Sunteți pe pagina 1din 25

Program Penanganan Kasus Diare di Puskesmas

Asrianti Saddi Pairunan


C5
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Terusan Arjuna No.6 Jakarta 11510
e-mail: asriatisaddi@gmail.com

Pendahuluan

Penyakit yang ditularkan melalui makanan, air dan lainnya pada Riskesdas 2013 salah
satunya adalah diare. Diare dalah gangguan buang air besar/BAB ditandai dengan BAB lebih
dari 3 kali sehari dengan konsistensi tinja cair, dapat disertai dengan darah dan atau lendir.
Berdasarkan karakteristik penduduk, kelompok umur balita adalah kelompok yang paling tinggi
menderita diare. Insiden diare balita di Indonesia adalah 6,7 persen. Karakteristik diare balita
tertinggi terjadi pada kelompok umur 12-23 bulan (7,6%). Proporsi RT yang memiliki akses
terhadap sumber air minum improved di Indonesia adalah sebesar 66,8 persen (perkotaan 64,3%,
pedesaan 69,4%). Secara kualitas fisik, masih terdapat RT dengan kualitas air minum keruh
(3,3%). Proporsi RT di Indonesia menggunakan fasilitas BAB milik sendiri adalah 76,2%, milik
bersama sebanyak 6,7%, dan fasilitas umum adalah 4,2%. Oralit dan zinc sangat dibutuhkan
pada pengelolaan diare balita. Oralit dibutuhkan sebagai rehidrasi yang penting saat anak banyak
kehilangan cairan akibat diare dan kecukupan zinc di dalam tubuh balita akan membantu proses
penyembuhan diare. Pengobatan dengan pemberian oralit dan zinc terbukti efektif dalam
menurunkan tingginya angka kematian akibat diare sampai 40 persen. Pemakaian oralit dalam
mengelola diare pada penduduk Indonesia adalah 33,3 persen. Pengobatan diare dengan
menggunakan zinc pada penduduk Indonesia adalah 16,9 persen. 1

Puskesmas
Puskesmas atau Pusat Kesehatan Masyarakat adalah suatu organisasi fungsional yang
menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat menyeluruh, terpadu, merata, dapat diterima
dan terjangkau oleh masyarakat, serta biaya yang dapat dipikul oleh pemerintah dan masyarakat.
Tujuan pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh puskesmas adalah untuk mendukung
tercapainya tujuan pembangunan kesehatan nasional, yakni meningkatkan kesadaran serta
kemauan dan kemampuan hidup sehat agar terwujudnya derajat kesehatan yang setinggi-
tingginya dalam rangka mewujudkan Indonesia Sehat 2010. Upaya kesehatan tersebut
diselenggarakan dengan menitikberatkan kepada pelayanan untuk masyarakat luas bagi
mencapai derajat kesehatan yang optimal, tanpa mengabaikan mutu pelayanan kepada
perorangan.2
Pelayanan di Puskesmas merupakan unit pelaksana teknis kesehatan di bawah supervisi
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Secara umum, mereka harus memberikan pelayanan
preventif, promotif, kuratif sampai dengan rehabilitatif baik melalui upaya kesehatan perorangan
(UKP) atau upaya kesehatan masyarakat (UKM). Puskesmas dapat memberikan pelayanan rawat
inap selain pelayanan rawat jalan. Hal ini disepakati oleh puskesmas dan dinas kesehatan yang
bersangkutan. Dalam memberikan pelayanan di masyarakat, puskesmas biasanya memiliki
subunit pelayanan seperti puskesmas pembantu, puskesmas keliling, posyandu, pos kesehatan
desa maupun pos bersalin desa (polindes).2

Fungsi Puskesmas

1. Pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan


Berupaya menggerakkan lintas sektor dan dunia usaha di wilayah kerjanya agar
menyelenggarakan pembangunan yang berwawasan kesehatan
Aktif memantau dan melaporkan dampak kesehatan dari penyelenggaraan setiap
program pembangunan di wilayah kerjanya
Mengutamakan pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit tanpa mengabaikan
penyembuhan dan pemulihan
2. Pusat pemberdayaan masyarakat
Berupaya agar perorangan terutama pemuka masyarakat, keluarga dan masyarakat:
Memiliki kesadaran, kemauan dan kemampuan melayani diri sendiri dan masyarakat
untuk hidup sehat
Berperan aktif dalam memperjuangkan kepentingan kesehatan termasuk pembiayaan
Ikut menetapkan, menyelenggarakan dan memantau pelaksanaan program kesehatan
3. Pusat pelayanan kesehatan strata pertama yang meliputi pelayanan kesehatan perorangan,
dan pelayanan kesehatan masyarakat
Menyelenggarakan pelayanan kesehatan tingkat pertama secara menyeluruh, terpadu
dan berkesinambungan.3
Manajemen dan Administrasi Puskesmas
Dalam usaha melaksanakan program-program di puskesmas atau mana-mana pusat
kesehatan harus dimulai dengan manajemen atau administrasi. Administrasi adalah proses
penyelenggaraan kerja yang dilakukan bersama-sama untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan. administrasi, baik dalam pengertian luas maupun sempit di dalam
penyelenggaraannya diwujudkan melalui fungsi-fungsi manajemen, yang terdiri dari
perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan.3
1. Masukan (input)
Masukan merupakan suatu struktur yang berupa sumber daya manusia (man), dana
(money), sarana fisik perlengkapan dan peralatan (material), organisasi dan manajemen
(method).

2. Proses
Proses meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pencatatan, dan pelaporan,
serta pengawasan.3

A. Perencanaan
Perencanaan merupakan proses penyusunan rencana tahunan Puskesmas untuk mengatasi
masalah kesehatan di wilayah kerja Puskesmas. Perencana akan memberikan pola pandang
secara menyeluruh terhadap semua pekerjaan yang akan dijalankan, siapa yang akan melakukan
dan kapan akan dilakukan. Puskesmas merupakan unit pelaksana pelayanan kesehatan
masyarakat tingkat I yang dibina oleh DKK, yang bertanggungjawab untuk melaksanakan
identifikasi kondisi masalah kesehatan masyarakat dan lingkungan serta fasilitas pelayanan
kesehatan meliputi cakupan mutu pelayanan, identifikasi mutu sumber daya manusia dan
provider, serta menetapkan kegiatan untuk menyelesaikan masalah. Perencanaan meliputi
kegiatan program dan kegiatan rutin puskesmas yang berdasarkan visi dan misi puskesmas
sebagai sarana pelayanan kesehatan primer dimana visi dan misi digunakan sebagai acuan dalam
melakukan setiap kegiatan pokok puskesmas.3

Budgeting dalam perencanaan menejemen keuangan dikelola sendiri oleh puskesmas


sesuai tatacara pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan, adapun sumber biaya didapatkan
dari pemerintah daerah, retribusi puskesmas, swasta atau lembaga sosial masyarakat dan
pemerintah adapun pembiayaan tersebut ditujukan untuk jemis pembiayaan layanan kesehatan
yang mempunyai cirri-ciri barang atau jasa publik seperti penyuluhan kesehatan, perbaikan gizi,
P2M dan pelayanan kesehatan yang mempunyai ciri-ciri barang atau jasa swasta seperti
pengobatan individu.

B. Pengorganisasian
Dinas Kesehatan Kota mempunyai tugas untuk menenetukan menetapkan struktur
organisasi puskesmas dengan pertimbangan sebagai fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat
tingkat I. Pola organisasi meliputi kepala, wakil kepala, unit tata usaha, unit fungsional agar tidak
terjadi tumpang tindih dalam pelaksanaan kegiatan yang nantinya akan berpengaruh terhadap
kualitas program yang ditangani.3

Struktur organisasi puskesmas


Unsur pimpinan : Kepala Puskesmas
Unsur pembantu pimpinan : Tata usaha
Unsur pelaksana : Unit I, II, III, IV, V, VI, VII.

C. Pelaksanaan
Pelaksanaan (actuating) merupakan fungsi penggerak semua kegiatan yang telah
dituangkan dalam fungsi pengorganisasian untuk mencapai tujuan organisasi yang telah
dirumuskan pada fungsi perencanaan. Fungsi manajemen ini lebih menekankan tentang
bagaimana manajer mengarahkan dan menggerakkan semua sumber daya untuk mencapai tujuan
yang telah disepakati. Dalam menggerakkan dan mengarahkan sumber daya manusia dalam
suatu organisasi, peranan pemimpin, motivasi staf, kerjasama dan komunikasi antar staf
merupakan hal-hal pokok yang perlu diperhatikan oleh seorang manjer.
Secara praktis fungsi pelaksanaan ini merupakan usaha untuk menciptakan iklim
kerjasama di antara staf pelaksana program sehingga tujuan organisasi tercapai secara efektif dan
efisien. Fungsi pelaksanaan ini haruslah dimulai dari diri manajer, di mana manajer harus
menunjukkan kepada stafnya bahwa ia mempunyai tekad untuk mencapai kemajuan dan peka
terhadap lingkungannya. Ia harus mempunyai kemampuan bekerjasama dengan orang lain secara
harmonis.3,4

Tujuan fungsi pelaksanaan:


Menciptakan kerjasama yang lebih efisien
Mengembangkan kemampuan dan ketrampilan staf
Menumbuhkan rasa memiliki dan menyukai pekerjaan ini
Mengusahakan suasana lingkungan kerja yang dapat meningkatkan motivasi dan prestasi
kerja staf
Membuat organisasi berkembang lebih dinamis.

D. Pengawasan
Pengawasan (controlling) dalam manajemen puskesmas merupakan fungsi terakhir yang
berkait erat dengan fungsi manajemen yang lainnya. Melalui fungsi pengawasan dan
pengendalian, standard keberhasilan selalu dibandingkan dengan hasil yang telah dicapai atau
yang mampu dikerjakan. Jika ada kesenjangan atau penyimpangan diupayakan agar
penyimpangannya dapat dideteksi secara dini, dicegah, dikendali atau dikurangi. Kegiatan fungsi
pengawasan dan pengendalian bertujuan agar efisiensi penggunaan sumber daya dapat lebih
berkembang, dan efektifitas tugas-tugas staf untuk mencapai tujuan program dapat lebih
terjamin.5

Tiga langkah penting untuk melakukan pengawasan:


Mengukur hasil/prestasi yang telah dicapai
Membandingkan hasil yang dicapai dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya
Memperbaiki penyimpangan yang dijumpai berdasarkan faktor-faktor penyebab terjadinya
penyimpangan. Bila diperkirakan terjadi penyimpangan, pimpinan perlu berusaha lebih
dulu untuk mencari faktor penyebabnya, kemudian menetapkan langkah-langkah untuk
mengatasinya.

3. Keluaran
Keluaran adalah hasil akhir dari kegiatan dan tindakan tenaga kesehatan profesional
terhadap pasien atau terhadap suatu program yang dilaksanakan.

4. Sasaran
Sasaran merupakan golongan yang menjadi tumpuan terhadap pelaksanaan suatu
program yang direncanakan. Sasaran dapat berupa perorangan, keluarga, kelompok dan
masyarakat.

5. Dampak
Hasil dari pelaksanaan yang dijadikan indikator apakah kebutuhan dan tuntutan
kelompok sasaran terpenuhi atau tidak. Dampak merupakan indikator yang sulit untuk dinilai.

6. Umpan balik
Umpan balik merupakan merupakan hasil dari keluran yang menjadi masukan dari suatu
sistem.
7. Lingkungan
Lingkungan fisik (faktor kesulitan geografis, iklim, transport, dan lain-lain) dan non fisik
(sosial budaya, tingkat pendapatan ekonomi masyarakat, pendidikan masyarakat, dan lain-lain).

Azaz Penyelenggaraan Puskesmas


Penyelenggaraan upaya kesehatan wajib dan upaya kesehatan pengembangan harus
menerapkan azas penyelenggaraan puskesmas secara terpadu. Azas penyelenggaraan puskesmas
tersebut dikembangkan dan ketiga fungsi puskesmas. Dasar pemikiran adalah pentingnya
menerapkan prinsip dasar dari setiap fungsi puskesmas dalam menyelenggarakan setiap upaya
puskesmas, baik upaya kesehatan pengembangan, azas penyelenggaraan puskesmas yang di
maksud adalah :
1. Azas pertanggung jawab meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang bertempat
tinggal di wilayah kerjanya,berbagai kegitan yang harus dilaksanakan puskesmas antara
lain:
a) Mengerakkan pembangunan di berbagai sektor di kecamatan sehingga berwawasan
kesehatan.
b) Memantau dampak berbagai upaya pembangunan terhadap kesehatan masyarakat di
wilayah kerjanya.
c) Memelihara setiap upaya kesehatanstrata pertama yang di selenggarakan oleh masyarakat
dan dunia usaha di wilayah kerjanya.
d) Menyelenggarakan upya kesehatan strata pertama secara merata dan terjangkau di
wilayah kerja.5

2. Azas Pemberdayaan Masyarakat


Puskesmas wajib memperdayakan perorangan,keluarga dan masyarakat agar
berperan aktif dalam setiap upaya puskesmas. Beberapa kegiatan yang harus
dilaksanakan oleh Puskesmas dalam rangka pemberdayaan masyarakat antara lain :

a) Upaya kesehatan ibu dan anak :Posyandu,Polindes, Bina Keluarga Balita (BKB)
b) Upaya perbaikan gizi: Posyandu, Panti Pemulihan Gizi, Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi)
c) Upaya kesehatan sekolah: Dokter Kecil,Dokter Remaja.
d) Upaya kesehatan lingkungan: Kelompok Pemakai Air (polmair Desa Percontohan
Kesehatan Lingkungan (DPKL) Pemberantasan Sarang Nyamuk(PSN).
e) Upaya Usia Lanjut: Posyandu Lansia
f) Upaya Kesehatan Kerja: Pos UKK.
g) Upaya Kesehatan Jiwa: Posyandu ,Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat.
h) Upaya Pengobatan Tradisional: Taman Obat Keluarga (TOGA), Pembinaan Batra.
i) Upaya Pembiayaan Jaminan Kesehatan: Dana Sehat, Tabungan Ibu Bersalin (Tabulin)

3. Azas Keterpaduan

Dibedakan manjadi
Keterpaduan Lintas Program
Memandukan beberapa program sehingga menjadi satu yang bertujuan untuk
memperoleh hasil yang maksimal.
Keterpaduan Lintas Sektor
Memadukan penyelenggaraan upaya Puskesmas dengan sektor terkait di kecamatan.5

4. Azas Rujukan
1. Perorangan
Rujukan Kasus
Rujukan Bahan Pemeriksaan
Rujukan Ilmu Pengetahuan
2. Masyarakat
KejadianLuar Biasa (KBL)
Pencemaran Lingkungan
Bencana

Program Pokok Puskesmas

Program pokok Puskesmas merupakan program pelayanan kesehatan yang wajib di


laksanakan karena mempunyai daya ungkit yang besar terhadap peningkatan derajat kesehatan
masyarakat yang setinggi-tingginya. Ada 6 Program Pokok pelayanan kesehatan di Puskesmas
yaitu :

1. Program pengobatan (kuratif dan rehabilitatif) yaitu bentuk pelayanan kesehatan


untuk mendiagnosa, melakukan tindakan pengobatan pada seseorang pasien dilakukan
oleh seorang dokter secara ilmiah berdasarkan temuan-temuan yang diperoleh selama
anamnesis dan pemeriksaan
2. Promosi Kesehatan yaitu program pelayanan kesehatan puskesmas yang diarahkan
untuk membantu masyarakat agar hidup sehat secara optimal melalui kegiatan
penyuluhan (induvidu, kelompok maupun masyarakat).
3. Pelayanan KIA dan KB yaitu program pelayanan kesehatan KIA dan KB di
Puskesmas yang ditujukan untuk memberikan pelayanan kepada PUS (Pasangan Usia
Subur) untuk ber KB, pelayanan ibu hamil, bersalin dan nifas serta pelayanan bayi dan
balita.
4. Pencegahan dan Pengendalian Penyakit menular dan tidak menular yaitu program
pelayanan kesehatan Puskesmas untuk mencegah dan mengendalikan penular penyakit
menular/infeksi (misalnya TB, DBD, Kusta dll).
5. Kesehatan Lingkungan yaitu program pelayanan kesehatan lingkungan di puskesmas
untuk meningkatkan kesehatan lingkungan pemukiman melalui upaya sanitasi dasar,
pengawasan mutu lingkungan dan tempat umum termasuk pengendalian pencemaran
lingkungan dengan peningkatan peran serta masyarakat,
6. Perbaikan Gizi Masyarakat yaitu program kegiatan pelayanan kesehatan, perbaikan
gizi masyarakat di Puskesmas yang meliputi peningkatan pendidikan gizi,
penanggulangan Kurang Energi Protein, Anemia Gizi Besi, Gangguan Akibat
Kekurangan Yaodium (GAKY), Kurang Vitamin A, Keadaan zat gizi lebih, Peningkatan
Survailans Gizi, dan Perberdayaan Usaha Perbaikan Gizi Keluarga/Masyarakat.6

Kegiatan Penunjang Puskesmas


1. Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu)
Posyandu merupakan wadah pusat kegiatan pemberian pelayanan kesehatan dan KB yang
terpadu tingkat desa.
Sasaran:
1. Bayi, ibu hamil, ibu menyusui, PUS (Pasangan Usia Subur)

Tujuan:
1. Mempercepat penurunan angka kematian bayi, balita dan angka kelahiran
2. Meningkatkan pelayanan kesehatan ibu untuk menurunkan IMR.
3. Mempercepat untuk diterimanya NKKBS (Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera)
4. Peningkatan dan pembinaan peran serta masyarakat dalam rangka ahli teknologi
untuk swa kelola usaha-usaha kesehatan masyarakat.
5. Meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mengembangkan kegiatan kesehatan
dan kegiatan lain yang menunjang sesuai kebutuhan.
6. Pendekatan dan pemerataan pelayanan kesehatan pada masyarakat dalam usaha
meningkatkan cakupan penduduk dan geografis.7

2. Puskesmas Pembantu
Unit pelayanan kesehatan yangg sederhana & bersifat menunjang & membantu
melaksanakan kegiatan puskesmas yangg ruang lingkupnya > kecil. Wilayah kerjanya dapat
mencakup 2 3 desa dengan sasaran 2500 jiwa (luar jawa) atau 10.000 jiwa (Jawa , Bali).

3. Puskesmas keliling
Puskesmas keliling adalah program pelayanan kesehatan terpadu keluar gedung puskesmas
yang menjangkau daerah terpencil, atau tempat tinggal masyarakat yang sulit mendapatkan akses
pelayanan kesehatan terdekat.
Kegiatan Puskesmas Keliling
Memberikan pelayanan di daerah terpencil
Melakukan penyelidikan Kejadian Luar Biasa (KLB)
Alat transportasi penderita untuk rujukan ke puskesmas pembantu / induk
Penyuluhan kesehatan menggunakan audio visual

4. Kader
Kader adalah seorang tenaga sukarela yang direkrut dari, oleh dan untuk masyarakat, yang
bertugas membantu kelancaran pelayanan kesehatan. Keberadaan kader sering dikaitkan dengan
pelayanan rutin di posyandu. Padahal ada beberapa macam kader bisa dibentuk sesuai dengan
keperluan menggerakkan partisipasi masyarakat atau sasarannya dalam program pelayanan
kesehatan.7

5. Upaya Kesehatan Ibu dan Anak


KIA adalah upaya kesehatan yang mencakup pelayanan dan pemeliharaan ibu hamil, ibu
bersalin, bayi dan balita serta anak usia pra sekolah yang menjadi tanggung jawab Puskesmas
dalam rangka meningkatkan kesehatan serta kesejahteraan bangsa pada umumnya.
Sasaran:
- Ibu hamil, ibu bersalin, bayi dan balita
- Serta anak usia pra sekolah

Tujuan:
1. Melaksanakan pemeriksaan pada ibu hamil yaitu, timbang berat badan, mengukur
tekanan darah, mengukur tinggi fundus uteri, pemberan tablet tambah darah, serta
vitamin A.
2. Memberikan penyuluhan kepada ibu hamil mengenai keadaan gizi, perawatan payudara,
ASI eksklusif, kebersihan diri dan lingkungan serta P2P.
3. Memberikan motivasi agar ibu hamil ikut playanan KB.
4. Membina posyandu
5. Merujuk pasien ke Rumah Sakit apabila penyakitnya tidak dapat ditanggulangi di
Puskesmas.
6. Pencatatan dan pelaporan KPBIA (Kelompok Pembina Belajar Ibu dan Anak)
7. Pemberian imunisasi pada bayi, balita ibu hamil, anak sekolah dan calon pengantin.

Kegiatan:
1. Pemeriksaan dan pemeliharaan kesehatan ibu hamil dan ibu menyusui
2. Pertolongan persalinan di luar Rumah Sakit
3. Pemeriksaan dan pemeliharaan anak.
4. Imunisasi dasar dan revaksinasi
5. Pengobatan sederhana dan pencegahan dehidrasi pada anak yang menderita diare dengan
pemberian cairan per oral.
6. Penyuluhan gizi untuk meningkatkan status gizi ibu dan anak.
7. Bimbingan kesehatan jiwa anak
8. Menjalankan kunjungan rumah
9. Pendidikan kesehatan kepada masyarakat
10. Pelayanan Keluarga Berencana (KB)

6. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular


Penyakit menular adalah penyakit infeksi yang dapat dipindahkan dari orang atau hewan
yang sakit, dari resevoir ataupun benda-benda yang mengandung bibit penyakit lainnya ke
manusia sehat.7
Sasaran: Seluruh lapisan masyarakat
Tujuan:
1. Mencegah terjangkitnya penyakit
2. Untuk meningkatkan kesehatan yang optimal
3. Menurunkan angka kematian dan kesakitan

Kegiatan-kegiatan P2M berupa:


1. Mencari kusus sedini mungkin untuk melakukan pengobatan
2. Memberikan penyuluhan kesehatan daerah wabah di Puskesmas
3. Mengadakan imunisasi antara lain: BCG, DPT, campak, polio, Hepatitis B, dan TT.
4. Langkah-langkah yang dilakukan dalam pengamatan dan pemberantasan penyakit.
5. Mengumpulkan dan menganalisa data tentang penyakit
6. Melaporkan penyakit menular.
7. Menyelidiki dilapangan untuk melihat ada tidaknya laporan yang masuk, menemukan
kasus-kasus untuk mengetahui sumber penularan.
8. Tindakan penularan untuk menahan penjalarannya.
9. Menyembuhkan penderita hingga sehat.
10. Pemberian imunisasi.
11. Pemberantasan vektor nyamuk.
12. Pendidikan kesehatan.

Tugas Dokter Puskesmas


Five star doctor menurut dr. Charles Boelen WHO, Swedia:
1. Care Provider Mampu menyediakan perawatan
Selain memberikan perawatan individu five stars doctor harus
memperhitungkan total (fisik, mental, sosial) kebutuhan pasien. Mereka harus
memastikan bahwa berbagai pengobatan-kuratif, preventif, rehabilitatif- akan dibagikan
denga cara yang saling melengkapi, terintegritas, dan berkesinambungan. Dan mereka
harus memastikan bahwa pengobatan adalah kualitas tertinggi.8

2. Decision Maker Mampu menjadi penentu keputusan


Dalam transparasi five star doctor akan mengambil keputusan yang dapat
dibenarkan dalam hal efikasi dan biaya. Dari semua cara yang mungkin untuk mengobati
kondisi kesehatan yang diberikan, salah satu yang tampaknya paling sesuai dalam situasi
tertentu harus dipilih. Sebagai pengeluaran regards, sumber daya terbatas yang tersedia
untuk kesehatan harus dibagi secara adil untuk kepentingan setiap individu dalam
masyarakat.

3. Communicator Mampu menjadi komunikator yang baik


Lifestyle aspek seperti diet seimbang, langkah-langkah keselamatan di tempat
kerja, jenis kegiatan rekreasi, menghormati lingkungan dan sebagainya semua memiliki
pengaruh yang menentukan kesehatan. Keterlibatan individu dalam melindungi dan
memulihkan kesehatannya itu sendiri, sangat penting karena paparan resiko kesehatan
sangat ditentukan oleh perilaku seseorang. Para dokter juga harus seorang komunikator
yang sangat baik dalam rangka membujuk pasien, keluarga dan masyarakat yang
merupakan tanggung jawab dokter untuk mengadopsi gaya hidup sehat dan menjadi mitra
dalam upaya kesehatan.

4. Community Leader Mampu menjadi pemimpin dalam komunitas atau masyarakat


Kebutuhan dan masalah seluruh masyarakat tidak boleh dilupakan. Dengan
memahami faktor-faktor penentu kesehatan yang melekat dalam lingkungan fisik dan
sosial dan dengan menghargai luasnya setiap masalah atau resiko kesehatan, five stars
doctor tidak akan hanya mengobati individu yang mencari bantuan tetapi juga akan
mengambil bunga positif dalam kegiatan kesehatan masyarakat yang akan bermanfaat
bagi sejumlah besar orang.

5. Manager Mampu dan bisa memiliki skill manajerial yang baik untuk menjalankan
fungsi-fungsi diatas
Untuk melaksanakan semua fungsi, maka penting untuk five stars doctor untuk
memperoleh keterampilan manajerial. Ini akan memungkinkan mereka untuk memulai
pertukaran informasi dalam rangka membuat keputusan yang lebih baik, dan untuk
bekerja dalam tim multidisiplin yang erat hubungannya dengan mitra lain untuk
kesehatan dan pembangunan sosial, apakah ditakdirkan untuk individu atau untuk
masyarakat.8,9
Masalah
Yang dimaksud dengan masalah adalah terdapatnya kesenjangan (gap) antara harapan
dengan kenyataan.Dalam usaha mencapai visi puskesmas terdapat beberapa masalah yang
dihadapi sehingga menyebabkan program yang diselenggrakan tidak mencapai target yang
ditetapkan. Langkah awal yang harus dilakukan adalah menetapkan prioritas masalah. Kita bias
menggunakan teknik non scoring / scoring. Teknik non scoring meliputi brain storming,
Delphi technique, dan delbeq technique.Sedangkan teknik scoring kita lakukan dengan kajian
data yang diperoleh dari laporan bulanan puskesmas.Dalam pemilihan prioritas (scoring) kita
dapat melakukannya dengan menggunakan teknik kriteria matrik.8

Analisis Penyebab Masalah


Semua jenis hambatan atau penyebab timbulnya masalah dalam suatu program dapat
dirumuskan pada saat melakukan analisis situasi (sistem) yang lebih difokuskan pada sumber
daya dan proses (input dan proses).
Bagan 1. Problem Solving Circle

Analisis Identifikasi
Masalah Istilah
Prioritas
Evaluasi Masalah

PROBLEM
SOLVING CIRCLE Tujuan
Pengawasan &
Pengendalian

Alternatif pemecahan
Pemantauan Masalah

Rencana
Pelaksanaan & Operasional
Penggerakan
1. Input:
- Man: jumlah staf kurang, ketrampilan, pengetahuan, dan motivasi kerjaya yang rendah.
Tingkat partisipasi masyarakat juga rendah.
- Money: jumlah dana untuk pengembangan program sangat terbatas dan turunnya dana
terlambat serta sering dipotong di Dinkes tingkat II.
- Material: jumlah peralatan medis yang kurang memadai dan jenis obat yang tersedia
tidak sesuai dengan masalah kesehatan yang potensial berkembang di wilayah kerja
Puskesmas. Harga peralatan yang mahal.
- Method: perlaksanaan program yang kurang efektif dan efisien.Waktu yang dimiliki
oleh staf tidak cukup untuk menyusun rencana atau untuk mengadakan supervisi.
Informasi juga dapat menjadi hambatan program karena datanya yang tersedia kurang
dapat dipercaya, kurang akurat, pemanfaatan data jarang dilakukan untuk perencanaan
kegiatan program sehingga staf terperangkap pada rutinisme, dan laporannya belum
dibuat.10

2. Proses: masalah ini dapat dikaitkan dengan fungsi manajemen (POAC)


- Planning: kurang jelasnya tujuan atau rumusan masalah program sehingga rencana
kerja operasional tidak relevans dengan upaya pemecahan masalah
- Organizing: pembagian tugas untuk staf tidak jelas bahkan sering tidak ada. Staf yang
ada jumlahnya belom memadai.
- Actuating: koordinasi dan motivasi staf kurang atau kepimpinan kepala Puskesmas tidak
disenangi staf. Pengumpulan data yang kurang baik, masih lemahanya sistem pencatatan
dan koordinasi antar program.
- Controlling: pengawasan (supervise) lemah dan jarang dilakukan serta pencatatan data
untuk monitoring program kurang akurat dan jarang dimanfaatkan.10

3. Lingkungan
- Misalnya hambatan geografis (jalan rusak)
- Sarana transportasi yang kurang memadai
- Iklim atau musim yang kurang menguntungkan
- Masalah tingkat pendidikan yang rendah
- Sikap dan budaya masyarakat yang tidak kondusif (tabu, salah persepsi, mitos)
4. Output : cakupan imunisasi dasar
5. Sasaran : bayi , balita , ibu
6. Dampak : Cakupan berbagai program belum mencapai hasil
Bagan 2. Rangkaian serta Aspek Aspek Yang Mempengaruhi Berhasilnya Suatu Program

LINGKUNGAN

MASUKAN PROSES KELUARAN DAMPAK

UMPAN BALIK

Kriteria Kejadian Luar Biasa (KLB)


Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan dan
atau kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu
tertentu. Wabah adalah berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah
penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari pada keadaan yang lazim pada waktu dan
daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka.11
Kriteria tentang Kejadian Luar Biasa (KLB) mengacu pada Keputusan Dirjen PPM&PLP
No. 451-I/PD.03.04/1999 tentang Pedoman Penyelidikan Epidemiologi dan Penanggulangan
KLB. Menurut aturan itu, suatu kejadian dinyatakan luar biasa bila terdapat unsur:12
Timbulnya suatu penyakit menular yang sebelumnya tidak ada atau tidak dikenal.
Peningkatan kejadian penyakit/kematian terus-menerus selama 3 kurun waktu berturut-turut
menurut jenis penyakitnya (jam, hari, minggu).
Peningkatan kejadian penyakit/kematian 2 kali lipat atau lebih dibandingkan dengan angka
rata-rata per bulan tahun sebelumnya.
Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikan 2 kali lipat atau lebih bila
dibandingkan dengan angka rata-rata perbulan dalam tahun sebelumnya.
Angka rata-rata perbulan selama satu tahun menunjukkan kenaikan > 2 kali dibandingkan
angka rata-rata per bulan tahun sebelumnya.
CFR suatu penyakit dalam satu kurun waktu tertentu menunjukkan kenaikan 50 % atau lebih
dibanding CFR periode sebelumnya.
Proporsional Rate penderita baru dari suatu periode tertentu menunjukkan kenaikan > 2 kali
dibandingkan periode yang sama dan kurun waktu/tahun sebelumnya.
Beberapa penyakit khusus, seperti kolera dan DHF/DSS: 1) Setiap peningkatan kasus dari
periode sebelumnya (pada daerah endemis); 2) Terdapat satu atau lebih penderita baru
dimana pada periode 4 minggu sebelumnya daerah tersebut dinyatakan bebas dari penyakit
yang bersangkutan.
Beberapa penyakit yang dialami 1 atau lebih penderita, seperti keracunan makanan dan
keracunan pestisida.

KLB penyakit masih menjadi masalah kesehatan masyarakat karena dapat menyebabkan
jatuhnya korban kesakitan dan kematian yang besar sehingga perlu diantisipasi dan dicegah
penyebarannya dengan tepat dan cepat. Kejadian-kejadian KLB perlu dideteksi secara dini dan
diikuti tindakan yang cepat dan tepat, perlu diidentifikasi adanya ancaman KLB beserta kondisi
rentan yang memperbesar risiko terjadinya KLB agar dapat dilakukan peningkatan kewaspadaan
dan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan KLB, dan oleh karena itu perlu diatur dalam
pedoman Sistem Kewaspadaan Dini Kejadian Luar Biasa (SKD-KLB).10

Perencanaan Mikro (Micro Planning)

Pengertian

Perencanaan mikro tingkat puskesmas adalah penyusunan rencana tingkat puskesmas


untuk 5 tahun, termasuk rincian tiap tahunnya.

Tujuan

Meningkatkan cakupan pelayanan program prioritas sesuai dengan masalah yang


dihadapi oleh puskesmas, sehingga dapat meningkatkan fungsi puskesmas.
Langkah-Langkah Penyusunan

1. Identifikasi keadaan dan masalah

Untuk menghasilkan suatu rumusan tentang keadaan dan prioritas masalah yang dihadapi
puskesmas dan alternatif pemecahannya.

a) Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada tahap ini:


Mengetahui kebijakan yang telah ditetapkan baik oleh pusat maupun daerah.
b) Pengumpulan data yang mencakup:
Data umum
Data wilayah
Data penduduk
Sumber daya puskesmas: sarana dan prasarana fisik, tenaga, dana, dan sumber daya
masyarakat
Data status kesehatan
Data cakupan program sesuai dengan indicator dan variabel
c) Analisa data
Meliputi analisa keadaan dan masalah dalam perencanaan, yang meliputi:

Analisa derajat kesehatan.

Menjelaskan masalah kesehatan yang dihadapi, yang menggambarkan derajat-


derajat kesehatan secara kuantitatif dan penyebaran masalah tersebut menurut
kelompok manusia, tempat dan waktu. Dengan kata lain menggunakan pendekatan
epidemiologis

Analisa kependudukan.

Adalah analisa menggunakan ukuran-ukuran demografis dalam wilayah kerja


puskesmas, diantaranya jumlah penduduk, penyebarannya berdasarkan kelompok
umur, waktu dan pertumbuhan penduduk, kematian, kesakitan, mobilitas penduduk
dan sebagainya.9
Analisa upaya pelayanan kesehatan.

Masukkan (input) baik sarana, dana, dan tenaga. Proses, merupakan upaya kesehatan
yang dijalankan secara terkoordinasi, supervisi, stratifikasi. Keluaran (output)
merupakan hasil upaya kesehatan yang merupakan cakupan cakupan pelayanan
yang telah dilaksanakan

Analisa perilaku

Analisa yang dapat menggambarkan tentang sikap dan perilaku masyarakat terhadap
kesehatan dan upaya kesehatan.

Analisa lingkungan

Merupakan analisa lingkungan fisik, biologis, sosial budaya dan ekonomi masyarakat
di wilayah kerja puskesmas.

d) Perumusan Masalah
Adalah upaya mengidentifikasikan permasalahan yang dihadapi oleh puskesmas
berdasarkan analisa di atas dan digambarkan secara kuantitatif dengan pendekatan
epidemiologis sehingga dapat menggambarkan masalah yang sebenarnya baik dari segi
tempat, waktu, dan besarnya masalah.
e) Penentuan Prioritas Masalah
Untuk menentukan tingkat masalah dipergunakan cara:
Delbecq, dengan cara mendiskusikan masalah oleh anggota kelompok dengan saran
dari narasumber.
Hanlon, adalah cara yang lebih sederhana yang sering dipergunakan dan setiap
anggota rapat puskesmas dapat ikut berperan serta. Semua anggota rapat diminta
memberikan nilai terhadap masalah melalui sistem scoring.

Kriteria yang dipakai adalah:

Besarnya masalah meliputi:


o Presentasi penduduk yang terkena
o Biaya yang dikeluarkan perorang perbulan karena masalah tersebut
o Kerugian yang dialami penduduk
o Skore 0-10
Tingkat kegawatan/bahaya meliputi:
o Tingkat keganasan
o Tingkat urgensinya
o Kecenderungannya
o Skore 1-10
Kemudahan penanggulangan masalah
Penentuan kemudahan penanggulangan masalah dilaksankn dengan memberi nilai 0,5-
1,5.
Faktor PEARL
Adalah menentukan dapat tidaknya program tersebut dilaksanakan, meliputi:
P = Appropriatness (tepat guna)
E = Ekonomic Feasibility (secara ekonomis murah)
A = Acceptability (dapat diterima)
R = Resource Availability (tersedianya sumber)
L = legality (legalitas terjamin)
Penentuan skor melalui voting (1=ya, 0= tidak)
Hasil voting untuk masing-masing faktor dikalikan sehingga didapatkan hasil akhir dari
faktor PEARL tersebut. Skor dari masing-masing criteria ditabulasi dan dihitung hasil
akhirnya dengan pembobotan, sehingga didapatkan prioritas masalah.5

2. Penyusunan Rencana

Perencanaan yang disusun berdasarkan prioritas masalah yang disususn secara sistematis,
dengan urutan sebagai berikut:

Perumusan tujuan dan sasaran


Perumusan kebijaksanaan dan langkah-langkah
Perumusan kegiatan
Perumusan sumber daya
3. Penyusunan rencana pelaksanaan (Plan of Action)

Penyusunan POA yang perlu diperhatikan adalah :

a. Penjadwalan, meliputi:
Penentuan waktu
Penentuan lokasi dan sasaran
Pengorganisasian
b. Pengalokasian sumber daya meliputi:
Dana: sumber dana, besarnya, dan pemanfaatannya
Jenis dan jumlah sarana yang diperlukan
Jumlah dan tenaga yang diperlukan
c. Pelaksanaan Kegiatan, meliputi:
Persiapan
Penggerakan dan pelaksanaan
Pengawasan, pengendalian dan penilaian

4. Penulisan Dokumen perencanaan, meliputi:


Pendahuluan
Keadaan dan masalah
Tujuan dan sasaran
Pokok kegiatan dan pentahapan tahunannya
Kebutuhan sumber daya
Pemantauan dan penilaian
Penutup
Lampiran lampiran dokumen.3,4

Penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB)


Berikut ini adalah skema untuk menanggulangi kejadian KLB
Gambar 3. Program Penangggulangan KLB
Sumber: Peraturan Menteri Republik Indonesia No. 949/Menkes/SK/VIII/2004. Pedoman penyelengaraan sistem
kewaspadaan dini kejadian luar biasa. Agustus 2004.
Promosi Kesehatan
Dalam konteks kesehatan, promosi berarti upaya memperbaiki kesehatan dengan cara
memajukan, mendukung, dan menempatkan kesehatan lebih tinggi dari agenda, baik secara
perorangan maupun secara kelompok. Definisi WHO, berdasarkan piagam Ottawa/Ottawa
Charter (1986) mengenai promosi kesehatan sebagai hasil Konferensi Internasional Promosi
Kesehatan di Ottawa Canada adalah sebagai berikut: Health promotion is the process of enabling
people to control over and improve their health. To reach a state of complete physical, mental,
and social well-being, an individual or group must be able to identify and realize aspiration, to
satisfy needs, and to change or cope with the environment.13 Berdasarkan definisi tersebut, WHO
menekankan bahwa promosi kesehatan merupakan suatu proses yang bertujuan memungkinkan
individu meningkatkan kontrol terhadap kesehatan dan meningkatkan kesehatannya berbasis
filosofi yang jelas mengenai pemberdayaan diri sendiri.6
Promosi kesehatan meliputi dan merangkum pengertian dari pendidikan kesehatan,
penyuluhan kesehatan, komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE), dan istilah lainnya. Sasaran
promosi kesehatan terdiri dari sasaran primer, sekunder, dan tersier. Sasaran primer adalah
sasaran yang mempunyai masalah, yang diharapkan mau berperilaku sesuai harapan dan
memperoleh manfaat paling besar dari perilaku tersebut. Dalam kasus 4, sasaran primer adalah
penduduk yang terkena diare. Sasaran sekunder adalah individu atau kelompok yang memiliki
pengaruh atau disegani oleh sasaran primer. Sasaran sekunder, seperti ketua RT, RW, Lurah, dan
Camat, diharapkan mampu mendukung pesan-pesan yang disampaikan kepada sasaran primer.
Sasaran tersier adalah para pengambil kebijakan, penyandang dana, pihak-pihak yang
berpengaruh di berbagai tingkatan pemerintahan.13
Kegiatan PKM dilaksanakan secara integratif dengan semua usaha pokok puskesmas
karena semua program memerlukan komponen kegiatan penyuluhan untuk kelompok-kelompok
sasaran program. Di tingkat kabupaten, disediakan tenaga koordinator PKM yang akan
membantu petugas PKM puskesmas mengembangkan usaha pokok kesehatan dalam rangka
peningkatan peran serta masyarakat. Bantuan tenaga PKM dari Dinkes tingkat II biasanya
diberikan apabila di wilayah kerja puskesmas timbul KLB penyakit menular. Karena kegiatan
PKM adalah bagian integral dari semua program pokok puskesmas, semua staf puskesmas harus
mampu melaksanakannya, baik sasarannya individu pasien maupun kelompok-kelompok
masyarakat sasaran program.Tetapi kenyataannya di puskesmas masih sulit mengembangkan
kegiatan PKM karena berbagai kendala, kecuali terjadi wabah (KLB).PKM sebaiknya
merupakan kegiatan rutin dilakukan oleh staf, jangan hanya dilaksanakan pada saat timbulnya
KLB penyakit menular.11
Menurut Notoatmodjo (1993) dan WHO (1992), metode pendidikan kesehatan
diklasifikasikan menjadi tiga bagian, yaitu:8
1. Metode pendidikan individu
a) Bimbingan dan konseling (guidance and counseling) serta wawancara.
Bimbingan berisi penyampaian informasi yang berkenaan dengan masalah
pendidikan, pekerjaaan, pribadi, dan masalah sosial yang disajikan dalam bentuk
pelajaran. Konseling memungkinkan peserta didik mengenal dan menerima diri
sendiri serta realistis dalam proses penyelesaian dengan lingkungannya.
b) Wawancara yang sebenarnya bagian dari bimbingan dan konseling.
2. Metode pendidikan kelompok
a) Ceramah adalah pidato yang disampaikan oleh seorang pembicara dalam waktu
yang terbatas di depan sekelompok pendengar biasanya orang dewasa yang
memahami kata-kata yang digunakan pembicara. Namun cara ini sulit diterapkan
pada anak-anak, kurang menarik minat, dan menghalangi respon pendengar.
b) Seminar adalah presentasi dari satu atau beberapa ahli tentang suatu topik yang
dianggap penting dan dianggap hangat di masyarakat. Metode ini hanya cocok
untuk sasaran kelompok besar dengan pendidikan menengah ke atas.
c) Diskusi kelompok adalah percakapan terencana di antara tiga orang atau lebih dan
salah satunya sebagai pemimpin diskusi. Ini merupakan pendekatan demokratis
dan tiap anggota dapat mengemukakan pendapat.
d) Curah pendapat adalah semacam pemecahan masalah ketika tiap anggota
mengusulkan dengan cepat semua kemungkinan pemecahan yang dipikirkan.
Metode ini cocol digunakan untuk membangkitkan pikiran kreatif, merangsang
partisipasi, dan menciptakan suasana yang menyenangkan dalam kelompok.
e) Snowball dilakukan dengan membagi secara berpasangan, mendiskusikan
masalah dan mencari kesimpulan. Selanjutnya, setiap dua pasang yang sudah
beranggotakan empat orang ini bergabung lagi dengan pasangan lainnya,
demikian seterusnya akhirnya terjadi diskusi seluruh kelas.
f) Buzz group dilakukan dengan membagi kelompok sasaran yang lebih besar
menjadi kelompok kecil, kemudian membahas suatu masalah dan melaporkan
hasilnya kepada kelompok besar.
g) Role play adalah permainan sebuah situasi dalam hidup manusia mengenai kasus
tertentu. Hal ini sulit diterapkan karena banyak yang tidak senang memainkan
peran dan dibutuhkan pemimpin yang terlatih.
h) Simulasi adalah suatu cara peniruan karakteristik atau perilaku sehingga para
peserta dapat bereaksi seperti pada keadaan sebenarnya.
3. Metode pendidikan massa dilakukan dengan ceramah umum yaitu memberikan pidato di
hadapan massa dengan sasaran yang sangat besar.11

Kesimpulan

Peningkatan kasus diare mungkin dapat disebabkan oleh masalah-masalah seperti


kurangnya tenaga kerja atau tidak ada nya sarana prasarana atau juga dari dokter nya sendiri
terhadap masyarakat jadi yang bisa dilakukan adalah mengubah hal tersebut dengan cara
memperkuat program yang sudah ada atau menambah program baru yang terpadu sehingga kasus
diare yang meningkat pada periode atau pada musim kemarau tahun berikutnya, tidak terulang
kembali.
Daftar Pustaka
1. Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, Diare.h.v-76. Diakses 17 Juli 2016.
2. Depkes. Kebijakan Dasar Puskesmas. Dalam Kepmenkes no 128 tahun 2004.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta;2010.
3. Chandra B. Ilmu kedokteran pencegahan dan komunitas. Dalam manajemen dan
pelaksanaan kesehatan di Indonesia. Jakart:EGC;2006.h.230-5.
4. Ali A. Program Pelayanan Kesehatan di Puskesmas.Dinas Kesehatan Kabupaten
Polewali Mandar.Sulawesi Barat. 2012.
Diuduh dari http://dinkes.polewalimandarkab.go.id/program-pelayanan-kesehatan-di-
puskesmas/
5. Indarwati R. Puskesmas. Universitas Airlangga.Surabaya. 2008. Diunduh dari
ners.unair.ac.id/materikuliah/PUSKESMAS.pdf.
6. Chandra B. Ilmu kedokteran pencegahan dan komunitas.Jakarta: EGC;2009.h.227-35.
7. Muninjaya AG. Manajemen kesehatan.Edisi ke-2.Jakarta: EGC;2004.h.170-250.
8. Azwar A. Pengantar administrasi kesehatan. Edisi ke-3. Jakarta: Binarupa
Aksara;1996.h.17-24,181-241,329-33.
9. Departemen Kesehatan RI. Kebijakan dasar pusat kesehatan masyarakat: keputusan
menteri kesehatan RI nomor 128/menkes/sk/II/2004. Jakarta:Bakti Husada;2004.h.5-
31.
10. Departemen Kesehatan RI. Peraturan Menteri Republik Indonesia No.
949/Menkes/SK/VIII/2004 tentang pedoman penyelengaraan sistem kewaspadaan
dini kejadian luar biasa.
11. Departemen Kesehatan RI. Keputusan Dirjen PPM&PLP No. 451-I/PD.03.04/1999
tentang pedoman penyelidikan epidemiologi dan penanggulangan KLB.