Sunteți pe pagina 1din 54

Pengertian Standard Costing

Standard Cost merupakan biaya yang ditetapkan lebih dahulu menurut norma-norma
efisiensi yang berlaku bagi suatu perusahaan tertentu yang diperlukan untuk menghasilkan suatu
produk/barang.

Standard Cost berbeda dengan actual cost/hostorical cost, penggunaan data biaya historis (actual
cost/historical cost) di dalam perhitungan harga pokok produksi tidak dapat memberikan
informasi mengenai efisien tidaknya pelaksanaan suatu proses produksi,karena biaya historis
menunjukkan biaya yang terjadi sebenarnya yang telah dikeluarkan untuk menghasilkan suatu
produk atau kegiatan tertentu pada suatu saat tertentu, di mana biaya yang terjadi sebenarnya
dapat mengandung suatu pemborosan.

Manajemen memerlukan suatu alat tolak ukur tentang besarnya biaya yang ditetapkan dahulu
sebelum produksi dimulai, dan tolak ukur ini hendaknya mencerminkan informasi mengenai
jumlah biaya yang seharusnya dikeluarkan untuk menghasilkan suatu produk/kegiatan tertentu
pada suatu waktu tertentu, dan tolak ukur ini dikenal dengan istilah Predetermined Cost.

Penetapan predetermined cost dapat dilakukan melalui penelitian secara ilmiah (eksprimen,
time & motion study, tata letak peralatan produksi, dsb) terhadap pelaksanaan masa lalu dengan
turut mempertimbangkan kondisi-kondisi yang diharapkan di masa yang akan datang, maka
predetermined cost merupakan standard cost.

Standard cost termasuk predetermined cost, sedangkan predetermined cost belum tentu merupakan
standard cost.

Standard cost mempunyai 2 komponen yaitu :


Standard kuantitas (unit input/output)
Standard harga (biaya/tarif)

Standard costing dapat digunakan baik pada metode process costing maupun job order
costing, dan penetapan biaya standard paling tepat untuk diterapkan pada lingkungan pabrik
dimana teknologi produksi relatif stabil dan produk yang dihasilkan bersifat homogen di dalam
unit akumulasi biaya.

Perusahaan apa yang dapat menggunakan standard cost ?


- perusahaan pabrikasi (manufacturing)
- perusahaan jasa (service company), mis. Rumah sakit, bengkel, dsb
- food, misalkan fast food restaurant, dsb, dan perusahan lainnya.
Fungsi daripada standard costing :
- Menetapkan anggaran.
- Pengendalian biaya dan mengukur efisiensi kerja.
- Menyederhanakan prosedur penetapan biaya.
- Memberikan dasar penetapan tawaran kontrak dan harga jual.

Secara garis besar, standar dapat dibedakan menjadi 2 yaitu :


1) Basic standard (classic standard), adalah tolak ukur yang digunakan sebagai patokan
pembanding untuk prestasi kerja yang diharapkan dan yang sesungguhnya.
2) Current standard (standar yang berlaku), yang terbagi :
Standard actual yang diharapkan, adalah standard yang ditetapkan untuk suatu tingkat operasi dan
efisiensi yang diharapkan akan terjadi. Standard ini merupakan estimasi yang cukup wajar atas
hasil actual.
Standard normal, adalah standard ditetapkan untuk suatu tingkat operasi dan efisiensi yang normal,
yang dimaksudkan sebagai suatu tantangan yang bisa dicapai.
Standard teoritis, yaitu standar yang ditetapkan untuk suatu tingkat operasi dan efisiensi yang ideal
atau maksimum, standar ini lebih merupakan sasaran dan bukan sebagai prestasi kerja yang harus
dicapai pada saat ini.
Penggunaan standar dapat diaplikasikan sebagai berikut :
a) Dalam tingkat harga
b) Dalam efisiensi pelaksanaan
c) Dalam tingkat kegiatan/volume produksi
Jenis-jenis standard untuk harga
- Normal ideal
- Normal standard
- Current expected standard
- Basic standard (fixed standard)

Jenis-jenis standar untuk efisiensi pelaksanaan :


- Teoritical performance
- Normal performance
- Attainable goods performance
- Average past performance
Jenis-jenis standard untuk volume kegiatan
- Theoritical standard
- Normal standard
- Vertical standard
- Expected standard
Apakah standard cost sama dengan budget cost ?
Standard cost dan budget cost adalah sama (very similar), dimana pengertian ke-2 istilah ini lebih
menunjukkan bahwa standard cost adalah dalam satuan, sedangkan budget cost adalah
secara keseluruhan. Misalkan untuk memproduksi 1 unit barang X dibutuhkan bahan baku Rp.
10.000,-, apabila perusahaan menghendaki memproduksi 1.000 unit, maka dibutuhkan budget cost
untuk bahan sebesar Rp. 10.000.000 ( Rp. 10.000 X 1.000 unit)

Unsur harga pokok produksi terdiri dari :


Raw Material
Direct Labor Cost
Manufacturing Overhead
DIRECT MATERIAL STANDARD
Biaya standard untuk bahan langsung terdiri dari 2 unsur yaitu :
1. Unsur kwantitas, akan menjadi direct material quantity standard.
2. Unsur harga, akan menjadi direct material price standard.

Penyimpangan antara pemakaian bahan sebenarnya dengan bahan standard disebut Direct
Material Variances/(DMV)

Direct Material Variances terdiri dari :


Material Price Variances (MPV), yang disebabkan adanya perubahan harga pembelian yang
mengakibatkan terjadinya penyimpangan harga, peristiwa-peristiwa ekonomi lainnya seperti
krisis,devaluasi, serta timing/waktu yang kurang tepat dalam pembelian.
Material Efficiency Variances (MEV)/Material Quantity Variances/Material Usage Variances
(MUV), yang disebabkan adanya pemborosan pemakain bahan, kurang efisiensi mesin produksi,
baik/tidaknya pengawasan dalam penggunaan mesin/peralatan produksi, dsbnya.

DMV = (Qstd X Pstd) (Qact X Pact)

Qstd : quantitas standar


Pstd : proce standard
Qact : quantitas actual
Pact : Price actual

DMV = MPV + MEV

MPV = (Qact X Pstd) (Qact X Pact)


MPV = (Pstd Pact) X Qact

MEV = (Pstd X Qstd) (Pstd X Qact)


MEV = (Qstd Qact) X Pstd.

Misal :
PT Atma menetapkan standard cost bahan per unit sebagai berikut :
2 kg Bahan XYZ @ Rp. 15.000.
Selama satu periode telah memproduksi 1.000 unit.
Pembelian bahan selama periode tsb adalah 2200 kg @ Rp. 16.000.
Sedangkan pemakaian bahan actual adalah 1.980 kg.
Hitunglah Direct Material Variances!

Penyelesaian :

Quantity standard adalah : unit produksi actual X tarif standard quantity bahan.
Qstd : 1.000 unit X 2 kg = 2.000 kg.
Pstd : Rp. 15.000/kg atau Rp. 30.000/unit.
Qact : 1.980 kg

Direct Material Variances : (Qstd X Pstd) (Qact X Pact)


DMV = (2.000 X 15.000) (1.980 X 16.000)
DMV = (1.680.000) (Unfavourable)/tidak menguntungkan

Analisa Variances :
Material Price Variances

MPV = (Pstd Pact) X Qact

MPV = (15.000 16.000) X 1.980


MPV = (Rp. 1.980.000) unfavourable
Material Efficiency Variances
MEV = (Qstd Qact) X Pstd
MEV = (2.000 1.980) X 15.000
MEV = Rp.300.000 Favourable
DMV = MPV + MEV
DMV = (1.980.000) + 300.000 = (Rp.1.680.000) unfavorable

Accounting for Direct Materials


a) Pada saat pembelian bahan
Harga actual MPV dilokalisir pada saat pemakaian
Harga standard MPV dilokalisir pada ssat pembelian

Contoh :
PT Atma membeli 100 kg bahan A @ Rp. 11.000, Harga standard per kg Rp. 10.000.
Harga actual
Entry : Bahan (100 kg X Rp.11.000) 1.100.000
Hutang (100 kg X Rp.11.000) 1.100.000

Harga standard
Entry : Bahan (100 kg X Rp.10.000) 1.000.000
MPV (100 kg X Rp. 1.000) 100.000
Hutang (100 kg X Rp.11.000) 1.100.000

b) Pada saat pemakaian bahan

Menggunakan standard bill of material, yaitu merupakan suatu formulir pengambilan bahan
dimana dicantumkan kwantitas bahan yang diperlukan untuk memproduksi suatu jumlah produk.
Apabila dalam proses produksi terjadi bahwa jumlah bahan tidak mencukupi, maka untuk
mengambil bahan dikeluarkan suatu formulir pengambilan bahan khusus yang disebut Excess
Material Requisition, dan dengan menjumlahkan seluruh excess material requisition tsb dapat
diketahui material efficiency variance.
Menggunakan material requisition umum, dimana pemakaian bahan dibukukan menurut
pemakaian yang sebenarnya, material efficiency variance baru dapat diketahui setelah
barang/produk selesai dikerjakan.

Jadi, perbedaan antara standar bill of material dengan material requisition umum adalah pada saat
jurnal pemakaian bahan, sbb :
- Standard bill of material (Qstd X Pstd)
- Material Requisition Umum (Qact X Pstd)

Contoh :
PT Atma menetapkan standard cost bahan per unit adalah 2 kg @ Rp. 10.000. Produksi actual
selama periode adalah 450 unit. Pembelian bahan selama periode tsb adalah 1.000 kg @ Rp.
11.000. Pemakaian bahan actual pada periode yang sama adalah 750 kg.
Hitunglah direct material variances periode ybs!

DIRECT LABOR VARIANCES


Biaya standard untuk upah langsung terdiri dari 2 unsur yaitu :
Unsur kwantitas (hours), akan menjadi direct labor quantity standard.
Unsur harga (rate/tarif), akan menjadi direct labor rate variances.

Penyimpangan antara upah yang dibayar sebenarnya dengan upah standard disebut penyimpangan
upah langsung atau direct labor variance (DLV).

Direct Labor Variances (DLV), terdiri dari :


1) Labor Rate Variances (LRV), yang disebabkan adanya perubahan tarif upah langsung yang
dibayar mis. UMR,dsb.
2) Labor Efficiency Variances (LEV), yang disebabkan adanya pemakaian jam kerja yang
kurang/lebih dari yang ditargetkan, sistem kerja mesin, dsbnya.

Direct Labor Variances (DLV) :

DLV = (Hstd X Rstd) (Hact X Ract)

Hstd : Hours Standard


Rstd : Rate standard
Hact : Hours actual
Ract : Rate Actual

Analisa Labor Variances :


LRV = (Rstd X Hact) (Ract X Hact)
LRV = (Rstd Ract) X Hact
LEV = (Hstd X Rstd) (Hact X Rstd)
LEV = (Hstd Hact) X Rstd

Contoh :

PT Atma menetapkan standard cost upah per unit adalah 2 Jkl @ Rp. 20.000. Produksi selama
periode adalah 1.000 unit. Pembayaran upah langsung sebenarnya adalah Rp. 40.425.000,- dengan
tarif upah per jam adalah Rp.21.000.
Hitunglah direct labor variances!

H standard : 2 jkl X 1.000 unit = 2.000 Jkl.


R standard : Rp. 20.000/Jkl.
H Actual : Rp. 40.425.000/Rp.21.000 = 1.925 Jkl
R actual : Rp. 21.000/jkl.

DLV = (Rstd X Hstd) (Ract X Hact)


DLV = ( 20.000 X 2.000 jkl) (21.000 X 1.925 Jkl)
DLV = 40.000.000 40.425.000 = (425.000) unfavourable.

Analisa Labor Variances :

LRV = (Rtsd Ract) X Hact


LRV = (20.000 21.000) X 1.925
LRV = (1.925.000) unfavourable.

LEV = (Hstd Hact) X Rstd


LEV = (2.000 1.925) X Rp. 20.000
LEV = 1.500.000 favourable.

DLV = LRV + LEV


DLV = (1.925.000) + 1.500.000 = (Rp.425.000) favourable.

MANUFACTURING OVERHEAD COST STANDARD


(STANDARD BIAYA PRODUKSI TIDAK LANGSUNG).

Dibandingkan dengan unsur bahan dan upah langsung, maka penetapan MO standard jauh lebih
kompleks. Hal ini disebabkan karena besarnya biaya standard bahan dan upah langsung untuk tiap
unit sudah merupakan sesuatu yang pasti, dengan kata lain bahwa biaya tersebut untuk per unitnya
tidak akan berpengaruh oleh perubahan-perubahan pada tingkat kegiatan perusahaan. Sebaliknya
besarnya biaya MO yang harus dibebankan dalam proses produksi sangat dipengaruhi oleh tingkat
kegiatan perusahaan apalagi sifat biayanya ada yang berupa fixed, variable maupun yang semi
variable. Untuk analisa MO standard variances harus secara tegas dibedakan antara Fixed Cost
dan Variable Cost.

Untuk penetapan MO standard, dapat digunakan sistem budget sbb :


Fixed budget (static budget), hanya ada satu tingkat kegiatan.
Flexible budget (dynamic budget), beberapa tingkat kegiatan.

Cara pemecahan dari biaya yang mempunyai sifat mixed cost supaya menjadi fixed cost dan
variable cost adalah :
- High low method
- Regresi linear
- Scattered diagram

Contoh Flexible budget


PT Atma menyusun suatu flexible budget untuk beberapa tingkat kegiatan sebagai berikut :

Manufacturing Overhead 10.000 Jkl 12.000 Jkl 14.000 jkl


Indirect Raw Material 20.000.000 24.000.000 28.000.000
Indirect Labor 15.000.000 18.000.000 21.000.000
Insurance of Machine 15.000.000 15.000.000 15.000.000
Depre. Of Factory Buildings 25.000.000 25.000.000 25.000.000
Depre. Of Machines 30.000.000 30.000.000 30.000.000
Repairs Fixed Assets 2.500.000 2.600.000 2.700.000
Factory Utility 1.400.000 1.480.000 1.560.000
Others Mo 3.000.000 3.200.000 3.400.000
111.900.000 119.280.000 126.660.000

Variable MO = 126.660.000 111.900.000/14.000 jkl 10.000 jkl


= Rp. 3.690/Jkl
Fixed MO : 126.660.000 = Var. MO + F.MO
: 126.660.000 = (14.000 X 3.690) + F.MO
: F.MO = 51.660.000 + 126.660.000 = Rp.75.000.000

atau persamaan : Y = a + bX
Y = total cost, a = Fixed Cost, b = tingkat kegiatan dan
X = tarif variable cost.
Jadi besarnya anggaran MO pada tingkat kegiatan 15.000 jkl adalah :
Rp. 75.000.000 + (15.000 Jkl X 3.690) = Rp. 130.350.000.

Note : apabila MO rate tersebut cukup akurat, maka MO rate tersebut dapat dijadikan MO Standard
rate.

MO Variances adalah penyimpangan antara MO yang dibebankan (Applied MO) dengan MO


actual. Penyimpangan ini dapat berupa :
- Under applied MO
- Over applied MO

Analisa MO Variances
(a) Two Variances Method (Metode 2 selisih)
- Budget Variances(BV)/Spending Variances (Controllable)
- Capacity Variance(CV)/Volume Variances (Uncontrollable)
Two variances method terdiri atas metode lama dan metode baru.

(b) Three Variances Method (Metode 3 selisih)


- Budget variance/spending variance
- Efficiency Variance
- Capacity variance(volume variance)
Three Variance Method terdiri atas metode lama dan metode baru.

(c) Four Variances Method (Metode 4 selisih)


- Variable Overhead spending variance
- Variable Overhead efficiency variance
- Fixed Overhead spending variance
- Fixed Overhead volume variance

Contoh :
PT Atma memproduksi produk X-Tray, selama tahun 2011 telah dianggarkan biaya produksi
tidak langsung (MO) sebesar Rp. 560.000.000, terdiri dari Fixed MO Rp. 240.000.000 dan
Variable MO Rp. 320.000.000. Anggaran tingkat kegiatan untuk tahun yang sama adalah 100.000
jam kerja langsung. Perusahaan telah menetapkan standard cost MO per unit adalah 2 jkl. Produksi
actual selama tahun 2011 adalah 47.500 unit. Total upah langsung yang dibayarkan adalah Rp.
288.000.000, dengan tarif upah/jkl Rp. 3.000.
MO Actual pada tahun tersebut adalah Rp. 567.320.000 terdiri dari :
- Variable MO Rp. 331.125.000
- Fixed MO Rp. 236.195.000
Hitunglah Over/Under Applied MO dan buatlah analisa MO Variance dengan metode 4 selisih.

Penyelesaian:
Anggaran Fixed MO = Rp. 240 juta/100.000JKL = Rp. 2.400/JKL
Anggaran Variable MO = Rp. 320 juta/100.000 JKL = Rp. 3.200/JKL
JKL std = 47.500 unit X 2 JKL = 95.000 JKL
JKL actual = Rp. 288.000.000/3.000 = 96.000 JKL
Variable MO actual = Rp. 331.125.000
FMO actual = Rp. 236.195.000
Applied MO = JKL std X MO rate
= 95.000 JKL X Rp.5.600 = 532.000.000
Actual MO = 567.320.000
Underapplied MO = (35.320.000)

Analisa MO variances:
1. Variable overhead spending variances (Budget Variance VMO)
= (Jkl act X VMO rate) actual variable MO
= (96.000 JKL X 3.200) 331.125.000 = (23.925.000) UF
2. Variable overhead efficiency variances (EV VMO)
= (JKL std JKL actual) X VMO rate
= (95.000 96.000) X 3.200 = ( 3.200.000) UF
3. Fixed overhead spending variances (Budget Variance FMO)
= (JKL anggaran X FMO rate) FMO actual
= (100.000 X 2.400) 236.195.000 = 3.805.000 (F)
4. Fixed overhead Volume Variances (Capacity Variances FMO)
= (JKL std JKL anggaran) X FMO rate
= (95.000 100.000) X 2.400 = (12.000.000) UF

Summary:
Variable MO Variances = (23.925.000) + (3.200.000) = (27.125.000) UF

Applied VMO = JKL std X


VMO = 95.000 X 3.200 = 304.000.000
Actual VMO 331.125.000
Underapplied Variable MO (27.125.000) UF

Fixed MO Variances = 3.805.000 + (12.000.000) = (8.195.000) UF

Applied FMO = JKL std X FMO rate = 95.000 X 2.400 = 228.000.000


Fixed MO actual = 236.195.000
Under applied FMO = (8.195.000) UF
Performance Evaluation in The Desentralization

Desentralisasi (decentralization) adalah praktek pendelegasian wewenang pengambilan


keputusan kepada jenjang yang lebih rendah. Alasan melakukan desentralisasi adalah :

Kemudahan mengumpulkan dan menggunakan informasi lokal.

Fokus manajemen pusat.

Melatih dan memotivasi para manajer segmen.

Meningkatkan daya saing.

Pusat pertanggungjawaban (Responsibility center) merupakan suatu segmen bisnis yang


manajernya bertanggung jawab terhadap serangkaian kegiatan tertentu. Akuntansi
pertanggungjawaban (responsibility accounting) adalah sistem yang mengukur hasil yang dicapai
oleh setiap pusat pertanggungjawaban menurut informasi yang dibutuhkan oleh para manajer
untuk mengoperasikan pusat pertanggungjawaban mereka. Ada 4 jenis pusat
pertanggungjawaban :

1. Pusat biaya (cost center). Suatu pusat pertanggungjawaban yang manajernya bertanggung
jawab hanya terhadap biaya.
2. Pusat pendapatan (revenue center) suatu pusat pertanggungjawaban yang manajernya
bertanggung jawab hanya terhadap penjualan.
3. Pusal laba (profit center). Suatu pusat pertanggungjawaban yang manajernya bertanggung
jawab terhadap biaya maupun penjualan.
4. Pusat investasi (investment center). Suatu pusat pertanggungjawaban yang manajernya
bertanggung jawab terhadap pendapatan, biaya, dan investasi.
Pengukuran Kinerja Pusat Investasi
Return on Investment (ROI)

Satu cara untuk mengaitkan laba operasional dengan aset yang sedang digunakan adalah melalui
perhitungan laba yang diperoleh per dolar investasi. Pengembalian atas investasi (return on
investment ROI) merupakan ukuran kinerja yang paling lazim digunakan untuk pusat investasi.

ROI = Laba operasi / Aset operasi rata-rata

Aset operasi rata-rata = (Nilai buku aset awal + nilai buku aset akhir) / 2

Keunggulan ROI :

Mendorong manajer untuk memfokuskan pada hubungan antara penjualan, beban, dan
investasi sebagaimana yang diharapkan dari manajer puncak.
Mendorong manajer memfokuskan pada efisiensi biaya.

Mendorong manajer untuk memfokuskan pada efisiensi aset operasi.

Kelemahan ROI :

ROI mengakibatkan fokusan yang sempit pada profitabilitas divisi dengan mengorbankan
profitabilitas keseluruhan perusahaan.

ROI mendorong para manajer untuk berfokus pada kepentingan jangka pendek dengan
mengorbankan kepentingan jangka panjang.

Economic Value Edded (EVA)

Untuk mengatasi kekurangan pada metode ROI, beberapa perusahaan memakai metode EVA
(Economic Value Edded). EVA adalah laba operasional setelah pajak dikurangi total biaya
modal tahunan. Jika EVA positif , perusahaan telah menciptakan kekayaan. Jika EVA negatif
maka perusahaan telah menyia-nyiakan modal.

EVA = Laba operasional setelah pajak (Biaya tertimbang rata-rata atas modal x total modal
terpakai)

Contoh :

El Suezo Inc., memiliki pendapatan operasional bersih setelah pajak tahun lalu sebesar $
600.000. ada dua sumber pendanaan yang digunakan perusahaan : $2.500.000 obligasi hipotek
yang membayar 8% bunga dan $10.000.000 saham biasa yang dianggap tidak lebih atau kurang
beresiko disbanding saham lainnya. Tingkat pengembalian atas obligasi pemerintah jangka
panjang adalah 6%. Perusahaan membayar pajak 40%. Total modal yang dipakai $5.300.000

Maka :

Biaya obligasi hipotek setelah pajak = [(1 0,4) (0,08)] = 0.048

Biaya saham biasa = 6% + 6% = 12%

Biaya modal = $ 5.300.000 x 0,1056 = $ 559.680

Laba bersih operasional setelah pajak $ 600.000

Biaya Modal ( 559.680)


EVA $ 40.320
Transfer Pricing
Transfer price yaitu harga atau barang atau jasa yang ditransfer oleh divisi penjual kepada
divisi pembeli dalam satu perusahaan dimana divisi-divisi tersebut merupakan profit
center. Transfer pricing yaitu suatu mekanisme untuk mengatur harga transfer atas barang dan
jasa sesame profit center.

Metode transfer pricing :

1. Market Base Transfer Price


Dipakai bila produk atau jasa yang ditransfer memiliki harga pasar dan kedua divisi diberi
kebebasan untuk menjual produk keluar atau untuk membeli produk dari luar perusahaan. Harga
pasar dari produk mencerminkan kemampuan untuk diterima oleh pelanggan diluar
perusahaan.

1. Cost Base Transfer Price


Dipakai bila harga pasar tidak tersedia. Divisi penjual tidak dapat menjual produk ke luar
perusahaan karena tidak ada permintaan. Divisi pembeli tidak dapat membeli produk tersebut di
luar perusahaan karena produk yang dibutuhkan bersifat unik, hanya diproduksi oleh pabrik
internal.

1. Negosiasi
Digunakan bila tidak tercapai kesepakatan antara divisi penjual dan divisi pembeli sehingga
masing-masing manajer harus memikirkan kemungkinan biaya yang dapat dihindari
ataupun biaya yang harus terjadi sebagai konsekuensi transfer internal.

Kelemahan negosiasi :

Manajer divisi yang menguasai informasi khusus mengambil keuntungan dari manajer
divisi lainnya.

Ukuran-ukuran kinerja mungkin terganggu oleh keterampilan negosiasi dari para


manajer.

Negosiasi dapat menghabiskan jumlah waktu dan sumber daya yang besar.

Pendekatan opportunitas dalam harga transfer :

1. Minimum transfer price. Harga transfer yang tidak akan membuat divisi penjual mempunyai
kinerja lebih buruk jika harus menstransfer ke internal perusahaan.
2. Maximum transfer price. Harga transfer yang tidak akan membuat divisi pembeli
mempunyai kinerja paling buruk jika harus membeli dari internal perusahaan.
Makalah Cost Volume Profit (CVP)
PENDAHULUAN
Analisis Biaya Volume Laba/BVL (cost volume profit analysis/CVP) merupakan suatu alat
yang sangat berguna untuk perencanaan dan pengambilan keputusan. Hal ini dikarenakan CVP
menekankan keterkaitan antara biaya, kuantitas yang terjual, dan harga, semua informasi
keuangan perusahaan terkandung di dalamnya. Analisis CVP berfokus kepada lima hal, yaitu:
a. harga produk (prices of products),
b. volume produksi,
c. biaya variable per unit,
d. total biaya tetap (biaya yang sifatnya tetap tidak terpengaruh oleh fluktuasi kuantitas produksi),
e. mix of product sold (bauran produk dalam penjualan).

Karena perannya yang sangat besar, cost volume profit analysis dapat menjadi alat yang sangat
bermanfaat bagi manajemen untuk mengidentifikasi ruang lingkup permasalahan ekonomi
perusahaan serta membantu mencari solusi atas permasalahannya.
Analisis CVP dapat membantu manajemen untuk mengetahui beberapa hal penting, antara lain:
a. Berapa jumlah unit yang harus dijual untuk mencapai titik impas
b. Dampak pengurangan Biaya Tetap (Fixed Cost) terhadap titik impas
c. Dampak kenaikan harga terhadap laba

d. Berapa volume penjualan dan bauran produk yang dibutuhkan untuk mencapai tingkat laba yang
diharapkan dengan sumber daya yang dimiliki
e. Tingkat sensitivitas harga atau biaya terhadap laba.

Oleh karena itu, dalam makalah ini akan dibahas bagaimana hubungan analisis cost volume
profit analysis, titik impas dalam unit maupun dolar, analisis multiproduk, dan penyajian grafis
hubungan cost volume profit analysis agar manajer dapat dengan bijak mengambil keputusan yang
pasti dan tidak mengandung resiko yang dapat merugikan perusahaan.
A. Analisis Cost Volume Profit

Pengertian analisis cost volume profit adalah analisis yang digunakan untuk menentukan
bagaimana perubahan dalam biaya dan volume dapat mempengaruhi pendapatan
operasional (operating income) perusahaan dan pendapatan bersih (net income). Seperti kita
ketahui, jumlah produk yang dihasilkan perusahaan didalam suatu periode tertentu akan memiliki
hubungan langsung dengan besarnya biaya yang dikeluarkan perusahaan. Ketika biaya itu
dipertemukan dengan nilai penjualan produk yang dihasilkan oleh perusahaan, laba perusahaan
yang diperoleh pada suatu periode akan terpengaruh menjadi lebih besar atau lebih kecil. Untuk
melihat hubungan antara ketiga variabel itu (biaya, volume, dan laba) diperlukanlah
analisis cost volume profit.

Manajemen merencanakan keuangan dan mengambil keputusan dengan melihat hubungan


besarnya biaya yang dikeluarkan suatu perusahaan dengan besarnya volume penjualan serta
laba yang diperoleh pada suatu periode tertentu. Dalam mengambil keputusan, manajemen
juga melihat lima elemen penting terkait analisis cost volume profit, yaitu:
1. Harga produk yaitu harga yang ditetapkan di dalam suatu periode tertentu secara konstan.

2. Volume atau tingkat aktivitas yaitu besarnya produk yang dihasilkan dan direncanakan akan
dijual di dalam suatu periode tertentu.

3. Biaya variabel per unit yaitu besarnya biaya produk yang dibebankan secara langsung pada
setiap unit barang yang diproduksi.
4. Total biaya tetap yaitu keseluruhan biaya periodik di dalam suatu periode tertentu.

5. Bauran volume produk yang dijual yaitu proporsi volume relatif produk-produk perusahaan yang
akan dijual.

Dalam melihat hubungan diantara kelima elemen tersebut terdapat beberapa asumsi yang harus
digunakan didalam hubungan diantara besarnya biaya dan volume serta laba yang akan diperoleh,
yaitu :

1. Harga jual produk yang konstan dalam cakupan yang relevan. Hal ini berarti harga jual setiap
unit produk tidak berubah walaupun terjadi perubahan volume penjualan.

2. Biaya bersifat linear dalam rentang cakupan yang relevan dan dapat dibagi secara akurat ke
dalam elemen biaya tetap dan biaya variabel. Jumlah biaya variabel per unit konstan dan jumlah
biaya tetap total juga harus konstan.
3. Dalam perusahaan mulitiproduk, bauran penjualannya tidak berubah.

4. Jumlah unit yang diproduksi sama dengan jumlah unit yang dijual. Berarti, jumlah persediaan
tidak berubah.

Dalam referensi lain, asumsi dasar analisis cost volume profit disederhanakan menjadi (a)
semua biaya diklasifikasikan sebagai biaya variabel dan tetap, (b) fungsi jumlah biaya adalah linier
dalam kisaran relevan, (c) fungsi jumlah pendapatan adalah linier dalam kisaran relevan dan harga
jual dianggap konstan, (d) hanya terdapat satu pemicu biaya yaitu volume unit produk / rupiah
penjualan, dan (e) tidak ada persediaan. Dengan pengertian dan asumsi seperti diatas maka jika
salah satu elemen saja berubah maka hasil analisis cost volume profit pasti akan menghasilkan
kesimpulan yang berbada dan dapat menghasilkan keputusan yang berbeda juga. Meskipun tujuan
utama dari analisis ini adalah untuk melihat hubungan diantara elemen-elemen tersebut dan
pengaruhnya satu dengan yang lainnya.

Terkait asumsi dasar biaya diklasifikasikan sebagai biaya variabel dan tetap, manajemen harus
teliti dalam memasukkan semua biaya variable yang relevan yaitu tidak hanya biaya produksi saja
tapi juga biaya penjualan dan biaya distribusi. Ketelitian ini diperlukan untuk mengukur biaya
variabel per unit. Selain itu, (pada analisis jangka pendek) biaya tetap yang relevan dapat diartikan
sebagai biaya tetap yang diperkirakan berubah sehubungan dengan peluncuran produk baru. Pada
saat biaya variabel dan biaya tetap dijumlahkan menjadi biaya total, dapat diasumsikan dengan
analisis cost volume profit bahwa pendapatan dan total biaya adalah linear pada rentang aktivitas
yang relevan. Meskipun perilaku biaya sebenarnya tidak relevan dengan rentang output yang
terbatas, total biaya diharapkan meningkat mendekati tingkat yang linear.

Karena peran yang sangat vital, analisis cost volume profit ini dapat diterapkan dalam banyak
hal seperti menentukan harga jual produk atau jasa, memperkenalkan produk atau jasa baru,
mengganti peralatan, memutuskan apakah produk atau jasa yang ada seharusnya dibuat di dalam
perusahaan atau dibeli dari luar perusahaan, dan melakukan analisis apa yang akan dilakukan, jika
sesuatu dipilih oleh manajemen.
B. Konsep Contribution Margin

Margin kontribusi adalah jumlah yang tersisa dari pendapatan dikurangi beban variabel.
Jadi, ini adalah jumlah yang tersedia untuk menutup beban tetap dan kemudian menjadi laba
untuk periode tersebut. Margin kontribusi digunakan dulu untuk menutup beban tetap dan
sisanya akan menjadi laba. Jika margin kontribusi tidak cukup untuk menutup beban tetap
perusahaan, maka akan terjadi kerugian untuk periode tersebut. Ketika titik impas dicapai, laba
bersih akan bertambah sesuai dengan margin kontribusi per unit untuk setiap tambahan produk
yang terjual. Untuk memperkirakan pengaruh kenaikan penjaulan yang direncanakan terhadap
biaya, manajer cukup mengalikan peningkatan dalam unit yang terjual dengan margin kontribusi
yang per unit. Hasilnya akan menggambarkan peningkatan laba yang diharapkan.

Margin kontribusi adalah pendapatan penjualan dikurangi semua biaya variabel. Ini dapat
dihitung dengan menggunakan satuan mata uang atau basis per unit. Jika PT XYZ miliki penjualan
sebesar $ 750.000 dan biaya variabel sebesar $ 450.000, marjin kontribusinya adalah $ 300.000.
Dengan asumsi perusahaan menjual 250.000 unit selama tahun, harga per unit penjualan adalah $
3 dan biaya variabel total per unit adalah $ 1,80. Margin kontribusi per unit adalah $ 1,20. Rasio
margin kontribusi adalah 40%. Hal ini dapat dihitung dengan menggunakan margin kontribusi
dalam satuan mata uang atau marjin kontribusi per unit. Untuk menghitung rasio margin
kontribusi, margin kontribusi dibagi dengan jumlah penjualan atau pendapatan.
C. Titik Impas Dalam Unit
Ketertarikan untuk mengetahui pendapatan, beban, dan laba berprilaku ketika volume berubah
adalah sesuatu yang lazim untuk memulai dengan menentukan titik impas perusahaan dalam
jumlah unit yang terjual. Titik impas (break-even point) adalah titik dimana total pendapatan sama
dengan total biaya atau titik dimana laba sama dengan nol (zero profit). Untuk menentukan titik
impas dalam unit (pendapatan sama dengan total biaya), maka perlu difokuskan pada laba operasi.
Dalam hal ini, yang dilakukan pertama kali adalah menentukan titik impas, kemudian melihat
bagaimana pendekatan yang telah digunakan itu dapat dikembangkan untuk menentukan jumlah
unit yang harus dijual guna menghasilkan laba yang ditargetkan.

Penggunaan Laba Operasi Dalam Analisis Cost Volume Profit


Laporan laba rugi merupakan suatu alat yang berguna untuk mengorganisasikan biaya-biaya
perusahaan dalam kategori tetap dan variable. Laporan laba rugi dapat dinyatakan sebagai
persamaan berikut.

Laba operasi = Pendapatan penjualan Beban variable Beban tetap


Dalam persamaan ini, istilah laba operasi digunakan untuk menunjukkan penghasilan atau laba
sebelum pajak penghasilan (taxes). Laba operasi (operating income) hanya mencakup pendapatan
dan beban dari operasional normal perusahaan. Sedangkan, laba bersih (net income) adalah laba
operasi dikurangi pajak penghasilan. Setelah memiliki ukuran unit yang terjual, maka dapat
dikembangkanlah persamaan laba operasi dengan menyatakan pendapatan penjulan dan beban
variabel dalam jumlah unit dolar dan jumlah unit. Secara lebih spesifik, pendapatan penjualan
dinyatakan sebagai harga jual per unit dikali jumlah unit yang terjual, dan total biaya variabel
adalah biaya variabel per unit dikali jumlah unit yang terjual. Dengan demikian, persamaan laba
operasi menjadi

Laba operasi = (Harga x Jumlah unit terjual) (Biaya Variabel per unit x jumlah unit
terjual ) Total biaya tetap
Contoh berikut ini adalah mencari titik impas dalam unit. Contohnya adalah Whittier Company
memproduksi mesin pemotong rumput. Berikut ini adalah proyeksi laporan laba rugi perusahaan
Whittier Company
Penjualan (1000 unit@$400) $400.000
Dikurangi: Beban variabel 325.000
Margin kontribusi $ 75.000
Dikurangi: Beban tetap 45.000
Laba operasi $ 30.000

Hal ini menunjukan bahwasanya Whittier Company mempunyai harga adalah $400 per unit,
dan biaya variabel per unit adalah $325 ($325.000/1000 unit). Biaya tetap adalah $45.000. Maka
pada titik impas, persamaan laba operasi adalah sebagai berikut:
0 = ($400 x Unit) ($325 x Unit) - $45.000
0 = ($75 x Unit) - $45.000
$75 x Unit = $45.000
Unit = 600

Dengan demikian, Whittier Company harus menjual 600 pemotong rumput untuk menutupi
semua beban tetap dan variabel. Suatu cara yang baik untuk memeriksa jawaban ini adalah dengan
memformulasikan suatu laporan laba rugi berdasarkan 600 unit yang terjual.
Penjualan (600 unit@ $400) $240.000
Dikurangi: beban variabel 195.000
Margin kontribusi $ 45.000
Dikurangi: Beban tetap 45.000
Laba operasi $ 0
Jelaslah, penjualan 600 unit menghasilkan laba nol.

Sebuah keunggulan penting dari pendekatan laba operasi adalah bahwa seluruh persamaan cost
volume profit berikutnya diturunkan dari laporan laba rugi menurut perhitungan biaya variabel.
Sehingga setiap persoalan cost volume profit dapat diselesaikan dengan menggunakan pendapatan
ini.

Jalan Pintas Untuk Menghitung Unit Impas


Salah satu cara cepat yang digunakan untuk menghitung titik impas dalam unit yaitu dengan
menggunakan margin kontribusi. Margin kontribusi (contribution margin) adalah pendapatan
penjualan dikurangi total biaya variable. Pada titik impas, margin kontribusi sama dengan beban
tetap. Jika margin kontribusi per unit untuk harga dikurangi biaya variable per unit telah diganti
pada persamaan laba operasi dan pada akhinya memperoleh jumlah unit, maka akan didapatkan
persamaan dasar

Jumlah unit BEP = Biaya tetap/Margin kontribusi per unit


Dengan menggunakan contoh dari Whittier Company margin kontirbusi per unit dapat dihitung
dengan salah satu dari dua cara berikut. Cara pertama adalah dengan membagi total margin
kontribusi dengan unit yang terjual ($75.000/1000) hasilnya $75. Cara kedua adalah penjualan
dikurangi biaya variabel ($400 - $325) hasilnya $75. Untuk menghitung jumlah unit impas
Whittier Company, dapat digunakan persamaan dasar sebagai berikut:
Jumlah unit = $45.000/($400-$325)
= $45.000/$75
= 600
Penjualan Dalam Unit Yang Diperlukan untuk Mencapai Target Laba
Meskipun titik impas merupakan informasi yang berguna, sebagian besar perusahaan ingin
memperoleh laba operasi lebih besar daripada nol. Analisis cost volume profit menyediakan suatu
cara menentukan jumlah unityang harus dijual untuk menghasilkan target laba tertentu. Target laba
di sini adalah laba operasi di atas nol (titik impasnya), yang dapat dinyatakan dengan jumlah dolar
atau sebagai persentase dari pendapatan penjualan. Untuk mencari target laba, pendekatan yang
dapat dilakukan adalah dengan pendekatan laba operasi atau pendekatan margin kontribusi.

Dalam pendekatan target laba sebagai sebuah jumlah dolar, anggaplah bahwa Whittier
Company ingin memperoleh laba operasi sebesar $60.000. dalam hal ini, berapakah mesin
pemotong rumput yang harus dijual untuk mencapai hasil ini? Jika menggunakan laporan laba rugi
maka hasilnya adalah sebagai berikut:
$60.000 = ($400 x Unit) ($325 x Unit) - $45.000
$105.000 = $75 x Unit
Unit = 1.400

Jika menggunakan persamaan dasar impas, maka perlu menambahkan target laba sebesar
$60.000 pada biaya tetap dan langsung :
Unit = ($45.000 + $60.000)/($400 - $325)
Unit = $105.000/$75
Unit = 1.400

Artinya Whittier harus menjual 1400 mesin pemotong rumput untuk menghasilkan laba operasi
sebesar $60.000. Laporan laba rugi berikut membuktikan hasil ini:
Penjualan (1400 unit@$400) $560.000
Dikurangi: Bebabn Variabel 455.000
Margin kontribusi $105.000
Dikurangi: Beban tetap 45.000
Laba operasi $ 60.000

Cara lain untuk memeriksa jumlah unit ini adalah dengan menggunakan titik impas. Seperti
yang baru saja ditunjukkan, Whittier harus menjual 1.400 mesin pemotong rumput, atau 800 lebih
banyak dari volume impas 600 unit, untuk menghasilkan laba sebesar $60.000. Margin kontribusi
per mesin pemotong rumput adalah $75. Perkalian antara $75 dengan 800 unit mesin pemotong
rumput diatas impas akan menghasilkan laba sebesar $60.000 ($75 x 800). Hasil ini menunjukkan
bahwa margin kontribusi per unit untuk setiap unit diatas impas adalah sama persis dengan laba
per unit. Karena titik impas telah dihitung, maka jumlah mesin pemotong rumput yang akan dijual
untuk menghasilkan laba operasi $60.000 dapat dihitung dengan membagi margin kontribusi per
unit ke dalam target laba dan menambahkan hasilnya dengan volume impas.

Secara umum, dengan mengasumsikan biaya tetap tidak berubah, dampak terhadap laba
perusahaan yang dihasilkan dari perubahan jumlah unit yang terjual dapat dinilai dengan
mengalikan margin kontribusi per unit dengan perubahan unit yang terjual. Sebagai contoh, jika
1.500 mesin pemotong rumput, bukan 1.400 yang terjual, maka berapa jumlah laba yang akan
diperoleh? Perubahan dalam unit yang terjual adalah suatu kenaikan sebanyak 100 mesin
pemotong rumput, dan margin kontribusi per unit adalah $75. Dengan demikian, laba akan
meningkat sebesar $7.500 ($75 x 100).

Dalam pendekatan target laba sebagai suatu persentase dari pendapatan penjualan (after taxes),
anggaplah bahwa Whittier Company ingin mengetahui jumlah mesin pemotong rumput yang harus
dijual untuk menghasilkan laba yang sama dengan 15 persen dari pendapatan penjualan.
Pendapatan penjualan adalah harga dikalikan dengan kuantitas. Dengan menggunakan laporan
laba rugi (yang lebih sederhana dalam kasus ini), maka diperoleh:
0,15 ($400) (Unit) = ($400 x Unit) ($325 x Unit) - $45.000
$60 x Unit = ($400 x Unit) ($325 x Unit) - $45.000
$60 x Unit = ($75 x Unit) - $45.000
$15 x Unit = $45.000
Unit = 3.000

Apakah volume sebanyak 3.000 mesin pemotong rumput menghasilkan laba yang sama
dengan 15 persen dari pendapatan penjualan? Untuk 3000 mesin pemotong rumput, total
pendapatan adalah $1,2 juta ($400 x 3.000). Disini laba dapat dihitung tanpa harus menyusun
laporan laba rugi yang formal. Ingat, bahwa diatas impas margin kontribusi per unit adalah laba
per unit. Volume impas adalah 600 mesin pemotong rumput. Jika 3.000 mesin pemotong rumput
terjual, maka ada 2.400 (3.000 600) mesin pemotong rumput diatas titik impas yang telah terjual.
Jadi, laba sebelum pajak adalah $180.000 ($75 x 2400), yang merupakan 15 persen dari penjualan
($180.000/$1.200.000).

Target Laba Setelah Pajak Pada saat menghitung titik impas, pajak penghasilan tidak berperan.
Ini disebabkan karena pajak yang dibayar atas laba nol adalah nol. Namun, ketika perusahaan ingin
mengetahui berapa unit yang harus dijual untuk menghasilkan laba bersih tertentu, maka
diperlukan beberapa pertimbangan tambahan. Ingat kembali, bahwa laba bersih adalah laba operasi
setelah pajak penghasilan dan bahwa angka target laba dinyatakan dalam kerangka sebelum pajak.
Dengan demikian, ketika target laba dinyatakan sebagai laba bersih, harus menambahkan kembali
pajak penghasilan untuk memperoleh laba operasi.
Umumnya, pajak dihitung sebagai persentase dari laba. Laba setelah pajak dihitung dengan
mengurangkan pajak dari laba operasi (atau laba sebelum pajak).
Laba bersih = laba operasi pajak penghasilan
= laba operasi (tarif pajak x laba operasi)
= laba operasi (1 tarif pajak)
Atau
Laba operasi = Laba bersih/(1- Tarif Pajak)

Misalkan Whittier Company ingin memperoleh laba bersih sebesar $48.750 dan tarif pajaknya
adalah 35 persen. Untuk mengonversi target laba setelah pajak menjadi target laba sebelum pajak,
selesaikanlah langkah-langkah berikut:

$48.750 = Laba operasi (0,35 x Laba operasi)


$48.750 = 0,65 (Laba operasi)
$75.000 = Laba operasi

Dengan kata lain, jika tarif pajak adalah 35 persen, maka Whittier Company harus
menghasilkan $75.000 sebelum pajak penghasilan untuk memperoleh $48.750 setelah pajak
penghasilan. Dengan pengonversian ini, maka dapat dihitung jumlah unit yang harus dijual:
Unit = ($45.000 + $75.000)/$75
Unit = $120.000/$75
Unit = 1.600

Sekarang buktikan lah dengan laporan laba rugi berdasarkan penjualan sebanyak 1.600 mesin
pemotong rumput.
Penjualan (1.600 @$400) $640.000
Dikurangi: Beban Variabel 520.000
Margin kontribusi $120.000
Dikurangi: Beban tetap 45.000
Laba operasi $ 75.000
Dikurangi: Pajak penghasilan (tarif pajak 35%) 26.250
Laba bersih $ 48.750
D. Titik Impas Dalam Dolar Penjualan

Pada beberapa kasus yang menggunakan analisis CVP, manajer mungkin lebih suka
menggunakan pendapatan penjualan sebagai ukuran aktivitas penjualan daripada unit yang terjual.
Suatu ukuran unit yang terjual dapat dikonversikan menjadi suatu ukuran pendapatan penjualan
hanya dengan mengalikan harga jual per unit dengan unit yang terjual. Sebagai contoh, titik impas
Whittier Company dihitung pada 600 mesin pemotong rumput. Karena harga jual per unit mesin
pemotong rumput adalah $400, maka volume impas dalam pendapatan penjualan adalah $240.000
($400 x 600).

Setiap jawaban yang dinyatakan dalam unit yang terjual dapat secara mudah dikonversi
menjadi satu jawaban yang dinyatakan dalam pendapatan penjualan, tetapi jawaban tersebut bisa
dihitung secara lebih langsung dengan mengembangkan rumus terpisah untuk kasus pendapatan
penjualan. Dalam kasus ini, variabel yang penting adalah dolar penjualan, sehingga pendapatan
maupun biaya variabel harus dinyatakan dalam dolar, bukan unit. Karena pendapatan penjualan
selalu dinyatakan dalam dolar, maka pengukuran variabel tidak menjadi masalah. Selanjutnya akan
dibahas secara lebih mendalam mengenai biaya variabel dan melihat bagaimana biaya tersebut
dapat dinyatakan dalam ukuran dolar penjualan.

Untuk menghitung titik impas dalam dolar penjualan, biaya variabel didefenisikan sebagi suatu
persentase dari penjualan bukan sebagai sebuah jumlah per unit yang terjual. Dapat diilustrasikan
mengenai pembagian pendapatan penjualan menjadi biaya variabel dan margin kontribusi sebagai
berikut:

Harga adalah $10 dan biaya variabel adalah $6. Tentu saja, sisanya adalah margin kontribusi
sebesar $4 ($10 - $6). Jika yang dijual adalah 10 unit, maka total biaya variabel adalah $60 ($6 x
10 unit). Atau, karena setiap unit yang dijual menghasilkan pendapatan sebesar $10 dan
membutuhkan biaya variabel $6, maka kita dapat mengatakan bahwa 60 persen dari setiap dolar
pendapatan yang dihasilkan diakibatkan oleh biaya variabel ($6/$10). Jadi, dengan memfokuskan
pada pendapatan penjualan, kita dapat memperkirakan total biaya variabel sebesar $60 untuk
pendapatan $100 (0,60 x $100).

Rasio biaya variable (variable cost ratio) sebesar 60 % pada contoh ini merupakan bagian
dari setiap dolar penjualan yang harus digunakan untuk menutup biaya variable. Rasio biaya
variable dapat dihitung dengan menggunakan data total maupun data per unit. Tentu saja,
persentase dari dolar penjualan yang tersisa setelah biaya variable tertutupi merupakan rasio
margin kontribusi. Rasio margin kontribusi (contribution margin ratio) adalah bagian dari setiap
dolar penjualan yang tersedia untuk menutup biaya tetap dan menghasilkan laba.
Berikut ini merupakan laporan Laba Rugi dari Whittier Dalam Dolar dan Persentase Penjualan:
Dolar Persentase Penjualan
Penjualan $400.000 100,00%
Dikurangi: Biaya Variabel 325.000 81,25%
Margin Kontribusi 75.000 18,75%
Dikurangi: Biaya tetap 45.000
Laba Operasi 30.000

Rasio Biaya Variabel adalah 81,25% ($325.000/$400.000). Rasio margin kontribusi adalah
18,75% ($75.000/$400.000 atau berasal dari 100%-81,25%). Biaya tetap adalah $45.000. Berdasar
informasi tersebut, berapakah pendapatan penjualan yang harus dihasilkan Whittier ntuk mencapai
titik impas?
Laba Operasi = Penjualan Biaya Variabel Biaya Tetap
0 = (Penjualan (Rasio Biaya Variabel x Penjualan)) Biaya tetap
0 = Penjualan (1 Rasio Biaya Variabel) Biaya Tetap
0 = Penjualan (1 0,8125) 45.000
(0,1875)Penjualan = 45.000
Penjualan = $240.000
Jadi Whittier harus menghasilan penjualan sejumlah 240.000 untuk mencapai impas. Dengan
pendekatan rumus unit impas yang dikembangkan, dapat diperoleh nilai penjualan impas dengan
rumus:
Unit Impas = Biaya tetap/(Harga-Biaya Variabel per Unit)

Jika sisi kiri dan sisi kanan kita kalikan dengan harga, maka sisi kiri Unit Impas x Harga adalah
merupakan pendapatan penjualan pada saat impas

Unit Impas x Harga = Harga x (Biaya tetap/(Harga-Biaya Variabel per Unit))


Penjualan Impas = Biaya Tetap x (Harga/ Harga-Biaya Variabel per Unit))
Penjualan Impas = Biaya tetap x (Harga/Margin Kontribusi)

Penjualan Impas = Biaya Tetap/Rasio Margin Kontribusi


Dalam Kasus Whittier, besarnya penjualan yang harus dihasilkan pada titik impas dapat
dihitung sebagai berikut:

Penjualan Impas = Biaya Tetap/Rasio Margin Kontribusi


Penjualan Impas = $45.000/0,1875
Penjualan Impas = $240.000

Target Laba dan Pendapatan Penjualan


Pertimbangkan pertanyaan berikut: Berapakah pendapatan penjualan yang harus dihasilkan
Whittier untuk memperoleh laba sebelum pajak sebesar $60.000? (pertanyaan ini mirip dengan
yang ditanyakan sebelumnya dalam hal unit, tetapi pertanyaannya sekarang adalah langsung dalam
hal pendapatan penjualan). Untuk menjawab pertanyaan tersebut, tambahkanlah target laba operasi
sebesar $60.000 kepada biaya tetap $45.000 dan membagi dengan rasio margin kontribusi:
Penjualan = $45.000 + $60.000)/0,1875
= $105.000/0,1875
= $560.000

Whittier harus menghasilkan pendapatan $560.000 untuk mencapai target laba sebesar
$60.000. Karena impas adalah $240.000) diatas impas harus dihasilkan. Perhatikan bahwa
perkalian antara rasio margin kontribusi dengan pendapatan di atas impas menghasilkan laba
sebesar $60.000 (0,1875 x $320.000). Diatas impas, rasio margin kontribusi merupakan rasio laba;
karena itu, rasio tersebut menggambarkan bagian dari setiap dolar penjualan yang dapat
diperuntukkan bagi laba. Dalam contoh ini, setiap dolar penjualan yang diterima di atas impas
akan meningkatkan laba sebesar $0,1875.
Secara umum dengan asumsi biaya tetap tidak berubah, rasio margin kontribusi dapat
digunakan untuk mengetahui dampak terhadap laba atas perubahan pendapatan penjualan. Untuk
memperoleh total perubahan dalam laba yang diakibatkan oleh perubahan pendapatan, kalikan
rasio margin kontribusi dengan perubahan dalam penjualan. Sebagai contoh, jika pendapatan
penjualan adalah $540.000, bukan $560.000, bagaimana pengaruhnya terhadap laba yang
diharapkan? Penurunan pendapatan penjualan sebesar $20.000 akan mengakibatkan penurunan
laba sebesar $3750 (0,1875 x $20.000).

Membandingkan Kedua Pendekatan


Untuk pengaturan produk tunggal, pengubahan titik impas dalam unit menjadi impas dalam
pendapatan penjualan hanya merupakan masalah pengalian harga jual per unit dengan unit yang
terjual. Namun ada dua alasan yang membuat manajemen menggunakan kedua rumus tersebut,
yaitu:

1. Rumus pendapatan penjualan memungkinkan kita untuk mencari pendapatan secara angsung
jika hal tersebut dikehendaki

2. Pendekatan pendapatan penjualan jauh lebih mudah untuk digunakan dalam pengaturan
multiproduk yang memiliki harga yang bervariasi.

E. Analisis Multiproduk

Analisis biaya volume laba cukup mudah diterapkan dalam pengaturan produk tunggal.
Namun, kebanyakan perusahaan memproduksi dan menjual sejumlah produk atau jasa. Meskipun
kompleksitas konseptual dari analisis CVP lebih tinggi dalam situasi multiproduk,
pengoperasiannya tidak berbeda jauh.

Beban tetap langsung (direct fixed expenses) adalah biaya tetap yang dapat ditelusuri ke
setiap produk dan akan hilang jika produk tersebut tidak ada.

Beban tetap umum adalah biaya tetap yang tidak dapat ditelusuri ke produk dan akan tetap
muncul meskipun salah satu produk ditelusuri.

Contoh Whittier Company telah memutuskan untuk menawarkan dua model mesin pemotong
rumput, yaitu mesin manual dengan harga $400/unit dan mesin otomatis dengan harga $800/unit.
Departemen pemasaran yakin bahwa 1.200 mesin pemotong rumput manual dan 800 mesin
pemotong rumput otomatis dapat terjual tahun depan. Proyeksi Laporan Laba Rugi terlihat sebagai
berikut:

Mesin
Mesin Manual Otomatis Total
Penjualan 480.000 640.000 1.120.000
Dikurangi: beban Variabel 390.000 480.000 870.000
Margin Kontribusi 90.000 160.000 250.000

Dikurangi: Beban tetap


Langsung 30.000 40.000 70.000
Margin Produk 60.000 120.000 180.000
Dikurangi: Beban tetap Umum 26.250
Laba Operasi 153.750
1. Titik Impas Dalam Unit

Pengalokasian biaya tetap umum ke setiap lini produk sebelum menghitung titik impas dapat
mengatasi kesulitan ini. Permasalahan dalam pendekatan ini adalah alokasi biaya tetap umum
bersifat acak. Jadi, tidak ada volume impas yang tampak secara langsung.

Dalam contoh Whittier di atas, jika dihiting unit impas individu dari mesin maual dan mesin
otomatis, diperoleh hasil:
Unit impas mesin manual = Biaya Tetap/(Harga-Biaya Variabel per unit)
= $30.000/$75
= 400 unit
Unit Impas mesin otomatis = $40.000/$200
= 200 unit

Jadi 400 unit mesin manual dan 200 unit mesin otomatis harus dijual untuk mencapai margin
produk impas, namun margin produk impas hanya menutup biaya tetap langsung, biaya tetap
umum masih belum tertutup. Padahal biaya tetap umum harus diperhatikan untuk mencari titik
impas bagi penjualan secara keseluruhan.

Pengalokasian biaya tetap umum ke setiap lini produk sebelum menghitung titik impas dapat
mengatasi kesulitan ini, namun permasalahan dalam pendekatan ini adalah alokasi biaya tetap
umum yang bersifat acak, jadi tidak ada volume impas yang tampak secara langsung.

Kemungkinan pemecahan lainnya adalah dengan mengkonversikan masalah multiproduk


menjadi masalah produk tunggal. Jika hal ini dapat dilakukan, maka seluruh metodologi CVP
produk tunggal dapat diterapkan secara langsung. Kunci dari konversi ini adalah dengan
mengidentifikasi bauran penjualan yang diharapkan dalam unit dari produk-produk yang
dipasarkan. Bauran penjualan (sales mix) adalah kombinasi relative dari berbagai produk yang
dijual perusahaan.

Penentuan bauran penjualan, bauran penjualan dapat diukur dalam unit yang terjual atau
bagian dari pendapatan.

Contohnya; Jika Whittier berencana menjual 1.200 mesin pemotong rumput manual dan 800
pemotong rumput otomatis, maka bauran penjualan dalam unit adalah 1.200 : 800, atau 3 : 2.

Bauran penjualan juga dapat dinyatakan dalam persentase dari total pendapatan yang
dikontribusikan oleh setiap produk. Pada kasus Whittier, pendapatan mesin pemotong rumput
manual adalah $480.000 ($400 x 1.200). dan pendapatan mesin pemotong rumput otomatis adalah
$640.000 ($800 x 800).
Pendapatan Mesin pemotong rumput manual = 480.000/(480.000+640.000)
= 42,86% dari penjualan
Pendapatan mesin pemotong rumut otomatis = 640.000/(480.000+640.000)
= 57,14% dari penjualan.

Jadi bauran penjualan dalam unit adalah sebesar 3 : 2 atau 60% : 40% yang berarti bahwa
Whittier berharap dapat menjual 3 mesin pemotong rumput manual atas setiap penjualan 2 mesin
pemotong rumput otomatis. Sedangkan bauran penjualan dalam pendapatan adalah sebesar
42,86% : 57,14% untuk mesin manual dan mesin otomatis. Perbedaan perbandingan iini
diakibatkan karena bauran penjualan dalam pendapatan menggunakan bauran penjualan dalam
unit dan memberikan bobot menurut harganya masing-masing. Untuk analisis CVP, kita harus
menggunakan bauran penjualan yang dinyatakan dalam unit.

Bauran penjualan dan analisis CVP, penentuan bauran penjualan terutama memungkinkan
kita untuk mengonversi masalah multiprodduk kedalam format CVP produk tunggal. Karena
Whittier berharap dapat menjual 3 mesin pemotong rumput manual atas setiap penjualan 2 mesin
pemotong rumput otomatis, Whittier bisa mengidentifikasikan produk tunggal yang dijualnya
sebagai suatu paket yang berisi tiga mesin pemotong rumput manual dan dua mesin pemotong
rumput otomatis.

Dengan menetapkan produk tersebut dalam suatu paket, maslah multiproduk dikonversi
menjadi masalah produk tunggal. Untuk lebih jelasnya lihat perhitungan berikut:

Harga Biaya Bauran


Variabel Kontribusi Margin Kontribusi Margin
Per Unit Per Unit Penjualan per unit (f) =d x
Produk (a) (b) (c) (d) paket (e) e
Manual 400 325 75 3 225
Otomatis 800 600 200 2 400

Total Paket 625

Berdasar margin kontribusi per paket di atas, persamaan dasar impas dapat digunakan untuk
menentukan jumlah paket yang harus dijual Whittier pada titik impas.
Paket Impas = Total Biaya Tetap/Margin Kontribusi Per Paket
= (70.000+26.250)/625
= 154 paket
Jadi Whittier harus menjual
Unit mesin manual = 154 x 3
= 462 unit
Unit mesin otomatis = 154 x 2
= 308 unit

Kelemahan metode ini yaitu sulit digunakan untuk perusahaan dengan banyak jenis produk.
Cara mengatasinya antara lain dengan:

a. Melakukan penyederhanaan yaitu dengan menganalisis kelompok produk, bukan individu


produk, atau
b. Menggunakan pendekatan pendapatan penjualan.

2. Pendekatan Dolar Penjualan

Titik impas dalam dolar penjualan secara implisit menggunakan asumsi bauran penjualan,
tetapi mengabaikan persyaratan penghitungan margin kontribusi per paket. Tidak ada pengetahuan
terhadap data produk individual yang diperlukan. Upaya perhitungannya mirip dengan yang
digunakan dalam pengaturan produk tunggal. Selain itu, jawabannya masih dinyatakan dalam
pendapatan penjualan. Tidak seperti titik impas dalam unit, jawaban atas pertanyaan CVP yang
menggunakan dolar penjualan tetap dinyatakan dalam ukuran ikhtisar tunggal. Namun pendekatan
pendapatan penjualan mengorbankan informasi yang berkaitan dengan kinerja tiap tiap produk.
Contoh kasus pada Whittier.

Total
Penjualan 1.120.000
Dikurangi: beban Variabel 870.000
Margin Kontribusi 250.000
Dikurangi: Total Beban tetap 96.250
Laba Operasi 153.750

Dari data di atas diperoleh rasio margin kontribusi adalah sebesar 250.000/1.120.000 = 0,2232.
Maka besar penjualan impas yaitu:
Penjualan impas = Biaya tetap/rasio margin kontribusi
= $96.250/0,2232
= $431.228

Hasil perhitungan ini akan sama dengan hasil perhitungan titik impas dalam unit. Jumlah paket
yang harus dijual pada saat impas adalah 154 sedangkan harga jual per paket adalah 2.800 (3 x
400 + 2 x 800), sehingga total penjualannya yaitu sebesar 154 x 2800 = 431.200, terdapat sedikit
perbedaan karena pembulatan dalam menghitung rasio margin kontribusi.

F. Representasi Grafis Dari Hubungan CVP


Perseroan wajib menjelaskan antara lain kebijakan akuntansi untuk:

Untuk memahami hubungan CVP lebih mendalam, dapat dilakukan melalui penggambaran secara
visual. Penyajian secara grafis dapat membantu para manajer melihat perbedaan antara biaya
variable dan pendapatan. Hal itu juga dapat membantu mereka memahami dampak kenaikan atau
penurunan penjualan terhadap titik impas dengan cepat. Dua grafik dasar yang penting, grafik laba
volume dan grafik biaya volume laba, yang akan dijelaskan sebagai berikut :

Grafik Laba Volume


Grafik laba volume (profit volume grafh) menggambarkan hubungan antara laba dan volume
penjualan secara visual. Grafik laba volume merupakan grafik dari persamaan laba operasi [laba
operasi = (harga x unit) (biaya variable per unit x unit) biaya tetap]. Dalam grafik ini, laba
operasi merupakan variable terikat dan unit merupakan variable bebas. Nilai variable bebas
biasanya diukur pada sumbu horizontal dan nilai variable terikat pada sumbu vertical.
(Contoh Grafik Laba Volume)

Grafik Biaya Volume Laba


Grafik biaya volume laba (cost volume profit graph) menggambarkan hubungan antara biaya,
volume dan laba. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih terperinci, perlu dibuat grafik dengan
dua garis terpisah : garis total pendapatan dan garis total biaya. Tiap tiap garis ini mempunyai
dua persamaan berikut :

Pendapatan = harga x unit


Total biaya = (biaya variable per unit x unit) + Biaya tetap

Asumsi asumsi pada Analisis Biaya Volume Laba


Grafik laba volume dan biaya volume laba yang baru diilustrasikan mengandalkan beberapa
asumsi penting. Berikut beberapa dari asumsi tersebut :
1. Analisis mengasumsikan fungsi pendapatan dan fungsi biaya berbentuk linear
2. Analisis mengasumsikan harga, total biaya tetap, dan biaya variable per unit dapat
diidentifikasikan secara akurat dan tetap konstan sepanjang tentang yang relevan
3. Analisis mengasumsikan apa yang diprosuksi dapat dijual
4. Untuk analisis multiproduk, diasumsikan bauran penjualan diketahui
5. Diasumsikan harga jual dan biaya diketahui secara pasti.

G. Perubahan Dalam Variabel CVP

Karena perusahaan beroperasi dalam dunia yang dinamis, mereka harus memperhatikan
perubahan perubahan yang terjadi dalam harga, biaya variable, dan biaya tetap. Perusahaan juga
harus memperhitungkan pengaruh resiko dan ketidakpastian. Kita akan membahas pengaruh dari
perubahan harga, margin kontribusi per unit, dan biaya tetap terhadap titik impas. Kita juga akan
membahas cara cara yang dapat ditempuh para manajer untuk menangani risiko dan
ketidakpastian dalam kerangka CVP

Memperkenalkan Risiko dan Ketidakpastian


Asumsi penting dari analisis CVP adalah harga dan biaya diketahui dengan pasti. Namun, hal
tersebut jarang terjadi. Risiko dan ketidakpastian adalah bagian dari pengambilan keputusan bisnis
dan bagaimananpun hal itu harus ditangani. Secara formal, risiko berbeda dengan ketidak pastian.
Distribusi probabilitas variable pada risiko dapat diketahui, sedangkan distribusi probabilitas
variable pada ketidakpastian tidak diketahui. Namun, pada tujuan pembahasan kita, kedua istilah
tersebut akan digunakan secara bergantian.

Margin pengaman ( margin of safety ) adalah unit yang terjual atau diharapkan terjual atau
pendapatan yang dihasilkan atau diharapkan untuk dihasilkan yang melebihi volume impas.
Sebagai contoh jika volume impas perusahaan adalah 200 unit dan perusahaan saat ini menjual
500 unit, maka margin pengamannya adalah 300 unit (500-200). Margin pengaman juga dapat
dinyatakan dalam pendapatan penjualan. Jika penjualan impas adalah $200.000 dan pendapatan
saat ini adalah $350.000, maka margin pengamannya adalah $150.000.

Rasio margin pengaman dapat dinyatakan dalam (pendapatan penjualan yang dianggarkan-
pendapatan penjualan impas)/pendapatan penjualan x 100%. Dalam contoh di atas, rasio margin
pengamannya yaitu sebesar (350.000-200.000)/200.000= 75%.

Margin pengamandapat dipandang sebagai ukuran kasar dari risiko. Pada kenyataannya
peristiwa yang tidak diketahui selalu muncul ketika rencana disusun. Hal itu dapat menurunkan
penjualan di bawah jumlah yang diharapkan. Apabila margin pengaman perusahaan adalah besar
atas penjualan tertentu yang diharapkan tahun depan, maka risikomenderita kerugian jika
penjualan menurun lebih kecil daripada margin pengamannya kecil. Manager yang menghadapi
margin pengaman yang rendah mungkin ingin mempertimbangkan berbagai tindakan untuk
meningkatkan penjualan atau mengurangi biaya. Langkah-langkah

Pengungkit Operasi, dalam ilmu fisika, alat pengungkit adalah mesin sederhana yang
digunakan untuk melipatgandakan kekuatan. Pada dasarnya, pengungkit tersebut melipatgandakan
kekuatan tenaga yang dikeluarkan untuk menghasilkan lebih banyak pekerjaan. Semakin besar
beban yang digerakkan oleh sejumlah tertentu tenaga, semakin besar keunggulan mekanis dari alat
tersebut. Dalam bidang keuangan pengungkit operasi berkaitan dengan bauran relative dari biaya
tetap dan biaya variable dalam suatu organisasi. Pertukaran antara biaya tetap dengan biaya
variable adalah suatu hal yang mungkin dilakukan.
Tingkat pengungkit operasi (degree of operating leverage DOL) untuk tingkat penjualan
tertentu dapat diukur dengan menggunakan rasio margin kontribusi terhadap laba.
Tingkat pengungkit operasi = Margin kontribusi/laba

Analisis Sensitivitas dan CVP


Meluasnya penggunaan computer dan spreadsheet telah memudahkan para manajer
melakukan analisis sensitivitas. Sebagai sebuah alat penting, analisis sensitivitas (sensitivity
analysis) adalah teknik bagaimana-jika yang menguji dampak dari perubahan asumsi asumsi
yang mendasarinya terhadap suatu jawaban.
H. Analisis CVP Dan Perhitungan Biaya Berdasarkan Aktivitas

Analisis CVP konvensional mengasumsikan semua biaya perusahaan dapat dikelompokkan


dalam dua kategori : biaya variabel dan biaya tetap. Pada sistem perhitungan biaya berdasarkan
aktivitas, biaya dibagi dalam kategori berdasarkan unit dannon-unit.

Perbandingan antara titik impas ABC dengan titik impas konvensional mengungkapkan dua
perbedaan yang signifikan. Pertama, biaya tetapnya berbeda. Beberapa biaya yang sebelumnya
diidentifikasi sebagai biaya tetap dapat berbeda dengan penggerak. Kedua, pembilang pada
persamaan impas ABC memiliki dua istilah biaya variabel non-unit : satu untuk aktivitas yang
berkaitan dengan batch dan satu untuk aktivitas yang berkaitan dengan keberlanjutan produk. Jika
suatu perusahaan menganut JIT, maka biaya variabel per unit yang dijual berkurang dan biaya
tetap bertambah.
SOAL
MANAGERIAL ACCOUNTING (HANSEN/MOWEN)
EXERCISE 11-22
Analisis multiproduk, Perubahan Bauran Penjualan
Gosnell Company memproduksi dua produk, bujur sangkar dan lingkaran. Berdasarkan segmen
lini produk, proyeksi laporan laba rugi untuk tahun mendatang adalah sebagai berikut:
Squares Circles Total
Penjualan $300.000 $2.500.000 $2.800.000
Dikurangi: Beban Variabel $100.000 $500.000 $600.000
Margin Kontribusi $200.000 $2.000.000 $2.200.000

Dikurangi: Beban tetap


langsung $28.000 $1.500.000 $1.528.000
Margin produk $172.000 $500.000 $672.000
Dikurangi: Beban tetap umum $100.000
Laba Operasi $572.000

Harga jual bujur sangkar adalah $30 dan lingkaran seharga $50.
Diminta

1. Hitunglah jumlah unit tiap produk yang harus dijual oleh Gosnell Company untuk mencapai
titik impas.

2. Hitunglah pendapatan yang harus diperoleh untuk menghasilkan laba operasi 10 persen dari
pendapatan penjualan.

3. Anggapan manajer pemasaran mengubah bauran penjualan kedua produk sehingga rasionya
adalah tiga bujur sangkar sebanding dengan lima lingkaran. Ulangi permintaan 1 dan 2.

4. Mengacu pada data awal. Anggaplah Gosnell dapat meningkatkan penjualan bujur sangkar
dengan meningkatkan iklan. Iklan tambahan akan memerlukan biaya tambahan sebesar $45.000
dan beberapa pembeli potensial produk lingkaran akan beralih ke bujur sangkar. Secara total,
penjualan bujur sangkar akan meningkat sebesar 15.000 unit dan penjualan lingkaran akan turun
sebesar 5.000 unit. Apakah lebih baik Gosnell melakukan strategi ini?
Jawaban
1. Bauran penjualan:
Bujur sangkar : $300.000/$30 = 10.000 unit
Lingkaran : $2.500.000/$5 = 50.000 unit

Produk P - V* = P-V x bauran penjualan


= Total CM

Bujur
sangkar $30 $10 $20 1
$20

Lingkaran $50 $10 $40 5


$200

Paket $
220

*$100.000/10.000 = $10
$500.000/50.000 = $10

Break-even paket = ($ 1.528.000 + 100.000)/$220 = 7.400 paket


Break-even bujur sangkar = 7.400 x 1 = 7.400 unit
Break-even lingkaran = 7.400 x 5 = 37.000 unit

2. Rasio contribution margin = $2.200.000/$2.800.000 = 0,7857


0,1 Pendapatan = 0,7857 Pendapatan - $1.628.000
0,6857 Pendapatan = $1.628.000
Pendapatan = $2.374.216

3. Bauran baru:

Produck P - V* = P-V x bauran penjualan


= Total CM

Bujur
sangkar $30 $10 $20 3
$60

Circles $50 $10 $40 5


$200

Paket
$260

Break-even paket = $ 1.628.000/$260 = 6.262 paket


Break-even bujur sangkar = 6.262 x 3 = 18.786
Break-even lingkaran = 6.262 x 5 = 31.310

Rasio CM = $260/$340* = 0,7647


*(3)($30) + (5)($50) = $340 pendapatan per paket

0,10 Pendapatan = 0,7647 pendapatan - $1.628.000


0,6647 Pendapatan = $1.628.000
Pendapatan = $ 2.449.225

4. Tambahan CM bujur sangkar (15.000 x $20) $300.000


Penurunan CM lingkaran (5000 x $40) ($200.000)
Penambahan neto total contribution margin $100.000
Dikurangi : Tambahan beban tetap $45.000
Penambahan laba operasi $55.000

Dengan meningkatkan iklan untuk bujur sangkar Gosnell akan untung $55.000. Itu adalah
strategi yang baik untuk dilakukan Gosnell

Capital Investment Decision

Keputusan investasi modal (capital investmen decisions) berkaitan dengan proses


perencanaan, penetapan tujuan, dan prioritas, pengaturan pendanaan, dan penggunaan
kriteria tertentu untuk memilih aktiva jangka panjang. Karena keputusan investasi modal
menempatkan sebagian sumber daya perusahaan pada resiko, sehingga keputusan investasi modal
adalah keputusan yang amat penting yang diambil oleh para manajer.
Proses pengambilan keputusan investasi modal sering kali desebut sebagai penganggaran
modal (capital budgeting). Jenis dari pengaggaran modal itu sendiri ada dua, yaitu;
a. Proyek Independen (Independent project) adalah proyek investasi modal yang
tidak berkaitan satu dengan yang lainnya. Jadi apabila ada proyek yang diterima atau
ditolak tidak akan berpengaruh terhadap protek yang lainnya.
b. Proyek Saling Eksklusif (Mutualy exclusive project) proyek ini mengharuskan
perusahaan untuk memilih salah satu alternatif yang saling bersaing. Penerimaan salah
satu protek akan menghalangi proyek lainnya.
Untuk membuat keputusan investasi modal, seorang manajer harus mengestimasi jumlah dan
waktu arus kas, menilai resiko investasi, dan mempertimbangkan dampak proyek terhadap laba
perusahaan. Para manajer juga harus menetapkan tujuan dan prioritas dari investasi modal serta
harus mengidentifikasi beberapa kriteria dasar atas penerimaan dan penolakan investasi yang
diusulkan. Ada beberapa metoda yang digunakan oleh manajer untuk menunjukan mana proyek
yang harus diterima dan mana yang harus ditolak, diantaranya adalah metoda non-diskonto dan
metoda diskonto.
Model non diskonto adalah model yang mengabaikan nilai waktu dari uang.
a. Perioda Pengembalian (payback periods) adalah waktu yang dibutuhkan
perusahaan untuk memperoleh kembali investasi awalnya. Salah satu cara untuk
menggunakan perioda pengembalian adalah dengan menetapkan suatu perioda
pengembalian maksimum pada seluruh proyek dan menolak setiap proyek yang melewati
tingkat ini. Dan perioda pengembalian ini dapat digunakan sebagai ukuran dari
resiko, dengan pengertian bahwa semakin lama suatu proyek menghasilkan uang
semakin beresiko proyek tersebut.
b. Tingkat Pengembalian Akuntansi merupakan model non diskonto kedua yang
umum digunakan. Tingkat pengembalian akuntansi mengukur pengembalian atas suatu
proyek dalam kerangka laba, bukan dari arus kas proyek.
Model Diskonto secara eksplisit mempertimbangkan nilai waktu dari uang dan memasukan
konsep diskonto arus kas masuk dan arus kas keluar.
a. Nilai Bersih Sekarang (Nev Present Value/NPV) adalah selisih antara nilai
sekarang dari arus kas masuk dan arus kas keluar yang berhubungan dengan suatu
proyek

Nilai NPV positif menandakan bahwa :


1. Investasi awal telah tertutupi
2. Tingkat pengembalian yang diperlukan telah dipenuhi
3. Pengembalian yang melebihi (1) dan (2) telah diterima.
Jadi jika NPV lebih besar dari pada nol maka investasi itu menguntungkan dan dapat
diterima. Begitu sebaliknya apabila kurang dari nol.

b. Internal Rate of Return adalah tingkat bunga yang dijanjikan oleh sebuah proyek
investasi selama umur proyek tersebut. Tingkat bunga ini sering disebut dengan hasil
(yield) sebuah proyek investasi. IIR dihitung dengan mencari tingkat bunga yang
menyamakan nilai tunai arus kas keluar dan nilai tunai arus kas masuk sebuah proyek.
Dengan kata lain, IIR adalah tingkat bunga yang menghasilkan angka NPV sama dengan
nol. Jadi IIR merupakan true interest yield yang dijanjikan oleh sebuah proyek investasi.
Tingkat kembalian minimum adalah tingkat kembalian yang diharapkan dari sebuah proyek
investasi. Apabila angka IIR lebih besar atau sama dengan tingkat kembalian minimum yang
diharapkan, maka usulan sebuah proyek dapat diterima. Jika angka IIR lebih kecil dari tingkat
kembalian minimum, maka usulan investasi ditolak. Angka yang dijadikan patokan dasar untuk
menetapkan tingkat kemalian minimum adalah biaya modal (cost of capital).

Fungsi Investasi :
Pengembangan
eksistensi

Penilaian dan teknik Capital Budgeting


Ada beberapa metode untuk menilai perlu tidaknya suatu investasi atau untuk
memilih berbagai macam alternatif investasi.
Pay back method
Average return on investment
Net Present value
Discounted cash flow (Internal Rate of Return)
Pay Back Method

Dalam metode ini faktor yang menentukan penerimaan atau penolakan


suatu usulan investasi adalah jangka waktu yang diperlukan untuk
menutup kembali investasi. Oleh karena itu, dengan metode ini
setiap usulan investasi dinilai berdasarkan apakah dalam jangka
waktu tertentu yang diinginkan oleh manajemen, jumlah kas masuk
atau penghematan tunai yang diperoleh dari investasi dapat
menutup investasi yang direncanakan.
Kelemahan pay back method:
Metode ini tidak memperhitungkan nilai waktu uang.
Metode ini tidak memperlihatkan pendapatan selanjutnya setelahinvestasi pokok kembali.

Average return on investment

Metode ini sering disebut Financial statement method, karena dalam


perhitungannya digunakan angka laba akuntansi.

Kriteria pemilihan investasi dengan metode ini adalah: Suatu


investasi akan diterima jika tarif kembalian investasinya dapat
memenuhi batasan yang telah ditetapkan oleh manajemen.

Rata-rata kembalian investasi =


Rata rata Laba sesudah pajak
Rata rata investasi

Kelemahan metode rata-rata kembalian investasi:


1.Belum memperhitungkan nilai waktu uang.
2.Menitik beratkan masalah akuntansi, sehingga kurangmemperhatikan data aliran kas dari investasi
3.Merupakan pendekatan jangka pendek.

NET PRESENT VALUE


Metode NPV adalah metode yang memperhatikan time value of money, maka proses
yang digunakan dalam menghitung NPV adalah proceed atau clash flows yang didiskonkan
atas dasar biaya modal (cost of capital) rate of return yang diinginkan

IRR (Internal Rate of Return)

Internal Rate of Return merupakan metode penilaian usul investasi yang menggunakan discounted cash
flows. IRR adalah tingkat bunga yang akan diterima (PV Future
Proceed) sama dengan jumlah nilai sekarang dari pengeluaran modal
(PV Capital Outlays). Pada dasarnya IRR harus dicari dengan cara Trial and
Error dengan metode coba-coba

Rumusan dari internal of Return dengan metodeinterpolasi adalah sebagai berikut :


IRR = rk + NPVrk x (rb rk)
TPVrk - TPVrb
Keterangan :
rk = Tingkat bunga kecil
rb = Tingkat bunga besar
NPV = Net Present Value
TPV = Total Present Value

Kriteria penilaian IRR adalah :


Jika IRR > dari suku bunga yang telah ditetapkan,maka investasi diterima.
Jika IRR < dari suku bunga yang ditetapkan, makainvestasi ditolak.
Quality Cost & Environmental Cost Management

Secara operasional, produk dan jasa yang berkualitas adalah yang memenuhi atau melebihi
harapan pelanggan. Dengan kata lain, kualitas adalah kepuasan pelanggan. Maka, produk dan jasa
yang berkualitas memenuhi atau melebihi harapan pelanggan dalam delapan dimensi: kinerja
(performance), estetika (aesthetic),kemudahan perawatan dan perbaikan
(serviceability), fitur (features), keandalan (reliability), tahan lama (durability), kualitas
kesesuaian (quality of conformance), dan kecocokan penggunaan (fitness for use).

Maka perlu di sini pemahaman kita terkait quality cost, di mana biaya kualitas (quality
cost) adalah biaya-biaya yang timbul karena mungkin atau telah terdapat produk yang kualitasnya
buruk. Definisi ini mengimplikasikan bahwa biaya kualitas berhubungan dengan dua subkategori
dari kegiatan-kegiatan yang terkait dengan kualitas yakni kegiatan pengendalian dan kegiatan
karena kegagalan. Kegiatan pengendalian (control activities), yaitu aktivitas yang dilakukan untuk
mencegah atau mendeteksi kualitas yang buruk (karena kualitas yang buruk mungkin
muncul). Terdiri dari aktivitas pencegahan dan aktivitas penilaian. Sedang biaya pengendalian
adalah biaya yang digunakan untuk melakukan aktivitas pengendalian. Kegiatan karena kegagalan
(failure activities), yaitu aktivitas yang dilakukan oleh organisasi atau pelanggannya dalam
menanggapi kualitas yang buruk (kualitas yang buruk sudah terjadi).

Dari pembahasan tentang aktivitas yang terkait dengan kualitas pada paragraf sebelumnya
maka muncul empat kelompok biaya kualitas yang perlu kita cermati, yaitu:
1. Biaya Pencegahan (prevention cost), biaya yang terjadi untuk mencegah timbulnya kualitas yang
buruk dalam barang atau jasa yang yang dihasilkan.
2. Biaya Penilaian (appraisal cost), biaya yang terjadi untuk menentukan apakah produk dan jasa
sesuai dengan spesifikasi yang diinginkan atau sesuai dengan kebutuhan pelanggan.
3. Biaya Kegagalan Internal (internal failure cost), biaya yang terjadi jika produk dan jasa tidak
sesuai dengan spesifikasi atau kebutuhan pelanggan dan hal ini diketahui sebelum produk
dikirimkan kepada pihak di luar perusahaan.
4. Biaya Kegagalan Eksternal (external failure cost), biaya yang terjadi jika barang dan jasa
gagal/tidak sesuai dengan spesifikasi atau memuaskan pelanggan setelah produk dan jasa tersebut
sampai di tangan pelanggan.

Terkait hal-hal tersebut di atas, maka penting juga bagi kita mengetahui mengenai laporan
biaya kualitas. Di mana pentingnya biaya kualitas terhadap segi keuangan perusahaan dapat dinilai
lebih mudah dengan menampilkan biaya-biaya kualitas sebagai persentase dari penjualan aktual.

Lebih lanjut lagi, terkait biaya lingkungan (enviromental cost). Sama halnya dengan biaya
kualitas (quality cost), biaya lingkungan (enviromental cost) adalah biaya-biaya yang terjadi
karena kualitas lingkungan yang buruk atau kualitas lingkungan yang buruk mungkin
terjadi atau biaya yang ditimbulkan akibat adanya kualitas lingkungan yang rendah, sebagai akibat
dari proses produksi yang dilakukan perusahaan. Biaya lingkungan juga diartikan sebagai dampak,
dari moneter atau non-moneter yang terjadi oleh hasil aktifitas perusahaan yang berpengaruh pada
kualitas lingkungan. Jadi biaya lingkungan berhubungan dengan kreasi, deteksi, perbaikan, dan
pencegahan degradasi lingkungan.

Kerusakan lingkungan akan berdampak terhadap biaya perusahaan, dan akhirnya akan
mengakibatkan kerugian perusahaan. Misalnya, lingkungan alam yang rusak (polusi udara, air,
kerusakan tanah), mengakibatkan naiknya biaya, lingkungan ekonomi yang rusak (kenaikan valuta
asing) akan menaikkan biaya, lingkungan social yang rusak (huru-hara) mengakibatkan biaya
produksi naik, lingkungan politik yang rusak karena adanya pungutan liar, mengakibatkan naiknya
biaya overhead perusahaan, dan lingkungan budaya yang rusak karena pengaruh narkoba,
mengakibatkan produktivitas kerja rendah. Semuanya itu berdampak pada naiknya biaya dan
penurunan pendapatan perusahaan, yang berakibat kerugian.

Dengan definisi biaya lingkungan sebelumnya, biaya lingkungan dapat diklasifikasikan


menjadi empat kategori: biaya pencegahan (prevention costs), biaya deteksi (detection costs),
biaya kegagalan internal (internal failure costs), dan biaya kegagalan eksternal (external failure
costs). Selanjutnya, biaya kegagalan ekternal dapat dibagi lagi menjadi kategori yang direalisasi
dan tidak direalisasi.

Maka, dapat kita ketahui bahwa biaya pencegahan lingkungan (environmental prevention
costs) adalah biaya-biaya untuk aktivitas yang dilakukan untuk mencegah diproduksinya limbah
dan/atau sampah yang dapat merusak lingkungan. Sedangkan biaya deteksi lingkungan
(environmental detection costs) merupakan biaya-biaya untuk aktivitas yang dilakukan untuk
menentukan bahwa produk, proses, dan aktivitas lain di perusahaan telah memenuhi standar
lingkungan yang berlaku atau tidak. Biaya kegagalan internal lingkungan (environmental internal
failure costs) adalah biaya-biaya untuk aktivitas yang dilakukan karena produksinya limbah dan
sampah, tetapi tidak dibuang ke lingkungan luar. Jadi, biaya kegagalan internal terjadi untuk
menghilangkan dan mengolah limbah dan sampah ketika diproduksi. Dan biaya kegagalan
eksternal lingkungan (environmental external failure costs) ialah biaya-biaya untuk aktivitas yang
dilakukan setelah melepas limbah atau sampah ke dalam lingkungan. Maka biaya kegagalan
eksernal yang direalisasi adalah biaya yang dialami dan dibayar oleh perusahaan, serta biaya
kegagalan ekternal yang tidak direalisasikan atau biaya sosial disebabkan oleh perusahaan, tetapi
dialami dan dibayar oleh pihak-pihak di luar perusahaan.

Berdasarkan hal tersebut, dapat kita ketahui juga bahwa manfaat-manfaat dari mengadopsi
akuntansi lingkungan dapat meliputi perkiraan yang lebih baik dari biaya sebenarnya pada
perusahaan untuk memproduksi produk atau jasa. Ini bermuara memperbaiki harga dan
profitabilitas. Juga mengidentifikasi biaya-biaya sebenarnya dari produk, proses, sistem, atau
fasilitas dan menjabarkan biaya-biaya tersebut pada tanggung jawab manajer, dan membantu
manajer untuk menargetkan area operasi bagi pengurangan biaya dan perbaikan dalam ukuran
lingkungan dan kualitas. Lebih lanjut, juga membantu penanganan keefektifan biaya lingkungan
atau ukuran perbaikan kualitas, memotivasi staf untuk mencari cara yang kreatif untuk mengurangi
biaya-biaya lingkungan, mendorong perubahan dalam proses untuk mengurangi penggunaan
sumber daya dan mengurangi, mendaur ulang, atau mengidentifikasi pasar bagi limbah, dan
meningkatkan kepedulian staf terhadap isu-isu lingkungan, kesehatan dan keselamatan kerja. Serta
meningkatkan penerimaan konsumen pada produk atau jasa perusahaan dan sekaligus
meningkatkan daya kompetitif.

Lebih lanjut, senada dengan biaya kualitas yang sebelumnya telah dibahas. Maka menjadi
penting juga bagi kita mencermati tentang laporan biaya lingkungan. Di mana pelaporan biaya
lingkungan adalah penting jika sebuah organisasi serius memperbaiki kinerja lingkungannya dan
mengendalikan biaya lingkungannya. Langkah pertama yang baik adalah laporan yang
memberikan perincian biaya lingkungan menurut kategori yang memberikan dua hasil yang
penting: (1) dampak biaya lingkungan terhadap profitabilitas perusahaan dan (2) jumlah relatif
yang dihabiskan untuk setiap kategori.
Lean Accounting, Perhitungan Biaya Target, dan Balanced Scorecard

Konsep lean manufacturing banyak dikembangkan oleh Toyota dan perusahaan-perusahaan


Jepang lainnya. Para eksekutif Toyota menyatakan bahwa sistem produksi Toyota terinspirasi oleh
apa yang mereka pelajari selama kunjungan ke Ford Motor Company pada tahun 1920-an dan
dikembangkan oleh pemimpin Toyota seperti Taiichi Ohno dan konsultan Shigeo Shingo setelah
Perang Dunia II. Sebagai pelopor perusahaan Amerika dan Eropa menganut metode lean
manufacturing di akhir tahun 1980-an, mereka menemukan bahwa pemikiran lean manufacturing
harus diterapkan pada setiap aspek perusahaan termasuk manajemen keuangan dan proses
akuntansi.

Ada dua tekanan utama untuk lean accounting. Yang pertama adalah penerapan metode
bersandar perusahaan akuntansi, kontrol, dan proses pengukuran. Hal ini tidak berbeda
dengan metode untuk menerapkan lean proses lain. Tujuannya adalah untuk menghilangkan
pemborosan, membebaskan kapasitas, mempercepat proses, mengurangi kesalahan dan cacat, dan
membuat proses yang jelas dan dapat dimengerti. Yang kedua (dan lebih penting) tekanan lean
accounting adalah untuk secara mendasar mengubah akuntansi, kontrol, dan proses
pengukuran sehingga mereka bersandar pada memotivasi perubahan dan perbaikan,
menyediakan informasi yang cocok untuk pengendalian dan pengambilan keputusan,
memberikan pemahaman tentang nilai pelanggan, benar menilai dampak keuangan
ramping perbaikan, sederhana, visual, dan rendah limbah. Lean accounting tidak memerlukan
metode akuntansi manajemen tradisional seperti penetapan biaya standar, biaya berdasarkan
aktivitas, varians pelaporan, biaya-biaya, sistem kontrol transaksi yang kompleks, dan
membingungkan laporan keuangan.
Lean accounting berbeda karena lima prinsip pemikiran berikut ini:
1. Menspesifikasikan nilai tiap produk secara tepat.
2. Mengidentifikasi arus nilai untuk tiap produk.
3. Menciptakan arus nilai tanpa gangguan.
4. Memungkinkan pelanggan menciptakan nilai dari produsen.
5. Mengejar kesempurnaan

Siklus hidup produk (product life cycle) merupakan waku keberadaan produk dari konsep hingga
menjadi produk. Biaya siklus hidup adalah semua biya yang berhubungan dengan produk selama
umur hidupnya. Jadi menejemen biaya siklus- hidup produk (life-cycle cost menjement) berpusat
pada pengolahan aktivitas rantai nilai sehingga menciptakan keunggulan kompetitip jangka
panjang. Untuk pengurangan harga, manajer perlu melakukan investasi lebih banyak dalam aktiva
sebelum produksi dan memberikan lebih banyak sumberdaya pada aktivitas ditahap awal siklus
hidup produk sehingga semua biaya keseluruhan atau hidup dapat diturunkan. Biaya keseluruhan
atau hidup produk dilihat dari sudut pandang keseluruhan atau hidup, biaya produk terdiri atas
empat unsur utama:
1. biaya yang tidak berulang,
2. biaya manufaktur,
3. biaya logistik, dan
4. biaya purnajual pelanggan.

Kalkulasi biaya keseluruhan hidup juga meningkatkan kemampuan untuk membuat keputusan
penetapan harga yang lebih baik dan memperbaiki penilaian profitabilitas produk. Manajemen
biaya siklus atau hidup menekankan pada penurunan biaya, bukan pengendalian biaya. Jadi,
kalkulasi biaya target menjadi alat yang sangat berguna untuk menentukan tujuan penurunan biaya.
Biaya target (target cost) merupakan perbedaan antara harga jual yang dibutuhkan untuk
mendapatkan mangsa pasar yang ditentukan dengan laba per unit yang diinginkan. Bila biaya
target lebih kecil dari pada yang dicapai sekarang, maka menejemen menganggarkan penurunan
biaya untuk mendekatkan biaya aktual terhadap biaya target.

Dalam biaya siklus-hidup adalah penting bagi semua perusahaan manufaktur, namun hal ini lebih
penting bagi perusahaan yang memiliki produk dengan siklus hidup pendek. Perusahaan yang
memiliki produk dengan siklus hidup pendek biasanya tidak memiliki waktu untuk bereaksi seperti
tersebut di atas sehingga pendekatan mereka harus lebih proaktif. Jadi, untuk siklus hidup yang
pendek, perencanaan siklus-hidup yang baik adalah penting dan harga harus ditetapkan sesuai
dengan biaya siklus-hidup serta dapat memberikan pengembalian yang cukup.

Balanced scorecard adalah system manajemen yang mendefinisikan system akuntansi


pertanggungjawaban berdasarkan strategi. Balanced scorecard menerjemahkan misi dan strategi
organisasi dalam tujuan operasional dan ukuran kinerja dalam empat perspektif, yaitu perspektif
keuangan, perspektif pelanggan, perspektif bisnis internal, serta perspektif pembelajaran dan
pertumbuhan (infrastruktur).
1. Perspektif Keuangan
Menjelaskan konsekuensi ekonomi tindakan yang diambil dalam tiga perspektif lain.
2. Perspektif Pelanggan
Mendefinisikan segmen pasar dan pelanggan dimana unit bisnis akan bersaing.

3. Perspektif Bisnis Internal


Menjelaskan proses internal yang diperlikan untuk memberikan nilai kepada pelanggan dan
pemilik.
4. Perspektif Pembelajaran dan Pertumbuhan (Infrastruktur)

Mendefinisikan kemampuan yang diperlukan organisasi untuk memperoleh pertumbuhan jangka


panjang dan perbaikan.

Perspektif terakhir mengacu pada tiga faktor utama yang memungkinkannya, yaitu kemampuan
pegawai, kemampuan system informasi, dan perilaku pegawai (motivasi, pemberdayaan, dan
penyejajaran).
Ringkasan Materi
Lean accounting, target costing, balanced scorecard (BSC) serta isu isu internasional
dalam akuntansi manajemen

A. Lean Accounting

adalah accounting system yang didesain khusus untuk perusahaan yang menerapkan lean
manufacturing concept. Lean manufacturing itu sendiri adalah pendekatan yang didesain untuk
meniadakan buangan dan memaksimalkan nilai bagi pelanggan. Pendekatan ini memiliki ciri
pengiriman produk yang benar dengan kualitas yang benar dan memproses pada waktu yang tepat
dengan kebutuhan pelanggan serta dengan biaya serendah mungkin. Sistem ini memungkinkan
manajer untuk meniadakan buangan, mengurangi biaya dan menjadi lebih efisien. Just in time
(JIT) adalah suatu sistem produksi yang dirancang untuk mendapatkan kualitas, menekan biaya
dan mencapai waktu penyerahan seefisien mungkin dengan menghapus pemborosan yang terdapat
dalam proses produksi sehingga perusahaan mampu menyerahkan produknya (baik barang
maupun jasa) sesuai kehendak konsumen tepat waktu. Cellurar manufacturing merupakan suatu
metode yang dapat digunakan untuk melakukan pengelompokan (grouping) dari mesin
berdasarkan kedekatan komponen sehingga ketidakefektifan proses produksi dapat diminimalkan
dengan memperhatikan performasi kedekatan aktivitas.
B. Balance scorecard sebagai pengukuran kinerja

Adalah sistem manajemen strategis yang mendefinisikan sistem akuntansi pertanggung jawaban
berdasarkan strategi. Pengukuran kinerja perusahaan yang modern dengan mempertimbangkan
empat perspektif yang merupakan penerjemah strategi dan tujuan yang diinginkan dicapai oleh
suatu perusahaan dalam jangka panjang, yang kemudian diukur dan dimonitor secara
berkelanjutan. Strategi adalah penspesifikasian hubungan yang diinginkan manajemen diantara
empat perspektif. Konsep balance scorecard dikembangkan oleh Robert S, Kaplan dan David P.
Norton. Balance scorecard muncul karena adanya pergeseran tingkat persaingan bisnis dari
industrial competition ke information competition, sehingga mengubah alat ukur atau acuan yang
dipakai oleh perusahaan utuk mengukur kinerjanya. Empat perspektif yang diperhatikan dalam
balance scorecard yakni;
(a) Perspektif Keuangan

menjelaskan konsekuensi ekonomi tindakan yang diambil dalam tiga perspektif lainnya dan
berorientasi pada para pemegang saham.
(b) Perspektif Pelanggan

mendefinisikan segmen pasar dan pelanggan dimana unit bisnis bersaing dan perlu mengetahui
cara bagaimana kita bisa menjadi supplier utama yang bernilai bagi para customer.

(c) Perspektif Proses Bisnis Internal

menjelaskan proses internal yang diperlukan untuk memberikan nilai kepada pelanggan dan
pemilik. Dimana mengetahui proses bisnis apa saja yang terbaik yang harus kita lakukan dalam
jangka panjang untuk mencapai tujuan financial dan kepuasan konsumen.

(d) Perspektif pertumbuhan dan pembelajaran mendefinisikan kemampuan yang diperlukan


organisasi untuk memperoleh pertumbuhan jangka panjang dan perbaikan. Selain itu perlu
mengetahui bagaimana kita bisa meningkatkan dan menciptakan value secara continue terutama
dalam hubungannya dengan kemampuan dan memotivasi karyawan.

Perspektif keuangan tidak cukup mencerminkan kineja perusahaan dimana perspektif keuangan
yang baik tidak menjamin bahwa perusahaan tersebut akan bisa bertahan dalam jangka panjang
(yang merupakan tujuan utama suatu perusahaan didirikan). Sehingga perspektif non keuangan
dianggap penting dan perlu untuk doperhatikan, pada akhirnya dapat mendongkrak kinerja
keuangan yang merupakan keinginan utama dari pemegang saham. Untuk dapat eksis perusahaan
harus mempunyai strategi yang dituangkan dalam action action sehingga penilaian kinerja juga
harus lebih dari sekedar penilaian financial.

C. Isu isu Internasional dalam Akuntansi Manajemen


Perusahaan Multinasional dan Aktivitasnya

Perusahaan multinasional adalah perusahaan yang menjalankan bisnis di lebih dari satu Negara
yang volume dan pertumbuhannya juga lebih dati satu Negara. Karena aktivitas bisnis MNC lebih
dari satu negara, maka pilihan struktur organisasi desentralisasi menjadi penting. Divisi-divisi di
sejumlah negara dihadapkan dengan sistem hukum dan kondisi ekonomi maupun sosial budaya
yang beragam, sehingga pilihan struktur perusahaan memerlukan pertimbangan penting.
Impor Ekspor

Impor maupun ekspor bahan baku (manufaktur) atau barang jadi (dagang) sangat terkait dengan
pajak impor (bea masuk) dan ongkos angkut masuk (freight in FOB shipping point) diperlakukan
sebagai bagian dari harga perolehan (cost).
Fakta Perdagangan dan Tarif

Dalam era globalisasi tahun 2003 (AFTA), 2010 (APEC) dan 2020 (WTO), maka pemberlakuan
tarif bea masuk dibebaskan atau rendah, sehingga harga jual produk lokal dan produk ekspor tidak
jauh berbeda, tergantung tingkat efisiensi operasi dan kondisi ekonomi negara dimana MNC
beroperasi.
Tingkat efisiensi operasi (mis. harga bahan baku dan biaya tenaga kerja di negara lain murah)
memungkinkan MNC dapat memilih membentuk outsourcing atau joint venture tergantung pada
peraturan di negara tertentu yang mengijinkan.

Outsourcing dipilih oleh MNC ketika harga bahan baku dan biaya tenaga kerja murah dan
produktivitas kerja tinggi dan ada batasan investasi asing. Di sini perusahaan asing tidak memiliki
perusahaan di luar negeri.
Joint venture di pilih MNC ketika harga bahan baku dan biaya tenaga kerja murah dan
produktivitas kerja tinggi serta tidak ada batasan investasi asing. Di sini perusahaan asing menjadi
bagian dari pemilikan perusahaan di luar negeri.

Kebijakan suatu negara untuk mengoperasikan perusahaan asing biasanya karena pertimbangan
alih teknologi, atau karena keterbatasan modal investasi yang dimiliki pemerintah dan swasta
lokal.
Nilai Mata Uang Asing

Bagaimanapun struktur yang dipilih, MNC akan selalu menghadapi masalah perdagangan nilai
tukar mata uang asing dalam perdagangan luar negeri. Masalah nilai tukar mata uang asing tidak
akan muncul bila kurs mata uang asing tetap stabil (tidak berubah). Fluktuasi kurs tukar mata uang
asing menimbulkan ketidakpastian dalam operasi perusahaan dalam bisnis internasional.
Apresiasi dan Depresiasi Mata Uang

Apresiasi mata uang terjadi ketika mata uang suatu negara menguat secara relatif terhadap mata
uang negara lain dan satu unit mata uang negara yang menguat dapat membeli lebih banyak mata
uang negara lain.

Depresiasi mata uang terjadi ketika mata uang suatu negara melemah secara relatif terhadap
mata uang negara lain dan satu unit mata uang negara yang melemah membeli lebih sedikit mata
uang negara lain.
Contoh: Pada pertengahan tahun 2001 satu dolar dihargai sebesar 240 yen dan melemah pada
pertengahan tahun 2002 menjadi 156 yen. Bila harga produk A sebesar 93.600 yen, maka pada
tengah tahun 2001 dolar yang dikeluarkan sebesar $390 (93.600/240), namun pada tengah tahun
2002, dolar yang harus dikeluarkan menjadi $600 (93.600/156)
Keuntungan dan Kerugian Kurs

Keuntungan kurs timbul akibat apresiasi mata uang asing, sedangkan kerugian timbul akibat
depresiasi mata uang asing.

Contoh: Pada tanggal 15 Januari 2002 Perusahaan A (Amerika) menjual barang X sebanyak 100
unit kepada perusahaan B (Prancis) dengan harga $1.000 dan pembayaran dua bulan kemudian
dilakukan dalam franc. Kurs pada tanggal 15 Januari 5 franc per dolar dan kurs pada saat
pembayaran sebesar 5,1 franc per dolar. Itu berarti perusahaan B harus membayar harga barang X
sebesar $100.000 dalam mata uang franc sebesar 500.000 franc. Karena perubahan kurs, maka
perusahaan A akan menerima 500.000 franc pada tanggal 15 Maret 2002 dan menukarnya ke
dalam dolar hanya sebesar $98.039 sehingga perusahaan A menderita risiko transaksi kurs tukar
sebesar $1.961. Sebaliknya jika kurs france pada tanggal 15 Maret 2002 sebesar 4,9 franc per
dolar, maka perusahaan A akan menukarkan 500.000 franc yang diterima ke dalam dolar sebesar
$.102.041, sehingga perusahaan A memperoleh keuntungan kurs tukar sebesar $2.041.

Bila disajikan sbb:


1. Piutang dalam dolar pada 15/1$.100.000

Penerimaan dalam dolar pada 15/3


$.98.039
500.000 : 5,1

Kerugian selisih kurs


$.1.961

2.
Piutang dalam dolar pada 15/1
$.100.000

Penerimaan dalam dolar pada 15/3


$.102.041
500.000 : 4,9

Keuntungan selisih kurs


$.2.041
Risiko transaksi juga bisa mempengaruhi pembelian berbagai komoditi perusahaan di luar
negeri. Mis. pada tanggal 20 Februari 2002 perusahaan R membeli produk Z seharga $50.000
dan dibayar dalam yen pada tanggal 20 Mei 2002. Jika kurs spot untuk yen 130 per dolar pada
tanggal 20 Februari maka utang perusahaan R adalah 6.500.000 dan pada saat pembayaran
pada tanggal 20 Mei kurs spot yen sebesar 135 per dolar berarti perusahaan R harus membayar
utangnya pada saat jatuh tempo adalah:
Utang Dagang dalam dolar pada 20/2
$.50.000

Pelunasan Utang Dagang dalam dolar pada 20/5


$.48.148

Keuntungan selisih kurs


$.1.852
Salah satu cara untuk mengatasi masalah risiko perubahan kurs tukar adalah dengan cara
hedging, dalam bentuk forward contract. Forward contract mengharuskan pembeli menyerahkan
sejumlah mata uang tertentu dengan kurs tukar tertentu (kurs tukar forward) pada tanggal yang
telah ditentukan di masa depan.

Bila kasus tanggal 15 Januari 2002 dilakukan dengan menggunakan hedging pada tanggal 15
Maret 2002 dengan kurs forward 5,02 franc per dolar. Itu berarti selisih kurs dibebankan ke
dalam beban premi:

Piutang dalam dolar pada 15/1


$.100.000
Penerimaan dalam dolar pada 15/3
$.99.602
500.000 : 5,02
Beban premi
$.398

Mengelola Risiko Ekonomi

Urusan dengan berbagai valas menimbulkan dimensi ekonomi dalam berbagai transaksi. Risiko
ekonomi timbul sebagai dampak fluktuasi kurs tukar terhadap present value dari arus kas
perusahaan di masa depan, sehingga turut mempenguhi daya saing relatif perusahaan walaupun
mungkin perusahaan tersebut tidak berpartisipasi secara langsung dalam perdagangan
internasional.
Misalkan konsumen Amerika Serikat boleh memilih alat berat Caterpillar (perusahaan AS) atau
Komatsu (perusahaan Jepang). Bila harga jual kedua jenis alat berat itu sama yakni sebesar
$80.000, namun meskipun Caterpillar lebih berarti pada harga $80.000 dan Komatsu tertarik
dengan harga 10.400.000 pada kurs tukar $1 = 130. Ketika nilai dolar menguat terhadap yen
dengan kurs tukar $1 = 140, maka untuk mendapat 10.400.000, Komatsu menjual dengan harga
hanya $74.286 (10.400.000/140). Jadi karena fluktuasi mata uang, perusahaan Jepang lebih
kompetitif dan sebaliknya apabila nilai dolar melemah, maka ekspor Amerika Serikat relatif lebih
murah bagi konsumen di Jepang.
Mengelola Risiko Transaksi
Seringkali perusahaan induk mencatat ulang semua pendapatan perusahaan anak dalam mata uang
lokal, sehingga dapat mengakibatkan keuntungan dan kerugian oportunitas atas revaluasi mata
uang asing dan dapat mempengaruhi laporan keuangan perusahaan anak serta perhitungan yang
berkaitan dengan ROI dan Laba Residu.

Desentralisasi
Pilihan pendekatan pembuatan keputusan terdesentralisasi didasarkan pada alasan:
a. Kemudahan terhadap pengumpulan dan pemanfaatan informasi local. Diketahui bahwa kualitas
keputusan dipengaruhi oleh kualitas informasi yang tersedia.

b. Kondisi daerah operasi yang berbeda memungkinkan manajer lokal memiliki keunggulan dalam
membuat keputusan berkualitas karena kualitas informasi yang tinggi.
c. Informasi yang berbeda (produksi, pemasaran, keuangan, dll.) tidak mungkin seluruhnya
dipikirkan oleh manajemen puncak. Keputusan pusat sering terlambat dalam memecahkan
masalah dadakan. Dengan desentralisasi keputusan, manajemen pusat bebas berperan dalam
perumusan perencanaan dan pembuatan keputusan strategik yang menunjang operasi jangka
panjang ketimbang keputusan operasional.
d. Melatih dan memotivasi manajer

Dengan desentralisasi keputusan, manajer level operasional diberikan kesempatan untuk membuat
keputusan-keputusan penting, sehingga memungkinkan:

Manajemen puncak mengevaluasi kapabilitas para manajer level operasional dalam proses
pengkaderan dan promosi jabatan.

Pertanggungjawaban yang lebih besar akan memicu kepuasan kerja yang lebih tinggi. Kepuasan
kerja yang lebih tinggi akan memotivasi manajer untuk mencapai prestasi terbaik.

Meningkatkan daya saing. Timbulnya persaingan manajer lokal mendorong inisiatif dan
kreativitas yang lebih tinggi dalam upaya mencapai prestasi terbaik.

Memungkinkan eliminasi atau peleburan (konsolidasi) divisi-divisi tertentu ke dalam satu pusat
pertanggungjawaban apabila tidak memiliki daya saing bahkan membebani margin laba
perusahaan.

PENGUKURAN KINERJA MNC

Berbagai faktor lingkungan yang berbeda menjadikan pembandingan penggunaan informasi


pendapatan dan biaya maupun asset untuk mengukur ROI antar divisi luar negeri cenderung
menyesatkan.
Masalah lain yang turut berpengaruh tarif pajak, fasilitas infrastruktur (transportasi dan
komunikasi), angkatan kerja terdidik serta faktor sosial budaya masing-masing divisi tidak sama,
sehingga perlu analisis lebih lanjut.
Sedikitnya ada tiga hasil positif dari penggunaan ROI untuk mengukur kinerja manajer divisi:

Mendorong manajer untuk memfokuskan pada hubungan antara penjualan/ penghasilan, beban,
dan investasi.
Mendorong manajer memfokuskan pada efisiensi
Mendorong manajer memfokuskan pada efisiensi aktiva operasi

Selain sisi positif dari penggunaan ROI untuk mengukur kinerja manajer divisi terdapat pula
kelemahannya, yakni:

ROI mengakibatkan munculnya perhatian pada profitabilitas divisional yang sempit atas beban
profitabilitas keseluruhan perusahaan.

ROI mendorong para manajer lebih memperhatikan kepentingan jangka pendek atas beban jangka
panjang.
Untuk mengatasi kecenderungan ROI menciptakan investasi yang menguntungkan bagi
perusahaan, tetapi mengurangi ROI divisi, maka diadopsi suatu ukuran kinerja alternatif yang
disebut laba residu.
Laba residu = laba operasi (tingkat kembalian minimal x aktiva operasi)

Contoh berikut ini memberi informasi bahwa divisi A menolak proyek X karena proyek tersebut
mengurangi ROI divisional, namun keputusannya membebani laba perusahaan sebesar
Rp.300.000.

Proyek X
Proyek Y
Investasi (aktiva operasi)
Rp.10.000.000
Rp. 4.000.000

Laba Operasi
1.300.000
640.000

ROI
13%
16%

Laba residu pada tingkat kembalian 10%


1.300.000 (10% x 10.000.000)
= Rp.300.000
640.000 (10% x 4.000.000)
= Rp.240.000

ROI dan laba residu adalah ukuran kinerja manajerial yang penting. Namun kedua ukuran ini
menyebabkan para manajer pusat investasi mengejar kepentingan jangka pendek. Olehnya itu
kedua ukuran tersebut harus diikuti dengan ukuran tambahan, seperti market share, keluhan
konsumen, ratio turnover karyawan, dan pengembangan karyawan.

Penetapan Harga Transfer


Dalam organisasi desentralisasi, output salah satu divisi mungkin menjadi input divisi lainnya,
sehingga terkadang menjadi masalah yang rumit dalam menilai kinerja divisi.
Karena divisi-divisi diperlakukan sebagai pusat pertanggungjawaban, maka divisi-divisi
tersebut dievaluasi berdasarkan laba operasi dan ROI atau laba residu.
Harga transfer merupakan penentuan harga jual antar divisi penjual dan divisi pembeli dalam
satu perusahaan.
Dampak penetapan harga transfer bagi perusahaan:

Ukuran kineja divisional


Harga transfer sangat mempengaruhi pos biaya produksi divisi pembeli dan pos laba divisi
penjual.

Laba perusahaan
Meskipun harga transfer aktual merupakan jaring pengaman bagi perusahaan secara keseluruhan,
namun penetapan harga transfer sangat mempengaruhi tingkat laba perusahaan dalam dua cara;
(1) perilaku divisional, dan (2) pajak penghasilan.

Otonomi pusat pertanggungjawaban


Karena penetapan harga transfer dapat mempengaruhi profitabilitas perusahaan secara
keseluruhan, manajemen puncak sering tergoda untuk mencampuri dan mendikte harga transfer
yang mereka kehendaki. Namun, apabila campur tangan seperti itu sering dilakukan, maka
organisasi secara efektif telah menangguhkan proses desentralisasi dengan segala
keunggulannya.

Sistem penetapan harga transfer harus mampu memenuhi tiga sasaran:

Akurasi evaluasi kinerja. Berarti tidak satupun manajer divisi memperoleh manfaat atas beban
manajer divisi lain.

Keselarasan tujuan (goal congruence). Berarti para manajer divisi bertindak dalam rangka
memaksimalkan mempengaruhi profitabilitas perusahaan secara keseluruhan.

Otonomi. Berarti manajemen pusat tidak boleh mencampuri kemandirian manajer divisi dalam
membuat keputusan.
Beberapa pendekatan yang dapat digunakan dalam penetapan harga transfer:

Biaya Oportunitas. Penetapan harga transfer menggunakan pendekatan biaya oportunitas


didasarkan pada harga terendah yang dapat diterima divisi penjual dan harga tertinggi yang dapat
diterima divisi pembeli. Pendekatan biaya oportunitas menuntun divisi-divisi menentukan saat
yang tepat untuk melakukan transfer internal, agar tidak satupun manajer yang dirugikan oleh
tansfer internal,

Harga Pasar. Dalam pasar persaingan sempurna, maka harga transfer sebaiknya sama dengan
harga pasar, karena dengan cara tersebut secara simultan semua manajer divisi akan
mengoptimalkan laba divisi dan laba perusahaan.
Pendekatan biaya oportunitas juga mengisyaratkan harga transfer disesuaikan dengan harga
pasar. Apabila harga transfer berbeda dari harga pasar maka akan mengurangi profitabilitas
perusahaan secara keseluruhan. Pendekatan harga pasar digunakan untuk mengatasi konflik
divisional yang mungkin terjadi.

Harga Transfer Negosiasi. Dalam kenyataan, pasar persaingan sempurna jarang ada, karena
dalam banyak kasus, pembeli dan penjual mampu mempengaruhi harga sampai pada derajat
tertentu.

Kelemahan pendekatan harga transfer negosiasi:


Manajer divisi yang menguasai informasi khusus mungkin akan mengambil keuntungan dari
manajer divisi lain.
Ukuran kinerja mungkin berubah akibat ketrampilan bernegosiasi dari para manajer.
Negosiasi cenderung menghabiskan sejumlah besar waktu dan sumber daya.
Harga Transfer berdasarkan biaya. Ada tiga bentuk penetapan harga transfer; (1) biaya penuh,
(2) biaya penuh ditambah markup, dan (3) biaya variabel ditambah biaya tetap.
Penggunaan harga transfer berdasarkan biaya tidak lazim direkomendasikan, karena banyak
kelemahan yang terkandung di dalamnya.