Sunteți pe pagina 1din 16

Perkembangan Tingkah Laku Anak dan Faktor yang Mempengaruhi

Asrianti Saddi Pairunan


102013280
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No 6 Jakarta Barat, 11470
Email :asriantisaddi@gmail.com

Abstraks

Pertumbuhan dan perkembangan atau yang lebih dikenal dengan istilah tumbuh kembang
pada anak meliputi seluruh proses kejadian sejak terjadi pembuahan sampai masa dewasa. .
Kepribadian sedang dalam pembentukan dan di dalam stadium perkembangan banyak sekali
terjadi perubahan atau modifikasi tingkah laku. Perkembangan tingkah laku anak di
pengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah faktor perilaku, faktor kognitif, faktor
psikososial, dan lain sebagainya, apabila dalam pertumbuhan dan perkembangan anak ada
beberapa faktor yang tidak sesuai makan dapat terjadi gangguan pada perilaku anak
diantaranya anak dapat mengalami depresi, hiperaktif dan lain sebagainya jika anak tidak
mampu menyesuaikn diri. Oleh karena itu orang tua berperan sangat penting dalam proses
perkembangan anak agar dapat mengarahkan ke arah yang baik.

Kata kunci : tumbuh kembang, faktor perkembangan, hiperaktif.

Abstract
Growth and development, or better known as the growth and development in children covers
the entire process of events from conception to adulthood. , Personality is in the formation
stage and in the development of a lot of changes or behavioral modification. The
development of the child's behavior is influenced by several factors such as behavioral
factors, cognitive factors, psychosocial factors, and so forth, when in the growth and
development of children there are several factors that do not fit to eat can be an interruption
in the child's behavior among children can experience depression, hyperactivity and so if the
child is unable menyesuaikn themselves. Therefore, parents play an important role in the
process of child development in order to steer in the right direction.

Keywords: growth, growth factors, hyperactivity.

1
Pendahuluan

Pertumbuhan dan perkembangan atau yang lebih dikenal dengan istilah tumbuh
kembang pada anak meliputi seluruh proses kejadian sejak terjadi pembuahan sampai masa
dewasa. Ciri tumbuh-kembang yang utama adalah bahwa dalam periode tertentu terdapat
adanya masa percepatan atau masa perlambatan, serta laju tumbuh-kembang yang berlainan
di antara organ tubuh. Selama proses tumbuh kembang berlangsung, terdapat beberapa hal
yang turut berpengaruh seperti misalnya status gizi, faktor sosial yaitu keluarga dan
lingkungan sekitar, dan lain sebagainya. Apabila salah satu hal / aspek tersebut mengalami
gangguan sehingga tidak dapat terpenuhi, maka tumbuh kembang anak menjadi terganggu.
Terganggunya proses tumbuh kembang pada anak dapat mengakibatkan kemunduran pada
sang anak baik secara fisik maupun mental. Selain itu, segi kognitif dan emosional anak pun
akan menjadi tidak stabil. Dalam makalah ini akan membahas berbagai hal mengenai proses
tumbuh kembang anak dan beberapa aspek yang mempengaruhi tumbuh kembang sang anak.

Perkembangan Anak
Seorang anak hidup paling aktif di dalam masa perkembangannya. Kepribadian
sedang dalam pembentukan dan di dalam stadium perkembangan banyak sekali terjadi
perubahan atau modifikasi tingkah laku. Sebab itu perlu mengetahui ciri tingkah laku normal
pada setiap stadium perkembangan anak dan membedakannya dengan gejala patologis.
Lingkungan tempat anak tumbuh dan bergantung ialah keluaraga dan terutama sekali orang
tua, sehingga dalam program pengobatan orang tua selalu diikutsertakan.
Agar seseorang anak seara psikososial dapat berkembang spontan dan wajar, perlu
anak itu memperoleh kasih sayang, pengertian, perasaan, aman, disiplin, penghargaan dan
penerimaan dari masyarakat sekitarnya. Seorang anak perlu merasakan kepuasan dalam
hubungan dengan orang tua, merasa disayang, dihargai dan mempunyai kepercayaan akan
kemampuan dan kekuatan dirinya.1

Faktor yang Mempengaruhi Psikiatri


Faktor Biologis
Pengaruh biologis pada perkembangan meliputi faktor- faktor genetika. Pematangan
fisik dan saraf mendorong anak untuk maju dan membuat batasan yang rendah untuk
tumbuhnya berbagai macam kepandaian. Usia saat anak dapat berjalan sendiri, rata-rata sama
diseluruh dunia, meskipun frekuensi latihan setiap anak berbeda. Perubahan-perubahan
pematangan dapat juga menciptakan suatu kemampuan untuk masalah-masalah tingkah laku

2
pada waktu yang dapat diramalkan. Contohnya, penurunan pertumbuhan dan jam tidur saat
usia 2 tahun umumnya menyangkut tidak adanya nafsu makan dan menolak untuk tidur siang.
Kebutuhan dasar anak untuk tumbuh kembang, secara umum digolongkan menjadi 3
kebutuhan dasar :
1. Kebutuhan dasar fisik-biomedis (ASUH) yang meliputi pangan gizi sebagai
kebutuhan terpenting. Perawatan kesehatan dasar, antara lain imunisasi,
pemberian ASI, penimbangan bayi/anak yang teratur, pengobatan kalau sakit, dan
lain-lain. Selain itu papan/pemukiman yang layak, higene perorangan, sanitasi
lingkungan, sandang, kesegaran jasmani, dan rekreasi juga menjadi hal yang
penting.
2. Kebutuhan emosi/ kasih sayang (ASIH), pada tahun-tahun pertama kehidupan,
hubungan yang erat, mesra dan selaras antara ibu/pengganti ibu dengan anak
merupakan syarat mutlak untuk menjamin tumbuh kembang yang selaras baik
fisik, mental maupun psikososial. Berperannya dan kehadiran ibu/penggantinya
sedini dan selanggeng mungkin, akan menjalin rasa aman bagi bayinya.
Kekurangan kasih sayang ibu pada tahun-tahun pertama kehidupan mempunyai
dampak negative pada tumbuh kembang anak baik fisik, mental maupun social
emosi.
3. Kebutuhan akan stimulasi mental (ASAH), stimulasi mental merupakan cikal
bakal dalam proses belajar pada anak. Stimulasi mental ini mengembangkan
perkembangan mental psikososial: kecerdasan, ketrampilan, kemandirian,
kreativitas, agama, kepribadian, moral-etika, produktivitas, dan sebagainya.2

Faktor Psikososial
Di sini hanya akan dibahas lebih lanjut mengenai gangguan psikiatri yang timbul
akibat faktor psikososial, yaitu:
a. Gangguan dalam hubungan orang tua dengan anak.
Gangguan ini disebabkan oleh karena tidak adanya atau kekurangan atau
terputusnya mothering process untuk waktu yang lama, terutama sekali pada masa
bayi. Hal ini akan menyebabkan anak menjadi apatis, gelisah, sukar makan dan tidur,
perkembangan kepribadian dan jasmani terhambat. contoh lain adalah anak yang
disapih terlalu mendadak atau toilet training yang terlalu dini, putusnya hubungan
anak dengan orang tua karena perceraian, kematian atau pemasukan anak ke dalam
institusi pada usia dini, orang tua yang neurostis, psikotis, psikopatis atau yang

3
mempunyai kecenderungan agresif. Perlu juga diingat bahwa gangguan hubungan
antara orang tua dengan anak dapat terjadi sebgai akibat primer dari tingkah laku
anak itu sendiri.3
Orang tua yang pilih kasih terhadap anak-anak sehingga mengakibatkan
sibling rivatry abnormal. Perlindungan orang tua yang berlebihan sehingga dalam
pertumbuhan anak tetap diperlukan sebagai anak kecil. Hal ini akan menghambat
perkembangan kebebasan, tanggung jawab dan kematangan kepribadian anak. Yang
sering terjadi ialah maternal overprotectioan, yang dapat terjadi baik pada anak yang
diinginkan maupun terhadap perasaan bersalah dalam diri ibu. Seringkali pula
perlindungan yang berlebihan tersebut terjadi karena ibu dalam masa kanak-
kanaknya sangat haus dan kekurangan kasih sayang.3
Perlindungan yang berlebihan dapat terbentuk:
1. Pemanjaan yang berlebihan, sehingga anak tidak disiplin, bandel, temper
tantrums, menuntut dengan agresif.
2. Dilarang berlebihan, sehingga anak menjadi submisif, pemalu dan penakut.
b. Gangguan (kekurangan) dalam diri anak.
Tubuh yang cacat akibat penyakit kronis atau gangguan neurologis, tubuh terlalu
gemuk, retardasi mental akan menimbulkan perasaan inferior dan berbeda dengan
anak yang lain, sehingga dapat menimbulkan regresi dan kegelisahan yang kronis
yang dapat menjelma dalam gangguan tingkah laku.
c. Gangguan dalam interaksi sosial di luar keluarga.
Kegagalan disekolah akibat retardasi mental atau situasi keluarga yang tidak bahagia,
tindakan guru yang tidak tepat, kemiskinan, kesukaran dalam bahasa, kekurangan
fasilitas pendidikan atau berasal dari lingkungan sosiokultural yang berlainan atau
yang dianggap lebih rendah daripada lingkungan mayoritas, sering menjadi penyebab
timbulnya konflik dalam identitas anak dengan keluarganya. Seorang anak yang
merasa ditolak seringkali merasa tidak aman dan gelisah, sehingga ia dapat menjadi
hiperaktif, emosinya tidak stabli, sukar berkonsentrasi, mempunyai rasa benci
terhadap orang (masyarakat) yang menolak kasih sayang yang diharapkannya dan ia
akan menyatakan hostilitasnya dengan temper tantrums dan membangkang. Kadang-
kadang ia akan menyelimuti keinginanya untuk disayang tersebut dengan cara
menjadi sok atau bertindak agresif.2,3

4
Faktor Perasaan
Depresi
Sindrom depresif mengacu pada suatu kelompok tingkah laku dan emosi yang
meliputi kecemasan dan depresi yang berupa perasaan kesepian, menangis, takut melakukan
hal-hal yang buruk, perasaan tidak dicintai, perasaan bersalah, perasaan tidak berharga,
gugup, rasa sedih atau cemas. Diagnosis dari sindrom-sindrom depresif tersebut dapat
berupa : gangguan depresi mayor, gangguan distimik, dan gangguan depresi yang tak dapat
digolongan di tempat lain (not otherwise specified).4

Etiologi
Meskipun peneybab pastinya belum ditegakkan, namun terdapat cukup bukti adanya
dari gentik pada gangguan dengan defresi berat. penelitian menunujukan anak kembar
menunujukan indeks 76%, anak kembar monozigot yang dibesarkan bersama dan 67 % untuk
anak kembar monozogot yang besarkan terpisah dibandingkan dengan 19% untuk anak
kembar dizigot yang dibesarkan bersama. Kadar serothonin dan norepinephrin dan serototnin
rendah diduga merupakan penanda genetic penting.
Teori kognitif telah mengkaitkan perkembangan depresi dengan rasa putus asa dan
ketidakberdayaan akibat kehilangan yang sebenarnya atau persepsi kehilangan perasaan oleh
individu.Teori belajar menyatakan deperesi itu dipelajari dalam lingkungan karena tiadanya
penguat yang layak.pernyataan lain mnyebutkan kurangnya keterampilan sosial,
ketidakberdayaan yang dipelajari, masalah dengan control diri dan stres hidup memainkan
peran dalam perkembangan dan kelangsungan depresi.4

Epidemiologi
Depresi merupakan diagnosis pasien rawat jalan ketujuh tertinggi di dunia. Rata-rata
usia awitan adalah akhir dekade kedua, meskipun sebenarnya depresi dapat dijumpai pada
semua kelompok usia. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa depresi mayor lebih sering
diderita perempuan dibanding laki-laki dengan rasio 2:1.Prevalensi selama kehidupan pada
perempuan 10%-25% dan pada laki- 8 laki 5%-12%. Walaupun depresi lebih sering terjadi
pada perempuan, kejadian bunuh diri lebih sering terjadi pada laki-laki terutama usia muda
dan tua.4

5
Manifestasi klinis
Gejala-gejala depresi bervariasi sesuai tingkat usia dan perkembangan. Depresi pada
anak usia-sekola biasanya datang dengan berbagai gejala. Ekspresi wajah sedih, mudah
meneteskan airmata, iritabilitas, menarik diri dari minat yang bisanya mnyenangkan serta
yang lazim adalah gangguan makan dan tidur .20-30% datang dengan gejala kecemasan,
mengalami gangguan perilaku.Remaja secara khas datang dengan imfulsifitas, kelelahan,
depresi dan ingin bunuh diri.Keputusan sering kali lebih banyak terlihat pada remaja yang
depresi dibandingkan anak.Gejala episode depresi berat biasnaya berkembang selama
beberapa hari atau minggu.Gejala yang tidak ditangani sering menetpa selama 6 bulan namun
kadang-kadang gejala berlangsung 2-3 tahun. Anak pada usia 9 tahun menderita depresi
terbukti dapat menderita gejala depresi pada usia 11-13 tahun. 40% anak yang telah
mengalami depresi berat mengalami relaps dan 20% anak usia belasan tahun yang rawat inap
karena depresi dapat masuk episode mania depresif dalam 3-4 tahun setelah pulang dari
rumah sakit.4

Penatalaksanaan
Pengobatan depresi berat pada masa anak dan remaja ditangani dengan obat
antidepresan dan berbagai terapi psikologis. Anti depresan trikilsik (imipramin (tofranil)).
Desipramin (norpraminb) mungkin bermanfaat dalam memperbaiki gejala. penentuan kadar
dan dosis obat ini sangat penting diperhatikan pada pemberian anak-anak. Anti depreesan ini
berfungsi
untuk meningkatkan atau mengatur kembali serotonin dan norepinefrin agar seimbang.
Biasanya obat bersifat serotonergik dan noradrenergik yang artinya meningkatkan serotonin
atau norepinefrin ataupun keduanya.
Penanganan nonfarmakologis meliputi terapi psikososial melalui konseling psikologi
dan psikoterapi.Psikoterapi yang paling cocok untuk penderita depresi adalah Cognitive
behavior therapy (CBT), yaitu terapi yang mengajak penderita untuk mempelajari bagaimana
mencerna atau mempersepsikan peristiwa kehidupannya. Mulai dari persepsi yang tidak
rasional/negatif dibawa ke persepsi yang rasional/positif. Psikoterapi terindikasi dan
terutama terpenting bagi anak-anak yang mengalami gangguan ganda , seperti gangguan
perilaku dan ganggua kecemasan yang sering kali berdampingan dengan depresi. Terapi
bermain dan berbagai percakapan penting dalam perbaikan gejala.4

6
Faktor Kognitif
Perkembangan kognitif berpusat pada perkembangan cara penerimaan dan mental
anak. Menurut Piaget, anak-anak mencoba berusaha memahami hal-hal baru untuk
mengembangkan pola pikir anak dan jika pemahaman anak tidak tercapai, maka anak akan
berusaha untuk menyesuaikannya dengan cara membatasinya.

Retardasi Mental
Retardasi mental adalah suatu penurunan fungsi intelektual secara menyeluruh yang
terjadi pada masa perkembangan dan dihubungkan dengan gangguan adaptasi sosial. Ada 3
hal penting yang merupakan kata kunci dalam definisi ini yaitu penurunan fungsi intelektual,
adaptasi sosial, dan masa perkembangan. Retardasi Mental ini dapat terjadi dengan atau tanpa
gangguan jiwa maupun gangguan fisik lainnya.5

Etiologi
a. Penyebab Pranatal
1. Kelainan kromosom
Kelainan kromosom penyebab retardasi mental yang terbanyak adalah
sindrom Down. Sindrom Down merupakan 10-32% dari penderita retardasi mental.
Diperkirakan insidens dari sindrom Down antara 1-1,7 per 1000 kelahiran hidup per
tahun. Risiko timbulnya sindrom Down berkaitan dengan umur ibu saat melahirkan.
Ibu yang berumur 20-25 tahun saat melahirkan mempunyai risiko 1:2000, sedangkan
ibu yang berumur 45 tahun mempunyai risiko 1:30 untuk timbulnya sindrom Down.
Analisis kromosom pada sindrom Down 95% menunjukkan trisomi 21, sedangkan
5% sisanya merupakan translokasi. Kelainan kromosom lain yang bermanifestasi
sebagai retardasi mental adalah trisomi-18 atau sindrom Edward, dan trisomi-13 atau
sindrom Patau, sindrom Cri-du-chat, sindrom Klinefelter, dan sindrom Turner.
2. Kelainan metabolic
Kelainan metabolik yang sering menimbulkan retardasi mental adalah
Phenylketonuria (PKU), yaitu suatu gangguan metabolik dimana tubuh tidak mampu
mengubah asam amino fenilalanin menjadi tirosin karena defisiensi enzim
hidroksilase. Penderita laki-laki.Kelainan ini diturunkan secara autosom
resesif.Diperkirakan insidens PKU adalah 1:12 000-15 000 kelahiran hidup. Penderita
retardasi mental pada PKU 66,7% tergolong retardasi mental berat dan 33,3%
retardasi mental sedang. Galaktosemia adalah suatu gangguan metabolism.

7
Hipotiroid congenital adalah defisiensi hormon tiroid bawaan yang disebabkan
oleh berbagai faktor (agenesis kelenjar tiroid, defek pada sekresi TSH atau TRH,
defek pada produksi hormon tiroid). Kadang-kadang gejala klinis tidak begitu jelas
dan baru terdeteksi setelah 6-12 minggu kemudian, padahal diagnosis dini sangat
penting untuk mencegah timbulnya retardasi mental atau paling tidak meringankan
derajat retardasi mental.
Gejala klasik hipotiroid kongenital pada minggu pertama setelah lahir adalah
lidah yang tebal dan menonjol, suara tangis yang serak karena edema pita suara,
hipotoni, konstipasi, bradikardi, hernia umbilikalis. Prevalens hipotiroid congenital
berkisar 1:4000 neonatus di seluruh dunia.Defisiensi yodium secara bermakna dapat
menyebabkan retardasi mental baik di negara sedang berkembang maupun di negara
maju.Diperkirakan 600 juta sampai 1 milyar penduduk dunia mempunyai risiko
defisiensi yodium, terutama di negara sedang. Akibat defisiensi yodium pada masa
perkembangan otak karena asupan yodium yang kurang pada ibu hamil meyebabkan
retardasi mental pada bayi yang dilahirkan. Kelainan ini timbul bila asupan yodium
ibu hamil kurang dari 20 ug ( normal 80-150 ug) per hari. Dalam bentuk yang berat
kelainan ini disebut juga kretinisme, dengan manisfestasi klinis adalah miksedema,
kelemahan otot, letargi, gangguan neurologis, dan retardasi mental berat.
.
3. Infeksi
Infeksi rubela pada ibu hamil triwulan pertama dapat menimbulkan anomali pada
janin yang dikandungnya. Risiko timbulnya kelainan pada janin berkurang bila infeksi
timbul pada triwulan kedua dan ketiga. Manifestasi klinis rubela kongenital adalah
berat lahir rendah, katarak, penyakit jantung bawaan, mikrosefali, dan retardasi
mental.
4. Intoksikasi
Fetal alcohol syndrome (FAS) merupakan suatu sindrom yang diakibatkan intoksikasi
alkohol pada janin karena ibu hamil yang minum minuman yang mengandung
alkohol, terutama pada triwulan pertama.5,6
b. Penyebab Perinatal
15-20% dari anak retardasi mental disebabkan karena prematuritas. Penelitian dengan
455 bayi dengan berat lahir 1250 g atau kurang menunjukkan bahwa 85% dapat
mempelihatkan perkembangan fisis rata-rata, dan 90% memperlihatkan perkembangan
mental rata-rata. Penelitian pada 73 bayi prematur dengan berat lahir 1000 g atau kurang

8
menunjukkan IQ yang bervariasi antara 59-142, dengan IQ rata-rata 94. Keadaan fisis
anak-anak tersebut baik, kecuali beberapa yang mempunyai kelainan neurologis, dan
gangguan mata.
c. Penyebab Postnatal
Faktor-faktor postnatal seperti infeksi, trauma, malnutrisi, intoksikasi, kejang serta
masalah psikososial dapat menyebabkan kerusakan otak yang pada akhirnya
menimbulkan retardasi mental.5,6
Klasifikasi
Menurut nilai IQnya, maka intelegensia seseorang dapat digolongkan sebagai berikut:
No. Klasifikasi Nilai IQ
1. Sangat superior 130 atau lebih
2. Superior 120-129
3. Diatas rata-rata 110-119
4. Rata-rata 90-110
5. Dibawah rata-rata 80-89
6. Retardasi mental (borderline) 70-79
7. Retardasi mental ringan (mampu didik) 52-69
8. Retardasi mental sedang (mampu latih) 36-51
9. Retardasi mental berat 20-36
10. Retardasi mental sangat berat Dibawah 20
Tabel 1. Pembagian Tingkat Intelegensia2
a. Retardasi mental ringan
Retardasi mental ringan dikategorikan sebagai retardasi mental dapat dididik (educable).
Anak mengalami gangguan berbahasa tetapi masih mampu menguasainya untuk
keperluan bicara sehari-hari dan untuk wawancara klinik. Umumnya mereka juga mampu
mengurus diri sendiri secara independen (makan, mencuci, memakai baju, mengontrol
saluran cerna dan kandung kemih), meskipun tingkat perkembangannya sedikit lebih
lambat dari ukuran normal. Kesulitan utama biasanya terlihat pada pekerjaan akademik
sekolah, dan banyak yang bermasalah dalam membaca dan menulis. Dalam konteks sosio
kultural yang memerlukan sedikit kemampuan akademik, mereka tidak ada masalah.
Tetapi jika ternyata timbul masalah emosional dan sosial, akan terlihat bahwa mereka
mengalamim gangguan, misal tidak mampu menguasai masalah perkawinan atau
mengasuh anak, atau kesulitan menyesuaikan diri dengan tradisi budaya.

9
b. Retardasi mental sedang
Retardasi mental sedang dikategorikan sebagai retardasi mental dapat dilatih (trainable).
Pada kelompok ini anak mengalami keterlambatan perkembangan pemahaman dan
penggunaan bahasa, serta pencapaian akhirnya terbatas. Pencapaian kemampuan
mengurus diri sendiri dan ketrampilan motor juga mengalami keterlambatan, dan
beberapa diantaranya membutuhkan pengawasan sepanjang hidupnya. Kemajuan di
sekolah terbatas, sebagian masih bisa belajar dasar-dasar membaca, menulis dan
berhitung.
c. Retardasi mental berat
Kelompok retardasi mental berat ini hampir sama dengan retardasi mental sedang dalam
hal gambaran klinis, penyebab organik, dan keadaan-keadaan yang terkait. Perbedaan
utama adalah pada retardasi mental berat ini biasanya mengalami kerusakan motor yang
bermakna atau adanya defisit neurologis.
d. Retardasi mental sangat berat
Retardasi mental sangat berat berarti secara praktis anak sangat terbatas kemampuannya
dalam mengerti dan menuruti permintaan atau instruksi. Umumnya anak sangat terbatas
dalam hal mobilitas, dan hanya mampu pada bentuk komunikasi nonverbal yang sangat
elementer.5,

Penatalaksanaan
a. Tatalaksana Medis
Dalam penanganan medis para dokter lebih banyak dihadapkan pada aspek kuratif dan
rehabilitatsi karena sekali terjadi kerusakan sel otak, tidak mungkin fungsinya kembali
normal. Itulah sebabnya tatalaksana lebih menekankan pada aspek preventif, terutama
prevensi primer dan sekunder.
1. primer
memberikan perindungan yang spesifik terhadap penyakit tertentu misalnya dengan
member imunisasi, serta meningkatkan kesehatan dengan memberikan gizi yang baik,
mengajarkan cara hidup sehat dengan maksud meninggikan daya tahan tubuh.
2. sekunder
mendeteksi penyakit sedini mungkin dan memberikan pengobatan yang tepat
sehingga tidak terjadi komplikasi pada susunan syaraf pusat.

10
b. Psikoterapi
Psikoterapi dapat diberikan kepada anak retardasi mental maupun kepada orangtua anak
tersebut. Walaupun tidak dapat menyembuhkan retardasi mental tetapi dengan psikoterapi
dan obat-obatan dapat diusahakan perubahan sikap, tingkah laku dan adaptasi sosialnya.
c. Konseling
Tujuan konseling dalam bidang retardasi mental ini adalah menentukan ada atau tidaknya
retardasi mental dan derajat retardasi mentalnya, evaluasi mengenai sistem kekeluargaan
dan pengaruh retardasi mental pada keluarga, kemungkinan penempatan di panti khusus,
konseling pranikah dan pranatal. Pendidikan yang penting disini bukan hanya asal
sekolah, namun bagaimana mendapatkan pendidikan yang cocok bagi anak yang
terbelakang ini. Terdapat empat macam tipe pendidikan untuk retardasi mental.6

Attention deficit and hyperactivity disorder (ADHD)


Anak hiperaktiv adalah anak yang mengalami gangguan pemusatan perhatian dengan
hiperaktivitas (GPPH) atau attention deficit and hyperactivity disorder (ADHD). Kondisi ini
juga disebut sebagai gangguan hiperkinetik. Dahulu kondisi ini sering disebut minimal brain
dysfunction syndrome.
Gangguan hiperkinetik/ADHD adalah gangguan pada anak yang timbul pada masa
perkembangan dengan ciri utama tidak mampu memusatkan perhatian, hiperaktif dan
impulsif. Ciri perilaku ini mewarnai berbagai situasi dan dapat berlanjut hingga dewasa.4

Etiologi
Ada beberapa faktor yang menyebabkan anak menjadi hiperaktif antara lain:
a. Faktor Genetik
Didapatkan korelasi yang tinggi dari hiperaktif yang terjadi pada keluarga dengan
anak hiperaktif. kurang lebih sekitar 25-35% dari orang tua dan saudara yang masa
kecilnya hiperaktif akan menurun pada anak. Hal ini juga dapat terlihat pada anak laki-
laki dengan ekstra kromosom Y yaitu XYY, kembar satu telur lebih memungkinkan
hiperaktif dibanding kembar dua telur.
b. Faktor Neurologik
Penelitian menunjukan, insiden anak hiperaktif lebih banyak didaptakan pada bayi
yang lahir dengan masalah-masalah prenatal yang disebabkan karena gangguan fungsi
otak akibat sulit saat kelahiran, penyakit berat, cidera otak. Disamping itu factor seperti
bayi lahir dengan berat badan rendah, ibu yang terlalu muda, ibu yang merokok dan

11
minum alcohol juga meninggikan insiden hiperaktif. Faktor etiologi dalam bidang
neurologi yang sampai kini banyak dianut adalah terjadinya disfungsi pada salahsatu
neorotransmiter diotak yang bernama dopamine . Dopamin merupakan zat aktif yang
berguna untuk memlihara proses konsentrasi
c. Faktor toksik
Beberapa zat makanan seperti salisilat dan bahan bahan pengawet memiliki potensi
untuk memebentuk perilaku hiperaktif pada anak, Karena kadar timah lead dalam serum
darah anak akan meningkat. Disamping itu, ibu yang merokok dan mengonsumsi alcohol,
terkena sinar x pada saat hamil, juga dapat melahirkan calon anak hiperaktif
d. Faktor Kultural dan Psikososial
1. Pemanjaan.
Pemanjaan dapat juga disamakan dengan memperlakukan anak terlalu manis,
membujuk-bujuk makan, membiarkan saja, dan sebagainya. Anak yang terlalu
dimanja itu sering memilih caranya sendiri agar terpenuhi kebutuhannya.
2. Kurang disiplin dan pengawasan.
Anak yang kurang disiplin atau pengawasan akan berbuat sesuka hatinya, sebab
perilakunya kurang dibatasi. Jika anak dibiarkan begitu saja untuk berbuat sesuka
hatinya dalam rumah, maka anak tersebut akan berbuat sesuka hatinya ditempat lain
termasuk di sekolah. Dan orang lain juga akan sulit untuk mengendalikannya di
tempat lain baik di sekolah.
e. Orientasi kesenangan.
Anak yang memiliki kepribadian yang berorientasi kesenangan umumnya akan
memiliki ciri-ciri hiperaktif secara sosio-psikologis dan harus dididik agak berbeda agar
mau mendengarkan dan menyesuaikan diri.4,6

Klasifikasi
Gangguan ini dibagi menjadi beberapa tipe, yakni
1. Tipe inatentif predominan
Tipe anak yang tidak bisa memusatkan perhatian. Mereka sangat mudah terganggu
perhatiannya, tetapi tidak hiperaktif atau Impulsif. Mereka tidak menunjukkan gejala
hiperaktif. Mereka seringkali melamun dan dapat digambarkan seperti sedang berada di
awang-awang.
2. Tipe hiperaktivitas dan impulsivitas predominan

12
Tipe anak yang hiperaktif dan impulsive. Mereka menunjukkan gejala yang sangat
hiperaktif dan impulsif, tetapi bisa memusatkan perhatian. Tipe ini seringkali ditemukan
pada anak- anak kecil.
3. Tipe kombinasi
Tipe gabungan. Mereka sangat mudah terganggu perhatiannya, hiperaktif dan impulsif.
Kebanyakan anak anak termasuk tipe seperti ini.
Gejalanya akan mulai muncul dan nampak pada usia sekolah, karena pada usia inilah
anak mulai menggunakan otaknya dalam belajar dan ia mulai memiliki teman dan mengenali
lingkungan barunya.7

Gejala Klinik
Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM), ada tiga
gejala utama mengenai gangguan ini, diantaranya :
1. Ketidakmampuan dalam memusatkan perhatian (Inattentiveness)
Kemampuan anak penderita gangguan ini untuk memusatkan perhatiannya pada suatu
topik agak kurang dibandingkan dengan anak seusianya yang normal. Keluhan-keluhan
yang muncul mengenai ketidakmampuan ini seperti masalah konsentrasi (kurang
konsentrasi, tidak dapat konsentrasi), sering melamun, tidak dapat menyelesaikan
tugasnya sendiri, saat belajar harus didampingi, suka berpindah kesenangan. Masalah ini
muncul bukan dari rangsangan atau pengaruh dari luar tetapi muncul dari dalam diri
sendiri.
2. Hiperaktivitas
Gangguan ini merupakan aktivitas yang berlebihan tidak sesuai dengan usia
perkembangannya. Hiperaktivitas ini muncul sebagai kegelisahan, tidak bisa diam, tangan
dan kakinya tidak bisa diam, tubuh bergerak tidak sesuai dengan situasi, sehingga orang-
orang di sekitarsering menafsirkan bahwa si anak adalah anak yang tidak bisa diam,
selalu membuat onar di kelas, selalu mengajak temannya berbicara. Penelitian
membuktikan gerakan pergelangan tangan, kaki, dan seluruh tubuh pada seluruh anak
dengan hiperaktivitas adalah berlebihan dibandingkan dengan anak normal.
3. Perilaku impulsive
Anak yang menderita ADHD umumnya tidak dapat menghambat perilakunya saat
memberikan respon terhadap lingkungan sosialnya. Kondisi inilah yang disebut dengan
impulsivitas. Gejala yang muncul seperti tingkah laku yang tidak terkendali, tidak mampu
menunda proses, ia terkadang menjawab pertanyaan sebelum pertanyaan selesai

13
diutarakan sehingga menimbulkan kesalahan. Anak dengan gangguan tersebut tidak dapat
menilai apakah perilakunya baik atau buruk untuk orang-orang disekitarnya sehingga ia
sering mengganggu orang disekitarnya.8

Penatalaksanaan
Obat-obatan seharusnya digunakan hanya sebagai bagian dari rencana.Terapi perilaku
dan psikososial yang melibatkan anak, orang tua dan sekolah adalah pendekatan paling
manjur.
Program struktur lingkungan anak diharapkan mampu mengurangi pengaruh yang
merugikan dan membantu dalam belajar akademik dan sosial.Anak harus memiliki kebiasaan
sehari-hari yang teratur, dimana mereka diharapkan mematuhi dengan tepat dan mereka bisa
dihargai dengan pujian.Aturan harus sederhana, jelas dan sesedikit mungkin jumlahnya dan
aturan tersebut harus disertai dengan batas-batas yang tegas, dilaksanakan dengan adil dan
simpatik.7.
Metilfenidat (Ritalin), dekstroamfetamin (Dexedrine), dan berbagai antidepresan
trisiklik manjur dalam mengurangi aktivitas yang berlebihan, meningkatkan jangka waktu
perhatian, memperbaiki interaksi antara anak dan ibu dan antara anak dan anggota keluarga
lainnya. Metilfenidat merupakan perangsang yang paling sering digunakan.

Gambar 2. Farmakoterapi8

Gangguan Perilaku
Gangguan perilaku menentang atau biasa disebut ODD (oppositional defiant disorder) adalah
gangguan sikap menentang yang terdiri atas pola menetap sikap tidak kooperatif, tidak patuh,

14
dan perilaku bermusuhan terhadap figure yang berwenang yang tidak mencakup pelanggran
antisocial utama.
Gangguan sikap menentang didiagnosis hanya saat perilaku tersebut lebih sering dan
intens daripada teman sebaya yang tidak terpengaruh dan saat perilaku menyebabkan
disfungsi dalam situasi sosial, akademik atau kerja. 8

Etiologi
Sampai saat ini masih belum diketahui secara pasti penyebab ODD, namun ada
berbagai teori yang menyebutkan penyebab gangguan ini diantaranya
1. Teoretikus psikodinamik
Memandang gangguan ini terjadi karena fiksasi pada masa anal perkembangan
psikoseksual yaitu ketia konflik diantara orang tua dan anak muncul pada masa toilet
training. Konflik ini tidak terselesaikan dan diekspresikan oleh anak dalam bentuk
mementang terhadap harapan orang tua
2. Teoritikus belajar
Menyatakan bahwa gangguan ini terjadi karena orang tua member reinforcement tidak
tepat pada perilaku menentang . Orang tua mneyrah pada tuntutan anak setiap kali anak
menolak untuk patuh pada harapan orang tua, sehingga menjadi suatu pola yang
dipelajarai anak.8

Penatalaksanaan
a. Pendekatan behavioral
Pendekatan ini mendasarkan pada prosedur operant conditioning.Misalnya program
penangan residential, yang menetapkan aturan dengan jelas terhadap anak-anak. Mereka
akan diberikan reward untuk perilaku yang tepat dan hukuman untuk perilaku yang tidak
tepat.
b. Pendekatan kognitif-behavioral
Penanganan anak dengan gangguan tingkah laku dilakukan dengan terapi kognitif
behavioral, yaitu melatih anak dengan gangguan tingkah laku untuk berpikir bahwa
konflik sosial adalah masalah yang dapat diselesaikan dan bukan merupakan tantangan
yang harus diselesaikan dengan kekerasan.Anak anak ini dilatih menggunakan calming
self talk, yaitu teknik untuk berfikir dan berbicara kepada diri sendiri, tujuannya adalah
menghambat perilaku impulsive, mengendalikan kemarahan dan mencoba solusi yang
yang tidak mengandung kekerasan dalam emnghadapi konflik sosial.

15
c. Pendekatan keluarga-lingkungan (family ecological approach)
Anak berada dalam berbagai sistem sosial (keluarga, hukum, komunitas dll),
pendekatan ini menekankan bahwa anak-anak/ remaja yang melanggar peraturan itu
memepengaruhi dan dipengaruhi oleh sisitem soaial yang berinteraksi dengan mereka.
Teknik yang digunakan adalah berusaha mengubah hubungan anak dengan berbagai
sistem, untuk menghentikan perilaku dan interaksi yang menganggu.4,5

Kesimpulan
Hipotesis diterima. Tingkah laku anak dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Dari
perkembangan anak, psikoseksual, psikososial, kognitif, faktor lingkungan, dan status sosial
ekonomi. Apabila salah satu dari faktor tersebut tidak terpenuhi dapat mengganggu tumbuh
kembang anak. Agar tidak memperburuk tingkah laku anak, maka anak harus terus diberikan
bimbingan oleh orangtuanya yang terlebih dahulu sudah di edukasi oleh dokter.

Daftar Pustaka

1. Rudolph AM, Hoffman JI, Rudolph CD. Pediatri vol I. Edisi ke-20. Jakarta: EGC;
2006.
2. Latief A, Napitupulu M, Pudjiadi A, Ghazali MV, Putra ST. Ilmu kesehatan anak.
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia jilid III; 2007.h.1035-63.
3. Elvira D, Hadisukanto G. Buku Ajar Psikiatri. Cetakan ke-1. Jakarta : FKUI; 2010.P.
393-7.
4. Suparno P.Teori perkembangan kognitif. Yogyakarta: Kanisius; 2001.h.26-88.
5. Johnston DHD. Dasar-dasar pediatri. Edisi ke-3. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC; 2008.h.145-75.
6. Fadhli A. Buku Kesehatan Anak. Katona C, Cooper C, Robertson M. At a glance
psikiatri. Edisi 4. Jakarta: Penerbit Erlangga, 2008.h.46-8.
7. Maslim, R. Gangguan perilaku dan emosional dengan onset biasanya pada masa anak
dan remaja. Dalam: Buku saku diagnosis gangguan jiwa. Jakarta: PT Nuh Jaya; 2004.
h.136-40.
8. Sadock BJ, Sadock VA. Kaplan dan sadock buku ajar psikiatri klinis. Edisi 2. Jakarta:
EGC, 2010.h.570-4.

16