Sunteți pe pagina 1din 19

A.

KONSEP DASAR PENYAKIT

1. Pengertian
Perdarahan Post Partum adalah perdarahan lebih dari 500-600 cc dalam 24 jam setelah
anak dan plasenta lahir. Pada kasus perdarahan terutama perdarahan post partum, Atonia Uteri
menjadi penyebab lebih dari 90% perdarahan pasca persalinan yang terjadi dalam 24 jam
setelah kelahiran bayi (Ripley, 1999).
Perdarahan postpartum dapat terjadi karena terlepasnya sebagian plasenta dari rahim dan
sebagian lagi belum karena perlukaan pada jalan lahir atau karena atonia uteri. Atoni uteri
merupakan sebab terpenting perdarahan postpartum. Atonia uteri dapat terjadi karena proses
persalinan yang lama, pembesaran rahim yang berlebihan pada waktu hamil seperti pada
hamil kembar atau janin besar; persalinan yang sering (multiparitas) atau anestesi yang dalam.
Atonia uteri juga dapat terjadi bila ada usaha mengeluarkan plasenta dengan memijat dan
mendorong rahim ke bawah sementara plasenta belum lepas dari rahim. Perdarahan yang
banyak dalam waktu pendek dapat segera diketahui. Tapi bila perdarahan sedikit dalam waktu
lama tanpa disadari penderita telah kehilangan banyak darah sebelum tampak pucat dan gejala
lainnya. Pada perdarahan karena atonia uteri, rahim membesar dan lembek.
Atonia uteria (relaksasi otot uterus) adalah Uteri tidak berkontraksi dalam 15 detik setelah
dilakukan pemijatan fundus uteri (plasenta telah lahir). (JNPKR, Asuhan Persalinan Normal,
Depkes Jakarta ; 2002).
Atonia uteri adalah kegagalan mekanisme akibat gangguan myometrium/uterus tidak
berkontraksi secara terkoordinasi sehingga ujung pembuluh darah ditempat implantasi
plasenta dapat dihentikan sehingga perdarahan menjadi tidak terkendali.

2. Etiologi
Overdistensi uterus, baik absolut maupun relatif, merupakan faktor resiko mayor
terjadinya atonia uteri. Overdistensi uterus dapat disebabkan oleh kehamilan ganda, janin
makrosomia, polihidramnion atau abnormalitas janin (misal hidrosefalus berat), kelainan
struktur uterus atau kegagalan untuk melahirkan plasenta atau distensi akibat akumulasi darah
di uterus baik sebelum maupun sesudah plasenta lahir.
Lemahnya kontraksi miometrium merupakan akibat dari kelelahan karena persalinan lama
atau persalinan dengan tenaga besar, terutama bila mendapatkan stimulasi. Hal ini dapat pula
terjadi sebagai akibat dari inhibisi kontraksi yang disebabkan oleh obat-obatan, seperti agen
anestesi terhalogenisasi, nitrat, obat-obat antiinflamasi nonsteroid, magnesium sulfat, beta-
simpatomimetik dan nifedipin. Penyebab lain yaitu plasenta letak rendah, toksin bakteri
(korioamnionitis, endomiometritis, septikemia), hipoksia akibat hipoperfusi atau uterus
couvelaire pada abruptio plasenta dan hipotermia akibat resusitasi masif. Data terbaru
menyebutkan bahwa grandemultiparitas bukan merupakan faktor resiko independen untuk
terjadinya perdarahan post partum.

1
3. Faktor Predisposisi
Atonia uteri terjadi jika uterus tidak berkontraksi atau tidak berkontraksi secara
terkoordinasi sehingga ujung pembuluh darah ditempat implantasi plasenta tidak dapat
dihentikan (oklusi) sehingga perdarahan menjadi tidak terkendali. Beberapa faktor
predisposisi yang berhubungan dengan resiko perdarahan paska persalinan karena atonia uteri,
diantaranya adalah :

a. Yang menyebabkan uterus membesar lebih dari normal selama kehamilan, diantaranya :
1) Jumlah air ketuban yang berlebihan (Polihidramnion)
2) Kehamilan gemelli
3) Janin besar (makrosomia)
b. Kala satu atau kala 2 memanjang
c. Persalinan cepat (partus presipitatus)
d. Persalinan yang diinduksi atau dipercepat dengan oksitosin
e. Infeksi intrapartum
f. Multiparitas tinggi
g. Magnesium sulfat digunakan untuk mengendalikan kejang pada preeklamsi / eklamsia.

Atonia Uteri juga dapat timbul karena salah penanganan kala III persalinan, dengan
memijat uterus dan mendorongnya ke bawah dalam usaha melahirkan plasenta, sedang
sebenarnya belum terlepas dari uterus. Menurut Roestman (1998), faktor predisposisi
terjadinya Atonia Uteri adalah :

a. Umur : umur yang terlalu muda atau tua


b. Paritas : sering dijumpai pada multipara dan grademultipara
c. Obstetri operatif dan narkosa
d. Uterus terlalu diregang dan besar, pada gemeli, hidramnion, atau janin besar.
e. Kelainan pada uterus seperti mioma uteri
f. Faktor sosio ekonomi yaitu mal nutrisi

4. Gejala klinis
a. Uterus tidak berkontraksi dan lembek
b. Perdarahan segera setelah anak lahir (post partum primer)
c. Gejala yang kadang-kadang timbul: Syok (tekanan darah rendah, denyut nadi cepat dan
kecil, ekstremitas dingin, gelisah, mual dan lain-lain)

5. Patofisiologi
Perdarahan postpartum bisa dikendalikan melalui kontraksi dan retraksi serat-serat
myometrium. Kontraksi dan retraksi ini menyebabkan terlipatnya pembuluh-pembuluh darah
sehingga aliran darah ke tempat plasenta menjadi terhenti. Kegagalan mekanisme akibat
gangguan fungsi myometrium dinamakan atonia uteri dan keadaan ini menjadi penyebab
utama perdarahan postpartum. Sekalipun pada kasus perdarahan postpartum kadang-kadang
sama sekali tidak disangka atonia uteri sebagai penyebabnya, namun adanya faktor

2
predisposisi dalam banyak hal harus menimbulkan kewaspadaan perawat terhadap gangguan
tersebut.
Perdarahan postpartum dapat terjadi karena terlepasnya sebagian plasenta dari rahim dan
sebagian lagi belum; karena perlukaan pada jalan lahir atau karena atonia uteri. Atoni uteri
merupakan sebab terpenting perdarahan postpartum. Atonia uteri dapat terjadi karena proses
persalinan yang lama; pembesaran rahim yang berlebihan pada waktu hamil seperti pada
hamil kembar atau janin besar; persalinan yang sering (multiparitas) atau anestesi yang dalam.
Atonia uteri juga dapat terjadi bila ada usaha mengeluarkan plasenta dengan memijat dan
mendorong rahim ke bawah sementara plasenta belum lepas dari rahim. Perdarahan yang
banyak dalam waktu pendek dapat segera diketahui. Tapi bila perdarahan sedikit dalam waktu
lama tanpa disadari penderita telah kehilangan banyak darah sebelum tampak pucat dan gejala
lainnya. Pada perdarahan karena atonia uteri, rahim membesar dan lembek.Terapi terbaik
adalah pencegahan. Anemia pada kehamilan harus diobati karena perdarahan yang normal
pun dapat membahayakan seorang ibu yang telah mengalami anemia. Bila sebelumnya pernah
mengalami perdarahan postpartum, persalinan berikutnya harus di rumah sakit. Pada
persalinan yang lama diupayakan agar jangan sampai terlalu lelah. Rahim jangan dipijat dan
didorong ke bawah sebelum plasenta lepas dari dinding rahim. Pada perdarahan yang timbul
setelah janin lahir dilakukan upaya penghentian perdarahan secepat mungkin dan
mengangatasi akibat perdarahan. Pada perdarahan yang disebabkan atonia uteri dilakukan
massage rahim dan suntikan ergometrin ke dalam pembuluh balik. Bila tidak memberi hasil
yang diharapkan dalam waktu singkat, dilakukan kompresi bimanual pada rahim, bila perlu
dilakukan tamponade utero vaginal, yaitu dimasukkan tampon kasa kedalam rahim sampai
rongga rahim terisi penuh. Pada perdarahan postpartum ada kemungkinann dilakukan
pengikatan pembuluh nadi yang mensuplai darah ke rahim atau pengangkatan rahim.

3
6. Pathway 1. Umur
2. multipara dan grademultipara
3. Obstetri operatif dan narkosa
4. Uterus terlalu diregang dan besar,
pada gemeli, hidramnion, atau janin besar
5. Kelainan pada uterus seperti mioma uteri
6. Faktor sosio ekonomi yaitu mal nutrisi
Overdistensi uterus

MK. Potensial
Kompresi Uterus tidak berkontraksi syok
bilingual dalam 15 detik hipovolemik

Cedera biologi
Atonia uteri
Penatalaksanaan
Kehilangan volume
Robekan jalan perdarahan cairan aktif
lahir/episiotomi

MK:
Cedera fisik
Kekurangan
Kehilangan vascular volume cairan
yang berlebihan
MK: Nyeri akut

Sirkulasi Kompensasi
perifer paru jantung

Hipovolemi Intake O2
Takikardi
(kurang suplai)
hipertropi

Keterlambatan hipoksia
pengisian kapiler
Tidak terkompensasi

Pucat, kulit Sianosis respiratorik

Dingin/lambat Perubahan
MK: perubahan sekuncup jantung
Takipnea
perfusi jaringan
dispnea
Hematoma porsi
MK: Risiko penurunan
Hipoventilasi
atas vagina curah jantung
kemerahan, udema
MK: Pola nafas tidak
efektif
MK: Risiko tinggi infeksi

4
7. Pencegahan
Pemberian oksitosin rutin pada kala III dapat mengurangi risiko perdarahan pospartum
lebih dari 40%, dan juga dapat mengurangi kebutuhan obat tersebut sebagai terapi.
Menejemen aktif kala III dapat mengurangi jumlah perdarahan dalam persalinan, anemia, dan
kebutuhan transfusi darah.
Kegunaan utama oksitosin sebagai pencegahan atonia uteri yaitu onsetnya yang cepat, dan
tidak menyebabkan kenaikan tekanan darah atau kontraksi tetani seperti ergometrin.
Pemberian oksitosin paling bermanfaat untuk mencegah atonia uteri. Pada manajemen kala III
harus dilakukan pemberian oksitosin setelah bayi lahir. Aktif protokol yaitu pemberian 10 unit
IM, 5 unit IV bolus atau 10-20 unit per liter IV drip 100-150 cc/jam.

8. Pemeriksaan Diagnostik/Penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium
1) Pemeriksaan darah lengkap harus dilakukan sejak periode antenatal. Kadar
hemoglobin di bawah 10 g/dL berhubungan dengan hasil kehamilan yang buruk.
2) Pemeriksaan golongan darah dan tes antibodi harus dilakukan sejak periode antenatal.
3) Perlu dilakukan pemeriksaan faktor koagulasi seperti waktu perdarahan dan waktu
pembekuan.
b. Pemeriksaan radiologi
1) Onset perdarahan post partum biasanya sangat cepat. Dengan diagnosis dan
penanganan yang tepat, resolusi biasa terjadi sebelum pemeriksaan laboratorium atau
radiologis dapat dilakukan. Berdasarkan pengalaman, pemeriksaan USG dapat
membantu untuk melihat adanya jendalan darah dan retensi sisa plasenta.
2) USG pada periode antenatal dapat dilakukan untuk mendeteksi pasien dengan resiko
tinggi yang memiliki faktor predisposisi terjadinya perdarahan post partum seperti
plasenta previa. Pemeriksaan USG dapat pula meningkatkan sensitivitas dan
spesifisitas dalam diagnosis plasenta akreta dan variannya.

9. Penatalaksanaan
a. Resusitasi
Apabila terjadi perdarahan pospartum banyak, maka penanganan awal yaitu resusitasi
dengan oksigenasi dan pemberian cairan cepat, monitoring tanda-tanda vital, monitoring
jumlah urin, dan monitoring saturasi oksigen. Pemeriksaan golongan darah dan
crossmatch perlu dilakukan untuk persiapan transfusi darah.

5
b. Masase dan kompresi bimanual

Gambar 1. Kompresi Bimanual Uterus Atoni

Kompresi Bimanual Interna merupakan tindakan sesudah plasenta dikeluarkan masih


terjadi perdarahan karena atonia uteri, perdarahan karena anemia, perlu dilakukan tindakan
kompresi bimanual sambil mengambil tindakan-tindakan lain untuk menghentikan perdarahan
dan memperbaiki keadaan penderita.

Peralatan : sarung tangan steril; dalam keadaan sangat gawat; lakukan dengan tangan
telanjang yang telah dicuci.
Teknik :
Basuh genetalia eksterna dengan larutan disinfektan; dalam kedaruratan tidak diperlukan
1) Eksplorasi dengan tangan kiri
2) Sisipkan tinju kedalam forniks anterior vagina
a) Tangan kanan (luar) menekan dinding abdomen diatas fundus uteri dan menangkap
uterus dari belakang atas
b) Tangan dalam menekan uterus keatas terhadap tangan luar.

Tindakan ini tidak hanya menekan uterus, tetapi juga meregang pembuluh darah
aferen sehingga menyempitkan lumennya. Kompresi uterus bimanual dapat ditangani
tanpa kesulitan dalam waktu 10-15 menit. Biasanya tindakan ini sangat baik
mengontrol bahaya sementara dan sering menghentikan perdarahan secara sempurna.
Bila uterus refrakter oksitosin, dan perdarahan tidak berhenti setelah kompresi
bimanual, maka histerektomi tetap merupakan tindakan terakhir.

Masase dan kompresi bimanual akan menstimulasi kontraksi uterus yang akan
menghentikan perdarahan. Pemijatan fundus uteri segera setelah lahirnya plasenta
(max 15 detik)

6
(1) Jika uterus berkontraksi
Evaluasi, jika uterus berkontraksi tapi perdarahan uterus berlangsung, periksa
apakah perineum / vagina dan serviks mengalami laserasi dan jahit atau rujuk
segera.
(2) Jika uterus tidak berkontraksi maka :
(a) Bersihkanlah bekuan darah atau selaput ketuban dari vagina & lobang
serviks
(b) Pastikan bahwa kandung kemih telah kosong
(c) Lakukan kompresi bimanual internal (KBI) selama 5 menit.
(3) Jika uterus berkontraksi, teruskan KBI selama 2 menit, keluarkan tangan perlahan-
lahan dan pantau kala empat dengan ketat.
(4) Jika uterus tidak berkontraksi, maka : Anjurkan keluarga untuk mulai melakukan
kompresi bimanual eksternal; Keluarkan tangan perlahan-lahan; Berikan
ergometrin 0,2 mg LM (jangan diberikan jika hipertensi); Pasang infus
menggunakan jarum ukuran 16 atau 18 dan berikan 500 ml RL + 20 unit oksitosin.
Habiskan 500 ml pertama secepat mungkin; Ulangi KBI.
(5) Jika uterus berkontraksi, pantau ibu dengan seksama selama kala empat
(6) Jika uterus tidak berkontraksi maka rujuk segera

c. Uterotonika
Oksitosin merupakan hormon sintetik yang diproduksi oleh lobus posterior hipofisis.
Obat ini menimbulkan kontraksi uterus yang efeknya meningkat seiring dengan
meningkatnya umur kehamilan dan timbulnya reseptor oksitosin. Pada dosis rendah
oksitosin menguatkan kontraksi dan meningkatkan frekwensi, tetapi pada dosis tinggi
menyababkan tetani. Oksitosin dapat diberikan secara IM atau IV, untuk perdarahan aktif
diberikan lewat infus dengan ringer laktat 20 IU perliter, jika sirkulasi kolaps bisa
diberikan oksitosin 10 IU intramiometrikal (IMM). Efek samping pemberian oksitosin
sangat sedikit ditemukan yaitu nausea dan vomitus, efek samping lain yaitu intoksikasi
cairan jarang ditemukan.
Metilergonovin maleat merupakan golongan ergot alkaloid yang dapat menyebabkan
tetani uteri setelah 5 menit pemberian IM. Dapat diberikan secara IM 0,25 mg, dapat
diulang setiap 5 menit sampai dosis maksimum 1,25 mg, dapat juga diberikan langsung
pada miometrium jika diperlukan (IMM) atau IV bolus 0,125 mg. obat ini dikenal dapat
menyebabkan vasospasme perifer dan hipertensi, dapat juga menimbulkan nausea dan
vomitus. Obat ini tidak boleh diberikan pada pasien dengan hipertensi.
Uterotonika prostaglandin merupakan sintetik analog 15 metil prostaglandin F2alfa.
Dapat diberikan secara intramiometrikal, intraservikal, transvaginal, intravenous,
intramuscular, dan rectal. Pemberian secara IM atau IMM 0,25 mg, yang dapat diulang
setiap 15 menit sampai dosis maksimum 2 mg. Pemberian secara rektal dapat dipakai
untuk mengatasi perdarahan pospartum (5 tablet 200 µg = 1 g). Prostaglandin ini
merupakan uterotonika yang efektif tetapi dapat menimbulkan efek samping prostaglandin
seperti: nausea, vomitus, diare, sakit kepala, hipertensi dan bronkospasme yang
disebabkan kontraksi otot halus, bekerja juga pada sistem termoregulasi sentral, sehingga
kadang-kadang menyebabkan muka kemerahan, berkeringat, dan gelisah yang disebabkan
peningkatan basal temperatur, hal ini menyebabkan penurunan saturasi oksigen.
7
Uterotonika ini tidak boleh diberikan pada pasien dengan kelainan kardiovaskular,
pulmonal, dan disfungsi hepatik. Efek samping serius penggunaannya jarang ditemukan
dan sebagian besar dapat hilang sendiri. Dari beberapa laporan kasus penggunaan
prostaglandin efektif untuk mengatasi perdarahan persisten yang disebabkan atonia uteri
dengan angka kesuksesan 84%-96%. Perdarahan pospartum dini sebagian besar
disebabkan oleh atonia uteri maka perlu dipertimbangkan penggunaan uterotonika ini
untuk mengatasi perdarahan masif yang terjadi.

d. Uterine lavage dan Uterine Packing


Jika uterotonika gagal menghentikan perdarahan, pemberian air panas ke dalam cavum
uteri mungkin dapat bermanfaat untuk mengatasi atonia uteri. Pemberian 1-2 liter salin
47°C-50°C langsung ke dalam cavum uteri menggunakan pipa infus. Tangan operator
tidak boleh menghalangi vagina untuk memberi jalan salin keluar.
Penggunaan uterine packing saat ini tidak disukai dan masih kontroversial. Efeknya
adalah hiperdistended uterus dan sebagai tampon uterus. Prinsipnya adalah membuat
distensi maksimum sehingga memberikan tekanan maksimum pada dinding uterus.
Segmen bawah rahim harus terisi sekuat mungkin, anestesi dibutuhkan dalam penanganan
ini dan antibiotika broad-spectrum harus diberikan. Uterine packing dipasang selama 24-
36 jam, sambil memberikan resusitasi cairan dan transfusi darah masuk. Uterine packing
diberikan jika tidak tersedia fasilitas operasi atau kondisi pasien tidak memungkinkan
dilakukan operasi.

e. Operatif
Beberapa penelitian tentang ligasi arteri uterina menghasilkan angka keberhasilan 80-
90%. Pada teknik ini dilakukan ligasi arteri uterina yang berjalan disamping uterus
setinggi batas atas segmen bawah rahim. Jika dilakukan SC, ligasi dilakukan 2-3 cm
dibawah irisan segmen bawah rahim. Untuk melakukan ini diperlukan jarum atraumatik
yang besar dan benang absorbable yang sesuai. Arteri dan vena uterina diligasi dengan
melewatkan jarum 2-3 cm medial vasa uterina, masuk ke miometrium keluar di bagian
avaskular ligamentum latum lateral vasa uterina. Saat melakukan ligasi hindari rusaknya
vasa uterina dan ligasi harus mengenai cabang asenden arteri miometrium, untuk itu
penting untuk menyertakan 2-3 cm miometrium. Jahitan kedua dapat dilakukan jika
langkah diatas tidak efektif dan jika terjadi perdarahan pada segmen bawah rahim. Dengan
menyisihkan vesika urinaria, ligasi kedua dilakukan bilateral pada vasa uterina bagian
bawah, 3-4 cm dibawah ligasi vasa uterina atas. Ligasi ini harus mengenai sebagian besar
cabang arteri uterina pada segmen bawah rahim dan cabang arteri uterina yang menuju ke
servik, jika perdarahan masih terus berlangsung perlu dilakukan bilateral atau unilateral
ligasi vasa ovarian.

1) Ligasi arteri Iliaka Interna


Identiffikasi bifurkasiol arteri iliaka, tempat ureter menyilang, untuk
melakukannya harus dilakukan insisi 5-8 cm pada peritoneum lateral paralel dengan
garis ureter. Setelah peritoneum dibuka, ureter ditarik ke medial kemudian dilakukan

8
ligasi arteri 2,5 cm distal bifurkasio iliaka interna dan eksterna. Klem dilewatkan
dibelakang arteri, dan dengan menggunakan benang non absobable dilakukan dua
ligasi bebas berjarak 1,5-2 cm. Hindari trauma pada vena iliaka interna. Identifikasi
denyut arteri iliaka eksterna dan femoralis harus dilakukan sebelum dan sesudah
ligasi. Risiko ligasi arteri iliaka adalah trauma vena iliaka yang dapat menyebabkan
perdarahan. Dalam melakukan tindakan ini dokter harus mempertimbangkan waktu
dan kondisi pasien.

2) Teknik B-Lynch
Teknik B-Lynch dikenal juga dengan “brace suture”, ditemukan oleh Christopher
B Lynch 1997, sebagai tindakan operatif alternative untuk mengatasi perdarahan
pospartum akibat atonia uteri.

3) Histerektomi
Histerektomi peripartum merupakan tindakan yang sering dilakukan jika terjadi
perdarahan pospartum masif yang membutuhkan tindakan operatif. Insidensi mencapai
7-13 per 10.000 kelahiran, dan lebih banyak terjadi pada persalinan abdominal
dibandingkan vaginal.

10. Prognosis
Perdarahan Post Partum adalah perdarahan lebih dari 500-600 cc dalam 24 jam setelah
anak dan plasenta lahir. Pada kasus perdarahan terutama perdarahan post partum, Atonia
Uteri menjadi penyebab lebih dari 90% perdarahan pasca persalinan yang terjadi dalam 24
jam setelah kelahiran bayi (Ripley, 1999). Prognosis pada klien dengan perdarahan post
partum sebenarnya dapat diselamatkan, namun karena akibat perdarahan yang tidak
diketahui sebabnya dapat menimbulkan prognosis yang buruk bila tidak ditangani dengan
segera.

9
B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian
Pengkajian merupakan langkah awal dari proses keperawatan. Pengkajian dilakukan
secara sistematis, berisikan informasi subjektif dan objektif dari klien yang diperoleh dari
wawancara dan pemeriksaan fisik. Pengkajian terhadap klien meliputi :

2) Identitas klien
Data diri klien meliputi : nama, umur, pekerjaan, pendidikan, alamat, medical record
dan lain – lain
3) Keluhan Utama
Perdarahan dari jalan lahir.
4) Riwayat kesehatan
1) Riwayat kesehatan dahulu
riwayat penyakit jantung, hipertensi, penyakit ginjal kronik, hemofilia, riwayat pre
eklampsia, trauma jalan lahir, kegagalan kompresi pembuluh darah, tempat
implantasi plasenta, retensi sisa plasenta.

2) Riwayat kesehatan sekarang


Keluhan yang dirasakan saat ini yaitu: kehilangan darah dalam jumlah banyak
(>500ml), Nadi lemah, pucat, lokea berwarna merah, haus, pusing, gelisah, letih,
tekanan darah rendah, ekstremitas dingin, dan mual.

3) Riwayat kesehatan keluarga


Adanya riwayat keluarga yang pernah atau sedang menderita hipertensi, penyakit
jantung, dan pre eklampsia, penyakit keturunan hemopilia dan penyakit menular.

5) Riwayat obstetric
(a) Riwayat menstruasi meliputi: Menarche, lamanya siklus, banyaknya, baunya ,
keluhan waktu haid, HPHT
(b) Riwayat perkawinan meliputi : Usia kawin, kawin yang keberapa, Usia mulai
hamil
(c) Riwayat hamil, persalinan dan nifas yang lalu
1. Riwayat hamil meliputi: Waktu hamil muda, hamil tua, apakah ada abortus,
retensi plasenta.
2. Riwayat persalinan meliputi: Tua kehamilan, cara persalinan, penolong, tempat
bersalin, apakah ada kesulitan dalam persalinan anak lahir atau mati, berat
badan anak waktu lahir, panjang waktu lahir.
3. Riwayat nifas meliputi: Keadaan lochea, apakah ada pendarahan, ASI cukup
atau tidak dan kondisi ibu saat nifas, tinggi fundus uteri dan kontraksi.
6) Riwayat Kehamilan sekarang
(a) Hamil muda, keluhan selama hamil muda.
(b) Hamil tua, keluhan selama hamil tua, peningkatan berat badan, tinggi badan, suhu,
nadi, pernafasan, peningkatan tekanan darah, keadaan gizi akibat mual, keluhan
lain
10
(c) Riwayat antenatal care meliputi : Dimana tempat pelayanan, beberapa kali,
perawatan serta pengobatannya yang didapat.
7) Pola aktifitas sehari-hari
(a) Makan dan minum, meliputi komposisi makanan, frekuensi, baik sebelum dirawat
maupun selama dirawat. Adapun makan dan minum pada masa nifas harus
bermutu dan bergizi, cukup kalori, makanan yang mengandung protein, banyak
cairan, sayur-sayuran dan buah – buahan.
(b) Eliminasi, meliputi pola dan defekasi, jumlah warna, konsistensi. Adanya
perubahan pola miksi dan defeksi.BAB harus ada 3-4 hari post partum sedangkan
miksi hendaklah secepatnya dilakukan sendiri (Rustam Mukthar, 1995 )
(c) Istirahat atau tidur meliputi gangguan pola tidur karena perubahan peran dan
melaporkan kelelahan yang berlebihan.
(d) Personal hygiene meliputi : Pola atau frekuensi mandi, menggosok gigi, keramas,
baik sebelum dan selama dirawat serta perawatan mengganti balutan atau duk
8) Pengkajian fisik
(a) Tanda Vital
Tekanan darah : Normal/turun ( kurang dari 90-100 mmHg)
Nadi : Normal/meningkat ( 100-120 x/menit)
Pernafasan : Normal/ meningkat ( 28-34x/menit )
Suhu : Normal/ meningkat
Kesadaran : Normal / turun
2) Fundus uteri/abdomen : lembek/keras, subinvolusiKulit : Dingin,
berkeringat, kering, hangat, pucat, capilary refill memanjang
3) Pervaginam : Keluar darah, robekan, lochea ( jumlah dan jenis )
4) Kandung kemih : distensi, produksi urin menurun/berkurang.

2. Diagnosa Keperawatan
a. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan vaskuler yang berlebihan
b. Perfusi jaringan tidak efektif berhubungan dengan hipovelemia, perdarahan ditandai
dengan conjungtiva pucat , acral dingin , Hb turun , muka pucat & lemas
c. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan intake O2 yang rendah
d. Nyeri akut Berhubungan dengan agen cedera fisik
e. Potensial terjadinya hypovolemik syok berhubungan dengan perdarahan .
f. Resiko penurunan curah jantung berhubungan dengan hipovolemia
g. Resiko tinggi terjadinya infeksi berhubungan dengan trauma jaringan, Stasis cairan
tubuh (hipovolemi)

3. Intervensi Keperawatan

Diagnosa 1: kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan kehilangan vaskular


berlebihan
Tujuan: Setelah diberikan Asuhan Keperawatan selama 2x24 jam di harapkan Volume
cairan dapat terpenuhi secara adekuat.

11
Kriteria Hasil :
a. Tanda-tanda vital dalam batas normal, suhu : 36,5-37,50C, TD : 120/80 mmHg, RR :
16-20x/menit, Nadi : 80-100 x/ menit.
b. pengisian kapiler cepat (kurang dari 3 detik),
c. Input dan output cairan seimbang,
d. berat jenis urine dalam batas normal.
e. Turgor kulit elastic
Intervensi :
No. Intervensi Rasional

1. Kaji dan catat jumlah, tipe, dan sisi Perkirakan kehilangan darah, arterial
perdarahan. Timbang dan hitung versus vena, dan adanya bekuan-bekuan
pembalut. Simpan bekuan dan membantu membuat diagnosis banding
jaringan untuk dievaluasi oleh dokter. serta menentukan kebutuhan
penggantian (satu gram peningkatan
berat pembalut sama dengan kurang
lebih 1 ml kehilangan darah)

2. Kaji lokasi uterus dan derajat Derajat kontraktilitas uterus membantu


kontraktilitas uterus. Dengan masase, dalam diagnosis banding. Peningkatan
penonjolan uterus dengan satu tangan kontraktilitas miometrium dapat
sambil menempatkan tangan kedua menurunkan kehilangan daarah.
tepat di atas simfisis pubis. Penempatan satu tangan diatas simfisis
pubis mencegah kemungkinan inversi
uterus selama masase

3. Perhatikan hipotnsi dan takikardi, Tanda-tanda menunjukkan hipovolemik


perlambatan pengisian kapiler atau dan terjadinya syock. Perubahan
sianosis dasar buku, serta membran tekanan darah tidak dapat dideteksi
mukosa bibir. sampai volume cairan telah menurun
hingga 30-50%. Sianosis adalah tanda
akhir dari hipoksia.

4. Pantau masukan dan keluaran: Bermanfaat dalam memperkirakan


perhatikan berat jenis urine. luas/signifikansi kehilangan cairan.
Volume perfusi/sirkulasi adekuat
ditunjukkan dengan haluran 3-50 ml/jam
atau lebih besar. Sianosis adalah tanda
akhir dari hipoksia.

5. Berikan lingkungan yang tenang dan Meningkatkan relaksasi, menurunkan

12
dukungan psikologis. ansietas, dan kebutuhan metabolik.

6. Kolaborasi Produk darah untuk meningkatkan


volume, sirkulasi dan mencegah
Kolaborasi dalam pemberian darah pembekuan.
lengkap atau produk darah ( misal
plasma, trombosit ).

7. Kolaborasi pemberian cairan infus Cairan infus berguna untuk mengganti


elektrolit atau isotonik melalui jalur cairan infus yang hilang.
sentral.

Diagnosa 2: Perubahan perfusi jaringan yang berhubungan dengan hipovolemia,


perdarahan ditandai dengan pengisian kapilari lambat, pucat,kulit dingin atau lembab.
Tujuan: setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan Perfusi
jaringan kembali normal.
Kriteria Hasil:
a. TD dalam batas normal 120/80 mmHg
b. Nadi dalam batas normal 80-100 x/menit
c. darah arteri dalam batas normal
d. Hb dalam batas normal;
e. pengisian kapiler cepat (< 3 detik)
Intervensi:

No. Intervensi Rasional

1. Perhatikan Hb atau Ht sebelum Nilai bandingan membantu


dan sesudah kehilangan darah. menentukan beratnya kehilangan
Kaji status nutrisi, tinggi, dan berat darah. Status sebelumnya dari
badan. kesehatan yang buruk meningkatkan
luasnya cedera karena kekurangan
O2

2. Observasi tanda vital, catat derajat, Luasnya keterlibatan hipofisi dapat


dan durasi episode hipovolemik. dihubungkan dengan derajat dan
durasi hipotensi. Peningkatan
frekuensi pernapasan dapat

13
menunjukkan upaya untuk
mengatasi asidosis metabolik.

3. Perhatikan tingkat kesadaran dan Perubahan sensorium adalah


adanya perubahan perilaku. indikator dini hipopksia, sianosis
tanda lanjut, mungkin tidak tampak
sampai kadar PO2 turun dibawah
50 mmHg.

4. Kaji warna dasar kuku mukosa Pada kompensasi vasokonstriksi dan


mulut, gusi, dan lidah serta pirau organ vital, sirkulasi pada
perhatikan suhu kulit. pembuluh darah perifer diturunkan
yang mengakibatkan sianosis dan
suhu kulit dingin.

5. Catat intake dan output Produsi urin yang kurang dari 30


ml/jam menunjukkan penurunan
fungsi ginjal

6. Kolaborasi

a). Pantau kadar pH a)Membantu dalam mendiagnosis


derajat hipoksia jaringan atau
asidosis yang diakibatkan oleh
terbentuknya asam laktat dari
metabolisme anaerobik.

b). Berikan terapi oksigen sesuai


kebutuhan b).Memaksimalkan ktersediaan
oksigen untuk transpor sirkulasi
jaringan.

c). Kolaborasi pemberian cairan c). Cairan infus isotonik dapat


infus isotonik mengganti volume darah yang
hilang akiba perdarahan.

d). Kolaborasi pemberian tranfusi


d). Tranfusi darah mengganti
darah bila Hb rendah
komponen darah yang hilang akibat
perdarahan

Diagnosa 3 : Pola napas tidak efektif berhubungan dengan intake O2 yang rendah.
14
Tujuan : Setelah diberikan Asuhan Keperawatan selama 3x24 jam diharapkan pola
nafas pasien dapat terpenuhi secara adekuat .
Kreteria Hasil : Pola nafas normal, RR 18-20 x/menit.
Intervensi :
No. Intervensi Rasional

1. Observasi TTV setiap 3 jam TTV menunjukkan keadaan klien.


sekali.

2. Kaji jumlah atau kedalaman Melakukan evaluasi untuk melihat


pernafasan dan pergerakan badan. kemajuan dari intervensi yang
dilakukan.

3. Berikan posisi nyaman fowler/ Memaksimalkan ventilasi


semifowler (450 / 90o). memudahkan pernafasan.

4. Auskultasi bunyi nafas dan catat Bunyi nafas menurun atau tidak ada
adanya bunyi mengi krekels. bila jalan nafas obstruksi skunder.
5. Ajarkan pasien dalam melakukan Nafas dalam memfasilitasi
latihan nafas dalam. pengembangan paru maximum.
terhadap perdarahan, bekuan atau
kolaps jalan nafas.

6. Kolaborasi dengan dokter dalam Memaksimalkan pernafasan dan


pemberian menurunkan kerja nafas.
a. O2
b. Bronkodilator

Diagnosa 4: Nyeri berhubungan dengan inflamasi dan kerusakan jaringan.


Tujuan: Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 2x 15 menit diharapkan nyeri
pasien berkurang/terkontrol
Kriteria Hasil : Pasien tidak tampak meringis
Intervensi :

No. Intervensi Rasional

1. Kaji skala nyeri pasien (PQRST). Nyeri merupakan respon subjektif


yang dapat dikaji dengan skala
nyeri.

2. Atur posisi imobilisasi pada Imobilisasi yang adekuat dapat


daerah nyeri. mengurangi nyeri.

15
3. Bantu klien dalam Nyeri dipengaruhi oleh kecemasan
mengidentifikasi factor pencetus. dan pergerakan sendi.

4. Jelaskankan bantu klien dengan Pendekatan dengan menggunakan


tindakan pereda nyeri non relaksasi dan tindakan non
farmakologi dan non invasive. farmakologi lain menunjukkan
keefektifan dalam mengurangi nyeri.

5. Ajarkan teknik distraksi dan Teknik ini dapat membantu


relaksasi. mengurangi nyeri.

6. Kolaborasi Analgetik merupakan obat peretensi


nyeri.
Kolaborasi dengan dokter dalam
pemberian analgetik.

Diagnose 5: Potensial terjadinya hypovolemik syok berhubungan dengan perdarahan .


Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan syok
hipovolemik tidak terjad
Kriteria hasil :
a. Perdarahan berkurang
b. TTV dalam batas normal ; Suhu : 36-37 0 C, TD : 120/80 mmHg, RR :18-20x/menit,
Nadi : 80-100 x/menit
c. Keadaan umum baik, kesadaran Compos mentis

Intervensi:

No Intervensi Rasional

1 Kaji perdarahan setiap 15 – 30 Mengetahui adanya gejala syok


menit sedini mungkin

2 Monitor tekanan darah, nadi, Mengetahui keadaan pasien


pernafasan setiap 15 menit, bila
normal observasi dilakukan setiap
30 menit.
3 Awasi adanya tanda-tanda syok, Menentukan intervensi selanjutnya
pucat, menguap erus keringat dan mencegah syok sedini mungkin
dingin, kepala pusing.

16
4 Kaji konsistensi abdomen dan Mengetahui perdarahan yang
tinggi fundus uteri. tersembunyi
5 Catat intake dan output Produksi urine yang kurang dari 30
ml/jam merupakan penurunan
fungsi ginjal.
6 berikan cairan 2500 ml perhari Mengganti cairan tubuh yang hilang
7 Berikan cairan sesuai dengan Mempertahankan volume cairan
program terapi sehingga sirkulasi bisa adekuat dan
sebagian persiapan bila diperlukan
transfusi darah.
8 Pemeriksaan laboratorium Menentukan intervensi selanjutnya
hematkrit dan hemoglobin

9 Kolaborasi pemberian tranfusi Tranfusi darah mengganti komponen


darah bila Hb rendah darah yang hilang akibat perdarahan.

Diagnosa 6 : Risiko penurunan curah jantung b.d hipervolemia


Tujuan: Setelah di berikan Asuhan Keperwatan selama 3x24 jam diharapkan tidak terjadi
penurunan curah jantung.
Kriteria Hasil:
a. Tanda vital stabil/normal (TD : 120/80 mmHg, RR : 18-20x/ menit, Nadi : 80-100
x/menit, suhu : 36,5-37,50 C).
b. Denyut nadi perifer normal
c. Status mental baik
d. Tidak ada disritmia
Intervensi:

No. Intervensi Rasional

1. Observasi nadi dan denyut jantung Nadi meningkat dapat menunjukan


pasien. stres jantung.

2. Auskultasi suara jantung, Ventrikel jantung dalam keadaan


perhatikan adanya bunyi jantung agak hopertrofi untuk
tambahan, adanya irama mengkompensansi peningkatan
gallop dan murmur sistolik. volume sirkulasi dan untuk
memaksimalkan curah jantung.
Murmur sistolik dapat terjadi
karena penurunan viskositas darah,
perubahan posisi jantung, atau torsi
pembuluh darah besar.

17
4. Anjurkan pasien untuk membatasi Tirah baring meningkatkan curah
aktivitas yang tidak perlu. jantung dan haluaran urine.

5. Kolaborasi a. Hb rendah dapat menunjukan


anemia, yang dapat
a. Monitor kadar Hb meningkatkan frekuensi
b. Tes urin terhadap albumin jantung danbeban kerja
sesuai indikasi jaunting.
b. Proteinuria dengan peningkatan
albumin diatas 1+ menunjukan
edema glomerular atau apasme
yang memerlukan intervensi
segera.

Diagnosa 7 : Resiko infeksi berhubungan dengan perdarahan


Tujuan: Setelah diberikan Asuhan Keperawatan selama 3x24 jam diharapkan Tidak
terjadi infeksi.
Kriteria Hasil :
a. lokea tidak berbau.
b. TV dalam batas normal (Suhu : 36,5-37,5 0 C).
Intervensi :

No. Intervensi Rasional

1. Obsevasi perubahan tanda Perubahan tanda vital ( suhu )


vital. merupakan indikasi terjadinya
infeksi.

2. Observasi adanya tanda lemas, Tanda-tanda tersebut


kedinginan, anoreksia, merupakan indikasi terjadinya
kontraksi uterus yang lembek, bakterimia, shock yang tidak
dan nyeri panggul. terdeteksi

3. Monitor involusi uterus dan Infeksi uterus menghambat


pengeluaran lochea involusi dan terjadi pengeluaran
lokea yang berkepanjangan.

4. Berikan kesempatan istirahat Saat tidur terjadi regenerasi sel.


atau tidur yang cukup

5. Kolaborasi

a). Berikan zat besi ( Anemi zat besi berfungsi

18
memperberat keadaan ) memproduksi hemoglobin
dalam tubuh dan menyokong
b). Beri antibiotika ( kekebalan tubuh.
Pemberian antibiotika yang
tepat diperlukan untuk Pemberian antibiotika yang
keadaan infeksi ). tepat diperlukan untuk keadaan
infeksi

4. Implementasi Keperawatan
Disesuaikan dengan intervensi diatas.

5. Evaluasi keperawatan
a. Kebutuhan cairan dapat terpenuhi secara adekuat
b. Perfusi jaringan kembali normal
c. Pola napas pasien dapat terpenuhi secara adekuat
d. Nyeri pasien berkurang atau terkontrol
e. Tidak terjadi syok hipovelemik
f. Pasien tidak mengalami penurunan curah jantung
g. Pasien tidak mengalami infeksi

19