Sunteți pe pagina 1din 14

Sustainabilitas Lembaga Keuangan Mikro Syariah di Indonesia :

Aspek Finansial dan Aspek Sosial

Diva Azka Karimah


STEI TAZKIA

Abstrak
Tujuan – Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh Capital
Adequacy Ratio (CAR), Liquidity Ratio, Solvability Ratio dan Risk Coverage terhadap Return
On Asset (ROA) pada Lembaga Keuangan Mikro Syariah di Indonesia.
Metode – Jenis penelitian ini adalah verifikatif kuantitatif, dengan alat analisis Ordinary
Least Square. Populasi dalam penelitian ini adalah Lembaga Keuangan Mikro Syariah yang
terdaftar pada Otoritas Jasa Keuangan selama kurun waktu 2015.10 – 2017.9. Jenis data
dalam penelitian ini adalah data sekunder yang dipublikasikan oleh Otoritas Jasa Keuangan
(OJK).
Hasil – Hasil penelitian menemukan bahwa seluruh variable independen yaitu NPF, CAR
dan FDR secara signifikan berpengaruh terhadap kinerja keuangan Lembaga Keuangan
Mikro Syariah Indonesia. Adapun variasi dari NPF, CAR dan FDR terhadap kinerja
keuangan LKMS sebesar 54,09% dan sisanya karena variasi variable lainnya yang tidak
diangkat dalam penelitian.
Kesimpulan – Variabel debt to equity ratio, capital ratio, solvability ratio dan risk coverage
memiliki pengaruh signifikan terhadap ROA. Selain itu, Tren rasio profitabilitas LKMS terus
meningkat dari tahun 2015-2017. Namun belum menunjukkan tingkat efisiensi yang baik
bagi LKMS dalam mengasilkan keuntungan.

Kata Kunci : Capital Adequacy Ratio (CAR), Liquidity Ratio, Return On Asset (ROA), Risk
Coverage, Solvability Ratio, dan Sustainabilitas LKMS

1. Latar Belakang

Indonesia adalah negara mayoritas penduduk Muslim terbanyak di dunia. Menurut data
Badan Pusat Statistik umat muslim di Indonesia pada 2010 sebanyak 207.176.162 jiwa. Hal
tersebut juga mengindikasikan potensi permintaan produk sesuai prinsip syariah akan terus
meningkat tiap tahunnya. Pada tahun 2015 sektor jasa keuangan syariah mengalami
pertumbuhan positif, peningkatan aset Industri Keuangan Non Bank Syariah (IKNB)
mencapai 11,40% sedangkan perbankan syariah mencapai 8,78% (OJK, 2015). Pada tahun
tersebut sektor IKNB Syariah tumbuh lebih tinggi dibandingan sektor perbankan Syariah.
Data OJK (2017) menunjukkan pada bulan maret 2017 aset Lembaga Keuangan Mikro
Syariah tumbuh sebesar 16% dari tahun sebelumnya. Menurut Obaidullah (2008),
implementasi microfinance menjadi salah satu alternatif alat untuk memberantas kemiskinan
yang dianggap paling berhasil melalui pembiayaannya terhadap UMKM.
Menurut Islamic Development Bank (2016) UMKM menjadi tulang punggung bagi
pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan khususnya di negara berkembang. Secara global,
UMKM berkontribusi pada lapangan pekerjaan diperkirakan sebesar 43,5% dan akan
menciptakan 57,8% lapangan pekerjaan baru. Di Indonesia UMKM memiliki kontribusi
besar dalam penciptaan lapangan kerja, 99% pelaku ekonomi adalah UMKM. Namun,
terdapat 49% Usaha Mikro, Kecil dan Menengah yang tidak mendapat akses layanan
keuangan (Bank Indonesia dan LPPI, 2015). Lembaga Keuangan Mikro Syariah memiliki
peranan yang penting dalam pembangunan sosial ekonomi UMKM tanpa adanya riba
(Rahman, 2007). Asosiasi BMT Indonesia (ABSINDO) menyatakan bahwa terdapat 5000
BMT dengan sekitar 22.000 outlet, telah mampu mengelola lebih dari 22 juta pemegang
rekening dengan total aset sekitar 3,5 Triliun OJK (2015). Adapun tingkat pertumbuhan BMT
pertahunnya antara 30-40%.
Secara kuantitatif, lembaga ini mengalami perkembangan yang sangat pesat.
Perkembangan BMT yang pesat ini terjadi karena tingginya kebutuhan masyarakat akan jasa
intermediasi keuangan, tetapi di sisi lain akses ke dunia perbankan yang lebih formal relatif
sulit. Melihat perannya yang begitu penting bagi pengentasan kemiskinan, maka LKMS juga
harus memiliki kinerja keuangan yang baik yang disebut sustainabilitas (keberlanjutan).
Sustainabilitas mengacu kepada kemampuan LKMS dalam menjalankan program dan
memberikan pelayanan bagi anggota (Gonzalez, 2010).
Berdasarkan deklarasi PBB mengenai tahun lembaga keuangan mikro pada tahun 2005
(international year of microfinance) sangat disarankan merealisasikan agenda penelitian
mengenai keberlanjutan (sustainability) LKM (Jiwani dan Husain 2011). Beberapa studi
tentang LKM difokuskan pada penilaian kinerja dan sustainabilitas LKM dengan
mengevaluasi indikator-indikator keuangan yang secara langsung mempengaruhi tingkat
kemandirian, jangkauan dan mekanisme pemberian kredit.
Sustainability terbagi dalam dua aspek yakni kinerja sosial dan kinerja keuangan. Kinerja
keuangan adalah kemampuan dari Lembaga Keuangan Mikro untuk menutupi beban
operasional dan meningkatkan pendapatan (El Kharti, 2013). Saat ini, menurut data
Microfinance Information Exchange hanya terdapat sedikit LKMS di Indonesia yang
memiliki kinerja keuangan yang baik dan banyak yang memperoleh subsidi untuk menutupi
biaya operasionalnya (Inaya et al, 2014). LKM harusnya tidak bergantung dari subsidi dan
sebaliknya menggali potensi investasi dari pihak swasta (Ledgerwood 2014).

, 2016). Salah satu tujuan didirikannya


LKMS adalah untuk berkontribusi dalam mencapai Maqashid Syariah. LKMS harus memiliki
tujuan yang lebih besar selain dari memperoleh keuangan.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sustainabilitas dari Lembaga Keuangan
Mikro Syariah di Indonesia dengan melihat pada aspek finansial dan aspek sosial. Aspek
financial diukur dari tingkat rasio keuangan seperti Returm On Asset (ROA), Capital
Adequacy Ratio (CAR), Liquidity Ratio, Solvability Ratio dan Risk Coverage. Aspek kinerja
sosial diukur dari alokasi pos-pos pembiayaan menurut perspektif maqashid syariah Abu
Zahrah, yakni mengklasifikasikan Maqashid Syariah dalam tiga aspek yakni Mendidik
manusia (Tahdhib Al-Fard), menegakan keadilan (Iqamah Al-Adl) dan kepentingan publik
(jalb al –maslahah).
Paper ini dibagi menjadi lima bagian. Bagian pertama berisi latar belakang dari
penelitian. Bagian kedua menjelaskan teori dan literatur yang berkaitan dengan sustainabilitas
LKMS. Bagian ketiga berisi metodologi penelitian termasuk penjelasan model teoritikal.
Bagian keempat adalah pembahasan analisis statistik dan variabel. Bagian kelima menyajikan
kesimpulan, implikasi teoritik dan rekomendasi.

2. Tinjauan Pustaka

2.1 Lembaga Keuangan Mikro Syariah


Lembaga Keuangan Mikro Syariah menurut Rahman (2007) adalah lembaga yang
menghimpun dana dan menyalurkannya sesuai dengan prinsip syariah. Secara konsep
terdapat dua kegiatan yang dilakukan oleh LKMS yakni : 1) Kegiatan mengumpulkan
dana dari berbagai sumber seperti: zakat, infaq dan shodaqoh serta lainya yang
dibagikan/disalurkan kepada yang berhak dalam rangka mengatasi kemiskinan, dan 2)
Kegiatan produktif dalam rangka meningkatkan nilai tambah baru dan mendorong
pertumbuhan ekonomi yang bersumber daya insani. Dalam melakukan pemberdayaan
ekonomi umat, salah satu yang dilakukan LKMS adalah memberikan pembiayaan bagi
UMKM.

2.2 Sustainabilitas
Sustainabilitas pada sebuah lembaga adalah kemampuan lembaga dalam melanjutkan
program dan memberikan manfaat kepada klien dalam jangka wak
Secara umum para ahli mengkaji sustainabilitas dengan dua pendekatan,
yaitu pendekatan kesejahteraan dan pendekatan kelembagaan. Menurut Murdoch, dalam
gerakan keuangan mikro (microfinance movement) di dunia dalam hal menjangkau kaum
miskin melalui pemberian akses terhadap layanan keuangan, terdapat dua pendekatan utama
yaitu pendekatan kelembagaan (institutionist approach) dan pendekatan kesejahteraan
(welfarist approach). Penelitian menunjukkan bahwa lembaga keuangan mikro secara
signifikan ditandai dengan pendekatan institusional untuk keberlanjutan (Murdock, 2000).
Dalam Lembaga Keuangan Mikro, sustainability dapat juga dilihat dari aspek keuangan
dan sosial. Menurut Meyer (2002), sustainabilitas dapat diukur dari kemampuan lembaga
mikro dalam menutupi biaya operasional dan disaat bersamaan memperoleh keuntungan.
Menurut Zubair (2016), kunci bagi keberlanjutan (sustainability) dari sebuah LKM adalah
keharusan dari adanya tujuan komersil (profit making objective) yakni kemampuan
menghasilkan laba, disamping adanya misi sosial yang diemban (social mission).
2.2.1. Kinerja Keuangan
Kinerja keuangan diukur dari kemampuan LKM dalam memperoleh keuntungan,
tingkat efisiensi dan produktivitas seperti return on asset (ROA) dan cost efificiency ratio,
(Sene, 2010; Adair & Berguiga, 2010). ROA mengukur tingkat profitabilitas dari asset yang
dimiliki institusi dan mampu membandingkan profit dan nonprofit LKM.
2.2.2. Kinerja Sosial (Social Performance)
Kinerja sosial LKMS diukur dari tujuan sosial yakni pengentasan kemiskinan,
pencapain persamaan sosial dan inklusi keuangan. Kinerja Sosial merefleksikan atensi LKM
dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat yang lihat dari alokasi pos keuangan LKMS
(Boye et al., 2006). Pengukuran kinerja sosial dapat dilihat dari beberapa aspek dalam
maqashid salah satunya yang dirumuskan Abu Zahrah.

2.3 Maqashid Syariah


Secara etimologi maqashid syariah terdiri dari dua kata, yakni maqashid dan syariah.
Maqashid adalah bentuk jamak dari maqshud yang berarti kesengajaan atau tujuan. Adapun
syariah artinya jalan menuju kea rah sumber kehidupan. Adapun secara terminologi, menurut
Imam Al-Ghazali adalah penjaan terhadap maksud dan tujuan syariah sebagai upaya
mendasar untuk bertahan hidup, menahan faktor-faktor kerusakan dan mendorong terjadinya
kesejahteraan (Fauzia dan Riyadi, 2014). Abu Zahrah (2014) dalam kitab ushul fiqihnya
merumuskan konsep maqashid syariah dengan mengklasifikasikannya kepada tiga aspek
utama yaitu Tahdzib al fard (mendidik manusia), Iqamah al adl (menegakan keadilan), dan
Jalb al maslahah (kepentingan publik).

3. Metodologi Penelitian
3.1 Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder
berupa data bulanan Returm On Asset (ROA), Capital Adequacy Ratio (CAR), Liquidity
Ratio, Solvability Ratio dan Risk Coverage dari Lembaga Keuangan Mikro Syariah di
Indonesia dari tahun Oktober 2015- September 2017. Data tersebut diperoleh dari website
Otoritas Jasa Keuangan.
3.2 Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi
berganda dan analisis deskriptif. Analisis regresi data panel digunakan untuk mengkaji
faktor-faktor yang mempengaruhi ROA pada LKMS. Analisis deskriptif digunakan untuk
melihat kinerja sosial LKMS dilihat dari tiga aspek maqashid syariah Abu Zahrah.
3.2.1 Regresi
Regresi linier berganda adalah regresi yang menngunakan data pengamatan satu atau
lebih variabel pada suatu unit secara terus menerus selama beberapa periode waktu (Hsiao.
2003). Metode estimasi ini digunakan untuk mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi
tingkat profit dari LKMS. Variabel eksogen atau variabel bebas (independent) dalam
penelitian ini adalah Capital Adequacy Ratio (CAR), Liquidity Ratio, Solvability Ratio dan
Risk Coverage. Selanjutnya variabel tak bebas (dependent) atau variabel endogen adalah
ROA (Return on Asset) dari Lembaga Keuangan Mikro Syariah yang terdaftar di OJK.
Persamaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah

Yt = α + + β1X1t + β2X2t + β3X3t + β4X4t + ε ............(1)

Yt = Return on Asset (ROA) LKMS tahun ke t


α = Intercept
β1, β2, β3 = Koefisien Regresi
X1 = Debt to Equity Ratio LKMS tahun ke t
X2 = Capital Ratio LKMS tahun ke t
X3 = Liquidity Ratio LKMS tahun ke t
X4 = Solvability Ratio LKMS tahun ke t
X5 = Risk Coverage LKMS tahun ke t

Pengujian Ketepatan Model

a. Uji Signifikansi Simultan (Uji - F Statistik)


Uji ini pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel independen atau bebas pada
model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen (Gujarati,
2003).
b. Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji- t Statistik)
Uji statistik pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel
penjelas/independen secara individual dalam menerangkan variabel dependen (Gujarati,
2003).
c. Koefisien Determinasi (Goodness of Fit)
Koefisien determinasi (R2), mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan
variasi variabel dependen (Gujarati, 2003). Nilai koefisien determinasi adalah antara 0
sampai 1.

3.1.2 Analisis Deskriptif


Penelitian ini juga menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan melakukan
kajian eksploratif terhadap data keuangan Lembaga Keuangan Mikro Syariah di Indonesia yang
dilihat dari sisi Maqashid Syariah Imam Abu Zahrah. Menurut Bogdan dan Taylor (dalam Moloeng :
2010) metode kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa tulisan
atau lisan dari orang-orang atau objek yang diamati. Adapun jenis data yang digunakan berupa data
sekunder. Dimana data sekunder menurut Sugiyono (2005) adalah data yang bersumber dari literatur
berupa buku-buku dan catatan yang berkaitan dengan penelitian yang dilakukan.

Teknik pengumpulan dalam penelitian ini adalah, pertama studi pustaka. yakni kegiatan
pengumpulan data yang diperoleh dari buku-buku yang berkaitan dengan penelitian. Kedua,
Dokumenter yakni kagiatan pengumpulan data yang diperoleh dari artikel, laporan dan jurnal ilmiah
yang berkaitan dengan permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini. Ketiga Intuitif-Subjektif
yakni cara pengumpulan data yang melibatkan pendapat penulis terkait dengan masalah yang dibahas.
Keempat, Diskusi yakni teknik pengumpulan data dengan cara berdiskusi dengan akademisi dan
praktisi yang paham terkait permasalahan yang dibahas.

4. Pembahasan
4.1 Hasil Regresi Linier Berganda
Tabel 1. Hasil Pengolahan Data
Standard
Coefficients Error t Stat P-value
Intercept 0.0061 0.0050 1.2082 0.2426
X1 (Debt to Equity Ratio) -0.0037 0.0008 -4.6164 0.0002
X2 (Capital Ratio) -0.1011 0.0207 -4.8757 0.0001
X3 (Liquidity Ratio) 0.0720 0.0123 5.8784 0.0000
X4 (Solvability Ratio) -0.0046 0.0012 -3.7569 0.0014
X5 (Risk Coverage) -0.0064 0.0014 -4.4405 0.0003
Sumber : Data Output Excel (data diolah)

Tabel 2. Anova
df SS MS F Significance F
Regression 5 0.000174359 3.48719E-05 27.1686828 8.57841E-08
Residual 18 2.31036E-05 1.28353E-06
Total 23 0.000197463
Sumber : Data Output Excel (data diolah)

ROA = 0,006 – 0,0037X1 – 0,101 X2 + 0,072 X3 – 0,004X4 – 0,0063 X5.................(1)

Analisis ini digunakan untuk menguji pengaruh variabel Debt to Equity, Rasio Capital,
Likuiditas Rasio, solvabilitas rasio, beban penyisihan piutang terhadap Return on Asset
(ROA) dengan tingkat signifikansi  = 5% . Return On Total Asset (ROA) adalah rasio yang
digunakan untuk mengukur seberapa efektif perusahaan memanfaatkan modal untuk
menciptakan laba. Return On Total Asset (ROA) juga sering disebut juga sebagai Return On
Investment (ROI). Semakin tinggi nilai ROA maka pemanfaatan aktiva lebih efisien dan
menciptakan laba yang lebih besar.
Dari hasil pengolahan data yang ditunjukkan pada Tabel 4.1, konstanta yang diperoleh
sebesar 0,006 dan tidak signifikan berpengaruh terhadap ROA. Selanjutnya untuk variabel X1
(Debt to Equity Ratio) memiliki pengaruh signifikan negatif terhadap ROA sebesar 0,003 ,
ketika X1 naik sebesar satu satuan maka akan mengurangi rasio ROA sebesar 0,003. Debt to
Equity Ratio adalah perbandingan hutang terhadap modal. Capital Ratio adalah rasio
kecukupan modal dimana semakin tinggi maka menunjukkan semakin LKMS mampu dalam
menanggung risiko pembiayaan. Variabel X2 (Capital Ratio) memiliki pengaruh signifikan
negative terhadap ROA, ketika X2 naik satu satuan maka akan mengurangi ROA sebesar
0,10. Hal ini berbeda dengan hasil yang dilakukan oleh Ibrahim et al (2016) terhadap LKMS
di Malaysia dimana capital ratio memiliki pengaruh signifikan positif terhadap ROA.
Variabel X3 (Liquidity Ratio) adalah rasio yang menunjukkan kemampuan LKMS
dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya dan dari hasil pengolahan data mempunyai
pengaruh tidak signifikan positif terhadap ROA. Hal sebaliknya diperoleh variabel X4
(Solvability Ratio) memiliki hubungan signifikan negatif terhadap ROA senilai 0,004, ketika
X4 naik satu satuan maka akan mengurangi ROA sebesar 0,004. Rasio Solvabilitas ini
menunjukkan besarnya aktiva yang diperoleh dari hutang, apabila debt ratio semakin tinggi
maka hutang yang dimiliki akan semakin besar. Variabel X5 (Beban Penyisihan Piutang)
memiliki pengaruh signifikan negatif terhadap ROA sebesar 0,006. Beban penyisihan piutang
adalah kerugian bagi LKMS yang bersumber dari non performing financing, ketika X5
meningkat satu satuan maka akan mengurangi rasio keuntungan perusahaan sebesar 0,006.

Tabel 3. Regression Statistics


Regression Statistics
Multiple R 0.940
R Square 0.883
Adjusted R Square 0.850
Standard Error 0.001
Observations 24
Sumber : Data Output Excel (data diolah)
2
Berdasarkan Tabel 3, dapat dilihat model regresi di atas memilik R sebesar 0.88. Hal
tersebut berarti variabel dependen dapat dijelaskan oleh seluruh variabel independen dalam
model sebesar 88%, sedangkan sisanya dijelaskan oleh faktor-faktor lain yang tidak terdapat
dalam model. Hasil uji variabel diperoleh nilai sig F sebesar 8,57 > 0,05. Hal tersebut
diartikan bahwa secara bersama-sama variabel independen yakni debt to equity, capital ratio,
liquidity ratio, solvability ratio, dan beban penyisihan piutang tidak memiliki pengaruh
terhadap variabel dependen yakni ROA.
4.2 Sustainability of IMFis from Maqashid Perspective
Dengan menggunakan model laporan keuangan Lembaga Keuangan Mikro Syariah
saat ini kami mengadopsi konsep Maqashid Syariah Abu Zahrah yang diterjemahkan oleh
Mustafa (2009) kedalam beberapa dimensi dan elemen di bawah ini :

Tabel 4. Dimensi Maqashid Syariah Abu Zahra


Tujuan Syariah Dimensi (D) Elemen (E) Rasio Kinerja
Tahzib Al Fard Advancement of Education Grant Education
(Educating Knowledge Grant/Total Beban
Individual)
Iqamah Al Adl Cheap Products & Functional Mudarabah,
(Establishing Services Distribution Musyarakah, Qard
Justice) Hasan/Total
Pembiayaan
Jalb Al Maslahah Profitability of Bank Profit Ratio Net Income / Total
(Public Interest) Aset

a. Tahzib Al Fard (Educating Individual)


Dari hasil analisis terhadap struktur keuangan LKMS di Indonesia yang di terbitkan
OJK, tidak ditemukan alokasi pengeluaran LKMS untuk kegiatan pendidikan, dan
peningkatan skill masyarakat. Sehingga disimpulkan bahwa LKMS di Indonesia secara
umum belum dapat memenuhi aspek Tahzib Al Fard dalam Maqashid Syariah Abu Zahrah.
b. Iqamah Al Adl (Establishing Justice)

0.9
0.8
0.7
0.6
a. Pembiayaan
0.5 Mudharabah
Rasio

0.4 b. Pembiayaan
Musyarakah
0.3
c. Qard Hasan
0.2
0.1 d. Murabahah
0

Mei-17

Jul-17
Mei-16

Jul-16
Des-2015

Jun-16

Okt-16

Des-16

Jun-17
Nov-15

Jan-16

Apr-16

Nov-16

Jan-17

Apr-17
Feb-16
Mar-16

Sep-16

Feb-17
Mar-17

Sep-17
Oct-15

Agus-16

Agus-17
Gambar 4.1 Rasio Struktur Bisnis LKMS di Indonesia
Sumber : Statitik OJK (data diolah)
Dari hasil pengolahan data rasio jenis pembiayaan diketahui bahwa tren rasio
pembiayaan mudharabah, musyarakah dan qard hasan masih sangat kecil disbanding dengan
jenis pembiayaan murabahah, padahal LKMS diharapkan mampu meningkatkan keadilan
dalam masyarakat melalui kerjasama usaha dan pinjaman kebaikan dengan interest free,
sehingga dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat. Berbeda halnya dengan pembiayaan
murabahah yang lebih mengedepankan keuntungan.

c. Jalb Al Maslahah (Public Interest)


0.014

0.012

0.01

0.008

0.006

0.004

0.002

0
Jul-16

May-17

Jul-17
Jan-16

Jan-17
Nov-15

Apr-16
May-16
Jun-16

Nov-16

Apr-17

Jun-17
Oct-15

Dec-15

Feb-16
Mar-16

Aug-16
Sep-16

Dec-16

Feb-17
Mar-17

Aug-17
Sep-17
Oct-16

Gambar 4.2 Rasio Profitabilitas LKMS di Indonesia


Sumber : Statistik OJK (diolah)
Dari gambar 4.2 ditunjukkan rasio profitabilitas LKMS di Indonesia. Tren rasio Return
on Asset memiliki tren yang meningkat dari tahun 2015 sampai bulan September 2017. Nilai
ROA pada bulan november 2015 sebesar 0,004 meningkat menjadi 0,011 pada bulan
September 2017. Hal tersebut menunjukkan bahwa Rp. 1 aset LKMS hanya dapat
menghasilkan Rp. 0,001. Perkembangan ROA LKMS menurut data OJK (2016) ini masih
lebih baik dari LKM Konvensional yang minus. Namun data ROA LKMS tersebut belum
menggambarkan efisiensi yang baik LKMS di Indonesia.

5. Kesimpulan dan Rekomendasi


Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa
1. Variabel debt to equity ratio, capital ratio, solvability ratio dan beban penyisihan
piutang memiliki pengaruh signifikan terhadap ROA.
2. Tren rasio profitabilitas LKMS terus meningkat dari tahun 2015-2017. Namun
belum menunjukkan tingkat efisiensi yang baik LKMS dalam mengasilkan
keuntungan.
3. Dari hasil analisis perspektif maqashid syariah Abu Zahrah LKMS di Indonesia
belum memenuhi konsep sustainability (educating individual dan establishing
justice) dilihat dari struktur keuangan LKMS. Namun di sisi public interest LKMS
terus mengalami perkembangan yang positif
4. Penelitian ini merekomendasikan kepada LKMS untuk meningkatkan kinerja baik
keuangan maupun sosial dimana hal tersebut merupakan konsep dari sustainability,
sehingga LKMS dapat benar-benar meningkatkan taraf hidup masyarakat.
5. Bagi Lembaga Keuangan Mikro Syariah, diharapkan dapat melengkapi laporan
keuangan yang kurang dan tidak lengkap dalam tiap tahunnya agar dapat
mempermudah peneliti mendapatkan data untuk pengembangan lembaga.
Referensi

Adair, P., & Berguiga, I. (2010). Les facteurs déterminants de la performance sociale et de la
performance financière des institutions de microfinance dans la région MENA: Une
analyse en coupe instantanée. Région et Développement, 32, 92-119.

Bank Indonesia. 2016. Analisa Peluang Indonesia dalam Era Ekonomi Digital dari Aspek
Infrastruktur, Teknologi, SDM, dan Regulasi Penyelenggara dan Pendukung Jasa
Sistem Pembayaran. Dipresentasikan pada Acara Temu Ilmiah Nasional Peneliti 28 Juli
2016. Bogor

Badan Pusat Statistik. 2010. Data Penduduk Menurut Wilayah dan Agama yang Dianut. Data
Sensus Sosial dan Kependudukan. BPS. Jakarta

Bank Indonesia dan LPPI. 2015. Profil Bisnis Usaha Mikro, Kecil Dan Menengah (UMKM).
Bank Indonesia. Jakarta. Diakses dari :
http://www.bi.go.id/id/umkm/penelitian/nasional/kajian/Documents/Profil%20Bis
nis%20UMKM.pdf

Boye, S., Hajdenberg, J., & Poursat, C. (2006). Le guide de la microfinance: Microcrédit et
épargne pour le développement P :E ’O G E 


Bungin, B. 2007. Penelitian Kualitatif. Pernada Media Group : Jakarta Hal 115

El Kharti, L. (2013). Déterminants de la performance financière des institutions de


microfinance (IMF) au Maroc: Analyse empirique. Centre de Recherche en Economie
Appliquée à la Mondialisation (CREAM). Université Paris-EST CRETEIL, Juin 2013.


Fauzia, Ika Yunia dan Riyadi, Abdul Kadir. 2014. Prinsip Dasar Ekonomi Islam Perspektif
Maqashid Al- Syariah. Kencana : Jakarta.

P
Sustainability of Conventional and Islamic Microfinance Institutions. Economics
World, Sep.-Oct. 2016, Vol. 4, No. 5, 197-215.

Ghozali, Imam. 2011. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS 19.
Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegor. Cet. Ke – 5. hlm. 164 - 165.

Gonzales, A. (2010). Is microfinance growing too fast? MIX Data Brief No. 5. Retrieved
from http://www.themix.org/sites/default/files/MIX%20Data%20Brief%205%20-
%20Is%20microfinance%20growing%20too%2 0fast.pdf

Gujarati, Damodar N. (2003). Basics Econometrics 4th. New York : Mc Graw Hill.

Inayati, Titik, Bambang Subroto, Achmad Fachan & Atim Djazuli. 2014. Analyzing Islamic
Micro Finance Performance with Economic Value Added (EVA):
Learning from
Baitul Wat Tamwil (BMT) Usaha Gabungan Terpadu Sidogiri Indonesia. Business and
Management Horizons Vol. 2, No. 2 pp. 29-37

Islamic Development Bank. 2015. Leveraging Islamic Finance for SMEs. World Bank
Finance and Markets Global Practice Islamic Development Bank Islamic Research and
Training Institute. G20 Policy Paper. Turkey

Meyer, J. (2002). Track record of financial institutions in assessing the poor in Asia. ADB
Research Institue Paper, No. 49.

Moleong, Lexy J. 2004. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya

Obaidullah. 2008. Introduction to Islamic Microfinance. The Islamic Business and Finance
Network. (India: Publishe by : IBF Net(P) Limited, 2008)

Otoritas Jasa Keuangan. 2015. Laporan Perkembangan Keuangan Syariah 2015. Otoritas Jasa
Keuangan. Jakarta. Diakses melalui www.ojk.go.id

_ . 2017. Statistik IKNB Syariah Februari 2017. Otoritas Jasa Keuangan. Jakarta

_____. 2017. Statistik LKM (data sepanjang periode 2015-2017. Otoritas Jasa Keuangan.
Jakarta. Diakses melalui www.ojk.go.id

Jiwani, J. dan Husain, J. (2011). Strategic Impact of Incentive Programs for Loan Officers of
Micro-Finance Institutions. Journal of American Academy of Business. Cambridge,
17.
Rahman, Abdul Rahim Abdul. 2007. Islamic Microfinance: A Missing Component in
Islamic Banking. Kyoto Bulletin of Islamic Area Studies, 1-2 (2007), pp. 38-53

Umar, Husein. 2009 Metode Penelitian untuk Skripsi dan Tesis Bisnis, (Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada, 2009), hlm. 181.

Séne, M. (2010). A comprehensive literature review on all current global microfinance


themes (working paper, University of Quebec) (in Canada).


Sugiyono. 2005. Memahami Penelitian Kualitatif. Alfabeta : Bandung.

Zahrah. Muhammad Abu. 2014. Ushul Fiqih. Pustaka Firdaus. Jakarta


Murdock, Jonathan. (2000). Financial Performance and Outrech: A Global Analysis of
Leading Microbanks. World Development.