sebagai catatan yang ringkas mengenai penilaian diagnosis
keperawatan dan penyelesaiannya. SOAPIER merupakan komponen utama dalam
catatan perkembangan yang terdiri atas:

1. S (Subjektif) : data subjektif yang diambil dari keluhan klien, kecuali pada klien yang
afasia.

2. O (Objektif) : data objektif yang diperoleh dari hasil observasi perawat, misalnya
tanda-tanda akibat penyimpanan fungsi fisik, tindakan keperawatan, atau akibat
pengobatan.

3. A (Analisis/assessment) : masalah dan diagnosis keperawatan klien yang


dianalisis/dikaji dari data subjektif dan data objektif. Karena status klien selalu
berubah yang mengakibatkan informasi/data perlu pembaharuan, proses
analisis/assessment bersifat diinamis. Oleh karena itu sering memerlukan pengkajian
ulang untuk menentukan perubahan diagnosis, rencana, dan tindakan.

4. P (Perencanaan/planning) : perencanaan kembali tentang pengembangan tindakan


keperawatan, baik yang sekarang maupun yang akan datang (hasil modifikasi rencana
keperawatan) dengan tujuan memperbaiki keadaan kesehatan klien. Proses ini
berdasarkan kriteria tujaun yang spesifik dan periode yang telah ditentukan.

5. I (Intervensi) : tindakan keperawatan yang digunakan untuk memecahkan atau


menghilangkan masalah klien. Karena status klien selalu berubah, intervensi harus
dimodifikasi atau diubah sesuai rencana yang telah ditetapkan.
6. E (Evaluasi) : penilaian tindakan yang diberikan pada klien dan analisis respons klien
terhadapintervensi yang berfokus pada kriteria evaluasi tidak tercapai, harus dicari
alternatif intervensiyang memungkinkan kriteria tujuan tercapai.

7. R (Revisi) : tindakan revisi/modifikasi proses keperawatan terutama diagnosis dan


tujuan jika ada indikasi perubahan intervensi atau pengobatan klien. Revisi proses
asuhan keperawatan ini untuk mencapai tujuan yang diharapkan dalam kerangka
waktu yang telah ditetapkan.