Sunteți pe pagina 1din 4

sedang – sangat baik batuan induk hanya memiliki potensi

buruk – sangat baik. ............................................................. 126

Gambar 6.8 Hasil plotting nilai HI terhadap Tmax (Hunt, 1996) yang
menunjukkan batuan induk Formasi Tabul dominan
tersusun atas kerogen tipe III. Di samping itu, terdapat
pula sedikit material organik yang terusun atas campuran
kerogen tipe II dan III. ......................................................... 127

Gambar 6.9 Hasil plotting antara Tmax terhadap kedalaman yang


menunjukkan bahwa batuan induk Formasi Tabul pada
umumnya telah mengalami pematangan. Dari sebaran
sumur dan sampel batuan induk yang telah matang dapat
diketahui bahwa kematangan batuan induk bertambah ke
arah Barat Sub-cekungan Tarakan....................................... 129

Gambar 6. 10 Plotting nilai TOC terhadap PY (Peters dan Cassa, 1994)


yang menunjukkan potensi batuan induk Formasi Santul.
Hasil plotting menunjukkan bahwa dengan TOC yang
buruk – sangat baik batuan induk memiliki potensi buruk
– baik. .................................................................................. 130

Gambar 6.11 Hasil plotting nilai HI terhadap Tmax (Hunt, 1996) yang
menunjukkan batuan induk Formasi Santul dominan
tersusun atas kerogen tipe III. Di samping itu, terdapat
pula sedikit batuan induk yang terusun atas campuran
kerogen tipe II dan III. ................................................... 131

Gambar 6.12 Hasil plotting antara Tmax terhadap kedalaman yang


menunjukkan bahwa batuan induk Formasi Santul pada
umumnya belum mengalami pematangan. .......................... 133

Gambar 6.13 Hasil plotting nilai pris/nC17 terhadap phy/nC18


(Shanmugam, 1985) pada Formasi Naintupo menunjukkan
material organik tersusun atas humic kerogen pada
lingkungan peat dan swamp pada fluvial delta plain.
Selain itu terdapat pula material organik yang tersusun
atas percampuran antara humic kerogen dengan sapropelic
kerogen yang terendapkan pada lingkungan transisi. .......... 135

Gambar 6.14 Plotting nilai sterana C27, C28, dan C29 (Peters dkk., 1989)
yang dapat menunjukkan lingkungan pengendapan
Formasi Naintupo berasal dari lingkungan delta. Selain itu
dapat diketahui pula bahwa material organik tersusun atas
campuran plankton dan tumbuhan tingkat tinggi. ............... 136

xv
Gambar 6.15 Hasil plotting nilai pris/nC17 terhadap phy/nC18
(Shanmugam, 1985) pada Formasi Meliat menunjukkan
material organik tersusun atas humic kerogen. Selain itu
dapat diketahui lingkungan pengendapan batuan induk
berasal dari peat swamp pada fluvial delta plain................. 138

Gambar 6.16 Plotting nilai sterana C27, C28, dan C29 (Peters dkk., 1989)
yang dapat menunjukkan lingkungan pengendapan
Formasi Meliat. berasal dari lingkungan delta hingga laut
terbuka. Selain itu dapat diketahui pula bahwa material
organik tersusun atas dominasi plankton. ............................ 139

Gambar 6.17 Hasil plotting nilai pris/nC17 terhadap phy/nC18


(Shanmugam, 1985) pada Formasi Tabul menunjukkan
material organik tersusun atas humic kerogen pada
lingkungan peat dan swamp. Selain itu ada pula
percampuran antara humic kerogen dengan sapropelic
kerogen yang terendapkan pada lingkungan rawa hingga
transisi.................................................................................. 141

Gambar 6. 18 Plotting nilai sterana C27, C28, dan C29 (Peters dkk., 1989)
yang dapat menunjukkan lingkungan pengendapan
Formasi Naintupo berasal dari lingkungan delta. Selain itu
dapat diketahui pula material organik tersusun atas
campuran plankton dan tumbuhan tingkat tinggi. ............... 142

Gambar 6.19 Hasil plotting nilai pris/nC17 terhadap phy/nC18


(Shanmugam, 1985) pada Formasi Santul menunjukkan
material organik tersusun atas humic kerogen hingga
percampuran antara humic kerogen dengan sapropelic
kerogen. Selain itu dapat diketahui lingkungan
pengendapan material organik berasal dari lingkungan
peat swamp pada fluvial delta plain hingga transisi ............ 145

Gambar 6.20 Plotting nilai sterana C27, C28, dan C29 (Peters dkk., 1989)
yang dapat menunjukkan lingkungan pengendapan
Formasi Santul berasal dari lingkungan delta. Selain itu,
juga dapat diketahui bahwa material organik tersusun atas
campuran plankton dan tumbuhan tingkat tinggi. ............... 146

Gambar 7.1 Diagram bintang yang membandingkan nilai dari masing-


masing parameter keempat sampel minyak bumi
(Kaufman dkk., 1990). Hasil plotting menunjukkan terdapt
2 pola yang mengindikasikan adanya 2 kelompok minyak
bumi d Sub-cekungan Tarakan. ........................................... 150

xvi
Gambar 7.2 Fingerprint GC dari keempat sampel minyak bumi yang
ditemukan di Sub-cekungan Tarakan terbagi menjadi 2
pola yang menunjukkan 2 kelompok minyak bumi.
Kelompok pertama terdiri atas sampel IMH-3 (A) dan
IMH-5 (B), sedangkan kelompok kedua terdiri atas sampel
IMH-13 (C) dan IMH-16 (D). Dari data ini pula dapat
diketahui bahwa sampel minyak IMH-3 dan IMH-5 telah
mengalami alterasi. .............................................................. 152

Gambar 7.3 Diagram bintang (Kaufman dkk., 1990) yang


menunjukkan beberapa parameter dari data GC-MS
sampel minyak bumi IMH-3 dan IMH-13. Kedua sampel
tidak menunjukkan pola yang sama sehingga dapat
dikatakan keduanya tidak berkorelasi atau berada pada
kelompok yang berebeda. .................................................... 154

Gambar 7.4 Fragmentogram sampel IMH-3 dan IMH-13 yang terdiri


dari tiga parameter yaitu triterpane, sterane, dan drimane.
Parameter triterpane kedua sampel (A dan B)
menunjukkan kemiripan, sedang pada parameter sterane
(C dan D) dan drimane (E dan F) kedua sampel memiliki
pola yang berbeda. Oleh karena itu dapat disimpulkan
bahwa kedua sampel minyak bumi tidak berkorelasi dan
berasal dari dua kelompok yang berbeda. ........................... 156

Gambar 7.5 Distribusi n-alkana (Subroto dkk., 2005) pada (A) Formasi
Naintupo (B) Formasi Meliat (C) Formasi Tabul dan (D)
Formasi Santul. Pada umumnya seluruh formasi semakin
bertambah nomor karbon, maka persen berat akan semakin
menurun dengan sedikit anomali kenaikan persen berat
pada nomor karbon C29, C31, dan C31 terutama pada
sampel Formasi Meliat bagian atas. .................................... 159

Gambar 7.6 Distribusi n-alkana (Subroto dkk., 2005) sampel minyak


bumi IMH-3 dan IMH-5 dengan sampel batuan induk
Formasi Meliat dan Formasi Naintupo. Pada distribusi
tersebut dapat terlihat bahwa sampel batuan induk dan
sampel minyak bumi memiliki distribusi n-alkana yang
hampir serupa. Oleh karena itu keduanya dapat dikatakan
berkorelasi. .......................................................................... 160

Gambar 7.7 Plotting nilai pristane dan phytane (Shanmugam, 1985)


pada seluruh sampel minyak bumi dan sampel batuan
induk. Dapat terlihat bahwa terdapat dua kelompok
minyak bumi – batuan induk yaitu kelompok 1 (kotak
berwarna biru) dan kelompok 2 (kotak berwarna merah).

xvii
Kelompok 1 terlihat lebih mengalami biodegradasi,
sedangkan kelompok 2 lebih matang. ................................. 162

Gambar 7.8 Plotting antara pris/phy terhadap pris/nC17 (Hatem dkk.,


2016) pada seluruh sampel minyak bumi dan sampel
batuan induk. Kedua kelompok sama-sama berasal dari
lingkungan fluvial-delta, tetapi kelompok 1 lebih ke arah
darat sedangkan kelompok 2 lebih ke arah laut................... 163

Gambar 7.9 Data fingerprint kromatogram dari sampel minyak bumi


kelompok 1 yaitu sampel IMH-3 (A) dan IMH-5 (B) dan
batuan induk Sumur IMH-3 (C), IMH-8 (D), dan IMH-14
(E dan F). Sampel minyak bumi dan batuan induk tersebut
memiliki kemiripan kromatogram sehingga dapat
dikatakan saling berkorelasi. Pris merupakan pristane
yang tampak menjadi puncak kromatogram di seluruh
sampel dan Phy merupakan phytane. .................................. 165

Gambar 7.10 Data fingerprint kromatogram sampel minyak bumi


kelompok 2 yang terdiri dari sampel IMH-13 (A) dan
IMH-16 (B) serta sampel batuan induk yang berasal dari
Sumur S (C), Sumur B (D), dan Sumur IMH-17 (E). Pola
kromatogram serupa ditandai oleh semakin bertambah
kedalaman respon detektor menjadi semakin berkurang
menjadi persamaan seluruh sampel tersebut sehingga
dapat dikatakan minyak kelompok 2 ini berkorelasi
dengan batuan induk tersebut. ............................................. 166

Gambar 7.11 Migrasi hidokarbon dari batuan induk Formasi Meliat di


Sumur IMH-8 menuju reservoar Formasi Tabul di sumur
IMH-3. Migrasi hidrokarbon berasal dari arah Barat ke
Timur yang dibantu oleh keberadaan struktur growth fault
di dekat sumur IMH-3. .................................................. 170

Gambar 7.12 Migrasi hidokarbon dari batuan induk Sumur IMH-8


menuju reservoar di sumur IMH-5. Migrasi hidrokarbon
berasal dari Formasi Meliat dari arah Barat Daya ke Timur
Laut yang dibantu oleh keberadaan struktur growth fault. .. 170

Gambar 7.13 Migrasi hidrokarbon kelompok 2 yang berasal dari batuan


induk Sumur IMH-17 menuju reservoar di Sumur IMH-
16. Migrasi berlangsung dari arah Timur ke Barat yang
dibantu oleh keberadaan beberapa struktur growth fault. ... 173

Gambar 7.14 Burial history dari Sumur IMH-17. Dapat terlihat bahwa
batuan induk Formasi Santul telah mencapai kematangan

xviii