Sunteți pe pagina 1din 111

BISNIS & EKONOMI POLITIK

Quarterly Review of the Indonesian Economy

Volume 6, Nomor 3, Oktober 2005

CONTENTS

Refleksi Setahun Kebijakan Ekonomi Kabinet Indonesia Bersatu 1


M. Fadhil Hasan

Setahun Kebijakan Moneter dalam Kabinet Indonesia Bersatu 5


Deniey Adi Purwanto

Kebijakan Penghapusan Subsidi Bahan Bakar Minyak 23


Arum Widodo

Kebijakan Investasi dan Pemulihan Usaha 39


Tulus Tambunan

Setahun Kinerja Kabinet Indonesia Bersatu:


Pergeseran Visi, Kesalahan Manajemen dan Kemerosotan Ekonomi 59
Hendri Saparini

Kebijakan Perdagangan Internasional: Tantangan Berat bagi Sektor Pertanian 65


Bustanul Arifin

Perkembangan Indikator Ekonomi dan Bisnis Indonesia


Triwulan III dan Kecenderungannya pada Triwulan IV 2005 85
Enny Sri Hartati
Setahun Kebijakan Moneter dalam Kabinet Indonesia Bersatu

BISNIS & EKONOMI POLITIK


Quarterly Review of the Indonesian Economy

Published by
Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Jakarta-Indonesia
ISSN: 1410-2625
____________________________________________________________________________

Advisory Board:
Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, University of Indonesia
Emil Salim, University of Indonesia
Juwono Sudarsono , University of Indonesia
Muslimin Nasution, MWA Bogor Agricultural University
Nurimansjah Hasibuan, Sriwijaya University
Suroso Imam Zadjuli, Airlangga University

Director:
M. Fadhil Hasan, Director of INDEF
Editor-in-Chief:
Bustanul Arifin, Institutional Economics
Assistants to the Editor:
Deniey Adi Purwanto, Macro Economics, Monetary and Banking
Enny Sri Hartati, Development Economics

Editorial Board:
Aviliani, Banking and Finance
Didik J. Rachbini, Development Economics, Political Economy
Didin S. Damanhuri, Development Economics, Political Economy
Dradjad H. Wibowo, Macro Economics, Development Economics
Faisal H. Basri, Development Economic s
Iman Sugema, Macro Economics, Monetary and Banking
Indra J. Piliang , Political Science
M. Fadhil Hasan, Agricultural Economics, International Trade
M. Nawir Messi, Industry and Trade, Environmental Economics
Ravli Harun, Law
Rina Oktaviani, International Trade
Syamsul Muarif, Industry and Trade
______________________________________________________________________________
Bisnis & Ekonomi Politik (Quarterly Review of the Indonesian Economy) is devoted to the study of political economy and
business issues, focusing on encouraging transparency in economic decision making process in Indonesia. The review is
published quarterly in January, April, July and October by the Institute for Development of Economics and Finance (INDEF),
Jakarta, Indonesia. Subscription information, change of address, request for advertising rate and other business
correspondence should be sent to: Bisnis & Ekonomi Politik (Quarterly Review of the Indonesian Economy) INDEF, Jl. Batu
Merah No.45, Pejaten Timur, Jakarta 12510, Indonesia. e-mail at: indef@indo.net.id, Facsimile at +62-21-7919-4018.

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 2


Setahun Kebijakan Moneter dalam Kabinet Indonesia Bersatu

Pengantar Redaksi

Alhamdullilah, jurnal Bisnis dan Ekonomi Politik (BEP) Volume 6 Nomor 3 kembali
terbit untuk pembaca sekalian pada bulan Oktober 2005 ini. Jurnal BEP terbit mulai tahun
1997 setiap triwulan sekali. Namun karena beberapa kendala teknis, selama dua tahun
terakhir jurnal ini tidak terbit.
Penerbitan Jurnal BEP terutama dimaksudkan sebagai wujud tanggung jawab intelektual
INDEF untuk mempublikasikan berbagai hasil riset-risetnya. Juga sebagai media tukar
menukar gagasan dan pemikiran serta analisa perkembangan issue dan masalah ekonomi dan
keuangan terkini. Untuk itu kami mengundang para profesional, akademisi dan ilmuwan dari
berbagai disiplin ilmu untuk menulis artikel pada jurnal BEP pada edisi-edisi mendatang.
Jurnal BEP ini mengalami beberapa perubahan, terutama penanggung jawab, editor dan
susunan redaksinya. Hal ini diharapkan untuk memberikan penyegaran dan menjadi tekad
kami bahwa Jurnal BEP ini bisa terbit secara rutin dan tepat waktu.

Salam,

M. Fadhil Hasan
Director

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 3


Setahun Kebijakan Moneter dalam Kabinet Indonesia Bersatu

Refleksi Setahun Kebijakan Ekonomi


Kabinet Indonesia Bersatu

M. Fadhil Hasan

Setahun lalu pasangan SBY-JK terpilih internasional, dan sebaliknya tidak


sebagai Presiden dan Wakil Presiden mencerminkan visi misi SBY-JK yang
Republik Indonesia dalam sebuah memiliki garis keberpihakan kepada
pemilihan umum langsung pertama yang kepentingan nasional. Kritik juga
sangat demokratis dengan suara dilontarkan oleh berbagai kalangan, baik
majoritas. Dukungan yang luas dari dari dalam maupun luar negeri, oleh karena
masyarakat baik dalam maupun luar negeri, prasyarat kapabilitas, profesionalisme dan
ditambah dengan kondisi politik dalam bersih dari KKN di antara sejumlah
negeri yang relatif stabil, seharusnya anggota tim ekonomi tidak terpenuhi.
menjadi modal besar bagi tim ekonomi
Dalam setahun pemerintahan KIB
Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) untuk
perekonomian Indonesia mengalami
meningkatkan stabilitas dan memacu
kemerosotan sebagaimana tercermin dari
pemulihan ekonomi nasional. Namun
berbagai indikator makro ekonomi dan
sayang modal besar tersebut tidak dapat
kesejahteraan masyarakat diakibatkan
dimanfaatkan secara maksimal, juga
oleh pengelolaan kebijakan dan program
berbagai kesempatan hilang begitu saja
ekonomi yang tidak tepat dan salah arah
karena kelemahan personal dan profesional
disertai ketidakpekaan para pengambil
serta lemahnya komitmen dan koordinasi.
kebijakan terhadap karakteristik dan
Keraguan terhadap kemampuan tim dinamika masyarakat Indonesia. Sebagai
ekonomi sebenarnya telah muncul sejak akibat dari itu maka kredibilitas para
awal pembentukan kabinet pada Oktober pengambil kebijakan di mata masyarakat
tahun lalu. tim ekonomi yang terpilih dinilai semakin memudar yang pada gilirannya
lebih mencerminkan kepentingan kelompok menambah ketidakefektifan pelaksanaan
bisnis negatif dan kepentingan kebijakan dan program ekonomi. Benar

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 4


Setahun Kebijakan Moneter dalam Kabinet Indonesia Bersatu

bahwa kemerosotan ekonomi dalam Mulyani akan sangat kental dengan pakem
setahun terakhir ini juga diakibatkan oleh dan warna Washington Consensus
besarnya tekanan eksternal seperti sebagaimana pernah diterapkan oleh
melonjaknya harga minyak dunia, kenaikan Boediono ketika menjadi Menteri
tingkat suku bunga the Fed, bencana tsunami Keuangan dalam kabinet Gotong Royong.
dan gempa bumi di NAD dan Nias, serta Pertanyaannya adalah apakah pengelolaan
ledakan Bom Bali II. Namun langkah dan kebijakan ekonomi seperti ini yang
kebijakan yang diambil pemerintah tidak pernah menjadi salah satu faktor yang
mampu mengurangi dampak negatif, menjadi sebab kekalahan Megawati
bahkan justru menambah persoalan yang Soekarnoputri dapat mengatasi berbagai
dihadapi menjadi lebih kompleks. Selama persoalan ekonomi Indonesia yakni
setahun pemerintahan KIB ekonomi mengembalikan stabilitas makro ekonomi
Indonesia ditandai dengan beberapa ciri sekaligus meng urangi pengangguran dan
sebagai berikut. Pertama, terjadinya kemiskinan dan meningkatkan
perlambatan pertumbuhan ekonomi dilihat pertumbuhan ekonomi.
dari perkembangan triwulanan. Kedua,
Apalagi ke depan, tampaknya tantangan
merosotnya berbagai indikator makro
dan permasalahan ekonomi masih sangat
ekonomi seperti inflasi dan suku bunga
berat. Dari sisi eksternal setidaknya kita
serta defisit perdagangan dan neraca
menghadapi tiga hal yaitu peningkatan suku
pembayaran. Ketiga, meningkatnya jumlah
bunga internasional, kenaikan harga minyak
pengangguran dan tingkat kemiskinan.
dunia dan melambatnya pertumbuhan
Resuffle kabinet, terutama ekonomi dunia. Dari sisi internal,
menyangkut tim ekonomi KIB yang masalahnya lebih berat lagi yaitu
dilakukan oleh Presiden SBY pada tanggal 5 meningkatnya kemiskinan, pengangguran
Desember 2005 merupakan pengakuan yang semakin banyak, meningkatnya inflasi
lemah dan buruknya pengelolaan kebijakan dan suku bunga, dan kemungkinan
ekonomi selama ini sehingga gagal terjadinya perlambatan pertumbuhan
membawa ekonomi ke arah stabilitas yang ekonomi.
lebih baik dan pertumbuhan yang lebih
Imbas langsungnya dari kenaikan harga
tinggi. Namun, apakah dengan tim
BBM sangat dirasakan oleh masyarakat,
ekonomi baru dibawah Dr. Budiono
walaupun tim ekonomi pernah berjanji
sebagai Menko Perekonomian dan Dr. Sri
bahwa tahun depan tidak akan terjadi
Mulyani sebagai Mehteri Keuangan akan
kenaikan harga BBM lagi, tetapi indikasi
terjadi perubahan paradigma dalam
bahwa janji itu akan dilanggar semakin kuat.
pengelolaan kebijakan ekonomi kita.
Asumsi harga minyak dunia dalam RAPBN
Banyak pihak yang memperkirakan bahwa
2006 adalah USD 57 per barel, dan
pengelolaan kebijakan dan program
tampaknya tren harga minyak dunia
ekonomi di bawah duet Boediono-Sri
semakin menjauh dari asumsi tersebut.

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 5


Setahun Kebijakan Moneter dalam Kabinet Indonesia Bersatu

Apabila harga BBM domestik dinaikan biaya transportasi juga mengalami


lagi tahun depan maka akan sulit sekali peningkatan.
untuk menjamin bahwa inflasi akan kembali
Sektor ril juga menghadapi semakin
single digit. Walaupun harga BBM tidak naik,
tingginya biaya bunga kredit perbankan.
pengendalian inflasi tetap terancam karena
Investasi tentunya akan melambat sejalan
tarif PLN dan harga LPG sedang
dengan kenaikan suku bunga. Kondisi ini
menunggu penyesuaian.
tentu menciptakan prospek pertumbuhan
Tingginya inflasi saat ini yakni 18,3 yang kurang menjanjikan.
persen memberikan pelajaran yang
Karena itu, masalah pengentasan
berharga. Inflasi di Indonesia bukan
kemiskinan dan penyediaan lapangan kerja
melulu fenomena moneter. Komponen
tampaknya akan semakin berat. Jumlah
terbesar inflasi adalah dari sisi kebijakan
orang miskin meningkat sebanyak empat
fiskal dan akibat risiko yang timbul oleh
juta orang dalam setahun terakhir ini.
salah urus kebijakan ekonomi.
Ketidakcukupan anggaran telah memicu Tahun lalu, jumlah orang miskin hanya 36
pemerintah mengurangi subsidi BBM. juta orang. Sekarang jumlahnya telah
Salah perhitungan dan salah urus dalam mencapai 40 juta orang atau 18,6 persen
kebijakan ekonomi telah menimbulkan dari total populasi. Kalau ditambah dengan
risiko kebijakan yang oleh para pelaku kategori near poor, maka jumlahnya sekitar
usaha harus dikompensasi dalam bentuk 70 juta jiwa. Disamping itu jumlah orang
kenaikan harga jual. Dalam hal ini, hampir yang menganggur saat ini telah mencapai
tidak ada ruang bagi BI untuk 10,8 juta orang atau meningkat sebanyak
mengendalikan inflasi dari sisi moneter. 600 ribu orang dari tahun lalu. Kalau
ditambah dengan yang setengah
Ekonomi kita juga sedang menghadapi
menganggur, maka angkanya menjadi
tren perlambatan pertumbuhan ekonomi
sangat fantastis yakni 41 juta orang.
yang sudah terjadi sejak kenaikan harga
BBM yang pertama di bulan Maret yang Dengan kondisi seberat ini, akankah
lalu. Dengan inflasi yang menyeruak, buruh Tim ekonomi Kabinet Indonesia Bersatuu
tentunya menuntut kenaikan upah yang tetap akan menembuh kebijakan-kebijakan
pada gilirannya akan memicu kenaikan yang konvensional ? Kita berharap bahwa
biaya produksi. Hal ini diperberat oleh pendekatan ortodox sebaiknya ditanggalkan
kenyataan bahwa harga bahan baku dan karena sudah terbukti tidak efektif.

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 6


Setahun Kebijakan Moneter dalam Kabinet Indonesia Bersatu

Setahun Kebijakan Moneter


Dalam Kabinet Indonesia Bersatu

Deniey Adi Purwanto1

Abstract

The paper evaluates monetary policy of the economic team during the fist year there has been some changes in
the institutional settings, policy mechanisms, targets and instruments. The policy on inflation targeting
framework (ITF) is among major changes, where monetary policy is directed to improve the economic capacity,
from the supply side. However this policy is not easily implemented in the situation of unfavorable external
factor such as the fed interest rate, world oil price, and regional foreign exchange. In addition, internal factors
such as money supply, liquidity of banking sectors, and disequilibrium the supply of and demand for foreign
exchange better coordination of monetary authority and fiscal authority is as a strong pre-requisite of proper
policy for economic recovery.

1 Peneliti INDEF

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 7


Setahun Kebijakan Moneter dalam Kabinet Indonesia Bersatu

1. Pendahuluan mendapatkan solusinya. Hal ini tidak terlepas


dari kenyataan bahwa kebijakan moneter
Kebijakan moneter di Indonesia
dalam kerangka ITF sekalipun hanya dapat
beberapa tahun terakhir ini mengalami
mengendalikan inflasi secara terbatas (very
tranformasi yang cukup besar. Tranformasi
imperfect control over inflation). Hal yang sangat
ini terjadi baik dari sisi institusional maupun
signifikan dalam menentukan kemampuan
dari sisi mekanisme kebijakan yang terkait
kebijakan moneter dalam mengendalikan
dengan sasaran, target dan instrumen
inflasi (atau stabilitas Rupiah dalam kerangka
kebijakan. Undang-Undang No.23 Tahun
yang lebih luas) adalah pilihan atas
1999 merupakan tonggak tranformasi
mekanisme transmisi dari kebijakan moneter
kebijakan moneter di Indonesia dengan
itu sendiri atas perkembangan sektor
ditetapkannya independensi otoritas
moneter dan makroekonomi yang
moneter secara institusional dan
berlangsung. Selain itu pula belajar dari
ditetapkannya pula satu sasaran kebijakan
pengalaman sektor moneter di Indonesia,
moneter yang dikenal dengan single objective.
efektifitas kebijakan moneter akan sangat
Kebijakan moneter single objective adalah
dipengaruhi oleh kebijakan di sektor lain
kebijakan moneter yang ditujukan untuk
seperti misalnya kebijakan di sektor fiskal
mencapai dan memelihara kestabilan nilai
dan sektor riil.
rupiah. Sasaran ini tercermin dari pencapaian
dan pemeliharaan nilai rupiah terhadap Terkait dengan kebijakan moneter di
barang dan jasa yaitu yang tercermin dari Indonesia, terhitung sejak terpilihnya
inflasi, serta terhadap mata uang negara lain Presiden SBY dan Wakil Presiden MJK pada
yaitu yang tercermin dari kurs. pemilu Tahun 2004 berikut dengan Kabinet
Indonesia Bersatu, sejumlah langkah dalam
Bank Indonesia sebagai otoritas
kebijakan moneter pun telah dilaksanakan.
moneter di Indonesia kemudian mulai
Kebijakan moneter dimaksud dilaksanakan
menerapkan Inflation Trageting Framework
dalam rangka penguatan kebijakan moneter
(ITF) dalam kerangka kebijakan moneter
dalam jangka panjang maupun dalam rangka
yang dijalankannya. Dalam kerangka ITF,
mengatasi sejumlah tekanan yang terjadi
kebijakan moneter diarahkan untuk dalam
dalam sektor moneter di Indonesia. Dalam
mempengaruhi kapasitas ekonomi dari sisi
tulisan berikut ini akan dipaparkan
penawaran sehingga pertumbuhan ekonomi
bagaimana kebijakan moneter di Indonesia
menjadi sustainabel. Secara teoritis dan
berlangsung dalam 1 Tahun periode
empiris di beberapa negara, kerangka ITF
Pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu
merupakan suatu kerangka dalam kebijakan
dan sejumlah permasalahan yang terkait
moneter yang telah diterima secara luas
didalamnya sehingga dapat diambil suatu
(Alamsyah et. al, 2001:314). Namun dalam
gambaran bagaimana masalah faktor
pelaksanaannya kerangka ITF ini
eksternal dan masalah keterkaitan kebijakan
menghadapi sejumlah permasalahan yang
antar bidang menjadi bagian yang tidak
dapat dikatakan sangat krusial untuk segera

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 8


Setahun Kebijakan Moneter dalam Kabinet Indonesia Bersatu

terpisahkan dalam penerapan ITF secara yaitu sebesar Rp.9.860 per Dollar AS. Nilai
khusus maupun stabilitas moneter secara ini bisa dikatakan nilai tukar terendah dalam
umum. Pada akhirnya antisipasi terhadap paling tidak 3 tahun terakhir. Namun
faktor-faktor eksternal dan konsolidasi demikian sejatinya indikasi akan adanya
kebijakan antar bidang menjadi prasyarat pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap
mutlak dalam penyusunan kerangka Dollar AS ini sudah terjadi sejak awal tahun
kebijakan moneter yang strategis dan efektif. 2004. Sejak Januari 2004 Rupiah terus
terdepresiasi hingga kisaran September
2004. Kemudian Rupiah sempat membaik
2. Krisis Nilai Tukar
sebagai respon positif pasar terhadap
Dalam beberapa bulan terakhir tekanan pelaksanaan pemilu 2004 dan ekspektasi
terhadap nilai tukar nilai tukar rupiah atas pemerintahan terpilih. Namun hal ini
terhadap Dollar AS semakin memburuk. kemudian tidak berlangsung lama, pada
Krisis nilai tukar ini terjadi sejak Februari akhir tahun 2004 Rupiah kembali
2005 ini dimana nilai tukar terdepresiasi terdepresiasi dan menunjukkan
rata-rata sepanjang bulan Februari sebesar kecenderungan untuk terus terdepresiasi.
6.35 basis point. Sejak itu kemudian Pada awalbulan Oktober 2005, nilai tukar
pelemahan nilai tukar rupiah terus berlanjut Rupiah terhadap Dollar AS sudah berkisar
hingga mencapai puncaknya pada 5/ 7/ 2005 Rp.10.232,- (Nilai Tengah Bank Indonesia).

Gambar 1.
Perkembangan Nilai Tukar Harian Rupiah Terhadap Dollar AS

8,300

8,600

8,900

9,200

9,500

9,800

10,100
? 18 Oktober 2004
10,400
Kabinet Indonesia Bersatu
10,700

11,000
02/08/04

02/09/04

02/10/04

02/11/04

02/12/04

02/01/05

02/02/05

02/03/05

02/04/05

02/05/05

02/06/05

02/07/05

02/08/05

02/09/05

02/10/05

Sumber: www.bi.go.id., diolah.

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 9


Setahun Kebijakan Moneter dalam Kabinet Indonesia Bersatu

terhadap Dollar AS (Rp/US$) berkorelasi


Kalau melihat sedikit ke belakang,
negatif terhadap tingkat bunga The Fed
sebenarnya pada akhir 2004 makroekonomi
(IR_FED). Hal ini terjadi bahkan sejak
Indonesia menunjukkan kinerja yang cukup
terjadinya krisis nilai tukar pada
baik dengan tingkat bunga SBI 1 bulan
pertengahan 1997 atau waktu-waktu
sebesar 7,43%, nilai tukar sebesar Rp.9.290
sebelumnya. Dengan demikian tak salah
/US$ dan inflasi sebesar 6,40% (y-o-y).
kiranya jika dikatakan bahwa tingkat bunga
Namun kemudian optimisme pemerintahan
The Fed berpengaruh negatif terhadap nilai
baru terhadap perkembangan indikator
tukar Rupiah. Peningkatan suku bunga The
makroekonomi Indonesia 2005 -utamanya
Fed dilakukan sebagai salah satu upaya
nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS- pada
untuk memperkuat nilai tukar Dollar AS
perkembangannya semakin jauh dari
terhadap mata uang asing. Melemahnya
kenyataan. Pada Nota Keuangan dan
nilai tukar Dollar AS beberapa waktu lalu
RAPBN 2005, pemerintah mengasumsikan
terjadi akibat terjadinya twin deficit pada
nilai tukar sebesar Rp.8.600 per Dollar AS.
perekonomian Amerika Serikat yaitu defisit
Saat ini nilai tukar sudah melampaui batas
neraca pembayaran dan defisit fiskal. Hal
psikologisnya sebesar Rp.10.000 per Dollar
ini yang juga menyebabkan Rupiah menguat
AS. Terdapat sejumlah faktor yang
sesaat beberapa waktu lalu. Namun
berpengaruh terhadap depresiasi nilai tukar
kemudian seiring dengan terus
yang sedemikian besar dalam 1 tahun
meningkatnya tingkat bunga The Fed sejak
pemerintahan kabinet Indonesia Bersatu.
paling tidak 15 bulan lalu, Rupiah pun terus
Faktor-faktor dimaksud adalah faktor-
terdepresiasi. Saat ini tingkat bunga The
faktor eksternal dan internal.
Fed sudah mencapai 3,5% dimana angka ini
Pada sisi eksternal, depresiasi nilai tukar merupakan angka tertinggi selama 4 tahun
disebabkan oleh: pertama, terakhir (Bisnis Indonesia, 21/09/2005).
perkembangan tingkat bunga luar Ke depan The Fed diperkirakan akan
negeri terutama tingkat bunga Bank Sentral kembali menaikkan tingkat bunganya dalam
AS (The Fed). Dari gambar 2 berikut rangka menekan laju inflasi yang terjadi
tampak bahwa pergerakan nilai tukar rupiah akibat terjadinya badai Katrina.

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 10


Setahun Kebijakan Moneter dalam Kabinet Indonesia Bersatu

Gambar 2.
Perkembangan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dollar AS
dan Tingkat Bunga The Fed

8,400 4.00

8,600
3.50
8,800
3.00
9,000
2.50
9,200

Persen
Rp/US$

9,400 2.00

9,600
1.50
9,800
1.00
10,000
0.50
10,200

10,400 May-05 0.00


Nov-04

Dec-04

Jul-05
Feb-05

Mar-05
Jan-05

Jun-05
Oct-04

Oct-05
Sep-04

Sep-05
Aug-04

Aug-05
Apr-05

RP/US$ IR_FED

Sumber: www.forecasts.org, diolah.

Kedua, peningkatan harga minyak pasar dunia menunjukkan korelai yang


dunia. Faktor eksternal berikutnya adalah negatif dengan nilai tukar Rupiah terhadap
tingkat harga minyak dunia. Harga minyak Dollar AS. Hal ini mengindikasikan pula
dunia akan menentukan permintaan akan bahwa dampak dari perkembangan harga
impor minyak dan gas bumi ke Indonesia minyak mentah di pasar dunia terhadap
yang kemudian akan berdampak pada nilai tukar rupiah tidak beda jauh dengan
permintaan valuta asing di dalam negeri dampak dari perkembangan suku bunga
terutama Dollar AS. Dari sini jelas bahwa The Fed. Korelasi yang semakin kuat
peningkatan harga minyak dunia akan tampak sejak akhir tahun 2004. Sejak akhir
mendorong permintaan valuta asing di 2004 harga minyak dunia secara bertahap
dalam negeri dan pada gilirannya akan mengalami kenaikan dan semakin besar
menyebabkan Rupiah terdepresiasi. Dari setelah memasuki Mei 2005, sementara nilai
gambar 3 berikut ini, tampak bahwa Tukar Rupiah terhadap Dollar AS terus
perkembangan harga minyak mentah di terdepresiasi.

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 11


Setahun Kebijakan Moneter dalam Kabinet Indonesia Bersatu

Gambar 3.
Perkembangan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar
dan Harga Minyak Mentah di Pasar Dunia

8,000 70.00
8,200 65.00
8,400
60.00
8,600
55.00
8,800
50.00

USD/Barrel
9,000
Rp./USD

9,200 45.00
9,400 40.00
9,600
35.00
9,800
30.00
10,000
10,200 25.00

10,400 20.00
Feb-05

Mar-05
Nov-04

Dec-04

May-05
Jan-05

Jun-05

Jul-05
Oct-04

Oct-05
Sep-04

Sep-05
Aug-04

Aug-05
Apr-05

KURS RP CRUDEOIL_PRICE

Sumber: www.forecasts.org, diolah.

Ketiga, melemahnya nilai tukar terjadi di Indonesia (pada pertengahan


regional. Satu lagi faktor eksternal yang 1997) salah satu disebabkan oleh contangion
sering disebut sebagai salah satu penyebab effect dari krisis Bath di Thailand.
depresiasi nilai tukar adalah pelemahan nilai
Namun apa yang terjadi belakangan
tukar mata uang regional terhadap Dollar
tampaknya tidak sama dengan apa yang
AS. Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah
terjadi di tahun 1997. Jika pada tahun 1997
akibat melemahnya nilai tukar regional
krisis nilai tukar menyerang mata uang
pernah terjadi di Idnonesia pada saat krisis
regional dulu baru merembet ke Indonesia,
nilai tukar yang melanda kawasan di Asia
tetapi tidak demikian untuk periode
tahun 1997. Hasil beberap a studi
belakangan ini. Dari Gambar 4 berikut
membuktikan bahwa nilai tukar Rupiah
tampak bahwa paling tidak sejak Oktober
terhadap Dolar AS salah satunya
2004, nilai tukar Won Korea, Bath Thailand
diakibatkan oleh adanya contangion effect dari
dan Peso Philipina justru mengalami
melemahnya nilai tukar regional seperti
apresiasi terhadap Dolar AS. Sementara itu
Bath Thailand, Won Korea, Dollar
dalam periode yang sama, Rupiah justru
Singapura dan lainnya terhadap Dollar AS.
terus mengalami depresiasi. Pergerakan
Iriana dan Sjholm (2002:149)
yang searah antara nilai tukar Bath
menyebutkan bahkan krisis nilai tukar yang
Thailand, Won Korea dan Singapore Dollar

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 10


Setahun Kebijakan Moneter dalam Kabinet Indonesia Bersatu

dengan Rupiah baru terjadi setelah Februari bahkan jika kemudian beberapa waktu
2005. Jadi selain terdepresiasi terhadap belakangan mata uang regional juga
Dolar AS, Rupiah juga secara persisten mengalami depresiasi. Dengan kata lain
berdeviasi dari pergerakan nilai tukar mata kalaupun ada dampak rembetan (contagion
uang regional. Dengan kata lain, dalam effect) depresiasi mata uang regional sangat
sudut pandang waktu, depresiasi nilai tukar mungkin tidak sebesar yang diakibatkan
Rupiah terhadap Dollar AS lebih dulu oleh peningkatan suku bunga The Fed atau
terjadi baru kemudian diikuti oleh mata harga minyak mentah di pasar regional.
uang regional lainnya. Masalahnya berbeda

Gambar 4.
Perkembangan Nilai Tukar Rupiah
dan Beberapa Mata Uang Regional Terhadap Dollar AS

8,400 36.00

8,700
38.00
9,000

Bath/USD
Rp/USD

9,300
40.00
9,600

9,900
42.00
10,200

10,500 44.00
Aug- Sep- Oct- Nov- Dec- Jan- Feb- Mar- Apr- May- Jun- Jul- Aug- Sep- Oct-
04 04 04 04 04 05 05 05 05 05 05 05 05 05 05
RP/USD BATH/USD

8,400 900

8,700

9,000
1,000
Won/USD
Rp/USD

9,300

9,600
1,100
9,900

10,200

10,500 1,200
Aug- Sep- Oct- Nov- Dec- Jan- Feb- Mar- Apr- May- Jun- Jul- Aug- Sep- Oct-
04 04 04 04 04 05 05 05 05 05 05 05 05 05 05
RP/USD WON/USD

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 11


Setahun Kebijakan Moneter dalam Kabinet Indonesia Bersatu

8,400 1.55

8,700
1.60
9,000

SGD/USD
Rp/USD

9,300
1.65
9,600

9,900
1.70
10,200

10,500 1.75
Aug- Sep- Oct- Nov- Dec- Jan- Feb- Mar- Apr- May- Jun- Jul- Aug- Sep- Oct-
04 04 04 04 04 05 05 05 05 05 05 05 05 05 05
RP/USD SGD/USD

Sumber: www.forecasts.org, diolah.

Sementara itu dari sisi internal, kelebihan likuiditas. Kelebihan likuiditas ini
melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap kemudian menyebabkan pasokan Rupiah
Dollar AS didorong oleh beberapa hal, yang berlebih, sehingga menyebabkan nilai
pertama kelebihan likuiditas sektor tukar Rupiah terdepresiasi. Pada gambar 5
perbankan. Disintermediasi perbankan berikut tampak bahwa loan to deposit ratio
yang terjadi sejak krisis perbankan di Tahun (LDR) bank umum di Indonesia tidak
1998 turut memberikan tekanan terhadap pernah beranjak di atas 60%. Rendahnya
nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS. LDR yang mencerminkan intermediasi
Perbankan pasca krisis sedemikian rupa perbankan ini terjadi paling tidak sejak
berupaya untuk memulihkan kepercayaan tahun 1999. Sementara itu hingga Juli 2005,
masyarakat. Ini kemudian terealisasi dalam Capital Adequacy Ratio (CAR) masih berada
besarnya simpanan ataupun dana pihak pada kisaran 18,45%. Kedua indikator
ketiga sektor perbankan secara keseluruhan. terakhir menjadi bukti kuat bahwa bank-
Namun pulihnya kepercayaan masyakarakat bank di Indonesia pada umumnya masih
ini belum tercermin dari sisi penyaluran mengalami over liquid.
kredit. Perbankanpun kemudian mengalami

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 12


Setahun Kebijakan Moneter dalam Kabinet Indonesia Bersatu

Gambar 5.
Perkembangan Nilai Tukar Rupiah Dollar AS, CAR dan LDR

8,600 60.00

8,800 50.00

9,000 40.00

9,200 30.00

9,400 20.00

9,600 10.00

9,800 0.00
Aug- Sep- Oct- Nov- Dec- Jan- Feb- Mar- Apr- May- Jun- Jul-05
04 04 04 04 04 05 05 05 05 05 05
CAR LDR RP/USD

Sumber: Statistik Perbankan Indonesia, Bank Indonesia, diolah.

Kedua, ketidakseimbangan supply- rendahnya kinerja ekspor dan aliran modal


demand valuta asing. Di sisi permintaan, asing (capital inflow) menyebabkan
peningkatan permintaan valuta asing terjadi terbatasnya stok valuta asing dalam negeri.
baik di sektor pemerintah maupun swasta. Peningkatan permintaan valuta asing tidak
Di sektor swasta, peningkatan permintaan dapat diimbangi oleh pasokan yang
valuta asing disebabkan oleh peningkatan terbatas. Hal ini mengakibatkan terjadinya
pembayaran utang luar negeri swasta, depresiasi terhadap nilai tukar Rupiah baik
peningkatan biaya impor minyak bagi terhadap Dollar AS maupun mata uang
industri, peningkatan biaya impor bahan lainnya.
baku dan barang modal. Di sisi pemerintah,
Ketiga, meningkatnya spekulasi
peningkatan permintaan valuta asing
valuta asing. Variabel yang satu ini
disebabkan peningkatan kebutuhan valuta
tergolong sulit untuk dideteksi mengingat
asing oleh Pertamina terkait dengan
tidak adanya record ataupun data transaksi
peningkatan harga minyak mentah di pasar
di pasar valuta asing. Hal ini jugalah yang
dunia. Demikian pula permintaan valuta
menjelaskan mengapa variabelo yang satu
asing sejumlah BUMN dalam rangka
ini sangat mudah dijadikan alasan mengapa
pembayaran utang maupun impor barang
Rupiah terdepresiasi. Tampaknya satu hal
dan jasa. Sementara itu di sisi supply (stok),

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 13


Setahun Kebijakan Moneter dalam Kabinet Indonesia Bersatu

yang wajar jika kemudian terus inflasi di atas, terdapat beberapa hal penting
meningkatnya suku bunga The Fed, harga yang seharusnya menjadi perhatian
minyak mentah di pasar dunia dan kondisi pemerintah dan otoritas moneter.
perbankan yang over liquid menyebabkan
Pertama, inflasi ke depan akan sangat
spekulasi terhadap Rupiah meningkat.
dipengaruhi oleh faktor fundamental dan
Belum lagi terkait dengan kepercayaan
faktor non fundamental. Diantara faktor
masyarakat terhadap kebijakan pemerintah
fundamental yang ada, nilai tukar Rupiah
yang semakin penuh dengan pertanyaan.
terhadap Dollar AS akan berpengaruh
Hal ini kemudian mendorong terjadinya
cukup signifikan terhadap inflasi. Apabila
peningkatan pembelian valuta asing
Rupiah terus terdepresiasi maka hal ini akan
terutama Dollar AS.
berdampak cukup besar terhadap inflasi.
Faktor fundamental lainnya adalah
ekspektasi masyarakat. Dengan kondisi nilai
3. Inflasi
tukar yang belum sepenuhnya stabil,
Tekanan terhadap nilai tukar ditambah dengan kebijakan di bidang fiskal
berdampak terhadap terjadi peningkatan yaitu kenaikan harga BBM maka espektasi
harga-harga. Pada akhir 2004, inflasi IHK masyarakat terhadap harga-harga akan terus
dapat dipertahankan di bawah 6%. Namun meningkat. Pada gilirannya hal ini akan
kemudian sejak Januari 2005, inflasi terus memberikan tekanan yang cukup besar
mengalami peningkatan. Bahkan lonjakan terhadap inflasi.
inflasi sempat mencapai angka 9%
Sementara itu, dari faktor non
bertepatan dengan kenaikan harga BBM
fundamental, harga barang -barang volatile
periode pertama oleh pemerintahan kabinet
foods dan administered prices akan memberikan
Indonesia Bersatu di bulan Maret 2005. 2
tekanan terhadap inflasi cukup besar hingga
bulan setelah pengumuman kenaikan harga
akhir tahun 2005. V olatile foods (seperti
BBM, inflasi dapat ditekan turun namun
beras, cabe merah dan kebutuhan rumah
kemudian kembali merangkak naik menuju tangga lainnya) akan mengalami
angka 9%. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan harga yang cukup besar selain
akumulasi dampak kenaikan harga BBM berkaitan dengan perayaan hari besar
tidak dapat diminimalisir secara optimal keagamaan baik Idul Fitri dan Natal, juga
oleh pemerintah. Selain itu dampak dari akibat kenaikan harga BBM di awal
kenaikan harga BBM periode pertama ini Oktober 2005. Sementara itu barang-barang
terhadap inflasi masih terus berjalan. administered prices utamanya BBM dipastikan
Pemerintah kemudian kembali menaikkan mengalami peningkatan rata-rata sebesar
harga BBM hingga rata-rata di atas 100% 100%.
menjelang akhir tahun 2005. tekanan
Kedua, tekanan yang sedemikian besar
terhadap inflasi diperkirakan semakin besar terhadap harga-harga menimbulkan
pada akhir tahun 2005. Dari perkembangan kekawatiran bahwa inflasi akan melampaui

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 14


Setahun Kebijakan Moneter dalam Kabinet Indonesia Bersatu

2 digit pada akhir 2005. Jika hal ini terjadi, sulit tercapai. Bahkan, inflasi yang
maka hyper inflation tidak dapat dihindari dan sedemikian tinggi akan berdampak terhadap
akan berdampak lebih besar lagi terhadap pertumbuhan ekonomi sehingga target
perekonomian secara keseluruhan. Stabilitas pertumbuhan ekonomi sebesar 6% akan
moneter dan bahkan makro ekonomi akan sulit dicapai.
.
Gambar 6.
Perkembangan Nilai Tukar dan Inflasi

10,500 9.50

10,300 9.00
10,100
8.50
9,900
8.00
9,700
Rp/USD

Persen
9,500 7.50

9,300 7.00
9,100
6.50
8,900
6.00
8,700

8,500 5.50

8,300 5.00
jul-04

jul-05
jan-04

apr-04

jun-04

aug-04

jan-05

apr-05

jun-05

aug-05
sep-04

nov-04
dec-04

sep-05
mei-04

mei-05
mrt-04

mrt-05
okt-04
feb-04

feb-05

KURS INFL

Sumber: Statistik Ekonomi dan Keuangan Indonesia, Bank Indonesia, diolah.

4. Menyoal Kebijakan Moneter di disebut sebagai 6 langkah Segera yang


Tahun 2005 pada dasarnya merupakan kebijakan yang
bersifat kontaktif. Secara lebih rinci
Depresiasi nilai tukar yang kian
kebijakan yang dilaksanakan Bank
memburuk akhirnya mengharuskan otoritas
Indonesia seperti pada tabel 1.
moneter mengambil sejumlah langkah
kebijakan. Hingga saat ini terdapat paling Dari 2 paket kebijakan di atas dampak
tidak 2 paket kebijakan yang dijalankan ditarik suatu gambaran bahwa pada paket
Bank Indonesia. Pada periode Juli 2005, 5 kebijakan Juli 2005, kebijakan moneter
langkah kebijakan dilaksanakan untuk diarahkan utamanya untuk menahan laju
meredam tekanan terhadap nilai Tukar depresiasi nilai tukar khususnya yang
Rupiah. Sementara pada periode Agustus diakibatkan oleh faktor-faktor internal.
2005, 6 langkah kebijakan dilaksanakan. Namun, pada paket kebijakan Agustus
Paket kebijakan yang terakhir ini yang 2005, kebijakan selain diarahkan untuk

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 15


Setahun Kebijakan Moneter dalam Kabinet Indonesia Bersatu

menahan laju depresiasi juga secara lebih lebih besar lagi. Sementara pada periode
luas diarahkan memberikan efek kontraktif Agustus, otoritas moneter bisa jadi mulai
terhadap perekonomian. Atau dari sudut menyadari risiko yang lebih besar dari
pandang yang sedikit berbeda, pada periode tekanan-tekanan yang akan terjadi dan
Juli, kebijakan moneter masih berupaya dampaknya terhadap perekonomian secara
untuk mengatasi depresiasi nilai tukar yang keseluruhan.
terjadi dan mengantispasi tekanan yang

Tabel 1.
Kebijakan Bank Indonesia pada Periode Juli dan Agustus 2005

No. Juli 2005 Agustus 2005


1 Mewajibkan BUMN menyimpan devisa Menaikkan BI Rate 75 basis pin menjadi
hasil ekspor di perbankan dalam negeri 9,5% mulai 30 agustus
2 Penyediaan subsidi langsung bagi Menaikkan suku bunga Fasilitas Simpanan
Pertamina dalam bentuk valuta asing Bank Indonesia (FASBI)I 7 hari 100 basis
poin menjadi 8,5% mulai 30 agustus
3 Penyediaan kebutuhan valuta asing bagi Menyerap uang beredar secara maksimal
BUMN selain Pertamina oleh melalui fine tuning kontraksi
perbankan dalam negeri yang ditunjuk
oleh Bank Indonesia
4 Memperkuat cadangan devisa dengan Menaikkan suku bunga penjaminan
kerjasama Bilateral dengan negara- simpanan September maskimum:
negara anggota ASEAN dalam bentuk a. simpanan rupiah 1 bulan= BI rate+50
Bilateral Swap Arragement (BSA) bps
b. simpanan valas dari 3% menjadi 4,25%.
5 Pembatasan transaksi valuta asing dan Menaikkan Giro Wajib Minimum (GWM)
kredit valuta asing melalui PBI mulai 6 September 2005.
No.7/14/2005.
6 - Menaikkan imbal jasa giro dari 3% menjadi
5,5% untuk seluruh tambahan GWM di
atas 5%.

Namun dari kedua paket kebijakan perbankan dalam negeri bisa saja efektif
yang dilaksanakan, terdapat beberapa hal karena dengan demikian akan menambah
yang seyogyanya menjadi perhatian otoritas pasokan valuta asing di dalam negeri. Yang
moneter. Pertama, pada paket kebijakan menjadi pertanyaan kemudian seberapa
Juli 2005. Langkah mewajibkan BUMN besar penerimaan BUMN dari ekspor
untuk menyimpan devisa hasil ekspor di dibandingkan adanya outflow dana investasi

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 16


Setahun Kebijakan Moneter dalam Kabinet Indonesia Bersatu

yang ada di Indonesia. peningkatan harga-harga dan pada


gilirannya akan mendorong inflasi.
Berikutnya pembayaran subsidi BBM
dalam bentuk valuta asing kepada Kemudian kebijakan penguatan
Pertamina bisa jadi satu langkah strategis cadangan devisa dengan kerjasama Bilateral
dalam meredam depresiasi nilai tukar akibat dengan negara-negara anggota ASEAN
peningkatan minyak dunia. Pertamina tidak dapat menjadi satu solusi untuk
lagi memenuhi kebutuhan valuta asingnya memperkuat cadangan devisa Indonesia. Di
dalam rangka impor BBM dari pasar valuta sisi yang lain di tengah sinyal memburuknya
asing dalam negeri. Dengan demikian pasar perekonomian global, bisa jadi masing -
akan mengalami surplus valuta asing. masing negara yang tergabung di ASEAN
Mekanisme penyediaan subsidi BBM juga terfokus untuk mengamankan
seperti ini bisa jadi dapat meredam tekanan cadangan devisanya. Terakhir kebijakan
terhadap nilai tukar rupiah dalam jangka pembatasan transaksi valuta asing dan
pendek, tapi tidak dalam jangka panjang. pemberian kredit valuta asing oleh
Kebijakan seperti ini memerlukan cadangan perbankan melalui PBI no.7/ 14/ 2005 akan
devisa yang cukup besar untuk dapat dapat mengurangi transaksi valuta asing
berlangsung dalam jangka panjang karena terutama transaksi yang bersifat spekulatif.
subsidi valuta asing lama kelamaan akan Namun kebijakan pembatasan transaksi
menguras devisa padahal cadangan devisa valuta asing dan pemberian kredit dalam
Indonesia tidak mengalami peningkatan valuta asing sebenarnya bukan kebijakan
yang berarti dari ekspor. Sementara itu, baru paling tidak bagi perbankan nasional.
kebijakan penyediaan kebutuhan valuta Selain itu pangsa kredit valuta asing
asing bagi BUMN selain Pertamina oleh terhadap total kredit nasional tidak terlalu
perbankan dalam negeri akan mengurangi besar yaitu berkisar 21,58% (Rata-rata
transaksi rupiah di dalam negeri dan dapat 01/ 2004-05/ 2005). Artinya kebijakan ini
mengatasi kelebihan likuiditas yang bisa jadi efektif untuk menahan adanya
dihadapi sistem perbankan nasional. transaksi spekulatif, namun tidak
Namun dalam jangka panjang tanpa memberikan dampak yang cukup besar
dibarengi oleh efisiensi di sektor BUMN untuk mengurangi likuiditas perbankan.
maka hal ini akan mengakibatkan

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 17


Setahun Kebijakan Moneter dalam Kabinet Indonesia Bersatu

Gambar 7.
Perkembangan Pangsa Kredit Rupiah dan Valuta Asing

100.00

90.00

80.00

70.00
Pangsa
60.00
Kredit Rp
Persen

50.00

40.00

30.00

20.00
Pangsa
10.00
Kredit Valas
-

Sumber: Statistik Ekonomi dan Keuangan Indonesia, Bank Indonesia, diolah.

Kedua, pada paket kebijakan Walaupun secara teroritis dan empiris


Agustus 2005. Paket kebijakan ini intinya telah terbukti bahwa tingkat bunga kredit
adalah mengurangi likuiditas Rupiah dalam perbankan bersifat rigid, namun untuk
perekonomian. Dengan menaikkan tingkat tingkat bunga kredit akan lebih bersifat
bunga baik BI Rate, FASBI, dan tingkat sticky downward. Hal ini tampak dari periode
bunga penjaminan simpanan serta setelah krisis hingga 2004 dimana tingkat
menaikkan GWM secara serentak otoritas bunga SBI sudah berada pada titik terendah
moneter berharap dalam menyerap yaitu sebesar 7%, namun tingkat bunga
kelebihan likuiditas dalam perekomian kredit masih berkisar antara 13%-14%.
sehingga akan menahan depresiasi nilai Pada kondisi kecenderungan yang
tukar dan inflasi. Namun kebijakan ini meningkat dan pada tingkat perubahan
adalah merupakan kebijakan yang suku bunga pasar tertentu, tingkat bunga
konvensional yang beberapa kali telah kredit akan segera mengikuti kenaikan
dilaksanakan Bank Indonesia. Kebijakan ini tingkat suku bunga pasar lebih cepat dan
lebih banyak bersifat jangka pendek karena lebih besar daripada dalam kondisi
jika tidak akan berdampak negatif terhadap kecenderungan yang menurun. Dengan kata
sektor riil. Peningkatan suku bunga BI Rate, lain, jika pemerintah terus melaksanakan
FASBI dan penjaminan simpanan akan kebijakan peningkatan suku bunga, maka
diikuti oleh peningkatan suku bunga kredit. dalam waktu tertentu akan berdampak pula

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 18


Setahun Kebijakan Moneter dalam Kabinet Indonesia Bersatu

pada peningkatan suku bunga kredit dan aktifitas ekonomi baik dari sisi produksi
pada gilirannya berdampak pada aktifitas maupun konsumsi.
ekonomi di sektor riil.
Kelima, kebijakan yang tidak
Ketiga, pengendalian transaksi antisipatif. kecenderungan peningkatan
valuta asing. Selain beberapa kebijakan di harga minyak dunia dan peningkatan
atas, kebijakan pengendalian transaksi tingkat bunga The Fed sebenarnya sudah
valuta asing merupakan kebijakan yang mulai terjadi paling tidak menjelang akhir
mutlak diperlukan. Dengan pengendalian tahun 2004. Sementara itu, bukan hal yang
traksaksi valuta asing diharapkan dapat baru lagi bahwa harga minyak dunia dan
menekan laju permintaan valuta asing yang tingkat bunga The Fed mempunyai
terus meningkat. Kebijakan ini dapat pengaruh yang signifikan terhadap
dilakukan dengan pembenahan administrasi perkembangan nilai tukar Rupiah terhadap
transaksi valuta asing dan bahkan Dollar AS. Selain itu juga faktor yang
pengawasan intens if terhadap transaksi- sebenarnya sudah dapat diantisipasi jauh-
transaksi valuta asing. Selain itu perlu jauh hari adalah peningkatan permintaan
dilakukan kebijakan seperti valuta asing di dalam negeri. Seyogyanya
pengadministrasian lalu lintas devisa, otoritas moneter dan pemerintah dapat
penyerapan likuiditas oleh Bank Indonesia mengambil langkah-langkah antisipatif
dan koordinasi intensif antara BUMN jauh-jauh hari sebelum nilai tukar terlanjur
khususnya Pertamina dengan Bank menyentuh nilai psikologisnya.
Indonesia. Dengan demikian tidak saja akan
Keenam, lemahnya koordinasi dan
mengatasi masalah over liquidity di sektor
konsolidasi antar bidang . Tidak dapat
perbankan, tetapi juga akan meningkatkan
dipungkiri bahwa sejak ditetapkannya UU
aliran masuk dana asing (capital inflow)
no.23 tahun 1999, Bank Indonesia sebagai
sehingga pasokan valuta asing di dalam
otoritas moneter menjalankan kewenangan
negeri dapat ditingkatkan.
dan tanggung jawabnya dalam kerangka
Keempat, perlambatan pemulihan independensi yang ditetapkan di luar
ekonomi. Diakui atau tidak, perkembangan mekanisme Kabinet Indonesia Bersatu.
nilai tukar dan inflasi yang terjadi hingga di Namun tidak lantas berarti bahwa apapun
penghujung tahun 2005 akan berdampak yang terjadi dalam konteks moneter
terhadap pemulihan ekonomi Indonesia. kemudian diluar tanggung jawab sektor atau
Tekanan eksternal yang terakumulasi bidang lainnya yang ada dalam kabinet dan
dengan internal akan menciptakan sepenuhnya menjadi tanggung jawab Bank
hambatan tersendiri bagi pertumbuhan Indonesia. Dari perkembangan nilai tukar
ekonomi. Belum lagi dampak ikutan dan dan inflasi yang telah dijabarkan di atas jelas
ekspetasi masyarakat terhadap kebijakan- bahwa kebijakan fiskal yang dilaksanakan
kebijakan pemerintah dan otoritas moneter pemerintah sangat berpengaruh terhadap
akan mengarah kepada perlambatan stabilitas moneter. Kebijakan untuk

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 19


Setahun Kebijakan Moneter dalam Kabinet Indonesia Bersatu

mengurangi subsidi dan menaikkan harga berbagai gejolak baik yang berasal dari luar
BBM memberikan tekanan tersendiri maupun dalam negeri.
terhadap nilai tukar dan inflasi. Dengan
kata lain dari track record selama 1 tahun
Kabinet Indonesia Bersatu, beberapa kali 5. Penutup
Bank Indonesia sebagai otoritas moneter di Stabilitas moneter di tahun 2005 yang
Indonesia harus menghadapi tekanan nilai sekaligus menjadi tahun pertama
tukar dan inflasi akibat kenaikan harga pemerintahan kabinet Indonesia bersatu
BBM maupun dampak ikutannya. Jelas menghadapi sejumlah permasalah yang
bahwa dalam hal ini terdapat kelemahan sangat krusial baik yang ekternal maupun
koordinasi dan konsolidasi antar pengambil internal. Dari uraian di atas jelas bahwa
kebijakan sektor fiskal dengan sektor keberhasilan kebijakan moneter dalam
moneter, jika tidak mau dikatakan tidak ada mengupayakan stabilitas Rupiah tidak dapat
sama sekali. Demikian pula di bidang - terlepas dari kebijakan pemerintah di
bidang lainnya seperti perdagangan dan bidang fiskal, perdagangan dan industri
perindustrian. Ketersediaan pasokan barang maupun bidang-bidang lainnya. Di satu sisi,
yang memadai seyogyanya dapat Undang-Undang No.23 Thun 1999
mengurangi tekanan terhadap peningkatan mengamatkan kemandirian Bank Indonesia
harga-harga. Koordinasi dan konsolidasi dapat menjalankan tugas dan tanggung
yang intensif dan terintegrasi menjadi jawabnya sebagai otoritas moneter. Namun
prasyarat mutlak agar kebijakan moneter di sisi lain jelas bahwa kordinasi dan
benar-benar dapat dilaksanakan secara konsolidasi antar otoritas moneter dan
efektif. pemerintah di berbagai bidang menjadi
Ketujuh, perbaikan masalah prasyarat mutlak agar supaya stabilitas
fundamental. Masalah-masalah moneter dapat terjaga dan pada gilirannya
fundamental dalam perekonomian juga pemulihan ekonomi dapat terus
tidak kalah pentingnya untuk diupayakan berlangsung.
oleh pemerintah. Masalah-masalah Selain itu, pengalaman sepanjang tahun
ketenagakerjaan dan hubungan industrial, 2005 menunjukkan bahwa sebenarnya
masalah perpajakan termasuk diantara faktor-faktor yang menyebabkan tekanan
retribusi dan pengapusan pungutan liar, terhadap nilai tukar dan inflasi bukan
masalah iklim usaha yang kondusif serta merupakan faktor-faktor yang tidak terduga
masalah penguatan devisa negara melalui (unexpected factors) sehingga seyogyanya
peningkatan ekspor harus segera langkah-langkah antispatif dapat
diselesaikan dan diupayakan. Tanpa dirumuskan bersama antara otoritas
dibarengi perbaikan masalah-masalah moneter dan bidang -bidang pemerintah
fundamental ini, stabilitas moneter di terkait. Optimisme pemerintah di awal
Indonesia akan tetap rentan terhadap tahun seharusnya diikuti dengan langkah

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 20


Setahun Kebijakan Moneter dalam Kabinet Indonesia Bersatu

kebijakan yang konsisten sehingga Bisnis Indonesia, 2005. The Fed Akan
perkembangan positif dari perekonomian Naikkan Suku Bunga Lagi, Edisi 21
yang diharapkan dapat benar-benar September 2005.
tercapai. Iriana, R. dan F. Sjholm.2002. Indonesia
Ke depan, berbagai tekanan terhadap Economic Crisis: Contagion and
stabilitas moneter baik yang bersifat Fundamentals, The Developing
eksternal maupun internal masih akan terus Economic, XL-2, Juni 2002.
berlangsung. Belajar beberapa uraian di Miskin, Frederic S. 1995. Symposium on The
atas, tidak saja instrumen kebijakan dan Monetary Transmission Mechanism, Journal
target-target dari kebijakan moneter itu of Economic Perspectives.
sendiri yang memegang peranan tetapi juga
Purwanto, Deniey A. 2005. Analisis
kerangka kebijakan yang antisipatif dan
Rigiditas Tingkat Bunga Kredit
responsif perlu diupayakan. Selain itu,
Perbankan Di Indonesia: Penerapan
koordinasi antara otoritas moneter dan para Marginal Cost Pricing Framework, Periode
petinggi di sejumlah bidang pemerintah Februari 2001-Desember 2004,
merupakan satu prasyarat yang tidak dapat Program Pascasarjana Ilmu Ekonomi,
dibaikan agar supaya stabilitas moneter dan Universitas Indonesia.
pemulihan ekonomi dapat secara bersama-
Tjahjono, Endy Dwi, 1998. Fundamental
sama tercapai.
Ekonomi, Contagion Effect Dan Krisis
Asia, Buletin Ekonomi Moneter dan
Referensi Perbankan, Bank Indonesia, Vol.1
No.2, September 1998.
Alamsyah, Halim. et.al, 2001. Toward
Implementation of Inflation Targeting in
Indonesia, Bulletin of Indonesian
Economic Studies, Vol.37, No.3. 2001.
Bank Indonesia, 2005. Tinjauan Kebijakan
Moneter September 2005.

_____________, 2005. Statistik Ekonomi


dan Keuangan Indonesia Agustus 2005.
_____________, 2005. Statistik Perbankan
Indonesia Juli 2005.
_____________, 2005. Tinjauan Kebijakan
Moneter Agustus 2005.

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 21


Kebijakan Penghapusan Subsidi Bahan Bakar Minyak

Kebijakan Penghapusan Subsidi


Bahan Bakar Minyak

Aruman Widodo2

Abstract

This paper analyzes the controversial policy on once subsidy removal. Rising the price is necessary to control
the consumption level of non-renewable energy source, and to allow economic actors improving efficiency levels of
the business, and to reduce opportunity of firel smuggling to other countries. However, a high price of oil
would lead to social unrest, and possibly inflation and increasing unemployment and poverty level. The
government should anticipate these impacts should anticipate these impacts while at the same time broaden.

2 Pengamat Bidang Energi

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 22


Kebijakan Penghapusan Subsidi Bahan Bakar Minyak

1. Pendahuluan 407 milliar. Ini berarti pertumbuhan PDB


riil lebih cepat 3,4% dibanding
Berdasarkan data sensus penduduk
pertumbuhan penduduknya dalam perioda
pada tahun 1980 (147 juta) dan tahun
yang sama.
2000, (203 juta), Indonesia mengalami
pertumbuhan penduduk sebesar 7% per Pertumbuhan penduduk dan PDB
tahun. Ini membuat Indonesia menjadi membawa konsekwensi yaitu peningkatan
negara keempat terbanyak penduduknya konsumsi energi yang lebih besar dari
setelah China, India dan Amerika Serikat. sebelumnya. Dalam grafik di bawah ini
Dalam rentang waktu yang sama produk dapat dilihat perkembangan konsumsi
domestik bruto riil (PDB) Indonesia energi primer1 dan PDB konstan 1993
mengalami pertumbuhan sebesar 10,4% per Indonesia dalam perioda 1993 -2002.
tahun, dari USD 194 miliar menjadi USD
Grafik 1.
Perkembangan PDB Konstan 1993 vs Konsumsi Energi Primer, 1993 2002

600 120
PDB Konstan '93 (Skala Kanan)

Konsumsi Energi Primer (Skala Kiri)


500 100

400 80
Triliun Rupiah

Juta TOE
300 60

200 40

100 20

0 0
1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002

Peningkatan konsumsi energi di masa 2. Tantangan Sektor Energi


datang merupakan tantangan yang harus Dalam setiap aktivitasnya manusia selalu
dijawab oleh semua pihak, baik pemerintah memerlukan energi, baik energi primer
pusat dan daerah terutama bagaimana maupun energi sekunder. Di kehidupan
penyediaan energi sehingga mampu sehari-hari dapat dilihat penggunaan energi
memenuhi ting kat permintaan energi yang dengan mudahnya di sekitar kita seperti
dikehendaki, selain itu dikarenakan adanya penggunaan premium, solar sebagai bahan
keterbatasan jumlah cadangan sumber energi bakar transportasi mobil maupun bis dan
mineral yang dimiliki.

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 23


Kebijakan Penghapusan Subsidi Bahan Bakar Minyak

penggunaan energi listrik untuk Oleh karena itu perlu diketahui berapa
mendinginkan udara, menyalakan komputer. cadangan sumber energi mineral yang tak
Sumber energi terbagi menjadi 2 bagian terbarukan di Indonesia dan mengetahui
besar yaitu terbarukan (renewable) dan tak- produksi serta pemanfaatannya agar dapat
terbarukan (non-renewable). Yang menjadi digunakan/diatur secara tepat dan efisien.
perhatian khusus adalah sumber energi Di dalam tabel 1dapat dilihat cadangan
mineral yang tak terbarukan, dikarenakan terbukti dan produksi dari masing-masing
jumlahnya terbatas dan akan habis dengan bahan bakar tak terbarukan yang berada di
cepat bila digunakan secara terus-menerus. Indonesia, tahun 2003.

Tabel 1.
Cadangan dan Produksi sumber mineral tak terbarukan, 2003

Cadangan Terbukti2 Produksi


(Juta TOE) (Juta TOE)
Minyak Bumi 613 57,5
Gas Alam 2.370 79,7
Batubara 5.370 114,6
Sumber: Dirjen Minyak dan Gas, BP statistik.

Dari tabel 1 di atas dapat diketahui Tetapi bila melihat hasil konsumsi
bahwa bila masing-masing sumber energi domestik terhadap produk kilang, gas alam
mineral diproduksi dengan jumlah yang dan batubara dalam perioda 1990-2000
sama seperti di atas dan cadangan terbukti menunjukkan masing -masing peningkatan
tidak bertambah maka dalam waktu tidak pertumbuhan rata-rata 5,4 %, 4,9%, dan
lebih 11 tahun maka cadangan minyak bumi 13,1% per tahun. Dari hasil konsumsi
akan habis, sementara cadangan gas alam domestik dari sumber energi mineral yang
dan batubara masing-masing tidak lebih meningkat ini menunjukkan bahwa waktu
dari 30 tahun dan 47 tahun. yang dibutuhkan untuk menghabiskan
cadangan sumber energi mineral ini akan
lebih cepat lagi. Melihat kenyataan ini,

2Cadangan terbukti yang diambil angkanya karena alasan kepastian di mana secara geologi dan teknik, angka tersebut
merupakan jumlah yang dapat diambil di masa datang di samping karena alasan ekonomi dan kondisi operasinya.

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 24


Kebijakan Penghapusan Subsidi Bahan Bakar Minyak

Indonesia akan menjadi net oil importer digantikan sumber energinya dengan
dalam waktu yang tidak lama lagi, sumber energi lainnya secara cepat atau
sedangkan untuk menjadi net gas tidak, mengingat waktu untuk
importer dan net coal importer masih menghabiskan cadangan minyak terbukti
relatif agak lama. relatif tidak lama lagi.
Berkaitan dengan cadangan sumber Ada 4 sektor utama yang
energi mineral minyak bumi yang relatif mengkonsumsi bahan bakar minyak (BBM)
lebih cepat habis, maka perlu diketahui yaitu sektor transportasi, industri, listrik dan
sektor-sektor yang menggunakan bahan rumah tangga. Komposisi Energi Primer
bakar minyak, sehingga dapat diantisipasi dan konsumsi BBM dapat dilihat dalam
sektor-sektor manakah yang dapat grafik 2.

Grafik 2.
Konsumsi Energi Primer, 1980 2003

120
Konsumsi BBM Berdasarkan Sektor, 1999-2003

100000
Rumah tangga
80000 Listrik
Ribu Kiloliter

100 Industri
60000 Transportasi

40000

20000
80
0
1999 2000 2001 2002 2003
Juta TOE

60

40

Air
Batubara
20
Gas Alam
Minyak

0
1980 1990 2000 2003

bahan bakar minyak selama beberapa kurun


Dalam grafik 2 dapat dilihat bahwa
waktu yang lalu. Bila komposisi ini masih
bahan bakar minyak sangat mendominasi
bertahan selama 11 tahun mendatang dan
konsumsi energi primer di Indonesia.
cadangan sumber mineral minyak bumi
Konsumsi bahan bakar minyak selama
benar-benar sudah tidak ada/ habis, bisa
perioda 1980 2003, melebihi angka 50%
dibayangkan betapa paniknya masyarakat
dari konsumsi energi primer di Indonesia.
pada saat itu karena banyak aktivitas
Grafik 2 ini menggambarkan betapa negara
ekonomi yang kelimpungan bahkan terhenti
Indonesia sangat tergantung terhadap

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 25


Kebijakan Penghapusan Subsidi Bahan Bakar Minyak

karena kurang/tidak ada sumber bahan sumberdaya mineral yang ditujukan untuk
baker minyak tersebut. Sektor-sektor yang merespon meningkatnya permintaan
menggunakan BBM akan menanggung otonomi regional yang semakin kuat,
akibatnya yaitu masyarakat tersebut mau disamping tantangan pasar yang semakin
tidak mau harus membayar harga BBM terbuka. Hal ini membuat pemerintah
seperti harga impor ataukah maukah dari pusat, mendelegasikan kewenangan yang
saat ini masyarakat melepaskan lebih besar kepada pemerintahan daerah
ketergantungan mereka secara perlahan untuk mengatur kebutuhan energi
terhadap BBM? Meski tidak ada yang daerahnya masing-masing. Dengan kata
pernah tahu secara pasti, apa benar 11 lain, pasar terbuka akan mengurangi peran
tahun yang akan datang cadangan minyak pemerintah pusat dalam pengaturan pasar
terbukti habis atau ditemukan baru energi. 2). Manajemen dan bisnis komoditi
cadangan terbukti. Bukankah akan lebih energi, pasar terbuka menghendaki
baik bila mulai saat ini segala kemungkinan deregulasi dalam pasar energi, terutama
yang akan terjadi nanti diperhitungkan? minyak dan listrik, di mana peran
pemerintah melalui perusahaan yang
dimiliki negara sangatlah dominan.
3. Tindakan Pemerintah Menjawab Kesempatan ini akan memberikan peluang
Tantangan Sektor Energi kepada publik untuk berpartisipasi dalam
Ketika Indonesia menjadi negara pasar energi dan 3) Kebijakan harga energi,
pengimport minyak secara murni maka dalam mencapai situasi ini, salah satu
akan sulit untuk menerapkan kebijakan kondisi awal yang harus dilakukan adalah
subsidi terhadap bahan bakar minyak. melakukan deregulasi harga energi sehingga
Kebijakan subsidi bahan bakar minyak yang harga komoditi energi akan lebih tinggi
dilakukan pemerintah selama beberapa daripada nilai keekonomisannya.
dekade sebelumnya menghasilkan beberapa Dalam menjawab tantangan dalam
masalah yang harus dihadapi saat ini. sektor energi dan tingginya permintaan
Kebijakan subsidi ini menyebabkan akan otonomi regional maka pemerintah
ketergantungan terhadap bahan bakar melakukan 2 hal penting yaitu 1) program
minyak, selain itu menyebabkan peghapusan subsidi energi, 2) pembuatan
terhambatnya program energi yang lain undang-undang di sektor energi (Migas dan
seperti konservasidan diversifikasi energi (lihat Listrik).
grafik 2).
Untuk mengurangi dampak krisis dan
tantangan di masa datang pemerintah
melakukan restrukturisasi di sektor energi,
baik secara 1) Institusional, restrukturisasi
institusi dalam kementerian energi dan

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 26


Kebijakan Penghapusan Subsidi Bahan Bakar Minyak

3.1 Penghapusan Subsidi Energi Dalam tabel 2, dapat dilihat berapa


besar rupiah yang harus dikeluarkan oleh
Dalam bahasan penghapusan subsidi
pemerintah untuk mensubsidi bahan bakar
energi ini akan ditekankan pada
minyak, menutupi perbedaan antara harga
penghapusan subsidi untuk energi bahan
jual produk kilang 2 di dalam negeri dan
bakar minyak dan energi listrik.
harga produk kilang impor.
Beban yang harus dipikul pemerintah
untuk mensubsidi energi, terutama subsidi
bahan bakar minyak, sangatlah besar.

Tabel 2.
Pengeluaran Pemerintah dan Subsidi Bahan Bakar

Subsidi BBM terhadap


Pengeluaran Pemerintah, Subsidi Bahan Bakar
Tahun Fiskal Pengeluaran
(Triliun Rp.) Minyak (Triliun Rp.)
Pemerintah, (%).

97/98 109,3 9,81 9,0

98/99 172,7 28,61 16,6

99/00 234,9 40,92 17,4

2000 221,5 53,81 24,3

2001 341,6 68,38 20,0

2002 345,6 31,16 9,0

2003 364,9 13,21 3,6

2004 430,0 59,18 13,8

2005 397,8 31,22 7,8

Sumber: APBN dan Statistik Ekonomi Keuangan Indonesia

2 Produk kilang adalah produk hasil pengolahan


kilang (refinery) seperti minyak tanak, premium,
solar dan lainnya.

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 27


Kebijakan Penghapusan Subsidi Bahan Bakar Minyak

Program penghapusan subsidi terhadap adanya beda harga antara jual harga
energi ini akan dilakukan dengan cara domestik dengan harga impor (lihat tabel
menaikkan harga jual produk kilang secara 3). Hal ini disebabkan naiknya harga minyak
bertahap hingga mencapai harga pasar. mentah beberapa bulan terakhir ini hingga
Pada awalnya, program penghapusan mencapai harga di atas 50 dolar per barel,
subsidi energi akan berhenti pada tahun menyebabkan naiknya harga produk kilang
2004, tetapi hingga saat ini pemerintah yang dikonsumsi oleh masyarakat dalam
masih tetap melakukan subsidi, karena melakukan aktivitasnya.
Tabel 3.
Harga Bahan Bakar Minyak Domestik, April Agustus 2005
Rupiah/liter
Premium Minyak Solar Disel Minyak
Tanah Bakar
April 05 SPBU 2400 700 2100
Industri 2400 2200 2200 2300 2360
Internasional 2870 2790 2700 2660 2360
Mei 05 SPBU 2400 700 2100
Industri 2400 2200 2200 2300 2360
Internasional 2870 2790 2700 2660 2360
Juni 05 SPBU 2400 700 2100
Industri 2400 2200 2200 2300 2360
Internasional 2870 2790 2700 2660 2360
Juli 05 SPBU 2400 700 2100
Industri 2400 2200 2200 2300 2360
Internasional 4060 4940 4740 4560 2900
Agustus 05 SPBU 2400 700 2200
Industri 2400 2200 2200 2300 2600
Internasional 4640 5490 4533 5240 3150
Sumber: Pertamina

Indonesia masih menggunakan bahan bakar


Padabulan agustus 2005, perbedaan
antara harga beli dan harga jual sangat minyak sebagai bahan bakar
besar, hampir 2 kali lipat, jika subsidi tetap pembangkitnya. Grafik 3 menampilkan
diberikan maka beban negara untuk jumlah bahan bakar minyak (HSD, IDO
menanggung subsidi ini akan semakin berat. dan FO)3 yang digunakan dalam
pembangkit listrik di seluruh Indonesia.
Kenaikkan harga produk kilang
berakibat naiknya biaya produksi dari
industri listrik. Hal tersebut terjadi karena 3 HSD : High Speed Diesel (Minyak Solar),
beberapa pembangkit listrik yang ada di IDO: Idustrial Diesel Oil (Minyak Disel) dan
FO : Fuel Oil (Minyak Bakar).

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 28


Kebijakan Penghapusan Subsidi Bahan Bakar Minyak

Akibatnya pihak PLN sebagai badan yang keberatan dengan harga yang berlaku, dan
ditunjuk oleh pemerintah untuk memenuhi mengajukan daftar tarif dasar listrik yang
kebutuhan listrik di Indonesia merasa baru.

Grafik 3.
Produk Kilang Yang Digunakan Pembangkit Listrik

10000

9000 Disel
Minyak Bakar
8000 Solar

7000
Ribu Kiloliter

6000

5000

4000

3000

2000

1000

0
1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004

Sumber : PLN Statistik, 1994 - 2004

Minyak dan Gas serta undang -undang no.


3.2 Pembuatan Undang-Undang
tahun 2002 tentang kelistrikan di Indonesia.
Dalam rangka menghadapi tantangan
Undang-undang no. 22 tahun 2001 ini
dalam sektor energi, pemerintah telah
diberlakukan untuk menghadapi tantangan
mengeluarkan 2 undang-undang yang
pasar terbuka dalam bidang minyak dan gas.
berkaitan dengan Sektor energi yaitu
Dalam sektor hulu, kewenangan hak
undang-undang no. 22 tahun 2001 tentang
kepemilikan daerah pertambangan yang

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 29


Kebijakan Penghapusan Subsidi Bahan Bakar Minyak

sebelumnya diatur oleh Pertamina, dan gas selanjutnya diharapkan efisiensi


dikembalikan ke pemerintah. Eksplorasi dapat terjadi.
dan eksploitasi minyak dan gas, merujuk
Undang-undang no. 20 tahun 2002
dalam undang-undang minyak dan gas akan
tentang kelistrikan Indonesia ini
diatur oleh badan pelaksana (Balak).
menggantikan undang -undang yang telah
Dengan adanya undang-undang ini maka
ada dalam rangka mengantisipasi pasar
setiap perusahaan yang dimiliki oleh
terbuka dalam sektor listrik. Undang-
pemerintah baik pusat maupun daerah,
undang baru ini mengakomodasi
koperasi atau perusahaan swasta sekarang
kecenderungan pasar masa datang, bisnis
dapat berpartisipasi dalam kegiatan
listrik akan didasarkan pada sebuah pasar
eksplorasi dan eksploitasi seperti pertamina
dimana akan ada banyak pembeli dan
yang merupakan perusahaan negara.
penjual.
Kegiatan ini akan dilakukan secara terbuka
dan transparan. Bisnis suplai listrik ini akan terbagi
dalam bidang pembangkit listrik, transmisi,
Seperti dalam kegiatan hulu maka
distribusi, penjualan dan pengoperasian. Di
kegiatan hilir juga mengijinkan semua pihak
samping itu juga bisnis pendukung misalnya
terlibat dalam kegiatan ini. Kegiatan hilir ini
konsultasi, konstruksi, pengujian, operasi
meliputi pengilangan (refinery),
dan pemeliharaan, penelitian dan
penampungan (storage), dan pemasaran
pengembangan seperti pendidikan dan
dari produk dari bahan bakar minyak akan
pelatihan. Setiap bisinis harus dilakukan
dilakukan secara terbuka dan transparan.
oleh pelaku bisnis yang berbeda.
Tetapi pelaku bisnis dalam Sektor hulu
tidak diperkenankan terlibat dalam bisnis Di masa datang para pelaku di pasar
Sektor hilir, atau sebaliknya. Untuk listrik akan mempunyai kesempatan yang
mengatur dan mengontrol kegiatan dalam sama dalam bisnis ini. Pemerintah hanya
Sektor hilir dibentuk badan pengatur berfungsi sebagai pengatur, dimana
(Batur). prakteknya akan dilakukan oleh badan
pengatur. Badan ini mempunyai
Kecenderungan di masa depan, peran
kewenangan untuk menunjuk pelaku bisnis,
pemerintah dalam kegiatan minyak dan gas,
mengontrol harga jual listrik, dan
hanya berfungsi sebatas mengawasi dan
menentukan harga fasilitas dan sewa
mengontrol. Kegiatan minyak dan gas,
jaringan.
seperti bisnis yang lain akan ditentukan oleh
mekanisme pasar. Agar tercapai situasi ini Pemerintah selain bertugas sebagai
diperlukan pengkondisian awal dengan cara pengatur juga mempunyai tugas dan
memberlakukan harga bahan bakar minyak kewenangan untuk meletakkan arah
sesuai dengan nilai ekonomi bahan bakar pengembangan yang disebut Rencana
minyak tersebut. Dengan banyaknya Umum Kelistrikan Nasional (RUKN). Di
pemain yang bersaing dalam pasar minyak samping itu ada Rencana Umum

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 30


Kebijakan Penghapusan Subsidi Bahan Bakar Minyak

Kelistrikan Daerah (RUKD) yang pemerintah sebagai pengawas dan


merupakan hasil mengakomodasi aspirasi pengontrol, dan mengharapkan hasil yang
daerah. Dana Pengembangan Kelistrikan sama seperti dalam bisnis minyak dan gas.
Sosial (DKPS) akan ditentukan, DKPS ini
Ketika harga keekonomian dalam
akan dimasukkan sebagai komponen biaya
bisnis ini tidak tercapai maka tidak akan ada
dalam struktur harga listrik. DKPS ini
investor yang menempatkan investasinya
digunakan untuk mendukung
pada sektor-sektor ini. Seperti hal
pengembangan kelistrikan di area remote,
umumnya dalam melakukan bisnis, maka
pedesaan dan memberikan subsidi terhadap
para pelaku bisnis juga mengharapkan
harga listrik untuk perkampungan miskin.
keuntungan. Bila tidak ada pelaku bisnis
yang tertarik dalam sektor-sektor ini maka
pembuatan undang-undang ini menjadi
4. Analisis Kebijakan
tidak bermanfaat, karena mekanisme pasar
Kebijakan pemerintah yang tertuang yang diinginkan tidak tercapai. Selama ini
dalam undang-undang no. 22 tahun 2001 pelaku bisnis yang ada dalam bisnis ini,
tentang Minyak dan Gas, secara ekonomi menjual produknya ke pemerintah sesuai
sudah tepat. Pemerintah hanya sebagai dengan nilai keekonomian yang diinginkan
pengawas dan pengontrol pelaku bisnis oleh pelaku bisnis, misalnya Paiton menjual
dalam sektor hulu dan hilir, dengan produknya ke pemerintah melalui PLN,
demikian mekanisme pasar akan berjalan sehingga demikian PLN akan menanggung
dengan baik. Dengan banyaknya pelaku selisih antara harga beli dari Paiton dengan
bisnis yang terlibat dalam bisnis di Sektor harga jualnya atau dikenal dengan sebutan
hulu maupun hilir, maka pelaku bisnis ini subsidi.
akan berlaku efisien agar bisnis mereka
Istilah subsidi muncul ketika
tetap bisa bertahan di dalam persaingan.
pemerintah harus mengeluarkan
Ketika pelaku bisnis berlaku secara efisien
uang/rupiah untuk membayar beda antara
maka harga jual dari produk tersebut
harga beli dengan harga jual yang
merupakan harga terbaik yang didapatkan
seharusnya ditanggung oleh masyarakat
oleh para konsumen dalam mekanisme
Tetapi sebenarnya itu merupakan hal yang
pasar. Dalam undang-undang ini juga
lumrah, apabila Negara dianggap seperti
mengantisipasi terjadinya monopoli dari
seseorang membayar sesuatu barang yang
Sektor hulu sampai hilir dengan cara pelaku
dibelinya, maka pada saat membayar barang
bisnis di sektor hulu tidak dibolehkan
tersebut maka seseorang tersebut dapat
menjadi pelaku bisnis di sektor hilir.
melakukan pembayaran terhadap barang
Sebagaimana dalam undang-undang no. yang dibelinya dengan uang pada kantung
22 tahun 2001 tentang minyak dan gas, satu bukan dari kantong lainnya. Pada
maka undang-undang no. 20 tahun 2002 dasarnya keadaan di atas merupakan hal
tentang kelistrikan menempatkan yang sama dengan keadaan dimana

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 31


Kebijakan Penghapusan Subsidi Bahan Bakar Minyak

pemerintah harus mengeluarkan uang kemakmuran masyarakat, apapun kebijakan


(subsidi) untuk membayar beda antara yang diambil menjadi adalah benar.
harga beli dengan harga jual. Meskipun
Seandainya subsidi BBM diteruskan
wajar, masyarakat meminta harga beli BBM
sehingga harga jualnya murah, siapakah
berada di bawah harga pasar karena
yang diuntungkan? Dari data BBM
menurut Undang -Undang Dasar 1945 pasal
terutama bensin adalah maka pengguna
33 adalah "Bumi dan air dan kekayaan alam
bensin ini mobil pribadi, dimana jumlah
yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh
mobil pribadi lebih banyak dari kendaraan
negara dan dipergunakan untuk sebesar-
lain yang menggunakan bensin. Maka
besarnya kemakmuran rakyat." Karena
pencabutan subsidi secara bertahap adalah
tujuan utamanya adalah mengoptimalkan
benar.
kemakmuran rakyat, maka pengelolaan
BBM harus ditujukan seperti hal di atas. Jika memperhatikan jumlah produk
Sehingga pilihan subsidi BBM siteruskan kilang yang dikonsumsi oleh masyarakat
sehingga harganya tetap murah atau seperti dalam tabel 4, dan merujuk tabel 3,
pencabutan subsidi BBM untuk dialihkan maka wajar beban yang ditanggung oleh
ke investasi publik. Selama kebijakan yang pemerintah untuk membayar beda harga
diambil bertujuan untuk mengoptimalkan beli dan jual ini sangat besar seperti yang
ditampilkan dalam tabel 2

Tabel 4.
Konsumsi Berbagai Produk Kilang, 2000-2004
Ribu Kiloliter

Produk 2000 2001 2002 2003 2004

Premium 14.222 13.057 13.732 14.647 13.908

Minyak Tanah 12.455 12.279 11.678 11.753 9.894

Solar (transportasi) 21.735 23.014 24.213 24.064 21.279

Solar (Industri) 1.451 1.420 1.360 1.183 332

Minyak Bakar 6.013 6.121 6.261 6.216 3.190

Total 55.876 55.891 57.244 57.863 48.603

memang ketika pemerintah memutuskan


jual produk kilang
Menaikkan harga
menaikkan harga jual produk kilang pada
bagaikan buah simalakama bagi pemerintah,
akhirnya, di mana seolah-olah pemerintah
tidak dinaikkan beban subsidi terasa berat,
tidak peduli terhadap penduduknya. Ketika
jika dinaikkan banyak aktivitas ekonomi
ada beberapa perusahaan yang mati
yang terhenti karenanya. Terasa pahit

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 32


Kebijakan Penghapusan Subsidi Bahan Bakar Minyak

karena kenaikkan harga BBM, yang jadi listrik masyarakat karena konsumsi
pertanyaan besar adalah mengapa hal ini masyarakat yang makin efisien. Tetapi
bisa terjadi? Banyak negara yang kenaikan progresif seyogyanya juga
memberlakukan harga pasar tetapi diberlakukan pada jam-jam beban puncak
perusahaan di negara tersebut masih bisa untuk mengurangi kapasitas pembangkit
bertahan, berkembang dan maju. Hal ini listrik yang tidak dipergunakan pada jam-
membuat timbulnya dugaan-dugaan bahwa jam diluar beban puncak. Sebagimana dapat
perusahaan di Indonesia masih belum dilihat pada grafik 4 yang meggambarkan
efektif dan efisien atau adanya pungutan load profile dari pemakaian listrik sehari-
liar yang tidak jelas sehingga menyebabkan hari, maka semakin besar beda antara beban
biaya tinggi pada perusahaan? Atau kualitas base load dan beban puncak maka
pada produk yang dijual tidak bagus, semakin besar pula kapasitas pembangkit
sehingga tidak mampu bersaing? Banyak hal listrik yang tidak digunakan pada jam-jam
yang harus dijawab dengan segera, selain beban puncak saja. Hal ini
meskipun penghapusan subsidi akhirnya sebenarnya sudah diketahui oleh pihak
ditunda. PLN, tetapi mngkin mekanisme atau
teknologi untuk hal tersebut belum
Ketika kenaikan harga pada produk
dipunyai oleh PLN. Semakin besar beda ini,
kilang terjadi maka kenaikan ini akan
maka semakin besar pula kapital yang harus
menyebabkan kenaikan pada tarif dasar
disediakan untuk membangun pembangkit
listrik, karena masih ada sebagian besar
listrik yang hanya untk memenuhi beban
pembangkit yang menggunakan bahan
puncak ini. Hal tersebut semakin membuat
bakar minyak ini sebagai bahan bakar
harga dasar listrik semakin tinggi, karena
pembngkit listrik di Indonesia. Kenaikan
ketidakefektifan ini, maka seharusnya
tarif dasar listrik ini dibedakan berdasarkan
pengguna listrik pada jam-jam beban
pada pengguna akhir yaitu rumah tangga,
puncak harus bersedia membayar lebih
industri, komersial dan sosial serta multi
untuk menanggung pembangunan
guna. Di tariff dasar listrik juga mengalami
pembangkit listrik yang digunakan pada
kenaikan progresif berdasarkan beban yang
beban puncak ini.
digunakan. Kenaikan progresif ini memang
akan memperlambat tingkat permintaan

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 33


Kebijakan Penghapusan Subsidi Bahan Bakar Minyak

Grafik 4.
Pola Beban Listrik

30 tahun. Selain itu, disetujui kenaikan


Di samping hal di atas, PLN sebagai
pembelian energi (take or pay clause)
pihak yang ditunjuk oleh pemerintah dalam
dengan capacity factor (CF) semula 83%
penyediaan listrik juga harus berhati-hati
menjadi 85% per tahun dan perpanjangan
dan cermat dalam menyetujui kontrak
lama waktu kontrak dari 30 tahun menjadi
pembelian listrik sehingga beban keuangan
40 tahun.
PLN tidak semakin terpuruk akibat
kesalahan PLN yang akhirnya menjadi Mengacu pada kesepakatan diatas,
beban konsumen listrik. Kejadian kontrak pembayaran utang 4 Juta USD per bulan
yang buruk terjadi pada perjanjian beli selama 30 tahun akan memberikan harga
listrik dengan pihak Paiton I, di mana tambahan sebesar 0,52 sen USD per kWh.
informasi yang beredar di masyarakat Ini berarti harga listrik Paiton I sebenarnya
ketenagalistrikan, kesepakatan terakhir adalah 5,45 sen USD per kWh (4,93 +
mengenai harga jual-beli listrik swasta 0,52). Namun dalam kenyataannya PT.
Paiton I dengan PT.PLN (Persero) adalah PLN (Persero) akan membayar lebih besar
4,93 sen USD per kWh (terdiri atas: biaya daripada 5,45 sen USD per kWh, karena
modal 3,53 sen/kWh, biaya bahan bakar besaran CF 85% setiap tahun selama 40
1,0 ; biaya tetap operasi& tahun dalam prakteknya sulit tercapai. Kami
pemeliharaan(O&M) 0,3 dan O&M variable berpendapat CF yang lebih pantas untuk
0,1 sen/kWh) dan ditambah lagi dengan dipakai sebagai ac uan perencanaan sekitar
pembayaran utang (Arrears/Restructuring 70% setiap tahunnya. Bila besaran CF 70%
Cost) sebesar 4 Juta USD per bulan selama ini yang dicapai, maka harga jual-beli listrik

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 34


Kebijakan Penghapusan Subsidi Bahan Bakar Minyak

akan menjadi sebesar 6,62 sen USD per swasta serta pemerintah yang bertindak
kWh (= 0,85/0,70 x 5,45). sebagai pengatur pelaksanaan kebijakan
(regulator). Hal ini perlu untuk melindungi
Perlu dicatat pada tahun 2000 PLN
kepentingan masyarakat dan diperhatikan
mengalami kerugian sebesar 4,659 trilyun
investor. Keberhasilan Malaysia dan
rupiah karena pembelian tenaga listrik
Vietnam mencapai kesepakatan harga jual-
swasta yang amat mahal 12,22 sen
beli yang jauh lebih murah dari yang terjadi
USD/kWh akibat pemakaian listrik yang
di Indonesia patut dicatat sebagai suatu
jauh dibawah take or pay clause (CF) 83%
peringatan bagi kita untuk lebih berusaha
/tahun. Padahal bila harga beli tidak lebih
meningkatkan upaya menurunkan harga
dari 4 sen maka PLN tidak mengalami
jual-beli listrik swasta.
kerugian pada tahun 2000.
Sementara itu berita mengenai langkah
Sementara beberapa rujukan di
Kejaksaan Agung California untuk
beberapa negara tetangga menunjukkan
melindungi konsumen terhadap harga listrik
bahwa : pada tahun 2000 TNB Malaysia
yang tidak wajar patut ditiru oleh Kejaksaan
berhasil mencapai kesepakatan harga jual-
Agung Indonesia.
beli listrik sebesar 3,2 sen USD per kWh
dengan SKS Ventures Sdn. Bhd untuk
PLTU Batubara Bunting dengan daya
Mencari Bahan Bakar Alternatif
terpasang 2100 MW. Pada akhir Juni 2001
TNB telah mengumumkan Penghapusan subsidi bahan bakar
penandatanganan dengan Malakoff minyak pasti akan menambah kesengsaraan
kesepakatan harga jaual-beli 3,19 USD per masyarakat Indonesia yang dalam beberapa
kWh, suatu penurunan harga 20 persen tahun ini masih dalam taraf pemulihan
lebih murah daripada persetujuan ekonomi karena krisis ekonomi tahun 1997.
sebelumnya pada tahun 1993. Sedangkan Penghapusan subsidi ini meskipun
Vietnam Corporation membeli listrik membawa dampak yang berat kepada
dengan harga VND 620 per kWh ( 4,2 sen masyarakat, tetapi juga akan membawa
USD per kWh) dari perusahaan swasta dampak yang positif. Dengan tercapainya
(joint investors of the Vietnam Coal harga jual bahan bakar minyak sama dengan
Corporation, the Japanese contractor harga impor maka penyelundupan secara
Marubeni and the Viet Nam Machinery otomatis akan berhenti/hilang dengan
Installation Corporation) untuk PLTU sendiri (meskipun sebenarnya tugas
Batubara 100 MW di Na Duong , Propinsi pemerintah melalui aparatnya untuk
Lang Son. memberantas penyelundupan, dihapus
ataupun tidak dihapusnya subsidi). Pelaku
Sebenarnya berita kesepakatan yang
ekonomi dituntut untuk bertindak efektif
dicapai oleh Malaysia dan Vietnam bisa
dan efisien dalam menjalankan usahanya
dijadikan rujukan oleh pihak PLN, pihak

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 35


Kebijakan Penghapusan Subsidi Bahan Bakar Minyak

agar mampu bersaing dalam pasar domestik tukar rupiah sebesar Rp 9000/US$ maka
maupun internasional. didap atkan nilai gas netback perusahaan
baru dan konversi pada saat sekarang
Dengan penghapusan subsidi ini,
dalam berbagai harga minyak mentah. Hasil
pengeluaran pemerintah akan berkurang
perhitungan dari beberapa perusahaan ada
tetapi masyarakat masih dalam keadaan
pada tabel 5 (nilai gas netback perusahaan
menderita karena harga beli bahan bakar
baru) dan tabel 6 (nilai gas netback untuk
minyak masih tinggi dan dikarenakan
perusahaan lama yang dikonversi). Asumsi
masyarakat tidak mempunyai pilihan bahan
yang digunakan dalam perhitungan ini
bakar alternatif yang murah. Berdasarkan
adalah sebagai berikut: depresiasi selama 10
penelitian yang dilakukan oleh universitas
tahun dan diskon faktor untuk perusahaan
Tilburg, Belanda tahun 1988 (Gasunie)
baru sebesar 10% dan konversi sebesar
terhadap beberapa jenis perusahaan di
33%.
Indonesia, maka dengan mengubah nilai
tukar rupiah pada tahun 1988 dengan nilai

Tabel 5.
Nilai Gas Netback Perusahaan Baru

Harga Minyak Me ntah


US$ US$ US$ US$ US$ US$
20/bbl 30/bbl 40/bbl 50/bbl 60/bbl 70/bbl
Nilai gas Netback
(USD/MMBTU)
Roti 5,73 7,90 10,07 12,24 14,41 16,57
Produk Kertas (lainnya) 5,94 8,48 11,01 13,55 16,08 18.62
Produk Genteng dan Tanah liat 4,74 6,77 8,81 10,85 12,88 14,92
Pelapisan Permukaan 10,00 13,36 16,73 20,09 23,45 26,81

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 36


Kebijakan Penghapusan Subsidi Bahan Bakar Minyak

Tabel 6.
Nilai Gas Netback Perusahaan Yang Dikonversi

Harga Minyak Mentah


US$ US$ US$ US$ US$ US$
20/bbl 30/bbl 40/bbl 50/bbl 60/bbl 70/bbl
Nilai gas Netback (USD/MMBTU)
Roti 2,87 5,01 7,16 9,31 11,45 13,60
Produk Kertas (lainnya) 4,46 6,58 8,70 10,82 12,94 15,07
Produk Genteng dan Tanah liat 4,07 6,15 8,23 10,30 12,38 14,46
Pelapisan Permukaan 4,32 6,44 8,56 10,68 12,80 14.92

betapa susah dan panjangnya antrian untuk


Dari hasil perhitungan nilai jual dan
mendapatkannya.
volume LNG ekspor pada tahun 2003,
ternyata harga jual LNG ekpor adalah USD Disamping itu masih ada bahan bakar
4,82 yang menunjukkan setara dengan mineral yang lainnya yang seyogyanya
harga minyak mentah di bawah US$ digunakan lebih yaitu batubara, pada saat
30/bbl. Dan volume LNG ekspor pada ini penggunaan batubara hanya digunakan
tahun 2003 sebesar 1.368 BCF dapat sebagai bahan bakar pembangkit listrik
menggantikan seluruh konsumsi solar, disel sedang penggunaanya sebagai bahan bakar
dan minyak bakar. Seandaiya LNG ekspor untuk keperluan rumah tangga,
tersebut digunakan di dalam negeri penggunaannya masih belum berkembang
(keperluan domestik) dengan harga jual dengan baik (briket).
sebesar harga jual ekspor, maka pemerintah
tidak perlu mengeluarkan biaya subsidi
untuk solar, disel dan minyak bakar. 5. Penutup
Masyarakat dapat menikmati bahan bakar Penghapusan subsidi bahan bakar
yang murah untuk melanjutkan kegiatan minyak meskipun berat hati harus
ekonominya. dilakukan, mengingat bahan bakar mineral
Tetapi masih ada kendala yang harus di jenis ini merupakan bahan bakar tidak
atasi agar bahan bakar alternatif seperti terbarukan yang pada akhirnya akan habis.
LNG/gas alam dapat dikembangkan di Penghapusan subsidi dengan cara
Indonesia terutama infrastruktur. Misalnya menaikkan harganya secara bertahap,
SPBBG yang ada di Jakarta tidak lebih dari setidaknya masih memberikan waktu bagi
15 buah, padahal tabung untuk bahan bakar pelaku ekonomi untuk memperbaiki
gas ini hanya 16 liter, bisa dibayangkan bisnisnya supaya efektif dan efisien,
sehingga para pelaku ekonomi mampu

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 37


Kebijakan Penghapusan Subsidi Bahan Bakar Minyak

bersaing. Dengan penghapusan subsidi ini pemberantasan terhadap hal-hal yang


akan menutup peluang para penyelundup menyebakan biaya tinggi misalnya pungutan
bahan bakar minyak ini melakukan aksinya liar, banyaknya birokrasi dsb yang
karena sudah tidak ada lagi selisih harga. menyebabkan biaya tinggi. Dengan
Subsidi BBM ini telah meninabobokan para pemberantasan ini maka diharapkan harga
pelaku usaha karena produknya masih bisa jual produknya bisa diterima pasar baik
laku di pasar selama ini, hal tersebut domestik maupun internasional.
disebabkan adanya subsidi BBM ini.
Dari uraian di atas setidaknya
Bersama kenaikan harga jual bahan bakar
memberikan wacana pemikiran bagi
ini, maka beberapa usaha yang dulu bisa
pemerintah untuk melakukan tindakan
bertahan selama subsidi masih berlaku
selanjutnya setelah program penghapusan
maka satu per satu usaha tersebut gulung
subsidi mulai diberlakukan, dan keadaan
tikar.
ekonomi Indonesia kembali membaik.
Seiring proses penghapusan subsidi
BBM secara berkala maka pemerintah
diharapkan mengantisipasi segala dampak Referensi
yang akan terjadi akibat hal ini. Dampak Badan Pusat Statistik, 1993 - 2002
sosial yang mungkin terjadi adalah
kepanikan masyarakat yang sesaat akibat Hakim, Baihaki, Country Report For
kenaikan harga ini, maka pemerintah harus Indonesia 7th Ascope Conference &
menjaga kelangkaan BBM di pasar supaya Exhibition, Kuala Lumpur, 5th - 8th
kepanikan masyarakat tidak bertambah, November 2001
bertambahnya jumlah pengangguran akibat Indonesias Energi Outlook 2010, Center
PHK atau tutupnya usaha, maka for Energy Information Ministry of
pemerintah harus bertindak dengan Energy and Mineral Resources, 2002
membuka lapangan kerja baru atau
Minyak dan Gas Statistik Indonesia, 1999
memberikan tawaran yang menarik bagi
2003
investor asing maupun domestik untuk
menanamkan investasi di Indonesia Present Industrial Energy Utilization, 1988
sehingga tercipta lapangan kerja baru. Statistical Review of World Energy Full
Pembangunan infrastruktur untuk bahan Report Workbook 2004
bakar alternatif misalnya pembangunan Subsidi BBM, nilai ekonomi dan prioritas
pipa gas alam ke industri, rumah tangga dll, anggaran Bisnis Indonesia, November 6,
pembangunan pelabuhan dan stockpile 2004
untuk batubara harus segera dibangun oleh
Sudja, Nengah, Mengugat Harga Jual Listrik
pemerintah untuk memberikan bahan bakar
Paiton I, Jakarta, 14 Juni 2002.
alternatif bagi pelaku usaha dan masyarakat.
Selain itu pemerintah harus melakukan

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 38


Kebijakan Investasi dan Pemulihan Usaha

Kebijakan Investasi dan Pemulihan


Usaha
Tulus Tambunan3

Abstract

This articles examines investment policy and business recovery, particularly in the era of high expectation
during the administration of Susilo Bambang Yudhoyono. Several factors believed to shape the investment
climate and business recovery include economic, social, political, environment, geographic and others. The
degree and magnitude of thesefactor varies considerably by economic activities and location, but have similar
tendency to depend on policy consistency and bureaucratic coordination among government agencies credible
monetary policy in stabilizing exchange rate, interest rate, and inflation rate world play important roles in
supporting investment policy and business recovery.

3 Dosen FE USAKTI & KADIN Indonesia

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 39


Kebijakan Investasi dan Pemulihan Usaha

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 40


Kebijakan Investasi dan Pemulihan Usaha

1. Pendahuluan hingga saat ini. Faktor-faktor tersebut mulai


dari yang sering disebut di media masa
Walaupun setahun setelah krisis
yakni masalah keamanan dan tidak adanya
ekonomi 1998, ekonomi Indonesia sudah
kepastian hukum hingga kondisi
kembali menunjukkan pertumbuhan
infrastruktur yang buruk dan keunggulan
ekonomi yang positif, namun hingga saat
Indonesia yang secara relatif semakin buruk
ini pertumbuhannya rata-rata per tahun
dibandingkan negara-negara tetangga yang
relatif masih lambat dibandingkan negara-
pada masa Orde Baru belum berarti sama
negara tetangga yang pada tahun 1998 juga
sekali di dalam percaturan ekonomi
terkena krisis seperti Korea Selatan dan
regional maupun global seperti China dan
Thailand, atau masih jauh lebih rendah
India.
dibandingkan pertumbuhan rata-rata per
tahun pada era Orde Baru, khususnya pada Jadi dari uraian di atas, pokok
periode 1980-an hingga pertengahan 1990- permasalahan yang menjadi pembahasan
an. Bukan suatu hal yang sulit untuk utama dari tulisan ini adalah lingkungan
dipahami bahwa ada dua penyebab utama usaha yang sangat kompleks, yang
lambatnya proses pemulihan ekonomi implikasinya adalah bahwa kebijakan
Indonesia hingga saat ini, yakni lambatnya investasi tidak bisa berdiri sendiri. Dalam
proses pemulihan usaha, terutama dari kata lain, bagaimanapun bagusnya suatu
perusahaan-perusahaan besar yang hancur kebijakan investasi, namun banyak faktor-
terkena krisis, dan masih belum intensifnya faktor lain di luar wilayah kebijakan
kegiatan investasi, termasuk arus investasi investasi yang sangat mempengaruhi
dari luar terutama dalam bentuk keputusan seseorang untuk melakukan
penanaman modal asing (PMA). Padahal investasi atau membukan usaha baru di
pada era Orde Baru sudah terbukti bahwa Indonesia.
investasi, khususnya PMA, merupakan
Tujuan dari tulisan ini adalah untuk
faktor pendorong yang sangat krusial bagi
membahas faktor-faktor tersebut.
pertumbuhan ekonomi yang tinggi.
Pembahaan di dalam tulisan ini terdiri dari
Terutama melihat kenyataan bahwa sumber
empat bagian. Bagian pertama mengenai
perkembangan teknologi, perubahan
lingkungan langsung dan lingkungan yang
strukturalm, diversifikasi produk, dan
lebih luas dari suatu usaha. Bagian kedua
pertumbuhan ekspor di Indonesia selama
mengenai sejumlah faktor utama
ini sebagian besar berasal dari kehadiran
penghambat kegiatan usaha. Bagian ketiga
PMA di Indonesia.
mengenai keterkaitan antara kebijakan dan
Banyak sekali faktor-faktor yang iklim investasi. Bagian keempat mengenai
sebagian besar saling terkait satu sama lingkungan kelembagaan dan kebijakan.
lainnya dengan pola yang sangat kompleks
yang menyebabkan lambatnya pemulihan
kegiatan usaha dan investasi di dalam negeri

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 40


Kebijakan Investasi dan Pemulihan Usaha

2. Linkungan Usaha alam (misalnya sumber daya alam, cuaca,


dan siklus pertanian).
Semua kegiatan bisnis dari semua skala
usaha berada di dalam suatu lingkungan Sedangkan, yang dimaksud lingkungan
yang dinamis dan sangat kompleks. Oleh langsung adalah lingkungan berpengaruh
karena itu, usaha-usaha pemerintah dalam secara langsung terhadap semua kegiatan
mempromosikan atau membantu suatu usaha, yakni pasar (misalnya consumen,
jenis kegiatan usaha tertentu tidak akan tenaga kerja, keterampilan dan teknologi,
membuat hasil yang optimal tanpa material dan alat-alat produksi, lokasi,
mempertimbangkan lingkungan persaingan infrastruktur, modal, dan jaringan-jaringan
dari jenis usaha tersebut dan konteks dari kerja), regulasi dan birokrasi (seperti
suatu pembangunan ekonomi yang lebih undang-undang, peraturan-peraturan, tarif
luas yang menciptakan aturan main untuk pajak dan sistem perpajakan, lisensi dan
semua kegiatan/ jenis usaha dan yang mana perijinan, standar produk dan proses, dan
mempengaruhi cara bisnis dan pasar perlindungan konsumer dan lingkungan),
bekerja. Lingkungan di mana bisnis dan intervensi- intervensi yang didanai oleh
beroperasi dapat dibagi dalam dua macam, uang publik (seperti jasa keuangan untuk
yakni lingkungan langsung dan lingkungan bisnis).4
yang lebih luas (Gambar 1). Lingkungan
Implikasi dari kenyataan di atas terhadap
yang lebih luas adalah lingkungan yang
kebijakan investasi adalah jelas bahwa
berpengaruh secara tidak langsung terhadap
kebijakan tersebut tidak akan membawa
suatu kegiatan bisnis, yang terdiri dari
suatu hasil yang efektif, dalam arti investasi
komponen-komponen berikut: ekonomi
tidak akan meningkat jika tidak didukung
makro (seperti kebijakan perdagangan,
oleh kebijakan-kebijakan lain yang
kebijakan industri, kebijakan sektor
mempengaruhi komponen-komponen lain
keuangan, dan kebijakan moneter dan
dari lingkungan usaha. Misalnya, di satu sisi,
fiskal), pemerintah dan politik pada tingkat
pemerintah ingin meningkatkan investasi di
nasional dan lokal (misalnya legislatif dan
dalam negeri dengan memberikan insentif
proses pembuatan kebijakan, judisiari, dan
pajak bagi perusahaan-perusahaan baru atau
keamanan dan stabilitas), jasa-jasa yang
perusahaan-perusahaan yang akan
diberikan oleh pemerintah (seperti
memperluas kapasitas produksinya,
pelayanan kesehatan dan pendidikan,
sementara, di sisi lain, pemerintah
infrastruktur, utilitas dan jasa keamanan),
mengeluarkan kebijakan perdagangan yang
pengaruh-pengaruh eksternal (seperti
menghapuskan bea impor bagi suatu
perdagangan global, bantuan luar negeri,
tren dan selera masyarakat dunia, teknologi,
4 Komponen-komponen di dalam linkungan
dan informasi), sosial dan kultur (seperti langsung ini juga merupakan komponen-
demografi, selera konsumer, dan sikap komponen penting di dalam model diamond
terhadap bisnis), dan iklim serta lingkungan yang terkenal dari Porter (1998a,b) yang sangat
berpengaruh pada daya saing negara.

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 41


Kebijakan Investasi dan Pemulihan Usaha

produk yang kebetulan adalah produk yang sumber daya manusia (SDM) di Indonesia
menarik bagi calon-calon investor. Atau, semakin buruk relatif dibandingkan di
contoh lainnya, walaupun banyak insentif negara-negara tetangga. Dengan kemajuan
yang diberikan oleh pemerintah kepada teknologi dan dalam era perdagangan
investor, investasi tidak akan meningkat bebas, faktor-faktor keunggulan kompetitif
atau PMA, khusunya industri-industri yang menjadi lebih penting daripada faktor-
bersifat footloose seperti elektronik dan faktor keunggulan komparatif dalam
tekstil, tidak akan memilih Indonesia mempengaruhi mobilisasi investasi lintas
sebagai tempat kegiatannya selama kondisi negara/wilayah.
infrastruktur belum baik atau tingkat

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 42


Kebijakan Investasi dan Pemulihan Usaha

3. Faktor Penghambat Kegiatan Usaha 200 persen di China dan India. 5


Sudah sering dikatakan bahwa iklim Di dalam suatu laporan Bank Dunia
usaha, termasuk investasi, merupakan hal mengenai iklim investasi (World Bank,
pokok bagi pertumbuhan ekonomi dan 2005a), dikatakan ada banyak faktor-faktor
pengentasan kemiskinan. Oleh karena itu yang harus diperhatikan dalam usaha
jelas bahwa iklim usaha yang kondusif memperbaiki iklim investasi, diantaranya
adalah sesuatu yang harus ada di Indonesia stabilitas ekonomi makro yang lebih baik
agar pertumbuhan di atas 6% yang dan tingkat korupsi yang lebih kecil.
diharapkan tahun ini dan lebih tinggi lagi Laporan ini juga menjabarkan hasil survei
pada tahun-tahun berikutnya serta mengenai iklim investasi yang dilakukan
peningkatan kesempatan kerja dan Bank Dunia yang meliputi lebih dari 26.000
penurunan kemiskinan secara drastis dan perusahaan di 53 negara, termasuk
berkelanjutan bisa tercapai. Indonesia menunjukkan. Walaupun
kendala-kendala yang menjadi prioritas
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa
antar masing-masing negara dan bahkan
iklim usaha mencerminkan sejumlah faktor
dalam setiap negara memiliki variasi yang
yang berkaitan dengan lokasi tertentu yang
cukup besar, namun hasil survei tersebut
membentuk kesempatan dan insentif bagi
secara keseluruhan menunjukkan
individu/pengusaha/ perusahaan/pemilik
pentingnya risiko-risiko yang berkaitan
modal untuk melakukan usaha atau
dengan kebijakan, termasuk ketidakpastian
investasi secara produktif dan berkembang.
kebijakan serta stabilitas ekono mi makro.
Lebih konkritnya lagi, iklim usaha atau
investasi yang kondusif adalah iklim yang Walaupun sedikit berbeda dalam
mendorong seseorang melakukan bisnis memeringkatkan berbagai kendala
(termasuk investasi) dengan biaya dan usaha/ investasi, namun dilihat dari
resiko serendah mungkin di satu sisi, dan permasalahannya secara keseluruhan, hasil
keuntungan jangka panjang setinggi survei Bank Dunia tersebut didukung oleh
mungkin, di sisi lain (Stern, 2002). Sebagai hasil survei tahunan mengenai daya saing
contoh, beberapa studi menunjukkan negara yang dilakukan oleh The World
bahwa sebagai hasil dari perbaikan- Economic Forum (WEF) terhadap
perbaikan iklim investasi pada dekade 80-an perusahaan-perusahaan di lebih dari 100
dan 90-an yang menurunkan biaya dan negara di dunia. Hasilnya dipublikasi dalam
risiko investasi sangat drastis, maka
The Global Competitiveness Report. Untuk
investasi swasta sebagai bagian dari produk
domestik bruto (PDB) meningkat hampir
5 Untuk kasus India, lihat misalnya Aghion dkk.
(2003), Ahluwalia (2002), Rodrik dan Subramanian
(2004), dan World Bank (2005a); untuk kasus China,
lihat antara lain Chen dan Wang (2001), Qian (2003),
Young (2000), dan World Bank (2005a).

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 43


Kebijakan Investasi dan Pemulihan Usaha

pelaksanaan survei di Indonesia, WEF pelabuhan, pembelian/pembebasan tanah,


bekerjasama dengan LP3E-Kadin atau dalam pelaksanaan proyek-proyek
Indonesia, yang dilapangan dilakukan oleh pembangunan. Sebagian besar lainnya dari
penulis. Seperti pada tahun-tahun responden lebih menganggap birokrasi yang
sebelumnya, untuk The Global Competitiveness bertele-tele/tidak efisien sebagai
Report 2004-2005, sebanyak 250 pengusaha penghambat utama perkembangan bisnis di
dari semua skala usaha, swasta, BUMN dan Indonesia. Hal ini juga disebut di dalam
PMA, di hampir semua sektor ekonomi dan laporan Bank Dunia (World Bank 2005a)
di banyak wilayah di Indonesia masuk di mengenai iklim investasi sebagai salah satu
dalam sampel survei. Survei ini disebut sumber distortif penting bagi pertumbuhan
Executive Opinion Survey, yakni survei investasi. Birokrasi yang tidak efisien
terhadap opini pribadi dari CEO atau meningkatkan biaya bisnis, baik dalam
pimpinan/manajer/direktur perusahaan bentuk riil, yakni banyaknya biaya yang
dan orang-orang penting di pemerintahan harus dibayar pengusaha, maupun dalam
(di lembaga-lembaga terkait seperti bentuk biaya altermatif yakni waktu yang
Departemen Industri dan Perdagangan) terbuang dalam misalnya mengurus
mengenai berbagai aspek yang terkait perizinan, yang berarti kesempatan
langsung maupun tidak langsung dengan keuntungan yang hilang. Kelompok
dunia usaha. Salah satu masalah yang terbesar ketiga dari pengusaha yang masuk
dipertanyakan di dalam survei tersebut di dalam survei menganggap bahwa
adalah faktor-faktor penghambat utama kebijakan, khususnya eknomi makro, yang
kegiatan usaha di Indonesia. tidak stabil adalah yang paling merugikan
usaha. Kebijakan yang tidak stabil
Seperti yang dapat dilihat di Gambar 2,
memperbesar ketidakpastian atau risiko
berdasarkan persentase dari responden,
dalam melakukan bisnis yang menyebabkan
ternyata tiga faktor penghambat bisnis yang
ektra biaya bagi pengusaha.
mendapatkan peringkat paling atas adalah
berturut-turut korupsi, birokrasi dan Secara keseluruhan, terkecuali korupsi
kebijakan yang tidak stabil. Sebagia terbesar yang bisa mempengaruhi semua komponen
dari responden menganggap bahwa korupsi baik dari lingkungan langsung maupun
sebagai faktor yang paling mengganggu lingkungan lebih luas dari dunia usaha (lihat
usaha mereka. Pengaruh korupsi terhadap Gambar 1), hampir semua faktor
bisnis bisa terjadi lewat berbagai saluran, penghambat pertumbuhan bisnis yang
bisa dalam pengurusan perizinan, disebut di Gambar 2 adalah menyangkut
pembayaran pajak, pengeluaran barang dari lingkungan langsung dari dunia usaha.

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 44


Kebijakan Investasi dan Pemulihan Usaha

Gambar 2:
Faktor-faktor Penghambat Bisnis
dalam The Global Competitiveness Report 2004-2005.

Regulasi valas

Infrastruktur buruk

Kriminalitas

Pemerintah tidak stabil (coups)

Regulasi perpajakan

Kebijakan tidak stabil

Korupsi

0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
% dari responden

Sumber: dikutip dari WEF (2004)

persaingan yang mana pemerintah memiliki


IV. Iklim dan Kebijakan Investasi
pengaruh yang kuat. Jika pengaruh
Menurut laporan Bank Dunia (World pemerintah lewat kebijakan dan perilakunya
Bank 2005a) mengenai iklim investasi, terhadap aspek-aspek tersebut negatif,
menciptakan suatu iklim investasi yang misalnya biaya usaha/ investasi menjadi
lebih baik mengharuskan pemerintah untuk mahal, maka kebijakan-kebijakan tersebut
menangani tiga hal, yakni biaya, risiko, dan telah menghilangkan/mengurangi
pembatasan bagi persaingan. Seperti yang kesempatan bagi pertumbuhan usaha-usaha
ditunjukkan di Tabel 1, laporan dari Bank baru atau perluasan kapasitas produksi dari
Dunia mengenai iklim investasi (World usaha-usaha yang ada, yang artinya
Bank, 2005a) menjabarkan aspek-aspek dari menghilangkan kemungkinan peningkatan
biaya, risiko dan pembatasan bagi investasi.

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 45


Kebijakan Investasi dan Pemulihan Usaha

Tabel 1.
Kebijakan dan Perilaku Pemerintah yang memperngaruhi keputusan investasi.

Tiga hal penting yang Faktor-faktor yang membentuk kesempatan dan insentif
mempe-ngaruhi untuk melakukan investasi
keputusan investasi
Pemerintah berpengaruh kuat Pemerintah kurang
berpengaruh
Biaya Korupsi, Harga bahan yang
ditentukan oleh pasar,
Tarif pajak dan sistem
perpajakan, Jarak terhadap pasar input &
output,
Bea masuk & tarif ekspor
Skala & bidang ekonomi
Subsidi
yang dikaitkan dengan
Beban Peraturan & birokrasi, teknologi tertentu.
Infrastruktur,
Jasa-jasa publik
Kinerja sektor keuangan,
Suku bunga
Peraturan pasar tenaga kerja,
Risiko Arah kebijakan yang dapat Tanggapan konsumen &
diantisipasi & kredibilitasnya, pesaing,
Stabilitas ekonomi makro, Kejutan eksternal,
Hak-hak atas properti, Bencana alam,
Pemaksaan kepatuhan atas Keandalan pemasok,
perjanjian/ kesepakatan,
Penarikan hak atas properti
untuk kepentingan umum.
Pembatasan bagi Pembatasan peraturan untuk Ukuran pasar & jarak
persainagn masuk & keluar, terhadap pasar input &
output,
Hukum & kebijakan
persaingan, Skala & bidang ekonomi
dalam kegiatan-kegiatan
Memfungsikan pasar sektor
tertentu.
keuangan,
Infrastruktur.
Sumber: dari Tabel 1.1 di World Bank (2005a) dengan sedikit modifikasi

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 46


Kebijakan Investasi dan Pemulihan Usaha

Ada dua laporan yang menunjukkan


Seperti yang dapat dilihat di Tabel 1,
betapa buruknya Indonesia secara relatif
kebijakan-kebijakan dan perilaku
dibandingkan negara-negara lain dalam hal
pemerintah yang dapat mempengaruhi
infrastruktur. Pertama adalah dari Bank
secara langsung maupun tidak langsung
Dunia (2005b). Seperti yang dapat dilihat di
biaya investasi adalah mulai dari korupsi,
Tabel 2, walaupun Indonesia adalah negara
besarnya tarif dan sistem perpajakan yang
terbesar di dalam kelompok ASEAN,
tidak kondusif, jasa-jasa publik, kebijakan
peringkatnya untuk semua indikator
perdagangan mengenai bea masuk impor,
penting mengenai kinerja infrastruktur
birokrasi dalam pengurusan izin, kebijakan
sangat buruk. Misalnya, untuk jaringan jalan
moneter yang mempengaruhi tingkat suku
raya, Indonesia berada dalam peringkat ke
bunga dan inflasi, hingga pengeluaran
delapan dari 12 negara anggota ASEAN,
pemerintah untuk pembangunan atau
sedangkan untuk jaringan telepon tetap,
perbaikan infrastruktur. Hal terakhir ini
Indonesia adalah negara terburuk di dalam
dalam beberapa tahun belakangan ini
kelomopok tersebut.
menjadi suatu isu yang sangat penting yang
menjadi bahan pembicaraan/diskusi di Laporan kedua adalah dari WEF
Indonesia, yakni buruknya kondisi (2004). Seperti telah dijelaskan sebelumnya
infrastruktur di dalam negeri. Suatu studi (lihat Gambar 2), survei tahunan yang
dari Bank Dunia (World Bank, 2004) dilakukan oleh WEF ini adalah mengenai
mengenai berbagai permasalahan serius opini pribadi dari pimpinan perusahaan dan
termasuk biaya tinggi dalam melakukan pejabat-pejabat penting di departemen-
bisnis di banyak negara di dunia departemen yang terkait dengan
menunjukkan bahwa di negara-negara peningkatan daya saing negara. Hasil
berkembang pada umumnya, untuk surveinya mengenai kualitas infrastruktur
mendapatkan suatu saluran telepon, untuk kasus Indonesia dapat dilihat di
mengeluarkan barang -barang dari pihak Tabel 3. Untuk kualitas infrastruktur secara
pabean, dan mendaftarkan suatu usaha baru keseluruhan, Indonesia berada pada
memerlukan waktu yang jauh lebih panjang peringkat ke 44 dari 104 negara yang masuk
dan biaya yang jauh lebih besar di dalam sampel. Untuk kualitas
dibandingkan di negara-negara industri infrastruktur menurut jenisnya, kondisi
maju. Sama halnya dengan waktu yang Indonesia juga buruk; bahkan sangat buruk
digunakan oleh manajer untuk berurusan untuk misalnya kualitas telepon/fax dan
dengan para pejabat pemerintahan di jumlah jaringan telepon per 1000
negara-negara tersebut sangat lama; penduduk.
walaupun persoalannya tidak terlalu berat.

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 47


Kebijakan Investasi dan Pemulihan Usaha

Tabel 2.
Kinerja Infrastruktur di ASEAN

Indikator Indonesia (2000) Peringkat dalam


ASEAN
Tingkat elektrifikasi (%) 53 11 dari 12 negara
Jaringan telepon tetap (%) 4 12 dari 12 negara
Jumlah pemohon mobile phone
(%) 6 9 dari 12 negara
Akses ke sanitasi yang baik (%) 55 7 dari 11 negara
Akses ke air bersih (%) 78 7 dari 11 negara
Jaringan jalan raya (km per 1000
penduduk) 1,7 8 dari 12 negara
Sumber: Bank Dunia (2005b).

Salah satu masalah yang sering respons yang tidak pasti dari konsumen dan
dikeluhkan oleh pengusaha-pengusaha di pesaing, hingga ketidakpastian politik. Jelas
Indonesia adalah sifat peraturan yang sulit kebijakan atau sepak terjang pemerintah
diprediksi. Bahkan di media-media masa hal sangat penting untuk meminimalisasikan
ini sering dianggap sebagai rintangan utama, resiko yang dimaksud. Dalam hal ini,
selain ketidakpastian hukum, bagi tindakan-tindakan pemerintah yang
masuknya PMA ke Indonesia. Hasil survei diperlukan terutama adalah menyangkut
dari Bank Dunia (World Bank, 2005a) keamanan, stabilitas sosial, ekonomi dan
mengenai iklim investasi menunjukkan politik, kepastian hukum, penjagaan secara
bahwa persentase dari perusahaan di ketat terhadap hak-hak properti, dan
Indonesia yang masuk di dalam sampel peraturan-peraturan yang jelas (tidak
penelitian yang menganggap interpretasi arbitrase).
atas peraturan-peraturan pemerintah tidak
Salah satu masalah serius yang muncul
dapat diprediksi mencapai di atas 50 persen.
pada periode pasca-krisis ekonomi 1997/98
Dalam hal risiko, karena investasi adalah mengenai hak-hak atas tanah dan
adalah suatu kegiatan usaha jangka panjang, bentuk properti lainnya. Sejak tahun 1999
maka jelas besarnya risiko yang terkandung hingga saat ini sudah banyak kasus-kasus
menjadi suatu pertimbangan yang sangat yang menimpa sejumla perusahaan,
penting dalam mengambil keputusan termasuk PMA, yakni munculnya secara
berinvestasi. Berbagai macam risiko tiba-tiba sekelompok masyarakat meminta
investasi yang dihadapi perusahaan, mulai kembali tanah yang telah dibeli dan
dari ketidakpastian pasar atau respons- ditempati oleh perusahaan - perusahaan

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 48


Kebijakan Investasi dan Pemulihan Usaha

Tabel 3.
Posisi Relatif dari Indonesia untuk Kualitas Infrastruktur
dalam the Global Competitiveness Report 2004-2005.

Indikator Peringkat (total


104 negara)
Kualitas keseluruhan 44
Pembangunan jalan raya 28
Kualitas pelabuhan 40
Kualitas transpor udara 61
Suplai listrik 68
Efisiensi kantor pos 57
Kualitas telepon/fax 85
Jaringan telepon per 1000 penduduk (data, 86
2003)
Sumber: WEF (2005).

tersebut dengan mengaku bahwa pada era negara Eropa Timur dan bukas Uni Soviet
Soeharto mereka tidak mendapatkan dari Johnson dkk. (2002) menunjukkan
kompensasi yang sesuai dalam penjualan bahwa perusahaan-perusahaan yang
tanah mereka tersebut. Hal ini tentu sangat menganggap bahwa hak-hak properti
mengganggu perusahaan-perusahaan mereka berada dalam keadaan aman
tersebut, dan bahkan bisa mengamcam menginvestasi kembali keuntungannya
bukan saja kelangsungan kegiatan produksi sebesar 14 hingga 40 persen lebih banyak
tetapi juga keamanan properti mereka. Oleh dibandingkan perusahaan-perusahaan yang
karena itu, memberikan lebih banyak masih ragu mengenai keamanan properti
kepastian terhadap hak-hak atas tanah dan mereka. Suatu studi lintas negara dari
bentuk properti lainnya sangat penting, Kaufmann, dkk. (2003) menunjukkan
karena hal ini akan membantu usaha bahwa hak milik atas properti yang aman
pemerintah mendorong investasi di dalam merupakan salah satu titik berat bagi
negeri, bukan saja karena akan memberi pertumbuhan ekonomi, yang berarti sangat
rasa aman bagi si investor namun juga akan penting sebagai salah satu determinan dari
mempermudah akses terhadap pendanaan. pertumbuhan investasi.
Sudah banyak bukti yang mendukung Hal lain yang juga masih sangat buruk
bahwa kepastian akan hak-hak properti di Indonesia namun termasuk salah satu
sangat berpengaruh terhadap kegiatan faktor penting dalam memperngaruhi risiko
investasi. Misalnya, studi kasus di sejumlah investasi/berusaha adalah sistem

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 49


Kebijakan Investasi dan Pemulihan Usaha

pengadilan. Hasil survei mengenai iklim memberikan insentif fiskal yang dikenal
investasi dari Bank Dunia (2005) dengan sebutan tax holiday.
menunjukkan bahwa ini merupakan Permasalahannya di sini adalah bahwa
masalah serius di banyak negara-negara belum ada bukti empiris kuat di negara
sedang berkembang (NSB), di mana manapun juga bahwa insentif fiskal tersebut
perusahaan-perusahaan, khususnya asing memang merupakan determinan utama
(PMA), tidak memiliki kepercayaan pertumbuhan investasi. Dalam kata lain,
terhadap pengadilan dalam menangani instrumen kebijakan investasi ini hanya
berbagai masalah yang terkait dengan dunia berfungsi sebagai faktor komplementer
usaha, termasuk dalam menegakkan hak- terhadap banyak faktor lainnya yang telah
hak atas properti yang mereka miliki. Oleh disebut di atas.
karena itu, salah satu usaha yang harus
dilakukan pemerintah Indonesia dalam
usaha meningkatkan investasi dan 5. Lingkungan Kelembagaan dan
pemulihan usaha adalah memperbaiki Kebijakan
sistem pengadilan. Usaha ini harus memiliki Pada bagian pertama dari tulisan ini
prioritas yang tinggi. telah dijelaskan bahwa kegiatan bisnis
Pembatasan bagi persaingan atau termasuk investasi dipengaruhi oleh dua
membiarkan pasar dikuasai tidak secara macam linkungan yakni linkungan langsung
alamiah oleh satu atau segelintir perusahaan dan lingkungan yang lebih luas. Pemerintah
juga akan menghilangkan kesempatan bagi mempunyai peran yang sangat penting
munculnya usaha-usaha baru atau sebagai agen utama yang membentuk
pertumbuhan usaha-usaha yang ada yang lingkungan yang lebih luas (terkecuali
bukan termasuk di dalam kelompok faktor-faktor eksternal, sosial dan kultur,
perusahaan-perusahaan yang memonopoli serta iklim dan lingkungan alam) sebagai
pasar, yang selanjutnya berarti menghambat kondisi-kondisi dasar untuk pembangunan
pertumbuhan investasi. secara keseluruhan, yang mempengaruhi
kehidupan masyarakat sehari-hari, termasuk
Dari uraian di atas, jelas bahwa
kegiatan bisnis.
kebijakan investasi tidak berdiri sendiri;
efeknya jelas tidak akan berarti jika tidak Melihat lingkungan usaha yang sangat
ada dukungan dari kebijakan-kebijakan kompleks seperti yang telah digambarkan
lainnya yang secara keseluruhan sebelumnya, maka untuk meningkatkan
menciptakan iklim investasi yang kondusif. investasi atau memulihkan kegiatan usaha di
Masalahnya sekarang di Indonesia adalah dalam negeri, pemerintah tidak bisa hanya
seringnya terjadi ketidak harmonisan antar mengandalkan satu macam kebijakan, atau
department dalam mengeluarkan suatu suatu kebijakan yang terisolasi dari
kebijakan. Pada era 90-an sempat muncul kebijakan-kebijakan lainnya. Seperti telah
perdebatan soal perlunya pemerintah dijelaskan beberapa kali sebelumnya,

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 50


Kebijakan Investasi dan Pemulihan Usaha

diperlukan campuran dari berbagai macam kelembagaan dan kebijakan. Salah satunya
kebijakan yang sangat kompleks dan sangat adalah kualitas SDM yang erat kaitannya
terkait satu sama lainnya. Namun demikian, dengan sistem pendidikan yang berlaku.
secara garis besar, kebijakan-kebijakan Walaupun diakui bahwa pendidikan
tersebut harus menciptakan tiga hal, yakni merupakan suatu faktor yang sangat kritis
kondisi ekonomi makro, sistem-sistem bagi pembangunan, sistem pendidikan di
politik dan hukum, dan pelayanan- Indonesia hingga saat ini masih sangat tidak
pelayanan pemerintah dasar yang baik. mendukung peningkatan kualitas SDM.
Semua ini sangat dibutuhkan untuk Data dari Biro Pusat Statistik (BPS)
menciptakan fondasi ekonomi atau aturan menunjukkan bahwa hingga saat ini
bermain bagi kegiatan bisnis. sebagian besar dari angkatan atau tenaga
kerja Indonesia masih berpendidikan
Dari penjelasan di atas, tidak diragukan
sekolah dasar (SD); bahkan masih banyak
bahwa lingkungan kelembagaan dan
dari golongan tersebut yang tidak
kebijakan berpengaruh sangat besar bagi
menamatkan pendidikan dasar. Indonesia
terciptanya tiga hal tersebut, atau suatu
juga merupakan negara yang sangat kecil
lingkungan usaha yang kondusif. Dalam
dibandingkan banyak negara lain dengan
kata lain, suatu lingkungan usaha yang
jumlah penduduk jauh lebih sedikit
kondusif hanya bisa tercapai jika lingkungan
daripada di Indonesia dalam hal
kelembagaan dan kebijakan juga
pengeluaran pemerintah untuk pendidikan
kondusif. Bahkan suatu lingkungan yang
6
dan kegiatan penelitian dan pengembangan
kondusif lebih penting, sebagai suatu
(R&D) baik sebagai bagian dari PDB
keharusan, bagi perkembangan bisnis,
maupun APBN (anggaran pendapatan dan
daripada interbensi-intervensi langsung dari
belanja negara).
pemerintah.
Laporan dari WEF (2004) menunjukkan
Walaupun sejak reformasi ekonomi dan
bahwa dari 104 negara yang masuk di dalam
politik setelah krisis ekonomi 1997/98
survei, peringkat Indonesia mengenai
pemerintah telah menunjukkan suatu usaha
pembangunan pendidikan dan teknologi
yang serius untuk memperbaiki lingkungan
sangat rendah. Seperti dapat dilihat di Tabel
kelembagaan dan kebijakan di dalam negeri,
4, Indonesia berada pada posisi ke 35 untuk
namun hasilnya masih jauh dari optimal
kualitas dari sistem pendidikan (yakni
bagi kelancaran pertumbuhan bisnis.
apakah sistem pendidikan yang berlaku
Banyak indikator yang dapat digunakan
memenuhi kebutuhan dari suatu negara)
untuk mengukur kondisi lingkungan
dan berada pada peringkat ke 48 untuk
kualitas dari sekolah public (yakni apakah
6 Pembahasan lebih dalam dapat dilihat di,
antara lain, Acemoglu dan Johnson (2003), kualitas di suatu negara sama seperti
Acemoglu dkk. (2002), Rodrik dkk. (2002), kualitas terbaik di dunia). Hal yang paling
Levine (1997), Knack dan Keefer (1995), menarik dari laporan ini adalah yang
Kaufmann dkk. (2003), Glaeser dan Shleifer
(2002), dan Glaeser dkk. (2004). berkaitan dengan jumlah anak yang sedang

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 51


Kebijakan Investasi dan Pemulihan Usaha

mengikuti pendidikan dasar (primary school pemerintah Indonesia untuk meningkatkan


enrollment), yang mana keadaan Indonesia investasi, khususnya dari PMA, dengan
tidak terlalu buruk. Memang harus diakui pemberian berbagai macam insentif tidak
bahwa kebijakan pemerintah selama ini akan berdampak optimal jika Indonesia
mengenai wajib pendidikan dasar, tidak memiliki SDM berpendidikan tinggi.
Indonesia berhasil meningkatkan jumlah
Dalam hal kesiapan teknologi, yakni
anak-anak yang mengikuti pendidikan
apakah tingkat kesiapan teknologi dari
dasar. Namun demikian, dalam hal
suatu negara jauh dibawah negara-negara
pendidikan lebih tinggi, posisi Indonesia
lain, atau termasuk salah satu pemimpin
sangat buruk. Padahal, salah satu faktor
dunia, posisi Indonesia juga rendah, yang
penentu daya saing suatu negara; bahkan
mencerminkan pembangunan teknologi
saat yang menjadi salah satu faktor
hingga sekarang ini di Indonesia masih
keunggulan kompetitif yang menarik PMA
relatif buruk. Kondisi teknologi ini seperti
adalah pendidikan lebih tinggi dari tenaga
halnya dengan kondisi pendidikan yang
kerja. Zaman sekarang ini, dengan
masih buruk tidak lepas dari kondisi dari
kemajuan teknologi yang pesat yang
lingkungan kelembagaan dan kebijakan
membuat biaya transportasi menjadi lebih
yang selama ini belum optimal mendukung
murah dan semakin banyak munculnya
pengembangan pendidikan dan teknologi di
industri-industri footloose yang memakai
Indonesia.
bahan baku sintesis, usaha-usaha

Tabel 4:
Posisi Relatif dari Indonesia untuk Pengembangan Pendidikan dan Teknologi
dalam the Global Competitiveness Report 2004-2005.

Indikator Peringkat (total 104


negara)
Kualitas dari sistem pendidikan 35
Kualitas dari sekolah-sekolah negeri 48
Kualitas dari pendidikan matematik dan sains 57
Penyebaran dalam pelayanan kesehatan berkualitas 36
Tingkat (berdasarkan data sekunder 2001, atau
tahun-tahun terakhir yang ada)
-primary enrollment 23
-secondary enrollmente) 81
-tertiary enrollment 74
Kesiapan teknologi 57
Sumber: WEF (2004).
Selain masalah keterbatasan tenaga kerja berpendidikan dan teknologi moderen

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 52


Kebijakan Investasi dan Pemulihan Usaha

sesuai kebutuhan pembangunan usaha atau (input dan output) yang tidak terdistorsi
pertumbuhan investasi di Indonesia secara bersama sangat menentukan
terhambat oleh lingkungan ekonomi makro lingkungan berusaha di dan daya saing dari
atau pasar yang terdistorsi dan keterbatasan suatu negera. Dari laporan yang sama,
infrastruktur yang baik, bukan hanya dalam Tabel 5 menunjukkan peringkat dari
fisik tetapi juga non-fisik seperti sistem Indonesia dalam sejumlah indikator
perbankan. Sedangkan, sudah merupakan lingkungan ekonomi makro yang sangat
kesepakatan umum, seperti juga tercantum krusial bagi pertumbuhan bisnis/investasi,
di dalam model diamond yang terkenal seperti pembangunan sektor keuangan,
dari Porter (1998a,b), bahwa kualitas SDM soundness dari perbankan, akses ke kredit,
dan infrastruktur yang baik dan kerja pasar ketersediaan modal ventura, dan seterusnya.

Tabel 5.
Posisi Relatif dari Indonesia untuk Lingkungan Ekonomi makro
dalam the Global Competitiveness Report 2004-2005.

Indikator Peringkat
(total 104 negara)
Kecanggihan pasar keuangan 40
Kondisi perbankan 83
Ketersediaan modal ventura 20
Akses ke kredit 64
Akses ke pasar saham lokal 65
Peraturan perdagangan sekuritas 70
Efektivitas dari undang -undang kebangkrutan 53
Rintangan-rintangan perdagangan terselubung 65
Biaya impor peralatan/mesin dari luar negeri 52
Dampak bisnis dari rintangan-rintangan perdagangan
domestic 69
Dampak bisnis dari rintangan-rintangan perdagangan
luar negeri 20
Dampak bisnis dari prosedur-prosedur pabean 51
Dampak bisnis dari peraturan-peraturan mengenai
PMA 86
Beban pajak 7
Efisiensi dari prosedur-prosedur pabean 37
Keterbukaan dari regim pabean 44
Usaha-usaha terorganisasi untuk memperbaiki daya
saing 27
Sumber: WEF (2004).
Selanjutnya, masih berdasarkan laporan dari WEF (2004), Tabel 6 menyajikan posisi

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 53


Kebijakan Investasi dan Pemulihan Usaha

relatif dari Indonesia dalam beberapa legal bagi pelaku usaha untuk menangani
indikator dari kelembagaan publik yang perselisihan-perselisihan bsinis dan
sangat relevan bagi pertumbuhan kegiatan menolak legalitas dari tindakan-tindakan
usaha atau investasi. Seperti dapat dilihat, atau peraturan-peraturan pemerintah,
dalam hal kemandirian judicial dari Indonesia berada pada posisi ke 51. Untuk
pengaruh-pengaruh politik dari anggota- dua indikator berikut yang merupakan salah
anggota pemerintah (misalnya menteri dan satu penentu krusial bagi pertumbuhan
presiden), politikus, masyarakat, dan investasi, Indonesia juga masih buruk
perusahaan, Indonesia berada pada kinerjanya, yakni hak-hak property dan
peringkat ke 58. Dalam hal kerangka kerja perlindungan kekayaan intelektual.

Tabel 6:
Posisi relatif Indonesia untuk kelembagaan publik dalam the Global
Competitiveness Report 2004-2005.

Indikator Peringkat (total 104


negara)
Kemandirian Judisial 58
Efisiensi dari kerangka kerja legal 51
Hak Properti 67
Perlindungan kekayaan intelektual 47
Pemborosan dari pengeluaran pemerintah 25
Beban dari regulasi pemerintah pusat 15
Beban dari regulasi pemerintah daerah 29
Tingkat birokrasi 85
Tingkat dan efek dari perpajakan 27
Pembayaran tidak regular/ ilegal dalam ekspor dan impor 75
Pembayaran tidak reguker.ilegal dalam pemakaian utilitas
publik 70
Pembayaran tidak regular/ ilegal dalam pembayaran pajak 76
Pembayaran tidak regular.ilegal dalam kontrak publik 46
Pembayaran tidak regular/ ilegal dalam aplikasi kredit 80
Pembayaran tidak regular/ ilegal dalam keputusan judisial 69
Biaya-biaya bisnis dari pembayaran-pembayaran non-
reguler.ilegal 81
Sumber: WEF (2004).

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 54


Setahun Kinerja Kabinet Indonesia Bersatu: Pergeseran Visi, Kesalahan
Manajemen dan Kemerosotan Ekonomi

Perihal pemborosan atau efisiensi dalam Dalam hal pembayaran ekstra tidak
pengeluaran pemerintah, yakni apakah terdokumentasi atau penyuapan yang
pemerintah menyediakan barang -barang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan ekspor
dan jasa-jasa kebutuhan pokok bagi dunia dan impor, dan pemakaian utilitas publik,
usaha yang tidak disediakan oleh pasar, peringkat Indonesia juga sangat rendah, dan
termasuk infrastruktur dasar, posisi hal ini bisa merupakan salah satu masalah
Indonesia juga tidak baik, tetapi juga terlalu yang harus dihilangkan untuk mencapai
buruk, dalam arti posisinya masih masuk efektivitas dari kebijakan-kebijakan
dalam 50% pertama dari 104 negara yang bertujuan memulihkan usaha dan
masuk dalam sampel penelitian. Sementara, meningkatkan investasi di Indonesia.
dalam hal beban yang harus ditanggung
oleh pelaku bisnis dari regulasi-regulasi
pemerintah pusat, yakni dalam memenuhi 6. Kesimpulan
persyaratan-persyaratan administrasi Dari pembahasan di atas jelas bahwa
berkaitan dengan perizinan, pelaporan, pemulihan usaha atau pertumbuhan
dsb.nya, Indonesia berada pada posisi lebih investasi adalah suatu permasalahan yang
baik dibandingkan beban berkaitan dengan sangat kompleks, karena kegiatan usaha
peraturan-peraturan pemerintah daerahha, juga berada di dalam suatu linkungan yang
paling tidak menurut pengusaha-pengusaha sangat kompleks. Sulit sekali memastikan
Indonesia yang masuk di dalam sampel bahwa lambatnya pertumbuhan investasi di
survei. Perbedaan ini mengindikasikan Indonesia selama ini sejak krisis ekonomi
bahwa distorsi pasar domestik lebih 1997/ 98 hanya semata-mata karena tidak
disebabkan oleh regulasi-regulasi dari adanya kepastian hukum, atau lebih
pemerintah daerah daripada pemerintah disebabkan oleh infrastruktur yang buruk.
pusat. Dalam kata lain, pemulihan usaha atau
Untuk tingkat birokrasi, peringkat peningkatan investasi di Indonesia
Indonesia sangat rendah, yang memberi ditentukan oleh suatu kombinasi yang
kesan bahwa tingkat efisiensi dari birokrasi sangat kompleks dari sekian banyak factor,
di Indonesia sangat rendah dan ini tidak hanya ekonomi tetapi juga social,
merupakan salah satu sumber penting dari politik, lingkungan alam, geografi,
iklim bisnis yang distortif in Indonesia. demografi dll, dan sebagian dari factor-
Faktor lainnya yang juga sangat faktor tersebut saling terkait satu sama
berpengaruh dalam arti bisa merupakan lainnya. Tentu, banyaknya faktor-faktor
insentif atau disinsentif bagi keinginan tersebut, intensitas pengaruh dari masing -
untuk melakukan bisnis atau investasi masing faktor secara individu dan interaksi
adalah pajak, dan untuk ini Indonesia antar faktor berbeda menurut kegiatan
berada pada posisi ke 27, yang artinya ekonomi dan lokasi.
secara relatif dibandingkan banyak negara Implikasinya terhadap kebijakan
lain di dalam sampel, pajak di Indonesia investasi adalah bahwa kebijakan investasi
bukan merupakan sumber distortif yang
saja tidak akan membuat investasi
besar terhadap iklim bisnis.

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 55


Setahun Kinerja Kabinet Indonesia Bersatu: Pergeseran Visi, Kesalahan
Manajemen dan Kemerosotan Ekonomi

meningkat, tetapi harus didukung oleh Distribution, Quarterly Journal of


kebijakan-kebijakan lainnya tidak hanya Economics, 117(4):1231-94.
dalam bidang ekonomi tetapi juga dalam
Aghion, P., R. Burgess, S. Redding, dan F.
bidang-bidang lain. Contoh yang paling
Zilibotti (2003), The Unequal Effects
sederhana namun jelas sekali adalah usaha
of Liberalization: Theory and Evidence
BKPM dalam menarik PMA di misalnya
from India, research paper, London:
industri tekstil dan pakaian jadi harus
Center for Economic Policy Research.
didukung oleh banyak instansi pemerintah
lainnya seperti usaha serius dari kepolisian Ahluwalia, M. (2002), Economic Reforms
untuk membrantas impor ilegal pakaian in India Since 1991: Has Gradualism
jadi, kebijakan dari Departemen Industri Worked?, Journal of Economic Perspective,
dengan memprioritaskan industri tekstil dan 16(3): 67-88.
pakaian jadi sebagai industri kunci/ andalan Chen, S. dan Y. Wang (2001), Chinas
dalam strategi pembangunan industri di Growth and Poverty Reduction:
Indonesia, kebijakan dari Departemen Trends between 1990 and 1999,
Perdagangan untuk tidak mengenakan bea World Bank Policy Research Working
masuk (yang terlalu tinggi) bagi impor Paper Series 2651, Washington, D.C.:
mesin pertekstilan atau bahan baku yang World Bank.
sangat diperlukan namun belum bisa dibuat
di dalam negeri, kebijakan dari Departemen Glaeser, E.L., dan A. Shleifer (2002), Legal
Origins, Quarterly Journal of Economics,
Keuangan untuk tidak menaikan pajak
117(4): 1193-229.
penambahan nilai, dan kebijakan dari Bank
Indonesia untuk menstabilkan nilai tukar Glaeser, E.L., R. La Porta, F. Lpez-de-
rupiah, suku bunga, dan inflasi serta tidak Silanes, dan A. Shleifer (2004), Do
mengeluarkan kebijakan yang merintangi Institutions Cause Growth?, NBER
kebebasan arus modal keluar-masuk. Working Paper Series 10568,
Cambridge, Mass.: National Bureau of
Economic Research.
Daftar Pustaka
Johnson, S., J. McMillan, dan C. Woodruff
Acemoglu, D. dan S. Johnson (2002), Property Rights and Finance,
(2003),Unbundling Institutions, American Economic Review, 92(5): 1335-
NBER Working Paper Series 9934, 56.
Cambridge, Mass.: National Bureau of
Kaufmann, D., A. Kraay, dan M. Mastruzzi
Economic Research.
(2003), Governance Matters III:
Acemoglu, D., S. Johnson dan James A. Governance Indicators for 1996-2002,
Robinson (2002), Reversal of Fortune: World Bank Policy Research Report
Geography and Institutions in the Series 3106, Washington, D.C.: World
Making of the Modern World Income Bank.

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 56


Setahun Kinerja Kabinet Indonesia Bersatu: Pergeseran Visi, Kesalahan
Manajemen dan Kemerosotan Ekonomi

Knack, S. dan P. Keefer (1995), Cambridge, Mass.: Harvard University.


Institutions and Economic
Performance: Cross-Country Tests
Using Alternative Institutional Rodrik, D., A. Subramanian, dan F. Trebbi
Measures, Economics and Politics, (2002), Institutions Rule: The Primacy of
7(3):207-227 Institutions over Geography and Integration in
Economic Development, Cambridge, Mass:
Levine, R. (1997), Financial Development
Harvard University Press.
and Economic Growth: Views and
Agenda, Journal of Economic Literature, Stern, N.H. (2002), A Strategy for
35(2):688-726. Development, Washington, D.C.: World
Bank.
Porter, M.E. (1998a), The Competitive
Advantage of Nations: With a New World Bank (2004), Doing Business in 2005:
Introduction, New York: The Free Press. Removing Obstacles to Growth,
Washington, D.C.
Porter, M.E. (1998b), On Competition,
Boston: Harvard Business School World Bank (2005a), Iklim Investasi yang
Press.WEF (2004), The Global Lebih Baik bagi Setiap Orang, Laporan
Competitiveness Report 2004-2005, Oxford Pembangunan Dunia 2005, The World
University Press. Bank, Jakarta: Penerbit Salemba
Empat.
Qian, Y. (2003), How Reform Worked in
China, dalam D. Rodrik (ed.), In Search World Bank (2005b), Averting an
of Prosperity: Analytic Narratives on Infrastructure Crisis, Infrastructure
Economic Growth, Princeton, N.J.: Policy Brief, January, Jakarta
Princeton University Press. Young, A. (2000), Gold into Base Metals:
Rodrik, D. dan A. Subramanian (2004), Productivity Growth in the Peoples
From Hindu Growth to Productivity Republic of China during the Reform
Surge: The Mystery of the Indian Period, Journal of Political Economy,
Growth Transition, mimeo, 111(6):1220-61.

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 57


Setahun Kinerja Kabinet Indonesia Bersatu: Pergeseran Visi, Kesalahan
Manajemen dan Kemerosotan Ekonomi

Setahun Kinerja Kabinet Indonesia Bersatu:


Pergeseran Visi, Kesalahan Manajemen
dan Kemerosotan Ekonomi
Hendri Saparini

Abstract

This article evaluates the performance of The Economic Team of Kabinet Indonesia Bersatu. Poor
performance of the Indonesian economy is primarily a result of shifting in vision and mission of The Economic
Team, for away from the original platform of SBY JK. During the election campaign, the pair strongly
emphasized on generating new employment and alleviating poverty. The president is now urged to restore the
confidence, reshape the direction of economic development policy and improve the policy management
particularly those who do not perform well during this fist year

Managing Director Econit

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 58


Setahun Kinerja Kabinet Indonesia Bersatu: Pergeseran Visi, Kesalahan
Manajemen dan Kemerosotan Ekonomi

Pendahuluan evaluasi juga semakin didorong oleh fakta


dan kondisi di lapangan yang menunjukkan
Satu tahun merupakan waktu yang
terus terjadinya kemerosotan kinerja di
sangat tepat untuk melakukan evaluasi
bidang ekonomi. Berbagai polling yang
terhadap kinerja dan pola pengelolaan
dilakukan sejak awal pemerintahan bahkan
kebijakan sebuah pemerintahan baru.
memberikan kesimpulan yang selalu sama
Setelah pemerintahan berjalan satu tahun,
yakni bahwa bidang ekonomi memiliki
maka arah pembangunan sudah semakin
kinerja paling mengecewakan. Rendahnya
jelas. Demikian juga telah cukup banyak
kinerja tim ekonomi kabinet ditunjukkan
fakta-fakta kebijakan yang dapat digunakan
dengan semakin memburuknya beberapa
sebagai indikator dalam melakukan evaluasi.
indikator makroekonomi utama. Jumlah
Bulan Oktober 2005, pemerintahan pengangguran telah meningkat dari 9,9
SBY-JK tepat berumur satu tahun. Berbagai persen pada bulan Agustus 2004 menjadi
kalangan masyarakat menuntut untuk sebanyak 10,3 pesen pada bulan Februari
dilakukan evaluasi secara menyeluruh 2005. Sementara kemiskinan terus
terutama terhadap kinerja pemerintah di bertambah dari sekitar 36 juta orang pada
bidang ekonomi. Salah satu faktor yang November 2004 menjadi sebanyak 40 juta
mendorong dilakukannya evaluasi secara orang pada Agustus 2005. Jumlah ini
sungguh-sungguh adalah janji Presiden diperkirakan akan meningkat tajam akibat
Susilo Bambang Yudoyono dan Wapres kenaikan harga BBM sebesar rata-rata
Jusuf Kalla sendiri, yang disampaikan pada 126%. Sebanyak 5,5 juta keluarga yang
awal pemerintahannya. Bila kita mengingat tergolong mendekati miskin diperkirakan
kembali reaksi negatif masyarakat terhadap akan masuk golongan miskin akibat
kabinet yang dibentuk pasangan terpilih kenaikan harga BBM yang sangat tinggi.
SBY-JK pada bulan Oktober 2004, maka
Artikel ini membahas dua hal penting
janji untuk melakukan evaluasi terhadap
yakni memaparkan berbagai fakta
kinerja kabinet merupakan respon positif
kemerosotan ekonomi serta melakukan
dari SBY-JK atas berbagai protes dan
evaluasi terhadap pola pengelolaan
kekecewaan masyarakat terhadap komposisi
kebijakan tim ekonomi kabinet SBY-JK
anggota kabinet. Tim ekonomi SBY-JK
selama satu tahun pemerintahan.
dinilai masyarakat lebih mencerminkan
kepentingan kelompok bisnis negatif dan
kepentingan internasional serta kurang Kinerja ekonomi: Dari kebangkitan
memperhatikan kapabilitas. Sehingga menuju kemerosotan
masyarakat berkesimpulan bahwa tim
Dalam melakukan evaluasi di bidang
ekonomi tidak mencerminkan visi- misi
ekonomi, indikator obyektif yang paling
SBY-JK yang memprioritaskan peningkatan
tepat untuk digunakan adalah kinerja
kesejahteraan petani dan kelompok
ekonomi. Ternyata, selama satu tahun
masyarakat bawah.
pemerintahan, disamping terjadi
Disamping alasan janji, tuntutan penambahan jumlah pengangguran dan

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 59


Setahun Kinerja Kabinet Indonesia Bersatu: Pergeseran Visi, Kesalahan
Manajemen dan Kemerosotan Ekonomi

angka kemiskinan ternyata kinerja ekonomi kebijakan secara substansial. Dengan


pemerintahan SBY-JK ditandai dengan demikian janji perubahan dengan
bergejolaknya indikator-indikator makro memprioritas pembangunan pada
lainnya. Sebuah kenyataan yang sulit penciptaan lapangan kerja dan pengurangan
diterima karena pemerintahan SBY-JK angka kemiskinan dapat diwujudkan.
memiliki modal yang sangat besar untuk
Faktanya, disamping membengkaknya
mencapai kebangkitan ekonomi. Pasangan
angka peng angguran dan kemiskinan,
SBY-JK yang terpilih sebagai presiden dan
berbagai data menunjukkan kondisi
wakil presiden dalam pemilu yang sangat
ekonomi semakin memburuk yang ditandai
demokratis, memperoleh dukungan yang
dengan melemahnya berbagai indikator
luas dari masyarakat baik dalam maupun
makro. Inflasi yang pada bulan September
luar negeri. Ditambah dengan kondisi
2005 telah mencapai 9,1%, diperkirakan
politik dalam negeri yang cukup stabil,
akan terus meningkat hingga sebesar 14-
seharusnya faktor-faktor tersebut sangat
15% pada akhir tahun. Inflasi tinggi ini
cukup bagi tim ekonomi SBY-JK untuk
selain akibat kenaikan harga BBM yang
dapat meningkatkan stabilitas dan memacu
tanpa didukung kesiapan kebijakan
pemulihan ekonomi nasional.
antisipasi juga diakibatkan oleh kelangkaan
Dengan berbagai kondisi yang sangat BBM dan kepanikan masyarakat akibat
menguntungkan tersebut, semestinya sangat berbagai pernyataan yang berbeda-beda dari
besar peluang bagi tim ekonomi SBY-JK tim ekonomi seputar spekulasi waktu dan
untuk melakukan terobosan dan perubahan besaran rencana kenaikan harga BBM.

Grafik 1.
Pertumbuhan Investasi (YoY)

Pertumbuhan Investasi (YoY)


25%

19.7%
20%
18.3%

15% 14.1%
13.2%
13.1%

11.5%
10%

5%

0%
Q1-04 Q2 Q3 Q4 Q1-05 Q2
Sumber: BPS

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 60


Setahun Kinerja Kabinet Indonesia Bersatu: Pergeseran Visi, Kesalahan
Manajemen dan Kemerosotan Ekonomi

pemerintah segera menaikkan harga BBM


Nilai tukar rupiah sejak November
pun tidak terbukti. Apresiasi rupiah ternyata
2004 telah mengalami depresiasi secara
tidak terjadi meskipun harga BBM telah
signifikan yakni sebesar 11%. Klaim
dinaikkan dengan sangat tinggi. Hal ini
pemerintah bahwa melemahnya nilai tukar
terjadi karena melemahnya rupiah memang
diakibat oleh faktor eksternal a.l. tingginya
tidak hanya diakibatkan oleh defisit
harga minyak dunia dan tingginya suku
anggaran tetapi juga akibat melambatnya
bunga the Fed, tidak sepenuhnya benar
pertumbuhan ekspor dan investasi asing.
karena pada periode yang sama mata uang
Pertumbuhan ekspor barang dan jasa
negara-negara Asia lainnya seperti Won-
(dalam PDB) terus mengalami perlambatan
Korea, Bath-Thailand dan Peso-Philipina
dari 17,1 persen pada kuartal III-2004
ternyata justru mengalami penguatan
menjadi hanya 7,3 persen pada kuartal II-
sebesar 9,3 persen 1,1 persen dan 0,9
2005. Sejak kuartal III-2004, pertumbuhan
persen. Alasan lain, kenaikan suku bunga
investasi (dalam PDB) terus mengalami
the Fed sebenarnya bukan informasi baru
penurunan dari 19,7 persen menjadi 13,2
sehingga semestinya sudah dapat dilakukan
persen.
langkah antisipasi.
Keyakinan pemerintah bahwa
penguatan rupiah akan terjadi bila

Grafik 2.
Pertumbuhan Investasi (YoY

Pertumbuhan Investasi (YoY)


25%

19.7%
20%
18.3%

15% 14.1%
13.2%
13.1%

11.5%
10%

5%

0%
Q1-04 Q2 Q3 Q4 Q1-05 Q2
Sumber: BPS

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 61


Setahun Kinerja Kabinet Indonesia Bersatu: Pergeseran Visi, Kesalahan
Manajemen dan Kemerosotan Ekonomi

Penurunan kinerja ekspor dan investasi ekonomi hanya merupakan pencatatan


pada akhirnya berdampak pada terhadap existing investment akibat
mengakibatkan defisit transaksi berjalan pemberlakuan kebijakan pemutihan ijin
(current account deficit) dan defisit transaksi usaha tetap hingga akhir tahun 2005. Bila
modal (capital account deficit) pada kuartal II hal ini yang terjadi maka dapat dipahami
2005 terjadi. Klaim tim ekonomi bahwa bila klaim tersebut tidak didukung data baik
telah terjadi pertumbuhan realisasi investasi dalam pencatatan Bank Indonesia maupun
yang sangat tinggi, sangat sulit diterima BPS.
karena tidak terdapat data dan fakta
Upaya otoritas moneter untuk
pendukung baik dalam pencatatan transaksi
menahan pelemahan rupiah dengan
modal maupun pada perhitungan
melakukan intervensi secara terus menerus
pembentukan modal dalam perhitungan
bahkan telah mengakibatkan berkurangnya
Produk Domestik Bruto (PDB).
cadangan devisa sebesar USD 7 miliar.
Ternyata klaim terjadinya investasi Hanya dalam waktu 7 bulan, cadangan
tinggi memang tidak didukung fakta devisa yang pada bulan Mei 2005 masih
masuknya investasi baru. Lonjakan tersebut sekitar USD 37 miliar telah merosot tajam
terjadi hanya akibat pemberian ijin usaha sehingga pada bulan September 2005 hanya
tetap (IUT) bagi kegiatan bisnis yang sekitar USD 30 miliar. Minimnya gebrakan-
selama sudah beroperasi tapi masih gebrakan pada kebijakan fiskal semakin
menggunakan izin usaha sementara. Artinya memberatkan sektor moneter dalam
investasi tinggi yang diklaim oleh tim menahan depresiasi rupiah.

Grafik. 3.
Laju Inflasi (YoY)

Inflasi YoY
10%

9.1%
8.8%
9%

8.3%
8%

7.3%

7%

6% 6.2%

5%
Oct-04 Nov Dec Jan-05 Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep
Sumber: BPS

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 62


Setahun Kinerja Kabinet Indonesia Bersatu: Pergeseran Visi, Kesalahan
Manajemen dan Kemerosotan Ekonomi

Permasalahan akhirnya semakin diperkirakan Bank Indonesia akan kembali


meluas. Melemahnya berbagai indikator menaikkan tingkat suku bunga yang pada
makro pada akhirnya telah mengakibatkan bulan September 2005 telah mencapai 11
menurunnya trust & confidence masyarakat. persen. Angka ini jauh lebih tinggi
Hal ini diindikasikan dari anjloknya Nilai dibandingkan angka asumsi APBN 2005
Aktiva Bersih (NAB) Reksadana dengan yang hanya sebesar 8 persen. Dampak
total penarikan (net-redemption) mencapai Rp lanjutan yang akan terjadi adalah tingginya
70 triliun sejak Maret 2005 hingga bulan suku bunga SBI pada akhirnya akan
September 2005. Kondisi ini juga dibarengi menekan perbankan untuk menaikkan suku
dengan tingginya tekanan terhadap yield bunga kredit sehingga dikawatirkan NPL
obligasi pemerintah. Apabila pemerintah akan meningkat karena sektor riil akan
tidak segera melakukan langkah-langkah mengalami kesulitan dalam pembayaran
konkrit di sisi fiskal maka dapat kredit.
diperkirakan NAB akan semakin tertekan.
Dengan perkembangan inflasi tinggi
dan nilai tukar rupiah yang masih tertekan,

Grafik 4.
Pertumbuhan Ekspor (YoY) (%)

Pertumbuhan Ekspor YoY (%)


18 40
Ekspor 35
16 Barang
(skala
14 kanan)
30

25
12
20
10
15
8
10
6 Ekspor Barang & Jasa
(dalam PDB) 5
4
0
2 -5
0 -10

-2 -15
Q1-04 Q2 Q3 Q4 Q1-05 Q2
Sumber: BPS

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 63


Setahun Kinerja Kabinet Indonesia Bersatu: Pergeseran Visi, Kesalahan
Manajemen dan Kemerosotan Ekonomi

Disamping meningkatnya beban biaya produksi dan menurunnya produktifitas. Di


bunga, berbagai permasalahan makro sisi permintaan, dengan tingginya inflasi
ekonomi pada akhirnya berakibat negatif telah menurunkan daya beli masyarakat.
bagi sektor riil. Kenaikan harga BBM yang Konsumsi swasta yang pada tahun 2004
terjadi 3 kali dalam setahun bagi industri tumbuh sekitar 5,1%, pada masa
tanpa diimbangi dengan insentif kebijakan pemerintahan SBY-JK mengalami
yang komprehensif dan terfokus di bidang perlambatan pertumbuhan dengan hanya
perdagangan, industri maupun fiskal, telah tumbuh sekitar 3-3.5%. Disamping itu,
memberikan tekanan berat para pelaku data-data indeks produksi, nilai tukar
usaha. Sektor riil mendapat tekanan dari petani, daya beli masyarakat, pengangguran,
dua sisi. Di sisi produksi sektor rill dll, pun tidak menunjukkan adanya
mendapat tambahan beban yang cukup perbaikan.
signifikan dengan meningkatnya biaya

Grafik 5.
Perbandingan Rupiah dengan Mata Uang Asia Lainya
Terhadap US dolar (Perubahan selama satu tahun terkhir)

Perbandingan Rupiah dgn Mata Uang Asia lainnya


terhadap US dolar
(Perubahan selama satu tahun terakhir)
15%

10% 9.3%

5%

0.9% 1.1%
0%

-5%

-10%
-11.1%

-15%
Rupiah Peso Baht Won

Visi pembangunan: Concern yang bergeser

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 64


Setahun Kinerja Kabinet Indonesia Bersatu: Pergeseran Visi, Kesalahan
Manajemen dan Kemerosotan Ekonomi

Kemerosotan ekonomi yang terjadi saat Perubahan di bidang ekonomi yang


ini merupakan konsekwensi dari lemahnya ditawarkan SBY-JK semestinya
kemampuan tim ekonomi dalam mengelola mengandung arti pembangunan ekonomi
kebijakan ekonomi serta terjadinya yang didukung pertumbuhan tinggi dan
pergeseran visi pembangunan pemerintahan penciptaan lapangan kerja (pro-growth and
SBY-JK. Arah kebijakan ekonomi yang pro-job creation). Bila benar demikian, tidak
berlangsung saat ini telah menyimpan dari heran jika tawaran ini menjadi sangat
apa yang pernah dijanjikan oleh pasangan menarik bagi masyarakat karena pada era
SBY-JK. Belum hilang dari ingatan pemerintahan Megawati, pemerintah hanya
masyarakat terhadap janji perubahan mengagungkan stabilitas finansial tapi
paradigma dalam pembangunan ekonomi melupakan masalah tingginya pengangguran
dengan mengusung issue utama penciptaan dan kemiskinan. Akhirnya, meskipun
lapangan kerja. Janji perubahan ini telah pertumbuhan dan stabilitas finansial
berhasil meyakinkan 61% rakyat untuk tercapai, prestasi tersebut tidak mempunyai
memilih SBY-JK dan mengantarkan dampak langsung terhadap kesejahteraan
keduanya menjadi presiden dan wakil rakyat bahkan pengangguran terus
presiden periode 2004-2009. meningkat.

Transaksi Berjalan dan Transaksi Modal


USD miliar
3

2.8
Transaksi Berjalan Transaksi Modal
2

1.4
1.1
1 0.9

0.3
0.1
0

-0.5
-1
-1.1

-2
Q3-04 Q4 Q1-05 Q2
Sumber: Bank Indonesia

Hanya tiga bulan sejak pemerintahan pembangunan ekonomi. Dalam program


dipimpin oleh SBY-JK, masyarakat telah 100 hari pemerintah telah mengesahkan
melihat indikasi terjadinya pergeseran arah rencana pembangunan ekonomi yang akan

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 65


Setahun Kinerja Kabinet Indonesia Bersatu: Pergeseran Visi, Kesalahan
Manajemen dan Kemerosotan Ekonomi

dilaksanakan selama pemerintahan SBY-JK. rendah sangat besar. Akan sangat sulit
Sayangnya disain pembangunan yang akan berharap investasi swasta akan mampu
dilakukan pemerintah yang tersusun dalam menyerap penganggur kelompok ini.
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Apalagi investasi baru yang akan masuk
(RPJM 2004-2009), mempunyai sangat dapat dipastikan akan menggunakan tingkat
banyak kelemahan. Padahal RPJM teknologi yang lebih tinggi dari yang telah
merupakan dokumen politik penting digunakan saat ini. Oleh karenanya sangat
tentang strategi dan prioritas pembangunan diperlukan program -program konkrit
yang akan dilakukan oleh Presiden SBY-JK pemerintah untuk mempekerjakan mereka.
selama masa pemerintahan. RPJM juga Sayangnya, hal-hal tersebut tidak dapat
mempunyai nilai yang sangat strategis ditemukan dalam perencaan pembangunan
karena akan menjadi penentu arah tim ekonomi SBY -JK. Dengan
pembangunan serta tolok ukur keberhasilan penyimpangan ini, tidak heran bila
pemerintah dalam pembangunan. Ternyata kemudian arah kebijakan ekonomi tidak
RPJM yang diharapkan mampu menjadi berubah, hanya fokus pada kebijakan
pedoman Tim Ekonomi dalam mengambil pemantapan stabilitas ekonomi makro,
kebijakan ternyata hanya disusun seadanya pertumbuhan dan lingkungan usaha yang
dan bahkan cenderung menyimpang dari sehat, yang berarti sama sekali tidak
visi-misi SBY-JK. berbeda dibanding masa pemerintahan
Megawati.
Dalam visi dan misinya, Presiden SBY-
JK menyebutkan formulasi APBN akan Disamping itu, hampir seluruh program
berprioritas pada penciptaan lapangan kerja dalam RPJM bersifat normatif dan
melalui pertumbuhan ekonomi cenderung bersifat sloganistik serta tidak
berkelanjutan dan menerapkan kebijakan ada performance indicators (indikator
APBN dengan target penciptaan lapangan keberhasilan) secara kuantitatif. Hal ini
kerja, pengurangan pengangguran & terjadi karena penyusunannya tetap lebih
kemiskinan. Ternyata dalam RPJM agenda bersifat sectoral approach. Akibat dari
tersebut telah disederhanakan menjadi pendekatan penyusunan yang salah ini,
hanya kebijakan mendorong investasi, RPJM tidak memiliki konsistensi sebuah
penciptaan iklim usaha yang sehat dan rencana pembangunan karena selain tidak
stabilitas makro. Artinya, pemerintah akan ada kejelasan tolok ukur keberhasilan, juga
menyerahkan program penciptaan lapangan tidak jelas kaitannya dengan sumber-
kerja kepada swasta dan tidak ada rencana sumber pembiayaannya. Untuk program
pemerintah untuk menciptakan lapangan pengentasan kemiskinan misalnya tidak
untuk mengurangi jumlah pengangguran digambarkan secara garis besar tentang
yang semakin besar. jenis-jenis program yang akan dilakukan,
siapa yang akan bertanggung jawab untuk
Saat ini jumlah penganggur yang tidak
melaksanakan program tersebut, kapan dan
memiliki skill dan hanya berpendidikan

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 66


Setahun Kinerja Kabinet Indonesia Bersatu: Pergeseran Visi, Kesalahan
Manajemen dan Kemerosotan Ekonomi

juga dari mana sumber-sumber pembiayaan ad-hoc, tanpa visi yang jelas, dan seringkali
akan diperoleh serta apa indikator justru merugikan masyarakat dan industri
keberhasilannya. dalam negeri. Visi dan misi Presiden SBY-
JK untuk mengurangi kemiskinan dan
Enam bulan setelah pemerintahan
pengangguran akhirnya terabaikan akibat
SBY-JK, janji pertumbuhan ekonomi yang
berbagai kebijakan yang justru kontra
didukung penciptaan lapangan kerja
produktif terhadap tujuan tersebut.
ternyata tidak menunjukkan bukti.
Kenaikan harga BBM tetap dilakukan
Meskipun tim ekonomi SBY-JK mengklaim
bahkan dengan angka kenaikan yang sangat
pemerintah telah berhasil menciptakan
tinggi meskipun kondisi ekonomi sedang
perbaikan ekonomi dengan pertumbuhan
mengalami kemerosotan cukup serius.
kuartal I 2005 sebesar 6,35%, akan tetapi
Sebagai konsekwensinya kebijakan ini telah
dibarengi dengan bertambahnya jumlah
menambah angka kemiskinan dan
pengangguran sebanyak sebanyak 600.000
pengangguran secara signifian.
orang. Tim ekonomi SBY-JK berusaha
untuk mencari justifikasi mengapa kinerja Fakta-fakta yang ditunjukkan dari
ekonomi yang diklaim telah tumbuh tinggi kelemahan RPJM, prioritas kebijakan serta
justru menambah jumlah penganggur. pandangan dan sikap tim ekonomi SBY -JK
Berbagai penjelasan pun diberikan mulai dalam mengelola kebijakan, memberikan
dari kedua indikator tersebut diperoleh dari gambaran bahwa telah terjadi pergeseran
survei yang berbeda sehingga tidak dapat pada visi dan misi pembangunan ekonomi.
dikaitkan langsung sampai dengan Concern untuk memprioritaskan penciptaan
penjelasan bahwa peningkatan jam kerja lapangan kerja dan penghapusan
untuk mendukung pertumbuhan ekonomi kemiskinan semakin rendah.
yang tinggi telah dapat dipenuhi oleh
penambahan jam kerja (lembur), sehingga
tidak terjadi penambahan jumlah karyawan. Perencanaan kebijakan: Sequence yang
Intinya, tim ekonomi dan para keliru
pendukungnya tidak merasa ada yang Kinerja ekonomi yang menurun
mengkhawatirkan dengan fenomena diakibatkan pula oleh perencanaan dan
penambahan jumlah pengangguran. pengambilan keputusan yang seringkali
Dengan kata lain pertumbuhan tinggi tidak tidak memiliki urutan (sequence) yang benar
harus selalu berdampak pada pengurangan dan pertimbangan yang kurang tepat.
jumlah penganggur. Padahal langkah-langkah dalam
Dengan berbagai kelemahan pengambilan kebijakan memiliki arti yang
perencanaan di atas, sangat wajar jika sangat penting terhadap efektifitas sebuah
akhirnya sejumlah anggota kabinet ekonomi kebijakan tersebut. Selama satu tahun,
yang memang memiliki kapabilitas rendah, ternyata tim ekonomi SBY-JK teramat
kerap mengambil kebijakan yang sifatnya sering mengabaikan pentingnya urutan dan

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 67


Setahun Kinerja Kabinet Indonesia Bersatu: Pergeseran Visi, Kesalahan
Manajemen dan Kemerosotan Ekonomi

konsistensi dalam perencanaan sebuah kenaikan BBM, selama beberapa bulan


kebijakan. sebelumnya telah terbentuk wacana tingkat
kenaikan harga yang berbeda antara
Salah satu contoh adalah dalam
Presiden dan Wakil Presiden. Presiden
merencanakan kebijakan kenaikan harga
menghendaki 40 persen, sedangkan Wapres
BBM pada bulan Oktober 2005.
berkeinginan untuk dinaikkan sebesar 100
Semestinya, apabila pemerintah telah
persen. Terjadi tarik ulur yang sangat kuat.
memutuskan untuk menaikkan harga BBM
Akhirnya pemerintah telah memutuskan
maka langkah pertama yang harus dilakukan
untuk menaikkan harga BBM rata-rata
adalah menetapkan waktu dan besaran
sebesar 126 persen.
kenaikan harga BBM. Setelah kedua faktor
tersebut disepakati maka baru dapat Menjadi pertanyaan besar dari
dilakukan perhitungan terhadap jumlah kebijakan ini yakni apakah besarnya subsidi
subsidi yang diperlukan dalam APBN 2005, dan dana kompensasi yang telah diputuskan
jumlah kompensasi tunai langsung dan sebelumnya merupakan hasil perhitungan
kompensasi lainnya bagi rakyat serta dengan skenario kenaikan harga BBM
kebijakan-kebijakan pendukung yang harus sebesar 40 persen ataukah 100 persen. Bila
diberikan kepada industri agar tetap mampu ternyata angka-angka tersebut dibuat untuk
beroperasi dan tidak menurunkan daya kenaikan 100 persen, maka tidak akan ada
saing. dampak negatif yang terlalu signifikan.
Akan tetapi bila besaran tersebut ternyata
Akibat lemahnya perencanaan dan
diperhitungkan dari skenario kenaikan 40%,
tidak adanya koordinasi, pemerintah telah
maka kebijakan kenaikan harga BBM
menetapkan terlebih dahulu besarnya
dipastikan akan memukul perekonomian
subsidi BBM. Dalam APBN 2005
Indonesia dalam waktu yang singkat dan
ditetapkan sebesar Rp 89,2 triliun yang
akan menambah jumlah rakyat masyarakat
kemudian disepakati oleh DPR tanpa
secara tajam.
diskusi yang mendalam terhadap
konsekwensi besarnya kenaikan harga yang Kebijakan-kebijakan lain yang dikelola
harus dilakukan. Demikian juga pemerintah dengan tidak tepat antara lain dalam
telah memutuskan besarnya kompensasi kebijakan perdagangan dan perindustrian
transfer langsung untuk rakyat sebesar Rp sehingga banyak kebijakan yang bersifat ad-
100.000 per bulan per keluarga dan hoc dan salah. Seperti misalnya izin impor
kebijakan insentif yang akan diberikan bus dari China yang diberikan oleh
kepada industri, meskipun belum pemerintah untuk merespon keberatan
diputuskan berapa besaran kenaikan BBM industri transportasi terhadap kenaikan
dan kapan akan diberlakukan. harga BBM pada awal Maret berdampak
buruk terhadap pemulihan industri karoseri.
Pola pengelolaan kebijakan seperti ini
Keputusan untuk membuka izin ekspor
sangat membahayakan. Dalam kasus
rotan mentah, juga telah mengakibatkan

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 68


Setahun Kinerja Kabinet Indonesia Bersatu: Pergeseran Visi, Kesalahan
Manajemen dan Kemerosotan Ekonomi

kebangkrutan industri mebel rotan dalam kebijakan juga merupakan faktor penting
negeri. Disamping itu, keputusan untuk yang mengakibatkan gejolak dan dampak
memperpanjang pola tata niaga gula tanpa negatif pada indikator-indikator
sebelumnya dilakukan evaluasi kebijakan makroekonomi. Akibatnya, seringkali
justru merupakan bukti lain pola berbagai indikator mengalami kemerosotan
pengambilan kebijakan yang kurang tepat melebihi yang seharusnya karena
dan menimbulkan kerugian secara nasional. pemahaman masalah yang kurang
Saat ini kondisi industri gula tidak mendalam dan kesalahan dalam memilih
kompetitif. Sehingga diperlukan investasi kebijakan yang tepat.
besar untuk melakukan revitalisasi industri
Akhirnya, evaluasi hanya akan
gula. Semestinya rente ekonomi yang
memberikan makna apabila diikuti dengan
selama ini hanya dinikmati oleh raja-raja
langkah tegas untuk melakukan perbaikan.
gula dapat dialihkan untuk kepentingan
Sudah terlampau banyak rekomendasi dari
pembangunan industri gula nasional.
hasil evaluasi. Hanya tinggal satu hal yang
ditunggu masyarakat yakni langkah tegas
untuk mengembalikan arah pembangunan
Penutup
ekonomi dan memperbaiki manajemen
Evaluasi merupakan elemen penting kebijakan serta para pengambil kebijakan
dalam upaya meningkatkan kinerja yang berkinerja buruk.
pemerintahan kedepan, termasuk dalam
memperbaiki kinerja pemerintah SBY-JK di
bidang ekonomi. Meskipun demikian, dari
diskusi di atas dapat disimpulkan bahwa
merosotnya kinerja ekonomi Kabinet
Indonesia Bersatu a.l. diakibatkan oleh
pergeseran visi dan misi sehingga arah
kebijakan ekonomi tidak lagi sesuai dengan
janji bapak SBY-JK yang memprioritaskan
penciptaan lapangan kerja dan penghapusan
kemiskinan. Sangat dikhawatirkan,
pergeseran ini terjadi bukan hanya akibat
ketidak mampuan tim ekonomi untuk
menterjemahkan visi dan misi Presiden dan
Wakil Presiden akan tetapi justru
diakibatkan oleh paradigma yang berbeda
dari garis yang diberikan Presiden.
Lemahnya kemampuan dan koordinasi
anggota tim ekonomi dalam mengelola

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 69


Setahun Kinerja Kabinet Indonesia Bersatu: Pergeseran Visi, Kesalahan
Manajemen dan Kemerosotan Ekonomi

Kebijakan Perdagangan Internasional:


Tantangan Berat bagi Sektor Pertanian
Bustanul Arifin8

Abstract

This article examines international trade policy, emphasizing on the challenge of agricultural commodities in
the global market. Indonesia continues to purpose bower strategic commodities in trade negotiations to be
protected namely rice, sugar, soybean and corn. However, Indonesia does not have a luxury to allocate heavy
subsidy on these commodities, such as commonly practiced by developed countries. Differences in market access
and information, availability of capital and political commitments have been identified as the sources of
market asymmetry in the global trade. It is suggested that the government should increase the budget allocated
for strengthing productive capacity of such strategic commodities, improving farmers welfare, and agribusiness
system in the comely

1. Pendahuluan Menteri (KTM) ke-6 negara-negara anggota


Organisasi Perdagangan Dunia (WTO)
Selama satu tahun pemerintahan
yang akan berlangsung pada tanggal 13-18
Kabinet Indonesia Bersatu, sebenarnya
Desember 2005 di Hongkong. Banyak
kebijakan perdagangan internasional tidak
suara skeptis dan pesimis bahwa organisasi
banyak yang dapat dicatat dan dievaluasi.
unik yang konon peduli terhadap
Sesuatu yang muncul ke permukaan adalah
perdagangan yang bebas dan adil tersebut
bahwa Indonesia sedang mempersiapkan
tidak akan menghasilkan kesepakatan apa-
diri menghadapi Konperensi Tingkat

8 Peneliti Senior INDEF

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 70


Setahun Kinerja Kabinet Indonesia Bersatu: Pergeseran Visi, Kesalahan
Manajemen dan Kemerosotan Ekonomi

apa karena perbedaan pandangan yang Sebaliknya, negara berkembang tidak terlalu
sangat tajam antara kutub negara maju dan percaya pada argumen di atas, apalagi telah
negara-negara berkembang. Sebenarnya terdapat skeptisme amat besar terhadap
pada bulan Juli 2004, WTO telah faham neo-liberal negara maju, yang secara
menghasilkan beberapa kesepakatan baru langsung dan tidak langsung bermaksud
tentang sektor pertanian, jasa, akses pasar, menguasai dunia melalui konglomerasi dan
dan lain-lain. Negara maju setuju untuk perusahaan raksasa multinasional. Suatu
mengurangi subsidi bagi petani faham yang sebenarnya memperoleh
domestiknya sebesar 20 persen, momentum pasca Konsensus Washington
memperlonggar beberapa peraturan di era 1980an tersebut dianggap
sektor jasa dan memperbaiki akses pasar menyengsarakan negara negara berkembang
bagi negara-negara berkembang atau karena dunia saat ini berada pada tingkat
mengurangi hambatan tariff dan non-tarif asimetris yang cukup besar. Kemampuan
yang selama ini sering menjadi hambatan. akses informasi pasar dan perbedaan
Skema kesepakatan tersebut sebenarnya hegemoni kekuatan modal ekonomi dan
tidaklah terlalu istimewa karena merupakan politik yang tidak seimbang antara negara
amanat Deklarasi Doha 2001 yang maju diperkirakan dapat mempengaruhi
mengagendakan seluruh negara anggota skema dan iklim perdagang an dunia.
WTO untuk secara progresif menyelesaikan Gagasan untuk mengedepankan
negosiasi perdagangan yang diperlukan perdagangan adil (fair trade) telah semakin
sebelum 1 Januari 2005. mudah diterima oleh anggota-anggota
WTO dibandingkan dengan sekedar
Sebagai organisasi, WTO jelas amat
perdagangan bebas (free trade) yang kadang
trauma terhadap kegagalan pertemuan di
terlalu naif.
Cancun (Meksiko) atau kekacauan plus
keributan di Seattle (Amerika Serikat) Indonesia masih mempertahankan
beberapa waktu lalu. Polarisasi kepentingan kebijakan perdagangan yang telah
antara negara maju dan negara berkembang dihasilkan pada masa Presiden Megawati
yang amat tinggi menjelang dan sepanjang Soekarnoputri, yaitu memperjuangkan
perundingan Genewa (Swiss) bulan lalu itu komoditas strategis seperti beras, gula,
terasa begitu kuat. Basis argumen yang kedelai dan jagung. Bentuk konkrit
digunakan oleh kedua kutub pun juga perjuangan tersebut tentu masih cukup
cukup kontras, sekedar tidak mengatakan abstrak dan agak berat karena keterbatasan
terdapat perbedaan ideologi yang yang dihadapi di dalam negeri sendiri,
mencolok. Negara maju seperti amat yakin terutama buruknya kualitas pemihakan,
bahwa perdagangan dan liberalisasi mampu ditambah penyakit pengacuhan (ignorance)
meningkatkan pertumbuhan ekonomi, dari para elit politik dan ekonomi di
sekaligus tingkat kesejahteraan warganya Indonesia. Di pihak lain, negara-negara
dan kemakmuran dunia umumnya. maju dan kaya seakan terus berlomba untuk

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 71


Setahun Kinerja Kabinet Indonesia Bersatu: Pergeseran Visi, Kesalahan
Manajemen dan Kemerosotan Ekonomi

meningkatkan subsidi kepada petaninya, endowments) yang dimiliki setiap negara di


sekalipun mereka jumlahnya sedikit, karena dunia. Dalam konteks statis, suatu negara
sekaligus menunjukkan identitas dan melakukan perdagangan dan akan
kebangaan suatu bangsa. Artikel ini memperoleh manfaat dari aktivitas
mencoba membahas tentang strategi perdag angan tersebut karena perbedaan
subsidi yang diterapkan negara-negara maju keuntungan kom-paratif (comparative
dalam kerangka asimetri perdagangan advantage) yang dimilikinya. Asumsi yang
internasional secara umum. Sedapat digunakan dalam konteks statis ini adalah
mungkin langkah-langkah yang dilakukan bahwa seluruh faktor produksi domestik
negara maju tersebut akan dijadikan seperti lahan, dan sumberdaya lain, tenaga
benchmarking dalam perumusan strategi kerja, dan modal adalah konstan. Paling
kebijakan perdagangan di Indonesia. tidak, ter-dapat tiga implikasi penting dari
teori keuntungan komparatif yang
Artikel ini mengevaluasi kebijakan
menyertai per-dagangan internasional.
perdagangan internasional yang dilaksanakan
Indonesia, dengan menekankan pada Pertama, suatu negara akan dapat
beberapa tantangan yang dihadapi sektor meningkatkan pendapatannya dari perda-
pertanian dalam kancah perdagangan dunia. gangan karena pasar dunia mampu
Pertama, falsafah perdagangan internasional memberikan kesempatan untuk membeli
dibahas, berikut beberapa fenomena asimetri ba-rang pada tingkat harga yang lebih
yang menyelimuti perjalanan perdagangan murah dibandingkan apabila barang
dunia akhir-akhir ini. Kemudian, reforma tersebut diproduksi di dalam negerinya,
kebijakan dan benchmarking yang dilakukan seandainya tidak ada perdagangan. Kedua,
Indonesia terhadap empat komoditas semakin kecil suatu negara dalam ukuran
strategis: beras, gula, jagung, dan kedelai juga kemampuan menguasai akses ekonomi
akan dianalisis. Penutup tulisan ini adalah perdagangan semakin besar manfaat
rekomendasi kebijakan yang diperlukan potensial yang dapat diperoleh dari
dalam memperjuangkan komoditas strategis perdagangan, walaupun negara lain akan
tersebut serta melakukan pemihakan yang memperoleh manfaat juga. Ketiga, suatu
diperlukan kepada petani dan sektor negara memperoleh manfaat terbesar dari
pertanian umumnya. perdagangan apabila mengekspor
komoditas yang diproduksi dengan faktor
produksi berlimpah (abundant) secara
2. Falsafah Perdagangan Internasional intensif, dan melakukan impor komoditas
Dalam falsafah ekonomi neoklasik yang memerlukan faktor produksi yang
yang dianggap sebagai basis ideologi faham relatif lebih langka (scarce). Esensi dari
neo-liberal disebutkan bahwa proses konsep keuntungan komparatif ini adalah
perdagangan internasional timbul karena bahwa dua negara yang terlibat
perbedaan kandungan sumberdaya (resource perdagangan internasional memperoleh

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 72


Setahun Kinerja Kabinet Indonesia Bersatu: Pergeseran Visi, Kesalahan
Manajemen dan Kemerosotan Ekonomi

manfaat jika harga relatif komoditas yang dunia (without support). PSE menunjukkan
dimiliki setiap negara berbeda, terutama tingkat proteksi yang diberikan kepada
apabila tidak ada perdagangan. produsen pertanian relatif terhadap nilai
aktual produksi di tingkat usahatani. PSE
Akan tetapi, basis argumen neoklasik
digunakan secara meluas sebagai indikator
seperti di atas jelas tidak sepenuhnya benar
komparasi proteksi antar negara,
karena fenomena perdagangan internasional
komoditas, dan intertemporal. Gambaran
tentu saja tidak dapat didekati hanya dari
lengkap tentang ukuran-ukuran ini dapat
konteks keuntungan komparatif semata.
dilihat dalam beberapa Tabel Lampiran.
Untuk keperluan didaktik-akademik atau
model simplifikasi dunia nyata di bangku
kuliah, pendekatan mekanistik seperti itu
3. Fenomena Asimetri Pasar Dunia
memang amat dibutuhkan, bukan untuk
Pertanian
perumusan kebijakan pembang unan
multidimensi. Perdagangan internasional Untuk komoditas pertanian, gejala
telah melibatkan faktor non-ekonomi, struktur pasar yang sangat asimetris antara
seperti politik, pertahanan, keamanan dan pasar internasional dan pasar domestik
faktor strategis lain, yang tentu saja tidak telah terjadi sedemikan parah. Misalnya,
memadai apabila dijelaskan hanya dari dalam 25 tahun terakhir, harga kopi di pasar
aspek ekonomi semata. dunia turun 18 persen per tahun, tetapi
harga di tingkat konsumen di Amerika
Oleh karena itu, para ekonomi telah Serikat justru naik sampai 240 persen.
mengembangkan beberapa ukuran untuk Demikian pula, harga rata-rata minyak
menganalisis tingkat proteksi dan subsidi, kelapa sawit di pasar internasional
yang umumnya diterapkan oleh negara- mengalami penurunan 10 persen per tahun,
negara maju, yang tergolong dalam tetapi harga produk hilir di pasar domestik
Kelompok-8 (Group of 8). Ukuran-ukuran mengalami kenaikan 40 persen (Arifin,
itu antara lain: koefisien proteksi nominal 2004). Studi yang dilakukan Morisset
produsen (NPCp/ Producer Nominal Protection (1998), Bank Dunia, terhadap sedikitnya
Coefficient); koefisien bantuan nominal tujuh komoditi penting dalam perdagangan
produsen (NACp/ Producer Nominal dunia: daging sap i, kopi, beras, gula dan
Assistance Coefficient); dan tingkat proteksi gandum juga menghasilkan kesimpulan
produsen (PSE/Producer Support Estimate). pelebaran spread harga dunia dan harga
NPCp merupakan rasio antara harga aktual konsumen pasar domestik. Negara-negara
yang diterima produsen (farm gate price) maju yang dijadikan fokus observasinya
dengan harga paritas (border price) yang adalalah Kanada, Perancis, Jeman, Italia,
diperhitungkan di tingkat usahatani. NACp Jepang, Amerika Serikat. Menurut Morisset,
merupakan rasio antara nilai output aktual spread harga pasar internasional dan pasar
yang diterima petani (including support) domestik makin lebar sampai dua kali lipat
dengan nilai output pada tingkat harga dari harga asal.

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 73


Setahun Kinerja Kabinet Indonesia Bersatu: Pergeseran Visi, Kesalahan
Manajemen dan Kemerosotan Ekonomi

Selain persoalan fluktuasi harga di mencapai 500 persen ini, tentu saja negara-
tingkat dunia yang amat berisiko tinggi, negara berkembang seperti Indonesia perlu
pasar dunia saat ini banyak ditandai gejala berpikir ekstra keras untuk melakukan
pelebaran (spread) harga antara kedua pasar reformulasi kebijakan pangan, seperti beras
internasional dan pasar domestik. dan bahan pangan strategis lainnya.
Ketidakmampuan mengelola fluktuasi dan Rincian lebih lengkap tentang hal ini dapat
pelebaran harga ini dapat menjadi dilihat dalam Tabel Lampiran.
penghambat serius dalam pencapaian
Dalam hal subsidi ekspor, negara-
kondisi perdagangan internasional yang adil
negara maju (OECD) telah mennyebabkan
yang dapat saling me-nguntungkan antara
struktur proteksi yang distortif dan
negara-negara produsen dan negara-negara
berpotensi menyebabkan terjadinya
konsumen. Bagi negara-negara berkembang
peningkatan inefisiensi. Sebagai ilustrasi, di
yang lebih banyak mengandalkan ekspor
negara-negara Uni Eropa yang mencapai
komoditas pertanian dan agroindustri,
rata-rata subsidi ekspor selama periode
struktur pasar yang asimetris jelas
1995-1997 berkisar dari 15 persen untuk
merupakan ancaman sangat serius bagi
gandum dan telur sampai dengan 173%
pening -katan produksi, produktivitas dan
untuk daging. Pada periode yang sama,
ekspor komoditas tersebut. Dengan
subsidi ekspor beras, gula, dan susu di Uni
argumen inilah, seluruh pemerintahan di
Eropa adalah 145, 154, dan 39 persen.
negara-negara berkembang masih harus
(Lihat Tabel 7 Lampiran). Besaran subsidi
bekerja keras, berjuang melalui diplomasi
ekspor yang diberlakukan di negara maju
ekonomi internasional dan pemberdayaan
untuk tersebut sudah pasti akan sangat
seluruh sumberdaya ekonomi domestik
menyulitkan bagi Indonesia untuk
untuk mengurangi ketidakadilan
mengembangkan daya saingnya di pasar
perdagangan dunia.
dalam negeri, apabila tanpa kebijakan
Lebih khusus lagi, pertanian Indonesia pengaturan impor dan kebijakan
harus berhadapan dengan suatu tingkat perdagangan internasional lain yang lebih
pasar dunia yang cukup jauh dari tingkat komprehensif.
simetris, sebagaimana disyaratkan dalam
Sejak tahun 2002, Amerika Serikat (AS)
teori perdagangan internasional. Suatu
memberikan subsidi sebesar US $ 19 miliar
laporan resmi Organisasi Kerja Sama
per tahun kepada petaninya, atau sekitar
Ekonomi untuk Pembangunan alias negara-
dua kali dari dana yang dicadangkan untuk
negara maju tersebut (OECD, 2001)
bantuan internasional (foreign aid), yang
bahkan menyebutkan bahwa nilai proteksi
tentu saja sering menjadi bulan-bulanan dan
yang diberikan kepada petani di sana
topik alot dalam setiap perundingan
mencapai 29 milyar dollar pada tahun 2000
Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).
atau 15 kali lipat dari total nilai beras yang
Bayangkan, bagaimana dampaknya pada
diperdagang kan di pasar global. Dengan
masa depan perdagangan dunia yang adil
level proteksi efektif di negara maju yang
(fair trade) atau tepatnya pada tingkat

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 74


Setahun Kinerja Kabinet Indonesia Bersatu: Pergeseran Visi, Kesalahan
Manajemen dan Kemerosotan Ekonomi

kesetaraan dan kebersaingan negara pasti amat terpukul. Tahun 2001/ 2002 lalu
berkembang dalam peta perdagangan dunia kerugian di Brazil ditaksir mencapai US$
apabila subsidi besar-besaran dalam 600 juta, suatu jumlah yang tidak sedikit,
Undang-Undang Pertanian (farm bill) AS sehingga mendorong para aktivis, juru
tersebut direncanakan dalam waktu 10 runding dan politisi negara sepak bola
tahun mendatang. Dalam hal beras, tersebut untuk mengajukan gugatan resmi
misalnya, AS telah mencadangkan sekitar kepada WTO September 2002. Namun,
US$ 100 ribu subsidi per petani yang sampai sekarang belum ada keputusan yang
diberikan kepada kepada siapa pun yang telah dihasilkan. Hal yang menarik dari
mau mengganti tanamannya dengan padi. kasus di atas adalah mengapa hanya Brazil
Negara Bagian di pantai barat seperti yang merasa mempunya nyali dan berani
California dan Washington; dan Negara maju menuntut AS di meja hijau
Bagian di Tenggara (Southeast) seperti perundingan WTO.
Louisiana, South dan North Carolina
memang sedang antusias mengembangkan
agribisnis padi sawah. Target besar untuk 4. Reforma Kebijakan dan
menjadi produsen nomor dua beras dunia, Benchmarking di Indonesia
dapat menjadi kenyataan, terutama ketika Indonesia sebenarnya telah melakukan
perundingan dan persaingan tingkat dunia reforma kebijakan perdagangan, walau
dengan negara-negara Eropa Barat dalam sering belum terstruktur rapi kadang
hal gandum sering mengalami kendala terlalu liberal karena memperoleh tekanan
besar, walaupun kadang terlalu politis. dari pihak asing atau lembaga internasional,
Betul, bahwa selama ini sebagian besar dari tapi kadang terlalu protektif dan mengarah
beras dunia masih disuplai oleh negara- tidak rasional karena memperoleh tekanan
negara Asia seperti Thailand, Burma, dari kelompok kepentingan di tanah air.
Vietnam, Cina, India, dan lain-lain, yang Forum kerjasama regional di tingkat Asia
juga sekaligus berfungsi sebagai konsumen Tenggara telah membentuk AFTA
beras terbesar. (ASEAN Free Trade Area), dan forum
Kasus yang menimpa komoditas kapas kerjasama ekonomi Asia dan Pasifik
mungkin layak menjadi perhatian serius. (APEC) telah menetapkan garis-garis
Subsidi besar-besaran sekitar US$ 3,9 miliar kebijakan liberalisasi perdagangan yang
yang diberikan kepada petani kapas di AS akan lebih efektif pada tahun 2010. Suka
telah berkontribusi terhadap kelebihan atau tidak suka, kinerja produksi pangan
keseimbangan penawaran (over supply), yang dan pertanian di dalam negeri dipengarui
tentu saja menyebabkan anjloknya harga oleh keputusan kebijakan yang mengarah
kapas dunia. Negara produsen kapas, yang liberalisasi tersebut di atas.
kebetulan berada pada belahan negara
Walaupun Indonesia agak sulit meniru
berkembang seperti Chad dan Mali di langkah subsidi yang dilakukan negara-
Afrika Barat dan Brazil di Amerika Selatan
negara maju, akan tetapi untuk keperluan

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 75


Setahun Kinerja Kabinet Indonesia Bersatu: Pergeseran Visi, Kesalahan
Manajemen dan Kemerosotan Ekonomi

benchmarking du dalam negeri keputusan belum memanfaatkan kesempatan


kebijakan perdagangan harus penetapan tarif untuk komoditas pangan,
memperhatikan beberapa pertimbagan misalnya untuk beras (160 vs 30 persen),
tertentu yang menyangkut petani dan sektor mentega (210 vs 5 persen), jagung (40 vs 0
pertanian. Tidak terlalu bijak apabila persen), kedelai (27 vs 0 persen) dan
proteksi dan tarif yang ditetapkan untuk sebagainya. Kesenjangan selain
komoditas pangan strategis di Indonesia berpengaruh pada sistem insentif
yang lebih banyak telah menguntungkan berusahatani dan dalam meningkatkan
petani kecil dan berlahan sempit harus produksi dan produktivitas, Indonesia
dilepas begitu saja atas nama liberalisasi sepertinya agak ragu terhadap kemampuan
perdagangan. Contoh yang sangat menarik dan kehandalan aparat negara dalam
adalah pada tahun 2000, ketika Indonesia mengawal kebijakan tarif impor ini. Telah
akhirnya mampu menetapkan kembali tarif menjadi rahasia umum bahwa fenomena
impor bea masuk untuk beras (Rp 430/kg under-reporting dan penyelundupan untuk
atau ekuivalen dengan 30 persen sekian macam komoditas impor sangat
advalorem) dan gula sebesar 25 persen, mempengaruhi kinerja produksi domestik
setelah melalui rapat keras dan perundingan dan pereknomian secara umum. Hasil studi
alot dengan Perwakilan IMF di Indonesia. Tim INDEF (2002) menemukan bahwa
Tarif bea masuk untuk gula kemudian telah terjadi perisitwa under-reporting
dikoreksi kembali, menjadi tarif spesifik terhadap impor beras yang masuk ke
sebesar Rp 700/kg pada akhir tahun 2002, Indonesia sampai sekitar 50 persen.
dengan pertimbangan untuk menghindari Maksudnya, apabila terdapat laporan impor
manipulasi harga impor, yang sangat beras sebesar 2 juta ton, maka sangat
berpengaruh pada besaran pajak advalorem. mungkin jumlah impor yang sebenarnya
adalah 4 juta ton. Fenomena seperti inilah
Tabel 1 menampilkan besaran tarif bea
yang lebih besar dampaknya dalam
masuk yang masih diperkenankan dalam
memberikan signal insentif negatif kepada
skema Organisasi Perdagangan Dunia
petani dan hampir pasti juga berpengaruh
(WTO) dan tarif efektif yang diberlakukan
pada kinerja perekonomian secara umum.
di Indonesia. Indonesia masih sangat jauh

Tabel 1.

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 76


Setahun Kinerja Kabinet Indonesia Bersatu: Pergeseran Visi, Kesalahan
Manajemen dan Kemerosotan Ekonomi

Besaran Tarif yang Diperkanankan dan Tarif Efektif di Indonesia

Produk Tarif Diperkenankan Tarif Efektif


Beras 160% Rp 430/kg (setara 30%)
Jangung 40% 0%
Kedelai 27% 0%
Susu/mentega 210% 5%
Daging 50% 5%
Gandum 18% 0%
Kacang Tanah 40% 5%
Gula 95% Rp 700/kg (setara 25%)

Tarif Rata-Rata 40% 5%


Sumber: Road-Map Menuju Ketahanan Pangan (LPEM-UI, 2005)
impor, yang mencapai 1,3 juta ton per
Sebenarnya, selama tiga dasa warsa
tahun, setara dengan kehilangan devisa
terakhir, produksi bahan pangan penting
negara US$ 240 juta atau setara Rp 2 triliun
telah menunjukkan kecenderungan
per tahun.
peningkatan yang cukup tinggi, kecuali
kedelai yang mengalami penurunan sejak Produksi jagung meningkat
dekade 1990an (Gambar 1). Penanganan mencapai 10 juta ton lebih sejak tahun
secara khusus oleh pemerintah yang dikenal 2003, terutama karena pening katan luas
agak kontroversial pada akhir 1990an Gema panen dan penggunaan benih unggul jagung
Palagung (Gerakan Mandiri Padi, Kedelai hibrida. Bersamaan dengan itu,
dan Jagung) tidak mampu menolong peningkatan produksi jagung hibrida juga
penurunan produksi kedelai di Indonesia. sekaligus mampu mendukung sektor
Persoalan teknis agronomis, tidak peternakan karena industri pakan ternak
memadainya introduksi varietas baru ikut tumbuh pasca stagnansi yang cukup
kedelai tropis, serta masalah sosial serius pada puncak krisis ekonomi. Sektor
ekonomis petani kedelai di sentra produksi peternakan kecil (poultry) mengalami revival
Jawa Timur, sebagian Jawa Tengah, setelah tahun 2001 walaupun akhir-akhir
Lampung dan Sumatra Selatan telah ikut ini menghadapi wabah flu burung yang
berkontribusi pada melambatnya produksi tidak dapat dianggap ringan. Membaiknya
dan produktivitas kedelai di Indonesia. produksi jagung domestik sedikit
Akibat yang paling mencolok dari membantu mengurangi ketergantungan
kegagalan produksi kedelai tersebut sektor peternakan kecil terhadap pakan
adalah ketidakmandirian dan impor, dan sempat memberikan ekspektasi
ketergantungan Indonesia terhadap kedelai pertumbuhan yang lebih tinggi. Akan tetapi,

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 77


Setahun Kinerja Kabinet Indonesia Bersatu: Pergeseran Visi, Kesalahan
Manajemen dan Kemerosotan Ekonomi

karena laju konsumsi jagung yang juga rasanya agak mustahil dapat terkejar dalam
tumbuh lebih cepat, Indonesia pun masih sisa waktu ke depan, mengingat terlalu
harus mengandalkan jagung impor dalam banyak masalah yang harus diselesaikan.
jumlah yang cukup signifikan. Impor Hal yang cukup berat untuk ditangani
jagung Indonesia diperkirakan mencapai 1.1 adalah bahwa basis usahatani tebu semakin
juta ton per tahun atau setara dengan tergeser oleh komoditas lain, terutama padi,
kehilangan devisa negara US$ 130 juta atau palawija dan hortikultura yang
sekitar Rp 1,1 triliun, sesuatu yang perlu menghasilkan pendapatan ekonomi tinggi
diperhatikan. berlipat. Di lain pihak, upaya menangkal
serbuan gula impor dengan solusi kebijakan
Kinerja produksi gula tebu pun tidak
tataniaga gula nyaris mandul karena
jauh berbeda, walaupun telah menunjukkan
berbagai entry barriers yang justru
sedikit perbaikan pasca krisis ekonomi,
menimbulkan jalan pintas para pemburu
namun tidak akan cukup untuk mencapai
rente dan dikhawatirkan mengacaukan
target pencapaian swasembada gula pada
skenario swasembada gula di dalam negeri
tahun 2007-2008. Produksi gula domestik
pada tahun 2007-2008 nanti.
hanya mencapai 1,9 juta ton, sedangkan
tingkat konsumsi rumah tangga dan
konsumsi industri makanan telah mencapai
3,5 juta ton dengan laju yang semakin cepat.
Kekurangan pasokan gula yang harus
dipenuhi dari impor sebesar 1,6 juta ton

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 78


Setahun Kinerja Kabinet Indonesia Bersatu: Pergeseran Visi, Kesalahan
Manajemen dan Kemerosotan Ekonomi

Produksi Padi
60,000

50,000

40,000
ribu ton

30,000

20,000

10,000

0
1974
1976
1978
1980

1996
1998
2000
2002
1982
1984
1986
1988
1990
1992
1994

Produksi Jagung
12,000

10,000

8,000
ribu ton

6,000

4,000

2,000

0
1974
1976
1978
1980

1996
1998
2000
2002
1982
1984
1986
1988
1990
1992
1994

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 79


Setahun Kinerja Kabinet Indonesia Bersatu: Pergeseran Visi, Kesalahan
Manajemen dan Kemerosotan Ekonomi

Produksi Gula
3000

2500

2000
ribu ton

1500

1000

500

0
1974
1976
1978
1980
1982
1984
1986
1988
1990
1992
1994
1996
1998
2000
2002 Produksi Kedelai
2,000

1,600
Ribu ton

1,200

800

400

0
1974
1976
1978
1980

1996
1998
2000
2002
1982
1984
1986
1988
1990
1992
1994

Gambar 1. Perkembangan Produksi Pangan Penting, 1974-2004


(Sumber: BPS)

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 80


Setahun Kinerja Kabinet Indonesia Bersatu: Pergeseran Visi, Kesalahan
Manajemen dan Kemerosotan Ekonomi

ramalan produksi beras tahun 2005 ini


Perjalanan historis agak berbeda
mencapai 53,9 juta ton gabah atau setara 34
dialami komoditas padi dan beras secara
juta ton beras, suatu rekor angka produksi
umum karena perhatian atau strategi
yang cukup tinggi. Sementara itu angka
kebijakan yang sedikit istimewa. Strategi
perkiraan konsumsi beras rumah tangga
kebijakan pangan yang berorientasi pada
diperkirakan terus menurun dan hanya
swasemabda beras sebagai bahan pangan
mencapai 115,5 kilogram per kapita per
pokok seakan memperoleh justifikasi
tahun, yang juga merupakan angka rekor
ketika Indonesia kembali menjadi penghuni
terendah sepanjang dasa warsa terakhir
daftar tetap negara pengimpor beras
mengingat Indonesia adalah konsumen
terbesar sejak awal krisis ekono mi tahun
pemakan beras terbesar di dunia. Apabila
1997. Apabila dahulu pada awal era
jumlah penduduk Indonesia sebesar 214
Revolusi Hijau, strategi swasembada beras
juta orang dan perkiraan konsumsi beras
diambil benar-benar bertujuan untuk
oleh industri, kebutuhan untuk benih dan
menanggulangi kelaparan kronis di
untuk kegunaan lain tidak lebih dari 12
beberapa tempat di Indonesia karena
persen, maka total kebutuhan beras
lemahnya konsolidasi strategi pembangunan
domestik sekitar 30-32 juta ton. Apabila
ekonomi. Statregi swasembada beras yang
semua perkiraan tersebut akurat dan dapat
digunakan oleh Presiden Soeharto
dipercaya, maka Indonesia seharusnya telah
ditempuh dengan dukungan kebijakan
mencapai swsembada beras karena jumlah
makro pembangunan infrastruktur
total produksi melebihi jumlah total
pertanian, pembangunan pedesaan dan
konsumsi beras di dalam negeri. Namun,
subsidi kredit untuk intensifikasi tanaman
jika sinyalemen overestimasi produksi beras
pangan, dan pembukaan areal persawahan
benar adanya (Lihat hasil analisis Maksum
baru. Kini, romantisasi pada keberhasilan
dan Suwandhi (2004) dan artikel Suwandhi
strategi swasembada beras pada masa lalu
di Kompas 12 November 2004), maka
tersebut kembali menjadi agenda debat
semua perhitungan di atas pasti sulit untuk
kebijakan publik dan bahkan strategi politik
dapat dipertanggungjawabkan.
untuk menarik konstituen. Pada intinya,
cukup banyak pihak individu dan kelompok Namun demikian, aplikasi
yang tidak terlalu rela bahwa negara pemahaman swasembada beras jelas tidak
agraris seperti Indonesia masih harus sesederhana atau selinier seperti angka
mengandalkan pada beras impor untuk neraca perhitungan tingkat makro tersebut.
memenuhi kebutuhan pangan pokoknya, Semua orang faham bahwa sekitar 60
sekalipun kontribusi beras impor tidak persen produksi beras di Indonesia terjadi
sampai 5 persen dari total beras yang pada saat musim panen raya pada bulan
dikonsumsi oleh warga negara Indonesia. Februari-Mei yang menghasilkan surplus
beras karena produksi jauh melebihi
Publikasi resmi Badan Pusat
konsumsi. Sedangkan pada delapan bulan
Statistik (BPS) menunjukkan bahwa angka

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 81


Setahun Kinerja Kabinet Indonesia Bersatu: Pergeseran Visi, Kesalahan
Manajemen dan Kemerosotan Ekonomi

berikutnya, produksi beras Indonesia sendiri dengan menggunakan dana publik


berada di bawah tingkat konsumsi secara dari anggaran negara. Karena tekanan yang
nasional dan bahkan harus dipenuhi oleh demikian keras tersebut, efektif per tanggal
beras impor karena Indonesia menghadapi 1 Januari 2003, Bulog berubah menjadi
permasalahan pola distribusi beras di pasar BUMN Perum Bulog. Walaupun demikian,
domestik yang cukup kompleks. Perum Bulog masih mendapat penugasan
Maksudnya, Indonesia mas ih perlu berfikir pemerintah untuk melakukan pengadaan
keras untuk mencapai swasembada beras gabah termasuk berasal dari impor dan
yang sebenarnya, stok beras dan stok pembagian beras untuk keluarga miskin
penyanggah nasional dapat berfungsi secara (Raskin).
maksimal dan dimanfaatkan untuk
Langkah reformasi lembaga
memenuhi kebutuhan beras di dalam
perdagangan negara (state trading enterprise
negeri, jika perlu tidak terlalu mengandalkan
STE) yang dilakukan oleh negara-negara
basis impor.
lain tidaklah sedrastis yang dilakukan
Dalam hal keberadaan lembaga Indonesia. India mereformasi FCI (Food
parastatal, Indonesia telah mengubah status Corporation of India) dengan cara
lembaga pemerintah non-departemen memberikan kesempatan kepada pedagang
(LPND) Badan Urusan Logistik (Bulog) sektor swasta untuk mengambil porsi
menjadi badan usaha milik negara (BUMN) perdagangan dunia dengan cara
berbentuk Perusahaan Umum (Perum). mengaturnya melalui pemberian lisensi.
Hal ini dapat saja dikatakan bahwa negara- Seperti juga telah dijelaskan sebelumnya,
negara maju sangat keras menekan negara FCI tidak bertindak sebagai satu-satunya
berkembang yang terkadang terlalu vulgar pembeli pangan di pasar domestik, tetapi
untuk melakukan reforma lembaga memiliki kontrol terhadap impor pangan
parastatal, yang sebenarnya menyangkut biji-bijian, dengan alasan untuk skala
hajat hidup orang banyak. Indonesia ekonomi usaha perdagangan pangan dan
melakukan reformasi kebijakan serupa menjamin pasokan pangan untuk
ketika Dana Moneter Internasional (IMF) kebutuhan nasional, terutama pada saat
sangat keras meminta Bulog melepaskan musim tidak bersahabat.
hak monopolinya untuk beberapa
Lembaga STE di Tanzania yang
komoditas strategis kecuali beras serta
dikenal sebagai National Milling Corporation
memberikan kesempatan bagi pelaku swasta
(NMC) pun telah melakukan reforma sejak
masuk ke dalam industri dan perdagangan
1980an dengan cara melepaskan hak
pangan. Pada saat yang sama publik di
monopoli dalam pengolahan pangan biji-
dalam negeri pun agak marah terhadap
bijan dan bahkan dijadwalkan akan segera
beberapa skandal yang menyelimuti Bulog,
diprivatisasi. Akan tetapi, tanggung jawab
terutama tidak rela para pejabat dan oknum
dalam strategi penyangga pangan nasional
di Bulog berbisnis untuk kepentingan
telah ditransfer kepada Badan Ketahanan

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 82


Setahun Kinerja Kabinet Indonesia Bersatu: Pergeseran Visi, Kesalahan
Manajemen dan Kemerosotan Ekonomi

Pangan yang berada di Kantor Departemen karena iklim keterbukaan yang mulai
Pertanian. Lembaga pemerintah ini tidak membaik. Lembaga STE ini juga menjaga
memiliki mandat khusus melakukan untuk stok penyanggah komoditas strategis dan
stabilisasi harga panga, tetapi selama ini bahkan membukakan jalan bagi ekspor
melakukan pembelian produksi pangan di komoditas pangan yang telah mengalami
daerah-daerah terpencil, atau pada daerah di surplus. Di Malawi, lembaga STE negara
mana para pedagang dan sektor swasta hanya berfungsi sebagai regulator dan
lainnya tidak aktif berdagang dan sesekali melakukan pengelolaan stok
melaksanakan fungsinya. penyanggah bagi jagung, dengan prinsip
buyer of last resort. Apabila sektor atau
Badan Biji-Bijian (The Grain Board)
perdagangan oleh swasta semakin
di Tunisia juga telah berbenah dalam
berkembang, maka fungsi sebagai pembeli
mengantisipasi keterbukaan perdagangan
penyelamat tersebut mungkin dapat
dunia, walaupun masih memegang hak
dikurangi.
monopoli dalam impor gandum dan barley.
STE seperti Grain Board ini juga Dalam konteks komoditas
melakukan pembelian gandum dari petani pertanian non-pangan, lembaga STE yang
domestik dengan harga yang ditetapkan dimiliki Mali yang bernama CMDT
Pemerintah dan melakukan penjualan pada (Compagnie Malienne pour le Developpement des
konsumen domestik dengan harga yang Textiles) dianggap sangat berjasa memajukan
disubsidi. Pedagang swasta telah sektor usaha kapas. CMDT mengontrol
diperkenankan melakukan impor pangan produksi kapas dan mengelola seluruh
penting tersebut atas nama Grain Board suplai input seperti benih, pupuk, pestisidan
dengan harga impor yang ditentukan dan jasa penyuluh lapang. Kunci
melalui negosiasi secara komersial. Akan keberhasilan CMDT adalah hubungannya
tetapi, nilai jual kembali (resale value) dari dengan pemilik saham para konglomerat
sereal impor ini sama dengan harga asal Prancis yang tidak hanya menjamin
penjualan yang berasal dari produksi lokal. pembelian, tetapi juga melakukan bantuan
studi secara mendalam dalam produksi dan
Lembaga STE yang melekat
pemasaran serta strategi yang dibutuhkan.
dengan lembaga negara juga dijumpai di
Ketika sektor swasta diperkenankan
Ethiopia dan Malawi. Di Ehtiopia, lembaga
bermitra dengan pemerintah sejak tahun
negara masih dominan dalam pemasaran
1988, beberapa prasyarat yang harus
produk pangan dan stabilisasi harga pangan
dipenuhi swasta adalah tentang kuota
di dalam negeri, untuk mengatasi tragedi
produksi dan pemasaran untuk
kelaparan yang melanda denga dahsyat di
memanfaatkan kapasitas terpasang dari
sana pada dekade 1970 dan 1980an.
pabrik pengolahan yang dimiliki CMDT,
Lembaga negara ini sering kali berasing
insentif harga di tingkat petani, serta
dengan pedagang swasta, walaupun
pengendalian biaya orgaisasi termasuk
manipulasi pasar telah mulai berkurang

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 83


Setahun Kinerja Kabinet Indonesia Bersatu: Pergeseran Visi, Kesalahan
Manajemen dan Kemerosotan Ekonomi

penyuluhan pada musim tanam serta


tingkat bunga kredit proses produksi.
Strategi inilah yang memang digunakan
oleh pemerintah untuk melindungi sektor
kapas di Mali dari fluktuasi dan volatilitas
pasar global.
Penjelasan tentang reforma STE
yang dilakukan beberapa negara
berkembang seperti tersebut juga
berimplikasi bahwa memberi batasan secara
membabi-buta kepada STE dalam
menjalankan aktivitasnya mungkin tidak
selamanya tepat, terutama ketika sektor
swasta tidak siap untuk menggantikannya
secara utuh serta pada lokasi terpencil yang
sulit terjangkau sektor swasta. Apabila STE
di negara maju yang lebih banyak
menguasai pasar ekspor pangan hampir
selalu identik dengan distrosi pasar karena
kekuatan ekspornya sangat mempengaruhi
pasar global, maka tingkat distorsi STE di
negara-negara berkembang diperkirakan
tidak akan mengganggu perdagangan dunia.
Kekuatan yang dimiliki oleh STE di negara
berkembang masih cukup kecil dan tidak
akan menimbulkan distorsi pasar
internasional. Tujuan strategis pendirian
STE di negara berkembang biasanya untuk
mencapai tingkat ketahanan pangan dan
pengembangan pedesaan, sehingga tidak
selalu konsisten dengan prinsip-prinsip
insentif pasar. Maksudnya, apabila masih
terdapat distorsi yang ditimbulkannya di
pasar domestik, hal itu karena primitifnya
kelembagaan STE yang ada, serta karena
special and differential treatment (S&D) yang
dijalankan, sesuatu yang memerlukan
pembahasan lebih rinci di kemudian hari.

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 84


Perkembangan Indikator Ekonomi dan Bisnis Indonesia
Triwulan III

Soybeans ($/mt)

450

375

300

225

150
Jan-00 Jan-01 Jan-02 Jan-03 Jan-04 Jan-05

Sugar, World (cents/kg)


30

25

20

15

10
Jan-00 Jan-01 Jan-02 Jan-03 Jan-04 Jan-05

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 85


Perkembangan Indikator Ekonomi dan Bisnis Indonesia
Triwulan III

M a i z e ( $ /m t)
140

120

100

80

60
Jan-00 Jan-01 Jan-02 Jan-03 Jan-04 Jan-05

R i c e , T h a i 5 % ( $ /m t )
350

275

200

125

50
Jan-00 Jan-01 Jan-02 Jan-03 Jan-04 Jan-05

Gambar 2. Harga Dunia Komoditas Pangan Utama (Bank Dunia, 2005)

tidak mampu menyerapnya secara baik


Oleh karena tiga faktor berikut sangat
melalui instrumen kebijakan domestik yang
penting dijadikan bahan penelusuran lebih
ada. Kedua, instabilitas harga di pasar dunia
dalam tentang perdagangan internasional
akan menjelma menjadi instabilitas hagra di
komoditas strategis pangan dan pertanian,
tingkat domestik. Jika harga beras dunia
seperti beras. Pertama, tingkat fluktuasi
turun karena beberapa negara produsen
produksi domestik akan menyebabkan pula
panen dalam waktu yang hampir
fluktuasi tingkat harga pasar domestik.
bersamaan, maka pelaku usaha akan
Maksudnya, suatu ekses suplai yang terjadi
mengimpor beras dan menjualnya di pasar
pada musim panen akan menekan harga
domestik dengan harga yang lebih tinggi.
pada sekuensi berikutnya, ap abila negara

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 86


Perkembangan Indikator Ekonomi dan Bisnis Indonesia
Triwulan III
Demikian pula sebaliknya, jika harga beras seperti pada masa STE Bulog masih
dunia naik karena tingkat suplai dunia memerlukan kajian lebih lanjut. Sejak tahun
berkurang, maka harga beras domestik pun 2004 Indonesia menerapkan larangan
akan terdorong naik karena para pedagang impor beras, sementara itu harga beras
melakukan ekspor beras. Ketiga, nilai tukar dunia kualitas Thai 5% broken melonjak
juga berpengaruh pada harga beras dunia sebesar US$ 50 per ton.
(ekivalen dalam rupiah) yang pasti akan
Kenaikan harga rata-rata gula dunia
berpengaruh pada harga beras di pasar
setahun terakhir sampai mendekati US$ 0.20
domestik. Tingkat volatilitas nilai tukar
per kilogram atau US$ 20 per ton juga
Rupiah seperti yang terjadi di Indonesia
diperkirakan berhubungan dengan stok gula
pada puncak krisis ekonomi tahun 1998-
dunia yang semakin menipis. Negara
1999 berpengaruh pada instabilitas harga
produsen gula seperti Brazil, Argentina,
beras di pasar domestik, apalagi Indonesia
Kuba, Rusia, India, Pakistan dan lain-lain
tidak menerapkan kebijakan bea masuk
sedang menahan stok domestiknya untuk
impor beras, pada waktu itu.
tidak dilemparkan kepada pasar global.
Gambar 2 adalah perkembangan harga Kecurigaan tentang pasar gula dumping di
dunia untuk komoditas pangan strategis tingakt global nampaknya semakin mewarnai
seperti beras, gula, jagung dan kedelai. strategi kebijakan ekonomi negara-negara
Harga beras dan gula cenderung mengalami produsen gula. Tingginya harga minyak
laju peningkatan yang cukup tinggi selama dunia sejak awal tahun 2005 ini telah
setahun terakhir, sesuatu yang agak berbeda membuat negara produsen gula dunia agak
dari biasanya. Produksi beras di beberapa hati-hati dalam bertindak, karena pencarian
begara produsen tidak mengalami seperti bahan bakar alternatif Etanol yang berasal
Thailand, Vietnam, India, Indonesia dan dari tanaman tebu semakin intensif.
lain-lain relatif tidak mengalami gejolak Kecenderungan serupa juga terjadi pada studi
berarti. Peningkatan harga beras dunia dan kajian sumber energi alternatif biodiesel
lebih banyak dipicu oleh tipisnya suplai yang berasal dari minyak kelapa sawit serta
beras dunia karena negara-negara produsen bahan terbarukan lainnya. Hal penting yang
sedang menahan cadangan berasnya di harus diwaspadai adalah dampak tingginya
dalam negeri. Negara-negara baru harga gula dunia ini bagi laju inflasi suatu
konsumen beras banyak bermunculan, negara importir gula, termasuk Indonesia,
seperti Turki, Argentina dan beberapa karena keterkaitan aktivitas industri makanan
negara di Amerika Latin yang diperkirakan yang berbahan baku gula dengan komposisi
mempengaruhi stok suplai beras dunia. pembentukan inflasi dari sektor makanan dan
Beberapa menyebutkan bahwa peran makanan olahan. Relevansi kenaikan harga
Indonesia dalam perdagangan beras dunia gula dunia bagi penataan kelembagaan dan
masih layak diperhitungkan, walalupun status STE di Indonesia yang berhubungan
argumen tentang validitas negara besar dengan tataniaga impor gula sangat vital

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 87


Perkembangan Indikator Ekonomi dan Bisnis Indonesia
Triwulan III
karena selama ini tidak terdapat ketegasan impor sekitar 1,2 juta ton per tahun dan
kebijakan yang mampu memberikan signal diperkirakan masih akan meningkat pada
positif bagi peningkatan produktivitas yang akan datang. Seharusnya, Indonesia
usahatani tebu serta bagi revitalisasi industri memiliki posisi tawar yang lebih baik
gula di dalam negeri. dibandingkan negara eksportir kedelai karena
captive market yang juga tidak kecil. Akan
Kecenderungan penurunan harga dunia
tetapi, karena status STE bidang pangan yang
jagung dan kedelai selama setahun terakhir
menangani komoditas kedelai ini tidak terlalu
memang perlu memperoleh perhatian
solid, maka keunggulan posisi tawar
memadai, karena kedua komoditas pangan
Indoensia tersebut tidak dapat dimanfaatkan
(dan pakan) penting ini masih dikuasai negara
secara baik. Saat ini, organisasi pengrajin
adidaya Amerika Serikat (AS). Seperti
tahu-tempe yang terhimpun dalam Koperasi
disebutkan sebelumnya, negara maju lebih
Tahu-Tempe Indonesia (Kopti) dan pernah
banyak menggantungkan aktivitas ekpsor
jaya pada masa lalu, mengalami persoalan
jagung dan kedelai pada STE yang berada di
organisasional yang tidak ringan. Tidak
dalam negerinya, atau minimal kelompok
salah untuk mulai menata ulang organisasi
pelobi serta asosiasi yang diperkirakan
dan lembaga penaung untuk perdagangan
memiliki jaringan kuat dalam perumusan
komoditas kedelai yang sebenarnya cukup
kebijakan domestik dan diplomasi
stragis bagi ketahanan pangan Indonesia.
internasional. Perusahaan besar bidang
pangan AS dipercaya mampu berperan
sangat besar dalam perdagangan jagung dunia
5. Penutup: Rekomendasi Kebijakan
yang sekaligus berupaya mengembangkan
industri pakan ternak di negara-negara Dari uraian di atas, betapa pemihakan
berkembang. Produksi jagung di Indonesia pemerintah minimal melalui stimulasi
anggaran pembangunan di sektor pertanian
dan negara berkembang lain mungkin tidak dan sistem agribisnis secara umum, atau
terganggu secara langsung karena sistem maksimal melalui integrasi dalam seluruh
insentif produksi dan pemasaran di dalam kebijakan ekonomi makro untuk
negeri memang belum banyak berkembang. memperbesar dan lebih lebih mampu
Dalam hal ini, pembatasan impor komoditas menciptakan dampak ganda (multiplier effects)
pada sektor ekonomi lain yang secara
jagung justru diperkirakan mengganggu potensial dapat diandalkan dalam
aktivitas produksi pakan ternak sebagai salah pemulihan ekonomi. Di tingkat mikro,
satu tulang punggung sektor peternakan di pertanian akan mampu menjadi masa depan
dalam negeri, yang juga melibatkan peternak dan basis pembangunan ekonomi Indonesia
skala kecil dan menengah. apabila dikembangkan mengikuti falsafah
besar dalam agribisnis: komersial, klaster
Demikian pula tentang dampak dan kedekatan pasar dalam suatu sistem
penurunan harga kedelai dunia bagi impor yang lebih beradab. Hampir seluruh negara
maju di dunia memulai pembangunan
kedelai yang dilakukan Indonesia. Industri
ekonominya dari sektor pertanian dan
tahu-tempe di Indonesia mampu menyerap

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 88


Perkembangan Indikator Ekonomi dan Bisnis Indonesia
Triwulan III
sumberdaya lain. Indonesia hanya akan Skema perbaikan dan restrukturisasi agro-
menjadi negara pecundang saja dalam industri gula pastilah lebih membawa
kancah peradaban global apabila masih perbaikan basis usahatani dan industri hilir
terus-menerus meminggirkan sektor
pertaniannya. dalam jangka panjang, dibandingkan
dengan upaya buka-tutup seperti sekarang
Bagi Indonesia, yang telah menjadi
yang bernuansa jangka pendek, dan mudah
anggota aktif cukup lama dan bahkan
diplesetkan menjadi ajang perburuan rente.
menjadi salah satu anggota Cairns Group,
Demikian pula bagi komoditas jagung,
menjalankan kesepakatan-kesepakatan
dukungan sarana produksi, keterjaminan
WTO amat perlu dilaksanakan secara hati-
pasar sebagai pakan ternak, serta arah
hati dan terukur tanpa harus mengorbankan
pengembangan agribisnis di sektor
keutuhan dan keberdaulatan ekonomi
peternakan pastilah lebih membekas dan
bangsa. Indonesia memang lebih banyak
mendasar bagi kualitas pemulihan ekonomi,
dikenal sebagai pasar yang amat potensial
dibandingkan dengan berdebat-kusir atas
bagi produk-produk dunia, dibandingkan
zoning kedaerahan untuk areal tanam
sebagai negara produsen komoditas
jagung. Untuk kedelali yang sampai saat ini
strategis dunia. Sasaran besar untuk
masih menghadapi kendala produksi cukup
melindungi petani dan memajukan empat
serius, upaya pencarian varietas kedelai
produk pertanian utama: beras, jagung,
lahan tropis yang tahan serangan hama-
kedelai dan gula akan selalu memenuhi
penyakit juga akan dirasakan secara
hambatan apabila kebijakan di dalam negeri
langsung oleh pelaku usahatani dan
sendiri tidak konsiten.
agribisnis.
Percobaan Indonesia melarang
Terakhir, Indonesia harus menempuh
sementara impor beras sebagai salah satu
jalur diplomasi ekonomi dan perdagangan
bahan pangan strategis, dan pengaturan
dunia secara bilateral untuk memperluas
impor atau tanaiaga gula dengan melibatkan
akses pasar bagi komoditas unggulan
hanya lima importir terdaftar telah
seperti di sektor perikanan (udang, tuna,
mengalami ujian bertubi-tubi di dalam
cakalang), perkebunan (kelapa sawit, karet,
negeri. Kasus harga jual gabah petani yang
coklat), dan sebenarnya juga untuk
masih lebih rendah dari harga referensi
perindustrian (furniture, handy craft dan
pembelian pemerintah (HPP), dan
produk elektronik low-tech). Dukungan
fenomena penyelundupan gula yang telah
diplomat dan atase perdagangan pada
merusak prinsip-prinsip sistem insentif.
kantor keduataan dan perwakilan negara di
Tidak ada jalan lain, Indonesia harus segera
luar negeri untuk memfasilitasi pertemuan
menyempurnakan instrumen kebijakan
dan transaksi bisnis antar negara pastilah
pemberdayaan lain dan perlindungan bagi
amat berharga. Para putra-putri terbaik
petani, seperti pengurangan susut pasca
bangsa Indonesia tersebut amat sangat
panen, sebagai komplemen kebijakan harga.
diharapkan kontribusinya untuk lebih pro-

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 89


Perkembangan Indikator Ekonomi dan Bisnis Indonesia
Triwulan III
aktif menjemput bola para pelaku usaha Arifin, Bustanul. 2005. Pembangunan
dan investor yang memiliki minat terhadap Pertanian: Paradigma Kebijakan dan
Indonesia. Minimal, pertukaran arus- Strategi Revitalisasi. Jakarta: PT
informasi ekonomi antar dunia usaha dan Gramedia Widyasarana Indonesia. 114
antar negara dapat diperlancar, yang tentu halaman.
tidak mustahil mampu meningkatkan nilai
Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan
dan iklim investasi, berkembangnya
Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi
kapasitas sektor riil dan dan skala usaha
Universitas Indonesia. 2005. Road-
ekonomi dan sebagainya. Hal inilah yang
Map Menuju Ketahanan Pangan.
akan mampu meningkatkan kualtias
Jakarta: LPEM-FEUI.
pemulihan ekonomi di Indonesia,
perekonomian yang mampu menyerap dan Mellor, John (ed.). 1995. Agriculture on the
menciptakan lapangan kerja baru, sekaligus Road to Industrialization. New Yortk: The
mengentaskan masyarakat dari kemiskinan. Johns Hopkins University Press.
World Bank. 2005. Indonesia: New
Directions. The World Bank Brief for
Referensi
The Consultative Group on Indonesia
Arifin, Bustanul. 2004. Analisis Ekonomi (CGI) January 19-20, 2005.
Pertanian Indonesia. Jakarta: Penerbit Washington, DC.: The World Bank.
Buku KOMPAS. 304 halaman.

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 90


Perkembangan Indikator Ekonomi dan Bisnis Indonesia
Triwulan III

Perkembangan Indikator Ekonomi dan


Bisnis Indonesia
Triwulan III dan Kecenderungannya
pada Triwulan IV 2005

Enny Sri Hartati

Selama triwulan III 2005, makroekonomi yang kompleks dan sulit


perkembangan indikator makro seperti tersebut, Bank Indonesia terpaksa
investasi, ekspor, maupun konsumsi swasta mengetatkan likuiditas dengan
mengalami perlambatan yang signifikan. meningkatkan BI Rate sehingga suku bunga
Demikian juga yang terjadi pada sektor SBI mencapai 12% pada akhir triwulan III-
eksternal. Defisit neraca pembayaran 2005. Akibat kenaikan suku bunga,
meningkat menjadi 2,3 miliar dolar, yang tentunya akan berdampak buruk baik bagi
terutama disebabkan oleh defisit neraca kinerja intermediasi perbankan maupun
transaksi berjalan. Defisit neraca sektor riil. Data terakhir menunjukkan
pembayaran memberikan tekanan secara bahwa NPL perbankan mencapai angka
fundamental terhadap nilai tukar rupiah,
5,0%(net) atau 8,9% (gross), sementara
sehingga rupiah terdepresiasi sebesar 4,8%
CAR perbankan sebesar 18,9%. Di pasar
selama triwulan III. Di tengah tekanan
saham, obligasi dan reksadana, diwarnai
depresiasi rupiah dan akibat kebijakan
sentimen negatif dan mengakibatkan
kenaikkan harga BBM, maka inflasi pada
rendahnya upaya korporasi melakukan
bulan oktober membubung tinggi mencapai
8,70 persen (m-t-m). Dengan demikian penambahan modal melalui pasar-pasar
secara kumulatif sampai triwulan III 2005, tersebut.
perubahan Indeks Harga Konsumen (IHK) Ke depan, tekanan pada inflasi
sudah mencapai 14,94%. diperkirakan masih akan besar sebagai
Menghadapi perkembangan dampak kenaikan harga BBM yang masih

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 91


Perkembangan Indikator Ekonomi dan Bisnis Indonesia
Triwulan III
terus berlanjut, depresiasi nilai tukar rupiah, elektronik.
dan rencana kenaikkan tarif TDL dan gas Dari sisi eksternal, terkait dengan
elpiji pada awal tahun 2006 yang tentunya meningkatnya suku bunga di pasar
akan meningkatkan ekspektasi inflasi. internasional, dan apresiasi dolar akibat
Nilai Tukar pengetatan moneter di Amerika Serikat (AS).
Dengan berlanjutnya tightening cyle di AS
Menurunnya kinerja neraca pembayaran
sebagai respon atas perkiraan meningkatnya
memberikan tekanan secara fundamental
laju inflasi mendorong penguatan mata uang
terhadap nilai tukar rupiah. Kurs rupiah
US dollar secara global. Selain itu,
terdepresiasi tajam sebesar 4,8% dari rata-rata
meningkatnya harga minyak dunia turut
Rp9.556 per dolar selama triwulan II-2005
memberi dampak negatif terhadap mata uang
menjadi Rp10.013 per dolar pada triwulan III.
negara-negara net-oil importer termasuk
Bahkan nilai tukar rupiah sempat menyentuh
Indonesia.
level Rp11.880 per dolar atau secara point to
point terdepresiasi 5,4% dibandingkan triwulan Tekanan terhadap rupiah diperburuk
sebelumnya. Pelemahan nilai tukar rupiah juga dengan sentimen negatif dari persepsi pasar
diiringi dengan meningkatnya volatilitas dari atas kondisi sustainabilitas fiskal Pemerintah
1,38% menjadi 2,72% pada triwulan III-2005. dalam menanggung besarnya subsidi BBM
akibat tingginya harga minyak dunia.
Pelemahan nilai tukar rupiah dipicu oleh
Ditambah lagi, dalam kondisi perbankan yang
baik faktor internal maupun eksternal. Dari
ekses likuiditas, meningkatnya permintaan
sisi internal, pelemahan rupiah disebabkan
valas memicu sejumlah perusahaan domestik
oleh peningkatan defisit neraca pembayaran
dan individu ikut memburu valas (bandwagon
akibat besarnya permintaan valas untuk
effect) di pasar baik untuk motif berjaga-jaga
kebutuhan impor maupun pembayaran utang
maupun spekulatif sehingga tekanan pada nilai
luar negeri, sementara pasokan valas dan FDI
tukar rupiah semakin besar.
relatif terbatas. Tingginya permintaan valas
selama triwulan III-2005 dipicu oleh tingginya Dari sisi penawaran valas, rendahnya daya
kebutuhan impor untuk memenuhi kebutuhan saing ekspor Indonesia juga tidak mampu
ekspansi ekonomi domestik. Selama triwulan menggenjot volume ekspor walaupun rupiah
III-2005 pembelian valas oleh sektor terdepresiasi cukup tajam. Demikian juga
korporasi secara kumulatif masih tinggi yaitu aliran modal masuk belum menunjukkan
tercatat sebesar 9,8 miliar dolar. Selain untuk peranan yang berarti. Tingginya harga minyak
keperluan impor minyak, beberapa kelompok dunia juga tidak mampu meningkatkan aliran
korporasi lainnya juga mencatat kenaikan devisa secara neto, karena terbatasnya investasi
pembelian valas untuk memenuhi kebutuhan di sektor pertambangan migas sementara
impor bahan baku. Utamanya adalah konsumsi BBM dalam negeri terus meningkat.
perusahaan yang bergerak di bidang industri Sampai dengan bulan Agustus 2005, pasar
otomotif, industri makanan, industri
valas dalam negeri masih mengalami
baja/ logam serta consumer goods dan barang
pembalikan arus modal asing (capital reversal)

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 92


Perkembangan Indikator Ekonomi dan Bisnis Indonesia
Triwulan III
karena meningkatnya ekspektasi depresiasi. SBI, SUN, saham serta obligasi korporasi
Demikian juga penempatan dana asing di mengalami penurunan.
berbagai instrumen pasar keuangan seperti
Gambar 1.
Pergerakan Nilai Tukar Rupiah terhadap Beberapa Mata Uang Kuat Dunia,
Januari 2004 September 2005

13,000

12,000

11,000

10,000

9,000

8,000

7,000
Jan-04

Jan-05
May

May
Sept

Sept
Juli

Juli
Mar

Mar
Nov

US $ JPY 100 EURO

Sumber : Bank Indonesia

Inflasi masing-masing 12,46% dan 12,65% (y-o-y).


Selama triwulan III 2005, inflasi IHK Meningkatnya inflasi pada administered
meningkat tajam mencapai 9,06% (y-o-y), price pada triwulan III antara lain
lebih tinggi dibandingkan triwulan disebabkan oleh kenaikan harga rokok, tarif
sebelumnya sebesar 7,42% (y-o-y). PAM (Juli) dan tarif tol (Agustus) dan
Peningkatan inflasi IHK terutama berasal kenaikkan BBM (oktober). Inflasi pada
dari tingginya kenaikan harga yang diatur administered prices juga disebabkan oleh
pemerintah (administered prices) dan kenaikan harga minyak tanah ditingkat
depresiasi rupiah. Ditambah lagi adanya pengecer jauh lebih tinggi daripada di
fluktuasi harga bahan makanan (volatile tingkat agen. Kenaikan harga BBM menjadi
foods). Inflasi pada volatile food dan sumber utama tekanan inflasi. Kenaikan
administered prices pada akhir triwulan III- harga BBM rata-rata sekitar 80% akan
2005 mencatat level yang sangat tinggi memberikan sumbangan inflasi sekitar 3%.
Tekanan inflasi menjadi lebih besar apabila

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 93


Perkembangan Indikator Ekonomi dan Bisnis Indonesia
Triwulan III
dampak lanjutan kenaikan harga BBM
terhadap biaya transportasi dan harga-harga
Inflasi semakin tidak terkendali
lain tidak dapat terkendali.
disebabkan oleh tingginya ekpektasi inflasi
Tingginya laju volatile food dipicu olehmasyarakat sehubungan dengan rencana
terhambatnya distribusi sejumlahpemerintah untuk menaikkan TDL dan gas
kebutuhan pokok di beberapa daerah dan elpiji awal tahun depan serta pengaruh
penyesuaian harga kelompok administered pelemahan kurs rupiah serta peningkatan
prices. Disamping itu juga disebabkan oleh ekspektasi inflasi. Peningkatan ekspektasi
pasokan beras dan bumbu bumbuan akibat ini tercermin dari hasil survei konsumen
kondisi produksi yang tidak sebaik tahun dan survei pedagang eceran yang
lalu serta gangguan distribusi yang dipicu menunjukkan bahwa ekspektasi inflasi
oleh kelangkaan BBM di sejumlah daerah. masyarakat semakin meningkat.
Sementara itu, tekanan inflasi yang berasal
dari passthrough nilai tukar menunjukkan
peningkatan, tercermin dari peningkatan
imported inflation (inflasi IHPB impor) yang
jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan
peningkatan inflasi IHK.
Gambar 2.
Pergerakan Laju Inflasi, Januari 2004 September 2005

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 93


Perkembangan Indikator Ekonomi dan Bisnis Indonesia
Triwulan III

% m-t-m % y-o-y
10.00 20.00

9.00 18.00

8.00
16.00
7.00
14.00
6.00
12.00
5.00
10.00
4.00
8.00
3.00
6.00
2.00
4.00
1.00

0.00 2.00
May

May
Apr

Apr
Mar

Mar
Okt

Okt
Ags.

Agust
Sept

Sept
Feb

Feb
Jun

Jun
Juli

Juli
Jan-04

Jan-05
Des
Nov

-1.00 -

Bulan

Inflasi (m to m) (%) Inflasi (y to y) (%)

Sumber : Bank Indonesia

Jumlah Uang Beredar


mencapai11,62% menjadi Rp1.088,4 triliun
Jumlah uang beredar selama triwulan atau meningkat Rp14,6 triliun dari akhir
III-2005 menunjukkan peningkatan Juni. Peningkatan tersebut terutama
dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. dikarenakan oleh kenaikan komponen M1
Jumlah uang kartal yang diedarkan (UYD) terutama uang giral, dan kuasi Rupiah
meningkat dari Rp124,43 triliun menjadi dalam bentuk deposito, serta simpanan
Rp134,95 triliun dan diperkirakan akan valas. Dilihat dari faktor yang
mengalami peningkatan sampai akhir tahun mempengaruhi, peningkatan M2 terutama
sehubungan dengan adanya kenaikan disumbang oleh meningkatnya kredit
permintaan uang kartal terkait dengan Natal Rupiah yang terutama digunakan untuk
dan tahun Baru 2005. konsumsi. Meskipun demikian, pada bulan
Uang beredar secara nominal Agustus pertumbuhan M2 riil masih berada
mengalami peningkatan seiring dengan di bawah pertumbuhan ekonomi. Kondisi
meningkatnya kegiatan ekonomi, dengan ini menunjukkan masih tingginya ekses
adanya hari raya idhul fitri. Secara nominal, likuiditas di perbankan yang belum mampu
pertumbuhan M2 pada triwulan III tercatat

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 77


Perkembangan Indikator Ekonomi dan Bisnis Indonesia
Triwulan III
diserap secara optimal oleh sektor riil.

Gambar 3.
Pertumbuhan Uang Beredar, Januari 2004 September 2005
M1
1,200,000 M2

1,000,000
M1 dan M2 (Miliar Rp)

800,000

600,000

400,000

200,000

-
Jan- Mar May Juli Sept Nov Jan- Mar May Juli Sept
04 05

Sumber : Bank Indonesia


Suku Bunga
Disamping itu, upaya peningkatan
Tingginya tingkat inflasi dan depresiasi efektivitas penyerapan ekses likuiditas juga
rupiah, memaksa Bank Indonesia dilakukan melalui kenaikan GWM yang
menerapkan kebijakan moneter yang diberlakukan secara efektif sejak 8
cenderung ketat melalui perubahan struktur September 2005. Kenaikan GWM ini
suku bunga. Selama triwulan III, BI Rate dilakukan secara proporsional terhadap
telah dinaikkan sebanyak 3 kali, suku bunga kondisi LDR dari masing -masing bank
FASBI 7 hari telah dinaikkan sebesar 100 setelah memperhitungkan ketentuan GWM
bps menjadi 8,50% dan suku bunga tahun 2004 yang didasarkan pada
penjaminan simpanan pihak ketiga rupiah kepemilikan Dana Pihak Ketiga. Kenaikan
dan valas pada bulan September dinaikkan BI Rate tentunya akan direspon oleh
masing-masing menjadi 10,50% dan kenaikan suku bunga perbankan. Pada
4,25%3. Langkah pengetatan moneter ini bulan Agustus, suku bunga deposito 1 dan
diharapkan dapat menyerap ekses likuiditas 3 bulan masing-masing sebesar 7,55% dan
di masyarakat. 7,71% atau meningkat 57 dan 52 bps dari
akhir Juni. Sementara suku bunga kredit

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 95


Perkembangan Indikator Ekonomi dan Bisnis Indonesia
Triwulan III
masih relatif stabil, kecuali modal kerja. Dalam kondisi ini selisih suku bunga antara
Pada bulan Agustus 2005, suku bunga kredit dan deposito cenderung menyempit,
kredit tercatat masing -masing 13,40% kendati masih cukup lebar yaitu berkisar
(KMK), 13,62% (KI), dan15,96% (KK). antara 5,85 - 8,41%.

Gambar 4.
Pergerakan Suku Bunga, Januari 2004 September 2005
18.00

16.00

14.00

12.00
Suku Bunga (%)

10.00

8.00

6.00

4.00

2.00

-
Jan-04

Jan-05
Nov
Juli

Juli
Jun

Jun
Des
Feb

Mar

Feb

Mar
Apr

Okt

Apr
Ags.

Ags.
May

May
Sept

Sept
SBI (3bln) (%) Bulan Simpanan Berjangka (3 bln) (%)
Tabungan (%) Kredit KMK (%)
Kredit Investasi (%)

Sumber : Bank Indonesia


Pasar Modal
Dalam triwulan III-2005, secara umum
Kenaikan suku bunga BI Rate pembiayaan aktivitas ekonomi melalui pasar
menyababkan kurang bergairahnya (bearish) modal mengalami penurunan. Indikasinya,
pelaku pasar modal. Sentimen negatif juga jumlah dana yang diperoleh perusahaan dari
berkaitan dengan tingginya harga minyak, pasar modal menurun dibandingkan dengan
prospek kesinambungan fiskal, dan rencana triwulan II maupun triwulan III tahun
kenaikan TDL. Akibatnya Indeks harga 2004. Selain bersifat siklikal dimana dalam
saham gabungan (IHSG) tertekan dari triwulan III 2005 tidak banyak emiten yang
1.136 menjadi 1.044. Di pasar obligasi, melakukan IPO, penurunan tersebut juga
harga Surat Utang Negara (SUN) juga dipengaruhi oleh kondisi makro ekonomi
mengalami penurunan hingga di bawah yang mengalami tekanan terutama
harga par-nya. Demikian pula di pasar reksa pelemahan nilai tukar. Secara keseluruhan,
dana, Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana dalam triwulan III tercatat 6 perusahaan
merosot lebih dari 50%, menjadi Rp32,7 melakukan IPO obligasi dengan nilai
triliun. sebesar Rp2,2 triliun dan 1 perusahaan

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 96


Perkembangan Indikator Ekonomi dan Bisnis Indonesia
Triwulan III
melakukan IPO saham dengan nilai sebesar mempengaruhi penurunan kinerja bursa
Rp 63,4 miliar. Dengan perkembangan saham di BEJ antara lain adalah kenaikan
tersebut, secara kumulatif dana yang harga minyak dunia yang memberikan
berhasil diperoleh dari pasar modal selama dampak negatif bagi perdagangan bursa
periode Januari - September 2005 tercatat utama dunia dan bursa kawasan Asia
sebesar Rp9,6 triliun, masing -masing dari Tenggara. Ditambah lagi, faktor internal
penerbitan obligasi sebesar Rp9,0 triliun (19 yang ikut mempengaruhi melemahnya pasar
perusahaan) dan penerbitan saham sebesar saham adalah depresiasi nilai tukar rupiah
Rp0,6 triliun (dari 5 perusahaan). Angka ini yang tajam, peningkatan suku bunga, dan
jauh lebih rendah dibandingkan periode kekhawatiran terhadap kesinambungan
yang sama tahun sebelumnya yang fiskal pada RAPBN 2006. Kedepan
mencapai Rp16,5 triliun. Ditambah dengan diperkirakan, penurunan ini tidak akan terus
peningkatan pembiayaan dari kredit berlanjut. Karena penurunan harga saham
perbankan sebesar Rp107,2 triliun, total yang cukup besar akan mendorong
peningkatan pembiayaan perekonomian sejumlah investor untuk kembali melakukan
mencapai Rp116,7 triliun, atau meningkat selective buying pada saham-saham kapitalisasi
lebih tinggi dari periode yang sama tahun besar yang sudah mencapai undervalue.
2004, yakni sebesar Rp70,4 triliun.
Sementara itu, sejak awal triwulan III
Kondisi tersebut menyebabkan secara perdagangan SUN juga mengalami kelesuan
umum indeks harga saham mengalami dan diwarnai penjualan kelompok
penurunan. Selama triwulan III, reksadana akibat peningkatan BI Rate. Hal
perdagangan saham di Bursa Efek Jakarta itu tercermin dari perkembangan Nilai
(BEJ) diwarnai penjualan saham oleh Aktiva Bersih (NAB) reksa dana yang terus
investor asing. Padahal, pada awal triwulan mengalami penurunan. NAB reksa dana
III perdagangan saham di BEJ masih bulan September 2005 anjlok lebih dari
menunjukkan peningkatan cukup tinggi. 50% menjadi Rp32,7 triliun dibandingkan
Bahkan pada bulan juli IHSG sempat NAB bulan Juni yang mencapai Rp80,2
mencapai level tertinggi dalam sejarah bursa triliun triliun. Akibat dari aksi jual
Indonesia yakni 1.192. Namun, dalam reksadana, harga SUN mengalami
bulan Agustus 2005 IHSG menurun penurunan drastis dan bahkan sudah berada
kembali dan sempat berada di bawah 1.000 di bawah harga par-nya. Untuk mencegah
karena dipicu oleh penjualan saham secara berlanjutnya kelesuan di pasar SUN, Bank
besar-besaran oleh investor asing. Sentimen Indonesia melakukan tiga kali pembelian
negatif tersebut sehubungan dengan SUN di pasar sekunder dengan total
kekhawatiran investor asing terhadap pembelian sebesar Rp4,0 triliun sehingga
perkembangan ekonomi nasional maupun padai akhir triwulan III-2005 BI sudah
internasional. Kondisi eksternal yang memiliki SUN Rp10,5 triliun. Alhasil,

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 97


Perkembangan Indikator Ekonomi dan Bisnis Indonesia
Triwulan III
selama triwulan III, total redemption relatif belum terpengaruh, tercermin dari
mencapai Rp77,1 triliun sementara tingkat Loan to Deposit Ratio (LDR) yang
subscription hanya sebesar Rp37,4 triliun, mencapai 67,1%. Namun demikian, kualitas
dengan demikian net redemption selama kredit perbankan dalam triwulan III-2005
triwulan III mencapai Rp39,7 triliun. mengalami penurunan dengan
meningkatnya NPL Gross dari 7,9% pada
Penurunan NAB rekadana terkait erat
akhir triwulan II 2005 menjadi 8,9%.
dengan peningkatan suku bunga dan
Penurunan kualitas kredit tersebut terutama
prediksi investor terhadap potensi risiko
terjadi pada sektor industri dan pada jenis
yang mungkin timbul atas investasi pada
kredit investasi. Relatif terjaganya peran
reksa dana. Guna mengatasi pencairan
intermediasi perbankan tersebut, tidak
reksa dana dalam jumlah besar dan
terlepas dari kebijakan moneter dalam
mengurangi risiko default, Bapepam
mengantisipasi depresiasi rupiah dan
mengeluarkan ketentuan produk baru reksa
kenaikan tekanan inflasi. Rasio
dana, yaitu Reksa Dana Terproteksi, Reksa
profitabilitas, likuiditas dan permodalan
Dana dengan Penjaminan, dan Reksa Dana
perbankan masih dalam kondisi yang cukup
Indeks.
memadai.
Walaupun demikian terdapat
Perbankan
peningkatan risiko usaha yang dihadapi
Perkembangan sektor perbankan perbankan, tercermin dari menurunnya
selama triwulan III terkait erat dengan kualitas kredit perbankan. Risiko pasar juga
kenaikan BI rate yang tentunya diikuti masih meningkat, seiring dengan
peningkatan suku bunga simpanan. Namun meningkatnya suku bunga baik domestik
kenaikkan suku bunga ini selama triwulan maupun global serta adanya kecenderungan
III relatif belum tertransmisikan pada suku terdepresiasinya rupiah. Sebagai
bunga kredit, sehingga kenaikan BI rate konsekuensi penurunan kualitas kredit
belum mempengaruhi volume kredit adalah turunnya tingkat profitabilitas dan
perbankan. Pada bulan Agustus 2005, permodalan perbankan. Peningkatan NPL
volume kredit perbankan masih mengalami memaksa perbankan untuk meningkatkan
peningkatan sekitar Rp37,9 triliun dari akhir penyisihan penghapusan kredit. Alhasil
Juni. Kredit tersebut terutama tersalur ke Return on Asset (ROA) turun dari 2,9%
sektor perdagangan, perindustrian, dan jasa menjadi 2,8% dan Capital Adequacy Ratio
dunia usaha. Secara akumulasi, dalam (CAR) turun dari19,45% menjadi 18,88%.
triwulan III, jumlah kredit perbankan Menurunnya kinerja perbankan merupakan
meningkat sebesar Rp37,9 triliun, sedikit akibat dari instabilitas makroekono mi dan
lebih besar dari kenaikan DPK. dapat berdampak meningkatkan risiko
Secara umum, kinerja perbankan masih usaha dan menurunkan keuntungan.

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 98


Perkembangan Indikator Ekonomi dan Bisnis Indonesia
Triwulan III
Kondisi likuiditas antar bank masih dipengaruhi oleh meningkatnya ekspektasi
relatif stabil meskipun telah dilaksanakan depresiasi rupiah, sehingga masyarakat lebih
pencabutan penjaminan PUAB seiring memilih menyimpan dalam bentuk valas.
dengan berdirinya Lembaga Penjamin Selain itu, peningkatan simpanan dana
Simpanan (LPS) pada tanggal 22 September masyarakat pada perbankan juga berkaitan
2005. Dengan adanya peningkatan BI Rate perpindahan dana yang sebelumnya
dan suku bunga penjaminan yang diikuti ditanamkan dalam bentuk reksa dana ke
dengan kenaikan suku bunga deposito perbankan sehubungan dengan penurunan
mendorong kenaikan simpanan dana NAB reksa dana yang cukup signifikan
masyarakat di perbankan. DPK perbankan mulai Maret 2005. Dalam periode akhir
masih meningkat sebesar Rp35,8 triliun, Maret sampai dengan Agustus 2005,
berasal dari DPK valas 18,7%, sementara deposito milik perorangan pada perbankan
DPK rupiah hanya meningkat sebesar nasional meningkat sekitar Rp40,6 triliun
0,7%. Relatif meningkatnya simpanan valas sebagian berasal dari redemption reksadana.

Tabel 5.
Indikator Kinerja Perbankan

NPL CAR ROA BOPO LDR NIM


Bulan (%) (%) (%) (%) (%) (%)
Jan-04 6.72 23.79 2.59 90.39 42.39 5.79
Feb 6.85 23.32 2.35 92.81 42.88 5.69
Mar 6.25 23.49 2.71 90.38 43.70 5.89
Apr 6.26 22.46 2.83 89.88 44.92 5.89
May 6.40 21.68 2.57 90.47 45.56 5.85
Jun 6.19 21.08 2.67 90.25 46.39 5.83
Juli 6.02 20.70 2.71 82.81 46.81 5.89
Ags. 5.82 20.72 2.80 85.93 47.87 5.81
Sept 5.58 20.78 2.96 83.61 48.13 5.79
Okt 5.39 20.44 2.91 84.82 49.13 5.81

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 99


Perkembangan Indikator Ekonomi dan Bisnis Indonesia
Triwulan III
Nov 5.44 19.77 3.03 80.78 49.49 5.83
Des 4.5 19.42 3.46 76.64 49.95 5.88

Jan-05 4.67 22.35 3.42 75.20 49.50 5.92


Feb 4.69 22.09 3.35 81.35 50.52 5.70
Mar 4.37 21.75 3.41 81.19 51.22 5.81
Apr 4.45 21.21 3.52 81.22 51.31 5.81
May 6.37 20.03 3.33 81.16 52.90 5.73
Jun 6.99 19.51 2.20 88.79 53.08 5.75
Juli 7.64 18.45 2.25 94.97 53.85 5.70
Ags. 8.02 18.94 2.18 88.84 54.48 5.68
Sept 7.87 19.43 1.97 90.05 54.16 5.56

Sumber : Bank Indonesia

Namun demikian, walaupun secara untuk kredit investasi justru turun sekitar
umum kinerja perbankan masih relatif 19 persen. Kondisi makro-ekonomi yang
aman, namun fungsi intermediasi kurang stabil menyebabkan risiko investasi
perbankan belum berjalan sempurna. di Indonesia lumayan ting gi sehingga kredit
Pertumbuhan kredit perbankan sampai investasi menurun. Disamping itu perlu
triwulan III 2005, masih jauh lebih kecil diwaspadai bahwa pertumbuhan kredit yang
dari DPK yag dihimpun bank. cukup cepat biasanya juga diikuti dengan
Pertumbuhan kredit perbankan lebih kenaikan kredit bermasalah. Total kredit
banyak pada kredit konsumsi. Hingga akhir perbankan naik dari sekitar 27 persen akhir
September 2005 kredit konsumsi tahun 2004 menjadi 29,3 persen pada
meningkat sampai 46,3 persen September 2005. Dengan komposisi ini,
dibandingkan dengan periode yang sama maka pertumbuhan kredit masih tinggi, tapi
tahun 2004. Sedangkan kredit modal kerja indikasi kenaikan kredit bermasalah (NPL)
hanya naik sekitar 28,4 persen. Bahkan juga akan terjadi.

Gambar 6.
Perkembangan Dana dan Kredit Perbankan , Januari 2004 September 2005

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 99


Perkembangan Indikator Ekonomi dan Bisnis Indonesia
Triwulan III

1,200,000

1,000,000

800,000
Dana - Kredit

600,000

400,000

200,000

0
Juli

Juli
Okt
Feb

Feb
Des
Jan-04

Jan-05
May

May
Jun

Jun
Mar

Mar
Ags.

Ags.
Sept

Sept
Apr

Apr
Nov
Dana Perbankan (Miliar Rp) Kredit Perbankan (Miliar Rp)

Sumber : Bank Indonesia

Neraca Perdagangan, Modal dan saing di tengah pertumbuhan ekonomi


Pembayaran global yang melambat. Pada triwulan III-
2005, kegiatan ekspor non-migas hanya
Transaksi berjalan mengalami defisit
tumbuh 2,8% (y-o-y), terutama dipengaruhi
karena meningkatnya defisit transaksi
oleh harga komoditas internasional yang
perdagangan non-migas sebagai akibat
mulai leveling off. Jika dibandingkan triwulan
akselerasi kenaikan impor yang melebihi
II tahun 2005, hanya naik 1,89 persen yaitu
kenaikan ekspor. Ketergantungan impor
dari Rp 181,0 triliun menjadi Rp 184,4
bahan baku dan barang modal
triliun.
menyebabkan volume impor masih tinggi.
Meningkatnya konsumsi BBM domestik Sementara kenaikan impor non-migas
dan melonjaknya harga minyak dunia terutama dipicu oleh impor bahan baku dan
memang mengakibatkan nilai impor migas barang modal yang mempunyai pangsa
tumbuh tinggi yaitu sekitar 45% (y-o-y). sekitar 90% dari total impor non-migas.
Namun, kenaikkan konsumsi BBM Dalam periode Januari-Juli 2005,
domestik ini masih dapat di-offset oleh pertumbuhan impor untuk barang modal,
windfall profit migas. Oleh karenanya, neraca bahan baku, dan barang konsumsi masing -
perdagangan migas masih mencatat surplus masing mencapai 40,6%, 26,0%, dan 4,2%
walaupun dengan jumlah yang semakin (y-o-y). Dari struktur tersebut terlihat
menipis. Permasalahannya, ekspor masih bahwa produksi dalam negeri masih sangat
tumbuh terbatas karena rendahnya daya tergantung pada impor. Dengan tingginya

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 77


Perkembangan Indikator Ekonomi dan Bisnis Indonesia
Triwulan III
akselarasi pertumbuhan impor dan masih berjalan pada triwulan III-2005 mengalami
terbatasnya kenaikan ekspor, transaksi defisit 16 juta dolar.

Tabel 7.
Perkembangan Neraca Perdaganagan Indonesia

Keterangan 2005 Jan - Sept


Jul Ags Sep Triw III 2005 2004 %
Total Ekspor, Fob 6,992.7 7,031.9 7,379.2 21,403.8
Migas 1,575.2 1,795.0 1,712.8 5,083.0 11,486.8 13,963.1 -21.56
Minyak Mentah 673.4 750.4 707.5 2,131.3 4,697.6 5,923.8 -26.10
Hasil Minyak 131.7 165.5 215.8 513.0 1,296.3 1,424.2 -9.87
Gas 770.1 879.1 789.5 2,438.7 5,492.9 6,615.1 -20.43
Non Migas 5,417.5 5,236.9 5,666.4 16,320.8 39,947.1 48,350.6 -21.04

Total Impor, Cif 4,815.7 5,401.1 4,896.7 15,113.5 33,499.9 43,746.7 -30.59
Migas 1,488.6 2,030.9 1,772.8 5,292.3 8,243.7 13,276.3 -61.05
Minyak Mentah 472.7 715.2 400.4 1,588.3 4,381.0 5,436.6 -24.09
Hasil Minyak 1,015.9 1,315.7 1,372.4 3,704.0 3,856.7 7,835.8 -103.17
Gas 0.0 0.0 0.0 0.0 6.0 3.9 35.00
Non Migas 3,327.1 3,370.2 3,123.9 9,821.2 25,256.2 30,470.4 -20.65

Sumber : BPS, 2005

Sementara itu dari sisi kinerja neraca pinjaman LN swasta, hanya FDI dan
modal, aliran dana keluar untuk Portfolio Investment yang masih mencatat
pembayaran utang dan impor masih net inflows masing -masing sebesar 247 juta
semakin meningkat sementara aliran dana dolar dan 524 juta dolar. Dengan
masuk masih terbatas. Aliran masuk modal perkembangan tersebut, peran investasi
neto pemerintah lebih kecil dari perkiraan yang bersifat likuid (portofolio) masih
akibat rendahnya realisasi pencairan dominan dalam mendukung aliran modal
komitmen pinjaman luar negeri. Masih masuk. Guna menjaga ketahanan sektor
terbatasnya realisasi aliran masuk modal eksternal ke depan, diperlukan percepatan
akibat belum kondusifnya perbaikan iklim realisasi upaya peningkatan arus masuk
investasi. Dari sisi struktur aliran modal, modal asing yang sustainable dan bersifat
modal asing swasta yang masuk masih non-debt creating, serta peningkatan devisa
dalam berbentuk pinjaman (40%), serta hasil ekspor. Jika tidak, memburuknya
FDI dan FPI masing -masing sekitar 30% kinerja neraca pembayaran ini secara
dari total aliran modal masuk. Dengan fundamental telah memberikan tekanan
masih tingginya beban pembayaran yang besar terhadap nilai tukar rupiah.

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 101


Perkembangan Indikator Ekonomi dan Bisnis Indonesia
Triwulan III
Terbatasnya aliran modal masuk, produksi (penawaran) disebabkan oleh
tingginya kewajiban pembayaran utang luar sejumlah kendala. Diantaranya adalah
negeri dan penyesuaian pada investasi lambannya kebijakan struktural untuk
portofolio berdampak pada tekanan defisit memperbaiki iklim investasi, menurunnya
neraca pembayaran semakin besar. Defisit persepsi bisnis, meningkatnya biaya
yang terjadi pada neraca transaksi berjalan produksi terkait dengan kenaikan harga
dan kinerja neraca modal yang menurun administered, kenaikan suku bunga bank, dan
menyebabkan Neraca Pembayaran pada depresiasi rupiah. Kenaikan harga BBM
triwulan III-2005 mengalami defisit sebesar industri dan tarif listrik, sangat signifikan
2,3 miliar dolar. Kondisi ini menyebabkan mempengaruhi persepsi terhadap prospek
posisi cadangan devisa pada triwulan III-
investasi di Indonesia. Para pelaku ekonomi
2005 turun menjadi USD31,3 miliar, atau
melakukan penyesuaian dalam merespon
hanya cukup untuk 3,9 bulan impor dan
dampak kenaikkan harga BBM dan
pembayaran ULN pemerintah.
pelemahan nilai tukar, sehingga investasi
menjadi tersendat.
Pertumbuhan Ekonomi
Hal ini terlihat pada penurunan
Pertumbuhan ekonomi pada triwulan pertumbuhan sebagian besar sektor-sektor
III-2005 mengalami perlambatan ekonomi, tak terkecuali juga pada sektor
dibandingkan pertumbuhan triwulan dengan pangsa besar dalam struktur GDP.
sebelumnya. Pada triwulan I ekonomi Yaitu seperti sektor industri pengolahan;
tumbuh sebesar 6,12 persen, pada triwulan
sektor perdagangan, restoran dan hotel; dan
II sebesar 5,84 persen dan triwulan III
sektor pertanian. Penurunan terbesar terjadi
hanya sebesar 5,34 persen. Sementara laju
pada pertumbuhan sektor keuangan,
pertumbuhan ekonomi quarter to quarter (q
persewaan, dan jasa perusahaan menurun
to q) pada triwulan III sebesar 2,87 persen
sehingga secara kumulatif laju pertumbuhan dari 3,10 persen menjadi 1,86 persen.
selama tiga triwulan 2005 hanya mencapai Terutama terjadi pada sub sektor
5,76 persen. Perlambatan ini terlihat pada perbankan melambat dari 5,61 persen
beberapa indikator penuntun (leading menjadi 2,91 persen, sub sektor lembaga
indicator) ekonomi dan investasi. Terutama keuangan nonbank dari 1,42 persen
melambatnya laju pertumbuhan menjadi 0,34 persen. Pertumbuhan sektor
pembentukan modal tetap bruto dari 14,54 listrik, gas, dan air bersih menurun dari 3,85
persen pada triwulan II menjadi 9,18 persen persen menjadi 2,12 persen. Sub sektor
pada triwulan III. Selain itu, anjloknya laju perdagangan besar melambat dari 2,47
pertumbuhan ekspor dari 12,69 persen persen menjadi 2,29 persen, subsektor
pada triwulan II menjadi 3,39 persen pada angkutan, mesin, dan peralatan melambat
triwulan III. 4,65 persen menjadi 3,58 persen. Pada
Perlambatan kinerja ekonomi triwulan III, sektor yang mulai bangkit
Indonesia pada triwulan III-2005, dari sisi setelah mengalami pertumbuhan negatif

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 102


Perkembangan Indikator Ekonomi dan Bisnis Indonesia
Triwulan III
adalah sektor pertanian yaitu sebesar 1,64 sifatnya sangat dipengaruhi oleh musim.
persen. Pertumbuhan sektor pertanian

Gambar 8.
Pertumbuhan Ekonomi Sektoral , Triwulan III 2004 Triwulan III 2005

12

10

0
Triw III-04 IV Triw I-05 II III
-2

-4

-6
Pertanian Pertambangan & Penggalian
Industri Pengolahan Bangunan
Perdagangan, Hotel, & Restoran Keuangan, Persewaan & Jasa

Sementara dari sisi permintaan juga disposable riil masyarakat dapat dipahami
menunjukkan kecenderungan yang sama, sebagai akibat dari tingginya inflasi.
baik pengeluaran rumah tangga maupun
Sementara itu, keterbatasan anggaran
pemerintah. Konsumsi swasta pada
Pemerintah berakibat menekan
triwulan III-2005 hanya tumbuh sebesar
pengeluaran, konsumsi dan investasi
4,43 (y-o-y). Perlambatan terutama terjadi
pemerintah sehingga peran kebijakan fiskal
pada konsumsi non-makanan, seperti
dalam mendorong pertumbuhan ekonomi
listrik rumah tangga, penjualan motor dan
sangat terbatas. Hal itu disebabkan oleh
mobil serta tercermin pada pertumbuhan
pencairan Daftar Isian Pelaksanaan
uang kartal riil. Perlambatan konsumsi ini
Anggaran (DIPA) yang terlambat sehingga
dikonfirmasi oleh hasil survei konsumen
sebagian besar baru terlaksana pada
yang menununjukan bahwa telah terjadi
triwulan III. Kinerja fiskal sampai triwulan
penurunan penghasilan riil masyarakat yang
III tahun 2005 masih sangat terbatas dalam
cukup drastis. Menurunnya pendapatan
mendorong pertumbuhan ekonomi baik

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 103


Perkembangan Indikator Ekonomi dan Bisnis Indonesia
Triwulan III
dari sisi konsumsi maupun investasi. menurun terkait dengan terus menurunnya
Realisasi APBN sampai dengan akhir produksi minyak Indonesia.
Agustus 2005 masih mencatat posisi
Masih rendahnya ekspor non migas
surplus sebesar Rp16,6 triliun (0,6% dari
selain disebabkan lemahnya daya saing, juga
PDB).
belum berkembangnya pasar alternatif
Demikian juga kegiatan investasi juga tujuan ekspor dan terbatasnya produk
menunjukkan kecenderungan menurun, andalan ekspor Indonesia. Berdasarkan
baik perlambatan kegiatan investasi perhitungan Revealed Competitive Advantage
pemerintah maupun pihak swasta. Peran (RCA) Departemen Perdagangan
Pemerintah daerah juga masih sulit menunjukkan bahwa komoditi ekspor yang
diharapkan, seperti terlihat dari masih memiliki daya saing tinggi adalah karet,CPO
minimnya inisiatif daerah sebagai penggerak serta produk kayu (berbasis sumber daya
investasi. Dari sisi investasi swasta, alam). Dengan struktur tersebut, ekspor riil
kenaikan BBM untuk industri telah belum dapat memanfaatkan peningkatan
mengurangi kemampuan dunia usaha dalam daya saing yang bersumber dari pelemahan
melakukan investasi. Ditambah lagi, nilai tukar rupiah. Hal tersebut disebabkan
terbatasnya kebijakan struktural untuk sektor yang berbasis sumber daya alam
mendukung peningkatan kapasitas cenderung kurang fleksibel dalam
perekonomian. Pertumbuhan stok kapital melakukan penyesuaian sisi pasokan.
hanya berkisar 0-0,5% pada periode setelah
Disisi lain, secara trend pertumbuhan
krisis, sehingga membatasi upaya
impor juga cenderung melambat dari titik
peningkatan produksi. Penambahan stok
tertinggi triwulan III-2004. Hal tersebut
kapital yang relatif besar hanya terlihat di
sejalan dengan melambatnya permintaan
sektor pengangkutan dan telekomunikasi
domestik dan kegiatan investasi, khususnya
dan sektor industri, sementara stok kapital
jenis-jenis investasi yang membutuhkan
di sektor perdagangan, sektor pertanian,
bahan baku impor dalam proses
dan sektor pertambangan relatif tetap.
produksinya. Sejak tahun 2004 keterkaitan
Dari sisi eksternal, kinerja ekspor masih ekspor dan impor semakin kuat yang
tumbuh terbatas karena rendahnya daya menunjukkan relatif tingginya import content
saing di tengah pertumbuhan ekonomi beberapa komoditas ekspor non migas,
global yang melambat. Sayangnya, khususnya ekspor barang manufaktur.
pertumbuhan ekspor non migas masih
Kedepan, pada triwulan IV 2005
mengandalkan komoditas berbasis sumber
diperkirakan pertumbuhan ekonomi masih
daya alam dan hasil pertanian. Dua belas
melambat terkait dengan ekspektasi
komoditas utama yang memiliki pangsa
ancaman inflasi dua digit pada tahun 2006
sekitar 75% terhadap total ekspor nonmigas
masih tinggi. Beberapa faktor pemicunya
adalah berbasis komoditas primer.
antara lain seperti perkembangan harga
Sementara itu, volume ekspor migas terus

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 104


Perkembangan Indikator Ekonomi dan Bisnis Indonesia
Triwulan III
minyak dunia, rencana menaikkan tarif 1.529 perusahaan besar-sedang di
dasar listrik (TDL), dan masih rendahnya Jabotabek dan di luar Jabotabek. Demikian
kebijakan untuk mendorong sektor riil. juga, Survei Tendensi Konsumen (STK)
Disamping itu, perkiraan Indeks Tendensi terhadap 1.200 rumah tangga menunjukkan,
Bisnis (ITB) triwulan IV hanya 98,57. STK di Jabotabek mengalami penurunan
Angka indeks dibawah 100, artinya 5,48 poin di bawah 100. Penurunan
prospek bisnis diperkirakan bakal menurun. dipengaruhi turunnya tingkat konsumsi
Angka ITB merupakan hasil survei kerja beberapa komoditas pokok makanan dan
sama BPS dengan Bank Indonesia terhadap non makanan.

Gambar 9.
Pertumbuhan Ekonomi Sektoral , Triwulan III 2004 Triwulan III 2005
35

30

25

20

15

10

0
Triw III-04 IV Triw I-05 II III

Pembentukan Modal Tetap Bruto Permintaan Domestik


Ekspor Barang dan Jasa Impor Barang dan Jasa
Produk Domestik Bruto

Bisnis & Ekonomi Politik, Vol. 6 (3), Oktober 2005 105


Perkembangan Indikator Ekonomi dan Bisnis Indonesia
Triwulan III