Sunteți pe pagina 1din 17

OBSTRUKSI ILEUS

1. PENDAHULUAN
Obstruksi intestinal merupakan kegawatan dalam bedah abdominalis yang sering dijumpai,
merupakan 60--70% dari seluruh kasus akut abdomen yang bukan appendicitis akuta. Penyebab yang
paling sering dari obstruksi ileus adalah adhesi/streng, sedangkan diketahui bahwa operasi
abdominalis dan operasi obstetri-ginekologik makin sering dilaksanakan yang terutama didukung
oleh kemajuan di bidang diagnostik kelainan abdominalis.
Ada 3 hal yang tetap menarik untuk diketahui/diselidiki tentang obstruksi ileus, ialah :
a. Makin meningkatnya keterdapatan obstruksi ileus.
b. Diagnosa obstruksi ileus sebenarnya mudah dan bersifat universil; tetapi untuk mengetahui proses
patologik yang sebenarnya di dalam rongga abdomen tetap merupakan hal yang sulit.
c. Bahaya strangulasi yang amat ditakuti sering tidak disertai gambaran klinik khas yang dapat
mendukungnya
Untuk dapat melaksanakan penanggulangan penderita obstruksi ileus dengan cara yang
sebaik-baiknya, diperlukan konsultasi antara disiplin yang bekerja dalam satu tim dengan tujuan
untuk mencapai 4 keuntungan :
a. Bila penderita harus dioperasi, maka operasi dijalankan pada saat keadaan umum penderita
optimal.
b. Dapat mencegah strangulasi yang terlambat.
c. Mencegah laparotomi negatif.
d. Penderita mendapat tindakan operatif yang sesuai dengan penyebab obstruksinya.
(portakabel.com)
2. DEFINISI

Obstruksi ileus adalah Suatu Penyumbatan Mekanis Pada Usus merupakan penyumbatan
yang sama sekali menutup atau mengganggu jalannya isi usus. (medicastore.com).

Obstruksi ileus adalah kerusakan atau hilangnya pasase isi usus yang disebabkan oleh
sumbatan mekanik. (medlinux.com).

Obstruksi ileus adalah kerusakan komplet atau parsial aliran ke depan dari usus. Kebanyakan
terjadi pada usus halus khususnya di ileum, segmen paling sempit. (wordpress.com).

3. ETIOLOGY
Obstruksi ileus dibagi atas :

a. Mekanikal (mengganggu lumen)

b. Non mekanikal (mengaganggu peristaltis)

Obstruksi bisa total, bisa juga partial.

a. Penyebab Obstruksi Mekanikal

a) Adhesi

60 % dari obstruksi usus halus disebabkan oleh adhesi (perlengketan). Adhesi bisa
terjadi setelah pembedahan abdominal sebagai respon peradangan intra abdominal. Jaringan
parut bisa melilit pada sebuah segmen dari usus, dan membuat segmen itu kusut atau
menekan segmen itu sehingga bisa terjadi segmen tersebut mengalami supply darah yang
kurang.

b) Hernias

Hernias bisa menyebabkan obstruksi apabila hernia mengalami strangulasi dari


kompresi sehingga bagian tersebut tidak menerima supply darah yang cukup. Bagian tersebut
akan menjadi edematosus kemudian timbul necrosis.

c) Tumor

Tumor yang makin membesar akan menyumbat lumen usus.

d) Volvulus

Usus yang terpelintir dapat pula menyebabkan obstruksi. Seperti strangulasi hernia,
pada volvulus terjadi juga gangguan supply darah yang kurang yang bisa menyebabkan
ischemia dan necrosis jaringan. (Diktat Sr.Mary Baradero).

Merupakan usus yang terpuntir sedikitnya sampai dengan 180 derajat sehingga
menyebabkan obstruksi usus dan iskemia, yang pada akhirnya bisa menyebabkan gangrene
dan perforasi jika tidak segera ditangani.
Letak volvulus paling sering mengenai bagian kolon sigmoid (80%).

Volvulus pada sigmod bisa dsebabkan pemanjangan sigmoid sehingga menimbulkan


belitan. Dimana pemanjangan mesocolon dapat membuat mobilitas berlebih pada kolon
sigmoid, sehingga menimbulkan kelainan fiksasi kongenital

Volvulus sering terlihat pada penyakit neurologist dan psikiatrik yang telah
berlangsung lama. Obat psikotropika atau sedative yang sering digunakan di institusi
psikiatrik tersebut ternyata mengganggu motilitas kolonik.

Factor lain yang menyebabkan volvulus adalah penggunaan obat laksative dan enema
secara berlebihan. Selain itu pergantian relative posisi organ intraabdiminal seperti yang
terlihat pada wanita hamil dan orang dengan tumor pelvic yang besar dapat mendukung
terjadinya volvulus sigmoid.

Volvulus kolon sigmoid pada dasarnya terjadi karena tiga hal berikut, yaitu :

i) Pemanjangan kolon sigmoid;

ii) Penyempitan dasar sigmoid mesocolon;

iii) Tenaga putaran pada kolon sigmoid yang memicu terjadinya puntiran.
(Wordpress.com).

e) Intussusceptions

Intussusepsi adalah invaginasi atau masuknya sebagian dari usus ke dalam lumen usus yang
berikutnya. Intussusepsi sering terjadi antara ileum bagian distal dan cecum, dimana bagian
terminal dari ileum masuk kedalam lumen cecum. Strangulasi bagian ileus yang masuk
kedalam lumen cecum bisa terjadi.

(Diktat Sr. Mary Baradero).


b. Penyebab obstruksi non-mekanikal
a) Paralitic ileus
Tidak ada gerakan peristaltis bisa diakibatkan :
i) Pembedahan abdominal dimana organ-organ intra abdominal mengalami trauma sewaktu
pembedahan
ii) Elektrolit tidak seimbang truma hypokalemia
b) Mesenteric vascular occlusion infarct
Penyumbatan pembuluh darah yang member supply pada usus akan mengganggu
fungsi usus itu. Penyumbatan ini bisa disebabkan oleh atheroscelerosis yang luas atau
thrombosis pada arteri mesenterium.
4. NARASI dan SKEMA PATHOFISIOLOGY
Ada kira-kira 7 10 liter cairan yang kaya dengan elektrolityang disekresi kedalam usus
halus tiap hari. Hanya sekitar 600 800 ml cairan ini yang tidak direabsopsi. Sekitar 200 ml hilang
melalui kotoran tiap hari. Apabila ada obstruksi, cairan dan gas akan terkumpul pada bagian
proximal dari kotoran tiap hari. Apabila ada obstruksi, cairan dan gas akan terkumpul pada bagian
proximal dari obstruksi. Pada permulaan, gerakan peristaltic meningkat untuk mendorong isi usus
melewati obstruksi dorongan ini dirasakan pasien sebagai nyeri kolik.
Apabila usaha ini gagal, maka bagian proximal dari obstruksi akan berdilatasi, otot-otot
polos menjadi atonic dan gerakan peristaltic terhenti. Usus menjadi edematous, permeabilitas kapiler
meningkat dan banyak cairan yang masuk ke dalam usus. Reabsorpsi yang normal dihambat oleh
jaringan-jaringan yang edematous. Gas yang banyak memperberat distensi abdomen. (Sr. Mary
Baradero).
Peningatan tekanan intraluminal juga dengan segera akan menurunkan aliran balik vena.
Kondisi ini menyebabkan peningkatan intravena, kongesti, dan kerapuhan pembuluh darah. Proses
ini pada akhirnya akan meningkatkan permeabilitas kapiler sehingga terjadi ekstravasasi cairan
plasma keluar menuju lumen usus atau rongga peritoneal. Peningkatan tekanan pada dinding usus
akan memperlambat aliran darah arteri sehingga terjadi ischemia yang diikuti oleh nekrosis. Nekrosis
yang terjadi dapat mendorong isi usus kedalam rongga peritoneal sehingga menyebabkan peritonitis.
Bakteri berploriferasi didalam usus dan dapat membentuk endotoksi, yang bila dilepaskan kedalam
sirkulasi sistemik akan menyebabkan syok endotoksik dengan laju mortilitas tinggi.
(Wordpress.com).

5. MANIFESTASI KLINIS

Gejala penyumbatan usus meliputi nyeri kram pada perut, disertai kembung. Nyerinya bisa
berat dan menetap. Muntah lebih sering terjadi pada penyumbatan di usus besar. Penyumbatan total
menyebabkan sembelit yang parah, sementara penyumbatan sebagian menyebabkan diare. Demam
sering terjadi, terutama bila dinding usus mengalami perforasi. Perforasi dengan cepat dapat
menyebabkan peradangan dan infeksi yang berat serta menyebabkan syok.

6. COLLABORATIVE CARE MANAGEMENT


a. Pemeriksaan Radiologik
Secara klinik obstruksi ileus umumnya mudah ditegakkan. 90% obstruksi ileus
ditegakkan secara tepat hanya dengan berdasarkan gambaran klinisnya saja. Pada foto polos
abdomen, 60--70% dapat dilihat adanya peleharan usus dan hanya 40% dapat ditemukan adanya
air fluid level. Walaupun pemeriksaan radiologi hanya sebagai pelengkap saja, pemeriksaan
sering diperlukan pada obstruksi ileus yang sulit atau untuk dapat memperkirakan keadaan
obstruksinya pada masa pra-bedah. Beberapa tanda radiologik yang khas untuk obstruksi ileus
adalah :
a) Pengumpulan gas dalam lumen usus yang melebar, penebalan valvulae coniventes yang
memberi gambaran fish bone appearance.
b) Pengumpulan cairan. dengan gambaran khas air-fluid level. Pada obstruksi yang cukup lama,
beberapa air fluid level memberikan gambaran huruf U terbalik. (Portalkalbe.com).
b. Konservatif
Penderita dirawat di rumah sakit. Penderita dipuasakanKontrol status airway, breathing
and circulation.Dekompresi dengan nasogastric tube.Intravenous fluids and electrolyteDipasang
kateter urin untuk menghitung balance cairan.Lavement jika ileus obstruksi, dan kontraindikasi
ileus paralitik.(Medlinux.com).
c. Medications
Antibiotics broad-spectrum untuk bacterial anaerobe dan aerobe. Analgesic apabila
nyeri. (Medlinux.com).
d. Surgery
Bila telah diputuskan untuk tindakan operasi, ada 3 hal yang perlu di perhatikan :
a) Berapa lama obstruksinya sudah berlangsung.
b) Bagaimana keadaan/fungsi organ vital lainnya, baik sebagai akibat obstruksinya maupun
kondisi sebelum sakit.
c) Apakah ada risiko strangulasi.
Kewaspadaan akan resiko strangulasi sangat penting. Pada obstruksi ileus yang ditolong
dengan cara operatif pada saat yang tepat, angka kematiannya adalah 1% pada 24 jam pertama,
sedangkan pada strangulasi angka kematian tersebut 31%. Pada umumnya dikenal 4 macam
(cara) tindakan bedah yang dikerjakan pada obstruksi ileus.
a) Koreksi sederhana (simple correction). Hal ini merupakan tindakan bedah sederhana untuk
membebaskan usus dari jepitan, misalnya pada hernia incarcerata non-strangulasi, jepitan
oleh streng/adhesi atau pada volvulus ringan.
b) Tindakan operatif by-pass. Membuat saluran usus baru yang "melewati" bagian usus yang
tersumbat, misalnya pada tumor intralurninal, Crohn disease, dan sebagainya.
c) Membuat fistula entero-cutaneus pada bagian proximal dari tempat obstruksi, misalnya pada
Ca stadium lanjut.
d) Melakukan reseksi usus yang tersumbat dan membuat anastomosis ujung-ujung usus untuk
mempertahan kankontinuitas lumen usus, misalnya pada carcinomacolon,invaginasi
strangulata, dan sebagainya.
Pada beberapa obstruksi ileus, kadang-kadang dilakukan tindakan operatif bertahap, baik
oleh karena penyakitnya sendiri maupun karena keadaan penderitanya, misalnya pada Ca sigmoid
obstruktif, mula-mula dilakukan kolostomi saja, kemudian hari dilakukan reseksi usus dan
anastomosis. (Medlinux.com).
7. NURSING MANAGEMENT
a. Assesment
a) Data Subjektif
(a) Nyeri pada abdomen yang sangat ; permulaan collcky.
(b) Distensi abdomen dan flatulence.
(c) Mual dan muntah-muntah.
(d) Informasi yang diterimanya tentang penyakitnya dan pembedahan akan dilakukan.
b) Data Objektif
(a) Pada awal obstruksi : Nampak gerakan perystaltik dan borborygmy (bunyi gemeruh
karena adanya udara dalam ileus, kemudian gerakan peristaltic hilang.
(b) Distensi abdomen dan flatulence.
(c) Muntah-muntah berat.
- Obstruksi pada ileum menimbulkan mutah yang lkebih awal dan lebih berat
- Berbau kotoran
(d) Obstipasi tidak ada kotoran maupun flatus.
b. Nursing Diagnosis
(a) Nyeri berhubungan dengan distensi abdomen
(b) Defisit volume cairan berhubungan dengan reabsorpsi terganggu
(c) Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan absorpsi nutrisi
c. Nursing Intervention
(a) Nyeri berhubungan dengan distensi abdomen
i) Posisi semi fowlers untuk mengurangi tekana pada abdomen. Baring pada sisinya dapat
pula membuat pasien merasa nyaman
ii) Oral hygiene sesering mungkin unutk mengurangi rasa haus.
iii) Perubahan rasa nyeri dari colikcky atau kram ke nyeri tetap, perlu dilaporkan ke dokter
sesegera mungkin karena kemungkinan terjadi strangulasi atau perforasi.
iv) Intake dan output diukur tiap 24 jam
(b) Defisit volume cairan berhubungan dengan reabsorpsi terganggu
i) Monitor dengan ketat status hemodynamic dan status mental.
ii) Output urine tiap jam
iii) Drainase dari NGT
iv) Monitor edema
v) Ukur lingkaran abdomen tiap 2 4 jam
vi) Oral hygiene sesering mugkin untuk mengurangi rasa haus
(c) Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan absorpsi
nutrisi.
i) Timbang berat badan tiap hari
ii) Catat masukan dan perubahan simtomatologi
iii) Pertahankan puasa sesuai indikasi
iv) Berikan nutrisi parienteral total, terapi IV sesuai indikasi
d. Evaluasi
(a) Tidak ada atau nyeri abdomen berkurang
(b) Menunjukkan tanda-tanda keseimbangan cairan dan elektrolit
i) Turgor kulit baik ; selaput lender basah
ii) Status haemodynamic, serum hamatokrit, electrolit values dalam batas normal
iii) Urine specific gravity 1.010 1.025
(Diktat Sr. Mary Baradero).
http://rahimulaskep.blogspot.com/2008/12/obstruksi-ileus.html

A.Pengertian

Ileus Paralitik adalah istilah gawat abdomen atau gawat perut menggambarkan keadaan klinis akibat

kegawatan di rongga perut yang biasanya timbul mendadak dengan nyeri sebagai keluhan utama.

Keadaan ini memerlukan penanggulangan segera yang sering berupa tindakan bedah, misalnya pada

obstruksi, perforasi, atau perdarahan masif di rongga perut maupun saluran cerna, infeksi, obstruksi

atau strangulasi saluran cerna dapat menyebabkan perforasi yang mengakibatkan kontaminasi rongga

perut oleh isi saluran cerna sehingga terjadilah peritonitis. Ileus adalah gangguan pasase isi usus yang

merupakan tanda adanya obstruksi usus akut. (http://medlinux.blogspot.com/2007/09/ileus.htm). Ileus

Paralitik adalah obstruksi yang terjadi karena suplai saraf otonom mengalami paralisis dan peristaltik

usus terhenti sehingga tidak mampu mendorong isi sepanjang usus. Contohnya amiloidosis, distropi

otot, gangguan endokrin seperti diabetes mellitus, atau gangguan neurologis seperti penyakit

Parkinson. (http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/02/21/obstruksi-usus/). Ileus paralitik adalah

keadaan abdomen akut berupa kembung distensi usus karena usus tidak dapat bergerak (mengalami

motilitas), pasien tidak dapat buang air besar.(http://drlizakedokteran.blogspot.com/2008/01/

tidak-bisa-buang-air-besak-karena-usus.html). Ileus (Ileus Paralitik, Ileus Adinamik) adalah suatu

keadaan dimana pergerakan kontraksi normal dinding usus untuk sementara waktu berhenti.

(www.medicastore.com). Dari keempat definisi di atas maka penulis dapat menyimpulkan bahwa

ileus paralitik adalah istilah gawat abdomen atau gawat perut yang biasanya timbul mendadak dengan
nyeri sebagai keluhan utama karena usus tidak dapat bergerak (mengalami motilitas) dan

menyebabkan pasien tidak dapat buang air besar.

B. Etiologi

1. Pembedahan Abdomen

2. Trauma abdomen : Tumor yang ada dalam dinding usus meluas kelumen usus atau tumor diluar usus

menyebabkan tekanan pada dinding usus

3. Infeksi: peritonitis, appendicitis, diverticulitis

4. Pneumonia

5. Sepsis

6. Serangan Jantung

7. Ketidakseimbangan elektrolit, khususnya natrium

8. Kelainan metabolik yang mempengaruhi fungsi otot

9. Obat-obatan: Narkotika, Antihipertensi

10. Mesenteric ischemia

C. Patofisiologi

1. Proses Perjalanan Penyakit


Peristiwa patofisiologik yang terjadi setelah obstruksi usus adalah sama, tanpa memandang apakah

obstruksi tersebut diakibatkan oleh penyebab mekanik atau fungsional. Perbedaan utama adalah

obstruksi paralitik di mana peristaltik dihambat dari permulaan, sedangkan pada obstruksi mekanik

peristaltik mula-mula diperkuat, kemudian intermitten, dan akhirnya hilang. Perubahan patofisiologi

utama pada obstruksi usus adalah lumen usus yang tersumbat secara progresif akan teregang oleh

cairan dan gas (70% dari gas yang ditelan) akibat peningkatan tekanan intralumen, yang menurunkan

pengaliran air dan natrium dari lumen ke darah. Oleh karena sekitar 8 liter cairan diekskresikan ke

dalam saluran cerna setiap hari ke sepuluh. Tidak adanya absorpsi dapat mengakibatkan penimbunan

intralumen dengan cepat. Muntah dan penyedotan usus setelah pengobatan dimulai merupakan

sumber kehilangan utama cairan dan elektrolit. Pengaruh atas kehilangan ini adalah penyempitan

ruang cairan ekstrasel yang mengakibatkan syok-hipotensi, pengurangan curah jantung, penurunan

perfusi jaringan dan asidosis metabolik. Peregangan usus yang terus menerus mengakibatkan

lingkaran setan penurunan absorpsi cairan dan peningkatan sekresi cairan ke dalam usus. Efek lokal

peregangan usus adalah iskemia akibat distensi dan peningkatan permeabilitas akibat nekrosis,

disertai absorpsi toksin-toksin bakteri ke dalam rongga peritoneum dan sirkulasi sistemik untuk

menyebabkan bakteriemia. Pada obstruksi mekanik simple, hambatan pasase muncul tanpa disertai

gangguan vaskuler dan neurologik. Makanan dan cairan yang ditelan, sekresi usus, dan udara

terkumpul dalam jumlah yang banyak jika obstruksinya komplit. Bagian usus proksimal distensi, dan

bagian distal kolaps. Fungsi sekresi dan absorpsi membrane mukosa usus menurun, dan dinding usus

menjadi edema dan kongesti. Distensi intestinal yang berat, dengan sendirinya secara terus menerus

dan progresif akan mengacaukan peristaltik dan fungsi sekresi mukosa dan meningkatkan resiko

dehidrasi, iskemia, nekrosis, perforasi, peritonitis, dan kematian.

2. Manifestasi Klinik

a. Obstruksi Usus Halus Gejala awal biasanya berupa nyeri abdomen bagian tengah seperti kram yang

cenderung bertambah berat sejalan dengan beratnya obstruksi dan bersifat hilang timbul. Pasien dapat
mengeluarkan darah dan mukus, tetapi bukan materi fekal dan tidak terdapat flatus. Pada obstruksi

komplet, gelombang peristaltik pada awalnya menjadi sangat keras dan akhirnya berbalik arah dan isi

usus terdorong kedepan mulut. Apabila obstruksi terjadi pada ileum maka muntah fekal dapat terjadi.

Semakin kebawah obstruksi di area gastrointestinal yang terjadi, semakin jelas adanya distensi

abdomen. Jika berlanjut terus dan tidak diatasi maka akan terjadi syok hipovolemia akibat dehidrasi

dan kehilangan volume plasma. b. Obstruksi Usus Besar Nyeri perut yang bersifat kolik dalam

kualitas yang sama dengan obstruksi pada usus halus tetapi intensitasnya jauh lebih rendah. Muntah

muncul terakhir terutama bila katup ileosekal kompeten. Pada pasien dengan obstruksi disigmoid dan

rectum, konstipasi dapat menjadi gejala satu-satunya selama beberapa hari. Akhirnya abdomen

menjadi sangat distensi, loop dari usus besar menjadi dapat dilihat dari luar melalui dinding abdomen,

dan pasien menderita kram akibat nyeri abdomen bawah. 3. Komplikasi Dapat menyebabkan

gangguan vaskularisasi usus dan memicu iskemia akibat distensi dan peningkatan permeabilitas

akibat nekrosis, disertai absorpsi toksin toksin bakteri ke dalam rongga peritoneum dan sirkulasi,

perforasi tukak peptik yang ditandai oleh perangsangan peritoneum yang mulai di epigastrium dan

meluas ke seluruh peritoneum akibat peritonitis generalisata. Perforasi ileum pada tifus biasanya

terjadi pada penderita yang demam kurang lebih dua minggu disertai nyeri kepala, batuk, dan malaise

yang disusul oleh nyeri perut, nyeri tekan, defans muskuler, dan keadaan umum yang merosot.dan

berakhir pada kematian.

D. Penatalaksanaan Medis

1. Pengobatan dan Terapi Medis

a. Pemberian anti obat antibiotik, analgetika,anti inflamasi

b. Obat-obatan narkose mungkin diperlukan setelah fase akut


c. Obat-obat relaksan untuk mengatasi spasme otot

d. Bedrest

2. Konservatif

a. Laparatomi Adanya strangulasi ditandai dengan adanya lokal peritonitis seperti takikardia, pireksia

(demam), lokal tenderness dan guarding, rebound tenderness. Nyeri lokal, hilangnya suara usus lokal,

untuk mengetahui secara pasti hanya dengan tindakan laparatomi.

E. Pengkajian Keperawatan

Merupakan tahap awal dari pendekatan proses keperawatan dan dilakukan secara sistematika mencakup

aspek bio, psiko, sosio, dan spiritual. Langkah awal dari pengkajian ini adalah pengumpulan data

yang diperoleh dari hasil wawancara dengan klien dan keluarga, observasi pemeriksaan fisik,

konsultasi dengan anggota tim kesehatan lainnya dan meninjau kembali catatan medis ataupun

catatan keperawatan. Pengkajian fisik dilakukan dengan cara inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi.

Adapun lingkup pengkajian yang dilakukan pada klien Ileus Paralitik adalah sebagai berikut :

1. Identitas pasien Meliputi nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, agama, alamat, status perkawinan,

suku bangsa.

2. Riwayat Keperawatan

a. Riwayat kesehatan sekarang Meliputi apa yang dirasakan klien saat pengkajian

b. Riwayat kesehatan masa lalu Meliputi penyakit yang diderita, apakah sebelumnya pernah sakit sama.

c. Riwayat kesehatan keluarga Meliputi apakah dari keluarga ada yang menderita penyakit yang sama.
3. Riwayat psikososial dan spiritual Meliputi pola interaksi, pola pertahanan diri, pola kognitif, pola

emosi dan nilai kepercayaan klien.

4. Kondisi lingkungan Meliputi bagaimana kondisi lingkungan yang mendukung kesehatan klien

5. Pola aktivitas sebelum dan di rumah sakit Meliputi pola nutrisi, pola eliminasi, personal hygiene, pola

aktivitas sehari hari dan pola aktivitas tidur.

6. Pengkajian fisik Dilakukan secara inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi, yaitu :

a. Inspeksi Perut distensi, dapat ditemukan kontur dan steifung. Benjolan pada regio inguinal, femoral dan

skrotum menunjukkan suatu hernia inkarserata. Pada Intussusepsi dapat terlihat massa abdomen

berbentuk sosis. Adanya adhesi dapat dicurigai bila ada bekas luka operasi sebelumnya. Kadang

teraba massa seperti pada tumor, invaginasi, hernia, rectal toucher.

Selain itu, dapat juga melakukan pemeriksaan inspeksi pada :

1) Sistem Penglihatan Posisi mata simetris atau asimetris, kelopak mata normal atau tidak, pergerakan

bola mata normal atau tidak, konjungtiva anemis atau tidak, kornea normal atau tidak, sklera ikterik

atau anikterik, pupil isokor atau anisokor, reaksi terhadap otot cahaya baik atau tidak.

2) Sistem Pendengaran Daun telinga, serumen, cairan dalam telinga

3) Sistem Pernafasan Kedalaman pernafasan dalam atau dangkal, ada atau tidak batuk dan pernafasan

sesak atau tidak.

4) Sistem Hematologi Ada atau tidak perdarahan, warna kulit

5) Sistem Saraf Pusat Tingkat kesadaran, ada atau tidak peningkatan tekanan intrakranial

6) Sistem Pencernaan Keadaan mulut, gigi, stomatitis, lidah bersih, saliva, warna dan konsistensi feces.

7) Sistem Urogenital Warna BAK


8) Sistem Integumen Turgor kulit, ptechiae, warna kulit, keadaan kulit, keadaan rambut.

b Palpasi

1) Sistem Pcncernaan Abdomen, hepar, nyeri tekan di daerah epigastrium

2) Sistem Kardiovaskuler Pengisian kapiler

3) Sistem Integumen Ptechiae

c Auskultasi

d Hiperperistaltik, bising usus bernada tinggi, borborhygmi. Pada fase lanjut bising usus dan peristaltik

melemah sampai hilang.

e Perkusi

Hipertimpani

7. Pemeriksaan Diagnostik
a. Radiologi Foto polos berisikan peleburan udara halus atau usus besar dengan gambaran anak tangga
dan air fluid level. Penggunaan kontras dikontraindikasikan adanya perforasi peritonitis. Barium
enema diindikasikan untuk invaginasi.
b. Endoscopy, disarankan pada kecurigaan volvulus.

F. Diagnosa Keperawatan Adapun diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien dengan Ileus Paralitik
menurut Harnawati, A. J, 2008 adalah sebagai berikut :
1. Gangguan rasa nyaman nyeri epigastrium berhubungan dengan proses patologis penyakitnya. 2.
Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah
dan anoreksia.
3. Potensial terjadi syok hipovolemik berhubungan dengan kurangnya volume cairan tubuh.
4. Gangguan pola eliminasi berhubungan dengan konstipasi.
5. Gangguan pola tidur berhubungan dengan sakit kepala dan pegal - pegal seluruh tubuh.
6. Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit, diet, dan perawatan pasien ileus paralitik
berhubungan dengan kurangnya informasi.
7. Kecemasan ringan sedang berhubungan dengan kondisi pasien yang memburuk dan perdarahan yang
dialami pasien
G. Perencanaan Keperawatan

1. Gangguan rasa nyaman nyeri epigastrium berhubungan dengan proses patologis penyakitnya Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan rasa nyaman nyeri terpenuhi
Kriteria hasil : Nyeri hilang / berkurang
Rencana tindakan :
a. Kaji tingkat nyeri
Rasional : Untuk mengetahui seberapa berat rasa nyeri yang dirasakan dan mengetahui pemberian terapi
sesuai indikasi.
b. Berikan posisi senyaman mungkin
Rasional : Untuk mengurangi rasa nyeri dan memberikan kenyamanan.
c. Berikan lingkungan yang nyaman
Rasional : Untuk mendukung tindakan yang telah diberikan guna mengurangi rasa nyeri.
d. Kolaborasi dalam pemberian terapi analgetik sesuai indikasi ( Profenid 3 x 1 supp ).
Rasional : Untuk mengurangi rasa nyeri

2. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual,
muntah dan anoreksia
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan gangguan nutrisi terpenuhi
Kriteria hasil : Mual, muntah hilang, nafsu makan bertambah, makan habis satu porsi
Rencana tindakan :
a. Kaji keluhan mual, sakit menelan dan muntah
Rasional : Untuk menilai keluhan yang ada yang dapat menggangu pemenuhan kebutuhan nutrisi.
b. Kolaborasi pemberian obat anti emetik (Antacid )
Rasional : Membantu mengurangi rasa mual dan muntah.

3. Potensial terjadi syok hipovolemik berhubungan dengan kurangnya volume cairan tubuh Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan syok hipovolemik tidak terjadi
Kriteria hasil : Tanda tanda vital dalam batas normal, volume cairan tubuh seimbang, intake cairan
terpenuhi.
Rencana tindakan :
a. Monitor keadaan umum
Rasional : Menetapkan data dasar pasien untuk mengetahui penyimpangan dari keadaan normalnya.
b. Observasi tanda tanda vital
Rasional : Merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien.
c. Kaji intake dan output cairan
Rasional : Untuk mengetahui keseimbangan cairan
d. Kolaborasi dalam pemberian cairan intravena
Rasional : Untuk memenuhi keseimbangan cairan

4. Gangguan pola eliminasi berhubungan dengan konstipasi


Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan gangguan pola eliminasi
tidak terjadi
Kriteria hasil : Pola eliminasi BAB normal
Rencana tindakan :
a. Kaji dan catat frekuensi, warna dan konsistensi feces
Rasional : Untuk mengetahui ada atau tidaknya kelainan yang terjadi pada eliminasi fekal.
b. Auskultasi bising usus
Rasional : Untuk mengetahui normal atau tidaknya pergerakan usus.
c. Anjurkan klien untuk minum banyak
Rasional : Untuk merangsang pengeluaran feces.
d. Kolaborasi dalam pemberian terapi pencahar (Laxatif)
Rasional : Untuk memberi kemudahan dalam pemenuhan kebutuhan eliminasi

5. Gangguan pola tidur berhubungan dengan sakit kepala dan pegal - pegal seluruh tubuh Tujuan : Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan gangguan pola tidur teratasi
Kriteria hasil : Pola tidur terpenuhi
Rencana tindakan :
a. Kaji pola tidur atau istirahat normal pasien
Rasional : Untuk mengetahui pola tidur yang normal pada pasien dan dapat menentukan kelainan pada
pola tidur.
b. Beri lingkungan yang nyaman
Rasional : Untuk mendukung pemenuhan kebutuhan aktivitas dan tidur.
c. Batasi pengunjung selama periode istirahat
Rasional : Untuk menjaga kualitas dan kuantitas tidur pasien
d. Pertahankan tempat tidur yang hangat, bersih dan nyaman
Rasional : Supaya pasien dapat tidur dengan nyaman
e. Kolaborasi pemberian terapi analgetika
Rasional : Agar nengurangi rasa nyeri yang menggangu pola tidur pasien

6. Kecemasan ringan sedang berhubungan dengan kondisi pasien yang memburuk dan perdarahan yang
dialami pasien
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan kecemasan tidak terjadi
Kriteria hasil : Kecemasan berkurang
Rencana tindakan :
a. Kaji rasa cemas klien
Rasional : Untuk mengetahui tingkat kecemasan pasien
b. Bina hubungan saling percaya dengan klien dan keluarga
Rasional : Untuk terbinanya hubungan saling pecaya antara perawat dan pasien.
c. Berikan penjelasan tentang setiap prosedur yang dilakukan terhadap klien
Rasional : Agar pasien mengetahui tujuan dari tindakan yang dilakukan pada dirinya.

7. Kurang pengetahuan tentang proses penyakitnya berhubungan dengan kurangnya informasi. Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 324 jam diharapkan pengetahuan pasien meningkat.
Kriteria Hasil : Tingkat pengetahuan pasien meningkat
Rencana Tindakan :
a. Jelaskan pada pasien tentang penyakitnya
Rasional : Pasien dapat mengetahui mengenai penyakitnya dan mendapatkan informasi yang akurat.
b. Berikan waktu untuk mendengarkan emosi dan perasaan pasien
Rasional : Agar pasien dapat mengungkapkan perasaannya kepada perawat
c. Beri penyuluhan mengenai penyakitnya
Rasional : Untuk meningkatkan pengetahuan pasien mengenai penyakitnya.
H. Pelaksanaan Keperawatan
Pelaksanaan keperawatan adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah
disusun pada tahap perencanaan (Drs. Nasrul Effendi, 1999). Ada tiga fase dalam tindakan keperawatan,
yaitu : 1. Fase Persiapan Meliputi pengetahuan tentang rencana, validasi rencana, pengetahuan dan
keterampilan menginterpretasikan rencana, persiapan klien dan lingkungan. 2. Fase Intervensi Merupakan
puncak dari implementasi yang berorientasi pada tujuan dan fokus pada pengumpulan data yang
berhubungan dengan reaksi klien termasuk reaksi fisik, psikologis, sosial dan spiritual. Tindakan
keperawatan dibedakan berdasarkan kewenangan dan tanggung jawab secara professional, yaitu : a.
Secara Mandiri ( Independen ) Adalah tindakan yang diprakarsai sendiri oleh perawat untuk membantu
pasien dalam mengatasi masalahnya atau menanggapi reaksi karena adanya stressor ( penyakit ), misalnya
: 1) Membantu klien dalam melakukan kegiatan sehari hari 2) Melakukan perawatan kulit untuk
mencegah dekubitus 3) Memberikan dorongan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya secara
wajar. 4) Menciptakan lingkungan terapeutik b. Saling ketergantungan / kolaborasi ( Interdependen )
Adalah tindakan keperawatan atas dasar kerja sama sesama tim perawatan atau kesehatan lainnya seperti
dokter, fisiotherapy, analisis kesehatan, dsb. c. Rujukan / Ketergantungan Adalah tindakan keperawatan
atas dasar rujukan dari profesi lain diantaranya dokter, psikologis, psikiater, ahli gizi, fisiotherapi, dsb.
Pada penatalaksanaanya tindakan keperawatan dilakukan secara : 1) Langsung : Ditangani sendiri oleh
perawat 2) Delegasi : Diserahkan kepada orang lain / perawat lain yang dapat dipercaya 3. Fase
Dokumentasi Merupakan terminasi antara perawat dan klien. Setelah implementasi dilakukan
dokumentasi terhadap implementasi yang dilakukan.

I. Evaluasi Keperawatan
Adalah mengukur keberhasilan dari rencana dan pelaksanaan tindakan keperawatan yang dilakukan
dalam memenuhi kebutuhan klien.
Teknik penilaian yang didapat dari beberapa cara, yaitu :
1. Wawancara : Dilakukan pada klien dan keluarga
2. Pengamatan : Pengamatan klien terhadap sikap, pelaksanaan, hasil yang dicapai dan perubahan tingkah
laku klien.

Jenis evaluasi ada dua macam, yaitu :


a. Evaluasi Formatif Evaluasi yang dilakukan pada saat memberikan intervensi dengan respon segera.
b. Evaluasi Sumatif Merupakan rekapitulasi dari hasil observasi dan analisis status pasien p pada saat
tertentu berdasarkan tujuan rekapitulasi dari hasil yang direncanakan pada tahap perencanaan. Ada tiga
alternatif yang dapat dipergunakan oleh perawat dalam memutuskan / menilai :
1) Tujuan tercapai : Jika klien menunjukkan perubahan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.
2) Tujuan tercapai sebagian : Jika klien menunjukkan perubahan sebagian dari standar dan kriteria yang
telah ditetapkan.
3) Tujuan tidak tercapai : Jika klien tidak menunjukkan perubahan dan kemajuan sama sekali dan akan
timbul masalah baru