Sunteți pe pagina 1din 100

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. Anatomi dan Fisiologi Pernapasan


Menurut Syaifuddin (2011)
1. Anatomi Pernapasan
a. Hidung
Hidung (nasal) merupakan organ tubuh yang berfungsi sebagai alat
pernapasan (respirasi) dan indra penciuman (pembau). Bentuk dan
struktur hidung menyerupai piramid atau kerucut dengan alasnya
pada prosesus palatinus osis maksilaris dan pars horizontal osis
palatum. Dalam keadaan normal, udara masuk dalam sistem
pernapasan, melalui rongga hidung. Vestibulum rongga hidung
berisi serabut-serabut halus. Epitel vestibulum berisi rambut-
rambut halus yang mencegah masuknya benda-benda asing yang
menganggu proses pernapasan.
b. Faring
Faring atau tekak adalah saluran otot selaput kedudukannya tegak
lurus antara basis kranii dan vertebrae servikalis VI. Hubungan
faring dengan organ-organ lain adalah ke atas berhubungan dengan
rongga hidung, dengan perantaraan lubang yang bernama koana,
kedepan berhubungan dengan rongga mulut, tempat hubungan ini
bernama istmus fausium, ke bawah terdapat 2 lubang (ke depan
lubang laring dan ke belakang lubang esofagus).
c. Laring
Laring atau pangkat tenggorok erupakan jalinan tulang rawan
yang dilengkapi dengan otot, membran, jaringan ikat, dan
ligamentum. Sebelah atas pintu masuk laring membentuk tepi
epiglotis, lipatan dari epiglotis aritenoid dan pita interaritenoid,
dan sebelah bawah tepi bawah kartilago krikoid, yang terdiri dari
tulang-tulang rawan yang berfungsi pada waktu kita menelan
makanan menutupi laring.
d. Trakea
Trakea (batang tenggorok) adalah tabung berbentuk pipa seperti
huruf C yang dibentuk oleh tulang-tulang rawan yang
disempurnakan oleh selaput, terletak di antara vertebrae servikalis
VI sampai ke tepi bawah kartilago krikoidea vertebra torakalis V.
Panjangnya sekitar 13 cm dan diameter 2,5 cm dilapisi oleh otot
polos, mempunyai dinding fibroelastis yang tertanam dalam balok-
balok hialin yang mempertahankan trakea tetap terbuka.
e. Bronkus
Bronkus atau cabang tenggorokan merupakan lanjutan dari trakea,
ada 2 buah yang terdapat pada ketinggian vertebra torakalis IV dan
V, mempunyai struktur serupa dengan trakea. Bronkus berjalan ke
bawah dan ke samping ke arah tampuk paru-paru. Bronkus kanan
lebih pendek dan lebih besar dari pada bronkus kiri, terdiri dari 6-8
cincin, mempunyai 3 cabang. Bronkus kiri lebih panjang dan lebih
ramping dari yang kanan, terdiri dari 9-12 cincin mempunyai 2
cabang. Bronkus bercabang-cabang, cabang yang lebih kecil
disebut bronkiolus (bronkioli).Pada bronkioli tidak terdapat cincin
lagi, dan pada ujung bronkioli terdapat alveoli. Alveoli itu terdiri
atas satu lapis tunggal sel epitelium pipih, dan pada bagian ini
darah langsung bersentuhan dengan udara suatu jaringan pembuluh
darah kapiler mengelilingi alveoli dan hingga terjadi pertukaran
gas. Pembuluh darah dalam paru-paru yaitu arteri pulmonalis
membawa darah yang sudah tidak mengandung oksigen dari
ventikel kanan jantung ke paru-paru, hingga menuju kapiler.
Alirannnya bergerak lambat dan dipisahkan dari udara dalam
alveoli, hanya oleh dua membran yang sangat tipis, maka
pertukaran gas berlangsung dengan difusi, yang merupakan fungsi
pernafasan. Kapiler paru-paru bersatu sehingga menjadi pembuluh
darah yang lebih besar dan akhirnya dua vena pulmonalis
meninggalkan paru-paru membawa darah berisi oksigen ke atrium
kiri jantung untuk didistribusikan keseluruh tubuh melalui aorta.
Arteri bronkialis membawa darah berisi oksigen langsung dari
aorta toraksika ke paru-paru untuk mensuplai oksigen dan nutrisi
ke dalam jaringan paru-paru. Cabang akhir arteri-arteri ini
membentuk pleksus kapiler yang akhirnya bersatu dalam vena
pulmonalis kemudian sebagian darah dialirkan ke bagian paru-
paru oleh vena bronkialis.
f. Paru-paru
Paru-paru merupakan alat pernfasan utama. Paru-paru mengisi
rongga dada. Terletak disebelah kanan dan kiri dan ditengah
dipisahkan oleh jantung beserta pembuluh darah besarnya dan
struktur lainnya yang terletak didalam mediastinum. Paru-paru
adalah organ yang berbentuk kerucut dengan apeks (puncak) diatas
dan bagiannya lebih tinggi daripada clavikula.
Paru-paru mempunyai permukaan luar yang menyentuh iga-iga,
Paru-paru dibagi menjadi beberapa lobus oleh fisura. Paru-paru
kanan mempunyai tiga lobus dan paru-paru kiri dua lobus. Setiap
lobus tersusun atas lobula. Jaringan paru-paru elastis,berpori, dan
seperti spons.
Setiap paru-paru dilapisi membran serosa yaitu pleura. Ada dua
bagian pleura yaitu pleura viseralis, yang erat melapisi paru-paru,
masuk kedalam fisura dan dengan demikian memisahkan lobus
satu dari yang lain. Pleura parietalis, yaitu yang melapisi bagian
dalam dinding dada. Pleura yang melapisi iga-iga ialah pleura
kostalis. Diantara kedua lapisan itu terdapat sedikit eksudat untuk
melumai permukaan dan menghindarkan gesekan antara paru-paru
dan dinding dada sewaktu bernafas bergerak.
g. Alveolus
Alveous (airspace) dibentuk dan dibatasi oleh dinding alveolus
yang dibentuk oleh dua macam sel, yaitu:
1) Sel alveolar tipe I atau pneumosit tipe I (type I alveolar cell)
2) Sel alveolar tipe II atau pneumosit tipe II (type II alveolar cell)
yang juga disebut sebagai granuar pneumocyte

Kedua macam sel ini (tipe I dan tipe II) saling berhubungan secara
erat. Sel pneumosit skuamosa disebut tipe I; sedangkan pneumosit
kuboid disebut tipe II, walau sebetulnya yang merupakan sel
progenitor epitel alveoli adalah sel tipe II (sel tipe I adalah
kelanjutan perkembangan dari sel tipe II). Pertukaran gas
menembus dinding pneumosit I. Tugas pneumosit II adalah
menghasilkan surfaktan

Pneumosit tipe I Pneumosit tipe II


- Sinonim: pneumosit - Sinonim: pneumosit
skuamosa granular, kuboid
- Tipis dan meluas, - Bentuknya kuboidal
menggelembung di
tempat ada nukleus
- Jumlanya lebih sedikit - Jumlah lebih banyak
tetapi membentuk 95% tetapi hanya membentuk
dari luas permukaan 5% luas permukaan
dinding alveolus dinding alveolus
- Sebagai gas exchange - Bukan sebagi gas
membran exchange membrane
- Tidak membelah - Merupakan stem cell,
dapat menjadi pneumosit
- Tidak tumbuh jika tipe I
dikultur - Tumbuh jika dikultur
- Sensitif terhadap - Tahan terhadap
peningkatan O2 peningkatan O2
- Berisi surfaktan

Pada paru terddapat lebih kurang 300 juta gelembung alveoli


dengan diameter setiap gelembung lebih kurang 0,3 mm. Struktur
gelembung ini sebetulnya cenderung tidak stabil. Adanya
tegangan-muka cairan yang melapisi alveoli menyebabkan
gelembung cenderung menjadi kolaps, namun berkat adanya
surfaktan yang menurunkan tegangan-muka cairan di dinding
alveoli tadi, gelembung tidak kolaps malahan mengembang
sehingga stabilitas gelembung naik luar biasa besar. Walaupun
demikian, tetap saja potensi masalah, yaitu masih ada
kemungkinan kolaps (insipien collaps) (Djojodibroto,2014)

h. Vaskularisasi Paru
Paru mendapat darah dari dua sistem arteri, yaitu arteri pulmonalis
dan arteri bronkialis. Arteri pulmonalis bercabang dua mengikuti
bronkus utama kanan dan kiri untuk kemudian bercabang-cabang
membentuk ramifikasi yang memasok darah ke interstisial paru.
Perlu diketahui bahwa pembuluh darah percabangan dari arteri
pulmonalis sangat rendah sehingga memungkinkan pertukaran gas
dengan baik sekali. Tekanan darah pada pembuluh yang berasal
dari arteri bronkialis lebih tinggi dibandingkan tekanan pada arteri
pulmonalis. Berbeda dengan percabangan pembuluh darah arteri
pulmonalis, percabangan pembuluh arteri bronkialis tidak
mempunyai ujung akhir. Darah yang dipasok oleh arteri bronkialis
sampai ke saluran pernapasan, septa interlobular, dan pleura.
Sepertiga darah yang meninggalkan paru melalui vena azigos
menuju vena cava sedangkan yang dua pertiga lagi melalui vena
pulmonalis ke atrium kiri (Djojodibroto,2014)
i. Sistem Limfe Paru
Dibandingkan organ yang lain, paru sangat rapat dengan jaringan
limfe. Lokasi jaringan limfe itu pada jaringan ikat seperti pleura,
septa interlobular, serta pembungkus peribron-kovaskular.
Terdapat 6 nodus limfa yang berperan dalam drainase cairan limfa
paru, yaitu nodus limfa intrapulmonales, nodus limfa
bronkopulmonales (hilar), nodus limfa trakeobronkiales, nodus
limfa paratrakeales, nodus limfa skaleni, dan nodus limfa di arkus
aorta.
Pembuluh limfe besar di sebelah kanan adalah trunkus limfatikus
bronkomediastinalis, trunkus limfatikus jugularis, serta trunkus
limfatikus subklavius, di sebelah kiri terdapat duktus torasikus.

j. Otot-otot Pernapasan
Terdapat otot-otot yang menempel pada rangka dada yang
berfungsi penting sebagai otot pernafasan. Otot-otot yang
berfungsi dalam bernafas adalah sebagai berikut :
1) Interkostalis Eksterrnus (antar iga luar) yang mengangkat
masing-masing iga.
2) Sternokleidomastoid yang mengangkat sternum (tulang dada).
3) Skalenus yang mengangkat 2 iga teratas.
4) Interkostalis Internus (antar iga dalam) yang menurunkan iga-
iga.
5) Otot Perut yang menarik iga ke bawah sekaligus membuat isi
perut mendorong diafragma ke atas.
6) Otot dalam diafragma yang dapat menurunkan diafragma.
k. Sel-sel dalam Saluran Pernapasan
Ada delapan macam sel pada epitel saluran napas yang dapat
diidentifikasi, yaitu (Djojodibroto,2014) :
1) Sel basal : sel ini tidak sampai ke permukaan lumen saluran
napas, jika sel basal membelah, salah satu belahannya akan
mencapai lumen. Karena sel belahan ini telah mencapai lumen,
belahan ini tidak termasuk sel basal lagi, tetapi digolongkan
sebagai sel intermediate. Sel basal, walau dapat didapati mulai
dari trakea sampai bronkeolus, terbanyak di trakea dan bronki
ekstrapulmonal.
2) Sel intermediate : bentuknya kolumnar berada di atas sel basal,
merupakan hasil pembelahan dari sel basal. Selanjutnya, sel ini
akan berdiferensiasi menjadi sel mukus ataupun sel bersilia
3) Sel Kulchitsky : sel ini disebut juga sebagai sel argyrophil,
merupakan sel endokrin, berisi bermacam-macam granula
neurosekretori yang membuat peptida-aktif
4) Sel bersilia : sel ini mempunyai silia yang terbentuk dari 9
aksonema dan satu aksonema spesial. Setiap aksonema
berhubungan satu sama lain diikat oleh dynein (suatu protein
yang sifatnya kontraktil)
5) Brush cell : jumlah sel ini tidak banyak, kegunaannya belum
jelas, mungkin berfungsi untuk mengabsorbsi cairan. Sel
semacam ini juga dapat dijumpai pada usus dan sinus nasalis
6) Sel globet : sel ini adalah sel mukus yang menggembung dan
berisi granula sekretorik. Jalan napas mulai dari rongga hidung
sampai dengan bronkiolus ditutupi oleh lapisan lendir
viskoelastis yang dihasilkan oleh sel mukus maupun sel serus.
Sel globet memproduksi musinogen yang akan disekresi ke
dinding jalan napas. Musinogen akan berubah menjadi musin,
yaitu suatu substansi yang dibentuk oleh glikoprotein yang
sifatnya viskus. Musin ini melapisi dinding jalan napas dan
berfungsi menangkap partikel debu yang masuk ke dalam
sistem pernapasan.
7) Serous cell : sel ini lebih banyak didapati di daerah cephalad
(arah kepala) dibandingkan dengan di daerah distal (caudal)
8) Sel Clara : sel ini adalah suatu sel epitel tidak bersilia pada
bronkuolus terminalis yang mempunyai fungsi sebagai
secretory. Kegunaan sel Clara adalah memproduksi cairan yang
memetabolisme toksin. Sel semacam ini lebih banyak didapati
di distal (bronkiolus) dibandingkan dengan di cephalad. Sel
Clara kaya akan kandungan GAG (glycosamineaminoglycans)
yang melindungi lapisan bronkiolus dan p-450 (pulmonary
cytochrome) yang memetabolisme asam arakhidonat.
2. Fisiologi Pernapasan
Fisiologi pernapasan dibagi menjadi 4, yaitu
a. Ventilasi
Udara bergerak masuk dan keluar dari paru-paru karena selisih
tekanan yang terdapat antara atmosfer dan alveolus oleh kerja
mekanik otot-otot.
b. Difusi
Tahap kedua proses respirasi mencakup proses difusi gas-gas
melintasi membran antara alveolus-kapiler yang tipis (tebalnya
kurang dari 0.5 um). Kekuatan pendorong untuk pernindahan ini
adalah selisih tekanan parsial antara darah dan fase gas.
c. Transport oksigen dalam darah
Oksigen dapat ditranspor dari paru-paru ke jaringan melalui dua
jalan :
Secara fisik larut dalam plasma atau secara kimia berikatan
dengan hemoglobin sebagai oksihemoglobin (HbO2), ikatan
kimia oksigen dan hemoglobin ini bersifat reversibel.
d. Transport karbondioksida
Transpor CO2 dari jaringan keparu-paru melalui tiga cara
sebagai berikut:
1) Secara fisk larut dalam plasma (10 %)
2) Berikatan dengan gugus amino pada Hb dalam sel darah
merah (20%)
3) Ditransport sebagai bikarbonat plasma (70%) Karbon
dioksida berikatan dengan air dengan reaksi seperti
dibawah ini: CO2 + H2O = H2CO3 = H+ +HCO3-

B. Konsep Dasar Kanker

1. CHROMOSOM
Pada interfase dengan pengecatan Giemsa yang biasa digunakan dalam
inti sel tidak nampak adanya chromosom itu, yang tampak hanya
bintik-bintik basophil yang disebut chromatin. Pada fase mitose,
selaput inti menghilang, barulah chromosome itu nampak. Bila segera
setelah fiksasi, sediaan dicat dengan Giemsa chromosome itu terlihat
sebagai suatu batang yang masif, tetapi bila sebelum di cat Giemsa
diberi enzim trypsin dulu beberapa saat, chromosome itu akan terlihat
seperti huruf H atau X dengan “band” yaitu pita-pita gelap dengan
terang yang melintang. Chromosom itu paling jelas nampak pada
metaphase mitose. Pada sel eukaryotic euploid, chromosome itu
biasanya terlihat diploid, tetapi dapat juga triploid, tetraploid dan
bahkan polyploid.
a. Struktur morfologi chromosome
Pada manusia terdapat 23 pasang chromosome, 22 pasang berupa
chromosome autosom dan sepassang chromosome seks, yaitu XY
(=laki) dan XX (=perempuan). Normal tiap chromosome autosom
terdiri dari 2 copy genom yang disebut diploid. Bila jumlah
chromosome setengah dari komplemen normal disebut haploid, bila
terdapat kelebihan chromosome disebut hyperploid, bila kurang
disebut hypoploid, dan bila kedua copy chromosome itu sama dengan
salah satu chromosome sedang copy yang lainnya hilang disebut
isochromosom. Nomenklatur chromosome itu menurut konversi
Paris, didasarkan karyotype-nya, yaitu urutan besarnya, dari yang
terbesar, nomor 1 sampai dengan yang terkecil nomor 22.
1. Struktur kimia Chromosom
Chromosom itu terdiri dari :
a. DNA ± 50%
b. RNA <1%
c. Protein inti ± 50%
Protein inti terdiri dari
1) Protamine yang mengelilingi DNA
2) Histon yang merupakan sebagian besar dari protein inti, berbentuk
bulat seperti mutiara, tempat benang ganda DNA melilit, membentuk
nukleosum.
3) Enzim, seperti DNA polymerase, RNA polymerase, dsb.
4) Protein non histon.

Chromosom adalah suatu makromolekul yang sangat besar, yang terdiri


dari DNA (Deoxyribo Nucleic Acid), yang merupakan polimerisasi
molekul protein nucleotide yang lebih kecil. Seperti telah diuraikan
sebelumnya chromosome normal adalah diploid. Status ploidi dari sel
umumnya dinyatakan sebagai index DNA, yang merupakan rasio
kandungan DNA sel itu dengan sel normal pada fase G1

Sel disebut euploid jika rasio kandungan DNA dengan sel normal pada
fase G1=1 dan uneuploid jika rasio >1.

Status ploidi suatu sel dapat diukur dengan menggunakan flowcytometer.

Satu molekul nucleotide terdiri dari 3 bagian yaitu:

a. Deoxyribose
b. Fosfat
c. Base nitrogen

Molekul deoxyribose dan fosfat bersenyawa membentuk fosforibose yang


menjadi pilar utas rantai DNA.

Base nitrogen ada 2 jenis, yaitu:


a. Base purine, yang mempunyai molekul besar
base purine ada 2 jenis pula, yaitu A = Adenine dan G = Guanine
b. Base pyrimidine yang mempunyai molekul kecil.
Base pyrimidine juga ada 2 jenis, yaitu C=Cytosine dan T= Thymine
sehingga ada 4 jenis bsae nitrogen yaitu Adenine, Guanine, Cytosine dan
Thymine

Dalam molekul nucleotide adenine selalu berpasangan (base pair) dengan


thymine menjadi ikatan A-T atau T-A dan cytosine mengikat guanine
menjadi ikatan C-G atau G-C. jika adenine terletak pada utas rantai cetaka,
maka thymine pada rantai komplementernya atau sebaliknya. Demikian
pula jika cytosine pada rantai cetakan maka guanine pada rantai
komplementernya atau sebaliknya. Base purine dengan pyrimidine diikat
oleh hydrogen. Pasangan base purine-pyrimidine diikat oleh fosforibose
pada atom C3- atau C5- .
2. GEN
Gen merupakan unit fungsional terkecil dari makhluk hidup. Gen itu
terdapat dalam chromosome atau DNA yang mengandung kode genetic,
yang specific untuk spesies yang bersangkutan, yang mengatur,
mengkoordinasi, mengawasi serta mengendalikan semua proses
kehidupan, seperti bentuk organ, fungsi organ, pertumbuhan, keturunan,
dsb., yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya sehingga
bentuk dari sifat induk dan keturunannya sama. Kode genetic itu berupa
codon terdiri dari tiga gabungan nucleotide (triplet nucleotide) yang
merupakan sandi untuk membentuk protein. Rantai DNA yang
mengandung kode genetic disebut exon dan yang tidak disebut interon da
nada juga kode untuk tanda mulai dan tanda untuk berakhir bekerja.
Contoh triplet codon:
a. UGG = Triptofan
b. UUU, UUC = Fenilalanin
c. GCU, GCC, GCA, GCG = Alanin
d. AAA, UUC = Lisin
e. AUU, AUG, AUA = Isolisin
f. CCU, UCC, CCA, CCG = Prolin
g. AUG = Mulai kerja
h. UUA, UAG, UGA =Stop kerja

Jika pada rantai cetakan urutan letak (=sequence) base nitrogen berjalan
dari: ATGAACTT maka pada rantai komplementer urutannya berjalan
berlawanan arah (antisense) dari: ATACTTGAA. Dengan demikian
polaritas urutan nucleotide menjadi pada:

Rantai cetakan dari 5-P OH-3 atau sebaliknya


Rantai komplementer dari 3-OH P-5 atau sebaliknya

Kode genetic pada rantai cetakan menimbulkan bayangan cermin atau


salinan (copy) negative pada mRNA yang disebut codon. Didalam tubuh,
kita kenal ada 20 jeni asam amino yang masing-masing dapat dibentuk
dari triplet nucleotide. Molekul protein adalah molekul besar dan panjang
yang merupakan polimerisasi polypeptide dari molekul-molekul asam
amino.

Jika urutan nucleotide pada rantai cetakan AATCGTCCGTAGCGT,


dalam triplet nucleotide akan dibaca AAT.CGT.CCG.TAG.CGT.
Gabungan 3 nukleotide merupakan sandi genetic tertentu. Letak urutan
nucleotide dalam DNA dapat dikenal dan dipotong oleh enzim
endonuclease dan dapat pula disambung lagi dengan enzim ligase.

Rantai cetakan DNA yang terpisah dapat digabungkan kembali dengan


rantai komplementernya. Penyatuan kembali kedua rantai itu disebut
hybridasi. Hybridasi hanya mungkin dikerjakan dengan komplementernya.

Ada bermacam-macam gen yang mempunyai fungsi sendiri-sendiri. Gen


yang mengatur pertumbuhan dan diferensiasi sel diperkirakan ada 100
buah, yang merupakan golongan protoonkagen dan suppressor gen atau
anti onkagen yang kerjanya berlawanan. Protoonkogen mengkode
pembentukan protein untuk merangsang pertumbuhan sedang antionkogen
mengkode protein untuk menghambat pertumbuhan. Onkogen diberi nama
dengan 3 huruf, seperti gen myc, gen erb, dsb. Pada 1 sel virus
diperkirakan ada 3-10 gen, sedangkan pada 1 sel manusia 50.000 –
100.000 gen.

Satu gen dapat sekaligus mengatur beberapa struktur/fungsi tertentu, dan


sebaliknya dapat pula terjadi satu struktur/fungsi diatur bersama oleh
beberapa gen. Pada saat ini diketahui lebih dari 20 jenis oncogene virus (v-
onc) yang masing-masing ada pada sel normal yaitu protoonkogen (c-onc).
Pada protoonkogen terdapat struktur interon (region non coding) dan exon
(region coding), sedang virus onkogen hanya terdapat protoonkagen
mengkode pembuatan peptide yang merangsang pertumbuhan dan
diferensiasi sel, tetapi tidak menimbulkan kanker. Sebaliknya
protoonkagen yang telah mengalami transformasi menjadi onkogen
mengkode pembuatan peptide yang dapat menimbulkan kanker.

Produk protoonkagen yang merangsang pertumbuhan berupa faktor


pertumbuhan, reseptor faktor pertumbuhan (tyrosine kinase, serine-
threonine kinase dsb), signal transduction, nuclear transcription, sedang
antionkogen mengkode pembentukan protein yang menghambat
pertumbuhan seperti : protein p53 (53-kD phosphoprotein).

1. Pengertian
Menurut Tambayong (2000), neoplasia definisikan sebagai
perkembangan massa jaringan abnormal yang tidak responsif terhadap
mekanisme kontrol pertumbuhan normal. Neoplasma adalah suatu
kelompom atau rumpun sel neoplastik. Istilah ini biasanya sinonim
dengan tumor.
Gen ialah unit terkecil dari suatu makhluk hidup yang mengandung
informasi genetika yang diturunakan dari stau generasi kegenerasi
berikutnya. Gen itun menentukan, mengorganisasi dan mengendalikan
bentuk, sifat, fungsi, kinetika dan susunan sel, yang telah
diprogramkan sejak mulai terjadinya makhluk itu waktu fertilisasi sel
telur oleh sel sperma.

2. Klasifikasi neoplasma
a. Neoplasma benigna
Neoplasma benigna terdiri dari sel-sel yang serupa dengan strutur
pada sel asalnya. Sel-sel neoplasma benigna ini lebih kohesif
daripada neoplasma maligna. Pertumbuhan terjadi dari bagian
tengah massa benigna, biasanya mengakibatkan batas tegas. Tumor
benigna menimbulkan efek-efeknya berupa obstruksi, tekanan dan
sekresi. Tumor benigna didalam ruang tertutup seperti tengkorak
dapat menimbulkan gangguan serius yang dapat menimbulkan
kematian. Obstruksi usus dapat diakibatkan dari pertumbuhan
tumor benigna dalam lokasi tersebut (Tambayong, 2000).
b. Neoplasma maligna
Neoplasma maligna mempunyai struktur seluluer atipikal, dengan
pembelahan dan kromosom nuklear abnormal. Sel maligna
kehilangan diferensiasinya atau menyerupai sel asalnya. Sel tumor
tidak kohesif, dan akibatnya pola pertumbuhan tidak teratur : tidak
ada kapsul yang terbentuk dan perbedaan separasi dari jaringan
sekitar sulit terlihat ( Tambayong, 2000).

3. Mekanisme Karsinogenesis
Menurut Chrestella (2009), penyakit kanker pada dasarnya merupakan
penyimpangan gen yang menimbulkan proliferasi berlebihan, progresif
dan irreversible. Knudson menyatakan bahwa karsinogenesis
memerlukan dua hit. Proses pertama menyangkut inisiasi dan
karsinogen penyebab disebut inisiator. Proses kedua , yang
menyangkut pertumbuhan neoplastik adalah promosi dan agennya
disebut promoter. Sekarang dipercaya bahwa sebenarnya terjadi hit
multipel (lima atau lebih) , dan berbagai faktor dapat menyebabkan hit
ini . Setiap hit menghasilkan perubahan pada genom dari sel terpapar
yang ditransmisikan kepada progeninya (sel turunannya , yang disebut
sebagai klon neoplastik). Periode antara hit pertama dan
berkembangnya kanker klinis disebut sebagai lag periode.
Proses transformasi sel kanker terjadi melalui pengaturan proliferasi
oleh beberapa jenis gen yaitu :

1) Protoonkogen dan onkogen


Protoonkogen berfungsi mengatur proliferasi dan diferensiasi sel
normal . Rangsangan faktor pertumbuhan ekstraselular diterima
oleh reseptor faktor pertumbuhan (gen ras) di permukaan membran
(aktivasi tyrosine kinase) dan diteruskan melalui transmembran sel
(guanine nucleotide–binding protein) ke dalam sitoplasma dan ke
dalam inti sel. Bila kemudian terjadi ‘hit’ oleh bahan karsinogen
maka akan terjadi proliferasi sel abnormal yang berlebihan dan tak
terkendali, dimana protoonkogen berubah menjadi onkogen.
2) Anti onkogen
Terjadinya kanker tidak semata disebabkan oleh aktivasi onkogen
tapi dapat oleh inaktifasi anti onkogen (growth suppressor gen).
Pada sel normal terdapat keseimbangan antara onkogen dan anti
onkogen. Anti onkogen yang sudah dikenal secara umum adalah
tp53. Apabila tp53 gagal mengikat DNA, maka kemampuan
mengontrol proliferasi menjadi hilang dan proliferasi sel berjalan
terus menerus dan tidak terkendali. Inaktifasi p53 dapat terjadi oleh
translokasi atau delesi. Gen tp53 ini merupakan tumor supresor gen
yang paling sering mengalami mutasi dalam kanker. Dalam sel-sel
non-stressedia mempunyai waktu paruh yang singkat yaitu hanya
20 menit. Tp 53 bekerja dengan menginduksi gen penginduksi
apoptosis yaitu gen BAX.

3) Gen ‘repair’ DNA


Dalam keadaan normal, kerusakan gen akibat faktor-faktor
endogen maupun eksogen dapat diperbaiki oleh mekanisme
‘excission repair DNA lession’. Kegagalan mekanisme ini
menimbulkan DNA yang cacat dan diturunkan pada keturunan
berikutnya sebagai mutasi permanen yang potensial menjadi
kanker. Gen lain yang ikut berpengaruh secara tidak langsung
adalah sandi protein ‘ check point’ (contoh : ATM) yang berfungsi
mencegah perkembangan sel yang berasal dari sel cacat.

4) Gen anti apoptosis


Pada berbagai sel organ tubuh terdapat kematian sel secara
terprogram yang disebut apoptosis. Seperti misalnya protein ABL
yang terdapat dalam nukleus. Ia berperan untuk memulai proses
apoptosis sel yang menderita kerusakan pada DNA. Sel nekrosis
tanpa reaksi radang diabsorbsi oleh makrofag.

5) Gen anti metastasis


Para pakar telah mengidentifikasikan gen nmE1dan nmE2sebagai
anti metastasis. Pada beberapa kasus insiden metastase tinggi ,
hilangnya fungsi gen tertentu tampaknya berpotensi sebagai
petanda agresifitas tumor.
6) Imunitas
Peran imunitas ikut mempengaruhi proses pertumbuhan kanker
baik imunitas humoral maupun selular. Bukti-bukti menunjukkan
bahwa adanya keterlibatan proses immune dalam neoplasia dengan
insidens tinggi terutama pada pasien dengan imunodefisiensi dan
pasien pasca transplantasi yang diberi obat imunosupresif.
7) Karsinogen
Karsinogen adalah substansi yang dikenal menyebabkan kanker
atau setidaknya menghasilkan peningkatan insidens kanker pada
hewan atau populasi manusia.
(Sukardja, 2000) Proses karsinogenesis adalah proses bertahap
suatu multisteps process. Sedikitnya ada 3 tahapan, yaitu :
(a). Inisiasi (intitiation)
Tahap pertama ialah permulaan atau inisiasi, diaman sel normal
menjadi pre-maligna. Karsinogen harus merupakan mutagen yaitu
zat yang dapat menimbulkan mutasi gen. Pada tahap inisiasi
karsinogen bereaksi dengan DNA, menyebabkan amplifikasi gen
dan produksi copy multiple gen.
proses inisiasi ini :
(1) Karsinogen yang merupakan initiator adalah mutagen
(2) Cukup terkena sekali paparan karsinogen
(3) Keadaan ini permanen dan irreversibel
(4) Proses tidak mengubah ekspresi gen
(b). Promosi (promotion)
Promotor adalah zat mutagen tetapi dapat menaikan reaksi
karsinogen dan tidak menimbulkan amplifikasi gen. Suatu
promotor yang terkenal ester phorbol yang terdiri dari TPA
(tetradecanoyl Phosbol Acetate) dan RPA (12-Retinoyl sifat-sifat
promotor ialah :
(1) Mengikuti kerja inisiator
(2) Perlu paparan berkali-kali
(3) Keadaan dapat reversibel
(4) Dapat mengubah ekspresi gen seperti : hiperplasia, induksi
enzim, induksi diferensiasi.
(c). Progresi (progression)
Pada progresi ini terjadi aktivasi, mutasi atau hilangnya gen. Pada
progresi ini timbul perubahan benigna menjadi pra-maligna dan
maligna.
Dalam karsinogenesis ada 3 mekanisme yang terlibat :
(1) Onkogen yang dapat menginduksi timbulnya kanker
(2) Anti-onkogen atau gen suprresor yang dapat mencegah
timbulnya kanker.
(3) Gen modulator yang dapat mempengaruhi ekspresi
karakteristik gen yang mempengaruhi penyebaran kanker

a) Onkogen kemikal
Onkogen kemikal contohnya adalah hidrokarbon polisiklik,
tembakau, aflatoksin, nitrosamine, agen kemoterapi, asbestos,
metal berat, vinyl chloride,dll.
b) Onkogen radiasi
Contohnya adalah radiasi oleh ultraviolet, X ray, radioisotope
dan bom nuklir.
c) Onkogen viral
Contohnya adalah onkogen oleh virus RNA (retrovirus )seperti
HIV , dan onkogen oleh virus DNA (seperti papilloma virus,
Molluscum contangiosum, herpes simpleks, EBV, Avian ,
hepatitis B, CMV, dsb).
d) Onkogen hormonal
Contohnya : estrogen , diethylstilbestrol (DES), steroid .
e) Onkogen genetik

Seperti tampak pada tabel diatas 2, jenis mutasi pertama adalah transisi
dari guanine (G) ke adenine (A) atau dari cytosine (C) ke thymine (T), dan
perubahan ini terutama terletak pada sukuen dinukleotida CpG. Jenis
mutasi yang lain adalah tranversi guainine (G) ke thymine (T). Mutasi ini
pada umumnya disebabkan faktor eksternal yang memodifikasi residu G
dari DNA. Jenis mutasi ke tiga adalah karateristik untuk lesi akibat
produksi penyinaran (photoproduct) seperti yang dijumpai pada kanker
kulit. ( Kresno, 2012).
4. Siklus Pertumbuhan Sel
Siklus pertumbuhan sel secara biokimia dibedakan menjadi 4 fase:
a. Fase-G1 (Growth phase-1)
Lamanya sangat variabel dari beberapa jam sampai tahunan. Pada
fase-G1 sel anak yang baru terbentuk setelah mitosis tumbuh
menjadi sel dewasa, membentuk protein, enzim, dsb. Dan
kromosom hanya mengandung rantai tunggal RNA (haploid). Sel
dewasa masuk ke zone perbatasan (restriction zone) yang
menentukan apakah sel itu akan :
1) Berhenti tumbuh
Sel yang berhenti tumbuh akan masuk ke fase G-0
Sel-sel yang masuk dalam fase G-0 ada 2 golongan, yaitu :
a) Stem sel, yaitu sel yang dapat tumbuh lagi bila ada
rangsangan tertentu, misalnya untuk mengganti sel yang
rusak atau mati, dan kembali masuk ke fase-S
b) Sel yang tetap tidak adakan tumbuh sampai sel itu mati.
2) Tumbuh terus
Sel yang tumbuh lagi masuk ke fase-S
b. Fase-S (synthetic phase). Lamanya ± 6-8 jam
Paada fase-S ini dibentuk rantai DNA baru, protein, enzim, dsb,
untuk persiapan fase-M berikutnya. Replikasi DNA terjadi dengan
bantuan enzym DNA-polimerase. Dengan dibentuknya DNA baru
maka rantai tunggal DNA menjadi rantai ganda.
c. Fase G2 (growth phase-2) lamanya ± 1-2 jam
pada fase ini dibentuk RNA, protein, enzim dsb. Untuk persiapan
fase-M berikutnya.
d. Mitosis phase. Lamanya ± 1-2 jam
Pada fase M hampir tidak ada kegiatan kimiawi. Yang ada ialah
pembelahan sel, dari 1 sel induk membelah menjadi 2 sel anak
yang mempunyai struktur gentika yang sama dengan sel induknya.
(Sukardja, 2000)

5. Sel neoplasma
Sel tumor ialah sel tubuh kita sendiri yang mengalami perubahan
(tranformasi) sehingga bentuk, sifat dan kinetiknya berubah, sehingga
tumbuhnya menjadi autonom, liar, tidak tekendali dan terlepas dari
koordinasi pertumbuhan normal. Akibatnya timbul tumor yang
terpisah dari jaringan tubuh yang normal (Sukardja, 2000).
Tranformasi sel itu terjadi karena mutasi gen yang mengatur
pertumbuhan dan diferensiasi sel, yaitu proto-onkogen dan supressor
gen (anti onkogen). Spektum kerusakan itu sangta luas, dapat dari
ringan dan terbatas sampai berat serta luas. Secara statisik telah
ditunjukan bahwa untuk merubah sel normal menjadi sel kanker
diperlukan antara 3 sampai 6 kali mutasi. Pada sel yang mengalami
pergantian (turn over) yang ceat seperti epidermis, memerlukan lebih
banyak lagi mutasi genetik untuk menjadi sel kanker. Kemungkinan
terjadinya mutasi itu ditentukan oleh kesetiaan dan ketekunan gen itu
mengadakan replikasi dan reparasi. Aktivasi proto-onkogen menjadi
onkogen karena ada mutasi gen atau ada insersi gen retrovirus.
Inaktivasi gen supressor terjadi karena ada mutasi gen atau ada protein
yang ada dapat mengikat produksi gen supresor itu.
Pada umumnya tranformasi itu terjadi karena ada mutasi gen atau
kromosom. Mutasi itu dapat dibedakan menjadi 3 kategori yaitu :
a. Translokasi
Pada translokasi gen atau kromosom umumnya berupa translokasi
resiprokal, yaitu pertukaran timbul balik letak gen atau kromosom
pada lengan kromosom satu dengan lainnya. Tenada ada
kehilangan gen. Sebagian dari lengan lengan kromosom itu pindah
letaknya ke kromosom lain.

b. Kehilangan, tambahan atau inaktivasi gen


Kehilangan (deletion), tambahan (addition) atau inaktivasi gen
akan mengakibatkan gangguan pertumbuhan sel yang tidak
terkendali dan diferensiasi sel yang jelek.
c. Amplifikasi gen
Pada amplikasi gen terdapat kenaikan jumlah DNA ada kromosom
pada regio tertentu. Amplifikasi gen daat ditunjukan dengan
adanya :
1) Pewarnaan regio yang homogen (HSR = Homogenously
staining region)
2) Band yang abnormal (ABR = abnormally binding region)
3) Pewarnaan ganda (DM = double minute).
Spektrum neoplasma sangat luas. Secara sederhana dikenal sel
neoplasma jinak yang kerusakan gennya ringan serta terbatas
sehingga sel-sel neoplasma jinak masih mirip dengan sel normal
asalnya dan sel-sel neoplasma ganas atau kanker yang
kerusakannya berat serta luas sehingga se-selnya menyimpang jauh
dari sel normal asalnya (anaplastik) .

6. Sifat sel Kanker


a. Heterogenitas
Populasi sel dalam suatu tumor tidak homogen, tetapi heterogen,
walapun semula berasal dari suatu sel yang sama. Heterogenitas ini
terjadi karena sel kanker tumbuh degna cepat, sehingga belum
dewasa, belum matang, telah mengalami mitose, terus harus
membiak, sehingga makin lama makin banyak keturunan sel yang
makin jauh menyimpang dari sel asalnya, yang menimbulkan
bentuk yang bermacam-macam itu.
Karena waktu siklus kanker umumnya pendek, belum semua defek
gen dapat di reparasi atau tidak sempat direparasi yang terjadi
sehingga keturunan sel-sel lainya menjadi bervariasi.
b. Tumbuh autonom
Sel kanker itu tumbuh terus tanpa batas (immortal), liarnya,
semaunya sendiri terlepas dari kendali pertumbuhan normal
sehingga terbentuk suatu tumor yang terpisah dari bagian normal.
Tumor dapat menimbulkan kelainan bentuk dan gangguan fungsi
organ yang ditumbuhinya.
c. Mendesak dan merusak sel-sel normal disekitarnya
Sel-sel tumor itu mendesak (ekspansif) sel-sel normal disekitarnya.
Yang berubah menjadi kapsel yang membatasi pertumbuhan
tumor. Pada tumor jinak kapsel itu berupa kapsel sejati yang
memisahkan gerombolan sel tumor dengan sel-sel normal, sedang
pada tumor ganas berupa kapsel palsu (pseudocapsul), karena
kapsel itu ditembus atau diinfiltrasi oleh sel-sel kanker.
d. Dapat bergerak sendiri (amoeboid)
Sel-sel kanker itu dapat bergerak sendiri seperti amoeba dan lepas
dari gerombolan sel-sel tumor induknya, masuk diantara sel-sel
normal disekitarnya. Hal ini menimbulkan :
1) Infiltrasi atau invasi ke jaringan atau atau organ disekitarnya
Sel-sel kanker dapat tumbuh di jaringan sekitarnya,
menimbulaj perlekatan-perlekatan, satelite nodule, obstruksi
saluran-saluran tubuh, dsb.
2) Metastase atau anak sebar di kelenjar limfe atau organ lainnya.
Sel-sel kanker dapat masuk kedalam pembuluh limfe dan
bersama aliran limfe masuk ke kelenjar limfe dan tumbuh di
situ sebagai anak sebar di kelenjar limfe (penyebaran
limfogen). Sel-sel kanker dapat pula masuk kedalam pembuluh
darah dan bersama aliran darah beredar ke seluruh tubuh
(penyebaran hematogen).Dalam keadaan normal hanya sel-sel
tertentu saja yang dapat bergerak sendiri, seperti leukosit,
makrofage, dsb.
e. Tidak mengenal koordinasi dan batas-batas kewajarannya
Ketidakwajaran itu anatar lain disebabkan oleh :
1) Kurangnya daya dhesi dan kohesi
Karena kurang daya adhesi dan kohesi sel-sel kanker itu
mudah leppas dari gerombolan sel-sel induknya dan daat
bergerak menyusup diantara sel-sel normal
2) Tidak mengenal kontak inhibisi
Sel-sel normal akan berhenti tumbuh jika ada kontak dengan
sel normal disekitarnya, sedang sel kanker tidak
3) Tidak mengenal posisi
Sel-sel normal akan berhenti tumbuh jika berada pada tempat
atau psosisi yang tidak semestinya, sednag sel-sel kanker tidak,
sehingga dapat timbul anak sebar (metastase)
4) Tidak mengenal batas kepadatan
Sel normal akan berhenti tumbuh jika kepadatan sel
telahmencapai konsistensi tertentu, sedang sel kanker tidak.
5) Tidak menjalankan fungsinya yang normal
Sel-sel kanker merusak fungsi organ yang ditumbuhinya. Hal
ini antara lain karena :
a) Membran sel kanker
(1) Tidak mengandung fibronektin, suatu glukoprotein
yang dapat menghambat pertumbuhan sel
(2) Kadar kalsium kurang
(3) Muatan listrik kurang.
b) Sel kanker dapat membentuk hormon, enzim, protein, dsb.
Yang perlu untk pertumbuhan hormon, enzim, dan protein
untuk pertumbuhan normal hanya diprodusi oleh sel-sel
tertentu saja, yaitu oleh sel-sel APUD (Amine Precusor
Uptake and Decorbocylation).
Beberapa contoh kanker yang dapat memproduksi hormon
atau enzim ektopik ialah kanker paru, kanker mamae,
lomfoma maligna sehingga dapat menimbulkan apa yang
disebut sebagai sindroma paraneoplastik. Karena ada
perbedaan sifat neoplasma dengan sel normal asalnya dapat
dibuat diagnose klinik kanker.

7. Metastase Kanker
(Kresno, 2012) Metastasis berlangsung 5 tahap berurutan sebagai
berikut :
a. Invasi dan migrasi : sel-sel kanker masing-masing melepaskan diri
dari tumor primer dan menginvasi jaringan sehat yang ada
disekitarnya
b. Intravasi : masuknya sel-sel kanker ke dalam sirkulasi darah dan
limfe. Setelah melekat pada sel endotel melalui molekul adhesi, sel
kanker mensekresikan enzim proteolitik yang menyebabkan sel-sel
dapat menginfiltrasi pembuluh darah
c. Sirkulasi : sel kanker beredar dalam sirkulasi dan harus
menghadapi berbagai kondisi yang ada dalam darah. Kondisi itu
antara lain adalah konsentrasi oksigen yang tinggi dan limfosit
sitotoksik. (immunesurveillance). Pada kondisi ini terjadi seleksi
sel-sel tumor yang resisten dan agresif
d. Esktravasasi : sel-sel kanker terperangkap dikapiler organ tertentu,
meinggalkan pembuluh darah dengan cara penterasi endotel setelah
mengeluarkan enzim proelitik
e. Kolonisasi, proliferasi dan angiogenesis : sel-sel kanker
membentuk stumor sekunder ditempat baru untuk memastikan
vaskularisasi yang cukup.

Metastase sel sel-sel kanker dapat lepas dari gerombolan tumor


induknya menyebar ke berbagai organ meinmbulkan kanker sekunder
atau anak sebar atau metastase.
Penyebaran ini dapat melalui berbagai jalan, seperti :
a. Limfogen
Sel-sel kanker menginasi pembuluh limfe dan ikut aliran limfe
masuk ke dalam kelenjar limfe dan tumbuh di situ menjadi anak
sebar
b. Hematogen
Sel-sel kanker menginvasi pembuluh darah (angionvasi) dan ikut
aliran darah ke organ-organ yang letaknya jauh dan tumbuh disitu
berupa nodus atau tumor sekunder. Metastase hematogen itu
misalnya menimbulkan anak sebar di otak, paru, hati, tulang, ginjal
dsb.
c. Transluminal
Pada kanker usus sel kanker dapat lepas dari tumor induknya, ikut
aliran makanan ke aarah distal dan pada satu tempat tersangkut dan
tumbuh menjadi anak sebar.
Demikian pula halnya pada kanker ginjal, sel kanker dapat dan ikut
aliran kencing dan tumbuh dibagian distal menjadi anak sebar.
d. Transcelomik
Misalnya pada kanker lambung, setelah menginvasi serosa, sel
kanker dapat lepas dari lambung dan menyebar melalui rongga
peritoneum. Pada suatu tempat sel kanker itu tersangkut dan
tumbuh menjadi anak-anak sebar, misalnya di ovarium atau rongga
perlvis misalnya.
e. Iatrogen
Sel-sel kanker dapat lepas dari tumor induknya karena manipulasi
kita, sepperti dipijit-pijit, dipoerasi, atau karena trauma, lalu
menyebar ke lokal atau masuk ke saluran limfe atau darah dan ikut
aliran limfe atau darah, lalu menimbulkan anak sebar lokal pada
tempat operasi, regional dikelenjar limfe yang berdekatan atau
organ-organ yang letaknya jauh.

8. Pertumbuhan Kanker
Sel kanker itu timbul dari sel normal tubuh kita sendiri yang
mengalami tranformasi menjadi ganas, karena adanya mutasi spontan
atau induksi karsinogen. Untuk terjadinya tranformasi sel normal
menjadi ganas oleh karsinogen diperlukan adanya inisasi dan promosi.
Inisasi dan promosi itu dapat dilakukan oleh karsinogen yang sama
atau diperlukan karsinogen yang berbeda.
Dari adanya kontak dengan karsinogen sampai timbul kanker
memerlukan waktu induksi yang cukup lama. Diperkirakan waktu
induksi itu dapat sampai 15-30 tahun.
Fase pertumbuhan kanker dapat dibedakan menjadi 4 periode, yaitu :
fase induksi, fase in situ, fase invasif, dan fase desiminasi dengan
waktu yang berbeda-beda.

fase 1. induksi 2. in situ 3. invasif 4. diseminasi


Perkiraan 15 -30 thn 5-10 thn 1-5 thn 1-5 thn
waktu

Pada fase induksi belum timbul kanker tetapi telah ada perubahan sel
yang mungkin berupa suatu displasia. Fase induksi dapat pula dibagi
menadi fase ; inisiasi, promosi, konversi, progresi, sehingga timbul sel
kanker.
Pertumbuhan kanker selanjutnya dapat dibedakan menjadi 2 fase,
yaitu :
a. Kanker in situ atau kanker non invasif
Pada fase kanker in situ mulai timbul sel kanker, yang
pertumbuhannya masih terbatas pada jaringan tempat asalnya
tumbuh, yaitu dalam ephitel (intraephitelial), dalam duktus
(intraductal) atau dalam lobulus (intralobuler), belum menembus
membran basal
b. Kanker invasif atau kanker infiltratif
Pada afase invasif sel kanker telah tumbuh menembus membran
basal, masuk ke jaringan atau organ sekitarnya yang berdekatan.
Fase invasi dapat dibedakan menjadi 2 fase lagi yaitu :
1) fase pertumbuhan lokal
pada fase pertumbuhan lokal, sel-sel kanker masih terbatas
letaknya pada organ atau bagian organ tempat kanker itu kali
pertama tumbuh.
2) Fase penyebaran kanker (diseminasi)
Pada fase diseminasi sel-sel kanker menyebar ke organ lain,
yaitu ke kelenjar limfe regional dan atau ke organ-organ jauh.

9. Penyebaran Kanker
Tempat penyebaran kanker dapat:
a. Lokal
Kanker menyebar ke jaringan atau organ disekitar tempat kanker
itu semula tumbuh, berupa satelitosis, satelit nodule, atau
perlekatan dengan jaringan atau organ disekitarnya.
b. Regional
Sel-se kanker menyebar secara limfogen dan tumbuh dikelenjar
limfe yang berdekatan dengan letak tumor primer. Tiap-tiap organ
mempunyai regionalnya sendiri-sendiri.
No Regio Kelenjar Limfe Regionalnya
1 Kepala dan leher Submandibula dan leher bilateral
2 Tubuh di atas pusat Axilla bilateral
3 Tubuh di bawah pusat Inguinal bilateral
4 Tangan-lengan Cubiti dan axilla, unilateral
5 Kaki-tungkai Poplitea, inguinal, unilateral
6 Gastrointestinal Mesenterial dan paraortal
7 Organ di pelvis Pelvinal dan hipogastrika
8 Paru Peribronchial dan mediastinum

c. Ke organ-organ jauh
Penyebaran kanker daat timbul dimana-mana dalam organ tubuh,
termasuk kelenjar limfe diluar kelenjar limfe regional. Penyebaran
jauh itu umumnya secara hematogen.
Lokasi penyebaran jauh itu dapat dibedakan antara :
1) Organ vital : seperti : paru, hati, ginjal, otak dsb
2) Organ non vital , seperti kulit, tulang, sumsum, kelenjar limfe
diluar regional dsb.
3) Campuran antara organ vital dan non vital
Penyebaran itu dapat soliter (hanya satu saja), tetapi umumnya
multipel pada satu atau beberapa organ. Penyebaran ke organ-
organ umumnya berbentuk nodus atau tumor dan
menimbulkan destruksi jaringan atau gangguan fungsi organ
yang bersangkutan. Penyebaran ke organ vital umumnya lebih
cepat penderita meninggal dari pada ke organ non vital.

10. Proses Penyebaran


Proses penyebaran (metastase) terjadi karena ada interaksi antara sel
kanker dengan sel tubuh normal penderita. Sel-sel tubuh mempunyai
daya tahan, naik mekanis maupun imunologis, sedang sel kanker
mempunyai daya tahan untuk mengadakan invasi, mobilisasi dan
metastasis. Proses penyebaran berjalan secara bertahap, yaitu dari
insiasi, promosi lalu progesif sama seperti halnya pertumbuhan tumor
primer juga.
Pada proses metastasis sel kanker menginvasi dan masuk ke dalam
pembuluh darah dan akan :
a. Terhenti pada suatu tempat dan menempel pada endothel pembuluh
darah
Sel kanker yang masuk sirkulasi dapat sendirian (80%) atau
bergerombol lalu dengan bekuan darah membentuk emboli. Tidak
semua sel kanker yang masuk sirkulasi dapat tumbuh menjadi
metastasis. Diperkirakan kurang dari0,01%. Sebagian besar akan
mati dan yang tahap hidup pada suatu tempat pada endothel kapiler
dalam organ akan melekat dengan bantuan gikoprotein, seperti
fibronektin, laminin, dan reseptor membran sel penderita. Berhasil
atau tidaknya sel kanker melekat dan tumbuh in situ tergantung
pada keadaan organ ditempat itu, apakah sesuai atau tidak.
b. Sel kanker merusak membran basal dan matriks pembuluh darah
Setelah melekat pada endothel membran sel basal, sel kanker itu
mengeluarkan enzim, seperti : protase, collaginase, cathepsin yang
dapat merusak membran basal sehingga sel kanker dapat ke luar
dari pembuluh darah.
c. Sel kanker migrasi ke jaringan extravaskuler
Sel kanker dengan gerakan amoebid masuk ke jaringan
ekstravaskuler dan tumbuh disitu membentuk koloni sel-sel. Arah
gerakan dipengaruhi oleh faktor chemotaxis yang dapat berasal
dari serom, parenchym organ atau membran basal yang mungkin
mempengaruhi lokasi metastase. Untuk dapat tumbuh perlu ada
pasokan darah yang hanya dicukupi dengan angiogenesis, yaitu
pembentukan pembuluh darah baru.
d. Sel kanker merangsang pertumbuhan pembuluh darah baru
Untuk dapat tumbuh sel kanker merangsang angiogenesis dan
neovascularisasi untuk memberikan pasokan darah ke tumor.
(Sukardja, 2000)

11. Manifetasi klinik tumor


a. Manifetasi setempat
Benjolan (tumor) : ini merupakan keluhan utama yang sering
dikemukakan pasien, sering kali pasien meraba atau merasakan
benjolan di bagian tertentu tubuhnya maka datang berobat.
Benjolan dapat timbul di segala tubuh, yang lokasinya dekaxt atau
dipermukaan seperti kulit, jaringan lunak, mamae, skrotum,
anggota badan, rongga mulut, hidung, anus, rektum baagian bawah,
supraklavikula, ketiak, lipat paha teraba pembesaarn kelenjar limfe
metastatik, tumor organ dalam yang besar juga teraba.
Gejala obstruksi akibat tumor: kebanyakan terjadi pada
saluran pernafasan, pencernaan, misal kanker laring, kanker
pangkal lidah menimbulkan kesulitan bernafas; kanker paru secar
total atau parsial menyumbat saluran bronkus menimbulkan
atelektasis dan berbagai gejala pernafasan.
Gejala desakan akibat tumor : tumor mediastinum, seperti
limfoma, timoma, teratoma atau kanker metastatik mediastinum
bila mendesak vena kava timbul udem di kepala, wajah, leher, dada
atas, vena dinding toraks melebar, sulit bernafas, sianosis, dan
gejala lain ; karsinoma tiorid mendesak trakea, esofagus, nervus
rekuren laringeus dapat timbul dispnea, disfagia, suara parau.
Destruksi struktur dan fungsi organ tempat tumor berada :
osteosarkoma merusak tulang,mempengaruhi fungsi persendian di
dekatnya bahkan sampai fraktur, hingga fungsi tungkat tersebut
hilang; tumor otak mendesak, merusak fungsi jaringan otak tempat
lesi, timbul gejala sesuai lokasi tersebut (kejang, lumpuh, afasia,
dan lain-lain).dan gejala meningginya tekanan intrakranial (sakit
kepala, muntah, gangguan visus); karsinoma paru, gastrointestinal,
versika urinaria dan lain-lain merusak organnya, pasien mengalami
hemoptisis, muntah darah, hematokezia, hematuria.
Nyeri : ini juga keluhan utama yang sering dikemukakan
pasien. Pada awalnya tumor biasanya tidak nyeri, namun pada
tumor pada saraf atu mendesak saraf di dekatnya, atau bila tumor
didalam organ padat dan tulang rangka tumbuh terlalu cepat
menyebabkan rangka tumbuh terlalu cepat menyebabkan kapsul
organ atau periosteum teregang, timbul nyeri tumpul atau nyeri
samar, tumor mengbostruksi, organ berlumen seperti saluran
gastrointestinal, urinaria, timbul nyeri bahkan nyeri hebat; tumor
stadium lanjut, menyerang berkas saraf, menekan radiks saraf dapat
timbul nyeri rafrakter; tumor rongga abdomen mengalami
perdarahaan masif, atau terjadi perforasi gatrointestinal, timbul
abdomen akut.
Sekret patologis : tumor di rongga mulut, hidung,
nasofaring, saluran pencernaan, pernafasan, urinaria, reproduktif
dan lain-lain. Bila terjadi ulserasi ke dalam lumen atau komplikasi
infeksi, sering timbul sekret sanguineus, purulen, musinosa atau
nekrotik mengalir ke luar lumen rongga. Misal karsinoma
nasofaring timbul epitaksis, kanker paru timbul hemoptoe, kanker
saluran kemih timbul hematuria, kanker rektum timbul
hematokezia, dan lain-lain.
Ulserasi : tumor yang timbul dikulit, mukosa, rongga mulut,
nasofaring, saluran pernafasan, pencernaan, serviks uteri, vagina,
vulva dan lain-lain, mudah mengalami ulsersi dan infeksi ikutan,
timbul sekret berbau amis atau hemoragik. Pasien kanker kulit
sering datang dengan keluhan utama ulkus.
b. Manifestasi sistemik
Tumor stadium awal tidak menunjukan gejala sistemik yang jelas,
dengan berkembangnya tumor dapat timbul gejala berikut ini :
1) Demam : tidak sedikit pasien tumor datang dengan keluhan
utama demam. Demam sering terjadi pada limfoma maligna,
karsinomahati paru, osteosarkoma, karsinoma gaster, kolon,
pankreas dan kanker stadium lanjut.
2) Penurunan berat badan, anemia, astenia progresif : merupakan
gejala yang umum pada kanker stadium lanjut. Pasien kanker
esofagus, gaster hati, pankreas, kolon, karena masukan
makanan, pencernaan, absorpsi terganggu, lebih sering
menderita gejala ini.
3) Ikterus : bila keluhan utama pasien adalah ikterus, pertama-
pertama harus dipikirkan kemungkinan tumor di kaput pankreas,
segmen bahwa duktus koledokus, duktus pankreatobilier atau
papila vateri dan lainnya, yang menyebabkan desakan dan
osbtruksi ujung duktus koledokus.

c. Sindrom paraneoplastik
Manifestasi kulit dan jaringan penunjang :
1) Pruritis ; limfoma malignum terutama penyakit hodgkin, sering
pertama muncul sebagai gejala kulit gatal.
2) Akantosis nigrikans ; gejala khas penyakit ini adalah kulit
menunjukan hiperlasia papilar, melanosis difus, hiperkeratosis,
dan destruksi kulit bersifat simetris bilateral di daerah lipatan
kulit (leher, ketiak, perineum, anus, organ reproduksi eksternal,
lipat ingunalis, media paha, umbilikus, sisi fleksor siku dan
lutut dan lain-lain)
3) Dermatomiositis ; kelemahan otot proksimal progresif dan
destruksi kulit tipikal simteris sebagai tanda khas
dermatomiositis. Kanker yang menyertai umumnya karsinoma
mamae, paru, berikutnya adalah karsinoma ovarium, serviks
uteri, gaster, kolon dan limfoma malignum, juga bersamaan
dengan karsinoma nasofaring.
4) Eritema giratum repens ; suatu dermatitis generalisata, bentuk
aneh, berubah seperti zebra atau plakat, sering pada karsinoma
esofagus, mamae, paru, gaster dan serviks uteri
5) Herpes zoster ; tumor yang paling sering mentertai adalah
limfoma maligna.

d. Osteoartopati hipertrofik pulmonal ; manifestasi utamanya berupa


akromegali, artalgia pulmonal, osteomielitis dan ginekomastia pria.
Ditemukan pada karsinoma paru, mesotelioma pleura dan tumor
ganas dengan metastasis intratorakal (karsinoma kolon, kolon,
laring, mamae, ovarium, osteosarkoma, penyakit hodgkin dan lain-
lain).
e. Manifestasi sistem saraf
1) Polimiostisis ; gejala umumnya berupa otot proksimal tak
bertenaga, ekstenser lengan lebih dahulu terkena dibanding
lengan lebih dahulu terkena dibanding fleksor, otot terkena
nyeri sentuh tapi tidak atrofi, refleks dapat hilang atau
menurun.
2) Neuritis perifer ; gejala berupa keempat anggota badan terasa
abnormal dan nyeri,bahkan kehilangan sensibilitas, dapat
disertai otak tak bertenaga, tersering pada kanker paru, juga
terjadi pada mieloma multipel, penyakit hodgkin, leukimia,
karsnioma pankreas, gaster, kolon, mamae dan ovari.
3) Sindrom miastenia : pada awalnya kebanyakan berupa
penurunan tenaga, otot, letih, lalu timbul tungkai atas tak
bertenaga, mulut sering, blefaroptosis, diplopia, gangguan
visus ringan, suara serak, impotensi dan lain-lain.

f. Manifestasi kardiovaskuler
1) Tromboflebitis migrans ; ciri khasnya adalah flebitis nyeri dan
nyeri tekan setempat, dapat teraba benda seperti tali, udem
loka, tapi tidak disertai rubor, kalor, dan tanda radang lain ;
bersifat berpindah, hiang timbul di lokasi berlainan.
2) Endokarditis embolik nonbakterial ; kausa tidak jelas,
manifestasi berupa fibrin jantung membentuk trombus
verukosa, mengakibatkan emboli pada arteri otak, koronaria
atau anggota badan serta mati mendadak. Sering pada
karsinoma lambung, paru atau pankreas.

g. Manifestasi endokrin dan metabolik


1) Sindrom hiperkortisolisme ( cushing) : disebut juga sindrom
sekresi ACTH ektopik, pasien menunjukan melanosis, lemah,
astenia, udem, glukosuria, hipertensi dan alkolosis
hipokalemik dan lain-lain, dapat juga muncul gangguan
mental. Sindrom ini tersering pada karsinoma paru, timoma
maligna dan karsinoma pankreas, kadang kala pada karsinogen
mamae, lambung, kolon, serviks uteri dan lain-lain.
2) Hiperkalsemia : manifestasi klinis berupa anoreksia, mual,
muntah, konstipasi, mengantuk dna mental kacau. Tersering
pada tumor paru, ginjal dan mamae, juga dapat pada
karsinomahati, kolon, kolon. Hiperkalsemia adalah komplikasi
sering pasien kanker.
3) Hiperglikemia : kebanyakan tumor sel kromafin andrenal,
disusul kanker pankreas
4) Hiponatremia : pasien dapat menderita mual, muntah, dan
mengantuk, ada yang menunjukan tanda intoksikasi air.
Terjadi pada kanker paru, pankreas, timoma, duonenum dan
limfoma maligna.
5) Sindrom karsinoid : manifestasi klinis berupa serangan warna
kemerahan, sianosis, sakit pertut, diare, dan asma dan lain-lain.
h. Manifestasi hematologik
1) Anemia kronis ; sering ditemukan pada pasien kanker visera.
Sebabnya mungkin perdarahan, kurang gizi, hambatan
eritropoesis, memendeknya usia sel darah merah sedangkan
hemolisis meningkat dan lain-lain
2) Polisitemia : sering ditemukan pada pasien kanker hati dan
ginjal. Sebabnya adalah tumor menghasilkan eritopoetin yang
mirip atau sama dengan yang diproduksi ginjal dan hati
3) Reaksi leukemoid : pasien kanker dapat mengalami eosinofilia,
sering ditemukan pada kanker kolon, pankreas, lambung dan
mamae. Reaksi leukemoid limfositik dapat terjadi pada kanker
mamae, lambung dan paru. Kemungkinan itu terkait dengan
nekrosis tumor atau toksin yang dilepaskan tumor atau
metastasis lesi.
4) Purpura fibrinolitik ; kanker paru, prostat, leukemia akut,
kanker pankreas dan lain-lain, dapat disertai purpura akibat
defisiensi fibrinogen
5) Trombositosis : sering ditemukan pada leukemia granulositik
kronis, limfoma hodgkin dan tumor padat lain, trombositosis
idiopatik mungkin merupakan petanda awal adanya tumor.

12. Lesi prakanker


Kebanyakan pertumbuhan neoplasma didahului oleh proliferasi dari
sel non neoplastik di dalam epitelium asalnya. Proliferasi ini tidak
neoplastik karena mereka bersifat dapat reversibel. Sesuatu
menyebabkan sel mulai berproliferasi dalam aturan abnormal dan bila
stimulasi awal dibuang maka sel akan kembali normal (walaupu dapat
saja tidak memungkinkan untuk menyingkirkan stimulus). Bila sel
dengan pertumbuhan non neoplastik ini mempunyai pola tidak teratur,
maka proses pertumbuhan ini disebut displasia.
Sel displasia abnormal secara histologis, karakteristik epitel displastik
mancakup disorganisasi sel, lokasi mitosis abnormal, dan nukleus yang
tamak lebih gelap dari biasanya (hiperkromatik). Sel-sel ini tampak
tidak serupa dengan lainnya karena perbedaan ukuran dan bentuk
(pleomorphism). Tingkatan displasia ditentukan oleh ketebalan epitel
yang mengalami perubahan ini. Tingkatan displasia termasuk dispasia
tingan, sedang, berat. Konsep dasar neoplasma intraepitel ini sangat
penting untuk proses displasia mencakup serviks, vulva, prostat,
esofagus, gaster, colon dan lain-lain.

C. Konsep Dasar Medik Ca Faring


1. Definisi
Carsinoma faring adalah tumor ganas yang berasal dari sel epitel yang
melapisi faring, tidak termasuk tumor kelenjar atau limfoma (Brunner
and Suddarth, 2002)
2. Etiologi
Penyebab Ca Faring belum diketahui pasti, tetapi diduga berhubungan
dengan beberapa faktor, yaitu:
a. Kerentanan Genetik
Walaupun karsinoma faring tidak termasuk tumor genetic, tetapi
kerentanan terhadap karsinoma faring pada kelompok masyrakat
tertentu relative menonjol dan memiliki agregasi familial. Analisis
korelasi menunjukkan gen HLA (human leukocyte antigen) dan
gen pengode enzim sitokrom p4502E (CYP2E1) kemungkinan
adalah gen kerentanan terhadap karsinoma faring, mereka
berkaitan dengan sebagian besar karsinoma faring.
b. Virus Eipstein-Barr
Banyak perhatian ditujukan kepada hubungan langsung antara
karsinoma faring dengan ambang titer antibody virus Epstein-Barr
(EBV). Serum pasien-pasien orang asia dan afrika dengan
karsinoma faring primermaupun sekunder telah dibuktikan
mengandung antibody Ig G terhadap antigen kapsid virus (VCA)
EB dan seringkali pula terhadap antigen dini (EA); dan antibody Ig
A terhadap VCA (VCA-IgA), sering dengan titer yang tinggi.
Hubungan ini juga terdapat pada pasien Amerika yang mendapat
karsinoma faring aktif. Bentuk-bentuk anti-EBV ini berhubungan
dengan karsinoma faring tak berdifrensiasi dan karsinoma faring
non-keratinisasi yang aktif (dengan mikroskop cahaya) tetapi
biasanya tidak dengan tumor sel skuamosa atau elemen limfoid
dalam limfoepitelioma.
c. Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan juga berperan penting terhadap kejadian kanker
faring. Penelitian akhir-akhir ini menemukan zat berikut berkaitan
dengan timbulnya Ca faring :
1) Hidrokarbon aromatik, pada keluarga di area insiden tinggi
kanker nasofaring, kandungan 3,4- benzpiren dalam tiap gram
debu asap mencapai 16,83 ug, jelas lebih tinggi dari keluarga di
area insiden rendah.
2) Unsur renik : nikel sulfat dapat memacu efek karsinognesis
pada proses timbulnya kanker nasofaring .
3) Golongan nitrosamin : banyak terdapat pada pengawet ikan
asin. Terkait dengan kebiasaan makan ikan asin waktu kecil, di
dalam air seninya terdeteksi nitrosamin volatil yang berefek
mutagenik.
4) Faktor predisposisi merokok, alcohol, dan paparan sinar radio
aktif
5) Seseorang yang mengalami kanker dikepala dan dileher sering
kali adalah seseorang yang menggunakan alcohol dan
tembakau sebelum pembedahan.
3. Klasifikasi
Klasifikasi kanker faring adalah sebagai berikut :
a. Glotis Karsinoma insitu
T1 : Tumor mengenai satu atau dua sisi pita suara, tetapi gerakan
pita suara masih baik, atau tumor sudah terdapat pada komisura
anterior atau posterior.
T2 : Tumor meluas ke daerah supraglotis atau subglotis, pita suara
masih dapat bergerak atau sudah terfiksir (impaired mobility).
T3 : Tumor meliputi laring dan pira suara sudah terfiksir.
T4 : Tumor sangat luas dengan kerusakan tulang rawan tiroid atau
sudah keluar dari laring.
b. Subglotis karsinoma insitu
T1 : Tumor terbatas pada daerah subglotis
T2 : Tumor sudah meluas ke pita, pita suara masih dapat bergerak
atau sudah terfiksir.
T3 : Tumor sudah mengenai laring dan pita suara sudah terfiksir.
T4 : Tumor yang luas dengan destruksi tulang rawan atau
perluasan ke luar laring atau dua-duanya.
c. Metastasis Jauh (M)
Mx : Tidak terdapat/ terdeteksi
M0 : Tidak ada metastasis jauh
M1 : Terdapat metastasis jauh.
d. Stadium kanker faring adalah:
1) ST1 T1 N0 M0
Tumor mengenai satu atau dua sisi pita suara, tetapi gerakan pita
suara masih baik, atau tumor sudah terdapat pada komisura anterior
atau posterior. Tumor terbatas pada daerah subglotis. Tidak ada
metastasis jauh
2) ST II T2 N0 M0
Tumor meluas ke daerah supraglotis atau subglotis, pita suara
masih dapat bergerak atau sudah terfiksir (impaired mobility).
Tumor sudah meluas ke pita, pita suara masih dapat bergerak atau
sudah terfiksir. Tidak ada metastasis jauh
3) STIII T3 N0 M0, T1/T2/T3 N1 M0
Tumor meliputi laring dan pira suara sudah terfiksir. Tidak ada
metastasis jauh.
4) STIV T4 N0/N1 M0
Tumor sangat luas dengan kerusakan tulang rawan tiroid atau
sudah keluar dari laring. Tumor yang luas dengan destruksi tulang
rawan atau perluasan ke luar laring atau dua-duanya.
4. Manifestasi klinis
Gejala klinis yang sering ditemukan pada kanker faring adalah :
a. Epiktasis
Hal ini terjadi sewaktu menghisap dengan kuat sekret dari rongga
hidung atau nasofaring, bagian dorsal palatum mole bergesekan
dengan permukaan tumor, sehingga pembuluh darah di
permukaan tumor robek dan menimbulkan epiktasis. Gejala yang
ringan dapat timbul epiktasis, dan yang berat dapat timbul
hemoragi nasal masif.
b. Hidung tersumbat
Sering hanya sebelah dan secara progesif bertambah hebat. Ini
disebabkan tumor menyumbat lubang hidung posterior.
c. Tinitus dan pendengaran menurun
Hal ini disebbakan karena tumor di faring dan di dinding lateral
nasofaring menginfiltrasi, menekan tuba eustaki, menyebabkan
tekana negatif di dalam kavum timpani, hingga terjadi otitis
media transudatif. Bagi pasien dengan gejala ringan, tindakan
dilatasi tuba eustaki dapat meredakan sementara. Menurunnya
kemmpuan pendengaran karena hambatan konduksi, umumnya
disertai rasa penuh di dalam telinga.
d. Sefalgia
Kekhasannya adalah nyeri yang kontinyu di regio temporo
parietal atau oksipital satu sisi. Hal ini sering disebabkan karena
adanya desakan tumor, infiltrasi saraf kranial atau os basis
kranial, juga mungkin karena infeksi lokal atau iriasi pembuluh
darah yang menyebabkan sefalgia reflektif.
5) Rudapaksa saraf kranial
Kanker faring menginfiltrasi dan ekspansi secara langsung
sehingga dapat mendestruksi silang basis kranial, atau melalui
saluran atau celah alami kranial masuk ke area petrosfenoid dari
fosa media intrakanial (temasuk foramen sfenotik, apeks petrosis
os temporal, foramen ovale, dan area sinus spongiosus ) membuat
saraf kranial III, IV, V dn VI rudapaksa, manifestasinya berupa
ptosis wajah bagian atas, paralisis otot mata ( temasuk paralisis
saraf abduksi tersendiri ), neuralgia trigeminal atau nyeri area
temporal akibat iritasi meningen ( sindrom fisura sfenoidal ), bila
terdapat juga rudapaksa saraf kranial II, disebut sindrom apeks
orbital atau petrosfenoid.
6) Pembesaran kelenjar limfe leher
Lokasi tipikal metastasisnya adalah kelenjar limfe pada leher tapi
karena kelenjar limfe tersebut permukaannya tertutup otot
sternokleidomastoid, sehingga tidak menimbulkan nyeri dan
benjolan tidak tidak terlihat, maka pada mulanya sulit diketahui.
7) Gejala metastasis jauh
Lokasi meatstasis paling sering adalah tulang, paru-paru, dan hati.
Metastasi ke tulang yang tersering adalah tulang pelvis, vertebra,
iga dan keempat ekstremitas. Manifestasi metastasis tulang adalah
nyeri kontinyu dan nyeri tekan setempat, lokasi tetap dan tidak
berubah-ubah dan secara bertahap bertambah hebat. Pada fase ini
tidak selalu terdapat perubahan pada foto sinar X, bone-scan
seluruh tubuh dapat membantu diagnosis. Metastasis hati, dan
paru-paru tidak menimbulkan gejala, kadang ditemukan ketika
dilakukan tindak lanjut rutin dengan rongsen thorax, pemeriksaan
hati dengan CT atau USG

5. Pemeriksaan diagnostic
Pemeriksaan diagnostik dasar sebelum melakukan pemeriksaan
diagnostic lebih lanjut, sebaiknya dilakukan pemeriksaan dasar sebagai
berikut :
a. Keluhan utama pasien.
Pasien dengan epiktasis aspirasi balik, hidung tersumbat menetap,
tuli unilateral, limfadenopati leher tak nyeri, sefalgia, rudapaksa
saraf kranial dengan penyebab yang tidak jelas, dan keluhan lain
harus diperiksa teliti rongga faringya dengan nasofaringoskop
indirek atau elektrik.
b. Pemeriksaan kelenjar limfe leher
Perhatikan pemeriksaan kelenjar limfe, vena jugularis interna,
nervus aksesorius apakah terdapat pembesaran.
c. Pemeriksaan saraf kranial
Terhadap saraf kranial tidak hanya memerlukan pemeriksaan
cermat sesuai prosedur rutin satu persatu , tapi pada kecurigaan
paralisis otot mata, kelompok otot untuk mengunyah dan lidah
kadang perlu diperiksa berulang kali, barulah ditemukan hasil yang
positif
d. Pemeriksaan serologi virus EBV
Dewasa ini, parameter rutin yang diperiksa untuk penapisan kanker
faring adalah VCA-IgA, EA-IgA, EBV-DNAseAb. Hasil positif
pada kanker nasofaring berkaitan dengan kadar dan perubahan
antibodi tersebut.
6. Pemeriksaan radiologi
a. Pemeriksaan CT-scan
Untuk membantu diagnosis, memastikan luas lesi, penetapan
stadium secara adekuat, secara tepat menetapkan zona target terapi,
merancang medan radiasi, memonitor kondisi remisi tumor pasca
terapi dan pemeriksaa tingkat lanjut.
b. Pemeriksaan MRI
MRI memiliki resolusi yang baik terhadap jaringan lunak, dapat
serentak membuat potongan melintang, sagital, koronal, sehingga
lebih baik dari pada CT. MRI dengan jelas memperlihatkan lapisan
struktur faring dan luas lesi, juga dapat secara lebih dini
menunjukkan infiltrasi ke tulang. Dalam membedakan antara
fibrosis pasca radioterapi dan rekurensi tumor, MRI juga lebih
bermanfaat.
c. Pemeriksaan histologi
Pada pasien kanker faring sedapat mungkin diperoleh jaringan dari
lesi primer faring untuk pemeriksaan patologik. Sebelum terapi
dimulai harus diperoleh diagnosis histologi yang jelas. Hanya jika
lesi primer tidak dapat memeberikan diagnosis patologik pasti
barulah dipertimbangkan biopsi kelenjar limfe leher.
7. Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada kanker faring yaitu:
a. Distres pernapasan (hipoksia, obstruksi jalan napas, edema trakea),
b. Hemoragi
c. Infeksi

D. Konsep Dasar Medik Ca Laring


1. Definisi
Karsinoma laring adalah suatu keganasan yang menyerang bagian
leher tepatnya pada kotak suara (laring).

2. Etiologi
Penyebab pasti sampai saat ini belum diketahui, namun didapatkan
beberapa hal yang berhubungan erat dengan terjadinya keganasan
laring yaitu :
a. Rokok dan alkohol
b. Sinar radio aktif
c. Polusi udara
d. Radiasi leher.
e. Tembakau
f. Penggunaan suara yang berlebihan
g. Ada peningkatan resiko terjadinya tumor ganas laring pada
pekerja-pekerja yang terpapar dengan debu kayu.
3. Manisfestasi klinis
a. Serak
Suara serak adalah hal pertama yang akan tampak pada pasien
dengan kanker pada daerah glotis karena tumor mengganggu
kerja pita suara selama berbicara. Suara mungkin terdengar parau
dan puncak suara rendah.
b. Dispneu dan stridor.
Gejala ini merupakan gejala yang disebabkan oleh sumbatan jalan
nafas dan dapat timbul pada tiap tumor laring. Gejala ini
disebabkan oleh gangguan jalan nafas oleh massatumor,
penumpukkan kotoran atau sekret,maupun oleh fiksasi pita suara.
Pada tumor supraglotik atau transglotik terdapat dua gejala
tersebut. Sumbatan dapat terjaadi secara perlahan-lahan dapat
dikompensasi oleh pasien. Pada umumnya dispneu dan stridor
adalah tanda dan prognosis kurang baik.
c. Nyeri tenggorok
Keluhan ini dapat bervariasi dari rasa goresan sampai rasa nyeri
yang tajam.
d. Disfagia ( Kesulitan Menelan)
Merupakan ciri khas tumor pangkal lidah, supraglotik, hipofaring
dan sinus piriformis. Keluhan ini merupakan keluhan yang paling
sering pada tumior ganas postkrikoid. Rasa nyeri ketika menelan
(odinofagi) menandakan adanya tumor ganas lanjut yang
mengenai struktur ekstra laring.
e. Batuk dan hemoptisis.
Batuk jarang ditemukan pada tumor ganas glotik, biasanya timbul
dengan tertekannya hipofaring disertai sekret yang mengalir ke
dalam laring. Hemoptisis sering terjadi pada tumor glotik dan
supraglotik.

f. Gejala lain berupa nyeri alih ke telinga ipsilateral, halitosis, batuk


hemoptisis dan penurunan berat badan menandakan perluasan
tumor ke luar jaringan atau metastase lebih jauh.

g. Pembesaran kelenjar getah bening leher dipertimbangkan sebagai


metastasis tumor ganas yang menunjukkan tumor pada stadium
lanjut.

h. Nyeri tekan laring adalah gejala lanjut yang disebabkan oleh


komplikasi supurasi tumor yang menyerang kaartilago tiroid dan
perikondrium

5. Pemeriksaan Penunjang
a. Laringoskopi
Untuk menilai lokasi tumor dan penyebaran tumor, mengevaluasi
Tumor.
b. Foto thorak
Untuk menilai keadaan paru, ada atau tidaknya proses spesifik dan
metastasis di paru.
c. CT-Scan
Memperlihatkan keadaan tumor/penjalaran tumor pada tulang rawan
tiroid dan daerah pre-epiglotis serta metastasis kelenjar getah bening
leher.
d. Biopsi laring
Untuk pemeriksaan patologi anatomik dan dari hasil patologi anatomik
yang terbanyak adalah karsinoma sel skuamosa
e. Sinar X jaringan lunak, tomogram, MRI
Dilakukan sebagai bagian dari pemeriksaan diagnostik untuk
menentukan keluasan pertumbuhan tumor
6. Penatalaksanaan
Pada kasus karsinoma laring dapat dilakukan pengobatan dengan:
a. Radiasi jika hanya 1 pita suara yang sakit normalnya dapat bergerak.
Selain itu pasien masih memiliki suara yang hampir normal. Beberapa
kemungkinan pasien dapat mengalami kondritis, yang nantinya akan
dilakukan laringektomi. Terapi radiasi ini digunakan secara praoperatif
untuk mengurangi ukuran tumor.
b. Pemeriksaan gigi dilakukan untuk menyingkirkan setiap penyakit mulut
c. Pengangkatan laring (Laringektomi)
Laringektomi diklasifikasikan kedalam :
1) Laringektomi parsial. Tumor yang terbatas pada pengangkatan
hanya satu pita suara dan trakeotomi sementara yang di lakukan
untuk mempertahankan jalan napas. Setelah sembuh dari
pembedahan suara pasien akan parau.
2) Hemilaringektomi atau vertikal. Bila ada kemungkinan kanker
termasuk pita suara satu benar dan satu salah.Bagian ini diangkat
sepanjang kartilago aritenoid dan setengah kartilago
tiroid.Trakeostomi sementara dilakukan dan suara pasien akan
parau setelah pembedahan.
3) Laringektomi supraglotis atau horisontal. Bila tumor berada pada
epiglotis atau pita suara yang salah, dilakukan diseksi leher
radikal dan trakeotomi. Suara pasien masih utuh atau tetap
normal.Karena epiglotis diangkat maka resiko aspirasi akibat
makanan peroral meningkat.Laringektomi total. Kanker tahap
lanjut yang melibatkan sebagian besar laring, memerlukan
pengangkatan laring, tulang hihoid, kartilago krikoid,2-3 cincin
trakea, dan otot penghubung ke laring.Mengakibatkan kehilangan
suara dan sebuah lubang ( stoma ) trakeostomi yang permanen.
Dalam hal ini tidak ada bahaya aspirasi makanan peroral,
dikarenakan trakea tidak lagi berhubungan dengan saluran udara
– pencernaan.
E. Konsep Dasar Medik Ca Paru
1. Definisi
Kanker paru adalah kanker pada lapisan epitel saluran napas
(karsinoma bronkogenik) (Corwin, 2009)
Kanker paru atau disebut juga karsinoma bronkogenik merupakan
tumor ganas primer sistem pernapasan bagian bawah yang bersifat
epitelial dan berasal dari mukosa percabangan bronkus (Nurarif dan
Kusuma, 2015)
Menurut Wilson dan Thomson (1990) dalam Nurarif dan Kusuma
(2015), kanker paru adalah suat pertumbuhan yang tidak terkontrol
dari sel anaplastik dalam paru.

2. Insiden
Menurut Price dan Wilson (2005), lebih dari 90% tumor paru primer
merupakan tumor ganas, dan sekitar 95% ini termasuk karsinoma
bronkogenik. Inside tertinggi terjadi pada usia antara 55-65 tahun.
Peningkatan ini diyakini berkaitan dengan makin tingginya kebiasaan
merokok kretek yang sebenarnya sebagian besar dapat dihindari.
3. Klasifikasi
Menurut Sudoyo (2009), klasifikasi kanker paru dibagi menjadi:
a. Small Cell Lung Cancer (SCLC)
Gambaran histologi yang khas adalah dominas sel-sel kecil yang
hampir semuanya diisi oleh mukus dengan sebaran kromatin yang
sedikit sekali tanpa nukleoli. SCLC disebut juga “oat cell
carsinoma” karena bentuknya mirip dengan bentuk biji gandum,
sel ini sering berkumpul di sekeliling pembuluh darah halus
menyerupai pseudoroset. Sel-sel yang bermitosis banyak sekali
ditemukan begitu juga gambaran nekrosis.
SCLC berasal dari sel-sel neuroendokrin Kulchitsky pada bronkus
primer dan sekunder dan paling banyak terdapat pada bronkus (Tao
dan Kendall, 2014)

b. Non Small Cell Lung Carsinoma (NSCLC)


1) Karsinoma sel skuamosa/karsinoma bronkogenik.
Karsinoma skuamosa berciri khas proses keratinisasi dan
pembentukan “bridge” interselular.
Karsinoma sel skuamosa merupakan tipe histologik karsinoma
bronkogenik yang paling sering ditemukan, berasal dari epitel
bronkus. Perubahan epitel termasuk metaplasia atau displasia
akibat merokok jangka panjang, secara khas mendahului
timbulnya tumor. Karsinoma sel skuamosa biasanya terletak
sentral di sekitar hilus, dan menonjol ke dalam bronki besar.
Diameter tumor jarang melampaui beberapa sentimeter dan
cenderung menyebar secara langsung ke kelenjar getah bening
hilus, dinding dada dan mediastinum. Karsinoma sel skuamosa
seringkali disertai batuk dan hemoptisis akibat iritasi atau
ulserasi, pneumonia, dan pembentukan abses akibat obstruksi
dan infeksi sekunder. Karena tumor ini cenderung agak lamban
dalam bermetastasis, maka pengobatan dini dapat memperbaiki
prognosis (Price dan Wilson, 2005)
2) Adenokarsinoma
Adenokarsinoma memperihatkan susunan selular seperti
kelenjar bronkus dan dapat mengandung mukus. Kebanyakan
jenis tumor ini timbul dibagian perifer segmen bronkus dan
kadang-kadang dapat dikaitkan dengan jaringan parut lokal
pada paru dan fibrosis interstisial kronik. Lesi seringkali
meluas ke pembuluh darah dan limfe pada stadium dini dan
sering bermetastasis jauh sebelum lesi primer menyebabkan
gejala-gejala (Price dan Wilson, 2005).
3) Karsinoma Bronkoalveolar
Merupakan subtipe dari adenokarsinoma, dia
mengikuti/meliputi permukaan alveolar tanpa menginasi atau
merusak jaringan paru (Sudoyo,2009).
Karsinoma bronkoalveolar merupakan subtipe adenokarsinoma
yang jarang ditemukan, dan yang berasal dari epitel alveolus
atau bronkeolus terminalis. Awitan pada umumnya tidak nyata,
disertai tanda-tanda yang menyerupai pneumonia.
Prognosisnya buruk, kecuali kalau dilakukan pembuangan
lobus yang terserang pada saat penyakit masih dini (Price dan
Wilson, 2005).
4) Karsinoma Sel Besar
Karsinoma sel besar adalah sel-sel ganas yang besar dan
berdiferensiasi sangat buruk dengan sitoplasma yang besar dan
ukuran inti bermacam-macam. Sel-sel ini cenderung timbul
pada jaringan paru perifer, tumbuh cepat dengan penyebaran
ekstensif dan cepat ke tempat-tempat yang jauh (Price dan
Wilson, 2005)

4. Stadium Kanker Paru


Menurut Joint Committe of Lung Cancer Of State dalam Rab (2010)
Tumor Primer (T)
TIS Karsinoma in situ
T1 Tumor dengan diameter 3 cm atau kurang, dikelilingi
oleh paru atau pleura viseralis, dan tanpa bukti adanya
invasi proksimal ke bronkus lobaris pada bronkoskopi
T2 Tumor dengan diameter lebih dari 3 cm, atau tumor
dengan ukuran apapun yang menginvasi pleura
viseralis, atau disertai dengan atelektasis atau
pneumonitis obstruktif yang meluas ke daerah hilus.
Pada bronkoskopi tumor yang menyebar ke proksimal
harus terlihat berada di dalam bronkus lobaris atau
paling sedikit 2 cm di sebelah distal dari karina.
Atelektasis atau pneumonitis obstruktif yang terjadi
harus mengenai kurang dari satu paru, dan tidak boleh
ada efusi pleura
T3 Tumor dengan ukuran apapun yang menyebar secara
langsung pada struktur yang berdekatan, seperti pleura
parietalis atau dinding toraks, diafragma atau
mediasternum dan isinya, atau tumor yang mengenai
bronkus utama yang dapat diperlihatkan dengan
bronkoskopi dengan ukuran kurang dari 2 cm di sebelah
distal karina, atau setiap tumor yang berhubungan
dengan terjadinya atelektasis atau pneumonitis
obstruktif pada seluruh lapangan paru atau terdapatnya
efusi pleura (dengan atau tana ditemukan sel-sel ganas)
Nodus Limfatikus Regional (N)
NO Tidak terdapat metastasis ke nodus limfatikus regional
N1 Terdapat metastasis ke nodus limfatikus peribronkial
atau hilus sisi ipsilateral, atau keduanya. Termasuk
penyebaran langsung
N2 Metastasis ke nodus limfatikus di dalam mediasternum
Metastasis Jauh (M)
MO Tidak terdapat metastasis jauh
M1 Terdapat metastasis jauh pada tempat-tempat tertentu,
yakni skalenus, servikalis, atau nodus limfatikus hilus
kontralateral, atau metastasis ke otak, tulang, hati,
jaringan lunak, atau paru-paru sisi kontralateral, dan
sebagainya.
Tabel 1. Panitia Gabungan Amerika untuk Penentuan Stadium
Kanker dan Laporan Hasil Akhir Definisi dari Kategori TNM

Stadium I
TIS NO MO Karsinoma in situ
T1 NO MO Tumor yang dapat diklasifikasikan ke dalam
T1
T1 NO/N1 MO Tanpa metastasis atau dengan metastasis ke
kelenjar limfe
T1 N1 MO Terdapat metastasis ke kelenjar limfe
peribronkial atau hanya di daerah hilus
T2 NO MO Tumor ipsilateral, atau tumor yang dapat
diklasifikasikan ke dalam T2 tanpa metastasis
ke kelenjar limfe atau metastasis jauh
Stadium II
T2 N1 MO Suatu tumor yang di klasifikasikan ke dalam
T2 dengan metastasis hanya ke kelenjar limfe
peribronkial atau daerah hilus ipsilateral
Stadium III
T3 dengan N apapun, atau setiap tumor yang
lebih luas dari T2, atau setiap tumor dengan
metastasis
N2 dengan T apapun, atau setiap metastasis
ke kelenjar limfe di dalam mediastinum, atau
N apapun setiap tumor dengan metastasis
jauh
M1 dengan T atau N apapun
Tabel 2. Panitia Gabungan untuk Penggolongan Kanker dan
Laporan Hasil Akhir Penggolongan Stadium Bagi Kanker Paru
Amerika

5. Etiologi
Menurut Sudoyo (2009), seperti umumnya kanker yang lain penyebab
yang pasti daripada kanker paru belum diketahui, tapi paparan atau
inhalasi berkepanjangan suatu zat yang bersifat karsinogenik
merupakan faktor lain seperti kekebalan tubuh, genetik dan lain-lain.
Dari beberapa kepustakaan telah dilaporkan bahwa etiologi kanker
paru sangat berhubungan dengan kebiasaan merokok. Menurut
Lombard dan Doering (1928) dalam Sudoyo (2009), melaporkan
tingginya insiden kanker paru pada perkokok dibandingkan yang tidak
merokok.
Terdapat hubungan antara rata-rata jumlah perokok dengan tingginya
insiden kanker paru. Dikatakan bahwa, 1 dari 9 perokok berat akan
menderita kanker paru, begitu juga tidak menutup kemungkinan bagi
perokok pasifpun akan beresiko terkena kanker paru.
Efek rokok bukan saja mengakibatkan kanker paru, tapi juga dapat
menimbulkan kanker pada organ lain seperti mulut, laring, esofagus.
Sedangkan menurut Sudoyo (2009), etiologi kanker paru yang pernah
dilaporkan adalah:
a. Paparan zat karsinogen, seperti
1) Asbestos, sering menyebabkan mesotelioma
2) Radiasi ion pada pekerja tambang uranium
3) Radon, arsen, kromium, nikel, polisiklik hidrokarbon, vinil
klorida
b. Polusi Udara
Pasien kanker paru lebih banyak di daerah urban yang banyak
polusi udaranya dibandingkan yang tinggal di daerah rural
c. Genetik
Terdapat perubahan/mutasi beberapa gen yang berperan dalam
kanker paru, yakni : Proto oncogen, Tumor supressor gene, Gene
encoding enzyme
d. Teori Onkogenesis
Terjadinya kanker paru didasari dari perubahan tampilnya gen
supresor tumor dalam genom (onkogen). Adanya inisiator
mengubah gen supresor tumor dengan cara menghilangkan
(delesi/del) atau penyisipan (insersi/inS) sebagian susunan
basanya, tampilnya gen erbB1 atau neu/erbB2 berperan dalan anti
apoptosis. Perubahan tampilan gen kasus ini menyebabkan sel
sasaran dalam hal ini sel paru berubah menjadi sel kanker dengan
sifat pertumbuhan yang autonom. Dengan demikian, kanker
merupakan penyakit genetik yang pada permulaan terbatas pada sel
sasaran kemudian menjadi agresif pada jaringan sekitarnya.

6. Manifestasi klinis
Usia kejadian tertinggi karsinoma paru adalah 45-65 tahun, proporsi
pria:wanita adalah 4:1, dari 1757 kasus karsinoma paru di RS Kanker
Univ. Kedokteran Zhongshan usia median adalah 55 tahun, kelompok
usia 45-65 tahun menempati 75% lebih dari keseluruhan kasus
karsinoma paru. Manifestasi klinis karsinoma paru bervariasi menurut
lokasi, ukuran, tipe patologik, apakah menginfiltrasi atau mendesak
organ sekitar serta ada tidaknya metastasis. Manifestasi klinis yang
sering dditemukan adalah:

Gejala local dan sistemik akibat tumor


1. Batuk: gejala paling sering karsinoma paru, umumnya
batuk kering iritatif, tanpa sputum atau sedikit sputum mukoid
putih. Batuk sering kali dikarenakan tumor mengenai berbagai
percabangan bronkus.
2. Hemoptysis: gejala paling khas karsinoma paru, umumnya
sputum berserat darah atau bernoda darah. Hemoptysis disebabkan
kanker menginvasi kapiler mukosa bronkial, sering bercampur
denga sel ganas yang terlepas, angka positif pemeriksaan sitology
sputum tinggi.
3. Dada penuh, sakit: stadium dini hanya tampil sebagai dada
terasa penuh ringan, ketika kanker mengenai pleura parietal atau
langsung menginvasi dnding torak, dapat timbul nyeri menetap di
lokasi tersebut.
4. Dispnea: tumor menyumbat bronkus menimbulkan
pneumonia obstruktif atau atelectasis merupakan salah satu sebab
terjadinya napas pendek pada pasien karsinoma paru. Derajat
dyspnea bervariasi menurut lingkup obstruksi. Penyebaran
karsinoma paru ke pleura menimbulkan efusi pleural maligna juga
menyebabkan dyspnea. Selain itu, kanker alveolar difus
menyebabkan kelainan interstisium paru, dapat timbul dyspnea
karena insufisiensi pertukaran gas, yang parah dapat menyebabkan
dyspnea refrakter
5. Demam: pneumonia obstruktif meruapakan sebab utama
demam pada karsinoma paru. Kekhasan demam ini adalah
berkepanjangan intermiten, kadang memburuk dan kadang
membaik, sulit diterapi. Selain itu demam juga dapat disebabkan
oleh toksin kanker atau metastasis sumsum tulang.
6. Gejala sistemik nonspesifik: anoreksia, penurunan berat
badan, kakeksia pada stadium lanjut.
Dari uraian di atas tampak bahwa simptomatologi karsinoma paru
tidak khas, dan banyak penyakit system pernapasan memiliki gejala
klinis serupa. Maka berdasarkan simptomatologi menegakkan
diagnosis karsinoma paru kuncinya terletak pada kewaspadaan
terhadap karsinoma paru. Segala gejala saluran pernapasan yang
tidak sembuh setelah diobati selama 2 minggu lebih harus
diwaspadai kemungkinan keberadaan karsinoma paru.

Gejala invasi keluar dan metastasis karsinoma paru

1. Sindroma obstruksi vena cava superior: ini akibat dari


karsinoma paru langsung menginvasi atau metastasis kelenjar limfe
mediastinum superior, menifestasinya berupa udem di bagian
kepala, leher bahkan kedua ektremitas atas, hiperdilatasi vena dan
kapiler darah daerah leher dan dada atas, dll. Terdapat 5-10%
pasien kasinoma paru datang dengan gejala pertama demikian.
2. Sindroma Horner: disebabkan karsinoma paru atau
metastasis kelenjar limfe mengenai saraf simpatis paravertebral
servikal VII hingga torakal I, tampak sebagai bola mata ipsilateral
cekung ke dalam, ptosis palpebral superior, celah mata menyempit,
pupil mengecil, sisi lesi tak berkeringat, dll.
3. Sindroma Pancoast: di atas dasar sindroma Horner, tumor
lebih lanjut mendestruksi iga I,II dan saraf pleksus brankialis,
timbul nyeri ekstremitas atas.

Gejala lain invasi dan metastasis yang sering ditemukan adalah:


mengenai nervus rekuen laringeus timbul suara serak, sebagian
pasien datang dengan keluhan awal ini: metastasis otak timbul
selfagia, muntah, hemiplegia, metastasis tulang timbul nyeri
menetap daerah tersebut.

Gejala penyerta karsinoma paru


Zat bioaktif abnormal yang dihasilkan oleh karsinoma paru
menimbulkan gejala sistemik pada pasien, disebut sebagai gejala
penyerta karsinoma paru, lebih sering timbul pada karsinoma paru
sel kecil. Gejala yang sering timbul adalah:

1. Osteoartropati hipertrofik pulmonal


Umunya pada pasien adenokarsinoma paru, frekuensinya sekitar
12% disusul oleh kanker skuamosa paru. Gejala klinis utama
berupa persendian besar nyeri, jari tangan dan kaki mirip gada,
sinar X menunjukkan periostenium tulang panjang hyperplasia atau
peritostitis dapat menjadi rujukan diagnosis. Artropati pulmonal
dapat timbul pada stadium awal karsinoma paru atau sebelum
gejala local tumor muncul, bahkan dapat menjadi keluhan tunggal
utam karsinoma paru. Oleh karena itu, bila seorang pasien datang
dengan keluhan utama nyeri persendian, harus waspada keberadaan
karsinoma paru. Setelah karsinoma paru berhasil diterapi, artralgia
cepat hilang, jari gada dan kelainan gambaran sinar X juga secara
perlahan-lahan mereda. Bila karsinoma paru rekuen gejala tersebut
dapat kembali muncul. Mekanisme terjadinya belum jelas.
2. Sindroma karsinoid (sindroma Cassidy)
Gejala klinis utama sebagai sakit perut, diare, muka merah,
bronkospasme. Etiologi timbulnya karsinoid adakah karena sel
argentafin dalam jaringan kanker menghasilkan senyawa amina
bioaktif. Perlu dikemukakan, sindroma karsinoid seing ditemukan
pada kanker sel kecil, sedangkan karsinoid bronkial umumnya
tidak menimbulkan sindroma karsinoid.
3. Ginekomastia
Gejala klinis utama sebagai perkembangan kelenjar mamae
unilateral atau bilateral. Sebab terjadiny mungkin karsinoma paru
menghasilkan gonadotropin ektopik, sering ditemukan pada
karsinoma paru sel kecil.
Gejala penyerta karsinoma paru lainnya adalah: hiperkalsemia
akibat zat mirip parathormon ektopik; neuropati dan miopati,
dermatomiositis karsinomatosa;sindroma eosinophilia; sindroma
Cushing dan sindroma hipersekresi ADH.
7. Tes Diagnostik
a. Sitologi sputum
Sitologi sputum adalah tindakan diagnostik yang paling mudah dan
murah. Kekurangan pemeriksaan ini terjadi bila tumor ada di
perifer.
b. Radiologi thoraks
Pada pemeriksaan foto thoraks akan dapat dilihat bila massa tumor
dengan ukuran tumor lebih dari 1cm. Tanda yang mendukung
keganasaan adalah tepi yang irreguller, disertai indentasi pleura.
c. CT-Scan thoraks
Teknik pencitraan ini dapat menentukan kelainan di paru secara
lebih baik daripada foto thoraks. CT-scan dapat mendeteksi tumor
dengan ukuran lebih dari 1cm, secara lebih tepat, demikian juga
tanda-tanda keganasaan juga tergambar lebih baik, bahkan bila
terdapat penekanan terhadap bronkus, tumor intra bronkial,
atelektasis, efusi pleura yang tidak masif dan telah terjadi invasi ke
mediastinum. CT-scan sangat berperan untuk melihat keterlibatan
kelenjar getah bening untuk menentukan stage.
d. Mediastinocopy
e. Toraskoskopik medik
Dengan tindakan ini massa tumor di bagian perifer paru,
pleuraviseralis, pleura parietal dan mediastinum dapat dilihat dan di
biopsi
f. USG thoraks

8. Penatalaksanaan Medik
a. Penatalaksanaan Non Bedah
1) Therapi radiasi
Terapi radiasi berpotensi menyembuhkan klien dengan
penyakit lokal lanjut, tetapi untuk klien yang di lakukan operasi
menimbulkan risiko sangat tinggi. Dosis radiasi dibatasi oleh
adanya struktur lain di daerah perawatan dan dengan toleransi
jaringan normal. perubahan fibrotik dan efek samping paru
lainnya dapat terjadi. Radiotherapi juga dapat digunakan pada
kanker untuk paliatif manifestasi seperti nyeri dada, sesak
napas, penyumbatan dari broncus, pembuluh darah.
a) Pengaruh radiasi pada tubuh
Menurut Sukarjda (2000), radiasi jaringan dapat
menimbulkan ionisasi air dan elektrolit dari cairan tubuh,
baik intra maupun ekstra seluler, sehingga timbul ion H+
dan OH- yang sangat reaktif. Ion itu dapat bereaksi dengan
molekul DNA dalam kromosom, sehingga dapat terjadi:
(1) Rantai ganda DNA pecah
(2) Perubahan cross-linkage dalam rantai DNA
(3) Perubahan base yang menyebabkan degenerasi atau
kematian sel
Dosis lethal dan kemampuan reparasi kerusakan pada sel-
sel kanker lebih rendah dari sel-sel normal, sehingga akibat
radiasi sel-sel kanker lebih banyak yang mati dan yang tetap
rusak dibandingkan dengan sel-sel normal.
Sel-sel yang masih hidup akan mengadakan reparasi
kerusakan DNA-nya sendiri-sendiri. Kemampuan reparasi
DNA sel normal lebih baik dan lebih cepat dari sel kanker.
Keadaan ini dipakai sebagai dasar untuk kemoterapi pada
kanker.
Walaupun diketahui bahwa radiasi dapat menimbulkan
mutasi gen, tranformasi gen menjadi kanker, gangguan
pertumbuhan dsb. Tetapi dengan mengendalikan dan
mengarahkan radiasi ke sasaran yang dinginkan, engaruh
jelek radiasi dapat ditekan sekecil mungkin. Pengaruh
radiasi pada jaringan tubuh ditentukan oleh radiosensitivitas
jaringan yang bersangkutan. Pada umumnya kanker lebih
sensitif dari jaringan normal.
b) Sinar untuk radioterapi
Sinar yang dipakai untuk radioterapi ialah :
1) Sinar alfa
Sinar alfa ialah sinar korpuskuler atau partikel dari inti
atom. Inti atom itu sendiri dari proton dan neuron. Sinar alfa
itu tidak dapat menembus kulit dan tidak banyak dipakai
dalam radioterapi. Keuntungan sinr lfa ialah i tidk
dipengaruhi oleh oksigenasi dalam tumor
2) Sinar beta
Sinar beta ialah sinar elektron sinar ini dipancarkan oleh zat
radioaktif yang mempunyai energi rendah. Daya tembusnya
pada kulit terbatas, 3-5mm digunakan untuk terapi lesi yang
superficial. Isotope yang memancarkan sinar beta ialah
strontium90, phospor32, yttrium90, aurum198, iodium131
3) Sinar gamma
Sinar gamma ialah elektromagnetik satau foton. Sinar ini
dapat menembus tubuh. daya tembusnya tergantung dari
besar energi yang menimbulkan sinar itu. Makin tinggi
energinya atau makin tinggi voltagenya, makin besar daya
tembusnya dan makin dalam letak dosis maksimal.
Energi radiasi makin jauh letak jaringan dari sumber sinar,
diluar daerah yang mendapat dosis maksimum, makin
berkurang secara eksponetial.

energi Dosis maksimum


1 mV Dipermukaan kulit
3 mV 0,5 cm dibawah kulit
4 mV 1 cm dibawah kulit
8 mV 1,75 cm dibawah kulit
20 mV 5 cm dibawah kulit

c) Cara pemberian radioterapi


Ada 3 cara utama pemberian sinar, yaitu:
(1) Teleterapi = radiasi eksterna
Sumber sinar berupa aparat Sinar-X atau radioisotope
yang ditempatkan diluar tubuh. Sinar diarahkan ke
tumor yang akan diberi radiasi.
Besarnya energi yang diserap oleh suatu tumor
tergantung dari:
(a) Besarnya energi yang dipancarkan oleh sumber
energi
(b) Jarak antara sumber energi dan tumor
(c) Kepadatan masa tumor
Radioterapi eksterna umumnya diberikan secara
fraksional dengan dosis 150-250 rads setiap kali, dalam
2-3 seri. Diantara seri 1-2 atau 2-3 diberi istirahat 1-2
minggu untuk memulihkan keadaan penderita sehingga
radioterapi memerlukan waktu 4-6 minggu. Kalau
keadaan penderita baik mungkin perlu istirahat.
(2) Brachiterapi = radiasi interna
Sumber energi ditaruh di dalam tumor atau berdekatan
dengan tumor di dalam rongga tubuh. Ada beberapa
macam radiasi interna:
(a) Interstisial: radioisotope yang berupa jarum
ditusukan ke dalam tumor. Contoh: dipakai jarum
radium atau jarum irridium
(b) Intracavitair
Pemberian radiasi dapat dilakukan dengan:
i. After loading
Suatu applikator kosong dimasukan kedalam
rongga tubuh ke tempat tumor, misalnya vagina,
uterus, rektum dsb. Setelah applikator itu
letaknya tepat baru ke dalam applikator itu di
masukakan isotope radioaktif atau radioisotope
sehingga cara ini disebut “after loading”. Dengan
after loading itu radioisotope dapat ditempatkan
pada tempat yang dikehendaki tanpa
menimbulkan bahaya radiasi bagi personil yang
memasang radioisotope itu
ii. Instalasi
Larutan radioisotope disuntikan ke dalam rongga
tubuh, seperti pleura atau peritonium
(3) Intravena
Larutan radioisotope disuntikan ke dalam vena. Kini
radioisotope dapat pula digabungkan secara kimiawi
dengan antibodi monoclonal yang spesifik terhadap
satu jenis kanker, sehingga dengan demikian terciptalah
apa yang disebut “peluru ajaib”. Peluru ajaib yang
disuntikan intravena itu akan mencari sel-sel kanker
dimanapun ia berada dan membunuhnya tanpa merusak
sel-sel normal.
d) Radiosensitivitas tumor
Radiosensitivitas tumor ialah tumor yang dapat
dihancurkan dengan radiasi yang tidak merusak atau
ditoleransi dengan baik oleh jaringan normal disekitarnya.
Radiosensitivitas tumor ditentukan oleh rasio dosis letal
dan dosis toleransi jaringan normal.
Tiap-tiap jaringan mempunyai dosisi toleransi supaya
menjadi nekrose karena radiasi, sedang tumor mempunyai
dosis lethal yang mematikan tumor itu. Dosis letal ialah
dosis yang dapat mematikan 95% sel tumor.
Radiosensitivitas tumor tergantung dari banyak faktor,
antara lain :
(1) Tipe histologi tumor
(2) Derajat diferensiasi sel
(3) Besar tumor
(4) Vaskularisasi tumor
(5) Lokasi topografi tumor
Sehubungan dengan kepekaan (sensitivitas) tumor terhadap
radioterapi, maka tumor dapat dibagi menjadi 3 golongan,
yaitu :
(1) Tumor yang radiosensitif
Tumor ini dapat dihancurkan dengan dosis 3500-6000
rads dalam 3-4 minggu
Seperti :
(a) Lymphoma inaligna
(b) Myeloma
(c) Retinoblastoma
(d) Seminoma
(e) Embryoma
(f) Neuroblastoma
(g) Dysgerminoma
(h) Basalioma
(i) Dsb
Kanker okult, residu adenokarsninoma atau kanker
skwamosa mikroskopis asca operasi, kaner laryx T1,
dsb. Dapat juga dihancurkan dengan dosis itu
(2) Tumor yang radioresponsif
Kanker yang ukurannya sedang, T2-T3, dapat
dihancurkan dengan dosis 6000-8000 rads dalam 3-
4minggu seperti kanker :
(a) Kulit
(b) Mulut
(c) Mammae
(d) Serviks
(e) Paru
(f) Nasopharinx
(g) Ginjal
(h) Thiroid
(i) Oesophagus
(3) Tumor yang radioresisten
Tumor ini baru dapat dihancurkan dengan dosis 8000
rads ke atas. Tumor yang radioresisten itu sukar dapat
dihancurkan tanpa juga merusak jaringan normal
disekitar tumor seperti :
(a) Sarkoma jaringan lunak
(b) Osteosarkoma
(c) Melanoma maligna
(d) Adenokarsinoma
(e) Kanker otak
(f) Dsb.
Metastase kanker dikelenjar limfe umumnya juga
radioresisten.
e) Tujuan radioterapi
Radioterapi seperti juga halnya pembedahan ialah terapi
lokoregional, yaitu terapi untuk kanker yang luas
ektensinya masih terbatas, lokal dan/atau lokoregional.
Radioterapi dapat diberikan untuk tujuan :
(1) KURATIF
Radioterapi kuratif dapat diberikan untuk tumor
lokoregional yang :
(a) Radiosensitif
(b) Radioresponsif yang sukar operasinya atau menolak
operasi
(2) PALIATIF
Radioterapi paliatif diberikan untuk tumor lanjut yang :
(a) Radioresponsif yang inoperabel
(b) Ulkus yang berbau
(c) Metastase tulang untuk menghilangkan rasa nyeri
dan mencegah terjadinya fraktur
(d) Mengalami obstruksi

f) Cara pemberian radioterapi


Radioterapi dapat diberikan sebagai :
(1) Terapi utama
Sebagai terapi utama raidoterapi diberikan pada kasus :
(a) Kanker yang radiosensitif
(b) Kanker yang operasinya sukar atau yang risiko
opeerasinya sangat besar, seperti :
(j) Kanker pada orang yang sangat tua
(ii) Kanker yang disertai penyakit lain yang berat
(iii) Kanker nasopharynx
(iv) Kanker pangal lidah
(c) Kanker yang inoperabel
(i) Kanker otak
(ii) Kanker mamae
(iii) Kanker serviks
(iv) Kanker paru
(v) Kanker usus
(vi) Dsb
(2) Terapi tambahan (Adjuvan)
(a) Tambahan untuk operasi :
(i) Readioterapi pra bedah :
1. Tumor yang operabilitasnya diragukan
2. Tumor yang sangat besar yang sukar
operasinya
(ii) Radioterapi intraoperatif
1. Tumor abdomen yang besar
2. Radioeterapi pascabedah
(iii) Lapangan operasi terkontaminasi sel kanker
1. Operasi yang tidak standar
2. Kanker lanjut lokal
(b) Tambahan untuk kemoterapi
(i) Metastase tulang
(ii) Sindroma vena cava superior
(iii)Kompresio medullae
Dalam hal kombinasi dengan khemoterapi dapat
terjadi lesi lokalnya dengan radioterapi dan
kemoterapi untuk penyebaran kanker. Dalam
hal ini sebaliknya kemoterapi ditambahkan pada
radioterapi, karena ada beberapa kemoterapi
yang menambah radiosensitivitas kanker
(c) Tambahan pada immunoterapi
Pada immunoterapi da[at ditambahkan radioisotope
atau kemoterapi yang akan mencari sel kanker
dimanapun letaknya, yang disebut dengan “peluru
ajaib” (magic bullet)
g) Radioterapi dapat pula diberikan
(1) Pra operasi
Radioterapi praoperasi diberikan untuk tumor yang
operabilitasnya diragukan atau inoperabel
Tujuannya ialah:
(a) Mengecilkan tumor supaya menjadi operabel serta
memudahkan operasi
(b) Mensterilka lapangan operasi dari sel-sel kanker,
sehingga kalau ada sel kanker yang lepas atau
tertinggal pada waktu operasi tidak dapat tumbuh,
sehingga mencegah residif atau metastase iatrogen
Dosis radiasi lebih kecil kalau akan dikerjakan operasi.
Operasi dikerjakan reaksi radiasi mereda, kurang lebih 2
minggu setelah selesai radiasi. Pasca operasi kalau perlu
ditambah lagi dengan dosis yang kurang
(2) Intra-operasi
Radioterapi intra operasi diberikan pada kanker intra
thorakal, abdominal atau pelvinal dengan dosis tinggi
sekali saja, 20-50 Gy. Kalau perlu pasca bedah dapat
ditambahkan radioterapi pasca bedah. Intra operasi
waktu laparatomi atau thorakotomi radioterapi dapat
langsung diarahkan ke tumor sedangkan jaringan yang
tidak perlu mendapat sinar dapat dilindungi dengan
baik. Hasilnya dikatakan lebih baik daripada pemberian
radioterapi hanya pra atau pasca operasi saja
(3) Pasca-operasi
Radioterapi pasca bedah diberikan setelah luka operasi
menyembuh, yaitu 1-2 minggu setelah operasi, umumna
dengan cara fraksional, selama 4-6 minggu.
h) Komplikasi Radioterapi
Komplikasi radioterapi dapat berupa
(1) Komplikasi dini (< 1 tahun)
(a) Kombusio
(b) Dermatitis
(c) Mukositis
(d) Erosi-ulkus
(e) Mual-muntah
(f) Anoreksia
(g) Depresi sumsum
(2) Komplikasi Lambat (setelah 1 tahun)
(a) Tropi-ulkus
(b) Fibrosis
(c) Stenosis
(d) Kontraktur
(e) Perdarahan usus
(f) Paralise saraf
(g) Gangguan pertumbuhan.

2) Kemotherapy
a) Mekanisme kerja obat kanker
Obat anti kanker terutama bekerja pada DNA yang
merupakan komponen utama gen yang mengatur
pertumbuhan dan diferensiasi sel.
Cara kerjanya pada sel-sel kanker ada yang :
(1) Menghambat atau menganggu sintese DNA dan atau
RNA
(2) Merusak replikasi DNA
(3) Menganggu transkripsi DNA oleh RNA
(4) Menganggu kerja gen
Obat anti-kanker itu bekerja pada
(1) Fase spesifik
Yaitu pada : fase M, fase G1, fase S, fase G2.
(2) Fase nonspesifik
Yaitu pada semua fase dalam siklus sel
b) Pemilihan obat anti kanker
(1) Tepat indikasi
Indikasi pemberian obat anti-kanker ialah ada kanker
sistemik, yaitu kanker yang telah menyebar atau yang
diduga telah menyebar tetai masih subklinik atau
mikroskopik dan kanker limphopoitik dan hemopoitik
(2) Tepat jenis
Untuk terapi utama obat yang diberikan adalah obat
yang sensitif terhadap kanker itu (kemosensitif), sedang
untuk terapi tambahan dapat diberikan obat yang
kemoresponsif baik sebagai monofarma (tunggal)
maupun poli atau multifarma
(3) Tepat dosis
Obat anti kanker itu sangat toksis dan harus diberikan
mendekatai dosis toksis, karena itu dosisnya diberikan
dengan tepat. Dosis itu umunya diberikan per Kg. Berat
badan atau per m2 luas badan
(4) Tepat waktu
Ada obat anti kanker yang diberikan tiap hari, dalam
siklus 1 minggu, 2 minggu, 3 minggu, 4 minggu dsb.
(5) Tepat cara
Cara pemberian obat ada bermacam-macam dan untuk
penderita yang bersangkutan harus tepat caranya, seperti
iv,ia, dsb.
(6) Waspada Eso (efek samping obat)
Karena obat anti-kanker sangat toksis maka untuk
mendapat hasil yang maksimal dengan toksisitas yang
minimal perlu waspada terhadap efek samping obat.
Karena itu tidaklah mudah memilih obat-obatan anti
kanker yang akan dipakai pada seseorang penderita
kanker. Untuk dapat memilih obat yang paling tepat
bagi seseorang penderita beberapa faaktor perlu
diperhatikan :
(a) Jenis kanker
(b) khemosensitivitas kanker
(c) populasi sel kanker
(d) persentase sel kanker yang terbunuh
(e) siklus pertumbuhan kanker
(f) imunitas tubuh
a. Jenis kanker
Untuk keperluan kemoterapi kanker dibagi menjadi
2 jenis :
1) Kanker hemopoitik dan limphoitik
Kanker hemopoitik dan limpoitik umunya
merupakan kanker sistemik. Termasuk dalam
jenis kanker ialah : kanker darah (leukimia),
limfoma maligna dan kanker sumsum
(myeloma). Terapi utama kanker hematologi
ialah dengan khemoterapi, sedang operasi dan
radioterapi sebagai adjuvan
2) Kanker padat (solid)
Kanker padat mulai lokal, lalu menyebar
regional dan atau sistemik ke organ-organ lain.
Dalam kanker jenis ini termasuk semua kanker
yang diluar kanker hematologi. Terapi utama
kanker ialah dengan operasi dan atau radioterapi,
sedang kemoterapi baru diberikan pada stadium
lanjut atau sebagai adjuvan.
b. Sensitivitas kanker
Sensitivitas tumor terhadap obat anti-kanker tidaklah
konstan, tetapi pada umumnya :
1) Sensitif
Sebagian besar tumor solid adalah
kemoresponsif atau resistens, hanya beberapa
jenis kanker yang kemosensitif sedang kanker
hematologi umumnya khemosensitif yang dapat
disembuhkan dengan obat-obat anti kanker
seperti :
a) Leukimia
b) Limfoma maligna
c) Myeloma
d) Choriokarsinoma
e) Kanker testis
f) Dsb.
2) Responsif
a) Tumor kecil
b) Tumor yang pertumbuhannya cepat
c) Tumor yang diferensiasi selnya jelek
Contoh kanker : mamae, serviks, paru, kulit, dsb
3) Resistens
a) Tumor besar
b) Kanker yang pertumbuhannya pelan
c) Kanker yang diferensiasi selnya baik
Contoh : kanker otak, fibrosarkoma,
melanoma maligna, dsb.

c. Populasi sel kanker dalam tumor


Sel kanker didalam tumor adalah heterogen, yaitu
terdiri dari bermacam-macam sel, walaupun asalnya
sama.
1) Fraksi klonogen (clonogenic fraction)
Fraksi kolonogen ialah fraksi sel yang dapat
tumbuh. Klon ialah gerombolan sel yang tumbuh
fraksi ini dapat dibedakan lagi menjadi :
a) Fraksi sel yang tumbuh (growth fraction)
Makin besar tumor, makin kecil fraksi sel
yang tumbuh. Pada tumor sebesar 1kg, fraksi
sel yang tumbuh tidak lebih dari 10%. Fraksi
sel yang tumbuh dalam tubuh dapat naik
menjadi 50% atau lebih. Sel-sel yang berada
dalam fraksi tumbuh dapat dihancurkan
dengan obat yang bekerja pada fase spesifik.
Obat ini hanya memberikan efek toksis
minimal pada sel yang tidak tumbuh.
b) Fraksi sel yang mampu tumbuh pada keadaan
tertentu (stem sel=G0 sel)
Farksi sel ini tidak tumbuh, tetapi ia akan
tumbuh lagi, bila ada rangsangan, untuk
mengganti sel-sel yang mati atau rusak,
supaya bentuk dan fungsi organ tetap baik
seperti semula. Fraksi sel ini tidak dapat
dihancurkan dengan obat yang bekerja pada
sel yang tumbuh, tetapi dapat oleh obat yang
bekerja pada fase non spesifik. Dengan
memberikan rangsangan yang adekuat sel
dapat ditarik masuk ke dalam fraksi sel yang
tumbuh, sehingga fraksi sel yang tumbuh
menjadi lebih besar.
2) Fraksi non klonogen (non clonogenic fraction)
Fraksi nonnklonogen ialah fraksi sel yang tidak
mempunyai kemampuan tumbuh. Fraksi sel ini
dapat dianggap sebagai sel yang mati. Walaupun
ia masih hidup tetapi tidak dapat tumbuh lagi.
Normal didalam tubuh antara fraksi sel yang
tumbuh dan sel yang tidak tumbuh yang mampu
tumbuh lagi ada keseimbangan, sehingga tubuh
menjadi harmonis. Pada kanker keseimbangan
itu terganggu. Diperkirakan pada kanker yang
telah manifest klinik fraksi sel kanker yang
tumbuh berkisar antara 10-50%. Makin besar
tumor makin kecil fraksi sel yang tumbuh atau
sebaliknya.
Implikasi klinik dari fraksi sel yang tumbuh itu
ialah :
a) Pada tumor yang besar tau yang
pertumbuhannya lambat lebih baik memakai
obat yang cycle non specific
b) Pada tumor yang kecil atau yang
pertubmuhannya cepat lebih baik memakai
obat yang cycle cell specific atau phase
specific
d. Siklus pertumbuhan kanker
Obat anti kanker ada yang bekerja pada :
1) Semua siklus (cell cycle non specific)
Obat anti kanker dapat bekerja pada semua sel,
apakah ia sedang berada dalam siklus
pertumbuhan sel atau tidak. Pada umumnya sel
yang dalam siklus petumbuhannya cepat lebih
sensitif terhadpa obat daripada yang lambat,
hanya perbedaannya tidak terlalu besar.
2) Pada siklus pertumbuhan tertentu, pada semua
fase (cell cycle non phase specific)
Obat hanya bekerja pada sel yang berada dalam
siklus pertumbuhan, tetapi tidak pada sel yang
tidak tumbuh (G0). Sel yang pertumbuhannya
cepat lebih peka terhadap obat dari pada sel yang
lambat, dengan perbedaan kepekaan yang cukup
besar. Toksisitas sel tergantung dari dosis obat
dan lama paparan (exposure). Untuk
mendapatkan efek maksimal, sebaiknya obat
diberikan secara intermiten dengan dosis yang
tinggi, untuk memberikan kesempatan pada sel-
sel kanker yang ada pada fase G0 kembali ke fase
G1 .
3) Pada siklus pertumbuhan tertentu, pad afase
tertentu (cell cycle phase spesific)
Obat bekerja hanya pada fase tertentu saja dalam
siklus pertumbuhan sel. Sel yang
pertumbuhannya cepat lebih peka daripada yang
pertumbuhannya lambat, tetapi pada sel yang
tidak peka terhadap obat walaupun dosisnya
tinggi. Untuk sel kanker golongan ini sebaiknya
diberi obat anti kanker dalam waktu yang pendek
dan dengan dosis yang tinggi.
e. Imunitas tubuh
Pada penderita kanker yang telah manifest klinik,
imunitasnya tertekan. Diperkirakan kemampuan
tubuh untuk mentasi sel kanker terbatas sampai
sejumlah 105sel. Setelah jumlah sel kanker dapat
dikecilkan sampai 105 sel, diharapkan imunitas
tubuh mengambil alih untuk menghancurkan lebih
lanjut sisa sel kanker yang masih ada. Perlu pula
diperhatikan bahwa operasi, radioterapi dan
kemoterapi juga dapat menurunkan imunitas tubuh. (
Sukardja, 2000).
c) Pemberian obat anti kanker
Obat-obat anti kanker dapat diberikan sebagai:
1) Terapi utama
Sebagai terapi utama obat anti kanker diberikan pada
kanker yang:
a) Khemosensitif
Pemberian khemoterapi pada kanker yang
khemosensitif seperti pada:
(1) Leukimia
(2) Lympoma maligna
(3) Choriocarcinoma
(4) Kanker paru, oat cell
(5) Serkoma Ewing
(6) Dsb
b) Kanker yang menyebar jauh (umumnya Stadium IV)
Pemberian khemoterapi untuk kanker yang sudah
menyebar jauh ialah untuk tujuan paliatif seperti
pada:
(1) Mamma
(2) Serviks
(3) Paru
(4) Kulit
(5) Mulut
(6) Dsb
2) Terapi Tambahan (adjuvan)
Terapi tambahan khemoterapi pada kanker lokal atau
lokoregional umumnya diberikan pasca operasi dan/atau
pasca radioterapi untuk kanker yang khemoresponsif.
Pemberian adjuvan khemoterapi itu disadarkan pada
kenyataan penderita kanker yang kelihatan telah bebas
kanker, setelah beberapa bulan atau tahun, timbul residif
atau metastase, yang menunjukan waktu operasi atau
radioterapi masih ada sel kanker mikroskopis yang
masih tinggal hidup dalam lapangan operasi atau telah
ada metastase jauh yang subklinik. Ternyata adjuvan
khemoterapi dapat mengurangi frekuensi residif atau
metastase. Belakangan ini adjuvan khemoterapi ada
yang memberikan pra operasi atau pra radioterapi yang
disebut Neo Adjuvant Khemoterapi. Sebagai terapi
tambahan khemoterapi diberikan pada kanker lokal atau
lokoregional, seperti pada kanker:
a) Mamma
b) Serviks
c) Kolon
d) Lambung
e) Paru
f) Dsb
d) Terapi Polifarma
Pemberian obat anti-kanker menggunakan satu jenis obat
(monofarma), sering tidak begitu efektif. Karena itu orang
kini lebih condong memberikan kombinasi beberapa jenis
obat anti-kanker dengan kerja obat yang berbeda-beda pada
satu jenis kanker dalam waktu bersamaan. Cara pengobatan
ini disebut terapi polifarma
Pemberian polifarma dengan bermacam-macam kombinasi
dan dosis perlu memperhatikan waktu pemberian serta
toksisitasnya yang disebut protokol pemberian obat anti-
kanker, untuk mendapat hasil yang sebaik-baiknya. Di
samping tiap-tiap jenis kanker ada protokolnya sendiri-
sendiri, juga ada bermacam-macam protokol.
Pada terapi polifarma perlu diperhatikan masing-masing
obat:
(1) Dapat bekerja sendiri-sendiri tanpa tergantung yang lain
(2) Mempunyai cara kerja yang berbeda pada fase yang
berbeda
(3) Tidak mempunyai toksisitas yang sama
(4) Dosis yang dipakai sedekat mungkin dengan dosis
terapeutik

e) Indikasi dan kontraindikasi pemberian kemoterapi


Tidak semua kanker memerlukan obat sitostatika.
Pemberian sitostatika harus dengan hati-hati dan atas
indikasi.
(1) Indikasi kemoterapi
(a) Untuk menyembuhkan kanker
Hanya beberapa jenis kanker yang dpat disembukan
oleh kemoterapi, seperti akut limfoblastik leukimia,
burkit limfoma, wilm tumor pada anak,
choriokarsinoma
(b) Memperpanjang hidup dan remisi
Kanker yang sensitif terhadap kemoterapi dan
walaupun penyakit progesif, seperti : akut
myeloblatik leukimia, limfoma maligna stadium III
atau IV, myeloma, metastase melanoma maligna
atau kanker mamae, kolon, ovarium, testis.
(c) Memperpanjang interval bebas kanker
Walaupun kanker kelihatan masih lokal setelah
operasi radioterapi, seperti : limfoma stadium II,
melanoma maligna, kanker mamae, kolon, ovarium.
Pengobatan perlu waktu cukup lama dan dosis tinggi
dengan interval yang panjang untuk memberikan
kesempatan jaringan normal pulih diantara
pengobatan.
(d) Menghentikan progresif kanker
Progresi penyakit ditunjukan secara subjektif, seperti
anoreksia, penurunan berat badan, nyeri tulang, dsb
atau terdapat kelaianan objektif seerti penurunan
fungsi-fungsi organ dapat diberikan sitostatika,
asalkan kemungkinan berhasil 25% atau lebih.
Misalnya pada metastase kanker mamae, colon, dsb.
(e) Paliasi simptom
Pada kanker yang terdapat pada tempat-tempat yang
tidak cocok untuk radiasi, dapat diberikan sitostatika
walalupun obat itu tidak memberi respons yang baik
sebagai terapi sistemik. Misalnya dapat diberikan
instalasi sitostatika intrapleural, injeksi intratrumoral
dengan thiorepa, dsb
(f) Mengecilkan volume kanker
Mengecilkan tumor pra bedah atau pra riadoterapi
seperti pemberian bleomycin untuk kanker mulut,
saluran nafas bagian atas atau pemberian alkylator
dengan kombinasinya ada limfoma stadium II
(g) Menghilangkan gejala para neoplasma
Pada metastase kanker yang memberikan sindroma
para neoplasma, misalnya pemberian kostikosteroid
ada anemia hemolitik, fibrinolisis, dermatomyositis,
neuroathi perifer, degenerasi cerebelair, pemberian
androgen pada kaheksia, anoreksia, atau pemberian
mithramycin pada hiperkalsemia.
(2) Kontraindikasi
(a) Kontraindikasi absolut
i. Penyakit stadium terminal
ii. Hamil trimester pertama, kecuali digugurkan
iii. Septicemia
iv. Koma
(b) Kontraindikasi relatif
i. Usia lanjut
Terutama untuk tumor yang tumbuhnya lambat
dan sensitivitasnya rendah
ii. Status penampilan yang sangat jelek
iii. Ada gangguan fungsi organ vital yang berat
sepeti : hati, ginjal, jantung, sumsum tulang dsb
iv. Dementia
v. Penderita tidak dapat mengunjungi klinik secara
teratur
vi. Tidak ada kooperasi dari penderita
vii. Tumor resisten terhadap obat
viii. Tidak ada fasilitas penunjang yang memadai
f) Cara pemberian khemoterapi
Pemberian khemoterapi dapat bermacam-macam:
(1) Intravena
Pemberian intravena untuk terapi sistemik, dimana
obat setelah melalui jantung dan hati baru sampai ke
tumor primer. Cara intravena ini yang paling banyak
digunakan untuk khemoterapi. Dalam pemberian
intravena usahakan jangan ada ektravasi obat
(2) Intra arteri
Pemberian intra arteri adalah terapi regional melalui
arteri yang memasok darah ke tumor dengan cara
infusi intra arteri menggunakan catheter dan pompa
arteri. Infusi intra arteri itu untuk memberikan obat
selama beberapa jam atau hari. Setelah melalui
tumor, obat keluar melalui vena ke sirkulasi umum.
Pemberian arteri dapat:
(a) Menaikan dosis obat langsung ke dalam tumor
(b) Menaikan efek obat yang kurang stabil karena
secara cepat dan langsung masuk ke dalam
tumor
(c) Mengurangi toksisitas
(3) Perfusi regional
Perfusi regional adalah cara untuk memberikan obat
dengan dosis tinggi langsung kedaerah tumor tanpa
menimbulkan toksisitas pada sirkulasi umum
dengan cara sirkulasi ekstra korporal.
(4) Intra tumoral
Obat langsung disuntikan ke dalam tumor. Cara ini
tidak dianjurkan karena dapat melepaskan sel
kanker dari tumor induknya dan ada cara lain yang
lebih efektif, yaitu operasi (eksisi, debulking,
elektrokoagulasi), atau radioterapi
(5) Intracavitair
Obat disuntikan atau di instalasi ke dalam rongga
tubuh, seperti intra: pleura, peritonium, perikardial,
vesikal atau rektal.
Contoh: instalasi bleomycin, fluorouracil,
chlormetine, terramycin, dsb. Intrapleura untuk
efusi maligna
(6) Topikal
Pemberian salep Fluorouracil pada kanker kulit
g) Obat-obatan kemoterapi
Penggolongan Obat Antitumor dan Mekanisme
kerjanya

Menurut asal obat, struktur kimia dan mekanisme


kerjanya, obat antitumor dapat dibagi menjadi 7
golongan:

(1) Alkilator

Obat alkilator memiliki gugus alkilator yang aktif,


dalam kondisi fisiologis dapat membentuk gugus
elektrofilik dari ion positif karbon, untuk menyerang
lokus kaya electron dari makromolekul biologis.
Akibatnya dengan berbagai gugus nukleofilik termasuk
gugus yang secara biologis penting seperti gugus fosfat,
amino, tiol, dan imidazole, dll. Membentuk ikatan
kovalen. Efek sitotoksik zat alkilator terutama melalui
pembentukan ikatan silang secara langsung dengan N7
radial basa guanine atau N3 adenin dari molekul DNA
atau pembentukan ikatan silang antara molekul DNA
dan protein, hingga struktur sel rusaak dan sel mati.
Mostar nitrogen (HN2) adalah wakil dari alkilator
berkemampuan ganda, obat lain termasuk
siklofosfamid (CTX), ifosfamid (IFO), klorambusil
(CB1348), melfalan, dll. Siklofosfamid adalah turunan
dari mostar nitrogen, ia sendiri tidak aktif. Setelah
masuk tubuh, barulah berefek sitotoksik setelah
diproses enzim system oksidase sitokrom P450
mikrosom hati. Obat lain seperti tiotepa (TSPA) dari
golongan etilenimiana, mileran dari golongan alkil
sulfonat, dan golongan nitrosourea seperti karmustin
(BCNU), lomustin (CCNU), semustin (Me-CCNU)
juga tergolong alkilator. Nitrosourea bersifat larut
lemak, mudah menembus sawar darah otak, sering
dipakai untuk terapi tumor ganas system saraf pusat.
Selain itu, antitumor golongan logam seperti cisplatin
(PDD) berikatan silang dengan rantai ganda DNA,
efeknya menyerupai alkilator. Karbonplatin sebagai
obat antitumor golonga platin generasi kedua, sifat
nefotoksik dan reaksi gastrointestinalnya lebih rendah.
Oksaliplatin adalah antitumor golongan platin generasi
ketiga, efektif terhadap kanker usus resistensi obat, juga
bebeas nefrotoksisitas. Dakarbazin (DTIC), prokarbazin
(PCZ), heksametilmelamin (HMM) dll. Melalui
pembentukan gugus metil aktif berefek alkilasi
terhadap DNA. Temozolamid sejenis dengan DTIC
dapat melintasi sawar darah otak, efektif terhadap
astrositoma anaplastic.

(2) Antimetabolit

Obat golongan ini terutama mengusik metabolism asam


nukleat dengan mempengaruhi sistesis DNA, RNA dan
makromolekul protein. Metotreksat (MTX)
menghambat enzim dihidrofolat reduktase sehingga
produksi tetrahidrofolat terhambat, akhirnya
menghambat sistesis DNA. Setelah pemberian dosis
superbesar MTX dalam 6-24 jam diberikan pertolongan
(rescue) leukovorin (CF), dapat membuat sel tumor,
terutama sel tumor system saraf pusat terbasmi relative
besar sedangkan rudapaksa jaringan normal berkurang.
Ini merupakan dasar terapi MTX dosis besar dan
pertolongan leukovorin (HDMTX-CFR).
Merkaptopurin (6MP) dan tioguanin (6TG) dapat
memutus perubahan hipoxantin menjadi asam adenilat
hingga menghambat sintesis asam nukleat. Fluorourasil
di dalam tubuh berubah menjadi fluoro-deoksiuridin
(FdUMP) yang menghambat enzim timidilat sintase,
memutus perubahan deoksiuridin menjadi timin,
mengusik biosintesis DNA. Belakangan ini ditemukan
dosis tinggi asam folinat berefek stabilisasi dan
memperpanjang komplekyang dibentuk dari metabolit
aktif 5FU (FdUMP), timidilat sintase dan asam
metilen-tetrahidro-folat (5,10-CH2-FH). Mekanisme
modulasi biokimia demikian membuat efek sitotoksik
5FU bertambah. Absorpsi oral 5FU tidak teratur, kapsul
UFT oral yang dahulu pernah dikembangkan
mengandung precursor 5FU yang mudah diabsorpsi
(ftorafurm, FT-207) dan 5FU dengan perbandingan 1:4
gramol volume. Yang terakhir dapat menghambat
enzim dihidroprimidin dehydrogenase (DPD) sehingga
menghambat degrades 5FU. Belakangan telah disintesis
xeloda (kapesitabin) merupakan obat precursor 5-
FUDR yang diaktivasi beberpa enzim sekuensial.
Setelah pemberian xeloda peoral, didalam salura
gastrointestinal dimetabolisme hidroksi asid esterase
menjadi 5-DFCR, lalu di hati dimetabolisme sitidin
deaminase menjadi 5-DFUR (deoksifluorouridin), lalu
dalam jaringan tumor berubah menjadi 5-FU oleh
enzim timidilat fosfforilase (TP). Mekanisme ini serupa
dengan injeksi intravena kontinu dosis kecil 5-FU,
dengan keunggulan efek samping rendah, efektivitas
tinggi. Hidroksiurea (HU) menghambat aktivitas enzim
nukleosida reduktase, menghambat perubahan asam
sitidilat menjadi deoksi-sitidilat, secara selektif
menghambat sintesis DNA. Sitarabin (Ara-C)
menhambat enzim DNA polymerase, menghambat
nukleosida berikatan dalam DNA sehingga
menghambat sintesis DNA. Obat sejenis, siklositidin
(Cyclo-C) stabil terhadap enzim deaminase, berhasil
mengatasi kekurangan karena didalam tubuh cepat
terurai oleh deaminase. Difluoro-deosisitidin
(gemsitabin) juga adalah golongan senyawa nukleosida,
di dalam sel setelah dikatalis oleh enzim deosisitidin
kinase (dck), teraktifkan menjadi senyawa trifosfat
GCBTP, kemudian masuk k struktur DNA, mengusik
polimerisasi DNA. Obat ini memiliki efek fosforilasi 6
kali lipat dari Ara-C dan tidak mudah mengalami
degradasi deaminasi. Metabolit aktifnya dapat
menumpuk hingga konsentrasi tinggi intrasel dan
bertahan lama, efektif terhadap berbagai jenis tumor
padat. Obat sejenisnya, fludarabin memiliki resistensi
tertentu terhadap efek deaminasi dari enzim timidin
deaminase, di dalam sel mengaktivasi fosforilasi lalu
menghambat sintesis DNA dan RNA. Enzim L-
asparaginase menghidrolisis asparagine menjadi asam
aspartate dan ammonia, sehingga sel tumor kekurangan
asam aspartate yang diperlukan untk sintesis protein ,
terjadi hambatan sintesis protein. Haringtonin
menghambat sintesis protein pada tahap inisiasi, dan
membuat ribose nucleoprotein terurai.

(3) Golongan antibiotic

Aktinomisin D (Act-D), daunorubisin adriamisin


(ADR), epirubisin, pirarubisin (THP), idarubisin,
mitoksantron (novantron) dan obat lain menyusup
masuk ke pasangan basa di dekat rantai ganda DNA,
menimbulkan terpisahnya kedua rantai DNA dan
produksi mRNA. Adriamisin liposom (Doxil)
menggunakan teknologi liposom fosfolipid dua lapis
dari selubung mikrosfer polietilen gliserol (teknologi
polimerisasi Stealth), menghindari bocornya obat dan
pengenalan oleh system imun, menjamin kadar
adriamisin dalam plasma darah rendah stabil dalam
jangka panjang, mengurangi kardiotoksisitas,
meningkatkan efektivitas. Bleomisin secara langsung
menimbulkan fragmentasi rantai tunggal DNA,
mitomisin (MMC) dan DNA membentuk ikatan silang,
keduanya berefek sama seperti alkilator.

(4) Inhibitor protein mikrotubuli

Alkaloid dari tumbuhan jenis Vinca, seperti vinblastine


(VLB), vinkristin (VCR), vindesin (VDS) maupun
navelbin terutama berikatan dengan protein mikrotubul
inti sel tumor, menghambatsintesis dan polimerisasi
mikrotubul, sehingga mitosis berhenti pada metaphase,
replikasi sel terganggu. Obat antitumor baru, taksol,
taksoter, dapat memacu dimerisasi mikrotubul dan
menghambat depolimerisasinya sehingga langkah kunci
pembentukan spindle pada mitosis terhambat. Efeknya
kebalikan dari vinkristin tapi hasil akhirnya sama, yaitu
mitosis sel tumor terhenti.

(5) Inhibitor topoisomerase

Alkaloid dari Camptotheca acuminta, irinotekan dan


topotekan terutama berefek menghambat topoisomerase
I, menghambat pertautan kembali rantai ganda setelah
saling berpisah watu replikasi DNA, sehingga rantai
ganda DNA terputus. Podofilotoksin seperti etoposid
(VP-16) dan teniposid (VM-26) berefek menghambat
enzim topoisomerase II, juga menghambat enzim
replikasi dan sintesis DNA.

(6) Golongan hormone

Hormone seperti estrogen, progesterone, testosterone


dll. Berikatan dengan reseptor yang sesuai intrasel
memacu pertumbuhan tumor tertentu yang bergantung
pada hormone seperti karsinoma mamae, karsinoma
prostat. Penyekat reseptor termasuk antiestrogen seperti
tamoksifen, toremifen dll. Dan antiandrogen seperti
flutamid masing-masing dapat berikatan secara
kompetitif dengan reseptor yang sesuai dalam sel
tumor, digunakan untuk terapi kasinoma mamae dan
karsinoma prostat. Zat sejenis LH-RH, melalui
stimulasi produksi FSH dan LH secara umpan balik
negative akhirnya menyebabkan gagal fungsi ovarium,
efeknya serupa dengan kastrasi ovarium nonoperatif,
secara klinis dapat digunakan untuk terapi karsinoma
mamae dan karsinoma prostat. Sediaan jenis ini
terutama adalah Zoladex dan Lupron. Selain itu,
inhibitor aromatase (aminoglutetimid, formestan,
letrozol, arimidex dll) terutama menghambat
aromatisasi cincin A testosterone menjadi estradiol,
menghambat sintesis hormone steroid korteks adrenal,
dapat dipakai untuk terapi karsinoma mamae pasca
menopause.

(7) Golongan target molecular

Perkembangan pesat biologi molecular membuat


pemahaman terhadap kasinogenesis, invasi, diseminasi
dan merastasis kanker secara molecular maju lagi
selangkah. Belakangan ini telah dikembangkan obat
yang tertuju target molekul yang menjadi kunci dalam
proses timbul dan berkembangnya kanker, misalnya
enzim tiroksin kinase (TK), farnesil transferase (FT),
matriks metalloproteinase (MMP) dll. Pada antigen
terkait diferensiasi membrane sel (seperti CD-20,CD-
23, CD-52, CD117 dll), faktor pertumbuhan epidermal
(EGF) dan reseptornya (EGFR), faktor pertumbuhan
endotel vascular (VEGF) dan reseptornya (VEGFR).
Obat sejenis ini sama sekali berbeda dari sitostatika.
Selain memiliki efek samping spesifik, tidak
menimbulkan depresi sumsum tulang dan reaksi
gastrointestinal menonjol. Obat tertuju target molekul
yang sudah atau sedang dalam penggunaan klinis
adalah: gleevec (Imatinib) dengan target BCR/ABL
untuk terapi leukemia granulositik kronik, juga bisa
untuk terapi tumor stromal gastrointestinal (GIST) yang
mengekspresikan C-Kit atau PDEGR; mabtera
(Rituximab) untuk terapi limfoma sel transtuzumab
(Herceptin) untuk terapi karsinoma mamae yang
overekspresikan HER2; gefitinib (Iressa) dengan target
EGRF untuk terapi karsinoma non-sel kecil paru; C225
(Cetuximab, Erbitux) untuk terapi karsinoma usus dan
karsinoma kepala dan leher; erlotinib (Tarceva) yang
menghambat aktivitas HER1 EGFR-TK; dan
bevacizumab (Avastin) yang berikatan dan
menetralisasi aktivitas VEGF. Dari obat-obat ini, ada
yang berupa senyawa molekul kecil, ada yang antibiotic
monoclonal (mencangkup antibody mozaik manusia-
tikus, antibody antropogenisasi). Target, indikasi, efek
buruk mereka berbeda-beda, perlu dicermati benar
sewaktu menggunakannya.

h) Hasil kemoterapi
Hasil atau respons khemoterapi dapat berupa:
(1) Subjektif
Mengukur hasil subjektif/hasil terapi kanker sukar
tetapi sebagai pegangan dapat dipakai parameter:
(a) Berat badan
(b) Status penampilan
(2) Objektif
Hasil objektif ada yang dapat dan yang tidak dapat
diukur serta dapat diperiksa secara klinik, radiologi,
biokimia atau pemeriksaan stadium klinik patologi
(a) Respons komplit = (complete response = CR)
Semua tumor menghilang untuk jangka waktu
sedikitnya 4 minggu
(b) Respon partial = (partial response = PR)
Semua tumor mengecil sedikitnya 50% dan
tidak ada tumor baru yang timbul untuk jangka
waktu sedikitnya 4 minggu
(c) Tidak berubah = (no change = NC)
Tumor mengecil kurang dari 50% atau
membesar kurang dari 25%
(d) Penyakit progresif = (progresive disease = PD)
Tumor membesar 25% atau lebih atau timbul
tumor baru yang dulu tidak diketahui adanya

i) Efek Toksik Kemoterapi


Efek toksik kemoterapi terdiri atas efek toksik jangka
pendek dan jangka panjang menurut Desen (2008)
(8) Efek toksik jangka pendek
(a) Depresi sumsum tulang
Depresi sumsum tulang merupakan hambatan
terbesar kemoterapi. Kebanyakan obat
antitumor, kecuali hormon, bleomisin, L-
asparaginase, semuanya menimbulkan
leukopenia, trombositopenia dan anemia dengan
derajat bervariasi . depresi sumsum tulang yang
parah dapat menyebabkan timbulnya infeksi,
septikemia dan hemoragi visera. Oleh karena
itu, memperkuat terapi penunjang sistemik,
kebersihan lingkungan, higiene oral dan
perawatan yang baik dapat mengurangi
timbulnya komplikasi.
(b) Reaksi gastrointestinal
Banyak obat antitumor sering menimbulkan
mual, muntah dengan derajat yang bervariasi.
(c) Rudapaksa fungsi hati
Berdasarkan tingkat keparahan rudapaksa fungsi
hati perlu dlakukan penyesuaian dosis obat.
Obat kemoterapi menyebabkan infeksi virus
hepatitis laten memburuk tiba-tiba,
menimbulkan nekrosis hati akut atau subakut
(hepatitis berat)
(d) Rudapaksa fungsi ginjal
Tumor masif yang peka kemoterapi seperti
leukimia, limfoma, nefroblastoma anak,
neuroblastoma dll, bila menjalani kemoterapi,
sel tumor akan lisis mati dalam jumlah besar
dalam waktu singkat yang dapat menimbulkan
nefropati asam urat. Tumor ganas yang
terdestruksi cepat juga dapat menimbulkan
rangkaian gangguan metabolisme seperti
hiperurikemia, hiperkalemia, dan
hiperfosfatemia.
(e) Kardiotoksik
Pada pasien dengan EKG abnormal atau
insufisiensi jantung, perlu pemantauan jantung
selama terapi.
(f) Pulmotoksisitas
Penggunaan jangka panjang bleomisin, busulfan
(Myleran) dapat menimbulkan fibrosis kronis
paru. Obat baru dengan target molekular Iressa
dapat menimbulkan pneumonitis interstisial,
sebagian fatal
(g) Neurotoksisitas
Untuk mengurangi neurotoksisitas oksaliplatin,
sewaktu terapi hindari minum air dingin da
mencuci tangan dengan air dingin
(h) Reaksi alergi
Bleomisin, asparaginase, taksol, taksotere dll
dapat menimbulkan menggigil, demam, syok
anafilaktik, udem
(i) Lainnya
Obat sejenis adriamisin, taksol, VP-16, CTX,
Act-D, 5FU dll dapat menimbulkan alopesia,
melanosis dengan derat bervariasi, biasanya
pulih setelah obat dihentikan. Infus kontinyu
5FU, xeloda peroral dapat menimbulkan
sindroma tangan-kaki (eritroderma palmar-
plantar), dengan manifestasi telapak tangan dan
kaki nyeri, bercak merah, bengkak, eksudasi,
deskuamasi, ulcerasi dll, harus mengontrol dosis
obat
(j) Efek toksik lokal
Pada pasien yang berulang menerima obat
sebaiknya melalui kateter yang dipasang ke
vena sentral dan vena dalam. Bila terjadi
ekstravasasi obat-obat itu keluar vena dan
menimbulkan nekrosis jaringan lokal
(9) Efek toksik jangka panjang
(a) Karsinogenisitas
Beberapa obat antitumor seperti HN2 ,
prokarbazin, melfalan, dll beberapa tahun
setelah digunakan meningkatkan peluang
terjadinya tumor primer kedua
(b) Infertilitas
Umumnya obat antikanker dapat menekan
fungsi spermatozoa dan ovarium hingga timbul
penurunan fertilitas. Anak dalam masa
pertumbuhan harus menghindari overterapi.

j) Komplikasi khemoterapi
(1) Segera
(a) Shock
(b) Arrhythmia
(c) Nyeri pada tempat suntikan, dsb
(2) Dini
(a) Mual/muntah
(b) Panas
(c) Reaksi hipersensitif, dsb
(3) Lambat (beberapa hari)
(a) Stomatitis
(b) Diarrhoea
(c) Alopecia
(d) Nephrotoksis
(e) Neuropathi
(f) Depresi sumsum tulang
(4) Lambat (beberapa bulan)
(a) Hiperpigmetasi kulit
(b) Lesi organ
(i) Adriamycin: hati
(ii) Bleomycin, Busulfan: paru
(iii)Methotrexate: hati
(c) Gangguan kapasitas reproduksi
(i) Amenorhoea
(ii) Penurunan konsentrasi sperma
(d) Gangguan endokrin
(i) Feminisasi
(ii) Virilisasi
(e) Efek karsinogen
(k) APD pada kemoterapi
Lindungi diri kita (petugas kesehatan) dari paparan dengan
metode dan cara kerja berikut ini(NIOSH, 2004 ):
(1) Siapkan obat ini dalam suatu tempat khusus yang
ditangani oleh petugas yang mempunyai wewenang.
(2) Siapkan obat ini dalam suatu biological Safety cabinet
(BSC) terutama BCS kelas II tipe B atau kelas III
(Suatu BSC yang mengalirkan udara dari dalam BSC
keluar menjauhi ruangan).
(3) . Gunakan alat suntik (syring) dan set infuse dengan
system Luer-Lok™ untuk persiapan dan pemberian
obat ini. Buang syring dan jarumnya pada wadah yang
didesain untuk melindungi petugas dari cidera
[tertusuk].
(4) Pertimbangkan untuk menggunakan alat untuk
membawa obat dengan system tertutup dan system
tanpa jarum.
(5) Hindari kontak kulit. Gunakan baju pelindung
disposibel yang terbuat dari bahan yang anti tembuh
cairan. Baju ini tertutup dibagian depannya, tangan
panjang.
(6) Gunakan sarung tangan berkualitas tinggi yang bebas
bedak, yang menutupi lengan baju
(7) Gunakan dua pasang sarung tangan (didouble).
(8) Ganti sarung tangan secara periodic
(9) Pakai plastic penutup wajah atau kacamata google
untuk menhindari kontak dengan matam hidung, dan
mulut dari obat tersebut, dimana obat ini dapat
memercik, menyemprot atau menjadi aerosol.
(10) Buka baju pelindung secara hati-hati untuk
menghindari perluasan kontaminasi.
(11) Lakukan pelatihan untuk menumbuhkan kesadaran
tentang pentingnya keamanan dalam menyiapkan dan
memberikan obat-obatan ini.

b. Penatalaksanaan Bedah
Menurut Rab (2010), pada dasarnya NSCLC termasuk tumor yang
resistensi, baik terhadap radiasi maupun terhadap sitostatik. Oleh
karena itu, maka pengobatan yang dilakukan adalah sebagai
berikut:
1) Operasi
Dilakukan pada tumor yang terlokalisir. Sleeve resetion, wedge
resection, segmenektomi, lobektomi, bilobektomi atau
pneumonektomi adalah jenis-jenis operasi yang mungkin
dilakuakn pada pasien kanker paru
Menurut Sudoyo (2009), tujuan pengobatan kanker dibagi
menjadi :
a. Kuratif : menyembuhkan atau memperpanjang masa bebas
penyakit dan meningkatkan angka harapan hidup pasien
b. Paliatif : mengurangi dampak kanker, meningkat kualitas
hidup
c. Rawat rumah (Hospice care) pada kasus terminal :
mengurangi dampak fisik maupun psikologis kanker baik
pada pasien maupun keluarga
d. Suportif : menunjang pengobatan kuratif paliatif dan terminal
seperti pemberian nutrisi, tranfusi darah dan komponen
darah, growth factors obat anti nyeri dan obat anti infeksi

9. Komplikasi
a. Hematorak
b. Pneumotorak
c. Endokarditis
d. Abses paru
e. Atelektasis

F. Konsep Asuhan Keperawatan CA Paru


1. Pemeriksaan fisik umum kanker :
b. Inspeksi
Mengamati kondisi mental pasien, fisik dan status gizinya, untuk
menentukan tingat pengaruh tumor terhadap keseluruhan tubuhnya.
Inspeksi lokal harus dimulai dari kepala, muka, pancaindera, leher, dada,
perut, punggung, vertebrata, 4 anggota badan, anus dan organ reproduktif
luar dan lain-lain. Mengamati dari luas ukuran, bentuk dan penampilan
abnormaal tumor, memahami situasi setempat tumor. Jika tepinya
terangkat, dasarnya ulkus bergelombang tak rata, umumnya kanker kulit.
Udem subkutis daerah kepala, muka, leher, dinding toraks, daerah kepala,
muka leher, dinding toraks, pelebaran hebat pembuluh vena leher dan dada
atasm nafas memburu, umumnya disebabkan tumor mediastinum
mendesak vena kava superior dan trakea.
c. Palpasi
Ini adalah metode pemeriksaan penting untuk tumor permukaan tubuh dan
bagian dalam. Setiap tumor di kulit tubuh, jaringan lunak, tulang rangka,
kelenjar limfatik, kelenjar liur, tiroid, mamae, kavum oris, nasofaring,
kanalis analis, rektum, uterus dan salping, vagina dan peritoneum dan lain-
lain, semua perlu dilakukan pemeriksaan palpasi atau bimanual. Palpasi
dapat memberi kepastian awal lokasi timbulnya tumor, kondisi
permukaan, bentuk, batas, tingkat aktivitas, konsistensi, ukuran, ada tidak
undulasi, nyeri tekan, denyutan, suhu lokal apakah naik, kelenjar limfatik
lokal dan organ sekitar apakah terkena.
d. Perkusi
Biasanya untuk pemeriksaan organ rongga toraks dan abdomen. Ketika
kanker paru disertai efusi pleura, nada perkusi sisi sakit menjadi redup.
Kanker menginvasi perikard, jantung, timbul efusi perikard, perkusi
jantung menemukan area redup bertambah lebar. Perkusi abdomen pekak
mungkin terdapat tumor padat, tapi bila diatas tumor terbentang usus maka
nada perkusi terdengar timpanik.
e. Auskultasi
Kanker laring merusak pita suara, kanker tiroid atau tumor mediastinum
mendesak searaf rekuren laringeus, timbul suara parau. Kanker paru
menimbulkan atelektasis, waktu asukultasi dapat dijumpai suara nafas
melemah atau lenyap. Kenkar kolon, rektum bila disertai ileus obstruktif,
dari dinding abdomen dapat terdengar bunyi hiperperistalsis usus dan
bunyi gas melewati cairan. Tumor yang kaya osteosarkoma, kanker tiroid,
hepatoma, kanker pankreas dan hemangioma rasemosa, aneurisma dan
lain-lain, sering terdengar bunyi getaran atau bruit yang keras.
Pengkajian kanker paru
1. Muskuloskeleteal
1) Anamnesa : Klien mengeluh nyeri bahu/tangan (khususnya pada
sel besar atau adenomakarsinoma)
2) Inspeksi : Kelemahan, ketidakmampuan mempertahankan
kebiasaan rutin, dispnea karena aktivitas. Kurus, atau penampilan
kurang berotot (tahap lanjut)

2. Kardiovaskuler
 Anamnesa : Klien mengeluh nyeri dada (tidak biasanya ada pada
tahap dini dan tidak selalu ada pada tahap lanjut) dimana
dapat/tidak dipengaruhi oleh perubahan posisi
 Auskultasi : Bunyi jantung : gesekan pericardial (menunjukan
efusi), takikardi/disritmia.
 Inspeksi : Edema wajah/leher, dada punggung (obstruksi vena
kava), konjungtiva pucat, CRT : > 3 menit, JVD (obstruksi vena
kava)
 Perkusi : Pekak.
3. Gastrointestinal
1) Inspeksi : Diare yang hilang timbul (karsinoma sel kecil),
penurunan berat badan
2) Anamnesa : Klien mengeluh nyeri abdomen (hilang timbul), tidak
nafsu makan kesulitan menelan.
3) Auskultasi : bising usus lebih dari 8x/menit
4) Perkusi : hipertymphani.
5) Palpasi : nyeri tekan pada kuadran kanan atas.
4. Perkemihan
6) Anamnesa : Klien mengeluh sering kencing.
7) Inspeksi : Peningkatan frekuensi/jumlah urine (ketidakseimbangan
hormonal, tumor epidermoid)

5. Endokrin
1) Inspeksi : Wajah periorbital (ketidakesimbangan hormonal,
karsinoma sel kecil)

6. Pernafasan
1) Anamnesa : Klien mengeluh batuk ringan atau perubahan pada
batuk dari biasanya dan atau produksi sputum
2) Inspeksi : Nafas pendek, serak, paralysis pita suara, dispnea,
meningkat dengan kerja, sputum disertai darah, cupping hidung,
penggunaan otot pernapasan tambahan, bentuk dada : barrel chest.
 Palpasi : Peningkatan fremitus taktil (menunjukan konsolidasi)
 Auskultasi : Krekels/wengi pada inspirasi atau ekspirasi (gangguan
aliran darah), krekels/mengi menetap; pertimbangan trakea (area
yang mengalami lesi)
 Perkusi : Pekak pada daerah tumor di lapang paru.

7. Integumen
 Inspeksi : kemerahan, kulit pucat (ketidakseimbangan hormonal,
karsinoma sel kecil)

8. Reproduksi
1) Anamnesa : klien amenore/impotent (ketidakseimbangan
hormonal, karsinoma sel kecil).
2) Inspeksi : Ginekomastia (perubahan hormon neoplastik, karsinoma
sel besar)

Daftar Pustaka

Corwin. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC

Desen, Wan. 2008. Buku Ajar Onkologi Klinis Ed 2. Jakarta;

Badan Penerbit FKUI

Djojodibroto. 2014. Respirologi (Respiratory Medicine). Jakarta;

EGC
Kresno, S.B. 2012. Ilmu Dasar Onkologi. Jakarta; Badan Penerbit

FKUI

Nurarif dan Kusuma. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan

Berdasarkan Diagnosa Medis dan NANDA NIC NOC Ed 1

Jilid 1. Jogjakarta: Mediaction

Tambayong, Jan. 2000. Patofisiologi untuk Keperawatan. Jakarta;

EGC

Tao dan Kendall. 2014. Sinopsis Organ System Pulmonologi.

Tangerang: Karisma

Price dan Wilson. 2005. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses

Penyakit Ed 6. Jakarta: EGC

Rab, T. 2010. Ilmu Penyakit Paru. Jakarta: TIM

Sloane, E. 2003. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Jakarta:

EGC

Smeltzer Suzanne C. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal

Bedah Brunner & Suddarth. Alih bahasa Agung Waluyo,

dkk. Editor Monika Ester, dkk. Ed. 8. Jakarta : EGC

Sudoyo, dkk. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III Ed V.

Jakarta: InternaPublishing

Sukardja. 2000. Onkologi Klinik Edisi 2. Surabaya; Airlangga

University Press
Syaifuddin. 2011. Anatomi Fisiologi: Kurikulum Berbasis

Kompetensi untuk Keperawatan dan Kebidanan Ed 4.

Jakarta: EGC

Jurnal Chrestella, Jessy 2009. Neoplasma. Departemen patologi

anatomi fakultas kedokteran usu medan