Sunteți pe pagina 1din 7

HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN DENGAN INSOMNIA PADA

LANSIA DI BALAI PENYANTUNAN LANJUT USIA SENJA CERAH


PANIKI KECAMATAN MAPANGET MANADO
Fransiska Sohat
Hendro Bidjuni
Vandri Kallo

Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran


Universitas Sam Ratulangi
E-mail: Sohat.fransisca@yahoo.com

Abstract : Anxiety is a mental feel disorder, were signed of feared and worried that become worst
in the next day. The Anxiety level can be affected from how people response the events that time.
Insomnia usually happens to Geriatric periods. Insomnia were caused by emotional disorder
and health mental disorder, including anxiety. This research have a purpose to know the
relationship of the Anxiety with Insomnia problem on Geriatric periods. By took all sample from
population ( surfeited sample ) that is 27 people. This research were using of Survey analitycs
and design cross sectional analysis. By the test of chi square in level of significance 95% ( =
0,05). The result of population who has not anxiety problems is 17 respondents , 58,8%
respondents has not Insomnia, 41,2% respondents has Insomnia. 10 respondents has a light
anxiety but has Insomnia problem with = 0,003. Conluded in this research is anxiety create
disaster idea, fear, worried, discomfort thus making it difficult to start and maintain elderly sleep
(insomnia). Action seeking a reduction the anxiety level and insomnias elderly is very
necessary.
Key words : Elderlys Anxiety, Insomnia

Abstrak : Kecemasan adalah gangguan alam perasaan, ditandai dengan perasaan ketakutan atau
kekhawatiran yang mendalam dan berkelanjutan. Tingkat kecemasan dipengaruhi oleh koping
seseorang dalam menghadapi suatu kejadian. Insomnia disebabkan oleh masalah emosional dan
gangguan kesehatan mental, diantaranya kecemasan. Tujuan penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui hubungan antara tingkat kecemasan dengan insomnia pada lansia. Metode penelitian
ini menggunakan metode penelitian survei analitik dengan analisa design cross sectional,
menggunakan sampel keseluruhan (sampel jenuh) yakni 27 orang, dengan uji chi square pada
tingkat kemaknaan 95% ( = 0,05). Hasil penelitian responden yang tidak mengalami kecemasan
berjumlah 17 orang. 58,8% tidak mengalami insomnia dan 41,2% mengalami insomnia.
Sedangkan responden yang mengalami kecemasan ringan berjumlah 10 orang dan semuanya
mengalami insomnia, dengan = 0,003. Kesimpulan dalam penelitian ini ini adalah kecemasan
membuat pikiran menjadi kacau, takut, gelisah, tidak nyaman sehingga membuat lansia sulit
memulai dan mempertahankan tidur (insomnia) Tindakan mengusahakan pengurangan tingkat
kecemasan dan insomnia pada lansia sangat dibutuhkan.
Kata Kunci : Kecemasan pada lansia, insomnia.

1
PENDAHULUAN mereka tidur terlalu sedikit, 24% melaporkan
Menua atau menjadi tua adalah suatu kesulitan tertidur sedikitnya sekali seminggu,
keadaan yang terjadi di dalam kehidupan dan 39% melaporkan mengalami mengantuk
manusia. Prof. Dr. R. Boedhi Darmojo dan yang berlebihan di siang hari.Gangguan
Dr. H. Hadi Martono dikutip oleh Nugroho mental yang erat hubungannya dengan
(2012) mengatakan bahwa menua (menjadi gangguan tidur atau insomnia adalah
tua) adalah proses menghilangnya secara kecemasan. Kecemasan merupakan
perlahan kemampuan jaringan untuk pengalaman subjektif dari individu dan tidak
memperbaiki diri/mengganti diri dan dapat diobservasi secara langsung serta
mempertahankan struktur dan fungsi merupakan suatu keadaan emosi tanpa objek
normalnya sehingga tidak dapat bertahan spesifik (Suliswati, 2012).Adanya kecemasan
terhadap jejas (termasuk infeksi) dan menyebabkan kesulitan mulai tidur, masuk
memperbaiki kerusakan yang diderita. tidur memerlukan waktu lebih dari 60 menit,
Jumlah Lanjut usia (di atas 60 tahun) pada timbulnya mimpi yang menakutkan dan
tahun 2000 adalah 11 % dari seluruh jumlah mengalami kesukaran bangun pagi hari,
penduduk dunia ( 605 juta) (World Health bangun dipagi hari merasa kurang segar
Organization , 2012). Pada jumlah penduduk (Nugroho, 2004). Insomnia adalah gangguan
2000, diperkirakan meningkat sekitar 15,3 memulai atau mempertahankan tidur (stuart,
juta (7,4%) dari jumlah penduduk, dan pada 2012). Ancoli-Israel dalam sebuah survei di
tahun 2005, jumlah ini diperkirakan Amerika Serikat yang dikutip oleh Maas
meningkat menjadi 18,3 juta (8,5%) (2011) yang dilakukan pada 428 lansia yang
(Nugroho, 2012). Menurut perkiraan Biro tinggal dalam masyarakat, sebanyak 19%
Pusat Statistik dikutip oleh Nugroho (2012), subjek mengaku bahwa mereka sangat
pada tahun 2005 di Indonesia, terdapat mengalami kesulitan tidur, 21% merasa
18.283.107 penduduk lanjut usia. Menurut mereka tidur terlalu sedikit, 24% melaporkan
data Dinas Kesehatan Manado tahun 2014, kesulitan tertidur sedikitnya sekali seminggu,
lansia dengan usia > 60 tahun ditahun 2011 dan 39% melaporkan mengalami mengantuk
berjumlah 32.826 jiwa. Perubahan akibat yang berlebihan di siang hari.
proses menua terjadi baik secara fisik dan Gangguan mental yang erat hubungannya
fungsi, perubahan mental, perubahan dengan gangguan tidur adalah kecemasan.
psikososial, perkembangan spiritual. Kecemasan (ansietas/anxiety) adalah
Sebagian besar lansia beresiko gangguan alam perasaan (affective) yang
mengalami gangguan tidur salah satunya ditandai dengan perasaan ketakutan atau
insomnia yang akibat berbagai faktor. Ada kekhawatiran yang mendalam dan
beberapa dampak serius gangguan tidur pada berkelanjutan, tidak mengalami gangguan
lansia misalnya mengantuk berlebihan di dalam menilai realitas (Reality Testing
siang hari, gangguan memori, mood, depresi, Ability/RTA, masih baik), kepribadian masih
sering terjatuh, penggunaan hipnotik yang tetap utuh (tidak mangalami keretakan
tidak semestinya, dan penurunan kualitas kepribadian/splitting of personality), perilaku
hidup. Ancoli-Israel dalam sebuah survei di dapat terganggu tetapi masih dalam batas-
Amerika Serikat yang dikutip oleh Maas batas normal (Hawari, 2013). Ansietas adalah
(2011) yang dilakukan pada 428 lansia yang kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar,
tinggal dalam masyarakat, sebanyak 19% yang berkaitan dengan perasaan tidak pasti
subjek mengaku bahwa mereka sangat dan tidak berdaya dengan keadaan emosi
mengalami kesulitan tidur, 21% merasa yang tidak memiliki objek (Stuart, 2012).
Kecemasan diklasifikasikan menjadi 4 yaitu ini bertujuan untuk melihat hubungan antara
cemas ringan, sedang, berat, panik dua variabel yaitu variabel independen dan
(Videbeck, 2012). Adanya kecemasan variabel dependen, yaitu hubungan antara
menyebabkan kesulitan mulai tidur, masuk tingkat kecemasan dengan kecenderungan
tidur memerlukan waktu lebih dari 60 menit, insomnia pada lansia.
timbulnya mimpi yang menakutkan dan Untuk mengukur tingkat kecemasan
mengalami kesukaran bangun pagi hari, dalam penelitian ini digunakan Instrumen
bangun dipagi hari merasa kurang segar Zung Self-Rating Anxiety Scale (ZSAS).
(Nugroho, 2004). Dalam suatu penelitian Kuesioner ini terdiri dari 20 item pertanyaan
Epidemologi Catchment Area (ECA) di dengan menggunakan penilaian sangat
Amerika Serikat yang dikutip oleh jarang, kadang-kadang, sering dan selalu.
Supriyanti (2005) ditemukan 25% lansia Senjutnya data (jumlah skor) yang diperoleh
mengalami kecemasan yang disebabkan dikategorikan menjadi: 20-44 (normal), 45-59
oleh gangguan tidur (Supriyani dkk., 2005). (ringan), 60-74 (sedang), 75-80 (berat). Isian
Hasil wawancara dengan beberapa lansia di dibagi dalam kategori 1, 2, 3 dan 4.
Balai Penyantunan Lanjut Usia Paniki Pertanyaan selalu dimulai skor 4 untuk
Kecamatan Mapanget Manado, mereka pertanyaan yang favorable dan 1 untuk
mengatakan mereka sulit memulai dan pertanyaan unfavorable (Aspuah, 2013).
mempertahankan tidur. Lansia lain Untuk mengukur Insomnia diukur dengan
mengatakan mereka cemas dengan keadaan menggunakan panduan wawancara dengan
mereka saat ini. Berdasarkan fenomena mengacu pada insomnia rating scale yang
tersebut, penulis tertarik melakukan digunakan oleh kelompok studi biologik
penelitian tentang hubungan tingkat Jakarta (KSPBJ), sehingga dapat mengetahui
kecemasan dengan insomnia pada lansia. skor insomnia secara objektif. Jumlah skor
maksimum untuk insomnia rating scale ini
METODOLOGI PENELITIAN adalah 24. Skala pengukuran insomnia ini
Penelitian ini menggunakan metode tersusun atas 8 pertanyaan. Dengan
penelitian survei analitik dengan design cross klasifikasi gangguan tidur skor 10 yakni
sectional, tiap subjek penelitian hanya tidak ada gangguan tidur dan skor >10
diobservasi sakali saja dan pengukuran mengalami insomnia (Aspuah, 2013).
dilakukan terhadap status karakter atau
variabel subjek pada saat pemeriksaan HASIL DAN PEMBAHASAN
(Notoatmojo, 2010). Populasi dalam Balai Penyantunan Lajut Usia Senja Cerah
penelitian ini adalah seluruh lansia yang ada Provinsi Sulawesi Utara adalah pengelola
di Balai Penyantunan Lanjut Usia (BPLU) pelayanan pada lanjut usia terlantar di
Senja Cerah Kecamatan Mapanget Manado. Provinsi Sulawesi Utara yang terletak di Jl
Sampel dalam penelitian ini adalah semua Walanda A.A. Maramis nomor 333 di Desa
lanjut usia yang berada di BPLU Senja Cerah Paniki Bawah Kecamatan Mapanget,
Kecamatan Mapanget Manado saat Manado. Luas tanah balai ini adalah 8.877
penelitian, yakni menggunakan sampel jenuh. m2 dengan luas bangunan seluruhnya
Analisa data yang digunakan untuk 4.383,72 m2. Jumlah sampel pada penelitian
mengetahui hubungan tingkat kecemasan dan ini 27 orang lansia berumur diatas 60 tahun
kecenderungan insomnia pada lansia adalah dan telah memenuhi kriteria inklusi.
uji Chi Square. Analisa univariat dalam
penelitian penelitian ini adalah untuk melihat
gambaran karakteristik responden, tingkat
kecemasan dan insomnia pada lansia. Analisa
Tabel 1. Karakteristik Responden
Tabel 3. Distribusi Kejadian Insomnia
No. Karakteristik Frekuensi %
1. Jenis Kelamin
Laki-laki 9 33,3 Kejadian Insomnia Frekuensi %
Perempuan 18 66,7 Tidak Insomnia 10 37
2. Tingkat Pendidikan Insomnia 17 63
Tidak Sekolah 5 18,53
SD 12 44.44
Total 27 100
SMP 6 22.22
SMA 4 14.81 Reponden dengan insomnia lebih dari
setengah dari jumlah sampel yang ada.
Distribusi responden menurut jenis
kelamin laki-laki adalah 9 responden Tabel 4. Analisis Hubungan Tingkat
(33,33%). Beberapa ahli dan peneliti Kecemasan dengan Insomnia
menyebutkan bahwa laki-laki memiliki
Insomnia Jumlah
tingkat kecemasan lebih rendah dibandingkan Tingkat Nilai
perempuan. Myers dalam Annisa (2008), Kecemasan Tidak Insomnia n % p
Insomnia
menyebutkan bahwa perempuan lebih cemas
n % n %
akan ketidakmampuannya dibanding dengan
Normal 10 58,8 7 41,2 17 100
laki-laki, laki-laki lebih aktif, eksploratif, Cemas 0 0 10 10,0 10 100 0,003
sedangkan perempuan lebih sensitif. Ringan

44% dari jumlah lansia memiliki


Total 10 17 27
pendidikan sampai Sekolah Dasar atau
sederajatnya. Notoatmodjo (2010) Tabel 2x2 ini diuji chi square memiliki
menyatakan bahwa tingkat pendidikan nilai harapan (expected count) yang <
seseorang berpengaruh dalam memberikan (0,05). Berdasarkan tabel di atas
respon terhadap sesuatu yang datang dari menunjukkan bahwa responden yang tidak
luar. Namun dalam penelitian ini beberapa mengalami kecemasan berjumlah 17 orang.
responden telah memiliki tingkat pendidikan 10 responden (58,8%) tidak mengalami
yang tinggi (SMA keatas), pengalaman hidup insomnia dan 7 responden (41,2%)
yang cukup lama yakni telah lanjut usia, mengalami insomnia. Sedangkan responden
sehingga kemampuannya dalam menganalisis yang mengalami kecemasan ringan berjumlah
kehidupannya menjadi baik dan menurunkan 10 orang dan semuanya mengalami insomnia.
tingkat kecemasannya. Untuk melihat hasil kemaknaan penghitungan
statistik digunakan batas kemaknaan =
Tabel 2. Distribusi Tingkat Kecemasan 0,05. Penerimaan terhadap Hipotesis (H1)
apabila nilai p < = 0,05, yakni ada
Tingkat Kecemasan Frekuensi % hubungan antara tingkat kecemasan dan
Normal 17 63 insomnia pada lansia. Pada tabel di atas nilai
Cemas ringan 10 73 p = 0,003, sehingga nilai p < = 0,05.
Cemas sedang 0 0
Dengan demikian ditarik kesimpulan
Cemas berat 0 0
27 100
Hipotesis ada hubungan antara tingkat
Total
kecemasan dan insomnia pada lansia
diterima.
Lansia yang mengalami kecemasan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah
ringan kurang dari setengah sampel.
dilakukan pada 27 orang lanjut usia didapati
Sedangkan untuk cemas sedang sampai berat
17 responden (63%) tidak mengalami cemas
tidak ada.
atau normal, sedangkan 10 responden (37%) nyeri, sehingga menyebabkan lansia sulit
mengalami cemas ringan. Penelitian tertidur. Menurut Rafknowledge dalam
Epidemologi Catchment Area (ECA) telah Ernawati (2012), faktor-faktor yang
menemukan bahwa prevalensi gangguan mempengaruhi insomnia pada lansia antara
kecemasan satu bulan pada orang yang lain proses penuaan, gangguan psikologis,
berusia 65 tahun atau lebih adalah 5,5%. gangguan medis umum, gaya hidup, faktor
Kecemasan adalah hal umum pada lansia, 10- lingkungan fisik, dan faktor lingkungan
20 % dari populasi lansia didapati mengalami sosial.
kecemasan (Bethesda, 2009). Dalam Journal Insomnia dapat disebabkan oleh masalah
of American Geriatrics Society dinyatakan emosional dan gangguan kesehatan mental,
bahwa 3-14 dari setiap 100 orang lansia diantaranya kecemasan. Ini sering terjadi
memiliki gangguan kecemasan (Detikhealth, karena adanya masalah yang belum
2014). Menurut Hawari (2013), gangguan terselesaikan ataupun kuatir akan hari esok
kecemasan merupakan kondisi yang paling (University of Maryland medical center,
umum pada lansia. Pada lansia menghadapi 2013). Beberapa faktor resiko terjadinya
pikiran kematian dengan rasa putus asa dan insomnia adalah faktor psikologik
kecemasan menjadi masalah psikologis yang (memendam kemarahan, cemas, ataupun
penting pada lansia, khususnya lansia yang depresi), kebiasaan (penggunaan kafein,
mengalami penyakit kronis. Perilaku cemas alkohol yang berlebihan, tidur yang
pada lansia dapat disebabkan oleh penyakit berlebihan, merokok sebelum tidur), usia di
medis fisiologi yang sulit diatasi, atas 50 tahun (Turana, 2007). 10 reponden
kehilangan pasangan hidup, pekerjaan, penelitian yang mengalami cemas ringan,
keluarga, dukungan sosial, respons yang mengalami insomnia. Kecemasan dapat
berlebihan terhadap kejadian hidup, membuat pikiran seseorang menjadi kacau,
pemikiran akan datangnya kematian. takut, gelisah, tidak nyaman. Masalah yang
Prevalensi gangguan tidur pada lansia dihadapi membuat lansia sulit memulai tidur.
cukup tinggi yaitu sekitar 67% dengan Kecemasan ini dapat mengganggu tidur para
gangguan tidur yang paling sering ditemui lanjut usia.
yakni insomnia (Amir, 2007). Pada lansia
sistem regulasi dan fisiologis terjadi KESIMPULAN
perubahan, sehingga bisa menyebabkan Dari hasil penelitian yang dilakukan di
gangguan tidur khususnya insomnia. Balai Penyantunan Lanjut Usia Senja Cerah
Faktanya lebih dari 50% usia lanjut Mapanget pada tanggal 23 juni sampai 27
mengalami insomnia (Astuti, 2012). Menurut juni 2014 maka disimpulkan:
Vaughn (2012) pasien usia lanjut lebih 1. Kurang dari setengah lansia
cenderung menderita insomnia yang ditandai mengalami cemas ringan.
dengan kesulitan mempertahankan tidur 2. Lebih dari setengah lansia mengalami
daripada kesulitan memulai tidur. Gangguan insomnia
tidur pada lansia terjadi selain karena faktor 3. Terdapat hubungan antara tingkat
usia, juga disebabkan diet yang buruk, kecemasan dengan insomnia di BPLU
masalah psikologis, masalah medis seperti Senja Cerah Manado

DAFTAR PUSTAKA
Abrams, W. B. & Robert Berkow (2013). (Widjaja Kusuma, penejermah).
The Merk Manual Geriatrics Tangerang: Binarupa Asara.
Andi (2012). Solusi Praktis dan Mudah Hudsonvalleycs (2014) Zung Self-Rating
Menguasai SPSS 20 Untuk Anxiety Scale (ZSAS)
Pengolaan Data. Yogyakarta: http://www.hudsonvalleycs.
Wahana Komputer. org/self_assess/Anxiety_Zung_Scree
ner.pdf Diakses tanggal 21 april 2014
Aspuah, siti (2013). Kumpulan kuesioner jam 15.05 WITA.
dan instrument penelitian kesehatan.
Yogyakarta: Nuha Medica. Kane. Robert, Ouslander J., Abrass I. &
Resnick B. (McGraw Hill
Copel, L. C. (2007). Kesehatan Jiwa &
Professional). Essentials of Clinical
Psikiatri (2nd ed) (Akemat
Geriatrics (7th ed). 2013
penerjemah). Jakarta: EGC
Badan Statistik Indonesia (2014) Jumlah Kaplan, H. I., Sadock, B. J., & Grebb, J. A.
Penduduk menurut Kelompok Umur, (2010) Sinopsis Psikiatri (2nd ed)
Jenis Kelamin, Provinsi, dan (Widjaja Kusuma, Penerjemah).
Kabupaten/Kota, 2005. Jakarta: Binarupa Aksara.
http://www.datastatistikindonesia.co
m/portal/index.php?option=com_tabe Maas, M.L., et al (2011) Asuhan
l&at=1&idtabel=116&Itemid=165 Keperawatan Geriatrik (Renata
Diakses dari tanggal 27 maret 2014 Komalasari, Ana Lusyana, Yuyun
Yuningsih, Penerjemah). Jakarta:
jam 09.50 WITA.
EGC.
Departemen Kesehatan Indonesia (2014)
Data Lansia di Indonesia tahun 2005 MNSU (2014) Zung Self-Rating Anxiety
http://www.depkes.go. id/index. Scale (ZSAS)
php?vw=2&id=SNR.13110002 https://www.mnsu.edu/comdis/isad1
Diakses tanggal 28 maret 2014 jam 6/papers/therapy16/sugarmanzungan
10.15 WITA. xiet.pdf Diakses tanggal 21 april
2014 15.30 WITA.
Dinas kesehatan kota manado (2014) Jumlah
lansia kota Manado tahun 2014 Notoatmojo, Soekidjo (2010) Metodologi
Penelitian Kesehatan. Jakarta: EGC
Ernawati (2012). Faktor-faktor yang
berhubungan dengan terjadinya Nugroho,W. (2006). Keperawatan Gerontik
insomnia pada lansia. & Geriatrik. Jakarta: EGC.
http://publikasiilmiah.ums.ac.id/bitstr
eam/handle/123456789/3706/ERNA Prayitno, A. (2014). Gangguan pola tidur
WATI%20%20AGUS%20SUDARY pada kelompok usia lanjut dan
ANTO%20fix%20BGT.pdf?sequenc penalaksanaanya.
e=1 Diakses tanggal 15 Juli 2014 jam http://academia.edu/6863618/ganggu
07.44 WITA an_pola_tidur_pada_kelompok_usia
_lanjut_dan_penatalaksanaannya.
Hastono, S. P. & Luknis Sabri (2011). Diakses 6 agustus 2014 jam 22.35
Statistik Kesehatan. Jakarta:
Rajawali Persada Raharja, Ericha (2013). Hubungan Tingkat
Depresi Dengan Kejadian Insomnia
Hawari, H.D. (2013) Manajemen Stress Pada Lanjut Usia.
Cemas Dan Depresi. Jakarta: FK UI http://repository.unej.ac.id/bitstream/
handle/123456789/3193/ Titus, Irto (2013). Gambaran Perilaku
Ericha%20Aditya%20Raharja%20- Lansia Terhadap Kecemasan Di
%20062310101038.pdf?sequence=1 Panti Sosial Tresna Werdha
Di- akses tanggal 5 Juni 2014 jam Theodora Makassar
11.00 WITA http://repository.unhas.ac.id/bitstrea
m/handle/123456789/4601/IRTO%2
Sadiah, Aminatus (2014). Tingkat 0TITUS_K11108527.pdf?sequence=
Kecemasan Suami Terhadap 1 Diakses 28 mei 2014 jam 22.55
Gangguan Mornong Sickness Ibu
Hamil Primigravida Trimester 1 Di Townsend, M. C. (2010). Buku Saku
wilayah Kecamatan Ciputat Timur Diagnosis Keperawatan Psikiatri
th
http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/ (5 ed ) (devi yulianti & ayura yosef
bitstream/123456789/24114/1/ penerjemah). Jakarta: EGC
AMINATUS %20SADIAH-fkik.pdf
Diakses tanggal 27 Maret 2014 University of Maryland medical center
(2013).Insomnia.http://umm.edu/heal
Setiadi (2013). Konsep dan Praktik th/ medical/reports/articles/insomnia
Penulisan Riset Keperawatan (Edisi Diakses 15 Juli 2014 jam 08.14
2). Yogyakarta: Graha Ilmu WITA
Stuart, G. W. (2012). Buku Saku
Keperawatan Jiwa (edisi 5, edisi Vaughn, W (2012). Sleep in the Elderly:
revisi ) (Ramona p. kapoh & egi Burden, Diagnosis, and Treatment.
komara yudha penejermah). Jakarta: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/art
icles/PMC427621/ Diakses 15 Juli
EGC
2014 jam 08.04 WITA
Supiyani, dkk (2005) Proportion of Mental
Disordes Among the Elderly Videbeck, Sheila (2012) Buku Ajar
Fasidence Of Sasana Tresna Werdha Keperawatan Jiwa (Renata
Yayasan Karya Bakti Ria Komalasari, penerjemah). Jakarta:
Pembangunan Cibubur. EGC.
http://repository.unhas.ac.id/bitstrea World Health Organization (2012). Ageing
m/handle/123456789/4601/ and Life Course.
IRTO%20 http://www.who.int/ageing/about/fact
TITUS_K11108527.pdf?sequence=1 s/en/ Diakses tanggal 14 april 2014
Diakses tanggal 27 maret 2014 jam jam 12.05 WITA.
11.05 WITA.