Sunteți pe pagina 1din 16

BAB I

PENDAHULUAN

Dalam sejarah kuno, kepercayaan dan pengobatan berhubungan sangat erat. Salah satu
contoh institusi pengobatan tertua adalah kuil Mesir. Kuil Asclepius di Yunani juga dipercaya
memberikan pengobatan kepada orang sakit, yang kemudian juga diadopsi bangsa Romawi
sebagai kepercayaan. Kuil Romawi untuk Æsculapius dibangun pada tahun 291 SM di
tanah Tiber, Roma dengan ritus-ritus hampir sama dengan kepercayaan Yunani.

Salah satu interior dan ritus peninggalan Kuil Æsculapius

Institusi yang spesifik untuk pengobatan pertama kali,


ditemukan di India. Rumah sakit Brahmanti (gambar
menunjukkan salah satu interior) pertama kali didirikan di Sri
Lanka pada tahun 431 SM, kemudian Raja Ashokajuga
mendirikan 18 rumah sakit di Hindustan pada 230 SM dengan
dilengkapi tenaga medis dan perawat yang dibiayai anggaran
kerajaan.

1
Rumah sakit pertama yang melibatkan pula konsep pengajaran pengobatan, dengan
mahasiswa yang diberikan pengajaran oleh tenaga ahli, adalah Akademi Gundishapur di
Kerajaan Persia.

Salah satu interior dari Akademi Gundishapur di Kerajaan Persia

Bangsa Romawi menciptakan valetudinaria untuk pengobatan budak, gladiator, dan


prajurit sekitar 100 SM. Adopsi kepercayaan Kristiani turut memengaruhi pelayanan medis di
sana. Konsili Nicea I pada tahun 325 memerintahkan pihak Gereja untuk juga memberikan
pelayanan
kepada
orang-orang
miskin, sakit,
janda, dan
musafir.
Setiap satu
katedral di
setiap kota
harus menyediakan satu pelayanan kesehatan. Salah satu yang pertama kali mendirikan
adalah Saint Sampson di Konstantinopel dan Basil, bishop of Caesarea. Bangunan ini
berhubungan langsung dengan bagunan gereja, dan disediakan pula tempat terpisah untuk
penderita lepra.

2
Rumah sakit abad pertengahan di Eropa juga mengikuti pola tersebut. Di setiap tempat
peribadahan biasanya terdapat pelayanan kesehatan oleh pendeta dan suster (Frase Perancis
untuk rumah sakit adalah hôtel-Dieu, yang berarti "hostel of God."). Namun beberapa di
antaranya bisa pula terpisah dari tempat peribadahan. Ditemukan pula rumah sakit yang
terspesialisasi untuk penderita lepra, kaum miskin, atau musafir.

Rumah sakit dalam sejarah Islam memperkenalkan standar pengobatan yang tinggi pada
abad 8 hingga 12. Rumah sakit pertama dibangun pada abad 9 hingga 10 mempekerjakan 25 staff
pengobatan dan perlakuan pengobatan berbeda untuk penyakit yang berbeda pula. Rumah sakit
yang didanai pemerintah muncul pula dalam sejarah Tiongkok pada awal abad 10.

Perubahan rumah sakit menjadi lebih sekuler di Eropa terjadi pada abad 16 hingga 17.
Tetapi baru pada abad 18 rumah sakit modern pertama dibangun dengan hanya menyediakan
pelayanan dan pembedahan medis. Inggris pertama kali memperkenalkan konsep ini. Guy's
Hospital didirikan di London pada 1724 atas permintaan seorang saudagar kaya Thomas Guy.
Rumah sakit yang dibiayai swasta seperti ini kemudian menjamur di seluruh Inggris Raya. Di
koloni Inggris di Amerika kemudian berdiri Pennsylvania General
Hospitaldi Philadelphia pada 1751. Setelah terkumpul sumbangan £2,000, di Eropa Daratan
biasanya rumah sakit dibiayai dana publik. Namun secara umum pada pertengahan abad 19
hampir seluruh negara di Eropa dan Amerika Utara telah memiliki keberagaman rumah sakit.

Guy’s Hospital, Inggris

3
BAB II ISI

A. SEJARAH RUMAH SAKIT DI DUNIA

Rumah Sakit berasal dari bahasa asing hospital/ hospitalium berarti tamu, yang memang
secara tradisional adalah tempat merawat pasien atau tempat pengasingan penderita penyakit
menular seperti kusta, tuberkulosis, sakit jiwa dan lain-lain. Sejarah rumah sakit dimulai abad
ke-6 sebelum masehi di India dan Mesir, Ceylon (437 SM) dan Raja Asoka (273-232 SM)
yang membangun 18 rumah sakit. Kala itu konsep pengobatan dan perawatan pasien
dilakukan secara sederhana, memakai obat-obatan dengan kombinasi kebatinan. Pengetahuan
mengenai tubuh manusia didapat melalui observasi dan mummi. Di Turki perawatan orang
sakit dilaksanakan di tempat ibadah dengan kombinasi magis. Baru kemudian Rene
Theophile Hyacinthe Laenec (1816) menemukan stetoskop. Rumah sakit berkembang di
Eropa mulai Roma (390), Lyons (542), Paris (660), Inggris (1084), Berlin (1070) sampai
London dengan RS Santo Bartholomeus (1137), yang umumnya dikaitkan dengan gereja dan
sebagai tempat pengasingan pasien penyakit menular seperti lepra atau kusta. Kemudian
dengan berkembangnya kedokteran barat dikenal istilah western medicine sampai dengan
rintisan Florence Nightingle (1854) yang mengkombinasikan dapur dengan kebersihan
lingkungan dan individu, drastis menurunkan angka kematian pasien, membuat
perkembangan pesat rumah sakit di Canada dan benua Amerika. Tercatat rumah sakit di
Mexicocity (1524), Quebec (1839), Manhattan Island (1663), Philadelphia General Hospital
dengan “operating theater” yang kini menjadi museum rumah sakit. Penemuan teknologi
kedokteran seperti ether (Crawford Long 1842) sebagai obat anestesi, chloroform (Sir James
Simpson 1847), prinsip antiseptik (Lister 1873), steam sterilisasi (Bergman 1886), sarung
tangan karet (Helsped 1890), penemuan bakteri (Koch 1880), penemuan X-ray (1895) dan
physical therapy/penyinaran (1893) membuat revolusi perkembangan rumah sakit dan
meningkatkan jumlah tindakan operasi ribuan kali.

4
B. SEJARAH RUMAH SAKIT DI INDONESIA

Menurut seorang ahli sejarah ekonomi (Purwanto, 1996), pelayanan rumah sakit di Indonesia
telah dimulai sejak awal keberadaan VOC pada dekade ketiga abad XVII, sebagai suatu bagian
tidak terpisahkan dari usaha VOC itu sendiri. Perumahsakitan di Indonesia dimulai sekitar abad
ke-19, waktu pemerintahan Hindia Belanda membangun poliklinik dan tempat perawatan bagi
anggota angkatan bersenjata yang menderita sakit atau luka-luka. Akhirnya berdiri rumah sakit
militer di tempat pemusatan tentara kolonial seperti Jakarta, Semarang dan Surabaya. Rumah
Sakit juga dibangun dalam rangka mengatasi jarak pelayaran yang jauh dari Eropa ke Indonesia
tetapi tidak didukung fasilitas medis yang baik, proses adaptasi iklim dan menghadapi penyakit
tropis.

Boomgard (1996) menyatakan bahwa sejarah rumah sakit di Indonesia tidak dapat
dipisahkan dari perkembangan ilmu kedokteran Barat di Asia yang berlangsung sejak tahun
1649, ketika seorang ahli bedah bernama Caspar Schamberger berada di Edo (saat ini Tokyo)
untuk mengajarkan ilmu bedah kepada orang Jepang. Masa ini merupakan awal dari beralihnya
sistem tradisional kesehatan di Asia yang mengacu pada sistem Cina dan berubah menjadi sistem
Belanda (Akira, 1996). Pengalihan ini berjalan secara lambat. Patut dicatat bahwa pelayanan
kesehatan Barat sering diperuntukkan bagi keluarga bangsawan.

 RUMAH SAKIT TERTUA DI INDONESIA

5
1. RS Dustira
Rs Dustira merupakan rumah sakit tertua di Indonesia, Rumah Sakit Dustira yang
telah berdiri sejak 1887. Rumah sakit yang terletak di jalan Dustira, Cimahi Jawa
Barat ini dulunya diperuntukkan untuk merawat tentara-tentara Belanda yang
bertugas di daerah Cimahi dan sekitarnya.
Pada masa penjajahan Hindia-Belanda, rumah sakit ini bernama Militare Hospital
dengan luas tanah 14 hektar. Rumah sakit ini juga menjadi rujukan bagi
tawanan tentara Belanda dan perawatan tentara Jepang pada masa pendudukan Jepang
(1942-1945). Namun pada tahun 1945-1947, bangunan ini kembali dikuasai oleh
Pemerintah Sipil Hindia Belanda (NICA).

Pada 1949, Militare Hospital diserahkan oleh militer Belanda kepada Tentara
Nasional Indonesia (TNI) yang diwakili oleh Letkol Dokter Kornel Singawinata.
Sejak saat itu rumah sakit ini berganti naman menjadi Rumah Sakit Territorium III
dengan Letkol Dokter Kornel Singawinata sebagai kepala rumah sakit yang pertama.
Tetapi pada tanggal 19 Mei 1956 pada saat perayaan Hari Ulang Tahun Territorium
III/Siliwangi yang ke-10, Panglima Territorium III/Siliwangi, Kolonel Kawilarang,
menetapkan nama rumah sakit ini dengan nama Rumah sakit Dustira.
Menurut dia, ini adalah wujud penghargaan terhadap jasa-jasa Mayor dr. Dustira
Prawiraamidjaya sebagai pejuang di medan perang dan memberikan pertolongan para
korban peperangan terutama untuk wilayah Padalarang. Tetapi pada perkembangan
selanjutnya Rumah Sakit Dustira, bukan saja menerima pasien dari kalangan militer
tapi juga masyarakat umum.

6
2. RS PGI Cikini
Rumah sakit tertua kedua di Indonesia ini telah dibangun pada 15 Maret 1895.
Terletak di jalan Raden Saleh, Jakarta Pusat, bangunan ini dulunya adalah rumah
pelukis kenamaan Raden Saleh. Saat itu, misionaris Belanda Dominee Cornelis de
Graaf dan isterinya, Ny. Adriana J de Graaf-Kooman mendirikan Vereeniging Voor
Ziekenverpleging In Indie atau perkumpulan orang sakit di Indonesia. Balai
pengobatan dibuka di Gang Pool (dekat Istana Negara) pada 1 September 1895,
sebagai wadah pelayanan kesehatan. Dominee de Graaf dan isterinya mencari dana
untuk mengawali pekerjaan pelayanan ini memperoleh sumbangan senilai 100.000
gulden dari Ratu Emma (Ratu Belanda saat itu). Dari sumbangan ini maka dibelilah
Istana Pelukis Raden Saleh pada Juni 1897 dan kegiatan pelayanan kesehatan
dialihkan ke gedung ini Pada 12 Januari 1898, pelayanan pun ditingkatkan menjadi
Rumah Sakit dan diresmikan sebagai Rumah Sakit Diakones yang pertama di
Indonesia. Mengingat sebagian besar sumbangan yang diterima berasal dari Ratu
Emma, maka diberi nama dengan Koningin Emma Ziekenhuis (Rumah Sakit Ratu
Emma).

Pada waktu pendudukan Jepang (1942-1945), Rumah Sakit Tjikini dijadikan rumah
sakit untuk Angkatan Laut Jepang (Kaigun). Hingga akhir 1948 RS Cikini
dikembalikan pengelolaannya kepada pihak swasta dipimpin oleh R.F. Bozkelman.
Pada 1957, pengelolaan rumah sakit ini diserahkan kepada DGI (Dewan Gereja-
gereja di Indonesia) dengan Prof. Dr. Joedono sebagai pimpinan sementara.
Selanjutnya diangkat dr. H. Sinaga, sebagai direktur pribumi pertama RS Tjikini.
Yayasan Stichting Medische Voorziening Koningen Emma Ziekenhuis Tjikini

7
kemudian diubah namanya menjadi Yayasan Rumah Sakit DGI Tjikini pada 31 Maret
1989. Ssehubungan dengan perubahan nama DGI menjadi PGI, dan adanya ejaan
Bahasa Indonesia yang disempurnakan, maka nama Yayasan RS DGI Tjikini
disempurnakan menjadi Yayasan Kesehatan PGI Cikini . Kini, RS PGI Cikini
dilengkapi dengan taman yang luas, yang pernah juga berfungsi sebagai Kebun
Botani serta Kebun Binatang yang areanya mencapai lokasi Kampus IKJ, TIM serta
SMP I Cikini (saat ini). Sampai saat ini, lokasi taman yang masih berada di Rumah
Sakit tetap tertata dengan rapih sehingga RS PGI Cikini mendapat sebutan A Garden
Hospital with Loving Touch.

3. RS Dr Soetomo
Sejarah RSUD Dr. Soetomo Surabaya diawali dengan berdirinya Rumah Sakit
Simpang dan Rumah Sakit AL Central Burgerijike Ziekenhuis (CBZ). Rumah Sakit
Simpang terletak di Jalan Pemuda 33 merupakan rumah sakit pendidikan bagi
Fakultas Kedokteran UNAIR yang didirikan tahun 1923. Sedangkan Rumah Sakit AL
Central Burgerijike Ziekenhuis (CBZ) yang terletak di Desa Karang Menjangan
merupakan rumah sakit yang dibangun oleh Kerajaan Belanda pada tahun 1937.

Pada tahun 1943 pada masa penjajahan Jepang, pembangunan rumah sakit
dilanjutkan oleh Jepang. Setelah selesai kemudian didirikan Rumah Sakit AL. Pada 1
September 1948 oleh Pemerintah Belanda Rumah Sakit Simpang diubah menjadi
Roemah Sakit Oemoem Soerabaja. Namun, pada 1950 Roemah Sakit Oemoem
Soerabaja di bawah Departemen Kesehatan RI, ditetapkan sebagai Rumah Sakit
Umum Pusat. Pada 1964 Rumah Umum Pusat Surabaya diubah namanya menjadi
RSUD Dr. Soetomo sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI, tanggal

8
20 Mei 1964 No. 26769/KAB/76. Dan pada 1965, RSUD Dr. Soetomo ditetapkan
menjadi Rumah Sakit kelas A, sebagai rumah sakit pelayanan, pendidikan, penelitian
dan pusat rujukan tertinggi untuk Wilayah Indonesia Timur.

4. RS Immanuel Bandung
Sayangnya tak banyak referensi mengenai rumah sakit ini. Dalam situs RS Immanuel
sendiri, disebutkan, bangunan ini dulunya adalah Balai Pengobatan. Bertempat di
Pasirkaliki, Bandung, pendeta Alkema mengubah tempat kereta kudanya menjadi
tempat pengobatan pada 1900. 10 tahun kemudian, dia diganti oleh Pendeta Yohanes
Iken yang berupaya mendirikan Zending Hospital Immanuel di Jalan Kebonjati.
Selanjutnya, pada 1922, Immanuel pindah ke Situsaeur untuk pengembangan lebih
lanjut. Tepatnya, 1 Juli 1949 kepemilikan diserahkan kepada Gereja Kristen Pasundan
dan beroperasi di bawah pengelolaan Yayasan Badan Rumah Sakit Gereja Kristen
Pasundan (BRS-GKP). Dari 1965 hingga sekarang, RS Immanuel dipergunakan oleh
Universitas Kristen Maranatha sebagai Rumah Sakit Pendidikan.

5. RS Cipto Mangunkusumo
Sebagai pusat rujukan nasional di era Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN), Rumah
Sakit Umum Pusat Nasional (RSUPN) Dr Ciptomangunkusumo, tidak terlepas dari
sejarah Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Situs RSCM mencatat, sejarah
bermula ketika pada 1896, Dr H.Roll ditunjuk sebagai pimpinan pendidikan
kedokteran di Batavia (Jakarta), saat itu laboratorium dan sekolah Dokter Jawa masih
berada pada satu pimpinan. Kemudian pada 1910, Sekolah Dokter Jawa diubah
menjadi STOVIA, cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

9
Pada 19 November 1919 didirikanlah CBZ (Centrale Burgelijke Ziekenhuis) yang
disatukan dengan STOVIA. Sejak saat itu penyelenggaraan pendidikan dan pelayanan
kedokteran semakin maju dan berkembang fasilitas pelayanan kedokteran spesialistik
bagi masyarakat luas. Bulan Maret 1942, saat Indonesia diduduki Jepang, CBZ
dijadikan rumah sakit perguruan tinggi (Ika Daigaku Byongin). Tiga tahun
kemudian, CBZ diubah namanya menjadi Rumah Sakit Oemoem Negeri (RSON),
dipimpin oleh Prof Dr Asikin Widjaya-Koesoema dan selanjutnya dipimpin oleh
Prof.Tamija. Tahun 1950 RSON berubah nama menjadi Rumah Sakit Umum Pusat
(RSUP). Dan pada 17 Agustus 1964, Menteri Kesehatan Prof Dr Satrio meresmikan
RSUP menjadi Rumah Sakit Tjipto Mangunkusumo (RSTM), sejalan dengan
perkembangan ejaan baru Bahasa Indonesia, maka diubah menjadi RSCM.

 PERKEMBANGAN RUMAH SAKIT DI INDONESIA

Ketika Jepang mulai menjajah Indonesia, terjadilah penggantian status rumah sakit
yang ada, seluruhnya diambil alih. Tenaga Belanda digantikan tenaga medis dan paramedis
Indonesia tetapi jabatan kepala rumah sakit dipegang oleh dokter Jepang. Penanganan,
pemilikan dan pengelolaan semua rumah sakit beralih menjadi satu jenis yaitu Rumah Sakit
Pemerintahan Pendudukan. Pendidikan kedokteran ditutup, tetapi tahun 1943 dibuka
kembali, pendidikan perawatan diperpendek.

Pada zaman kemerdekaan pola perawatan, pemilikan dan pengelolaan beralih kembali
mirip zaman kolonial. Umumnya kuratif dan otonom, dikelola dan berkembang sendiri
sesuai kebijakan pengelola/pemiliknya. Kemudian terjadi beberapa perubahan
pengorganisasian dan pengaturan rumah sakit, sampai akhirnya terbentuk model
perumahsakitan yang diharapkan. Orientasi pelayanan kesehatan telah berkembang menjadi
lebih preventif sampai rehabilitatif dari yang dulunya hanya bersifat kuratif. Sedang dari
segi fungsi juga telah berkembang lebih lengkap dari pengobatan, perawatan, pendidikan
sampai menjadi tempat penelitian.

Pemerintah pada tahun 1951 mengatur perawatan, pembagian kelas dan daftar
makanan. Rumah Sakit Pemerintah ditetapkan kelas II, III dan IV, yang dibagi lagi kelas

10
IVa untuk yang bayar, IVb kurang mampu dan IVc gratis. Rumah sakit swasta seluruhnya
ditetapkan kelas I.

Tahun 1953 rumah sakit swasta juga ditetapkan melayani untuk orang miskin,
diberlakukan sistem rujukan pada tahun 1972 dengan membagi rumah sakit atas kelas A, B,
C, D dan E /Khusus. Rumah sakit di lingkungan angkatan bersenjata tahun 1977 ditetapkan
tingkat I, II, III dan IV. Rumah sakit swasta juga ada tingkatan pratama, madya dan utama,
dengan kategori kepemilikan yayasan atau badan keagamaan.

 MANAJEMEN DAN PENDANAAN RUMAH SAKIT DI INDONESIA

Pada masa kekuasaan Daendels terjadi perubahan yang cukup penting. Sejak saat itu
personil militer dibebaskan dari biaya rumah sakit, sedangkan pegawai sipil baru menikmati
pembebasan biaya rumah sakit. Di kalangan penduduk sipil pribumi ada delapan kelompok
yang dinyatakan bebas dari biaya rumah sakit, antara lain pelacur yang ditemukan sakit, orang
gila, penghuni penjara, dan orang sipil yang bekerja pada kegiatan pemerintah. Pada sektor
perkebunan dan pertambangan, biaya rumah sakit para buruh dipotong langsung secara reguler
dari upah yang mereka terima, terlepas dari apakah mereka memanfaatkan pelayanan rumah
sakit ataukah tidak. Sementara itu, rumah sakit milik orang Cina diharuskan membiayai sendiri
dan dana itu terutama diambil dari pajak khusus yang berlaku pada masyarakat Cina pada
waktu itu.

Menurut Purwanto (1996) pada masa awal perkembangan rumah sakit masa VOC sampai
awal abad XIX, pendanaan rumah sakit diperoleh dari subsidi penguasa dan dana yang diambil
dari pasien yang pada dasarnya adalah pegawai VOC. Pada saat itu juga telah berkembang
pemberian pelayanan rumah sakit tergantung kepada kebutuhan dan kemampuan pasien,
terutama yang berhubungan dengan diet yang diterima pasien. Tinggi atau rendahnya tarif yang
diberlakukan sesuai dengan pelayanan dan kebutuhan pasien, sehingga secara tidak langsung
kelas dalam rumah sakit sudah tercipta pada waktu itu.

Pada awal perkembangan rumah sakit masa VOC sampai abad 19, pendanaan rumah

11
sakit diperoleh dari subsidi pemerintah Hindia Belanda dan dana dari pasien pegawai VOC.
Pada saat itu juga telah berkembang pemberian pelayanan rumah sakit tergantung kepada
kebutuhan dan kemampuan pasien. Tinggi atau rendahnya tarif yang diberlakukan sesuai
dengan pelayanan dan kebutuhan pasien, sehingga secara tidak langsung kelas dalam rumah
sakit sudah tercipta. Dengan demikian akar sejarah perumahsakitan menunjukkan
perkembangan rumah sakit di Indonesia berasal dari suatu sistem yang berbasis pada rumah
sakit militer diikuti oleh rumah sakit keagamaan dan kemudian berkembang menjadi rumah
sakit pemerintah serta memperhatikan aspek sosial dan kesehatan masyarakat yang akan
memberikan pengaruh besar pada persepsi masyarakat mengenai rumah sakit.

Rumah sakit swasta, seperti rumah sakit misionaris Kristen dan milik perusahaan pada
mulanya harus membiayai sendiri semua kebutuhan dan sejak tahun 1906 pemerintah sudah
memberikan subsidi secara teratur dalam bentuk bantuan tenaga, peralatan, obat- obatan,
maupun dana. Berdasarkan peraturan tahun 1928, sekitar 60% sampai 70% dari seluruh biaya
operasional rumah sakit milik misionaris Kristen disubsidi oleh pemerintah.

Trisnantoro dan Zebua (2000) menggambarkan keadaan pen- danaan ini melalui sebuah
rumah sakit Zending di Indonesia. Rumah sakit Zending tersebut, pada jaman Belanda (1936)
mendapat subsidi yang cukup besar untuk membiayai rumah sakit. Jumlah penge- luarannya
sebesar F. 218,459.03. Berdasarkan jumlah pengeluaran sebesar itu, sumber pendanaannya
diperoleh dari berbagai sumber dengan rincian sebagai berikut: subsidi dari gubernemen atau
pemerintah (44,5%); dari gereja-gereja di negeri Belanda, dari dokter, dan keuntungan bagian
kelas (19,4%); dari pembayaran pasien rumah sakit (10,7%); Sumbangan Pemerintah
Kasultanan termasuk F. 250 dari Pakualaman (8,4%); sumbangan perusahaan-perusahaan
perke- bunan, N.I.S, pemberian dan iuran Ned. Indie (5,6%); setoran premi pensiun dari
personil (2,4%), dan pengeluaran yang tidak tertutup atau defisit (9%). Dengan demikian,
rumah sakit keagamaan ini mem- punyai subsidi pemerintah dan bantuan dari donor sebesar
kurang lebih 70%-80% dari total sumber pendanaan. Namun, enam puluh tahun kemudian,
rumah sakit tersebut tidak lagi mempunyai subsidi yang substansial untuk membiayai
pelayanannya. Praktis rumah sakit keagamaan tersebut telah menjadi lembaga usaha yang
harus membiayai segala kegiatannya dari pendapatan pasien.

12
Patut dicatat bahwa subsidi pemerintah merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi
sebelum kemerdekaan. Catatan lain, sistem asuransi kesehatan telah dikenal lama dalam
sejarah pelayanan kesehatan di Indonesia. Dalam hal ini, jaminan pelayanan kesehatan oleh
pemerintah merupakan hal yang sudah lama dipraktikkan, sebagaimana dinyatakan dalam
Boomgard (1996), akar sejarah jaminan pelayanan kesehatan oleh pemerintah berdasarkan
pada pemikiran sederhana para pelaut, serdadu, pedagang, dan birokrat yang layak mendapat
pelayanan dari pemerintah karena jauh dari keluarga.

Akar sejarah tersebut menunjukkan bahwa rumah sakit di Indonesia berasal dari suatu
sistem yang berbasis pada rumah sakit militer, yang diikuti oleh rumah sakit keagamaan, dan
kemudian berkembang menjadi rumah sakit pemerintah serta menunjukkan aspek sosial yang
akan memberikan pengaruh besar pada persepsi masyarakat mengenai rumah sakit. Patut
dicatat pula bahwa subsidi pemerintah merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi sebelum
kemerdekaan. Sebagai catatan lain, sistem asuransi kesehatan telah dikenal lama dalam sejarah
pelayanan kesehatan di Indonesia. Dalam hal ini, maka jaminan pelayanan kesehatan oleh
pemerintah meru- pakan hal yang sudah lama dipraktikkan. Sebagaimana dinyatakan oleh
Boomgaard (1996) akar sejarah jaminan pelayanan kesehatan oleh pemerintah berdasarkan
pada pemikiran sederhana para pelaut, serdadu, pedagang, dan birokrat layak mendapat
pelayanan dari pemerintah karena jauh dari keluarga. Berdasarkan pengaruh sejarah, maka
pada awal abad XXI terdapat berbagai jenis pemilik rumah sakit di Indonesia dengan berbagai
kasus yang menarik untuk dibahas.

Saat ini perkembangan organisasi rumah sakit di Indonesia berubah cepat. Dari segi
kepemilikan ada milik pemerintah baik Kementerian Kesehatan, Pemerintah Daerah, TNI Polri
dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Milik swasta yaitu rumah sakit berbentuk yayasan
dan berbadan hukum dan badan hukum yang bersifat sosial kemanusiaan atau nirlaba. Kategori
swasta juga ada rumah sakit milik dokter baik perorangan maupun kelompok dan milik
perusahaan atau konglomerasi yang mempunyai jaringan rumah sakit dengan kekuatan modal.

Dari segi pengelolaan dan manajemen, rumah sakit yang sifatnya rigid/kaku mengikuti
ICW (incomptabilitet wet) kemudian menjadi RS Perusahaan Jawatan, kemudian menjadi RS
Swadana, terus berkembang terakhir menjadi RS Badan Layanan Umum. Inti daripada itu

13
semua adalah memberikan leksibilitas anggaran agar dapat mendukung pelayanan dan
pengembangan rumah sakit yang sifatnya sangat spesiik, unik, khas dan dinamis. Dari segi
pelayanan medik juga berkembang tidak sebatas rawat jalan dan rawat inap, tetapi juga rawat
darurat, rawat intensif, pelayanan singkat one day care, day care sampai dengan home care.

 FUNGSI RUMAH SAKIT DI INDONESIA

Purwanto (1996) menyatakan bahwa pada masa awal rumah sakit di Indonesia secara
eksklusif hanya diperuntukkan bagi orang-orang Eropa. Sampai akhir abad 19, merupakan
rumah sakit militer yang secara eksklusif ditujukan kepada anggota kesatuan militer dan
pegawai VOC atau kemudian pemerintah, baik orang Eropa maupun pribumi. Baru pada masa
berikutnya orang non-Eropa yang bekerja dengan VOC mendapat kesempatan untuk
menggunakan rumah sakit, akan tetapi berbeda tempat, fasilitas, dan pelayanan. Sementara itu,
orang Cina secara eksklusif digiring oleh peraturan VOC maupun oleh Pemerintah Hindia
Belanda untuk mendirikan rumah sakit sendiri sehingga ilmu kedokteran dan pengobatan
tradisional Cina diberlakukan tanpa ada pengaruh terapeutik dan farmakologis barat. Hal ini
berhubungan dengan kebijakan kesehatan penguasa pada waktu itu yang tidak mengindahkan
penduduk pribumi.

Terjadinya wabah penyakit di kalangan rakyat pribumi sangat mempengaruhi kepentingan


penjajah dalam bidang ekonomi maupun kesehatan masyarakat. Kemudian banyak rakyat
pribumi yang diobati dan dirawat, tetapi karena kewalahan mulailah dididik mantri-mantri
cacar dan dokter pribumi di rumah sakit militer tersebut. Rumah sakit militer yang
melaksanakan pendidikan tenaga kesehatan menjadi prototipe dari Rumah Sakit Pendidikan
masa kini. Bahkan kemudian dengan dibukanya pendidikan dokter pribumi menjadi STOVIA
(School Tot Opleiding Van Inlandse Artsen) dan NIAS (Nederlands Indische Artsen School),
rumah sakit pendidikan menjadi berkembang pula.

 STRATEGI DAN OBJEK RUMAH SAKIT DI INDONESIA

Rakyat pribumi yang mendapat pelayanan kesehatan, diperlakukan sebagai bagian dari
upaya melindungi kepentingan orang Eropa. Baru pada awal abad XX pengaruh Barat mulai
ada di rumah sakit yang dikelola oleh orang Cina. Selain itu, penduduk pribumi boleh

14
dikatakan tidak mendapat perhatian dalam masalah pelayanan rumah sakit ini. Walaupun pada
akhir abad XVII ada usaha dari misionaris Kristen untuk memberikan pelayanan kesehatan
kepada anak-anak pribumi, tetapi lingkup dan dampak tindakan ini terlihat kecil. Baru pada
akhir abad XIX suatu usaha sistematis dalam pelayanan rumah sakit kepada penduduk pribumi
dilakukan oleh para misionaris Kristen di Indonesia, yaitu rumah sakit dari berbagai badan
keagamaan yang memprakarsai usaha pengobatan dan perawatan untuk orang miskin dan
membutuhkan seperti Rumah Sakit Kharismatis. Dalam perkembangannya beberapa organisasi
sosial-keagamaan, seperti Muhammadiyah mendirikan rumah sakit sederhana dalam bentuk
pelayanan kesehatan umum seperti yang ada di Yogyakarta dan memberikan pelayanan rumah
sakit untuk penduduk pribumi.

Sejak adanya etische politik yang dilancarkan Van Deventer, pemerintah kolonial mulai
mendirikan rumah sakit umum untuk rakyat yang dimulai dari kota-kota besar. Tahun 1919
dibangun rumah sakit terbesar Centrale Burgelijke Ziekeninrichting (CBZ) di Jakarta.

Keberadaan pendidikan "Dokter Jawa" pada bagian kedua abad XIX mempunyai arti
penting dalam pelayanan rumah sakit untuk penduduk pribumi. Pada masa awal para "Dokter
Jawa" ini hanya memberikan pelayanan kesehatan untuk penduduk sipil pribumi tidak dalam
pengertian pelayanan rumah sakit, akan tetapi setelah peme- rintah mulai membangun rumah
sakit maka para "Dokter Jawa" ini merupakan pendukung utama dari pelayanan rumah sakit
untuk penduduk sipil pribumi (Purwanto, 1996).

Sejak akhir abad XIX terdapat pengembangan rumah sakit swasta yang dikelola oleh
perkebunan besar dan perusahaan pertambangan. Satu catatan yang perlu diperhatikan bahwa
walaupun hampir semua rumah sakit pada awal abad XX sudah membuka pelayanan untuk
penduduk pribumi, pada dasarnya perbedaan secara yuridis formal dalam masyarakat kolonial
tetap tercermin dalam pelayanan rumah sakit.

Ketika terjadi pergeseran kebijakan politik kolonial pada akhir abad XIX dan awal abad
XX, secara langsung berdampak pula pada kebijakan kesehatan pemerintah kolonial yang
berpengaruh terhadap perkembangan pelayanan rumah sakit oleh pemerintah untuk penduduk
pribumi.

15
16