Sunteți pe pagina 1din 38

PANDUAN PELAYANAN AMBULANCE

BAB I.

DEFENISI

Ambulance adalah kendaraan yang dirancang khusus untuk mengangkut orang

sakit atau terluka untuk mendapatkan fasilitas medis.Kebanyakan ambulance adalah

kendaraan bermotor, meskipun helikopter, pesawat terbang, dan perahu juga digunakan.

Interior ambulance memiliki ruang untuk satu atau lebih pasien ditambah beberapa

personel gawat darurat medis.Hal ini juga berisi berbagai perlengkapan dan peralatan

yang digunakan untuk memberi pertolongan kepada pasien saat perjalanan.

Tujuan penggunaan ambulans adalah:

1. Pertolongan penderita Gawat Darurat PraRumah Sakit;

2. Pengangkutan penderita Gawat Darurat yang sudah distabilkan darilokasi kejadian ke tempat

tindakan definitif atau ke Rumah Sakit;

3. Sebagai kendaraantransport rujukan.

Sejarah Ambulance

KataAmbulance awal sederhana dua roda gerobak digunakan untuk membawa prajurit sakit atau

terluka yang tidak mampu berjalan sendiri.Kata ambulance berasal dari ambulare kata Latin, yang

berarti berjalan atau bergerak. Ambulance pertama khusus digunakan untuk mengangkut pasien ke

fasilitas medis yang dikembangkan di akhir 1700-an di Perancis oleh Dominique-Jean Larrey, ahli

bedah-in-chief di tentara Napoleon.

Larrey mencatat bahwa butuh waktu hampir 1(satu) hari penuh untuk tentara yang terluka harus

dibawa ke rumah sakit lapangan, dan bahwa sebagian besar dari mereka meninggal pada saat itu "dari

ingin bantuan". Untuk memberikan bantuan lebih cepat dan menyediakan transportasi cepat, dia

merancang kereta yang ditarik kuda-dikelola oleh petugas medis dan asisten dengan ruang untuk

beberapa pasien dengan tandu.

Korps ambulance pertama militer di Amerika Serikat diselenggarakan pada tahun 1862 selama

Perang Sipil sebagai bagian dari pasukan Uni. Layanan ambulans pertama sipil di Amerika Serikat

diselenggarakan 3(tiga) tahun kemudian oleh Cincinnati Commercial Rumah Sakit. Pada pergantian

abad ini, paling rumah sakit besar memiliki ambulans sendiri pribadi.Ambulans bermotor pertama kali
pergi ke dalam operasi di Chicago pada tahun 1899.

Di daerah di mana tidak ada rumah sakit besar, mobil jenazah pemakaman setempat sering

kendaraan hanya mampu membawa seorang pasien di tandu, dan banyak rumah pemakaman juga

menyediakan layanan ambulans.Akibatnya, desain dan konstruksi ambulans dan mobil jenazah terkait

erat selama bertahun-tahun tetap.

Kebanyakan ambulans awal yang hanya ditujukan untuk transportasi pasien. Setelah tim dokter

atau kebakaran departemen penyelamatan diterapkan pertolongan pertama, pasien dimasukkan ke

bagian belakang ambulans untuk naik cepat ke rumah sakit. Dalam beberapa kasus, dokter berkuda

bersama, namun sebagian besar waktu pasien melaju sendirian dan tanpa pengawasan.

Di Amerika Serikat yang berubah secara dramatis ketika pemerintah federal melewati Jalan

Keselamatan Act pada tahun 1966.Diantara banyaknya standar, tindakan baru menetapkan persyaratan

untuk desain ambulans dan perawatan medis darurat.Ambulans dengan rendah tersampir, tubuh

jenazah seperti digantikan oleh van bertubuh tinggi untuk mengakomodasi personil dan peralatan

tambahan.Radio dipasang.Banyak ambulans membawa peralatan canggih seperti defibrilator jantung,

bersama dengan gudang obat menyelamatkan nyawa dan obat-obatan.

Hari ini, ambulans datang dalam berbagai bentuk dan ukuran.Desain yang sederhana dilengkapi

untuk memberikan dukungan hidup dasar, atau BLS, sedangkan yang lebih besar, desain yang lebih

canggih dilengkapi untuk memberikan dukungan kehidupan yang maju, atau ALS. Ambulans dapat

dioperasikan oleh perusahaan swasta, rumah sakit, api lokal atau departemen polisi, atau organisasi

kota-berjalan terpisah.

Struktur Ambulance

Produsen Ambulans membeli komponen banyak dari pemasok lain daripada mereka membuat

sendiri. Ini termasuk taksi kendaraan dan chasis, peringatan lampu dan sirene, radio, sebagian besar

komponen sistem kelistrikan, pemanas dan komponen AC, komponen oksigen sistem, dan berbagai

badan trim potongan seperti jendela, mengunci, menangani, dan engsel.

Jika ambulans memiliki tubuh yang terpisah, kerangka tubuh biasanya terbuat dari aluminium

yang dibentuk atau diekstrusi.Dinding luar dicat lembaran aluminium, dan dinding interior biasanya

lembar aluminium ditutupi dengan lapisan vinyl atau plastik dilaminasi.subfloor dapat dibuat dari kayu

lapis atau mungkin menggunakan plastik sarang tawon terbuka berintikan dilaminasi pada lembar
aluminium.Yang meliputi lantai interior biasanya vinyl, mulus industri-kelas yang membentang

sebagian sampai masing-masing pihak untuk membersihkan dengan mudah.

Lemari Interior dalam kompartemen pasien biasanya terbuat dari aluminium dengan transparan,

panel plastik tahan pecah di pintu. Meja dan permukaan dinding di daerah tindakan, daerah segera

berlawanan kepala pasien dan dada di bagian depan kiri tubuh ambulans, biasanya ditutup dengan

lembaran halus dari stainless steel untuk melawan efek dari darah dan cairan tubuh lainnya. Interior

dan kursi berlapis kain daerah lainnya memiliki bantalan busa tahan apidengan penutup vinyl.Interior

menangani dan rel terbuat dari stainless steel. Lainnya potongan trim interior dapat dibuat dari

berbagai karet atau bahan plastik.

Desain Ambulance

Ambulans desain terbagi ke dalam tiga kategori.

Tipe I : Ambulans memiliki tubuh modular, atau dilepas, dibangun di atas chassis truk. Taksi

truk terhubung ke tubuh melalui jendela kecil, tapi penghuni taksi harus pergi ke luar

kendaraan untuk memasuki tubuh ambulans.Desain ini menggabungkan kemampuan

tubuh lebih besar modular dengan berjalan-melalui aksesibilitas

Tipe II : Digunakan van ambulans dengan atap terangkat. Karena konstruksi van, para

penumpang taksi dengan mudah dapat memasuki tubuh dari dalam, walaupun ruang

interior terbatas.

Tipe III : Ambulans memiliki tubuh modular dibangun di atas chassis van cut-jauhnya.

Mempersiapkan Chassis

* Kabel tambahan akan ditambahkan ke taksi, chassis, dan sistem kelistrikan mesin untuk

mengakomodasi lampu peringatan dan sirene dan untuk membawa kekuatan untuk tubuh.

saklar tambahan dan kontrol yang ditambahkan ke dasbor seperti yang diperlukan. Pemanasan

dan sistem AC juga dapat dimodifikasi.

* Lubang yang dibor di frame dan kendaraan rel mounting bracket dipasang untuk mendukung

tubuh ambulans. Rel frame dapat dipotong dengan panjang yang tepat bagi tubuh.

Kualitas Ambulance

Rancangan ambulans diatur oleh beberapa standar, dan produsen harus mengambil langkah-langkah

yang tepat untuk memastikan kepatuhan dengan standar-standar. Setiap sistem diperiksa dan diuji
untuk instalasi dan operasi yang tepat sebagai bagian dari proses manufaktur. Selain itu, setiap bahan,

dari aluminium dalam tubuh dengan busa di kepala bersandar, disertifikasi oleh produsen untuk

memenuhi spesifikasi yang dibutuhkan

Tulisan “ambulance “ yang terbalik

Tulisan “ambulance” yang berada di depan, samping kanan-kiri dan belakang kendaraan memang

sengaja ditulis terbalik. Alasannya agar pengguna jalan lain dapat melihat tulisan “ambulance” dengan

mudah melalui spion kendaraan mereka dan diharapkan akan memberikan space yang dibutuhkan

untuk memudahkan perjalanan ambulance tersebut.

Tenaga medis dan peralatan pada ambulance

Sebelum mengetahui petugas-petugas atau tenaga medis yang bertugas serta peralatan yang ada di

ambulance, kita harus mengetahui terlebih dahulu jenis-jenis ambulance. Jenis ambulance terdiri dari

ambulance transport, ambulance gawat darurat, ambulance rumah sakit lapangan, dan ambulance

pelayanan medis bergerak.Petugas atau tenaga medis dan peralatan yang dibutuhkan disesuaikan

dengan jenis ambulance.

a. Ambulance transport

Jenis ambulan ini mempunyai fungsi hanya membawa pasiean ke rumah sakit ataupun ke pusatpusat

pelayanan medis misal: pusat dialisis. Jenis ambulan ini bisa berupa mobil van, bis, ataupun alat

transportasi lain.

Tujuan Penggunaan :

Pengangkutan penderita yang tidak memerlukan perawatan khusus/ tindakan darurat untuk

menyelamatkan nyawa dan diperkirakan tidak akan timbul kegawatan selama dalam perjalanan.

Petugas :

1 (satu) supir dengan kemampuan BHD (bantuan hidup dasar) dan berkomunikasi

1 (satu) perawat dengan kemampuan PPGD (pertolongan pertama gawat darurat)

Peralatan :

Tabung oksigen dengan peralatannya

Alat penghisap cairan/lendir 12 Volt DC

Peralatan medis PPGD (tensimeter dengan manset anak-dewasa, dll)

Obat-obatan sederhana, cairan infus secukupnya


b. Ambulance gawat darurat

Ambulance adalah alat transfortasi untuk membawa oaring sakit ataupun terluka menuju rumah

sakit. Kata Ambulance digunakan untuk mendiskripsikan alat transfortasi yang memiliki alat medis

untuk pasien yang ada di luar rumah sakit atau untuk membawa pasien kerumah sakit untuk

mendapatkan perawatan lebih lanjut (www.essay.se.2008)

Kata Ambulance secara umum dihubungkan dengan kendaraan motor emergency dengan peralatan

emergency untuk apsien dengan penyakit akut ataupun trauma, yang sekarang disebut sebagai

ambulance emergency,

Jenis ambulance yang lain yaitu ambulance yang dikhususkan untuk hanya membawa pasien

kerumah sakit. Jenis ambulance ini tidak dilengkapi dengan peralatan bantuan dasar hidup dan

biasanya staf paramedic pada ambulance jenis ini mempunyai kualifikasi lebih rendah jika

dibandingkan dengan staf paramedic pada ambulance emergency.

Jenis ambulan ini bisa berupa mobil,van,kapal boat,ambulan udara.

1. PERSAYARATAN AMBULANCE GAWAT DARURAT

Syarat ambulance gawat darurat antara lain :

a.Idealnya sampai di tempat pasien dalam waktu 6-8 menit agar dapat mencegah

kematian karena sumbatan jalan nafas, henti nafas, henti jantung atau perdarahan

massif (“to save life and limb”).

b.Berkomunikasi dengan rumah sakit dan ambulance lainnya.

c.Melakukan pertolongan pada persalinan.

d. Melakukan transformasi pasien dari tempat kejadian ke rumah sakit atau dari rumah

sakit ke rumah sakit lainnya.

e. Menjadi rumah sakit lapangan dalam penanggulangan bencana.

f. Mampu menanggulangi gangguan A (Airway), B(Breathing), C(Circulation) dalam

batas-batas Bantuan Hidup Dasar (BHD).

g. Juga dilengkapi dengan alat-alat ekstriksi, fiksasi, stabilisai dan transfortasi.

h. Dilengkapi dengan semua alat/obat untuk semua jenis kegawat daruratan medic.

2. TEHNIS KENDARAAN

a. Kendaraan roda empat atau lebih dengan suspense lunak


b. Warna kendaraan putih

c. Penggunaan pengatur urada AC dengan pengendali di ruang penemudi.

d. Pintu belakang dapat dibuka kea rah atas.

e. Ruang penderita tidak dipisahkan dari raung pengemudi.

f. Tempat duduk petugas di ruang penderita dapat diatur/ dilipat.

g. Dilengkapi sabuk pengaman bagi pengemudi dan pasien.

h. Ruang penderita cukup luas untuk sekurangnya 2(dua) tandu,tandu dapat dilipat.

i. Ruang penderita cukup tinggi sehingga petugas dapat berdiri tegak untuk melakukan

tindakan.

j. Gantungan infuse terletaksekurang-kurangnya 90 cm di atas tempat penderita.

k.Stop kontak khusus 12 V DC diruang penderita.

l. Lampu ruangan secukupnya/ bukan neon dan lampu sorot yang dapat digerakkan.

m.Meja yang dapat dilipat.

n. Lemari obat dan peralatan.

o. Tersedia peta wilayah dan detailnya.

p. Penyimpanan air bersih 20 liter, wastafel dan penampungan air limbah

q. Sirene 2(dua) nada.

r. Lampu rotator warna merah dan biru.

s. Radio komunikasi dan telepon genggam di ruang kemudi.

t. Buku petunjuk pemeliharaan semua alat berbahasa Indonesia.

3. TATA TERTIB KENDARAAN

a.Saat menuju ke tempat penderita boleh menghidupkan sirine dan lampu rotator. Selama

mengangkut penderita hanya lampi rotator yang dihidupkan.

b.Mematuhi peraturan lalu lintas yang berlaku.

c.Kecepatan kendaraan kurang dari 40 km di jalan biasa, 80 km di jalan bebas hambtan .

d.Petugas membuat/ mengisi laporan selama perjalanan yang disebut dengan lembar

catatan penderita yang mencakup identitas, waktu dan keadaan penderita setiap 15-30

menit.

d.Petugas memakai serangam ambulance dengan identitas yang jelas.


4. TUJUAN PENGGUANAAN :

Pertolongan penderita gawat darurat pra rumah sakit, pengangkutan penderita gawat

darurat yang sudah distabilkan dari lokasi kejadian ke tempat tindakan definitif atau ke

rumah sakit, sebagai kendaraan transport rujukan.

Petugas :

1 (satu) pengemudi berkemampuan PPGD dan berkomunikasi

1 (satu) perawat berkemampuan PPGD

1 (satu) dokter berkemampuan PPGD atau ATLS/ACLS (advanced trauma life

support/advanced cardiac life support)

Peralatan :

Peralatan rescue :

Lemari obat dan peralatan

Tanda pengenal dari bahan pemantul sinar

Peta wilayah setempat

Persyaratan lain menurut perundangan yang berlaku

Lemari es/ freezer, atau kotak pendingin

Medis :

Tabung oksigen dengan peralatan bagi 2 orang

Peralatan medis PPGD

Alat resusitasi manual/automatic lengkap bagi dewasa dan anak/ bayi

Suction pump manual dan listrik 12 V DC

Peralatan monitor jantung dan nafas

Alat monitor dan diagnostik

Peralatan defibrilator untuk anak dan dewasa

Minor surgery set

Obat-obatan gawat darurat dan cairan infus secukupnya

Entonox atau gas anastesi

Kantung mayat

Sarung tangan disposable


Sepatu boot

Ambulan gawat darurat ini yang ada pada RS PKT Bontang.

c. Ambulance rumah sakit lapangan

TUJUAN PENGGUNAAN :

Merupakan gabungan beberapa ambulans gawat darurat dan ambulans pelayanan medic

bergerak. Sehari-hari berfungsi sebagai ambulans gawat darurat.

Petugas :

1 (satu) pengemudi berkemampuan PPGD dan berkomunikasi

1 (satu) perawat berkemampuan PPGD atau BTLS/BCLS

(basictrauma life support/basic cardiac life support)

1 (satu) dokter berkemampuan PPGD atau ATLS/ACLS

Peralatan :

Peralatan rescue :

Lemari obat dan peralatan

Tanda pengenal dari bahan pemantul sinar

Peta wilayah setempat dan detailnya

Persyaratan lain menurut perundangan yang berlaku

Lemari es/ freezer, atau kotak pendingin

Medis :

Tabung oksigen dengan peralatan bagi 2 orang

Peralatan medis PPGD

Alat resusitasi manual/automatic lengkap bagi dewasa dan anak/ bayi

Suction pump manual dan listrik 12 V DC

Peralatan monitor jantung dan nafas

Alat monitor dan diagnostik

Peralatan defibrilator untuk anak dan dewasa

Minor surgery set

Obat-obatan gawat darurat dan cairan infus secukupnya

Entonox atau gas anastesi


Kantung mayat

Sarung tangan disposable

Sepatu boot

d. Ambulance pelayanan medik bergerak

TUJUAN PENGGUANAN :

Melaksanakan salah satu upaya pelayanan medik di lapangan. Digunakan sebagai ambulans transport.

Petugas :

1 (satu) pengemudi berkemampuan PPGD dan berkomunikasi

Perawat berkemampuan PPGD dengan jumlah sesuai kebutuhan

Paramedis lain sesuai kebutuhan

Dokter berkemampuan PPGD atau ATLS/ACLS

Peralatan :

Peralatan rescue :

Peta wilayah setempat

Persyaratan lain menurut perundangan yang berlaku

Lemari es/ freezer, atau kotak pendingin.

Medis :

Tabung oksigen dengan peralatan

Peralatan medis PPGD

Alat resusitasi manual/automatic lengkap bagi dewasa dan anak/ bayi

Suction pump manual dan listrik 12 V DC

Obat-obatan gawat darurat dan cairan infus secukupnya

Sarung tangan disposable

Sepatu boot

DAFTAR PERALATAN AMBULANCES (EMERGENCY KIT)

I.DI DALAM BOX EMERGENCY

A. AIRWAY D.EMERGENCY DRUGS & DISINFECTANT

Laringoscope # Aminophiline

Orapharingeal airway # Cylocard 100 mg


Nasopharingeal airway # Neurobion 5000

Endo Tracheal Tube # Lidocain 2%

Mouth Gage # Diazepam

Magil Forcep # Valium 10 mg

Tounge spatle # Nitrogliserin sublingual

Suction Canule # Adrenalin/ Epineprin

Xylocain jelly # Sulfas atropine 0,25 mg

# Kalmethason

B.BREATHING # Buscopan

Bag valve mask # Dextrose 40%

Nasal Canule # Lasix

Simple Mask

Rebreathing mask E.LAIN-LAIN

Non Rebreathing mask # Gunting verban

Conektor canule (canul bagging) # Pincet Anatomis

Pocket mask # Pincet Cirugis

# Arteri clem

# Plester

C.CIRCULATION # Penlight

Infus set # Elektroda EKG

IV Catheter # Thermometer

Cairan infuse # Gastric tube

Spuit # Neck collar

Tensi meter

Stetescope

Poly catheter III. OPTIONAL

Urine bag # Pulse oksimeter

Karet stuing # Defibrilator

Kasa steril # AED


Perban gulung # Ventilator portable

Balut cepat # Tensi meter digital

Mitela

Elastis perban

Aluminium foil

II.DI LUAR BOX EMERGENCY

Tabung Oksigen 1 m3

Tabung oksigen ½ m3 (portable)

Regulator/ Flowmeter oksigen

Scoope streceher

Spalk/ bidai

Long spinal board

Urinal/ pispot

Nierbeken

Head immobilizer

Kendrick extrication divice

Elektrik suction

Manual suction

Handscoen

Masker

Alat tenun

Safety belt

Peraturan lalin khusus untuk ambulance

Sebagian besar undang-undang memperbolehkan pengemudi kendaraan emergensi untuk :

1. Memarkir kendaraannya di manapun, selama tidak merusak hak milik atau membahayakan

nyawa orang lain.

2. Melewati lampu merah dan tanda berhenti. Beberapa negara mengharuskan pengemudi

ambulans untuk berhenti terlebih dahulu saat lampu merah, lalu melintas dengan hati-hati.

Negara lain hanya menginstruksikan pengemudi untuk memperlambat laju kendaraan dan
melintas dengan hati-hati.

3. Mendahului kendaraan lain di daerah larangan mendahului setelah memberi sinyal yang tepat,

memastikan jalurnya aman, dan menghindari hal-hal yang membahayakan nyawa dan harta

benda.

4. Mengabaikan peraturan yang mengatur arah jalur dan aturan berbelok ke arah tertentu, setelah

memberi sinyal dan peringatan yang tepat.

5. Dengan adanya pengecualian tentang beberapa peraturan lalin untuk ambulance, bukan berarti

ambulance bebas dikemudikan dengan kecepatan yang ugal-ugalan. Ada batasan kecepatan

yang diperbolehkan dalam mengemudi ambulance, yaitu 60 km/jam ketika berangkat

mengambil penderita dan maksimum 40 km/jam ketika membawa pasien di dalamnya. Hal ini

dikarenakan kecepatan yang tinggi akan menyebabkan stress pada pasien, terlebih lagi jika

sirine dibunyikan. Dan perlu digaris bawahi, jika ambulance membawa pasien dengan penyakit

jantung, sirine TIDAK BOLEH dibunyikan. Jadi, ambulance hanya diperbolehkan menyalakan

lampu rotator saja, akibat bunyi sirine akan berakibat fatal pada pasien penyakit jantung.

BAB II

RUANG LINGKUP

Pada saat penderita mengalami kegawatan medik, maka seharusnya secepatnya ada pelayanan

gawat darurat yang membantu penderita.Setelah diberikan pertolongan medik, maka penderita

kemudian dibawa ke rumah sakit, ini disebut sebagai evakuasi medik primer (“primary medevac”).

Penderita yang ada di suatu rumah sakit, mungkin akan dirujuk ke rumah sakit lain, ini disebut sebagai

evakuasi medik sekunder (“secondary medevac”).

Tentu saja sistem sedemikian memerlukan ambulance dan paramedik dalam jumlah yang tidak sedikit.

Ini dapat dilakukan melalui 2 cara :

1. Sistem eksklusif : ada dinas ambulance yang melayani sistem ini

2. Sistem insklusif: rumah sakit yang mempunyai ambulance, mengikut sertakan ambulance

dalam sistem, dengan satu pusat koordinasi.

Untuk banyak kota di Indonesia, sistem insklusif lebih cocok, karena sistem eksklusif sungguh mahal.

BAB III.

TATA LAKSANA PELAYANAN


Di Indonesia, banyak penderita cedera, keracunan, serangan jantung atau kegawat-daruratan yang

lain yang meninggal di rumah atau dalam perjalanan ke rumah sakit karena penatalaksanaan yang tidak

memadai. Padahal angka kematian di rumah atau dalam perjalanan ke rumah sakit dapat dikurangi jika

ada pelayanan gawat darurat yang dapat segera menghampiri penderita, dan dalam perjalanan

penderita kemudian didampingi oleh paramedik dan ambulance yang memadai.Oleh karena itu

masyarakat perlu mengerti fungsi ambulance dan mudah mendapatkan ambulance.

Harus segera dimaklumi, bahwa pada hakekatnya pelayanan gawat darurat yang seharusnya pergi

ke penderita, dan bukan penderita yang dibawa ke pelayanan gawat darurat. Ini mengandung

konsekuensi, bahwa ambulans yang datang ke penderita, dan kemudian membawanya ke rumah sakit,

haruslah merupakan suatu “Unit Gawat Darurat berjalan”, sebaiknya dengan perlengkapan gawat

darurat yang lengkap, dan petugas medik yang ber-keterampilan dalam penanganan gawat darurat.

Transportasi penderita gawat darurat dari tempat kejadian ke rumah sakit sampai sekarang masih

dilakukan dengan bermacam-macam kendaraan, hanya sebagian kecil saja dilakukan dengan

ambulan.Dan ambulannya bukan ambulan yang memenuhi syarat tetapi ambulan biasa. Bila ada

bencana dengan sendirinya para korban akan diangkut dengan segala macam kendaraan tanpa

koordinasi yang baik.

Jika Anda akan mengemudikan sebuah ambulans, diperlukan suatu pengetahuan dan keterampilan

khusus dalam mengemudi ambulans sehingga meskipun respon harus

dilakukan secara cepat namun perlu dihindari kecerobohan yang mungkin akan

membahayakan pasien, orang lain maupun kru ambulance itu sendiri.

A. Syarat Pengemudi Ambulans

1. Untuk menjadi seorang pengemudi ambulans yang aman, Anda harus :Sehat secara fisik.

2. Anda tidak boleh memiliki kelainan yang dapat menghambat. Anda dalam mengoperasikan

ambulans, tidak juga kondisi medis yang mengganggu Anda saat mengemudi.

3. Sehat secara mental.

4. Emosi terkontrol.

5. Mengemudikan ambulans bukanlah perkerjaan bagi seseorang yang gemar memainkan lampu

dan sirine.

6. Bisa mengemudi di bawah tekanan


7. Memiliki keyakinan positif atas kemampuan diri sebagai seorang pengemudi tapi jangan terlalu

percaya diri dengan menantang resiko.

8. Bersikap toleran dengan pengemudi lain. Selalu ingat bahwa orang akan bereaksi berbeda

ketika melihat kendaraan emergensi. Terima dan toleransi kebiasaan buruk pengemudi lain

tanpa harus marah.

9. Tidak dalam pengaruh obat-obat yang berbahaya. Alkohol, obat-obatan terlarang seperti

marijuana dan kokain, obat-obatan seperti antihistamin dan obat penenang lainnya.

10.Mempunyai Surat Izin mengemudi yang masih berlaku.

11.Pakai selalu kaca mata atau lensa kontak jika dibutuhkan saat menyetir.

12.Evaluasi kemampuan diri dalam menyetir berdasarkan respon diri Anda terhadap tekanan

perorangan, penyakit, kelelahan, dan mengantuk.

B. Aturan ambulans gawat darurat di jalan raya

Setiap negara memiliki undang-undang yang mengatur pengoperasian kendaraan

emergensi.Pengemudi ambulans umumnya dibebaskan dari aturan kecepatan, parkir, larangan

menerobos lampu lalu lintas, dan arah jalan. Namun demikian, peraturan juga menggariskan bahwa

jika seorang pengemudi ambulans mengemudikan kendaraannya tanpa memperdulikan keselamatan

orang lain, maka harus siap membayar konsekuensinya - bisa berupa surat tilang, gugatan pengadilan,

atau bahkan ditahan untuk beberapa waktu. Berikut adalah beberapa hal yang mencakup peraturan

pengoperasian ambulans:

Pengemudi ambulans harus memiliki lisensi mengemudi yang sah dan harus menyelesaikan

program pelatihannya.

Hak-hak khusus memperbolehkan pengemudi ambulans untuk tidak mematuhi peraturan ketika

ambulans digunakan untuk respon emergency atau untuk transportasi pasien darurat.Ketika ambulans

tidak dalam respon emergency, maka peraturan yang berlaku bagi setiap pengemudi kendaraan
nondarurat,

juga berlaku untuk ambulans.

Walaupun memiliki hak istimewa dalam keadaan darurat, hal tersebut tidak menjadikan pengemudi

ambulans kebal terhadap peraturan terutama jika mengemudikan ambulans dengan ceroboh atau tidak

memperdulikan keselamatan orang lain.


Hak istimewa selama situasi darurat hanya berlaku jika pengemudi menggunakan alat-alat

peringatan (warning devices) dengan tata cara yang diatur oleh peraturan.

Sebagian besar undang-undang memperbolehkan pengemudi kendaraan emergensi untuk :

1. Memarkir kendaraannya di manapun, selama tidak merusak hak milik atau membahayakan

nyawa orang lain.

2.Melewati lampu merah dan tanda berhenti.Beberapa negara mengharuskan pengemudi

ambulans untuk berhenti terlebih dahulu saat lampu merah, lalu melintas dengan hati-hati.

Negara lain hanya menginstruksikan pengemudi untuk memperlambat laju kendaraan dan melintas

dengan hati-hati.

Melewati batas kecepatan maksimum yang diperbolehkkan selama tidak membahayakan nyawa dan

hak milik orang lain.

Mendahului kendaraan lain di daerah larangan mendahului setelah memberi sinyal yang tepat,

memastikan jalurnya aman, dan menghindari hal-hal yang membahayakan nyawa dan harta benda.

Mengabaikan peraturan yang mengatur arah jalur dan aturan berbelok ke arah tertentu, setelah

memberi sinyal dan peringatan yang tepat.

Apabila terjadi kecelakaan/tabrakan ambulans, sebagian besar peraturan perundangan- undangan

yang menyidangkan pengemudi di pengadilan akan mengemukakan dua hal penting. Apakah

pengemudi telah memperdulikan keselamatan orang lain selama mengemudi? Dan apakah saat itu

panggilan benar-benar dalam keadaan darurat?

C. Menggunakan Alat-alat Peringatan

Pengoperasian kendaraan emergensi yang aman dapat dicapai hanya jika alat-alat peringatan dan

sirine emergensi digunakan dengan tepat dan dengan mengemudikan kendaraan secara difensif/hatihati.

Penelitian menunjukkan bahwa supir kendaraan lain bisa saja tidak melihat atau mendengar suara

ambulans hingga berada dalam jarak 50 sampai 100 kaki. Jadi jangan pernah beranggapan bahwa Anda

berada dalam keadaan aman jika sudah menyalakan lampu peringatan dan sirine.

Sirine adalah alat peringatan audio yang paling banyak digunakan dalam praktek ambulans dan juga

paling sering disalahgunakan.Saat menyalakan sirine, pertimbangkan efeknya yang bisa terjadi baik

pada pengendara bermotor lainnya, pasien dalam ambulans, maupun pengemudi ambulans itu sendiri.

Di bawah ini beberapa aturan penggunaan sirine ambulans gawat darurat.


1. Gunakan sirine secara bijak, dan gunakan hanya ketika perlu. Sirine hanya digunakan jika

pengemudi dalam respon emergency, Suara sirine yang dinyalakan terus menerus dapat

menambah rasa takut dan cemas pasien, dan kondisi pasien dapat memburuk jika mulai timbul

stress. Pengemudi kendaraan bermotor

2. Cenderung untuk tidak memberikan jalan pada ambulans jika sirine terlalu sering

dinyalakan.Beberapa pengemudi menganggap bahwa ambulans seringkali

menyalahgunakan sirine dalam keadaan non-emergensi.

3. Selalu waspada meski sudah membunyikan sirine. Jangan pernah beranggapan bahwa semua

pengendara kendaraan bermotor akan mendengar sinyal Anda. Adanya bangunan, pepohonan,

dan semak belukar, radiotape dalam mobil dapat menghalangi suara sirine.

4. Bersiaplah terhadap manuver aneh pengemudi lain, karena beberapa pengemudi menjadi panik

jika mendengar bunyi sirine.

5. Jangan berada di dekat kendaraan lain lalu membunyikan sirine tiba-tiba. Hal ini dapat

menyebabkan pengemudi lain menginjak rem mendadak dan Anda tidak bisa berhenti tepat

pada waktunya. Gunakan klakson ketika Anda berada dekat dengan kendaraan di depan Anda.

6. Jangan menggunakan sirine sembarangan, dan jangan digunakan untuk menakuti orang lain.

GUNAKAN LAMPU DAN SIRINE HANYA UNTUK KEADAAN DARURAT YANG

MENGANCAM NYAWA ATAU BAGIAN TUBUH.

D. Kecepatan dan Keselamatan

Sebagai pengemudi ambulans, Anda pasti sering sekali diingatkan untuk mengemudi dengan pelan

dan hati-hati. Mungkin Anda akan berkelit dengan mengatakan seperti, ”Bagaimana aku dapat

membawa pasien dengan cedera serius tepat waktu ke rumah sakit bila aku mengulur waktu? Kami

tidak meminta Anda untuk mengulur waktu. Tetapi kemudikanlah ambulans dengan mengingat hal-hal

yang tertera di bawah ini:

Kecepatan yang berlebihan dapat menigkatkan kemungkinan terjadinya tabrakan.

Kecepatan yang tinggi membutuhkan jarak yang lebih panjang untuk berhenti, sehingga dapat

mengakibatkan hal-hal yang tidak diharapkan. Ingatlah bahwa peraturan di beberapa negara mungkin

memperbolehkan Anda untuk tidak mematuhi peraturan lalu lintas dalam keadaan emergensi yang
sebenarnya dan dengan memperdulikan keselamatan orang lain. Pengecualian dalam hal ini, mencakup

aturan batas kecepatan, lampu merah dan tanda berhenti, dan peraturan lain serta sejumlah batasan

larangan. Namun jangan lupa untuk selalu melintasi persimpangan dengan lampu peringatanperingatan,

hindari menikung tiba-tiba, dan selalu menyalakan lampu penunjuk arah.Pastikan bahwa

pengemudi ambulans dan semua penumpang menggunakan sabuk pengaman saat ambulans sedang

berjalan.

E. Menempatkan Ambulans di Lokasi Kejadian Kecelakaan/Tabrakan

Ketika mengirimkan ambulans ke lokasi kejadian kecelakaan/tabrakan kendaraan, pastikan untuk

mengambil segala tindakan guna melokalisir tempat kejadian.

Lakukan penilaian keamanan lokasi dan tentukan area-area berbahaya di sekitar lokasi kejadian.

Parkirlah ambulans sekurang-kurangnya 100 kaki dari rongsokan kendaraan, jika terlihat ada nyala

api, atau kebocoran cairan dan asap yang berbahaya. Jika tidak tampak nyala api atau kebocoran cairan

dan asap, parkir sekurang-kurangnya 50 kaki dari rongsokan, set rem parkirnya dan letakkan baji

pengganjal roda di bawah ban sedemikian rupa sehingga pergerakan maju akan tertahan bila ambulans

terdorng.

Parkirlah ambulans Anda di belakang rongsokan kendaraan (dari arah keadatangan Anda) jika anda

adalah kendaraan emergensi pertama yang ada di lokasi kejadian sehingga lampu peringatan anda

dapat memperingatkan kendaraan bermotor lain yang mendekat sebelum nyala api atau tanda lain

diletakkan.

Jika lokasi kejadian telah diamankan oleh polisi atau pihak lainparkirlah di depan rongsokan

kendaraan untuk mencegah ambulans Anda tertabrak arus lalu lintas yang datang dari belakang.

Minta seseorang berada di belakang ambulans untuk bertindak sebagai pengarah dan pemandu anda

ketika memundurkan ambulans untuk mengambil pasien, anda memiliki keterbatasan pandangan jika

sekedar mengandalkan spion dan kemungkinan resiko menabrak pejalan kaki, benda, atau kendaran

lain.

Syarat penderita

Seorang penderita gawat darurat dapat ditransportasikan bila penderita tersebut siap (memenuhi syarat)

untuk ditransportasikan, yaitu:

Gangguan pernafasan dan kardiovaskuler telah ditanggulangi – resusitasi : bila diperlukan, perdarahan
dihentikan, luka ditutup, patah tulang di fiksasi dan selama transportasi (perjalanan) harus di monitor :

a. Kesadaran

b. Pernafasan

c. Tekanan darah dan denyut nadi

d. Daerah perlukaan

Prinsip transportasi Pre Hospital

Untuk mengangkat penderita gawat darurat dengan cepat & aman ke RS / sarana kesehatan yang

memadai, tercepat & terdekat.

a. Panduan mengangkat penderita

• Kenali kemampuan diri dan kemampuan team work

• Nilai beban yang diangkat,jika tidak mampu jangan dipaksa

• Selalu komunikasi, depan komando

• Ke-dua kaki berjarak sebahu, satu kaki sedikit kedepan

• Berjongkok, jangan membungkuk saat mengangkat

• Tangan yang memegang menghadap ke depan (jarak +30 cm)

• Tubuh sedekat mungkin ke beban (+ 50 cm)

• Jangan memutar tubuh saat mengangkat

• Panduan tersebut juga berlaku saat menarik/mendorong

b. Pemindahan emergency :

• Tarikan baju

• Tarikan selimut

• Tarikan lengan

• Ekstrikasi cepat (perhatikan kemungkinan terdapat fraktur servical)

Panduan memindahkan penderita (secara emergency, non emergency)

a. Contoh pemindahan emergency adalah :

• Ada api, bahaya api atau ledakan

• Ketidakmampuan menjaga penderita terhadap bahaya lain

• Usaha mencapai penderita lain yang lebih urgen

• Rjp penderita tidak mungkin dilakukan di TKP tersebut


Catatan : “ apapun cara pemindahan penderita selalu ingat kemungkinan patah tulang leher

(servical) jika penderita trauma “

b. Pemindahan non emergency :

• Pengangkatan dan pemindahan secara langsung

• Pengangkatan dan pemindahan memakai sperei

(tidak boleh dilakukan jika terdapat dugaan fraktur servical)

c. Mengangkat dan mengangkut korban dengan satu atau dua penolong :

• Penderita sadar dengan cara :

“ human crutch ” – satu / dua penolong, yaitu dengan cara dipapah dengan dirangkul dari

samping

• Penderita sadar tidak mampu berjalan

Untuk satu penolong dengan cara :

“ piggy back “ yaitu di gendong, dan “ cradel “ yaitu di bopong, serta “ drag “ yaitu diseret

Untuk dua penolong dengan cara :

“ two hended seat “ yaitu ditandu dengan kedua lengan penolong, atau “ fore and aft carry “

yaitu berjongkok di belakang penderita.

• Penderita tidak sadar

Untuk satu penolong dengan cara:

“ cradel “ atau “ drag “

Untuk dua penolong dengan cara :

“ fore and aft carry “

d. Lingkaran tugas paramedik

Pada dasarnya tugas di ambulance adalah lingkaran tugas yang terdiri atas :

1. Persiapan

Fase persiapan dimulai saat mulai bertugas atau kembali ke markas setelah menolong

penderita

2.Respons

Pengemudi harus dapat mengemudi dalam berbagai cuaca. Cara mengemudi harus dengan

cara defensif (defensive driving). Rotator selalu dinyalakan, sirene hanya dalam keadaan
terpaksa. Mengemudi tanpa mengikuti protokol, akan mengakibatkan cedera lebih lanjut,

baik pada diri sendiri, lingkungan maupun penderita.

3. Kontrol TKP

Diperlukan pengetahuan mengenai daerah bahaya, harus diketahui cara parkir, serta kontrol

lingkungan.

4. Akses ke penderita

Masuk ke dalam rumah atau ke dalam mobil yang hancur, tetap harus memakai prosedur

yang baku

5. Penilaian awal keadaan penderita dan pertolongan darurat

Hal ini sedapatnya dilakukan sebelum melakukan ekstrikasi ataupun evakuasi.

6. Ekstrikasi

Mengeluarkan penderita dari jepitan memerlukan keahlian tersendiri. Penderita mungkin

berada di jalan raya, dalam mobil, dalam sumur, dalam air ataupun dalam medan sulit

lainnya. Setiap jenis ekstrikasi memerlukan pengetahuan tersendiri, agar tidak menimbulkan

cedera lebih lanjut.

7.Evakuasi dan transportasi penderita

Cara transportasi

Sebagian besar penderita gawat darurat di bawa ke rumah sakit dengan menggunakan

kendaraan darat yaitu ambulance.Tujuan dari transportasi ini adalah memindahkan penderita

dengan cepat tetapi aman, sehingga tidak menimbulkan perlukaan tambahan ataupun syock

pada penderita.Jadi semua kendaraan yang membawa penderita gawat darurat harus berjalan

perlahan-lahan dan mentaati semua peraturan lalu lintas.

• Bagi petugas ambulance berlaku :

Waktu berangkat mengambil penderita, ambulance jalan paling cepat 60 km/jam. Lampu

merah (rorator) dinyalakan, “ sirine “ kalau perlu di bunyikan. Waktu kembali kecepatan

maksimum 40 km/jam, lampu merah (rorator) dinyalakan dan “ sirine “ tidak boleh

dibunyikan. Semua peraturan lalu lintas tidak boleh dilanggar.

Transportasi ke rumah sakit yang sesuai, lalu kembali ke persiapan.

Fasilitas pelayanan ambulance Rumah Sakit Pupuk Kaltim Bontang memberikan pelayanan :
1. Penjemputan dan pengantaran pasien Emergency

2. Pengiriman pasien keluar kota.

3. Pengantaran jenazah.

4. Pengiriman jenazah keluar kota.

5. Melayani permintaan P3K.

6. Melayani Latihan Ecakuasi Bencana Industri dengan Tim yang sudah teruji dan handal.

Cara Pemesanan Kendaraan Ambulance :

1. Anda bisa menghubungi petugas jaga ruangan, dimana anda dirawat.

2. Berikan keterangan kepada petugas jaga, waktu dan kemana tujuan.

3. Petugas jaga akan menghubungi Unit Gawat Darurat untuk memesan ambulance yang anda

inginkan.

4. Biaya ambulance akan dikenakan kepada anda sesuai tarif yang berlaku

Ambulance

Ambulan Gawat Darurat Rumah Sakit PUPUK KALTIM adalah Ambulan yang secara operasional

pengelolaannya diserahkan kepada Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit PUPUK KALTIM, menjadi

sarana untuk rujukan pasien dari dan keluar RS PUPUK KALTIM

Armada Ambulance

Jumlah kendaraan ambulance Rumah Sakit Pupuk Kaltim Bontang berjumlah 5(lima)unit dengan

rincian 1(satu)unit ambulance Unit Gawat Darurat lengkap dengan DC Syock+ Face Maker, 1(satu)

unit Ambulance Infeksius, 1(satu) unit Ambulance Non Infeksius dan 2(dua) unit ambulance Jenasah

Informasi

Direct : (0548) 41118, Telp : (0548)41118 Ext.222/118

Koordinator Shif : (0548) 5109400

081347754119

BAB IV

DOKUMENTASI

Pelayanan Ambulans merupakan pelayanan transportasi pasien rujukan dengan kondisi tertentu

untuk fasilitas kesehatan disertai dengan upaya atau kegiatan menjaga kestabilan kondisi pasien untuk

kepentingan kesehatan pasien.


Pelayanan Ambulans hanya dijamin bila rujukan dilakukan pada fasilitas kesehatan kasus gawat

darurat dengan tujuan penyelamatan nyawa pasien.

Pelayanan Ambulans dilakukan juga untuk penjemputan dari rumah pasien untuk dibawa ke Rumah

Sakit .

Pelayanan Ambulans 118, yang dilengkapi dengan radio komunikasi dan alat bantu

pertolongan terbaru di dalam ambulans serta tim yang terlatih.

Pengelolaan mobil Ambulance memuat pedoman secara rinci tentang persiapan, pelaksanaan,
pemantauan,

dan pelaporan administrasi.

Akses untuk mendapatkan ambulance

Semua usaha membantu penderita akan sia-sia bila waktu yang diperlukan untuk mendapatkan

bantuan gawat darurat terlalu lama.

Di beberapa kota, maka menelpon nomor 118 sudah akan tersambung ke pusat komunikasi gawat

darurat medik.

Rumah Sakit PKT Bontang untuk layanan ambulance dapat menghubungi ke nomor telpon 0548 –

41118 Kami akan melayani kerumah/ ketempat kejadian.

PERSIAPAN AMBULANS

PEMERIKSAAN AMBULANS

MESIN MATI

1. Periksa seluruh badan ambulans.

2. Periksa roda dan ban. Gunakan alat pengukur tekanan untuk memastikan tekanan ban yang tepat.

3. Periksa spion dan jendela. Pastikan spion bersih dan berada di posisi yang tepat.

4. Periksa fungsi setiap pintu dan kunci.

5. Periksa bagian-bagian sistem pendingin.

6. Periksa jumlah cairan kendaraan. Termasuk minyak mesin, pelumas rem, air aki dan pelumas setir.

7. Periksa portal indikator aki dan tanda-tanda korosi.

8. Periksa kebersihan kabin, termasuk dashboard.

9. Periksa fungsi jendela.

10. Tes fungsi klakson.


11. Tes fungsi sirene.

12. Periksa sabuk pengaman. Tarik setiap sabuk dari gulungannya untuk memastikan mekanisme retraktor

bekerja.

13. Posisikan kursi pengemudi senyaman mungkin.

14. Periksa jumlah bahan bakar. Isi bahan bakar setelah setiap kali tugas dimanapun lokasinya.

MESIN HIDUP

Nyalakan mesin dan keluarkan ambulans dari ruang penyimpanan, dan lakukan pemeriksaan berikut:

1. Tes fungsi indikator di dashboard.

2. Periksa meteran yang terletak di dashboard.

3. Tes fungsi rem.

4. Tes fungsi rem tangan.

5. Tes fungsi setir.

6. Periksa fungsi wiper.

7. Tes fungsi lampu.

8. Periksa fungsi pemanas dan pendingin baik di kompartemen kemudi maupun kompartemen pasien.

9. Periksa perlengkapan komunikasi.

PEMERIKSAAN PERSEDIAAN DAN PERLENGKAPAN KOMPARTEMEN PASIEN

1. Periksa tekanan tabung oksigen.

2. Pompa bidai udara dan periksa tanda-tanda kebocoran.

3. Periksa semua perlengkapan oksigen dan ventilasi berfungsi dengan baik.

4. Bersihkan debu dan cari tanda-tanda karat pada alat rescue.

5. Nyalakan semua peralatan bertenaga aki untuk memastikan kinerjanya.

6. Lakukan pemeriksaan tambahan pada alat khusus seperti AED (Automatted external defibrillation).

7. Lengkapi laporan pemeriksaan. Perbaiki kerusakan.Ganti barang-barang yang hilang.

8. Bersihkan kompartemen untuk menghindari risiko infeksi.

MENGOPERASIKAN AMBULANS

SYARAT PENGEMUDI AMBULANS

1. Sehat secara fisik.

2. Sehat secara mental.


3. Bisa mengemudi di bawah tekanan.

4. Memiliki keyakinan positif atas kemampuan dirinya.

5. Bersikap toleran. Selalu ingat bahwa pengemudi lain akan bereaksi berbeda ketika mengetahui

kendaraan gawat darurat.

6. Tidak dalam pengaruh obat-obat berbahaya, terlarang dan obat penenang.

7. Mempunyai SIM yang masih berlaku.

8. Jika dibutuhkan, kacamata dan lensa kontak harus selalu dipakai.

9. Evaluasi keadaan diri sendiri berdasarkan respon terhadap tekanan, kelelahan dan rasa kantuk.

ATURAN DI JALAN

1. Ambulans memiliki hak-hak khusus saat menggunakan jalan jika digunakan untuk respon gawat

darurat. Hak-hak khusus tidak berlaku jika tidak dalam respon gawat darurat. Menurut UU No 22

Tahun 2009 Pasal 134, Pengguna Jalan yang memperoleh hak utama untuk didahulukan sesuai dengan

urutan berikut:

a. Kendaraan pemadam kebakaran yang sedang melaksanakan tugas;

b. ambulans yang mengangkut orang sakit;

c. Kendaraan untuk memberikan pertolongan pada Kecelakaan Lalu Lintas;

d. Kendaraan pimpinan Lembaga Negara Republik Indonesia;

e. Kendaraan pimpinan dan pejabat negara asing serta lembaga internasional yang menjadi

tamu negara;

f. iring-iringan pengantar jenazah; dan

g. konvoi dan/atau Kendaraan untuk kepentingan tertentu menurut pertimbangan petugas

Kepolisian Negara Republik Indonesia.

2. Respon gawat darurat ini harus ditunjukkan dengan menghidupkan alat peringatan (warning device)

berupa sirene dan lampu rotator. Sebagaimana bunyi UU No 22 Tahun 2009 Pasal 135: Kendaraan

yang mendapat hak utama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134 harus dikawal oleh petugas

Kepolisian Negara Republik Indonesia dan/atau menggunakan isyarat lampu merah atau biru dan

bunyi sirene.

3. Risiko kecelakaan tetap ada, sehingga pengemudi tetap harus memiliki kewaspadaan tinggi,

mempedulikan keselamatan pengemudi lain dan tidak ceroboh.


4. Hak-hak khusus ini meliputi:

a. Memarkir kendaraan dimanapun selama tidak membahayakan orang lain dan tidak merusak

hak milik orang lain.

b. Melewati lampu merah dan tanda berhenti lain.

c. Melewati batas kecepatan maksimum yang diperbolehkan selama tidak membahayakan

nyawa orang lain.

d. Mendahului kendaraan lain di daerah larangan mendahului setelah memberi sinyal yang

tepat, memastikan jalur aman dan menghindari hal-hal yang dapat membahayakan nyawa

dan harta benda.

e. Mengabaikan arah jalur dan aturan belok, setelah memberi sinyal yang tepat.

PENGGUNAAN ALAT PERINGATAN (WARNING DEVICE)

Alat peringatan bukanlah segalanya. Penelitian membuktikan bahwa pengemudi lain tidak melihat

rotator atau mendengar sirene sampai jarak antara 15-30 meter.

SIRENE

1. Sirene adalah alat peringatan audio.

2. Gunakan sirene dengan bijak dan hanya ketika perlu. Sirene hanya digunakan saat respon gawat

darurat.Suara sirene dapat menambah rasa takut dan cemas pasien. Jika terlalu sering digunakan,

pengemudi lain cenderung tidak memberikan jalan karena dianggap sebagai penyalahgunaan.

3. Selalu waspada meski sudah membunyikan sirene. Adanya bangunan, pepohonan, semak belukar dan

radio tape dapat menghalangi bunyi sirene.

4. Selalu waspada terhadap manuver aneh pengemudi lain yang menjadi panik karena suara sirene.

5. Jangan mengemudikan sirene secara tiba-tiba di dekat kendaraan lain. Gunakan klakson.

6. Jangan gunakan sirene untuk menakut-nakuti orang.

LAMPU DAN ROTATOR

1. Berdasarkan UU No 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Pasal 59 Ayat 5, lampu

isyarat- isyarat yang digunakan oleh ambulans adalah berwarna merah.

2. Lampu depan harus selalu dinyalakan dimanapun dan kapanpun berada.

3. Rotator, lampu peringatan dan semua lampu lain harus dinyalakan pada respon gawat darurat.

KECEPATAN DAN KESELAMATAN


1. Kecepatan yang berlebihan dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya tabrakan.

2. Kecepatan yang tinggi membutuhkan jarak yang lebih panjang untuk berhenti.

3. Pastikan pengemudi dan semua penumpang menggunakan sabuk pengaman saat ambulans berjalan.

POSISI PARKIR DI LOKASI KEJADIAN

1. Lakukan penilaian lokasi kejadian dengan cepat, termasuk menentukan area bahaya dan jalur

evakuasi.

2. Ambulans diparkir sekurangnya 30 m dari lokasi kejadian jika ada tanda bahaya seperti nyala api atau

kebocoran cairan dan asap. Jika tidak ada tanda bahaya, ambulans diparkir sekurangnya 15 meter.

3. Rem tangan harus ditarik dan sebaiknya ditambah pengganjal roda.

4. Jika Anda adalah kendaraan penolong yang pertama datang, parkir di belakang lokasi kejadian (dari

arah datang), sehingga lampu peringatan kita dapat memperingatkan kendaraan lain yang mendekat

sebelum tanda lain diletakkan.

5. Jika lokasi kejadian telah diamankan, parkirlah di depan lokasi kejadian untuk mencegah ambulans

Anda tertabrak arus lalu lintas dari belakang.

6. Ambulans sebaiknya tidak berjalan mundur, tetapi jika terpaksa, harus ada orang lain yang memandu,

karena pengemudi ambulans memiliki keterbatasan pandangan ke arah belakang.

MEMINDAHKAN PASIEN KE AMBULANS

1. Pasien harus sudah diperiksa kondisinya, dilakukan prosedur penanganan gawat darurat jika

dibutuhkan, distabilisasi dan kemudian baru dipindahkan ke ambulans.

2. Pada kasus tertentu yang tidak memungkinkan intervensi di tempat, seperti lokasi yang berbahaya atau

pasien memerlukan prioritas tinggi, maka pemindahan dapat dilakukan terlebih dahulu.

3. Jika curiga cidera spinal, stabilisasi harus segera dilakukan. Cervical collar harus terpasang dan pasien

diimobilisasi dengan spinal board.

STABILISASI

1. Stabilisasi adalah urutan tindakan untuk mempersiapkan pasien sebelum dipindahkan.

2. Stabilisasi meliputi:

a. Perawatan luka dan cidera lain.

b. Fiksasi benda yang menusuk.

c. Pemasangan balut dan bidai.


d. Pemakaian selimut untuk menjaga suhu tubuh.

e. Alat pengangkut harus terfiksir kepada pasien dengan baik.

Tali pengikat diletakkan minimal di tiga tempat:

i. Setinggi dada.

ii. Setinggi pinggang atau panggul.

iii. Setinggi tungkai.

iv. Jika ada tali tambahan, diikatkan secara menyilang di dada.

3. Pada prinsipnya pemindahan harus dilakukan secepat mungkin mengingat kondisi pasien, sehingga

perhitungkan waktu yang dibutuhkan.

TRANSPORTASI

PENENTUAN TUJUAN

1. Pasien kritis atau tidak stabil harus dipindahkan ke RS dengan fasilitas gawat darurat terdekat

2. Termasuk dalam kategori di atas adalah:

a. Henti nafas atau henti jantung

b. Sumbatan jalan nafas yang tidak dapat diatasi

c. Kejang berulang atau sedang terjadi

d. Trauma mayor

e. Amputasi

f. Pasien luka bakar

g. Persalinan iminen

h. Suspek infark miokard pada pasien lebih dari 40 tahun dengan nyeri dada hebat

3. Pasien yang stabil dapat dipindahkan ke RS yang menjadi pilihannya atau berdasarkan keputusan

chief ambulans

SEBELUM BERANGKAT

1. Sebelum transportasi, pastikan hal-hal berikut:

a. Kondisi vital meliputi jalan nafas, pernafasan dan sirkulasi. Pastikan ikatan pada alat

pengangkut tidak menyebabkan pasien kesulitan bernafas. Jika pasien tidak sadar, pastikan

pasien mendapatkan pertukaran udara yang cukup.

b. Keamanan posisi alat pengangkut di dalam ambulans.


2. Persiapkan jika timbul perburukan kondisi pernafasan dan sirkulasi dengan meletakkan spinal board

pendek atau papan RJP di bawah matras.

3. Longgarkan pakaian yang ketat.

4. Periksa perban, balut dan bidai.

5. Naikkan keluarga atau teman dekat yang harus menemani pasien. Mereka harus ditempatkan di kabin

pengemudi dan memakai sabuk pengaman dengan baik agar tidak mempengaruhi proses perawatan

pasien.

6. Naikkan barang pribadi seperti dompet, koper dan tas serta pastikan barang tersebut aman di ambulans.

Jika memungkinkan, beritahu petugas keamanan tentang hal ini.

7. Tenangkan pasien. Ucapkan kata-kata yang menenangkan.Berikan senyuman.

SELAMA PERJALANAN

1. Beritahu EMD bahwa Anda meninggalkan lokasi.

2. Lanjutkan perawatan kegawat-daruratan yang dibutuhkan.

3. Gabungkan informasi tambahan pasien.

4. Monitoring terus vital sign dan catat.

5. Beritahu fasilitas medis yang menjadi tujuan Anda.

a. Kriteria kasus di bawah ini memerlukan pemberitahuan

i. Henti jantung

ii. Henti nafas

iii. Trauma mayor

iv. Suspek CVA/stroke

v. Amputasi

vi. Suspek MI pada pasien lebih dari 40 tahun

vii. Kejang yang sedang berlangsung atau berulang

viii. Persalinan iminen

ix. Luka bakar berat

x. Kriteria lain sebagaimana diputuskan oleh kru ambulans

b. Informasi yang harus diberikan meliputi

i. Identitas pasien
ii. Hasil pemeriksaan

iii. Tindakan yang telah dilakukan

iv. Perkiraan waktu kedatangan (ETA)

6. Persiapkan peralatan tambahan

a. Baskom atau kantung muntah jika pasien muntah.

b. Suction jika terjadi aspirasi

c. Papan RJP jika terjadi gagal nafas atau gagal jantung

7. Tenangkan emosi anda dan emosi pasien

8. Koordinasikan dengan pengemudi tentang kondisi pasien dan cara mengemudinya. Pengemudi perlu

menyesuaikan kecepatan dan cara mengemudinya sesuai kebutuhan pasien.

9. Jika terjadi henti jantung, RJP harus dilakukan dalam kondisi ambulans berhenti. Pastikan fasilitas

rujukan mengetahui kejadian ini.

SAMPAI DI TEMPAT RUJUKAN

1. Jika kondisi tempat rujukan cukup ramai, jangan terburu-buru menurunkan pasien, lanjutkan

penanganan pasien di atas ambulans sampai ada petugas yang siap mengambil alih.

2. Dampingi petugas yang akan mengambil alih

a. Berikan laporan anda secara lisan

b. Serahkan barang pribadi pasien

c. Minta diri untuk meninggalkan tempat rujukan

3. Kembalikan peralatan ambulans ke tempat semula

4. Segera setelah tidak menangani pasien, buat laporan tertulis. Sebaiknya cari tempat yang tenang untuk

melakukan ini.

MENGAKHIRI PANGGILAN SAAT DI RUMAH SAKIT

1. Bersihkan dengan cepat kompartemen pasien menggunakan sarung tangan industri

a. Bersihkan darah, muntahan dan cairan tubuh lain yang mengering di lantai

b. Seka perlengkapan yang terkena percikan

c. Masukkan kain yang digunakan untuk membersihkan tadi ke kantung merah

d. Buang sampah medis, termasuk perban dan pembalut yang sudah terbuka tapi belum

digunakan
e. Bersihkan kotoran non medis lain, seperti remah-remah roti, air, lumpur atau debu.

f. Gunakan pengharum ruangan untuk menetralkan bau yang ada

2. Siapkan perlengkapan pernafasan

a. Bersihkan dan lakukan prosedur disinfeksi pada barang non disposible

b. Ganti barang-barang sekali pakai (disposible) dengan cadangan

c. Tutup aliran tabung oksigen

3. Tukar barang-barang yang melekat pada pasien dengan milik Rumah Sakit jika memungkinkan.

a. Prinsipnya adalah “satu untuk satu”.

b. Termasuk dalam hal ini: balut steril, perban, handuk, masker oksigen, sarung tangan, air

steril, dan alat bantu nafas oral

c. Jika ada program pertukaran yang baik dengan Rumah Sakit, bidai, spinal board juga dapat

langsung ditukar dengan logistik Rumah Sakit.

d. Keuntungannya,

i. Tidak ada risiko perburukan cidera pasien akibat proses tukar-menukar ini.

ii. Kru ambulans tidak perlu berlama-lama di RS

e. Segera periksa kelengkapan dan fungsi barang yang ditukar, dan laporkan jika ada

kerusakan

4. Memperbaiki usungan ambulans

DALAM PERJALANAN KEMBALI

1. Kabarkan lewat radio bahwa ambulans dalam perjalanan kembali dan bahwa Anda siap (atau tidak

siap) untuk pengiriman selanjutnya

2. Selalu isi ulang bahan bakar hingga penuh

TIBA DI TEMPAT

Lakukan prosedur pemeriksaan ambulans seperti di atas.

PERAWATAN ATAU TRANSPORTASI MINOR

1. Minor adalah orang yang berusia kurang dari 18 tahun dan atau belum menikah

2. Inform consent harus dilakukan oleh orang tua atau wali

3. Jika orang tua atau wali menolak sedangkan kondisi cidera bersifat mengancam jiwa, maka perawatan

dan transportasi dapat dilakukan tanpa persetujuan mereka. Tujuan transportasi harus diberitahu.
Situasi ini harus dicatat dengan baik

4. Jika orang tua atau wali menolak tindakan dan kondisinya tidak mengancam jiwa, mereka harus

dijelaskan dan diyakinkan tentang kemungkinan yang akan terjadi. Jika tetap menolak, bantuan

perawatan dan transportasi harus dihentikan. Kejadian ini harus didokumentasikan

5. Jika orang tua atau wali tidak ada di tempat kejadian, perawatan dan transportasi dapat dilakukan

dengan pemberitahuan kepada pihak keamanan (Polisi).

PASIEN DENGAN GANGGUAN EMOSIONAL

1. Chief ambulans bertanggung jawab untuk menentukan keamanan tindakan

2. Chief dapat memutuskan untuk menunda tindakan sampai ada jaminan keamanan dari Polisi atau

petugas lain.

3. Jika pasien dengan gangguan jiwa itu cukup sadar dan memutuskan untuk meminta pertolongan serta

chief melihat bahwa tindakan cukup aman dilakukan, transportasi dapat dilakukan ke RSJ tanpa

jaminan keamanan

4. Jika pasien menolak tindakan, perlu dilakukan MHA (mental hygiene arrest). Yang berhak melakukan

MHA adalah pihak keamanan

5. Jika pasien menunjukkan tendensi tindak kekerasan terhadap kru ambulans, tindakan harus dihentikan

jika memungkinkan, hingga keadaan dinilai aman

KEMATIAN YANG BELUM DIPASTIKAN

1. Jika timbul kondisi DOA (death on arrival) atau kematian yang belum ditetapkan, tindakan resusitasi

harus terus dilakukan

2. Jika kematian sudah ditetapkan, kejadian harus dicatat dengan baik, termasuk waktu, tempat dan nama

kru yang ada

3. Petugas DVI, medis dan atau polisi harus diberitahu secepatnya

4. Penanganan selanjutnya diserahkan kepada pihak yang berwenang

PASIEN ATAU LOKASI TIDAK DITEMUKAN/TIDAK DAPAT DICAPAI

1. Kondisi ini harus segera dilaporkan kepada pihak keamanan untuk dilakukan pencarian atau dicarikan

jalur lain yang dapat diaksses

TINDAK KEJAHATAN/KRIMINAL

1. Petugas keamanan harus diberitahu jika belum ada di tempat kejadian


2. Kru ambulans harus melakukan tindakan dengan bantuan dan jaminan keamanan

BENCANA MASSAL

1. Kejadian bencana massal ditetapkan jika sumber daya yang ada tidak mampu mengatasi kebutuhan

2. Jika belum ditetapkan, kru ambulans yang pertama kali tiba melakukan RHA, melaporkannya dan

mendirikan lokasi triase awal

3. Sistem komando sementara dipegang hingga ada pihak yang lebih berwenang

OPERASI STANDAR PENGELOLAAN

MOBIL AMBULANCE

No. Dok : Revisi ke : 0 Hal 1 dari 2

PROSEDUR Tanggal Terbit

Ditetapkan oleh :

Dr. Nurul Fathoni M.Kes

Direktur

I.PENGERTIAN

Adalah prosedur operasional penggunaan dan pemeliharaan ambulans dalam rangka menunjang

operasional pelayanan di IGD

II.Tujuan

1. Tercapainya pelayanan penderita gawat darurat secara cepat, tepat ,cermat dan professional.

2. Ambulans selalu ready to use

III.KEBIJAKAN

a. Pemeliharaan ambulans adalah tanggung jawab bagian HARSAN

b. Peralatan penunjang medis dan obat-obatan emergency adalah tanggungjawab IGD

c. Dalam menuju TKP sopir harus disertai perawat

d. Untuk kasus gawat darurat, jarak jangkau pelayanan ke TKP tidak boleh lebih dari 30 menit

IV.PROSEDUR

1. Parkir ambulans tidak jauh dari IGD

2. Perawat IGD menerima panggilan darurat / kasus yang memerlukan pertolongan ambulans

3. Identitas pelapor dicatat (nama, alamat, nomer telpon), data tersebut diserahkan ke kru ambulan
4. Petugas kru ambulan memastikan laporan tersebut dengan menghubungi nomor telpon pelapor

5. Perawat IGD menghubungi sopir ambulans, apabila sopir tidak ada ditempat, perawat IGD yang

mengemudikan ambulans

6. Kecepatan kendaraan maksimum 40 km/jam di jalan biasa dan 80 km/jam di jalan bebas hambatan/tol

7. Sewaktu menuju TKP boleh menggunakan lampu sirine dan rotator.

8. Pada saat sudah mengangkut penderita hanya boleh menggunakan lampu rotator.

9. Sebisa mungkin mentaati peraturan lalu lintas yang ada

10.Petugas membuat/mengisi laporan keadaan penderita selama transportasi,yang disebut adalah lembar

catatan penderita yang mencakup identitas,waktu dan keadaan penderita.

11.Petugas memakai seragam dengan identitas yang jelas.

12.Mobil Ambulance dapat digunakan seluruh masyarakat yang membutuhkan tanpa membedakan

golongan, suku, ras dan agama

13.Penggunaan mobil Ambulance untuk keadaan darurat bagi orang sakit dan pelayanan angkutan

mengantar jenazah.

14.Pengendara mobil Ambulance hanya dapat dilakukan oleh pengemudi yang ditugaskan, terkecuali

karena satu dan lain hal yang mengharuskan diganti oleh pengemudi lain.

V.UNIT TERKAIT

1.Unit Gawat Darurat

2.Unit Perawatan umum

3.UnitICU/ICCU

4.Unit Kamar Bersalin

5.Unit Harsan

6.Unit Rawat Jalan

PEMAKAIAN AMBULANCE

No. Dok : Revisi ke : 0 Hal 1 dari 2

PROSEDUR Tanggal Terbit

Ditetapkan oleh :

Dr. Nurul Fathoni M.Kes

Direktur
I. PENGERTIAN

Adalah prosedur operasional penggunaan dan pemeliharaan ambulans dalam rangka menunjang

operasional pelayanan di RS PKT

II. TUJUAN

1.Tercapainya pelayanan secara cepat, tepat ,cermat dan professional.

2.Ambulans selalu ready to use

III. KEBIJAKAN

1. Pemeliharaan ambulans adalah tanggungjawab bagian Harsan Umum

2. Peralatan penunjang medis dan obat-obatan emergency adalah tanggungjawab UGD

3. Dalam menuju TKP sopir harus disertai perawat, sedang perawat UGD tidak harus dengan sopir

4. Untuk kasus gawat darurat, jarak jangkau pelayanan ke TKP tidak boleh lebih dari 30 menit

IV. PROSEDUR

1. Parkir ambulans tidak jauh dari UGD

2. Perawat UGD menerima panggilan darurat / kasus yang memerlukan pertolongan ambulans

3. Identitas pelapor dicatat (nama, alamat, nomer telfon), data tersebut diserahkan ke TPIP

4. Petugas TPIP memastikan laporan tersebut dengan menghubungi nomor telfon pelapor

5. Perawat UGD menghubungi sopir ambulans, apabila sopir tidak ada ditempat, perawat UGD yang

mengemudikan ambulans

6. Kecepatan kendaraan maksimum 40 km/jam di jalan biasa dan 80 km/jam di jalan bebas

hambatan/tol

7. Sewaktu menuju TKP boleh menggunakan lampu sirine dan rotator.

8. Pada saat sudah mengangkut penderita hanya boleh menggunakan lampu rotator.

9. Sebisa mungkin mentaati peraturan lalu lintas yang adaPetugas membuat/mengisi laporan keadaan

penderita selama transportasi,yang disebut adalah lembar catatan penderita yang mencakup

identitas,waktu dan keadaan penderita.

10. Petugas memakai seragam dengan identitas yang jelas

V. UNIT TERKAIT

1. IGD

2. KEBIDANAN
3. PERAWATAN UMUM

4. RAWAT JALAN

5. HUMAS

PENGGUNAAN AMBULANCE

No. Dok : Revisi ke : 0 Hal 1 dari 2

PROSEDUR Tanggal Terbit

Ditetapkan oleh :

Dr. Nurul Fathoni M.Kes

Direktur

I.PENGERTIAN :

Prosedur penggunaan ambulance adalah prosedur yang mengatur tentang tata cara

penggunaan ambulance.

II.TUJUAN :

Pengangkutan penderita dan tindakan darurat untuk menyelamatkan nyawa dan diperkirakan

tidak akan timbul kegawatan selama dalam perjalanan.

III.KEBIJAKAN :

Meningkatkan mutu pelayanan medik khususnya upaya rujukan medik dan kesehatan

diperlukan jenis kendaraan yang persyaratan khusus KepMenKes RI No. 0152/Yan.

Med/RSKS/1987 tentang standarisasi kendaraan pelayanan medik.

IV.PRTOSEDUR :

1.Keperluan ambulance digunakan hanya untuk :

a.Pasien Gawat Darurat

b.Permintaan ambulance melalui gawat darurat telp: 41118 ext 222, 51094000

c.Pasien yang dirawat di RS PKT yang memerlukan pemeriksaan atau

konsultassi ke RS lain.

2.Permintaan ambulance melalui :

a.Diluar jam kerja dalam kota.

b.Dokter jaga IGD dan Kepala Shif dapat memutuskan permintaan ambulance

tersebut layak untuk dilayani atau tidask, dan menentukan personil team
ambulance yang akan berangkat.

c.Dilaur jam kerja untuk keluar kota.

Permintaan melalui kepala shif

d.Didalam jam kerja

Dalam kota/luar kota dianjurkan melalui General Pelayanan Medis

3.Petugas ambulance diberangkatkan menuju lokasi tujuan setelah mendapat instruksi

seperlunya dari penanggung jawab ambulance.

4.Team ambulance berangkat menuju tujuan sambil melapor ke perawat jaga untuk

diketahui.

5.Setelah team ambulance sampai di tempat tujuan segera memberikan pertolongan,

dan pasien di evakuasi, setelah layak di angkut ke IGD RS PKT.

6.Setelah sampai di RS, penderita dan semua data-datanya diserah terimakan kepada

dokter jaga/perawat jaga IGD untuk penanganan lebih lanjut.

7.Kegiatan ambulance di catat dalam buku laporan ambulance.

8.Untuk pemakaian ambulance pasien yang akan dirujuk dikoordinasikan oleh

koordinator shif dengan sepengetahuan General Pelayanan Medis.

V.UNIT TERKAIT :

1. Harsan dan Umum

2. Perawatan

3. ICU

4. KIA (Kamar Bersalin)

5. Kamar Bedah

PENGGUNAAN AMBULANCE JENAZAH

No. Dok : Revisi ke : 0 Hal 1 dari 2

PROSEDUR Tanggal Terbit

Ditetapkan oleh :

Dr. Nurul Fathoni M.Kes

Direktur

I.PENGERTIAN :
- Ambulance adalah kendaraan yang digunakan mengantar,menjemput dan membantu

keperluan orang sakit dan jenazah.

- Jenazah adalah orang yang keadaannya telah menunjukkan hilangnya tanda kehidupan dan

tidak ada harapan hidup kembali.

II.TUJUAN :

Sebagai acuan tatalaksanapengantaran jenazah sampai tujuan dengan cepatdan aman.

III.KEBIJAKAN :

1.Sopir bertanggung jawab atas kesiapan mobil dan keselamatan dalam perjalanan

2.Ambulance harus dikemudikan oleh sopir ambulance (jika berhalangan digantikan oleh sopir

yang sudah ditunjuk)

IV.PROSEDUR :

1.Apabila ditemukan kasus kematian diruang rawat inapmaka petugas perawatan segera setelah

pasienmeninggal melanjutkan perawatan jenazah.

2.Petugas perawatan membuat surat kematian dan membuat laporan kematian dalam hal ini yang

membuatkan adalah dokter penanggung jawab pasien/ dokter umum IGD

3.Setelah pasien siap di transfer keruang jenazah, petugas membuat serah terima jenazah ke petugas

ruang jenazah

4.Pasien selesai perawatan jenazah petugas ruang jenazah segera menghubungi coordinator shif untuk

disiapkan ambulance

5.Sopir menyiapkan ambulance, jika sudah siap sopir segera menghubungi petugas ruang jenazah

6.Petugas IGD/PERAWATAN/ KEBIDANAN/PERINATOLGI membuat perincian pasien pulang dan

perincian penggunaan ambulance

7.Keluarga pasien membayar perincian dan mendapatkan kwitansi perincian serta mendapat surat

kematian

8.Sopir mengantarkan jenazah ketempat tujuan

9.Setelah selesai mengantarkan jenazahdan kembali keIGD sopir menulis laporan kegiatan pada buku

registrasi penggunaan ambulance

V.UNIT TERKAIT :

1.IGD
2.PERAWATAN UMUM

3.KAMAR JENAZAH

4.KEBIDANAN

5.HUMAS