Sunteți pe pagina 1din 16

.

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala rahmat yang

diberikan-Nya sehingga tugas Makalah yang berjudul “ Urgensi Amar Ma’ruf

dan Nahi Mungkar Menurut Pandangan Islam ” ini dapat saya selesaikan.

Makalah ini saya buat sebagai kewajiban untuk memenuhi tugas.

Dalam kesempatan ini, penulis menghaturkan terimakasih yang dalam kepada

semua pihak yang telah membantu menyumbangkan ide dan pikiran mereka demi

terwujudnya makalah ini. Akhirnya saran dan kritik pembaca yang dimaksud

untuk mewujudkan kesempurnaan makalah ini penulis sangat hargai


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN :

1.1 Latar Belakang

1.2 Rumusan Masalah

BAB II PEMBAHASAN

2.2 Menjawab Rumusan Masalah

2.2 Menganalisis

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

3.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA
BAB I PENDAHULUAN

a. Latar Belakang

Latar belakang dari makalah ini adalah mendapat tugas untuk

mencari apa pengertian “ Urgensi Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar

Menurut Padangan Islam “ . Tugas ini saya dapat dari dosen

pembimbing agama Bpak. Zainal Arief

b. Rumusan masalah

1. Apa pengertian amar ma’ruf dan nahi mungkar ???

2. Bagaimana islam memandang Urgensi Amar Ma’ruf dan Nahi

Mungkar ???

3. Apa sajakah janjji atau balasan dari Allah SWT jika suatu

kaum bisa berpegang teguh terhadap Amar Ma’ruf Nahi

Mungkar ??

.
BAB II PEMBAHASAN

A. Menjawab rumusan masalah

1. Pengertian amar ma'ruf

Dr. Sayyid Muhammad Nuh menjelaskan dalam bukunya

Taujihat Nabawiyyah 'Ala al-Thariq bahwa al-ma'ruf adalah nama

yang mencakup semua yang dicintai dan diridhai Allah, baik

perkataan, maupun perbuatan lahir dan batin. Jadi al-ma'ruf mencakup

keyakinan, yaitu iman kepada Allah, malaikatNya, kitabNya,

RasulNya, hari akhir dan qadar (takdir). Juga mencakup ibadah, yaitu

shalat, zakat, shaum, haji, jihad, nikah dan thalaq, menyusui anak,

pemeliharaan anak, nafkah, iddah dan semacamnya.

Pengertain nahi mungkar

Al-Munkar (kemungkaran) adalah nama yang mencakup

semua yang dibenci dan tidak diridhai Allah, baik perkataan maupun

perbuatan lahir dan batin. Jadi munkar (kemungkaran) mencakup

kemusyrikan dengan segala bentuknya, mencakup segala penyakit hati

seperti riya', hiqd (dengki), hasad (iri), permusuhan, kebencian dan

semacamnya. Mencakup juga penyia-nyiaan ibadah seperti shalat,

zakat, shaum, haji dan semacamny.

2. Islam memandang Amar ma’ruf dan nahi mungkar sangatlah penting

karena Amar ma’ruf dan nahi mungkar sendiri sudah di jelaskan

melalui Hadist atau Di kitab Al-Qur’an.

3. Janji-janji atau balasan dari Allah jika kaum bisa berpegang teguh

terhadap Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar :


1. Ditinggikan derajatnya ke tingkatan yang setinggi-tingginya (QS.

Ali Imran: 110).

2. Terhindar dari kebinasaan sebagaimana dibinasakannya Fir'aun

beserta orang-orang yang berdiam diri ketika melihat kedzalimannya.

3. Mendapatkan pahala berlipat dari Allah sebagaimana sabda Nabi

Saw.: "Barangsiapa yang mengajak kepada kebaikan, maka ia akan

mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya

sampai hari kiamat, tanpa mengurangi pahala mereka

sedikitpun".

4. Terhindar dari laknat Allah sebagai mana yang terjadi pada Bani

Isra'il karena keengganan mereka dalam mencegah kemunkaran. (QS.

Al-Maidah: 78-79).
B. Menganalisis

1.Pengertian amar ma'ruf

Dr. Sayyid Muhammad Nuh menjelaskan dalam bukunya Taujihat Nabawiyyah

'Ala al-Thariq bahwa al-ma'ruf adalah nama yang mencakup semua yang dicintai

dan diridhai Allah, baik perkataan, maupun perbuatan lahir dan batin. Jadi al-

ma'ruf mencakup keyakinan, yaitu iman kepada Allah, malaikatNya, kitabNya,

RasulNya, hari akhir dan qadar (takdir). Juga mencakup ibadah, yaitu shalat,

zakat, shaum, haji, jihad, nikah dan thalaq, menyusui anak, pemeliharaan anak,

nafkah, iddah dan semacamnya. Mencakup juga hukum danperundang-undangan

seperti mu'amalah maliyyah (transaksi harta), hudud (hukuman-hukuman),

qishash, transaksi, perjanjian dan semacamnya. Mencakup juga akhlaq, seperti

shidiq (jujur), 'adil, amanah, 'iffah (menjaga diri dari yang haram), setia janji dan

semacamnya.

2. Pengertian nahy munkar

Al-Munkar (kemungkaran) adalah nama yang mencakup semua yang

dibenci dan tidak diridhai Allah, baik perkataan maupun perbuatan lahir dan batin.

Jadi munkar (kemungkaran) mencakup kemusyrikan dengan segala bentuknya,

mencakup segala penyakit hati seperti riya', hiqd (dengki), hasad (iri),

permusuhan, kebencian dan semacamnya. Mencakup juga penyia-nyiaan ibadah

seperti shalat, zakat, shaum, haji dan semacamnya. Mencakup juga perbuatan-

perbuatan keji seperti zina, mencuri, minum khamar (minuman keras), menuduh

berzina, merampok, berbuat aniaya dan semacamnya. Juga mencakup dusta,

zalim, khiyanat, perbuatan hina, pengecut dan semacamnya


Kemungkaran dikatakan munkar karena fitrah yang bersih dan akal yang sehat

mengingkari dan menyaksikan kejahatan, kerusakan yang ditimbulkannya. Jadi

pengertian nahy munkar ( mencegah dari yang munkar ) adalah memperingatkan,

menjauhkan dan menghalangi orang dari melakukannya, memutuskan sebab-

sebab dan sarana-sarananya serta membersihkan kehidupan dari segala bentuk

kemungkaran.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Sesungguhnya maksud dari

hadits ini adalah: Tidak tinggal sesudah batas pengingkaran ini (dengan hati)

sesuatu yang dikategorikan sebagai iman sampai seseorang mukmin itu

melakukannya, akan tetapi mengingkari dengan hati merupakan batas terakhir dari

keimanan, bukanlah maksudnya, bahwa barang siapa yang tidak mengingkari hal

itu dia tidak memiliki keimanan sama sekali, oleh karena itu Rasulullah bersabda,

“Tidaklah ada sesudah itu”, maka beliau menjadikan orang-orang yang beriman

tiga tingkatan, masing-masing di antara mereka telah melakukan keimanan yang

wajib atasnya, akan tetapi yang pertama (mengingkari dengan tangan) tatkala ia

yang lebih mampu di antara mereka maka yang wajib atasnya lebih sempurna dari

apa yang wajib atas yang kedua (mengingkari dengan lisan), dan apa yang wajib

atas yang kedua lebih sempurna dari apa yang wajib atas yang terakhir, maka

dengan demikian diketahui bahwa manusia bertingkat-tingkat dalam keimanan

yang wajib atas mereka sesuai dengan kemampuannya beserta sampainya khitab

(perintah) kepada mereka.” (Majmu’ Fatawa, 7/427)

Hadits dan perkataan Syaikhul Islam di atas menjelaskan bahwa amar ma’ruf dan

nahi mungkar merupakan karakter seorang yang beriman, dan dalam mengingkari

kemungkaran tersebut ada tiga tingkatan:

1.Mengingkari dengan tangan.

2.Mengingkari dengan lisan.


3.Mengingkari dengan hati.

Tingkatan pertama dan kedua wajib bagi setiap orang yang mampu

melakukannya, sebagaimana yang dijelaskan oleh hadits di atas, dalam hal ini

seseorang apabila melihat suatu kemungkaran maka ia wajib mengubahnya

dengan tangan jika ia mampu melakukannya, seperti seorang penguasa terhadap

bawahannya, dan mengingkari dengan tangan bukan berarti dengan senjata.

Dalam riwayat lain beliau berkata, “Merubah (mengingkari) dengan tangan

bukanlah dengan pedang dan senjata.” (Lihat, Al Adabusy Syar’iyah, Ibnu

Muflih,1/185)

Adapun dengan lisan seperti memberikan nasihat yang merupakan hak di antara

sesama muslim dan sebagai realisasi dari amar ma’ruf dan nahi mungkar itu

sendiri, dengan menggunakan tulisan yang mengajak kepada kebenaran dan

membantah syubuhat (kerancuan) dan segala bentuk kebatilan.

Imam Ibnu Rajab berkata -setelah menyebutkan hadits di atas dan hadits-hadits

yang senada dengannya-, “Seluruh hadits ini menjelaskan wajibnya mengingkari

kemungkaran sesuai dengan kemampuan, dan sesungguhnya mengingkari dengan

hati sesuatu yang harus dilakukan, barang siapa yang tidak mengingkari dengan

hatinya, maka ini pertanda hilangnya keimanan dari hatinya.” (Jami’ul Ulum wal

Hikam, 2/258)

Salah seorang berkata kepada Ibnu Mas’ud, “Binasalah orang yang tidak menyeru

kepada kebaikan dan tidak mencegah dari kemungkaran”, lalu Ibnu Mas’ud

berkata, “Justru binasalah orang yang tidak mengetahui dengan hatinya kebaikan

dan tidak mengingkari dengan hatinya kemungkaran.” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah

dalam Mushonnaf beliau no. 37581)

Imam Ibnu Rajab mengomentari perkataan Ibnu Mas’ud di atas dan berkata,
“Maksud beliau adalah bahwa mengetahui yang ma’ruf dan mungkar dengan hati

adalah kewajiban yang tidak gugur atas setiap orang, maka barang siapa yang

tidak mengetahuinya maka dia akan binasa, adapun mengingkari dengan lisan dan

tangan ini sesuai dengan kekuatan dan kemampuan.” (Jami’ul Ulum wal Hikam

2/258-259)

Seseorang yang tidak mengingkari dengan hatinya maka ia adalah orang yang

mati dalam keadaan hidup, sebagaimana perkataan Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu

tatkala ditanya, “Apakah kematian orang yang hidup?” Beliau menjawab:

“Orang yang tidak mengenal kebaikan dengan hatinya dan tidak mengingkari

kemungkaran dengan hatinya.” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnaf

beliau no. 37577). Kemudian dalam amar ma’ruf dan nahi mungkar ada

berapa kaidah penting dan prinsip dasar yang harus diperhatikan, jika tidak

diindahkan niscaya akan menimbulkan kemungkaran yang lebih besar dan

banyak:

Pertama: Mempertimbangkan antara maslahat dan mafsadah

Ini adalah kaidah yang sangat penting dalam syari’at Islam secara umum dan

dalam beramar ma’ruf dan nahi mungkar secara khusus, maksudnya ialah

seseorang yang beramar ma’ruf dan nahi mungkar ia harus memperhatikan dan

mempertimbangkan antara maslahat dan mafsadat dari perbuatannya tersebut, jika

maslahat yang ditimbulkan lebih besar dari mafsadatnya maka ia boleh

melakukannya, tetapi jika menyebabkan kejahatan dan kemungkaran yang lebih

besar maka haram ia melakukannya, sebab yang demikian itu bukanlah sesuatu

yang di perintahkan oleh Allah Ta’ala.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Jika amar ma’ruf dan nahi mungkar

merupakan kewajiban dan amalan sunah yang sangat agung (mulia) maka sesuatu
yang wajib dan sunah hendaklah maslahat di dalamnya lebih kuat/besar dari

mafsadatnya, karena para rasul diutus dan kitab-kitab diturunkan dengan

membawa hal ini, dan Allah tidak menyukai kerusakan, bahkan setiap apa yang

diperintahkan Allah adalah kebaikan, dan Dia telah memuji kebaikan dan orang-

orang yang berbuat baik dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, serta

mencela orang-orang yang berbuat kerusakan dalam beberapa tempat, apabila

mafsadat amar ma’ruf dan nahi mungkar lebih besar dari maslahatnya maka ia

bukanlah sesuatu yang diperintahkan Allah, sekalipun telah ditinggalkan

kewajiban dan dilakukan yang haram, sebab seorang mukmin hendaklah ia

bertakwa kepada Allah dalam menghadapi hamba-Nya, karena ia tidak memiliki

petunjuk untuk mereka, dan inilah makna firman Allah:

“Wahai orang-orang yang beriman perhatikanlah dirimu, orang yang sesat tidak

akan membahayakanmu jika kamu mendapat petunjuk.” (QS. Al-Maa’idah: 105)

Dan mendapat petunjuk hanya dengan melakukan kewajiban.” (Al Amru bil

Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Mungkar, hal. 10. cet. Wizarah Syuun al Islamiyah)

Dan beliau juga menambahkan, “Sesungguhnya perintah dan larangan jika

menimbulkan maslahat dan menghilangkan mafsadat maka harus dilihat sesuatu

yang berlawanan dengannya, jika maslahat yang hilang atau kerusakan yang

muncul lebih besar maka bukanlah sesuatu yang diperintahkan, bahkan sesuatu

yang diharamkan apabila kerusakannya lebih banyak dari maslahatnya, akan

tetapi ukuran dari maslahat dan mafsadat adalah kacamata syari’at.”

Imam Ibnu Qoyyim berkata, “Jika mengingkari kemungkaran menimbulkan

sesuatu yang lebih mungkar dan di benci oleh Allah dan Rasul-Nya, maka tidak

boleh dilakukan, sekalipun Allah membenci pelaku kemungkaran dan

mengutuknya.” (I’laamul Muwaqqi’iin, 3/4)


Oleh karena itu perlu dipahami dan diperhatikan empat tingkatan kemungkaran

dalam bernahi mungkar berikut ini:

1. Hilangnya kemungkaran secara total dan digantikan oleh kebaikan.

2. Berkurangnya kemungkaran, sekalipun tidak tuntas secara keseluruhan.

3. Digantikan oleh kemungkaran yang serupa.

4. Digantikan oleh kemungkaran yang lebih besar.

Pada tingkatan pertama dan kedua disyari’atkan untuk bernahi mungkar, tingkatan

ketiga butuh ijtihad, sedangkan yang keempat terlarang dan haram melakukannya.

B. Urgensi dan strategi Amar Ma’ruf nahi Munkar

Dalam Al-Qur'an dijumpai lafadz "amar ma'ruf nahi munkar" pada beberapa

tempat. Sebagai contoh dalam QS. Ali Imran: 104: "Hendaklah ada di antara

kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang

ma'ruf dan mencegah dari yang munkar. Mereka itulah orang-orang yang

beruntung". Hasbi Ash Siddieqy menafsirkan ayat ini: "Hendaklah ada di antara

kamu suatu golongan yang menyelesaikan urusan dawah, menyuruh ma'ruf

(segala yang dipandang baik oleh syara` dan akal) dan mencegah yang munkar

(segala yang dipandang tidak baik oleh syara` dan akal) mereka itulah orang yang

beruntung."

Dalam ayat lain disebutkan "Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan bagi

umat manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar

dan beriman kepada Allah" (QS. Ali Imran: 110). Lafadz amar ma'ruf dan nahi

munkar tersebut juga bisa ditemukan dalam QS. At Taubah: 71, Al Hajj: 41, Al-

A'raf: 165, Al Maidah: 78-79 serta masih banyak lagi dalam surat yang lain.

Bila dicermati, ayat-ayat di atas menyiratkan bahwa amar ma'ruf nahi munkar

merupakan perkara yang benar-benar urgen dan harus diimplementasikan dalam


realitas kehidupan masyarakat. Secara global ayat-ayat tersebut menganjurkan

terbentuknya suatu kelompok atau segolongan umat yang intens mengajak kepada

kebaikan dan mencegah dari kejelekan. Kelompok tersebut bisa berupa sebuah

organisasi, badan hukum, partai ataupun hanya sekedar kumpulan individu-

individu yang sevisi. Anjuran tersebut juga dikuatkan dengan hadits Rasulullah:

"Jika kamu melihat umatku takut berkata kepada orang dzhalim, 'Hai dzhalim!',.

maka ucapkan selamat tinggal untuknya." Dari ayat-ayat di muka dapat ditangkap

bahwa amar ma'ruf dan nahi munkar merupakan salah satu parameter yang

digunakan oleh Allah dalam menilai kualitas suatu umat. Ketika mengangkat

kualitas derajat suatu kaum ke dalam tingkatan yang tertinggi Allah berfirman:

"Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk umat manusia." Kemudian

Allah menjelaskan alasan kebaikan itu pada kelanjutan ayat: "Menyuruh kepada

yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar." (QS. Ali Imran: 110). Demikian

juga dalam mengklasifikasikan suatu umat ke dalam derajat yang serendah-

rendahnya, Allah menggunakan eksistensi amar ma'ruf nahi munkar sebagai

parameter utama. Allah Swt. berfirman: "Telah dila'nati orang-orang kafir dari

Bani Isra'il melalui lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu

disebabkan mereka durhaka dan selalu tidak melarang tindakan munkar yang

mereka perbuat." (QS. Al Maidah 78-79). Dari sinipun sebenarnya sudah bisa

dipahami sejauh mana tingkat urgensitas amar ma'ruf nahi munkar. Bila

kandungan ayat-ayat amar ma'ruf nahi munkar dicermati, -terutama ayat 104 dari

QS. Ali Imran- dapat diketahui bahwa lafadz amar ma'ruf dan nahi munkar lebih

didahulukan dari lafadz iman, padahal iman adalah sumber dari segala rupa taat.

Hal ini dikarenakan amar ma'ruf nahi munkar adalah bentengnya iman, dan hanya

dengannya iman akan terpelihara. Di samping itu, keimanan adalah perbuatan

individual yang akibat langsungnya hanya kembali kepada diri si pelaku,


sedangkan amar ma'ruf nahi munkar adalah perbuatan yang berdimensi sosial

yang dampaknya akan mengenai seluruh masyarakat dan juga merupakan hak

bagi seluruh masyarakat.

Hamka berpendapat bahwa pokok dari amar ma'ruf adalah mentauhidkan Allah,

Tuhan semesta alam. Sedangkan pokok dari nahi munkar adalah mencegah syirik

kepada Allah. Implementasi amar ma'ruf nahi munkar ini pada dasarnya sejalan

dengan pendapat khalayak yang dalam bahasa umumnya disebut dengan public

opinion, sebab al ma'ruf adalah apa-apa yang disukai dan diingini oleh khalayak,

sedang al munkar adalah segala apa yang tidak diingini oleh khalayak. Namun

kelalaian dalam ber-amar ma'ruf telah memberikan kesempatan bagi timbulnya

opini yang salah, sehingga yang ma'ruf terlihat sebagai kemunkaran dan yang

munkar tampak sebagai hal yang ma'ruf.

Konsisnten dalam ber-amar ma'ruf nahi munkar adalah sangat penting dan

merupakan suatu keharusan, sebab jika ditinggalkan oleh semua individu dalam

sebuah masyarakat akan berakibat fatal yang ujung-ujungnya berakhir dengan

hancurnya sistem dan tatanan masyarakat itu sendiri. Harus disadari bahwa

masyarakat itu layaknya sebuah bangunan. Jika ada gangguan yang muncul di

salah satu bagian, amar ma'ruf nahi munkar harus senantiasa diterapkan sebagai

tindakan preventif melawan kerusakan. Mengenai hal ini Rasulullah Saw.

memberikan tamsil: "Permisalan orang-orang yang mematuhi larangan Allah dan

yang melanggar, ibarat suatu kaum yang berundi di dalam kapal. Di antara mereka

ada yang di bawah. Orang-orang yang ada di bawah jika hendak mengambil air

harus melawati orang-orang yang ada di atas meraka. Akhirnya mereka berkata

'Jika kita melubangi kapal bagian kita, niscaya kita tidak akan mengganggu orang

yang di atas kita'. Jika orang yang di atas membiarkan mereka melubangi kapal,

niscaya semua akan binasa. Tetapi jika orang yang di atas mencegah, maka
mereka dan semuannya akan selamat."

Suatu kaum yang senantiasa berpegang teguh pada prinsip ber-amar ma'ruf nahi

munkar akan mendapatkan balasan dan pahala dari Allah Swt. yang antara lain

berupa:

1. Ditinggikan derajatnya ke tingkatan yang setinggi-tingginya (QS. Ali Imran:

110).

2. Terhindar dari kebinasaan sebagaimana dibinasakannya Fir'aun beserta orang-

orang yang berdiam diri ketika melihat kedzalimannya.

3. Mendapatkan pahala berlipat dari Allah sebagaimana sabda Nabi Saw.:

"Barangsiapa yang mengajak kepada kebaikan, maka ia akan mendapatkan

pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya sampai hari kiamat, tanpa

mengurangi pahala mereka sedikitpun".

4. Terhindar dari laknat Allah sebagai mana yang terjadi pada Bani Isra'il karena

keengganan mereka dalam mencegah kemunkaran. (QS. Al-Maidah: 78-79).

Secara prinsipil seorang Muslim dituntut untuk tegas dalam menyampaikan

kebenaran dan melarang dari kemunkaran. Rasul Saw. bersabda: "Barang siapa di

antara kamu menjumpai kemunkaran maka hendaklah ia rubah dengan tangan

(kekuasaan)nya, apabila tidak mampu hendaklah dengan lisannya, dan jika masih

belum mampu hendaklah ia menolak dengan hatinya. Dan (dengan hatinya) itu

adalah selemah-lemahnya iman". Hadits ini memberikan dorongan kepada orang

Muslim untuk ber-amar ma'ruf dengan kekuasaan dalam arti kedudukan dan

kemampuan fisik dan kemampuan finansial. Amar ma'ruf dan khususnya nahi

munkar minimal diamalkan dengan lisan melalui nasihat yang baik, ceramah-

ceramah, ataupun khutbah-khutbah, sebab semua. Muslim tentunya tidak ingin

bila hanya termasuk di dalam golongan yang lemah imannya.

Da'wah dan amar ma'ruf nahi munkar dengan metode yang tepat akan
menghantarkan dan menyajikan ajaran Islam secara sempurna. Metode yang di

terapkan dalam menyampaikan amar ma'ruf nahi munkar tersebut sebenarnya

akan terus berubah-ubah sesuai dengan kondisi dan situasi masyarakat yang

dihadapi para da'i. Amar ma'ruf dan nahi munkar tidak bertujuan memperkosa

fitrah seseorang untuk tunduk dan senantiasa mengikuti tanpa mengetahui hujjah

yang dipakai, tetapi untuk memberikan koreksi dan membangkitkan kesadaran

dalam diri seseorang akan kesalahan dan kekurangan yang dimiliki.

Ketegasan dalam menyampaikan amar ma'ruf dan nahi munkar bukan berarti

menghalalkan cara-cara yang radikal. Implementasinya harus dengan strategi yang

halus dan menggunakan metode tadarruj (bertahap) agar tidak menimbulkan

permusuhan dan keresahan di masyarakat. Penentuan strategi dan metode amar

ma'ruf nahi munkar harus mempertimbangkan kondisi sosial masyarakat yang

dihadapi. Jangan sampai hanya karena kesalahan kecil dalam menyampaikan amar

ma'ruf nahi munkar justru mengakibatkan kerusakan dalam satu umat dengan

social cost yang tinggi.

Dalam menyampaikan amar ma'ruf nahi munkar hendaknya memperhatikan

beberapa poin yang insya Allah bisa diterapkan dalam berbagai bentuk

masyarakat:

1. Hendaknya amar ma'ruf nahi munkar dilakukan dengan cara yang ihsan agar

tidak berubah menjadi penelanjangan aib dan menyinggung perasaan orang lain.

Ingatlah ketika Allah berfirman kepada Musa dan Harun agar berbicara dengan

lembut kepada Fir'aun (QS. Thaha: 44).

2. Islam adalah agama yang berdimensi individual dan sosial, maka sebelum

memperbaiki orang lain seorang Muslim dituntut berintrospeksi dan berbenah diri,

sebab cara amar ma'ruf yang baik adalah yang diiringi dengan keteladanan.

3. Menyampaikan amar ma'ruf nahi munkar disandarkan kepada keihklasan


karena mengharap ridla Allah, bukan mencari popularitas dan dukungan politik.

4. Amar ma'ruf nahi munkar dilakukan menurut Al-Qur'an dan Al-erta

diimplementasikan di dalam masyarakat secara berkesinambungan.

Dalam menyampaikan da'wah amar ma'ruf nahi munkar, para da'i dituntut

memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi, baik kepada Allah maupun masyarakat

dan negara. Bertanggung jawab kepada Allah dalam arti bahwa da'wah yang ia

lakukan harus benar-benar ikhlas dan sejalan dengan apa yang telah digariskan

oleh Al Qur'an dan Sunnah. Bertanggung jawab kepada masyarakat atau umat

menganduang arti bahwa da'wah Islamiyah memberikan kontribusi positif bagi

kehidupan sosial umat yang bersangkutan. Bertanggung jawab kepada negara

mengandung arti bahwa pengemban risalah senantiasa memperhatikan kaidah

hukum yang berlaku di negara dimana ia berda'wah. Jika da'wah dilakukan tanpa

mengindahkan hukum positif yang berlaku dalam sebuah negara, maka kelancaran

da'wah itu sendiri akan terhambat dan bisa kehilangan simpati dari masyarakat.