Sunteți pe pagina 1din 23

ASUHAN KEPERAWATAN SISTEM PENCERNAAN DEWASA

PADA PENYAKIT DISPEPSIA

DISUSUN OLEH :

Kelompok 3

ALFINA NORA

ANNISA ZAHRA

APRILLIA DHEANA PUTRI

ASTRI PUTRI UTAMI

DARA JINGGA

DIAN RESTUTI

FADHILLAH ELKHUSNA

FAJAR ROMADAN

FEBRI MUTHIA

SHAFIRA HASANAH

SUCI WAHYU BUSTA

TIKA YULASNI

YUMIKO PASTIKA

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG
2018
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dispepsia adalah masalah saluran pencernaan dengan gejala yaitu nyeri abdomen
kuadran kanan bawah abdomen. Tanda lainnya yang ditemui adalah anoreksia hampir selalu
ditemui yaitu sekitar 95% dari pasien dan kemudian baru diikuti nyeri perut. Prevalensi penyakit
dispepsia beragam, sebagian besar penelitian menunjukkan, hampir 25 % orang dewasa
mengalami gejala dyspepsia pada suatu waktu dalam hidupnya. Suatu survey menyebutkan,
sekitar 30% orang yang berobat ke dokter umum disebabkan gangguan saluran cerna terutama
dyspepsia. Dan 40 – 50 % yang datang ke specialis disebabkan gangguan pencernaan, terutama
dyspepsia. Di Indonesia diperkirakan 30% kasus pada praktek umum dan 60% pada praktek
spesialis merupakan kasus dispepsia. Di Amerika, prevalensi dispepsia sekitar 25%, tidak
termasuk pasien dengan keluhan refluks. Keluhan dispepsia merupakan keadaan klinis yang
sering dijumpai dalam praktek praktis sehari-hari

Dispepsia masih menimbulkan masalah kesehatan karena merupakan masalah kesehatan


yang kronik dan memerlukan pengobatan jangka panjang sehingga meningkatkan biaya
perobatannya. Maka dari itu penting untuk mengetahui dan memahami aspek yang tepat untuk
ketepatan perawatan pada pasien dyspepsia. Sebagai seorang perawat harus siap dalam
memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan proses keperawatan diantaranya pengkajian,
diagnosa, intervensi, implementasi dan evaluasi. Diagnosa keperawatan yang tepat dan juga
merupakan landasan umum sebagai perawat yaitu berasal dari NANDA, NOC dan NIC. maka
dari itu penyusun membuat makalah ini sebagai penunjang pemberian asuhan keperawatan
kepada pasien dyspepsia.

B. Tujuan
1. Mengetahui defenisi dari penyakit dipepsia
2. Mengetahui anatomi dan fisiologi dari penyakit dipepsia
3. Mengetahui etiologi dari penyakit dipepsia
4. Mengetahui manifestasi klinis dari penyakit dipepsia
5. Mengetahui komplikasi dari penyakit dipepsia
6. Mengetahui patofisiologi dari penyakit dipepsia
7. Mengetahui woc dari penyakit dipepsia
8. Mengetahui pemerisaan penunjang dari penyakit dipepsia
9. Mengetahui penatalaksanaan non farmakologis dan farmakologis dari penyakit dipepsia
10. Mengetahui asuhan keperawatan dari penyakit dipepsia
BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. KONSEP PATOFISIOLOGI PENYAKIT


1. Pengertian

Dispepsia berasal dari bahasa Yunani (Dys) berarti sulit dan Pepse berarti pencernaan.
Dispepsia merupakan kumpulan keluhan/gejala klinis yang terdiri dari rasa tidak enak/sakit di
perut bagian atas yang menetap atau mengalami kekambuhan keluhan refluks gastroesofagus
klasik berupa rasa panas di dada (heartburn) dan regurgitasi asam lambung kini tidak lagi
termasuk dispepsia (Mansjoer A edisi III, 2000 hal : 488). Pengertian dipepsia terbagi dua :
(Mansjoer Arif, 2001).

a. Dispepsia organik,bila telah di ketahui adanya kelainan organik sebagai penyebabnya.


b. b. Dispepsia nonorganik atau dispepsia fungsional,atau dispepsia nonulkus,bila tidak
jelas penyebabnya.

Dispepsia mengacu pada rasa kenyang yang tidak mengenyangkan sesudah makan, yang
berhubungan dengan mual, sendawa, nyeri ulu hati dan mungkin kram dan begah perut. Sering
kali diperberat oleh makanan yang berbumbu, berlemak atau makanan berserat tinggi, dan oleh
asupan kafein yang berlebihan, dispepsia tanpa kelainan lain menunjukkan adanya gangguan
fungsi pencernaan (Williams & Wilkins, 2011).

Dispepsia merupakan kumpulan gejala atau sindrom yang terdiri dari nyeri ulu hati,
mual,kembung, muntah, rasa penuh, atau cepat kenyang, sendawa

2. Anatomi & Fisiologi


Anatomi

Lambung terletak oblik dari kiri ke kanan menyilang di abdomen atas tepat dibawah
diafragma. Dalam keadaan kosong lambung berbentuk tabung J, dan bila penuh berbentuk
seperti buah alpukat raksasa. Kapasitas normal lambung 1 sampai 2 liter. Secara anatomis
lambung terbagi atas fundus, korpus dan antrum pilorus. Sebelah atas lambung terdapat
cekungan kurvatura minor, dan bagian kiri bawah lambung terdapat kurvatura mayor. Sfingter
kedua ujung lambung mengatur pengeluaran dan pemasukan. Sfingter kardia atau sfingter
esofagus bawah, mengalirkan makanan yang masuk kedalam lambung dan mencegah refluks isi
lambung memasuki esofagus kembali. Daerah lambung tempat pembukaan sfingter kardia
dikenal dengan nama daerah kardia. Disaat sfingter pilorikum berelaksasi makanan masuk
kedalam duodenum, dan ketika berkontraksi sfingter ini akan mencegah terjadinya aliran balik
isis usus halus kedalam lambung.

Lambung terdiri dari empat lapisan yaitu :

1. lapisan peritoneal luar yang merupakan lapisan serosa.


2. Lapisan berotot yang terdiri atas 3 lapisan :
a) Serabut longitudinal, yang tidak dalam dan bersambung dengan otot esophagus.
b) Serabut sirkuler yang palig tebal dan terletak di pylorus serta membentuk otot
sfingter, yang berada dibawah lapisan pertama.
c) Serabut oblik yang terutama dijumpai pada fundus lambunh dan berjalan dari
orivisium kardiak, kemudian membelok kebawah melalui kurva tura minor (lengkung
kelenjar).
3. Lapisan submukosa yang terdiri atas jaringan areolar berisi pembuluh darah dan saluran
limfe.
4. Lapisan mukosa yang terletak disebelah dalam, tebal, dan terdiri atas banyak kerutan/
rugae, yang menghilang bila organ itu mengembang karena berisi makanan. Ada
beberapa tipe kelenjar pada lapisan ini dan dikategorikan menurut bagian anatomi
lambung yang ditempatinya. Kelenjar kardia berada dekat orifisium kardia. Kelenjar ini
mensekresikan mukus. Kelenjar fundus atau gastric terletak di fundus dan pada hampir
selurus korpus lambung. Kelenjar gastrik memiliki tipe-tipe utama sel. Sel-sel zimognik
atau chief cells mensekresikan pepsinogen. Pepsinogen diubah menjadi pepsin dalam
suasana asam. Sel-sel parietal mensekresikan asam hidroklorida dan faktor intrinsik.
Faktor intrinsik diperlukan untuk absorpsi vitamin B 12 di dalam usus halus. Kekurangan
faktor intrinsik akan mengakibatkan anemia pernisiosa. Sel-sel mukus (leher) ditemukan
dileher fundus atau kelenjar-kelenjar gastrik. Sel-sel ini mensekresikan mukus. Hormon
gastrin diproduksi oleh sel G yang terletak pada pylorus lambung. Gastrin merangsang
kelenjar gastrik untuk menghasilkan asam hidroklorida dan pepsinogen. Substansi lain
yang disekresikan oleh lambung adalah enzim dan berbagai elektrolit, terutama ion-ion
natrium, kalium, dan klorida.
Persarafan lambung sepenuhnya otonom. Suplai saraf parasimpatis untuk lambung dan
duodenum dihantarkan ke dan dari abdomen melalui saraf vagus. Trunkus vagus
mempercabangkan ramus gastrik, pilorik, hepatik dan seliaka. Pengetahuan tentang anatomi ini
sangat penting, karena vagotomi selektif merupakan tindakan pembedahan primer yang penting
dalam mengobati tukak duodenum.

Persarafan simpatis adalah melalui saraf splenikus major dan ganlia seliakum. Serabut-
serabut aferen menghantarkan impuls nyeri yang dirangsang oleh peregangan, dan dirasakan di
daerah epigastrium. Serabut-serabut aferen simpatis menghambat gerakan dan sekresi lambung.
Pleksus saraf mesentrikus (auerbach) dan submukosa (meissner) membentuk persarafan intrinsik
dinding lambung dan mengkordinasi aktivitas motoring dan sekresi mukosa lambung.

Seluruh suplai darah di lambung dan pankreas (serat hati, empedu, dan limpa) terutama
berasal dari daerah arteri seliaka atau trunkus seliaka, yang mempecabangkan cabang-cabang
yang mensuplai kurvatura minor dan mayor. Dua cabang arteri yang penting dalam klinis adalah
arteri gastroduodenalis dan arteri pankreas tikoduodenalis (retroduodenalis) yang berjalan
sepanjang bulbus posterior duodenum. Tukak dinding postrior duodenum dapat mengerosi
arteria ini dan menyebabkan perdarahan. Darah vena dari lambung dan duodenum, serta berasal
dari pankreas, limpa, dan bagian lain saluran cerna, berjalan kehati melalui vena porta.

Fisiologi

1. Mencerna makanan secara mekanikal.


2. Sekresi, yaitu kelenjar dalam mukosa lambung mensekresi 1500 – 3000 mL gastric juice
(cairan lambung) per hari. Komponene utamanya yaitu mukus, HCL (hydrochloric acid),
pensinogen, dan air. Hormon gastrik yang disekresi langsung masuk kedalam aliran
darah.
3. Mencerna makanan secara kimiawi yaitu dimana pertama kali protein dirobah menjadi
polipeptida
4. Absorpsi, secara minimal terjadi dalam lambung yaitu absorpsi air, alkohol, glukosa,
dan beberapa obat.
5. Pencegahan, banyak mikroorganisme dapat dihancurkan dalam lambung oleh HCL.
6. Mengontrol aliran chyme (makanan yang sudah dicerna dalam lambung) kedalam
duodenum. Pada saat chyme siap masuk kedalam duodenum, akan terjadi peristaltik
yang lambat yang berjalan dari fundus ke pylorus.

3. Etiologi

penyebab dari dispepsia antara lain menelan udara (aerofagi), regurgitasi (alir balik, refluks)
asam dari lambung, iritasi lambung (gastritis), ulkus gastrikum atau ulkus duodenalis, kanker
lambung, peradangan kandung empedu (kolesistitis), intoleransi laktosa (ketidakmampuan
mencerna susu dan produknya, kelainan gerakan usus, kecemasan atau depresi, perubahan
pola makan dan pengaruh obat- obatan yang dimakan secara berlebihan dan dalam waktu yg
lama, alkohol nikotin rokok

4. Manifestasi Klinis

a. Nyeri perut (abdominal discomfort)


b. Rasa perih di ulu hati
c. Mual. Kadang-kadang sampai muntah
d. Nafsu makan berkurang
e. Rasa lekas kenyang
f. Perut kembung
g. Rasa panas di dada dan perut
h. Reguritasi (keluar cairan lambung secara tiba-tiba)

5. Komplikasi

a. Mal nutrisi
b. Dehidrasi
c. Syok bila perdarahan massif

6. Patofisiologi

Perubahan pola makan yang tidak teratur, obat-obatan yang tidak jelas, zat-zat seperti
nikotin dan alcohol serta adanya kondisi kejiwaan stress, pemasukan makanan menjadi kurang
sehingga lambung akan kosong, kekosongan lambung dapat mengakibatkan erosi pada
lambung akibat gesekan antara dinding lambung, kondisi demikian akan mengakibatkan
peningkatan produksi HCL yang akan merangsang terjadinya kondisi asam pada lambung
sehingga ransangan di medulla oblongata membawa impuls muntah sehingga intake tidak
adekuat baik makanan maupun cairan

Patofisiologi dispepsia terutama dispepsia fungsional dapat terjadi karena bermacam-


macam penyebab dan mekanismenya. Penyebab dan mekanismenya dapat terjadi sendiri atau
kombinasinya. Pembagian dispepsia berdasarkan gejalanya, seperti tercantum diatas, adalah
untuk panduan manajemen awal terutama untuk dispepsia yang tidak terinvestigasi.
Patofisiologinya yang dapat dibahas disini adalah : (Rudi Haryono, 2012)

1. Sekresi asam lambung dan keasaman duodenum


Hanya sedikit pasien dispepsia fungsional yang mempunyai hipersekresi asam lambung
dari ringan sampai sedang. Beberapa pasien menunjukkan gangguan bersihan asam dari
duodenum dan meningkatnya sensitivitas terhadap asam. Pasien yang lain menunjukkan
buruknya relaksasi fundus terhadap makanan. Tetapi paparan asam yang banyak di duodenum
tidak langsung berhubungan dengan gejala pada pasien dengan dispepsia fungsional.

2. Infeksi Helicobacter pylori


Prevalensi dan tingkat keparahan gejala dispepsia serta hubungannya dengan patofisiologi
gastrik mungkin diperankan oleh H pylori. Walaupun penelitian epidemiologis menyimpulkan
bahwa belum ada alasan yang meyakinkan terdapat hubungan antara infeksi H pylori dan
dispepsia fungsional. Tidak seperti pada ulkus peptikum, dimana H pylori merupakan
penyebab utamanya.

3. Perlambatan pengosongan lambung


Dua puluh lima sampai empat puluh persen pasien dispepsia fungsional mempunyai
perlambatan waktu pengosongan lambung yang signifikan. Walaupun beberapa penelitian
kecil gagal untuk menunjukkan hubungan antara perlambatan waktu pengosongan lambung
dengan gejala dispepsia. Sebaliknya penelitian yang besar menunjukkan adanya perlambatan
waktu pengosongan lambung dengan perasaan perut penuh setelah makan, mual dan muntah.

4. Gangguan akomodasi lambung


Gangguan lambung proksimal untuk relaksasi saat makanan memasuki lambung
ditemukan sebanyak 40% pada pasien fungsional dispepsia yang akan menjadi transfer
prematur makanan menuju lambung distal.Gangguan dari akomodasi dan maldistribusi
tersebut berkorelasi dengan cepat kenyang dan penurunan berat badan.

5. Gangguan fase kontraktilitas saluran cerna

Gangguan fase kontraksi lambung proksimal terjadi setelah makan dan dirasakan oleh
pasien sebagai dispepsia fungsional. Hubungannya memang belum jelas tetapi mungkin
berkontribusi terhadap gejala pada sekelompok kecil pasien.

6. Hipersensitivitas lambung
Hiperalgesia terhadap distensi lambung berkorelasi dengan nyeri abdomen post prandial,
bersendawa dan penurunan berat badan. Walaupun disfungsi level neurologis yang terlibat
dalam hipersensitivitas lambung masih belum jelas.

7. Disritmia mioelektrikal dan dismotilitas antro-duodenal


Penelitian tentang manometrik menunjukkan bahwa hipomotilitas antrum terdapat pada
sebagian besar pasien dispepsia fungsional tetapi hubungannya tidak terlalu kuat dengan
gejala spesifiknya. Aktivitas abnormal dari mioelektrikal lambung sangat umum ditemukan
pada pasien tersebut, meskipun berkorelasi dengan perlambatan pengosongan lambung tetapi
tidak berkorelasi dengan gejala dispepsianya.

8. Intoleransi lipid intra duodenal


Kebanyakan pasien dispepsia fungsional mengeluhkan intoleransi terhadap makanan
berlemak dan dapat didemonstrasikan hipersensitivitasnya terhadap distensi lambung yang
diinduksi oleh infus lemak ke dalam duodenum. Gejalanya pada umumnya adalah mual dan
perut kembung.

9. Aksis otak – saluran cerna

Komponen afferen dari sistem syaraf otonomik mengirimkan informasi dari reseptor
sistem syaraf saluran cerna ke otak via jalur vagus dan spinal. Di dalam otak, informasi yang
masuk diproses dan dimodifikasi oleh fungsi afektif dan kognitif. Kemudian otak
mengembalikan informasi tersebut via jalur parasimpatik dan simpatik yang akan memodulasi
fungsi akomodasi, sekresi, motilitas dan imunologis.
10. Faktor psikososial
 Korelasi dengan stress
 Korelasi dengan hidup
 Korelasi dengan kelainan psikiatri dan tipe kepribadian
 Korelasi dengan kebiasaan mencari pertolongan kesehatan

11. Dispepsia fungsional pasca infeksi


Hampir 25% pasien dispepsia fungsional melaporkan gejala akut yang mengikuti
infeksi gastrointestinal.
7. WOC

DISPEPSIA

Dispepsia Organik Dispepsia Fungsional

Stress Kopi & alkohol

Respon mukosa lambung


Perangsangan saraf
simpatis NV
(Nervus Vagus)

vasodilatasi mukosa gaster Eksfeliasi


(Pengelupasan)

↑ Produksi HCL di
lambung

HCL kontak dengan Ansietas


mukosa gaster

Mual
Perubahan pada
Ketidakseimban Nyeri kesehatan
gan nutrisi
kurang dari Muntah
kebutuhan Defisiensi
Nyeri b.d agen cedera pengetahuan
biologis

Kekurangan volume
cairan
8. Pemeriksaan Diagnostik
a. Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium perlu dilakukan lebih banyak ditekankan untuk
menyingkirkan penyebab organik lainnya seperti: pankreatitis kronik, diabets mellitus,
dan lainnya. Pada dispepsia fungsional biasanya hasil laboratorium dalam batas normal.
b. USG (ultrasonografi)
Merupakan diagnostik yang tidak invasif, akhir-akhir ini makin banyak dimanfaatkan
untuk membantu menentukan diagnostik dari suatu penyakit, apalagi alat ini tidak
menimbulkan efek samping, dapat digunakan setiap saat dan pada kondisi klien yang
beratpun dapat dimanfaatkan
c. Radiologis
Pemeriksaan radiologis banyak menunjang dignosis suatu penyakit di saluran makan.
Setidak-tidaknya perlu dilakukan pemeriksaan radiologis terhadap saluran makan bagian
atas, dan sebaiknya menggunakan kontras ganda.
d. Tes Darah
Hitung darah lengkap dan LED normal membantu menyingkirkan kelainan serius.
Hasil tes serologi positif untuk Helicobacter pylori menunjukkan ulkus peptikum namun
belum menyingkirkan keganasan saluran pencernaan.
e. Endoskopi (esofago-gastro-duodenoskopi)
Endoskopi adalah tes definitive untuk esofagitis, penyakit epitellium Barret, dan
ulkus peptikum. Biopsi antrum untuk tes ureumse untuk H.pylori (tes CLO).
Endoskopi adalah pemeriksaan terbaik masa kini untuk menyingkirkan kausa organik
pada pasien dispepsia. Namun, pemeriksaan H. pylori merupakan pendekatan bermanfaat
pada penanganan kasus dispepsia baru. Pemeriksaan endoskopi diindikasikan terutama
pada pasien dengan keluhan yang muncul pertama kali pada usia tua atau pasien dengan
tanda alarm seperti penurunan berat badan, muntah, disfagia, atau perdarahan yang
diduga sangat mungkin terdapat penyakit struktural.
Pemeriksaan endoskopi adalah aman pada usia lanjut dengan kemungkinan
komplikasi serupa dengan pasien muda. Menurut Tytgat GNJ, endoskopi
direkomendasikan sebagai investigasi pertama pada evaluasi penderita dispepsia dan
sangat penting untuk dapat mengklasifikasikan keadaan pasien apakah dispepsia organik
atau fungsional. Dengan endoskopi dapat dilakukan biopsy mukosa untuk mengetahui
keadaan patologis mukosa lambung.
9. Penatalaksanaan

a. Penatalaksanaan non farmakologis


 Menghindari makanan yang dapat meningkatkan asam lambung
 Menghindari factor resiko seperti alcohol, makanan yang pedas, obat-obatan yang
berlebihan, nikotin rokok dan stress
 Atur pola makan
 Kebiasaan makanan teratur dengan makanan sedikit-sedikit dan sering, duduk atau
berjalan-jalan setelah makan; naikan kepala setelah berbaring
 Pemberian antacid secara intensif untuk 2 minggu pertama, kemudian kurangi
berangsur-angsur untuk mengendalikan gejala-gejala

b. Penatalaksanaan farmakologis
Sampai saat ini belum ada regiman pengobatan yang memuaskan terutama dalam
mengantisipasi kekambuhan. Hal ini dapat dimengerti karena proses patofisiologinya pun
masih belum jelas. Dilaporkan bahwa sampai 70% kasus reponsif terhadap placebo.

Obat-obatan yang di berikan meliputi antacid (menetralkan asam lambung) golongan


antikolinergik (menghambat pengeluaran asam lambung) dan prokinetik (mencegah terjadinya
muntah). Sebagai contoh cimetidine, ranitidine atau famotidine, dapat di coba untuk jangka
waktu singkat.

Bila orang tersebut terinfeksi Helicobacter pylori di lapisan lambungnya, maka biasanya di
berikan bismuth subsalisilate dan antibiotik seperti amoxillin atau metronidazole
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Identitas
Biasanya terjadi pada setiap usia dan jenis kelamin

b. Riwayat Kesehatan
Pengkajian Riwayat Kesehatan
1. Keluhan Utama
Biasanya pasien merasa nyeri/pedih pada epigastrium disamping atas dan bagian
samping dada depan epigastrium, mual, muntah dan tidak nafsu makan, kembung,
rasa kenyang.
2. Riwayat Kesehatan Dahulu
Biasanya terjadi karena adanya stress psikologis, riwayat minum-minuman
beralkohol dan pola makan yang tidak teratur.
3. Riwayat Kesehatan Sekarang
Biasnaya terjadi karena keadaan emosional klien bisa terlalu stres, Sering nyeri
pada daerah epigastrium, klien sering mual dan muntah, klien mengalami
kelelahan.
4. Riwayat Kesehatan Keluarga
Adakah anggota keluarga yang lain juga pernah menderita penyakit saluran
pencernaan

c. Dasar pengkajian Gejala Dispepsia pada Klien


1. Terdapat nyeri pada daerah epigastrium
2. Pada saat Auskultasi Peristaltik sangat lambat dan hampir tidak terdengar
(<5x/menit)
3. Produksi HCL lambung meningkat

d. Pola Kebiasaan Sehari – hari


1. Pola persepsi manajemen kesehatan
Perawat perlu mengkaji tentang bagaimana penanganan kesehatan klien ketika sakit
dan bagaimana persepsi klien terhadap penyakitnya, apakah klien ada memeriksakan
diri ke klinik terdekat sebelum dibawa kerumah sakit atau klien percaya kepada hal-
hal gaib pada klien dispepsia.
2. Pola nutrisi metabolic
Perawat perlu mengkaji bagaimana pola nutrisi metabolic klien, berapa kali klien
makan sehari, bagaimana nafsu makan klien,menurun atau meningkat, bagaimana
dengan BB klien, apakah ada perubahan
3. Pola Eliminasi
Perawat perlu mengkaji bagaimana BAB dan BAK klien, konsistensinya, warnanya,
berapa kali klien BAB dan BAK dalam sehari, apakah klien pakai alat bantu defekasi
dan miksi
4. Pola aktivitas dan latihan
Bagimana pola aktivitas klien apakah klien mandiri atau beraktivitas dibantu oleh
keluarga
5. Pola istirahat dan tidur
Perawat perlu mengkaji lebih lanjut seperti berapa lama klien biasanya tidur dalam
sehari,jam berapa klien biasanya klien tidur, serta apakah ada gangguan dalam
tidurnya
6. Pola persepsi kognitif
Perawat harus mengkaji dan memeriksa bagaimana respon penglihatan, pendengaran,
reseptor nyeri dan respon alat indra lainya, kemampuan berpikir klien, apakah klien
bisa membuat keputusan.
7. Pola persepsi diri
Perawat perlu mengkaji apakah klien mengalami trauma, bagaimana klien
memandang dirinya.
8. Pola Koping dan toleransi stress
Perawat perlu mengkaji bagaimana manajemen stress klien. Apa yang biasa
dilakukan klien ketika stress
9. Pola peran hubungan
Perawat perlu mengkaji bagaimana hubungan klien didalam keluarganya, apakah
klien mengalami kesulitan dalam menjalankan perannya.
10. Pola reproduksi seksual
Perawat perlu mengkaji bagaimana pola seksual klien. Apakah klien sudah
mempunyai anak.
11. Pola keyakinan
Pola keyakinan perlu dikaji oleh perawat terhadap klien agar kebutuhan spiritual klien
data dipenuhi selama proses perawatan klien di RS. Kaji apakah ada pantangan
agama dalam proses pengobatan klien.

e. Pemeriksaan Fisik
1) Inspeksi
Klien tampak kesakitan, berat badan menurun, kelemahan dan cemas,
2) Palpasi
Nyeri tekan daerah epigastrium, turgor kulit menurun karena pasien sering
muntah
3) Auskultasi
Peristaltik sangat lambat dan hampir tidak terdengar (<5x/menit)
4) Perkusi
Pekak karena meningkatnya produksi HCl lambung dan perdarahan akibat
perlukaan

2. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri akut b.d agen cedera biologis
b. Kekurangan volume cairan b.d kekurangan cairan volume aktif
c. kekurangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d. ketidakmampuan mencerna
makanan
d. defisienssi pengetahaun b.d. kurang sumbe pengetahuan
e. Ansietas

3. Intervensi Keperawatan

NO Dx Keperawatan NOC NIC


1 Nyeri akut b.d agen kontrol nyeri Pemberiaan Analgesik
cedera biologis indicator : Aktivitas – aktovitas :
1. Mengenali kapan  Tentukan lokasi, karakteristik,
nyrti terjadi kualitas dan keparahan nyeri sebelum
3–4 mengobati
2. Mengambarkan  Cek perintah pengobatan meliputi
faktor penyebab obat, dosis dan frekuensi analgesik
3–4 yang diberikan
3. Menggunakan  Cek adanya riwayat alergi obat
tindakan  Evaluasi kemampuan klien untuk
pencegahan berperan serta pemulihan analgesik
2–3  Pilih analgesik atau kombinasi
4. Menggunakan analgesic sesuai ketika lebih dari satu
tindakan di berikan
pengurangan  Berikan kebutuhan kenyamanan dan
(nyeri) tampa aktivitas lain yang dapat membantu
analgesik ralaksasi untuk membantu
3–4 memfasilitasi kebutuhan nyeri
5. Melaporkan  Berikan analgesi sesuai waktu
perubahan paruhnya, terutama pada nyeri yang
terhadap gejala berat
nyeri pada Manajemen nyeri
professional Aktivitas – aktivitas :
kesehatan  Lakukan pengkajian nyeri
3–4 komprehensif
6. Mengenali apa
 Obseravasi adanya petunjuk
yang terkait
nonverbal mengenai
dengan gejala
ketidaknyamanan terutama pada
nyeri 2 – 3
kepada mereka yang dapat
berkomunikasi
 Pastikan perawatan analgesik bagi
pasien dilakukan dengan pamantauan
yang ketat
 Gali pengetahuan dan kepercayaan
pasien mengenai nyeri
 Pertimbangkan pengeruh budaya
terhadap respon nyeri
 Tentukan akibat dan pengalaman
nyeri terhadap kualitas hidup pasien
 Gali berdama klien fakor – faktor
yang dapat menurunkan atau
memperberat nyeri
 Bantu keluarga dalam mencari atau
menyediakan dukuangan
2 kekurangan nutrisi Status Nutrisi Manajemen Nutris
kurang dari 1. Asupan gizi Aktivitas – aktivitas :
kebutuhan tubuh 2. Asupan makanan  Tentukan status gizi pasien dan
b.d. 3. Asupan cairan kemampuan untuk memenuhi
ketidakmampuan 4. Energi kebutuhan gizi
mencerna makanan 5. Perbandingan berat  Identifikasi alergi makanan pada
tinggi pasien atau intoleransi
6. Hidrasi  Tentukan preferensi makanan pasien
 Anjurkan pasien tentang kebutuhan
nutrisi (yaitu , membahas pedoman
diet dan piramida makanan)
 Bantu pasien dalam menentukan
pedoman atau piramida makanan
(misalnya , piramida makanan
vegetarian , panduan piramida
makanan, dan piramida makanan
untuk pasien berusia lebih dari 70
tahun) yang paling cocok dalam
memenuhi kebutuhan gizi dan pilihan
pasien
 Tentukan jumlah kalori dan jenis
nutrisi yang dibutuhkan untuk
memenuhi kebutuhan nutrisi
 Berikan makanan pilihan sambil
menawarkan bimbingan terhadap
pilihan yang lebih sehat , jika perlu
 Atur pola makan , yang diperlukan (
yaitu , menyediakan makanan
berprotein tinggi, menyarankan
menggunakan bumbu dan rempah-
rempah sebagai alternatif untuk
garam, menyediakan pengganti gula ,
meningkatkan atau menurunkan
kalori, menambah atau mengurangi
vitamin , mineral , atau suplemen )
 Dorong keluarga untuk membawa
makanan kesukaan pasien selama di
rumah sakit atau perawatan fasilitas ,
jika perlu
 Tawarkan makanan ringan padat
nutrisi
 Pastikan diet yang menyertakan
makanan tinggi kandungan serat
untuk mencegah konstipasi
 Pantau kalori dan asupan makanan
 Pantau penurunan dan kenaikan berat
badan
 Anjurkan pasien untuk memonitor
kalori dan asupan makanan (
misalnya , buku harian makanan )
 Anjurkan persiapan makanan yang
aman
Terapi Nutrisi
Aktivitas – aktivitas :
 Mengontrol penyerapan
makanan/cairan dan menghitung
intake kalori harian, jika diperlukan
 Memantau ketepatan urutan makanan
untuk memenuhi kebutuhan nutrisi
harian
 Menetapkan dalam kolaborasi dengan
ahli diet,banyaknya kalori dan tipe
kebutuhan nutrisi untuk memenuhi
kebutuhan nutrisi
 Menentukan jimlah kalori dan jenis
zat makanan yang diperlukan untuk
memenuhi kebutuhan nutrisi, ketika
berkolaborasi dengan ahli makanan,
jika diperlukan
 Memilih suplemen nutrisi, jika
diperlukan
 Menetukan kebutuhan makanan
saluran nasogastric
 Memastikan mengonsumsi makanan
berupa makanan yang tinggi serat
untuk mencegah konstipasi
 Memberi pasien makanan dan
minuman tinggi protein, tinggi kalori,
dan bernutrisi yang siap dikonsumsi,
jika diperlukan
 Membantu pasien untuk memilih
makanan lembut, lunak dan tidak
asam, jika diperlukan
 Mengatur pemasukan makanan, jika
diperlukan
 Anjurkan membawa makanan
dimasak dari rumah ke institusi, jika
diperlukan
 Memberi makanan yang menarik,
dengan cara yang menyenangkan,
memberikan tambahan warna,
tekstur, dan variasi
 Mengajarkan pasien dan keluarga
tentang memilih makanan.
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Dispepsia mengacu pada rasa kenyang yang tidak mengenyangkan sesudah makan, yang
berhubungan dengan mual, sendawa, nyeri ulu hati dan mungkin kram dan begah perut. Sering
kali diperberat oleh makanan yang berbumbu, berlemak atau makanan berserat tinggi, dan oleh
asupan kafein yang berlebihan, dyspepsia tanpa kelainan lain menunjukkan adanya gangguan
fungsi pencernaan (Williams & Wilkins, 2011).

B. SARAN
1. Bagi institusi pelayanan kesehatan

Diharapkan institusi pelayanan kesehatan dapat meningktakan kualitas pelayanan

kesehatan sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) diberbagai rumah sakit.

2. Bagi tenaga kesehatan

Diharapkan tenaga kesehatan menyadari pentingnya penerapan asuhan keperawatan

yang konsisten dan sesuai dengan teori dalam memberikan asuhan keperawatan kepada

pasien, sehingga pasien akan mendapatkan perawatan yang holistik dan komprehensif.

3. Bagi institusi pendidikan

Diharapkan agar dapat meningkatkan mutu pelayanan pendidikan yang berkualitas dan

professional. guna terciptanya perawat-perawat profesiaonal, terampil, cekatan dan handal

dalam memberikan asuhan keperawatan.


DAFTAR PUSTAKA

Arthur C, Guyton (2007) Buku ajar fisiologi kedokteran: Jakarta: Buku Kedokteran EGC
Arif,Mansjoer (2001) Kapita selekta kedokteran. Edisi ke 3 jilid 2, Media Aesculapius, FKUI,
Jakarta.

Almatsier (2004) Perinsip Dasar Ilmu Gizi, Cetakan ke 4, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Brunner & Suddart (2002) Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8 Vol. 2 jakarta, EGC Inayah
lin, 2004, Asuhan Keperawatan pada klien dengan ganguan sistem pencernaan, edisi
pertama, Jakarta, Salemba Medika.

Dwijayanti dkk (2008) Asupan Natrium Dan Kalium Berhubungan dengan Prekuensi
Kekambuhan Sindrom Dispepsia Fungsional. Jurnal Gizi klinik Indonesia.

Doengoes, E. Marilyn (2000) Rencana Asuhan keperawatan edisi 3 Jakarta: EGC Haryono,
Rudi (2012). Keperawatan Medikal Bedah Sistem Pencernaan. Yogyakarta. Hadi, S (2009)
Gastrointerologi. Bandung, P. P. Jakarta

Muttaqin, Arif (2011) Gangguan Gastrointestinal Aplikasi Asuhan Keperawatan Medikal


Bedah. Jakarta: Salemba Medika

Nugroho, Dr. Taufan (2011) Asuhan keperawatan Maternitas, Anak, Bedah, Penyakit Dalam.
Nuha Medika; Yogyakarta

Potter & Perry (2005) Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep Proses dan
praktif. Jakarta: EGC
Saputra, dr. Lyndon (2009) Kapita Selekta Kedokteran Klinik. Ciputat- Tanggerang
Sydoyono, Aru W. 2006.Buku ajar Ilmu penyakit dalam.Jakarta: FKUI Warpadji, Sarwono,
dkk (1996) Ilmu Penyakit Dalam, edisi 4, Jakarata, FKUI. Wilkinson, M Judith (2007) Buku
Saku Diagnosa Keperawatan Dengan Intervensi

NIC & Kriteria hasil NOC, Jakarta: EGC

S-ar putea să vă placă și